Anda di halaman 1dari 44

ANEMIA

Definisi anemia

Menurut definisi, anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas
hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan
demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan
patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa dan pemikiran fisik yang teliti, serta
didukung oleh pemeriksaan laboratorium.

Manifestasi klinik

Pada anemia, karena semua sistem organ dapat terlibat, maka dapat menimbulkan
manifestasi klinik yang luas. Manifestasi ini bergantung pada:

(1) Kecepatan timbulnya anemia

(2) Umur individu

(3) Mekanisme kompensasinya

(4) Tingkat aktivitasnya

(5) Keadaan penyakit yang mendasari, dan

(6) Parahnya anemia tersebut.

Karena jumlah efektif sel darah merah berkurang, maka lebih sedikit O2 yang
dikirimkan ke jaringan. Kehilangan darah yang mendadak (30% atau lebih), seperti pada
perdarahan, menimbulkan simtomatoogi sekunder hipovolemia dan hipoksemia. Namun
pengurangan hebat massa sel darah merah dalam waktu beberapa bulan (walaupun
pengurangannya 50%) memungkinkan mekanisme kompensasi tubuh untuk
menyesuaikan diri, dan biasanya penderita asimtomatik, kecuali pada kerja jasmani berat.

Mekanisme kompensasi bekerja melalui:

(1) Peningkatan curah jantung dan pernafasan, karena itu menambah pengiriman O2

ke jaringan-jaringan oleh sel darah merah

(2) Meningkatkan pelepasan O2 oleh hemoglobin

(3) Mengembangkan volume plasma dengan menarik cairan dari sela-sela jaringan, dan

(4) Redistribusi aliran darah ke organ-organ vital.


Etiologi

1. Karena cacat sel darah merah (SDM)

Sel darah merah mempunyai komponen penyusun yang banyak sekali. Tiap-tiap
komponen ini bila mengalami cacat atau kelainan, akan menimbulkan masalah bagi SDM
sendiri, sehingga sel ini tidak berfungsi sebagai mana mestinya dan dengan cepat
mengalami penuaan dan segera dihancurkan. Pada umumnya cacat yang dialami SDM
menyangkut senyawa-senyawa protein yang menyusunnya. Oleh karena kelainan ini
menyangkut protein, sedangkan sintesis protein dikendalikan oleh gen di DNA.

2. Karena kekurangan zat gizi

Anemia jenis ini merupakan salah satu anemia yang disebabkan oleh faktor

luar tubuh, yaitu kekurangan salah satu zat gizi. Anemia karena kelainan dalam SDM
disebabkan oleh faktor konstitutif yang menyusun sel tersebut. Anemia jenis ini tidak
dapat diobati, yang dapat dilakukan adalah hanya memperpanjang usia SDM sehingga
mendekati umur yang seharusnya, mengurangi beratnya gejala atau bahkan hanya
mengurangi penyulit yang terjadi.

3. Karena perdarahan

Kehilangan darah dalam jumlah besar tentu saja akan menyebabkan kurangnya jumlah
SDM dalam darah, sehingga terjadi anemia. Anemia karena perdarahan besar dan dalam
waktu singkat ini secara nisbi jarang terjadi. Keadaan ini biasanya terjadi karena
kecelakaan dan bahaya yang diakibatkannya langsung disadari. Akibatnya, segala usaha
akan dilakukan untuk mencegah perdarahan dan kalau mungkin mengembalikan jumlah
darah ke keadaan semula, misalnya dengan tranfusi.

4. Karena otoimun

Dalam keadaan tertentu, sistem imun tubuh dapat mengenali dan menghancurkan bagian-
bagian tubuh yang biasanya tidak dihancurkan. Keadaan ini sebanarnya tidak seharusnya
terjadi dalam jumlah besar. Bila hal tersebut terjadi terhadap SDM, umur SDM akan
memendek karena dengan cepat dihancurkan oleh sistem imun.

Diagnosis

Tanda-tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia adalah:

Kelelahan, lemah, pucat, dan kurang bergairah

sakit kepala, dan mudah marah


tidak mampu berkonsentrasi, dan rentan terhadap infeksi

pada anemia yang kronis menunjukkan bentuk kuku seperti sendok dan rapuh, pecah-
pecah pada sudut mulut, lidah lunak dan sulit menelan.

Karena faktor-faktor seperti pigmentasi kulit, suhu dan kedalaman serta distribusi kapiler
mempengaruhi warna kulit, maka warna kulit bukan merupakan indeks pucat yang dapat
diandalkan. Warna kuku, telapak tangan, dan membran mukosa mulut serta konjungtiva
dapat digunakan lebih baik guna menilai kepucatan.

Takikardia dan bising jantung (suara yang disebabkan oleh kecepatan aliran darah yang
meningkat) menggambarkan beban kerja dan curah jantung yang meningkat. Angina
(sakit dada), khususnya pada penderita yang tua dengan stenosis koroner, dapat
diakibatkan karena iskemia miokardium. Pada anemia berat, dapat menimbulkan payah
jantung kongesif sebab otot jantung yang kekurangan oksigen tidak dapat menyesuaikan
diri dengan beban kerja jantung yang meningkat. Dispnea (kesulitan bernafas), nafas
pendek, dan cepat lelah waktu melakukan aktivitas jasmani merupakan manifestasi
berkurangnya pengiriman O2. Sakit kepala, pusing, kelemahan dan tinnitus (telinga
berdengung) dapat menggambarkan berkurangnya oksigenasi pada susunan saraf pusat.
Pada anemia yang berat dapat juga timbul gejala saluran cerna yang umumnya
berhubungan dengan keadaan defisiensi. Gejala-gejala ini adalah anoreksia, nausea,
konstipasi atau diare dan stomatitis (sariawan lidah dan mulut).

Klasifikasi

Pada klasifikasi anemia menurut morfologi, mikro dan makro menunjukkan ukuran sel
darah merah sedangkan kromik menunjukkan warnanya. Sudah dikenal tiga klasifikasi
besar.

1. Anemia normositik normokrom.

Dimana ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal serta mengandung hemoglobin
dalam jumlah yang normal tetapi individu menderita anemia. Penyebab anemia jenis ini
adalah kehilangan darah akut, hemolisis, penyakit kronik termasuk infeksi, gangguan
endokrin, gangguan ginjal, kegagalan sumsum, dan penyakit-penyakit infiltratif metastatik
pada sumsum tulang. Penyebab anemia Normokromik Normositer (MCV didalam batasan
normal, 80-100)

1. Pasca perdarahan akut

2. Anemia aplastik-hipoplastik

3. Anemia hemolitik terutama yang didapat

4. Akibat penyakit kronis


5. Anemia mieloplastik

6. Gagal ginjal kronis

7. Mielofibrosis

8. Sindroma mielodisplastik

9. Leukemia akut

2. Anemia makrositik normokrom.

Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal tetapi normokrom
karena konsentrasi hemoglobinnya normal. Hal ini diakibatkan oleh gangguan atau
terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti yang ditemukan pada defisiensi B12 dan
atau asam folat. Ini dapat juga terjadi pada kemoterapi kanker, sebab agen-agen yang
digunakan mengganggu metabolisme sel. Penyebab anemia Makrositer (MCV tinggi).

1.Megaloblastik

a. Defesiensi folat

b. Defisiensi vitamin B12

2.Non megaloblastik

a. Penyakit hati kronik

b. Hipotiroid

c. Sindroma mielodisplastik

3. Anemia mikrositik hipokrom.

Mikrositik berarti kecil, hipokrom berarti mengandung hemoglobin dalam jumlah yang
kurang dari normal. Hal ini umumnya menggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi),
seperti pada anemia defisiensi besi, keadaan sideroblastik dan kehilangan darah kronik,
atau gangguan sintesis globin, seperti pada talasemia (penyakit hemoglobin abnormal
kongenital). Penyebab anemia Hipokromik Mikrositer. (MCV rendah, < 80).

1. Defisiensi besi

2. Thalasemia

3. Penyakit kronik

4. Anemia sideroblastik
Anemia dapat juga diklasifikasikan menurut etiologinya. Penyebab utama yang
dipikirkan adalah

(1) Meningkatnya kehilangan sel darah merah dan

(2) Penurunan atau gangguan pembentukan sel.

Klasifikasi berdasarkan etiopatogenesis

a. Produksi eritrosit menurun

1. Kekurangan bahan untuk eritrosit

2. Gangguan utilisasi besi

3. Kerusakan jaringan sumsum tulang

4. Fungsi sumsum tulang kurang baik oleh karena sebab tidak diketahui

b. Kehilangan eritrosit dari tubuh

1. Anemia pasca perdarahan akut

2. Anemia pasca perdarahan kronis

c. Peningkatan penghancuran eritrosit dalam tubuh

1. Faktor ekstrakorpuskuler

a. Antibodi terhadap eritrosit

1. Atoantibodi : AIHA (autoimmune hemolytic anemia)

2. Isoantibodi : HDN (hemolytic disease of new born)

b. Hipersplenisme

c. Pemaparan terhadapa bahan kimia

d. Akibat infeksi bakteri/parasit

e. Kerusakan mekanis

2. Faktor intrakorpuskuler

a. Gangguan membran

1. Hereditary spherocytosis
2. Hereditary elliptocytosis

b. Gangguan enzim

1. Defesiensi pyruvat kinase

2. Defesiensi G6PD (glucose-6 phosphate dehydrogenase)

c. Ganggguan hemoglobin

1. Hemoglobinopati structural

2. Thalasemia

Meningkatnya kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdarahan atau oleh
penghancuran sel. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau tukak, atau akibat
pardarahan kronik karena polip pada kolon, penyakit-penyakit keganasan, hemoriod atau
menstruasi. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi, dikenal dengan nama
hemolisis, terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek
hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel
darah merah. Keadaan dimana sel darah merah itu sendiri terganggu adalah:

1. Hemoglobinopati, yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan, misal nya anemia sel
sabit .

2. Gangguan sintetis globin misalnya talasemia.

3. Gangguan membran sel darah merah misalnya sferositosis herediter.

4. Defisiensi enzim misalnya defisiensi G6PD (glukosa 6-fosfat dehidrogenase).

Yang disebut diatas adalah gangguan herediter. Namun, hemolisis dapat juga disebabkan
oleh gangguan lingkungan sel darah merah yang seringkali memerlukan respon imun.
Respon isoimun mengenai berbagai individu dalam spesies yang sama dan diakibatkan
oleh tranfusi darah yang tidak cocok. Respon otoimun terdiri dari pembentukan antibodi
terhadap sel-sel darah merah itu sendiri. Keadaan yang di namakan anemia hemolitik
otoimun dapat timbul tanpa sebab yang diketahui setelah pemberian suatu obat tertentu
seperti alfa-metildopa, kinin, sulfonamida, L-dopa atau pada penyakit-penyakit seperti
limfoma, leukemia limfositik kronik, lupus eritematosus, artritis reumatorid dan infeksi
virus. Anemia hemolitik otoimun selanjutnya diklasifikasikan menurut suhu dimana
antibodi bereaksi dengan sel-sel darah merah antibodi tipe panas atau antibodi tipe
dingin.

Hipersplenisme (pembesaran limpa, pansitopenia, dan sumsum tulang hiperselular atau


normal) dapat juga menyebabkan hemolisis akibat penjeratan dan penghancuran sel
darah merah. Luka bakar yang berat khususnya jika kapiler pecah dapat juga
mengakibatkan hemolisis.

Klasifikasi etiologi utama yang kedua adalah pembentukan sel darah merah yang
berkurang atau terganggu (diseritropoiesis). Setiap keadaan yang mempengaruhi fungsi
sumsum tulang dimasukkan dalam kategori ini. Yang termasuk dalam kelompok ini
adalah:

(1) Keganasan yang tersebar seperti kanker payudara, leukimia dan multipel mieloma;
obat dan zat kimia toksik; dan penyinaran dengan radiasi dan

(2) Penyakit-penyakit menahun yang melibatkan ginjal dan hati, penyakit-penyakit infeksi
dan defiensi endokrin.

Kekurangan vitamin penting seperti vitamin B12, asam folat, vitamin C dan besi dapat
mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif sehingga menimbulkan
anemia. Untuk menegakkan diagnosis anemia harus digabungkan pertimbangan
morfologis dan etiologi.

ANEMIA NORMOSITIK NORMOKROM

Anemia Aplastik

Definisi Anemia aplastik merupakan suatu pansitopenia pada hiposelularitas sum-sum


tulang. Anemia aplastik didapat (Acquired qplastic anemia) berbeda dengan iatrogenic
marrow aplasia, hiposelularitas sum-sum setelah chemotherapy sitotoksik intensif. Anemia
aplastik dapat pula diturunkan : anemia Fancani genetic dan dyskeratosis congenital, dan
sering berkaitan dengan anomaly fisik khas dan perkembangan pansitopenia terjadi pada
umur yang lebih muda, dapat pula berupa kegagalan sum-sum pada orang dewasa yang
terlihat normal. Anemia aplastik didapat seringkali bermanifestasi yang khas, dengan
onset hitung darah yang rendah secara mendadak pada dewasa muda yang terlihat
normal; hepatitis seronegatif atau pemberian obat yang salah dapat pula mendahului onset
ini. Diagnosis pada keadaan seperti ini tidak sulit. Biasanya penurunan hitung darah
moderat atau tidak lengkap, akan menyebabkan anemia, leucopenia, dan
thrombositopenia atau dalam beberapa kombinasi tertentu.

Tabel 1. Klasifikasi anemia aplastik berdasarkan tingkat keparahan.

Anemia aplastik berat - Seluraritas sumsum tulang <25% atau 25-50%


dengan <30% sel hematopoietik residu, dan
Anemia aplastik sangat
berat - Dua dari tiga kriteria berikut :

Anemia aplastik bukan netrofil < 0,5109/l


berat trombosit <20109 /l

retikulosit < 20109 /l

Sama seperti anemia aplastik berat kecuali


netrofil <0,2109/l

Pasien yang tidak memenuhi kriteria anemia


aplastik berat atau sangat berat; dengan
sumsum tulang yang hiposelular dan memenuhi
dua dari tiga kriteria berikut :

- netrofil < 1,5109/l

- trombosit < 100109/l

- hemoglobin <10 g/dl

Etiologi Asal anemia aplastik telah dihubungkan dengan beberapa kejadian klinis terkait
(Table 2); namun, hubungan ini seringkali tidak tepat dan mungkin bukan etiologi.
Walaupun kebanyakan kasus anemia aplastik bersifat idiopatik, adanya riwayat medis
memisahkan kasus idiopatik dari kasus dengan dugaan etiologi seperti paparan obat.

Tabel 2. Klasifikasi Etiologi Anemia aplastik.

Anemia Aplastik yang Didapat (Acquired Aplastic Anemia)

Anemia aplastik sekunder

Radiasi

Bahan-bahan kimia dan obat-obatan

Efek regular

- Bahan-bahan sitotoksik

- Benzene

Reaksi Idiosinkratik

- Kloramfenikol

- NSAID
- Anti epileptik

- Emas

- Bahan-bahan kimia dan obat-obat lainya

Virus

Virus Epstein-Barr (mononukleosis infeksiosa)

Virus Hepatitis (hepatitis non-A, non-B, non-C, non-G)

Parvovirus (krisis aplastik sementara, pure red cell aplasia)

Human immunodeficiency virus (sindroma immunodefisiensi yang didapat)

Penyakit-penyakit Imun

Eosinofilik fasciitis

Hipoimunoglobulinemia

Timoma dan carcinoma timus

Penyakit graft-versus-host pada imunodefisiensi

Paroksismal nokturnal hemoglobinuria

Kehamilan

7. Idiopathic aplastic anemia

Anemia Aplatik yang diturunkan (Inherited Aplastic Anemia)

Anemia Fanconi

Diskeratosis kongenita

Sindrom Shwachman-Diamond

Disgenesis reticular

Amegakariositik trombositopenia

Anemia aplastik familial

Preleukemia (monosomi 7, dan lain-lain.)


Sindroma nonhematologi (Down, Dubowitz, Seckel)

Patofisiologi

Kegagalan sum-sum terjadi akibat kerusakan berat pada kompartemen sel hematopoetik.
Pada anemia aplastik, tergantinya sum-sum tulang dengan lemak dapat terlihat pada
morfologi spesimen biopsy dan MRI pada spinal. Sel yang membawa antigen CD34,
marker dari sel hematopoietik dini, semakin lemah, dan pada penelitian fungsional, sel
bakal dan primitive kebanyakan tidak ditemukan; pada pemeriksaan in vitro menjelaskan
bahwa kolam sel bakal berkurang hingga < 1% dari normal pada keadaan yang berat.

Suatu kerusakan intrinsic pada sel bakal terjadi pada anemia aplastik konstitusional: sel
dari pasien dengan anemia Fanconi mengalami kerusakan kromosom dan kematian pada
paparan terhadap beberapa agen kimia tertentu. Telomer kebanyakan pendek pada pasien
anemia aplastik, dan mutasi pada gen yang berperan dalam perbaikan telomere
(TERC dan TERT ) dapat diidentifikasi pada beberapa orang dewasa dengan anomaly
akibat kegagalan sum-sum dan tanpa anomaly secara fisik atau dengan riwayat keluarga
dengan penyakit yang serupa. Anemia aplasia sepertinya tidak disebabkan oleh kerusakan
stroma atau produksi faktor pertumbuhan.

Kerusakan akibat Obat.

Kerusakan ekstrinsik pada sum-sum terjadi setelah trauma radiasi dan kimiawi seperti
dosis tinggi pada radiasi dan zat kimia toksik. Untuk reaksi idiosinkronasi yang paling
sering pada dosis rendah obat, perubahan metabolisme obat kemungkinan telah memicu
mekanisme kerusakan. Jalur metabolisme dari kebanyakan obat dan zat kimia, terutama
jika bersifat polar dan memiliki keterbatasan dalam daya larut dengan air, melibatkan
degradasi enzimatik hingga menjadi komponen elektrofilik yang sangat reaktif (yang
disebut intermediate); komponen ini bersifat toxic karena kecenderungannya untuk
berikatan dengan makromolekul seluler. Sebagai contoh, turunan hydroquinones dan
quinolon berperan terhadap cedera jaringan. Pembentukan intermediat metabolit yang
berlebihan atau kegagalan dalam detoksifikasi komponen ini kemungkinan akan secara
genetic menentukan namun perubahan genetis ini hanya terlihat pada beberapa obat;
kompleksitas dan spesifitas dari jalur ini berperan terhadap kerentanan suatu loci dan
dapat memberikan penjelasan terhadap jarangnya kejadian reaksi idiosinkronasi obat.

Table 3: Beberapa Obat dan Zat Kimia yang Berkaitan dengan Anemia
Aplastik

1 Agen yang secara rutin menyebabkan depresi sum-sum sebagai toksisitas


utama pada dosis biasa atau paparan yang normal.
2 Obat sitotoksik yang digunakan dalam kemoterapi kanker : alkylating
agents, antimetabolites, antimitotics, beberapa antibiotic

3 Agen yang biasanya namun tidak mutlak menyebabkan aplasia sum-sum:


Benzene

4 Agen yang terkait dengan anemia aplasia namun dengan kemungkinan


yang relative rendah

Chloramphenicol

Insektisida

Antiprotozoa: quinacrine dan chloroquine, mepacrine

Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (termasuk phenylbutazone,


indomethacin, ibuprofen, sulindac, aspirin)

Anticonvulsants (hydantoins, carbamazapine, phenacemide, felbamate)

Heavy metals (gold, arsenic, bismuth, mercury)

Sulfonamides: beberapa antibiotics, obat antithyroid (methimazole,


methylthiouracil, propylthiouracil), obat antidiabetes (tolbutamide,
chlorpropamide), carbonic anhydrase

Antihistamines (cimetidine, chlorpheniramine)

D-Penicillamine

Estrogens (kehamilan)

4 Agen yang keterkaitan dengan anemia aplastik belum jelas:

Antibiotik lainnya (streptomycin, tetracycline, methicillin, mebendazole,


trimethoprim/sulfamethoxazole, flucytosine)

Sedatives dan tranquilizers (chlorpromazine, prochlorperazine,


piperacetazine, chlordiazepoxide, meprobamate, methyprylon)

Allopurinol, Lithium, Methyldopa, Quinidine, Guanidine, Potassium


perchlorate Thiocyanate, Carbimazole

Autoimun
Penyembuhan pada fungsi sum-sum pada beberapa pasien yang dipersiapkan untuk
transplantasi sum-sum dengan antilymphocyte globulin (ALG) menjelaskan bahwa anemia
aplastik kemungkinan dimediasi imun. Seperti dengan hipotesis ini adalah seringnya
kegagalan transplantasi sum-sum dari kembar syngeneic, kemoterapi sitotoksik tidak
dilakukan, keadaan ini menyangkal absennya sel bakal sebagai penyebab dan keberadaan
dari faktor resipien yang menciptakan kegagalan sum-sum. Data laboratorium
mendukung peranan penting sistem imun pada anemia aplastik. Sel darah dan sel sum-
sum tulang pada pasien dapat menekan pertumbuhan sel bakal normal dan diambilnya sel
T yang diamati pada sum-sum tulang pasien anemia aplastik dapat memperbaiki
pembentukan koloni in vitro. Peningkatan jumlah sel T sitotoksik yang aktif ditemukan
pada pasien anemia aplastik dan biasanya menurun dengan terapi immunosupressif;
penukuran sitokin menunjukkan respn imun TH1 (interferon dan tumor necrosis factor).
Interferon dan TNF memicu ekspresi Fas pada sel CD34, menyebabkan apoptosis.;
lokalisasi dari sel T yang teraktivasi pada sum-sum tulang dan produksi lokal pada faktor
pelarut kemungkinan penting dalam kerusakan sel bakal.

Kejadian sistem imun dini pada anemia aplastik belum dipahami dengan baik. Analisis
ekspresi reseptor sel T menunjukkan oligoklonal dan respon sel T sitotoksik akibat
antigen. Banyak antigen exogen berbeda sepertinya mampu untuk menginisiasi respon
imun patologis, namun paling tidak beberapa sel T kemungkinan dapat membedakan self-
antigen. Jarangnya anemia aplastik walaupun seringnya paparan zat pemicu (obat-obatan
dan virus hepatitis) menandakan bahwa respon imun yang ditentukan secara genetic dapat
mengkonversi respon fisiologis normal menjadi suatu proses autoimun abnormal yang
berkelanjutan, termasuk polymorphisme pada histokompabilitas antigen, gen sitokin, dang
en yang mengatur polarisasi sel T dan fungsi efektor.

Manifestasi klinik Kompleks gejala anemia aplastik berkaitan dengan pansitopenia.


Gejala-gejala lain yang berkaitan dengan anemia adalah defisiensi trombosit dan sel darah
putih.

Defisiensi trombosit dapat mengakibatkan:

(1) Ekimosis dan ptekie (perdarahan dalam kulit)

(2) Epistaksis (perdarahan hidung)

(3) Perdarahan saluran cerna

(4) Perdarahan saluran kemih

(5) Perdarahan susunan saraf pusat.

Defisiensi sel darah putih mengakibatkan lebih mudahnya terkena infeksi. Aplasia berat
disertai pengurangan atau tidak adanya retikulosit jumlah granulosit yang kurang dari
500/mm3 dan jumlah trombosit yang kurang dari 20.000 dapat mengakibatkan kematian
dan infeksi dan atau perdarahan dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. Namun
penderita yang lebih ringan dapat hidup bertahun- tahun. Pengobatan terutama
dipusatkan pada perawatan suportif sampai terjadi penyembuhan sumsum tulang. Karena
infeksi dan perdarahan yang disebabkan oleh defisiensi sel lain merupakan penyebab
utama kematian maka penting untuk mencegah perdarahan dan infeksi.

Anamnesis

Anemia aplastik dapat muncul dengan mendadak atau memiliki onset yang berkembang
dengan cepat. Perdarahan merupakan gejala awal yang paling sering terjadi; keluhan
mudah terjadi memar selama beberapa hari hingga minggu, gusi yang berdarah, mimisan,
darah menstruasi yang berlebihan, dan kadang-kadang peteki. Adanya thrombositopenia,
perdarahan massif jarang terjadi, namun perdarahan kecil pada sistem saraf pusat dapat
berbahaya pada intracranial dan menyebabkan perdarahan retina. Gejala anemia juga
sering terjadi termasuk mudah lelah, sesak napas, dan tinnitus pada telinga. Infeksi
merupakan gejala awal yang jarang terjadi pada anemia aplastik (tidak seperti pada
agranulositosis, dimana faringitis, infeksi anorektal, atau sepsis sering terjadi pada
permulaan penyakit). Gejala yang khas dari anemia aplastik adalah keterbatasan gejala
pada sistem hematologist dan pasien sering merasa dan sepertinya terlihat sehat walaupun
terjadi penurunan drastis pada hitung darah. Keluhan sistemik dan penurunan berat
badan sebaiknya mengarahkan penyebab pasitopenia lainnya. Adanya pemakaian obat
sebelumnya, paparan zat kimia, dan penyakit infeksi virus sebelumnya mesti diketahui.
Riwayat kelainan hematologis pada keluarga dapat mengindikasikan penyebab
konstitusional pada kegagalan sum-sum.

Pemeriksaan Fisik

Peteki dan ekimosis sering terjadi dan perdarahan retina dapat ditemukan. Pemeriksaan
pelvis dan rectal tidak dianjurkan namun jika dikerjakan, harus dengan hati-hati dan
menghindari trauma; karena pemeriksaan ini biasanya menyebabkan perdarahan dari
servikal atau darah pada tinja. Kulit dan mukosa yang pucat sering terjadi kecuali pada
kasus yang sangat akut atau yang telah menjalani transfusi. Infeksi pada pemeriksaan
pertama jarang terjadi namun dapat timbul jika pasien telah menjadi simptomatik setelah
beberapa minggu. Limfadenopati dan splenomegaly juga tidak sering terjadi pada anemia
aplastik. Bintik Caf au lait dan postur tubuh yang pendek merupakan tanda anemia
Fanconi; jari-jari yang aneh dan leukoplakia menandakan dyskeratosis congenital.

Pemeriksaan Laboratorium

Darah
Apusan menunjukkan eritrosit yang besar dan kurangnya platelet dan granulosit. Mean
corpuscular volume (MCV) biasanya meningkat. Retikulosit tidak ditemukan atau kurang
dan jumlah limfosit dapat normal atau sedikit menurun. Keberadaan myeloid immature
menandakan leukemia atau MDS; sel darah merah yang bernukleus menandakan adanya
fibrosis sum-sum atau invasi tumor; platelet abnormal menunjukkan adanya kerusakan
perifer atau MDS. Penderita mengalami pansitopenia yaitu kekurangan sel darah merah,
sel darah putih dan trombosit.

Secara morfologis sel-sel darah merah terlihat normositik dan normokrom, hitung
retikulosit rendah atau hilang dan biopsi sumsum tulang menunjukkan suatu keadaan
yang disebut pungsi kering dengan hipoplasia yang nyata dan terjadi pergantian dengan
jaringan lemak. Langkah-langkah pengobatan terdiri dari mengidentifikasi dan
menghilangkan agen penyebab. Namun pada beberapa keadaan tidak dapat ditemukan
agen penyebabnya dan keadaan ini disebut idiopatik. Beberapa keadaan seperti ini diduga
merupakan keadaan imunologis.

Sum Sum Tulang

Sum-sum tulang biasanya mudah diaspirasi namun menjadi encer jika diapuskan dan
biopsi specimen lemak terlihat pucat pada pengambilan. Pada aplasia berat, apusan dari
specimen aspirat hanya menunjukkan sel darah merah, limfosit residual, dan sel strome;
biopsy (dimana sebaiknya berukuran >1 cm) sangat baik untuk menentukan selularitas
dan kebanyakan menunjukkan lemak jika dilihat dibawah mikroskop, dengan sel
hematopoetik menempati <25% style="> sum-sum yang kosong, sedangkan hot-spot
hematopoiesis dapat pula terlihat pada kasus yang berat. Jika specimen pungsi krista
iliaka tidak adekuat, sel dapat pula diaspirasi di sternum. Sel hematopoietik residual
seharusnya mempunyai morfologi yang normal, kecuali untuk eritropoiesis megaloblastik
ringan; megakariosit selalu sangat berkurang dan biasanya tidak ditemukan. Sebaiknya
myeloblast dicari pada area sekitar spikula. Granuloma (pada specimen seluler) dapat
mengindikasikan etiologi infeksi dari kegagalan sum-sum.

Radiologi

Gambaran radiology yang sering ditemukan pada penderita anemia aplastik yaitu dengan
abnormalitas skelet, yang paling sering hipoplasia atau tidak adanya ibu jari dan anomaly
pergelangan tangan sisi radial.

- 50 % mengalami hipoplasia

- 25 % mengalami osteoporosis

- 25 % mengalami anomaly ginjal, ginjal atopik atau aplastik dan horse shoe kidney.
Diagnosis

Diagnosis anemia aplastik biasanya dilakukan dengan cepat, berdasar dari kombinasi
pansitopenia dengan sum-sum tulang kosong dan berlemak. Anemia aplastik merupakan
penyakit dewasa muda dan sebaiknya menjadi diagnosis utama pada seorang remaja atau
dewasa yang mengalami pansitopenia. Jika yang terjadi adalah pansitopenia sekunder,
diagnosis utama biasanya ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisis :
pembesaran limpa seperti pada sirosis alkoholik, riwayat metastasis kanker, atau sistemik
lupus eritematosus, atau tuberculosis miliar pada gambaran radiologi. Masalah
diagnosis dapat timbul dengan gambaran penyakit yang atipikal dan merata. Dimana
pansitopenia sangat umum terjadi, beberapa pasien dengan hiposelularitas pada sum-sum
memiliki penurunan hanya pada satu atau dua dari tiga jenis sel darah, seringkali
memperlihatkan perkembangan menjadi anemia aplastik yang jelas. Sum-sum tulang pada
anemia aplastik sulit dibedakan secara morfologis dengan aspirat pada penyakit didapat.
Diagnosis dapat dipengaruhi oleh riwayat keluarga, hitung jenis darah yang abnormal,
atau keberadaan dari anomali fisik yang terkait. Anemia aplasia lebih sulit dibedakan dari
variasi hiposeluler dari MDS : MDS ditandai dengan penemuan abnormalitas morfologis,
terutama megakariosit dan sel bakal myeloid, dan abnormalitas sitogenik tipikal.

Pencegahan anemia aplastik dan terapi yang di lakukan

Prinsip pengobatan yang dilakukan yaitu :

- Hilangkan penyebab

- Hindari trauma, terutama pada selaput lender dan kulit

- Hindari infeksi.

- Stimulasi sumsum tulang (Hemopoiesis) dimana hormone androgen mengalami


testosterone dan oksimetolon

- Melakukan transfuse darah seminimal mungkin, jika Hb 8 9 gr / dl

- Mengganti stem cell yang rusak dengan cara mentransplantasi sumsum tulang

Tindakan pencegahan dapat mencakup lingkungan yang dilindungi (ruangan dengan


aliran udara yang mendatar atau tempat yang nyaman) dan higiene yang baik. Pada
pendarahan dan/atau infeksi perlu dilakukan terapi komponen darah yang bijaksana,
yaitu sel darah merah, granulosit dan trombosit dan antibiotik. Agen-agen perangsang
sumsum tulang seperti androgen diduga menimbulkan eritropoiesis, tetapi efisiensinya
tidak menentu. Penderita anemia aplastik kronik dipertahankan pada hemoglobin (Hb)
antara 8 dan 9 g dengan tranfusi darah yang periodik.
Penderita anemia aplastik berusia muda yang terjadi secara sekunder akibat kerusakan sel
induk memberi respon yang baik terhadap tranplantasi sumsum tulang dari donor yang
cocok (saudara kandung dengan antigen leukosit manusia S[HLA] yang cocok). Pada
kasus-kasus yang dianggap terjadi reaksi imunologis maka digunakan globulin antitimosit
(ATG) yang mengandung antibodi untuk melawan sel T manusia untuk mendapatkan
remisi sebagian. Terapi semacam ini dianjurkan untuk penderita yang agak tua atau
untuk penderita yang tidak mempunyai saudara kandung yang cocok.

Penatalaksanaan Anemia Aplastik

Anemia aplastik dapat disembuhkan dengan penggantian sel hematopoietik yang hilang
(dan sistem imun) dengan transplantasi stem cell, atau dapat diringankan dengan
penekanan sistem imun untuk mempercepat penyembuhan fungsi sum-sum tulang
residual. Faktor pertumbuhan hematopoietik memiliki keterbatasan manfaat dan
glukokortikoid tidaklah bermanfaat. Paparan obat atau zat kimia yang dicurigai
sebaiknya dihentikan dan dihindari; namun, penyembuhan spontan dari penurunan sel
darah yang berat jarang terjadi, dan periode menunggu sebelum memulai penanganan
tidak dianjurkan kecuali hitung jenis darah hanya sedikit menurun. Tindakan lain, yaitu
diberikan :

- Kortikosteroid dengan trombositopenia berat

- Splenoktomi dengan kasus resisten

- Immunosupresif dengan kausa immunologic.

Prognosis

Sifat alami dari perkembangan anemia aplastik adalah penurunan kesehatan dan
kematian. Persiapan sel darah merah dan kemudian transfusi sel darah putih serta
antibiotic platelet terkadang berguna, namun hanya segelintir pasien memperlihatkan
penyembuhan spontan. Penentu utama prognosis adalah hitung darah, Prognosis
bertambah buruk jika ditemukan ciri-ciri sebagai berikut:

- Netrofil < 0,5 x 10 / L

- Platelet < 20 x 10 / L

- Retikulosit < 40 x 10 / L

Anemia Pasca Perdarahan

Definisi
Anemia Karena Perdarahan adalah berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah
hemoglobin (protein pengangkut oksigen) yang disebabkan oleh perdarahan.

Etiologi

Perdarahan hebat merupakan penyebab tersering dari anemia.


Jika kehilangan darah, tubuh dengan segera menarik cairan dari jaringan diluar
pembuluh darah sebagai usaha untuk menjaga agar pembuluh darah tetap terisi.
Akibatnya darah menjadi lebih encer dan persentase sel darah merah berkurang.

Pada akhirnya, peningkatan pembentukan sel darah merah akan memperbaiki anemia.
Tetapi pada awalnya anemia bisa sangat berat, terutama jika timbul dengan segera karena
kehilangan darah yang tiba-tiba, seperti yang terjadi pada:

- Kecelakaan

- Pembedahan

- Persalinan

- Pecahnya pembuluh darah.

Yang lebih sering terjadi adalah perdarahan menahun (terus menerus atau berulang-
ulang), yang bisa terjadi pada berbagai bagian tubuh: Perdarahan hidung dan wasir : jelas
terlihat.

Perdarahan pada tukak lambung dan usus kecil atau polip dan kanker usus besar) :
mungkin tidak terlihat dengan jelas karena jumlah darahnya sedikit dan tidak tampak
sebagai darah yang merah di dalam tinja; jenis perdarahan ini disebut perdarahan
tersembunyi.

Perdarahan karena tumor ginjal atau kandung kemih; bisa menyebabkan ditemukannya
darah dalam air kemih. Perdarahan menstruasi yang sangat banyak.

Gejala Klinis

Hilangnya sejumlah besar darah secara mendadak dapat menyebabkan 2 masalah:

- Tekanan darah menurun karena jumlah cairan di dalam pembuluh darah berkurang

- Pasokan oksigen tubuh menurun karena jumlah sel darah merah yang mengangkut
oksigen berkurang.

Kedua masalah tersebut bisa menyebabkan serangan jantung, stroke atau kematian.
Anemia yang disebabkan oleh perdarahan bisa bersifat ringan sampai berat, dan
gejalanya bervariasi. Anemia bisa tidak menimbulkan gejala atau bisa menyebabkan:
- pingsan

- pusing

- haus

- berkeringat

- denyut nadi yang lemah dan cepat

- pernafasan yang cepat.

Penderita sering mengalami pusing ketika duduk atau berdiri (hipotensi ortostatik).
Anemia juga bisa menyebabkan kelelahan yang luar biasa, sesak nafas, nyeri dada dan
jika sangat berat bisa menyebabkan kematian. Berat ringannya gejala ditentukan oleh
kecepatan hilangnya darah dari tubuh. Jika darah hilang dalam waktu yang singkat
(dalam beberapa jam atau kurang), kehilangan sepertiga dari volume darah tubuh bisa
berakibat fatal.

Jika darah hilang lebih lambat (dalam beberapa hari, minggu atau lebih lama lagi),
kehilangan sampai dua pertiga dari volumer darah tubuh bisa hanya menyebabkan
kelelahan dan kelemahan atau tanpa gejala sama sekali.

Manifestasi klinis menurut Brunner dan Suddart (2001):

a) Pengaruh yang timbul segera

Akibat kehilangan darah yang cepat terjadi reflek cardia vaskuler yang fisiologis berupa
kontraksi orteiola, pengurangan cairan darah atau komponennya ke organ tubuh yang
kurang vital (otak dan jantung). Gejala yang timbul tergantung dari cepat dan banyaknya
darah yang hilang dan apakah tubuh masih dapat mengadakan kompensasi. Kehilangan
darah 200 ml pada orang dewasa yang terjadi dengan cepat dapat lebih berbahaya
daripada kehilangan darah sebanyak 3000ml dalam waktu yang lama.

b) Pengaruh lambat

Beberapa jam setelah perdarahan terjadi pergeseran cairan ekstraseluler dan


intravaskuler yaitu agar isi iontravaskuler dan tekanan osmotik dapat dipertahankan
tetapi akibatnya terjadi hemodilati. Gejala yang ditemukan adalah leukositosis (15.000-
20.000/mm3) nilai hemoglobin, eritrosit dan hematokrit merendah akibat hemodilasi.
Untuk mempertahankan metabolisme, sebagai kompensasi sistem eritropoenik menjadi
hiperaktif, kadang-kadang terlihat gejala gagal jantung. Pada orang dewasa keadaan
hemodelasi dapat menimbulkan kelainan cerebral dan infark miokard karena hipoksemia.
Sebelum ginjal kembali normal akan ditemukan oliguria atau anuria sebagai akibat
berkurangnya aliran ke ginjal.
Penatalaksanaan

Pengobatan tergantung kepada kecepatan hilangnya darah dan beratnya anemia yang
terjadi. Satu-satunya pengobatan untuk kehilangan darah dalam waktu yang singkat atau
anemia yang berat adalah transfusi sel darah merah. Selain itu, sumber perdarahan harus
ditemukan dan perdarahan harus dihentikan. Jika darah hilang dalam waktu yang lebih
lama atau anemia tidak terlalu berat, tubuh bisa menghasilkan sejumlah sel darah merah
yang cukup untuk memperbaiki anemia tanpa harus menjalani transfusi. Zat besi yang
diperlukan untuk pembentukan sel darah merah juga hilang selama perdarahan.
Karena itu sebagian besar penderita anemia juga mendapatkan tambahan zat besi,
biasanya dalam bentuk tablet.

Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan oleh pemecahan eritrosit yang
meningkat. Normal masa hidup sel eritrosit dalam sirkulasi darah berkisar diantara 100-
120 hari. Setelah kira-kira 120 hari eritrosit tersebut mengalami penghancuran oleh sistim
RE, terutama di limpa. Apabila proses penghancuran tersebut berlangsung lebih cepat
dari waktu yang tersebut diatas maka umur eritrosit memendek.

Timbulnya anemia akibat faktor yang lebih mendasar yaitu ketidakmampuan sumsum
tulang meningkatkan produksi eritrosit yang cukup sebagai kompensasi dari umur
eritrosit yang memendek. Bila sumsum tulangnya normal, maka dia mampu untuk
mengkompensasi berkurangnya umur eritrosit 4-6 kali dan mencegah terjadinya anemia
sehingga terjadilah keadaan yang disebut penyakit hemolitik terkompensasi. Banyak hal
yang dapat menyebabkan hemolitik, sebaiknya penyebab-penyebab hemolitik tersebut
dibagi 2 kategori:

1. Kelainan intra korpuskular. Hampir selalu herediter, dimana eritrosit abnormal sejak
pembentukannya dalam sumsum tulang.

2. Kelainan ekstra korpuskular. Hampir selalu didapat sesudah lahir, dimana eritrosit
dibentuk normal oleh sumsum tulang tetapi rusak oleh sesuatu didalam sirkulasi.

Anemia hemolitik herediter biasanya disebabkan cacat intrinsik eritrosit. Darah normal
yang ditransfusikan bertahan sama lama pada pasien ini seperti pada resipient sehat.
Anemia hemolitik didapat biasanya merupakan perubahan ekstra korpuskular atau
lingkungan, darah normal yang ditransfusikan akan mempunyai umur yang sama pendek
seperti sel eritrosit pasien itu sendiri.

Klasifikasi

a) Anemia hemolitik herediter.


1. Cacat pada membran.

2. Cacat pada metabolisme.

3. Cacat pada hemoglobin.

b) Anemia hemolitik didapat

1. Gangguan proses immunologis

- Anemia hemolitik autoimmun

- Isoimun

2. Sindrom fragmentasi

3. Hipersplenisme

4. Skunder :

- Penyakit ginjal

- Penyakit hati

5. Paroxysimal Nocturnal Hemoglobin (PNH)

6. Lain-lain ; infeksi, zat kimia, toksin, obat-obatan.

Pada beberapa penelitian sering ditemukan masa hidup eritrosit memendek pada
penderita sirosis hati. Mengapa terjadi penurunan umur eritrosit ini, alasanya belum
diketahui dengan pasti. Pada sirosis hati dijumpai adanya perubahan yang khas pada lipid
membran eritrosit, dimana rasio kolesterol dan fosfolipid membran eritrosit berubah dan
sebagai akibatnya terbentuk kelainan morfologi eritrosit berupa makrosit tipis, target sel
dan makrosit tebal. Bila kegagalan fungsi hati semakin berat, penimbunan kolesterol
dalam membran eritrosit tanpa disertai penimbunan lesitin mengakibatkan terbentuknya
spur sel (sel taji, akantosis). Dengan terbentuknya spur sel, umur eritrosit menjadi
memendek, karena terjadi hemolisis dan menandakan penyakit hati menjadi berat dan
mempunyai prognosa jelek. Disamping itu hemolisis juga diakibatkan oleh abnormalitas
metabolisme eritrosit, dengan terbentuknya Heinzbodies dan adanya penurunan ATP
pada hipofosfatemia, serta oleh adanya hipersplenisme yang menyebabkan umur eritrosit
memendek.

Gejala Klinis

Gambaran klinis suatu anemia tergantung kepada :

a) Tingkat anemia (berat, sedang, dan ringan).


b) Etiologi anemia.

c) Kecepatan terjadinya anemia (akut atau kronis).

d) Umur penderita.

e) Kemampuan sistem kardiovaskular dan pulmonal untuk melakukan kompensasi akibat


anemia.

Apabila terjadi anemia pada seorang penderita maka kemampuan hemoglobin sebagai
pengangkut oksigen dari paru-paru sampai keseluruh jaringan tubuh akan mengalami
gangguan. Kapasitas pengangkut O2 akan menurun sampai batas tertentu kesetiap
jaringan dan menimbulkan hipoksia jaringan. Akibat hipoksia, setiap jaringan akan
menimbulkan reaksi berupa gejala dan tanda yang khas untuk masing- masing organ
tubuh terutama organ vital seperti otak, jantung, paru-paru, vaskular, dan
muskuloskeletal.

Pada ummunya, gejala dan tanda anemia adalah mudah lemah, terutama waktu bekerja,
pucat pada selaput lendir mulut dan mata, gangguan kardiovaskular, jantung berdebar-
debar, nadi cepat atau sesak nafas. Adanya rasa nyeri pada dada (angina) bila disertai
iskemia.

Gejala dan tanda amemia hemolitik secara umum pasien kelihatan pucat, ikterus serta
splenomegali.

Pemeriksaan laboratorium

Hasil laboratorium dibagi menjadi 3 kelompok :

a) Gambaran peningkatan penghancuran eritrosit :

1. Bilirubin serum meningkat, terutama inderek.

2. Urobilinogen urin meningkat.

3. Sterkobilinogen feses meningkat.

4. Haptoglobin serum tidak ada karena kompleks hemoglobin-hemoglobin ditarik oleh RE


sel.

b) Gambaran peningkatan produksi eritrosit :

1. Retikulositosis.

2. Hiperplasia eritrosit sumsum tulang.

c) Eritrosit rusak :
1. Fragilitas Osmotik, otohemolitis dan sebagainya.

2. Umur eritrosit memendek. Terbaik diperlihatkan oleh penandaan (labelling) 51Cr


dengan pemeriksaan tempat -tempat destruksi.

3. Morfologi : mikrosferosit, anisopoikilositosis, burr cell, hipokrom mikrositer, target cell,


sickle cell, sferosit.

Penatalaksanaan Penatalaksanaan anemia hemolitik disesuaikan dengan penyebabnya.


Bila karena reaksi toksik imunologik yang didapat diberikan adalah kortikosteroid
(prednison, prednisolon) kalau perlu dilakukan splenektomi. Apabila keduanya tidak
berhasil, dapat diberikan obat-obatan sitostatik seperti klorambusil dan siklofosmid.
Mengingat insiden yang besar pada autoimun anemia hemolitik, maka jenis anemia ini
akan dibahas secara khusus seperti di bawah ini.

Anemia Hemolitik Autoimun (AIHA)

Kadang-kadang sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan fungsi dan menghancurkan


selnya sendiri karena keliru mengenalinya sebagai bahan asing (reaksi autoimun). Jika
suatu reaksi autoimun ditujukan kepada sel darah merah, akan terjadi anemia hemolitik
autoimun. Anemia hemolitik autoimun memiliki banyak penyebab, tetapi sebagian besar
penyebabnya tidak diketahui (idiopatik).

Anemia hemolitik autoimun dibedakan dalam dua jenis utama, yaitu anemia hemolitik
antibodi hangat (paling sering terjadi) dan anemia hemolitik antibodi dingin.:

Antibodi tipe hangat (warm type) yang aktif pada suhu 37C (85%)

Antibodi tipe dingin (cold type) yang aktif pada suhu 4C (15%).

a. Anemia Hemolitik Antibodi Hangat.

Anemia Hemolitik Antibodi Hangat adalah suatu keadaan dimana tubuh membentuk
autoantibodi yang bereaksi terhadap sel darah merah pada suhu tubuh.

Autoantibodi ini melapisi sel darah merah, yang kemudian dikenalinya sebagai benda
asing dan dihancurkan oleh sel perusak dalam limpa atau kadang dalam hati dan sumsum
tulang.

Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita. Sepertiga penderita anemia jenis ini
menderita suatu penyakit tertentu (misalnya limfoma, leukemia atau penyakit jaringan
ikat, terutama lupus eritematosus sistemik) atau telah mendapatkan obat tertentu, terutama
metildopa. Gejalanya seringkali lebih buruk daripada yang diperkirakan, mungkin karena
anemianya berkembang sangat cepat. Limpa biasanya membesar, sehingga bagian perut
atas sebelah kiri bisa terasa nyeri atau tidak nyaman.

Pengobatan tergantung dari penyebabnya. Jika penyebabnya tidak diketahui, diberikan


kortikosteroid (misalnya prednison) dosis tinggi, awalnya melalui intravena , selanjutnya
per-oral (ditelan).

Sekitar sepertiga penderita memberikan respon yang baik terhadap pengaobatan tersebut.
Penderita lainnya mungkin memerlukan pembedahan untuk mengangkat limpa, agar
limpa berhenti menghancurkan sel darah merah yang terbungkus oleh autoantibodi.
Pengangkatan limpa berhasil mengendalikan anemia pada sekitar 50% penderita. Jika
pengobatan ini gagal, diberikan obat yang menekan sistem kekebalan (misalnya
siklosporin dan siklofosfamid).

Transfusi darah dapat menyebabkan masalah pada penderita anemia hemolitik autoimun.
Bank darah mengalami kesulitan dalam menemukan darah yang tidak bereaksi terhadap
antibodi, dan transfusinya sendiri dapat merangsang pembentukan lebih banyak lagi
antibodi.

b. Anemia Hemolitik Antibodi Dingin.

Anemia Hemolitik Antibodi Dingin adalah suatu keadaan dimana tubuh membentuk
autoantibodi yang bereaksi terhadap sel darah merah dalam suhu ruangan atau dalam
suhu yang dingin. Anemia jenis ini dapat berbentuk akut atau kronik.

Bentuk yang akut sering terjadi pada penderita infeksi akut, terutamapneumonia tertentu
atau mononukleosis infeksiosa. Bentuk akut biasanya tidak berlangsung lama, relatif
ringan dan menghilang tanpa pengobatan.

Bentuk yang kronik lebih sering terjadi pada wanita, terutama


penderitarematik atau artritis yang berusia diatas 40 tahun. Bentuk yang kronik biasanya
menetap sepanjang hidup penderita, tetapi sifatnya ringan dan kalaupun ada, hanya
menimbulan sedikit gejala.

Cuaca dingin akan meningkatkan penghancuran sel darah merah, memperburuk nyeri
sendi dan bisa menyebabkan kelelahan dan sianosis(tampak kebiruan) pada tangan dan
lengan. Penderita yang tinggal di daerah bercuaca dingin memiliki gejala yang lebih berat
dibandingkan dengan penderita yang tinggal di iklim hangat.

Diagnosis ditegakkan jika pada pemeriksaan laboratorium ditemukan antibodi pada


permukaan sel darah merah yang lebih aktif pada suhu yang lebih rendah dari suhu
tubuh. Tidak ada pengobatan khusus, pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala-
gejalanya. Bentuk akut yang berhubungan dengan infeksi akan membaik degnan
sendirinya dan jarang menyebabkan gejala yang serius. Menghindari cuaca dingin bisa
mengendalikan bentuk yang kronik.

Hemoglobinuria Paroksismal Nokturnal

Definisi Hemoglobinuria Paroksismal Nokturnal adalah anemia hemolitik yang jarang


terjadi, yang disebabkan serangan mendadak dan berulang dari penghancuran sel darah
merah oleh sistem kekebalan. Penghancuran sejumlah besar sel darah merah yang terjadi
secara mendadak (paroksismal), bisa terjadi kapan saja, tidak hanya pada malam hari
(nokturnal), menyebabkan hemoglobin tumpah ke dalam darah.

Ginjal menyaring hemoglobin, sehingga air kemih berwarna gelap (hemoglobinuria).


Anemia ini lebih sering terjadi pada pria muda, tetapi bisa terjadi kapan saja dan pada
jenis kelamin apa saja. Penyebabnya masih belum diketahui. Penyakit ini bisa
menyebabkan kram perut atau nyeri punggung yang hebat dan pembentukan bekuan
darah dalam vena besar dari perut dan tungkai. Diagnosis ditegakkan dengan
pemeriksaan laboratorium yang bisa menemukan adanya sel darah merah yang abnormal,
khas untuk penyakit ini. Untuk meringankan gejala diberikan kortikosteroid (misalnya
prednison).

Penderita yang memiliki bekuan darah mungkin memerlukan antikoagulan(obat yang


mengurangi kecenderungan darah untuk membeku, misalnya warfarin). Transplantasi
sumsum tulang bisa dipertimbangkan pada penderita yang menunjukkan anemia yang
sangat berat.

Etiologi
Sejumlah faktor dapat meningkatkan penghancuran sel darah merah:

- Pembesaran limpa (splenomegali)

- Sumbatan dalam pembuluh darah

- Antibodi bisa terikat pada sel darah merah dan menyebabkan sistem kekebalan
menghancurkannya dalam suatu reaksi autoimun

- Kadang sel darah merah hancur karena adanya kelainan dalam sel itu sendiri (misalnya
kelainan bentuk dan permukaan, kelainan fungsi atau kelainan kandungan hemoglobin)

- Penyakit tertentu (misalnya lupus eritematosus sistemik dan kanker tertentu,


terutama limfoma)

- Obat-obatan (misalnya metildopa, dapson dan golongan sulfa).

Gejala Klinis
Gejala dari anemia hemolitik mirip dengan anemia yang lainnya. Kadang-kadang hemolisis
terjadi secara tiba-tiba dan berat, menyebabkan krisis hemolitik, yang ditandai dengan:

- demam

- menggigil

- nyeri punggung dan nyeri lambung

- perasaan melayang

- penurunan tekanan darah yang berarti.

Sakit kuning (jaundice) dan air kemih yang berwarna gelap bisa terjadi karena bagian dari
sel darah merah yang hancur masuk ke dalam darah. Limpa membesar karena menyaring
sejumlah besar sel darah merah yang hancur, kadang menyebabkan nyeri perut. Hemolisis
yang berkelanjutan bisa menyebabkan batu empedu yang berpigmen, dimana batu
empedu berwarna gelap yang berasal dari pecahan sel darah merah.

ANEMIA MAKROSITIK NORMOKROM

Anemia Megaloblastik

Anemia yang disebabkan karena kekurangan Vitamin B12 dan asam folat.

Etiologi

Faktor diet.

Asupan gizi yang kurang mengandung vit B12 dan asam folat. Vit B 12 banyak pada
produk2 hewani. Asam folat banyak pada hati, sayuran hijau.

2. Malabsorbsi.

Dari faktor lambung, ileal resection, jejunal resection, gluten enteropathy Chrons disease.

3. Turnover yang meningkat.

Kehamilan, prematur, penyakit keganasan, anemia hemolitik kronik (sickle cell an)

4. Renal loss.

Defisiensi folat, Congestive Heart Failure, Dialisa.

5. Obat-obatan.

Obat anti kejang, sulphasalazine dan alkohol.


Anemia megaloblastik sering disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam folat yang
mengakibatkan sintesis DNA terganggu. Defisiensi ini mungkin sekunder karena
malnutrisi, malabsorpsi, kekurangan faktor intrinsik (seperti terlihat pada anemia
pernisiosa dan postgastrekomi) infestasi parasit, penyakit usus dan keganasan, serta agen
kemoterapeutik. Individu dengan infeksi cacing pita (dengan Diphyllobothrium latum)
akibat makan ikan segar yang terinfeksi, cacing pita berkompetisi dengan hospes dalam
mendapatkan vitamin B12 dari makanan, yang mengakibatkan anemia megaloblastik
(Beck, 1983).

Walaupun anemia pernisiosa merupakan prototip dari anemia megaloblastik defisiensi


folat lebih sering ditemukan dalam praktek klinik. Anemia megaloblastik sering kali
terlihat pada orang tua dengan malnutrisi, pecandu alkoholatau pada remaja dan pada
kehamilan dimana terjadi peningkatan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fetus dan
laktasi. Kebutuhan ini juga meningkat pada anemia hemolitik, keganasan dan
hipertiroidisme. Penyakit celiac dan sariawan tropik juga menyebabkan malabsorpsi dan
penggunaan obat-obat yang bekerja sebagai antagonis asam folat juga mempengaruhi.

Pemeriksaan Penunjang:

Serum Vit B12 assay.

Serum & red cell folat assay.

Tes fungsi hati dan fungsi tiroid

Hitung retikulosit

Serum protein elektroforesis.

Serum parietal cell & intrinsic factor antibodies.

Sumsum tulang (untuk membedakan dengan myelodisplasia, aplastic anemia, myeloma)

Endoscopy. (gastric biopsy untuk B12 defisiensi atau duodenal biopsy untuk folat
defisiensi)

Gejala klinis

Gejala anemia, ikterus ringan, Glositis (lidah warna merah daging dan nyeri, Stomatitis
angularis, gejala malabsorbsi ringan.

Gambaran pada pemeriksaan darah :

Indeks erytrocyt : MCV > 100 fl


Hapusan darah tepi : anisositosis, poikilositosis, ovalosit, Howell jolly bodies, Oval
macrocyt, hipersegmented neutrophil nuclei.

Pada kasus yang berat bisa terjadi penurunan jumlah WBC dan Platelet.

Pencegahan anemia pada penderita anemia megaloblastik

Kebutuhan minimal folat setiap hari kira-kira 50 mg mudah diperoleh dari diet rata-rata.
Sumber yang paling melimpah adalah daging merah (misalnya hati dan ginjal) dan
sayuran berdaun hijau yang segar. Tetapi cara menyiapkan makanan yang benar juga
diperlukan untuk menjamin jumlah gizi yang adekuat.

Misalnya 50% sampai 90% folat dapat hilang pada cara memasak yang memakai banyak
air. Folat diabsorpsi dari duodenum dan jejunum bagian atas, terikat pada protein plasma
secara lemah dan disimpan dalam hati. Tanpa adanya asupan folat persediaan folat
biasanya akan habis kira-kira dalam waktu 4 bulan. Selain gejala-gejala anemia yang
sudah dijelaskan penderita anemia megaloblastik sekunder karena defisiensi folat dapat
tampak seperti malnutrisi dan mengalami glositis berat (radang lidah disertai rasa sakit),
diare dan kehilangan nafsu makan. Kadar folat serum juga menurun (<4 mg/ml).

Penatalaksanaan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya pengobatan bergantung pada identifikasi dan
menghilangkan penyebab dasarnya. Tindakan ini adalah memperbaiki defisiensi diet dan
terapi pengganti dengan asam folat atau dengan vitamin B12. penderita kecanduan alkohol
yang dirawat di rumah sakit sering memberi respon spontan bila di berikan diet
seimbang.

Anemia Perniciosa

Penyakit ini mengenai semua sel tubuh yang disebabkan karena malabsorbsi vit B12. Hal
ini bisa dikarenakan kekurangan factor intrinsic lambung karena autoimun terhadap sel
parietal lambung. Wanita lebih banyak daripada Pria. Terutama pada usia 45 65 tahun.
Seringkali berhubungan dengan orang dengan golongan darah A.

Gejala Klinik

- kelelahan dan kelemahan retinal haemorrhages

- dyspnoea lemon tinge to skin

- paraesthesia retrobulbar neuritis

- Sore red tongue mild splenomegali

- Diarrhea, dementia mild pyrexia ( < 38 C )


Etiologi

- Menurunnya asupan vit B12: vegetarian, alcohol, geriatri.

- Defisiensi intrinsic factor (protein yang membantu penyerapan absorbsi vitamin B12 di
lambung.

- Gangguan di usus (Chrons disease dan lain-lain).

Pemeriksaan Penunjang

Gambaran pada pemeriksaan darah :

- Hb 3 11 g/dl, MCV >110 fl, hipersegmented PMN.

- Mild neutropenia, mild trombositopenia.

- Hapusan darah tepi : anemia makrositter.

Schilling test :

- untuk menentukan defek malabsorbsi vit B 12 .

Penatalaksanaan

Prinsip terapi pada anemia perniciosa ini adalah dengan mencukupi kebutuhan Vitamin
B12 yang kurang dengan penambahan suplemen vitamin B12, mencegah komplikasi dan
memberikan terapi apabila ada penyakit yang mendasari terjadinya anemia perniciosa.

Sindroma Mielodisplastik

Definisi

Sindroma Dismielopoetik (SDM) primer adalah suatu sindrom yang di tandai oleh displasi
dari sistem hemopoetik (dysmyelopoesis, dyserthoropoesis, dandysthrombopoesis), baik
tunggal maupun campuran, disertai dengan gangguan maturasi dan diferensiasi yang
sebelumnya belum diketahui. Jika penyebabnya diketahui disebut SDM sekunder,
misalnya defisiensi vitamin B12atau defisiensi asam folat, pengobatan sitostatik, dan
sebagainya.

SDM pada umumnya terjadi pada usia lanjut dengan rerata umur 60-75 tahun; laki-laki
sedikit lebih sering daripada perempuan dan penyebabnya sampai saat ini masih belum
diketahui.

SDM primer ini meliputi penyakit-penyakit yang sebelumnya disebut sebagai


preleukemia, smouldering leukemia, oligoblastic leukemia, hemopoetic dysplasia, sindrom
mielodisplastik, primary acquired sideroblastic anemia. Manifestasi klinisnya disebabkan
karena adanya sitopeni, baik tunggal maupun kombinasi, yaitu keluhan-keluhan anemi
yang membangkang, perdarahan karena trombopeni, dan adanya granulositopeni dengan
segala akibatnya.

Gejala Klinis

SDM sering ditemukan pada pasien usia lanjut antara umur 60-75 tahun, dan pada
sebagian kasus pada umur < 50 tahun; laki-laki sedikit lebih sering daripada perempuan.
Keluhan dan gejala secara umum lebih dikaitkan dengan adanya sitopenia. Umumnya
pasien datang dengan keluhan cepat lelah, lesu yang disebabkan anemia. Perdarahan
karena trombositopenia dan infeksi atau panas yang dikaitkan dengan
leukopenia/neutropeni juga dapat menjadi keluhan pasien walaupun sedikit kurang sering.
Pada sebagian kecil dan sangat jarang dari pasien terjadi splenomegali atau hepatomegali

Diagnosis

Diagnosis SDM dipertimbangkan untuk setiap pasien dewasa yang disertai gejala-gejala
sebagai berikut :

Anemi dan/perdarahan-perdarahan dan/febris yang tidak jelas sebabnya dan refrakter


terhadap pengobatan.

Pemeriksaan darah tepi menunjukkan adanya sitopeni dari satu atau lebih sistem darah.

Adanya sel-sel muda/blas dalam jumlah sedikit (< 30%) dengan atau tanpa monositosis
darah tepi.

Sumsum tulang dapat hipo, normo, atau hiperselular dengan disertai displasi sistem
hemopoesis (anomali Pelger-Huet, perubahan megaloblastik, peningkatan ringan sel-sel
blas dan sebagainya).

Namun gambaran-gambaran tersebut tidak dapat dimasukkan dalam diagnosis yang jelas
dari penyakit-penyakit lain seperti ITP, leukemi, anemi aplastik, dan lain-lain.

Diagnosis SDM ditetapkan bila ada butir satu ditambah paling sedikit tiga dari butir dua.

Sebenarnya untuk diagnosis SDM perlu dibantu dengan pemeriksaan pembiakan sel-sel
sumsum tulang dan pemeriksaan sitogenetik. Sitogenetik sumsum tulang dapat
memberikan informasi prognosis dan adanya abnormalitas kromosom yang merupakan
kunci untuk membedakan SDM primer dan sekunder. Kromosom abnormal sumsum
tulang ditemukan pada 30 50 % pasien SDM de novo. Berbagai kelainan sitogenetik pada
SDM termasuk delesi, trisomi, monosomi dan anomali struktur.

Klasifikasi Penggolongan SDM menurut kriteria FAB adalah:


Refractory Anemia (RA)

Refractory Anemia with Ringed Sideroblast (RARS)

Refractory Anemia with Excessive Blast (RAEB)

RAEB in Transformation to Leukemia (RAEBt)

Chronic Myelo-Monocytic Leukemia (CMML).

Penggolongan lain yang diusulkan WHO untuk SDM adalah:

Refractory Anemia (RA)

Refractory Anemia with Ringed Sideroblast (RARS)

Refractory Cytopenia with Multilineage Dysplasia (RCMD)

Refractory Anemia with Excessive Blast (RAEB-type 1 = 5 9 % blast in blood or marrow


and RAEB-type 2 = 10 19 % blast in blood or marrow)

5q-syndrome

therapy-related myelodysplastic syndrome

Myelodysplastic syndrome unclassified.

SDM seharusnya dibedakan dengan myeloproliferative disorder yang lain dan beberapa
variasi dari SDM sekunder termasuk defisiensi nutrisi, proses infeksi, efek obat dan toxic
exposures.

Penatalaksanaan Beberapa regimen terapi telah digunakan pada pasien SDM, tetapi
sebagian besar tidak efektif di dalam merubah perjalanan penyakitnya. Karena itu
pengobatan pasien SDM tergantung dari usia, berat ringannya penyakit dan progresivitas
penyakitnya. Pasien dengan klasifikasi RA dan RAEB pada umumnya
bersifat indolent sehingga tidak perlu pengobatan spesifik, cuma suportif saja.

Cangkok Sumsum Tulang (Bone Marrow Transplatation)

Cangkok sumsum tulang alogenik merupakan pengobatan utama pada SDM terutama
dengan usia < 30 tahun, dan merupakan terapi kuratif, tetapi masih merupakan pilihan <
5% dari pasien.

Kemoterapi

Pada fase awal dari SDM tidak dianjurkan untuk diberikan kemoterapi, umumnya
diberikan pada tipe RAEB, RAEB-T, CMML. Sejak tahun 1968 pengobatan ARA-C dosis
rendah yang diberikan pada pasien SDM dapat memberikan response rate antara 50 75
% dan respons ini tetap bertahan 2 14 bulan setelah pengobatan. Dosis ARA-C yang
direkomendasikan adalah 20 mg/m2/hari secara drip atau 10 mg/m2/hari secara subkutan
setiap 12 jam selama 21 hari.

GM-CSF atau G-CSF

Pada pasien SDM yang mengalami pansitopeni dapat diberikan GM-CSF atau G-CSF
untuk merangsang diferensiasi dari hematopoetic progenitor cells. GM-CSF diberikan
dengan dosis 30 500 mcg/m2/hari atau G-CSF 50 1600 mcg/m2/hari (0,1 0,3
mcg/kgBB/hari/subkutan) selama 7 14 hari.

Lain-lain

Piridoksin, androgen, danazol, asam retinoat dapat digunakan untuk pengobatan pasien
SDM. Piridoksin dosis 200 mg/hari selama 2 bulan kadang-kadang dapat memberikan
respon pada tipe RAEB walaupun sangat kecil. Danazol 600 mg/hari/oral dapat
memberikan response rate 21 33 % setelah tiga minggu pengobatan.

Prognosis Pada sebagian besar SDM mempunyai perjalanan klinis menjadi kronis dan
secara bertahap terjadi kerusakan pada sitopeni. Survival sangat bervariasi dari beberapa
minggu sampai beberapa tahun. Kematian dapat terjadi pada 30 % pasien yang progresif
menjadi AML (Acute Myelogenic Leukemia) atau bone marrow failure.

Indikator prognosis yang baik pada MDS :

Usia lebih muda

Normal atau berkurangnya trombosit dan neutrofil dalam jumlah sedang

Jumlah sel blas yang rendah pada sumsum tulang (< 20 %) atau tidak dijumpainya sel blas
di dalam darah

Tidak dijumpai Auer Rods

Kumpulan sideroblas

Indikator prognosis yang buruk pada MDS :

Usia lanjut

Neutropenia dan trombositopenia yang berat

Jumlah blas yang tinggi pada sumsum tulang (20 29 %) dan dijumpai sel blas di dalam
darah
Dijumpai Auer Rods

Tidak ditemukannya kumpulan sideroblas

ANEMIA MIKROSITIK HIPOKROM

Anemia Defisiensi Besi (Fe)

Definisi

Secara definisi, anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat
besi dalam tubuh sehingga kebutuhan besi untuk eritropoesis tidak cukup yang ditandai
dengan gambaran sel darah merah yang hipokrom mikrositik, kadar besi serum dan
saturasi (jenuh) transferin menurun, mampu ikat besi total (TIBC) meninggi dan
cadangan besi dalam sumsum tulang dan tempat lain sangat kurang atau tidak ada sama
sekali.

Anemia defisiensi besi secara morfologis diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik


hipokrom disertai penurunan kuantitatif pada sintetis hemoglobin.

Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia di dunia. Khususnya terjadi pada
wanita usia subur, sekunder karena kehilangan darah sewaktu menstruasi dan
peningkatan kebutuhan besi selama hamil.

Etiologi

Penyebab lain defisiensi besi adalah:

(1) Asupan besi yang tidak cukup misalnya pada bayi yang diberi makan susu belaka
sampai usia antara 12-24 bulan dan pada individu tertentu yang hanya memakan sayur-
sayuran saja;

(2) Gangguan absorpsi seperti setelah gastrektomi dan

(3) Kehilangan darah yang menetap seperti pada perdarahan saluran cerna yang lambat
karena polip, neoplasma, gastritis varises esophagus, hemoroid dan konsumsi aspirin.

Dalam keadaan normal tubuh orang dewasa rata-rata mengandung 3 sampai 5 gr besi,
bergantung pada jenis kelamin dan besar tubuhnya. Hampir dua pertiga besi terdapat
dalam hemoglobin yang dilepas pada proses penuaan serta kematian sel dan diangkut
melalui transferin plasma ke sumsum tulang untuk eritropoiesis. Dengan kekecualian
dalam jumlah yang kecil dalam mioglobin (otot) dan dalam enzim-enzim hem, sepertiga
sisanya disimpan dalam hati, limpa dan dalam sumsum tulang sebagai feritin dan sebagai
hemosiderin untuk kebutuhan-kebutuhan lebih lanjut.

Patogenesis anemia defisiensi besi


Walaupun dalam diet rata-rata terdapat 10 20 mg besi, hanya sampai 5% 10% (1 2
mg) yang sebenarnya sampai diabsorpsi. Pada persediaan besi berkurang maka besi dari
diet tersebut diserap lebih banyak. Besi yang dimakan diubah menjadi besi fero dalam
lambung dan duodenum; penyerapan besi terjadi pada duodenum dan jejunum proksimal.
Kemudian besi diangkut oleh transferin plasma ke sumsum tulang untuk sintesis
hemoglobin atau ke tempat penyimpanan di jaringan.

Anemia defisiensi besi terjadi sebagai akibat dari gangguan balans zat besi yang negatif,
jumlah zat besi (Fe) yang diabsorbsi tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Pertama -tama
balans Fe yang negatif ini oleh tubuh diusahakan untuk diatasinya dengan cara
menggunakan cadangan besi dalam jaringan-jaringan depot. Pada saat cadangan besi
tersebut habis, baru anemia defisiensi besi menjadi manifestasi.

Perjalanan keadaan kekurangan zat besi mulai dari terjadinya anemia sampai dengan
timbulnya gejala-gejala yang klasik, melalui beberapa tahap:

Tahap I : Terdapat kekurangan zat besi ditempat-tempat cadangan besi (depot iron),
tanpa disertai dengan anemia (anemia latent) ataupun perubahan konsentrasi besi dalam
serum (SI). Pada pemeriksaan didapati kadar feritin berkurang.

Tahap II : Selanjutnya mampu ikat besi total (TIBC) akan meningkat yang diikuti dengan
penurunan besi dalam serum (SI) dan jenuh (saturasi) transferin.

Pada tahap ini mungkin anemia sudah timbul, tetapi masih ringan sekali dan bersifat
normokrom normositik. Dalam tahap ini terjadi eritropoesis yang kekurangan zat besi
(iron deficient erythropoesis).

Tahap III : Jika balans besi tetap negatif maka akan timbul anemia yang tambah nyata
dengan gambaran darah tepi yang bersifat hipokrom mikrositik.

Tahap IV : Hemoglobin rendah sekali. Sumsum tulang tidak mengandung lagi cadangan
besi, kadar besi plasma (SI) berkurang. Jenuh transferin turun dan eritrosit jelas
bentuknya hipokrom mikrositik. Pada stadium ini kekurangan besi telah mencapai
jaringan-jaringan. Gejala klinisnya sudah nyata sekali.

Gejala Klinis

Setiap milliliter darah mengandung 0,5 mg besi. Kehilangan besi umumnya sedikit sekali,
dari 0,5 sampai 1 mg/hari. Namun wanita yang mengalami menstruasi kehilangan
tambahan 15 sampai 28 mg/bulan. Walaupun kehilangan darah karena menstruasi
berhenti selama hamil, kebutuhan besi harian tetap meningkat, hal ini terjadi oleh karena
volume darah ibu selama hamil meningkat, pembentukan plasenta, tali pusat dan fetus,
serta mengimbangi darah yang hilang pada waktu melahirkan.
Selain tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh anemia, penderita defisiensi besi yang berat
(besi plasma lebih kecil dari 40 mg/ 100 ml;Hb 6 sampai 7 g/100 ml)mempunyai rambut
yang rapuh dan halus serta kuku tipis, rata, mudah patah dan sebenarnya berbentuk
seperti sendok (koilonikia). Selain itu atropi papilla lidah mengakibatkan lidah tampak
pucat, licin, mengkilat, merah daging, dan meradang dan sakit. Dapat juga timbul
stomatitis angularis, pecah-pecah dengan kemerahan dan rasa sakit di sudut-sudut mulut.

Anemia defisiensi besi dapat juga memberi gejala seperti kelelahan, palpitasi, pucat,
tinitus, mata berkunang-kunang oleh karena berkurangnya hemoglobin, pusing kepala,
parestesia, dingin-dingin pada ujung jari yang disebabkan kekurangan enzyme sitokrom,
sitokrom C oksidase dalam jaringan-jaringan. Kelainan jaringan epitel menyebabkan
gastritis, atropi mukosa lambung, ozaena, pica, gangguan mensturasi, ganguan sistim
neuromuskular berupa neuralgia, mati rasa dan kesemutan, gangguan sistim skelet serta
splenomegali.

Pemeriksaan darah menunjukkan jumlah sel darah merah normal atau hampir normal
dan kadar hemoglobin berkurang. Pada sediaan hapus darah perifer, eritrosit mikrositik
dan hipokrom disertain poikilositosis dan aniositosis. Jumlah retikulosit mungkin normal
atau berkurang. Kadar besi berkurang walaupun kapasitas meningkat besi serum
meningkat.

Pengobatan anemia pada penderita defisiensi besi

Pengobatan defisiensi besi mengharuskan identifikasi dan menemukan penyebab dasar


anemia. Pembedahan mungkin diperlukan untuk menghambat perdarahan aktif yang
diakibatkan oleh polip, tukak, keganasan dan hemoroid; perubahan diet mungkin
diperlukan untuk bayi yang hanya diberi makan susu atau individu dengan idiosinkrasi
makanan atau yang menggunakan aspirin dalam dosis besar.

Walaupun modifikasi diet dapat menambah besi yang tersedia (misalnya hati, masih
dibutuhkan suplemen besi untuk meningkatkan hemoglobin dan mengembalikan
persediaan besi. Besi tersedia dalam bentuk parenteral dan oral. Sebagian penderita
memberi respon yang baik terhadap senyawa-senyawa oral seperti ferosulfat. Preparat
besi parenteral digunakan secara sangat selektif, sebab harganya mahal dan mempunyai
insidens besar terjadi reaksi yang merugikan.

Anemia Sel Sabit (sickle cell anemia)

Definisi

Penyakit Sel Sabit (sickle cell disease) adalah suatu penyakit keturunan yang ditandai
dengan sel darah merah yang berbentuk sabit dan anemia hemolitik kronik. Pada penyakit
sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein pengangkut oksigen) yang
bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah oksigen di dalam sel dan menyebabkan
bentuk sel menjadi seperti sabit. Sel yang berbentuk sabit menyumbat dan merusak
pembuluh darah terkecil dalam limpa, ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan
menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke organ tersebut.

Sel sabit ini rapuh dan akan pecah pada saat melewati pembuluh darah, menyebabkan
anemia berat, penyumbatan aliran darah, kerusakan organ dan mungkin kematian.

Etiologi

Penyakit sel sabit hampir secara eksklusif menyerang orang kulit hitam.
Sekitar 10% orang kulit hitam di AS hanya memiliki 1 gen untuk penyakit ini (mereka
memiliki rantai sel sabit) dan tidak menderita penyakit sel sabit.
Sekitar 0,3% memiliki 2 gen dan menderita penyakit sel sabit.

Gejala Klinis

Penderita selalu mengalami berbagai tingkat anemia dan sakit kuning (jaundice) yang
ringan, tetapi mereka hanya memiliki sedikit gejala lainnya.
Berbagai hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen dalam darah, (misalnya
olah raga berat, mendaki gunung, terbang di ketinggian tanpa oksigen yang cukup atau
penyakit) bisa menyebabkan terjadinya krisis sel sabit, yang ditandai dengan:

- semakin memburuknya anemia secara tiba-tiba

- nyeri (seringkali dirasakan di perut atau tulang-tulang panjang)

- demam

- kadang sesak nafas.

Nyeri perut bisa sangat hebat dan bisa penderita bisa mengalami muntah; gejala ini mirip
dengan apendisitis atau suatu kista indung telur.

Pada anak-anak, bentuk yang umum dari krisis sel sabit adalah sindroma dada, yang
ditandai dengan nyeri dada hebat dan kesulitan bernafas.
Penyebab yang pasti dari sindroma dada ini tidak diketahui tetapi diduga akibat suatu
infeksi atau tersumbatnya pembuluh darah karena adanya bekuan darah
atau embolus (pecahan dari bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah).

Sebagian besar penderita mengalami pembesaran limpa selama masa kanak-kanak. Pada
umur 9 tahun, limpa terluka berat sehingga mengecil dan tidak berfungsi lagi.
Limpa berfungsi membantu melawan infeksi, karena itu penderita cenderung
mengalami pneumonia pneumokokus atau infeksi lainnya. Infeksi virus bisa menyebabkan
berkurangnya pembentukan sel darah, sehingga anemia menjadi lebih berat lagi.

Lama-lama hati menjadi lebih besar dan seringkali terbentuk batu empedu dari pecahan
sel darah merah yang hancur. Jantung biasanya membesar dan sering ditemukan
bunyi murmur.

Anak-anak yang menderita penyakit ini seringkali memiliki tubuh yang relatif pendek,
tetapi lengan, tungkai, jari tangan dan jari kakinya panjang.
Perubahan pada tulang dan sumsum tulang bisa menyebabkan nyeri tulang, terutama
pada tangan dan kaki.

Bisa terjadi episode nyeri tulang dan demam, dan sendi panggul mengalami kerusakan
hebat sehingga pada akhirnya harus diganti dengan sendi buatan.

Sirkulasi ke kulit yang jelek dapat menyebabkan luka terbuka di tungkai, terutama pada
pergelangan kaki. Kerusakan pada sistem saraf bisa menyebabkan stroke.
Pada penderita lanjut usia, paru-paru dan ginjal mengalami penurunan fungsi.
Pria dewasa bisa menderita priapisme (nyeri ketika mengalami ereksi).
Kadang air kemih penderita mengandung darah karena adanya perdarahan di ginjal.
Jika diketahui bahwa perdarahan ini berhubungan dengan rantai sel sabit, maka
penderita tidak boleh menjalani pembedahan eksplorasi dengan jarum.

Diagnosa

Anemia, nyeri lambung dan nyeri tulang serta mual-mual pada seorang kulit hitam
merupakan tanda yang khas untuk krisis sel sabit. Pada pemeriksan contoh darah
dibawah mikroskop, bisa terlihat sel darah merah yang berbentuk sabit dan pecahan dari
sel darah merah yang hancur.

Elektroforesis bisa menemukan adanya hemoglobin abnormal dan menunjukkan apakah


seseorang menderita penyakit sel sabit atau hanya memiliki rantai sel sabit. Penemuan
rantai sel sabit ini penting untuk rencana berkeluarga, yaitu untuk menentukan adanya
resiko memiliki anak yang menderita penyakit sel sabit.

Penatalaksanaan

Dulu penderita penyakit sel sabit jarang hidup sampai usia diatas 20 tahun, tetapi
sekarang ini mereka biasanya dapat hidup dengan baik sampai usia 50 tahun.
Penyakit sel sabit tidak dapat diobati, karena itu pengobatan ditujukan untuk:

- mencegah terjadinya krisis


- mengendalikan anemia

- mengurangi gejala.

Penderita harus menghindari kegiatan yang bisa menyebabkan berkurangnya jumlah


oksigen dalam darah mereka dan harus segera mencari bantuan medis meskipun
menderita penyakit ringan, misalnya infeksi virus.

Penderita memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya infeksi, sehingga harus menjalani
imunisasi dengan vaksin pneumokokus dan Hemophilus influenzae.

Krisis sel sabit membutuhkan perawatan di rumah sakit. Penderita mendapatkan


sejumlah besar cairan lewat pembuluh darah (intravena) dan obat-obatan untuk
mengurangi rasa nyeri.

Diberikan transfusi darah dan oksigen jika diperkirakan aneminya cukup berat sehingga
bisa menimbulkan resiko terjadinya stroke, serangan jantung atau kerusakan paru-paru.
Keadaan yang mungkin menyebabkan krisis, misalnya infeksi, harus diobati.

Obat-obatan yang mengendalikan penyakit sel sabit (misalnya hidroksiurea), masih dalam
penelitian. Hidroksiurea meningkatkan pembentukan sejenis hemoglobin yang terutama
ditemukan pada janin, yang akan menurunkan jumlah sel darah merah yang berubah
bentuknya menjadi sabit. Karena itu obat ini mengurangi frekuensi terjadinya krisis sel
sabit. Kepada penderita bisa dicangkokkan sumsum tulang dari anggota keluarga atau
donor lainnya yang tidak memiliki gen sel sabit. Pencangkokan ini mungkin bisa
menyembuhkan, tetapi resikonya besar dan penerima cangkokan harus meminum obat
yang menekan kekebalan sepanjang hidupnya.

Saat ini sedang dikembangkan teknik pengobatan baru untuk SCA, yaitu dengan terapi
gen. Terapi genetik merupakan teknik penanaman gen normal ke dalam sel-sel prekursor
(sel yang menghasilkan sel darah). Namun, teknik ini masih dalam tahap penelitian dan
baru diujicobakan pada tikus. Walaupun para peneliti khawatir akan sulitnya
menerapkan terapi gen pada manusia, mereka yakin bahwa terapi baru ini akan menjadi
pengobatan yang penting untuk penyakit sickle cell anemia.

Anemia Sideroblastik

Definisi

Anemia Sideroblastic disebabkan oleh produksi abnormal cincin sideroblasts, yang


disebabkan baik secara genetik maupun secara tidak langsung sebagai bagian dari
sindrom myelodysplastic, yang dapat berkembang menjadi keganasan dalam
hematological (terutama leukemia akut myelogenous).

Gejala
Kulit pucat, kelelahan, pusing dan pembesaran limpa dan hati. Penyakit jantung,
kerusakan hati dan gagal ginjal dapat disebabkan oleh penumpukan besi pada organ-
organ ini.

Penyebab

Penyebab anemia ini adalah kegagalan sepenuhnya pembentukan bentuk molekul heme,
sehingga terjadi biosintesis hanya sebagian dalam mitokondria. Hal ini menyebabkan
endapan besi di dalam mitokondria yang membentuk sebuah cincin di sekeliling inti
pembentukan sel darah merah. Kadang-kadang kelainan ini mewakili suatu tahap dalam
evolusi dari sumsum tulang yang mungkin pada akhirnya dapat menjadi leukemia akut.

* Racun: keracunan seng

* Drug-induced: etanol, isoniazid, kloramfenikol, cycloserine

* Nutrisi: pyridoxine atau defisiensi tembaga

* Genetik: ALA sintase defisiensi (X-linked)

Diagnosis

Aspirasi sumsum tulang: ditemukan cincin sideroblasts mengelilingi sideroblasts terlihat


dalam tulang sumsum. Anemia dapat ditemukan mulai dari stadium ringan sampai berat,
ditandai dengan adanya anisocytosis dan poikilocytosis. Dapat ditemukan sel target dan
Pappenheimer bodies. MCV menurun. Hitung jenis bergeser ke arah kiri. Leukosit dan
trombosit normal. Sumsum tulang menunjukkan hiperplasia erythroid dengan
pematangan.

Lebih dari 40% dari eritrosit berkembang adalah dikelilingi sideroblasts. Besi serum,
persentasi dan saturasi feritin meningkat. TIBC yang berkurang adalah normal.
Hemosiderin sumsum tulang meningkat.

Pemeriksaan penunjang

* Peningkatan kadar feritin

* Penurunan total kapasitas mengikat besi

* Peningkatan hematokrit sekitar 20-30%

* Serum Iron: Tinggi

* Saturasi transferin meningkat


* Sel hidup rata-rata volume atau MCV biasanya normal atau sedikit meningkat,
walaupun mungkin kadang-kadang rendah, yang menyebabkan kebingungan dengan
kekurangan zat besi.

* Pada keracunan timbal, ditemukan bintik kasar basophil pada sel darah merah

* Spesifik test: pewarnaan Prusian Blue di sumsum tulang . Menunjukkan cincin yang
mengelilingi sideroblasts.

Penatalaksanaan

Kadang-kadang, anemia dapat menjadi sangat parah sehingga diperlukan transfusi.


Pasien-pasien ini biasanya respon dengan terapi eritropoietin. Pada beberapa kasus telah
dilaporkan bahwa tingkat heme dapat ditingkatkan melalui penggunaan pyrodoxine dosis
tinggi (Vitamin B6.)

Dalam kasus yang parah transplantasi sumsum tulang juga merupakan pilihan dengan
informasi yang terbatas tentang tingkat keberhasilan. Dalam kasus akibat isoniazid
sideroblastic anemia, penambahan B6 dapat digunakan untuk memperbaiki anemia.

Konsep anemia

ANEMIA

Konsep Dasar

Secara umum anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin dan
volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Menurut Fenstermacher dan
Hudson (1997), anemia adalah berkurangnya secara signifikan massa sel darah merah sehingga
kapasitas darah yang membawa oksigen menjadi berkurang.

Secara fisiologis, anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk
mengangkut oksigen ke jaringan sehingga tubuh akan mengalami hipoksia. Anemia bukan suatu
penyakit atau diagnosis melainkan merupakan pencerminan ke dalam suatu penyakit atau dasar
perubahan patofisilogis yang diuraikan oleh anamnese dan pemeriksaan fisik yang teliti serta
didukung oleh pemeriksaan laboratorium.

Anatomi-Fisiologi

Darah merupakan bentuk jaringan ikat khusus, terdiri atas elemen pembentuk yaitu sel-sel darah,
trombosit dan plasma darah. Volume darah pada manusia dewasa sehat kurang lebih lima liter
dan bila dibandingkan darah meliputi sekitar 8% berat badan. Darah terdiri dari tiga sel utama
yaitu sel darah merah, sel darah putih, dan platelet. Setiap jenis sel darah menjalani beberapa
tahap kematangan dan diferensiasi yang kompleks ketika berkembang dari sel induk menjadi sel
matur (matang). Pada orang dewasa, pembentukan sel darah terutama berada di dalam sumsum
tulang.

Sel darah merah merupakan sel yang berdiferensiasi jauh dan mempunyai fungsi transpor
oksigen. Sel darah putih adalah sel yang mengandung inti, melindungi tubuh dari invasi bakteri
dan reaksi melawan terhadap benda atau jaringan asing, sedangkan platelet berperan dalam
pelepasan sel-sel koagulasi.

Etiologi

Anemia disebabkan oleh berbagai jenis penyakit, namun semua kerusakan tersebut secara
signifikan akan mengurangi banyaknya oksigen yang tersedia untuk jaringan. Menurut Brunner
dan Suddart (2001), beberapa penyebab anemia secara umum antara lain :

Secara fisiologis anemia terjadi bila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut
oksigen ke jaringan.

Akibat dari sel darah merah yang prematur atau penghancuran sel darah merah yang berlebihan.

Produksi sel darah merah yang tidak mencukupi.

Faktor lain meliputi kehilangan darah, kekurangan nutrisi, faktor keturunan, penyakit kronis dan
kekurangan zat besi.

Klasifikasi

Anemia dapat diidentifikasikan menurut morfologi sel darah merah serta indeks-indeksnya dan
menurut etiologinya. Pada klasifikasi anemia menurut morfologi sel darah merah dan indeks-
indeksnya terbagi menjadi :

Menurut ukuran sel darah merah


Anemia normositik (ukuran sel darah merah normal), anemia mikrositik (ukuran sel darah merah
kecil) dan anemia makrositik (ukuran sel darah merah besar).

Menurut kandungan dan warna hemoglobin


Anemia normokromik (warna hemoglobin normal), anemia hipokromik (kandungan dan warna
hemoglobin menurun) dan anemia hiperkromik (kandungan dan warna hemoglobin meningkat).
Menurut Brunner dan Suddart (2001), klasifikasi anemia menurut etiologinya secara garis besar
adalah berdasarkan defek produksi sel darah merah (anemia hipoproliferatifa) dan destruksi sel
darah merah (anemia hemolitika).

Anemia Hipoproliferatifa
Sel darah merah biasanya bertahan dalam jangka waktu yang normal, tetapi sumsum tulang tidak
mampu menghasilkan jumlah sel yang adekuat jadi jumlah retikulositnya menurun. Keadaan ini
mungkin disebabkan oleh kerusakan sumsum tulang akibat obat dan zat kimia atau mungkin
karena kekurangan hemopoetin, besi, vitamin B12 atau asam folat. Anemia hipoproliferatifa
ditemukan pada :
Anemia aplastik
Pada anemia aplastik, lemak menggantikan sumsum tulang, sehingga menyebabkan pengurangan
sel darah merah, sel darah putih dan platelet. Anemia aplastik sifatnya kongenital dan idiopatik.
Anemia pada penyakit ginjal
Secara umum terjadi pada klien dengan nitrogen urea darah yang lebih dari 10 mg/dl. Hematokrit
menurun sampai 20 sampai 30 %. Anemia ini disebabkan oleh menurunnya ketahanan hidup sel
darah merah maupun defisiensi eritropoetin.
Anemia pada penyakit kronik
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normositik
normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal). Apabila disertai dengan
penurunan kadar besi dalam serum atau saturasi transferin, anemia akan berbentuk hipokrom
mikrositik. Kelainan ini meliputi arthritis reumatoid, abses paru, osteomielitis, tuberkulosis dan
berbagai keganasan.
Anemia defisiensi-besi
Anemia defisiensi besi adalah keadaan dimana kandungan besi tubuh total turun dibawah tingkat
normal dan merupakan sebab anemia tersering pada setiap negara. Dalam keadaan normal tubuh
orang dewasa rata-rata mengandung 3 - 5 gram besi, tergantung pada jenis kelamin dan besar
tubuhnya.
Penyebab tersering dari anemia defisiensi besi adalah perdarahan pada penyakit tertentu (misal :
ulkus, gastritis, tumor pada saluran pencernaan), malabsorbsi dan pada wanita premenopause
(menorhagia). Menurut Pagana dan Pagana (1995), pada anemia defisiensi besi, volume
corpuscular rata-rata (Mean Corpuscular Volume atau MCV), microcytic Red Blood Cells dan
hemoglobin corpuscular rata-rata (Mean Corpuscular Haemoglobine atau MCH) menurun.
Anemia megaloblastik
Anemia yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam folat. Terjadi penurunan volume
corpuscular rata-rata dan mikrositik sel darah merah. Anemia megaloblastik karena defisiensi
vitamin B12 disebut anemia pernisiosa. Tidak adanya faktor instrinsik pada sel mukosa lambung
yang mencegah ileum dalam penyerapan vitamin B12 sehingga vitamin B12 yang diberikan
melalui oral tidak dapat diabsorpsi oleh tubuh sedangkan yang kita tahu vitamin B12 sangat
penting untuk sintesa deoxyribonucleic acid (DNA).
Anemia megaloblastik karena defisiensi asam folat, biasa terjadi pada klien yang jarang makan
sayur-mayur, buah mentah, masukan makanan yang rendah vitamin, peminum alkohol atau
penderita malnutrisi kronis.

Anemia Hemolitika
Pada anemia ini, eritrosit memiliki rentang usia yang memendek. Sumsum tulang biasanya
mampu berkompensasi sebagian dengan memproduksi sel darah merah baru tiga kali atau lebih
dibandingkan kecepatan normal. Ada dua macam anemia hemolitika, yaitu :
Anemia Hemolitika Turunan
Merupakan suatu anemia hemolitika dengan sel darah merah kecil dan splenomegali.
Anemia sel sabit
Anemia sel sabit adalah anemia hemolitika berat akibat adanya defek pada molekul hemoglobin
dan disertai dengan serangan nyeri. Anemia sel sabit adalah kerusakan genetik dan merupakan
anemia hemolitik herediter resesif. Anemia sel sabit dikarenakan oklusi vaskuler dalam kapiler
yang disebabkan oleh Red Blood Cells Sickled(RBCs) dan kerusakan sel darah merah yang cepat
(hemolisis). Sel-sel yang berisi molekul hemoglobin yang tidak sempurna menjadi cacat, kaku
dan berbentuk bulan sabit ketika bersirkulasi melalui vena. Sel-sel tersebut macet di pembuluh
darah kecil dan memperlambat sirkulasi darah ke organ-organ tubuh. RBCs berbentuk bulan
sabit hanya hidup selama 15-21 hari.

Patofisiologi

Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah
berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan
toksik dan invasi tumor. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis
(destruksi). Pada destruksi, masalahnya dapat diakibatkan karena defek sel darah merah yang
tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa faktor di luar sel
darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.

Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi dalam sel fagositik atau dalam sistem retikuloendotelial
terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping proses ini, bilirubin yang terbentuk dalam
fagosit, akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis)
segera direfleksikan dengan peningkatan produksi plasma. Hal ini tercermin dalam anemia
defisiensi besi.

Anemia defisiensi besi disebabkan cacat pada sintesis hemoglobin atau dapat dikatakan kurang
pembebasan besi dari makrofag ke serum, sehingga kandungan besi dalam hemoglobin
berkurang. Sedangkan yang kita tahu sebagian besar besi dalam tubuh dikandung dalam
hemoglobin yang beredar dan akan digunakan kembali untuk sintesis hemoglobin setelah sel
darah merah mati. Bila defisiensi besi berkembang, cadangan retikulo-endotelial (haemosiderin
dan ferritin) menjadi kosong sama sekali sebelum anemia terjadi.
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, seperti yang terjadi pada
berbagai kelainan hemolitik, maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia).
Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk
hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya (apabila jumlahnya lebih dari sekitar 100 mg/dl),
hemoglobin akan terdifusi dalam glomerulus ginjal dan ke dalam urin (hemoglobinuria). Jadi ada
atau tidak adanya hemoglobinemia dan hemoglobinuria dapat memberikan informasi mengenai
lokasi penghancuran sel darah merah abnormal pada klien dengan hemolisis dan dapat
merupakan petunjuk untuk mengetahui sifat proses hemolitik tersebut.

Anemia pada pasien tertentu disebabkan oleh penghancuran sel darah merah yang tidak
mencukupi, biasanya diperoleh dengan dasar :

Hitung retikulosit dalam sirkulasi darah.

Derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya.

Ada atau tidak adanya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.

Manifestasi Klinis

Pada anemia, karena semua sistem organ dapat terlibat maka dapat menimbulkan manifestasi
klinik yang luas. Manifestasi ini bergantung pada:

Kecepatan kejadian anemia

Durasi

Kebutuhan metabolisme klien bersangkutan

Adanya kelainan lain atau kecacatan

Komplikasi tertentu atau keadaan penyerta kondisi yang menyebabkan anemia.

Karena jumlah sel darah merah berkurang, maka lebih sedikit oksigen yang dikirimkan ke
jaringan. Kehilangan darah yang cepat sebanyak 30% dapat menyebabkan kolaps vaskuler pada
individu yang sama. Namun penurunan hemoglobin dan hematokrit tanpa gejala yang tampak
atau ketidakmampuan yang jelas secara bertahap biasanya dapat ditoleransi sampai 50%.
Mekanisme kompensasi tubuh bekerja melalui :

Peningkatan curah jantung dan pernapasan, karena itu menambah pengiriman oksigen ke
jaringan-jaringan oleh sel darah merah.

Meningkatkan pelepasan oksigen dan hemoglobin.


Mengembangkan volume plasma dengan menarik cairan dari sela-sela jaringan.

Redistribusi aliran darah ke organ-organ vital.

Individu yang telah mengalami anemia selama waktu yang cukup lama dengan kadar
hemoglobin antara 9 11 g/dl, hanya mengalami sedikit gejala atau tidak ada gejala sama
sekali selain takikardi ringan selama latihan. Takikardi menggambarkan beban kerja dan
curah jantung yang meningkat. Dispnea pada latihan biasanya terjadi bila kadar
hemoglobin dibawah 7,5 g/dl yang merupakan manifestasi berkurangnya pengiriman
oksigen. Kelemahan hanya terjadi bila kadar hemoglobin dibawah 6 g/dl. Dispnea istirahat
bila dibawah 3 g/dl dan gagal jantung hanya pada kadar sangat rendah 2-2,5 g/dl, hal ini
disebabkan karena otot jantung yang kekurangan oksigen tidak dapat menyesuaikan diri
dengan beban kerja jantung yang meningkat.

Salah satu tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia adalah pucat. Ini
diakibatkan berkurangnya volume darah, hemoglobin dan vasokontriksi untuk
memperbesar pengiriman oksigen ke organ-organ vital. Warna kuku, telapak tangan,
memban mukosa mulut dan konjungtiva dapat digunakan untuk menilai kepucatan.