Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Revolusi Industri yang memberikan pengaruh terhadap perekonomian, khususnya di
kawasan Eropa telah mendorong Negara negara Barat untuk melakukan penjelajahan samudera.
Penjelajahan ini bertujuan untuk mencari daerah yang akan dijadikan jajahan. Di daerah-daerah
yang telah berhasil dikuasai, para penjelajah melakukan eksploitasi besarbesaran terhadap sumber
daya alam dan memasarkan hasil industri dari negaranya. Pada awal kedatangannya, para penjelajah
yang menemukan daerah baru dan mendarat di suatu tempat, memperkenalkan dirinya sebagai
pedagang. Mereka melakukan interaksi perdagangan dengan penduduk pribumi, bahkan di antara
mereka ada pula yang mendirikan pemukiman (koloni)
Pada perkembangan selanjutnya, tanpa disadari oleh penduduk pribumi daerah itu oleh
mereka dianggap sebagai daerah miliknya. Dengan leluasa mereka mengeksplorasi dan
mengeksploitasi kekayaan yang ada di daerah baru itu. Dalam sistem politik, pendudukan, dan
penguasaan suatu daerah oleh Negara lain disebut penjajahan atau istilah populernya disebut
kolonialisme.
Tujuan utama kolonialisme adalah kepentingan ekonomi. Kebanyakan koloni yang yang
dijajah adalah wilayah yang kaya akan bahan mentah. Istilah kolonialisme bermaksud memaksakan
satu bentuk pemerintahan atas sebuah wilayah atau negeri lain (tanah jajahan) atau satu usaha untuk
mendapatkan sebuah wilayah baik melalui paksaan atau dengan cara damai. Penaklukan atas sebuah
wilayah bisa dilakukan secara damai atau paksaan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Negara yang menjajah menggariskan panduan tertentu atas wilayah jajahannya, meliputi aspek
kehidupan sosial, pemerintahan, undang-undang dan sebagainya.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
a. Apa itu kolonialisme?
b. Bagaimana bangsa barat datang dan menguasai Indonesia?
c. Bagaimana kolonialisme membuat bangsa Indonesia menderita?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan Makalah


Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas sejarah dan menambah wawasan
sejarah siswa khususnya tentang kolonialisme dan kekejamannya.

ii
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kolonialisme
Kolonialisme berasal dari kata colunus (colonia) yang berarti suatu usaha untuk untuk
mengembangkan kekuasaan suatu negara diluar wilayah negara tersebut. Kolonialisme pada
umumnya bertujuan untuk mencapai dominasi ekonomi atas sumber daya, manusia, dan
perdagangan di suatu wilayah. Wilayah koloni umumnya adalah daerah-daerah yang kaya akan
bahan mentah untuk keperluan negara yang melakukan kolonialisme.

B. Kedatangan Bangsa Eropa di Indonesia


Hubungan perdagangan antara Asia Eropa yang berlangsung selama berabad-abad
mengalami gangguan dengan adanya Perang Salib ( 1096 1291 M ), puncaknya terjadi setelah
kota Konstantinopel dikuasai oleh Turki Usmani tahun 1453 yang berakibat hubungan
perdagangan tersebut terputus total. Akibatnya bangsa Eropa terpaksa mencari jalan sendiri
menuju ke daerah penghasil rempah-rempah yaitu Hindia ( Indonesia ), sehingga dimulailah
Jaman Penjelajahan Samudera.
Faktor-faktor yang mendorong terjadinya penjelajahan Samudera antara lain :
1. Reconguesta, yaitu semangat pembalasan bangsa Eropa terhadap kekuasaan Islam di
manapun dijumpai, sebagai tindak lanjut dari Perang Salib.
2. Gold, yaitu semangat untuk mencari kekayaan/emas.
3. Glory, yaitu semangat memperoleh kejayaan negara atau daerah jajahan.
4. Gospel, yaitu semangat untuk menyebarkan agama Nasrani.
5. Adanya penemuan baru seperti kompas, teropong, mesiu, dan peta yang menggambarkan
secara lengkap dan akurat garis pantai, terusan, dan pelabuhan.
6. Adanya teori Heliosentris oleh Copernicus yang menyatakan pusat tata surya adalah
matahari dan bentuk bumi bulat sehingga mendorong orang untuk membuktikannya.

Negara Eropa yang mempelopori penjelajahan samudera adalah Portugis dan Spanyol, yang
kemudian diikuti oleh Inggris, Perancis dan Belanda.
Adapun tokoh-tokoh penjelajah samudera yang terkenal adalah sebagai berikut :
a. Portugis : Bartholomeus Diaz, Vasco da Gama, Alfonso d Albuquerque.
b. Spanyol : Christoper Columbus, Ferdinand Magelhaez, Juan Sebastian Del Cano.
c. Inggris : Sir Francis Drake, Sir James Lancaster, James Cook.
d. Belanda : Cornelis de Houtman, Jacob van Neck, Abel Jan Tasman.
ii
C. Terbentuknya Kekuasaan Kolonial Eropa di Indonesia
Awalnya hubungan antara kerajaan/bangsa Indonesia dengan bangsa Eropa berjalan
setara, mereka saling menghormati dan bekerja sama dalam perdagangan. Namun dalam
perkembangannya nampak tujuan asli bangsa Eropa yang akan memonopoli perdagangan
rempah-rempah serta menguasai wilayah penghasil rempah-rempah tersebut.
a. Kekuasaan Portugis
Pada tahun 1511 Portugis berhasil menguasai Malaka, dan selanjutnya tahun 1512
ekspedisi diarahkan ke timur menuju Maluku. Ternyata hampir bersamaan dari arah utara
Spanyol juga sampai di Maluku ( 1521 ), akibatnya terjadi persaingan antar kedua negara
tersebut dalam menguasai Maluku. Perselisihan berakhir dengan Perjanjian Saragosa tahun
1529 yang menetapkan bahwa Portugis tetap berkuasa di Maluku sedangkan Spanyol harus
kembali ke Philipina. Sejak itulah Portugis berkuasa secara mutlak di Maluku.

b. Kekuasaan Belanda
Kedatangan Belanda pertama kali ke Indonesia mereka mendarat di Banten tahun
1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, namun karena sikapnya yang kasar mereka
diusir kembali ke negaranya. Pada tahun 1598 datang rombongan dagang berikutnya di bawah
pimpinan Jacob van Neck yang bersikap lebih terbuka sehingga bisa diterima dengan baik.
Selanjutnya berbondong bondong ekspedisi dagang dari Belanda datang ke Indonesia. Untuk
menghindari persaingan sesama pedagang Belanda, mereka mendirikan kongsi dagang yang
diberi nama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie ) pada tanggal 20 Maret 1602. Karena
keuntungan yang diperoleh sangat besar sehingga mereka tidak hanya memonopoli
perdagangan saja tetapi dengan taktik Devide et Impera mereka menguasai satu persatu
wilayah Indonesia. Namun pada akhir abad ke-18, VOC bangkrut dan dibubarkan, sehingga
kekuasaan di Indonesia diambil alih langsung oleh Kerajaan Belanda.
c. Kekuasaan Inggris
Pada tahun 1811 Inggris menyerang Indonesia dan berhasil mengalahkan Belanda dengan
penyerahan kekuasaan dalam Kapitulasi Tuntang. Sejak itu Inggris berkuasa di Indonesia di
bawah Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles.Namun kekuasaan Inggris tidak bertahan
lama karena terjadi kesepakatan yang disebut Konvensi London tahun 1814 yang isinya
Belanda memperoleh kembali jajahannya yang semula direbut Inggris. Penyerahan secara
resmi berlangsung di Batavia tanggal 19 Agustus 1816, sehingga sejak saat itu Hindia Belanda
( Indonesia ) kembali dikuasai Kerajaan Belanda sampai kedatangan Jepang tahun 1942 yang
menggantikan kedudukan mereka.
ii
D. Kebijakan Kolonial Yang Menyebabkan Penderitaan Rakyat
1. Portugis
Portugis berkuasa di Maluku cukup lama yaitu dari tahun 1512 sampai tahun 1641,
selama berkuasa mereka menerapkan kebijakan-kebijakan yang sangat berpengaruh bagi rakyat
di daerah Maluku, yaitu :
a. Berusaha menanamkan pengaruh kekuasaannya di Maluku.
b. Menyebarkan agama Katolik di daerah-daerah yang dikuasai.
c. Mengembangkan bahasa dan seni musik keroncong Portugis.
d. Sistem monopoli perdagangan cengkih dan pala di Ternate.
Akibat dari kebijakan tersebut menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan rakyat, yang
selanjutnya menumbuhkan benih-benih kebencian dan perlawanan terhadap Portugis.

2. VOC di Indonesia
VOC dibentuk pada tanggal 20 Maret 1602 di Ambon, Maluku dengan tujuan untuk
menghindari persaingan di antara perusahaan dagang Belanda dan memperkuat diri agar dapat
bersaing dengan perusahaan dagang negara lain. Oleh pemerintah Kerajaan Belanda, VOC
diberi hak-hak istimewa yang dikenal dengan nama hak oktroi, seperti:
a. hak monopoli perdagangan,
b. hak untuk membuat uang sendiri,
c. hak untuk mendirikan benteng pertahanan,
d. hak untuk membentuk tentara,
e. hak untuk melaksanakan perjanjian dengan kerajaan di Indonesia.
Berikut ini disajikan secara singkat kebijakan-kebijakan yang diterapkan pada masa VOC dan
pengaruhnya bagi bangsa Indonesia :
a. Menguasai pelabuhan-pelabuhan dan mendirikan benteng untuk melaksanakan monopoli
perdagangan.
b. Melaksanakan politik devide et impera (memecah belah dan menguasai) dalam rangka
untuk menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia.
c. Membangun pangkalan/markas VOC yang semula di Ambon, dipindah ke Batavia.
d. Melaksanakan pelayaran Hongi (Hongi tochten) untuk mengawasi perdagangan gelap
penyelundupan rempah-rempah di Maluku.
e. Adanya hak ekstirpasi, yaitu hak untuk membinasakan tanaman rempah-rempah yang
melebihi ketentuan.

ii
Adapun pengaruh yang dirasakan oleh bangsa Indonesia antara lain :
a. Kekuasaan raja menjadi berkurang atau bahkan didominasi secara keseluruhan oleh
VOC.
b. Wilayah kerajaan terpecah-belah dengan melahirkan kerajaan dan penguasa baru
di bawah kendali VOC
c. Hak oktroi VOC, membuat masyarakat Indonesia menjadi miskin, dan menderita.
d. Rakyat Indonesia mengenal ekonomi uang, mengenal sistem benteng pertahanan ,
etika perjanjian, dan senjata modern (senjata api dan meriam).
e. Pelayaran Hongi, dapat dikatakan sebagai suatu perampasan, perampokan,
perbudakan, dan pembunuhan.
f. Hak ekstirpasi bagi rakyat merupakan ancaman matinya suatu harapan atau
sumber penghasilan yang harusnya bisa berlebih.
Akibat salah urus dan terjadinya korupsi oleh para pegawainya, akhirnya VOC mengalami
kebangkrutan dan akhirnya dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799.

3. Pemerintahan Hindia Belanda ( Republik Bataafsche)


Kekuasaan di Indonesia diambilalih langsung oleh kerajaan Belanda yang saat itu ada di
bawah kekuasaan Perancis ( Republik Bataafche ). Untuk memerintah Hindia Belanda
( Indonesia), diangkatlah Gubernur Jendral Herman Williem Daendels (1808 1811 ). Tugas
utama yang diemban adalah mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman serangan Inggris.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Daendels menerapkan kebijakan seperti :
a. Semua pegawai pemerintah menerima gaji tetap dan mereka dilarang melakukan kegiatan
perdagangan.
b. Melaksanakan contingenten yaitu pajak dengan penyerahan berupa hasil bumi.
c. Menetapkan verplichte leverentie, kewajiban menjual hasil bumi hanya kepada
pemerintah
d. Belanda dengan harga yang telah ditetapkan.
e. Menerapkan sistem kerja paksa (rodi) dan membentuk tentara dengan melatih pribumi.
f. Membangun jalan pos dari Anyer sampai Panarukan ( 1.000 km ) untuk kepentingan
pertahanan.
g. Mewajibkan Prianger stelsel, yaitu kewajiban bagi rakyat Priangan untuk menanam kopi.
h. Melakukan penjualan tanah milik negara kepada pihak swasta (asing).

Akibat kebijakan yang diterapkannya tersebut menimbulkan pengaruh bagi rakyat, yaitu :
1. Kebencian yang mendalam baik dari kalangan penguasa daerah maupun rakyat,
ii
2. Munculnya tanah-tanah partikelir yang dikelola oleh pengusaha swasta,
3. Perlawanan oleh para penguasa maupun rakyat,
4. Kemiskinan dan penderitaan yang berkepanjangan.

Selama berkuasa Daendels dikenal sebagai seorang yang kejam, disiplin dan bertangan
besi, oleh karena dipandang sangat otoriter maka Daendels ditarik kembali dan kedudukannya
digantikan oleh Gubernur Jendral Janssen tahun 1811. Namun dia tidak setangguh Daendels,
sehingga harus mengakui kekuasaan Inggris dengan menandatangani Perjanjian/Kapitulasi
Tuntang pada tanggal 17 September 1811 dan sejak itu Indonesia jatuh ke tangan Inggris.

4. Kebijakan Pemerintah Kolonial Inggris


Sebagai Gubernur Jendral diangkat Thomas Stamford Raffles ( 1811 1816 ), selama
berkuasa dia menetapkan kebijakan sebagai berikut :
1. Menerapkan sistem sewa tanah atau Landrent, dimana para petani harus membayar pajak
sebagai uang sewa tanah, karena tanah dianggap milik negara.
2. Membagi Pulau Jawa menjadi 16 karesidenan, dengan maksud untuk mempermudah
koordinasi dan pengawasan atas daerah kekuasaan.
3. Memperbaharui sistem peradilan dengan mengadopsi sistem yang berlaku di Inggris.
4. Merintis pembangunan Kebun Raya Bogor dan menemukan bunga Rafflesia arnoldi.
5. Menulis buku sejarah Jawa yang berjudul History of Java .
6. Masa kekuasaan Inggris di Indonesia tidak berlangsung lama, karena terjadi perubahan
politik di Eropa seiring jatuhnya Napoleon Bonaparte ( Perancis ) sehingga dalam
Konvensi London tahun 1814 status Hindia Belanda dikembalikan seperti sebelum
perang yaitu kembali menjadi milik Kerajaan Belanda. Penyerahan kekuasaan dilakukan
di Batavia pada tanggal 19 Agustus 1816.

5. Kebijakan Pemerintah Hindia Belanda


Setelah penyerahan kekuasaan tersebut, maka Hindia Belanda kembali dikuasai oleh
pemerintah kolonial Belanda yang menunjuk Van der Capellen sebagai Komisaris Jendral
( 1817-1830 ) yang beraliran liberal (menghendaki urusan ekonomi diserahkan kepada swasta).
Tugasnya sangat berat dalam menutup hutang-hutang pemerintah Belanda yang dipakai untuk
membiayai perang. Terjadi penentangan oleh golongan konservatif yang menghendaki urusan
ekonomi dipegang langsung oleh pemerintah. Situasi perekonomian Belanda yang tidak
kunjung membaik menyebabkan golongan liberal kalah, sehingga golongan konservatif
mengambilalih kekuasaan. Dalam perkembangannya kedua golongan tersebut silih berganti
ii
berkuasa, sehingga kebijakan yang diterapkan di Hindia Belanda juga berubah-ubah. Adapun
kebijakan yang diterapkan antara lain : Sistem Tanam Paksa/Cultuur Stelsel ( 1830 1870 )
Rakyat dipaksa untuk menanam tanaman ekspor yang saat itu sangat laku dalam
perdagangan internasional seperti kopi, teh, kina, dan tembakau ( disebut tanaman wajib ).
Secara singkat pokok-pokok aturan Tanam Paksa adalah sebagai berikut :
1) Rakyat wajib menyiapkan 1/5 dari lahan garapan untuk ditanami tanaman wajib.
2) Lahan tanaman wajib bebas pajak, karena hasil yang disetor dianggap sebagai pajak
3) Setiap kelebihan hasil panen dari jumlah pajak akan dikembalikan.
4) Tenaga dan waktu yang diperlukan untuk menggarap tanaman wajib, tidak boleh melebihi
waktu yang diperlukan untuk menanam padi.
5) Rakyat yang tidak memiliki tanah, wajib bekerja selama 66 hari dalam setahun di
perkebunan atau pabrik milik pemerintah.
6) Jika terjadi kerusakan atau gagal panen, menjadi tanggung jawab pemerintah.

E. Kekejaman Kolonialisme terhadap Hak Azasi Rakyat Indonesia


Penjajahan yang dialami bangsa Indonesia selama berabad abad telah mendatangkan
berbagai penderitaan bagi bangsa Indonesia. Siapapun penjajahnya, baik Portugis, Spanyol,
Belanda, Inggris maupun Jepang, tetap saja mereka memperlakukan bangsa Indonesia sebagai
bangsa yang terjajah dangan tanpa peri kemanusiaan. Sebagai bangsa yang terjajah, maka tidak
ada lagi kemerdekaan, kebebasan dan kedaulatan dinikmati oleh bangsa Indonesia. Yang dapat
dirasakan hanyalah pemaksaan, penindasan, eksploitasi tenaga manusia, eksploitasi kekayaan
tanah air, yang semuanya hanya untuk kepentingan bangsa penjajah. Keuntungan yang diperoleh
bangsa Indonesia dari penjajahan hanya sedikit sekali dan tidak sebanding dengan penderitaan
yang dirasakan. Ketika pertama kali bangsa Portugis menguasai Indonesia, maka mulailah
penderitaan itu. Bergantinya penjajahan dari Portugis ke Belanda tidaklah bertambah baik, bahkan
bertambah buruk. Bahkan Belanda jauh lebih lama dalam melakukan penjajahannya terhadap
Indonesia, sehingga dengan demikian deretan penderitaan bangsa Indonesia itu di bawah
penjajahan Belanda berlangsung lama, selama penjajahan itu berlangsung.
Semua janji dan kata manis kolonial dilanggar. Pertama, bukan 1/5 dari tanah petani
yang ditanami, tetapi 1/4, 1.3, bahkan setengah dari tanah milik petani digunakan untuk tanaman
ekspor. Bahkan penanaman tersebut memilih tanah-tanah yang dubur. Kedua, tanah yang dipakai
untuk keperluan penanaman tanaman ekspor tersebut tetap dikenakan pajak. Ketiga, para petani
harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengerjakan tanaman pemerintah, sehingga
tidak ada waktu untuk menggarap sawahnya sendiri. Keempat, para kepala daerah merasa tergiur
dengan cultuur procenten, akibatnya mereka mulai berlomba-lomba mengusahakan daerahnya
ii
agar memberikan hasil sebanyak mungkin. Ulah mereka itu mengakibatkan rakyat semakin
menderita. Kelima, kegagalan panen akibat hama atau banjir pada kenyataannya menjadi beban
petani. Keenam, bukan 65 hari lamanya rakyat harus bekerja rodi, melainkan menurut keperluan
pemerintah.
Rakyat sangat menderita, kelaparan terjadi dimana-mana akibatnya jumlah kematian
meningkat. Orang yang menentang kerja paksa disiksa. Demikianlah penderiataan rakyat pulau
Jawa akibat tanam paksa yang diciptakan oleh Van den Bosch. Belanda memperoleh keuntungan
besar, sedangkan keuangannya menjadi normal kembali. Pembangunan di negeri Belanda dibiayai
dari hasil tanam paksa.
Tanam paksa dengan cara sewenang-wenang itu berjalan hampir setengah abad dari tahun
1830 sampai 1870. Dapat kita bayangkan betapa besar kesengsaraan yang diderita rakyat, tertama di
Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Meskipun tanam paksa sudah menyimpang dari teori yang diciptakan Van den Bosch,
pemerintah Belanda tidak mau peduli sebab tanam paksa telah memberikan keuntungan yang sangat
besar. Namun
Ketika belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, rakyat Indonesia semula menaruh
harapan bahwa penderitaannya selama dijajah bangsa Barat akan berakhir dan berganti kearah
kehidupan yang lebih baik. Harapan itu ternyata sia sia, karena sepak terjang Jepang tidak sesuai
dengan janji janji muluknya. Jepang yang semula seakan mau membantu melepaskan
penderitaannya akhibat penjajahan Barat, ternyata malah menambah kesengsaraan rakyat Indonesia.
Jepang pada akhirnya juga melakukan tindakan penjajahan terhadap Indonesia dengan
kekejaman di luar batas perikemanusiaan. Pada masa pendudukan jepang para petani dipaksa untuk
menyerahkan hasil padinya dan hasil pertanian lainnya kepada pihak Jepang. Semua hasil pertanian
diangkut untuk kepentingan Jepang dalam menghadapi perang. Keadaan ekonomi itu memang
sangat parah, karena semua hasil produksi disedot untuk kepentingan perang. Semua sumber
kekayaan rakyat dikuras habis sampai ke akar akarnya. Hal ini menyebabkan rakyak Indonesia di
berbagai tempat mengalami kemelaratan dan kelaparan, sehingga banyak harus makan jagung,
bonggol pisang, dan sebagainya. Penyakit kekurangan gizi merajalela. Sementara itu rakyat pun
banyak tidak mampu memiliki pakaian yang layak. Mereka banyak yang terpaksa harus memakai
pakaian dari karung goni atau baju karet.
Penderitaan rakyat pada Jaman Jepang terutama dialami oleh mereka yang terjadi romusha
(pekerja ). Pada mulanya romusha dilakukan secara sukarela untuk membantu Jepang atas dasar
sikap simpati rakyat terhadap Jepang. Namun kemudian, karena Jepang memerlukan jumlah tenaga
romusha yang banyak. Akhirnya romusha berubah menjadi paksaan. Tenaga romusha itu antara lain
untuk membangun jalan raya, kubu pertahan, lapangan udara, pekerja kasar di pabrik atau
ii
pelabuhan, dan lain lain. Ribuan romusha dari Jawa banyak dikirim ke luar Jawa, bahkan ke luar
negeri misalnya ke Thailand, Birma, Malaya, dan Vietnam. Tenaga tenaga romusha itu pada
umunya diambil dari para pemuda desa, sehingga mempunyai pengaruh terhadap kehidupan
ekonomi desa.
Kehidupan romusha ditempat kerjanya sangat tidak manusiawi. Mereka diperlakukan dengan
sangat buruk oleh Jepang. Mereka dipaksa bekerja dari pagi hari sampai petang hari, tanpa istirahat
dan makanan serta perawatan yang cukup. Mereka pun diawasi secara ketat oleh tentara jepang,
hanya pada malam hari saja mereka dapat istirahat. Sementara itu mereka pun sangat mudah untuk
terjangkit penyakit, karena kondisi kesehatan dan lingkungannya tidak terpelihara. Banyak sekali
romusha yang akhirnya meninggal di tempat kerjanya. Hal ini terutama disebabkan karena pekerja
yang terlalu berat, kesehatan yang tidak terjamin dan makanan yang tidak cukup.

ii
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam sistem politik, pendudukan, dan penguasaan suatu daerah oleh Negara lain disebut
penjajahan atau istilah populernya disebut kolonialisme.
Tujuan utama kolonialisme adalah kepentingan ekonomi. Kebanyakan koloni yang yang
dijajah adalah wilayah yang kaya akan bahan mentah. Istilah kolonialisme bermaksud memaksakan
satu bentuk pemerintahan atas sebuah wilayah atau negeri lain (tanah jajahan) atau satu usaha
untuk mendapatkan sebuah wilayah baik melalui paksaan atau dengan cara damai. Penaklukan atas
sebuah wilayah bisa dilakukan secara damai atau paksaan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Negara yang menjajah menggariskan panduan tertentu atas wilayah jajahannya, meliputi
aspek kehidupan sosial, pemerintahan, undang-undang dan sebagainya.
Penjajahan yang dialami bangsa Indonesia selama berabad abad telah mendatangkan
berbagai penderitaan bagi bangsa Indonesia. Siapapun penjajahnya, baik Portugis, Spanyol,
Belanda, Inggris maupun Jepang, tetap saja mereka memperlakukan bangsa Indonesia sebagai
bangsa yang terjajah dangan tanpa peri kemanusiaan. Sebagai bangsa yang terjajah, maka tidak ada
lagi kemerdekaan, kebebasan dan kedaulatan dinikmati oleh bangsa Indonesia. Yang dapat
dirasakan hanyalah pemaksaan, penindasan, eksploitasi tenaga manusia, eksploitasi kekayaan tanah
air, yang semuanya hanya untuk kepentingan bangsa penjajah. Semua sumber kekayaan rakyat
dikuras habis sampai ke akar akarnya. Hal ini menyebabkan rakyak Indonesia di berbagai tempat
mengalami kemelaratan dan kelaparan, sehingga banyak harus makan jagung, bonggol pisang, dan
sebagainya. Penyakit kekurangan gizi merajalela. Sementara itu rakyat pun banyak tidak mampu
memiliki pakaian yang layak. Mereka banyak yang terpaksa harus memakai pakaian dari karung
goni atau baju karet.

B. Saran
Penderitaan rakyat selama berabad abad menjadi pelajaran yang berharga bahwa
sesungguhnya manusia memiliki hak yang sama, yaitu hak untuk hidup merdeka dan beradab. Oleh
sebab itu kita yang sudah merdeka sudah seharusnya menjalani kemerdekaan dengan baik dan
tidak merusak hidup kita sendiri.

ii
DAFTAR PUSTAKA

http://iwak-pithik.blogspot.co.id/2011/12/pengertian-kolonialisme-dan.html
http://arniapriani02.blogspot.co.id/p/materi-pembelajaran.html
http://ameliani-riska.blogspot.co.id/2012/02/penjajahan-dan-akhibatnya.html
http://japancolonialism.blogspot.co.id/2011/09/mengenang-kekejaman-tentara-jepang-di.html

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Alhamdulillah atas terselesaikannya tugas makalah Sejarah Kebudayaan
Islam yang kami beri judul Antara Kolonialisme dan Kezaliman Kemanusiaan. Makalah ini
adalah pemenuhan tugas dari Ibu Eriwati selaku Guru Sejarah di SMA N 2 Batanghari.

Tidak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan makalah ini. Saya sebagai
Penyusun/Penulis mohon maaf bila ada kesalahan tulis maupun bahasa yang kurang sesuai dalam
penulisan makalah ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi siswa sendiri maupun semua pembaca.

Muara Tembesi, Oktober 2015

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I Pendahuluan
A. Latar belakang .. .. 1
B. Rumusan Masalah ................ 1
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan . 1

BAB II Pembahasan
A. Pengertian Kolonialisme 2
B. Kedatangan Bangsa Eropa di Indonesia
2
C. Terbentuknya Kekuasaan Kolonial Eropa di Indonesia.
3
D. Kebijakan Kolonial Yang Menyebabkan Penderitaan Rakyat
4
E. Kekejaman Kolonialisme terhadap Hak Azasi Rakyat Indonesia
7

BAB III Penutup


A. Kesimpulan ..... 10
B. Saran 10
Daftar Pustaka

ii
Makalah Sejarah

ANTARA KOLONIALISME DAN KEZALIMAN


KEMANUSIAAN

OLEH :

Widi Astuti

Kelas : XI MIA 2

Guru Pembimbing : Eriwati, S.Pd

SMA N 2 BATANGHARI
TAHUN PELAJARAN 2015/2016

ii
ii