Anda di halaman 1dari 27

BISNIS PARIWISATA

Oleh :

Kelompok 6 Akuntansi Eksekutif I

1. Ni Wayan Indah Purnami (03)

2. Luh Gd Anggreni Putri Wiguna (04)

3. I Putu Surya Arya Winata (07)

4. Ni Made Suratri Sriwadi (18)

Fakultas Ekonomi
Universitas Mahasaraswati Denpasar
2017
1.1 Konsep Dasar Pariwisata

Pariwisata adalah kegiatan dinamis yang melibatkan banyak manusia

serta menghidupkan berbagai bidang usaha. Pada bab ini dipaparkan

konsep dan definisi pariwisata yang menjadi acuan pada pembahasan di

bab-bab berikutnya. Beberapa istilah kepariwisataan dijabarkan supaya

Anda menjadi terbiasa. Tujuan perjalanan juga akan dikupas pada bab ini

dan pada akhir bab, perbedaan wisatawan vakansi dan wisatawan bisnis

akan dijelaskan berikut dengan ciri-ciri yang membedakannya.

1.1.1 Konsep dan Definisi Pariwisata

Konsep dan definisi tentang pariwisata, wisatawan serta klasifikasinya

perlu ditetapkan dikarenakan sifatnya yang dinamis.Dalam kepariwisataan,

menurut Leiper dalam Cooper et.al (1998:5) terdapat tiga elemen utama

yang menjadikan kegiatan tersebut bisa terjadi. Kegiatan wisata terdiri atas

beberapa komponen utama:

1. Wisatawan
Ia adalah aktor dalam kegiatan wisata.Berwisata menjadi sebuah

pengalaman manusia untuk menikmati, mengantisipasi dan

mengingatkan masa-masa di dalam kehidupan.


2. Elemen geografi
Pergerakan wisatawan berlangsung pada tiga area geografi, seperti

berikut ini:
a) Daerah Asal Wisatawan (DAW)

Daerah tempat asal wisatawan berada, tempat ketika is melakukan

aktivitias keseharian, seperti bekerja, belajar, tidur dan kebutuhan

dasar lain. Rutinitas itu sebagai pendorong untuk memotivasi

seseorang berwisata. Dari DAW, seseorang dapat mencari informasi

1
2

tentang obyek dan days tarik wisata yang diminati, membuat

pemesanan dan berangkat menuju daerah tujuan.

b) Daerah Transit (DT)


Tidak seluruh wisatawan harus berhenti di daerah itu. Namun, seluruh

wisatawan pasti akan melalui daerah tersebut sehingga peranan DT

pun penting. Seringkali terjadi, perjalanan wisata berakhir di daerah

transit, bukan di daerah tujuan. Hal inilah yang membuat negara-

negara seperti Singapura dan Hong Kong berupaya menjadikan

daerahnya multifungsi, yakni sebagai Daerah Transit dan Daerah

Tujuan Wista.
c) Daerah Tujuan Wisata (DTW)

Daerah ini sering dikatakan sebagai sharp end (ujungjtombak)

pariwisata. Di DTW ini dampak pariwisata sangat dirasakan settingga

dibutuhkan perencanaan dan strategi manajemen yang tepat. Untuk

menarik wisatawan, DTW merupakan pemacu keseluruhan sistem

pariwisata dan menciptakan permintaan untuk perjalanan dari DAW.

DTW juga merupakan raison detre atau alasan utama perkembangan

pariwisata yang menawarkan hal-hal yang berbeda dengan rutinitas

wisatawan.

3. Industri pariwisata
Elemen ketiga dalam sistem pariwisata adalah industri pariwisata.

Industri yang menyediakan jasa, daya tank, dan sarana wisata. Industri

yang merupakan unit-unit usaha atau bisnis di dalam kepariwisataan

dan tersebar di ketiga area geografi tersebut.Sebagai contoh, biro

perjalanan wisata bisa ditemukan di daerah asal wisatawan,


3

Penerbangan bisa ditemukan balk di daerah asal wisatawan maupun di

daerah transit, dan akomodasi bisa ditemukan di daerah tujuan wisata.

Pariwisata merupakan kegiatan yang dapat dipahami dari banyak

pendekatan. Dalam Undang-undang RI nomor 10 tahun 2009 tentang

Kepariwisataan dijelaskan bahwa:

a. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau

sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan

rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tank

wisata yang dikunjungi, dalam jangka waktu sementara.


b. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.
c. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung

berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat,

pengusaha, dan pemerintah.


d. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan

pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul

sebagai wujudkebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara

wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah,

Pemerintah Daerah dan pengusaha.


e. Usaha pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa

bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan

pariwisata.
f. Pengusaha pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang

melakukan kegiatan usaha pariwisata.


g. Industri pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling

terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi

pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.

1.2 Jenis Pariwisata dan Usaha Pariwisata


4

Menurut Pendit (1994), pariwisata dapat dibedakan menurut motif

wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat. Jenis-jenis pariwisata

tersebut adalah sebagai berikut:

1. Wisata Budaya

Yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk

memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan

kunjungan atau peninjauan ketempat lain atau ke luar negeri,

mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat mereka, cara

hidup mereka, budaya dan seni mereka. Seiring perjalanan serupa ini

disatukan dengan kesempatankesempatan mengambil bagian dalam

kegiatankegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari, seni drama,

seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang bermotif kesejarahan

dan sebagainya.

2. Wisata Maritim atau Bahari

Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olah raga di air,

lebihlebih di danau, pantai, teluk, atau laut seperti memancing,

berlayar, menyelam sambil melakukan pemotretan, kompetisi

berselancar, balapan mendayung, melihatlihat taman laut dengan

pemandangan indah di bawah permukaan air serta berbagai rekreasi

perairan yang banyak dilakukan didaerahdaerah atau negaranegara

maritim, di Laut Karibia, Hawaii, Tahiti, Fiji dan sebagainya. Di

Indonesia banyak tempat dan daerah yang memiliki potensi wisata

maritim ini, seperti misalnya Pulaupulau Seribu di Teluk Jakarta,

Danau Toba, pantai Pulau Bali dan pulaupulau kecil disekitarnya,


5

taman laut di Kepulauan Maluku dan sebagainya. Jenis ini disebut pula

wisata tirta.

3. Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi)

Untuk jenis wisata ini biasanya banyak diselenggarakan oleh agen atau

biro perjalanan yang mengkhususkan usahausaha dengan jalan

mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, taman lindung,

hutan daerah pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya

dilindungi oleh undangundang. Wisata cagar alam ini banyak

dilakukan oleh para penggemar dan pecinta alam dalam kaitannya

dengan kegemaran memotret binatang atau marga satwa serta

pepohonan kembang beraneka warna yang memang mendapat

perlindungan dari pemerintah dan masyarakat. Wisata ini banyak

dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran hawa

udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa yang

langka serta tumbuhtumbuhan yang jarang terdapat di tempattempat

lain. Di Bali wisata Cagar Alam yang telah berkembang seperti Taman

Nasional Bali Barat dan Kebun Raya Eka Karya.

4. Wisata Konvensi

Yang dekat dengan wisata jenis politik adalah apa yang dinamakan

wisata konvensi. Berbagai negara pada dewasa ini membangun wisata

konvensi ini dengan menyediakan fasilitas bangunan dengan ruangan

ruangan tempat bersidang bagi para peserta suatu konfrensi,

musyawarah, konvensi atau pertemuan lainnya baik yang bersifat


6

nasional maupun internasional. Jerman Barat misalnya memiliki Pusat

Kongres Internasiona (International Convention Center) di Berlin,

Philipina mempunyai PICC (Philippine International Convention

Center) di Manila dan Indonesia mempunyai Balai Sidang Senayan di

Jakarta untuk tempat penyelenggaraan sidangsidang pertemuan besar

dengan perlengkapan modern. Biro konvensi, baik yang ada di Berlin,

Manila, atau Jakarta berusaha dengan keras untuk menarik organisasi

atau badanbadan nasional maupun internasional untuk mengadakan

persidangan mereka di pusat konvensi ini dengan menyediakan

fasilitas akomodasi dan sarana pengangkutan dengan harga reduksi

yang menarik serta menyajikan programprogram atraksi yang

menggiurkan.

5. Wisata Pertanian (Agrowisata)

Sebagai halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah

pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyekproyek

pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimana

wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan

untuk tujuan studi maupun melihatlihat keliling sambil menikmati

segarnya tanaman beraneka warna dan suburnya pembibitan berbagai

jenis sayurmayur dan palawija di sekitar perkebunan yang

dikunjungi.

6. Wisata Buru

Jenis ini banyak dilakukan di negerinegeri yang memang memiliki

daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah


7

dan digalakan oleh berbagai agen atau biro perjalanan. Wisata buru ini

diatur dalam bentuk safari buru ke daerah atau hutan yang telah

ditetapkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan, seperti berbagai

negeri di Afrika untuk berburu gajah, singa, ziraf, dan sebagainya. Di

India, ada daerahdaerah yang memang disediakan untuk berburu

macan, badak dan sebagainya, sedangkan di Indonesia, pemerintah

membuka wisata buru untuk daerah Baluran di Jawa Timur dimana

wisatawan boleh menembak banteng atau babi hutan.

7. Wisata Ziarah

Jenis wisata ini sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah, adat

istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat.

Wisata ziarah banyak dilakukan oleh perorangan atau rombongan ke

tempattempat suci, ke makammakam orang besar atau pemimpin

yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap keramat,

tempat pemakaman tokoh atau pemimpin sebagai manusia ajaib penuh

legenda. Wisata ziarah ini banyak dihubungkan dengan niat atau hasrat

sang wisatawan untuk memperoleh restu, kekuatan batin, keteguhan

iman dan tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh berkah dan

kekayaan melimpah. Dalam hubungan ini, orangorang Khatolik

misalnya melakukan wisata ziarah ini ke Istana Vatikan di Roma,

orangorang Islam ke tanah suci, orangorang Budha ke tempat

tempat suci agama Budha di India, Nepal, Tibet dan sebagainya. Di

Indonesia banyak tempattempat suci atau keramat yang dikunjungi

oleh umat-umat beragama tertentu, misalnya seperti Candi Borobudur,


8

Prambanan, Pura Basakih di Bali, Sendangsono di Jawa Tengah,

makam Wali Songo, Gunung Kawi, makam Bung Karno di Blitar dan

sebagainya. Banyak agen atau biro perjalanan menawarkan wisata

ziarah ini pada waktuwaktu tertentu dengan fasilitas akomodasi dan

sarana angkuatan yang diberi reduksi menarik ke tempattempat

tersebut di atas.

Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan

mengklasifikasikan Usaha pariwisata yakni terdiri dari:

1. Daya Tarik Wisata. Merupakan segala sesuatu yang mempunyai

keunikan, kemudahan, dan nilai yang berwujud keanekaragaman,

kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi

sasaran atau kunjungan para wisatawan.

2. Kawasan Pariwisata. Merupakan usaha yang kegiatannya membangun

atau mengelola kawasan dengan luas wilayah tertentu untuk memenuhi

kebutuhan pariwisata.

3. Jasa Transportasi Wisata. Yakni merupakan usaha khusus yang

menyediakan angkutan untuk kebutuhan dan kegiatan pariwisata.

4. Jasa Perjalanan Wisata. Merupakan usaha biro perjalanan wisata dan

usaha agen perjalanan wisata. Usaha biro perjalanan wisata meliputi

usaha penyediaan jasa perencanaan perjalanan atau jasa pelayanan dan

penyelenggaraan pariwisata, Usaha agen perjalanan wisata meliputi

usaha jasa pemesanan sarana, seperti pemesanan tiket dan pemesanan

akomodasi serta pengurusan dokumen perjalanan.


9

5. Jasa Makanan dan Minuman. Merupakan usaha jasa penyediaan

makanan dan minuman yang dilengkapi dengan peralatan dan

perlengkapan untuk proses pembuatan dapat berupa restoran, kafe,

rumah makan, dan bar/kedai minum.

6. Penyediaan Akomodasi. Merupakan usaha yang menyediakan

pelayanan penginapan yang dapat dilengkapi dengan pelayanan

pariwisata lainnya. Usaha penyediaan akomodasi dapat berupa hotel,

vila, pondok wisata, bumi perkemahan, persinggahan karavan, dan

akomodasi lainnya yang digunakan untuk tujuan pariwisata.

7. Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan dan Rekreasi. Merupakan usaha

yang ruang lingkup kegiatannya berupa usaha seni pertunjukan, arena

permainan, karaoke, bioskop, serta kegiatan hiburan dan rekreasi

lainnya yang bertujuan untuk pariwisata.

8. Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, koneferensi, dan

Pameran. Merupakan usaha yang memberikan jasa bagi suatu

pertemuan sekelompok orang, menyelenggarakan perjalanan bagi

karyawan dan mitra usaha sebagai imbalan atas prestasinya, serta

menyelenggarakan pameran dalam rangka menyebarluaskan informasi

dan promosi suatu barang dan jasa yang berskala nasional, regional,

dan internasional.

9. Jasa Informasi Pariwisata. Merupakan usaha yang menyediakan data,

berita, feature, foto, video, dan hasil penelitian mengenai

kepariwisataan yang disebarkan dalam bentuk bahan cetak atau

elektronik.
10

10. Jasa Konsultan Pariwisata. Merupakan usaha yang menyediakan

sarana dan rekomendasi mengenai studi kelayakan, perencanaan,

pengelolaan usaha, penelitian, dan pemasaran di bidang

kepariwisataan.

11. Jasa Pramuwisata. Merupakan usaha yang menyediakan atau

mengkoordinasikan tenaga pemandu wisata untuk memenuhi

kebutuhan wisatawan dan kebutuhan biro perjalanan wisata.

12. Wisata Tirta. Merupakan usaha yang menyelenggarakan wisata dan

olahraga air, termasuk penyediaan sarana dan prasarana serta jasa

lainnya yang dikelola secara komersial di perairan laut, pantai, sungai,

danau, dan waduk.

13. Spa. Usaha perawatan yang memberikan layanan dengan metode

kombinasi terapi air, terapi aroma, pijat, rempah rempah dan olah

aktivitas fisik dengan tujuan menyeimbangkan jiwa dan raga dengan

tetap memperhatikan tradisi dan budaya bangsa Indonesia.

1.3 Motivasi Melakukan Perjalanan Wisata

Umumnya seseorang yang melakukan perjalanan wisata bisa

dimotivasi oleh beberapa hal, dari berbagai motivasi yang mendorong

perjalanan, Mclntosh dan Murphy pernah mengatakan bahwa motivasi

bisa dibagi menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut:

1. Physical or physiological motivation atau motivasi yang mempunyai

sifat fisik atau fisiologis, contohnya seperti relaksasi, kesehatan,

kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, bersantai, dan

yang berhubungan dengan sifat fisik lain.


11

2. Cultural motivation atau motivasi budaya, adalah keinginan untuk

mengetahui budaya, adat, tradisi, dan kesenian di daerah lain. Hal itu

juga termasuk ketertarikan dari berbagai objek peninggalan budaya

atau bangunan yang bersejarah.

3. Social motivation atau interpersonal motivation atau motivasi yang

mempunyai sifat sosial, seperti mengunjungi teman dan keluarga,

menemui mitra kerja, melakukan hal yang dianggap mendatangkan

gengsi, seperti nilai pretise, melakukan ziarah, dan melakukan pelarian

dari situasi-situasi yang membosankan.

4. Fantasy motivation atau motivasi karena fantasi, merupakan adanya

fantasi bahwa di daerah lain, seseorang akan mampu lepas dari

rutinitas keseharian yang menjemukan, dan ego-enhancement yang

memberi kepuasan psikologis. Hal seperti itu juga disebut dengan

status and prestige motivation.

Motivasi perjalanan seseorang sering dipengaruhi oleh faktor internal

wisatawan dan faktor eksternal. Motivasin adalah salah satu faktor penting

untuk calon wisatawan dalam mengambil keputusan mengenai daerah

tujuan wisata yang akan dikunjungi, calon wisatawan akan mempunyai

persepsi pada daerah tujuan wisata yang memungkinkan, dimana persepsi

ini mampu dihasilkan oleh preferensi individual, pengalaman sebelumnya,

dan informasi yang bisa didapatkan.

Ada motivasi yang kuat dari seseorang ketika melakukan perjalanan

wisata, bagi seorang wisatawan, perjalanan tersebut memiliki beberapa

manfaat, antara lain sebagai berikut:


12

1. Perjalanan wisata adalah wahana penyegaran dan regenerasi fisik dan

mental.

2. Perjalanan wisata berkaitan dengan kompensasi terhadap berbagai hal

yang melelahkan, dan hal itu juga berfungsi sebagai wahana integrasi

sosial bagi mereka yang di rumahnya merasa terkena teralienasi.

3. Perjalanan wisata mempunyai manfaat dalam pelarian dari situasi

keseharian yang penuh dengan ketegangan, rutinitas yang menjemukan

dan berbagai macam kejenuhan-kejenuhan karena beban dari pekerjaan

yang berat.

4. Perjalanan wisata merupakan mekanisme bagi seseorang agar bisa

mengeluarkan perasaannya, melalui komunikasi dengan orang lain

termasuk dengan masyarakat lokal yang ada di daerah tujuan wisata.

5. Perjalanan wisata adalah salah satu wahana yang berfungsi untuk

mengembangkan wawasan pariwisata.

6. Perjalanan wisata adalah wahana yang mempunyai fungsi untuk

mendapatkan kebebasan.

7. Perjalanan wisata adalah wahana yang bisa digunakan untuk realisasi

diri.

8. Perjalanan wisata adalah sesuatu yang menyenangkan, dan bisa

membuat hidup lebih bahagia.

1.4 Pemasaran Pariwisata

1.4.1 Definisi Pemasaran Pariwisata

Definisi pemasaran secara umum adalah seperangkat aktivitas yang

bertujuan menimbulkan dan mempercepat terjadinya pertukaran/transaksi


13

(Cromplon dan Lamp dalam Fandeli, 1995). Terdapat pengertian lain

tentang pemasaran yaitu suatu proses analisis, perencanaan, implementasi,

dan pengendalian dari suatu program yang dirumuskan untuk mengadakan

pertukaran nilai secara sengaja sesuai dengan sasaran proses tertentu, demi

mencapai tujuan organisasi. Sehingga dapat disimpulkan pengertian

pariwisata adalah sutu proses manajemen yang melibatkan/menyangkut

perumusan tujuan organisasi dan sasarannya, analisis, perencanaan, dan

implementasi (Kotler dalam Fandeli, 1995).

Pemasaran dalam bidang pariwisata sangat diperlukan, karena dengan

adanya pemasaran, obyek wisata tersebut menjadi dikenal masyarakat luas

dan dapat menarik banyak wisatawan untuk datang berkunjung.

Pemasaran pariwisata (marketing of tourism) dimengerti sebagai suatu

usaha untuk mendekatkan atau mempermudah terjadinya

pertemuan/transaksi antara sisi penawaran dan permintaan (Sunaryo,

dalam Fandeli 1995). Keseluruhan proses tersebut bermuara pada

pencapaian tujuan untuk meningkatkan frekuensi terjadinya transaksi

pariwisata bagi suatu Negara/masyarakat tertentu yang berbeda-beda,

sesuai dengan tujuan filosofi dari (pembangunan) bangsa/Negara itu

sendiri. Selain itu, terdapat batasan pemasaran wisata yang digunakan

sebagai penyesuaian yang sistematis dan terkoordinasi mengenai kebijakan

dari badan-badan usaha wisata maupun kebijakan dalam sektor pariwisata

pada tingkat pemerintah, lokal, regional, nasional dan internasional, guna

mencapai suatu titik kepuasan optimal bagi kebutuhan-kebutuhan

kelompok pelanggan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya, sekaligus


14

untuk mencapai tingkat keuntungan yang memadai (Krippendorf dalam

Wahab, 1992).

Definisi lain tentang pemasaran pariwisata adalah proses manajemen

dimana organisasi pariwisata nasional dan/atau badan-badan usaha wisata

dapat mengidentifikasi wisata pilihannya baik yang actual maupun

potensial, dapat berkomunikasi dengan mereka untuk meyakinkan dan

mempengaruhi kehendak, kebutuhan, motivasi, kesukaan dan hal yang

tidak disukai, baik pada tingkat lokal, refional, nasional maupun

internasional, serta merumuskan dan menyesuaikan produk wisata mereka

secara tepat, dengan maksud mencapai kepuasan optimal wisatawan

sehingga dengan begitu mereka dapat meraih sasaran-sasarannya (Wahab,

1992:28).

1.4.2 Tujuan Pemasaran Pariwisata

Pemasaran sebagai suatu kebijakan manajeman, harus dibimbing oleh

tujuan-tujuan yang sudah dirumuskan dengan baik. Tujuan pemasaran

berbeda dari sasaran dan target pemasaran. Tujuan adalah ungkapan yang

filosofis secara garis besarnya yang ditegaskan oleh organisasi atau

perumahan tertentu, sedangkan target adalah perkiraan kuantitatif tentang

hasil-hasil yang diharapkan akan dicapai (Wahab, 1992:29).

Tujuan-tujuan yang ada harus bergerak di sekitar pasar dan ciri

khasnya secara garis besar adalah sebagai berikut (Wahab, 1992:29):

1. Dalam jangka panjang terus meningkatkan keuntungan.

2. Mendorong pertumbuhan pariwisata yang serasi dan memperkokoh

dampak ekonomi bidang pariwisata.


15

3. Membawa keamanan dan keseimbangan dalam perencanaan

pengembangan sosial dan ekonomi.

4. Memantapkan dan memacu porsi pasar dalam menghadapi persaingan

pada bidang pariwisata.

5. Memajukan citra pariwisata negeri itu.

1.4.3 Strategi Pemasaran Pariwisata

Proses pemasaran pariwisata dilakukan dengan aktivitas analisis, baik

pada sisi permintaan (pangsa pasar) maupun pada sisi penawaran (produk)

pariwisatanya (Sunaryo, dalam Fandeli 1995).

Analisis Permintaan/Pasar Pariwisata

Permintaan wisata tidak menggambarkan sekelompok homogeny

orang-orang yang sedang berusaha bepergian setelah terdorong oleh

motivasi tertentu. Perbedaan struktur permintaan wisata ini tidak

mengikuti suatu pola sistematis yang didasarkan pada kebangsaan,

tempat kediaman, jabatan, susunan keluarga/tingkat sosial, atau tingkat

umur dan jenis kelamin.

Analisis Penawaran/Produk Pariwisata

Penawaran pariwisata adalah mencakup tujuan pariwisata yang

ditawarkan kepada wisatawan yang nyata maupun yang potensial. Baik

atraksi wisata alamiah ataupun buatan manusia, jasa-jasa maupun

barang-barang yang kira-kira akan menarik wisatawan untuk

mengunjunginya.

Penawaran pariwisata dapat berupa alamiah atau buatan manusia,

yaitu:
16

1. Sumber-sumber alam.

2. Bautan manusia, ada lima kategori:

Berciri sejarah, budaya dan agama, seperti industri seni kerajinan

rakyat, industri kerajinan tangan, dll.

Prasarana-prasarana, yang meliputi prasarana umum yaitu kebutuhan

pokok pola hidup modern (rumah sakit, apotek, bank, pusat

perbalanjaan, dan sebagainya), dan prasarana wisata (hotel, motel, desa

wisata, pondok wisata, dan sebagainya).

Sarana pencapaian dan alat transportasi penunjang, pelabuhan udara,

kereta api, angkutan darat lainnya, dan pelabuhan laut.

Sarana pelengkap yang bersifat rekreatif dan hiburan.

Pola hidup masyarakat yang sudah menjadi khas wisata yang sangat

penting, seperti cara hidup bangsa dan pandangan hidup.

Strategi pemasaran pariwisata di suatu daerah sering menggunakan

promosi dan publikasi dalam mengenalkan obyek wisatanya. Publikasi dan

promosi bertujuan untuk memberitahukan kepada orang banyak atau

kelompok tertentu bahwa terdapat suatu produk yang akan dijual (Yoeti,

1996:47). Agar produk tersebut dikenal banyak orang maka perlu

diperkenalkan apa kelebihan dari produk tersebut, dan dimana dapat

membeli produk tersebut. Publikasi dijutukan kepada pembeli potensial

yang belum diketahui, sedangkan promosi ditujukan untuk pembeli

potensial yang telah diketahui identitasnya.

Kegiatan promosi merupakan suatu kegiatan yang intensif dalam

waktu yang relatif singkat. Dalam kegiatan promosi diadakan usaha untuk
17

memperbesar daya tarik produk terhadap calon konsumen

(Soekadijo,1996:241). Promosi dapat dilakukan dengan beberapa cara,

seperti pemasangan iklan (advertising), promosi penjualan (sales

promotions) maupun melakukan persuasif melalui personal selling dan

dibantu dengan public relations sehingga promosi yang dilakukan dengan

efektif.

Promosi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Promosi

langsung dapat dilakukan melalui:

Peragaan (display), misalnya rumah adat, pakaian tradisional, gambar-

gambar.

Barang cetakan (prospectus, leaflet, folder, booklet, atau brochure)

yang disebarkan ke pasar.

Pameran khusus berupa benda-benda kebudayaan, pertunjukan

kesenian, dan sebagainya.

Pemberian rabata selama jangka waktu tertentu biasanya diberikan

pada waktu promosi.

Pemberian hafiah, khusus selama waktu promosi, misalnya karcis

bebas untuk atraksi di daerah pariwisata dan sebagainya.

Promosi tidak langsung, dapat dilakukan melalui:

Pemberian informasi dalam bentuk barang cetakan.

Publikasi dalam majalah.

Kunjungan pada perusahaan-perusahaan penyalur.

Pertemuan dengan perusahaan penyalur untuk memberi informasi.

Penyelenggaraan temu karya (workshop).


18

Mengundang wakil-wakil perusahaan penyalur untuk mengunjungi

daerah tujuan wisata.

Publikasi adalah usaha menciptakan permintaan dan cara permintaan

atau mempengaruhi permintaan dengan cara menonjolkan kesesuaian

produk wisata dengan permintaan wisata (Soekadijo, 1996:245). Publikasi

dapat disampaikan secara langsung kepada konsumen dengan memberikan

informasi kepada konsumen melalui majalah atau surat kabar, media

elektronik seperti radio dan TV, poster, maupun brosur. Didalam publikasi

terdapat tiga tahapan pokok yaitu penyebaran informasi, penanaman

keparcayaan dan keyakinan, serta penjualan.

Publikasi mengandung empat unsur pokok yang menjadi persyaratan

supaya publikasi dapat berhasil (Soekadijo, 1996:247). Keempat unsur

tersebut antara lain:

1. Tujuan yang jelas, tetap, teliti, dan khusus.

2. Poros (axis), yaitu gagasan pokok yang hendak disampaikan kepada

konsumen.

3. Tema, yaitu rumusan dalam bahasa secara tepat dan teliti dari poros

publikasi

4. Pesan (message) publikasi yang disusun berdasarkan tema yang dipilih

dan berupa rumusan yang disampaikan kepada publik atau calon

konsumen.

1.5 Aspek dan Dampak Pembangunan Pariwisata

1.5.1 Dampak Pariwisata terhadap Perekonomian


19

Dampak Pariwisata Terhadap Perekonomian Industri pariwisata

menghasilkan manfaat ekonomi yang besar baik bagi Negara tuan rumah,

maupun Negara asal para turis. Salah satu motivasi utama sebuah Negara

mempromosikan dirinya sebagai Negara dengan tujuan wisata adalah

timbul kemajuan dalam ekonomi, terutama bagi Negara-negara

berkembang. Bersamaan dengan dampak lainnya, peningkatan ekonomi

yang begitu pesat juga terjadi dengan berbagai keuntungan dan kerugian.

Dapak besar pariwisata terlihat dari data World Tourism Organization,

pada tahun 2000, 698 juta orang melakukan perjalanan ke luar negeri dan

menghabiskan lebih dari 478 juta US dollar. Gabungan dari pendapatan

pariwisata internasioanl dengan pendapatan transportasi maka

menghasilkan lebih dari 575 juta US dollar, yang membuat pariwisata

menjadi penghasil ekspor terbesar di dunia diikuti oleh produk otomotif,

bahan kimia, minyak bumi, dan makanan. Namun, banyak kerugian

tersembunyi dari pariwisata yaitu, adanya dampakdampak pada ekonomi

yang tidak diharapkan oleh penduduk setempat. Seringkali keuntungan

pariwisata sebuah Negara maju lebih tinggi dari Negara berkembang.

Padahal Negara berkembang lebih membutuhkan pendapatan tambahan,

pekerjaan, dan peningkatan standar hidup lewat pariwisata. Berdasarkan

kenyataan tersebut, berbagai alasan muncul antara lain, karena adanya

transfer besar-besaran pendapatan pariwisata dari Negara tuan rumah,

kemudian kurang diperhatikannya bisnis dan produk dalam negeri.

Dampak Positifnya
20

1. Membuka lapangan kerja bagi penduduk lokal di bidang pariwisata

seperti: tour guide, waiter, bell boy, dan lain-lain.


2. Dibangunnya fasilitas dan infrastruktur yang lebih baik demi

kenyamanan para wisatawan yang juga secara langsung dan tidak

langsung bisa dipergunakan oleh penduduk lokal pula. Seperti : tempat

rekreasi, mall, dan lain-lain.


3. Mendapatkan devisa (national balance payment) melalui pertukaran

mata uang asing (foreign exchange).


4. Mendorong seseorang untuk berwiraswasta / wirausaha, contoh :

pedagang kerajinan, penyewaan papan selancar, pemasok bahan

makanan dan bunga ke hotel,dan lain-lain.


5. Meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga pendapatan

pemerintah.
6. Memberikan keuntungan ekonomi kepada hotel dan restaurant.

Contohnya, wisatawan yang pergi berwisata bersama keluarganya

memerlukan kamar yang besar dan makanan yang lebih banyak.

Dampak ekonomi tidak langsung dapat dirasakan oleh pedagang-

pedagang di pasar karena permintaan terhadap barang/bahan makanan

akan bertambah.

Dampak negatifnya

1. Bahaya ketergantungan yang sangat mendalam terhadap pariwisata.


2. Meningkatkan inflasi dan harga jual tanah menjadi mahal.
3. Meningkatkan impor barang dari luar negri, terutama alat-alat

teknologi modern yang digunakan untuk memberikan pelayanan

bermutu pada wisatawan dan juga biaya-biaya pemeliharaan fasilitas-

fasilitas yang ada.


4. Produksi yang bersifat musiman menyebabkan rendahnya tingkat

pengembalian modal awal.


21

5. Terjadi ketimpangan daerah dan memburuknya kesenjangan

pendapatan antara beberapa kelompok masyarakat.


6. Hilangnya kontrol masyarakat lokal terhadap sumber daya ekonomi.

1.5.2 Dampak Pariwisata terhadap Lingkungan

Industri pariwisata memiliki hubungan erat dan kuat dengan

lingkungan fisik. Lingkungan alam merupakan aset pariwisata dan

mendapatkan dampak karena sifat lingkungan fisik tersebut yang rapuh

(fragile), dan tak terpisahkan (Inseparability). Bersifat rapuh karena

lingkungan alam merupakan ciptaan Tuhan yang jika dirusak belum tentu

akan tumbuh atau kembali seperti sediakala. Bersifat tidak terpisahkan

karena manusia harus mendatangi lingkungan alam untuk dapat

menikmatinya.

Lingkungan fisik adalah daya tarik utama kegiatan wisata. Lingkungan

fisik meliputi lingkungan alam (flora dan fauna, bentangan alam, dan

gejala alam) dan lingkungan buatan (situs kebudayaan, wilayah perkotaan,

wilayah pedesaan, dan peninggalan sejarah).

Secara teori, hubungan lingkungan alam dengan pariwisata harus

mutual dan bermanfaat. Wisatawan menikmati keindahan alam dan

pendapatan yang dibayarkan wisatawan digunakan untuk melindungi dan

memelihara alam guna keberlangsungan pariwisata. Hubungan lingkungan

dan pariwisata tidak selamanya simbiosa yang mendukung dan

menguntungkan sehingga upaya konservasi, apresiasi, dan pendidikan

dilakukan agar hubungan keduanya berkelanjutan, tetapi kenyataan yang

ada hubungan keduanya justru memunculkan konflik. Pariwisata lebih

sering mengeksploitasi lingkungan alam.


22

Dampak pariwisata terhadap lingkungan fisik merupakan dampak yang

mudah diidentifikasi karena nyata. Pariwisata memberikan keuntungan

dan kerugian, sebagai berikut :

1. Air

Air mendapatkan polusi dari pembuangan limbah cair (detergen

pencucian linen hotel) dan limbah padat(sisa makanan tamu). Limbah-

limbah itu mencemari laut, danau dan sungai. Air juga mendapatkan

polusidari buangan bahan bakar minyak alat transportasi air seperti

dari kapal pesiar.Akibat dari pembuangan limbah, maka lingkungan

terkontaminasi, kesehatan masyarakat terganggu, perubahan dan

kerusakan vegetasi air, nilai estetika perairan berkurang (seperti warna

laut berubah dari warnabiru menjadi warna hitam) dan badan air

beracun sehingga makanan laut (seafood) menjadi

berbahaya.Wisatawan menjadi tidak dapat mandi dan berenang karena

air di laut, danau dan sungai tercemar.Masyarakat dan wisatawan

saling menjaga kebersihan perairan.Guna mengurangi polusi air, alat

transportasi air yang digunakan, yakni angkutan yang ramah

lingkungan, seperti : perahu dayung, kayak, dan kano.

2. Atmosfir

Perjalanan menggunakan alat transportasi udadra sangat nyaman dan

cepat. Namun, angkutan udara berpotensi merusak atmosfir bumi.

Hasil buangan emisinya dilepas di udara yang menyebabkan atmosfir

tercemar dan gemuruh mesin pesawat menyebabkan polusi suara.

Selain itu, udara tercemar kibat emisi kendaraan darat (mobil, bus) dan
23

bunyi deru mesin kendaraan menyebabkan kebisingan. Akibat polusi

udara dan polisi suara, maka nilai wisata berkurang, pengalaman

menjadi tidak menyenangkan dan memberikandampak negatif bagi

vegetasi dan hewan.Inovasi kendaraan ramah lingkungan dan angkutan

udara berpenumpang massal (seperti pesawat Airbus380 dengan

kapasitas 500 penumpang) dilakukan guna menekan polusi udara dan

suara. Anjuran untukmengurangi kendaraan bermotor juga dilakukan

dan kampanye berwisata sepeda ditingkatkan.

3. Pantai dan pulau

Pantai dan pulau menjadi pilihan destinasi wisata bagi wisatawan.

Namun, pantai dan pulau sering menjaditempat yang mendapatkan

dampak negatif dari pariwisata. Pembangunan fasilitas wisata di pantai

dan pulau, pendirian prasarana (jalan, listrik, air), pembangunan

infrastruktur (bandara, pelabuhan) mempengaruhi kapasitas pantai dan

pulau.Lingkungan tepian pantai rusak (contoh pembabatan hutan

bakau untuk pendirian akomodasi tepi pantai),kerusakan karang laut,

hilangnya peruntukan lahan pantai tradisional dan erosi pantai menjadi

beberapaakibat pembangunan pariwisata.Preservasi dan konservasi

pantai dan laut menjadi pilihan untuk memperpanjang usia pantai dan

laut. Pencanangan taman laut dan kawasan konservasi menjadi pilihan.

Wisatawan juga ditawarkan kegiatan ekowisata yang bersifat ramah

lingkungan. Beberapa pengelola pulau (contoh pengelola Taman

NasionalKepulauan Seribu) menawarkan paket perjalanan yang ramah


24

lingkungan yang menawarkan aktivitas menanam lamun dan menanam

bakau di laut.

4. Pegunungan dan area liar

Wisatawan asal daerah bermusim panas memilih berwisata ke

pegunungan untuk berganti suasana. Aktivitas di pegunungan

berpotensi merusak gunung dan area liarnya. Pembukaan jalur

pendakian, pendirian hotel di kaki bukit, pembangunan gondola (cable

car), dan pembangunan fasilitas lainnya merupakanbeberapa contoh

pembangunan yang berpotensi merusak gunung dan area liar.

Akibatnya terjadi tanahlongsor, erosi tanah, menipisnya vegetasi

pegunungan (yang bisa menjadi paru-paru masyarakat) ,potensi polusi

visual dan banjir yang berlebihan karena gunung tidak mampu

menyerap air hujan. Reboisasi (penanaman kembali pepohonan di

pegunungan) dan peremajaan pegunungan dilakukan sebagai upaya

pencegahan kerusakan pegunungan dan area liar.

5. Vegetasi

Pembalakan liar, pembabatan pepohonan, bahaya kebakaran hutan

(akibat api unggun di perkemahan),koleksi bunga, tumbuhan dan

jamur untuk kebutuhan wisatawan merupakan beberapa kegiatan yang

merusak vegetasi. Akibatnya, terjadi degradasi hutan (berpotensi erosi

lahan), perubahan struktur tanaman(misalnya pohon yang seharusnya

berbuah setiap tiga bulan berubah menjadi setiap enam bulan,

bahkanmenjadi tidak berbuah), hilangnya spesies tanaman langka dan


25

kerusakan habitat tumbuhan. Ekosistemvegetasi menjadi terganggu

dan tidak seimbang.

6. Kehidupan satwa liar

Kehidupan satwa liar menjadi daya tarik wisata yang luar biasa.

Wisatawan terpesona dengan pola hiduphewan. namun, kegiatan

wisata mengganggu kehidupan satwa-satwa tersebut. Komposisi fauna

berubahakibat:pemburuan hewan sebagai cinderamata, pelecehan

satwa liar untuk fotografi, eksploitasi hewan untuk pertunjukan,

gangguan reproduksi hewan (berkembang biak), perubahan insting

hewan (contohhewan komodo yang dahulunya hewan ganas menjadi

hewan jinak yang dilindungi), migrasi hewan (ketempat yang lebih

baik). Jumlah hewan liar berkurang, akibatnya ketika wisatawan

mengunjungi daerah wisata, ia tidak lagi mudah menemukan satwa-

satwa tersebut

7. Situs sejarah, budaya, dan keagamaan

Penggunaan yang berlebihan untuk kunjungan wisata menyebabkan

situs sejarah, budaya dan keagamaanmudah rusak. Kepadatan di

daerah wisata, alterasi fungsi awal situs, komersialisasi daerah wisasta

menjadi beberapa contoh dampak negatif kegiatan wisata terhadap

lingkungan fisik. Situs keagamaan didatangi oleh banyak wisatawan

sehingga mengganggu fungsi utama sebagai tempat ibadah yang suci.

Situs budaya digunakan secara komersial sehingga dieksploitasi secara

berlebihan (contoh Candi menampung jumlah wisatawan yang

melebihi kapasitas). Kapasitas daya tampung situs sejarah, budaya dan


26

keagamaan dpat diperkirakan dan dikendalikan melalui manajemen

pengunjung sebagai upaya mengurangi kerusakan pada situs sejarah,

budaya dan keagamaan. Upaya konservasi dan preservasi serta

renovasi dapat dilakukan untuk memperpanjang usia situs-situs

tersebut.

8. Wilayah perkotaan dan pedesaan

Pendirian hotel, restoran, fasilitas wisata, toko cinderamata dan

bangunan lain dibutuhkan di daerah tujuanwisata. Seiring dengan

pembangunan itu, jumlah kunjungan wisatawan, jumlah kendaraan dan

kepadatan lalu lintas jadi meningkat. Hal ini bukan hanya

menyebabkan tekanan terhadap lahan, melainkan juga perubahan

fungsi lahan tempat tinggal menjadi lahan komersil, kemacetan lalu

lintas, polusi udara dan polusi estetika (terutama ketika bangunan

didirikan tanpa aturan penataan yang benar). Dampak buruk itu

dapatdiatasi dengan melakukan manajemen pengunjung dan penataan

wilayah kota atau desa serta membedayakan masyarakat untuk

mengambil andil yang besar dalam pembangunan.

Anda mungkin juga menyukai