Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini pariwisata menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
karena berkaitan erat dengan kegiatan social dan ekonomi yang dapat dinikmati
serta menjadi salah satu cara manusia melakukan sosialisasi. Pariwisata identik
dengan kegiatan memberikan kesenangan dan kenikmatan, karena kegiatannya
bertujuan memberikan beragam aktifitas secara santai dan menyenangkan tanpa
harus menguras tenaga. Pariwisata merupakan industry perdagangan jasa yang
memiliki mekanisme pengaturan yang kompleks karena mencakup pengaturan
pergerakan wisatawan dari Negara asalnya, di daerah tujuan wisata hingga
kembali ke Negara asalnya yang melibatkan berbagai hal seperti ; transportasi,
penginapan, restoran, pemandu wisata, dan lain-lain. Oleh karena itu, industry
pariwisata memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan
pariwisata. Pariwisata merupakan industri yang rentan terhadap berbagai
peristiwa bencana. Ia bias menjadi yang terdampak dari kemunculan bencana
atau memicu kemunculan bencana itu sendiri. Selain karena pengaruh multi-
sektoral yang meliputi bidang penting kehidupan, industry pariwisata perlu
mendapat perhatian atas manajemen risiko bencana (dan krisis) sebab melibatkan
pergerakan dan jalinan yang luas secara internasional, khususnya terkait manusia
sebagai wisatawan, masyarakat lokal, maupun pengelola destinasi baik
pemerintah atau sector swasta.
Walaupun pariwisata identik dengan kesenangan, namun kegiatan ini juga
memiliki risiko. Berbagai obyek wisata yang disediakan oleh pengelola tempat
wisata tidak memberikan jaminan keamanan dan keselamatan pengunjung
sepenuhnya. Hal ini memungkinkan adanya kecelakaan yang menimpa
pengunjung wisata yang bias menyebabkan cacat fisik hingga meninggal dunia.
Penyebab kecelakaan ini dapat terjadi karena berbagai hal seperti bencana alam,
pengelolaan tempat wisata, pengunjung dan kejahatan pihak ketiga. Keempat ini

1
dapat memiliki hubungan secara langsung atas kecelakaan yang terjadi bagi
pengunjung wisata.
Kecelakaan yang terjadi di tempat wisata menimbulkan kerugian bersifat
materi dan immaterial kepada pengelola dan pengunjung yang merupakan
korban. Pengelola mengalami dua kerugian sekaligus yaitu mengganti kerugian
kepada korban dengan sejumlah uang yang sudah ditentukan dan kerugian
bersifat immaterial yaitu reputasi (kerugian immateriil bersifat jangka panjang
yaitu kelangsungan tempat wisata untuk kembali memulihkan image positif
sehingga pengunjung akan melupakan kejadian tersebut. Perbedaan karakter
wisata akan membedakan potensi risiko antara satu tempat dengan tempat lain
sehingga menuntut pengelola wisata dapat melakukan estimasi risiko secara
mendalam. Estimasi ini akan menghitung derajat resiko yang terbagai dalam tiga
level yaitu tinggi, menengah dan rendah. (Siahaan, 2007). Level ini dapat juga
digunakan untuk menilai derajat resiko tempat wisata menggunakan pendekatan
manajemen resiko.
Manajemen resiko adalah salah satu cara meminimumkan kerugian yang
muncul di tempat wisata. Manajemen resiko menjadi alat untuk meminimalisir
kerugian bagi semua pihak yang terkait khususnya pengelola sehingga
memberikan dukungan pada organisasi dan pengendalian resiko internal maupun
eksternal yang lebih efektif. Saat ini pengelola wisata sudah menggunakan
pendekatan manajemen resiko dalam menyelenggarakan kegiatan wisata meski
skala penggunaannya masih jauh dibandingkan dengan industry keuangan seperti
perbankan dan asuransi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian industri pariwisata?
2. Apa pengertian bencana?
3. Apa pengertian manajemen resiko bencana?
4. Apa tujuan dari manajemen resiko bencana pariwisata?
5. Bagaimana proses manajemen risiko bencana pariwisata?
6. Bagaimana dampak bencana kepada sektor pariwisata?
7. Bagaimana kebijakan penanggulangan bencana dalam sektor pariwisata?

2
8. Bagaimana askep penilaian sertifikasi kesiapsiagaan bencana dalam industri
pariwisata?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca mengetahui,
memahami, dan menambah wawasan mengenai Peran Industri Pariwisata
dalam Kesiapsiagaan Bencana.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengertian industri pariwisata.
b. Untuk mengetahui pengertian bencana.
c. Untuk mengetahui pengertian manajemen resiko bencana.
d. Untuk mengetahui tujuan dari manajemen resiko bencana pariwisata.
e. Untuk memahami proses manajemen risiko bencana pariwisata.
f. Untuk memahami dampak bencana pada sektor pariwisata.
g. Untuk mengetahui kebijakan penanggulangan bencana dalam sektor
pariwisata.
h. Untuk memahami askep penilaian sertifikasi kesiapsiagaan bencana dalam
industri pariwisata.

D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini agar pembaca mengetahui, memahami, dan
menambah wawasan mengenai Peran Industri Pariwisata dalam Kesiapsiagaan
Bencana

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Industri Pariwisata


Industri pariwisata merupakan industri yang dikembangkan dan diandalkan
sebagai salah satu sektor pendorong pertumbuhan ekonomi, dikarenakan sektor
pariwisata berpengaruh signifikan terhadap perekonomian masyarakat. Industri
pariwisata bukanlah industri yang berdiri sendiri, tetapi merupakan suatu industri

3
yang terdiri dari serangkaian perusahaan yang menghasilkan jasa atau produk
yang berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan itu tidak hanya dalam jasa yang
dihasilkan, tetapi juga dalam besarnya perusahaan, lokasi tempat kedudukan,
bentuk organisasi yang mengelola dan metode atau cara pemasarannya
(Muhammad Tahwin, 2003).
Batasan pariwisata sebagai suatu industri diberikan secara terbatas, hanya
sekedar menggambarkan apa sebenarnya pariwisata itu. Dengan demikian dapat
memberikan pengertian yang lebih luas. Jadi sebenarnya, ide memberikan istilah
industri pariwisata lebih banyak bertujuan memberikan daya tarik supaya
pariwisata dapat dianggap sebagai sesuatu yang berarti bagi perekonomian suatu
Negara, terutama pada negara-negara yang sedang berkembang. Industri
pariwisata adalah keseluruhan rangkaian dari usaha menjual barang dan jasa yang
diperlukan wisatawan, selama ia melakukan perjalanan wisata sampai
kembali ke tempat asalnya.
Menurut Badrudin (2001), ada lima unsur industri pariwisata yang sangat
penting, yaitu:
1. Attractions (daya tarik)
2. Facilities (fasilitas-fasilitas yang diperlukan)
3. Infrastructure (infrastruktur)
4. Transportations (transportasi)
5. Hospitality (keramahtamahan)
Pariwisata merupakan industri yang rentan terhadap berbagai peristiwa
bencana. Ia bisa menjadi yang terdampak dari kemunculan bencana atau
memicu kemunculan bencana itu sendiri.
Selain karena pengaruh multi-sektoral yang meliputi bidang penting
kehidupan, industri pariwisata perlu mendapat perhatian atas manajemen risiko
bencana (dan krisis) sebab melibatkan pergerakan dan jalinan yang luas secara
internasional, khususnya terkait manusia sebagai wisatawan, masyarakat lokal,
maupun pengelola destinasi baik pemerintah atau sektor swasta.

B. Pengertian Bencana
Bencana menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 adalah peristiwa
atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan/atau faktor non

4
alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis
Bencana merupakan suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu
masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan
manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui
kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi dengan
menggunakan sumber daya mereka sendiri. (ISDR, 2004)
Berdasarkan definisi bencana menurut para ahli tersebut maka definisi
bencana dalam penelitian ini yaitu gangguan atau ancaman dari keadaan normal
hingga menyebabkan kerugian dari gangguan tersebut yang bersumber dari alam,
non alam dan sosial. Gangguan tersebut tidak dapat diprediksi kapan, dimana dan
kepada siapa terjadinya.

C. Pengertian Manajemen Risiko Bencana


Menurut Syarief dan Kondoatie (2006) mengutip Carter (2001), Manajemen
Risiko Bencana adalah pengelolaan bencana sebagai suatu ilmu pengetahuan
terapan (aplikatif) yang mencari, dengan melakukan observasi secara sistematis
dan analisis bencana untuk meningkatkan tindakan-tindakan (measures), terkait
dengan pencegahan (preventif), pengurangan (mitigasi), persiapan, respon
darurat dan pemulihan. Manajemen dalam bantuan bencana merupakan hal-hal
yang penting bagi Manajemen puncak yang meliputi perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (directing), pengorganisasian
(coordinating) dan pengendalian (controlling).
Menurut BPBD Kota Denpasar, manajemen bencana merupakan segala
upaya atau kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pencegahan, mitigasi,
kesiapan, tanggap darurat dan pemulihan berkaitan dengan bencana yang
dilakukan sebelum, pada saat dan setelah bencana.
Manajemen bencana yang dalam PP No 21 Tahun 2008 dijelaskan sebagai
penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan serangkaian upaya yang

5
meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana,
kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan penanggulangan bencana. Sebagaimana didefinisikan dalam
UU 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, penyelenggaraan
penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan
kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan
bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.

D. Tujuan Manajemen Risiko Bencana Pariwisata


Tujuan dari Manajemen Risiko Bencana di antaranya :
1. Mengurangi atau menghindari kerugian secara fisik, ekonomi maupun jiwa
yang dialami oleh perorangan atau masyarakat dan negara.
2. Mengurangi penderitaan korban bencana.
3. Mempercepat pemulihan.
4. Memberikan perlindungan kepada pengungsi atau masyarakat yang
kehilangan tempat ketika kehidupannya terancam

Penyebab perlu adanya manajemen risiko bencana di sektor pariwisata :


1. Industri pariwisata melibatkan banyak orang, baik itu pekerja,
penduduk lokal, maupun wisatawan yang sama-sama terancam ketika sebuah
destinasi terkena bencana.
2. Perilaku wisatawan di sebuah destinasi tidak dapat diprediksi,
sehingga sulit untuk mengontrol terjadinya bencana. Hal ini menciptakan
kebutuhan yang kuat untuk mendapatkan informasi yang dapat diakses
dengan mudah di daerah terpencil dan di seluruh daerah tujuan secara
keseluruhan.
3. Dalam banyak kasus, wisatawan tidak berbicara bahasa lokal dan tidak
dapat dengan mudah menemukan petunjuk tentang bagaimana berperilaku
dalam penanganan bencana.
4. Banyak destinasi wisata yang berada di daerah keindahan alam, seperti
garis pantai, gunung, sungai, dan danau di mana ada risiko dan bahaya yang
lebih besar untuk terkena dan terdampak bencana alam.

6
5. Wisatawan memiliki sedikit pengetahuan tentang tempat yang mereka
kunjungi, bahkan kurang begitu tahu tentang bagaimana untuk bereaksi, ke
mana harus pergi, siapa yang harus diajak bicara, dan bagaimana prosedur
darurat ketika berada pada sebuah destinasi yang mengalami bencana.
6. Industri pariwisata adalah industri multi sektor yang saling berkaitan,
sehingga tidak mudah merespon bencana. Ini juga menekankan perlunya
suatu sistem informasi di seluruh industri yang tersedia untuk semua jenis
perusahaan yang dapat digunakan dalam menghadapi bencana.

E. Proses Manajemen Risiko Bencana Pariwisata


Tahapan Proses Manajemen Risiko di Sektor Pariwisata
1. Pencegahan (Prevention)
Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai
upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.
a. Pembuatan dan penempatan tanda-tanda peringatan, bahaya, larangan
memasuki daerah rawan bencana di kawasan pariwisata.
b. Pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai peraturan tentang penataan
ruang, ijin mendirikan bangunan (IMB), dan peraturan lain yang berkaitan
dengan pencegahan bencana.
c. Pelatihan dasar kebencanaan bagi aparat dan masyarakat terutama pada
pekerja di kawasan pariwisata.
d. Pemindahan wisatawan serta penduduk dari daerah yang rawan bencana
ke daerah yang lebih aman.
e. Penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat di sekitar kawasan
wisata.
f. Perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur evakuasi jika
terjadi bencana.
g. Pembuatan bangunan di kawasan pariwisata yang terstruktur yang
berfungsi untuk mencegah, mengamankan dan mengurangi dampak yang
ditimbulkan oleh bencana, seperti : tanggul, dam, penahan erosi pantai,
bangunan tahan gempa dan sejenisnya.
2. Mitigasi (Mitigation)

7
Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana.
a. Mitigasi Bencana yang Efektif
Mitigasi bencana yang efektif harus memiliki tiga unsur utama, yaitu
penilaian bahaya, peringatan dan persiapan.
1) Penilaian bahaya (hazard assestment); diperlukan untuk
mengidentifikasi populasi dan asset yang terancam, serta tingkat
ancaman. Penilaian ini memerlukan pengetahuan tentang karakteristik
sumber bencana, probabilitas kejadian bencana, serta data kejadian
bencana di masa lalu. Tahapan ini menghasilkan Peta Potensi Bencana
yang sangat penting untuk merancang kedua unsur mitigasi lainnya.
2) Peringatan (warning); diperlukan untuk memberi peringatan kepada
masyarakat tentang bencana yang akan mengancam (seperti bahaya
tsunami yang diakibatkan oleh gempa bumi, aliran lahar akibat letusan
gunung berapi, dsb). Sistem peringatan didasarkan pada data bencana
yang terjadi sebagai peringatan dini serta menggunakan berbagai
saluran komunikasi untuk memberikan pesan kepada pihak yang
berwenang maupun masyarakat. Peringatan terhadap bencana yang
akan mengancam harus dapat dilakukan secara cepat, tepat dan
dipercaya.
3) Persiapan (preparedness); kegiatan kategori ini tergantung kepada
unsur mitigasi sebelumnya (penilaian bahaya dan peringatan), yang
membutuhkan pengetahuan tentang daerah yang kemungkinan terkena
bencana dan pengetahuan tentang sistem peringatan untuk mengetahui
kapan harus melakukan evakuasi dan kapan saatnya kembali ketika
situasi telah aman. Tingkat kepedulian masyarakat dan pemerintah
daerah dan pemahamannya sangat penting pada tahapan ini untuk
dapat menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk
mengurangi dampak akibat bencana. Selain itu jenis persiapan lainnya
adalah perencanaan tata ruang yang menempatkan lokasi fasilitas
umum dan fasilitas sosial di luar zona bahaya bencana (mitigasi non

8
struktur), serta usaha-usaha keteknikan untuk membangun struktur
yang aman terhadap bencana dan melindungi struktur akan bencana
(mitigasi struktur).
b. Mitigasi Bencana pada Sektor Pariwisata
Bencana yang datang silih berganti, bukan tidak mungkin untuk
diantisipasi.Ada upaya mitigasi bencana yang dapat dilakukan sedini
mungkin.Upaya mitigasi tersebut dapat dilaksanakan sebagai berikut.
1) Pertama, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat,
khususnya lembaga terkait kebencanaan seperti BNPB, BPBD, dan
para pelaku pariwisata dalam upaya mitigasi bencana menjadi suatu
keharusan.
2) Selain itu, pembangunan infrastrukturterutama di destinasi pariwisata
prioritas yang rawan bencana. Misalnya dengan membangun sistem
peringatan dini (Early Warning System) di titik rawan bencana dan
mendirikan shelter evakuasi sementara di tempat yang strategis dan
aman dari bencana.
3) Selain itu, diperlukan juga pemasangan jalur atau rambu evakuasi
yang mengarahkan masyarakat dan wisatawan saat ada perintah untuk
melakukan evakuasi.
4) Infrastruktur penunjang juga perlu mendapat perhatian, seperti
pembangunan model hunian penduduk dan fasilitas kritis seperti
rumah sakit dan sekolah. Fasilitas pariwisata seperti pusat informasi
pariwisata (Tourism Information Center), hotel atau penginapan perlu
dirancang sedemikian rupa sehingga tahan terhadap ancaman gempa.
5) Hal penting lainnya adalah membangun dan meningkatkan kapasitas
masyarakat dan wisatawan karena mereka merupakan pihak yang
pertama berhadapan dengan resiko bencana. Maka, penting untuk
memberikan edukasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan
kebencanaan di kawasan wisata rawan bencana tadi, seperti
meningkatkan kesiapsiagaan, mengatasi kepanikan ketika bencana
datang, atau dengan mengadakan simulasi tanggap bencana.

9
6) Terakhir, travel warning atau peringatan untuk tidak mengunjungi
destinasi yang sedang dalam siaga bencana penting untuk
disosialisasikan, baik melalui media cetak dan elektronik.
3. Kesiapsiagaan (Preparedness)
Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang
tepat guna dan berdaya guna.Dalam fase ini juga terdapat peringatan dini
yaitu serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada
masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh
lembaga yang berwenang. Berikut beberapa indikator yang dapat menjadi
tolak ukur untuk menilai kesiapsiagaan dalam menanggapi bencana di
kawasan pariwisata.
a. Indikator Kesiapsiagaan
1) Pengetahuan dan sikap terhadap bencana
Pengetahuan terhadap bencana merupakan alasan utama seseorang
untuk melakukan kegiatan perlindungan atau upaya kesiapsiagaan
yang ada (Sutton dan Tierney, 2006).Pengetahuan yang dimiliki
mempengaruhi sikap dan kepedulian masyarakat untuk siap dan siaga
dalam mengantisipasi bencana, terutama bagi mereka yang bertempat
tinggal di daerah yang rentan terhadap bencana alam. Indikator
pengetahuan dan sikap individu/rumah tangga merupakan pengetahuan
dasar yang semestinya dimiliki oleh individu meliputi pengetahuan
tentang bencana, penyebab dan gejala-gejala, maupun apa yang harus
dilakukan bila terjadi bencana (ISDR/UNESCO 2006). Individu atau
masyarakat yang memiliki pengetahuan yang lebih baik terkait dengan
bencana yang terjadi cenderung memiliki kesiapsiagaan yang lebih
baik dibandingkan individu atau masyarakat yang minim memiliki
pengetahuan.
2) Rencana tanggap darurat

10
Rencana tanggap darurat adalah suatu rencana yang dimiliki oleh
individu atau masyarakat dalam menghadapi keadaan darurat di suatu
wilayah akibat bencana alam (Sutton dan Tierney, 2006). Rencana
tanggap darurat menjadi bagian yang penting dalam suatu proses
kesiapsiagaan, terutama yang terkait dengan evakuasi, pertolongan dan
penyelamatan, agar korbanbencana dapat di minimalkan
(ISDR/UNESCO, 2006). Rencana tanggap darurat sangat penting
terutama pada hari pertama terjadi bencana atau masa dimana bantuan
dari pihak luar belum datang (ISDR/UNESCO, 2006).Rencana
tanggap darurat ini adalah situasi dimana masyarakat memastikan
bagaimana pembagian kerja sumber daya yang ada pada saat bencana.
3) Sistem peringatan dini
Sistem peringatan meliputi tanda peringatan dan distribusi informasi
jika akan terjadi bencana. Sistem peringatan dini yang baik dapat
mengurangi kerusakan yang dialami oleh masyarakat (Gissing, 2009).
Sistem yang baik ialah sistem dimana masyarakat juga mengerti
informasi yang akan diberikan oleh tanda peringatan dini tersebut atau
tahu apa yang harus dilakukan jika suatu saat tanda peringatan dini
bencana berbunyi/menyala (Sutton dan Tierney, 2006). Oleh karena
itu, diperlukan juga adanya latihan/simulasi untuk sistem peringatan
bencana ini.
4) Sumber daya mendukung
Sumber daya yang mendukung adalah salah satu indikator
kesiapsiagaan yang mempertimbangkan bagaimana berbagai sumber
daya yang ada digunakan untuk mengembalikan kondisi darurat akibat
bencana menjadi kondisi normal (ISDR/UNESCO, 2006). Indikator
ini umumnya melihat berbagai sumber daya yang dibutuhkan individu
atau masyarakat dalam upaya pemulihan atau bertahan dalam kondisi
bencana atau keadaan darurat.Yang dapat berasal dari internal maupun
eksternal dari wilayah yang terkena bencana.Sumber daya menurut

11
Sutton dan Tierney dibagi menjadi 3 bagian yaitu sumber daya
manusia, sumber daya pendanaan/logistik, dan sumber daya
bimbingan teknis dan penyedian materi.
5) Modal sosial
Modal sosial sering diartikan sebagai kemampuan individu atau
kelompok untuk bekerja sama dengan individu atau kelompok lainnya.
Masyarakat atau individu yang memiliki ikatan sosial yang lebih baik
antara satu dengan yang lainnya akan lebih mudah dalam melakukan
kesiapsiagaan yang ada. Selain itu modal sosial yang baik diantara
masyarakat di wilayah yang rentan terhadap bencana akan mengurangi
kerentanan itu sendiri (Martens, 2009). Modal sosial yang solid antara
penduduk akan mempermudah masyarakat dalam melakukan
mobilisasi pada saat evakuasi akan dilakukan. Modal sosial juga dapat
menjadi pengerak indikator kesiapsiagaan yang lainnya seperti
menyepakati tempat evakuasi yang sama, sepakat dalam mengikuti
pelatihan, dan bersama-sama dalam melakukan tindakan kesiapsiagaan
lainnya (Sutton dan Tierney 2006).
b. Upaya Kesiapsiagaan yang Dapat Dilakukan di Kawasan Pariwisata
Berikut beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di tahap preparedness.
1) Pengaktifan pos-pos siaga bencana dengan segenap unsure
pendukungnya di kawasan pariwisata.
2) Pelatihan siaga / simulasi / gladi / teknis bagi masyarakat sekitar
daerah pariwisata beserta pekerja di kawasantersebut.
3) Penanggulangan bencana (SAR, sosial, kesehatan, prasarana dan
pekerjaan umum).
4) Penyiapan dukungan / stok logistik.
5) Penyiapan sistem informasi dan komunikasi yang cepat dan terpadu
guna mendukung tugas kebencanaan.
6) Penyiapan peringatan dini (early warning).
7) Penyusunan rencana kontinjensi (contingency plan).

12
8) Inventarisasi sumber daya pendukung kedaruratan.
9) Pembuatan standar bantuan dan pelayanan.
c. Pembentukan Tim Bencana
Pembetukan tim bencana juga sangat dibutuhkankan. Tim bencana
merupakan orang-orang yang mengkoordinir atau memiliki tanggung
jawab terhadap manajemen bencana. Tim bencana yang biasanya
digunakan di hotel biasanya adalah Emergency Responsible Team dan
Fire Brigade, sedangkan menurut BPBD Kota Denpasar beberapa jenis
tim bencana adalah Publict Save Community (PSC), Barisan Relawan
Bencana (BALANA), dan Search and Rescue (SAR). Adapun jenis-jenis
tim bencana tersebut adalah sebagai berikut :
1) Emergency Responsible Team
Emergency Responsible Team (ERT) didefinisikan oleh Georgetown
University (2014) sebagai berikut,The Emergency Responsible Team
(ERT) is responsible team for coordinating the response to crises
affecting the safety and operation of some disaster. They will be called
to assist in the management of the emergency situation. Tim ini
merupakan tim khusus yang menangani masalah bencana, tim ini
selain dibentuk oleh Georgetown University juga dibentuk oleh
berbagai organisasi termasuk hotel.
2) Fire Brigade
Fire Brigade didefinisikan sebagai berikut Fire Brigade is a private or
temporary organization of individual equipped to fight fires. Fire
Brigade tersebut merupakan organisasi yang bertugas untuk
menanggulangi segala jenis bencana yang berhubungan dengan
kebakaran. Selain dari pemerintah, tim ini biasanya juga dibentuk oleh
hotel-hotel.
3) Public Save Community (PSC)
Menurut BPBD Kota Denpasar, Public Save Community merupakan
petugas yang memberikan pelayanan kedaruratan kepada masyarakat

13
Kota, dioprasikan oleh petugas khusus yang dilengkapi dengan tiga
mobil ambulance, dan siaga 24 jam di setiap pos jaga. Petugas PSC
bergerak mengikuti pergerakan mobil pemadam pada saat terjadi
kebakaran dan PSC setiap saat bertugas mengevakuasi korban
kecelakaan lalulintas dan bencana lainya.
4) Search and Rescue (SAR)
Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM.43 Tahun 2005
Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan, Searh
and Rescue (SAR) memiliki pengertian yaitu badan yang berfungsi
melaksanakan pembinaan, pengkoordinasian dan pengendalian potensi
Search and Rescue (SAR) dalam kegiatan SAR terhadap orang dan
material yang hilang atau dikhawatirkan hilang, atau menghadapi
bahaya dalam pelayaran dan atau penerbangan, serta memberikan
bantuan SAR dalam penanggulangan bencana dan musibah lainnya
sesuai dengan peraturan SAR Nasional dan Internasional.
5) Barisan Relawan Bencana (BALANA)
Menurut BPBD Kota Denpasar, Barisan Relawan Bencana
(BALANA) merupakan barisan relawan bencana yang direkrut dari
pegawai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dilingkungan
Pemerintah Kota Denpasar yang ditugaskan ikut serta menangani
bencana.
4. Aksi Tanggap (Response)
Tahap tanggap darurat merupakan tahap penindakan atau pengerahan
pertolongan untuk membantu masyarakat yang tertimpa bencana, guna
menghindari bertambahnya korban jiwa. Upaya yang dilakukan pada saat
kejadian bencana, meliputi :
a. Pengerahan unsur (TNI, Polri, Linmas dan masyarakat)
1) Pencarian/penyelamatan korban
2) Pelaksanaan evakuasi
3) Penyelamatan dokumen keperdataan

14
4) Penyiapan akses bantuan dan penyelamatan
5) Dengan mengutamakan penanggulangan kelompok rentan
(perempuan, ibu hamil, penyandang cacat, balita, dan lansia).
b. Pengkajian kebutuhan (initial need assessment)
c. Penampungan sementara
1) Pelayanan kesehatan (Pos kesehatan)
2) Penyediaan pangan dan gizi
3) Penyediaan air bersih
4) Penyediaan sanitasi
d. Penyediaan dan penyebaran informasi korban, fasilitas rusak dan lain-lain.
e. Pemberantasan vektor untuk pencegahan penyakit menular.
f. Koordinasi dan pengelolaan bantuan.
5. Pemulihan (Recovery)
Tahap pemulihan meliputi tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Upaya yang
dilakukan pada tahap rehabilitasi adalah untuk mengembalikan kondisi daerah
yang terkena bencana yang serba tidak menentu ke kondisi normal yang lebih
baik, agar kehidupan dan penghidupan masyarakat dapat berjalan kembali.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi :
a. Perbaikan sarana/prasarana sosial dan ekonomi.
b. Penanggulangan kejiwaan pasca bencana (post traumatic stress) melalui
penyuluhan, konseling, terapi kelompok (di sekolah) dan perawatan.
c. Pemulihan gizi/kesehatan.
d. Pemulihan sosial ekonomi sebagai upaya peningkatan ketahanan
masyarakat (antara lain: penciptaan lapangan kerja, pemberian modal
usaha, dll).

F. Dampak Bencana pada Sektor Pariwisata


Dampak pada situs pariwisata akibat bencana yaitu :
1. Kerusakan atau musnahnya bangunan monumental yang sangat berharga
sebagai sumber dan bukti sejarah.

15
2. Orang-orang yang menjadi korban banyak kehilangan harta benda bahkan
nyawa.
3. Trauma tersendiri bagi korban ataupun wisatawan. Mereka cenderung
mengesampingkan kebutuhan untuk pariwisata.
Upaya yang dapat dilakukan pemerintah untuk menaikkan kembali citra
Indonesia dimata dunia sebagai Negara yang aman dengan keindahan alam yang
menakjubkan dapat dilakukan dengan cara :
1. Meningkatkan promosi dan layanan objek wisata. Contohnya membuat iklan
yang ditayangkan di media elektronik dan media cetak.
2. Mengundang wartawan asing untuk meliput kawasan wisata.
3. Manambah perwakilan biro perjalanan diluar negeri dengan promo-promo
yang menarik
4. Mempermudah akses ke daerah tujuan wisata, misalnya memperbaiki jalan
dan membuka penerbangan tersendiri khusus menuju daerah tujuan wisata.

G. Kebijakan Penanggulangan Bencana dalam Sektor Pariwisata


Undang-Undang No: 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana menyatakan
bahwa Penanggulangan bencana bertujuan untuk memberikan perlindungan
kepada masyarakat dari ancaman bencana dan melibatkan unsur Pemerintah,
unsur masyarakat dan unsur swasta.
Khusus unsur swasta, BPBD Provinsi Bali memulai langkah strategis dengan
memberikan apresiasi kepada unsur swasta yang telah melakukan kegiatan-
kegiatan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan bencana.Terobosan ini menjadi
sangat penting dan efektif dalam rangka mengurangi risiko jika terjadi
bencana.Pengurangan risiko bencana sesungguhnya ada 3 hal yang mesti
dilakukan, yang pertama adalah mengurangi hazard, memperkecil kerentanan
dan yang terakhir adalah peningkatan kapasitas.
Selain Undang-Undang kebencanaan, dalam Rencana Penanggulangan
Bencana Provinsi Bali juga sangat jelas mengisyaratkan bahwa peningkatan
kapasitas menjadi prioritas program yang harus dilaksanakan. Dilatar belakangi
pemikiran tersebut, Gubernur Provinsi Bali menurunkan Surat Keputusan Nomor
: 1849/04-1/HK/2013 yang isinya adalah pembentukan dan susunan keanggotaan
tim verifikasi kesiapsiagaan bencana.

16
Tim verifikasi ini dibentuk untuk melaksanaan pembinaan dan penilaian
kesiapsiagaan sesuai dengan standard an kritaria penanggulangan bencana. Tim
ini juga mempuyai tugas sebagai berikut :
1. Menyusun indikator atau parameter kesiapsiagaan menghadapi
bencana ;
2. Menyusun standar operating procedure (SOP) pelaksanaan pembinaan
dan penilaian ;
3. Melaksanakan proses identifikasi risiko bencana;
4. Melaksanakan penilaian kesiapsiagaan sesuai dengan indikator atau
parameter yang telah ditentukan;
5. Merekomendasikan hasil penilaian kepada Kepala Pelaksanan Badan
6. Penanggulangan Bencana Provinsi Bali;
7. Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur melalui
Kepala
8. Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali.

H. Aspek Penilaian Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana dalam Industri


Pariwisata
Berikut adalah aspek penilaian dan langkah-langkah apa yang harus dilakukan
oleh penyedia jasa industri pariwisata,bisnis dan penyedia jasa lainnya untuk
memperoleh sertifikasi kesiapsiagaan bencana kepada Pemerintah Provinsi Bali
melalui BPBD Provinsi Bali yang akan dinilai oleh tim vrifikasi kesiapsiagaan
bencana.
Parameter penilaian :
1. Pengetahuan bencana terdiri dari :
a. Pengetahuan umum
1) Perusahaan memiliki program pelatihan kebencanaan atau
yang berhubungan dengan kebencanaan yang melibatkan
semua komponen manajemen dan terdokumentasi.

17
2) Sudah pernah melakukan/berpartisipasi dalam pelatihan
singkat kebencanaan yang diberikan oleh dinas/instansi yang
relevan dan ada tanda bukti sertifikat/surat keterangan secara
individu atau kelembagaan,
3) Jika poin b diatas terpenuhi, apakah sudah disosialisasikan
dilingkungan perusahan .
4) Apakah daftar manajemen atau staff yang telah mengikuti
pelatihan kebencanaan disediakan
5) Tersedia referensi/dokumen tentang kebencanaan dan
pengurangan risiko bencana yang mudah diakses oleh
manajemen dan staff.
6) Pernah mendatangkan ahli/konsultan dalam upaya
pengurangan risiko bencana dan peningkatkan kapasitas
pengetahuan kebencanaan.
7) Memiliki pengetahuan tentang cuaca, iklim, kualitas udara,
gempa bumi dan tsunami sesuai hazard masing-masing.
8) Mengetahui potensi risiko bencana yang terjadi dilingkungan
perusahaanya dan mengetahui cara penanganannya
9) Tersedia dokumen kajian risiko yang disusun berdasarkan
potensi hazard dilingkungan perusahannya masing-masing
b. Partisipatif dalam kegiatan kebencanan
1) Perusahaan pernah mengikuti seminar/lokakarya atau
sejenisnya yang diselenggarakan oleh lembaga profesional
kebencanaan seperti BPBD, BMKG, SAR, PMI, Dinas
Kesehatan, BPPT, LIPI, Perguruan Tinggi dll. Dibuktikan
dengan sertifikat/Surat Keterangan.
2) Perusahan pernah mengikuti drill/simulasi yang dilakukan
oleh Dinas/Lembaga yang menangani kebencanaan.
3) Perusahan pernah terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan
pengurangan risiko bencana yang diselenggarakan oleh

18
Dinas/Instansi kebencanaan minimal dilakukan didaerah
sekelilingnya.
4) Pernah terlibat langsung/berpartisipasi dalam kegiatan tanggap
darurat bencana.
2. Mitigasi
a. Mitigasi Struktural
1) Tersedia denah/peta bangunan yang terpasang disetiap sisi
gedung/kamar kerja/kamar istirahat dll.
2) Terdapat areal yang bisa digunakan sebagai titik kumpul
(assembly point) ketika terjadi emergency.
3) Jika point 3 diatas tersedia, apakah assembly point sudah sesuai
dengan kreteria standard persyaratan assembly point.
4) Apakah telah ditentukan daerah aman (safe area) untuk
beberapa hazard contohnya untuk gempabumi, tsunami,
kebakaran atau banjir.
5) Tersedianya sarana proteksi kebakaran aktif (Sistem deteksi dan
alarm, APAR, Hidrant, Springkler dll) yang dirancang sesuai
dengan standar tingkat bahayanya.
6) Jika point 5 diatas tersedia, apakah semua karyawan/staff
mampu mengoperasionalkan.
7) Apakah sarana proteksi dimaksud siap digunakan kapan saja?
(Periksa kartu control)
8) Apakah tersedia fasilitas dan aksesibilitas bangunan yang
diperuntukan kepada kelompok disable (cacat)
9) Sistem penanggulangan banjir sudah didesain sedemikian rupa (
drainase, biopori)
10) Dilengkapi dengan sistem pembuangan limbah yang aman dari
pencemaran lingkungan
11) Dilengkapi dengan tangga darurat dan pintu keluar darurat
disetiap unit bangunan.
12) Penangkal petir telah terpasang sesuai dengan persyaratan tinggi
bangunan dan telah diperiksa dan diuji secara berkala.
13) Strukturruangtelah memperhatikan aspek pengurangan resiko
bencana/kecelakaan yang menimbulkan bencana (antara kamar
kerja/kamar tamu dengan cooler, boiler, genset, limbah dll)

19
14) Apakah terpasang tanda-tanda peringatan bahaya pada area-area
bahaya disekitar bangunan
15) Membangun kemandirian semua komponen manajemen
perusahan , untuk meningkatkan kesadaraan membangun
kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana (Periksa
dokumen kajian risiko bencana).
16) Turut aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan
lingkungan untuk pengurangan resiko bencana baik yang
dilaksanakan sendiri atau patisipasi.
17) Apakah ada inisiatif bekerjasama dengan stakeholder lain dalam
kegiatan sosial fokus kepada pengelolaan lingkungan terutama
dengan masyarakat disekitar lokasi perusahaan/hotel.
b. Mitigasi Non Struktural
1) Adanya kebijakan perusahaan peduli terhadap pengelolaan
lingkungan demi keamanan dan keselamatan bila terjadi
ancaman bencana.
2) Apakah pernah mengadakan pelatihan pengurangan Risiko
Bencana
3) Memiliki MOU dengan Instansi terkait dalam rangka
membangun/meningkatkan kapasitas staff terhadap aksi-aksi
pengurangan risiko bencana.
4) Tersedia kebijakan perlindungan (santunan, asuransi dll.)
terhadap staff/karyawan, aset perusahaan dan pemakai jasa
perusahaan.
3. Kesiapsiagaan dan Kapasitas Respon
a. Kesiapsiagaan
1) Terbentuk tim yang terlatih khusus yang siap ditugaskan ketika
terjadi bencana dilingkungan perusahan
2) Tim tersebut diatas telah dilegalisasi oleh manajemen dan
memiliki pembagian tugas yang jelas.
3) Memiliki Standard Operating Prosedur (SOP) sesuai dengan
ancaman hazard didaerahnya.

20
4) Sosialisasi SOP atau kebijakan kepada karyawan, vendor dan
mitra kerja dilaksanakan terus menerus.
5) Uji coba SOP dalam bentuk drill/simulasi/table top wajib
dilakukan secara berkala minimal 6 bulan sekali.
6) Sarana dan prasarana yang disiapkan untuk menghadapi
tanggap darurat bencana siap digunakan dan bekerja dengan
baik (Jejaring komunikasi, transportasi, sarana kesehatan,
perlengkapan kebakaran dll)
b. Sistem peringatan dini
1) Perusahaan telah menentukan cara untuk memperoleh informasi
peringatan dini dari instansi terkait seperti PUSDALOPS,
BMKG, PVMBG, BPBD Provinsi dan kabupaten/kota.
2) Kalau point 1 diatas tersedia, apakah ada terpasang atau
menggunakan jenis teknologi apa.
3) Memiliki mekanisme yang jelas dalam menerima informasi
peringatan (bagan/skema sistem peringatan dini)
4) Pembagian tugas yang jelas bagi para pejabat/staff ketika
menerima informasi peringatan dini dan reaksi yang harus
dilakukan.
5) Bagaimana dengan penyampaian peringatan dini (warning)
kepada para tamu dan pekerja perusahan, adakah format arahan
yang standard untuk reaksi yang efektif dan efisien?
6) Rambu evakuasi terpasang atau rambu lainnya sesuai dengan
hazard diwilayahnya.
7) Tersedia peta rencana evakuasi sesuai dengan identifikasi
hazard (Gempa bumi, Tsunami. Kebakaran, banjir dll) serta
prosedur dan strategi yang digunakan.

c. Kapasitas Respon
1) Tersedia data potensi dan sumber dayaseperti, data personil
terlatih, peralatan dan perlengkapan dalam mendukung
penanggulangan bencana (data base)

21
2) Tersedia peralatan standard first responder seperti tandu, kotak
Pertolongan Pertama (dulu disebut kotak PPPK), spalk/bidai,
pembalut cepat/mitela, masker secukupnya.
3) Tim khusus yang dibentuk sudah dilengkapi dengan peralatan
standard Alat Pengaman Diri (APD)
4) Telah mengikuti pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) dan
MedicalFirst Responder (MFR)
5) Pernah menyelenggarakan sendiri atau pernah mengikuti
pelatihan (Praktis) Search and Resque (SAR)
6) Pernah menyelenggarakan sendiri atau pernah mengikuti
pelatihan penanganan kasus kejadian luar biasa (KLB) dan
wabah penyakit
7) Regu pemadam kebakaran terbentuk dan terlatih menggunakan
peralatan yang tersedia di perusahaan.
4. Keamanan
a. Perusahaan memiliki prosedur yang jelas penanganan keamanan
ketika terjadi ancaman bencana.
b. Perusahaan memiliki peralatan penunjang untuk pemantauan aktifitas
keamanan dan kemungkinan terjadinya bencana seperti CCTV
c. Petugas keamanan memiliki pengetahuan praktis kebencanaan
d. Memiliki jejaring komunikasi yang kuat dengan instansi terkait
Seperti dengan TNI, POLRI, Pecalang Desa adat dll.
e. Tersedia check list dinas/instansi pelaku kebencanaan, contact person
dan nomor telephon penting.
5. Persiapan dan pengorganisasian
a. Kelengkapan Administrasi
Kelengkapan administrasi menjadi hal yang paling pokok yang harus
dilengkapi oleh calon penerima sertifikasi, administrasi merupakan
bukti otentik sebagai sebuah perushaan yang bisa dipertanggung
jawabkan. Berbagai jenis kelengkapan administrasi adalah sebagai
berikut :

22
1) Perijinan usaha
2) Sertifikat/surat keterangan (First responder, rescue, manajemen
bencana dll) yang pernah diikuti
3) Seluruh SOP/PROTAP Kebencanaan yang telah dimiliki dan
masih berlaku.
4) Contoh material informasi seperti Room directory, brosur,
leaflet, poster atau booklet yang telah tersedia.
5) Dokumen kegiatan pelatihan kebencanaan yang pernah
dilaksanakan
b. Kelengkapan piranti keras (Hardware)
Kelengkapan piranti keras (hardware) kebencanaan merupakan
prioritas selanjutnya, piranti keras/peralatan standar kebencanaan adalah
sarana pendukung dalam melaksanakan kegiatan kedaruratan. Tanpa
peralatan yang standar, niscaya operasi kedaruratan akan berjlan dengan
baik. Standar piranti keras yang dimaksud adalah :
1) Perlengkapan Pertolongan Pertama (PP) termasuk tandu dll
sesuai standard seorang first responder.
2) APAR (alat pemadam kebakaran ringan) dan alat pengaman
lainnya
3) Lampu senter
4) Masker
5) Rompi spotlight
6) Glove (sarung tangan)
7) Rambu evakuasi

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa industri pariwisata
merupakan industri yang dikembangkan dan diandalkan sebagai salah satu sektor

23
pendorong pertumbuhan ekonomi, dikarenakan sektor pariwsiata berpengaruh
signifikan terhadap perekonomian masyarakat. Pariwisata ini merupakan industri
yang rentan terhadap berbagai peristiwa bencana. Ia bisa menjadi yang
terdampak dari kemunculan bencana atau memicu kemunculan bencana itu
sendiri. Bencana sendiri merupakan suatu gangguan serius terhadap
keberfungsian suatu masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian yang meluas
pada kehidupan manusia baik dari segi materi, ekonomi atau lingkungan.
Oleh karena industri pariwisata sangat rentan terhadap berbagai peristiwa
bencana, maka diperlukan suatu manajemen untuk menghadapi resiko dari
terjadinya bencana itu sendiri. Tahapan proses manajemen resiko bencana
pariwisata antara lain meliputi pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, aksi tanggap
(response), dan pemulihan. Pencegahan terhadap bencana dengan menggunakan
tahapan tersebut dilakukan dengan kolaborasi seluruh pihak baik pihak
pemerintah, swasta, masyarakat, pemilik industri pariwisata dan juga BNPB
maupun BPBD setempat.
Untuk mendapatkan sertifikasi kesiapsiagaan dalam industri pariwisata,
terdapat beberapa aspek yang akan dinilai. Aspek aspek tersebut meliputi
pengetahuan mengenai kebencanaan, partisipasi dari pengusaha di bidang
pariwisata dalam mengikuti kegiatan kebencanaan, mitigasi struktural dan non
struktural dari perusahaan, kesiapsiagaan dan kapasitas respon yang dimiliki
untuk menghadapi bencana serta persiapan dan pengorganisasian yang ada.

B. Saran
Bencana merupakan suatu peristiwa yang dapat terjadi kapan saja dan dimana
saja, oleh karena itu penulis menyarankan agar para masyarakat pada umumnya
dan pemilik industri pariwisata khususnya agar tetap bersiaga terhadap bahaya
bencana untuk mengurangi resiko dampak yang akan ditimbulkan. Kesiapsiagaan
dapat dilakukan dengan cara mengadakan sosialisasi mengenai pendidikan
kebencanaan kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat mengetahui
langkah-langkah penanggulangan bencana dan diharapkan dengan pendidikan

24
yang telah di dapat, masyarakat dapat mengurangi ancaman, mengurangi
dampak, menyiapkan diri secara tepat apabila terjadi bencana, dapat memulihkan
diri, dan memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat adanya bencana.

DAFTAR PUSTAKA

Amii Utami, Dewa Ayu. 2016. Proses Manajemen Risiko Bencana. Online
(Available) https://www.scribd.com/document/325455256/proses-manajemen-
risiko-bencana. Diakses pada, Kamis, 11 Mei 2017 pukul : 15.17

BPBD Provisi Bali. 2015. Petunjuk Teknis Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana. Online
(Available) http://www.phribali.or.id/wp-
content/uploads/2015/03/Final_Draft_JUKNIS.pdf. Diakses pada, Kamis, 11
Mei 2017 pukul : 13.10

25
Hertanto, Heka. 2011. Manajemen Bencana Berbasis Masyarakat. Jakarta :
MediaIndonesia

ISDR. (2004). Living with Risk. A Global review of disaster reduction initiatives.New
York: United Nations

Kodoatie, J.R. dan R. Syarief, 2006. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. And
Offset, Yogyakarta

Muhammad Tahwin. 2003. Pengembangan Obyek Wisata Sebagai Sebuah Industri


Studi Kasus Kabupaten Rembang, Jurnal Gemawisata, Vol. 1

Martens, T., Garrelts, Grunnenberg, H., and Lange, H. :Taking The Heterogeneity Of
Citizens Into Account: Flood Risk Communication In Coastal Cities A Case
Study Of Bremen. Natural Hazards and Earth System Sciences.

Rudi, Badrudin. 2001. Menggali Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Daerah
Istimewa Yogyakarta Melalui Pembangunan Industri Pariwisata. Kompak 3: 1-
13
Sutton, J., and Tierney, K. 2006. Disaster Preparedness: Concepts, Guindance and
Research. Colorado: University of Colorado.

UN-ISDR. 2002. Living with Risk: A Global Review of Disaster Reduction Initiatives.
Preapared as An Inter-Agency Effort Coordinated by the ISDR Secretariat with
special support from the Government of Japan, the World Meteorological
Organization and the Asian Disaster Reduction Center (Kobe, Japan). Geneva:
ISDR Secretariat.

26