Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Istilah hemangioma yang digunakan sangatlah luas. Hemangioma dipakai sebagai istilah
untuk menjelaskan berbagai kelainan perkembangan vaskular, termasuk di dalamnya penyakit
akibat malformasi vaskular. Banyaknya klasifikasi-klasifikasi serta kemiripannya secara klinis
membuat klinisi sulit membedakan lesi/tumor akibat malformasi vaskular dengan lesi/tumor
hemangioma. Adanya kesalahpahaman konsep bahwa kebanyakan dari lesi/tumor ini akan
menghilang secara spontan dalam tahun-tahun awal kehidupan mengakibatkan terjadinya
kesalahan diagnosa. Akibatnya, lesi/tumor yang seharusnya dirawat, malah dibiarkan tanpa
perawatan. Hal itu tentu sangat merugikan pasien.
Untuk mengurangi kesalahan akibat banyaknya klasifikasi kelainan vaskular, maka pada
tahun 1982 John Mulliken dan Julie Glowacki membuat klasifikasi tumor vasoformatif yang
didasarkan pada gambaran histologi dan perilaku biologi lesi ke dalam 2 kelompok besar, yaitu
hemangioma dan malformasi vaskular. Klasifikasi ini paling banyak diterima dan dipakai di
dunia.

1.2 TUJUAN
Tujuan umum
Mahasiswa mampu menerapkan pola piker ilmiah dalam melaksanakan asuhan
keperawatan pada penderita hemangioma dan mendapatkan gambaran epidemologi dan
pemeriksaan penunjamg penyakit Hemangioma
Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengertian penyakit Hemangioma
2. Mengetahui patofisiologi dan etiologi dari Hemangioma
3. Mengetahui klasifikasi dan manifestasi klinis dari Hemangioma
4. Mengetahui Komplikasi dan penatalaksanaan dari Hemangioma
5. Mengetahui pemeriksaan penunjang dari Hemangioma

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 1


1.3 RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Hemangioma ?
2. Apa saja patofisiologi dan etiologi dari Hemangioma?
3. Apa Klasifikasi dan manifestasi klinis dari Hemangioma?
4. Apa saja komplikasi dan penatalaksanaan dari Hemangioma?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang dari Hemangioma?

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 2


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN
Pengertian hemangioma sering dikacaukan dengan malformasi vaskular dimana
kedua pengertian diatas oleh beberapa penulis dikelompokkan ke dalam tumor
vasoformatif. Hemangioma adalah tumor jinak yang terjadi akibat gangguan pada
perkembangan dan pembentukan pembuluh darah dan dapat terjadi pada setiap jaringan
pembuluh darah, termasuk pada organ seperti hati, limpa, otak, tulang dan kulit atau
mukosa. Hemangioma dikarakteristikkan dengan proliferasi sel endotel yang sangat
cepat, diikuti dengan involusi secara bertahap. Kebanyakan hemangioma baru muncul
pada minggu ke-8 setelah lahir dan lesi akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa
tahun.

2.2 ETIOLOGI
Etiologi terjadinya hemangioma sampai saat ini masih belum diketahui.
Penyebabnya diduga berhubungan dengan mekanisme kontrol pertumbuhan pembuluh
darah. Meskipun mekanisme yang jelas mengenai kontrol pertumbuhan dan involusi
hemangioma tidak begitu dimengerti, pengetahuan mengenai pertumbuhan pembuluh
darah yang normal dan proses angiogenesis dapat dijadikan petunjuk untuk mengetahui
penyebab timbulnya hemangioma. Sitokin, seperti basic fibroblast growth factor (bFGF)
dan vascular endothelial growth factor (VEGF) berhubungan dengan proses angiogenesis.
Peningkatan kadar angiogenesis factors tersebut dan atau berkurangnya kadar
angiogenesis inhibitor seperti gamma interferon (-IF), tumor necrosis factor-beta (TNF-
) dan transforming growth factor-beta (TGF-) diduga menjadi penyebab terjadinya
hemangioma. Pengaruh hormonal serta iritan fisik, mekanik, dan kimiawi juga
diperkirakan menjadi penyebab proliferasi abnormal pada jaringan hemangioma, tetapi
penyebab utama yang menimbulkan defek pada hemangiogenesis masih belum jelas.
Adapun hipotesis yang menyatakan bahwa sel plasenta, seperti trophoblast sebagai sel
awal terbentuknya hemangioma serta adanya kemungkinan pengaruh genetik terhadap
timbulnya hemangioma, memerlukan penelitian yang lebih lanjut untuk memastikannya.

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 3


Kebanyakan hemangioma timbul tanpa adanya riwayat keluarga (sporadis).
Tetapi ada beberapa penelitian yang melaporkan bahwa hemangioma berhubungan
dengan gen autosom-dominan, terutama neonatus dengan berat badan lahir yang rendah
(< 1500 gram).

2.3 EPIDEMIOLOGI
Hemangioma adalah tumor vaskular jinak yang lazim pada bayi dan anak-anak.
Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa. Prevalensi
hemangioma 1-3 % pada neonatus dan 10 % pada bayi sampai dengan usia 1 tahun.
Lokasi tersering dijumpainya hemangioma ada pada daerah kepala dan leher yaitu
sebesar 60 %. Pada daerah rongga mulut sering ditemukan di bibir, lidah dan mukosa
bukal. Sekitar 80 % kasus berupa lesi tunggal, dan 1/4-nya merupakan lesi yang multipel.
Hemangioma lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki-laki dengan
rasio 3:1, dan lebih sering mengenai ras kulit putih.

2.4 KLASIFIKASI
Pada dasarnya hemangioma dibagi menjadi dua yaitu hemangioma kapiler dan
hemangioma kavernosum. Hemangioma kapiler (superfisial hemangioma) terjadi pada kulit
bagian atas, sedangkan hemangioma kavernosum terjadi pada kulit yang lebih dalam,
biasanya pada bagian dermis dan subkutis. Pada beberapa kasus kedua jenis hemangioma ini
dapat terjadi bersamaan atau disebut hemangioma campuran.
1. Hemangioma Kapiler
a. Strawberry hemangioma (hemangioma simplek)
Hemangioma kapiler terdapat pada waktu lahir atau beberapa hari sesudah lahir.
Lebih sering terjadi pada bayi prematur dan akan menghilang dalam beberapa hari atau
beberapa minggu (Hall, 2005). Tampak sebagai bercak merah yang makin lama makin
besar. Warnanya menjadi merah menyala, tegang dan berbentuk lobular, berbatas
tegas, dan keras pada perabaan. Involusi spontan ditandai oleh memucatnya warna di
daerah sentral, lesi menjadi kurang tegang dan lebih mendatar.

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 4


b. Granuloma piogenik
Lesi ini terjadi akibat proliferasi kapiler yang sering terjadi sesudah trauma, jadi
bukan oleh karena proses peradangan, walaupun sering disertai infeksi sekunder. Lesi
biasanya soliter, dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak dan tersering pada
bagian distal tubuh yang sering mengalami trauma. Mula-mula berbentuk papul
eritematosa dengan pembesaran yang cepat. Beberapa lesi dapat mencapai ukuran 1 cm
dan dapat bertangkai, mudah berdarah.

2. Hemangioma kavernosum
Lesi ini tidak berbatas tegas, dapat berupa makula eritematosa atau nodus yang
berwarna merah sampai ungu. Bila ditekan akan mengempis dan cepat mengembung
lagi apabila dilepas. Lesi terdiri dari elemen vaskular yang matang. Bentuk kavernosum
jarang mengadakan involusi spontan
Hemangioma kavernosum kadang-kadang terdapat pada lapisan jaringan yang
dalam, pada otot atau organ dalam.
3. Hemangioma Campuran
Jenis ini terdiri atas campuran antara jenis kapiler dan jenis kavernosum.
Gambaran klinisnya juga terdiri atas gambaran kedua jenis tersebut. Sebagian besar
ditemukan pada ekstremitas inferior, biasanya unilateral, soliter, dapat terjadi sejak lahir
atau masa anak-anak. Lesi berupa tumor yang lunak, berwarna merah kebiruan yang
kemudian pada perkembangannya dapat memberi gambaran keratotik dan verukosa.
Lokasi hemangioma campuran pada lapisan kulit superfisial dan dalam, atau
organ dalam.
Pada keadaan tertentu, hemangioma sering timbul bersama-sama dengan kelainan
lain dan membentuk suatu sindroma, antara lain: sindroma Kasabach-Merrit, sindroma
Sturge-Weber, sindroma Klippel-Trenaunay-Weber (nevus vaskulosus hypertrophicus) dan
sindroma Blue Rubber Bleb Nevus.
Sindroma Kasabach-Merrit merupakan varian dari koagulopati intravaskuler
diseminata oleh sekuesterasi platelet pada hemangioma kavernosa yang besar. Biasanya
mengenai bayi berusia 3 bulan atau kurang. Angka mortalitas sekitar 30 % yang biasanya
terjadi karena perdarahan, sepsis, atau obstruksi jalan napas, dan kebanyakan serangan ini
dijumpai pada tahun pertama.
AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 5
Beberapa literatur menyebutkan hemangioma yang lain diantaranya:
1. Intramuscular hemangioma
Intramuscular hemangioma sering terjadi pada dewasa muda, 80-90% diderita
oleh orang yang berumur kurang dari 30 tahun. Hemangioma ini lebih sering terjadi pada
ekstremitas inferior, terutama di paha dan khas ditunjukkan dengan massa pada palpasi
dan perubahan warna pada permukaan kulit di sekitar area hemangioma. Intramuscular
hemangioma bisa asimptomatik atau dapat juga muncul dengan gejala-gejala seperti
pembesaran ekstremitas, peningkatan suhu pada area hemangioma, perubahan warna
pada permukaan kulit, dan sakit.

2. Synovial hemangioma
Synovial hemangioma kasusnya jarang terjadi. Pada artikulasio sinovial terdapat
eksudat cairan yang berulang, nyeri, dan menunjukkan gejala gangguan mekanik.

3. Osseus hemangioma
Osseus hemangioma sering ditemukan dalam bentuk kecil-kecil, tetapi dapat
menyebabkan nyeri dan bengkak. Pada tulang tengkorak dapat berhubungan dengan
bengkak, eritema, lunak, atau kelainan bentuk. Pada kasus-kasus yang jarang, vertebrae
hemangioma bisa menyebabkan penekanan pada korda dan fraktur, tapi kebanyakan
vertebrae hemangioma biasanya asimptomatik.
Osseus hemangioma biasanya solid (melibatkan satu tulang) atau fokal
(melibatkan satu tulang atau tulang di dekatnya pada satu area). Penulis lain memberi
definisi yang berbeda. Beberapa penulis mengatakan bahwa hemangiomatosis merupakan
multipel hemangioma yang berlokasi di antara tulang yang saling berdekatan atau
bersebelahan. Multipel hemangioma juga dihubungkan dengan cystic angiomatosis
tulang dimana tidak didapatkan komponen jaringan lunak. Skeletal-ektraskeletal
angiomatosis diartikan sebagai hemangioma yang mempengaruhi kanalis vertebralis,
selama tidak berada satu tempat.

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 6


4. Choroidal hemangioma
Choroidal hemangioma dapat tumbuh di dalam pembuluh darah retina yang
disebut koroid. Jika terdapat pada makula (pusat penglihatan) atau terdapat kebocoran
cairan dapat menyebabkan pelepasan jaringan retina (retinal detachment). Perubahan ini
dapat mempengaruhi penglihatan. Kebanyakan choroidal hemangioma tidak pernah
tumbuh atau terjadi kebocoran cairan dan mungkin dapat diobservasi tanpa pengobatan.

5. Spindle cell hemangioma


Spindle cell hemangioma (hemangioendothelioma) merupakan lesi vaskular yang
tidak jelas dimana biasanya berlokasi di dermis atau subkutis dari ekstremitas distal
(terutama sekali pada tangan)

6. Gorham disease
Gorham disease dapat menimbulkan nyeri tumpul atau lemah dan jarang dicurigai
lebih awal pada evaluasi dengan radiografi. Penderita biasanya berumur kurang dari 40
tahun. Secara histologi Gorham disease khas menampakkan hipervaskularisasi dari
tulang. Proliferasi vaskular sering mengisi kanalis medularis.

7. Kassabach-Merritt syndrome
Kassabach-Merritt syndrome komplikasi dari pembesaran pembuluh darah yang
cepat yang ditandai dengan hemolitik anemia, trombositopeni, dan koagulopati.
Kassabach-Merritt syndrome terlihat berhubungan dengan stagnasi aliran pada
hemangioma yang besar, dengan banyaknya trombosit yang tertahan dan terjadi
penggunaan faktor koagulan yang tidak diketahui sebabnya (consumptive coagulopathy).

2.5 PATOFISIOLOGI
Meskipun mekanisme yang jelas mengenai kontrol dari pertumbuhan dan involusi
hemangioma tidak begitu dimengerti, pengetahuan mengenai pertumbuhan dari
pembuluh darah yang normal dan proses angiogenesis dapat dijadikan petunjuk.
Vaskulogenesis menunjukkan suatu proses dimana prekursor sel endotel meningkatkan
pembentukan pembuluh darah, mengingat angiogenesis berhubungan dengan

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 7


perkembangan dari pembuluh darah baru yang ada dalam sistem vaskular tubuh. Selama
fase proliferasi, hemangioma mengubah kepadatan dari sel-sel endotel dari kapiler-
kapiler kecil. Sel marker dari angiogenesis, termasuk proliferasi dari antigen inti sel,
collagenase tipe IV, basic fibroblastic growth factor, vascular endothelial growth factor,
urokinase, dan E-selectin, dapat dikenali oleh analisis imunokimiawi.
Hemangioma superfisial dan dalam, mengalami fase pertumbuhan cepat dimana
ukuran dan volume bertambah secara cepat. Fase ini diikuti dengan fase istirahat, dimana
perubahan hemangioma sangat sedikit, dan fase involusi dimana hemangioma mengalami
regresi secara spontan. Selama fase involusi, hemangioma dapat hilang tanpa bekas.
Hemangioma kavernosa yang besar mengubah kulit sekitarnya, dan meskipun fase
involusi sempurna, akhirnya meninggalkan bekas pada kulit yang terlihat. Beberapa
hemangioma kapiler dapat involusi lengkap, tidak meninggalkan bekas.

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 8


Pathway

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 9


2.6 MANIFESTASI KLINIS
Tanda-Tanda Hemangioma
A. Hemangioma kapiler
Tanda-tanda Hemangioma kapiler, berupa:
Terdapat pada waktu lahir dan timbul beberapahari sesudah lahir.
Tampak sebagi bercak berwarna merah menyala, tegang berbentuk lobular, berbatas tegas
dan keras pada perabaan dan makin lama makin besar.
Ukuran dan dlm nya sangat bervariasi, ada yang subkutan berwarna kebiruan.
Involiusi spontan ditandai oleh memucatnyawarna didaerah sentral,lesi menjadi kurang
tegang dan lebih mendatar.

B. Hemangioma kavernosum
Lesi tidak berbtas tegas, dapat berupa makula eritematosa atau nodus yang berwarna
merah sampai ungu
Bila ditekan mengempis dan akan cepat menggembung lagi bila dilepas
Lesi terdiri atas elemen vaskular yang matang.
Bentuk kevernosum jarang terjadi involusi

C. Hemangioma Campuran.
Campuarn antara jenis kapiler dan kavernosum.
Tanda dan gejala terdiri atas gambaran ke 2 jenis hemangioma.
Sebagian besar ditemukan pada ekstrimitas inferior, biasanya unilateral, solitar.
Dapat terjadi sejak lahir/masa anak-anak
Lasi berupa tumor yg lunak , berwarna merah kebiruan yg kmdian pada
perkembangannya dapat memberi gambaran keratotik dan verakosa

Gejala klinis
- Tergantung macamnya :
a. Hemangioma kapiler, Port wine stain tidak ada benjolan kulit.
b. Strawberry mark, menonjol seperti buah murbai.

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 10


c. Hemangioma kavernosum, teraba hangat dan compressible.
2.7 KOMPLIKASI
1. Perdarahan
Komplikasi ini paling sering terjadi dibandingkan dengan komplikasi lainnya.
Penyebabnya ialah trauma dari luar atau ruptur spontan dinding pembuluh darah
karena tipisnya kulit di atas permukaan hemangioma, sedangkan pembuluh darah di
bawahnya terus tumbuh (Katz, et al., 2002).
2. Ulkus
Ulkus menimbulkan rasa nyeri dan meningkatkan resiko infeksi, perdarahan,
dan sikatrik. Ulkus merupakan hasil dari nekrosis. Ulkus dapat juga terjadi akibat
ruptur (Kushner, et al., 1999).
3. Trombositopenia
Jarang terjadi, biasanya pada hemangioma yang berukuran besar. Dahulu
dikira bahwa trombositopenia disebabkan oleh limpa yang hiperaktif. Ternyata
kemudian bahwa dalam jaringan hemangioma terdapat pengumpulan trombosit yang
mengalami sekuesterisasi (Katz, et al., 2002).
4. Gangguan penglihatan
Pada regio periorbital sangat meningkatkan risiko gangguan penglihatan dan
harus lebih sering dimonitor. Amblyopia dapat merupakan hasil dari sumbatan pada
sumbu penglihatan (visual axis). Kebanyakan komplikasi yang terjadi adalah
astigmatisma yang disebabkan tekanan tersembunyi dalam bola mata atau desakan
tumor ke ruang retrobulbar (Kushner, et al., 1999).
Hemangioma pada kelopak mata bisa mengganggu perkembangan penglihatan
normal dan harus diterapi pada beberapa bulan pertama kehidupan (Kantor, 2004).
5. Masalah psikososial (Drolet, et al., 2004).
6. Dengan persentase yang sangat kecil hemangioma bisa menyebabkan obstruksi jalan
nafas, gagal jantung (Enneking, et al., 1998; Cohen, 2004).

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 11


2.8 PENATALAKSANAAN
Ada 2 cara pengobatan :

1) Cara konservatif
Pada perjalanan alamiahnya lesi hemangioma akan mengalami pembesaran dalam
bulan-bulan pertama, kemudian mencapai besar maksimum dan sesudah itu terjadi
regresi spontan sekitar umur 12 bulan, lesi terus mengadakan regresi sampai umur 5
tahun (Hamzah, 1999).Hemangioma superfisial atau hemangioma strawberry sering
tidak diterapi. Apabila hemangioma ini dibiarkan hilang sendiri, hasilnya kulit terlihat
normal (Kantor, 2004).

2) Cara aktif
Hemangioma yang memerlukan terapi secara aktif, antara lain adalah
hemangioma yang tumbuh pada organ vital, seperti pada mata, telinga, dan
tenggorokan; hemangioma yang mengalami perdarahan; hemangioma yang
mengalami ulserasi; hemangioma yang mengalami infeksi; hemangioma yang
mengalami pertumbuhan cepat dan terjadi deformitas jaringan (Anonim, 2005).

Pembedahan
Indikasi :
1. Terdapat tanda-tanda pertumbuhan yang terlalu cepat, misalnya dalam beberapa
minggu lesi menjadi 3-4 kali lebih besar.
2. Hemangioma raksasa dengan trombositopenia.
3. Tidak ada regresi spontan, misalnya tidak terjadi pengecilan sesudah 6-7 tahun.
Lesi yang terletak pada wajah, leher, tangan atau vulva yang tumbuh cepat, mungkin
memerlukan eksisi lokal untuk mengendalikannya (Hamzah, 1999).

Radiasi
Pengobatan radiasi pada tahun-tahun terakhir ini sudah banyak ditinggalkan karena:

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 12


1. Penyinaran berakibat kurang baik pada anak-anak yang pertumbuhan tulangnya
masih sangat aktif.
2. Komplikasi berupa keganasan yang terjadi pada jangka waktu lama.
3. Menimbulkan fibrosis pada kulit yang masih sehat yang akan menyulitkan bila
diperlukan suatu tindakan.
Walaupun radiasi digunakan secara luas dalam masa lampau untuk mengobati
hemangioma, pada saat ini jarang digunakan karena komplikasi jangka lama terapi
radiasi, serta fakta bahwa kebanyakan hemangioma kapiler akan beregresi (Hamzah,
1999).

Kortikosteroid
Kriteria pengobatan dengan kortikosteroid ialah:
1. Apabila melibatkan salah satu struktur yang vital.
2. Tumbuh dengan cepat dan mengadakan destruksi kosmetik.
3. Secara mekanik mengadakan obstruksi salah satu orifisium.
4. Adanya banyak perdarahan dengan atau tanpa trombositopenia.
5. Menyebabkan dekompensasio kardiovaskular.
Kortikosteroid yang dipakai ialah antara lain prednison yang mengakibatkan
hemangioma mengadakan regresi, yaitu untuk bentuk strawberry, kavernosum, dan
campuran. Dosisnya per oral 20-30 mg perhari selama 2-3 minggu dan perlahan-lahan
diturunkan, lama pengobatan sampai 3 bulan. Terapi dengan kortikosteroid dalam dosis
besar kadang-kadang akan menimbulkan regresi pada lesi yang tumbuh cepat (Hamzah,
1999).
Hemangioma kavernosa yang tumbuh pada kelopak mata dan mengganggu
penglihatan umumnya diobati dengan steroid injeksi yang menurunkan ukuran lesi secara
cepat, sehingga perkembangan penglihatan bisa normal. Hemangioma kavernosa atau
hemangioma campuran dapat diobati bila steroid diberikan secara oral dan injeksi
langsung pada hemangioma (Kantor, 2004).
Penggunaan kortikosteroid peroral dalam waktu yang lama dapat meningkatkan
infeksi sistemik, tekanan darah, diabetes, iritasi lambung, serta pertumbuhan terhambat
(Anonim, 2005).

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 13


Obat sklerotik
Penyuntikan bahan sklerotik pada lesi hemangioma, misalnya dengan namor
rhocate 50%, HCl kinin 20%, Na-salisilat 30%, atau larutan NaCl hipertonik. Akan tetapi
cara ini sering tidak disukai karena rasa nyeri dan menimbulkan sikatrik (Hamzah, 1999).

Elektrokoagulasi
Cara ini dipakai untuk spider angioma untuk desikasi sentral arterinya, juga untuk
hemangioma senilis dan granuloma piogenik (Hamzah, 1999).

Pembekuan
Aplikasi dingin dengan memakai nitrogen cair (Hamzah, 1999).

Antibiotik
Antibiotik diberikan pada hemangioma yang mengalami ulserasi. Selain itu dilakukan
perawatan luka secara steril (Anonim, 2005)

2.9 Pemeriksaan Penunjang


Hampir pada seluruh kasus, diagnosis dapat ditegakkan secara ekslusif berdasarkan
pemeriksaan fisis dan riwayat penyakit. Namun, beberapa jenis hemangioma dapat disalahartikan
sebagai malformasi vaskular atau jenis tumor lain, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang
sebagai berikut :

1. USG

Ultrasonografi berguna untuk membedakan hemangioma dari struktur dermis


yang dalam ataupun subkutan, seperti kista atau kelenjar limfe. USG secara umum
mempunyai keterbatasan untuk mengevaluasi ukuran dan penyebaran hemangioma.
Dikatakan juga bahwa USG doppler (2 kHz) dapat digunakan untuk densitas pembuluh
darah yang tinggi (lebih dari 5 pembuluh darah/ m2) dan perubahan puncak arteri.
Pemeriksaan menggunakan alat ini merupakan pemeriksaan yang sensitif dan spesifik

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 14


untuk mengenali suatu hemangioma infantil dan membedakannya dari massa jaringan
lunak lain.

2. MRI

MRI merupakan modalitas imaging pilihan karena mampu mengetahui lokasi dan
penyebaran baik hemangioma kutan dan ekstrakutan. MRI juga dapat membantu
membedakan hemangioma yang sedang berproliferasi dari lesi vaskuler aliran tinggi yang
lain (misalnya malformasi arteriovenus). Hemangioma dalam fase involusi memberikan
gambaran seperti pada lesi vaskuler aliran rendah (misalnya malformasi vena.

3. CT Scan

Pada sentra yang tidak mempunyai fasilitas MRI, dapat merggunakan CT scan
walaupun cara ini kurang mampu menggambarkan karakteristik atau aliran darah.
Penggunaan kontras dapat membantu membedakan hemangioma dari penyakit keganasan
atau massa lain yang menyerupai hemangioma.

4. Foto Polos

Pemeriksaan foto polos seperti foto sinar X, masih bisa dipakai untuk melihat
apakah hemangioma mengganggu jalan nafas.

5. Biopsi kulit

Biopsi diperlukan bila ada keraguan diagnosis ataupun untuk menyingkirkan


hemangioendotelioma kaposiformis atau penyakit keganasan. Pemeriksaan
immunohistokimia dapat membantu menegakkan diagnosis. Komplikasi yang dapat
terjadi pada tindakan biopsi ialah perdarahan.

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 15


2.10 Asuhan Keperawatan

1. Biodata
Nama :
Umur :
Nama Ayah/Ibu :
Pekerjaan Ayah :
Pekerjaan Ibu :
Alamat :
Kultur :
Agama :
Pendidikan Ayah/Ibu :

2. Keluhan utama
Munculnya benjolan dengan bercak kemerahan setalah 40 hari kelahiran dengan
diameter 2x2 cm dan terasa nyeri. Kemudian semakin membesar dan mengeluarkan
darah setelah terkenan cacar air.

3. Riwayat penyakit sekarang


Pada melakukan anamnase, kaji kapan mulai terjadinya pendarahan pada pasiaen.
Kaji pula riwayat penyakit sekarang yang sedang di derita oleh pasien.

4. Riwayat penyakit dahulu


Pasien tidak memiliki riwayat penyakit yang di derita.

5. Riwayat penyakit keluarga


Keluarga tidak ada yang menderita penyakit keturunan seperti asma, diabetes
mellitus dan penyakit gangguan jiwa.

6. Riwayat Sosial
Kaji hubungan sosial antara pasien dengan keluarganya maupun dengan lingkungan
sekitarnya. Kaji pula bagiamana perilaku pasien saat berhubungan dengan teman-teman
sebayanya

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 16


7. Kebiasaan sehari-hari
Tanyakan pada pasien atau keluarga pasien bagaimana kebiasaan yang di lakukan
sehari-hari. Misal makanan yang dikonsumsi, bagaimana pola tidurnya, mandi, ada
gangguan atau tidak di pola tidurnya, aktifitas bermainan, dan ada atau tidak gangguan
eliminasinya.
8. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan rasa aman : cemas b/d kurangnya informasi tentang tindakan operatif
pada anak
b. Resiko tinggi injury b/d prosedur pembedahan
c. Resiko infeksi b/d perawatan tidak adekuat dari orangtua
d. Resiko infeksi b/d perawatan tidak adekuat dari orang tua

9. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan kriteria Intervensi Rasional


Keperawatan hasil
Gangguan rasa TUJUAN - Informasikan Mengurangi kecemasan
aman : cemas 1. Orang tua akan tentang persiapan orangtua terhadap
b/d kurangnya menunjukkan rasa operasi dan lingkungan baru
informasi aman orientasikan
tentang orangtua dan anak
tindakan terhadap lingkungan
operatif pada yang baru
anak
- Jelaskan dan Meningkatkan perasaan
diskusikan pada aman pada keluarga
keluarga tentang
waktu dan prosedur
operasi

2. Orang tua dapat Jelaskan persiapan Penjelasan yang adekuat


menjelaskan prosedur operasi menambah pemahaman
secara sederhana jika ada indikasi sehingga terjalin kerjasama
tentang prosedur (nasogastrik tube, yang adekuat dengan
atau hal-hal yang pasang IVFD, perawat
perlu dipehatikan balutan luka,
pada fase pre dan drainase)
post operatif

- Jelaskan indikasi Merupakan informasi


dilakukannya yang menguatkan
pembedahan keputusan orang tua untuk
khususnya prosedur tindakan operasi bagi

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 17


operasi serta anaknya
penjelasan prinsip
dasar secara singkat
-

3. Klien Berikan sedasi Meningkatkan relaksasi


menunjukkan sebelum operasi, dan rasa aman
relaksasi optimal ciptakan lingkungan
dan support yang familier,
adekuat sebelum tempatkan klien di
operasi ruangan yang
menyenangkan dan
jelaskan prosedur
yang dijalani
Kriteria Hasil
Tidak ansietas - Selama menunggu Memberi rasa aman dan
Sudah tenang operasi anjurkan dukungan pada klien
keluarga atau teman
Pola tidur baik
dekat untuk
tidak gelisah menemani anak
sudah mampu
relaks
Sudah tidak
menangis
Sudah tidak ada
keluhan
Resiko tinggi 1. Ortu dapat Tanyakan pada Mengetahui pemahaman
injury b/d menerima inform ortu apakah ada ortu dan sebagai bahan
prosedur konsent dengan pertanyaan kolaborasi
pembedahan benar disertai mengenai prosedur
dokumentasi yang akan
dilakukan

- Cek inform konset Inform konsent


apakah sudah merupakan tanggung jawab
ditandatangani, kerja team
kontrak dengan
dokter untuk
menentukan apakah
ortu telah mendapat
informasi mengenai
prosedur operasi

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 18


- Cek ulang apakah Sebagai perlindungan
inform konsent terhadap tuntutan orangtua
sudah terhadap tindakan operasi
ditandatangani saksi

2. Klien menerima Mandikan dan cuci Menurunkan resiko


tindakan personal rambut serta infeksi nasokomial
hygine sebelum bersihakn mulut
operasi klien sebelum
operasi

Bersihkan daerah Mengurangi resiko


operasi sesuai infeksi pada area operasi
prosedur

3. Klien menerima Lakukan Mengosongkan rektum


persiapan operasi prosedur enema untuk mencegah
dengan tepat kontaminasi saat operasi

Lengkapi Deteksi awal kesiapan


pemeriksaan operasi
laboratorium yang
diprogramkan

- Pertahankan anak Mencegah terjadinya


tetap puasa aspirasi

4. Klien terbebas Yakinkan anak Mencegah resiko


dari komplikasi mendapat cairan dehidrasi/hipoglikemia
post operasi sebelum dipuasakan

Kriteria Hasil - Catat tanda vital, Mencegah resiko selama


Tidak merasa laporkan jika ada operasi
cemas kelainan
Tidak terjadi
- Anjurkan anak Mengosongkan kandung
komplikasi post untuk BAK kemih untuk mencegah
operasi sebelum inkontinensia selama
Tidak cemas premedikasi operasi
saat akan
dilakukan
operasi
-

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 19


Resiko infeksi Klien terbebas Berikan Memotivasi keluarga
b/d perawatan dari resiko infeksi penyuluhan pada untuk menjaga kebersihan
tidak adekuat orangtua untuk luka
dari orangtua menjaga luka tetap
Kriteria Hasil : bersih
Tidak
terjadi Berikan Mencegah kontaminasi
infeksi penyuluhan pada bakteri
keluarga tentang
Luka cara membersihkan
semakin nanah atau darah
membaik dengan gaas bersih

Observasi adanya Melihat adanya tanda


tanda-tanda infeksi infeksi

Nyeri b/d Setelah diberikan Kaji lokasi, Hasil kajian dapat


penekanan perawatan nyeri kualitas dan membantu penentuan
daerah dapat berkurang dan intensitas nyeri perawatan dan terapi
vaskularisasi akhirnya hilang. pengobatan.
dan syaraf

Pantau TTV Untuk mengetahui sejauh


Kriteria Hasil mana pengaruh nyeri
Nyeri berkurang terhadap sistem tubuh lain.
Menunjukkan
berkurangnya
Anjurkan klien Untuk melancarkan
rasa sakit untuk mengatur vaskularisasi
Mulai tenang posisi tubuhnya agar
Tidak gelisah daerah luka tidak
tertekan.

Ajarkan tehnik Tehnik napas dalam dapat


relaksasi dan meminimalisir nyeri yang
distraksimpada klien dirasakan dengan
dan keluarga. terpenuhinya kebutuhan O2
jaringan.

Anjurkan dan keadaan lingkungan

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 20


dukung untuk berpengaruh pada sensitifitas
menciptakan sensasi seseorang. berian
suasana yang obat penghilang nyeri dan
nyaman. antibiotik untuk mencegah
penyebab luka lebih lanjut.

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 21


BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Hemangioma adalah tumor yang paling umum dari masa bayi, dan hemangioma paling
infantil secara medis tidak signifikan. Kadang-kadang hemangioma anak-anak mungkin
menimpa pada struktur vital, memborok, berdarah, menyebabkan output tinggi gagal jantung
atau kelainan struktural yang signifikan atau cacat. Jarang, hemangioma infantil kulit dapat
dikaitkan dengan satu atau lebih kelainan kongenital yang mendasari.

3.2 SARAN
Dalam makalah ini tidak menutup kemungkinan masih terdapat banyak kekurangan baik
menyangkut isi maupun penulisan. Oleh karena itu, kami harapkan kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan makalah ini selanjutnya dan kami berharap semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis khususnya dalam menambah wawasan
pengetahuan tentang kelainan- kelainan yang terjadi pada bayi baru lahir.
Bidan dapat memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua untuk mengantisipasi
setiap faktor resiko terjadinya Hemangioma.

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 22


DAFTAR PUSTAKA

http://tesaseptia.blogspot.co.id/2012/10/hemangioma.html

http://nersjofan.blogspot.co.id/2013/10/pathway-hemangioma.html

http://dokumen.tips/documents/askep-hemangioma-5584654c2d932.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Hemangioma

AKPER Dr. SOEDONO MADIUN 23

Anda mungkin juga menyukai