Anda di halaman 1dari 10

BIOREAKTOR 1

MACAM-MACAM JENIS REAKTOR BESERTA APLIKASINYA


Itamar Pascana Ningrum
(1306371016)

Abstrak
Teknik bioproses adalah cabang ilmu dari teknik kimia yang
berhubungan dengan perancangan dan konstruksi proses produksi yang
melibatkan agensia biologi. Agensia biologis dapat berupa
mikroorganisme atau enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme.
Mikroorganisme yang digunakan pada umumnya berupa bakteri, khamir,
atau kapang. Aplikasi dari teknik bioproses dijumpai pada industri obat-
obatan, bioteknologi, dan industri pengolahan air.
Bioreaktor atau dikenal juga dengan nama fermentor adalah
sebuah peralatan atau sistem yang mampu menyediakan sebuah
lingkungan biologis yang dapat menunjang terjadinya reaksi biokimia dari
bahan mentah menjadi bahan yang dikehendaki. Dua komponen penting
dalam bioreaktor adalah sel atau enzim (biokatalisator). Kondisi
lingkungan bioreaktor memberikan lingkungan fisik sehingga sel
/biokatalisator dapat melakukan interaksi dengan lingkungan dan nutrisi
yang dimasukkan ke dalamnya. Optimasi bioproses dalam bioreaktor
dapat dicapai dengan memasok yaitu dengan sumber energi, nutrisi,
inokulum sel atau makhluk hidup yang unggul, dan kondisi fisikokimiawi
yang optimal.

Kata Kunci
Agensia biologis, bakteri, khamir, kapang, bioteknologi, biokatalisator,
inokulum, dan kondisi fisikokimiawi.
BIOREAKTOR 2

1. Prinsip Bioreaktor
Bioreaktor merupakan suatu unit alat yang digunakan untuk
melangsungkan proses biokimia dari suatu bahan baku menjadi produk
yang diinginkan, dimana prosesnya dikatalisis oleh enzim-enzim mikrobial
atau isolat enzim murni. Parameter yang dikontrol pada bioreaktor, yaitu:
suhu, pH oksigen terlarut, bahan baku dan nutrisi.
Bioreaktor adalah suatu alat atau sistem yang mendukung aktivitas
agensia biologis. Dengan kata lain, sebuah bioreaktor adalah tempat
berlangsungnya proses kimia yang melibatkan mikroorganisme atau
enzim yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme. Bioreaktor dikenal juga
dengan nama fermentor. Proses reaksi kimia yang berlangsung dapat
bersifat aerobik ataupun anaerobik .Sementara itu, agensia biologis yang
digunakan dapat berada dalam keadaan tersuspensi atau terimobilisasi.
Contoh reaktor yang menggunakan agensia terimobilisasi adalah
bioreaktor dengan unggun atau bioreaktor membran.
Agensia biologis dapat berupa mikroorganisme atau enzim yang
dihasilkan oleh mikroorganisme. Mikroorganisme yang digunakan pada
umumnya berupa bakteri, khamir, atau kapang. Aplikasi dariteknik
bioproses dijumpai pada industri obat-obatan, bioteknologi, dan industri
pengolahan air
Biasanya bioreactor berbentuk silinder, berkisar dari beberapa liter
sampai meter kubik, dan dibuat dari bahan stainless steel. Merancang
bioreaktor adalah perkara rekayasa yang lumayan rumit. Mikroba atau
selnya mau bereproduksi dengan baik bila kondisi lingkungan optimal.
Untuk mencapainya, gas dalam bioreaktor, seperti oksigen, nitrogen, dan
karbon dioksida, aliran, temperatur, pH, serta kecepatan adukan harus
terkendali.

2. Komponen Bioreaktor
Komponen utama bioreaktor terdiri atas tangki, sparger, impeller,
saringan halus atau baffle dan sensor untuk mengontrol parameter.
Tangki berfungsi untuk menampung campuran substrat, sel
BIOREAKTOR 3

mikroorganisme, serta produk. Volume tanki skala laboratorium berkisar


antara 1 30 L, sedangkan untuk skala industri dapat mencapai lebih dari
1000 L. Sparger terletak di bagian bawah bioreaktor dan berperan untuk
memompa udara, dan mencegah pembentukan gelembung oksigen.
Impeller berperan dalam agitasi dengan mengaduk campuran substrat
dan sel. Impeller digerakkan oleh rotor. Baffle juga berperan untuk
mencegah terjadinya efek pusaran air akibat agitasi. Sensor berperan
untuk mengontrol lingkungan dalam bioreaktor. Kontrol fisika meliputi
sensor suhu, tekanan, agitasi, foam, dan kecepatan aliran. Sedangkan,
kontrol kimia meliputi sensor pH, kadar oksigen, dan perubahan komposisi
medium.
Bioreaktor skala laboratorium yang berukuran 1,5-2,5 L umumnya
terbuat dari bahan kaca atau borosilikat, namun untuk skala industri,
umunya digunakan bahan baja tahan karat (stainless steel) yang tahan
karat. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kontaminasi senyawa metal
pada saat fermentasi terjadi di dalamnya. Bahan baja yang mengandung
< 4% kromium disebut juga baja ringan, sedangkan bila kadar kromium di
dalamnya >4% maka disebut stainless steel. Bioreaktor yang umum
digunakan terbuat dari bahan baja 316 yang mengandung 18% kromium,
2-2,5% molibdenum, dan 10% nikel. Bahan yang dipilih harus bersifat
non-toksik dan tahan terhadap sterilisasi berulang-ulang menggunakan
uap tekanan tinggi. Untuk mencegah kontaminasi, bagian atas bioreaktor
dapat ditambahkan dengan segel aseptis (aseptic seal) yang terbuat dari
campuran metal-kaca atau metal-metal, seperti O-ring dan gasket. Untuk
meratakan media di dalam bioreaktor digunakan alat pengaduk yang
disebut agitator atau impeler. Sementara itu, untuk asupan udara dari luar
ke dalam sistem biorektor digunakan sistem aerasi yang berupa sparger.
Untuk bioreaktor aerob, biasanya digunakan kombinasi sparger-agitator
sehingga pertumbuhan mikrooganisme dapat berlangsung dengan baik.
BIOREAKTOR 4

3. Jenis-jenis bioreaktor
Sistem Bioreaktor yang umum digunakan adalah:
Curah (bulk / batch)
Kontinu
Semi kontinu

Gambar 1. Jenis-jenis bioreaktor


(Sumber: ppprodtk.fti.itb.ac.id/bioreaktor)

3.1 Bioreaktor Sistem Batch


a). Pengertian Batch Process
Batch process merupakan fermentasi dengan cara memasukan
media dan inokulum secara bersamaan ke dalam bioreaktor dan
pengambilan produk dilakukan pada akhir fermentasi. Pada sistem batch,
bahan media dan inokulum dalam waktu yang hampir bersamaan di
masukan ke dalam bioreactor, dan pada saat proses berlangsung akan
terjadi perubahan kondisi di dalam bioreaktor (nutrient akan berkurang
dan produk serta limbah).

Gambar 2. Bioreaktor Sistem Batch


(Sumber: ppprodtk.fti.itb.ac.id/bioreaktor)
BIOREAKTOR 5

b). Contoh produk Sistem Batch Process


Adapun contoh produk yang dapat menggunakan system batch
Process, diantaranya: yang mungkin dilakukan untuk skala kecil adalah
fermentasi batch. Dalam pembuatan Bioetanol : Food Grade dan Industrial
(kosmetika, kesehatan dsb). Tidak direkomendasikan menambahkan
UREA, NPK dan bahan kimia lainya kecuali: ragi (mikroba etanol).

c). Alasan menggunakan Sistem Batch Process


Pada sistem fermentasi batch, pada pasarnya prinsipnya
merupakan sistem tertutup, tidak ada penambahan media baru, ada
penambahan oksigen (O2) dan aerasi, antifoam dan asam /basa dengan
cara kontrol pH.
Batch Fermentation banyak diterapkan dalam dunia industri, karena
kemudahan dalam proses sterilisasi dan pengontrolan alat. Selain itu,
pada cara batch menurut penelitian yang dilakukan Hana Silviana (2010),
mengatakan bahwa cara batch banyak diaplikasikan di industri etanol
karena dapat menghasilkan kadar etanol yang tinggi.

d). Kendala menggunakan Sistem Batch Process


Pada fermentasi secara batch untuk fermentasi etanol terjadi
kendala yaitu produktivitas etanol rendah. Rendahnya produktivitas etanol
karena pada kondisi tertentu etanol yang dihasilkan akan menjadi
inhibitor, yang akan meracuni mikroorganisme sehingga mengurangi
aktivitas enzim. Akumulasi dari produk terlarut yang bersifat racun akan
menurunkan secara perlahan-lahan dan bahkan dapat menghentikan
pertumbuhan serta produksi dari mikroorganisme.
Kendala lain yang terjadi pada cara batch adalah pada proses
batch hanya satu siklus dimana pertumbuhan bakteri dan produksi gas
metan semakin lama semakin menurun karena tidak ada substrat baru
yang diumpankan dalam reaktor. Proses batch mempunyai kendala, yaitu
membutuhkan waktu fermentasi yang lama, konsentrasi etanol yang
BIOREAKTOR 6

dihasilkan rendah akibat akumulasi produk etanol yang dapat meracuni


mikroorganisme pada proses fermentasi.

e). Keuntungan menggunakan Sistem Batch Process:


Bioreaktor tipe batch memiliki keuntungan lain yaitu dapat
digunakan ketika bahan tersedia pada waktu waktu tertentu dan bila
memiliki kandungan padatan tinggi (25%). Bila bahan berserat / sulit untuk
diproses, tipe batch akan lebih cocok dibanding tipe aliran kontinyu
(continuos flow), karena lama proses dapat ditingkatkan dengan mudah.
Bila proses terjadi kesalahan, misalnya karena bahan beracun, proses
dapat dihentikan dan dimulai dengan yang baru.

3.2 Bioreaktor Sistem Kontinu


a). Pengertian Continues Process
Pada cara sinambung
(continues process), pengaliran
subtrat dan pengambilan produk
dilakukan secara terus menerus
setiap saat setelah diperoleh
konsentrasi produk maksimal atau
substrat pembatasnya mencapai
konsentrasi yang hampir tetap. Dalam
hal ini substrat dan inokulum dapat
ditambahkan bersama-sama secara
terus menerus sehingga fase
eksponensial dapat diperpanjang.
Gambar 3. Bioreaktor Sistem Kontinu
(Sumber: ppprodtk.fti.itb.ac.id/bioreaktor)

Ada 2 tipe sistem, yaitu : homogenously mixed bioreactor dan plug


flow reactor. Pada tipe homogenously mixed bioreactor dapat dibagi
menjadi 2 macam diantaranya chemostat dan turbidostat.
BIOREAKTOR 7

b). Contoh produk Sistem Kontinu


Adapun contoh produk yang dapat menggunakan sistem kontinu
diantaranya: protein sel tunggal, antibiotik, pelarut organik, kultur starter,
dekomposisi selulosa, pengolahan limbah cair, beer, glukosa isomerase,
dan etanol.
Selain itu juga pembuatan etanol dapat digunakan cara sistem
kontinu. Produksi etanol dari molases secara fermentasi menggunakan
yeast saccharomyces cereviceae dalam fermentor kontinyu. Proses
fermentasi secara kontinyu menggunakan yeast saccharomyces
cereviceae dengan Immobilized Cell dalam Ca-Alginate di dalam
bioreactor packed-bed.
Peneliti Katherin (2010), juga telah melakukan fermentasi dengan
bioreaktor sistem kontinu pada fermentasi limbah cair tahu, bioreaktor ini
digunakan untuk mengolah limbah cair tahu yang dikondisikan terlebih
dahulu derajat keasamannya dan dicampur dengan bakteri starter EM4
dengan rasio 0.02%.

c). Alasan menggunakan Sistem Kontinu


Pada sistem kontinu, pada pasarnya prinsipnya merupakan
fermentasi kontinu dimana pada fermentor sistem terbuka, ada
penambahan media baru, ada kultur yang keluar, volume yang tetap dan
fase fisiologi sel konstan.
Pada sistem kontinyu dengan dilution rate yang lebih kecil (waktu
tinggal yang lebih besar) memberikan hasil konsentrasi etanol yang lebih
mendekati sistem batch sehingga apabila waktu tinggal dalam reaktor
diperpanjang, memungkinkan konsentrasi etanol yang dihasilkan lebih
mendekati sistem batch.

d). Prinsip (prosedur /SOP) Sistem Kontinu


Bioreaktor yang dibuat adalah jenis one stage kontinu, yang terdiri
dari tiga komponen utama (penampung sementara, reaktor dan gas
kolektor). Pada tipe aliran kontinu, bahan dimasukkan ke dalam digester
BIOREAKTOR 8

secara teratur pada satu ujung dan setelah melalui jarak tertentu, keluar di
ujung yang lain. Tipe ini mengatasi masalah pada proses pemasukan dan
pengosongan pada tipe batch. Menurut Aprilianto (2010), terdapat dua
jenis dari tipe aliran kontinyu:
1. Vertikal, dikembangkan oleh Gobar Gas Institute, India
2. Horisontal, dikembangkan oleh Fry di Afrika Selatan dan California,
selain itu dikembangkan oleh Biogas Plant Ltd. dengan bioreaktor
yang terbuat dari karet Butyl (butyl ruber bag).
Dalam penelitian Tontowi (2010), telah diterapkan proses
fermentasi kontinu yang dilakukan didalam mixed flow reactor yang
bervolume 1 L dengan kecepatan putar 100 rpm. Proses fermentasi ini
diawali dengan melakukan fermentasi semibatch selama 16 jam. Sebelum
fermentasi dimulai, reaktor terlebih dahulu diisi dengan bead sampai
volume mencapai 1/5 volume reaktor. Setelah 16 jam, proses fermentasi
kontinu mulai dilakukan dengan mengalirkan feed dalam fermentor
menggunakan pompa peristaltik. Laju alir feed (media molasses)
disesuaikan dengan variabel dilution rate yang dipakai.

3.3 Bioreaktor Sistem Semi-Kontinu


a). Pengertian Semi-Continues Process
Bioreaktor semikontinu adalah suatu bentuk kultivasi dimana
medium atau substratnya ditambahkan secara kontinu atau berurutan ke
dalam tumpukan diskontinu awal tanpa mengeluarkan sesuatu dari
sistem.

b). Contoh produk Sistem Semi-Kontinu


Produk yang dihasilkan dari sistem seperti ini dapat melebihi
produk yang dihasilkan dari kultur diskontinu. Pendekatan ini secara
luas diterapkan dalam industri misalnya dalam produksi ragi yang
dibutuhkan untuk pembuatan roti. Contoh bioreaktor semikontinu yaitu
digestor atau bioreaktor anaerobik, tetapi bioreaktor ini dapat pula
dioperasikan secara kontinu. Pengunaan sistem ini pada pengolahan air
BIOREAKTOR 9

buangan padat, misalnya lumpur buangan (sludge) yang diperoleh dari


pengolahan buangan perkotaan,akan memberikan stabilisasi air buangan
yang efisien dan produksi metan yang tinggi.

Gambar 4. Bioreaktor Sistem Semi-Kontinu


(Sumber: ppprodtk.fti.itb.ac.id/bioreaktor)

Pada sistem ini lumpur buangan dicampur dengan mikroorganisme


anaerobic pada suhu 30C dan waktu retensi hidrolik. Untuk air buangan
berkekuatan sedang dari industri makanan dan fermentasi, teknik operasi
yang dapat menahan biomassa mikroba lebih lama dalam sistem operasi
kontinu sudah ditemukan. Maka waktu retensi zat padat tidak dapat
digabung dengan waktu retensi cairan sehingga konsentrasi mikroba yang
tinggi dapat terjadi pada digester (atau pada bioreaktor tersebut), yang
memberikan laju degradasi yang tinggi. Bagi air buangan yang sangat
encer, misalnya buangan kota, waktu retensi zat padat yang sangat
panjang diperlukan.
BIOREAKTOR 10

4. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka dapat di simpulkan bahwa:
1. Bioreaktor (fermentor) merupakan tempat berlangsungnya proses
kimia yang melibatkan mikroorganisme atau enzim yang dihasilkan
oleh suatu mikroorganisme. Proses reaksi kimia yang berlangsung
dapat bersifat aerobik ataupun anaerobik dengan agensia biologis
yang digunakan dapat berada dalam keadaan tersuspensi atau
terimobilisasi.
2. Berdasarkan pemasukan nutrisinya ke dalam bioreaktor, ada tiga
jenis bioreaktor, yaitu bioreaktor kontinu, semikontinu, dan
diskontinu.
3. Desain bioreaktor hendaknya memberikan lingkungan yang tetap
bagi optimasi pertumbuhan organisme dan aktivitas metabolisme,
mencegah kontaminasi produksi dari lingkungan pada kultur sambil
mencegah pelepasan kultur ke lingkungan serta memiliki
instrumentasi untuk pemeriksaan atau pengawasan proses yang
optimum.
4. Mikrobia dalam bioreaktor terjadi secara pertumbuhan individu sel
dan pertumbuhan populasi yang meliputi peningkatan substansi
dan komponen sel, peningkatan ukuran sel serta pembelahan sel.

5. Referensi
John Tampion, M. D. Tampion (1987). Immobilized cells: principles and
applications. Cambridge University Press.
Peter M. Huck (1998). Design of Biological Processes for Organics
Control. Amer Water Works Assn
Ratledge C, Kristiansen B., 2001. Basic Biotechnology. Cambridge:
Cambridge University.