Anda di halaman 1dari 16

LESI ORAL SEBAGAI MANIFESTASI KELAINAN SISTEMIK

Oleh:
VETRIA MERDIYANA (G1G009035)

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO

2016
A. Manifestasi Penyakit Sistemik Pada Rongga Mulut
Banyak penyakit sistemik yang mempunyai manifestasi di rongga
mulut. Rongga mulut dapat menjadi jendela tubuh kita karena banyak
manifestasi pada rongga mulut yang menyertai penyakit sistemik. Banyak lesi
pada mukosa mulut, lidah, gingiva, gigi, periodontal, glandula salivarius,
tulang wajah, dan kulit disekitar mulut yang terkait dengan penyakit sistemik
umum (Noormaniah dan Hidayatullah, 2012). Lesi diartikan sebagai
diskontinuitas jaringan patologik atau traumatik atau hilangnya fungsi suatu
bagian. Lesi rongga mulut didefinisikan sebagai setiap perubahan yang tidak
normal atau pembengkakan pada permukaan mukosa mulut (Dorland, 2002).

B. Macam-Macam Keadaan Sistemik Dengan Manifestasi Oral


Keadaan sistemik seseorang dapat tercermin di dalam rongga
mulutnya, sehingga dapat mempengaruhi perjalanan penyakit gigi dan
perawatan pasien. Oleh karena itu, mengetahui bentuk lesi oral sebagai
manifestasi kelainan sistemik sangat diperlukan. Berikut ini adalah beberapa
jenis keadaan sistemik yang memiliki manifestasi lesi mukosa mulut:
1. Penyakit darah
a. Anemia
Penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah di bawah
kadar normal untuk usia dan jenis kelamin pasien. Gejalanya dalam
mulut yaitu lidah perih, lidah sangat sakit, mulut terasa perih, dan
kesulitan menelan (Birnbaum dan Dunne, 2010).
Tanda dalam mulut:
1) Atrofik glossitis (lidah halus dan meradang): area-nya tidak
mempunyai batas keratotik putih dan cenderung meningkat
ukurannya daripada perubahan posisinya (Noormaniah dan
Hidayatullah, 2012).
2) Keilitis angularis: terjadi pada sudut bibir, yang disebabkan karena
infeksi Candida albicans menyebabkan kemerahan dan pecah-
pecah, serta rasa ketidaknyamanan (Noormaniah dan Hidayatullah,
2012).
3) Ulserasi mulut
4) Kandidiasis mulut
5) Glositis dan stomatitis (lesi terasa nyeri bila ditekan, merah,
disertai edema, juga atrofi pada lidah geographic
tongue/migratori glossitis): lesi kemerahan, non- indurasi, atropik
dan dibatasi dengan sedikit peninggian pada lidah, pinggir yang
nyata dengan warna yang bermacam-macam dari abu-abu sampai
putih (Noormaniah dan Hidayatullah, 2012).
6) Warna mukosa mulut pucat.

Gambar 1. Angular Stomatitis dan Glossitis

b. Leukemia
Suatu keadaan dimana jumlah leukosit lebih banyak dari
normalnya dan jumlah yang ada masih muda sehingga tidak mampu
menjalankan fungsinya untuk membunuh kuman serta mudah terkena
infeksi. Gejala dari leukemia adalah adanya demam yang tinggi, suhu
mencapai 400 C, penderita kelihatan lemas, seluruh badan terasa sakit
terutama pada sendi-sendi dan tulang, mudah terjadi perdarahan,
pembesaran dari hati, ginjal dan limpa (Kristiani, 2010).
Manifestasi pada intra oral (Kristiani, 2010):
1) Adanya penebalan dari gusi secara menyeluruh (bisa sampai
menutupi oklusal dari gigi)
2) Gusi mudah berdarah
3) Pendarahan pada mukosa mulut
4) Pulpa gigi menjadi abses pada gigi yang sehat
5) Ulserasi pada bibir, mukosa, dan gingiva
6) Petechie (Birnbaum dan Dunne, 2010)
7) Ekimosis dalam mulut (memar) (Birnbaum dan Dunne, 2010)
8) Mukosa pucat (Birnbaum dan Dunne, 2010)
9) Sering ditemukan infeksi jamur dan herpetik (Birnbaum dan
Dunne, 2010)
10) Kandidiasis dan xerostomia (Birnbaum dan Dunne, 2010)
Terapi leukemia pada umumnya meliputi perbaiki nilai gizi,
melindungi badan terhadap infeksi, transfusi darah, dan menenangkan
mental penderita. Terapi intra oral dilakukan dengan memperbaiki oral
hygiene dengan cara membersihkan kalkulus, menghilangkan iritasi
lokal, pemberian obat kumur ringan (seperti H202 1,5 %), dan sikat gigi
setiap kali sesudah makan secara perlahan. Kontra indikasi pada
keadaan leukemia akut adalah dilakukannya pencabutan, scalling,
kuretase, dan biopsi jaringan (Kristiani, 2010).

Gambar 2. Pembengkakan Pada Gusi dan Petechie

2. Kelainan endokrin
Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu keadaan dimana kadar
gula di dalam darah meninggi. Hal ini disebabkan oleh karena adanya
jumlah hormon yang menurun, yaitu hormon insulin. Fungsi insulin adalah
menambah glukosa menjadi glycogen dan disimpan dalam hati. Gejala
umumnya adalah polyphagia (banyak makan), polydypsi (banyak minum),
polyuria (banyak kencing), pruritis (gatal-gatal), peradangan mulut
(periodontitis) (Kristiani, 2010).
Manifestasi pada intra oral (Kristiani, 2010):
a. Gusi membengkak berwarna merah, sakit dan biasanya agak lepas dari
gigi.
b. Resorbsi processus alveolaris
c. Insidensi karies meningkat
d. Jumlah saliva menurun (xerostomia)
e. Mulut bau aseton
f. Lidah kering dan sakit seperti terbakar
g. Gigi-gigi goyang
h. Pembesaran glandula parotis bilateral difus, keras (sialadenosis)
(Noormaniah dan Hidayatullah, 2012).
i. Candidiasis erytematosus tampak sebagai atropi papila sentral pada
papila dorsal lidah dan terdapat pada lebih dari 30% pasien DM
(Noormaniah dan Hidayatullah, 2012).
Terapi intra oral (Kristiani, 2010):
a. Perawatan gigi 3-4 bulan sekali
b. Kalkulus dihilangkan
c. Dilakukan X-ray tiap tahun
d. Perawatan gigi sebaiknya bertahap
e. Cara sikat gigi yang baik
f. Pro dan post operative diberikan antibiotik
Pemberian vitamin B komplek dan vitamin C (dosis tinggi) akan
mempercepat penyembuhan (Kristiani, 2010).
3. Infeksi
Tuberkulosis (TBC) disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa.
Tanda klinisnya yaitu:
a. Ulkus sangat kecil, nyeri dan sukar sembuh
b. Tepi ulkus berwarna kebiru-biruan
c. Dasar ulkus berwarna pucat
d. Paling banyak terdapat di lidah, bisa juga terdapat di pipi, bibir dan
palatum
Gejala-gejala penyakit TBC pada umumnya adalah penderita pucat dan
kurus, badan terasa lemah, pada malam hari seringkali mengeluarkan
keringat, demam yang tak mau hilang, adanya batuk yang tidak sembuh-
sembuh, kadang-kadang disertai dahak yang mengandung darah, dan berat
badan menurun. Perawatan dari lesi-lesi dalam mulut harus diperhatikan
sebagai tambahan dari penyakit umumnya antara lain oral hygiene
dipelihara, menghilangkan iritasi-iritasi untuk mencegah berkembangnya
lesi-lesi dalam mulut seperti protesa yang tajam. Tidakan-tindakan yang
perlu dilakukan adalah memakai masker bila bekerja pada penderita TBC
dan alat-alat harus disterilkan (Kristiani, 2010).

Gambar 3. Ulkus

4. Alergi
Stomatitis alergika adalah reaksi hipersensitivitas tipe I oral
terhadap obat atau makanan yang digunakan secara sistemis. Gambaran
klinisnya adalah tampak jelas daerah merah yang kering mengkilat.
Daerah-daerah putih dapat ada di sekitarnya. Akan terjadi pembentukan
vesikel multipel yang mengelupas dan akhirnya membentuk ulkus yang
tertutup fibrin (Indrawati dan Harijanti, 2014).

Gambar 4. Stomatitis Alergika

5. Kondisi seksual dan menular


Penyebab syphilis adalah Treponema pallidum. Penjalaran penyakit
syphilis adalah treponema pallidum masuk ke dalam tubuh melalui
mukosa/kulit, setelah menembus kulit menuju saluran limfa, lalu
berkembang biak dengan pesat. Setelah mempunyai jumlah yang cukup,
lalu keluar melalui duktus/saluran menuju ke pembuluh darah dan ikut
beredar ke seluruh tubuh (Kristiani, 2010).
Terjadinya infeksi (Scolly dkk., 2007):
1) Pre Natal/dalam kandungan
Infeksi ini terjadi jika si ibu menderita syphilis, maka anak
yang berada dalam kandungan akan ketularan melalui plasenta/ari-ari.
Dalam keadaan seperti ini biasanya janin akan mati, tetapi jika hidup
maka akan disertai dengan tanda-tanda seperti kulit bayi berwarna
kehitam-hitaman, dibawah kulit terdapat gelembung air, dan epidermis
seringkali terlepas.
2) Post Natal
Infeksi ini terjadi setelah kelahiran, dapat secara langsung
maupun tidak langsung. Perubahan-perubahan patologis pada syphilis
dibagi dalam beberapa stadium, yaitu:
a) Stadium primer/Stadium I
Terjadi kira-kira 10-90 hari setelah masa tunas. Lesi
pertama berupa makula atau papula merah yang kemudian menjadi
ulkus (chancre), dengan pinggir keras, dasar ulkus biasanya merah
dan tidak sakit bila dipalpasi. Sering disertai dengan
pembengkakan kelenjar getah bening regional. Lokalisasi chancre
sering pada genitalia tetapi bisa juga ditempat lain seperti bibir,
ujung lidah, tonsil, jari tangan dan puting susu.
b) Stadium sekunder/Stadium II
Terjadi setelah 6-8 minggu sejak stadium I. Pada intra oral
terdapat mucous patch, yakni suatu ulkus yang ditutupi oleh
selaput yang banyak mengandung spirochaeta berwarna putih
kelabu dikelilingi batas merah dan berlokasi di bibir, lidah, dan
mukosa lainnya. Apabila pecah, maka kuman akan masuk ke
dalam air liur dan sangat menular.

c) Stadium tersier/Stadium III


Adanya perubahan yang khas dari syphilis yakni gumma.
Gumma bisa terdapat pada intra oral maupun ekstra oral. Pada intra
oral, gumma terdapat di lidah dan palatum. Bila terdapat di
palatum, maka dapat mengakibatkan perforasi dari tulang palatum
sehingga terjadi hubungan langsung ke rongga hidung. Pada ekstra
oral, gumma bisa terdapat di mana-mana, dan jika sembuh akan
meninggalkan jaringan granulasi dan akan terjadi keloid.
Tanda-tanda khas syphilis pada gigi yaitu triad Hutchinson, yaitu:
1) Kelainan pada gigi seri dan geraham tetap
a) Warna enamel pada gigi seri lebih gelap dari pada normal
b) Incisal edge dapat berbentuk seperti obeng karena adanya
pengerutan dari mahkota ke arah insisal (peg shaped), mahkota
gigi berbentuk seperti pasak sehingga terdapat diastema, dan
adanya lekukan di tengah mahkota gigi (notched incisor).
c) Kelainan molar yakni miringnya cusp ke arah bagian tengah
seperti buah murbey (mulberry molars atau moons molar).
2) Pendengaran menjadi tuli karena kerusakan saraf ke - 8.
3) Intersitial keratitis: radang pada selaput mata sehingga
menyebabkan kebutaan.
6. HIV/AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency
Syndrome. AIDS merupakan kumpulan gejala-gejala penyakit infeksi atau
keganasan tertentu yang turun akibat menurunnya daya tahan tubuh.
Penularannya melalui hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS,
suntikan atau tusukan benda terkontaminasi HIV, dan ibu pengidap HIV
pada bayi yang dikandungnya. Manifestasi di dalam muluf pada penderita
AIDS dapat berupa (Kristiani, 2010):
1) Infeksi jamur
a) Kandidiasis Oral
Kandidiasis oral seringkali merupakan gejala awal dari
infeksi HIV. Faktor utama etiologi kandidiasis oral adalah jamur
Candida albicans, meskipun spesies lain dari Candida dapat
terlibat. Kandidiasis oral dibedakan menjadi 4 bentuk, yaitu
(Langlais dkk., 2009):
(1) Pseudomembranosis
Tampak sebagai membran putih atau kuning yang
melekat dan dapat dikelupas dengan jalan mengeroknya,
meninggalkan mukosa eritematus di bawahnya. Keadaan ini
dapat mengenai mukosa dimana saja, tetapi lidah dan palatum
lunak adalah daerah yang paling sering terkena. Kondisi ini
biasanya akut, tetapi pada penderita HIV bisa bertahan
beberapa bulan.
(2) Eritematus (atropik)
Bentuk eritmatus ditandai oleh daerah merah dan
gundul pada bagian dorsum lidah.
(3) Hiperplastik
Kandidiasis hiperplastik kronis pada HIV merupakan
sub tipe yang paling langka, tetapi dapat menimbulkan bercak
putih pada mukosa bukal. Tipe ini harus dibedakan dengan
hairy leukoplakia, yang seringkali mengandung kandida pada
permukaanya.
(4) Keilitis angularis
Tampak sebagai fisur merah dan sakit pada sudut mulut,
terutama pada penderita HIV positif. Terapinya yaitu
pemberian obat-obat topikal (nystatin atau amphotericin B) dan
terapi sistemik dengan ketoconazole, fluconazole atau
itraconazole (Vaseliu dkk., 2010).

Gambar 5. Pseudomembranosis
2) Infeksi oleh virus
a) Herpes Simplex Virus (HSV)
Infeksi (HSV) dapat bersifat primer (herpes
gingivostomatitis) atau sekunder (herpes labialis). Adanya infeksi
HSV selama lebih dari 1 bulan merupakan suatu gejala terjadinya
AIDS. Virus ini terdapat dalam jumlah yang besar pada penyakit
mulut yang diderita oleh pasien AIDS. Infeksi HSV membentuk
sekelompok vesikel biasanya terlokalisasi yang terjadi pada
mukosa berkeratin (palatum keras, gingiva) dan batas vermillion
bibir dan kulit perioral. Vesikel pecah dan membentuk luka yang
menyakitkan tidak teratur dan seringkali terjadi penggabungan
vesikel-vesikel tersebut menjadi ulkus yang besar. Hal ini
menyebabkan terganggunya proses pengunyahan dan penelanan
yang akan mengakibatkan terjadinya penurunan asupan oral dan
dan dehidrasi (Neville dkk., 2003). Pengobatan dilakukan dengan
terapi sistemik acyclovir 800mg peroral setiap 4 jam selama 10
hari. Pada kasus resisten acyclovir bisa difunakan foscarnet 24-
40mg/kg peroral setiap 8 jam. Obat antivirus topikal dapat
digunakan untuk lesi herpes labial dan perioral. Pengobatan ini
lebih efektif jika dilakukan dalam tahap infeksi prodromal (Vaseliu
dkk., 2010).
b) Oral Hairy Leukoplakia (OHL)
Lebih umum terjadi pada orang dewasa yang terinfeksi HIV
daripada anak yang terinfeksi HIV. Merupakan lesi putih, tidak
berbatas jelas, berkerut, menonjol pada tepi lateral lidah dan
berkaitan dengan virus Epstein Barr dan infeksi HIV. Lesi awal
tampak sebagai plak vertikal, putih, besar, pada tepi lateral lidah,
dan umumnya bilateral. Lesi-lesi tersebut dapat menutup
permukaan lateral dan dorsal lidah, meluas ke mukosa pipi dan
palatum. Lesi tersebut tanpa gejala dan tidak dapat dihapus, serta
mengganggu estetika. Bukti histologi tampak tonjolan mirip
rambut hiperkeratotik, kolisitosis, sedikit radang dan infeksi
kandida. Hal ini sangat penting karena dapat digunakan untuk
meramalkan perkembangan AIDS (Regezi dkk., 2008). OHL
biasanya tidak memerlukan pengobatan apapun, tetapi dalam kasus
yang parah dianjurkan untuk memberikan antiviral sistemik. Ketika
OHL dikaitkan dengan kandidiasis oral, manajemen terapi
kandidiasis oral diperlukan (Vaseliu dkk., 2010).

Gambar 6. Oral Hairy Leukoplakia

c) Herpes zoster
3) Inveksi oleh bakteri
a) HIV periodontitis (HIV-associated periodontal disease)
Penyakit periodontal merupakan penyakit umum di antara
pasien yang terinfeksi HIV. Hal ini ditandai dengan gusi berdarah,
bau mulut, nyeri/ketidaknyamanan, gigi goyang, dan kadang-
kadang luka. Jika tidak diobati, HIV-Associated Periodontal
Disease dapat berkembang menjadi infeksi yang mengancam jiwa,
seperti angina ludwig dan noma (cancrum oris). Gambaran klinis
dari HIV-Associated Periodontal Disease terdiri dari 4 bentuk
yaitu:
(1) Linear gingival erythema ditandai dengan terdapatnya garis
merah sebesar 2-3 mm sepanjang marginal gingiva,
berhubungan dengan eritema difus pada attached gingiva dan
mukosa mulut. Perawatannya dapat dilakukan scaling dan root
planning serta penggunaan chlorhexidin gluconat 0,5 oz
dikumur selama 30 detik dan dibuang setiap 12 jam (Vaseliu
dkk., 2010).
(2) NUG lebih sering terjadi pada orang dewasa dibandingkan
anak. Hal ini ditandai dengan adanya ulserasi, pengelupasan,
dan nekrosis satu atau lebih papila interdental, disertai rasa
sakit, pendarahan, dan halitosis berbau busuk. Terapi dengan
debridement saja atau dikombinasi dengan metronidazol jika
terdapat demam, malaise, dan anoreksia (Langlais dkk., 2009).

Gambar 7. NUG, NUP

(3) NUP ditandai hilangnya jaringan lunak dan gigi secara luas dan
cepat.
(4) Necrotizing stomatitis merupakan kelanjutan yang parah dari
NUP yang tidak diobati. Hal ini ditandai dengan lesi
ulceronecrotic akut dan sakit pada mukosa oral yang
menyebabkan terbukanya tulang alveolar. Pengelolaan dan
pengendalian HIV Associated Periodontal Disease dimulai
dengan menjaga kebersihan mulut yang baik setiap hari. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan menyikat gigi, flossing dan
penggunaan obat kumur yang merupakan cara yang efektif
untuk mencegah dan mengendalikan penyakit periodontal
(Vaseliu dkk., 2010).
b) Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG)
Etiologi ANUG adalah Fusobacterium nucleatum,
Treponema vincentii. ANUG menimbulkan rasa nyeri pada saat
mengunyah, demam, malaise, dan ulserasi yang ditutupi oleh
pseudomembran. Margin gingiva juga berwarna merah dan sangat
nyeri. Ulser pada ANUG banyak terdapat pada mukosa bukal dan
orofaring. Limfonodi submandibula dapat membesar dan nyeri
pada saat ditekan. Infeksi gingiva yang terjadi, pada orang dewasa
muda. Gambaran klinisnya nekrosis papila interdental dan margin
gingiva, painful, pembentukan crater dengan pseudomembran abu-
abu, perdarahan gingiva spontan, linear erythema, halitosis,
salivasi, kadang disertai demam, malaise, limfadenopati dan nyeri
tekan. Faktor predisposisi: stres emosional, malnutrisi dan
dehidrasi,OH buruk, trauma local, terutama infeksi HIV, merokok
(Langlais dkk., 2009).
4) Neoplasma
a) Oral kaposi's sarcoma
Merupakan tumor sel endotelial ganas yang hampir selalu
terjadi pada penderita HIV positif. Keganasan itu adalah tumor dari
proliferasi vaskuler yang terjadi pada kulit maupun jaringan
mukosa. Lesi terjadi pada palatum, tampak sebagai bercak
berdarah/ungu pada tahap awal yang akan berubah menjadi
eksofitik (Langlais dkk., 2009).
b) Oral squamous cell carcinoma
Karsinoma sel squamosal sering dijumpai sebagai lesi putih
kemerahan atau berulserasi pada tepi lateral lidahKelainan-
kelainan lain oleh sebab yang sudah diketahui seperti ulserasi
aptosa rekuren, pembesaran kelenjar ludah, xerostomia,
penyembuhan luka yang lama (Neville dkk., 2003)
7. Vitamin
a. Vitamin A (Birnbaum dan Dunne, 2010)
Tanda/Gejala Defisiensi Hypervitaminosis
1) Enamel Hipoplasia Bibir bersisik
2) Hiperkeratosis dari
mukosa mulut
Intra oral
3) Epithel Hyperplasia
4) Odontoblas tidak dapat
membentuk dentin
Ekstra oral 1) Adanya buta senja 1. Sakit kepala
2) Hiperkeratosis dari kulit 2. Gangguan
3) Pertumbuhan yang penglihatan
terganggu 3. Nausea atau
4) Atrofi dari kelenjar vomiting
sebaceous (kelenjar 4. Kulit menjadi
minyak) dan folikel rambut kasar dan bersisik

b. Vitamin B kompleks
1) Defisiensi vitamin B1 (tiamin)
Manifestasi pada intra oral meliputi hipersensitif tinggi;
mukosa mulut, lidah, gusi berwarna merah tua dan mengkilap;
serta papila fungiformis (dipermukaan ujung lidah dan sisi depan
lidah) menebal. Gejala pada ekstra oral yaitu dapat menyebabkan
penyakit beri-beri yaitu adanya kelumpuhan (Kristiani, 2010).
2) Defisiensi Vitamin B2 (Riboflavin)
Tanda klinisnya adalah terjadi perubahan warna kulit
disudut mulut, bibir kering, epitel menipis dan bibir menjadi merah
dan pecah (terjadi stomatitis angularis), serta lidah berwarna merah
licin (Kristiani, 2010).
3) Defisiensi Vitamin B3 (asam nikotinat)
Gejalanya adalah rasa sakit di mulut dan lidah serta ulserasi
mulut. Manifestasi pada intra oral adalah daerah kemerahan
menyeluruh pada mukosa mulut, atrofi papilla lidah, ulserasi
mulut, dan ulserasi tertutup oleh fibrin (Birnbaum dan Dunne,
2010).
4) Defisiensi Vitamin B6 (Piridoksin)
Manifestasi pada intra oral adalah bibir kemerahan, nyeri
dan terbelah-belah; glositis; dan keilitis angularis. Pada ekstra oral
terdapat lesi seborrheic (lesi kulit dan merupakan tumor kulit) pada
wajah, dada, bahu atau punggung (Jackson dkk., 2015).
5) Defisiensi Vitamin B-c (asam folat)
Tanda dan gejalanya yaitu lidah dan mucosa mulut seperti
terbakar. Lidah menjadi bengkak dengan penebalan dari papilla
fungiformis (Kristiani, 2010).
6) Defisiensi Vitamin B12
Menyebabkan anemia pernisiosa yang memberi gambaran
khas pada lidah disebut hunters glossitis. Ujung dan pinggir lidah
terang dan merah sekali, sakit sekali yang kadang-kadang
bertambah atau berkurang (Kristiani, 2010).
7) Defisiensi Vitamin B kompleks
Tanda klinisnya yaitu adanya perubahan warna kulit disudut
mulut, bibir kering, epitel menipis dan bibir menjadi merah dan
mudah pecah (terjadi stomatitis angularis), dan lidah berwarna
merah licin (Kristiani, 2010).
8) Defisiensi Vitamin C
Manifestasi pada intra oral (Kristiani, 2010):
a) Adanya gusi yang berwarna merah, mudah berdarah
b) Adanya pembengkakan dari gusi
c) Adanya 'pseudo pocket
d) Adanya 'boggy' yakni jika gusi ditekan akan teraba seperti
lumpur.
e) Atropi tulang alveol sehingga gigi mudah lepas
Manifestasi pada ekstra oral adalah scurvy dan sering
terdapat pada bayi yang minum susu botol.

DAFTAR PUSTAKA
Birnbaum, W., Dunne, S. M., 2010, Diagnosis Kelainan Dalam Mulut: Petunjuk
Bagi Klinisi, Terjemahan oleh Hartono Ruslijanto dan Enny M.
Rasyad, 2009, EGC, Jakarta.

Dorland, W. A. N., 2002, Kamus Kedokteran Dorland, EGC, Jakarta.

Indrawati, E., Harijanti, K., 2014, Management of Allergic Stomatitis Due to


Daily Food Consumption, Dentofasial, 13(2): 129-134.

Jackson, J. M., Alexis, A., Berman, B., Berson, D. S., Taylor, S., Weiss, J. S.,
2015, Current Understanding of Seborrheic Keratosis: Prevalence,
Etiology, Clinical Presentation, Diagnosis, and Management, J. Drugs
Dermatol., 14(10): 1119-1125.

Kristiani, A., Koswara, N., Anggrawati, H., Wijaya, I., Nafarin, M., Nurhayati,
Suwarsono, Salamah, S., Dahlan, Z., Nasri, Budiarti, R., Vione, V.,
Mappahia, N., Ningrum, N., Ambarwati, S. U., Krisyudhanti, E.,
Elina, L., Arnetty, 2010, Buku Ajar Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut,
Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya,
Tasikmalaya.

Langlais, R. P., Miller, C. S., Nield-Gehrig, J. S., 2009, Colour Atlas of Common
Oral Disease, ed. 4, h. 182-185, Lippincot Williams&Wilkins,
Philadelphia.

Neville, B. W., Damm, D. D., White, D. K., 2003, Color Atlas of Clinical Oral
Pathology. ed. 2, h. 150-159, BC Decker Inc., London.

Noormaniah, F. D., Hidayatullah, T. A., 2012, Manifestasi Penyakit Sistemik Pada


Rongga Mulut, Program Studi Pendidikan Dokter Universitas
Mataram, Mataram.

Oliver, R. C., Tervonen, T., Flynn, D. G., 1993, Enzyme Activation in Crevicular
Fluid in Relation to Metabolic Control of Diabetes and Other Risk
Factors, J. Periodontol, 64: 358-362, Dalam Noormaniah, F. D.,
Hidayatullah, T. A., 2012, Manifestasi Penyakit Sistemik Pada
Rongga Mulut, Program Studi Pendidikan Dokter Universitas
Mataram, Mataram.

Regezi, J. A., Sciubba, J. J., Jordan, R. C. K., 2008, Oral Phatology Clinical
Pathologic Correlation, ed. 5, h. 80-81, Saunders Elsevier, St. Louis
Missouri.

Scolly, C., Pedro, D., Diz, K. N., 2007, Special Care in Dentisty Hand book of
Oral Health Care, Churchill living stone.

Vaseliu, N., Kamiru, H., Kabue, M., 2010, Oral Manifestations of HIV Infection
In: Baylor International Pediatric AIDS Initiative, h. 184-193, Baylor
College of Medicine Houston, Texas.