Anda di halaman 1dari 3

AKAR PERMASALAHAN

Dari beberapa masalah yang telah diidentifikasi, akar permasalahannya adalah turunnya harga
minyak dunia yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti :

1. Pasokan berlebih

Kondisi kelebihan pasokan ini ini akibat Amerika Serikat melakukan revolusi energi yang
membanjiri pasokan. Organisasi Negara-negara pengekspor minyak (OPEC) bukannya
menyeimbangkan pasar, malah terus menggenjot produksi minyak.

Kartel yang dipimpin oleh Arab Saudi itu takut kehilangan pangsa pasar dan terkalahkan oleh
AS, Kanada, dan produsen minyak lainnya. Inilah penyebab harga minyak turun drastis pada
semester II 2014.

2. Pasokan shale gas dari AS terus naik

Produksi minyak AS terus meningkat. Produsen di sana secara agresif terus meningkatkan
produksi. Banyak analis berpendapat harga minyak tidak akan kunjung stabil sampai ada perusahaan
minyak di AS yang bangkrut atau melakukan merger.

. Permintaan menurun

Ekonomi global sedang mengalami penurunan. Negara maju sedang berjuang


mempertahankan ekonominya. Negara yang perekonomiannya membaik, seperti AS, sedang
mengimplementasikan standar efisiensi agar permintaan minyak dapat dibatasi. Pada saat yang
sama, negara berkembang pun sedang mengalami perlambatan ekonomi.

4. Ekonomi China sedang lesu

Pendorong ekonomi dunia beberapa tahun sebelumnya adalah China. Tapi saat ini terjadi
banyak masalah di sana. Perlambatannya membuat harga komoditas dunia menurun, termasuk
minyak mentah.

5. Kenaikan nilai dolar AS

Seperti harga komoditas lainnya, minyak pun dihargai dengan dolar AS. Akibatnya, ketika
sekarang nilainya naik maka harganya pun demikian untuk di luar AS. Mata uang dolar ini telah naik
tujuh persen pada tahun ini dibandingkan mata uang negara lainnya. Kebijakan Cina yang
mendevaluasi nilai yuan semakin membuat tekanan ke harga minyak.

6. Iran bakal membanjiri dunia dengan minyak

Kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara Barat beberapa waktu lalu bakal membuat
minyak dari negara itu membanjiri pasar. Bahkan ada tanda kalau Iran sedang menimbun banyak
minyak saat ini. (Elsa/Ndw)
Aset

Pada tahun 2015, jumlah aset Pertamina tercatat sebesar USD45,52 miliar, turun 10% dari
USD50,70 miliar pada tahun 2014. Hal ini terjadi karena adanya penurunan aset lancar sebesar 30%.
Namun, jika dibandingkan dengan target tahun 2015 sebesar USD51,45 miliar, realisasi jumlah aset
2015 lebih rendah sekitar 12%. Hal ini terjadi karena ada beberapa asumsi-asumsi dalam
penyusunan target yang tidak terpenuhi.

Aset Lancar

Aset lancar yang dimiliki Pertamina tahun 2015 adalah sebesar USD14,33 miliar, turun 30% dari
jumlah aset lancar tahun 2014 sebesar USD20,49 miliar. Jika dibandingkan dengan target aset lancar
tahun 2015 sebesar USD18,61 miliar, nilai realisasi aset lancar tahun tersebut lebih rendah 23%.
Realisasi jumlah aset lancar per 31 Desember 2015 lebih rendah sebesar USD6,16 miliar atau
menjadi sebesar 70% dari realisasi per 31 Desember 2014

Aset Tidak Lancar

Pertamina memiliki aset tidak lancar tahun 2015 sebesar USD31,19 miliar. Jumlah tersebut
naik 3% dari jumlah aset tidak lancar tahun 2014 yang tercatat sebesar USD30,20 miliar. Jika
dibandingkan dengan target yang dicanangkan Pertamina dalam RKAP 2015, yaitu sebesar USD32,84
miliar, nilai realisasi aset tidak lancar tahun 2014 lebih rendah 5%.

Analisis rasio keuangan

Liabilitas jangka panjang

Total liabilitas sepanjang tahun 2015 sebesar USD26,04 miliar menurun sebesar 18%
dibandingkan dengan total liabilitas tahun 2014 sebesar USD31,88 miliar. Hal ini terjadi karena
menurunnya liabilitas jangka pendek dari USD13,75 miliar tahun 2014 menjadi USD8,55 miliar tahun
2015. Kemudian, jika dibandingkan dengan target total liabilitas tahun 2015 sebesar USD31,48
miliar, total liabilitas Pertamina lebih rendah sebesar 17%. Hingga tahun 2014, rasio liabilitas
terhadap aset Pertamina sejak 2010 cenderung meningkat. Kemudian rasio liabilitas terhadap aset
Pertamina tahun 2015 sebesar 30,18% menurun dari sebelumnya yaitu 34,79% pada tahun 2014. Hal
ini menunjukkan Pertamina berupaya mengendalikan pertumbuhan liabilitas agar dapat seimbang
dengan asetnya.

Liabilitas Jangka Pendek

Kinerja liabilitas jangka pendek Pertamina dapat ditinjau dari dua hal yaitu kemampuan kas (dan
setara kas) yang dimiliki Pertamina dan ketersediaan aset lancar Pertamina untuk membayar
liabilitas jangka pendek dalam 12 bulan ke depan. Rasio kas Pertamina pada tahun 2014 dan 2015
adalah masing-masing sebesar 27,52% dan 38,19%. Hal ini menunjukkan bahwa, naik turunnya
liabilitas jangka pendek dapat diimbangi dengan likuiditas kas Pertamina. Selain itu, Pertamina juga
turut menjaga rasio aset lancar guna menjamin pembayaran liabilitas jangka pendek dalam 12 bulan
ke depan. Ini tercermin pada rasio lancar Pertamina yang berada pada 149,09% dan 167,67% pada
tahun 2014 dan 2015.
Liabilitas jangka panjang

Pada tahun 2015, Pertamina memiliki kinerja liabilitas jangka panjang yang berbeda dengan
kinerja liabilitas jangka pendek. Rasio liabilitas jangka panjang terhadap ekuitas Pertamina
turun dari 67,97% tahun 2014 menjadi 61,73% pada tahun 2015. Kemudian, rasio liabilitas
jangka panjang terhadap aset Pertamina naik dari 24,96% tahun 2014 menjadi 26,15% tahun
2015. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya penurunan liabilitas jangka panjang yang
lebih rendah dari penurunan aset, sementara penurunan rasio liabilitas jangka panjang
terhadap ekuitas karena peningkatan ekuitas.