Anda di halaman 1dari 26

Rangkuman materi kas

Menurut ahmad www.akuntansi-10.blogspot.com

KAS
A. PENGERTIAN KAS

Kas merupakan alat pertukaran dan alat pembayaran yang diterima untuk pelunasan hutang,
dan dapat diterima sebagai setoran dengan jumlah sebesar nilai nominalnya, juga simpanan
bank atau tempat lain yang dapat diambil sewaktu-waktu.

Douglas Garbutt (1985) dalam Basalamah,A (1994:11) pengertian kas secara umum yaitu kas
adalah uang yang dimiliki oleh perusahaan. Sedangkan Menurut Gito Sudarmo, I dan Basri
(1995 : 61) mengemukakan pengertian kas adalah sebagai nilai uang kontan yang ada dalam
perusahaan beserta pos-pos lain yang ada dalam jangka waktu dekat dapat diuangkan sebagai
alat pembayaran kebutuhan financial, yang mempunyai sifat paling tinggi tingkat likuiditasnya.

Dan menurut Djarwanto,Ps (1996 : 37) mengemukakan bahwa kas adalah uang tunai dan alat
pembayaran lainnya yang digunakan untuk membiayai operasi perusahaan.
Dari ketiga pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kas adalah harta yang
paling likuid/ lancar yang tidak terbatas hanya pada uang tunai saja, tapi juga kas bank, cek,
wesel, serta surat-surat berharga yang dapat dengan segera digunakan sebagai alat
pembayaran.

Menurut Munawir (1983:14), Kas merupakan uang tunai yang dapat digunakan untuk
membiayai operasi perusahaan, termasuk dalam pengertian kas adalah cek yang diterima dari
para pelanggan dan simpanan perusahaan di bank dalam bentuk giro atau demand deposit,
yaitu simpanan di bank yang dapat diambil kembali (dengan menggunakan cek atau bilyet).

Theodarus M. Tuanakotta, AK, (1982:150), Kas dan bank meliputi uang tunai dan simpanan-
simpanan di bank yang langsung dapat diuangkan pada setiap saat tanpa mengurangi nilai
simpanan tersebut. Kas dapat terdiri dari kas kecil atau dana-dana kas lainnya seperti
penerimaan uang tunai dan cek-cek (yang bukan mundur) untuk disetor ke bank keesokan
harinya.

Standar Akuntansi Keuangan (2002 : 85) Kas adalah alat pembayaran yang siap dan bebas
digunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
Zaki Baridwan (2003 :85), kas merupakan suatu alat pertukaran dan digunakan sebagai suatu
ukuran dalam akuntansi.

Dalam prakteknya, kadang kas dikelompokkan menjadi dua yaitu Kas Kecil dan Kas Besar. Kas
Kecil digunakan untuk operasional sehari-hari dan jumlahnya tidak terlalu besar. Biasanya
digunakan untuk biaya operasional seperti biaya administrasi, biaya telepon, listrik, dll. Kas
besar biasanya digunakan untuk menampung penerimaan Piutang, Pinjaman bank,
pengeluaran untuk membayar utang, pengeluaran untuk membeli aktiva.
Kas sangat penting artinya karena, menggambarkan daya beli dan dapat ditransfer segera
dalam perekonomian pasar kepada setiap individu dan organisasi dalam memperoleh barang
dan jasa yang diperlukan. Kas juga menjadi begitu penting karena, perorangan, perusahaan,
dan bahkan pemerintah harus mempertahankan posisi liquiqitas yang memadai, yakni mereka
harus memiliki sejumlah uang yang mencukupi untuk membayar kewajiban pada saat jatuh
tempo agar entitas bersangkutan dapat beroperasi.

Kas dapat dikatakan merupakan satu-satunya pos yang paling penting dalam neraca. Karena
berlaku sebagai alat tukar dalam perekonomian kita, kas terlihat secara langsung atau tidak
langsung dalam hampir semua transaksi usaha. Hal ini sesuai dengan sifat-sifat kas yaitu :

a. Kas terlalu terlibat dalam hampir semua transaksi perusahaan.


b. Kas merupakan harta yang siap dan muda untuk digunakan dalam transaksi serta ditukarkan
dengan harta lain, mudah dipindahkan dan beragam tanpa tanda pemilik.
c. Jumlah uang kas yang dimiliki oleh perusahaan harus di jaga sedemikian rupa sehingga tidak
terlalu banyak dan tidak kurang.

Pengolahan kas dapat dikriteriakan sebagai berikut :


a. Diakui secara umum sebagai alat pembayaran yang sah
b. Dapat digunakan setiap saat bila dikehendaki
c. Penggunaannya secara bebas
d. Diterima sesuai nilai nominalnya pada saat diuangkan tersebut.

Kas terdiri dari saldo kas yang ditangan perusahaan dan termasuk rekening giro. Setoran kas
adalah asset yang dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi
dan dengan cepat dapat dijadikan menjadi kas.

KOMPOSISI KAS

Yang termasuk dalam kas menurut pengertian akuntansi adalah alat pertukaran yang dapat
diterima untuk peluanasan utang, sebagai setoran ke bank, juga simpanan dalam bank atau
tempat-tempat lain yang dapat diambil sewaktu-waktu. Kas terdiri dari uang kertas, uang logam,
cek yang belum disetorkan, simpanan dalam bentuk giro atau bilyet, travellers checks,
cashiers checks, bank draft dan money order. Untuk dapat digolongkan sebagai kas biasanya
dibatasi dengan diterima sebagai setoran oleh bank dengan nilai nominal tidak dikelompokkan
dalam kas. Jika ada wesel tagih yang diserrahkan ke bank untuk ditagihkan,maka wesel tagih
ini tetap dicatat sebagai piutang wesel sampai dilunasi oleh yang membuat wesel. Kadang-
kadang perangko dapat digunakan untuk pembayaran yang jumlahnya kecil, tetapi perangko
tidak akan diterima sebagai setoran oleh bank, maka perangko bukan kas.

Cek mundur (post dated checks) tetap dicatat sebagai piutang sampai tanggal dimana cek
dapat diuangkan.Cek mundur termasuk dalam kelompok piutang.
Surat-surat berharga seperti saham-saham dan obligasi mungkin dapat segera dijual dan
menjadi uang tunai, tetapi sebelum dujual surat-surat berharga tersebut tidak termasuk
kelompok kas. Sebelum dijual surat berharga tetap dilaporkan sebagai investasi jangka pendek.

Simpanan dalam bank-bank diluar negeri menimbulkan suatu masalah khusus karena mata
uang yang berbeda.Oleh karena itu simpanan di bank luar negeri harus dikurskan dalam
rupiah.Sering kali simpanan-simpanan di bank luar negeri tidak dapat diambilsewaktu-waktu,
oleh karena itu dalam neraca simpanan tadi akan dilaporkan terpisah.

Uang kas yang dibatasi penggunaannya, biasanya dalam bentuk dana, tidak dimasukkan dalam
kas tetapi dilaporkan terpisah sebagai dana. Jika penggunaannya masih dalam waktu satu
tahun, maka termasuk dalam kelompok aktiva lancer, tetapi jika tidak dapat digunakan dalam
waktu satu tahun,maka dilaporkan dalam kelompoka aktiva tidak lancar.

Pengertian Sistem Pengendalian Intern

AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) memberi definisi sebagai berikut :
Sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, semua metode dan ketentuan-
ketentuan yang terkoordinasi yang dianut dalam perusahaan untuk melindungi harta kekayaan,
memeriksa ketelitian dan seberapa jauh data akuntansi dapat dipercaya, meningkatkan efisiensi
usaha dan mendorong ditaatinya kebijaksanaan perusahaan yang telah di tetapkan.

Kemudian D. Hartanto memberikan penjelasan tentang Pengendalian Intern dengan


membedakan kedalam arti yang sempit dan dalam arti luas secara lengkap disebutkan :
Dalam arti sempit : Pengendalian Intern disamakan dengan Internal Check yang merupakan
prosedur-prosedur mekanisme untuk memeriksa ketelitian dari data-data administrasi, seperti
mencocokkan penjumlahan Horizontal dengan penjumlahan Vertikal.

Dalam arti luas: Pengendalian Intern dapat disamakan dengan Manajemen Control, yaitu
suatu sistem yang meliputi semua cara-cara yang digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk
mengawasi/mengendalikan perusahaan. Dalam pengertian Pengendalian Intern meliputi :
Struktur Organisasi, formulir-formulir dan prosedur pembukuan dan laporan (Administrasi),
budget dan standart pemeriksaan intern dan sebagainya.

Prinsip-prinsip Sistem Pengendalian Intern


Untuk dapat mencapai tujuan pengendalian akuntansi, suatu sistem harus memenuhi enam
prinsip dasar pengendalian intern yang meliputi (Bambang Hartadi, 1999 : 130) :
1. Pemisahan fungsi
Tujuan utama pemisahan fungsi untuk menghindari dan pengawasan segera atas kesalahan
atau ketidakberesan. Adanya pemisahan fungsi untuk dapat mencapai suatu efisiensi
pelaksanaan tugas.
2. Prosedur pemberian wewenang
Tujuan prinsip ini adalah untuk menjamin bahwa transaksi telah diotorisir oleh orang yang
berwenang.
3. Prosedur dokumentasi
Dokumentasi yang layak penting untuk menciptakan sistem pengendalian akuntansi yang
efektif. Dokumentasi memberi dasar penetapan tanggungjawab untuk pelaksanaan dan
pencatatan akuntansi.
4. Prosedur dan catatan akuntansi
Tujuan pengendalian ini adalah agar dapat disiapkannya catatan-catatan akuntansi yang yang
teliti secara cepat dan data akuntansi dapat dilaporkan kepada pihak yang menggunakan
secara tepat waktu.
5. Pengawasan fisik
Berhubungan dengan penggunaan alat-alat mekanis dan elektronis dalam pelaksanaan dan
pencatatan transaksi.
6. Pemeriksaan intern secara bebas
Menyangkut pembandingan antara catatan asset dengan asset yang betul-betul ada,
menyelenggarakan rekening-rekening kontrol dan mengadakan perhitungan kembali
penerimaan kas. Ini bertujuan untuk mengadakan pengawasan kebenaran data.

Keterbatasan Pengendalian Intern


Pengendalian intern hanya memberikan keyakinan memadai bagi manajemen dan dewan
komisaris berkaitan dengan pencapaian tujuan pengendalian intern entitas, berikut ini adalah
keterbatasan bawaan yang melekat dalam pengendalian intern :
1. Pertimabangan manusia dalam pengambilan keputusan dapat salah
2. Pengendalian intern dapat rusak karena kekeliruan dan kesalahan
3. Pengendalian tidak efektif karena adanya kolusi
4. Manajemen mengesampingkan pengendalian intern
5. Biaya pengendalian intern entitas tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan

B. PENGENDALIAN KAS
Pengendalian kas ada 2 yaitu:
1. Pengendalian untuk Penerimaan Kas
Semua penerimaan kas harus segera dicatat
Hendaknya semua penerimaan kas pada hari itu juga harus disetor ke bank
Adanya pemisahan fungsi antara petugas yang menangani penerimaan kas dilakukan dengan
mesin cash register
2. Pengendalian untuk Pengeluaran Kas
Semua pengeluaran kas harus dilalakukan dengan menggunakan cek, kecuali pengeluaran
yang jumlahnya kecil yang tidak efisien jika dilakukan menggunakan cek dapat dilakukan
dengan menggunakan dana kas kecil.
Cek harus ditandatangani minimal 2 orang pejabat
Cek yang batal digunakan/salah tulis harus diasir dengan rapi
Hendaknya diberikan cap lunas untuk bukti dan cek yang sudah dikeluarkan

C. REKONSILIASI BANK
Apabila setiap penerimaan uang disetor ke bank dans etiap pengeluaran uang (kecuali
jumlahnya relative kecil) menggunakan cek maka rekening kas akan dapat dibandingkan
dengan laporan bank. Biasanya laporan bank diterrima bulanan dan akan direkonsiliasi dengan
catatan kas dan catatan bank. Selain itu rekonsiliasi juga beguna untuk mengetahui penerimaan
atau pengeluaran yang sudah terjadi di bank tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
Rekonsiliasi laporan bank sebaiknya dibuat oleh pegawai yang tidak mempunyai kepentingan
terhadap kas, agar penyusunan rekonsiliasi bank ini dapat digunakan untuk mengecek catatan-
catatan kas dan bank. Dalam membuat rekonsiliasi laporan bank perlu diketahui bahwa yang
direkonsiliasikan itu adalah catatan perusahaan dan bank, sehingga harus dibuat perbandingan
antara keduanya agar dapat diketahui perbedaan-perbedaan yang ada.

Hal-hal yang menimbulkan perbedaan dapat digolongkan sebagai berikut :


1. Elemen-elemen yang oleh perusahaan sudah dicatat sebagai penerimaan tetapi belum
dicatat oleh bank.
Contoh :
a. Setoran yang dikirimkan ke bank pada akhir bulan tetapi belum diterima oleh bank sampai
bulan berikutnya (setoran dalam perjalanan).
b. Setoran yang diterima oleh bank pada akhir bulan, atetapi dilaporkan sebagai setoran bulan
berikutnya,karena laporan bank sudah terlanjur dibuat (setoran dalam perjalanan).
c. Uang tunai yang tidak disetorkan ke bank.

2. Elemen-elemen yang sudah dicatat sebagai penerimaan oleh bank tetapi belum dicatat oleh
perusahaan
Contoh :
a. Bunga yang diperhitungkan oleh bank terhadap simpanan, tetapi belum dicatat dalam buku
perusahaan (jasa giro).
a. Penagihan wesel oleh bank, sudah dicatat oleh bank sebagai penerimaan tetapi perusahaan
belum mencatatnya.

3. Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh perusahaan sebagai pengeluaran tetapi bank belum
mencatatnya.
Contoh :
a. Cek-cek yang beredar (outstanding checks) yaitu cek yang sudah dikeluarkan oleh
perusahaan dan sudah dicatat sebagai pengeluaran kas tetapi oleh yang meneriman belum
diuangkan sehingga bank belum mencatatnya sebagai pengeluaran.
b. Cek yang sudah ditulis dan sudah dicatat dalam jurnal pengeluaran uang tetapi ceknya
belum diserahkan kepada yang dibayar,maka cek tersebut belum merupakan pengeluaran oleh
karena itu jurnal pengeluaran kas harus dikoreksi pada akhir periode.

4. Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh bank sebagai pengeluaran tetapi belum dicatat oleh
perusahaan.
Contoh :
a. Cek dari langganan yang ditolak oleh perusahaan karena kosong tetapi belum dicatat oleh
perusahaan.
b. Bunga yang diperhitungkan atas overdraft (saldo kredit kas) tetapi belum dicatat oleh
perusahaan.
c. Biaya jasa bank yang belum dicatat oleh perusahaan.

Rekonsiliasi bank dapat dibuat dalam 2 macam cara yang berbeda :


1. Rekonsiliasi saldo akhir yang bisa dibuat dalam 2 bentuk :
a. Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukkan saldo yang benar
b. Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas.
2. Rekonsiliasi saldo awal, penerimaan, pengeluaran dansaldo akhir yang bisa dibuat 2 bentuk :
a. Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas (4 kolom).
b. Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukan saldo yang benar (8
kolom).

D. KAS KECIL

Dana kas kecil adalah uang kas yang disediakan untuk membayar pengeluaran-pengeluaran
yang jumlahnya relative kecil dan tidak ekonomis bila dibayar dengan cek.

Dalam hubungannya dengan kas kecil, ada 2 metode yang dapat digunakan yaitu (a) system
imprest (b) metode fluktuasi.

a. Sistem Imprest.
Didalam system ini jumlah dalam rekening kas kecil selalu tetap,yaitu sebesar cek yang
diserahkan kepada kasir kas kecil untuk membentuk dana kas kecil. Oleh kasir kas kecil, cek
tadi diuangkan ke bank dan uangnya digunakan untukmembayar pengeluaran-pengeluaran
kecil. Setiap kali melakukan pembayaran kasir kas kecil harus membuat bukti pengeluaran.

b. Metode Fluktuasi
Dalam metode fluktuasi pembentukan dana kas kecil dilakukan dengan cara sama seperti
dalam metode system imprest. Perrbedaan dengan system imprest adalah dalam metode
fluktuasi saldo rekening kas kecil tidak tetap, tetapi berfluktuasi sesuai dengan jumlah pengisian
kembalidan pengeluaran-pengeluaran dari kas kecil. Dalam metode fluktuasi setiap terjadi
pengeluaran uang dari kas kecil langsung dicatat. Jadi buku pengeluarna kas kecil mempunyai
fungsi sebagai buku jurnal dan menjadi dasar pembukuan kerekening-rekening buku
besar.Karena pencatatan dilakukan setaip kali terjadi pengeluaran, maka rekening kas kecil
didebit sebesar uang yang diterima.

E. LAPORAN ARUS KAS

Laporan arus kas merupakan penerimaan kas dan pembayaran kas ( pengeluaran kas).
Laporan arus kas melaporkan penerimaan kas dan pengeluaran kas yang digolongkan sesuai
dengan kegiatan utama entitas : operasi,investasi, dan pembelanjaan. Laporan tersebut
melaporkan arus masuk kas bersih atau keluar kas bersih dari setiap kegiatan dan untuk semua
kegiatan usaha.

Tujuan utama laporan arus kas adalah memberikan informasi tentang penerimaan kas dan
pembayaran kas entitas selama suatu periode. Tujuan keduanya adalah untuk melaporkan
kegiatan operasi, investasi, dan pembiayaan suatu entitas selama periode berjalan.

Manfaat Laporan Arus Kas :


1. Kemampuan entitas untuk menghasilkan arus kas di masa depan.
2. Kemampuan entitas untuk membayar dividen dan memenuhi kewajibannya.
3. Penyebab perbedaan antara laba bersih dan arus kas bersih dari kegiatan operasi.
4. Transaksi investasi dan pembiayaan yang melibatkan kas dan nonkas selama suatu periode.

Klasifikasi Arus Kas


Laporan arus kas mengklasifikasikan penerimaan kas berdasarkan kegiatan operasi, investasi,
dan pembiayaan. Karakteristik transaksi dan peristiwa lainnya dari setiap jenis kegiatan adalah :
1. Kegiatan operasi melibatkan pengaruh kas dari transaksi yang dilibatkan dalam penentuan
laba bersih, seperti penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa, serta pembayaran kas
kepada pemasok dan karyawan untuk memperoleh persediaan serta membayar beban.
2. Kegiatan investasi umumnya melibatkan aktiva jangka panjang dan mencangkup (a)
pemberian serta penagihan pinjaman, dan (b) perolehan serta pelepasan investasi dan aktiva
produktif jangka panjang.
3. Kegiatan pembiayaan melibatkan pos-pos kewajiban dan ekuitas pemegang saham serta
mencangkup (a) perolehan kas dari kreditor dan pembayaran kembali pinjaman, serta (b)
perolehan modal dari pemilik dan pemberian tingkat pengembalian atas, dan pengembalian dari
investasinya.

PIUTANG DAGANG

Piutang : klaim dalam bentuk uang terhadap perusahaan atau perseroan. ATAU klaim terhadap pihak
lain, agar pihak tersebut membayar sejumlah uang / jasa dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Kelompok Piutang :

a. Piutang Dagang ( Accounts Receivable )


piutang yang berasal dari penjualan barang atau jasa dikelompokkan sebagai unsur Aktiva Lancar
dalam Neraca

b. Wesel Tagih ( Notes Receivable )


Pemberian kredit kepada pelanggan didukung oleh suatu dokumen kredit yang
resmi Wesel atau Promes (Promissory Note)

Wesel janji tertulis untuk melunasi jumlah tertentu dalam jangka waktu
tertentu

c. Piutang Lain-lain
Pinjaman kepada karyawan, perusahaan afiliasi, piutang bunga, piutang pajak, dll

Pengendalian Intern atas Piutang :

Memisahkan fungsi pegawai atau bagian yang menangani transaksi penjualan (operasi) dari
Fungsi Akuntansi Untuk Piutang
Pegawai yang menangani akuntansi piutang, harus dipisahkan dari fungsi penerimaan hasil
tagihan piutang
Semua transaksi pemberian kredit, pemberian potongan dan penghapusan piutang, harus
mendapatkan persetujuan dari pejabat yang berwenang.
Piutang harus dicatat dalam buku-buku tambahan piutang (Accounts Receivable Subsidiary
Ledger)
Perusahaan harus membuat daftar piutang berdasarkan umurnya (Aging Schedule).
Penilaian dan Pelaporan

Tujuan Pelaporan : Piutang dinilai sebesar jumlah yang diharapkan dapat diterima.

Piutang-piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih, dicatat sebagai beban atau biaya.

contoh penyajian : Piutang Dagang xxx

Penyisihan piutang tak tertagih (xxx)

Piutang Dagang Neto xxx

Piutang Tak Tertagih

kegagalan perusahaan dalam memperoleh pembayaran dari para pelanggannya.

Beban operasi yang timbul dari kegagalan dalam memperoleh hasil tagihan piutang Beban Piutang
Tak Tertagih (Uncollectible Account Expense / Doubtful account Expense / Bad-debt Expense).

Metode Pencatatan :

1. Metode Penyisihan / Metode Penghapusan Tidak Langsung


(Allowance Method)
Perusahaan menentukan jumlah piutang tak tertagih berdasarkan taksiran atau estimasi.

Metode :

a) Berdasarkan Persentase Penjualan .


menghitung beban piutang tak tertagih, berdasarkan % dari penjualan kredit bersih

Contoh :

PT. Kurnia memiliki penjualan jredit bersihnya selama tahun 2009 sebesar Rp. 320.000.000.-,
berdasarkan dari pengalaman tahun sebelumnya, pihak manajemen menetapkan bahwa 0,5 % dari
penjualan kredit bersihnya akan tidak dapat tertagih. Saldo piutang setelah disesuaikan pada
tanggal 31 Desember 2009 adalah sebesar Rp. 22.300.000.-. Hitung besarnya taksiram piutang yang
tak tertagih dan buat jurnalnya !

b) Berdasarkan Analisis Umur Piutang (Aging Schedule)


masing-masing piutang dagang dianalisis dan dikelompokkan menurut lamanya
piutang tersebut beredar

Semakin lama suatu piutang dagang masih beredar, maka semakin kecil kemungkinannya akan
tertagih.

Penghapusan Piutang

Terjadi apabila piutang tersebut sudah dipastikan tidak dapat ditagih.

Contoh :

Tanggal 10 Januari 2010, salah satu debitur PT Kurnia, yaitu PT. Angkasa dengan jumlah piutang Rp.
50.000.000, diputuskan untuk dihapuskan dikarenakan PT. Angkasa telah dinyatakan bangkrut.
Buatlah Jurnal Penghapusan Piutangnya !

Apabila diketahui pada tanggal 15 Januari 2010, ternyata PT Angkasa kemudian dapat melunasi
hutangnya, buatlah jurnalnya !

2. Metode Penghapusan Langsung (Direct Write-Off Method)


Pencatatan piutang tak tertagih hanya akan dilakukan apabila piutang dagang dari
debitur sudah dapat dipastikan tidak akan tertagih lagi

Mendebet akunt Beban Piutang Tak Tertagih

Mengkredit akunt Piutang Dagang

Metode ini digunakan apabila :

a. Perusahaan kesulitan dalam menaksir jumlah piutang tak tertagih secara wajar
b. Sebagian besar penjualan dilakukan dengan tunai
c. Jumlah piutang merupakan bagian yang relatif kecil dalam Aktiva Lancar
d. Jumlah pelanggan sedikit, dan berdasarkan pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, tidak
ada piutang yang tak tertagih.
http://blognyarianrisendyngok.blogspot.com/

kas dan piutang

Latar Belakang
Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya selalu membutuhkan uang tunai atau kas. Kas
diperlukan baik untuk membiayai operasi perusahaan sehari hari seperti pembelian bahan baku,
pembayaran upah, pembayaran hutang, atau pembayaran pembayaran tunai lainnya, serta dibutuhkan
untuk investasi pada aktiva tetap.
Pengeluaran kas ada yang bersifat intermitten,seperti untuk pembayaran dividen, pembayaran
pajak, pembelian aktiva tetap. Pengeluaran kas untuk pembayaran pembayaran tersebut sering disebut
sebagai aliran kas keluar atau cash outflow.Sedangkan penerimaan penerimaan kas disebut sebagai
aliran kas masuk atau cash inflow. Aliran kas masuk bisa diperoleh dari beberapa sumber antara lain
penjualan tunai, penerimaan piutang, dan penerimaan penerimaan lainnya.
Perusahaan memerlukan dana dalam bentuk kas terutama adalah untuk membayar kewajiban
kewajiban jangka pendeknya, dan juga untuk biaya operasi dalam rangka kegiatan operasional dalam
perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan dan juga pengendalian yang baik atas kas.
Kas adalah salah satu komponen dari aktiva yang sangat vital bagi kelangsungan hidup
organisasi, baik organisasi permerintah maupun perusahaan swasta. Kas merupakan elemen kunci dalam
perencanaan atas seluruh aspek operasional perusahaan. Tanpa adanya manajemen kas yang baik, suatu
organisasi mungkin dapat kehilangan reputasinya dan sulit untuk bertransaksi dengan pihak lain karena
organisasi tersebut tidak dapat membayar tagihannya yang sudah jatuh tempo
Sisi lain Piutang merupakan kekayaan perusahaan yang timbul sebagai akibat
dari adanya kebijakan penjualan barang/jasa secara kredit. Kebijakan Kredit
bertujuan memaksimalkan profit dengan risiko yang minimal. Pada dasarnya
penjualan secara kredit bertujuan untuk merangsang minat para pelanggan,
menaikkan volume penjualan, meningkatkan laba bersih penjualan dan strategi
ampuh dalam memenangkan persaingan melalui memperluas pangsa pasar. Selain
berdampak positif terhadap iklim perputaran keuntungan perusahaan, penjualan
secara kredit juga mempunya risiko bagi para pengelola perusahaan. Salah satu
sumber Modal kerja yang perlu mendapat perhatian khusus adalah modal kerja
yang berasal dari piutang dagang dan Kas merupakan elemen kunci dalam
perencanaan atas seluruh aspek operasional perusahaan.Berdasarkan tersebut ,
maka penulis merasa tertarik untuk membuat tulisan mengenai kas piutang dagang
yang hasilnya dituangkan dalam bentuk makalah ini.
Manfaat dan tujuan

1. untuk mengetahui bagaimana manajemen kas


2. untuk mengetahui bagaimana manajemen piutang

2.1 Pengertian Kas


Sebelum membahas berbagai hal tentang manajemen kas, ada baiknya dibahas pengertian kas itu
sendiri. Ada banyak sekali pengertian tentang kas, baik dari sisi perundang-undangan maupun dari sisi
teori/konsep ekonomi.
a) Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara
Kas Negara adalah tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan
selaku Bendaharawan Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan negara dan membayar
seluruh pengeluaran negara. Dengan demikian kas dalam pengertian undang-undang ini semua uang
negara yang bersumber dari seluruh penerimaan negara dan digunakan untuk membayar seluruh
pengeluaran negara.
b) Menurut Standar Akuntansi Pemerintah
Kas adalah uang tunai dan saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat digunakan untuk
membiayai kegiatan pemerintahan. Kas Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan
oleh Bendaharawan Umum Daerah untuk menampung seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintah.
Kas Negara adalah tempat penyimpanan uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku
Bendaharawan Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintah pusat.
c) Menurut Standar Akuntansi Keuangan
Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro setara kas (cash equivalent) adalah
investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam
jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan
Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi atau
tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan setara kas, investasi harus segera dapat diubah menjadi kas
dalam jumlah yang telah diketahui tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan. Karenanya,
suatu investasi baru dapat memenuhi syarat sebagai setara kas hanya jika segera akan jatuh tempo dalam
waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya. Investasi dalam bentuk saham tidak termasuk
setara kas, kecuali substansi investasi saham tersebut adalah setara kas. Sebagai contoh, saham preferen
yang dibeli dan akan segera jatuh tempo serta tanggal penebusan (redemption date) telah ditentukan.
Arus kas tidak mencakupi mutasi di antara pos-pos yang termasuk dalam kas atau setara kas,
karena komponen tersebut lebih merupakan bagian dari pengelolaan kas perusahaan dan bukan sebagai
bagian dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa pengertian kas meliputi saldo kas (cash on hand),
saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat digunakan serta instrumen investasi yang sangat likuid,
berjangka pendek dan dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko
perubahan nilai yang signifikan.
2.2 Motif dalam Menyimpan Kas
Terdapat tiga motif dasar dalam menyimpan kas (George W Galinger dan P. Basil Healey, 1991:
236) yaitu:
a) Motif Bertransaksi (Transactions Motive)
Motif ini melihat kas secara sempit yaitu sebagai media untuk pertukaran dalam rangka
membiaya transaksi normal yang terjadi seperti pembayaran kepada pemasok dan pembayaran gaji.
Besarnya tingkat saldo transaksi tergantung pada besar kecilnya organisasi dan periode waktu kas masuk
dan kas keluar. Organisasi yang besar pada umumnya cenderung melakukan banyak transaksi. Jika arus
kas masuk dan keluar dapat disinkronisasi maka saldo kas dapat diminimalisasi.
b) Motif Berjaga-Jaga (Precautionary Motive)
Motif ini fokus pada kemampuan kas untuk menunjang daya beli pada saat timbul kejadian yang
tidak diharapkan atau peluang yang tidak diperkirakan sebelumnya. Saldo untuk pencegahan berfungsi
sebagai cadangan pada saat ketidakpastian meningkat sebagai akibat perubahan industri, ekonomi, dan
dunia. Saldo untuk keperluan darurat ini umumnya disediakan dengan menggunakan portofolio dari pasar
uang dan pasar modal. Kriteria kunci dari penggunaan metode ini adalah tingkat keamanan yang tinggi,
likuiditas, dan kemudahan untuk mencairkan surat berharga menjadi kas.
c) Motif Spekulasi (Speculative Motive)
Motif ini timbul seiring dengan keinginan manajemen untuk memiliki sejumlah kas yang dapat
digunakan untuk mengambil keuntungan dari kesempatan yang timbul secara tidak terduga. Manajemen
harus mempunyai prediksi bahwa saldo kas tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi
dari operasi normal organisasi. Pada umumnya, organisasi-organisasi tidak menyimpan kas untuk tujuan
spekulasi.
ALIRAN KAS
Bagian pemasaran membutuhkan kas untuk membayar biaya iklan, membayar gaji dan komisi,
membayar biaya angkut, dan pengeluaran tunai lainnya. Tanpa adanya kas yang memadai, bagian
pemasaran tidak bisa berbuat banyak untuk menjual produk yang dihasilkan. Oleh karena itu kas bisa
diibaratkan seperti darah dalam tubuh manusia sehingga bila ada yang tidak dialiri darah, maka bagian
tersebut akan mengalami gangguan (Sutrisno 2005:73).
Titik berat pengaturan aliran kas adalah masalah bagaimana mengatur pemasukan dan
pengeluaran uang dengan baik. Dalam bisnis maupun rumah tangga, pemantauan mengenai keluar
masuknya uang adalah menjadi faktor kunci keberhasilan. Dalam kasus yang ekstrem, perusahaan boleh
jadi mengalami kerugian yang sangat besar namun tetap dapat berjalan dengan baik. Prinsip utamanya
adalah selama uang yang masuk lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran yang ada, maka bisnis
tersebut masih dapat dijalankan.
Sumber-sumber pemasukan uang adalah, misalnya mendapatkan uang dari pelanggan,
mendapatkan suntikan modal dari investor atau bisa juga dengan berutang kepada pihak ketiga. Perlu
diperhatikan, dengan berutang kepada pihak ketiga, misalnya kepada bank, kita memiliki kewajiban untuk
membayar kembali sesuai jadwal pembayaran yang ada. Kewajiban ini yang mungkin dapat memberatkan
pengeluaran uang dalam masa yang akan datang. Sehingga perlu diperhitungkan dengan cermat sebelum
kita memutuskan menggunakan pinjaman untuk membiayai atau membayar sesuatu.
Kas suatu perusahaan harus dikelola dengan baik. Sebab, ia merupakan jantung yang
menggerakkan semua kegiatan, khususnya kegiatan operasi rutin. Suatu perusahaan yang kekurangan kas
akan kehilangan kepercayaan dari luar dan dari dalam perusahaan. Pihak luar akan tidak percaya bila
tagihannya tidak dibayar tepat waktu, dan pihak dalam terutama buruh akan tidak percaya bila upahnya
tidak dibayar tepat waktu.
Jika perusahaan kehilangan kepercayaan dari buruhnya dan pemasoknya (krediturnya)
perusahaan tersebut lambat laun akan bangkrut. Buruh mulai tidak loyal dan tidak produktif; pemasok dan
kreditur mulai tidak mengadakan transaksi bisnis dengan baik. Akibatnya, produk berkualitas renadh dan
sulit masuk pasar. Kebangkrutan menunggunya. Oleh sebab itu, kas harus dikelola dengan baik, jujur,
hati-hati, dan profesional.

Aliran kas dalam perusahaan : Aliran kas masuk (cash inflow). dan aliran kas keluar (cash
out flow). Aliran kas ada yang kontinyu dan tidak kontinyu (intermittent).
Aliran kas masuk kontinyu misalnya hasil penjualan produk secara tunai, penerimaan
piutang, Aliran kas masuk intermittent (misalnya pendapatan dari peyertaan pemilik Aliran
kas keluar kontinyu (misalnya kas utk pembelian bahan mentah, gaji karyawan) Aliran kas
keluar intermittent (misalnya pengeluaran utk pembayaran dividen, bunga, pembayaran angsuran
hutang pembelian kembali saham, pembelian AT). perusahaan, penjualan saham, penerimaan
kredit dari bank,
penjulan AT yang tdk terpakai).

2.3 Manajemen Kas


Strategi dasar yang harus digunakan oleh perusahaan dalam mengelola kasnya adalah sebagai
berikut :
a. Membayar utang dagang selambat mungkin asal jangan sampai mengurangi kepercayaan pihak
supplier kepada perusahaan, tetapi memanfaatkan setiap potongan tunai (cash discount) yang
menguntungkan bagi perusahaan.
b. Mengatur perputaran persediaan secepat mungkin tetapi hindarilah risiko kehabisan persediaan
yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan pada masa masa selanjutnya (konsumen
kehilangan kepercayaan kepada perusahaan).
c. Kumpulkan piutang secepat mungkin tetapi jangan sampai mengakibatkan kemungkinan
menurunnya volume penjualan pada masa yang akan datang karena ketatnya kebijaksanaan
dalam penjualan kredit dan pengumpulan piutang.
Penerapan strategi strategi utang dagang, persediaan, dan piutang yang sudah diuraikan diatas
memungkinkan perusahaan bekerja secara lebih efisien, khususnya dalam penggunaan kas. Sekalipun
demikian, penerapan strategi strategi tersebut haruslah dilakukan secara hati hati dan penuh
perhitungan karena kesalahan dalam penerapannya akan menimbulkan akibat negatif yang cukup
mendalam bagi perusahaan. Penundaan pembayaran utang dagang jangan sampai mengurangi
kepercayaan pihak sipplier, percepatan perputaran persediaan jangan sampai menimbulkan risiko
kehabisan bahan atau kehabisan persediaan, dan kebijaksanaan kredit yang cukup ketat jangan sampai
mengakibatkan menurunnya volume penjualan.
2.4 Model Manajemen Kas
a. Model Baumol
Model manajemen kas yang diajukan oleh Baumol ini sering disebut dengan model persediaan.
Baumol mengakui ada kesamaan antara manjemen persediaan dan manajemen kas bila dilihat dari aspek
keuangan. Dalam manajemen persediaan ada biaya pesan yang dibayarkan setiap melakukan pemesanan
dan biaya simpan untuk menyimpan bahan yang dibeli.
Dalam manajemen kas biaya pesan berupa biaya komisi pedagang efek yang dikeluarkan untuk
merubah sekuritas menjadi uang kas. Dan biaya simpan berupa hasil bunga yang hilang karena
perusahaan menyimpan uang tunai yang besar. Oleh karena itu perlu ditentukan berapa surat berharga
yang harus dijadikan uang tunai pada saat ketika saldo kas mendekati nol. Model Baumol mengasumsikan
bahwa pemakaian kas selalu konstan setiap waktu
b. Model Miller and Orr
Pada model Baumol ada asumsi yang sulit untuk dipenuhi yaitu pemakaian kas setiap waktunya
sama, oleh karena itu tidak cocok untuk kondisi ketidakpastian pemakaian kas. Model yang dikenalkan
oleh Miller and Orr tentunya lebih cocok untuk kondisi dimana pengeluaran kas berfluktuasi dari waktu
ke waktu secara random. Model ini pada dasarnya menentukan batas atas dan batas bawah saldo kas, serta
menentukan saldo kas yang perlu dimiliki oleh perusahaan.

1. Pengertian Piutang
Piutang adalah tagihan kepada pihak-pihak karena adanya penjualan barang dan jasa tersebut
dilakukan secara kredit. (Muslich, 2000: 109)
Sedangkan menurut Arief Suadi (1994: 47) piutang adalah hak untuk menerima sejumlah uang
dari pihak lain termasuk didalamnya piutang yang timbul karena menjalankan usaha normal suatu
perusahaan.
Piutang merupakan salah satu harta perusahaan. Pada piutang ini dapat dilakukan analisis, yang
bertujuan untuk mengetahui efektifitas piutang efektif artinya tepat dilihat dari penagihan maupun
perputarannya. Hasil analisis ini akan bisa dijadikan salah satu dasar bagi pihak-pihak yang
berkepentingan untuk mengambil beberapa keputusan sesuai kebutuhan masing-masing pihak tersebut.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan piutang adalah hak menerima sejumlah uang dari pihak-
pihak karena adanya penjualan barang dan jasa dilakukan secara kredit suatu perusahaan.
Perputaran Piutang
Piutang merupakan jantung dari lembaga kredit BPR BKK, sehingga efektifitas piutang harus
diperhatikan baik dari segi penagihan maupun perputarannya. Didalam lembaga-lembaga kredit,
timbulnya piutang berawal dari pemberian kredit. Piutang ini akan terus menerus berkurang
apabila dilunasi oleh nasabah. Di lembaga-lembaga kredit yang dimaksud piutang adalah saldo atau sisa
pinjaman yang belum dilunasi oleh nasabah atas pinjaman yang berkaitan kepada nasabah. Pinjaman yang
berikan kepada nasabah perlu dianalisis, apakah modal yang dipinjamkan bisa optimal atau tidak. Optimal
artinya modal yang dipinjamkan dapat diputar semaksimal mungkin. Putaran yang maksud adalah
perubahan modal lembaga kredit yang berupa uang tunai menjadi piutang dan akhirnya kembali menjadi
uang tunai lagi.
Menurut Munawir (1995: 75) bahwa posisi piutang dan taksiran waktu pengumpulannya dapat
dinilai dengan menghitung perputaran piutang tersebut( receivable turn over ) yaitu dengan membagi total
penjualan kredit dan piutang rata-rata.
Sedangkan menurut Bambang Riyanto (1995: 90) piutang sebagai elemen dari modal kerja selalu
dalam keadaan periode perputaran atau periode terikatnya modal dalam piutang adalah tergantung kepada
syarat pembayaran. Makin lunak atau makin lama syarat pembayaran berarti makin lama modal terikat
pada piutang yang ini berarti bahwa tingkat perputarannya selama periode tertentu adalah makin rendah.
Tingkat perputaran piutang (receivable turn over) dapat diketahui dengan membagi jumlah kredit sales
selama periode tertentu dengan jumlah rata-rata piutang (average receivable).
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perputaran
piutang (receivable turn over) adalah rasio untuk mengetahui kemampuan dana yang tertanam dalam
piutang yang berputar dalam satu periode tertentu dan dinyatakan dalam kali dengan asumsi bahwa
penjualan kredit sama dengan jumlah kredit yang diberikan atau total kredit maka :

Perputaran Piutang : Total kredit


Rata-rata umur piutang

Apabila tinggi angka tingkat perputaran piutang dari perhitungan tersebut berarti semakin cepat
pula perubahan piutang ke bentuk uang tunai dan kembali menjadi piutang. Ini berarti kondisi yang baik,
begitu pula sebaliknya semakin rendah angka tingkat perputaran piutang dari perhitungan tersebut berarti
semakin lambat pula perputaran piutang tersebut. Kondisi ini perlu diwaspadai demi efektivitas modal
yang dimiliki.
Hal ini sesui dengan yang diungkapkan oleh Munawir (1995: 75) yaitu makin tinggi rasio (turn
over) menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah, sebaliknya kalau rasio semakin
rendah berarti ada over invesment dalam piutang sehingga memerlukan analisa lebih lanjut, mungkin
karena bagian kredit dan penagihan bekerja tidak efektif atau mungkin ada perubahan dalam
kebijaksanaan pemberian kredit.
2.1 Umur Piutang dan klasifikasi piutang
Piutang suatu pelanggan telah berlalu daftar piutang, biasanya dikelompokkan menurut
umur. Umur piutang adalah jangka waktu sejak dicatatnya transaksi penjualan sampai dengan
saat dibuatnya daftar piutang. Biasanya umur piutang dikelompokkan menurut jumlah hari
tertentu. Misalnya piutang yang berumur 1-30 hari ; 31-60 hari; dan seterusnya. Saldo piutang
untuk suatu pelanggan mungkin termasuk dalam satu atau lebih umur waktu piutang.
Adakalanya, uang dari penagihan piutang tidak diterima menurut jumlah yang tertera dalam
faktur. Bisa jadi, jumlah uang yang diterima, pada suatu saat tertentu, lebih kecil dari jumlah
yang tercantum dalam faktur. Saat berikutnya, jumlah itu lebih besar, begitu seterusnya. Dalam
hal demikian maka umur piutang dihitung dengan menelusuri debit (penjualan kredit) dan kredit
(penagihan) dalam kartu piutang dan menentukan penagihan-penagihan mana yang digunakan
untuk mengurangi piutang tertentu. Aturan yang dapat digunakan adalah bahwa penjualan yang
lebih awal akan dilunasi lebih dahulu.
Piutang merupakan aktiva lancar yang diharapkan dapat dikonversi menjadi kas dalam
waktu satu tahun atau dalam satu periode akuntansi. Piutang pada umumnya timbul dari hasil
usaha pokok perusahaan. Namun selain itu, piutang dapat juga ditimbulkan dari adanya usaha
dari luar kegiatan pokok perusahaan.
Warren Reeve dan Fess mengklasifikasikan Piutang ke dalam 3 kategori yaitu Piutang Usaha,
Wesel, Tagih dan piutang lain lain sebagai berikut :
a. Piutang Usaha
Menurut Soemarso (2002:338) piutang usaha adalah: Perusahaan mempunyai hak klaim
terhadap seseorang atau perusahaan lain dengan adanya hak klaim ini perusahaan
dapat menuntut pembayaran dalam bentuk uang atau penyerahan aktiva atau jasa lain kepada
pihak dengan siapa ia berpiutang. Piutang usaha timbul dari penjualan secara kredit agar dapat
menjual lebih banyak produk atau jasa kepada pelanggan. Transaksi paling umum yang
menciptakan Piutang Usaha adalah penjualan barang dan jasa secara kredit. Piutang tersebut di
catat dengan mendebit akun piutang usaha. Piutang Usaha semacam ini normalnya diperkirakan
akan tertagih dalam periode waktu relatit pendek, seperti 30 atau 60 hari. Piutang usaha di
klasifikasikan di neraca sebagai aktiva lancar. Piutang usaha adalah tagihan yang tidak didukung
dengan janji tertulis yang hanya dilengkapi oleh surat jalan, faktur/tanda terima lainnya yang
telah ditandatangani oleh debitur sehingga Selain itu pengertian piutang yang pada umumnya
digolongkan dalam aktiva lancar yang berarti bahwa tagihan-tagihan pada pihak lain yang
nantinya akan diminta pembayarannya dalam jangka waktu yang tidak lama (kurang dari satu
tahun) yang biasanya digolongkan
dalam piutang jangka pendek. Piutang usaha jangka pendek dapat dibagi atas dua yaitu:
1. Piutang usaha/piutang terhadap langganan
Piutang usaha/piutang terhadap langganan dalam perkiraan piutang usaha dicatat sebagai
tagihan yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang merupakan usaha perusahaan yang
normal/kurang dari 1 tahun, disajikan dalam neraca sebagai aktiva lancar, tetapi apabila telah
lebih dari jangka waktu 1 tahun maka akan dilaporkan sebagai aktiva tidak lancar. Jadi tagihan
kepada langganan yang biasanya disebut piutang dagang adalah tuntutan keuangan terhadap
pihak lain baik perorangan maupun organisasi- ganisasi atau debitur-debitur lainnya.
2. Piutang yang akan diterima
Piutang yang akan diterima merupakan kontrak prestasi yang sebenarnya sudah menjadi
hak perusahaan, akan tetapi belum/tidak saatnya untuk diterima, piutang ini timbul pada suatu
akhir periode dimana sebenarnya tagihan tersebut akan diterima pada periode yang akan datang.
Hal-hal yang termasuk dalam piutang yang akan diterima adalah:
a) Bunga yang masih harus diterima yang timbul dari aktiva yang dimiliki perusahaan, seperti
wesel tagih dan bon.
b) Piutang sewa yang masih harus diterima yang timbul dari hasil penyewaan, seperti gedung,
mobil dan alat-alat besar lainnya.
c) Pendapatan piutang merupakan pendapatan yang akan diterima sebagai hasil investasi dalam
perusahaan.
Penggolongan piutang dan umur piutang dapat digolongkan ke dalam 4 jenis, yaitu:
1) Piutang lancar adalah piutang yang diharapkan tertagihnya dalam 1 tahun atau siklus usaha
normal.
2) Piutang tidak lancar adalah tagihan/piutang yang tidak dapat ditagih dalam jangka waktu 1
tahun.
3) Piutang yang dihapuskan adalah suatu tagihan yang tidak dapat ditagih lagi dikarenakan
pelanggan mengalami kerugian/bangkrut (tidak tertagih).
4) Piutang dicadangkan adalah tagihan yang disisihkan sebelumnya untuk menghindari piutang
tidak tertagih.
b. Wesel Tagih
Wesel Tagih adalah jumlah yang terutang bagi pelanggan disaat perusahaan telah
menerbitkan surat utang formal. Sepanjang wesel tagih diperkirakan akan tertagih dalam
setahun. Maka biasanya diklasifikasikan dalam neraca sebagai aktiva lancar. Weselbiasanya
digunakan untuk periode kredit lebih dari 60 hari. Wesel bisa digunakan untuk menyelesaikan
piutang usaha pelanggan. Bila wesel tagih dan piutang usaha berasal dari transaksi penjualan
maka hal itu kadang kadang disebut piutang dagang (trade receivable).
c. Piutang lain lain
Piutang lain lain biasanya disajikan secara terpisah dalam neraca. Jika piutang ini
diharapkan akan tertagih dalam 1 tahun, maka piutang tersebut diklasifikasikan sebagai aktiva
lancar. Jika penagihanya lebih dari 1 tahun maka piutang ini diklasifikasikan sebagai aktiva tidak
lancar dan dilaporkan dibawah judul investasi. Piutang lain lain (other receivable) meliputi
piutang bunga, piutang pajak, dan piutang dari pejabat atau karyawan perusahaan.
Biaya yang timbul akibat piutang
Biaya penghapusan piutang
Biaya pengumpulan piutang
Biaya administrasi
Biaya sumber dana
Kegiatan manajemen piutang
Perencanaan jumlah dan pengumpulan pihutang
Pengendalian pihutang
Penyaringan langganan
Penentuan risiko kredit
Penentuan potongan-potongan ( return )
Penetapan ketentuan-ketentuan dalam menghadapi para penunggak
Pelaksanaan administrasi yang berhubungan dengan penarikan kredit

2.2 Ruang Lingkup Manajemen Piutang


Kebijaksanaan kredit standar kredit/kualitas rekening yang diterima, jangka waktu /
periode kredit yang diberikan, discount/potongan tunai yang diberikan untuk pembayaran yang
lebih awal. Kebijaksanaan pengumpulan piutang, dan faktor-faktor lain yang relevanKeputusan
kredit ini menyangkut tradeoff antara keuntungan(marginal profit) dan biaya tambahan
(marginal cost) yang disebabkan oleh perubahan dalam salah satu atau kombinasi elemen-
elemen tersebut.
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya investasi dalam piutang
Piutang merupakan aktiva yang penting dalam perusahaan dan dapat menjadi bagian yang
besar dari likuiditas perusahaan. Besar kecilnya piutang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor
faktor tersebut diantaranya adalah seperti yang dikemukakan oleh Bambang Riyanto (2001:85-
87) sebagai berikut:
1. Volume penjualan kredit, semakin besar volume penjualan kredit, makin besar investasi yang
tertanam dalam Piutang. Makin besar proporsi penjualan kredit dari keseluruhan penjualan
memperbesar jumlah investasi dalam piutang. Dengan makin besarnya volume penjualan kredit
setiap tahunnya berarti bahwa perusahaan itu harus menyediakan investasi yang lebih besar lagi
dalam piutang. Makin besarnya jumlah piutang berarti makin besarnya resiko, tetapi bersamaan
dengan itu juga memperbesar profitability.
2. Syarat pembayaran (termin), semakin lama masa kredit, semakin besar invesatasinya.Syarat
pembayaran penjualan kredit dapat bersifat ketat atau lunak.apabila perusahaan menetapkan
syarat pembayaran yang ketat berarti perusahaan lebih mengutamakan keselamatan kredit dari
pada pertimbangan profitabiitas. Syarat yang ketat dalam bentuk batas waktu pembayaran yang
pendek, pembebanan bunga yang berat pada pembayaran piutang yang terlambat.
3. Ketentuan tentang pembatasan kredit, batasan kredit dapat berupa kuantitatif (plafon kredit,
semakin besar plafon kredit perpelanggan makin besar investasi yang diperlukan) dan kualitatif
(selektif terhadap pelanggan kredit, makin ketat seleksi akan semakin memperkecil investasi
dalam piutang). Dalam penjualan kredit perusahaan dapat menetapkan batas maksimal atau
plafond bagi kredit yang diberikan kepada para langganannya. Makin tinngi plafond yang
ditetapkan bagi masing-masing langganan berate makin besar pula dana yang diinvestasikan
dalam piutang. Sebaliknya,jika batas maksimal plafond lebih rendah,maka jumlah piutangpun
akan kecil.
4. Kebijakan pengumpulan piutang, pengumpulan piutang dapat bersifat aktif (menggunakan
debtcollector) pengumpulan piutang lebih tepat waktu tetapi perlu tambahan biaya pengumpulan
piutang, atau pasif yaitu keyakinan bahwa debitur menepati janji, maka resiko tertunggaknya
piutang lebih besar. Perusahaan dapat menjalankan kebijaksanaan dalam pengumpulan piuatng
secara aktif atau pasif. Perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan secara aktif, maka
perusahaan harus mengeluarkan uang yang lebih besar untuk membiayai aktivitas pengumpulan
piutang, tetapi akan menggunakan cara ini, maka piutang yang ada akan lebih tertagih, sehingga
akan lebih memperkecil jumlah piutang perusahaan sebaliknya, jika perusahaan menggunakan
kebijaksanaan secara pasif, maka pengumpulan piutang akan lebih lama, sehingga jumlah
piutang perusahaan akan lebih besar.
5. Kebiasaan membayar dari para langganan, apabila sebagian besar pelanggan membayar pada
masa diskon (termin 2/10;n/30), maka membutuhkan investasi lebih kecil, tetapi jika pelanggan
membayar pada hari ke 30 atau bahkan menunggak, perlu investasi yang besar. Kebiasaan para
langganan untuk membayar dalam periode cash discount akan mengakibatkan jumlah piutang
lebih kecil, sedangkan langganan membayar periode setelah cash discount akan mengakibatkan
jumlah piutang lebih besar karena jumlah dana yang tertanam dalam piutang lebih lama untuk
menjadi kas.
b. Faktor yang mempengaruhi piutang
Piutang dagang muncul ketika penjualan terjadi, tetapi perusahaan belum menerima kas.
Piutang diharapkan bisa meningkatkan penjualan dan keuntungan, tetapi di lain pihak, piutang
juga menyebabkan peningkatan biaya yang berkaitan dengan piutang. Biaya tersebut antara lain
biaya kesempatan karena dana tetanam dalam investasi piutang dan biaya piutang tidak terbayar.
Kebijakan piutang yang baik adalah kebijakan yang bisa mengoptimalkan trade-off keuntungan
dan resiko (kerugian) dari piutang tersebut.. Pada akhirnya pembeli melunasi utangnya sehingga
piutang akan segera terbayar. Besarnya piutang dagang tergantung dari penjualan kredit per-
periode dan lamanya periode pengumpulan piutang. Sebagai contoh, jika suatu perusahaan
mempunyai penjualan rata-rata sebesar Rp 1jt per hari, kemudian periode pengumpulan piutang
adalah 30 hari. Maka piutang dagang perusahaan tersebut, jika kondisi sudah mulai stabil adalah
Rp1jt x 30 hari = 30 juta. Jika perusahaan mempunyai kebijakan kredit yang berubah, missal
mengurangi tingkat penjualan kredit atau mempercepat periode pengumpulan piutang, maka
piutang dagang perusahaan tersebut juga akan berubah
c. Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Piutang
1. Faktor Eksternal
Faktor Eksternal Misal : Permintaan terhadap produk dan karakteristik industri. Besarnya piutang
bervarisai dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya dan dari satu industri ke industri lainnya.
Sebagai contoh Perusahaan RETAIL cenderung mempunyai tingkat piutang dan persediaan yang
lebih besar dibandingkan dengan perusahaan manufaktur.
2. Faktor Internal
Faktor Internal Misal : Kebijakan promosi dan iklan, kebijakan piutang. Disamping factor
eksternal, faktor internal juga akan menentukan besar kecilnya persediaan piutang. Sebagai
contoh, manajer keuangan mempunyai pilihan apakah akan melaksanakan kebijakan kredit yang
longgar (meningkatkan piutang) atau ketat (meminimumkan piutang). Tentunya kebijakan
piutang akan menciptakan trade off antar keuntungan dan biaya (resiko). Faktor internal lain juga
mempengaruhi piutang, sebagai contoh perusahaan cukup sukses mengelola promosi sehingga
penjualan akan meningkat, maka piutang akan meningkat.

Resiko Kerugian Piutang


Setiap usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan akan mengandung resiko yang
tidak dapat dihindari. Dalam hal ini resiko dapat dikendalikan agar berada dalam batas yang
wajar. Resiko yang timbul karena transaksi penjualan secara kredit disebut resiko kerugian
piutang.
Menurut S.Munawir berpendapat bahwa : Semakin besar days receivable suatu
perusahaan semakin besar pula resiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang dan kalau
perusahaan tidak membuat cadangan terhadap kemungkinan kerugian yang timbul karena tidak
tertagihnya piutang (allowance for bad debt) berarti perusahaan telah memperhitungkan labanya
terlalu besar (overstated). Resiko kerugian piutang terdiri dari beberapa macam yaitu:
1. Resiko tidak dibayarnya seluruh tagihan (piutang)
Resiko ini terjadi jika jumlah piutang tidak dapat direalisasikan sama sekali.hal ini dapat
disebabkan oleh beberapa factor, misalnya karena seleksi yang kurang baik dalam memilih
langganan sehingga perusahaan memberikan kredit kepada langganan yang tidak potensial dalam
membayar tagihan, juga dapat terjadi adanya stabiitas ekonomi dan kondisi Negara yang tidak
menentu sehingga piutang tidak dapat dikembalikan.
2. Resiko tidak dibayarnya sebagai piutang
Hal ini akan mengurangi pendapatan perusahaan, bahkan bisa menimbulkan kerugian jika jumlah
piutang yang ditrima kurang dari harga poko barang yang dijual secra kredit.

3. Resiko keterlambatan pelunasan piutang


Hal ini akan menimbulkan adanya tambahan dana atau untuk biaya penagihan. Tambahan dana
ini akan menimbulkan biaya yang lebih besar apabila harus dibelanjai oleh pinjaman.
4. Resiko tertanamnya modal dan piutang
Resiko ini terjadi karena adanya tingkat perputaran piutang yang rendah sehingga akan
mengakibatkan modal kerja yang tertanam dalam piutang semakin besar dan hal ini bisa
mengakibatkan adanya modal kerja yang tidak produktif. Dalam piutang, resiko kerugian akibat
piutang yang tidak dapat diterima pembayarannya selalu ada. Ada dua metode penyisihan
piutang yaitu :
a. Metode penghapusan langsung
Dalam metode ini kerugian piutang yang tidak bisa ditagih, dicatat langsung pada periode saat
terjadinya penghapusan piutang dengan perkiraan debet beban penghapusan piutang dan kredit
perkiraan piutang dagang.
b. Metode Penyisihan/cadangan.
Ada metode ini, setiap akhir periode dilakukan penaksiran terhadap piutang yang dimiliki
perusahaan, sehingga diperoleh taksiran dari piutang yang disangsikan dapat diterima
pembayarannya. Taksiran ini dicatat pada perkiraan debet beban piutang dan kredit pada
perkiraan penyisihan piutang. Jumlah taksiran kerugian piutang dapat ditetapkan atas dasar.
Atas dasar jumlah penjualan Piutang terjadi karana akibat dari penjualan kredit maka taksiran
menhunakan jumlah penjualan selama periode bersangkutan. Yaitu dengan membandingkan
kerugian piutang yang sebenarnya terjadi dengan total pejualan kemudian dilakukan perubahan-
perubahan atas kemungkinan yang akan datang. Biasanya dalam bentuk persentase.
c. Atas dasar saldo piutang
Jumlah ini dihitung dengan cara mengalikan suatu persentase tertentu dengan saldo piutang pada
akhir periode. Dengan demikian yang dijadikan dasar adalah jumlah piutang dagang yang
dimiliki perusahaan pada akhir periode.
d. Atas dasar analisis usia piutang
Penerapan metode ini pada dasrnya sama dengan penentuan taksiran kerugian piutang atas dasar
saldo piutang, metode ini dikelompokan menjadi kelompok piutang yang belum jatuh tempo, dan
kelompok yang telah jatuh tempo. Sedangkan kelompok yang telah jatuh tempo dikelompokkan
atas dasar lamanya jatuh tempo. Lamanya tunggakan, dihitung dari tanggal jatuh tempo piutang
sampai tanggal 31 Desember.
kesimpulan
Kas bagi perusahaan bisa diumpamakan seperti darah dalam tubuh manusia. Setiap bagian yang
ada dalam perusahaan membutuhkan aliran kas. Bagian produksi membutuhkan kas untuk membeli bahan
baku, bahan penolong, membayar upah buruh, gaji mandor, membayar biaya pemeliharaan, membeli
perlengkapan pabrik, dan pengeluaran tunai lainnya. Tanpa ada kas maka praktis kegiatan produksi akan
terganggu, yang akibatnya akan mengganggu bagian lain yang terkait. Perusahaan harus bisa
menyediakan kas yang cukup agar perusahaan bisa berproduksi dengan baik, agar supaya kas bisa
disediakan dengan baik tepat pada saat yang dibutuhkan, maka perlu perencanaan kas yang berisi
proyeksi penerimaan dan pengeluaran kas.
Piutang merupakan aktiva lancar yang diharapkan dapat dikonversi menjadi kas dalam
waktu satu tahun atau dalam satu periode akuntansi. Piutang pada umumnya timbul dari hasil
usaha pokok perusahaan. Namun selain itu, piutang dapat juga ditimbulkan dari adanya usaha
dari luar kegiatan pokok perusahaan.
Analisis piutang bertujuan untuk mengetahui efektifitas piutang efektif artinya tepat dilihat dari
penagihan maupun perputarannya. Hasil analisis ini akan bisa dijadikan salah satu dasar bagi pihak-pihak
yang berkepentingan untuk mengambil beberapa keputusan sesuai kebutuhan masing-masing pihak
tersebut.