Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FARMASI ANALISIS (FA3211)

Percobaan VIII
PEMERIKSAAN KEMURNIAN : UJI BATAS DAN BILANGAN KIMIA

Tanggal Percobaan : Kamis, 6 April 2017


Tanggal Pengumpulan : Kamis, 17 April 2017

Disusun oleh :
Chrysilla Irianti Wisesa (10714057)
Shift Kamis Kelompok 11

Asisten:
Vani L. P. (10713083)

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK


PROGRAM STUDI SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI
SEKOLAH FARMASI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2017
I. Tujuan
1. Menentukan kemurnian dan perkiraan kadar logam berat sorbitol dengan uji batas logam
berat (semikuantitatif).
2. Menentukan kemurnian dan perkiraan kadar klorida sampel sorbitol dengan uji batas
klorida (semikuantitatif).
3. Menentukan kemurnian dan perkiraan kadar sulfat sampel sorbitol dengan uji batas sulfat
(semikuantitatif).
4. Menentukan bilangan asam sampel minyak jagung
5. Menentukan bilangan penyabunan sampel minyak jagung
6. Menentukan bilangan ester sampel minyak jagung
7. Menentukan normalitas NaOH dan HCl melalui pembakuan
II. Teori Dasar
Derajat kemurnian senyawa adalah tingkat di mana senyawa tersebut bebas dari
senyawa asing atau senyawa tersebut masih mengandung senyawa asing pada batas toleransi
yang diperbolehkan. Uji batas merupakan pengujian secara kuantiatif atau semikuantitatif
untuk mengidentifikasi dan memeriksa cemaran yang masih tersisa dalam senyawa. Pada
penentuan uji batas umumnya tidak diperlukan penentuan konsentrasi sampel yang tepat,
namun hanya dilakukan secara semikuantitatif untuk menentukan apakah cemaran masih
berada di bawah batas toleransi yang ditetapkan. Prinsip percobaan uji batas adalah
membandingkan larutan uji dengan larutan pembanding yang merupakan batas cemaran yang
dipersyaratkan yang diperlakukan pada kondisi dan waktu yang sama.
Bilangan kimia adalah bilangan pengenal yang dapat digunakan untuk karakterisasi,
identifikasi, dan pengujian kemurnian dari minyak atau lemak. Bilangan asam adalah jumlah
mg KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram
sampel. Bilangan asam ditentukan dengan mentitrasi sampel minyak atau lemak dengan basa.
Bilangan penyabunan adalah jumlah mg KOH yang diperlukan untuk menyabunkan asam
lemak bebas dan ester dalam 1 gram zat uji yang ditentukan dengan titrasi balik asam basa.
Bilangan ester merupakan jumlah mg KOH yang diperlukan untuk menyabunkan ester dalam
1 gram sampel yang ditentukan dari selisih bilangan penyabunan dengan bilangan asam.

III. Alat dan Bahan


Alat Bahan
Buret Larutan baku Eter
Pipet tetes
timbal
Pipet ukur Statif BaCl2 Sorbitol
Filler Gelas ukur H2SO4 Minyak jagung
Erlenmeyer Klem AgNO3 Fenolftalein
Spatula Aluminium foil NaOH KOH
Batang
Alat refluks
pengaduk
Gelas kimia Penangas
Labu refluks Tabung Nessler

IV. Metodologi
a. Penjenuhan bejana untuk KLT
b. Ekstraksi dan kromatografi sampel parasetaml
c. Eksraksi dan kromatografi sampel kafein
d. Ekstraksi dan kromatografi sampel kloramfenikol
e. Ekstraksi dan kromatografi sampel ibuprofen
f.
V. Pengamatan, Perhitungan, dan Pengolahan Data
A. Pembakuan HCl
Indikator : metil merah
Volume Peniter untuk larutan Na2CO3 : 19,5 ml
Volume peniter untuk blanko : 0,1 ml
Volume peniter yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan Na2CO3= 19,5-0,1ml = 19,4 ml
Massa Na2CO3 adalah 530 mg
BM Na2CO3 adalah 145,98 g/mol
n Na2CO3 x Valensi = n HCl x Valensi
530
2 = MHCl x 19,4 ml
145,98

MHCl = 0,5155 M
Normalitas HCl adalah 0,5155 N

B. Pembakuan NaOH
Indikator : fenolftalein
Volume Peniter untuk larutan K-biftalat : 11,35 ml
Volume peniter untuk blanko : 0,05 ml
Volume peniter yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan K-biftalat = 11,35-0,05ml = 11,3 ml
Massa K-biftalat adalah 204,22 mg
BM K-biftalat adalah 204, 22 g/mol
n K-Biftalat = n NaOH
204,22
= MNaOH x 11,3 ml
204,22

MNaOH = 0,08849 M
Normalitas NaOH adalah 0,08849 N

C. Uji Batas Logam Berat


Gambar Keterangan
Dari kiri ke kanan :
Larutan baku- Larutan
Pembanding Larutan
sampel sorbitol
Berdasarkan hasil
pengamatan,
perbedaan antara
masing-masing larutan
sulit untuk dibedakan
karena terlihat jernih
Dari hasil pengamatan
disimpulkan bahwa
larutan sampel
sorbitol mempunyai
warna yang tidak lebih
gelap dari larutan baku
sehingga sampel
memenuhi syarat uji
batas logam berat
(masih dalam batas
toleransi)

D. Uji Batas Klorida


Gambar Keterangan
Kiri : larutan pembanding (HCl)
Kanan : larutan sampel sorbitol
Larutan pembanding lebih keruh
dibandingkan dengan larutan sampel
Larutan sampel sedikit keruh
Dapat disimpulkan bahwa larutan
sampel lebih tidak keruh dari larutan
pembanding sehingga sampel memenuhi
syarat uji batas klorida (kadar kloridanya
masih masuk ke dalam batas toleransi)

E. Uji Batas Sulfat


Gambar Keterangan
Kiri : Larutan pembanding (H2SO4)
Kanan : larutan sampel sorbitol
Kedua larutan tampak jernih
Larutan sampel sorbitol tidak lebih
keruh dibandingkan dengan larutan
pembading sehingga larutan sampel
sorbitol memenuhi syarat uji batas
sulfat. (kadar sulfatnya masih masuk
ke dalam batas toleransi)

F. Penentuan Bilangan Asam


Volume NaOH 0,08849 M yang dibutuhkan : 1,85 ml
Untuk 1 ml NaOH 0,1 N, kesetaraannya adalah 5,611
Untuk 1 ml NaOH 0,08849 N, kesetarannya adalah 4,9651739
4,9651739 1,85 4,9651739
Bilangan asam = = = 0,9186
() 10

G. Penentuan Bilangan Penyabunan


Volume HCl untuk sampel : 18,2 ml
Volume HCl untuk blanko : 40,3 ml
() . (40,318,2).0,5155 . 56,1056
Bilangan penyabunan = = = 319,5929
() 2

H. Penentuan Bilangan Ester


Bilangan Ester = Bilangan penyabunan Bilangan asam
= 319,5929 0,9186 = 318,674
VI. Pembahasan
Derajat kemurnian senyawa adalah tingkat di mana senyawa bebas dari senyawa
asing atau senyawa tersebut masih mengandung senyawa asing pada batas toleransi yang
dipersyaratkan. Senyawa asing atau cemaran (kontaminan) dapat berupa senyawa organik
maupun anorganik dalam bentuk senyawa intermediet, hasil urai, senyawa hasil samping
reaksi, reaktan, katalis, pelarut yang digunakan dalam suatu proses. Cemaran yang ada dapat
berasal dari bahan baku, proses pembuatan, penyimpanan, pengemasan, serta berasal dari
lingkungan. Pengujian kemurnian seyawa diperlukan untuk menjamin keamanan senyawa
tersebut untuk digunakan dan tingkat keurniannya bergantung pada kegunaan dan
peruntukkannya. Uji batas merupakan pengujian secara kuantiatif atau semikuantitatif untuk
mengidentifikasi dan memeriksa cemaran yang masih tersisa dalam senyawa. Uji batas
diperlukan untuk menentukan derajat kemurnian, identifikasi, dan standardisasi suatu
senyawa. Pada penentuan uji batas umumnya tidak diperlukan penentuan konsentrasi sampel
yang tepat, namun hanya dilakukan secara semikuantitatif untuk menentukan apakah
cemaran masih berada di bawah batas toleransi yang ditetapkan. Uji ini disebut sebagai uji
kuantitatif sebab digunakan suatu pembanding yang diketahui konsentrasinya sebagai
pembanding sehingga konsentrasi sampel dapat diperkirakan (lebih besar atau lebih kecil
dari pembanding) dengan membandingkannya dengan larutan pembanding tersebut. Prinsip
percobaan uji batas adalah membandingkan larutan uji dengan larutan pembanding yang
merupakan batas cemaran (kadarnya diketahui) yang dipersyaratkan yang diperlakukan
pada kondisi dan waktu yang sama. Larutan uji disiapkan sesuai dengan monografi pada
Farmakope sedangkan larutan pembanding berisi senyawa pembanding dengan konsentrasi
batas yang dipersyaratkan. Uji batas umumnya dilakukan untuk penentuan kation (logam
berat, timbal, arsen, besi, raksa, selenium) dan anion (sulfat, klorida). Uji batas cemaran
organik dapat dilakukan dengan metode kimia, spektrofotometri, atau kromatografi.
Uji batas logam berat dilakukan untuk menguji cemaran logam berat yang dengan
ion sulfida menghasilkan endapan berwarna. Logam berat mempunyai densitas dan nomor
atom yang relatif tinggi. Uji batas logam berat diperlukan untuk menentukan kemurnian
suatu senyawa sebab logam berat dapat memberikan dampak buruk bagi tubuh. Logam berat
dapat terakumulasi di dalam tubuh dan menyebabkan diare, muntah-muntah, pusing, iritasi
saluran pencernaan, gangguan sistem saraf, mengganggu fungsi organ vital, kanker, dan
lain-lain. Secara umum, prinsip ujinya adalah membandingkan warna dari endapan yang
terjadi pada larutan uji dengan larutan pembanding yang mengandung timbal secara visual.
Beberapa contoh logam berat adalah arsen (As), timbal (Pb), raksa (Hg), Timah (Sn),
tembaga (Cu), antimony (Sb), bismuth (Bi), cadmium (Cd) dan lain-lain. Larutan baku
pembanding yang digunakan adalah larutan baku timbal (Pb). Pb digunakan sebab Pb
mempunyai nilai Ksp yang paling besar sehingga akan membentuk endapan paling akhir,
dengan begitu dapat diasumsikan bahwa ketika Pb mengendap, logam-logam berat yang
lainnya sudah mengendap terlebih dahulu.
Pada percobaan, pengujian logam berat secara umum dilakukan berdasarkan
Farmakope IV (931-932). Larutan baku dibuat dengan memipet 2 ml larutan baku timbal (20
Pb) dalam tabung Nessler kemudian diencerkan dengan air hingga 25 ml kemudian
pHnya diatur antara 3 sampai 4 dengan asam asetat 1 N atau ammonium hidroksida 6 N
kemudian diencerkan dengan air hingga 40 ml. Tujuan pengaturan pH menjadi 3-4 adalah
agar pH larutan baku bersifat asam sehingga akan terbentuk endapan PbS berwarna hitam
yang dapat diamati karena pada pH basa, logam-logam berat akan bereaksi dengan OH-
membentuk endapan, misalnya senyawa Pb(OH)2 yang tidak larut dalam air. Setelah itu,
larutan pembanding dibuat dengan cara memasukkan 25 larutan yang dibuat sama seperti
larutan uji ke dalam tabung Nessler, ditambahkan 2 ml larutan baku timbal, lalu pHnya
diatur antara 3 dan 4 dengan asam asetat dan ammonium hidroksida lalu diencerkan air
hingga 40 ml. Larutan uji dalam hal ini sorbitol, dibuat dengan cara memasukkan 2 gram
larutan sorbitol (sesuai monografi) lalu diencerkan hingga 25 ml, pHnya diatur antara 3 dan
4 lalu diencerkan dengan air hingga 40 ml. Setelah itu, pada masing-masing tabung
ditambahkan dapar asetat pH 3,5 dan 1,2 ml tioasetamida LP. Dapar asetat pH 3,5 berfungsi
untuk menjaga pH larutan agar tetap berada pada rentang asam (3-4). Tioasetamida LP
merupakan pereaksi penggati hidrogen sulfida di mana ion sulfidanya akan bereaksi dengan
logam Pb menghasilkan PbS.
Pb2+ +S2- PbS (s)
Setelah itu, larutan baku, pembanding, dan larutan uji dibandingkan warnanya.Tinggi
dari larutan dan tempat membandingkan larutan tersebut harus sama agar visualisasi dapat
dilakukan dengan akurat. Warna dari larutan uji tidak boleh lebih gelap dari larutan baku
sebab larutan baku merupakan batas atau syarat kadar logam berat yang diperbolehkan,
kemudian intensitas warna larutan pembanding sama atau lebih gelap dibandingkan dengan
larutan baku sebab larutan pembanding mengandung larutan uji beserta larutan baku timbal.
Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan hasil bahwa larutan baku, pembanding, dan
larutan uji sama jernihnya dan larutan uji warnanya tidak lebih gelap dari larutan baku
sehingga dapat disimpulkan kandungan logam berat pada sampel sorbitol berada di bawah
konsentrasi batas logam berat yang dipersyaratkan.
Uji batas klorida merupakan uji kemurnian untuk menentukan konsentrasi ion
klorida pada suatu senyawa secara semikuantitatif. Uji ini perlu dilakukan sebab adanya
cemaran ion klorida pada senyawa seperti obat dapat memberikan efek pada tubuh, misalnya
dapat mengganggu kesetimbahan pH tubuh (menyebabkan asidosis) yang akan
mempengaruhi kerja dari enzim di dalam tubuh, dapat menyebabkan darah tinggi sebab ion
klorida berhubungan dengan pompa Na+ dan Cl- di dalam tubuh serta berperan dalam
mengatur volume darah, dapat menyebabkan retensi air di dalam tubuh (udem), dan lain-
lain. Batas klorida akan menunjukkan bahwa kandungan klorida dalam zat uji tidak melebihi
batas klorida yang dipersyaratkan. Prinsip uji batas klorida adalah membandingkan
kekeruhan larutan uji dengan larutan pembanding.
Uji batas klorida dilakukan dengan melarutkan 1,5 gram zat uji berupa sorbitol
dalam tabung Nessler dalam 30-40 ml air kemudian ditambahkan HNO3 pereaksi serta 1 ml
larutan AgNO3 LP lalu digenapkan dengan air hingga 50 ml. Setelah itu, larutan didiamkan
selama 5 menit pada tempat yang terlindung dari cahaya. Kekeruhan pada larutan uji
kemudian dibandingkan dengan kelarutan pada larutan pembanding yang mengandung
sejumlah volume HCl 0,02 N (menurut FI 1 0,1 ml HCl 0,02N) yang merupakan batas
konsentrasi klorida yang diperbolehkan. Klorida pada larutan akan bereaksi dengan AgNO3
menghasilkan endapan AgCl yang menyebabkan kekeruhan. Reaksi ini dilakukan pada
suasana asam encer dengan penambahan HNO3 P agar tidak terbentuk endapan AgOH yang
dapat mengganggu hasil reaksi (pada suasana basa). Larutan didiamkan selama 5 menit
untuk memastikan semua klorida pada larutan bereaksi dengan Ag+ dan larutan harus
disimpan pada tempat yang terlindung dari cahaya sebab AgNO3 bersifat fotosensitif
sehingga dapat mengalami degradasi jika terkena cahaya. Berdasarkan hasil percobaan,
dapat diamati bahwa larutan pembanding klorida lebih keruh dari larutan uji sorbitol
sehingga dapat disimpulkan bahwa larutan uji sorbitol mengandung klorida dengan
konsentrasi yang tidak melebihi konsentrasi larutan pembanding (memenuhi syarat uji
batas).
AgNO3(aq) + Cl- (aq) AgCl (s) + NO3- (aq)
Uji batas sulfat merupakan uji kemurnian untuk menguji cemaran sulfat yang ada
pada suatu senyawa secara semikuantitatif. Uji sulfat perlu dilakukan sebab adanya sulfat
pada senyawa misalnya obat dapat memberikan efek bagi tubuh, misalnya mengganggu
kesetimbangan pH tubuh sehingga dapat mempengaruhi kerja enzim, dapat mengiritasi
saluran pencernaan, dan lain-lain. Uji batas sulfat dilakukan dengan membandingkan
kekeruhan pada larutan uji dengan larutan baku sulfat. Pertama, larutan uji dibuat dengan
melarutkan 1 gram larutan sorbitol dalam 30-40 ml air, kemudian ditambahkan 1 ml HCl 3N
dengan 3 ml BaCl2, digenapkan dengan air hingga 100 ml, lalu didiamkan selama 10 menit.
Kekeruhan yang terjadi pada larutan sampel kemudian dibandingkan dengan larutan
pembanding sulfat yang mengandung 0,1 ml asam sulfat 0,02 N. BaCl2 akan bereaksi
dengan sulfat menghasilkan endapan BaSO4 yang menyebabkan kekeruhan sehingga larutan
dapat saling dibandingkan. Tujuan penambahan HNO3 adalah untuk memberikan suasana
asam yang akan mendukung pembentukan BaSO4, di mana uji tidak dapat dilakukan pada
suasana basa, karena pada suasana basa Ba2+ akan bereaksi dengan OH- membentuk
Ba(OH)2 yang larut dalam air sehingga tidak terbentuk endapan BaSO4. Larutan didiamkan
10 menit agar endapan yang terbentuk sempurna.
BaCl2 (aq) + SO42- BaSO4 (s) + Ba2+ (aq)
Berdasarkan hasil percobaan, larutan pembanding sulfat dan larutan uji terlihat
jernih, dan larutan uji tidak lebih keruh dari larutan pembanding sehingga dapat disimpulkan
bahwa kadar sulfat pada larutan uji sorbitol tidak melebihi batas konsentrasi sulfat yang
dipersyaratkan pada larutan pembanding.
Minyak dan lemak merupakan senyawa yang berupa ester dari asam lemak rantai
panjang dengan alkohol. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah minyak berwujud cair
sedangkan lemak berwujud padat pada suhu kamar. Keduanya merupakan senyawa ester
trigliserida sehingga sangat rentan terhadap reaksi hidrolisis menghasilkan asam lemak dan
gliserol, selain itu juga mudah teroksidasi yang akan menyebabkan ketengikan. Bilangan
kimia adalah bilangan pengenal yang dapat digunakan untuk karakterisasi, identifikasi, dan
pengujian kemurnian dari minyak atau lemak.
Bilangan asam merupakan ukuran keasaman lemak atau minyak yang disebabkan
oleh adanya asam lemak bebas. Bilangan asam adalah jumlah mg KOH yang dibutuhkan
untuk menentralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram sampel. Prinsip
penentuan bilangan asam adalah menentukan asam lemak bebas yang terkandung dalam
suatu sampel minyak atau lemak dengan menggunakan titrasi asam basa (penetralan).
Sepuluh gram sampel minyak jagung dilarutkan dalam 50 ml campuran etanol-eter (1:1)
yang telah dinetralkan terhadap fenolftalein dengan larutan NaOH. Sampel dipanaskan
perlahan pada penangas dan dikocok hingga larut sempurna. Larutan fenolftalein kemudian
ditambahkan dan larutan dititrasi dengan NaOH hingga larutan berubah warna menanjadi
merah muda (titik akhir) yang tahan selama 30 detik. Minyak jagung dilarutkan di dalam
campuran etanol-eter sebab minyak bersifat kurang polar sehingga perlu dilarutkan dalam
pelarut organik (etanol bersifat semi polar dan eter non polar). Etanol-eter yang digunakan
harus dinetralkan terlebih dahulu dengan NaOH sebab etanol bersifat sedikit asam. Apabila
tidak dinetralkan, etanol dapat menyebabkan NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi lebih
banyak dari yang seharuskan karena NaOH akan bereaksi dengan etanol yang bersifat
sedikit asam sehingga mempengaruhi hasil titrasi. Etanol-eter dititrasi hingga berwarna
merah muda lemah dan jangan sampai merah muda tua karena apabila NaOH yang
digunakan terlalu banyak, maka NaOH dapat bereaksi dengan asam lemak yang bebas
sehingga hasil larutan akan tetap berwarna merah muda meski sampel minyak sudah
ditambahkan (larutan terlalu basa). Larutan sampel dipanaskan untuk membantu pelarutan
minyak jagung dalam pelarut. Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan nilai bilangan asam
dari minyak jagung sebesar 0,9186 sedangkan bilangan asam minyak jagung yang
sebenarnya adalah tidak lebih dari 0,2 (Farmakope Jepang). Adanya perbedaan hasil
percobaan dengan nilai literatur dapat disebabkan pada percobaan minyak jagung yang
digunakan belum larut sempurna di dalam pelarut dan pemanasan yang dilakukan terlalu
lama sehingga terdapat kemungkinan ester pada sampel terhidrolisis menghasilkan asam
lemak yang menyebabkan jumlah NaOH untuk titrasi lebih banyak dan membuat nilai
bilangan asam menjadi lebih tinggi.
Bilangan penyabunan menunjukkan jumlah asam lemak bebas serta ester asam lemak
dalam suatu sampel minyak atau lemak. Bilangan penyabunan adalah jumlah mg KOH yang
dibutuhkan untuk menyabunkan asam lemak bebas dan ester dalam 1 gram sampel.
Penentuannya dilakukan dengan melarutan 2 gram sampel dalam labu refluks kemudian
ditambahkan larutan KOH 0,5 N-etanol . Larutan kemudian direfluks spade penangas
selama 30 menit sambil diaduk. Indikator fenolftalein ditambahkan lalu larutan dititrasi
dengan HCl 0,5 N sampai titik akhir yang ditunjukkan perubahan warna dari merah muda
menjadi tidak berwarna. Penetapan blanko terhadap KOH-etanol juga dilakukan pada
kondisi yang sama. KOH digunakan sebab titrasi yang dilakukan adalah titrasi balik
sehingga KOH berlebih ditambahkan pada sampel. Etanol berfungsi untuk melarutkan
minyak. Larutan sampel direfluks untuk mempercepat reaksi hidrolisis ester menjadi asam
lemak bebas. Asam lemak bebas pada sampel dan asam lemak bebas hasil hidrolisis akan
bereaksi dengan KOH berlebih, kelebihan KOH kemudian dititrasi dengan HCl.
Berdasarkan literature, bilangan penyabunan dari minyak jagung adalah 187-195, sedangkan
bilangan penyabunan hasil percobaan yang didapatkan adalah 319,5929. Adanya perbedaan
tersebut dapat disebabkan oleh titrasi blanko yang kurang tepat di mana titik akhir terlewat,
dapat juga disebabkan oleh proses refluks yang kurang sempurna karena selang yang
digunakan sempat lepas dari pipa pada kondensor refluks, dapat juga disebabkan adanya
pengotor asam pada sampel minyak jagung sehingga KOH yang bereaksi dengan sampel
lebih banyak, dan sisa KOH yang bereaksi dengan HCl lebih sedikit sehingga volume HCl
yang dibutuhkan lebih sedikit dan bilangan penyabunan menjadi lebih besar, selain itu, juga
dapat disebabkan oleh perubahan komposisi asam lemak dalam minyak jagung. Perubahan
komposisi tersebut dapat disebabkan oleh fermentasi oleh bakteri dan proses hidrolisis pada
saat penyimpanan sampel minyak jagung tersebut

Trigliserida Gliserol

Sabun
Gambar 1. Reaksi Saponifikasi
Sumber : www.azaquar.com

Bilangan ester merupakan jumlah mg KOH yang diperlukan untuk menyabunkan


ester dalam 1 gram sampel. Bilangan ester tidak dapat ditentukan nilainya pada percobaan
sebab ester asam lemak tidak dapat ditentukan langsung dengan titrasi tetapi harus
dihidrolisis terlebih dahulu menjadi asam lemak, namun pada sampel lemak atau minyak
juga terdapat asam lemak bebas sehingga penentuan ester asam lemak saja tidak dapat
ditentukan. Oleh karena itu, bilangan ester dihitung dari selisih antara bilangan penyabunan
dengan bilangan asam. Dari hasil percobaan didapatkan bilangan ester minyak jagung adalah
318,674.

VII. Kesimpulan
1. Kadar logam berat pada sampel sorbitol lebih kecil dari kadar logam berat yang
diperbolehkan (kadar larutan baku) sehingga memenuhi syarat kemurnian uji batas logam
berat
2. Kadar klorida pada sampel sorbitol lebih kecil dari kadar batas klorida yang
diperbolehkan (kadar larutan pembanding) sehingga memenuhi syarat kemurnian uji
batas klorida
3. Kadar sulfat pada sampel sorbitol lebih kecil dari kadar batas sulfat yang diperbolehkan
(kadar larutan pembanding) sehingga memenuhi syarat kemurnian uji bats sulfat
4. Bilangan asam sampel minyak jagung adalah 0,9186
5. Bilangan penyabunan sampel minyak jagung adalah 319,5929
6. Bilangan penyabunan sampel minyak jagung adalah 318,674
7. Normalitas HCl hasil pembakuan adalah 0,5155N , normalitas NaOH hasil pembakuan
adalah 0,08849 N

VIII. Daftar Pustaka


Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi ke IV.
Jakarta: DepKesRI. ( halaman 630-632).
Jeffery, G.H.1989. Vogels Textbook of Quantitative Chemical Analysis. New York : John
Wiley & Sons. ( halaman 309-328 ).
The Ministry of Health, Labour, and Welfare. 2011. Japanese Pharmacopeia. Tokyo : The
Ministry of Health, Labour, and Welfare. (halaman 678).
www.wps.prenhall.com (Diakses 14 April 2017, pukul 9.59)
www.bbc.co.uk (Diakses 14 April 2017, pukul 13.21)
ww.chem.latech.edu (Diakses 14 April 2017, pukul 14.23)

Anda mungkin juga menyukai