Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN KESEIMBANGAN SUHU TUBUH


(TERMOREGULASI:HIPERTERMI)
Oleh: Riana Vera Andantika S.Kep

A. Definisi Gangguan Kebutuhan Dasar


Termoregulasi merupakan suatu mekanisme makhluk hidup dalam
mempertahankan suhu internal dalam tubuhnya agar tetap berada dalam rentang yang
dapat ditolerir. Termoregulasi adalah suatu pengaturan fisiologis tubuh manusia menganai
keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas sehingga panas dalam tubuh
dipertahankan secara konstan. Termoregulasi manusia berpusat pada hipotalamus anterior.
Gangguan keseimbangan suhu tubuh (hipertermi) merupakan keadaan dimana
meningkatnya suhu tubuh melebihi batas normal yaitu 37oC (Herdman, 2015).

B. Epidemiologi
Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012 mencatat angka kejadian
demam terjadi 11,66% atau 28.594.060 orang. Febris di Indonesia disebabkan oleh Virus.
Dampak yang terjadi yaitu dehidrasi berat, kejang demam pada anak bahkan kematian.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengemukakan bahwa jumlah kasus demam diseluruh
dunia mencapai 18-34 juta jiwa, anak merupakan paling rentang terkena demam,
walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan dari dewasa. Di hampir semua daerah,
insiden demam banyak terjadi pada anak usia 5-19 tahun (Suriadi, 2010). Menurut
Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012 pada anak di umur 5-15 tahun
angka kejadian demam terjadi 11,66% atau 28.594.060 orang (Permatasari, 2012).
C. Etiologi
Gangguan keseimbangan suhu tubuh (hipertermi) disebabkan oleh bahan toksik
yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkn efek
perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam disebut
pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat lain terutama
toksin polisakarida yang dilepas oleh bakteri toksik atau pirogen yang dihasilkan dari
degenerasi jaringan tubuh. Di dalam hipotalamus zat ini merangsang pelepasan asam
arakidonat serta mengakibatkan peningkatan sintetis prostaglandin E2 yang langsung dapat
menyebabkan demam selama sakit.

Selain pirogen latihan fisik yang berlebihan dapat menimbulkan panas tetapi
terdapat peningkatan kompensator dalam kehilangan panas. Aliran darah melalui kulit
meningkat mengarah pada terjadinya peningkatan suhu, kulit kehilangan panas utama
pada latihan disebabkan peningkatan sekresi dan penguapan keringat (Sacharin, 1996).

Peningkatan suhu tubuh dapat memberikan dampak pada kehilangan cairan dan elektrolit
yang dibutuhkan dalam metabolism di otak untuk menjaga keseimbangan termoregulasi
di hipotalamus anterior. Sehingga mempengaruhi fungsi hipotalamus anterior dalam
mempertahankan keseimbangan termoregulasi dan akhirnya menyebabkan peningkatan
suhu tubuh.

D. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala dari adanya gangguan keseimbangan suhu tubuh (hipertermi) yaitu
(Herdman, 2015):

1. Suhu meningkat

2. Menggigil

3. Lesu dan gelisah

4. Berkeringat, wajah merah

5. Selera makan menurun

6. Peningkatan frekuensi pernafasan

7. Dehidrasi

8. Hangat pada sentuhan

E. Patofisiologi dan Clinical Pathway

Gangguan keseimbangan suhu tubuh (hipertemia) muncul sebagai akibat stimulasi


pusat termoregulasi di dalam hipotalamus oleh pirogen endogen atau yang disebut
Interleukin 1 yang ada dalam darah yang dapat berasal dari mikroorganisme atau
merupakan suatu hasil reaksi imunologi yang tidak berdasarkan suatu infeksi.
Pembebasan Interleukin 1 disebabkan oleh neutrophil aktif, dan makrofag. Ketika
Interleukin 1 mendapatkan rangsangan menyebabkan pusat termoregulasi tersebut akan
mengirim impuls kepada pusat vasomotor disebelahnya yang akan menaikkan suhu tubuh
dengan meningkatkan produksi panas dengan menghasilkan prostaglandin yang
merangsang hipotalamus. Hipotalamus akan merangsang berbagai respon seperti
pengeluaran keringat untuk mendinginkan tubuh ketika dianggap suhu tubuh terlalu tinggi
(Corwin, 2001).
Peningkatan suhu tubuh ini diikuti dengan peningkatan kecepatan metabolisme
basal. Jika hal ini disertai dengan penurunan masukan makanan akibat anoreksia, maka
simpanan karobihdrat, protein serta lemak menurun dan metabolism tenaga otot dan
lemak dalam tubuh cenderung dipecah dan terdapat oksidasi tidak lengkap dari lemak dan
ini mengarah pada ketosis (Sacharin, 1996).

Infeksi Bakteri, Virus Latihan Fisik berlebih

Bakteri masuk ke dalam darah Aliran darah melalui kulit

Bakteri dalam darah mengeluarkan toksin Peningkatan sekresi dan


penguapan keringat

Sintetis dan pelepasan pirogen oleh


leukosit pada jaringan yang Kehilangan cairan dan
meradang elektrolit

Pembebasan interleukin 1 oleh


neutrophil, dan makrofag MK: Kekurangan
volume cairan

Menghasilkan prostaglandin

Merangsang pengaturan suhu di


hipotalamus

Mengirimkan impuls ke pusat


vasomotor

Pengaturan suhu tidak seimbang

Metabolisme tubuh meningkat

MK: Ketidakefektifan
Suhu tubuh meningkat termoregulasi

MK:Hipertermi
F. Penatalaksanaan Medis

a) Pemberian obat Antipiretik

b) Pemberian Antibiotik

G. Penatalaksanaan Keperawatan

a) Mengawasi kondisi klien dengan memonitor suhu secara berkala 4-6 jam

b) Berikan motivasi untuk minum banyak

c) Tidur yang cukup agar metabolism berkurang

d) Kompres dengan air hangat pada dahi, dada, ketiak, dan lipatan paha

H. Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul (PES)


a) Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh ditandai dengan
kulit teraba hangat, kulit kemerahan, takikardi dan takipnea, dan gelisah
b) Ketidakefektifan termoregulasi berhubungan dengan penyakit ditandai dengan
peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal
c) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme regulasi
ditandai dengan peningkatan suhu tubuh
I. Perencanaan/Nursing Care Plan
Rencana Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
1. Hipertermia berhubungan NOC NIC
dengan peningkatan Thermoregulation Temperature Regulation
4etabolism tubuh (0800) (3900)
DO/DS: Setelah dilakukan a. Monitor minimal tiap 2
a. Kenaikan suhu di tindakan keperawatan jam Rencanakan
atas rentang selama2 x 24 jam monitoring suhu secara
normal pasien menunjukkan: kontinyu
b. Kulit kemerahan 1) Suhu dalam batas b. Monitor TD, nadi, dan
normal 36-37 C RR
c. Gelisah
2) Nadi dalam c. Monitor warna dan
d. Kulit terasa hangat rentang normal 60- suhu kulit
e. Takikardi 100 x/menit d. Tingkatkan intake
f. Takipnea 3) RR dalam rentang cairan dan nutrisi yang
normal 12-20 adekuat
x/menit Fever Treatment (3740)
4) Tidak ada a. Berikan obat antipiretik
perubahan warna b. Sediakan pakaian atau
kulit dan tidak ada linen yang tipis
pusing, merasa c. Fasilitasi untuk
nyaman istirahat, terapkan
5) Temperatur kulit pembatasan aktivitas
sesuai dengan
rentang yang
diaharapkan

2 Ketidakefektifan NOC NIC


termoregulasi Vital Signs (0802) Hyperthermia Treatment
Setelah dilakukan (3786)
berhubungan dengan
tindakan keperawatan a. Monitor tanda-tanda
penyakit selama2 x 24 jam vital
pasien menunjukkan: b. Batasi aktivitas fisik
DO/DS:
1) Temperatur suhu klien
a. Kulit hangat dalam batas 36-37 Fluid Management (2080)
b. Kulit kemerahan oC
c. Monitor adanya tanda-
2) Irama pernapasan tanda dehidrasi
c. Peningkatan
dan nadi teratur
d. Monitor intake dan
frekuensi
output cairan
pernapasan e. Anjurkan klien untuk
d. Peningkatan suhu minum air lebih banyak

tubuh di atas
kisaran normal

3 Kekurangan volume NOC NIC


cairan berhubungan Fluid Balance (0601) Fluid Management
Setelah dilakukan (2080)
dengan kegagalan
tindakan keperawatan a. Monitor adanya tanda-
mekanisme regulasi selama 3 x 24 jam tanda dehidrasi
pasien menunjukkan: b. Monitor intake dan
DO/DS
1) Tekanan darah output cairan
a. Kelemahan dalam rentang c. Anjurkan klien untuk
b. Haus normal Sistole minum air lebih banyak
100-130 mmHg
c. Kulit kering Fluid Monitoring (4130)
dan diastole <85
mmHg a. Monitor tanda-tanda
d. Membran mukosa
vital
2) Nadi dalam
kering b. Monitor membrane
rentang 60-100
e. Peningkatan x/mnt mukosa, dan turgor
kulit
frekuensi nadi 3) Intake dan output
adekuat selama 24 c. Monitor cairan yang
f. Peningkatan suhu jam masuk melalui infus
tubuh

J. Daftar Pustaka
Bulechek, G.M., Butcher H.K., Dotcherman J.M. 2008. Nursing IntervensionsClasification
(NIC) ed. 5. St. Louis: Mosby

Carpenito, L., Juall. 2009. Diagnosis Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis. Jakarta:
EGC.

Corwin, E. J. 2001. Patofisiologi. Jakarta: EGC

Herdman, T.Heather. 2015. Nanda International Inc. diagnosis keperawatan: definisi &
klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC

Permatasari, P., Indah. 2013. Perbedaan Ekeftifitas Kompres Air Hangat dan Kompres Air
Biasa Terhadap Penurunan Suhu Tubuh pada Anak dengan Demam di RSUD
Tugurejo Semarang. Jurnal Ilmiah Keperawatan. No 1, Vol 1.(Internet) diakses
melalui http://pmb.stikestelogorejo.ac.id/e-
journal/index.php/ilmukeperawatan/article/view/126 (05 September 2016)

Potter, P. A., & Perry, A. G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan :Konsep, Proses,
dan Praktik. Edisi 4. Volume 1. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2, alih bahasa
Kuncara, H.Y, dkk. Jakarta:EGC

Suriadi, R., Yuliani. 2010. Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 2.Jakarta: CV. Sagung
Seto.