Anda di halaman 1dari 43

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka TB Paru


1. Pengertian
TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman menyerang
Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lain (Dep Kes, 2003).
Kuman TB berbentuk batang mempunyai sifat khusus yaitu tahan
terhadap asam pewarnaan yang disebut pula Basil Tahan Asam (BTA). TB
Paru adalah penyakit infeksi pada Paru yang disebabkan oleh mycobacterium
tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam (Suriadi, 2001).
TB Paru adalah infeksi penyakit menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis, suatu basil tahan asam yang ditularkan melalui
udara (Asih, 2004).
Virulensi bacilli tuberkel berhubungan dengan kemampuannya menetap
dan berkembang di tubuh manusia dengan derajat resistensinya terhadap
ketahanan tubuh. Setelah memasuki tubuh yang rentan, perkembangan lesi
selanjutnya tergantung jumlah organisme yang masuk dan berhasil berkembang
biak.

2. ETIOLOGI
Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa, Bakteri ini
berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang
Tahan Asam (BTA). Jenis bakteri ini pertama kali ditemukan oleh seseorang
yang bernama Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, Untuk mengenang
jasa beliau maka bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan penyakit
TBC pada paru-paru pun dikenal juga sebagai Koch Pulmonum (KP).
Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang terinfeksi oleh Mycobacterium
tuberculosis :
a) Herediter: resistensi seseorang terhadap infeksi kemungkinan diturunkan
secara genetik.
b) Jenis kelamin: pada akhir masa kanak-kanak dan remaja, angka kematian
dan kesakitan lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
c) Usia : pada masa bayi kemungkinan terinfeksi sangat tinggi.
d) Pada masa puber dan remaja dimana masa pertumbuhan yang cepat,
kemungkinan infeksi cukup tingggi karena diit yang tidak adekuat.
e) Keadaan stress: situasi yang penuh stress (injury atau penyakit, kurang
nutrisi, stress emosional, kelelahan yang kronik).
f) Meningkatnya sekresi steroid adrenal yang menekan reaksi inflamasi dan
memudahkan untuk penyebarluasan infeksi.
g) Anak yang mendapat terapi kortikosteroid kemungkinan terinfeksi lebih
mudah.
h) Nutrisi ; status nutrisi kurang i) Infeksi berulang : HIV, Measles, pertusis.
i) Tidak mematuhi aturan pengobatan.

3. Masa Inkubasi
Masa inkubasi mikobacterium tuberculosa sejak masuk sampai terjadinya
lesi primer, umumnya memerlukan waktu empat sampai enam
minggu. Interval antara infeksi primer dan reinfeksi bisa beberapa tahun.

2.1. Anamnesa
Sebagian besar kasus Tuberkulosis Paru didiagnosis karena pasien merasa tidak
sehat sehingga dating meminta bantuan ke suatu Puskesmas, Klinik, Rumah Sakit atau
Praktek Dokter.Pada umumnya pasien dating dengan gejala utama batuk secara terus-
menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih.Selain itu gejala tambahan yang
tampak pada pasien TB adalah gejala sistemik dan respiratorik. (Jhon Crofton,2002)
Gejala sistemik pada umumnya penderita akan mengalami demam. Demam
tersebut berlangsung pada waktu sore dan malam hari disertai dengan keluar keringat
dingin meskipun tanpa kegiatan, kemudian kadang hilang. Gejala ini akan timbul lagi
beberapa bulan seperti demam influenza biasa dan seolah-olah sembuh (tidak demam
lagi).Gejala lain adalah malaise (seperti perasaan lesu) yang bersifat kronik diserti rasa
tidak enak badan, lemah, lesu, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan semakin
kurus, pusing, serta mudah lelah. Gejala sistemik ini terdapat baik pada tuberkulosis
paru maupun tuberkulosis yang menyerang organ lain. (Bambang Ruswanto,2010)
Adapun gejala respiratorik atau gejala saluran pernapasan adalah batuk. Batuk
bias berlangsung terus menerus selama 3 minggu atau lebih, hal ini terjadi apabila
sudah melibatkan bronchus. Batuk pada penderita TB Paru akan bertambah hebat bila
pernderita tidur pada malam hari. Gejala respiratorik lainnya adalah batuk produktif
sebagai upaya untuk membuang ekskresi peradangan berupa dahak atau sputum.Dahak
ini kadang bersifat mucoid atau purulent.Dahak yang dikeluarkan biasanya berwarna
abu-abu kotor atau hitam menunjukan pigmen yang mengandung karbon atau
besi.Kadang gejala respiratorik ini ditandai dengan batuk darah.Hal ini disebabkan
karena pembuluh darah pecah akibat luka dalam alveoli yang sudah lanjut.Batuk dahak
inilah yang sering membawa pendrita ke dokter. Apabila kerusakan sudah meluas,
timbul sesak napas dan apabila pleura susah terkena maka disertai pula rasa nyeri dada.
(Bambang Ruswanto,2002)

2.2. Patofisiologi
Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah saluran pernapasan, saluran
pencernaan (GI) dan luka terbuka di kulit. Kebanyakan infeksi TB terjadi melalui
udara, yaitu ,melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel
yang berasal dari orang terinfeksi. (Sylvia A.Price dan Mary P.Standridge,2005)
TB adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas diperantarai sel.
Sel efektor adalah makrofag dan limfosit (biasanya limfosit T) adalah sel
imnoresponsif.Tipe imunitas seperti ini biasanya local, melibatkan makrofag yang
diaktifkan ditempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya.Respon ini disebut reaksi
hipersensitivitas seluler (lambat). (Sylvia A.Price dan Mary P.Standridge,2005)
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai
suatu unit yang terdiri dari 1-3 basil, gumbalan basil yang lebih besar cenderung
bertahan disaluran hidung dan cabang besar bronchus dan tidak menyebabkan
penyakit.Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian bawah lobus atas
paru atau di bagian atas lobus bawah.Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi
peradangan.Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit
bakteri namun tidak membunuh organisme tersebut.Sesudah hari-hari pertama leukosit
diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul
pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendrinya, sehingga
tidak ada sisa yang tertinggal atau proses daoat berjalan terus dan bakteri terus
difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah
bening menuju ke kelenjar getah bening regional. Makrofag yang mengadakan
infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian besar bersatu sehingga membentuk sel
tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit, reaksi ini biasanya membutuhkan
waktu 10-20 hari. (Sylvia A.Price dan Mary P.Standridge,2005)
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya.Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahaknya
maka makin menular penderita tersebut.Bila hasil pemeriksaan dahaknya negative
maka penderita tersebut dianggap tidak menular.Faktor risiko yang mempengaruhi
kemungkinan seseorang menjadi penderita tuberkulosis paru adalah Karena daya tahan
tubuh yang lemah, di antara karena gizi buruk dan HIV/AIDS.HIV merupakan faktor
risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi kuman TB menjadi sakit tuberkulosis paru.
Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular
imunity), sehingga jka terjadi infeksi penyerta (opurtunistik), seperti tuberkulosis paru
makan yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bakan bisa mengakibatkan
kematian. Bila jumlah orang terinfesksi HIV meningkat ,maka jumlah penderita TB
paru akan meningkat pula.(Bambang Ruswanto,2010)

2.3. Patogenesa
2.3.1. Tuberkulosis Primer
Penularan TB Paru terjadi karena kuman dibatukkan menjadi droplet nuclei
dalam udara sekitar kita. Partikel infeksi ini dapat menetap di udara bebas selama 1
sampai 2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan
kelembapan. Dalam suasana gelap dan lembab kuman bias bertahan sampai berhari-
hari bahkan berbulan-bulan. Bila partikel ini terhisap oleh orang sehat dia akan
menempel pada saluran pernapasan atau jaringan paru. Partikel dapat masuk ke
alveolar bila ukuran partikel <5 mm. kuman akan dihadapi pertama kali oleh netorfil,
kemudian oleh makrofag. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh
makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dengan
sekretnya. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
Bila kuman menetap di jaringan paru berkembang biak dalam sitoplasma
makrofag. Disini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman yang
berserang di jaringan paruakan berbentuk sarang tuberculosis pneumonia dan disebut
sarang primer atau efek primer atau sarang Ghon. Sarang primer ini dapat terjadi
disetiap bagian jaringan paru bila menjalar ke pleura maka terjadilah efusi
pleura.Kuman dapat juga masuk melalui saluran gastrointestinal jaringan limfe,
orofaring, dan kulit, terjadi limfadenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam
vena dan menjalar ke seluruh organ seperti paru, otak, ginjal dan tulang. Bila masuk ke
arteri pulmonalis maka akan menjalar ke seluruh bagian paru yang menjadi TB millier.
(Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus
(limfangitis local) dan juga diikuti pembesaran kelnjar getah bening hilus (limfadenitis
regional). Sarang primer limfangitis local + limfadenitis regional = complex primer
(ranke). Semua proses ini memakan waktu 3-8 minggu. Complex primer ini
selanjutnya menjadi :
Sembuh sama sekali tanpa menimbulkan cacat. Ini yang banyak terjadi
Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotic atau
klasifikasi di hilus, keadaan ini terdapat pada lesi pneumonia yang luasnya
>5mm dan kurang lebih 10% diantaranya terjadi reaktivasi lagi karena kuman
yang dormant
Berkomplikasi dan menyebar secara :
- Perkontinuitatum yakni menyebar kesekitarnya
- Bronkogen yakni menyebar ke paru yang bersangkutan sebelahnya, kuman
dapat juga tertelan dan menyebar ke usus
- Limfogen yakni ke organ tubuh lainnya
- Hematogen, ke organ tubuh lainnya. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
2.3.2. Tuberkulosis Sekunder
Kuman yang dormant pada TB primer akan muncul bertahun-tahun kemudian
sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa. TB sekunder terjadi karena
imunitas menurun seperti malnutrisi, alcohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS, gagal
ginjal.TB sekunder dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di region atas paru
(bagian apical-posterior lobus superior atau inferior).Invasinya adalah ke daerah
parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiller paru-paru. (Zulkifli Amin dan Asril
Bahar,2009)
sarang ini mula-mula berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3-10 minggu
sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel histiosit dan sel
datia langhans dikelilingi oleh sel limfosit dan bergbagi jaringan ikat. (Zulkifli Amin
dan Asril Bahar,2009)
TB sekunder juga dapat berasal dari infeksi oksogen dari usia umur muda
menjadi TB usia tua tergantung dari jumlah kuman, virulensinya dan imunitas pasien.
Sarang dini ini dapat menjadi :
Direabsorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat
sarang yang mula-mula meluas tetapi segera sembuh dengan serbukan jaringan
fibrosis. Ada yang membungkus diri menjadi keras dan menjadi perkapuran.Sarang
dini yang meluas sebagai granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat
sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis, menjadi lembek membentuk
jaringan keju. Bila jaringan keju di batukkan keluar akan terjadilah kavitas. Kavitas ini
mula-mula berdinding tipis, lama-lama dinidngnya menebal karena infiltrasi jaringan
fibroblast dalam jumlah besar sehingga menjadi kavitas kronik. Terjadinya perkejuan
dan kavitas adalah karena hidrolisis protein lipid dan asam nukleat oleh enzim yang
diproduksi makrofag dan poses berlebihan sitokin dengan TNFnya. Bentuk perkejuan
lain yang jarang adalah cryptic disseminate TB yang terjadi pada imunodefisiensi dan
usia lanjut. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
Di sini lesi sangat kecil tetapi berisi bakteri sangat banyak. Kavitas dapat :
Meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonia baru. Bila isi kavitas
ini masuk dalam peredaran darah arteri maka akan terjadi TB millier. Dapat
juga masuk ke patu sebelahnya atau tertelan masuk lambung dan
selanjutnya ke usus jadi TB usus. Bisa juga terjadi TB endobronkial atau
TB endotrakeal atau empiema bila rupture terjadi sampi pleura
Memadat dan membungkus diri sehingga terjadi tuberkuloma.Tuberkuloma ini dapat
mengapur dan menyembuh atau dapat aktif lagi menjadi cair dan jadi kavitas lagi.
Komplikasi kronik kavitas adalah kolonisasi oleh fungus seperti aspergillus dan
kemudian menjadi mycetoma disebut open healed cavity. Dapat juga menyembuh
dengan membungkus diri menjadi kecil.Kadang-kadang berakhir sebagai kavitas yang
terbungkus, menciut dan membentuk seperti bintang disebut stellate shaped. (Zulkifli
Amin dan Asril Bahar,2009)

2.3.3. Klasifikasi Tuberkulosis


Sampai sekarang belum ada kesepakatan di antara para klinikus, ahli radiologi,
ahli patologi, mikrobiologi dan ahli kesehatan masyarakat tentang keseragaman
klasifkasi tuberkulosis. Dari sistem lama diketahui beberapa klasifikasi seperti :
a. Pembagian secara patologis :
Tuberkulosis primer ( Child hood tuberculosis ).
Tuberkulosis post primer ( Adult tuberculosis ).
b. Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :
Tuberkulosis Paru BTA positif.
Tuberkulosis Paru BTA negative
c. Pembagian secara aktifitas radiologis :
Tuberkulosis paru ( Koch pulmonal ) aktif.
Tuberkulosis non aktif .
Tuberkulosis quiesent ( batuk aktif yang mulai sembuh ).
d. Pembagian secara radiologis ( Luas lesi )
Tuberculosis minimal, yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas
pada satu paru maupun kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus
paru.
Moderateli advanced tuberculosis, yaitu, adanya kapitas dengan diameter tidak
lebih dari 4 cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian
paru. Bila bayangannya kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian satu paru.
For advanced tuberculosis, yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang melebihi
keadaan pada moderateli advanced tuberculosis.
e. Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat pada tahun 1974 American Thorasic
Society memberikan klasifikasi baru:
Karegori O, yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak
tidak pernah, tes tuberculin negatif.
Kategori I, yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi, disini
riwayat kontak positif, tes tuberkulin negatif.
Kategori II, yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit.
Kategori III, yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit.
f. Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :
Kategori I : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus
baru dengan batuk TB berat.
Kategori II : ditujukan terhadap kasus kamb uh dan kasus gagal dengan sputum
BTA positf.
Kategori III : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang
tidak luas dan kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I.
Kategori IV : ditujukan terhadap TB kronik.
2.4. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris), badan
kurus atau berat badan menurun.
Pada pemeriksaan fisis pasien sering tidak menunjukkan suatu kelainan pun
terutama pada kasus-kasus dini atau yang sudah terinfiltrasi secara asimtomatik.
Demikian juga bila sarang penyakit terletak di dalam, akan sulit menemukan kelainan
pada pemeriksaan fisis, Karena hataran getaran/suara yang lebih dari 4 cm ke dalam
paru sulit dinilai secara palpasi, perkusi, auskultasi. Secara anamnesis dan pemeriksaan
fisis, TB Paru sulit dibedakan dengan pneumonia biasa.
Tempat kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah bagian apeks
(puncak) paru. Bila dicurigai adanya infiltrate yang agak luas, maka didapatkan
perkusi yang redup dan auskultasi suara nafas bronchial. Akan didapatkan juga suara
napas tambahan berupa ronki basah, kering dan nyraing. Tetapi bila infiltat ini diliputi
oleh penebalan pleura, suara napasnya menjadi vesicular melemah. Bila terdapat
kavitas yang cukup besar, perkusi memberikan suara hipersonor atau timpani dan
auskultasi memberikan suara amfrotik.
Pada tuberkulosis paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan
atrofi dan retraksi otot-otot interkostal. Bagian paru yang sakit jadi menciut dan
menarik isi mediastinum atau paru lainnya. Paru yang sehat menjadi lebih hiperinflasi.
Bila jaringan fibrotic amat luas yakni lebih dari setengah jumlah jaringan paru-paru,
akan terjadi pengecilan daerah aliran darah paru dan selanjutnya meningkatkan
tekanan arteri pulmonalis (hipertensi pulmonal) diikuti terjadinya kor pulmonal dan
gagal jantung kanan. Disini akan didapatkan tanda-tanda kor pulmonal dengan gagal
jantung kanan seperti takipnea, takikardia, sianosis, right ventricular lift, right atrial
gallop, murmur Graham-Steel, bunyi P2 yang mengeras, tekanan vena jugularis yang
meningkat, hepatomegali, asites, dan edema.
Bila tuberkulosis mengenai pleura, sering terbentuk efusi pleura. Paru yang
sakit terlihat agak tertinggal dalam pernapasan. Perkusi memberikan suara pekak.
Auskultasi memberikan suara napas yang lemah sampai tidak terdengar sama sekali.
Dalam penampilan klinis, TB paru sering asimtomatik dan penyakit baru
dicurigai dengan didapatkannya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin atau
uji tuberculin yang positif.
2.5. Pemeriksaan Penunjang
2.5.1. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum ini penting karena dengan ditemukannya kuman BTA
pada sputum seseorang sudah dapat didiagnosa tuberkulosis paru.Pemeriksaan sputum
juga dapat mengevaluasi pengobatan yang sudah diberikan. (Zulkifli Amin dan Asril
Bahar,2009)
Pemeriksaan ini mudah dan murah, tapi kadang-kadang sulit untuk
mendapatkan sampel sputum. Apabila ditemui kesulitan dalam mendapatkan sampel
maka dapat dilakukan hal sebagai berikut :
Pada pemeriksaan sputum pasien dianjurkan minum air sebanyak +2liter dan
dianjurkan melakukan reflex batuk
Memberi tambahan obat-obat mukolitik eks-pektoran atau dengan inhalasi
larutan garam hipertonik selama 20-30 menit. (Zulkifli Amin dan Asril
Bahar,2009)
Sputum yang diperiksa terdiri dari 3 spesimen, yaitu :
Dahak setempat pertama ketika pasien datang
Dahak pagi hari berisi semua dahak yang terkumpul selama 1-2 jam pertama
Dahak setempat kedua ketika pasien kembali membawa dahak pagi hari.
(Jhon Crofton,2002)
Cara pemeriksaan sediaan sputum yang dilakukan adalah :
Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop biasa
Dengan sediaan pulasan yang dipakai ialah menurut Wright-Giemza, pulasan
gram dan pulasan terhadap kuman tahan asam, yang penting adalah Ziehl-
Nesslen dan pulasan gram.Untuk pemeriksaan gram lebih bermakna, sebaiknya
sputum yang diperoleh dicuci beberapa kali dengan larutan gram steril supaya
kuman-kuman yang melekat hanya pada unsur-unsur sputum dan yang tidak
berasal dari bronkus menjadi hanyut.Jika hendak memakai sputum yang
dipekatkan terlebih dulu untuk mencari bakteri tahan asam, carilah sebagian
dari sputum ituyang berkeju atau yang purulent untuk dijadikan sediaan yang
lebih tipis. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop fluoresense dengan sinar
ultraviolet.Walaupun sensitivitasnya tinggi sangat jarang dilakukan karena pewarnaan
yang dipakai (auraminro-damin) dicurigai bersifat karsinogenik. (Zulkifli Amin dan
Asril Bahar,2009)
Pemeriksaan biakan
Setekah 4-6 minggu penanaman sputum dalam medium biakan koloni kuman
Tuberkulosis mulai tampak.Bila setelah 1 minggu pertumbuhan koloni tidak
juga tampak biakan dinyatakan negative.Sediaan yang dipakai yaitu
Lowenstein Jensen, kudoh atau ogawa. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
Saat ini sudah dikembangkan pemeriksaan biakan sputum BTA dengan cara
bactee (bactee 400 radio metric system) dimana kuman sudah dapat dideteksi
dalam 7-10 hari.

Disamping itu dengan teknik Polimerase Chain Rection (PCR) dapat dideteksi
kuman BTA lebih cepat. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga specimen
hasilnya positif. Bila hanya satu specimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan
lebih lanjut foto rontgen dada atau pemerisaan sputum Sewaktu, Pagi, Sewaktu (SPS)
diulang :
a. Kalau hasil rontgen mendukung tuberkulosis paru, maka penderita di diagnosis
sebagai penderita tuberkulosis paru BTA positif.
b. Kalau hasil rontgen tidak mendukung tuberkulosis paru maka pemeriksaan
dahak diulangi dengan SPS lagi.
Apabila fasilitas memnungkinkan maka dapat dilakukan pemeriksaan biakan.
Bila 3 spesimen dahak hasilnya negative, diberikan antibiotic spectrum luas (missal :
contrimocsasol atau amoksisilin) Selama 1-2 minggu, bila tidak ada perubahan, namun
gejala klinis tetap mencurigakan tuberkulosis paru, ulangi pemeriksaan dahak SPS.
a. Kalau hasil SPS positive, maka didiagnosis sebagai penderita tuberkulosis paru
BTA positive
b. Kalau hasil SPS tetap negative, dilakukan pemeriksaan foto rontgen dada,
untuk mendukung diagnosis tuberkulosis paru
1) Bila hasil rontgen mendukung tuberkulosis paru, didiagnosis sebagai
penderita tuberkulosis paru BTA negative rontgen positive
2) Bila hasil rontgen tidak mendukung tuberkulosis paru, pendrita tersebut
bukan tuberkulosis paru
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat alur prosedur diagnostic untuk suspek
tuberkulosis paru pada bagian berikut ini :
2.5.2 Tes Tuberkulin
Biasanya dipakai tes mantoux yakni dengan menyuntikan 0,1 cc tuberculin P.P.D
(puriviet protein derivative) intrakutan berkekuatan 5 T.U (Intermediate Streng). Tes
tuberculin hanya digunakan untuk menentukan apakah seorang individu sedang atau
pernah mengalami infeksi M.Tuberculosa, M.bofis, vaksinasi BCG dan mycobacteria
pathogen lainnya.Dasar tes tuberculin ini adalah reaksi alergi tipe lambat. Pada
penularan dengan kuman pathogen baik yang virulen maupun tidak tubuh manusia
akan mengadakan reaksi imunologi dengan dibentuknya antibody seluler pada
permulaan dan kemudian diikuti oleh pembentukan antibody humoral yang perannya
akan menekan antibody seluler. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
Bila pembentukan antibody seluler cukup misalnya pada penularan dengan
kuman yang sngat virulen dan jumlah kuman yang sangat besar atau pada keadaan
dimana pembentukan antibody humoral amatlah berkurang maka akan mudah terjadi
penyakit sesudah penularan. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
Setelah 48-72 jam tuberculin disuntikkan, akan timbul reaksi berupa indurasi kemerah-
merahan yang terdiri dari infiltrasi limfosit yakni reaksi persenyawaan antara antibody
selular dan antigen tuberculin. Banyak sedikitnya reaksi persenyawaan antibody
seluler dan antigen tuberculin amat dipengaruhi oleh antibody humoral, makin besar
pengaruh antibody humoral makin kecil indurasi yang dihasilkan. (Zulkifli Amin dan
Asril Bahar,2009)
Klasifikasi tes mantoux intradermal reaksi tuberculin (tuberculin dengan TU
PDD) :
a. Indurasi >5mm diklasifikasikan positive dalam kelompok berikut ini :
Orang dengan HIV positive
Baru-baru ini kontak dengan orang yang menderita TB
Orang dengan perubahan fibrotic pada radiografi dada yang sesuai
dengan gambaran TB lama yang sudah sembuh
Pasien yang menjalani transplantasi organ dan pasien yang mengalami
penekanan imunitas (menerima setara dengan >15 mg/hari pretmisone
selama >1 bulan)
b. Indurasi >10mm diklasifikasikan positive dalam kelompok berikut ini :
Baru tiba (<5 tahun) dari Negara yang berprevalensi tinggi
Pemakaian obat-obatan yang disuntikkan
Penduduk dan pekerja yang berkumpul pada lingkungan yang berisiko
tinggi (penjara, rumah-rumah perawatan, panti jompo, rumah sakit,
penampungan tunawisma)
Pegawai laboratorium mikrobiologi
Orang dengan keadaan klinis pada daerah mereka yang berisiko tinggi
Anak dibawah usia 4 tahun atau anak-anak dan remaja yang terpanjan
orang dewasa kelompok berisiko tinggi
c. Indurasi >15mm, diklasifikasikan positive dalam kelompok berikut ini :
Orang dengan faktor risiko TB yang tidak diketahui
Biasanya hampir seluruh pasien tuberkulosis memberikan reaksi mantoux yang
positive (99,8%). Kelamahan tes ini juga terdapat positive palsu yakni pada pemberian
BCG atau terinfeksi dengan mycobacterium lain. Negative palsu lebih banyak ditemui
daripada positive palsu.
Hal-hal yang memberikan reaksi tuberculin berkurang (negative palsu) yakni :
Pasien yang baru 2-10 minggu terpajan tuberkulosis
Anergi, penyakit sistemik berat (sarkoidosis, LE)
Penyakit exsantematous dengan panas yang akut : morbilli, cacar air,
poliomyelitis
Reaksi hipersensitivitas menurun pada penyakit limforetikuler (Hodgkin)
Pemberian kortikosteroid yang lama, pemberian obat-obatan imunosupresi
lainnya
Usia tua, malnutrisi, uremia, penyakit keganasan.
Untuk pasien dengan HIV positive, tes mantoux kurang lebih 5 mm, dinilai
positive.
2.5.3. Pemeriksaan Sinar X (Radiologis)
Gambaran rontgen yang memberikan kesan kuat tentang adanya tuberkulosis
adalah :
a) Bagian atas paru menunjukkan bayangan berupa bercak atau bernoduler
b) Kavitas (lubang)
c) Bayangan dengan perkapuran dapat menyebabkan kesulitan dalam diagnosis.
Dapat terjadi pneumonia tau tumor paru di tepat-tepat yang dulunya terdapat
tuberkulosis yang sudah sembuh lalu mengapur.
Bayangan-bayangan lain yang mungkin berkaitan dengan tuberkulosis adalah :
a) Bayangan bentuk oval atau bundar soliter (tuberkuloma)
b) Kelanainan pada hillus dan mediastinum disebabkan oleh pembesaran kelenjar
limfe (complex primer yang bertahan)
c) Bayangan titik-titik kecil yang tersebar (tuberkulosis millier). (Jhon
Crofton,2002)
2.5.4. Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan ini kurang mendapatkan perhatian karena hasilnya kadang-kadang
meragukan, hasilnya tidak sensitive dan tidak spesifik.Pada saat tuberkulosis paru
mulai aktifakan mendapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung
jenis pergeseran ke kiri.Jumlah limfosit masih dibawah normal.Laju endap darah mulai
meningkat.Bila penyakit mulai sembuh jumlah leukosit kembali normal dan jumlah
limfosit masih meninggi.Laju endap darah mulai turun kea rah normal lagi. (Zulkifli
Amin dan Asril Bahar,2009)
Hasil pemeriksaan darah lain didapatkan juga :
1. Anemia ringan dengan gambaran normokrom dan normositer.
2. Gama globulin meningkat
3. Kadar natrium darah menurun.
Pemeriksaan tersebut juga tidak spesifik. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
Pemeriksaa serologis yang pernah dipakai adalah reaksi takahashi. Pemeriksaan
ini dapat menunjukkan proses tuberkulosis masih aktif atau tidak. Dengan hasil
positive pada titer 1/28.Pemeriksaan ini juga kurang mendapatkan perhatian karena
angka-angka positive palsu dan negative palsunya masih besar. (Zulkifli Amin dan
Asril Bahar,2009)
Belakangan ini juga dipakai pemeriksaan serologis yakni PAP-TB (Perosidase
Anti Peroksida).Prinsip pemeriksaan ini adalah menentukan adanya antibody IgG yang
spesifik tergadap antigen M.tuberculosa.sebagai antigen dipakai polimer sitoplasma
m.tuberkulin van bovis BCG yang dihancurkan secara ultrasonil dan dipsahkan secara
ultrasentrifus. Hasil uji PAP-TB dinyatakan patologis bila pada titer 1:10.000
didapatkan hasil uji PAP-TB positive.Hasil positive palsu kadang-kadang masih
didapatkan pada pasien reumatik, kehamilan dan masa 3 bulan revaksinasi BCG.Uji ini
dapat membantu mengakkan diagnosis TB aktif serta memantau hasil terapi dan dapat
mendeteksi adanya kekambuhan, juga dapat mengidentifikasi TB aktif baik diluar paru
maupun diparu. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
Uji serologis lainnya adalah uji mycodot.disini dipakai antigen LAM
(Lipoarabinomanan) yang dilekatkan pada uatu alat yang bebentuk sisir plastic.Sisir
iini dicelupkan kedalam serum pasien. Antibody spesifik anti LAM dalam serum akan
terdeteksi sebagai perubahan warna pada sisir yang intensitasnya sesuai dengan jumlah
antibody. (Zulkifli Amin dan Asril Bahar,2009)
2.6. Diagnosis
Dari uraian-uraian sebelumnya tuberkulosis paru cukup mudah dikenal mulai
dari keluhan-keluhan klinis, gejala-gejala, kelainan fisis, kelainan radiologis sampai
dengan kelaianan bakteriologis. Tetapi dalam prakteknya tidaklah selalu mudah
menegakkan diagnosisnya. Menurut American Thoracic Society dan WHO 1964
diagnosis pasti tuberkulosis paru adalah dengan menemukan kuman Mycobacterium
tuberculose dalam sputum atau jaringan paru secara biakan. Tidak semua pasien
memberikan sediaan atau biakan sputum ysng positif Karena kelainan paru yang belum
berhubungan dengan bronkus atau pasien tidak bias membatukkan sputumnya dengan
baik. Kelainan baru jelas setelah penyakit berlanjut sekali.
Di Indonesia agak sulit menerapkan diagnosis di atas karena fasilitas
laboratorium yang sangat terbatas untuk pemeriksaan biakan. Sebenarnya dengan
menemukan kuman BTA dalam sediaan sputum secara mikroskopik biasa, sudah
cukup untuk memastikan diagnosis tuberkulosis paru, Karena kekerapan
Mycobacterium atypic di Indonesia sangat rendah. Sesungguhnya begitu hanya 30-
70%saja dari seluruh kasus tuberkulosis paru yang dapat didiagnosis secara
bakteriologis.
Diagnosis tuberkulosis paru masih banyak ditegakkan berdasarkan kelainan
klinisdan radiologis saja. Kesalahan diagnosis dengan cara ini cukuip banyak sehingga
memberikan efek terhadap pengobatan yang sebenarnya tidak diperlukan. Oleh sebba
itu dalam diagnosis , tuberkulosis paru sebaiknya dicantumkan status klinis, status
radiologis dan status kemoterapi. WHO tahun 1991 memberikan criteria pasien
tuberkulosis paru.
Pasien dengan sputum BTA positif : 1. Pasien yang pada pemeriksaan
sputumnya secara mikroskopis ditemukan BTA, sekurang-kurangnya pada 2 x
pemeriksaan, atau 2. Satu sediaan sputumnya positif disertai kelainan
radiologis yang sesuai dengan gambaran TB aktif, atau 3. Satu sediaan
sputumnya positif disertai bukan biakannya postifif.
Pasien dengan sputum BTA negative: 1. Pasien yang pada pemeriksaan secara
mikroskopis tidak ditemukan BTA sedikitnyapada 2 x pemeriksaan tetapi
gambaran radiologis sesuai dengan TB aktif atau 2. Pasien yang ada
pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak ditemukan BTA sama sekali,
tetapi pada biakannya positif.
Di samping TB paru terdapat juga TB ekstra paru, yakni pasien dengan
kelainan histologis atau dengan gambaran klinis sesuai dengan TB aktif atau pasien
dengan satu sediaan dari organ ekstra parunya menunjukkan hasil bakteri M.
tuberculosae .
Diluar pembagian tersebut diatas pasien digolongkan lagfi berdasarkan riwayat
penyakitnya, yakni :
Kasus baru, yakni pasien yang tidak mendapat obat anti TB lebih dari 1 bulan.
Kasus kambuh, yakni pasien yang pernah dinyatakan sembuh dari TB, tetapi
kemudian timbul lagi TB aktifnya.
Kasus gagal (smear positive fallure), yakni :
- Pasien yang sputum BTA-nya tetap positif setelah mendapat obat anti
TB lebih dari 5 bulan, atau
- Pasien yag menghentikan pengobatannya setelah mendapat obat anti TB
1-5 bulan dan sputum BTA-nya positif.
Kasus kronik, yakni pasien yang sputum BTAnya tetap positif setelah
mendapat pengopbatan ulang (retreatment) lengkap yang disupervisi dengan
baik.
Hal lain yang agak jarang ditemukan adalah cryptic tuberculosis. Disini
pemeriksaan radiologis dan laboratorium / sputum menunjukkan hasil negative dan
kelainan klinisnya sangat minimal (biasanya demam saja dan dianggap sebagai fever of
unknown origin. Diagnosis diberikan berdasarkan percobaan terapi dengan obat anti
tuberkulosis seperti INH + etambutol selama 2 minggu. Bila keluhan membaik terapi
dengan obat anti tuberkulosis diteruskan sebagaimana mestinya. Bila tidak ada
perbaikan maka obat-obat di atas dihentikan.
2.7. Komplikasi
Komplikasi Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan
menimbulkan komplikasi seperti: pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis,TB usus
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita
tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya
jalan napas.
Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat
retraksi bronchial.
Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan
ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
Pneumotorak spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan Paru.
Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.
Insufisiensi kardio pulmoner

B. TINJAUAN PUSTAKA TEORI MODEL FLORENCE NIGHTINGALE

Sejak adanya sejarah kehidupan manusia di bumi ini, manusia telah berusaha
mengumpulkan fakta. Dari fakta ini kemudian disusun dan disimpulkan menjadi
berbagai teori, sesuai fakta yang di kumpulkan tersebut. Teori teori tersebut
kemudian digunakan untuk memahami gejala gejala alam dan kemasyarakatan yang
lain. Sejalan dengan perkembangan kebudayaan, sosial, politik, ekonomi dan teknologi
umat manusia, teori teori tersebut makin berkembang baik kualitas maupun maupun
kuantitasnya, seperti apa yang telah kita rasakan sekarang ini. Makalah ini membahas
tentang Teori Florence Nigthingale, yang didalamnya berisi tentang isi dari teori
Nightingale, pembahasan teori, dan contoh peran perawat berdasarkan teori
Nightingale. Apa yang berada dalam makalah ini sangat bermanfaat dan berguna
terutama bagi seorang perawat. Teori Nightingale adalah teori yang mengemukakan
tentang lingkungan. Florence Noghtingale sendiri adalah perawat yang pertama kali
ada di dunia dan beliau di kenal sebagai wanita yang pantang menyerah dalam
merawat pasien dan memiliki jiwa penolong serta sangat berperan penting dalam
perkembangan ilmu keperawatan. Teori dari Florence nightingale sangatlah
bermanfaat bagi para perawat terutama pada saat kita merawat pasien. Mungkin pada
saat kita merawat pasien kita melupakan faktor lingkungan di sekitar pasien, padahal
lingkungan sangatlah berpengaruh dalam penyembuhan pasien. Pasien sangatlah
membutuhkan kenyamanan dan ketenangan pada saat dia di rawat. Semoga dengan
adanya makalah ini dapat menjadi bahan perhatian kita semua.

Biografi

Florence Nightingale

Lahir 12 Mei 1820


Firenze, Kadipaten Agung Toscana

Meninggal 13 Agustus 1910 (umur 90)


Park Lane, London, Britania Raya

Dikenal karena Memelopori perawatan modern

Profesi Perawat dan statistikawan

Institusi Selimiye Barracks, Scutari

Spesialisasi Kebersihan dan sanitasi rumah sakit

Tanda tangan

Florence Nightingale (lahir di Florence, Italia, 12 Mei 1820 meninggal di


London, Inggris, 13 Agustus 1910 pada umur 90 tahun) adalah pelopor perawat
modern, penulis dan ahli statistik. Ia dikenal dengan nama Bidadari Berlampu (bahasa
Inggris The Lady With The Lamp) atas jasanya yang tanpa kenal takut mengumpulkan
korban perang pada perang Krimea, di semenanjung Krimea, Rusia. Florence
Nightingale menghidupkan kembali konsep penjagaan kebersihan rumah sakit dan
kiat-kiat juru rawat. Ia memberikan penekanan kepada pemerhatian teliti terhadap
keperluan pasien dan penyusunan laporan mendetil menggunakan statistik sebagai
argumentasi perubahan ke arah yang lebih baik pada bidang keperawatan di hadapan
pemerintahan Inggris.

Masa kecil Florence Nightingale lahir di Firenze, Italia pada tanggal 12 Mei
1820 dan dibesarkan dalam keluarga yang berada. Namanya diambil dari kota tempat
ia dilahirkan. Nama depannya, Florence merujuk kepada kota kelahirannya, Firenze
dalam bahasa Italia atau Florence dalam bahasa Inggris. Semasa kecilnya ia tinggal
di Lea Hurst, sebuah rumah besar dan mewah milik ayahnya, William Nightingale
yang merupakan seorang tuan tanah kaya di Derbyshire, London, Inggris. Sementara
ibunya adalah keturunan ningrat dan keluarga Nightingale adalah keluarga terpandang.
Florence Nightingale memiliki seorang saudara perempuan bernama Parthenope.

Pada masa remaja mulai terlihat perilaku mereka yang kontras dan Parthenope
hidup sesuai dengan martabatnya sebagai putri seorang tuan tanah. Pada masa itu
wanita ningrat, kaya, dan berpendidikan aktivitasnya cenderung bersenang-senang saja
dan malas, sementara Florence lebih banyak keluar rumah dan membantu warga
sekitar yang membutuhkan. Perjalanan ke Jerman. Di tahun 1846 ia mengunjungi
Kaiserswerth, Jerman, dan mengenal lebih jauh tentang rumah sakit modern pionir
yang dipelopori oleh Pendeta Theodor Fliedner dan istrinya dan dikelola oleh biarawati
Lutheran (Katolik). Di sana Florence Nightingale terpesona akan komitmen dan
kepedulian yang dipraktekkan oleh para biarawati kepada pasien. Ia jatuh cinta pada
pekerjaan sosial keperawatan, serta pulang ke Inggris dengan membawa angan-angan
tersebut.

Pada usia dewasa Florence yang lebih cantik dari kakaknya, dan sebagai
seorang putri tuan tanah yang kaya, mendapat banyak lamaran untuk menikah. Namun
semua itu ia tolak, karena Florence merasa "terpanggil" untuk mengurus hal-hal yang
berkaitan dengan kemanusiaan. Pada tahun 1851, kala menginjak usia 31 tahun, ia
dilamar oleh Richard Monckton Milnes seorang penyair dan seorang ningrat (Baron of
Houghton), lamaran ini pun ia tolak karena ditahun itu ia sudah membulatkan tekad
untuk mengabdikan dirinya pada dunia keperawatan. Keinginan ini ditentang keras
oleh ibunya dan kakaknya. Hal ini dikarenakan pada masa itu di Inggris, perawat
adalah pekerjaan hina dan sebuah rumah sakit adalah tempat yang jorok. Banyak orang
memanggil dokter untuk datang ke rumah dan dirawat di rumah.

Perawat pada masa itu hina karena :

- Perawat disamakan dengan wanita tuna susila atau "buntut" (keluarga tentara
yang miskin) yang mengikuti kemana tentara pergi.
- Profesi perawat banyak berhadapan langsung dengan tubuh dalam keadaan
terbuka, sehingga dianggap profesi ini bukan profesi sopan wanita baik-baik
dan banyak pasien memperlakukan wanita tidak berpendidikan yang berada di
rumah sakit dengan tidak senonoh.
- Perawat di Inggris pada masa itu lebih banyak laki-laki daripada perempuan
karena alasan-alasan tersebut di atas.
- Perawat masa itu lebih sering berfungsi sebagai tukang masak.

Argumentasi Florence bahwa di Jerman perawatan bisa dilakukan dengan baik


tanpa merendahkan profesi perawat patah, karena saat itu di Jerman perawat juga
biarawati Katolik yang sudah disumpah untuk tidak menikah dan hal ini juga secara
langsung melindungi mereka dari perlakuan yang tidak hormat dari pasiennya.
Walaupun ayahnya setuju bila Florence membaktikan diri untuk kemanusiaan, namun
ia tidak setuju bila Florence menjadi perawat di rumah sakit. Ia tidak dapat
membayangkan anaknya bekerja di tempat yang menjijikkan. Ia menganjurkan agar
Florence pergi berjalan-jalan keluar negeri untuk menenangkan pikiran.

Tetapi Florence berkeras dan tetap pergi ke Kaiserswerth, Jerman untuk


mendapatkan pelatihan bersama biarawati disana. Selama empat bulan ia belajar di
Kaiserwerth, Jerman di bawah tekanan dari keluarganya yang takut akan implikasi
sosial yang timbul dari seorang gadis yang menjadi perawat dan latar belakang rumah
sakit yang Katolik sementara keluarga Florence adalah Kristen Protestan. Selain di
Jerman, Florence Nightingale juga pernah bekerja di rumah sakit untuk orang miskin
di Perancis.

Kembali ke Inggris. Pada tanggal 12 Agustus 1853, Nightingale kembali ke


London dan mendapat pekerjaan sebagai pengawas bagian keperawatan diInstitute for
the Care of Sick Gentlewomen, sebuah rumah sakit kecil yang terletak di Upper Harley
Street, London, posisi yang ia tekuni hingga bulan Oktober 1854. Ayahnya
memberinya 500 per tahun (setara dengan 25,000 atau Rp. 425 juta pada masa
sekarang), sehingga Florence dapat hidup dengan nyaman dan meniti karirnya.

Di sini ia beragumentasi sengit dengan Komite Rumah Sakit karena mereka


menolak pasien yang beragama Katolik. Florence mengancam akan mengundurkan
diri, kecuali bila komite ini merubah peraturan tersebut dan memberinya izin tertulis
bahwa:

rumah sakit akan menerima tidak saja pasien yang beragama Katolik, tetapi
juga Yahudi dan agama lainnya, serta memperbolehkan mereka menerima
kunjungan dari pendeta-pendeta mereka, termasuk rabi, dan ulama untuk
orang Islam

Komite Rumah Sakit pun merubah peraturan tersebut sesuai permintaan


Florence. Pada 1854 berkobarlah peperangan di Semenanjung Krimea. Tentara Inggris
bersama tentara Perancis berhadapan dengan tentara Rusia. Banyak prajurit yang gugur
dalam pertempuran, namun yang lebih menyedihkan lagi adalah tidak adanya
perawatan untuk para prajurit yang sakit dan luka-luka.

Keadaan memuncak ketika seorang wartawan bernama William Russel pergi ke


Krimea. Dalam tulisannya untuk harian TIME ia menuliskan bagaimana prajurit-
prajurit yang luka bergelimpangan di tanah tanpa diberi perawatan sama sekali dan
bertanya, "Apakah Inggris tidak memiliki wanita yang mau mengabdikan dirinya
dalam melakukan pekerjaan kemanusiaan yang mulia ini?" Hati rakyat Inggris pun
tergugah oleh tulisan tersebut. Florence merasa masanya telah tiba, ia pun menulis
surat kepada menteri penerangan saat itu, Sidney Herbert, untuk menjadi sukarelawan.

Pada pertemuan dengan Sidney Herbert terungkap bahwa Florence adalah satu-
satunya wanita yang mendaftarkan diri. Di Krimea prajurit-prajurit banyak yang mati
bukan karena peluru dan bom, namun karena tidak adanya perawatan, dan perawat pria
jumlahnya tidak memadai. Ia meminta Florence untuk memimpin gadis-gadis
sukarelawan dan Florence menyanggupi.
Pada tanggal 21 Oktober 1854 bersama 38 gadis sukarelawan yang dilatih oleh
Nightingale dan termasuk bibinya Mai Smith, berangkat ke Turki menumpang sebuah
kapal. Pada tanggal November 1854 mereka mendarat di sebuah rumah sakit pinggir
pantai di Scutari. Saat tiba disana kenyataan yang mereka hadapi lebih mengerikan dari
apa yang mereka bayangkan.

Beberapa gadis sukarelawan terguncang jiwanya dan tidak dapat langsung


bekerja karena cemas, semua ruangan penuh sesak dengan prajurit-prajurit yang
terluka, dan beratus-ratus prajurit bergelimpangan di halaman luar tanpa tempat
berteduh dan tanpa ada yang merawat. Dokter-dokter bekerja cepat pada saat
pembedahan, mereka memotong tangan, kaki, dan mengamputasi apa saja yang
membahayakan hidup pemilik, potongan-potongan tubuh tersebut ditumpuk begitu saja
diluar jendela dan tidak ada tenaga untuk membuangnya jauh-jauh ke tempat lain.
Bekas tangan dan kaki yang berlumuran darah menggunung menjadi satu dan
mengeluarkan bau tak sedap.

Florence diajak mengelilingi neraka tersebut oleh Mayor Prince, dokter kepala
rumah sakit tersebut dan menyanggupi untuk membantu. Florence melakukan
perubahan-perubahan penting. Ia mengatur tempat-tempat tidur para penderita di
dalam rumah sakit, dan menyusun tempat para penderita yang bergelimpangan di luar
rumah sakit. Ia mengusahakan agar penderita yang berada di luar paling tidak
bernaung di bawah pohon dan menugaskan pendirian tenda. Penjagaan dilakukan
secara teliti, perawatan dilakukan dengan cermat; perban diganti secara berkala, obat
diberikan pada waktunya, lantai rumah sakit dipel setiap hari, meja kursi dibersihkan,
dan baju-baju kotor dicuci dengan mengerahkan tenaga bantuan dari penduduk
setempat. Akhirnya gunungan potongan tubuh, daging, dan tulang-belulang
manusiapun selesai dibersihkan, mereka dibuang jauh-jauh atau ditanam.

Dalam waktu sebulan rumah sakit sudah berubah sama sekali, walaupun
baunya belum hilang seluruhnya namun jerit dan rintihan prajurit yang luka sudah jauh
berkurang. Para perawat sukarelawan bekerja tanpa kenal lelah hilir-mudik di bawah
pengawasan Florence Nightingale.
Ia juga menangani perawat-perawat lain dengan tangan besi, bahkan mengunci
mereka dari luar pada malam hari. Ini dilakukan untuk membuktikan pada orang tua
mereka di tingkat ekonomi menengah, bahwa dengan disiplin yang keras dan di bawah
kepemimpinan kuat seorang wanita, anak-anak mereka bisa dilindungi dari
kemungkinan serangan seksual. Ketakutan akan hal inilah yang membuat ibu-ibu
di Inggris menentang anak perempuan mereka menjadi perawat, dan menyebabkan
rumah sakit di Inggris ketinggalan dibandingkan di benua Eropa lainnya dimana
profesi keperawatan dilakukan oleh biarawati dan biarawati-biarawati ini berada
dibawah pengawasan Biarawati Kepala.

Pada malam hari saat perawat lain beristirahat dan memulihkan diri, Florence
menuliskan pengalamannya dan cita-citanya tentang dunia keperawatan, dan obat-
obatan yang ia ketahui. Namun, kerja keras Florence membersihkan rumah sakit tidak
berpengaruh banyak pada jumlah kematian prajurit, malah sebaliknya, angka kematian
malah meningkat menjadi yang terbanyak dibandingkan rumah sakit lainnya di daerah
tersebut. Pada masa musim dingin pertama Florence berada disana sejumlah 4077
prajurit meninggal dirumah sakit tersebut. Sebanyak 10 kali lipat prajurit malah
meninggal karena penyakit seperti; tipes, tifoid, kolera, dan disentri dibandingkan
dengan kematian akibat luka-luka saat perang. Kondisi di rumah sakit tersebut menjadi
sangat fatal karena jumlah pasien melimpah lebih banyak dari yang mungkin bisa
ditampung, hal ini menyebabkan sistem pembuangan limbah dan ventilasi udara
memburuk.

Pada bulan bulan Maret 1855, hampir enam bulan setelah Florence Nightingale
datang, komisi kebersihan Inggris datang dan memperbaiki sistem pembuangan limbah
dan sirkulasi udara, sejak saat itu tingkat kematian menurun drastis. Namun Florence
tetap percaya saat itu bahwa tingkat kematian disebabkan oleh nutrisi yang kurang dari
suplai makanan dan beratnya beban pekerjaan tentara. Pemikiran ini baru berubah saat
Florence kembali ke Inggris dan mengumpulkan bukti dihadapan Komisi Kerajaan
untuk Kesehatan Tentara Inggris (Royal Commission on the Health of the Army),
akhirnya ia diyakinkan bahwa saat itu para prajurit di rumah sakit meninggal akibat
kondisi rumah sakit yang kotor dan memprihatinkan.
Hal ini berpengaruh pada karirnya di kemudian hari dimana ia gigih
mengkampanyekan kebersihan lingkungan sebagai hal yang utama. Kampanye ini
berhasil dinilai dari turunnya angka kematian prajurit pada saat damai (tidak sedang
berperang) dan menunjukkan betapa pentingnya disain sistem pembuangan limbah dan
ventilasi udara sebuah rumah sakit. Pada suatu kali, saat pertempuran dahsyat di luar
kota telah berlalu, seorang bintara datang dan melapor pada Florence bahwa dari kedua
belah pihak korban yang berjatuhan banyak sekali. Florence menanti rombongan
pertama, namun ternyata jumlahnya sedikit, ia bertanya pada bintara tersebut apa yang
terjadi dengan korban lainnya. Bintara tersebut mengatakan bahwa korban selanjutnya
harus menunggu sampai besok karena sudah terlanjur gelap.

Florence memaksa bintara tersebut untuk mengantarnya ke bekas medan


pertempuran untuk mengumpulkan korban yang masih bisa diselamatkan karena bila
mereka menunggu hingga esok hari korban-korban tersebut bisa mati kehabisan darah.
Saat bintara tersebut terlihat enggan, Florence mengancam akan melaporkannya
kepada Mayor Prince. Berangkatlah mereka berenam ke bekas medan pertempuran,
semuanya pria, hanya Florence satu-satunya wanita. Florence dengan berbekal lentera
membalik dan memeriksa tubuh-tubuh yang bergelimpangan, membawa siapa saja
yang masih hidup dan masih bisa diselamatkan, termasuk prajurit Rusia.

Malam itu mereka kembali dengan membawa lima belas prajurit, dua belas
prajuritInggris dan tiga prajurit Rusia. Semenjak saat itu setiap terjadi pertempuran,
pada malam harinya Florence berkeliling dengan lampu untuk mencari prajurit-prajurit
yang masih hidup dan mulailah ia terkenal sebagai bidadari berlampu yang menolong
di gelap gulita. Banyak nyawa tertolong yang seharusnya sudah meninggal.

Selama perang Krimea, Florence Nightingale mendapatkan nama "Bidadari


Berlampu". Pada tahun 1857 Henry Longfellow, seorang penyair AS, menulis puisi
tentang Florence Nightingale berjudul "Santa Filomena", yang melukiskan bagaimana
ia menjaga prajurit-prajurit di rumah sakit tentara pada malam hari, sendirian, dengan
membawa lampu.

Pada jam-jam penuh penderitaan itu, datanglah bidadari berlampu


untukku.

Pulang ke Inggris. Florence Nightingale kembali ke Inggris sebagai pahlawan


pada tanggal 7 Agustus 1857, semua orang tahu siapa Florence Nightingale dan apa
yang ia lakukan ketika ia berada di medan pertempuran Krimea, dan menurut BBC, ia
merupakan salah satu tokoh yang paling terkenal setelah Ratu Victoria sendiri.
Nightingale pindah dari rumah keluarganya di Middle Claydon, Buckinghamshire, ke
Burlington Hotel di Piccadilly. Namun, ia terkena demam, yang disebabkan oleh
Bruselosis ("demam Krimea") yang menyerangnya selama perang Krimea. Dia
memalangi ibu dan saudara perempuannya dari kamarnya dan jarang
meninggalkannya.

Sebagai respon pada sebuah undangan dari Ratu Victoria - dan meskipun
terdapat keterbatasan kurungan pada ruangannya - Nightingale memainkan peran
utama dalam pendirian Komisi Kerajaan untuk Kesehatan Tentara Inggris, dengan
Sidney Herbert menjadi ketua. Sebagai wanita, Nightingale tidak dapat ditunjuk untuk
Komisi Kerajaan, tetapi ia menulis laporan 1.000 halaman lebih yang termasuk laporan
statistik mendetail, dan ia merupakan alat implementasi rekomendasinya. Laporan
Komisi Kerajaan membuat adanya pemeriksaan tentara militer, dan didirikannya
Sekolah Medis Angkatan Bersenjata dan sistem rekam medik angkatan bersenjata.

Ketika ia masih di Turki, pada tanggal 29 November 1855, publik bertemu


untuk memberikan pengakuan pada Florence Nightingale untuk hasil kerjanya pada
perang yang membuat didirikannya Dana Nightingale untuk pelatihan perawat. Sidney
Herbert menjadi sekretaris honorari dana, dan Adipati Cambridge menjadi ketua.
Sekembalinya Florence ke London, ia diundang oleh tokoh-tokoh masyarakat. Mereka
mendirikan sebuah badan bernama "Dana Nightingale", dimana Sidney Herbert
menjadi Sekertaris Kehormatan dan Adipati Cambridge menjadi Ketuanya. Badan
tersebut berhasil mengumpulkan dana yang besar sekali sejumlah 45.000 sebagai
rasa terima kasih orang-orang Inggris karena Florence Nightingale berhasil
menyeamatkan banyak jiwa dari kematian.
Florence menggunakan uang itu untuk membangun sebuah sekolah perawat
khusus untuk wanita yang pertama, saat itu bahkan perawat-perawat pria pun jarang
ada yang berpendidikan. Florence berargumen bahwa dengan adanya sekolah perawat,
maka profesi perawat akan menjadi lebih dihargai, ibu-ibu dari keluarga baik-baik
akan mengijinkan anak-anak perempuannya untuk bersekolah disana dan masyarakat
akan lain sikapnya menghadai seseorang yang terdidik. Sekolah tersebut pun didirikan
di lingkungan rumah sakit St. Thomas Hospital, London. Dunia kesehatan pun
menyambut baik pembukaan sekolah perawat tersebut.

Saat dibuka pada tanggal 9 Juli 1860 berpuluh-puluh gadis dari kalangan baik-
baik mendaftarkan diri, perjuangan Florence di Semenanjung Krimea telah
menghilangkan gambaran lama tentang perempuan perawat. Dengan didirikannya
sekolah perawat tersebut telah diletakkan dasar baru tentang perawat terdidik dan
dimulailah masa baru dalam dunia perawatan orang sakit. Kini sekolah tersebut
dinamakan Sekolah Perawat dan Kebidanan Florence Nightingale (Florence
Nightingale School of Nursing and Midwifery) dan merupakan bagian dari Akademi
King College London.

Sebagai pimpinan sekolah Florence mengatur sekolah itu dengan sebaik


mungkin. Tulisannya mengenai dunia keperawatan dan cara mengaturnya dijadikan
bahan pelajaran di sekolah tersebut.

Saat tiba waktunya anak-anak didik pertama Florence menamatkan sekolahnya,


berpuluh-puluh tenaga pemudi habis diambil oleh rumah sakit sekitar, padahal rumah
sakit yang lain banyak meminta bagian. Perawat lulusan sekolah Florence pertama kali
bekerja pada Rumah Sakit Liverpool Workhouse Infirmary. Ia juga berkampanye dan
menggalang dana untuk rumah sakit Royal Buckinghamshire di Aylesbury dekat
rumah tinggal keluarganya. Dengan perawat-perawat terdidik, era baru perawatan
secara modernpun diterapkan ditempat-tempat tersebut. Dunia menjadi tergugah dan
ingin meniru. Mereka mengirimkan gadis-gadis berbakat untuk dididik di sekolah
tersebut dan sesudah tamat mereka diharuskan mendirikan sekolah serupa di negerinya
masing-masing.
Pada tahun 1882 perawat-perawat yang lulus dari sekolah Florence telah
tumbuh dan mengembangkan pengaruh mereka pada awal-awal pengembangan profesi
keperawatan. Beberapa dari mereka telah diangkat menjadi perawat senior (matron),
termasuk di rumah sakit-rumah sakit London seperti St. Mary's Hospital, Westminster
Hospital, St Marylebone Workhouse Infirmary dan the Hospital for Incurables
(Putney); dan diseluruh Inggris, seperti: Royal Victoria Hospital, Netley; Edinburgh
Royal Infirmary; Cumberland Infirmary; Liverpool Royal Infirmary dan juga di
Sydney Hospital, di New South Wales, Australia.

Orang sakit menjadi pihak yang paling beruntung di sini, disamping mereka
mendapatkan perawatan yang baik dan memuaskan, angka kematian dapat ditekan
serendah mungkin. Buku dan buah pikiran Florence Nightingale menjadi sangat
bermanfaat dalam hal ini. Pada tahun 1860 Florence menulis buku Catatan tentang
Keperawatan (Notes on Nursing) buku setebal 136 halaman ini menjadi buku acuan
pada kurikulum di sekolah Florence dan sekolah keperawatan lainnya. Buku ini juga
menjadi populer di kalangan orang awam dan terjual jutaan eksemplar di seluruh
dunia.

Pada tahun 1861 cetakan lanjutan buku ini terbit dengan tambahan bagian
tentang perawatan bayi. Pada tahun 1869, Nightingale dan Elizabeth Blackwell
mendirikan Universitas Medis Wanita. Pada tahun 1870-an, Linda Richards, "perawat
terlatih pertama Amerika", berkonsultasi dengan Florence Nightingale di Inggris, dan
membuat Linda kembali ke Amerika Serikat dengan pelatihan dan pengetahuan
memadai untuk mendirikan sekolah perawat. Linda Richards menjadi pelopor perawat
di Amerika Serikat dan Jepang.

Pada tahun 1883 Florence dianugrahkan medali Palang Merah Kerajaan (The
Royal Red Cross) oleh Ratu Victoria. Pada tahun 1907 pada umurnya yang ke 87 tahun
Raja Inggris, di hadapan beratus-ratus undangan menganugerahkan Florence
Nightingale dengan bintang jasa The Order Of Merit dan Florence Nightingale menjadi
wanita pertama yang menerima bintang tanda jasa ini.

Pada tahun 1908 ia dianugrahkan Honorary Freedom of the City dari kota London.
Nightingale adalah seorang universalis Kristen. Pada tanggal 7 Februari 1837 tidak
lama sebelum ulang tahunnya ke-17 sesuatu terjadi yang akan mengubah hidupnya:
ia menulis, "Tuhan berbicara padaku dan memanggilku untuk melayani-Nya."
Meninggal dunia. Florence Nightingale meninggal dunia di usia 90 tahun pada
tanggal 13 Agustus 1910. Keluarganya menolak untuk memakamkannya di
Westminster Abbey, dan ia dimakamkan di Gereja St. Margaret yang terletak di East
Wellow, Hampshire, Inggris

BAB II

TINJAUAN TEORI

Konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan


keperawatan dan perhatian di mana perawat tidak perlu memahami seluruh proses
penyakit merupakan upaya awal untuk memisahkan antara profesi keperawatan dan
kedokteran. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk
dengan masalah pemberian obat dan pengobatan, tetapi lebih berorientasi pada
pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan dan nutrisi
yang adekuat ( Nightingale, 1860; Torres, 1986 ). Melalui observasi dan pengumpulan
data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatan klien dengan faktor
lingkungan dan sebagai hasil, yang menimbulkan perbaikan kondisi higiene dan
sanitasi selama perang Crimean. Torres mencatat ( 1986 ) mencatat bahwa nightingale
memberikan konsep dan penawaran yang dapat divalidasi dan digunakan untuk
menjalankan praktik keperawatan. Nightingale dalam teori deskripsinya memberikan
cara berpikir tentang keperawatan dankerangka rujukan yang berfokus pada klien dan
lingkungannya ( Torres, 1986). Surat Nightingale dan tulisannya tangannya menuntun
perawat untuk bekerja atas nama klien. Prinsipnya mencakup bidang pelayanan,
penelitian, dan pendidikan. Hal paling penting adalah konsep dan prinsip yang
membentuk dan melingkupi praktik keperawatan (marriner tomey, 1994).
Nightingale berpikir dan menggunakan proses keperawatan. Ia mencatat bahwa
observasi [pengkajian] bukan demi berbagai informasi atau fakta yang mencurigakan,
tetapi demi penyelamatan hidup dan meningkatkan kesehatan dan keamanan.
Kelebihan Teori Keperawatan Florence Nightingale :

Salah satu kisah fakta yang mencetuskan teori modern dalam dunia
keperawatan.

Pada zaman keperawatan Florence Nightingale memandang pasien dalam


kontek keseluruhan lingkungan yaitu lingkungan fisik, psikologis, sosial.

Florence Nightingale memandang perawat tidak hanya sibuk dengan


masalah pemberian obat dan pengobatan saja, tetapi lebih berorientasi pada
pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan,
dan nutrisi adekuat.

Pengkajian atau observasi yang dilakukan Florence Nightingale bukan demi


berbagai informasi atau fakta yang mencurigakan, tetapi demi
penyalamatan hidup dan meningkatkan kesehatan dan keamanan.

Semua tindakan yang dilakukan penuh kasih sayang dan bekerja untuk
Tuhan Y.M.E.

Asuhan keperawatan yang diberikan penuh dengan semangat semata-mata


untuk kesembuhan pasien.

Kelemahan Teori Keperawatan Florence Nightingale :

Teori Keperawatan Florence Nightingale sempat diragukan


kemampuannya.

Perawat pada saat itu dianggap pekerjaan remeh dan disepelekan oleh
banyak orang.
Kurangnya dukungan dari perawat lain dalam proses pelayanan dan
perkembangannya saat itu.

Kurangnya sarana dan pra-sarana yang menunjang.

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1. Definisi
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium tuberculosis), yang menyerang terutama paru. (Bambang
Ruswanto,2005)
3.2. Etiologi atau Faktor Penyebab
Mycobacterium tuberculosis
Kingdom : bacteria.
Filum : actinobacteria
Ordo : actinimycetales
Upaordo : corynebacterineae
Family : mycobacteriaceae
Genus : mycobacterium
Spesies : mycobacterium tuberculosis

Adapun bentuk bakteri Mycobacterium tuberculosis ini adalah basil tuberkel yang
merupakan batang ramping dan kurus, dapat berbentuk lurus ataupun bengkok yang
panjangnya sekitar 2-4 m dan lebar 0,2 -0,5 m yang bergabung membentuk rantai.
Besar bakteri itu tergantung pada kondisi lingkungan ( Wikipedia ,2010).
Mycobacterium tuberculosis tidak dapat diklasifikasikan sebagai bakteri gram
positif atau bakteri gram negative, karena apabila diwarnai sekali dengan zat warna
basa, warna tersebut tidak dapat dihilangkan dengan alcohol, meskipun dibubuh
iodium. Oleh sebab itu bakteri termasuk dalam bakteri tahan asam. Mycobacterium
tuberculosa cenderung permukaan selnya dan pertumbuhan
bergerombol.Mycobacterium tuberculosis tidak menghasilkan kapsul atau spora serta
dinding selnya terdiri dari peptidoglikan di bawahnya.Struktur ini menurunkan
permeabilitas dinding sel, sehingga mengurangi efektifitas dari antibiotik.
Lipoarabinomannan, suatu molekul lain dalam dinding sel mycobacterium
tuberculosis dapat bertahan hidup di dalam makrofag ( indah, 2010).
Bakteri Mycobacterium memiliki sifat tidak tahan panas serta akan mati pada
suhu 6 derajal celcius selama 15-20 menit. Biakan bakteri ini dapat mati jika terkena
sinar matahari langsung selama 2 jam.Dalam dahak, bakteri mycobacterium dapat
bertahan selama 20 -30jam.Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan
hidup 8-10 hari. Biakan basil ini apabila berada dalam suhu kamar dapat hidup 6-8
bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan suhu 20 derajat celcius selama 2 tahun.
Mycobacterium tahan terhadap berbagi khemikali dan disinfektan antara lain phenol
5%, asam sulfat 15 %, asam sitrat 3%, dan NaOH. Basil ini dihancurkan oleh jodium
tincture dalam 5 menit, dengan alcohol 80% akan hancur dalam 2-10 menit ( hiswani
M. Kes, 2010).
Mycobacterium tuberculosis dapat tahan hidup diudara kering maupun dalam
keadaan dingin atau dapat hidup bertahun tahun dalam lemari es.Hal ini dapat terjadi
apabila kuman berada dalam sifat dormant (tidur).Pada sifat dormant ini apabila suatu
saat terdapat keadaan dimana memungkinkan untunk berkembang, kuman tuberculosis
ini dapat bangkit kembali (hiswani M. Kes, 2010).
Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri aerob,oleh karena itu pada
kasus TBC biasanya mereka ditemukan pada daerah yang banyak udaranya.
Microbacteria mendapat energy dari oksidasi berbagai senyawa karbon sederhana.
Aktivitas biokimianya tidak khas, dan laju pertumbuhannya lebih lambat dari
kebanyakan bakteri lain karena sifatnya yang cukup kompleks dan dinding selnya
yang impermeable, sehingga penggandaannya hanya berlangsung setiap kurang lebih
18 jam. Karena pertumbuhannya yang lamban, seringkali sulit untuk mendiagnostik
tuberculosis dengan cepat. Bentuk saprofit cenderung tumbuh lebih cepat,
berkembang biak pada tahun 22 -23 derajat celcius, mengahasilkan lebih banyak
pigmen , dan kurang tahan asam dari pada bentuk yang pathogen. Mikrobacterium
cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam
ditempat yang gelap dan lembab.
Bakteri ini biasanya berpindah dari tubuh manusia ke manusia lainnya melalui
saluran pernapasan, keluar melalui udara yang dihembuskan pada proses respirasi dan
terhisap masu saat seseorang menarik nafas. Habitat asli bakteri mycobacterium
tuberculosis sendiri adalah paru paru manusia.Droplet yang terhirup sangat kecil
ukurannya, sehingg sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat
kuman tuberculosis berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di dalam
paru-paru (anonima, 2010).
Bakteri mycobacterium tuberculosis adalah bakteri yang dapat menyebabkan
penyakit tuberculosis atau disingkat TBC. Sumber penularan adalah penderita
tuberculosis (TB) yang dahaknya mengandung kuman TB hidup ( BTA (-)).infeksi
kuman ini paling sering disebabkan melalui udara. Penyebaran melalui udara berupa
partikel partikel percikan dahak yang mengandung kuman yang bersala dari
penderita saat batuk, tertawa, bernyanyi atau berbicara. Partikel yang mengandung
kuman ini akan terhisap oleh orang sehat dan me nimbulkan infeksi di saluran
pernafasan. Bakteri aktif mikrobakteria mencemari udara yang ditinggali atau
ditempati manusia, karena sumber dari bakteri ini adalah manusia. Bakteri ini dapat
hidup selama beberapa jam pada udara terbuka, dan selama itulah dia akan
berterbangan di udara hingga akhirnya menemukan manusia sebagai tempat hidup.
Biasanya pencemaran oleh bakteri ini terjadi pada rumah yang dipenuhi orang
namun memiliki ventilasi yang buruk. Juga ditempat tempat ramai yaitu sarana-sarana
perhubungan seperti bis sekolah, kapal laut, asrama, penjara, dan bahkan dari dokter
yang kurang mempertahankan sanitasi tubuhnya. Habitat asli dari kuman ini hanya
manusia dan menjadikan lingkungan sebagai perantara.TB paru pada orang dewasa
biasanya disebabkan oleh reaktivasi infeksi sebelumnya sedangkan pada anak-anak
menunjukkan penularan aktif M. tuberculosis. (Utis Sutisna dan Trimar
Handayani,2009)

3.3. Tanda dan Gejala


a. Gejala utama : batuk terus menerus dan berdahak selama tiga minggu atau
lebih.
b. Gejala tambahan yang sering dijumpai :
- Dahak bercampur darah
- Batuk darah
- Sesak nafas dan rasa nyeri dada
- Badan lemah dan nafsu makan menurun
- Malaise atau rasa urang enak badan
- Berat badan menurun
- Berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan
- Demam meriang lebih dari satu bulan
Gejala-gejala tersebut dijumpai pula pada penyakit paru selain
tuberkulosis.Oleh karena itu setiap orang yang datang ke Unit Pelayanan
Kesehatan (UPK) dengan gejala tersebut, harus dianggap sebagai seorang
suspek tuberkulosis paru atau tersangka penderita tuberkulosis paru, dan perlu
dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. (Ni Putu Ari
Widiastuti,2009)
3.4. Stadium TBC
1. Kelas 0
Tidak ada jangkitan tuberkulosis, tidak terinfeksi (tidak ada riwayat
terpapar, reaksi terhadap tes kulit tuberkulin negative)
2. Kelas 1
Terpapar tuberkulosis, tidak ada bukti terinfeksi (ada riwayat
pemaparan, reaksi tes tuberkulosis negative)
3. Kelas 2
Ada infeksi tuberkulosis, tidak timbul penyakit (reaksi tes kulit
tuberkulin positif, pemeriksa bakteri negative, tidak bukti klinik,
bakeriologik atau radiografik TB aktif).
4. Kelas 3
Tuberkulosis aktif secara klinis (Mycobacterium tuberculosis ada dalam
biakan, selain itu reaksi kulit tuberkulin bermakna dan atau bukti
radiografik tentang adanya penyakit). Lokasi penyakit : paru, pleura,
limfatik, tulang dan atau sendi, kemih kelamin, diseminata (milier),
meningeal, peritoneal dan lain-lain.
5. Kelas 4
Tuberkulosis saat ini tidak aktif secara klinis (ada riwayat mendapat
pengobatan pencegahan tuberkulosis atau adanya temuan radiografi
yang stabil pada orang yang reaksi tes kulit tuberkulinnya positif,
pemeriksaan bakteriologis, bila dilakukan negative.Tidak ada bukti
klinik tentang adanya penyakit pada saat ini).
6. Kelas 5
Tersangka tuberkulosis paru. (Sylvia A.Price dan Marry
P.Standridge,2005)
3.5. Penanganan
a. Promotif
- Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC
- Pemberitahuan baik melalui spanduk atau iklan tentang bahaya TBC, cara
penularan, cara pencegahan, factor risiko
- Mensosialisasikan BCG di masyarakat.
b.Preventif
- Vaksinasi BCG
- Menggunakan Isoniazid (INH)
- Membersihkan .lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab
- Bila ada gejala-gejala TBC segera ke puskesmas atau RS, agar dapat diketahui
secara dini.
c.Kuratif
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan)
dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Panduan obat yang digunakan terdiri dari
panduan obat utama dan tambahan.
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah :
- Rifampisin (R)
- INH (H)
- Pirazinamid (Z)
- Steptomisin (S)
- Etambutol (E)
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
- Kanamisin
- Asam para aminosalisilat

Kemasan
- Obat tunggal
Obat disajikan secara terpisah, masing-masing INH, Rifampisisn, Pirazinamid,
dan Etambutol.
- Obat kombinasi dosis tetap (Fixed Dose Combination-FDC)
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari 3 atau 4 obat dalam satu tablet.
(Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,2002)
Efek samping OAT
Efek samping yang terjadi dapat ringan atau berat, bila efek samping ringan
dan dapat diatasi dengan obat simtomatik maka pemberian OAT dapat dilanjutkan.
1. Isoniazid (INH)
Efek samping ringan dapat berupa tanda-tanda keracunan pada syaraf tepi,
kesemutan, rasa terbakar di kaki dan nyeri otot.Efek ini dapat dikurangi dengan
pemberian piridoksin dengan dosis 100 mg perhari atau dengan vitamin B
kompleks.Pada keadaan tersebut pengobatan dapat diteruskan. Kelainan lain dapat
menyerupai defisiensi piridoksin (syndrome pellagra).
Efek samping berat dapat berupa hepatitis imbas obat yang dapat timbul pada
kurang lebih 0,5% pasien. Bila terjadi hepatitis imbas obat atau ikterik, hentikan OAT
dan pengobatan sesuai dengan pedoman TB pada keadaan khusus. (Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia,2002)
2. Rifampisisn
Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan pengobatan
simtomatik ialah :
- Sindrom flu berupa demam, menggigil dan nyeri tulang
- Sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak nafsu makan, muntah kadang
kadang diare
- Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan
Efek samping yang berat dapat tetapi jarang terjadi adalah :
- Hepatitis imbas obat atau ikterik, bila terjadi hal tersebut OAT harus distop
dulu dan penatalaksanaan sesuai pedoman TB pada keadaan khusus
- Purpura, anemia hemolitik yang akut, syok dan gagal ginjal. Bila salah satu dari
gejala ini terjadi, rifampisin harus segera dihentikan dan jangan diberikan lagi
walaupun gejalanya telah menghilang
- Sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak nafas
Rifampisisn dapat menyebabkan warna merah pada air seni, keringat, air mata,
air liur. Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolismeobat dan tidak
berbahaya. Hal ini ini haus diberitahukan kepada pasien agar dimengerti dan tidak
perlu khawatir. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,2002)
3. Pirazinamid
Efek samping utama adalah hepatitis imbas obat (penatalaksanaan sesuai
pedoman TB pada keadaan khusus).Nyeri sendi juga dapat terjadi (beri aspirin) dan
kadang-kadang dapat menyebabkan serangan arthritis Gout, hal ini kemungkinan
disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam urat. Kadang-kadang terjadi
reaksi demam, mual, kemerahan dan reaksi kulit yang lain. (Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia,2002)
4. Etambutol
Etambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya
ketajaman, buta warna untuk warna merah dan hijau.Meskipun demikian keracunan
okuler tersebut tergantung pada dosis yang dipakai, jarang sekali terjadi bila dosisnya
15-25 mg/kg BB perhari atau 30 mg/kg BB yang diberikan 3 kali seminggu. Gangguan
penglihatan akan kembali normal dalam beberapa minggu setelah obat dihentikan.
Sebaiknya etambutol tidak diberikan pada anak karena risiko kerusakan okuler sulit
untuk dideteksi. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,2002)
5. Streptomisin
Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan dengan
keseimbangan dan pendengaran. Risiko efek samping tersebut akan meningkat seiring
dengan peningkatan dosis yang digunakan dan umur pasien. Risiko tersebut akan
meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi ekskresi ginjal. Gejala efek samping
yang terlihat ialah telinga mendenging (tinitus) pusing dan kehilangan
keseimbangan.Keadaan ini dapat dipulihkan bila obat segera dihentikan atau dosisnya
dikurangi 0,25gr.Jika pengobatan diteruskan maka kerusakan alat keseimbangan makin
parah dan menetap (kehilangan keseimbangan dan tuli).Reaksi hipersensitiviti kadang
terjadi berupa demam yang timbul tiba-tiba disertai sakit kepala, muntah dan eritema
pada kulit.Efek samping sementara dan ringan (jarang terjadi) seperti kesemutan
sekitar mulut dan telinga yang mendenging dapat terjadi segera setelah suntikan.Bila
reaksi ini mengganggu maka dosis dapat dikurangi 0,25gr streptomisin dapat
menembus barrier plasenta sehingga tidak boleh diberikan pada wanita hamil sebab
dapat merusak syaraf pendengaran janin. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,2002)
3.6. Contoh Kasus
IDENTITAS
Nama : Tn.Amran
Umur : 49 tahun
Tanggal lahir : 13 September 1951
Alamat : Jl.Sosiologi 1 No.11 A
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pengemudi
Suku/bangsa : Melayu/Indonesia
Agama : Islam
ANAMNESA
Keluhan utama
Batuk berdahak sejak 3 minggu yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
- Pasien batuk berdahak sejak 3 hari yang lalu
- Dahak yang dikeluarkan dalam jumlah banyak
- Daahk berbau, berwarna kuning dan agak kental
- Batuk tidak disertai dengan demam
- Berkeringat pada malam hari walaupun tidak melakukan aktifitas
- Pada saat batuk dada terasa nyeri dan nafas sesak
- Batuk menyebabkan pasien tidak bisa tidur di malam hari
- Nafsu makan menurun
- Kelelahan
- Berat badan menurun
Riwayat Penyakit Dahulu
- Pasien tidak memiliki riwayat penyakit
- Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit
- Pasien belum pernah melakukan pemeriksaan labor
- Pasien belum pernah menjalani operasi
- Pasien tidak memiliki riwayat vaksinisasi BCG
- Pasien pernah mengkonsumsi obat-obatan golongan steroid
- Pasien tidak memiliki riwayat alergi baik terhadap obat-obatan maupun
makanan
- Pasien memiliki kebiasaan merokok
- Dalam sehari bisa mengkonsumsi 1 bungkus rokok jenis Sampoerna
- Pasien kadang-kadang mengkonsumsi alcohol untuk menghindari stress
Riwayat Keluarga dan Sosial
- Penyakit keturunan : -
- Penyakit menular : Tuberkulosis Paru
- Pasien bekerja sebagai seorang pengemudi mobil berat yang membawa
barang-barang elektronik antar provinsi
- Pasien sering melakukan perjalanan ke luar kota
- Selama dalam perjalanan pasien pernah demam yang disertai flu
- Pasien memiliki 3 saudara kandung
- Kedua orang tua pasien sudah meninggal karena kecelakaan
- Pada saat meninggal ibu pasien berumur 55 tahun dan ayahnya berusia
63 tahun
- Pasien memiiki 1 orang istri dan 3 orang anak
- Pasien tinggal disebuah perkampungan
- Pasien tinggal dirumah yang mempunyai 3 kamar, berlantai ubin,
beratapkan genteng dan kurang ventilasi
- Ada tetangga pasien yang menderita penyakit TB Paru
PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
- Keadaan umum : pasien tampak sakit sedang
- Kesadaran : kompos mentis (sadar)
- Tanda Vital :
Suhu : 37 C
Denyut nadi : 120x/menit
Frekwensi pernapasan : 32x/menit
Tekanan darah : 160/110 mmHg
Status Lokalis
- Inspeksi
Wajah pucat
Kedua bahu tampak terangkat
Dinding dada : tidak ada lesi
Deviasi tulang iga
Bentuk dada : normal
Frekwensi nafas : cepat
Pola nafas : tidak teratur
- Palapasi
Kelenjar Getah Bening : ada pembengkakan
Nyeri tekan :+
Gerakan diafragma : tidak teratur
Posisi tulang iga : tidak normal
Fokal fremitus : menurun
Denyut nadi : meningkat
- Perkusi
Bunyi ketukan : redup
- Auskultasi
Frekwensi nafas : takipnea
Jenis pernapasan : torako abdominal
Bunyi pernapasan : bronchial
Nafas tambahan : + mengii, ronki basah, kasar dan
nyaring

BAB 4
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis), terutama menyerang paru. Kuman tuberkulosis ini
masuk kedalam tubuh melalui udara,saluran pernapasan, saluran pencernaan dan luka
terbuka di kulit. Infeksi TB dikedalikan oleh respon imunitas dengan makrofag dan
limfosit sebagai Sel efektor.Respon ini disebut reaksi hipersensitivitas seluler (lambat).
Pada penderita tuberculosis keluhan utama berupa batuk berdahak lebih dari
tiga minggu. Dari hasil pemeriksaan fisik dapat ditemukan bahwapasien TB paru akan
tampak pucat, kurus dan dagu terangkat.
Untuk mendiagnosa penyakit TB paru dapat dilakukan pemeriksaan ini dan
pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan sputum, tes tuberculin, tes radiologi serta
pemeriksaan serologis lainnya.
4.2. Saran
Perlu dilakukan berbagai penyuluhan dan konselling agar masyarakat tahu
tentang penanggulangan dari tuberkulosis paru
Perlu tambahan sumber tinjauan pustaka lebih banyak lagi agar penulis dapat
menyusun karya tulis ilmiah lebih baik untuk di masa yang akan dating
Perlu kritikan dan saran dari pembaca untuk perbaikan karya tulis ilmiah
selanjutnya

Daftar Pustaka

Bambang Ruswanto.2010. Analisis Spasial Sebaran Tuberkulosis paru ditinjau dari


Faktor Lingkungan Dalam dan Luar Rumah Di Kabupaten pekalongan.diakses dari
http://eprints.undip.ac.id/23875/1/BAMBANG_RUSWANTO.pdf. tanggal : 14 juni
2012
Crofton, John,2002.Tuberculosis klinis.Jakarta:Widya Medika, hal 93-104
Gleadle,Jonathan,2005.At a glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik.Jakarta:EMS,hal
175
Ni Putu Ari Widiastuti.2010.Asuhan Keperawatan TB Paru.diakses dari
http://nursingisbeautiful.wordpress.com/2010/10/09asuhan-keperawatan-tb-paru/
tanggal: 21 juni 2012
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.2002.Pedoman Diagnosa dan Penatalaksaan
Tuberkulosis di Indonesia.diakses dari
http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb/tb.pdf.tanggal : 21 juni 2012
Price,Sylvia A,& Lorraine M Wilson,2005.Patofisiologi volume 2.Jakarta:EGC,hal
852-861
Sudoyo, Aru W dkk,2009.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III.Jakarta:Internal
Publishing,hal 2230-2238
Utis Sutisna dan Trimar Handayani.2009.TBC Paru.diakses dari
http://arifwr.wordpress.com/2009/06/09/tbc-paru/.Tanggal : 21 juni 2012