Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kesehatan Lingkungan


Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan lingkungan adalah
suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar
dapat menjamin keadaan sehat dari manusia. Sedangkan menurut UU No 37 /
2009 Tentang kesehatan Keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Menurut WHO ada 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan, yaitu:
1 Penyediaan Air Minum
2 Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran
3 Pembuangan Sampah Padat
4 Pengendalian Vektor
5 Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6 Higiene makanan, termasuk higiene susu
7 Pengendalian pencemaran udara
8 Pengendalian radiasi
9 Kesehatan kerja
10 Pengendalian kebisingan
11 Perumahan dan pemukiman
12 Aspek kesling dan transportasi udara
13 Perencanaan daerah dan perkotaan
14 Pencegahan kecelakaan
15 Rekreasi umum dan pariwisata
16 Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan
epidemi/wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk
Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan. Ada (5)
upaya dasar yang dapat dilakukan di bidang kesling, yaitu :
1. Penyehatan sumber air bersih (SAB). Kegiatan upaya penyehatan air meliputi
; surveilans kualitas air, inspeksi sanitasi SAB, pemeriksaan kualitas air,
pembinaan kelompok pemakai air.
2. Penyehatan lingkungan pemukiman (Pemeriksaan Rumah). Sarana sanitasi
dasar yang dipantau meliputi :
a. Penyehatan tempat-tempat umum (TTU) jamban keluarga (jaga), saluran
pembuangan air limbah (SPAL), dan tempat pengelolaan sampah (TPS).
b. Penyehatan tempat-tempat umum meliputi hotel dan tempat penginapan
lain, pasar, kolam renang dan pemandian umum lain, sarana ibadah, salon
dan pangkas rambut, dilakukan upaya pembinaan institusi rumah sakit
dan sarana kesehatan lain, sarana pendidikan dan perkantoran
3. Penyehatan tempat pengelola makanan (TPM). Secara umum penyehatan
TPM bertujuan untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan terhadap
tempat penyehatan makanan dan minuman, kesiap-siagaan dan
penanggulangan KLB, keracunan, kewaspadaan dini serta penyakit bawaan
makanan
4. Pemantauan Jentik nyamuk dan PSN (pemberantasan Sarang Nyamuk)
Petugas sanitasi puskesmas melakukan pemeriksaan terhadap tempat yang
mungkin menjadi perindukan nyamuk.
5. Konsultasi kesling klinik sanitasi. Pemberian konsultasi gratis kepada
masyarakat/pasien yang menderita penyakit yang berhubungan dengan
lingkungan seperti; diare, kecacingan, penyakit kulit, TB Paru, dan lainnya.
Menurut UU No 66 tahun 2014 Tentang Kesehatan Lingkungan (Pasal 30)
kesehatan lingkungan diselenggarakan melalui upaya penyehatan, pengamanan
dan perlindungan, yaitu sebagai berikut :
1. Penyehatan Media lingkungan air, udara, tanah, pangan, serta sarana dan
banguanan
2. Pengamanan dilakukan melalui upaya perlindungan kesehatan masyarakat,
proses pengamanan bahan limbah dan pengawasan terhadap limbah
3. Pengendalian dilakukan terhadp vektor dan binatang pembawa penyakit

2.2 Syarat Lingkungan Sehat


Syarat lingkungan sehat terdiri dari :
1. Keadaan Air. Air yang sehat adalah air yang tidak berbau, tidak tercemar dan
dapat dilihat kejernihan air tersebut, kalau sudah pasti kebersihannya dimasak
dengan suhu 1000C, sehingga bakteri yang di dalam air tersebut mati.
2. Keadaan Udara. Udara yang sehat adalah udara yang didalamnya terdapat
yang diperlukan, contohnya oksigen dan di dalamnya tidka tercear oleh zat-
zat yang merusak tubuh, contohnya zat CO2 (zat carbondioksida).
3. Keadaan tanah. Tanah yang sehat adalah tamah yamh baik untuk penanaman
suatu tumbuhan, dan tidak tercemar oleh zat-zat logam berat.
Cara-cara Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan
1. Tidak mencemari air dengan membuang sampah disungai
2. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor
3. Mengolah tanah sebagaimana mestinya
4. Menanam tumbuhan pada lahan-lahan kosong
Cara-cara Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan
1. Mengurangi pemanasan Global dengan menanam tumbuhan sebanyak-
banyaknya pada lahan kosong, maka kita juga ikut serta mengurangi
pemanasan global, karbon, zat O2 (okseigen) yang dihasilkan tumbuh-
tumbuhan dan zat tidak langsung zat CO2 (carbon) yang menyebabkan
atmosfer bumi berlubang ini terhisap oleh tumbuhan dan secara langsung zat
O2 yang dihasilkan tersebut dapat dinikmati oleh manusia tersebut untuk
bernafas.
2. Menjaga kebersihan lingkungan, dengan lingkungan yang sehat maka kita
harus menjaga kebersihannya, karena lingkungan yang sehat adalah
lingkungan yang bersih dari segala penyakit dan sampah.Sampah adalah
musuh kebersihan yang paling utama. Sampah dapat dibersihkan dengan
cara-cara sebagai berikut ;
a. Membersihkan Sampah OrganikSampah organik adalah sampah yang dapat
dimakan oleh zat-zat organik di dalam tanah, maka sampah organik dapat
dibersihkan dengan mengubur dalam-dalam sampah organik tersebut, contoh
sampah organik : daun-daun tumbuhan, ranting-ranting tumbuhan, akar
tumbuhan
b. Membersihkan Sampah Non Organik Sampah non organik adalah sampah
yang tidak dapat hancur (dimakan oleh zat organik) dengan sendirinya, maka
sampah non organik dapat dibersihkan dengan membakar sampah tersebut
dan lalu menguburnya. Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan Kontribusi
lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang
essensial di samping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan
faktor keturunan. Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap
timbulnya masalah kesehatan masyarakat.

2.3 Program Kesehatan Lingkungan


Program-program UPTD Puskesmas yang termasuk dalam pelayanan sanitasi
lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Higiene Sanitasi
a. Inspeksi Sanitasi
b. Inspeksi sanitasi sarana air bersih (SAB)
c. Inspeksi sanitasi di Tempat Tempat Umum (TTU prioritas)
d. Inspeksi sanitasi di Tempat pengelolaan makanan (TPM)
e. Inspeksi sanitasi di lingkungan pemukiman
f. Pemukiman diperiksa
g. Rumah diperiksa
h. TPS diperiksa
i. TP2 Pestisida diperiksa
2. Penyehatan Lingkungan (Pl)
Kegiatan pokok untuk mencapai tujuan tersebut meliputi:
a. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar
b. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan
c. Pengendalian dampak risiko lingkungan
d. Pengembangan wilayah sehat.
Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi berbagai
pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor, peran swasta dan masyarakat
dimana pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan penanganan yang paling
kompleks, kegiatan tersebut sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya
yaitu dari hulu berbagai lintas sector ikut serta berperan (Perindustrian, KLH,
Pertanian, PU dll) baik kebijakan dan pembangunan fisik dan Departemen
Kesehatan sendiri terfokus kepada hilirnya yaitu pengelolaan dampak kesehatan.
Sebagai gambaran pencapaian tujuan program lingkungan sehat disajikan dalam
per kegiatan pokok melalui indikator yang telah disepakati serta beberapa
kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut:

2.4 Inspeksi Kesehatan Lingkungan


PengertianInspeksi Kesehatan Lingkungan adalah kegiatan pemeriksaan
dan pengamatan secara langsung terhadap media lingkungan dalam rangka
pengawasan berdasarkan standar, norma dan baku mutu yang berlaku untuk
meningkatkan kualitas lingkungan yang sehat. Inspeksi Kesehatan Lingkungan
dilaksanakan berdasarkan hasil Konseling terhadap Pasien dan/atau
kecenderungan berkembang atau meluasnya penyakit dan/atau kejadian kesakitan
akibat Faktor Risiko Lingkungan. Inspeksi Kesehatan Lingkungan juga dilakukan
secara berkala, dalam rangka investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan program
kesehatan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
1. Pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan
1) Petugas Inspeksi Kesehatan Lingkungan
Inspeksi Kesehatan Lingkungan dilaksanakan oleh Tenaga Kesehatan
Lingkungan (sanitarian, entomolog dan mikrobiolog) yang membawa surat
tugas dari Kepala Puskesmas dengan rincian tugas yang lengkap. Dalam
pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan Tenaga Kesehatan Lingkungan
sedapat mungkin mengikutsertakan petugas Puskesmas yang menangani
program terkait atau mengajak serta petugas dari Puskesmas Pembantu,
Poskesdes, atau Bidan di desa.

Terkait hal ini Lintas Program Puskesmas berperan dalam:

a. Melakukan sinergisme dan kerja sama sehingga upaya promotif,


preventif dan kuratif dapat terintegrasi.

b. Membantu melakukan Konseling dan pada waktu kunjungan rumah dan


lingkungan.

c. Apabila di lapangan menemukan penderita penyakit karena Faktor Risiko


Lingkungan, harus melaporkan pada waktu lokakarya mini Puskesmas,
untuk diketahui dan ditindak lanjuti.

d. Waktu Pelaksanaan Inspeksi Kesehatan LingkunganWaktu pelaksanaan


Inspeksi Kesehatan Lingkungan sebagai tindak lanjut hasil Konseling
sesuai dengan kesepakatan antara Tenaga Kesehatan Lingkungan dengan
Pasien, yang diupayakan dilakukan paling lambat 24 (dua puluh empat)
jam setelah Konseling.
e. Metode Inspeksi Kesehatan LingkunganInspeksi Kesehatan Lingkungan
dilakukan dengan cara/metode sebagai berikut :
a) Pengamatan fisik media lingkungan
b) Pengukuran media lingkungan di tempat;
c) Uji laboratorium; dan/atau
d) Analisis risiko kesehatan lingkungan.
f. Inspeksi Kesehatan Lingkungan dilakukan terhadap media air, udara,
tanah, pangan, sarana dan bangunan, serta vektor dan binatang pembawa
penyakit. Dalam pelaksanaannya mengacu pada pedoman pengawasan
kualitas media lingkungan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
2) Pengamatan fisik media lingkunganSecara garis besar, pengamatan fisik
terhadap media lingkungan dilakukan sebagai berikut:
a. Air
a) Mengamati sarana (jenis dan kondisi) penyediaan air minum dan
air untuk keperluan higiene sanitasi (sumur gali/sumur pompa
tangan/KU/perpipaan/penampungan air hujan).
b) Mengamati kualitas air secara fisik, apakah berasa, berwarna, atau
berbau.
c) Mengetahui kepemilikan sarana penyediaan air minum dan air
untuk keperluan higiene sanitasi, apakah milik sendiri atau
bersama.
b. Udara. Mengamati ketersediaan dan kondisi kebersihan ventilasi. -
Mengukur luas ventilasi permanen (minimal 10% dari luas lantai),
khusus ventilasi dapur minimal 20% dari luas lantai dapur, asap harus
keluar dengan sempurna atau dengan ada exhaust fan atau peralatan
lain.
c. Tanah.Mengamati kondisi kualitas tanah yang berpotensi sebagai
media penularan penyakit, antara lain tanah bekas Tempat
Pembuangan Akhir/TPA Sampah, terletak di daerah banjir, bantaran
sungai/aliran sungai/longsor, dan bekas lokasi pertambangan.
d. Pangan.Mengamati kondisi kualitas media pangan, yang memenuhi
prinsip-prinsip higiene sanitasi dalam pengelolaan pangan mulai dari
pemilihan dan penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan,
penyimpanan makanan masak, pengangkutan makanan, dan penyajian
makanan.
e. Sarana dan Bangunan.Mengamati dan memeriksa kondisi kualitas
bangunan dan sarana pada rumah/tempat tinggal Pasien, seperti atap,
langit-langit, dinding, lantai, jendela, pencahayaan, jamban, sarana
pembuangan air limbah, dan sarana pembuangan sampah.
f. Vektor dan Binatang Pembawa PenyakitMengamati adanya tanda-
tanda kehidupan vektor dan binatang pembawa penyakit, antara lain
tempat berkembang biaknya jentik, nyamuk, dan jejak tikus.
3) Pengukuran Media Lingkungan di Tempat
Pengukuran media lingkungan di tempat dilakukan dengan menggunakan
alat in situ untuk mengetahui kualitas media lingkungan yang hasilnya
langsung diketahui di lapangan. Pada saat pengukuran media lingkungan,
jika diperlukan juga dapat dilakukan pengambilan sampel yang
diperuntukkan untuk pemeriksaan lanjutan di laboratorium.
4) Uji Laboratorium
Apabila hasil pengukuran in situ memerlukan penegasan lebih lanjut,
dilakukan uji laboratorium. Uji laboratorium dilaksanakan di laboratorium
yang terakreditasi sesuai parameternya. Apabila diperlukan, uji
laboratorium dapat dilengkapi dengan pengambilan spesimen biomarker
pada manusia, fauna, dan flora.
5) Analisis risiko kesehatan lingkungan
Analisis risiko kesehatan lingkungan merupakan pendekatan dengan
mengkaji atau menelaah secara mendalam untuk mengenal, memahami
dan memprediksi kondisi dan karakterisktik lingkungan yang berpotensi
terhadap timbulnya risiko kesehatan, dengan mengembangkan tata laksana
terhadap sumber perubahan media lingkungan, masyarakat terpajan dan
dampak kesehatan yang terjadi. Analisis risiko kesehatan lingkungan juga
dilakukan untuk mencermati besarnya risiko yang dimulai dengan
mendiskrisikan masalah kesehatan lingkungan yang telah dikenal dan
melibatkan penetapan risiko pada kesehatan manusia yang berkaitan
dengan masalah kesehatan lingkungan yang bersangkutan. Analisis risiko
kesehatan lingkungan dilakukan melalui:
a. Identifikasi bahaya. Mengenal dampak buruk kesehatan yang
disebabkan oleh pemajanan suatu bahan dan memastikan mutu serta
kekuatan bukti yang mendukungnya.
b. Evaluasi dosis responMelihat daya racun yang terkandung dalam suatu
bahan atau untuk menjelaskan bagaimana suatu kondisi pemajanan
(cara, dosis, frekuensi, dan durasi) oleh suatu bahan yang berdampak
terhadap kesehatan.
c. Pengukuran pemajananPerkiraan besaran, frekuensi dan lamanya
pemajanan pada manusia oleh suatu bahan melalui semua jalur dan
menghasilkan perkiraan pemajanan.
d. Penetapan Risiko.Mengintegrasikan daya racun dan pemajanan
kedalam perkiraan batas atas risiko kesehatan yang terkandung
dalam suatu bahan.
e. Hasil analisis risiko kesehatan lingkungan ditindaklanjuti dengan
komunikasi risiko dan pengelolaan risiko dalam rencana tindak lanjut
yang berupa Intervensi Kesehatan Lingkungan.
2. Langkah-Langkah Inspeksi Kesehatan Lingkungan
1) Persiapan:
a. Mempelajari hasil Konseling
b. Tenaga Kesehatan Lingkungan membuat janji kunjungan rumah dan
lingkungannya dengan Pasien dan keluarganya.
c. Menyiapkan dan membawa berbagai peralatan dan kelengkapan
lapangan yang diperlukan (formulir Inspeksi Kesehatan Lingkungan,
formulir pencatatan status kesehatan lingkungan, media penyuluhan,
alat pengukur parameter kualitas lingkungan)
d. Melakukan koordinasi dengan perangkat desa/kelurahan (kepala
desa/lurah, sekretaris, kepala dusun atau ketua RW/RT) dan petugas
kesehatan/bidan di desa.
2) Pelaksanaan:
a. Melakukan pengamatan media lingkungan dan perilaku masyarakat.
b. Melakukan pengukuran media lingkungan di tempat, uji laboratorium,
dan analisis risiko sesuai kebutuhan.
c. Melakukan penemuan penderita lainnya.
d. Melakukan pemetaan populasi berisiko.
e. Memberikan saran tindak lanjut kepada sasaran (keluarga pasien dan
keluarga sekitar). Saran tindak lanjut dapat berupa Intervensi
Kesehatan Lingkungan yang bersifat segera. Saran tindak lanjut
disertai dengan pertimbangan tingkat kesulitan, efektifitas dan biaya.
Dalam melaksanakan Inspeksi Kesehatan Lingkungan, Tenaga
Kesehatan Lingkungan menggunakan panduan Inspeksi Kesehatan
Lingkungan berupa bagan dan daftar pertanyaan untuk setiap penyakit
sebagaimana contoh daftar pertanyaan terlampir. Tenaga Kesehatan
Lingkungan dapat mengembangkan daftar pertanyaan tersebut sesuai
kebutuhan. Hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan dilanjutkan dengan
rencana tindak lanjut berupa Intervensi Kesehatan Lingkungan.
2.5 Sanitasi Lingkungan

Menurut Notoadmojo (2003), sanitasi lingkungan adalah status kesehatan


suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan
air bersih, dan sebagainya. Banyak sekali permasalahan lingkungan yang harus
dicapai dan sangat mengganggu terhadap tercapainya kesehatan lingkungan.
Kesehatan lingkungan bisa berakibat positif terhadap kondisi elemen-elemen
hayati dan non hayati dalam ekosistem. Bila lingkungan tidak sehat maka sakitlah
elemennya, tapi sebaliknya jika lingkungan sehat maka sehat pulalah ekosistem
tersebut. Perilaku yang kurang baik dari manusia telah mengakibatkan perubahan
ekosistem dan timbulnya sejumlah masalah sanitasi.

2.5.1. Hygiene dan Sanitasi Lingkungan


Menurut Entjang (2000), hygiene dan sanitasi lingkungan adalah
pengawasan lingkungan fisik, biologi, sosial, dan ekonomi yang mempengaruhi
kesehatan manusia, dimana lingkungan yang berguna di tingkatkan dan
diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan. Usaha dalam
hygiene dan sanitasi lingkungan di Indonesia terutama meliputi :
a. Menyediakan air rumah tangga yang baik, cukup kualitas maupun
kwantitasnya.
b. Mengatur pembuangan kotoran, sampah dan air limbah.
c. Mendirikan rumah-rumah sehat, menambah jumlah rumah agar rumah-
rumah tersebut menjadi pusat kesenangan rumah tangga yang sehat.
d. Pembasmian binatang-binatang penyebar penyakit seperti : lalat, nyamuk.
Istilah Hygiene dan sanitasi mempunyai tujuan yang sama, yaitu
mengusahakan cara hidup sehat sehingga terhindar dari penyakit, tetapi dalam
penerapannya mempunyai arti yang sedikit berbeda. Usaha sanitasi lebih menitik
beratkan pada faktor lingkungan hidup manusia, sementara hygiene lebih menitik
beratkan pada usaha-usaha kebersihan perorangan (Kusnoputranto, 2000).

2.5.2. Sanitasi Lingkungan Pemukiman


Kesehatan perumahan dan lingkungan permukiman adalah kondisi fisik,
kimia, dan biologi di dalam rumah, di lingkungan rumah dan perumahan sehingga
memungkinkan penghuni mendapatkan derajat kesehatan yang optimal.
Persyaratan kesehatan perumahan dan permukiman adalah ketentuan teknis
kesehatan yang wajib di penuhi dalam rangka melindungi penghuni dan
masyarakat yang bermukim di perumahan atau masyarakat sekitar dari bahaya
atau gangguan kesehatan (Soedjadi, 2005).

2.5.3. Sarana Air Bersih


Air merupkakan suatu sarana untuk menigkatkan derajat kesehatan
masyarakat karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam
penularan penyakit (Slamet, 2004). Menurut Notoatmodjo (2003), penyediaan air
bersih harus memenuhi persyaratan yaitu :
a. Syarat fisik : persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening, tidak
berwarna, tidak berasa dan tidak berbau.
b. Syarat bakteriologis : air merupakan keperluan yang sehat yang harus bebas
dari segala bakteri, terutama bakteri patogen.
c. Syarat kimia : air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam
jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia
didalam air, akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia.
Menurut Chandra (2006), Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air
dapat dibagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan cara penularannya.
Mekanisme penularan penyakit terbagi menjadi empat:
1. Waterborne mechanism
Di dalam mekanisme ini, kuman patogen dalam air yang dapat
menyebabkan penyakit pada manusia ditularkan kepada manusia melalui
mulut atau system pencernaan. Contoh penyakit yang ditularkan melalui
mekanisme ini antara lain kolera, tifoid, hepatitis viral, disentri basiler, dan
poliomyelitis.
2. Waterwashed mechanism
Mekanisme penularan berkaitan dengan kebersihan umum dan
perseorangan. Pada mekanisme ini terdapat tiga cara penularan, yaitu:
a. Infeksi melalui alat pencernaan, seperti diare pada anak-anak.
b. Infeksi melalui kulit dan mata.
c. Penularan melalui binatang pengerat seperti pada penyakit leptospirosis.
3. Water-based mechanism
Penyakit ini ditularkan dengan mekanisme yang memiliki agent
penyebab yang menjalani sebagian siklus hidupnya di dalam tubuh vektor
atau sebagai intermediate host yang hidup di dalam air. Contohnya
skistosomiasis dan penyakit akibat Dracunculucmedinensis.
4. Water-related insect vector mechanism
Agent penyakit ditularkan melalui gigitan serangga yang
berkembang biak di dalam air. Contoh penyakit dengan mekanisme
penularan sepert ini adalah filariasis, dengue, malaria, dan yellow fever.
Menurut Suriawiria (1998), kelompok kehidupan di dalam air memiliki
faktor-faktor biotis yaitu terdiri dari bakteria, fungi atau jamur, mikroalge
atau ganggang-mikro, protozoa atau hewan bersel tunggal, dan virus.
Kehadiran mikroba di dalam air, mungkin akan mendatangkan
keuntungan, tetapi juga mendatangkan kerugian dan menghasilkan toksin
seperti yang hidup anaerobik seperti Clostridium, yang hidup aerobik
seperti Pseudomonas, Salmonella, Staphylococcus, dan sebagainya.
Menurut Chandra (2006), Berdasarkan letak sumbernya, air dapat dibagi
menjadi air angkasa (hujan), air permukaan, dan air tanah.
1. Air Angkasa
Air angkasa atau air hujan merupakan sumber utama air di bumi.
Walau pada saat presipitasi merupakan air yang paling bersih, air tesebut
cenderung mengalami pencemaran ketika berada di atmosfer. Pencemaran
yang berlangsung di atmosfer itu dapat disebabkan oleh partikel debu,
mikroorganisme, dan gas, misalnya, karbon dioksida, nitrogen, dan
ammonia.
2. Air Permukaan
Air permukaan yang meliputi badan-badan air seperti sungai,
danau, telaga, waduk, raw, terjun, dam sumur permukaan, sebagian berasal
dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi. Air hujan tersebut kemudian
akan mengalami pencemaran baik oleh tanah, sampah maupun lainnya.
3. Air Tanah
Air tanah (ground water) berasal dari air hujan jatuh ke permukaan
bumi yang kemudian mengalami perkolasi atau penyerapan ke dalam
tanah dan mengalami proses filtrasi secara alamiah. Proses-proses yang
telah dialami air hujan tersebut, di dalam perjalanannya ke bawah tanah,
membuat air tanah menjadi lebih baik dan lebih murni dibandingakan air
permukaan.
2.5.4. Sarana Pembuangan Kotoran (Jamban)
Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan
mengumpukan kotoran manusia dalam suatu tempat tertentu, dan tidak menjadi
penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman.
Pembuangan tinja yang tidak saniter akan menyebabkan terjadinya berbagai
penyakit seperti diare, kolera, disentri, ascariasis, dan sebagainya. Kotoran
manusia merupakan buangan padat, selain menimbulkan bau, mengotori
lingkungan juga merupakan media penularan penyakit pada masyarakat.
Perjalanan agen penyebab penyakit melalui cara transmisi seperti dari tangan,
maupun dari peralatan yang terkontaminasi ataupun melalui mata rantai lainnya.
Dimana memungkinkan tinja atau kotoran yang mengandung agent penyebab
infeksi masuk melalui saluran pernafasan ( Dirjen P2M & PL, 1998).

2.5.5. Sarana Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)


Air limbah adalah sisa air yang di buang yang berasal dari rumah tangga,
industri dan pada umumya mengandung bahan atau zat yang membahayakan.
Sesuai dengan zat yang terkandung didalam air limbah, maka limbah yang tidak
diolah terlebih dahulu akan menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat dan
lingkungan hidup antara lain limbah sebagai media penyebaran penyakit
(Notoadmodjo, 2003). Keadaan saluran pembuangan air limbah yang tidak
mengalir lancar, dengan bentuk SPAL yang tidak tertutup dibanyak tempat
sehingga air limbah menggenang ditempat terbuka berpotensi sebagai tempat
berkembang biak vektor dan bernilai negatif dari aspek estetika (Soejadi, 2003).

2.2.6. Sarana Pembuangan Sampah


Sampah ialah suatu bahan atau benda yang terjadi karena berhubungan
dengan aktifitas manusia yang tidak terpakai lagi, tidak disenangi dan dibuang
dengan cara-cara saniter kecuali buangan yang berasal dari tubuh manusia
(Kusnoputranto, 2000). Penanganan sampah yang tidak baik dapat menimbulkan
pencemaran sebagai berikut (Hadiwiyoto, 1983):
1. Sampah dapat menimbulkan pencemaran pada udara, akibat gas-gas yang
terjadi dari penguraian sampah terutama menimbulkan bau yang tidak
sedap. Selain itu sampah mengakibatkan mengganggu penglihatan yaitu
suatu area yang kotor yang mencemari rasa estetika.
2. Tumpukan sampah yang menggunung dapat menimbulkan kondisi
lingkungan fisik dan kimia yang tidak sesuai dengan dengan kondisi
lingkungan normal. Pada umumnya hal tersebut menimbulkan kenaikan
suhu dan perubahan pH menjadi asam atau basa. Kondisi ini
mengakibatkan terganggunya kehidupan manusia dan makhluk lain di
lingkungan sekitarnya.
3. Kadar oksigen di area pembuangan sampah menjadi berkurang akibat
proses penguraian sampah menjadi senyawa lain yang memerlukan
oksigen yang diambil dari udara sekitarnya. Berkurangnya oksigen di
daerah pembuangan sampah menyebabkan gangguan terhadap makhluk
sekitarnya.
4. Dalam proses penguraian sampah dihasilkan gas-gas yang dapat
membahayakan kesehatan, berupa gas-gas yang beracun dan dapat
mematikan.
5. Sampah sangat berpotensi menjadi sumber penyakit yang berasal dari
bakteri patogen dari sampah sendiri serta dapat ditularkan oleh lalat, tikus,
anjing dan binatang lainnya yang senang tinggal di areal tumpukan
sampah.

Mengingat efek dari sampah terhadap kesehatan maka pengelolaan sampah


harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Tersedia tempat sampah yang dilengkapi dengan penutup.
2. Tempat sampah terbuat dari bahan yang kuat, tahan karat, permukaan
bagian dalam rata dan dilengkapi dengan penutup.
3. Tempat sampah dikosongkan setiap 1 x 24 jam atau 2/3 bagian telah terisi
penuh.
4. Jumlah dan volume sampah disesuaikan dengan sampah yang dihasilkan
sertiap kegiatan. Tempat sampah harus disediakan minimal 1 buah untuk
setiap radius 10 meter, dan tiap jarak 20 meter pada ruang terbuka dan
tunggu.
5. Tersedianya tempat pembuangan sampah semetara yang mudah
dikosongkan, tidak terbuat dari beton permanen, terletak dilokasi yang
terjangkau kendaraan pengangkut sampah dan harus dikosongkan
sekurang-kurangnya 3 x 24 jam.
Pemusnahan sampah di tempat pembuangan akhir terdiri dari beberapa jenis
kegiatan:
1. Daur ulang, yaitu sampah yang masih bisa dimanfaatkan didaur ulang
untuk dipakai kembali, biasanya bahan terbuat dari plastik, botol, besi tua,
dan kayu.
2. Komposting, yaitu pembuatan kompos di peruntukkan bagi sampah
organic dengan metode penguraian secara alami akan menghasilkan
kompos yang berguna untuk pertanian.
3. Dibakar, yaitu bagi sampah yang kering bisa dibakar.
4. Dikubur, yaitu sampah dapat dikubur dengan metode sanitary landfill
(Kusnoputranto, 2000).

Jenis-jenis sampah terdiri dari beberapa macam yaitu: sampah kering, sampah
basah, sampah berbahaya beracun (Pansimas, 2011).
a. Sampah kering Sampah kering, yaitu sampah yang tidak mudah
membusuk atau terurai seperti gelas, besi, plastik.
b. Sampah basah Sampah basah, yaitu sampah yang mudah membusuk
seperti sisa makanan, sayuran, daun, ranting, dan bangkai binatang.
c. Sampah berbahaya beracun Sampah berbahaya beracun, yaitu sampah
yang karena sifatnya dapat membahayakan manusia seperti sampah yang
berasal dari rumah sakit, sampah nuklir, batu baterai bekas.
Pengelolaan sampah di suatu daerah akan membawa pengaruh bagi masyarakat
maupun lingkungan daerah itu sendiri. Pengaruhnya tentu saja ada yang positif
dan ada juga yang negatif.
a. Pengaruh Positif
Pengelolaan sampah yang baik akan memberikan pengaruh yang
positif terhadap masyarakat maupun lingkungannya, seperti berikut :
1. Sampah dapat dimanfaatkan untuk menimbun lahan semacam rawa-
rawa dan dataran rendah.
2. Sampah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
3. Sampah dapat diberikan untuk makanan ternak setelah menjalani
proses pengelolaan yang telah ditentukan lebih dahulu untuk mencegah
pengaruh buruk sampah tersebut terhadap ternak.
4. Pengelolaan sampah menyebabkan berkurangnya tempat untuk
berkembang biak serangga dan binatang pengerat.
5. Menurunkan insidensi kasus penyakit menular yang erat hubungannya
dengan sampah.
6. Keadaan estetika lingkungan yang bersih menimbulkan kegairahan
hidup masyarakat.
7. Keadaan lingkungan yang baik mencerminkan kemajuaan budaya
masyarakat.
8. Keadaan lingkungan yang baik akan menghemat pengeluaran dana
kesehatan suatu negara sehingga dana itu dapat digunakan untuk
keperluan lain (Chandra, 2007)
b. Pengaruh Negatif
Meurut (Mukono, 2006) Pengelolaan sampah yang kurang baik
dapat memberikan pengaruh negatif bagi kesehatan, lingkungan, maupun
bagi kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat, seperti berikut.
1. Pengaruh terhadap kesehatan
a. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan menjadikan sampah
sebagai tempat perkembangbiakan vektor penyakit, seperti lalat,
tikus, serangga, jamur.
b. Penyakit demam berdarah meningkatkan incidencenya disebabkan
vektor Aedes Aegypty yang hidup berkembang biak di lingkungan,
pengelolaan sampahnya kurang baik (banyak kaleng, ban bekas
dan plastik dengan genangan air).
c. Penyakit sesak nafas dan penyakit mata disebabkan bau sampah
yang menyengat yang mengandung Amonia Hydrogen, Solfide dan
Metylmercaptan.
d. Penyakit saluran pencernaan (diare, kolera dan typus) disebabkan
banyaknya lalat yang hidup berkembang biak di sekitar lingkungan
tempat penumpukan sampah.
e. Insidensi penyakit kulit meningkat karena penyebab penyakitnya
hidup dan berkembang biak di tempat pembuangan dan
pengumpulan sampah yang kurang baik. Penularan penyakit ini
dapat melalui kontak langsung ataupun melalui udara.
f. Penyakit kecacingan.
g. Terjadi kecelakaan akibat pembuangan sampah secara
sembarangan misalnya luka akibat benda tajam seperti kaca, dan
besi. h. Gangguan psikomatis, misalnya insomnia, stress, dan lain-
lain
2. Pengaruh terhadap lingkungan
a. Pengelolaan sampah yang kurang baik menyebabkan estetika
lingkungan menjadi kurang sedap dipandang mata misalnya
banyaknya tebaran-tebaran sampah sehingga mengganggu
kesegaran udara lingkungan masyarakat.
b. Pembuangan sampah ke dalam saluran pembuangan air akan
menyebabkan aliran air akan terganggu dan saluran air akan
menjadi dangkal.
c. Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme akan
menghasilkan gas-gas tertentu yang menimbulkan bau busuk.
d. Adanya asam organic dalam air serta kemungkinan terjadinya
banjir maka akan cepat terjadinya pengerusakan fasilitas pelayanan
masyarakat antara lain jalan, jembatan, saluran air, fasilitas
jaringan dan lain-lain.
e. Pembakaran sampah dapat menimbulkan pencemaran udara dan
bahaya kebakaran lebih luas.
f. Apabila musim hujan datang, sampah yeng menumpuk dapat
menyebabkan banjir dan mengakibatkan pencemaran pada sumber
air permukaan atau sumur dangkal.
g. Air banjir dapat mengakibatkan kerusakan pada fasilitas
masyarakat, seperti jalan, jembatan, dan saluran air.
3. Pengaruh terhadap sosial ekonomi dan budaya masyarakat
a. Pengelolaan sampah yang kurang baik mencerminkan keadaan
sosial-budaya masyarakat setempat.
b. Keadaan lingkungan yang kurang baik dan jorok, akan
menurunkan minat dan hasrat orang lain (turis) untuk datang
berkunjung ke daerah tersebut.
c. Dapat menyebabkan terjadinya perselisihan antara penduduk
setempat dan pihak pengelola.
d. Angka kesakitan meningkat dan mengurangi hari kerja sehigga
produktifitas masyarakat menurun.
e. Kegiatan perbaikan lingkungan yang rusak memerlukan dana yang
besar sehingga dana untuk sektor lain berkurang.
f. Penurunan pemasukan daerah (devisa) akibat penurunan jumlah
wisatawan yang diikuti dengan penurunan penghasilan masyarakat
setempat.
g. Penurunan mutu dan sumber daya alam sehingga mutu produksi
menurun dan tidak memiliki nilai ekonomis.
h. Penumpukan sampah di pinggir jalan menyebabkan kemacetan lalu
lintas yang dapat menghambat kegiatan transportasi barang dan
jasa.

2.5.7. Kondisi Fisik Rumah


Kondisi fisik rumah yang harus dimiliki tiap rumah adalah memiliki
syaratsyarat sebagai berikut:
a. Ventilasi
Ventilasi adalah sarana untuk memelihara kondisi atmosfer yang
menyenangkan dan menyehatkan bagi manusia. Suatu ruangan yang
terlalu pada penghuninya dapat memberikan dampak yang buruk
terhadap kesehatan pada penghuni tersebut, untuk itu pengaturan
sirkulasi udara sangat diperlukan (Chandra, 2007). Lubang
penghawaan pada bangunan harus dapat menjamin pergantian udara
didalam kamar atau ruang dengan baik. Luas lubang penghawaan yang
dipersyaratkan minimal 20% dari luas lantai (Soejadi, 2003).
b. Kelembaban
Kelembaban sangat berperan penting dalam pertumbuhan kuman
penyakit. Kelembaban yang tinggi dapat menjadi tempat yang disukai
oleh kuman untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Keadaan yang
lembab dapat mendukung terjadinya penularan penyakit
(Notoatmodjo, 2007). Menurut Kepmenkes
RI/NO.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan
perumahan dari aspek kelembaban udara ruang, dipersyaratkan
ruangan mempunyai tingkat kelembaban udara yang diperbolehakan
antara 40-70%. Tingkat kelembaban yang tidak memenuhi syarat
ditambah dengan prilaku tidak sehat, misalnya dengan penempatan
yang tidak tepat pada berbagai barang dan baju, handuk, sarung yang
tidak tertata rapi, serta kepadatan hunian ruangan ikut berperan dalam
penularan penyakit berbasis lingkungan (Soedjadi, 2003).
c. Pencahayaan
Salah satu syarat rumah sehat adalah tersedianya cahaya yang
cukup, karena suatu rumah yang tidak mempunyai cahaya selain dapat
menimbulkan perasaan kurang nyaman, juga dapat menimbulkan
penyakit (Prabu, 2009). Menurut Sukini (1989), sinar matahari
berperan secara langsung dalam mematikan bakteri dan
mikroorganisme lain yang terdapat di lingkungan rumah, khususnya
sinar matahari pagi yang dapat menghambat perkembangbiakan bakteri
patogen. Dengan demikian sinar matahari sangat diperlukan didalam
ruangan rumah terutama ruangan tidur. Pencahayaan alami atau buatan
langsung maupun tidak langsung dapat menerangi seluruh ruangan
minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan (Kepmenkes
RI,1999).
d. Kepadatan Penghuni
Kepadatan hunian sangat berpengaruh terhadap jumlah bakteri
penyebab penyakit menular. Selain itu kepadatan hunian dapat
mempengaruhi kualitas udara didalam rumah. Dimana semakin banyak
jumlah penghuni maka akan semakin cepat udara dalam rumah
mengalami pencemaran oleh karena CO2 dalam rumah akan cepat
meningkat dan akan menurunkan kadar O2 yang diudara (Sukini,
1989). Menurut Kepmenkes RI (1999), kepadatan dapat dilihat dari
kepadatan hunian ruang tidur yaitu luas ruangan tidur minimal 8 m2
dan tidak dianjurkan lebih dari dua orang dalam satu ruangan tidur,
kecuali anak dibawah usia 5 tahun.

2.6 Evaluasi Program Kesehatan


2.5.1 Defenisi
Evaluasi merupakan kegiatan lebih lanjut dari kegiatan pengukuran dan
pengembangan indikator; oleh karena itu dalam melakukan evaluasi harus
berpedoman pada ukuran-ukuran dan indikator yang telah disepakati dan
ditetapkan. Evaluasi juga merupakan suatu proses umpan balik atas kinerja masa
lalu yang berguna untuk meningkatkan produktivitas dimasa datang, sebagai suatu
proses yang berkelanjutan, evaluasi menyediakan informasi mengenai kinerja
dalam hubungannya terhadap tujuan dan sasaran (Notoatmodjo, 2003).
Evaluasi program merupakan evaluasi terhadap kinerja program,
sebagaimana diketahui bahwa program dapat didefinisikan sebagai kumpulan
kegiatan-kegiatan nyata, sistematis dan terpadu yang dilaksanakan oleh satu atau
beberapa instansi instansi pemerintah ataupun dalam rangka kerjasama dengan
masyarakat, atau yang merupakan partisipasi aktif masyarakat, guna mencapai
sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi program merupakan hasil
komulatif dari berbagai kegiatan (Mac Kenzie, 2007).
Evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu
mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian
pembinaan yang tepat pula. Evaluasi program sangat penting dan bermanfaat
terutama bagi pengambil keputusan. Alasannya adalah dengan masukan hasil
evaluasi program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak lanjut
dari program yang sedang atau telah dilaksanakan (Antina Nevi, 2009).
Evaluasi program kesehatan merupakan bagian dari proses manajerial
pembangunan kesehatan nasional yang lebih luas. Dalam melakukan evaluasi kita
sebenarnya menetapkan suatu nilai. Kita dapat mengurangi unsur subyektif pada
penilaian tersebut dengan mendasarkan penilaian atas fakta-fakta yang ada.
Penerapannya menghendaki pikiran yang terbuka dan mampu memberi kritik
yang membangun menuju kepada pemikiran pemikiran yang sehat.
2.5.2 Tujuan Evaluasi
Evaluasi memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Membantu perencanaan di masa yang akan datang.
2. Mengetahui apakah sarana yang tersedia dimanfaatkan dengan sebaik-
baiknya.
3. Menentukan kelemahan dan kekuatan daripada program, baik dari segi
teknis maupun administratif yang selanjutnya diadakan perbaikan-
perbaikan.
4. Membantu menentukan strategi, artinya mengevaluasi apakah cara yang
telah dilaksanakan selama ini masih bisa dilanjutkan, atau perlu diganti.
5. Mendapatkan dukunagn dari psonsor (pemerintah atau swasta), berupa
dukungan moral maupun material.
6. Motivator, jika program berhasil, maka akan memberikan kepuasan dan rasa
bangga kepada para staf, hingga mendorong mereka bekerja lebih giat lagi.
Tujuan pokok atau tujuan utama dari evaluasi atau melakukan penilaian di
bidang kesehatan adalah adanya perubahan perilaku, dalam teori dinyatakan
bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh sikapnya. Kalau berhasil mengubah
sikap seseorang, maka ia akan mengubah perilakunya (Mubarak dkk., 2009).
Penilaian sebagai salah satu fungsi manajemen bartujuan untuk
mempertanyakan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan dari suatu perencanaan,
sekaligus mengukur seobyektif mungkin hasil-hasil pelaksanaan itu dengan
memakai ukuran-ukuran yang dapat diterima pihak-pihak yang terlibat dalam
suatu perencanaan. Penilaian adalah suatu upaya untuk mengukur member nilai
secara obyektif pencapaian hasil-hasil yang telah direncanakan sebelumnya.
Tujuan utama dari penilaian adalah agar hasil penilaian tersebut dapat dipakai
sebagai umpan balik untuk perencanaan sebelumnya.
Salah satu ciri evaluasi adalah sebagai suatu proses yang
berkesinambungan, maka dengan sendirinya disamping mempunyai ciri-ciri yang
khas juga mencerminkan sifat kedinamisannya dengan cara membedakan: input,
procces dan output. Pada sisi input, evaluasi pengembangan personil sangat
penting untuk melihat kebutuhan sesuai dengan keterampilan yang diharapkan,
sehingga dapat dikembangkan pengawasan yang mendukung pada organisasi
logistik serta mekanisme pendukung lainnya. Sebagai suatu langkah awal yang
penting dalam sisi input adalah evaluasi terhadap penetapan tujuan, dikaitkan
dengan visi dan misi program atau organisasi, serta penetapan sasaran program itu
sendiri

2.5.3 Metode Evaluasi


Berdasarkan waktumya evaluasi/penilaian dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Penilaian rutin (concurrent evaluation atau progress report). Dalam setiap
program penilaian rutin ini hendaknya merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari program tersebut. Dengan demikian, penilaian akan
berjalan berkesinambungan dan teratur, serta bersamaan dengan
pelaksanaan program itu sendiri. Penilaian dilakukan oleh staf program
dalam bentuk progres report, dengan cara ini perbaikan-perbaikan pun
dilakukan sejak awal. Demikian pula kekuatan-kekuatan dari program dapat
segera didapatkan dan dapat diterapkan dalam melanjutkan program
tersebut. Penilaian meliputi semua aspek program, termasuk reaksi
masyarakat terhadap program tersebut.
2. Penilaian Berkala (periodical evaluation), yaitu penilaian yang dilakukan
pada setiap akhir dari suatu bagian tertentu dari program, seperti tiap enam
bulan, satu tahun, dua tahun, dan sebagainya.
3. Penilaian khusus (ad-hoc evaluation), yaitu penilaian yang dilakukan setiap
saat yang diperlukan.
4. Penilaian akhir (terminal evaluation), yaitu penilaian yang dilakukan pada
akhir suatu program atau beberapa waktu sesudah akhir suatu program. Jadi
ini merupakan penilaian terhadap pencapaian tujuan akhirnya. (Mubarak
dkk., 2009)
Menurut Mantra (1997) secara umum evaluasi dapat dibedakan atas
beberapa tahap yaitu:
a. Evaluasi pada tahap awal program
Evaluasi yang dilakukan pada tahap pengembangan program sebelum
program dimulai. Evaluasi ini akan menghasilkan informasi yang akan di
pergunakan untuk mengembangkan program agar program dapat lebih
sesuai dengan situasi dan kondisi sasaran.
b. Evaluasi pada tahap proses
Evaluasi yang dilakukan disini adalah pada saat program sedang
dilakasanakan. Tujuannya adalah untuk mengukur apakah program yang
sedang berjalan telah sesuai dengan rencana atau tidak atau apakah telah
terjadi penyimpangan yang dapat merugikan pencapaian tujuan dari
program.
c. Evaluasi pada akhir program
Evaluasi yang dilakukan pada saat program telah selesai dilaksanakan
dengan tujuan untuk memberikan pernyataan efektifitas atau tidaknya suatu
program selama kurun waktu tertentu. Sehingga dapat dipergunakan dalam
pengambilan keputusan untuk merencanakan dan mengalokasikan
resources.
d. Evaluasi dampak program
Evaluasi yang menilai keseluruhan efektifitas program dalam menghasilkan
perubahan sikap dan perilaku pada target sasaran, evaluasi dampak
merupakan kebalikan dari penilaian kebutuhan program mana kalau evaluasi
kebutuhan menentukan kebutuhan suatu program sedangkan penilaian
dampak akan menentukan tingkat kebutuhan yang nyata setelah diintervensi
oleh program kesehatan.
Sedangkan menurut Azrul Azwar (1996), jenis evaluasi antara lain:
1. Evaluasi formatif yaitu suatu bentuk evaluasi yang dilaksanakan pada tahap
pengembangan program dan sebelum program dimulai. Evaluasi yang
dilakukan di sini adalah pada saat merencanakan suatu program. Tujuan
utamanya adalah untuk meyakinkan bahwa rencana yang akan disusun
benar-benar telah sesuai dengan masalah yang ditemukan, dalam arti dapat
menyelesaikan masalah tersebut. Penilaian yang bermaksud mengukur
kesesuaian program dengan masalah dan atau kebutuhan masyarakat ini
dering disebut dengan studi penjajakan kebutuhan (need assesment study).
2. Evaluasi proses atau evaluasi promotif yaitu suatu proses evaluasi yang
memberikan gambaran tentang apa yang sedang berlangsung dalam suatu
program dan memastikan ada dan terjangkaunya elemen-elemen fisik dan
structural dari pada program. Evaluasi yang dilakukan di sini adalah pada
saat program sedang dilaksanakan. Tujuan utamanya adalah untuk
mengukur apakah program yang sedang dilaksanakan tersebut telah sesuai
dengan rencana atau tidak, atau apakah terjadi penyimpangan-
penyimpangan yang dapat merugikan pencapaian tujuan dari program
tersebut. Pada umumnya ada dua bentuk penilaian pada tahap pelaksanaan
program ini yaitu monitoring dan penilaian berkala.
3. Evaluasi sumatif yaitu evaluasi yang memberikan pernyataan efektifitas
suatu program selama kurun waktu tertentu dan evaluasi ini menilai sesudah
program tersebut berjalan. Penilaian yang dilakukan disini adalah pada saat
program telah selesai dilaksanakan. Tujuan utamanya dapat dibedakan
menjadi dua yaitu mengukur keluaran (output) serta mengukur dampak
(impact) yang dihasilkan.
4. Evaluasi dampak yaitu suatu evaluasi yang menilai keseluruhan efektifitas
program dalam menghasilkan target sasaran.
5. Evaluasi hasil adalah evaluasi yang menilai perubahan-perubahan atau
perbaikan dalam morbiditas, mortalitas atau indicator status kesehatan
lainnya untuk sekelompok penduduk tertentu Sedangkan dilihat dari
implikasi hasil evaluasi bagi suatu program, dibedakan adanya jenis
evaluasi, yakni evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif
dilakukan untuk mendiagnosis suatu program yang hasilnya digunakan
untuk pengembangan atau perbaikan program. Biasanya evaluasi formatif
dilakukan pada proses program (program masih berjalan). Sedangkan
evaluasi sumatif adalah suatu evaluasi yang dilakukan untuk menilai hasil
akhir dari suatu program. Biasanya evaluasi sumatif ini dilakukan pada
waktu program telah selesai (akhir program). Meskipun demikian pada
praktek evaluasi program sekaligus mencakup kedua tujuan tersebut
(Notoatmodjo, 2003).

2.5.4 Langkah-Langkah Evaluasi


Langkah-langkah dalam evaluasi/penilaian adalah sebagai berikut :
1. Menentukan tujuan evaluasi.
Tujuan dari evaluasi harus dimengerti, sebab hal ini mempengaruhi bagian
apa dari program yang perlu diamati, selanjutnya memengaruhi pula
macam informasi yang akan dikumpulkan.
2. Menentukan bagian apa dari program yang akan dievaluasi
Apakah yang dievaluasi masukannya, proses, kelauaran, atau dampaknya,
atau kombinasi dari bagian-bagian tersebut.
3. Mengumpulkan data awal (base line data)
Data ini dapat dipergunakan sebagai pembanding, anatara sebelum
diadakan suatu kegiatan dengan situasi sesudah diadakan kegiatan. Data
awal yang diperlukan bergantung pada apa yang akan dinilai dan maksud
penilaian.
4. Mempelajari tujuan program
Tujuan program merupakan syarat penting sutau program, agar penilaian
dapat dilakukan dengan baik. Tujuan harus dapat dikur dan jelas. Tujuan
dapat dirumuskan menjadi tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang.
Tujuan jangka pendek adalah tujuan yang ingin dicapai dalam waktu
dekat, merupakan loncatan untuk bisa sampai pada tujuan jangkat
menengah. Tujuan jangka menengah untuk bisa samapi pada tujuan yang
harus dicapai dulu, untuk bisa mencapai tujuan jangak panjang. Tujuang
jangka pangjang merupakan tujuan akhir dari sebuah program.
5. Menentukan tolok ukur (indikator)
Perlu ditetapkan patokan apa yang akan digunakan sebagai dasar
pengukuran. Dengan kata lain, harus ditentukan apa yang akan diukur.
Contoh, jika tujuannya adalah meningkatakan kesadaran masyarakat
terhadap pentingnya olahraga, harus ditentukan dahulu apa yang akan
dipakai untuk mengukur kesadaran masyarakat. Misalkan untuk mengukur
berapa persen masyarakat yang berolahraga pada pagi hari, maka mereka
yang membiasakan olahraga pada pagi hari adalah tolok ukurnya. Hal ini
harus dibandingkan antara sebelum dan sesudah kegiatan.
6. Menentukan cara menilai, alat penilaian, dan sumber datanya
7. Mengumpulkan data
8. Mengolah dan menyimpulkan data yang didapat.
9. Feedback (umpan balik) dan saran-saran kepada program yang akan
dinilai (Notoatmodjo, 2007).

2.5.5 Indikator Evaluasi Program Kesehatan


Kegiatan dalam evaluasi, dimensi pengukuran kinerjanya harus ditentukan
dengan jelas, yaitu meliputi ketepatan dan kesesuaian, efektifitas dan efisiensi,
serta pertimbangan keadilan. Ketepatan dan kesesuaian memandang kinerja
dengan apakah tindakan-tindakan yang diambil sudah sesuai dengan
permasalahan yang ada, sehingga tidak terjadi pemborosan sumber daya yang
terbatas tersebut. Dengan menggunakan asumsikan ketepatan, maka program yang
dipertimbangkan ukurannya dan cakupannya cukup untuk membuat suatu
perbedaan yang berarti.
Ukuran-ukuran efektifitas dan efisiensi merupakan alat utama dasar evaluasi
program. Efektifitas diartikan sebagai penyelesaian suatu program dalam
kaitannya dengan kebutuhan atau perhatian. Sedangkan efisiensi dan efektifitas
biaya adalah sering kali berhubungan dengan hasil terhadap input (rasio output
terhadap input).
Dalam WHO, indikator didefinisikan sebagai variable yang membantu
untuk mengukur perubahan. Indikator adalah variable yang dapat membantu
mengukur perubahan-perubahan. Variable adalah alat bantu evaluasi yang dapat
mengukur perubahan secara langsung atau tak langsung. Misalnya, kalau tujuan
dari program adalah untul melatih sejumlah tertentu tenaga kesehatan tiap tahun,
maka suatu indikator langsung untuk mengevaluasi boleh jadia berupa jumlah
tenaga kesehatan yang betul-betul dilatih setiap tahunnya. Contoh lain jika uang
dievaluasi adalah hasil suatu program untuk memperbaiki tingkat kesehatan
golongan anak-anak, mungkin perlu untuk mengukur setiap perbaikan dengan
menggunakan beberapa indikator yang secara tak langsung dapat mengukur
adanya perubahan pada tingkat kesehatan mereka, misalnya status gizi yang
digambarkan dengan berat badan terhadap tinggi badan, angka kecukupan
imunisasi, kesanggupan belajar, angka kematian menurrut golongan umur, angka
kesakitan, jenis penyakit tertentu, dan angka penderita cacat golongan anak-anak.
Indikator harus valid, objektif, sensitif dan spesifik. Dalam memilih
indikator harus diperhitungkan sejauh mana indikator tersebut sah, bisa dipercaya,
sensitif dan spesifik.
a. Validitas atau keabsahan mempunyai arti bahwa indikator tersebut betul-
betul mengukur hal-hal yang ingin diukur. Indikator ini dapat digunakan
untuk mengambarkan keadaan kondisi atau status kesehatan yang
sebenarnya.
b. Reliabilitas atau dapat dipercaya mempunyai arti bahwa biarpun indikator
digunakan oleh orang yang berlainan, pada waktu yang berlainan, hasilnya
akan tetap sama.
c. Kepekaan atau sensitif berarti bahwa indikator tersebut harus peka terhadap
setiap perubahan mengenai keadaan atau fenomena yang dimaksud. Akan
tetapi suatu indikator dapat juga sensitif terhadap lebih dari satu keadaan
atau fenomena.
d. Kekhususan atau spesifisitas berarti bahwa indikator tersebut dapat
menunjukan perubahan-perubahan hanya mengenai keadaan atau fenomena
yang dikhususkan baginya.
Macam Indikator kesehatan :
1. Indikator yang berkaitan dengan status kesehatan yang berhubungan dengan
kualitas hidup dan itu berarti mengukur pelayanan kesehatan. Sebagai
indikator survival yang utama untuk mengukur sistem kesehatan masyarakat
seperti ditetapkan WHO 1981 ; Untuk mencapau health for all by year 2000,
adalah angka kematian bayi maximum 50 per 1000 bayi lahir hidup dan
angka harapan hidup waktu lahir minimal adalah 60 tahun atau lebih.
Indikator survival selain itu adalah indikator kualitas hidup, disini tentu saja
tidak hanya indikator kesehatan namun juga indikator kesehatan lainnya
berupa indikator pertumbuhan badan, idnikator status gizi, dan yang spesifik
adalah angka kesakitan dan kematian bayi dan anak.
2. Indikator non kesehatan yang berhubungan dengan kualitas hidup seperti :
indikator sosial ekonomi, pendidikan, budaya, lingkungan hidup dan
perumahan, status kesehatan wanita. Kulaitas hidup bersifat multi sektoral
dan menjadi masalah serta diselesaikan secara multi sektoral. Dengan
demikian evaluasi, juga multisektoral.
Contoh indikator program kesehatan :
1. Indikator kebijakan kesehatan :
a. komitmen politis pada tingkat tinggi terhadap kesehatan bagi semua.
b. Alokasi sumber daya yang cukup untuk layaan kesehatan dasar.
c. Tingkat keterlibatan masyarakat dalam mencapai kesehatan bagi semua
d. Penyusunan stautu kerangka organisasi dan manajerial yang sesuai
dengan strategi nasional untuk kesehatan bagi semua.
e. Manifestasi praktis dari komitmen politik internasional untuk kesehatan
bagi semua.
2. Indikator status kesehatan
a. Prosentase bayi-bayi yang di lahirkan dengan berat badan pada waktu
lahir paling sedikit 2500 g.
b. Prosentase anak yang berat badannya menurut umur dengan norma-
norma tertentu.
c. Indikator-indikator perkembangan psikososial anak-anak.
d. Angka kematian bayi.
e. Angka kematian anak.
f. Angka kematian anak di bawah umur 5 tahun.
g. Harapan hidup pada umur tertentu.
h. Angka kematian ibu.
i. Angka kematian menurut jenis penyakit.
3. Indikator sistem manajemen kesehatan
a. Indikator input atau indikator masukan seperti tersedianya sumber daya
tenaga kesehatan, tersedianya anggaran kesehatan, perlengkapan, obat-
obatan yang diperlukan, dan tersedianya metode pengobatan,
pemberantasan penyakit, standart opening procedure klinis dan
sebagainya.
b. Indikator proses diapndang dari sudut manajemen yang diperlukan
adalah pelaksanaan dari pada fungsi-fungsi manajemen seperti
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan perantauan, pengendalian
dan penilaian. Secara khusus dalam proses pelayanan kesehatan
berkaitan dengan upaya peningkatan mutu asuhan kesehatan quality
assurance yaitu menjaga mutu, kepatuhan terhadap standar operasional
pelayanan medis (SOP).
c. Indikator output (hasil program) merupakan ukuran-ukuran khusus bagi
outup program seperti jumlah puskesmas yang berhasil dibangun,
jumlah kader gizi yang terlatih, jumlah anak yang diimuniasasi, jumlah
MCK yang dibangun, panjang pipa air yang berhasi dipasang san
sebagainya. Jumlah orang yang diobati atau kunjungan yang mendapat
pelayanan kesehatan.
d. Indikator outcomes (dampak jangka pendek) adalah ukuran-ukuran dari
berbagai dampak program seperti meningkatnya derajak kesehatan anak
balita, menurunnya angka kesakitan.
e. Indikator impact (dampak jangka panjang) seperti angka kematian bayi,
angka kematian ibu, meningkatnya status gizi anak dan sebagainya.
Istilah-istilah tersebut sering kali tidak dibedakan antara dampak jangka
pendek dan dampak jangka panjang.