Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Misoprostol adalah analog prostaglandin, yang beredar secara luas dengan

menggunakan beragam nama dagang. Misoprostol awalnya didaftarkan sebagai

obat tukak lambung (gastric ulcers) akibat dari pemakaian obat anti-inflamasi

non-steroid (NSAID) jangka panjang. Karena misprostol menyebabkan kontraksi

uterus, beberapa formulasinya kini terdaftar untuk indikasi obstetrik. Formula ini

sering digunakan untuk terminasi kehamilan.(1)

Misoprostol adalah obat dengan fungsi untuk mencegah radang lambung

penggunaanya sebelum mengkonsumsi NSAID (aspirin, ibuprofen, naproxen),

jika penderita berisiko terkena tukak lambung atau memiliki riwayat tukak

lambung. Misoprostol membantu menurunkan risiko komplikasi serius pada

lambung seperti perdarahan. Obat ini melindungi lambung dari peningkatan

sekresi zat asam oleh obat golongan NSAID.

Di Indonesia, Cytotec (misoprostol) banyak dipergunakan untuk berbagai

keperluan, terlebih untuk wanita hamil. Padahal obat tersebut terlarang

dikonsumsi wanita sedang mengandung. Meski berdasar literatur Cytotec belum

dimasukkan dalam daftar obat untuk kehamilan, tetapi obat ini sudah lama

dipergunakan misalnya, disalahgunakan untuk aborsi.(1)

1
BAB II

TUNJAUAN PUSTAKA

2.1 Sifat Kimia


Misoprostol (15-deoksi-16-hidroksi-16-metil-PGE1; CYTOTEC)

adalah analog sintetik prostaglandin E1 dengan tambahan gugus metil ester

pada C1 (menyebabkan peningkatan potensi serta durasi efek antisekretori)

dan pemindahan gugus hidroksi dari C5 ke C16. Disertai dengan penambahan

satu gugus metil (menyebabkan peningkatan aktivitas jika diberikan secara

oral dan meningkatan durasi kerja), formula kimianya yaitu C22H38O5.

Tingkat penghambatan sekresi asam lambung oleh misoprostol

secara langsung berkaitan dengan dosis; dosis oral 100-200 mcg menghasilkan

penghambatan signifikan pada sekresi asam yang distimulasi oleh makanan

(diturunkan hingga 85-95%) atau sekresi asam yang distimulasi oleh makanan

(diturunkan hingga 75-85%).


2.2 Farmakokinetik
2.2.1 Absorbsi
Misoprostol diabsorbsi dengan cepat dan mengalami metabolism cepat

(de-esterifikasi) membentuk asam misoprostol (asam bebasnya), yang

merupakan metabolit utama obat dan bersifat aktif. Beberapa pengubahan

ini dapat terjadi di sel parietal. Setelah dosis tunggal diberikan, onset

penghambatan produksi asam dapat terlihat dalam waktu 30 menit,

mencapai puncak setelah 60-90 menit, dan bertahan hingga 3 jam.

Bioavailabilitasnya cepat dan hampir sepenuhnya diserap dari saluran

pencernaan. Makanan dan antacid menurunkan laju absorpsi misoprostol,

2
menyebabkan terjadinya penundaan dan penurunan puncak konsentrasi

asam misoprostol dalam plasma. Waktu paruh eliminasi asam bebas

tersebut sekitar 20-40 menit, yang sebagian besar disekresikan melalui

urin.
2.2.2 Distribusi
Luasnya distribusi ke jaringan tubuh manusia dan cairan belum

sepenuhnya dikarakterisasi. Tidak diketahui apakah misoprostol dan / atau

asam misoprostol dapat melewati barier plasenta atau didistribusikan ke

dalam air susu. Misoprostol mempunyai kekuatan protein plasma binding

sekitar 80-90%.
2.2.3 Metabolisme
Metabolisme misoprostol cepat dan ekstensif, dimetabolisme menjadi

asam misoprostol (metabolit bebas). Sebagian pada saluran pencernaan

misoprostol juga cepat mengalami metabolisme menjadi metabolit tidak

aktif.
2.2.4 Eliminasi
Misoprostol dieksresikan dalam urin (73%) terutama sebagai metabolit

dan dalam tinja (15%) melalui ekskresi bilier. Waktu paruh asam bebas

yaitu 20-40 menit. Pada populasi khusus seperti pasien dengan gangguan

ginjal, waktu paruh mungkin akan meningkat.


2.3 Mekanisme Kerja
2.3.1 Mekanisme Kerja Pada Lambung

3
a. Penghambatan pada sekresi asam lambung yang diproduksi oleh sel

parietal pada bagian fundus, sejalan dengan penghambatan histamin

yang pada jalur cAMP untuk menstimulasi produksi asam lambung.


b. Efek sitoprotektif pada mukosa lambung dan duodenum dengan

meningkatkan sekresi mukus dan bikarbonat.


c. Menjaga aliran darah submukosa dan menstimulasi regenerasi sel

mukosa lambung.

2.3.2 Mekanisme Kerja Pada Uterus


a. Menyebabkan kontraksi pada otot polos pada uterus dan

mengakibatkan pengosongan uterus.


b. Melunakkan serviks, dengan meningkatkan pembukaan untuk

persalinan kehamilan intrauterin. Juga memfasilitasi pengeluaran

janin secara paksa.


2.4 Rute pada Induksi Persalinan 3
a. Pada penelitian pemberian oral, misoprostol cepat diabsorbsi melalui

sistem gastrointestinal. Misoprostol akan cepat mengalami metabolisme

4
dan membentuk asam misoprostol. Absorpsi cepat (mencapai puncak

pada 30 menit), dan akan cepat menurun dalam waktu 120 menit. .
b. Ditemukan bahwa pemberian secara vaginal memberikan efek yang

lebih bermakna dibandingkan dengan pemberian oral. Zieman dan

kawan-kawan melakukan penelitian yang membandingkan antara

pemberian oral dan vagina. Pada pemberian melalui vagina, akan

mengalami peningkatan setelah 70-80 menit sebelum mengalami

penurunan, dan kadar misoprostol masih dapat terdeteksi setelah 6 jam

pemberian. Pada vaginal, mencapai puncak lambat hingga 80 menit

namun semakin menurun, level lebih tinggi pada plasma. Buccal, efek

lambat, puncak lebih cepat, level menetap (mirip rute vaginal).


c. Menurut penelitian terbaru, pemberian secara sublingual misoprostol

Sublingual dapat digunakan untuk abotrus medicinalis dan pematangan

serviks. Kadar maksimum akan dicapat 30 menit setelah pemberian

sublingual sama seeprti pada pemberian oral. Sehingga pemberian

sublingual dan oral memiliki efek tercepat dibanding vaginal. Dengan

dosis 400 g pemberian sublingual mencapai puncak tertinggi

dibanding dengan oral dan vaginal, hal ini disebabkan karena absorbsi

cepat melalui mukosa sublingual yang mencegah dari metabolisme

melalui hepar. Banyaknya pembuluh darah pada lidah dan pH yang

relatif netral pada buccal juga memberikan faktor yg bermakna.


d. Rectal, Puncak lebih rendah, namun level lebih tinggi dan lebih lama

daripada rute oral. Onset dalam 100 menit, menurun pada 4 jam.

5
2.5 Indikasi
1. Pencegahan Ulkus Lambung Akibat Induksi NSAID
Pengobatan untuk mengurangi risiko ulkus lambung yang diinduksi

NSAID pada pasien dengan risiko tinggi (misalnya penyakit

imunosupresan, pasien geriatri, riwayat ulkus gastrointestinal bagian atas)

dengan risiko terjadinya kompilkasi perdarahan, perforasi, dan kematian.

Tidak disarankan penggunaan pada wanita subur, kecuali pada wanita yang

berada pada risiko tinggi mengalami ulkus lambung atau komplikasi akibat

NSAID yang menginduksi ulkus lambung. Dosisnya untuk ulkus di

lambung 200 mcg setiap 6 jam peroral. Ulkus Gaster


Pengobatan jangka pendek untuk ulkus lambung aktif, jinak, namun bukan

merupakan drug of choice.

2. Ulkus Duodenum
Pengobatan jangka pendek dari ulkus duodenum aktif yang dibuktikan

dengan endoskopi atau radografi. Namun tidak dianggap sebagai drug of

choice.
3. Terminasi kehamilan 4
a) Pada umur kehamilan < 13 minggu
Terminasi kehamilan : 800 g (sl) setuap 3 jam atau

pervaginam/buccal setiap 3-12 jam 2-3 dosis


Missed abortion : 800 g pervaginam setiap 3 jam (x2) atau

600 g ((sl) setiap 3 jam (x2)


Incomplete abortion : 600g po (x1), 400 g sl (x1), atau 400-

800 g pv (x1)

6
b) Pada umur kehamilan 13-26 minggu
Terminasi kehamilan : 13-24 minggu : 400g pv/sl/buccal

setiap 3 jam dan 25-26 minggu : 200g pv/sl/buccal setiap 4

jam
kematian janin : 200g pv/sl/buccal setiap 4-6 jam
abortus yang cendernung tidak bisa diselamatkan : 200g

pv/sl/buccal
c) Umur kehamilan > 26 minggu
Terminasi kehamilan 27-28 minggu : 200g pv/sl/buccal setiap

4 jam dan > 28 minggu 100g pv/sl/buccal setiap 6 jam.


Kematian janin : 27-29 minggu : 100g pv/sl/buccal setiap 4

jam, >28 minggu : 25g pv setiap 6 jam atau 25g po setiap 2

jam.
Induksi kehamilan : 25g pv tiap 6 jam atau 25g po setiap 2

jam
d) Penggunaan post partum
perdarahan post partum (PPH) profilaksis : 600g po (x1) atau

PPH pencegahan sekunder (dengan perkiraan kehilangan darah

>350ml) 800g sl (x1)


Terapi PPH 8-- g sl (x1)

e. Induksi Persalinan
Digunakan untuk meningkatkan pematangan serviks pada wanita hamil,

menguntungkan kebutuhan obstetrik sebagai induksi persalinan. Namun

penggunaan dihindari pada wanita dengan riwayat operasi rahim

sebelumnya atau setio caesarea karena risiko ruptur rahim.

Kontraindikasi

Sampai saat ini belum ditemukan kontraindikasi pemakaian misoprostol,

jika digunakan untuk induksi persalinan, maka kontraindikasinya adalah sesuai

dengan kontraindikasi induksi persalinan.


7
2.6 Efek samping 3
Misoprostol aman dan cukup toleransi pada penggunaannya. Pada

beberapa wanita ditemukan rasa yang tidak nyaman saat digunakan sublingual

atau buccal. Sensasi mati rasa pada mulut dan tenggorokan juga dilaporkan

pada penggunaan sublingual. Perhatian lebih terhadap efek samping

misoprostol adalah ruptur uterus. Laporan mengenai ruptur uterus jarang pada

trimester pertama pada abortus medicinalis, tetapi risiko akan semakin

meningkat sesuai umur kehamilan. Penelitian menunjukkan bahwa risiko dari

ruptur uterus terbanyak pada kasus induksi kehamilan pada trimester ketiga.
Infeksi jarang ditemukan pada kasus abortus medicinalis dengan penggunaan

misoprostol. Tetapi, terdapat laporan mengenai infeksi yang berbahaya yaitu

Clostridium sordellii setelah penggunaan misoprostol secara pervaginal.

Paparan misoprostol pada awal kehamilan berhubungan dengan kelainan

multipel kongenital. Tetapi pada penelitian mutagen, misoprostol tidak

menunjukkan efek yang bersifat embriotoksik, fetotoksik, ataupun teratogenik.

Kelainan tersebut dapat diakibatkan karena gangguan aliran darah pada janin

yang diakibatkan pemberian misoprostol.

8
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

- Misoprostol merupakan analog sintetik prostaglandin yang dapat mencegah

radang lambung dan digunakan untuk terminasi kehamilan.

- Misoprostol mempunyai waktu paruh 20 40 menit.

- Misoprostol akan cepat di absorbsi melalui sistem GIT.

- Misoprostol diekskresikan dalam urin (73%) dan dalam tinja (15%).

9
- Mekanisme kerja terjadi pada lambung dan uterus.

- Pemeberian secara sublingual atau oral memiliki efek tercepat di bandingkan

vaginal.

- Pemberian misoprostol secara rectal puncak lebih rendah, namun level lebih

tinggi dan lebih lama daripada rute oral. Onset dalam 100 menit, menurun pada 4

jam.

Daftar Pustaka

1. Gynuity Health Projects, Efficacy of two intervals and two routes of

administration of misoprostol for termination of early pregnancy, update

Oct 2013; Accessed at 21ST 2017.


2. Goodman gilman
3. Tang OS, Gamzell-Danielsson. Misoprostol: Pharmacokinetic profiles,

effects on the uterus and side-effects. International Journal of Gynecology

and Obstetrics. 2007;99:170-67.


4. FIGO. MISOPROSTOL-ONLY RECOMMENDED REGIMENS 2017.

USA: FIGO.

10