Anda di halaman 1dari 39

KEPERAWATAN GERONTIK

Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Kesepian

DISUSUN OLEH

ULFA NUR ROHMAH 04121003045

DEVI EKA SAFITRI 04121003006

HIKMAH UTARI HIRDITIA 04121003051

INNUR RAHMALINE Z 04121003019

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Berkat
limpahan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas keperawatan komunitas. Tanpa ridho
dan kasih sayang serta petunjuk dari-Nya mustahil tugas ini dapat terselesaikan. Kami juga
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu kami.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkat, imbalan serta karunia-Nya kepada
semua pihak yang telah memberikan bimbingan dan bantuan yang tidak ternilai.
Kami membuat makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
dosen. Dari pembuatan makalah ini tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi bertujuan
menambah pengetahuan dan wawasan kita yang berkaitan Asuhan Keperawatan pada Lansia
yang merasa kesepian.
Kiranya makalah ini bisa menambah pengetahuan bagi pembaca. Meski begitu, kami
sadar bahwa makalah ini perlu untuk dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Untuk itu,
saran dan kritik yang membangun dari pembaca akan kami terima dengan senang hati.
Akhirnya, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri,
pembaca sekalian, serta masyarakat.

Indralaya, Agustus 2015

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................................viii


KATA PENGANTAR ............................................................................................................. ix
DAFTAR ISI............................................................................................................................. x
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
BAB IITINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Kesepian.......................................................................................................... 4
2.2Ciri- ciri Kesepian .............................................................................................................. 3
2.3Tipe-tipe Kesepian ............................................................................................................. 3
2.4Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesepian .................................................................... 3
2.5Dampak Kesepian .............................................................................................................. 3
2.6Penatalaksanaan ................................................................................................................. 3

BAB III ASKEP KESEPIAN


3.1 Pengkajian ......................................................................................................................... 4
3.2 Diagnosa keperawatan ...................................................................................................... 3
3.3 Intervensi........................................................................................................................... 3
3.4 Implementasi ..................................................................................................................... 3
3.5 Evaluasi ............................................................................................................................. 3
BAB IV PEMBAHASAN
3.1 Ringkasan Tema Penelitian ............................................................................................ 17
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan..................................................................................................................... 17
5.2 Saran ............................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 18
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan pertambahan usia, lansia akan mengalami proses degenerative baik
dari segi fisik maupun segi mental. Menurunnya derajat kesehatan dan kemampuan fisik akan
mengakibatkan orang lanjut usia secara perlahan menarik diri dari hubungan dengan
masyarakat sekitar. Hal ini dapat menyebabkan interaksi sosial menurun (Hardywinoto &
Setiabudi, 1999 dalam Fitria 2011).Padahal, partisipasi sosial dan hubungan interpersonal
merupakan bagian yang cukup penting untuk kesehatan fisik, mental, dan emosional bagi
lansia.Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan sosial mempunyai efek yang positif pada
kesejahteraan emosional lansia dan kesehatan fisik serta diprediksi dapat menurunkan resiko
kematian.Lansia sering kehilangan kesempatan partisipasi dan hubungan sosial.
Interaksi sosial cenderung menurun disebabkan oleh kerusakan kognitif, kematian
teman, fasilitas hidup atau home care(Estelle, Kirsch, & Pollack, 2006).Interaksi sosial
merupakan hubungan timbal balik, saling mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan, serta
tidak bisa terlepas dari satu hubungan yang terjadi antar individu, sosial, dan masyarakat
dalam kehidupan sehari-hari.(Maryati dan Suryawati, 2006). Pendapat lain dikemukakan
olehGillin dan Gillin (1951) dalam Maryati dan Suryawati (2006) yangmenyatakan bahwa
interaksi sosial mungkin
terjadi jika memenuhi dua persyaratan, yaitu adanya komunikasi serta kontak sosial yang
berlangsung dalam tiga bentuk diantaranya adalah hubungan antar individu, individu dengan
kelompok dan antar kelompok.
Kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain akan dimiliki oleh individu sampai
akhir hayat. Namun, sebagian dari individu masih merasa kesepian ketika tidak memiliki
lawan interaksi untuk berbagi masalah (Annida, 2010). Kesepian merupakan masalah
psikologis yang paling banyak terjadi pada lansia, merasa terasing (terisolasi), tersisihkan,
terpencil dari orang lain karena merasa berbeda dengan orang lain (Probosuseno, 2007).
Perasaan ini bisa menimbulkan kesedihan yang mendalam sehingga bisa menekan kesehatan
fisik dan mental pada lansia (Copel, 1998 dalam Juniarti, 2008).
Kesepian merupakan suatu perubahan yang secara tidak langsung dialami oleh setiap
orang (Treacyet al, 2004).Pada beberapa individu, kesepian merupakan bentuk yang
persistent dalam hidup mereka (Ernst, 1998). Johson et al (1993)menyatakan bahwasebanyak
62% lansia di Amerika merasakan kesepian. Selain itu Ryan and Patterson menemukan
bahwa kesepian menduduki ranking ke-2 terbanyak sebagai masalah yang terjadi pada lansia
di Amerika (Treacy et al, 2004). Sebuah laporan yang dipublikasikan oleh British Gas
menemukan bahwa 90 % dari populasi, termasuk di dalamnya 82 % dari pensiunan yang
berumur di atas 55 tahun menyatakan bahwa kesepian adalah masalah yang berhubungan
dengan bertambahnya usia, 32 % dari lansia yang diwawancarai menyatakan bahwa kesepian
itu adalah masalah personal mereka. Beberapa penelitian pada orang Eropa menyatakan
bahwa 2/3 dari lansia tidak merasakan kesepian, 1/5 kadang-kadang merasakan kesepian,
serta 1/10 mengatakan sering merasa kesepian.Berdasarkan wawancara yang dilakukan
kepada 10 orang lansia di Inggris, 1 orang diantaranya menyatakan bahwa kesepian adalah
masalah bagi dirinya (Forbes, 1996).

Penelitian dari National Council Ageing and Older Peopleyang bekerja sama dengan
School of Nursing and Midwifery, University Collage Dublinmenyatakan bahwa di Irlandia
terdapat435.000 orang yang berusia 65 tahun atau 11.2%dari seluruh populasi mengalami
peningkatan untuk hidup sendiri atau dengan pasangan hidupnya. Sebuah badan internasional
dan penelitian di Irlandiamenyebutkanbahwa kesepian dan isolasi sosialmerupakan bagian
dalam pengalaman hidup lansia.Penelitian ini juga mengeksplorasi prevalensi kesepian dan
isolasi sosial yang terjadi antara orangIrlandia.
Penelitian internasional memiliki prevalensi yang berbeda-beda tentang
kesepian.Insiden kesepian tertinggi terjadi pada orang-orang Amerika. Namun hal tersebut
berbanding terbalik dengan insiden kesepian yang ada di Cina yaitu 3,5 % dari sampel lansia
yang melaporkan bahwa mereka mengalami kesepian tingkat tinggi(Wang dalam Treacyet al,
2004). Victor (2002) melaporkan bahwa 7% lansia yang mengalami kesepian dengan tingkat
yang parah.Walaupun jumlah lansia yang melaporkan kesepian relative kecil, tetapi memiliki
kemungkinan bahwa prevalensi lansia yang mengalami kesepian tidak akan turun setelah usia
60 tahun (Treacyet al, 2004).Untuk mengatasi masalah yang terjadi pada lansia maka
pemerintah membentuk suatu wadah yang dinamakan panti werdha atau lebih dikenal dengan
nama panti jompo. Pada awalnya panti jompo diperuntukan bagi lansia yang terlantar atau
dalam keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan.Namun seiring dengan
meningkatnya kebutuhan akanperawatan bagi lansia maka kini berkembang panti-panti
berbasis swasta yang umumnya untuk lansia dengan keadaan ekonomi berkecukupan (Kadir
dan Mariani, 2007).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesepian

Peplau dan Perlman (dalam Baron & Bryne, 2002) kesepian adalah suatu reaksi
emosional dan kognitif terhadap dimilikinya hubungan yang lebih sedikit dan lebih tidak
memuaskan daripada yang diinginkan oleh orang tersebut.

Sedangkan Hanum (2008) kesepian merupakan kondisi dimana orang merasa tersisih
dari kelompoknya, tidak diakui eksistensinya, tidak diperhatikan oleh orang-orang sekitarnya,
tidak ada tempat berbagi rasa, terisolasi dari lingkungan sehingga menimbulkan rasa sunyi,
sepi, pedih dan tertekan.

Menurut Nowan (2008) kesepian adalah perasaan yang timbul akibat kebutuhan yang
mendesak akan kehadiran orang lain, untuk berkomunikasi, untuk mempunyai relasi intim
dengan orang lain, ataupun kebutuhan akan dukungan, penerimaan, dan penghargaan dari
orang lain akan keberadaan dirinya.

Menurut Gierveld (dalam Latifa, 2008) kesepian adalah kondisi isolasi sosial yang
subyektif (subjective social isolation), dimana situasi yang dialami individu tersebut dirasa
tidak menyenangkan dan tidak diragukan lagi terjadi kekurangan kualitas hubungan (lack of
quality of relationship).

Berdasarkan pengertian diatas disimpulkan bahwa kesepian adalah suatu reaksi


emosional dan kognitif dimana orang merasa tersisih dari kelompoknya, tidak ada tempat
berbagi rasa, terisolasi dari lingkungan sehingga menimbulkan rasa sunyi, sepi, pedih dan
tertekan.

2.2 Ciri-Ciri Kesepian

Menurut Nowan (2008) menyebutkan bahwa orang yang kesepian ada masalah dalam
memandang eksistensi dirinya (merasa tidak berguna, merasa gagal, merasa terpuruk, merasa
sendiri, merasa tidak ada yang peduli, dan perasaan negatif lainnya).

Sedangkan menurut psychology Today Magazine (2003) menyebutkan bahwa orang


kesepian merasa tidak mampu bergaul dengan orang lain, merasa tidak ada satu pun orang
yang memahaminya, merasa depresi, dan merasa cemas.
Menurut Baron & Bryne (2005) orang yang kesepian cenderung untuk menjadi tidak
bahagia dan tidak puas dengan diri sendiri, tidak mau mendengar keterbukaan intim dari
orang lain dan cenderung membuka diri mereka baik terlalu sedikit atau terlalu banyak,
merasakan kesia-siaan (hopelessness), dan merasa putus asa.

Menurut Robinson (1994) menyebutkan bahwa orang yang kesepian merasa terasing
dari kelompoknya, tidak merasakan adanya cinta disekelilingnya, merasa tidak ada yang
peduli dengan dirinya dan merasakan kesendirian, serta merasa sulit untuk mendapatkan
teman.

Berdasarkan ciri-ciri diatas disimpulkan bahwa ciri-ciri kesepian adalah orang yang
kesepian merasa dirinya tidak berguna, merasa gagal, merasa tidak ada satu pun orang yang
memahaminya, tidak merasakan adanya cinta disekelilingnya, merasa depresi, cenderung
tidak bahagia dan merasakan kesia-siaan (hopelessness).

2.3 Tipe-Tipe Kesepian

Menurut Weiss (dalam Sears dkk, 1991) perasaan kesepian tersebut dapat dibedakan kedalam
2 (dua) tipe, yaitu :

a. Kesepian Emosional (Emotional Loneliness)


Kesepian ini terjadi karena tidak adanya figur kelekatan dalam hubungan intimnya,
seperti anak yang tidak ada orang tuanya atau orang dewasa yang tidak memiliki
pasangan atau teman dekat. Kesepian emosional dapat terjadi karena tidak adanya
hubungan dekat dengan orang lain, kurangnya adanya perhatian satu sama lain. Jika
individu merasakan hal ini, meskipun dia berinteraksi dengan orang banyak dia akan
tetap merasa kesepian.
b. Kesepian Situasional (Situational Loneliness)
Kesepian ini terjadi ketika sesorang kehilangan integrasi sosial atau komunitas yang
terdapat teman dan hubungan sosial. Kesepian ini disebabkan karena ketidakhadiran
orang lain dan dapat diatasi dengan hadirnya orang lain.

Sedangkan menurut Sadler (dalam Latifa, 2008) ada lima tipe kesepian, yaitu :

a. Interpersonal Loneliness
Manakala individu merindukan seseorang yang dahulu pernah dekat dengannya dan
melibatkan kesedihan yang mendalam sehingga individu mencari-cari orang baru
untuk dicintai. Tapi jika menemukan orang yang potensial menjadi pasangan baru
sebelum ia mampu mengatasi kesedihan terdahulu, maka individu akan takut atau
menolak.
b. Kesepian Sosial (Social Loneliness)
Perasaan ketika individu tidak ingin terpisah dari kelompok sosial yang dianggap
penting bagi kesejahteraannya dan tidak ada hal yang dapat ia lakukan untuk
mengatasi hal itu sekarang.
c. Culture Shock
Terjadi ketika individu pindah ke suatu lingkungan kebudayaan baru.
d. Kesepian Kosmik (Cosmic Loneliness)
Dikenal dengan kesepian eksistensial yaitu perasaan ketidakmungkinan untuk
menjalin suatu hubungan yang sempurna dengan orang lain.
e. Kesepian Psikologikal (Psychological Loneliness)
Kesepian ini datang dari kedalaman hati individu, baik itu yang berasal dari situasi
masa kini ataupun sebagai reaksi dari traumatrauma masa lalu.

Menurut Bruno (2000), mendefinisikan tiga penggolongan kesepian yaitu:

a. Kesepian Kognitif (Cognitive Loneliness)


Kesepian kognitif terjadi jika individu mempunyai sedikit teman untuk berbagi
pikiran atau gagasan yang dianggap penting.
b. Kesepian Perilaku (Behavioral Loneliness)
Kesepian perilaku terjadi bila anda kurang atau tidak mempunyai teman sewaktu
berjalan atau melakukan kegiatan di luar rumah, misalnya anda ingin nonton film atau
ingin makan di restoran tapi anda tidak memiliki seorang teman yang anda kenal yang
bisa di ajak.
c. Kesepian Emosional (Emotional Loneliness)
Kesepian jenis ini terjadi bila individu membutuhkan kasih sayang tapi tidak
mendapatkannya.Inilah kesepian yang sangat penting dan sangat buruk dampaknya.

Berdasarkan uraian di atas kesepian emosional adalah kesepian yang terjadi akibat tidak
adanya figur kelekatan dalam hubungan intim dengan seseorang dan juga kurang perhatian
satu samalain, jika individu merasakan hal ini, meskipun dia berinteraksi dengan orang
banyak dia akan tetap merasa kesepian dan bisa berdampak buruk bagi individu tersebut.
Sedangkan kesepian perilaku atau juga kesepian situasional adalah kesepian yang terjadi
karena ketidakhadiran seseorang atau tidak mempunyai teman untuk diajak melakukan
kegiatan di luar rumah dan dapat di atasi dengan hadirnya sesorang.Kesepian kognitif terjadi
akibat tidak mempunyai atau kurang memiliki teman untuk berbagi pikiran atau gagasan yang
dianggap penting.

2.4 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kesepian

Menurut Middlebrook (dalam Turnip, 1997) faktor yang mempengaruhi kesepian


adalah sebagai berikut :

a. Faktor Psikologis
1. Kesepian Eksistensial
Keterbatasan manusia yang terpisah dari orang lain sehingga seseorang tersebut
tidak mungkin berbagi perasaan dan pengalaman dengan orang lain dan seseorang
tersebut harus mengambil keputusan sendiri dan menghadapi ketidakpastian
2. Pengalaman Traumatis
Kehilangan seseorang yang sangat dekat secara tiba-tiba bisa menyebabkan orang
merasa kesepian, tetapi akan lebih sanggup mentolerir kesepian bila sering
mengalaminya atau orang itu sendiri yang mulai menjauh dari orang yang dekat
padanya.
3. Kurang dukungan dari lingkungan
Seseorang bisa mengalami kesepian bila merasa tidak sesuai dengan
lingkungannya, sehingga orang tersebut menganggap dirinya diabaikan dan
ditolak oleh lingkungan.
4. Krisis dalam diri dan kegagalan
Seseorang bisa kehilangan semangat dan menghindar dari lingkungannya bila
merasa harga dirinya terganggu karena harapannya tidak terpenuhi, hal ini dapat
menyebabkan timbulnya gejala kesepian pada orang itu.
5. Kurangnya percaya diri
Kesepian dapat terjadi bila seseorang kurang dapat mengungkapkan diri
sepenuhnya dan hanya mampu berhubungan secara formil saja.Kalaupun bisa
berhubungan social dengan cukup baik, tetap saja merasa kurang dilibatkan.
6. Kepribadian yang tidak sesuai dengan lingkungan
Orang-orang yang temperamen tertentu seperti pemalu dan yang tidak mampu
berhubungan social akan nenarik diri dari lingkungan
7. Ketakutan menanggung resiko social
Seseorang merasa takut untuk terlalu dekat dengan orang lain, karena khawatir
akan ditolak. Kedekatan social dilihat sebagai sesuatu yang berbahaya dan penuh
resiko
b. Faktor Situasional
1. Takut dikenal orang lain
Seseorang yang takut dikenal secara mendalam oleh orang lain akan cenderung
menghilangkan kesempatan untuk berhubungan dekat dengan orang lain, sehingga
orang tersebut tidak punya teman berbagi rasa.
2. Nilai-nilai yang berlaku pada lingkungan sosial
Nilai-nilai yang dianut seperti privasi dan kesuksesan dapat menyebabkan
seseorang merasa kesepian karena ia merasa terikat oleh nilai tersebut.
3. Kehidupan di luar rumah
Rutinitas diluar rumah seperti sekolah, kuliah dan kerja menyebabkan kurangnya
kehangatan hubungan seseorang dengan orang-orang tertentu.
4. Kehidupan di dalam rumah
Rutinitas dirumah seperti adanya jam makan, tidur, mandi akan menyebabkan
kejenuhan pada pelakunya.
5. Perubahan pola-pola dalam keluarga
Kehadiran orang lain dalam sebuah keluarga akan menyebabkan terganggunya
hubungan antar anggota keluarga.
6. Pindah tempat
Seringnya pindah dari satu tempat ke tempat lain akan menyebabkan seseorang
yang tidak dapat menjalin hubungan yang akrab dengan lingkungan baru,
sehingga akan menimbulkan kesepian.
7. Terlalu besarnya suatu organisasi
Bila populasi dalam sebuah organisasai terlalu besar, akan sulit bagi seseorang
untuk mengenal satu sama lain secara lebih dekat.
8. Desain arsitektur bangunan
Bentuk bangunan yang canggih juga berpengaruh terhadap interaksi sosial.Hal ini
mengingat bangunanbangunan dapat menyebabkan masyarakat menjadi
individualistis dimana interaksi sosial menjadi terbatas.
Menurut Hanum (2008), ditinjau dari sudut sosiologis penyebab kesepian pada lanjut usia
antara lain karena beberapa hal sebagai berikut :

a. Teralienasi (Terasing)
Perasaan dapat disebabkan oleh adanya perasaan terasing dalam kehidupan sosial
sehingga merasa dirinya sendiri di dunia. Penderitaan akan kesepian ini semakin
menyiksa karena merasa tidak mempunyai kawan untuk berbagi rasa dan terisolasi
dari kehidupan bermasyarakat.
b. Anomie
Suatu situasi ketika terjadi suatu keadaan tanpa aturan, yaitu collective conciousness
(kesadaran kolektif) tidak berfungsi.Kondisi seperti itu terjadi dalam suasana krisis,
dimana kebutuhan-kebutuhan tidak terpenuhi dan bertemu dengan keadaan tidak
berfungsinya aturan-aturan masyarakat pada akhirnya orang merasa kehilangan arah
di dalam kehidupan sosialnya. Lanjut usia yang mengalami kesepian dan depresi
dapat disebabkan ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri (maladjustment) dengan
kondisi lingkungannya. Mereka merasa kecewa dan frustasi dengan keadaan yang ada
sehingga mendorong untuk menarik diri dari partisipasi di masyarakat.
c. Perubahan pada pola kekerabatan
Nilai kekerabatan dalam kehidupan keluarga semakin lemah. Mengarah pada bentuk
keluarga inti, lanjut usia tidak jarang terpisah jauh dari anak cucu akibat proses
urbanisasi. Lanjut usia ditinggalkan oleh anggota keluarga dan kurang diperhatikan,
dan banyak diantara mereka hidup sendiri dan kesepian. Keterpisahan lanjut usia dari
anggota keluarga menyebabkan mereka tidak intensif mendapat perhatian dan
kesejahteraan. Oleh karena itu, perasaan sepi dan tertekan kerap mewarnai para lanjut
usia yang ditinggalkan orang-orang yang dicintainya.

2.5 Dampak dari Kesepian

Adapun dampak dari kesepian menurut Robinson (1994) yaitu :

a. Mengalami rendah diri, bergantung pada teman untuk membangun harga dirinya.
b. Menyalahkan diri sendiri.
c. Tidak ingin berusaha untuk terlibat pada kegiatan sosial.
d. Mempunyai kesulitan untuk memperlihatkan diri dalam berkelakuan dan takut untuk
berkata ya atau tidak untuk hal yang tidak sesuai.
e. Takut bertemu orang lain dan menghindari situasi baru.
f. Mempunyai persepsi negatif tentang diri sendiri.
g. Merasakan keterasingan, kesendirian dan perasaan tidak bahagia terhadap lingkungan
sekitar.

2.6 Penatalaksanaan

2.6.1. Non farmakologi

Intervensi pada klien kesepian biasanya dilakukan dengan meningkatkan keterampilan


social, meningkatkan dukungan social, meningkatkan kesempatan pada kontak social, dan
menantang kognisi social yang sifatnya maladaptive (Masi, Chen, Hawkley, & Caciopo,
2011). Intervensi untuk meningkatkan dukungan social menekankan keterampilan
komunikasi, bicara melalui telepon, memberikan dan menerima pujian, menghadapi situasi
terdiam (moment of silence), meningkatkan penampilan fisik, metode komunikasi non-verbal
dan pendekatan pada kedekatan fisik. Intervensi semacam ini ditemukan mampu mengurangi
kesepian, self-consciousness, dan juga rasa malu. Intervensi dengan meningkatkan dukungan
sosial pada individu yang sedang berduka, atau juga pada lansia yang tali sosialnya berkurang
karena relokasi ditemukan mengurangi kesepian. Intervensi menggunakan CBT dalam
menantang kognisi sosial juga terbukti efektif mengurangi kesepian. Caranya adalaha dengan
mengajarkan individu mengidentifikasi pemikiran negative dan menyadari bahwa hal tersebut
sebagai hipotesa, bukan fakta.

A. Terapi Musik Kelompok


1. Terapi musik kelompok
Terapi musik memiliki sedikit perbedaan dengan terapi musik kelompok, namun
efek dan manfaatnya tetap sama (Mohammadi et al., 2009). Terapi musik kelompok
adalah salah satu kombinasi baru yang merupakan hasil adaptasi penggabungan antara
terapi musik secara aktif maupun secara pasif (Chen et al., 2009).
Terapi musik kelompok dapat dilakukan dengan berbagai cara. Menurut
Mohammadi et al., (2009) terdapat 5 tahapan terapi musik yang dapat dilakukan,
yaitu: 1) memainkan alat musik, 2) bernyanyi, 3) menari, 4) mendengarkan lagu atau
musik, 5) Live music (mengekspresikan diri lewat musik). Bentuk pengekspresian diri
ini bisa berupa puisi, kemarahan, teriakan, kekesalan, dan nyanyian. Berbeda dari
Mohammadi et al., (2009), Chen et al., (2009) membagi terapi musik kelompok
menjadi 8 fase/tahapan, yaitu:
1) Tahap awal
Tahap awal fase merupakan tahap perkenalan dimana fasilitator atau
peneliti dan peserta memperkenalkan diri masing-masing. Perkenalan ini
meliputi nama, latar belakang singkat untuk para peserta dan peneliti. Setelah
perkenalan yang singkat perlu ada sedikit penjelasan tentang kegiatan yang akan
dilakukan oleh peneliti (Chen et al., 2009). Tahap perkenalan ini diharapkan
dapat menambah keakraban dan kepercayaan antara peserta dan
peneliti/fasilitator.
2) Pemanasan
Fase pemanasan merupakan fase pelenturan otot-otot terutama otot tangan
dan persendian, yang dapat dilakukan dalam fase ini adalah kegiatan pijat
memijat ataupun senam ringan. Pemijatan dapat dilakukan secara mandiri,
bergantian ataupun saling memijat antar peserta lansia (Pacchetti et al., 2001).
Fase pemanasan ini dapat diiringi dengan menggunakan alunan musik dan dapat
juga diselingi dengan game/permainan, sehingga membuat suasana lebih santai.
3) Menari
Fase menari dapat dilakukan dengan bantuan alunan musik. Para peserta
menari mulai dari ritme lambat sampai cepat mengikuti irama musik yang
diberikan dan ditentukan oleh peneliti (Mohammadi et al., 2009). Menari
membuat lansia dan para peserta menjadi santai dan secara tidak lansung dapat
menggerakkan seluruh anggota badan untuk menjaga kebugaran tubuh. Pada
fase ini peneliti juga dapat meramu dengan sedikit sentuhan dengan
mengkombinasikan tarian dengan permainan ringan, sehingga lansia dituntut
untuk aktif (Chen et al., 2009).
4) Kelompok bermain dengan menggunakan instrumen
Fase ini lansia diajak untuk bermain instrumen atau bermain menggunakan
alat musik. Para peserta diajarkan bagaimana menggunakan atau memainkan
alat musik yang telah disediakan oleh peneliti (Hayashi et al., 2002). Para
peserta bisa dibuat menjadi kelompok-kelompok kecil untuk memudahkan
dalam pengajaran instrumen musik. Setiap kelompok dapat didampingi oleh
satu atau lebih asisten peneliti (Mohammadi et al., 2009).
5) Kelompok musik bermain
Kelompok musik bermain diikuti oleh para peserta tanpa instrumen alat
musik, namun dalam melakukan fase ini bisa diiringi dengan menggunakan
alunan musik. Peserta secara berkelompok melakukan permainan yang telah
diinstruksikan oleh peneliti, misalnya saja bermain bola, meniup gelembung
sabun, berpuisi, bermain peran atau bercerita (Mohammadi et al., 2009).
6) Mendengarkan alunan musik santai
Para peserta lansia mendengarkan alunan musik santai dan dapat juga
bernyanyi bersama ataupun bermain alat musik bersama (Chen et al., 2009).
7) Mendengarkan dan menyaksikan sebuah penampilan musik oleh pemain tamu.
Fase ini merupakan fase dimana para peserta dipersilakan untuk
mendengarkan dan melihat penampilan permainan musik oleh kelompok musik
tamu yang telah disediakan untuk menghibur (Chen et al., 2009).
8) Menyimpulkan fase.
Di akhir sesi peneliti mengungkapkan penghargaannya kepada peserta dan
memberikan selamat serta berjabat tangan pada peserta. Peneliti juga
menanyakan perasaan peserta, menanyakan lagu-lagu atau musik-musik yang
disukai peserta untuk dijadikan bahan pada pertemuan selanjutnya (Chen et al.,
2009). Diharapkan lagu/musik yang dipilih merupakan lagu atau musik pilihan
peserta
B. Terapi Aktivitas Kelompok
1. Pegertian
Terapi aktivitas keompok adalah salah satu terapi modaitas yang dilakukan perawat
kepada sekelompok klien yang mempunyai masaah keperawatan yang sama dimana
focus tiap pertemuan adalah mengupayakan kesadaran dan mengerti diri sendiri
memperbaiki hubungan interpersonal, dan merubah perilaku. Terapi ini bertujuan
untuk mengubah perilaku klien yang maladaptif menjadi adaptif. Klien akan
mempelajari bagaimana membuat perasaan yang sesuai dan menggali caracara untuk
meningkatkan pertumbuhan dan perubahan pribadi. TAK merupakan bagian asuhan
keperawatan guna menyelesaikan masalah klien. Dengan TAK, klien mendapatkan
bantuan penyelesaian masalah melalui kelompoknya.
2. Jenis-jenis TAK
Berdasarkan Wahyu dan Karlina dalam Saragih ada 5 jenis terapi aktivitas kelompok
pada keperawatan jiwa yang paling banyak ditemukan, yaitu:
a. Terapi aktivitas kelompok sosialisasi (untuk klien dengan menarik diri yang sudah
sampai pada tahap mampu berinteraksi dalam keompok kecil dan sehat secara
fisik).
Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi (TAKS) adalah upaya memfasilitasi
kemampuan sosialisasi sejumlah kien dengan masalah hubungan sosial.Klien dibantu
melakukan sosialisasi dengan individu yang ada disekitarnya.Tujuan umum TAKS
yaitu untuk meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap.
Menurut Keliat kegiatan TAKS dilakukan tujuh sesi yang melatih kemampuan
sosialisasi klien. Klien yang mempunyai indikasi TAKS adalah klien dengan
gangguan hubungan sosial berikut :
1. Klien menarik diri yang telah memulai melakukan interaksi interpersonal.
2. Klien dengan kerusakan komunikasi verbal yang telah berespon sesuai stimulasi.
Menurut Keliat tujuan khusus TAKS pasa setiap sesi, adalah:
1. Klien mampu memperkenalkan diri.
2. Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok.
3. Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok.
4. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topic percakapan.
5. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi pada orang lain.
6. Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok.
7. Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAKS yang
telah dilakukan.
Menurut Stuart dan Larsia dalam keliat jumlah anggota kelompok yang nyaman
adalah kelompok kecil yang anggotanya berkisar antara 7-10 orang dan menurut
Rawlins, Williams dan Beck dalam Keliat adalah 5-10 orang. Sedangkan waktu
optimal untuk satu sesi adalah 20-40 menit bagi fungsi kelompok yang rendah dan
60-120 menit bagi fungsi kelompok yang tinggi.Biasanya dimulai dengan
pemanasan berupa orientasi, kemudian tahap kerja dan finishing berupa
terminasi.Banyaknya sesi bergantung pada tujuan kelompok, dapat satu kali/dua
kali per minggu; atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.
b. Terapi aktivitas keompok stimulasi sensori (untuk klien yang mengalami
gangguan sensori)
c. Terapi aktivitas kelompok orientasi realita (untuk klien halusinasi yang telah
mengontrol halusinasinya klien waham yang telah dapat berorientasi pada realita
dan sehat secara fisik)
d. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi (untuk klien dengan halusinasi)
e. Terapi penyaluran energy, yaitu teknik menyalurkan energy secara konstruktif
dimana memungkinkan perkembangan pola-pola penyaluran energy seperti
katarsis, peluapan marah dan rasa batin secara komstruktif tanpa menimbulkan
kerugian pada diri sendiri dan lingkungan.
C. Meditasi
Meditasi ternyata mampu menjadi penangkal yang ampuh dalam mengatasi rasa
kesepian ini.Sebuah penelitian di Carnegie Mellon University menunjukkan bahwa
meditasi dapat menekan penderitaan akibat rasa kesepian seminimal mungkin.
Penelitian ini melibatkan 40 orang tua sehat berusia 55-85 tahun dan menunjukkan
hasil berupa adanya efektivitas terapi meditasi dalam mengusir rasa sepi, bahkan
setelah adanya pemeriksaan darah dan indikator kesehatan yang lain, meditasi dapat
memperbaiki kualitas hidup kaum lanjut usia.
Para partisipan ini rata rata melakukan kegiatan meditasi selama 30 menit tiap
harinya dalam periode 8 minggu dengan rasa rileks dan tenang.Dengan perasaan
damai yang didapat dari meditasi, resiko inflamasi atau radang, resiko utama pada
kematian dini yang diakibatkan karena kanker maupun sakit jantung, dapat
ditekankan. Salah satu ilmuwan dalam penelitian ini, Steven Cole, bahkan
menuturkan bahwa penelitian ini menunjukkan indikasi bahwa ekspresi gen pada
sistem imun ternyata dapat diatur melalui intervensi psikologis, sebagaimana dikutip
oleh Dailymail.
Sebuah studi menjelaskan bahwa meditasi bisa membantu mengurangi kesepian
pada orang dewasa dan menambah pemikiran positif bagi mereka.Orang-orang
dewasa yang mengikuti program pengosongan pemikiran selama delapan minggu
menunjukkan bahwa mereka mengalami tingkat kesepian yang lebih rendah saat
disurvey.Selain itu mereka juga mengalami perubahan positif yang cukup signifikan.
Kesepian dan nyeri batin pada seseorang dapat meningkatkan resiko seseorang
mengalami alzheimer, penyakit jantung dan resiko kematian dini lainnya.Sama halnya
seperti otot yang harus dilatih, begitupula dengan pikiran kita.
Saat seseorang memasuki usia tua, kesepian akan semakin melanda karena tidak
banyak interaksi yang mereka lakukan dengan orang lain. Meditasi sangat dianjurkan
oleh J. David Creswell, seorang psikolog dari Pennsylvania.Dengan melakukan
meditasi sekitar 15-20 menit, bisa membantu Anda menikmati manfaat besar, seperti
mengurangi nyeri batin atau kegalauan yang melanda Anda.
Tidak perlu menghabiskan uang banyak bila Anda ingin meditasi.Anda bisa
melakukannya di ruangan dengan sirkulasi udara cukup dan situasi tenang.Semakin
tenang semakin baik.Meditasi dapat dipelajari dari blog atau video tutorial
meditasi.Bila emerlukan musik, pasanglah musik yang menenangkan jiwa.Bila tidak,
bisa menikmati suasana hening untuk menenangkan batin Anda yang gelisah karena
kesepian.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

Format Pengkajian Keperawatan Gerontik

1. Identitas Klien

Nama : Ny. A

Umur : 65 tahun

Alamat : Timbangan, Ogan Ilir

Pendidikan : SD

Tanggal pengkajian : 2 September 2015

Jenis kelamin : Perempuan

Suku : Komering

Agama : Islam
Status perkawinan : Janda

2. Status kesehatan saat ini :

a. Nutrisi :

Berapa kali makan dalam sehari : 2 x/hari

Satu porsi habis atau tidak : habis

Berapa kalori / hari : 1700 kalori

b. Cairan dan elektrolit :

Berapa liter minum / hari : 6 gelas /hari

Jenis cairan : air mineral

c. Aktivitas : Normal

Keluhan-keluhan kesehatan utama (sekarang) PQRS : Klien tidak ada menderita penyakit
berat yang serius. Paling hanya sakit kepala, demam, batuk, atau flu biasa.
Keluhan Utama
1. Provocative / Paliative : -
2. Quality / Quantity : -
3. Region : -
4. Severity Scale : -
5. Timing : -

3. Riwayat kesehatan dahulu

a. Nutrisi :

Berapa kali makan dalam sehari : 3 x/hari

Satu porsi habis atau tidak : habis

Berapa kalori sehari : 2100 kalori

b. Cairan dan elektrolit :

Berapa liter minum sehari : 8 gelas /hari

Jenis cairan : air mineral

c. Aktivitas : lebih banyak berdiam diri


4. Riwayat kesehatan keluarga

Di dalam keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti DM,
Hipertensi, Asma Dan menular seperti Hepatitis, TBC dan lain lain.

Genogram :

Kel. Baharudin, Kel. Sutiyoso

Keterangan :

: laki-laki

: perempuan

: meninggal

Dan : asma

: tuberkulosis paru
: tinggal satu rumah

Ibu Erma tinggal bersama anak bungsunya, suami anaknya, dan seorang cucu.

Anaknya bekerja sebagai guru SMA dan suami dari anaknya bekerja sebagai pegawai Bank

Swasta. Cucunya masih duduk di SMP kelas IX (Sembilan).

5. Tinjau sistem

Jelaskan tentang kondisi sistem-sistem dibawah ini yang terdapat pada klien

Keadaan umum : Baik

Integumen : warna kulit sawo matang, turgor kulit tidak elastis

Sistem hemopeutik : normal

Kepala : normal, simetris.

Mata

Bentuk : Normal

Gerak bola Mata : normal

Medan Penglihatan : normal

Buta Warna : tidak

Telinga : aurikel normal

Mulut dan tenggorokan : Selaput lendir mulut lembab dan tidak ada gangguan

menelan

Leher : tidak ada penyakit tiroid.

Payudara : bentuk simetris tidak ada benjolan

Sistem pernapasan

Bentuk dada : simetris


Sekeresi dan batuk : tidak ada batuk
Pola napas : RR: 20x/m, reguler
Bunyi napas : vesikuler
Pergerakan dada : normal
Alat bantu pernapasan : klien tidak menggunakan alat bantu pernapasan

Sistem kardiovaskuler :

Nadi 80x per menit, TD 100/70 mmHg.

Bunyi jantung : Normal

Letak jantung : Normal

Pembesaran jantung : Tidak

Nyeri dada : Tidak

Edema : Tidak

Clubbing finger : Tidak

Sistem gastrointestinal : normal, tidak ada pembesaran lien dan hepar, tidak ada

benjolan pada abdomen.

Sistem perkemihan

Masalah Kandung Kemih : tidak ada masalah


Produksi Urine 600 ml/hari Frekuensi 7-8x /hari
Warna kuning jernih , Bau khas amoniak

Sistem genitoreproduksi

Kelamin

Bentuk : normal
Keputihan : tidak ada keputihan
Siklus haid : sudah menoupose

Sistem musculoskeletal
Otot dan tulang
Kemampuan pergerakan sendi lengan dan tungkai (ROM) : bebas
Kemampuan kekuatan otot
Fraktur : tidak ada fraktur
Dislokasi : tidak ada dislokasi
Hematom : tidak ada hematom
Sistem saraf

Tingkat kesadaran : compos mentis


GCS : 15, eye: 4, verbal:5, motorik: 6
Reflek : normal
Koordinasi gerak : Klien mampu mengkoordinasikan gerak
Kejang : tidak ada

Sistem endokrin : Klien tidak memiliki kelainan endokrin

6. Pengkajian psikososial dan spiritual

1. psikososial

Kemampuan sosialisasi klien pada saat sekarang kurang baik, sikap klien

belum bersosialisasi pada orang lain, dan kurang aktif dalam lingkungan

masyarakat disekitarnya. Terlihat klien lebih banyak menyendiri.

2. identifikasi masalah emosional

Apakah klien mengalami susah tidur?

Klien tidak mengalami susah tidur. Biasanya klien tidur selama 5-6 jam

per hari.

Apakah klien merasa gelisah?

Klien merasa gelisah apabila dia sedang sendirian.

Apakah klien sering murung atau menangis sendiri?

Klien sering murung atau menangis sendiri apabila dia teringat akan

kenangan masa lalu ketika ia bersama dengan suaminya yang sekarang

telah meninggal dunia.

Apakah klien sering was-was atau khawatir?

Klien tidak merasa was-was atau khawatir.

Penjelasan pertanyaan diatas :

Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari 11 kali dalam 1 bulan?
Tidak ada keluhan yang dirasakan klien sejak setahun yang lalu.

Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter?

Tidak ada.

Cenderung mengurung diri?

Iya

a. Spiritual

Klien beragama Islam dan taat menjalankan ibadah sholat lima waktu ,

klien kurang aktif dalam mengikuti kegiatan keagamaan misalnya

pengajian atau yasinan. Konsep/keyakinan klien tentang kematian

bahwa hidup dan mati sudah ada yang mengatur, harapan klien yaitu

klien ingin tetap menjalankan ibadahnya dengan baik agar menjadi

contoh bagi anak-anak dan cucu-cucunya.

7. Pengkajian fungsional klien

a. KATZ Indeks : A

Termasuk kategori yang manakah klien?

A Mandiri dalam makan, kontinensia (BAK, BAB), Menggunakan pakaian, pergi

ketoilet, berpindah mandi

B Mandiri semuanya, kecuali salah satu saja dari fungsi di atas

C Mandiri kecuali mandi dan salah satu lagi fungsi yang lain

D Mandiri Kecuali mandi, berpakaian dan salah satu lagi fungsi yang lain

E Mandiri kecuali mandi, berpakaian, ketoilet dan salah satu lagi fungsi yang lain

F Mandiri kecuali mandi, berpakaian, ketoilet, berpindah dan salah satu lagi fungsi yang

lain
G Ketergantungan untuk semua fungsi diatas

H Lain lain

Keterangan :

Mandiri berarti tanpa pengawasan, pengarahan atau bantuan aktif dari orang lain.

Seseorang yang menolak untuk melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan

fungsi, meskipun ia dianggap mampu.

Pasien mempunyai indeks kemandirian pada aktivitas sehari-hari dengan skore

A yaitu mampu dan mandiri dalam melakukan makan, kontinensia

(BAK,BAB), menggunakan pakaian, pergi ke toilet, berpindah mandi.

b. Modifikasi dari Barthel

Termasuk yang manakah klien?

No Kriteria Dengan Mandiri Keterangan Nilai

Bantuan

1. Makan 5 10 Frekuensi :3xsehari 10

Jumlah : sepiring

Jenis : nasi,sayur,ikan

2. Minum 5 10 Frekuen: + 7 gelas/hari 10

Jumlah : >2

Jenis : air mineral

3. Berpindah dari kursi roda 5-10 15 Tidak menggunakan 15

ke tempat tidur, kursi roda


sebaliknya

4. Personal toilet (cuci 0 5 Frekuensi : 2xsehari 5

muka, menyisir rambut,

gosok gigi)

5. Keluar masuk toilet 5 10 Melakukan kegitan 10

(mencuci pakaian, keluar masuk toilet

menyeka tubuh, mandiri, mencuci

menyiram) pakaian sendiri,

menyeka tubuh dan

menyiram

6. Mandi 5 15 Frekuensi : 2xsehari 15

7. Jalan di permukaan datar 0 5 Masih dapat 5

melakukannya dengan

baik

8. Naik turun tangga 5 10 Masih dapat 10

melakukannya dengan

baik

9. Mengenakan pakaian 5 10 Melakukan mandiri 10

10. Kontrol bowl (BAB) 5 10 Frekuensi :1xsehari 9

Konsistensi : tidak

keras dan tidak encer


11. Kontrol bladder (BAK) 5 10 Frekuensi : 7-8xsehari 9

Warna :kuning jernih

12. Olahraga/latihan 5 10 Frekuensi : 1xsehari 9

Jenis : jalan pagi

13. Rekreasi/pemanfaatan 5 10 Frekuensi : 1xsehari 10

waktu luang Jenis : nonton tv

JUMLAH SKORE 127

Interprestasi hasil :

130 : Mandiri

65-125 : Ketergantungan sebagian

Jawab:
Skore 127 : Mandiri

8. Pengkajian status mental gerontik

a. Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan SPMSQ

(Short portable Mental Status Questioner)

Intruksi :

Ajukan pertanyaan 1-10 pada daftar ini dan catat semua jawaban

Catat jumlah kesalahan total berdasarkan 10 pertanyaan

Benar Salah No Pertanyaan


01 Hari ini tanggal 3, besok tanggal berapa ?

02 Hari apa hari ini?

03 Apa nama tempat ini?

04 Dimana alamat anda?

05 Berapa umur anda?

06 Kapan anda lahir (minimal tahun lahir)

07 Siapa presiden indonesia sekarang ini?

08 Siapa presiden indonesia sebelumnya?

09 Siapa nama ibu anda?

10 Kurang 3 dari 20 dan tetap pengurangan dari setiap

angka baru, semua secara menurun

Score total : 10

Interprestasi hasil :

Salah 0-3 : Fungsi intelektual utuh


Salah 4-5 : Kerusakan intelektual ringan

Salah 6-8 : Kerusakan intelektual sedang

Salah 9-10 : Kerusakan intelektual berat

Skore salah 0 : Fungsi Intelektual Utuh

b. Identifikasi aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan MMSE

(Mini Mental Status Exam)

Orientasi

Registrasi

Perhatian

Kalkulasi

Mengingat kembali

Bahasa

No Aspek Nilai Nilai Kriteria

Kognitif maksimal Klien

1 Orientasi 5 4 Menyebutkan dengan benar :

Tahun

Musim

Tanggal

Hari

Bulan

Orientasi 5 5 Dimana kita sekarang berada :

Negara Indonesia

Provinsi Sumsel
Kabupaten Ogan Ilir

Posyandu

Alamat rumah

2 Registrasi 3 3 Sebut 3 nama obyek (sebut oleh

pemeriksa), 1 detik untuk mengatakan

masing-masing obyek, kemudian tanyaka

kepada klien ketiga obyek tadi (untuk di

sebut klien)

Buku

Sepatu

Baju

3 Perhatian dan 5 4 Minta klien untuk memulai dari angka

kalkulasi dari angka 100 kemudian di kurangi 7

sampai 5 kali/tingkat

93

86

79

72

65

4 Mengingat 3 3 Minta klien untuk mengulangi ketiga

obyek no.2 (registrasi) tadi. Bila benar, 1

poin untuk masing-masing obyek

5 Bahasa 9 7 Tunjukkan kepada klien suatu benda dan

tanyakan namanya pada klien

(Pena)
(Buku)

Minta klien untuk mengulang kata berikut

tak ada jika, dan, atau, tetapi. Bila nilai

1 poin

Pertanyaan benar 2 buah : tak ada, tetapi.

Minta klien untuk mengikuti perintah

berikut yang terdiri dari 3 langkah :

Ambil kertas di tangan anda

Lipat 2 : Taruh di lantai

Perintahkan pada klien untuk hal berikut

(bila aktivitas sesuai perintah nilai 1 poin)

Tutup mata anda

Perintahkan pada klien untuk menulis satu

kalimat dan menyalin gambar

Tulis satu kalimat, Menyalin gambar

Total nilai 26

Interpretasi hasil :

24-30 : Tidak ada gangguan kognitif

13-23 : Gangguan kognitif sedang

0-17 : Gangguan kognitif berat


Score total 26 : Tidak Ada Gangguan Kognitif

9. Pengkajian keseimbangan untuk klien lanjut usia

Pengkajian keseimbangan dinilai dari dua komponen yang utama dalam bergerak.

Dari kedua komponen tersebut dibagi lagi dalam beberapa gerakan yang perlu

diobservasi oleh perawat. Kedua komponen tersebut adalah :

Perubahan posisi atau gerakan keseimbangan

Komponen gaya berjalan atau gerakan

a. Perubahan posisi atau Gerakan Keseimbangan

Bangun dari kursi (dimaksudkan dalam analsis)*

Tidak bangun dari duduk dengan satu kali gerakan, tetapi mendorong tubuhnya ke

atas dengan atau bergerak ke bagian depan kursi terlebih dahulu, tidak stabil pada

saat berdiri pertama kali. Diberi nilai 1

Jika klien menunjukan kondisi diatas, diberi nilai 0 klien tidak menunjukkan

kondisi tersebut.

Duduk ke kursi (dimasukkan dalam analisis)*

Menjatuhkan dari ke kursi, tidak duduk di tengah kursi.Beri nilai 1 jika klien

menunjukan kondisi di atas dan diberi nilai 0 jika klien tidak menunjukan kondisi

tersebut.

Keterangan (*) kursi yang keras dan tanpa lengan

0
Menahan dorongan pada sternum (pemeriksaan mendorong sternum

perlahan-lahan sebanyak 3 kali)

Menggerakkan kaki, memegang obyek untuk dukungan, kaki tidak menyentuh

sisi-sisinya.Beri nilai 1 jika klien menunjukkan kondisi diatas, beri nilai 0 jika

klien tidak menunjukkan kondisi tersebut.

Mata tertutup

Sama seperti diatas (periksa kepercayaan klien tentang input penglihatan untuk

keseimbangan). Beri nilai 1 jika klien menunjukkan kondisi diatas, beri nilai 0 jika

klien tidak menunjukkan kondisi diatas.

Perputaran leher

Menggerakkan kaki, menggenggam obyek untuk dukungan, kaki tidak menyentuh

sisi-sisinya, keluhan vertilago, pusing, keadaan tidak stabil, beri nilai 1 jika klien

menunjukkan kondisi tersebut.

Membungkuk

Tidak mampu untuk membungkuk untuk mengambil obyek-obyek kecil (misalnya

pulpen) dari lantai, memegang suatu obyek untuk bisa berdiri lagi, memerlukan

usaha-usaha multiple untuk bangun.


Beri nilai 1jika klien menunjukkan kondisi diatas, beri nilai 0 jika klien tidak

menunjukkan kondisi tersebut.

b. Komponen Gaya Berjalan atau Gerakan

Minta klien untuk berjalan ketempat yang ditentukan

Ragu-ragu tersandung, memegang obyek untuk dukungan. Beri nilai 1 jika klien

menunjukkan diatas, beri nilai 0 jika klien tidak menunjukkan kondisi tersebut.

Ketinggian langkah kaki (mengangkat kaki pada saat melangkah)

Kaki tidak naik dari lantai secara konsisten (menggeser atau menyeret kaki),

mengangkat kaki terlalu tinggi (2 inci). Beri nilai 1 jika klien menunjukkan

kondisi diatas, beri nilai 0 jika klien tidak menunjukkan kondisi tersebut.

Kontinuitas langkah kaki (lebih baik diobservasi dari samping klien)

Setelah langkah-langkah awal tidak konsisten, memulai mengangkat satu kaki

sementara kaki yang lain menyentuh lantai. Beri nilai 1 jika klien menunjkkan

kondisi diatas, beri nilai 0 jika klien tidak menunjukkan kondisi tersebut.

Kesimetrisan langkah (lebih baik diobservasi dari samping klien)


Panjang langkah tidak sama (sisi yang patologis biasanya memiliki langkah yang

lebih panjang, masalah dapat terjadi pada pinggul, lutut, pergelangan kaki, atau

otot-otot di sekitasnya) beri nilai 1 jika klien menunjukkan kondisi diatas, beri

nilai 0 jika klien tidak menunjukkan kondisi tersebut.

Penyimpangan jalur pada saat terbalik (lebih baik diobservasi dari belakang

pasien)

Tidak berjalan dalam garis lurus, bergelombang dari sisi ke sisi. Beri nilai 1 jika

klien menunjukkan kondisi diatas, beri nilai 0 jika klien tidak menunjukkan

kondisi diatas, beri nilai 0 jika klien tidak menunjukkan tersebut.

Interprestasi hasil :

Jumlahkan semua nilai yang diperoleh klien dan dapat diinterprestasi sebagai

berikut :

0-5 : resiko jatuh rendah

6-10 : resiko jatuh sedang

11-15 : resiko jatuh tinggi

Dari tinetti, ME dan Ginter, SF hal 1191, 1998, Amerika Medical Association

Evaluasi hasil praktek

Laporan tertulis hasil pengkajian respon yang meliputi : kondisi fisik, fungsional,

psikososial dan spiritual.


BAB IV

PEMBAHASAN

3.1 Ringkasan Tema Penelitian

Beberapa penelitian mengatakan tentang kesepian pada lansia:

1. Penelitian oleh Yudi Yudistira, Asep Abdul Syukur, dan Samsul Feri Apriyadi
mengatakan Musik Tradisional Angklung yang dapat menurunkan rasa kesepian
(lonliness) pada lansia adalah memiliki ciri spektrum frekuensi dominan dengan
bandwith 45 kHz pada durasi pertengahan dan 3.335 pada durasi awal dan akhir.
2. Penelitian oleh Shu-Ling Chen, Hui-Chuan Lin, Sui-Whi Jane mengatakan penelitian
ini menunjukkan bahwa lansia mendapatkan pengalaman positif dalam mengikuti
terapi musik, terutama pada komponen aktif dalam program. Pengalama positif yang
mereka alami meningkatkan perasaan damai dan meningkatkan kesehatan serta
kualitas hiudp mereka. Saran untuk petugas peayanan kesehatan dapat
mengintegrasikan terapi musik berkelompok ini sebagai rutinitas dalam kegiatan di
panti. Para peserta lansia menerima terapi musik kelompok selama 1 jam setiap
minggu. Terapi ini dilaksanakan selama 3 bulan. Terapi music kelompok ini
mencakup kegiatan musik aktif dan musik pasif. Masing-masing sesi dibagi menjadi
delapan bagian : tahap awal, pemanasan, menari, kelompok bermain dengan
instrumen, kelompok musik bermain, mendengarkan musik santai, melihat
penampilan pertunjukan musik oleh pemain tamu, dan menyimpulkan fase.
3. Penelitian Ayu Diah Amalia mengatakan membahas mengenai kondisi kesepian dan
kondisi isolasi sosial yang dialami oleh lanjut usia, yang ditinjau dari perspektif
sosiologis. Dari perspektif sosiologi pendekatan teoritis kesepian difokuskan pada
konteks sosial dimana individu mengembangkan (atau tidak) hubungan atau jaringan
sosial. Lebih lanjut hubungan sosial tersebut akan ditinjau dari perspektif
interaksionisme simbolik. Hasilnya mengungkapkan bahwa jaringan sosial pada
lansia berpotensial untuk mengurangi kesepian pada lansia.
4. Penelitian oleh Neti Juniarti, Septi Eka R, Asma Damayanti menyebutkan sebagian
besar lansia yang mengalami kesepian ringan dan sebagian kecil mengalami kesepian
berat, hal ini dimungkinkan karena lingkungan panti yang sudah kondusif untuk lansia
menjalani hari-harinya. Dan sebagian besar lansia mengalami kesepian emosional dan
sebagian kecil dari jumlah tersebut mengalami kesepian emosional tingkat berat, hal
ini berarti sebagian besar masalah kesepian bersumber pada masalah emosional
lansia.
5. Peneitian Rara Oktavia mengenai kesepian pria usia lanjut yang melajang terdapat
dua factor faktor psikologis dan faktor situasional. Pada factor psikologis terdapat
empat subfaktor yang muncul yaitu yang pertama kurang adanya dukungan dari
lingkungan, dimana Subjek mengatakan pada awalnya dirinya biasa saja dengan apa
yang dikatakan oleh orang-orang sekitar tentang kapan subjek menikah. Namun,
karena terlalu sering ditanya subjek merasa bosan dan tidak nyaman ketika ditanya
oleh orang di sekitar. Sehingga subjek berpikir tidak ada yang mengerti dirinya .
Subfaktor yang kedua yaitu kurangnya percaya diri, dimana subjek merasa canggung
dalam situasi ramai dan juga apabila berhadapan dengan orang yang lebih dari subjek
sehingga terkadang subjek merasa minder karena takut salah berbicara dengan mereka
dan karena subjek merasa sudah tua dan belum menikah. Subfaktor yang ketiga yaitu
kepribadian yang tidak sesuai dengan lingkungan, di mana subjek merasa dirinya
tidak bisa bersosialisasi dengan orang yang lebih tinggi status sosialnya dan juga
merasa malu karena dirinya sudah tua tetapi sampai saat ini belum menikah dan tidak
mempunyai pekerjaan. Subfaktor yang keempat yaitu ketakutan menanggung resiko
sosial, di mana subjek merasa takut untuk dekat dengan perempuan karena subjek
merasa dirinya tidak muda lagi. Oleh karena itu subjek merasa takut ditolak oleh
perempuan. Pada faktor situasional terdapat dua subfaktor yang muncul yaitu yang
pertama takut di kenal orang lain, di mana subjek pernah berkenalan dengan
perempuan tetapi subjek tidak berani ke rumah karena subjek takut perempuan yang
baru di kenalnya mengetahui keadaan subjek yang sebenarnya. Subfaktor yang kedua
yaitu kehidupan di dalam rumah, dimana subjek biasanya keluar rumah jika merasa
bosan, karena kesibukan subjek sehari-hari hanya membantu ibunya di rumah seperti
membersihkan rumah.
6. Penelitian Ayusi Ikasi, Jumaini, Oswati Hasanah mengatakan semakin tinggi dukungan
keluarga yang didapatkan lansia maka akan menurunkan resiko terjadinya kesepian dan
stress ataupun masalah psikologis pada lansia.

Kesepian atau loneliness biasanya dialami oleh seorang lanjut usia pada saat
meninggalnya pasangan hidup atau teman dekat terutama bila dirinya sendiri saat itu juga
mengalami berbagai penurunan status kesehatan, misalnya menderita berbagai penyakit fisik
berat gangguan mobilitas atau gangguan sensorik, terutama gangguan pendengaran
(Brocklehurst-Allen1987)

Harus dibedakan antara kesepian dengan hidup sendiri.Banyak di antara lansia yang
hidup sendiri tidak mengalami kesepian karena aktivitas sosial yang masih tinggi, tetapi
dilain pihak terdapat lansia yang walaupun hidup di lingkungan yang beranggotakan cukup
banyak tokoh mengalami kesepian.

Pada penderita kesepian ini peran dari organisasi sosial sangat berarti karena bisa
bertindak menghibur memberikan motivasi untuk lebih meningkatkan peran sosial penderita
di samping memberikan bantuan pengerjaan pekerjaan di rumah bila memang terdapat
disabilitas penderita dalam hal-hal tersebut.
BAB V

PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Wahjudi. 2000. Keperawatan Gerontik, Edisi ke-2. Jakarta : EGC.

Jhonson, Marion dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). St. Louise, Missouri :
Mosby, Inc.

McCloskey, Joanne C. 1996. Nursing Intervention Classification (NIC). St. Louise, Missouri
: Mosby, Inc.

NANDA.Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2005-2006.Philadelphia :


NANDA International.

Hartono Hadi dan Kris Pranaka. 2010. Buku Ajar Boedhi-Darmojo GERIATRI. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Wahyudi, Nugroho. 1995. Perawatan Usia Lanjut. Jakarta: EGC.

Keliat BA. 2005. Keperawatan jiwa terapi aktivitas kelompok.Jakarta: EGC

Saragih M. 2011. Pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi sesi 1 dan 2 terhadap
kemampuan komunikasi verbal dan nonverbal klien menarik diri di ruang Nusa Indah Rumah
Sakit Dr. Ernaldi Bahar Palembang Tahun 2011 [Skripsi].Inderalaya: Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya; 2011

Ikasi, Ayusi., Jumaini., Hasanah, Oswati., 2014. Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap
Kesepian (Lonelinnes) Pada Lansia. 1(2): 1-7

Juniarti, Neti., Eka,Septi R., Damayanti, Asma., 2008. Gambaran Jenis Dan Tingkat
Kesepian Pada Lansia Di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Bandung
Tahun 2008 [Skripsi]. Jatinangor: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran; 2008

Amaliah, Ayu Dia. 2013. Kesepian Dan Isolasi Sosial Yang Dialami Lanjut Usia: Tinjauan
Dari Perspektif Sosiologis. 18(2): 203-210

Yudistira,Yudi., dkk. 2011. Tembang Tradisional Angklung Untuk Mengatasi Permasalahan


Psikologis Khususnya Masalah Kesepian (Loneliness) Lansia Ditinjau Dari Analisis
Spektrum Frekuensi. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta