Anda di halaman 1dari 13

PERCOBAAN II

REAKSI SUBSTITUSI ELEKTROFILIK

I. IDENTITAS
1.1 Nama Praktikan : I Gusti Agung Dwi Ari (0913031009)
Ni Ngh. Sangging Apriadi (0913031019)
Kadek Sony Restiawan (0913031024)
1.2 Jurusan/Fakultas : Pendidikan Kimia/MIPA

II. TUJUAN PERCOBAAN:


Mengidentifikasi hasil reaksi substitusi elektrofilik

III. DASAR TEORI


Reaksi substitusi elektrofilik merupakan reaksi antara suatu senyawa aromatis dengan
suatu elektrofil sehingga dihasilkan suatu produk substitusi, dengan elektrofil menjadi
substituen baru menggantikan suatu gugus pergi yang pada umumnya adalah H+. Benzena,
benzena tersubstitusi, dan hampir semua senyawa aromatis dapat mengalami jenis reaksi ini.
3.1 Reaksi Substitusi Elektrofilik pada Benzena
Substitusi elektrofilik terjadi pada banyak reaksi yang mengandung cincin benzena.
Benzena (C6H6) adalah molekul planar yang berupa cincin dari 6 buah atom karbon yang
masing-masing mengikat atom hidrogen. Pada benzena terjadi delokalisasi elektron pada
bagian atas dan bawah dari bidang planar cincin, seperti gambar di bawah.

Keberadaan dari elektron yang terdelokaslisasi tersebut membuat benzena stabil. Kestabilan
dari benzena dapat hilang jika benzena mengalami reaksi adisi karena reaksi adisi mampu
menghilangkan delokalisasi elektron pada cincin. Struktur cincin benzena digambarkan
sebagai berikut.

Gambar cincin melambangkan elektron yang terdelokalisasi dan setiap sudut dari segienam
merupakan atom karbon yang berikatan dengan hidrogen.
1
3.2 Reaksi Substitusi Elektrofilik pada Benzena yang Diakibatkan Oleh Ion Positif
Adanya elektron yang terdelokalisasi di bagian atas dan bawah dari bidang planar
tempat molekul karbon berada mengakibatkan benzene menjadi sangat tertarik pada
elektrofil. Elektrofil adalah atom/molekul yang tertarik pada molekul lain yang kaya akan
electron (memiliki daerah negative). Elektrofil bisa merupakan ion positif, atau bagian yang
yang memiliki polaritas positif pada sebuah molekul.
Elektron yang terdelokalisasi pada bagian atas dan bawah dari bidang planar molekul
benzena sangat mudah diserang oleh elektrofil, sama seperti bagian atas dan bawah pada
molekul etena. Namun hasil keduanya tidaklah sama.

Jika benzena mengalami reaksi adisi sama seperti etena, sebagian dari elekton yang
terdelokalisasi harus berikatan dengan atom atau grup yang baru sehingga delokalisasi akan
terputus. Reaksi adisi tersebut membutuhkan energi. Sebaliknya, delokalisasi akan bisa tetap
dipertahankan jika atom hidrogen digantikan dengan sesuatu yang lain (reaksi substitusi).
Atom hidrogen tidak memiliki hubungan dengan delokalisasi. Pada kebanyakan reaksi
substitusi benzena, elektrofil merupakan ion positif dan reaksi ini memiliki suatu pola general
sebagai berikut.
1. Tahap Pertama
Elektrofil (ion positif) disimbolkan dengan X+. Dua dari elektron pada sistem yang
terdelokalisasi tertarik kearah X+ dan membentuk ikatan. Sehingga terjadi pemutusan
delokalisasi elektron, walaupun tidak seluruhnya seperti gambar di bawah.

Ion yang terbentuk pada tahap ini bukan merupakan hasil akhir. Tahap ini hanya
merupakan tahap antara. Hasilnya merupakan hasil antara.

2
Pada hasil antara masih terjadi dislokalisasi, namun hanya pada sebagian daerah dari
ion. Ion pada hasil antara bermuatan positif sebagai hasil dari penggabungan molekul
netral dan ion positif. Muatan positif ini lalu menyebar sepanjang daerah yang
terdislokalisasi pada cincin. Tanda + pada bagian tengah cincin untuk menunjukkan
muatan positif tersebut.
Hidrogen pada bagian bagian atas dari gambar bukanlah hidrogen yang baru,
hidrogen tersebut sudah berikatan pada carbon yang sama sebelum reaksi. Untuk lebih
memperjelas reaksi selanjutnya hidrogen tersebut perlu dituliskan.

2. Tahap Kedua
Pada reaksi di bawah, ion yang sebelumnya berikatan dengan X+ dimisalkan dengan
ion Y- .

Elektron yang tidak berpasangan pada Y- membentuk ikatan dengan atom hidrogen
pada bagian atas dari cincin. Sehingga pasangan dari elektron yang menghubungkan
hidrogen dengan cincin tidak diperlukan lagi

Muatan positif (+) kemudian bergerak kebawah dan mengisi ruang kosong pada daerah
dislokalisasi elektron dan mengembalikan delokalisasi elektron seperti semula. Sehingga
stabilitas benzena-pun kembali.
Terjadinya dislokalisasi saat X menggantikan H pada cincin benzena membutuhkan
energi. Namun energi tersebut terbayar saat delokalisasi kembali terbentuk. Energi awal
yang diperlukan menjadi energi aktivasi dari reaksi (sekitar 150 kJ mol -1), dan ini berarti
reaksi benzena memiliki kecepatan reaksi yang lambat

3.3 Reaksi Nitrasi pada Benzena


Ada beberapa jenis reaksi substitusi elektrofilik pada benzena, salah satunya adalah
reaksi nitrasi. Nitrasi merupakan reaksi substitusi atom H pada benzena oleh gugus nitro.

3
Reaksi ini terjadi dengan mereaksikan benzena dengan asam nitrat (HNO3) pekat dengan
bantuan H2SO4 pekat sebagai katalis. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

IV METODE PERCOBAAN
4.1 Alat dan Bahan
4.1.1 Daftar Alat :
- Pipa kapiler 2 buah
- Labu Erlenmeyer 100 mL 1 buah
- Gelas kimia 1000 mL 1 buah
- Spatula 2 buah
- Kaca arloji 1 buah
- Termometer 1500 1 buah
- Balok logam 1 buah
- Heater 1 buah
- Pipet tetes 2 buah
- Labu dasar bulat 50 mL 1 buah
- Adapter Claisen 1 buah
- Pendingin Leibig 1 buah
- Stirer 1 buah
- Statif dan klem 1 set
- Penjepit kayu 2 buah
- Batang pengaduk 1buah
- Gelas kimia 500 mL 1 buah
- Kertas saring secukupnya
- Corong 1 buah
- Neraca analitik 1 buah

4
4.1.2 Daftar Bahan :
- HNO3 pekat
- H2SO4 pekat
- Aquades
- Es batu
- Bromobenzena
- Alkohol

4.2 Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan


No Prosedur Kerja Hasil Pengamatan
1. Campuran 5 mL asam nitrat pekat Asam nitrat pekat dan asam sulfat pekat berupa
dan 5 mL asam sulfat pekat dibuat larutan bening tidak berwarna
dalam labu bulat dan didinginkan Setelah dicampurkan, timbul asap putih dan larutan
dalam penangas air dicampur es bening tidak berwarna
Kemudian campuran didinginkan, asap putih hilang

2. Labu dihubungkan dengan adapter Labu dihubungkan dengan adapter claiser,


Claiser, thermometer dan termometer dan pendingin es
pendingin es

3. Sebanyak 0,025 mol Bromobenzena berupa larutan yang berwarna


bromobenzena ditambahkan bening tak berwarna
melalui mulut bagian atas Volume bromobenzena yang digunakan adalah 2,63
pendingin, dan penambahan mL (perhitungan pada pembahasan)
dilakukan sedikit demi sedikit (1-2 Setelah ditambahkan bromobenzena sedikit demi

5
mL) selama kurun waktu 15 menit sedikit sambil diaduk dengan stirer, terbentuk
sambil dikocok endapan berwarna putih kekuningan dan warna
larutan berubah dari bening menjadi bening
kekuningan

4. Selama penambahan Selama penambahan bromobenzena suhu yang


bromobenzena suhu reaksi dijaga digunakan adalah 50oC
jangan sampai mencapai 50-55oC
5. Setelah adisi sempurna, campuran Campuran dibiarkan pada suhu ruang 30 menit
dibiarkan pada suhu di bawah Setelah didiamkan selama 30 menit, terbentuk
50oC selama 30 menit endapan putih kekuningan
Endapan yang terbentuk berupa gumpalan kristal

6. Campuran selanjutnya dituangkan Setelah campuran ditambahkan air es dan diaduk,


ke dalam gelas kimia 100 mL yang warna larutan menjadi putih keruh dan endapan
berisi 50 mL air es berwarna putih kekuningan

7. Nitro-bromobenzena disaring, Setelah disaring filtrat terpisah dari endapannya


kristal dicuci dengan air dingin

6
dan kristal dibiarkan sampai
kering berada pada kertas saring

Kristal yang diperoleh berwarna putih kekuningan

8. Kristal dipindahkan ke dalam labu Setelah ditambahkan alkohol, endapan tidak larut
Erlenmeyer 100 mL menggunakan berwarna putih kekuningan dengan warna larutan
alkohol 95% sebanyak 20 mL bening kekuningan

9. Campuran dipanaskan sampai Campuran dipanaskan agar semua kristal larut,


semua kristal larut warna larutan bening kekuningan

10. Biarkan dingin secara perlahan- Setelah dingin, terbentuk endapan (kristal)
lahan sampai temperatur kamar berwarna putih kekuningan
Warna larutan putih kekuningan

7
11. Kristal 4-bromonitrobenzena Endapan berwarna putih kekuningan, dan filtrat
dipisahkan dengan menyaringnya putih kekuningan (filtrat I)

Dilakukan pengukuran massa endapan


menggunakan kaca arloji, didapatkan massa kristal
sebesar 1,5072 gram
12. Kristal (I) dicuci dengan sedikit Kristal dicuci dengan alkohol yang bening tidak
alkohol dingin dan filtrat berwarna
ditampung (filtrate 2), kristal I Setelah dicuci,warna filtrat 2 bening kekuningan
dikeringkan Kristal menjadi lebih kering setelah dikeringkan
13. Kedua filtrat dicampurkan, Setelah filtrat 1 dan filtrat 2 dicampurkan,
kemudian diuapkan dalam terbentuk larutan dengan 2 lapisan, lapisan atas
penangas air sampai volume filtrat berwarna bening kekuningan dan lapisan bawah
tinggal sepertiganya, dan dibiarkan berwarna kuning keruh
dingin pada temperatur kamar

Setelah diuapkan dan didinginkan, terdapat kristal


dengan jumlah yang cukup banyak
14. Bila terbentuk endapan 4 Kristal tersebut dicampur dengan kristal yang

8
bromonitrobenzena, kristal II pertama dan ditimbang massa serta diukur titik
dicuci dengan alkohol dingin dan lelehnya
dikeringkan, selanjutnya dicampur Massa kristal pada penimbangan kedua adalah
dengan kristal I, ditimbang dan 2,5469 gram
titik leleh, bentuk kristal 4- Massa total endapan yang diperoleh adalah 4,0541
bromonitrobenzena diperiksa gram
Titik leleh kristal dari endapan 4-
bromonitrobenzena adalah 127oC

V PEMBAHASAN
Percobaan yang dilakukan termasuk jenis reaksi substitusi elektrofilik yaitu reaksi
nitrasi. Pada percobaan, bromobenzena direaksikan dengan gugus elektrofil NO2+ yang
dihasilkan dari reaksi antara HNO3 pekat dengan H2SO4 pekat. Produk yang dihasilkan adalah
bromonitrobenzena.
Mekanisme yang terjadi dalam proses pembentukan gugus elektrofil NO2+ (ion
nitronium) sebagai berikut.
O O
H2SO4 + H O N H O N + HSO4-
O O
H

O
H O N NO2+ + H2O
O
H
Pada HNO3, atom oksigen yang mengandung pasangan elektron bebas menyerang H+ yang
berasal dari asam sulfat sehingga asam nitrat terprotonkan. Selanjutnya terjadi pelepasan
molekul H2O sehingga dihasilkan ion nitronium (NO2+).
Pada tahap selanjutnya, gugus elektrofil akan diserang oleh bromobenzena sehingga
dihasilkan 3 jenis produk yang berbeda yaitu o-bromonitrobenzena, m-bromonitrobenzena,
dan p-nitrobenzena yang memiliki persentase berbeda-beda.
Br Br Br
Br
NO2

+ NO2+
NO2

bromonitrobenzena NO2
bromobenzena
orto 37% meta 1% para 62%

9
Gugus halogen sebenarnya merupakan gugus penarik electron (pengarah meta), namun
karena gugus ini memiliki pasangan elektron bebas, sehingga gugus ini menjadi pengarah
orto dan para. Hal tersebut dijelaskan dengan mekanisme sebagai berikut.

Br Br O Br O
O Br
O
N N N
N
+ + O O Posisi orto
+ O
+
+
O

Br Br
Br Br
O
+
+ N O
+ O + Posisi meta
+ N
O
O N N
O
O O

Br Br Br Br
O
+
+ +
+ N Posisi para
+
O
N N N
O O O O O O

Pada resonansi posisi orto dan para, ion karbonium yang terbentuk dapat terstabilkan ketika
ion karbonium mengikat gugus Br yang memiliki pasangan electron bebas. Sedangkan pada
posisi meta, ion karbonium tidak pernah mengikat gugus Br selama terjadi resonansi
sehingga kurang dapat distabilkan.
Penambahan bromobenzen sebanyak 2,63 mL ke dalam campuran HNO3 pekat
dengan H2SO4 pekat dengan perhitungan sebagai berikut:
10 x kadar x
M
Mr

10 x 100 x 1,49
= = 9,49 M
157
mol
V
M

0,025
= 2,63 mL
9,49

10
Penambahan bromobenzen pada larutan dilakukan sedikit demi sedikit sambil dikocok
agar tumbukan partikel yang terjadi antara bromobenzena dengan gugus NO2+ lebih
sempurna. Pengaturan suhu agar tidak lebih dari 50oC bertujuan agar terbentuk padatan
bromobenzena yang berwarna kekuningan dan mengumpal sehingga lebih mudah dipisahkan.
Namun pada percobaan pertama yang dilakukan oleh praktikan, endapan kristal tidak
diperoleh karena beberapa factor yaitu kesalahan dalam menggunakan jenis pemanas
sehingga temperatur larutan pada saat penambahan bromobenzen sempat mencapai lebih dari
50oC dan pengocokkan larutan yang kurang maksimal (tidak menggunakan stirer). Oleh
karena itu, percobaan diulang dengan menggunakan stirer dan jenis pemanas yang berbeda,
sehingga endapan kristal berhasil diperoleh dan percobaan dapat dilanjutkan ke tahap
selanjutnya.
Pada tahap selanjutnya, pencucian endapan kristal dengan air dingin bertujuan untuk
menghilangkan kontaminan yang menempel pada kristal. Penambahan alkohol pada endapan
yang dilanjutkan dengan pemanasan bertujuan untuk mengubah produk sampingan seperti m-
bromonitrobenzena, dan o-bromonitrobenzena menjadi p-bromonitrobenzena. Setelah
pemanassan, kristal I diperoleh dan filtrate 1 yang berwarna putih kekuningan ditampung
agar selanjutnya dapat dilakukan uji adanya kristal yang masih terlarut dalam filtrate.
Endapan yang diperoleh, dicuci dengan alcohol dengan tujuan membersihkan dan
mengeringkan kristal. Filtat 2 yang berwarna bening kekuningan dicampur dengan filtrate 1
dan diuapkan sampai 1/3 volume untuk menguapkan pelarut dan mendapatkan endapan yang
masih terlarut. Dalam percobaan yang dilakukan, setelah 1/3 volume larutan didiamkan
dalam suhu kamar, semua larutan berubah menjadi endapan kristal II.
Pada tahap penimbangan endapan pertama (kristal I) diperoleh massa kristal sebesar
1,5072 gram. Pada penimbangan endapan kedua (kristal II) diperoleh massa kristal sebesar
2,5469 gram. Total dari massa endapan yang diperoleh adalah 4,0541 gram. Secara teori,
massa Kristal yang seharusnya diperoleh adalah 5,075 gram dengan perhitungan berikut:

C 6 H 5 Br HNO 3 H C 6 H 4 NO 2 Br
2SO 4

Berdasarkan persamaan reaksi di atas, perbandingan mol dari bromobenzena dan


bromonitrobenzena adalah 1 : 1 sehingga jumlah mol bromobenzena yang diperlukan sama
dengan jumlah mol bromonitrobenzena yang dihasilkan.
Mol bromobenzena = 0,025 mol
Mol bromonitro benzena 0,025 mol

Massa bromonitro benzena mol x massa molar

11
Massa bromonitro benzena 0,025 mol x 203 g/mol 5,075 gram
Berdasarkan teori terbentuknya massa p-bromonitrobenzena adalah sebesar 62% dari massa
total atau sebesar 3,15 gram. Pengubahan produk sampingan menjadi p-bromonitrobenzena
adalah sebanyak 38%, sehingga massa p-bromonitrobenzena diharapkan sama dengan massa
bromonitrobenzena yaitu 5,075 gram. Berdasarkan percobaan, massa p-bromonitrobenzena
yang diperoleh adalah 4,0541 gram, sehingga perhitungan rendemen yang diperoleh adalah
sebagai berikut.
massa p - bromonitro benzena yang diperoleh
Rendemen x 100%
massa p - bromonitro benzena secara teoritis
4,0541 g
Rendemen x 100% 79,88%
5,075 g
Persentase kesalahan relatifnya adalah sebesar 20,12%.

Pengukuran titik leleh kristal dilakukan menggunakan alat balok logam. Besarnya titik
leleh dari kristal yaitu 127oC . Titik leleh yang diperoleh selanjutnya dibandingkan dengan
literature yang ada (Vogels Textbook of Practical Organic Chemistry), dan hasilnya sesuai
dengan titik leleh kristal 4-bromonitrobenzen yang tercantum dalam literature.

VI KESIMPULAN
1. Titik leleh dari 4-bromo nitrobenzen yang disintesis dari bromobenzen melalui reaksi
substitusi elektrofilik sebesar 127oC.
2. Jumlah rendemen dari 4-bromo nitrobenzen diperoleh 79,88% dengan tingkat
kesalahan 20,12%. Persentase kesalahan relatif zat tersebut kurang dari 50% maka
praktikum yang dilakukan dapat dikatakan berlangsung dengan baik.

12
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Chairil, dkk. 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Yogyakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Frieda Nurlita dan I Wayan Suja. 2004. Buku Ajar Praktikum Kimia Organik. Singaraja: Ikip
Negeri Singaraja.
Furnis, Brian.S, dkk. 1989. Vogels Textbook of Practical Organic Chemistry. New York:
Longman Scientific & Technical.
http://www.chem-is-
try.org/materi_kimia/mekanisme_reaksi_organik/substitusi_elektrofilik1/substitus
i_elektrofilik/ dikutip pada tanggal 24 September 2011
Joan and Ralph Fessenden. 1985. Edisi 1. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Purwadi.2008.Reaksi Kimia untuk Analisis Kualitatif. Lampung : FMIPA Farmasi
Svehla. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT.
Kalman Media Pusaka

13