Anda di halaman 1dari 12

RESUME

ANALISIS AKTIVITAS PENDANAAN

Oleh

HAMDA KHAIRANI

1610536043

S1 AKUNTANSI INTAKE D3

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ANDALAS

2017
ANALISIS AKTIVITAS PENDANAAN

A. KEWAJIBAN

1) Kewajiban Lancar

Kewajiban Lancar (jangka pendek) merupakan kewajiban yang pelunasannya


menggunakan aktiva lancar atau munculnya kewajiban lancar lainnya. Periode yang
diharapkan untuk menyelesaikan kewajiban adalah mana yang lebih panjang satu tahun
dan satu siklus operasi perusahaan.

Terdapat dua jenis kewajiban lancar, yaitu timbul dari:

a. Aktivitas Operasi, meliputi : utang pajak, pendapatan diterima di muka, uang muka ,
piutang usaha, dan beban operasi akrual lainnya.

b. Aktivitas Pendanaan, meliputi : pinjaman jangka pendek, utang bunga, dan bagian
utang jangka panjang jatuh tempo dalam jangka waktu satu tahun.

2) Kewajiban Tak Lancar

Kewajiban Tak Lancar (jangka panjang) merupakan kewajiban yang tidak jatuh tempo
dalam jangka waktu satu tahun atau satu siklus operasi, mana yang lebih panjang.
Kewajiban ini meliputi pinjaman, obligasi, utang, dan wesel bayar. Kewajiban tak lancar
beragam bentuknya , dan penilaian serta pengukurannya memerlukan pengungkapan atas
seluruh batasan dan ketentuan. Pengungkapan meliputi tingkat bunga, tanggal jatuh tempo,
hak konversi, fitur penarikan, persyarata penyisihan dana pelunasan, provisi kredit
berulang, dan provisi subordinasi.

Analisis Kewajiban, memiliki beberapa fitur penting, yaitu :

Ketentuan utang (tanggal jatuh tempo, tingkat bunga, ola pembayaran, dan jumlah)
Pembatasan pemakaian sumber daya dan pelaksanaan aktiitas bisnis
Kemampuan dan fleksibilitas untuk memperoleh pendanaan selanjutnya
Kewajiban untuk modal kerja, perbandingan utang terhadap ekuitas (Debt to Equity), dan
ukuran keuangan lain
Fitur konversi kewajiban yang bersifat difusi
Larangan atas pembayaran-pembayaran seperti dividen
B. SEWA/SEWA GUNA USAHA (LEASE/LEASING)

Sewa (lease) merupakan perjanjian kontraktual antara pemilik (lessor) dan penyewa
(lessee). Ciri Kegiatan Sewa Guna Usaha:

1. Perjanjian antara lessor dengan lessee


2. Berdasarkan perjanjian sewa guna usaha, lessor mengalihkan hak penggunaan barang
kepada pihak lesse.
3. Lesse membayar kepada lessor uang sewa atas penggunaan barang (asset)
4. Lesse mengembalikan barang tersebut kepada lessor pada akhir periode yang ditetapkan
lebih dahulu dan jangka waktunya kurang dari umur ekonomis barang tersebut.

1) Akuntansi dan Pelaporan Sewa

Sewa (Leasing) dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:

1. Capital Lease/Finance Lease


Lessor mencatat sewa sebagai penjualan dan transaksi pendanaan dan lesse
mencatatnya (baik aset maupun kewajiban) sejumlah nilai sekarang MLP (Minimum
Lease Payment) selama masa sewa, tidak termasuk biaya administrasi seperti
asuransi, perawatan dan pajak yang dibayar oleh lessor yang termasuk dalam MLP.

Jika pada saat terjadinya, transaksi tersebut memenuhi capital lease minimal satu dari
empat kriteria sebagai berikut:
a. Terdapat transfer kepemilikan aktiva kepada lesse pada akhir masa sewa
b. Terdapat opsi untuk membeli aktiva pada harga murah
c. Masa sewa guna guna usaha 75% / lebih dari estimasi umur ekonomis aktiva.
d. Nilai sekarang sewa pembayaran sewa dan pembayaran sewa guna usaham
inimum lainnya sebesar 90% / lebih dari nilai wajar aktiva dikurangi dengankredit
pajak investasi yang ditahan oleh lessor.

Kriteria SGU dengan Hak Opsi :


a. Lessor tidak melakukan perawatan terhadap aset yang dileasingkan.
b. Kontrak tidak dapat dibatalkan
c. Fully Amortized ( Biaya sewa sama dengan harga perolehan ditambah return on
invested capital)
d. Adanya opsi diakhir masa leasing
e. Pajak dan asuransi dibayar lessee

2. Operating Lease
Lesse mencatat sewa sebagai beban saat terjadinya dan tidak ada aset atau kewajiban
yang diakui di neraca.
Kriteria SGU tanpa Hak Opsi :
a. Jumlah pembayaran selama masa SGU I tidak dapat menutup cost barang + profit
lessor
b. Perjanjian tidak memuat hak opsi bagi lessee
c. Perawatan, pajak, dan asuransi dibayar lessor
d. Kontrak bisa dibatalkan lesse sebelum masa kontrak berakhir

2). Pengungkapan Sewa

a. MLP dimasa depan secara terpisah untuk capital lease dan operating lease untuk masing-
masing tahun selama 5 tahun mendatang dan total setelahnya.
b. Beban sewa untuk masin-masing periode yang dilaporkan di laporan Laba Rugi.

3). Analisis Sewa

Dampak operating lease

Insentif bagi lesse untuk menstrukturkan sewa guna usaha sebagai operating lease terkait
dengan dampak operating lease terhadap neraca dan laporan laba rugi. Dampak pada laporan
keuangan ini adalah :

1. Operating lease menyajikan kewajiban lebih rendah dari seharusnya dengan tidak
menyajikan pendanaan sewa dalam neraca.
2. Operating lease menyediakan aset lebih rendah dari seharusnya.
3. Operating lease menunda pengakuan beban dibanding dengan capital lease.
4. Operating lease menyajikan kewajiban lancar lebih rendah dari seharusnya.
5. Operating lease memasukkan bunga dalam beban sewa.

4). Kelebihan Sewa sebagai Sumber Pembiayaan

Pembiayaan Penuh
Lebih Fleksibel
Sumber Pembiayaan Alternatif
Off Balance Sheet
Arus Dana
Proteksi Inflasi
Perlindungan akibat Kemajuan Teknologi
Sumber Pelunasan Kewajiban
Kapitalisasi Biaya
Risiko Keusangan
Kemudahan Pnyusunan Anggaran
Pembiayaan Proyek Skala Besar
Meningkatkan Debt Capacity
5). Konversi Operating Lease Menjadi Capital Lease
Langkah-langkah mengkonversi operating lease menjadi captal lease sebagai berikut.
a. Menilai apakah klasifikasi operating lease masuk akal
b. Menentukan estimasi nilai sekarang kewajiban operating lease
c. Menentukan nilai aktiva dan kewajiban sewa guna usaha
d. Mengestimasi dampak reklasifikasi sewa guna usaha pada laba yang diharapkan.

C. IMBALAN PASCAPENSIUN

1). Manfaat Pasca Pensiun (Postretirement Benefit)

a. Manfaat Pensiun (Pension Benefit) : pemberi kerja menjanjikan manfaat moneter kepada
pekerja pascapensiun.

b. Manfaat Lain Pascapensiun Pekerja (Other Postretirement Employee Benefit-OPEB) :


pemberi kerja memyediakan manfaat lain (nonmoneter) pascapensiun terutama
pemeliharaan kesehatan dan asuransi jiwa.

2). Sifat Kewajiban Pensiun

a. Program Pensiun (Pension Plan) yang merupakan janji pemberi kerja untuk menyediakan
imbalan pensiun bagi pekerja yang melibatkan tiga pihak, yaitu:

Pemberi kerja yang memberikan kontribusi pada program pension


Pekerja yang menerima imbalan
Pekerja yang menerima Dana pensiun.

Program pensiun dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu :


1. Program Pensiun Imbalan Pasti (Defined Pension), menentukan jumlah pensiun yang
dijanjikan pemberi kerja untuk disediakan bagi pensiunan.
2. Program Pensiun Iuran Pasti (Defined Contribution), menentukan jumlah kontribusi
pemberi kerja pada program pensiun.

b. Dana Pensiun (Pension Fund) terpisah dari pemberi kerja dan diadministrasikan oleh
pihak yang ditunjuk (trustee).Dana pensiun memberikan kontribusi, menginvestasikan
kontribusi dengan cara tepat, dan membagikan imbalan pensiun pada pekerja.

Tantangan akuntansi pada program pensiun adalah perkiraan kewajiban dan beban yang
dibutuhkan untuk menciptakan pembayaran kas di tahun yang akan datang.

Akuntansi dalam Pensiun


1. Kewajiban Pensiun (Pension Obligation)
2. Biaya bunga : kenaikan kewajiban pensiun
3. Kontribusi
4. Status Pendanaan (Aset Bersih Program Pensiun = Aset Program Kewajiban Pensiun)
Jika kewajiban melebihi nilai aset, maka program dikatakan program pensiun kurang
didanai (underfunded)
Jika nilai aset melebihi kewajiban, maka program dikatakan program pensiun didanai
lebih (overrfunded)

3). Imbalan Karyawan Pascapensiun Lainnya

Imbalan pascapensiun selain pensiun atau imbalan karyawan pascapensiun lainnya (other
postretirement employee benefit-OPEB) merupakan imbalan yang diberikan oleh pemberi
kerja kepada pensiunan dan anggota keluarganya. Contohnya adalah asuransi jiwa, perawatan
kesehatan, bantuan perumahan, serta jasa hokum dan pajak.

4). Analisis Manfaat Pascapensiun

Analisis pengungkapan manfaat pascapensiun penting dilakukan, karena besarnya kewajiban


maupun karena kompleksitas aturan akuntansi.

Terdapat prosedur lima langkah untuk menganalisis manfaat pascpensiun :

1. Menentukan dan merekonsiliasi biaya dan kewajiban (atau aset) manfaat ekonomis dan
yang dilaporkan
2. Membuat penyesuaian yang diperlukan atas laporan keuangan
3. Mengevaluasi asumsi aktuaria dan dampaknya pada laporan keuangan
4. Memeriksa paparan risiko pension
5. Mempertimbangkan implikasi arus kas program manfaat pascapensiun

5). Tujuan Dana Pensiun

a. Bagi Pemberi Kerja


Memberikan penghargaan kepada para karyawan uang telah lama mengabdi kepada
perusahaannya
Agar di masa pensiun tersebut karyawan mendapat jaminan
Memberikan rasa aman kepada karyawan
Meningkatkan kinerja dan motivasi karyawan
Meningkatkan citra perusahaan di mata masyarakat

b. Bagi Karyawan
Kepastian memperoleh penghasilan masa yang akan datangsesudah masa pensiun
Memberikan rasa aman dan meningkatkan motivasi untuk bekerja
c. Bagi Pengelola
Mengelola dana pensiun untuk mendapatkan keuntungan karena iuran dana pensiun
dapat dimasukkan dalam kegiatan investasi
Turut membantu menyelenggarakan program pemerintah

6). Faktor yang menentukan resiko pensiun, yaitu :

a. intensitas pension, dimana kewajiban pensiun sehubungan dengan ukuran pos aset dalam
perusahaan tersebut.
b. sejauhmana profil resiko dari aset program salah dikaitkan dengan kewajiban pensiunnya.

D. KONTINJENSI DAN KOMITMEN


I. Kontinjensi (contingencies) merupakan keuntungan dan kerugian potensial yang
penyelesaiannya bergantung pada satu atau lebih peristiwa dimasa depan.
Kerugian kontinjensi yang disebut kewajiban kontinjensi/ bersyarat (contingent
liability) merupakan klaim potensial atas sumber daya perusahaan.
Kewajiban kontinjen timbul dari perkara hukum, ancaman pengambilalihan,
penagihan piutang, klain atas garansi produk atau kerusakan produk, garansi kinerja,
perhitungan pajak, resiko yang diasuransikan sendiri, dan kerugian properti akibat
bencana.
Contoh : garansi , kerugian piutang tak tertagih, kerusakan produk, dll.
II. Komitmen (commitments) merupakan klaim potensial atas sumber daya perusahaan
berdasarkan kinerja dimasa depan sesuai kontrak.
Komitmen tidak diakui dalam laporan keuangan karena peristiwa seperti
penandatanganan kontrak atau penerbitan pesanan pembelian bukan merupakan
transaksi yang lengkap.
Contoh : kontrak jangka panjang yang tidak dapat dibatalkan untuk membeli barang
atau jasa pada harga tertentu, dan kontrak pembelian aset tetap yang harus dibayar
selama masa konstruksi.

Pengungkapan kontijensi meliputi:


1. Deskripsi kewajiban kontijen dan tingkat resiko
2. Jumlah kontijensi potensial dan bagaimana partisipasi pihak lain diperlakukan dalam
penentuan risiko.
3. Pembebanan estimasi kerugian kontijensi bila ada

Pengungkapan komitmen meliputi:


1. Jumlah
2. Kondisi
3. Waktu
E. PENDANAAN DILUAR NERACA
Pendanaan diluar neraca (off-balance-sheet financing) adalah tidak tercatatnya kewajiban
pendanaan tertentu. Contohnya : salah satu cara mendanai properti, pabrik dan peralatan adalah
meminta pihak luar untuk mendapatkannya, dan perusahaan sepakat untuk menggunakan aktiva
tersebut serta menyediakan dana yang cukup untuk melunasi utang.

Konsep Entitas Bertujuan Khusus (Special Purpose Entities-SPE):


1. SPE dibentuk oleh perusahaan sponsor dan dikapitalisasi dengan investasi ekuitas,
beberapa di antaranya harus berasal dari pihak ketiga yang independen.
2. SPE meningkatkan investasi ekuitas ini dengan meminjam dari pasar kredit dan membeli
aktiva dari atau untuk perusahaan sponsor.

3. Arus kas dari aktiva digunakan untuk membayar utang dan menyediakan pengembalian
bagi investor ekuitas.

Ada dua alasan kepopuleran SPE , yaitu :

1. SPE dapat menyediakan alternatif pendanaan berbiaya rendah daripada meminjam


langsung dari pasar kredit.
2. Dalam GAAP sekarang selama SPE distrukturkan dengan benar, SPE diperlakukan
sebagai entitas terpisah tidak dikonsolidasikan dengan perusahaan sponsor.

F. EKUITAS PEMEGANG SAHAM


Ekuitas mengacu pada pendanaan oleh pemilik (pemegang saham) perusahaan. Analisis atas
ekuitas harus dipertimbangkan pengukuran dan pelaporan standar ekuitas pemegang saham,
yaitu :
1. Mengklasifikasi dan memisahkan sumber utama pendanaan ekuitas.
2. Mempelajari hak untuk kelompok-kelompok pemegang saham dan prioritas mereka pada
likuidasi.

3. Mengevaluasi pembatasan hukum untuk distribusi ekuitas.

4. Menelaah kontrak, ketentuan hukum dan pembatasan-pembatasan lainnya atas distribusi


laba ditahan.

5. Menilai ketentuan dan provisi efek yang dapat dikonversi (convertible securities), opsi
saham dan kesepakatan lainnya yang berpotensi menerbitkan saham.

1). Modal Saham


I. Pelaporan Modal Saham
Pelaporan Saham Modal, meliputi penjelasan atas perubahan jumlah lembar modal yang
diungkapkan dalam laporan keuangan atau catatan terkait. Terdapat alasan perubahan
saham modal, terpisah menurut kenaikan dan penurunan.
a. Sumber kenaikan saham modal yang beredar:
Penerbitan saham
Konvensi utang dan saham preferen
Penerbitan dividen dan pemecahan saham (stock split)
Penerbitan saham dalam akuisisi dan merger
Penerbitan untuk opsi saham dan warant
b. Sumber penurunan saham.
Pembelian dan penghentian saham
Pembelian kembali saham
Pemecahan saham terbalik (reverse stock split)

Modal Disetor (Contributed Or Paid-In Capital)


Modal kontribusi atau modal disetor merupakan total pendanaan yang diterima dari
pemegang saham sebagai pembayaran saham modal.

Saham Diperoleh Kembali (Treasury Stock Atau Buyback)


Salam diperoleh kembali merupakan saham yang dibeli kembali stelah sebelumnya
diterbitkan dan dibayar penuh.

II. Klasifikasi Modal Saham


Modal Saham (Capital Stock) merupakan saham yang diterbitkan kepada pemegang saham
ekuitas sebagai pembayaran aktiva dan jasa.
Terdapat dua jenis Modal Saham, yaitu

a. Saham Preferen (preffered stock), yaitu kelompok khusus saham yang memiliki fitur
yang tidak dimiliki oleh saham biasa. Ciri-ciri umum saham preferen meliputi :

1. Prioritas atas distribusi dividen termasuk hak partisipasi dan dividen kumulatif;
2. Prioritas atas likuidasi, terutama penting karena selisih antara nilai nominal dan
nilai likuidasi dan nilai likuidasi saham preferen bisa besar;

3. Dapat dikonversi menjadi saham biasa;

4. Tidak memiliki hak suara;

5. Harga pembelian kembali biasanya untuk melindungi pemegang saham preferen


dari pembelian kembali yang terlalu awal (harga pembelian kembali premium
sering kali makin menurun).

6. Tidak dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan


b. Saham Biasa (common stock), yaitu kelompok saham yang mencerminkan hak
kepemilikan serta memiliki risiko tinggi dan pengembalian tinggi atas kinerja
perusahaan. Saham biasa mencerminkan bunga sisa (residual interest) dan tidak
diprioritaskan namun mendapatkan laba bersih sisa dan menyerap rugi bersih.

Ciri-ciri umum saham preferen meliputi :

1. Memiliki Keuntungan Tak Terhingga


2. Dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan
3. Memiliki hak suara;

Analisis Modal Saham


Informasi yang lebih relevan bagi analisis adalah komposisi pos modal dan pembatasan-
pembatasan yang berlaku. Komposisi ekuitas penting karena dapat memengaruhi hak sisa
atas saham biasar, serta hak, risiko dan pengembalian bagi investor ekuitas.

2). Laba Ditahan


Laba ditahan (retained earnings) merupakan modal yang dihasilkan sebuah perusahaan. Akun
laba ditahan mencerminkan akumulasi laba atau rugi yang tidak dibagikan sejak berdirinya
perusahaan. Laba ditahan merupakan sumber utama distribusi dividen.

Dividen tunai (cash dividend) merupakan distribusi kas kepada pemegang saham.
Dividen ini merupakan jenis dividen yang paling umum dan saat didistribusikan menjadi
kewajiban bagi perusahaan.
Dividen saham (stock dividend) adalah distribusi saham perusahaan itu sendiri kerpada
pemegang saham secara proporsional. Dividen ini mencerminkan kapitalisasi laba secara
permanen.

Penyesuaian Periode Lalu


Penyesuaian periode lalu (prior period adjustment) terutama merupakan koreksi kesalahan di
periode laporan keuangan lalu. Perusahaan tidak melaporkannya dalam laporan laba rugi,
melainkan melaporkannya sebagai penyesuaian (setelah pajak) atau saldo awal laba ditahan.

Apropriasi Laba Ditahan


Apropriasi laba ditahan (appropriations of retained earnings) merupakan reklasifikasi laba
ditahan untuk tujuan tertentu. Apropriasi laba ditahan (kadang kala disebut cadangan)
merupakan pengakuan bahwa perusahaan tidak berniat untuk mendistribusikannya sebagai
dividen, melainkan mencadangkannya untuk tuntutan hukum, perluasan pabrik, asuransi diri
sendiri (self-insurance), dan kontijensi bisnis lainnya. Apropriasi juga tidak membebaskan
laporan keuangan dari beban potensial. Apropriasi direklasifikasi kembalu sebagai laba
ditahan bila tujuannya telah tercapai.
Pembatasan Laba Ditahan
Pembatasan atau persyaratan bala ditahan (restriction or convenant of retained earnings)
merupakan pembatasan atau ketentuan laba ditahan sejumlah tertentu. Pembatasan penting
meliputi pembatasan distribusi dividen. Ketentuan obligasi dan kesepakatan pinjaman
merupakan sumbe rutama pembatasan tersebut. perusahaan sering kali mengungkapkan
pembatasan tersebut dalam catatan penjelas.
Analisis Laba Ditahan
Analisis pembatasan distribusi laba ditahan oleh pinjaman atau kesepakatan lain umumnya
mengungkapkan cakupan perusahaan dalam area seperti distribusi dividen atau pencapaian
modal kerja pada tingkat tertentu. Pembatasan tersebut juga mengungkapkan kekuatan
tawar-menawar perusahaan dan posisinya dalam pasar kredit.

3). Nilai Buku per Lembar Saham

Perhitungan Nilai Buku per Lembar Saham


Nilai buku per lembar saham (book value per share) adalah angka per lembar yang berasal
dari likuidasi perusahaan pada jumlah yang dilaporkan dalam neraca. Nilai buku (book
value) merupakan istilah konvensional yang mengacu pada nilai aktiva bersih, yaitu total
aktiva dikurangi dengan klaim terhadapnya.
Relevansi Nilai Buku per Lembar Saham
Nilai buku memiliki peranan penting dalam analisis laporan keuangan. Aplikasi meliputi:
1. Nilai buku, dengan potensi penyesuaian, sering kali digunakan dalam penilaian
kesepakatan merger.
2. Analisis perusahaan dengan komposisi besar aktiva likuid (institusi keuangan, investasi,
asuransi, dan bank) sangat bergantung pada nilai buku.

3. Analisis obligasi kualitas utama dan saham preferen sangat memerlukan penutupan
aktiva (asset coverage).

4). Kewajiban Pada Ujung Ekuitas

Saham Preferen yang Dapat Ditarik Kembali


Analisis harus mewaspadai efek ekuitas (umumnya saham preferen) yang memiliki provisi
penarikan kembali wajib, yang membuatnya lebih mirip hutang daripada ekuitas. Efek
tersebut tersebut mengharuskan perusahaan untuk membayar dana pada tanggal tertentu.

Hak Minoritas
Hak minoritas (minority interest) dalam perusahaan yang dikonsolidasi umumnya disajikan
dalam laporan posisi keuangan, di antara kewajiban dan ekuitas. Namun demikian, hak
minoritas bukanlah klaim langsung atas sumber daya perusahaan. Hak minoritas adalah
kepemilikan proporsional pemegang saham minoritas atas anak perusahaan yang
dikonsolidasikan tersebut.