Anda di halaman 1dari 9

BAB V

HASIL PENILAIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Indikator dan Tolok Ukur Keluaran


Terdapat tiga indikator yang harus dicapai dalam program kesehatan masyarakat tahun
2016 di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara dengan tolok ukur yang berbeda-
beda, hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.1 Indikator dan Tolok Ukur Keluaran Cakupan Program Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi
Dasar di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara
No. Indikator Target
1. Deteksi dini penyakit tidak menular 25 %
2. Cakupan jaminan kesehatan pra bayar 85 %
3. Penemuan pasien baru TB BTA (+) 80 %

5.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan Komponen Keluaran


Identifikasi masalah yang ada pada program kesehatan lingkungan dilakukan dengan
membandingkan pencapaian keluaran dengan tolak ukur.

Tabel 5.2 Identifikasi Masalah Program Satus Kesehatan Lingkungan Dan Sanitasi Dasar di UPTD
Puskesmas Kecamatan Pontianak Barat.
No Indikator Target Capaian Masalah
1. Deteksi dini penyakit tidak menular 25 % 4,10 % +
2. Cakupan jaminan kesehatan pra 85 % 67,93% +
bayar
3. Penemuan pasien baru TB BTA (+) 80 % 35,48% +

Berdasarkan data di atas dapat diidentifikasi sejumlah masalah dalam Program


Kesehatan Masyarakat di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara dengan
permasalahan yaitu :
1. Deteksi dini penyakit tidak menular
1. Cakupan jaminan kesehatan pra bayar
2. Penemuan pasien baru TB BTA (+)

5.3. Penetapan Prioritas Masalah


Berdasarkan data pada tabel 5.2. di atas, didapatkan beberapa masalah pada program
kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar yang harus diselesaikan. Ditemukannya lebih dari
satu masalah maka harus ditentukan prioritas masalah karena adanya keterbatasan dana dan
sumber daya. Penetapan prioritas masalah dilakukan dengan menggunakan kriteria USG
(Urgency, Seriousness, Growth) seperti pada Tabel 5.2. Prioritas masalah ditetapkan dengan
sistem skoring:
a) Urgency:
Seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas dikaitkan dengan waktu yang tersedia
serta seberapa keras tekanan waktu tersebut untuk memecahkan masalah yang
menyebabkan isu tadi.
b) Seriousness
Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan akibat yang timbul dengan
penundaan pemecahan masalah yang menimbulkan isu tersebut atau akibat yang
menimbulkan masalah-masalah lain kalau masalah penyebab isu tidak dipecahkan. Perlu
dimengerti bahwa dalam keadaan yang sama, suatu masalah yang dapat menimbulkan
masalah lain adalah lebih serius bila dibandingkan dengan suatu masalah lain yang
berdiri sendiri.
c) Growth
Seberapa kemungkinan-kemungkinannya isu tersebut menjadi berkembang dikaitkan
kemungkinan masalah penyebab isu akan makin memburuk kalau dibiarkan.

Untuk setiap kriteria diberikan nilai dalam rentang 1 (tidak penting) hingga 5 (sangat
penting). Masalah yang menjadi prioritas utama ialah masalah dengan nilai tertinggi.

Tabel 5.3 Penetapan Prioritas Masalah


Daftar Masalah Urgency Seriousness Growth Jumlah
1. Deteksi dini penyakit tidak 4 5 5 13
menular

2. Cakupan jaminan kesehatan 3 3 4 10


prabayar

3. Penemuan baru TB BTA (+) 3 4 5 11

Kesehatan masyarakat merupakan salah satu upaya wajib puskesmas. Puskesmas sebagai
pusat pelayanan kesehatan primer di wilayah kelurahan/kecamatan seharusnya menjadi
garda terdepan dalam hal pengawasan kesehatan masyarakat. Berbagai jenis penyakit yang
diderita oleh masyarakat dapat berpengaruh terhadap derajat kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat di suatu wilayah, yang mana penyakit tersebut akan dapat berpengaruh terhadap
tingginya angka kesakitan dan kematian warga masyarakatnya.
Berdasarkan seberapa mendesak isu tersebut (urgency), angka deteksi dini penyakit tidak
menular diberikan nilai tertinggi sebab penyakit tidak menular ini menunjukkan kasus yang
cukup banyak diderita oleh warga di wiliyah kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Utara dan dianggap permasalahan ini perlu untuk mendapat perhatian lebih.
Jika dikaitkan dengan akibat yang akan ditimbulkan, maka seberapa serius isu tersebut
akan berdampak (seriousness), maka nilai untuk permasalahan cakupan jaminan kesehatan
pra bayar diberikan nilai yang terendah dibandingkan dengan permasalahan yang lain. Hal
ini berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat yang termasuk dalam wilayah kerja UPTD
Puskesmas kecamatan Pontianak Utara memiliki kartu keluarga wilayah kota Pontianak
yang berarti untuk pembiayaan kesehatan dapat ditanggung oleh pemerintah kota Pontianak.
Kemungkinan berkembangnya isu tersebut (growth) jika dilihat kemungkinan dampaknya
yang terbesar terhadap lingkungan, maka nilai tertinggi diberikan kepada permasalahan
deteksi dini penyakit tidak menular dan penemuan baru TB BTA (+). Oleh karena
masyarakat jarang memeriksakan kesehatan ke puskesmas apabila tidak memiliki keluhan
kesehatan dan penyakit tidak menular ini dapat mempengaruhi kesejahteraan seseorang.
Penemuan baru TB BTA (+) juga diberikan nilai yang sama sebab penyakit ini dapat dengan
mudah ditularkan kepada masyarakat yang lainnya.
Berdasarkan penetapan prioritas masalah dengan teknik kriteria USG di atas maka
prioritas masalah yang dipilih adalah deteksi dini penyakit tidak menular. Adapun urutan
prioritas masalah yang berhasil ditetapkan adalah sebagai berikut :
1. Deteksi dini penyakit tidak menular
2. Penemuan baru TB BTA (+)
3. Cakupan jaminan kesehatan pra bayar

5.4. Identifikasi Penyebab Masalah


5.4.1. Kerangka Konsep
Kerangka konsep dibuat dengan menggunakan pendekatan analisis, hal ini bertujuan
untuk mengidentifikasi faktor penyebab masalah deteksi dini penyakit tidak menular yang
masih di bawah target di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara.
Kerangka konsep yang telah dipikirkan untuk masalah tersebut dapat dilihat pada gambar
di bawah ini.

Akses sanitasi
yang layak

Gambar 5.1 Kerangka konsep model tulang ikan

5.4.2. Estimasi Penyebab Masalah


Masalah dalam kurangnya deteksi dini penyakit tidak menular akan dibahas sesuai
dengan pendekatan sistem yang mempertimbangkan seluruh faktor baik dari unsur
manusia (man), cara (methode), sarana (machine), waktu (minute), dan dana (minute) .
Daftar masalah berdasarkan kerangka konsep yaitu:
1. Kurangnya sumber daya petugas kesehatan lingkungan
2. Kurangnya koordinasi lintas sektor
3. Kurangnya dana
4. Kurangnya sosialisasi/penyuluhan
5. Kurangnya partisipasi/ kepedulian masyarakat
Berdasarkan estimasi penyebab masalah tersebut, diketahui terdapat lima penyebab
masalah yang kemudian masalah tersebut dipilih berdasarkan sistem skoring oleh seluruh
anggota kelompok. Masing-masing anggota kelompok memilih estimasi penyebab
masalah tersebut dengan penetapan peringkat, di mana penyebab setiap penyebab masalah
yang berada di peringkat pertama memiliki skor 5, peringkat kedua memiliki skor 4, dan
seterusnya hingga peringkat ketujuh memiliki skor 1. Sistem skoring yang telah dilakukan
dapat dilihat pada Tabel 5.4. berikut.
Tabel 5.4. Estimasi Penyebab Masalah

No Anggota
Daftar Masalah Total
. 1 2 3 4 5
Kurangnya sumber daya petugas
1. 2 3 4 1 3 13
kesehatan lingkungan
2. Kurangnya koordinasi lintas sektor 3 2 1 2 4 12
3. Kurangnya dana 1 1 2 3 1 8
4. Kurangnya sosialisasi/ penyuluhan 4 4 3 5 2 18
5. Kurangnya partisipasi masyarakat 5 5 5 4 5 24

Berdasarkan sistem scoring yang telah dilakukan, didapatkan 3 estimasi penyebab


masalah yang memiliki score paling tinggi yaitu:
1. Kurangnya partisipasi masyarakat
2. Kurangnya sosialisasi atau penyuluhan di masyarakat
3. Kurangnya sumber daya petugas kesehatan lingkungan

Setelah ditetapkan 3 penyebab utama masalah, dilakukan perhitungan penentuan


prioritas penyebab masalah berdasarkan tabel di bawah ini yaitu:

Tabel 5.5. Prioritas penyebab masalah


Daftar Masalah Urgency Seriousness Growth Jumlah
1. kurangnya partisipasi 4 5 5 13
masyarakat

2. kurangnya sosialisasi atau 3 5 4 12


penyuluhan di masyarakat

3. kurangnya sumber daya 3 4 4 11


petugas kesehatan
lingkungan
Berdasarkan Tabel 5.5 di atas, nilai urgency untuk penyebab kurangnya sosialisasi
atau penyuluhan di masyarakat dan kurangnya sumber daya petugas kesehatan diberi nilai
yang sama, yaitu 3 oleh karena kedua penyebab tersebut dirasa kurang berpengaruh
terhadap masalah deteksi dini penyakit tidak menular dan pemecahan masalah tersebut
memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat diselesaikan. Untuk penyebab
kurangnya partisipasi masyarakat diberi nilai tertinggi diantara penyebab masalah yang
lain karena kepedulian masyarakat terhadap penyakit tidak menular adalah masalah
penting yang perlu mendapat perhatian.
Untuk poin seriousness, penyebab masalah kurangnya sosialisasi atau penyuluhan di
masyarakat diberi nilai yang sama seperti kurangnya partisipasi masyarakat karena kedua
penyebab tersebut dirasakan saling berpengaruh terhadap satu dengan yang lainnya
sehingga dapat menurunkan angka masyarakat yang melakukan deteksi dini penyakit tidak
menular.
Poin growth pada kurangnya partisipasi masyarakat mendapatkan nilai tertinggi
diantara poin penyebab yang lainnya. Penyebab masalah ini dianggap yang berdampak
paling besar terhadap timbulnya permasalahan deteksi dini penyakit tidak menular.
Sedangkan untuk nilai penyebab permasalahan kurangnya sosialisasi atau penyuluhan dan
kurangnya sumber daya petugas kesehatan diberikan nilai yang sama.

5.5. Alternatif Jalan Keluar


5.5.1. Alternatif Penyelesaian Masalah
1. Melakukan sosialisasi/penyuluhan rutin ke setiap RW tentang pentingnya deteksi dini
penyakit tidak menular. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat
memengaruhi perilaku seseorang ataupun sekelompok orang di mana dengan semakin
baik pengetahuan masyarakat tentang manfaat deteksi dini penyakit tidak menular,
diharapkan memberikan dampak yang positif yaitu meningkatkan kesadaran mereka dan
mereka mau serta mendukung langkah yang dilakukan oleh puskemas dalam upaya
menurunkan angka kejadian penyakit tidak menular.
2. Melakukan koordinasi lintas sektor antara puskesmas dengan pemerintah dalam hal ini
dinas kesehatan, pemerintah kecamatan, pemerintah desa serta tokoh masyarakat.
Manfaat yang diharapkan dari koordinasi ini adalah meningkatkan fungsi pengawasan
dan diharapkan dapat meningkatkan peran dinas terkait, pemerintah kecamatan dan desa
serta partisipasi masyarakat untuk ikut dalam mensukseskan program ini. Sebagai contoh,
puskesmas dapat berkoordinasi dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat untuk
untuk dapat mengadakan pemeriksaan penunjang terkait penyakit tidak menular yang
diadakan setiap bulannya secara massal dan gratis serta dilakukan pengobatan.
3. Pelatihan/ lokakarya bagi pegawai puskesmas untuk dapat melakukan pemantauan rutin
secara berkala dengan kunjungan rumah untuk melakukan evaluasi dan pendataan derajat
kesehatan masyarakat di wilayah kerja UPTD Kecamatan Pontianak Utara.

5.6. Prioritas Penyelesaian Masalah


Adapun penentuan alternatif jalan keluar yang dapat dihitung dengan menggunakan
metode scoring dengan mempertimbangkan Magnitude (M), Improtancy (I), Vulnerability
(V) dan Cost (C) yang secara langsung dapat diperhatikan pada program.
1. Efektifitas jalan keluar, yang terdiri dari M, I dan V
Besarnya masalah yang dapat diselesaikan (Magnitude) = M
Pentingnya jalan keluar (Importancy) = I
Sensitivitas jalan keluar (Vulnerabillity) = V
2. Biaya jalan keluar (Cost) = C
Prioritas dihitung dengan rumus :
MxIxV
C
Alternatif jalan keluar yang dipilih sebagai prioritas adalah yang memiliki hasil
perhitungan tertinggi. Hasil perhitungan alternatif jalan keluar yang ditawarkan dapat
diperhatikan pada tabel berikut.
Tabel 5.6 Hasil perhitungan alternatif jalan keluar

Prioritas Jalan
Alternatif Jalan Keluar M I V C Keluar:
P=(MxIxV)/C
Melakukan sosialisasi/penyuluhan
5 4 4 4 20
rutin
Pelatihan/ lokakarya pegawai
4 4 4 4 16
puskesmas
Koordinasi lintas sektor 3 3 3 3 6,75

Untuk besarnya masalah yang dapat diselesaikan (Magnitude), nilai 5 diberikan pada
alternatif pemecahan masalah melakukan sosialisasi/ penyuluhan rutin karena dirasakan
paling efektif untuk menyelesaikan masalah. Sosialisasi yang rutin diharapkan dapat
meningkatkan pengetahuan masyarakat dan meningkatkan kesadaran mereka untuk menjaga
kesehatan dan memeriksakan diri secara rutin untuk dapat mendeteksi sedini mungkin
penyakit tidak menular . Manfaat yang diharapkan dari koordinasi ini adalah meningkatkan
fungsi pengawasan dan diharapkan dapat meningkatkan peran dinas terkait, pemerintah
kecamatan dan desa serta partisipasi masyarakat untuk ikut dalam menyukseskan program
ini. Pelatihan/ lokakarya bagi pegawai puskesmas untuk dapat melakukan pemantauan dan
pendataan rutin dengan kunjungan rumah bagi penderita penyakit tidak menular yang
diharapkan dapat mengurangi angka kesakitan dan membantu masyarakat yang kesulitan
untuk berkunjung ke puskesmas. Dalam kunjungan tersebut juga dapat diberikan edukasi
dan motivasi bagi penderita untuk tetap semangat menghadapi penyakitnya dan tetap
berusaha untuk produktif.
Dilihat dari pentingnya jalan keluar (importancy) dan kecepatan terselesaikannya
masalah (vulnerability), alternatif pemecahan masalah dengan melakukan sosialisasi/
penyuluhan rutin dan pelatihan/ lokakarya bagi pegawai puskesmas diberikan poin lebih
tinggi karena kedua hal ini dirasakan penting untuk diterapkan dan tidak memerlukan waktu
yang lama untuk menyelesaikan masalah ini. Jika didukung dengan jumlah petugas
kesehatan yang memadai sosialisasi yang rutin akan mudah untuk dilakukan dan tidak
terlalu memakan waktu.
Dengan mempertimbangkan biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan alternatif
pemecahan masalah (cost), diberikan nilai 4 pada alternatif pemecahan masalah pelatihan/
lokakarya bagi pegawai puskesmas dan sosialisasi rutin. Kedua hal ini diberikan nilai tinggi
karena memerlukan biaya yang besar dalam proses penyelengaraannya.
Dari tabel matriks di atas diketahui bahwa yang mendapat nilai terbesar adalah dengan
meningkatkan kegiatan sosialisasi rutin kepada masyarakat, diikuti dengan melakukan
pelatihan/ lokakarya bagi pegawai puskesmas untuk melakukan pemantauan dan evaluasi
bagi warga di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara. Selanjutnya
urutan ketiga penyelesaian masalah adalah koordinasi lintas sektoral yang mana diharapkan
adanya dukungan dari berbagai sektor untuk dapat membantu tercapainya derajat kesehatan
yang tertinggi untuk warga masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan warga.