Anda di halaman 1dari 23

PROGRAM KERJA PPNI KOMISARIAN BALUNG

PRIODE 2010 - 2015


RENCANA KERJA DEVISI ORGANISASI, HUKUM DAN
PEMBERDAYAAN POLITIK
N RENCANA VOLUM PELAKSANA BIAYA SUMBERDA
O KERJA E AN NA
1 Sosialisasi Tiap bln Tiap pertemuan Angaran PPNI
Perundang-undangan sekali rutin Kom.Balung
ke anggota
komisariat balung
2 Pengadaan / 1x Bulan 25 25.000/angg Anggota
Pendataan ulang Desember 2011 ota
KTA Onlaine
3 Mengkonsep data Januari 200.000 Anggaran
keanggotaan dengan PPNI
komputerisasi ( Komisariat
sofwer) balung
4 Mengkonsep Sesuai Sesuai SK Pemohon
pengajuan,perpanjan jadwal PPNI
gan SIP,SIK dan
melakukan pembinaa
dan visitasi
pengajuan SIPP
5 Memfasilitasi Tim OHP
anggota PPNI
Komisariat Balung
dengan tim advokasi
PPNI Kab. Terhadap
anggota yang
mempunyai masalah
hukum di bidang
Keperawatan
6 Melaksanakan
Seminar Tentang
Hukum dan
organisasi
Keperawatan
7 Membuat laporan 1X Pebruari
tertulis hasil setahun
kegiatan devisi OHP

RENCANA KERJA DEVISI HUMAS DAN PENGEMBANGAN


KERJASAMA
NO RENCANA VOLUME PELAKSANAAN BIAYA SUMBERDANA
KERJA
1 Merencanakan 1X Maret Sesuai PPNI Komisariat
Kegiatan setahun Kebutuhan Balung
Peringatan
HUT PPNI
denga agenda
Kegiatan
a. Seminar
b. Bhakti sosial
2 Ikut terlibat Sesuai Sesuai Kebutuhan
dalam kegiatan kebutuhan
KLB di wilayah
Komisariat
Balung / Kab.
Jemebr
3 Ikut serta dalam
Persigana
dengan
pengiriman
tenanaga
4 Melakukan 1X Mei PPNI Komisariat
Promosi setahun Balung
tentang
keperawatan
(Media
cetak,dll)
5 Bekerjasama 1X Juni PPNI Komisariat
dengan Devisi Setahun Balung/Sponsor
Keperawatan
melakukan
kegiatan
kampanyae
narkoba dan
kampenye
kesehatan
lainnya pada
remaja di
SLTA
6 Membuat Pebruari
laporan hasil
kegiatan devisi
7
RENCANA KERJA DEVISI DIKLAT KEPERAWATAN
N RENCANA KERJA VOLUM PELAKSANA BIAYA SUMBERDA
O E AN NA
1 Merencanakan kegiatan 2X Maret dan Di PPNI
Seminar Keperawatan setahun Agustus sesuaikan KOmisariat,
terkait pengembangan sponsor
pendidikan
Keperawatan saat ini
2 Menfasilitasi/merencana 1X April/Desember Peserta
kan pelatiha BCLS bagi setahun
perawat yang belum
memiliki Sertifikat
BCLS
3 Merencanakan / 2X Sesuai disesuaik PPNI
mensosialisasikan setahun kebutuhan an Komisasriat
IPTEK Terkini pada Balung
anggota Komisariat
Balung
4
5
6
7 Membuat laporan hasil 1X Pebruari
kegiatan setahun

RENCANA KERJA DEVISI PELAYANAN KEPERAWATAN


N RENCANA VOLUME PELAKSANAA BIAY SUMBERDAN
O KERJA N A A
1 Mensosialisasikan
standart uji
kompetenti SIP
oleh MTKI dan
standart minimal
yang harus
dimiliki oleh
pemohon SIPP
2 Pemeriksaan Sesuai Sesuai jadwal Pemohon
berkas pemohon permohona
SIPP sebelum n
dilakukan Visitasi
3 Menyiapkan
kelengkapan /
menyeragamkan
kelengkapan bagi
perawat yang telah
memperoleh SIPP
( baik bentuk
sofwer maupun
haedwer)
Seperti : Papan
nama,Formulir
rujukan,keteranga
n sakit,register
perawat,stempel)
4 Bekerjasama
dengan Komite
Keperawatan
dalam penyusunan
Asuhan
Keperawatan &
Standart
keperawatan
5 Melaksanakan
pembinaan dan
monitoring
evaluasi terhadap
anggota PPNI
yang memperoleh
SIPP
6
7 Membuat laporan
hasil kegiatan
Devisi

RENCANA KERJA DEVISI KESEJAHTERAAN


NO RENCANA VOLUME PELAKSANAAN BIAYA SUMBERDANA
KERJA
1 Melakuan 1X Idul Fitri
kegiatan setahun
peringatan Halal
bihalal dan
pengumpulan
zakat fitrah
2 Mengkonsep dan
Membentuk
Koperasi simpan
pijam dan
pengadaan alkes
bagi anggota
PPNI
Komisasriat
Balung dan
pembagian hasil
usahanya
3 Mengkonsep
model
pertemuan
bulanan anggota
PPNI Komisariat
Balung
4
5
6
7 Membuat 1X Pebruari
laporan hasil setahun
kegiatan Devisi

RENCANA KERJA KESEKERTARIATAN


N RENCANA KERJA VOLUM PELAKSANAA BIAY SUMBERDAN
O E N A A
1 Inventarirasi dan
pengkodeankepemilika
n PPNI Komisariat
Balung
2 Pengadaan ATK 1X
kesekertariatan Setahun
3 Menyiapkan rapat- 12 X
rapat pengurus PPNI
Komisariat Balung
4 Melaksanakan tugas-
tugas kesekertariatan
lainnya
5 Melakukan pencatatan
bagi anggota
baru,perpanjangan
SIP,SIK,KTA dan
SIPP
6
7 Membuat laporan hasil 1 X Pebruari
kegiatan Devisi setahun

RENCANA KERJA BENDAHARA


NO RENCANA VOLUME PELAKSANAAN BIAYA SUMBERDANA
KERJA
1 Klarifikasi
Piutang iuran
Komisariat
2 Membuat
laporan feedback
iuran PPNI
Komisariat
Balung
3 Melakukan
pembukuan
pemasukan dan
pengeluaran dari
kegiatan devisi
PPNI Komisariat
Balung
4 Melakukan
penagihan tiap
bulan ke masing-
masing anggota
5 Melakukan
Penyetoran Iuran
Anggota PPNI
Komisariat
Balung ke PPNI
Kab.sesuai
komposisi yang
ditetapkan
6 Melakukan
pengelolaan
pencatatan
pemasukan
pengeluaran
keuangan PPNI
Komisariat
Balung
7 Melaksanakan
tugas-tugas
lainnya yang
berhubungan
dengan tata
kelola keuangan
8
9 Membuat
laporan
Rekapitulasi
keuangan PPNI
PROGRAM KERJA KEPENGURUSAN PPNI KOMISARIAR RSJ GRHASIA DIY
PERIODE 2012-2017

A. SIE ORGANISASI DAN HUKUM


1. .. Mengadakan pelatihan dasar kepemimpinan dan organisasi
2. . Memfasilitasi pembuatan kartu anggota PPNI, SIP, SIK dan STR
3. . Membentuk Brigade Siaga Bencana
4. . Melakukan pendataan ulang anggota PPNI
5. . Melakukan perekrutan anggota PPNI baru
6. . Melakukan sosialisasi mengenai kebijakan - kebijakan terbaru
7. . Mensosialisasikan AD/ART dan mars PPNI
8. . Memberikan advokasi (perlindungan) bagi anggota PPNI yang bermasalah
9. . Berkoordinasi dengan pengurus PPNI yang lebih tinggi : komisariat lain,
Kabupaten, Provinsi, Pusat
10. .. Mengupayakan semua perawat RSJ. Grhasia DIY menjadi anggota PPNI

B. SIE PENDIDIKAN DAN PELATIHAN


1. Mengadakan pelatihan, workshop,bedah buku, seminar minimal satu kali dalam satu semester
2. Mengirimkan anggota / pengurus dalam berbagai seminar, diklat baik formal maupun informal
3. Mengadakan studi banding bersama sie pelayanan keperawatan ke instansi lain
4. Mengadakan lomba (kelengkapan dokumen askep, karya tulis, cerdas cermat keperawatan,
nursing award) untuk masing-masing ruangan.
5. Bekerjasama dengan diklat Rumah Sakit dalam berbagai acara diklat keperawatan

C. SIE PELAYANAN KEPERAWATAN


1. Inventarisasi masalah pelayanan keperawatan yang kadaluarsa, misal kompetensi dll
2. Membantu dalam penyusunan SAK dan standar kompetensi perawat jiwa
3. Mengoptimalkan berjalannya pelayanan asuha keperawatan di rumah sakit

D. SIE PENGEMBANGAN KERJASAMA DAN HUMAS


1. Memfasilitasi pembuatan kartu anggota PPNI, SIP, SIK dan STR
2. Menetapkan periode pembuatan kartu anggota PPNI, SIP, SIK dan STR
3. Melakukan sosialisasi program kerja kepada anggota PPNI
4. Mengadakan acara / kegiatan sosial , misal : donor darah, bakti sosial
5. Bekerja sama dengan pengurus PPNI yang lebih tinggi, lintas sektoral, instansi pendidikan,
rumah sakit, demi kemajuan PPNI

E. SIE KESEJAHTERAAN ANGGOTA


1. Memberikan dana sosial bagi anggota PPNI yang terkena musibah
- Sakit (dirawat di rumah sakit minimal 3 hr) : Rp 100.000,00
- Meninggal : Rp 200.00,00
2. Melakukan pengadaan batik seragam khusunya bagi anggota PPNI
3. Memberikan kenang - kenangan bagi anggota PPNI yg purna tugas/pindah
4. Mengadakan wirausaha (map PPNI)
5. Pembuatan kalender tahunan, stiker, pin perawat bagi anggota PPNI
6. Memberikan THR bagi anggota PPNI
7. Mengadakan acara rekreasi bagi anggota PPNI
8. Membentuk dan menggalang dana untuk dompet peduli perawat
9. Pembuatan jas PPNI untuk pengurus
rencana kegiatan dan langkah-langkah tersebut, meliputi

1. Peningkatan Survei kewaspadaan dini (SKD) KLB DBD, kegiatan berupa penguatan diagnosa kasus,
pengobatan penderita sesuai protap tatalaksana kasus DBD bertujuan menemukan secara dini dan
mengobati semua penderita DBD sesuai protap tatalaksana kasus, dengan sasaran penderita dan
tersangka DBD. Lokasi kegiatan di seluruh Puskesmas dan Rumah sakit. Output yang diharapkan
pasien DBD sembuh dan tidak ada kematian akibat DBD,
2. Mengaktifkan EWARS (Peringatan dini) penyakit DBD bertujuan memantau situasi kejadian kasus
secara teratur dan peringatan dini terjadinya kejadian luar biasa (KLB) DBD. Langkah kegiatan
Puskesmas dan Rumah Sakit wajib melaporkan semua kasus yang di diagnosa DBD ke Dinas
Kesehatan. Selain itu PKM dan Rumah Sakit mengirimkan laporan Ewars secara rutin dan tepat
waktu. Output kegiatan ini Dinkes dapat mengetahui kejadian kasus DBD serta tersedianya laporan
kasus DBD di tingkat PKM dan Kabupaten (tersedianya data kasus DBD).
3. Penyelidikan Epidemologi. Bertujuan mengetahui potensi penularan dan penyebaraan penyakit DBD.
Langkah kegiatan berupa koordinasi dengan aparat pemerintah setempat bahwa di wilayahnya ada
penderita DBD, petugas melakukan wawancara menggunakan form yang tersedia, pemeriksaan
jentik di dalam dan di luar rumah. Output yang diharapkan terkoordinasinya kegiatan dan
memudahkan petugas melaksanakan penyelidikan epidemologi (PE), dengan sasaran kepala desa,
ketua RW/ RT, penduduk dan tempat-tempat perindukan potensial vector DBD. Lokasi kegiatan
difokuskan pada lokasi terjangkitnya kasus DBD, rumah-rumah dalam radius 100 meter dari lokasi
tempat tinggal penderita.
4. Fogging Fokus, dengan tujuan memutuskan mata rantai penularan di lokasi terjangkitnya kasus.
Langkah kegiatan penentuan lokasi fogging focus berdasrkan hasil penyelidikan epidemologi,
koordinasi dengan Pokjanal kecamatan, pemberitahuan ke penduduk sasaran fogging, persiapan
alat-alat dan bahan pengasapan/ fogging. Output yang diharapkan diketahuinya lokasi fogging focus
dan penetapan waktu penyemprotan, terkoordinasinya kegiatan di tingkat kecamatan dan desa,
tersedianya mesin fogging, bahan bakar dan insektisida sesuai kebutuhan.
5. Bulan Bakti Gerakan 3M bertujuan memutuskan siklus hidup nyamuk penular DBD (aedes egipthy) .
langkah kegiatan rapat koordinasi tim pokjanal di kecamatan dan desa, sosialisasi ke masyarakat
serta aksi gerakan 3M dan abatesasi. Output kegiatan penetapan waktu pelaksanaan
Pemberantasan sarang Nyamuk (PSN) dan abatesasi di tingkat desa, masyarakat mengetahui jadwal
pelaksanaan PSN dan abatesasi hingga pembagian bubuk abate.
6. Mengaktifkan Kader Jumantik, bertujuan meningkatkan peran kader dalam pengendalian vector.
Langkah kegiatan penunjukan kader jumantik di setiap desa, pelatihan kader jumantik, dan
pemantauan jentik berkala. Output kegiatan terlatihnya kader jumantik serta mengetahui cakupan
rumah bebeas jentik di suatu wilayah. Lokasi kegiatan di seluruh Puskesmas, Posyandu, dan sekolah
mulai dari SD, SMP hingga SMA. (Lutimterkini.com)

Petugas P2 DBD (Chaerul Effendi, SKM) mempunyai tugas :

1. Menyusun rencana kegiatan P2 DBD berdasarkan data Program Puskesmas dan


ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pedoman kerja.
2. Melaksanakan kegiatan P2 DBD meliputi penemuan penderita suspek DBD serta melakukan
rujukan untuk penanganan lebih lanjut, pemantauan jentik berkala / abatisasi selektif ( PJB /
AS), pembinaan peranserta masyarakat dalam kegiatan PSN ( pemberantasan sarang nyamuk
), penyuluhan DBD dan koordinasi lintas program / lintas sektor terkait sesuai dengan
prosedur dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Mengevaluasi hasil kegiatan P2 DBD secara keseluruhan.
4. Membuat catatan dan laporan kegiatan dibidang tugasnya sebagai bahan informasi dan
pertanggungjawaban kepada atasan.
5. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan.
Petugas Kesehatan Jiwa (dr.Doris Vince) mempunyai tugas :
1. Menyusun rencana kegiatan Pelayanan Kesehatan Jiwa berdasarkan data Program Puskesmas
dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pedoman kerja.
2. Melaksanakan kegiatan Pelayanan Kesehatan Jiwa meliputi pendataan / penemuan penderita
gangguan jiwa, melakukan rujukan penderita gangguan jiwa untuk penanganan lebih lanjut,
penyuluhan kesehatan jiwa dan koordinasi lintas program terkait sesuai dengan prosedur dan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Mengevaluasi hasil kegiatan Pelayanan Kesehatan Jiwa secara keseluruhan.
4. Membuat catatan dan laporan kegiatan dibidang tugasnya sebagai bahan informasi dan
pertanggungjawaban kepada atasan.
5. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan.

Petugas P2 Malaria (Sigit Sugiharto Amd.Kep) mempunyai tugas :


1. Menyusun rencana kegiatan P2 Malaria berdasarkan data Program Puskesmas dan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pedoman kerja.
2. Melaksanakan kegiatan P2 Malaria meliputi penemuan dini penderita Malaria melalui
pengambilan slide darah malaria bagi setiap penderita panas, pengobatan penderita Malaria,
pengawasan dan pemberantasan tempat perindukan vektor, penyuluhan Malaria dan
koordinasi lintas program terkait sesuai dengan prosedur dan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
3. Mengevaluasi hasil kegiatan P2 Malaria secara keseluruhan.
4. Membuat catatan dan laporan kegiatan dibidang tugasnya sebagai bahan informasi dan
pertanggungjawaban kepada atasan.
5. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan.

Badan Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Sumatera Barat melaksanakan Rakor DBD satu
hari penuh tanggal 18 Juni 2013 di Diklat BPM Provinsi Sumatera Barat dengan peserta dari
Pokjanal Kabupaten dan Kota se Sumbar serta Pokjanal Provinsi yang terdiri dari BPM, Dinas
Kesehatan, BKKBN, Dinas Pendidikan TP-PKK, Dep. Agama.
Sepanjang bulan Mei 2013 sebanyak 90 orang terserabg Penyakit DBD di Kota
PadangSelama cuaca tidak menentu ini warga diminta untuk waspadaterhadap penyakit
DBD, malaria dan Inspeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
Penyakit Demam Berdarah ( DBD ) merupakan salah satu penyakit yang berbahaya dan
salah satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian kita, dan
penyakit ini merupakan penyakit menular yang sering menimbulkan wabah dan kematian
banyak orang yang disebabkan oleh virus dague yang di tularkan oleh nyamuk aedes
aegipty

1. DBD Masih menjadi masalah kesehatan dan saat ini endemis pd beberapa
kabupaten/kota.
2. Hampir setiap tahun terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa??) atau peningkatan kasus dan
kematian yang tinggi.akibat DBD
3. Pada saat ini jumlah penderita DBD makin meningkat kecendrungan kasus terjadi
pada komplek perumahan. Dan jumlah kasus meningkat sesudah musin hujan.

Tujuan Rakor ini diadakan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap masyarakat dengan perilaku dan lingkungan yang
sehat sehingga terhindar dari DBD.
Kelompok Kerja Operasional Penanggulangan DBD mempunyai tugas sebagai berikut :

1. 1.Mengadakan pertemuan kelompok Kerja Operasional ( Pokjanal ) Pemberantasan


Penyakit Demam Berdarah Dague menurut kebutuhan sesuai dengan permasalahan
yang ditemui di lapangan.
2. 2.Menganalisa data, masalah dan kebutuhan pembinaan serta menetapkan
alternatif pemecahan masalah yang dihadapi bagi penentuan metode pendekatan
dalam menggerakan peran serta masyarakat.
3. 3.Melakukan Pemantauan dan bimbingan teknis pengelolaan program
pemberantasan penyait DBD, kepada Pemerintah tingkat bawah.
4. 4.Melaksanakan Inovasi-inovasi dan terobosan sesuai komdisi daerah dalam upaya
penanggulangan DBD Bulan Bhakti Gerakan 3 M Plus
5. 5.Melaporkan hasil kegiatan kelompok kerja operasional ( pokjanal )
penanggulangan penyakit DBD secara berjenjang sampai ke tingkat pusat.
6. 6. Berobat sedini-dininya ke Puskesmas / Dokter RS bila ada tanda-tanda atau gejala
penyakit DBD.
7. 7.Mengikuti petunjuk petugas pelaksana pengasapan atau abatisasi dan bila
diperlukan ikut aktif dan melaksanakan abatisasi.
8. 8.Kegiatan Bhati dalam Program DBD ditunjukan agar masyrakat melaksanakan
usaha-usaha pencegahan dan membantu memberantas penyakit DBD berupa
memberantas jentik nyamuk penularanya, sehingga penularan penyakit DBD dapat
dicegah,

2. SASARAN DAN GERAKAN 3 M ADALAH :


Dan yang menjadi sasaran antara lain :

Tatanan Keluarga
Tatanan Istansi Pendidikan
Tatanan tempat-tempat umum
Tatanan tempat kerja
Tatanan Istitusi Kesehatan

3. KEGIATAN YANG DILAKUKAN DALAM BULAN BHAKTI GERAKAN 3 M ANTARA LAIN :

Penyuluhan Intensif
Kerja Bhakti 3 M
Pemantauan / Pemeriksaan Jentik.

V. MASALAH YANG DIHADAPI
Sesuai dengan hasil pemantauan dilapangan baik melalui penilaian-penilaian di
Kabupaten / Kota, mka ditemui permasalahan antara lain :
1. Belum seluruh Kabupaten / Kota membentuk kelompok kerja operasional (
pokjanal ) DBD apalagi ditingkat kecamatan dan Desa/Kel/Nagari hal ini di
sebabkan karena pada umumnya Kab/Kota berpendapat bahwa Penanggulangan
penyakit DBD ini adalah tugas dari Dinas Kesehatan.
2. Kesadaran/PSM blm sepenuhnya mendukung kegiatan PSNDBD kurangnya
perhatian sebagian Masyarakat terhadap kebersihan lingkungan khususnya dlm
PSN-DBD penggerakan PSM belum optimal.
3. Kurangnya koordinasi dengan Dinas / Instansi terkait tentang penanggulangan
Penyakit DBD. Dan Belum optimalnya kegiatan Pokjanal DBD tingkat Propinsi dan
Kabupaten/Kota dalam menggerakkan PSN-DBD.
4. Sering Kabupaten / Kota tidak melaporkan kasus DBD yang terjadi di Daerah yang
terjadi di Daerahnya, sehingga tidak ada yang masuk ke Provinsi.
STRATEGI PENANGGULANGAN DBD

1. Promotif : penyuluhan baik langsung, maupun melalui media


2. Preventif : mengajak masy. melakukan kegiatan PSN DBD dengan 3 M Plus
3. Kuratif : pengobatan di pusk & rmh skt

VI. LANGKAH LANGKAH PEMECAHAN MASALAH


Sebagaimana Pemecahan masalah dan apalagi penanggulangan penyakit DBD
merupakan Program Nasional yang harus ditindak lanjuti sampai tingkat
Desa/Kel/Nagari, maka ada beberapa upaya yang perlu kita lakukan antara lain :
1. Bahwa dalam upaya untuk penanggulangan berjangkit penyait Demam Berdarah
Dangue ( DBD ), perlu dilakukan restrukturisasi kelompok DBD, mulai dai Provinsi
sampai ketingkat Desa/Nagari/Kelurahan
Hal ini bertujuan adalah agar penanggulangan berjangkitnya penyakit DBD dapat
terkoordinasikan dengan Dinas / Instansi / Lembaga kemasyrakatan terkait
sehingga seluruh lapisan masyarakat berperan aktif dalam pelaksanaan program
pemberantasan sarang nyamuk terutama dengan cara 3 M plus.
2. Strategi pendekatan program bertumbu pada pemberdayaan masyarakat, yang
dimaksud adalah agar masyarakat mengerti dan berperan aktif dalam kegiatan
pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3 M Plus
3. Mengoptimalkan kinerja pokjanal DBD dalam memfasilitasi Pokja DBD di
Desa/Kelurahan/Nagari sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam
pemberantasan sarang nyamuk.
4. Personil Pokjanal / Pokja DBD selalu menetapkan kepala Desa/Lurah/Wali Nagari
dan Bupati/Walikota disetiap jenjang sebagai pembina, sehingga secara
struktural ada ikatan organisasi, serta melibatkan lembaga pemberdayaan
masyarakat (LPM) dalam kepengurusan pokjanal / Pokja DBD.
5. Memanfaatkn segala moment kegiatan untuk mensosialisasikan pemberantasan
sarang nyamuk DBD dengan cara 3 M Plus, seperti kegiatan HKG-PKK-KB-KES dan
kegiatan buln Bhukti Gotong Royong ( Bulan Bhakti Gerakan 3 M Plus ).
6. Mengembangkan potensi daerah dalam usaha mengantisipasi berkembangnya
nyamuk DBD, seperti membudidayakan tanaman anti nyamuk, serta
pemeliharaan ikan pemkan jentik nyamuk
7. Mengedepankan Program Kegiatan Penanggulangan penyakit DBD sebagai
ENTRY Point pokok dalam Evaluasi HKG-PKK-KB-Kesehatan.
8. Melaksanakan monitoring dan evalusi serta pelaporan yang dilakukan secara
berjenjang mulai dari tingkat Desa/Kelurahan/Nagari.
Penguatan Pokjanal DBD olh BPM

1. Mengoptimalkan fungsi dan peran serta LP/LS melalui Pokjanal DBD dalam
gerakan PSN-DBD Tk.Kota,Kecamatan dan Pokja Kelurahan.
2. Pertemuan Pokjanal TingkatPropinsi/Kabupaten/Kota/Rakornis DBD Kab/Se
Sumbar
3. Pembuatan Lieflet DBD untk Kab/Kota Se Sumbar
4. Melakukan review Penanggulangan Penyakit DBD terhadap Pokjanal DBD
Propinsi dan Kab/Kota se Sumbar (TP-PKK & Instansi yang membidangi
pemberdayaan masyarakat)

Keberadaaan Pokjanal DBD dan Kegiatan PSN - DBD merupakan sala satu Indikator
penting dalam penilaian HKG-PKK,KB-Kesehatan
Tugas dan Fungsi Pokjanal DBD
PEMDA / B P M

o Menyusun rencana kerja Pokjanal DBD tahunan


o Menjalin kemitraan lintas sektor terkait dalam upaya penanggulangan DBD
o Melaksanakan pembinaan terhadap Pokja DBD di Kab/Kota

Dinas Kesehatan

o Melakukan kajian epidemiologi terus menerus secara sistematis terhadap


perkembangan penyakit DBD dan faktor-faktor risikonya
o Memberikan informasi perkembangan penyakit DBD secara periodik
o Melaksanakan pembinaan dan asistensi teknis penyelenggaraan SKD KLB
DBD

TP-PKK

o Menggerakkan kelompok Dasa Wisma tentang PSN DBD


o Menyusun rencana pembinaan dan pemantauan dan penyuluhan tentang
PSN DBD pada kelompok Dasa Wisma

Dinas Pendidikan Nasional

o Menetapkan kebijaksanaan teknis pembinaan pelaksanaan PSN DBD di


sekolah.
o Menyusun rencana kegiatan pembinaan UKS DBD di sekolah
o Menghimpun, mengolah dan menganalisa laporan dari Tim Pembina UKS
Kab/Kota dan melakukan umpan balik

Departemen Agama

o Menetapkan kebijaksanaan teknis pembinaan pelaksanaan PSN DBD di


Madrasah
o Menyusun rencana penyuluhan ditempat ibadah

BKKBN

o Membuat dan merencanakan media penyuluhan yang efektif dan efisien


tentang pemberantasan DBD
o Melakukan penyuluhan tentang penanggulangan DBD

FAKTOR PEMUNGKIN BERKEMBANGNYA PENYAKIT DBD

o Adanya tempat penampungan air


o Kepadatan & mobilisasi penduduk
o Banyaknya pemukiman baru
o Adanya vektor penyebar penyakit

C. Mencegah
Pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat:

o Bunuh jentik/larva nyamuk


o Menggunakan obat anti larva nyamuk pada genangan air, tempat
perkembang biakan nyamuk
o Pemberantasan sarang Nyamuk (PSN-DBD)

Bersihkan Sarang Nyamuk


Membersihkan semak-semak sekitar pemukiman
Melipat pakaian yang bergelantungan
Upayakan ada cahaya atau sinar matahari masuk ke dalam rumah
(tidak ada tempat gelap untuk nyamuk istirahat)
Mengalirkan atau menimbun genangan air yang merupakan tempat
perkembangbiakan nyamuk
AA. A.Tata laksana sederhana di rumah/lokasi pengungsian
o Kompres
o Banyak minum
o Diusahakan cukup makan

CONTOH PERENCANAAN PROGRAM


KEGIATAN KESEHATAN
I. Pendahuluan
Pada awal tahun 2004 kita dikejutkan kembali dengan merebaknya penyakit Demam
Berdarah Dengue (DBD), dengan jumlah kasus yang cukup banyak. Hal ini mengakibatkan
sejumlah rumah sakit menjadi kewalahan dalam menerima pasien DBD. Untuk mengatasinya
pihak rumah sakit menambah tempat tidur di lorong-lorong rumah sakit serta merekrut
tenaga medis dan paramedis. Merebaknya kembali kasus DBD ini menimbulkan reaksi dari
berbagai kalangan. Sebagian menganggap hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran
masyarakat akan kebersihan lingkungan dan sebagian lagi menganggap karena pemerintah
lambat dalam mengantisipasi dan merespon kasus ini.
Sejak Januari sampai dengan 5 Maret tahun 2004 total kasus DBD di seluruh propinsi
di Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang
(CFR=1,53% ). Kasus tertinggi terdapat di Propinsi DKI Jakarta (11.534 orang) sedangkan
CFR tertinggi terdapat di Propinsi NTT (3,96%). Pada tahun 2005 ada 159 kasus, 2006
sebanyak 116 kasus, tahun 2007 mencapai 264 kasus dan tahun 2009 sebanyak 399 kasus.
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit
yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air
laut.
Penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal
ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimtomatik
atau tidak jelas gejalanya. Data di bagian anak RSCM menunjukkan pasien DBD sering
menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah
karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau
tipus. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi
virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan klinis
yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat
membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai.
Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968,
akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut
menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia
kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus
menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang
terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun.
KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per
100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%,
namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66
(tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003).
Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit, disebabkan
karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, kurangnya
perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk, terdapatnya vektor nyamuk
hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat sel tipe virus yang bersirkulasi
sepanjang tahun. Sedangkan nyamuk Aedes aegypti masih tersebar luas di pelosok tanah air
kecuali di ketinggian > 1000 meter dari permukaan laut, masih banyak di ketemuinya jentik
di rumah (30,5%), sekolah (31,5%), tempat-tempat umum (27,6%), sedangkan pengetahuan
sikap perilaku terhadap DBD 53,3%.

II. Tujuan
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan hidup sehat bagi setiap
masyarakat agar terhindar dari penyakit DBD melalui terciptanya masyarakat yang hidup
dengan perilaku dan lingkungan yang sehat terbatas dari penyakit DBD, serta memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu dan merata.

III. Kebijaksanaan
Mengingat obat dan vaksin pencegah penyakit DBD hingga dewasa ini belum ada maka
upaya pemberanyasan DBD dititik beratkan pada:
1. Kewaspadaan dini terhadap penyakit DBD dengan melaksanakan surveilans vektor guna
mencegah dan membatasi agar tidak terjadi KLB/wabah.
2. Pemberantasan nyamuk penularnya
Nyamuk dewasa
Jentik

IV. Strategi
Karena titik berat program pemberantasan penyakit DBD adalah penggerakan
masyarakat melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD meliputi:
1. Menyelanggarakan penyuluhan kepada masyarakat agar mampu secara
mandiri mencegah penyakit DBD.
2. Penggerakan masyarakat dalan pemberantasan sarang nyamuk DBD melalui
kerjasama lintas program yang dikoordinasikan oleh kepala wilayah/daerah.
3. Melakukan tindakan kewaspadaan dini kasus/KLB-DBD.
4. Melaksanakan pengobatan/pertolongan penderita DBD di RS dan puskesmas.
5. Menanggulangi secepatnya KLB-DBD agar penyebaran dapat dibatasi.

V. Sasaran, Waktu, Tempat Pelayanan, Dan Tenaga Pelaksana.


A. Sasaran
Sasaran adalah seluruh masyarakat di kelurahan Tobimeita dan Anggalo Melai
kecamatan Abeli yang mempunyai faktor resiko tinggi terhadap penyebaran penyakit Demam
Berdarah Dengue.

B. Waktu Pelaksanaan
Kegiatan ini dilaksanakan di kelurahan Tobimeita dan Anggalo Melai kecamatan
Abeli selama 4 minggu pada tanggal 1-28 Desember 2011.

C. Tempat Pelayanan
Program pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue ini dengan menggunakan
metode pemfogingan dan abatesasi yang dilaksanakan di seluruh kediaman warga Kelurahan
Tobimeita dan anggolo Melai. Sedangkan tempat pelayanan penyuluhan adalah di posyandu
atau tempat-tempat lain berdasarkan kesepakatan, misalnya puskesmas, puskesmas
pembantu, polindes,dll.

D. Tenaga
Jumlah tenaga disesuaikan dengan sasaran yang ada. Tenaga pelaksana program
pemberantasa penyakit DBD ini terdiri atas tenaga paramedis, non paramedis dan kader
dengan tugas sebagai berikut:
a. Tenaga Kesehatan
Tenaga paramedis untuk memeriksa kesehatan masyarakat baik penderita DBD maupun
yang belum menderita DBD.
Tenaga non paramedis untuk mencatat, membantu mengisi kartu, menyiapkan sarana
pelayanan,dll.
b. Kader bertugas:
Pendataan sasaran
Penyuluhan
Menyiapkan tempat pelayanan

VI. Kegiatan Pokok Program


Untuk mencapai keberhasilan program pemberantasan penyakit DBD dilakuakan kegiatan-
kegiatan sebagai berikut:

Minggu
No Kegiatan
I II III IV
1 Tahap Persiapan (Kewaspadaan Dini)
a.Penyusunan rencana kerja - - -
b.Mobilisasi sumber dana - - -
c. Pelatihan
d. Kunjungan rumah
e. Penemuan dan pelaporan penderita
f. Penyuluhan
g.Penggerakan masyarakat
2 Tahap Pelaksanaan (Penanggulangan KLB)
a.Gerakan 3M (PSN-DBD)
b.Fogging - -
c.Abatisasi - -
3 Pembinaan (Meningkatkan SDM)
4 Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan Evaluasi


Pemantauan Kegiatan
Pemantauan dilaksanakan untuk setiap tahap kegiatan sesuai dengan rencana.
1. Pemantauan dilakukan melalui:
~ Sistem pencatatan dan pelaporan program.
~ Unit pengaduan masyarakat.
~ Kunjungan rumah
2. Tindak Lanjut Pemantauan dilakukan melalui:
~ Umpan Balik
~ Supervisi
~ Bimbingan teknis
Evaluasi Kegiatan
Evaluasi dilakukan secara bertahap. Evaluasi hasil kegiatan berupa:
a. jumlah penderita DBD yang diberikan pengobatan dan penyuluhan di desa-desa resiko tinggi.
b. Jumlah fogging yang dipakai.
c. Lokasi dan jumlah pos pelayanan.
d. Masalah pendistribusian bubuk abate.
e. Masalah-masalah lain.

VII. Anggaran Kegiatan


Sumber dana dari APBN dan APBD.
- Dana dari APBN berupa penyedian Fogging dan bubuk Abate.
- Dana dari APBD berupa biaya operasional.yakni:

No. Biaya Operasional Jumlah

1 Biaya Tenaga/ Satuan Output


Rp.50.000 x 15 org x 10 hr/4 mgg Rp.7.500.000

2 Biaya Transpor/ Satuan Output


Rp.20.000 x 15 org x 10 hr/4 mgg Rp. 3.000.000

3 Biaya Snack/ Satuan Output


Rp.15.000 x 15 org x 10 hr/4 mgg Rp 2.250.000

4 Biaya tidak tetap/ Satuan Output Rp.500.000

Biaya Total Rp.13.250.000

KEGIATAN PEMBERANTASAN PENYAKIT


DEMAM BERDARAH DENGUE

1. Kunjungan Rumah Secara Berkala


Kunjungan rumah secara berkala dilaksanakan oleh Kader/Dasawisma guna
menyampaikan informasi tentang DBD dan pencegahannya kepada keluarga serta melakukan
pemeriksaan jentik. Hasil pemeriksaan jentik yang ada disetiap rumah dan pada
buku/formulir catatan kader. Selanjutnya, catatan hasil pemeriksaan jentik disampaikan
kepada ketua RT yang bersangkutan untuk tindak lanjut sepenuhnya.

2 Penyuluhan Kesehatan
A. Tujuan
1. Menyebarluaskan pengetahuan/ pengertian yang tepat dan benar tentang penyakit DBD.
2. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit DBD
3. Meningkatkan kerjasama antar penderita, keluarga, masyarakat dan petugas kesehatan
kesehatan tentang penanggulangan penyakit DBD.

B. Sasaran
1. Penderita penyakit DBD
2. Keluarga penderita penyakit DBD
3. Masyarakat
4. Petugas kesehatan
C. Materi-materi penyuluhan
1. Pengertian DBD
Demam berdarah dengue atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu
penyakit yang disebabkan oleh virus dengue Famili Flaviviridae, dengan genusnya adalah
Flaviirus. (www.Infeksi.com). Demam berdarah merupakan penyakit menular berbahaya
yang disebabkan oleh virus, menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem
pembekuan darah sehingga mengakibatkan pendarahan.
Demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue
dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Agypti, yang ditandai dengan demam mendadak 2-7 hari
tanpa penyebab yang jelas, lemah/lesu, gelisah, disertai tanda pendarahan di kulit berupa
bintik pendarahan (patechiae), lebam (ecchymosis) atau ruam (purpura).

2. Penyebab DBD
Penyebab penyakit ini adalah Virus dengue. Virus dengue merupakan virus RNA untai
tunggal, genus flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, 2, 3, dan 4. Struktur antigen ke-4
serotip ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibody terhadap masing-masing
serotip tidak dapat saling memberikan perlindungan silang. Varisai genetic yang berbeda pada
ke-4 serotip ini tidak hanya menyangkut antar serotype, tetapi juga dalam seraotip itu sendiri
tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Pada masing-masing segmen conon, variasi
angtara serotipe dapat mencapai 2,6-11% pada tingkat nukleotida ini ternyata menyebabkan
variasi dalam sifat biologis dan antigenitasnya. Virus dengue yang genomnya mempunyai
berat molekul 11 Kb tersusun dari protein structural merupakan bagian yang terbesar (75%)
terdiri dari NS-1 NS-5. Dalam merangsang pembentukan antibodi diantara protein
structural, urutan imunogenitas tertinggi adalah protein E, kemudian diikuti protein prM dan
C. sedangkan pada protein non-struktural yang paling berperan adalah protein NS-1.
Demam berdarah ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk betinaAedes yang
terinfeksi virus dengue. Penyakit ini tidak dapat ditularkan langsung dari orang ke orang.
Penyebar utama virus dengue yaitu nyamuk Aedes aegypti, tidak ditemukan di Hong Kong,
namun virus dengue juga dapat disebarkan oleh spesies lain yaitu Aedes albopictus.

3. Faktor resiko untuk terjangkit penyakit demam berdarah


Penularan demqm berdarah dengue dapat terjadi di semua tempat yang terdapat
nyamuk penularannya. Oleh karena itu tempat yang berpotensial untuk terjadi penularan
DBD adalah:
a. Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan/endemis)
b. Tempat Umum
Tempat umum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang dating dari
berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue
cukup besar.
Tempat-tempat umum itu antara lain
1) Sekolah:
- Anak/murid sekolah berasal dari berbagai wilayah
- Merupakan kelompok umur yang paling susceptible untuk terserang penyakit DBD.
2) RS/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya: Orang datang dari berbagai wilayah
dan kemungkinkan diantaranya adalah penderita DBD, demam dengue atau carrier virus
dengue.
3) Tempat umum lainnya seperti: Hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat ibadah, dan lain-lain.
4) Pemukiman baru di pinggir kota: Karena di lokasi ini, penduduk umumnya berasal dari
berbagai wilayah, maka kemugkinan di antaranya terdapat terdapat penderita atau carrier yang
membawa virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi.

4. Gejala
Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :
a. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 C- 40 C)
b. Manifestasi pendarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif puspura pendarahan,
konjungtiva, epitaksis, melena, dsb.
c. Hepatomegali (pembesaran hati).
d. Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg
atau lebih rendah.
e. Trombositopeni, pada hari ke 3 - 7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000 /mm3.
f. Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit.
g. Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit
perut, diare kejang dan sakit kepala.
h. Pendarahan pada hidung dan gusi.
i. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya
pembuluh darah.
Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari.

5. Penularan
Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictusbetina yang
sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain.
Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada
waktu pagi dan siang.
Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15
tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh.
Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini
kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.

6. Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu
nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan
beberapa metode yang tepat, yaitu :
a. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat
perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah.
Sebagai contoh:
Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.
Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.
Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya.

b. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan
jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).

c. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk
mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.
Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong
air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.