Anda di halaman 1dari 19

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MATARAM
2017

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama : Nn. TH
Umur : 21 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Masuk RS tanggal : 31 Mei 2017
Tanggal Pemeriksaan : 9 Juni 2017
Bangsal : Gili Air

Dokter yang merawat :dr. Audy Hidayatulloh, Sp. OT


Ko-asisten : Imam Mardani

B. SUBYEKTIF (ANAMNESA)
Pasien datang ke IGD RSUP NTB rujukan dari puskesmas Gunung Sari dengan
keluhan post kecelakaan lalu lintas. Pasien jatuh dengan badan bagian kiri mengenai aspal
terlebih dahulu. Pasien mengeluh kesakitan dengan adanya luka robek pada punggung kaki
kiri, tangan kiri dan kaki kiri tidak bisa digerakkan.

C. OBJEKTIF
Kesan umum
Kesadaran : CM, tampak kesakitan
Kesan Gizi : Baik
Vital Signs
o Tekanan Darah : 110/80 mmHg
o Suhu Tubuh : 36,3 C
o Frekuensi Nafas : 20 x/menit
o Frekuensi Nadi : 84 x/menit
o VAS :6

1
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MATARAM
2017

LAPORAN KASUS

1. Kepala
Mata
Konjunctiva anemis (+ /+), Skleraikterik (- /-),
Telinga
Discharge ( / ), Gangguan pendengaran(-/-)
Mulut
Mukosa kering( ), Bibir sianosis( ), Stomatitis( )
2. Leher
Benjolan( ), Limfonodi teraba( )
3. Thorax
Inspeksi
o Simetris (+)
Palpasi
o Benjolan ()
o Ictuscordis teraba ()
Perkusi
o Sonor (+)
Auskultasi Paru
o Vesikuler (+/+)
o Wheezing (/)
o Ronkhi (/)
Auskultasi Jantung
o S1-S2 reguler (+)
o Bising jantung ()
4. Abdomen
Inspeksi : distensi ()
Auskultasi : bising usus (+)
Perkusi : timpani (+)
Palpasi
o Nyeri tekan ( - )
o Hepar lien tidak teraba

2
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MATARAM
2017

LAPORAN KASUS

o Ascites( ) dengan pemeriksaan undulasi dan shiftingdullness.


5. Ekstremitas
Terlihat tidak simetris pada ekstremitas inferior
Akral hangat (+)
Nadi kuat regular
Capillary refilltime <2
Ekstremitas Superior
Terpasang elastic bandage pada antebrachium kiri.
Ekstremitas Inferior
Dextra Sinistra
TrueLength 76,5 76
ApparentLength 85,5 83,5

PemeriksaanStatus Lokalis

Ekstremitas Superior
Dextra Sinistra

Look Tidak tampak luka Tidak tampak luka


Tidak tampak bengkak Tampak bengkak

Feel Sensibilitas(+) sensibilitas (+)


Arteri radialis teraba (+) arteri radialis teraba (+)
Tidak ada kelainan ROM wrist joint
Ekstensi : 00 (0-700)
Move-
Flexi : 50 (0-600)
ment
Radial dev. : 00 (0-300)
Ulnar dev. : 00(0-200)

Ekstremitas Inferior
Dextra Sinistra
Tidak tampak luka Luka tertutup elastic bandage
Tidak tampak bengkak Tampak bengkak
Look Tampak lebih pendek dibanding
ekstremitas inferior dextra
(shortening)

3
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MATARAM
2017

LAPORAN KASUS

Feel Sensibilitas(+) sensibilitas (+)


Arteri dorsalis pedis teraba (+) Arteri dorsalis pedis teraba (+)
Move- Tidak ada kelainan Function Lesa
ment

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Hematologi
Parameter Hasil NilaiRujukan Satuan

HEMATOLOGY AUTOMATIC

Leukosit 7,6 4.0 10.6 10^3/uL


Eritrosit 4,02 4.50 6.00 10^6/uL
Hemoglobin 7,4 13.0 18.0 g/dL
Hematokrit 39,9 42.0 52.0 %
Trombosit 191 150 450 10^3/uL

DIFFERENTIAL TELLING

Neutrofil% 78,6 50 70 %
Lymfosit% 13,7 20 40 %
Monosit% 5,5 3 12 %
Eosinofil% 1,8 0.5 5.0 %
Basofil% 0,4 01 %

4
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MATARAM
2017

LAPORAN KASUS

Rontgen Antebrachii Sinistra

AP Lateral

Kesan : fraktur pada os


radius 1/3 distal bagian
radioulnar joint distal.
bartons fracture

Rontgen Cruris Sinistra

AP Lateral

Kesan : compound fraktur


tibia et fibulae 1/3
proximal sinistra komplit
dengan pergeseran kearah
superior

5
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MATARAM
2017

LAPORAN KASUS

Rontgen Pedis Sinistra

Kesan : Fraktur pada shaft 3rd metatarsal

Rontgen Thorax

Kesan : Besar Cor dan Pulmo Normal


Tidak terdapat adanya kelainan.

6
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MATARAM
2017

LAPORAN KASUS

E. ASSESSMENT
a. Problem
Fraktur Tertutup Radius Sinistra 1/3 distal + Fraktur Terbuka Tibia et Fibula
Sinistra 1/3 proximal Derajat II + Fraktur Tertutup segmental shaft Metatarsal (III).

F. INITIAL PLANNING & EVALUASI


Tindakan : ORIF
Farmakologis:
- Antibiotik
- Analgesic
- ATS

7
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

DASAR TEORI
A. Fraktur
A. Definisi Fraktur Dan Mekanisme Trauma
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh trauma. Fraktur dapat dibedakan menjadi fraktur terbuka apabila
terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit dan
fraktur tertutup apabila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut
juga dengan fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.1

B. Fraktur radius
1. Definisi Fraktur Radius
Fraktur radius adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius akibat jatuh dan tangan
menyangga dengan siku ekstensi.

2. Klasifikasi Fraktur1
Fraktur tertutup adalah fraktur dengan kulit utuh melewati tempat fraktur dimana tulang
tidak menonjol keluar melewati kulit.
Fraktur terbuka adalah robeknya kulit pada tempat fraktur, luka berhubungan dengan kulit
ke tulang. Oleh sebab itu fraktur berhubungan dengan lingkungan luar, sehingga
berpotensi terjadi infeksi. Fraktur terbuka lebih lanjut dibedakan menjadi 3 berdasarkan
beratnya fraktur.
Grade I : disertai kerusakan pada kulit yang minimal kurang dari 1 cm.
Grade II : seperti pada grade I dengan kulit dan luka memar pada otot.
Grade III : luka lebih dari 6-8 cm dengan kerusakan pada pembuluh darah.
Kemudian Gustillo et al. (1984) membagi tipe III dari klasifikasi Gustillo dan Anderson
(1976) menjadi tiga subtipe, yaitu tipe IIIA, IIIB dan IIIC .
- IIIA terjadi apabila fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak, walaupun
adanya kerusakan jaringan lunak yang luas dan berat.
- IIIB fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringan lunak sehingga tulang terlihat jelas atau
bone expose, terdapat pelepasan periosteum, fraktur kominutif. Biasanya disertai
kontaminasi masif dan merupakan trauma high energy tanpa memandang luas luka.

8
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

- III C terdapat trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar kehidupan bagian distal
dapat dipertahankan tanpa memandang derajat kerusakan jaringan lunak.
Fraktur komplit adalah patah yang melintang ke seluruh tulang dan sering berpindah dari
posisi normal.
Fraktur inkomplit adalah meluasnya garis fraktur yang melewati sebagian tulang dimana
yang mengganggu kontinuitas seluruh tubuh. Tipe fraktur ini disebut juga green stick atau
fraktur hickoristik.
Fraktur comminuted adalah fraktur yang memiliki beberapa fragmen tulang.
Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi sebagai hasil dari gangguan tulang yang
pokok, seperti osteoporosis. Garis fraktur membentuk sudut oblique (sekitar 45o) pada
batang atau sendi pada tulang.
Fraktur longitudinal adalah garis fraktur berkembang secara longitudinal.
Fraktur transversal adalah garis fraktur menyilang lurus pada tulang.
Fraktur spiral adalah garis fraktur berbentuk spiral mengelilingi tulang.

3. Anatomi Fisiologi Tulang Radius


Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk melekatnya
otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh. Komponen-komponen utama dari jaringan tulang
adalah mineral-mineral dan jaringan organik (kolagen dan proteoglikon). Kalsium dan fosfat
membentuk suatu kristal garam (hidroksida patit), yang tertimbun pada matriks garam (hidroksia
patit) yang tertmbun pada matriks kolagen dan proteaglikan matriks organik tulang disebut juga
sebagai suatu osteoid.4
Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Sel-selnya terdiri atas tiga jenis
dasar osteoblas, osteosit dan osteoklas. Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan
mensekresi matriks tulang.
Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam
osteum (unit matriks tulang). Osteoklas adalah sel multinuklear (berinti banyak) yang berperan
dalam penghancuran, resorbsi dan remodeling tulang.
Radius adalah tulang di sisi lateral lengan bawah merupakan tulang pipa dengan sebuah batang
dan dua ujung dan lebih pendek dari tulang ulna. Ujung atas radius kecil dan memperlihatkan
kepala berbentuk kancing dengan permukaan dangkal yang bersendi dengan kapitulum dari

9
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

humerus. Sisi-sisi kepala radius bersendi dengan takik radial dari ulna. Di bawah kepala terletak
leher dan di bawah serta di sebeelah medial dari leher ada tuberositas radii, yang dikaitkan pada
tendon dan insersi otot bisep.
Batang radius. Di sebelah atas batangnya lebih sempit dan lebih bundar daripada di bawah dan
melebar makin mendekati ujung bawah. Batangnya melengkung ke sebelah luar dan terbagi dalam
beberapa permukaan, yang seperti pada ulna memberi kaitan kepada flexor dan pronator yang
letaknya dalam di sebelah anterior dan di sebelah posterior memberi kaitan pada extensor dan
supinator di sebelah dalam lengan bawah dan tangan.
Ujung bawah agak berbentuk segiempat dan masuk dalam formasi dua buah sendi. Persendian
inferior dari ujung bawah radius berbendi dengan ska foid dan tulang semilunar dalam formasi
persendian pergelangan tangan. Permukaan persendian di sebelah medial dari yang bawah
bersendi dengan kepala dari ulna dalam formasi persendian radio-ulna inferior. Sebelah lateral
dari ujung bawah diperpanjang ke bawah menjadi prosesus stiloid radius.
Fungsi dari tulang pada lengan bawah atau tulaang radius adalah untuk pronasi dan supinasi
harus dipertahankan dengan menjaga posisi dan kesejajaran anatomik yang baik.
Proses Penyembuhan Tulang. Kebanyakan patah tulang sembuh melalui osifikasi endokondial
ketika tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut,
namun tulang mengalami regenerasi sendiri. Ada beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang :
Inflamasi
Dengan adanya patah tulang, tulang mengalami respon yang sama dengan bila ada cedera di
lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan
hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena
terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih
besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri.
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan
nyeri.
Proliferasi Sel
Dalam sekitar 5 hari, hematoma akan mengalami organisasi. Terbentuk benang-benang fibrin
dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan
osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dan osteosit, sel endotel, sel periosteum) akan
menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang.

10
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

Pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai
celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang
rawan dan tulang serat imatur. Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan
defek-secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang.
Osifikasi
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalui
proses penulangan endokondrial.
Remodeling
Tahap akhir perbaikan tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru
ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai
bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada
kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus stres fungsional pada tulang.
4. Etiologi Fraktur Radius
Penyebab paling umum fraktur adalah :
Benturan/trauma langsung pada tulang antara lain : kecelakaan lalu lintas/jatuh.
Kelemahan/kerapuhan struktur tulang akibat gangguan penyakti seperti osteoporosis,
kanker tulang yang bermetastase.
5. Patofisiologi Fraktur Radius
Fraktur kaput radii sering terjadi akibat jatuh dan tangan menyangga dengan siku ekstensi.
Bila terkumpul banyak darah dalam sendi siku (hemarthosis) harus diaspirasi untuk mengurangi
nyeri dan memungkinkan gerakan awal. Bila fraktur mengalami pergeseran dilakukan
pembedahan dengan eksisi kaput radii bila perlu. Paska operasi lengan dimobilisasi dengan bebat
gips posterior dan sling. Fraktur pada batang radius dan ulna (pada batang lengan bawah) biasanya
terjadi pada anak-anak. Baik radius maupun ulna keduanya dapat mengalami patah. Pada setiap
ketinggian, biasanya akan mengalami pergeseran bila kedua tulang patah.
Dengan adanya fraktur dapat menyebabkan atau menimbulkan kerusakan pada beberapa
bagian. Kerusakan pada periosteum dan sumsum tulang dapat mengakibatkan keluarnya sumsum
tulang terutama pada tulang panjang. Sumsum kuning yang keluar akibat fraktur terbuka masuk ke
dalam pembuluh darah dan mengikuti aliran darah sehingga mengakibatkan emboli lemak.
Apabila emboli lemak ini sampai pada pembuluh darah yang sempit dimana diameter emboli lebih

11
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

besar daripada diameter pembuluh darah maka akan terjadi hambatan aliran darah yang
mengakibatkan perubahan perfusi jaringan.
Kerusakan pada otot atau jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat karena adanya
spasme otot di sekitarnya. Sedangkan kerusakan pada tulang itu sendiri mengakibatkan perubahan
sumsum tulang (fragmentasi tulang) dan dapat menekan persyaratan di daerah tulang yang fraktur
sehingga menimbulkan gangguan syaraf ditandai dengan kesemutan, rasa baal dan kelemahan.

6. Tanda dan Gejala Fraktur Radius


Nyeri hebat pada daerah fraktur dan nyeri bertambah bila ditekan/diraba.
Tidak mampu menggerakkan lengan/tangan.
Spasme otot.
Perubahan bentuk/posisi berlebihan bila dibandingkan pada keadaan normal.
Ada/tidak adanya luka pada daerah fraktur.
Kehilangan sensasi pada daerah distal karena terjadi jepitan syarat oleh fragmen tulang.
Krepitasi jika digerakkan.
Perdarahan.
Hematoma.
Syok
Keterbatasan mobilisasi.
7. Pemeriksaan Diagnostik Fraktur Radius
Foto rontgen pada daerah yang dicurigai fraktur.
Pemeriksaan lainnya yang juga merupakan persiapan operasi antara lain :
- Darah lengkap
- Golongan darah
- Masa pembekuan dan perdarahan.
- Kimia darah.
8. Therapi/Penatalaksanaan Medik
Ada beberapa prinsip dasar yang harus dipertimbangkan pada saat menangani fraktur:
Rekognisi

12
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

Pengenalan riwayat kecelakaan, patah atau tidak, menentukan perkiraan yang patah,
kebutuhan pemeriksaan yang spesifik, kelainan bentuk tulang dan ketidakstabilan, tindakan apa
yang harus cepat dilakukan misalnya pemasangan bidai.
Reduksi
Usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen tulang yang patah sedapat mungkin kembali
seperti letak asalnya.
Cara penanganan secara reduksi :
- Pemasangan gips
Untuk mempertahankan posisi fragmen tulang yang fraktur.
- Reduksi tertutup (closed reduction external fixation)
Menggunakan gips sebagai fiksasi eksternal untuk memper-tahankan posisi tulang dengan alat-alat
: skrup, plate, pen, kawat, paku yang dipasang di sisi maupun di dalam tulang. Alat ini diangkut
kembali setelah 1-12 bulan dengan pembedahan.
Debridemen
Untuk mempertahankan/memperbaiki keadaan jaringan lunak sekitar fraktur pada keadaan
luka sangat parah dan tidak beraturan.
Rehabilitasi
Memulihkan kembali fragmen-fragmen tulang yang patah untuk mengembalikan fungsi
normal.
Perlu dilakukan mobilisasi

8. Komplikasi Fraktur Radius


Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok. Bisa berakibat fatal dalam beberapa jam setelah
cedera.
Sindroma kompartemen
Masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk
kehidupan jaringan.
- Tromboemboli
- Infeksi.

13
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

C. Fraktur Tibia Fibula


1. Pengertian
Fraktur Tibia Fibula adalah terputusnya kontinuitas tulang tibia dan fibula.

2. Etiologi
Penyebab fraktur diantaranya :
a. Trauma
1) Trauma langsung : Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut.
2) Trauma tidak langsung : Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
b. Fraktur Patologis
Fraktur disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang dan lain-
lain.
c. Degenerasi
Terjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri : usia lanjut
d. Spontan
Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.

3. Manifestasi Klinis
a. Nyeri lokal
b. Pembengkakan
c. Eritema
d. Peningkatan suhu
e. Pergerakan abnormal

4. Klasifikasi
a) Fraktur komplet : Fraktur / patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami
pergeseran dari posisi normal.
b) Fraktur tidak komplet : Fraktur / patah yang hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah
tulang.
c) Fraktur tertutup : Fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit, jadi fragmen frakturnya
tidak menembus jaringan kulit.

14
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

d) Fraktur terbuka : Fraktur yang disertai kerusakan kulit pada tempat fraktur (Fragmen frakturnya
menembus kulit), dimana bakteri dari luar bisa menimbulkan infeksi pada tempat fraktur
(terkontaminasi oleh benda asing)
e) Jenis khusus fraktur

1) Greenstick : Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi lainnya membengkok.
2) Tranversal : Fraktur sepanjang garis tengah tulang.
3) Oblik : Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang.
4) Spiral : Fraktur memuntir seputar batang tulang
5) Kominutif : Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
6) Depresi : Fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang
tengkorak dan tulang wajah)
7) Kompresi : Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
8) Patologik : Fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit pegel,
tumor)
9) Avulsi : Tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendon pada perlekatannya
10) Epifiseal : Fraktur melalui epifisis
11) Impaksi : Fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.
(Smeltzer and Bare, 2002 : 2357 2358)

5. Proses Penyembuhan Tulang


15
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

a. Stadium Pembentukan Hematoma


b. Stadium Proliferasi
c. Stadium Pembentukan Kallus.
d. Stadium Konsolidasi
e. Stadium Remodelling

6. Diagnosis
1. Anamnesa
Bila tidak ada riwayat trauma, berarti fraktur patologis. Trauma harus diperinci kapan
terjadinya, dimana terjadinya jenisnya, berat ringan trauma, arah trauma dan posisi pasien atau
ekstremitas yang bersangkutan ( mekanisme trauma
). Jangan lupa untuk meneliti kembali trauma ditempat lain secara sistematik dari kepala, muka,
leher, dada dan perut.
2. Pemeriksaan umum
Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur multipel ,
fraktur pelfis, fraktur terbuka ; Tanda tanda sepsis pada fraktur terbuka yang
mengalami infeksi.
3. Pemeriksaan status lokasi
Tanda tanda klinis pada fraktur tulang panjang :
a. Look, cari apakah terdapat :
Deformitas, terdiri dari penonjolan yang abnormal ( misalnya pada fraktur
kondilus lateralis humerus ), angulasi, rotasi, dan pemendekan Functio laesa ( hilangnya fungsi ),
misalnya pada fraktur kruris tidak bisa berjalan Lihat juga ukuran panjang tulang, bandingkan kiri
dan kanan, misalnya, pada tungkai bawah meliputi apparenth length ( jarak antara ubilikus dengan
maleolus medialis ) dan true lenght ( jarak antara SIAS dengan maleolus medialis )
b. Feel, apakah terdapat nyeri tekan. Pemeriksaan nyeri sumbu tidak dilakukan lagi karena akan
menambah trauma
c. Move, untuk mencari :
Krepitasi, terasa bila fraktur digerakan. Tetapi pada tulang spongiosa atau tulang rawan
epifisis tidak terasa kreitasi. Pemeriksaan ini sebaiknya tidak dilakukan karena akan menambah
trauma. Nyeri bila digerakan, baik pada gerakan aktif maupun pasif seberapa jauh gangguan

16
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

gangguan fungsi, gerakan gerakan yang tidak mampu digerakan, range of motion ( derajat dari
ruang lingkup gerakan sendi ), dan kekuatan

7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi / luasnya fraktur trauma
b. Scan tulang, tomogram, scan CT / MRI : memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c. Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
d. Hitung daerah lengkap : HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan
sel darah putih adalah respon stress normal setelah trauma).
e. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klien ginjal.

8. Penatalaksanaan
Ada empat konsep dasar dalam menangani fraktur, yaitu :
a. Rekognisi
Rekognisi dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur. Prinsipnya adalah mengetahui
riwayat kecelakaan, derajat keparahannya, jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi tentang
peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri.
b. Reduksi
Reduksi adalah usaha / tindakan manipulasi fragmen-fragmen seperti letak asalnya. Tindakan ini
dapat dilaksanakan secara efektif di dalam ruang gawat darurat atau ruang bidai gips. Untuk
mengurangi nyeri selama tindakan, penderita dapat diberi narkotika IV, sedative atau blok saraf
lokal.
c. Retensi
Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan
kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi
eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi gips, bidai, traksi dan teknik fiksator
eksterna.
d. Rehabilitasi
Merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur semula dengan cara melakukan ROM
aktif dan pasif seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan klien. Latihan isometric dan setting
otot. Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah.
17
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

9. Komplikasi
Komplikasi fraktur dapat dibagi menjadi :
a. Komplikasi Dini
1) Nekrosis kulit
2) Osteomielitis
3) Kompartement sindrom
4) Emboli lemak
5) Tetanus
b. Komplikasi Lanjut
1) Kelakuan sendi
2) Penyembuhan fraktur yang abnormal : delayed union, mal union dan non union.
3) Osteomielitis kronis
4) Osteoporosis pasca trauma
5) Ruptur tendon

DAFTAR PUSTAKA
1. Solomon L, warwick DJ, Nayagam S. Apleys system of orthopaedics and fractures. Eight
edition. New York :Oxford university press, 2001.
2. Sjamsuhidajat & de jong. 2010. Buku Ajar IlmuBedah.Jakarta: EGC
3. American College of Surgeon Committee of Trauma (ACSCOT). 2008. Advanced Trauma
Life Support for Doctor. Chicago: ATLS Student Course Manual.
4. Brinker. Review of Orthopaedic Trauma, Pennsylvania: Saunders Company, 2001. 53-63.
5. Rasjad, C. Buku pengantar Ilmu Bedah Ortopedi ed. III. Yarsif Watampone. Makassar:
2007. pp. 352-489
6. Fraktur. Diunduh dari http://bedahugm.net/Bedah-Orthopedi/Fracture.html
7. Sjamsuhidajat R, Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, ed revisi, EGC. Jakarta: 1998. pp.
1138-96
8. Mangunsudirejo RS. Fraktur, penyembuhan, penanganan, dan komplikasi, buku 1. Edisi 1.
Semarang: 1989
9. Fraktur. Diunduh dari http://www.klinikindonesia.com/bedah/fraktur.php.

18
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ATARAM
2017

LAPORAN KASUS

10. Buckley R, Panaro CDA. General principles of fracture care. Diunduh dari
http://www.emedicine.com/orthoped/byname/General-Principles-of-Fracture-Care.htm.
11. Fraktur Terbuka. Diunduh dari http://bedahugm.net/Bedah-Orthopedi/Fraktur-
Terbuka.html.

19