Anda di halaman 1dari 6

JOURNAL READING

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT SARAF

Comparison of the Efficacy of Combination Therapy of Prednisolone -


Acyclovir with Prednisolone Alone in Bells Palsy

Disusun Oleh:

Nama : Rani Rahmadiyanti


NIM : 2013730168
Pembimbing : dr. Dedy Maryanto, M.Sc, Sp.S
RumahSakit : BLUD RS Sekarwangi

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT SARAF

BLUD RUMAH SAKIT SEKARWANGI SUKABUMI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

PERIODE 10 JULI 2017 13 AGUSTUS 2017


Abstrak

Objektif

Bell's palsy unilateral dari saraf wajah akut, hal itu menyebabkan perubahan signifikan dalam
kehidupan seseorang seperti penurunan pribadi, Sosial, dan pendidikan. Penelitian ini
membandingkan efikasi kombinasi Prednisolon dan terapi asiklovir dengan prednisolon saja.

Bahan & Metode

Penelitian ini merupakan uji coba terkontrol secara acak yang dilakukan pada 43 Anak (2-18
tahun) dengan Bell's palsy. Kelompok pertama dari 23 pasien dengan pengobatan mengunakan
prednisolon dan pasien sisanya diobati dengan kombinasi prednisolon dan Asiklovir. Data yang
dibutuhkan diolah dengan menggunakan formulir berbasis informasi, memakai House-
Brackmann Scale, yang menilai kelumpuhan saraf wajah. Data Dianalisis dengan uji Mann-
Whitney dengan menggunakan SPSS versi 16.

Hasil

Usia rata-rata kelompok pertama dan kedua adalah 8,65 5,07 dan 8,35 4,92 tahun, masing-
masing, (p = 0,84). 61% dan 39% pasien di kelompok pertama, 45% dan 55% pasien pada
kelompok kedua, masing-masing adalah laki-laki dan perempuan, tidak ada perbedaan yang
signifikan pada kelompok dalam hal usia dan jenis kelamin. Tingkat pemulihan total adalah
65,2% pada kelompok I dan 90% pada kelompok II (p = 0,04).

Kesimpulan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terapi untuk Bells palsy yang kombinasi prednisolon
dan asiklovir dengan jauh lebih efektif daripada pengobatan dengan

Prednisolon saja, sebenarnya. Usia dan jenis kelamin tidak berdampak pada tingkat

pemulihan.

Kata kunci: Bell's palsy; Prednisolon; Asiklovir; Anak-anak

Pendahuluan

Bell's palsy adalah kelumpuhan idiopatik nervus fasialis, onsetnya cepat, dengan tingkat kejadian
20 dari 100.000 per tahun . Paralysis facial dapat berkisar dari ringan sampai komplit dan
kelumpuhan bisa membaik dalam setahun . Tingkat kejadian sama pada keduanya jenis kelamin,
dapat terjadi pada semua usia, dan mungkin kedua sisi mungkin sama. Jarang terjadi pada anak-
anak kurang dari dua tahun dan pemeriksaan menyeluruh harus dilakukan untuk mengetahui
alasannya. Terlepas dari ketidakpastian yang sebenarnya mekanisme penyakit ini dan mungkin
timbul karena peradangan di sepanjang labirin kanal tulang wajah yang menghasilkan kompresi
dan pelonggaran dari akson dan penurunan aliran darah, faktor genetik, iskemia vaskular, faktor
inflamasi sekunder, infeksi virus, dan kelainan autoimun sebagai penyebab utama Bell's palsy.
Namun, Penyebabnya masih belum diketahui. Banyak virus, termasuk HIV, EBV, dan HBV
dicurigai sebagai organisme pemicu, Tapi HSV adalah yang paling terlibat.

Gejala utama Bell's palsy adalah disfungsi motorik wajah. Pasien biasanya mengeluh tentang
kelemahan atau kelumpuhan komplit di semua otot sisi wajah. Kurangnya pemulihan simetri
pada wajah jangka panjang, berpotensi mempengaruhi kualitas hidup seperti kesulitan dalam
masalah minum, makan, berbicara, dan psikososial, dan menciptakan gangguan yang luar biasa
dalam aktivitas social. Prognosis penyakitnya baik dan hampir 70% pasien pulih sepenuhnya
dalam 6 bulan pengobatan,

Meskipun 30% pasien mendapat gejala residu, seperti paresis, contracture, dan face spasms atau
synkinesis. Pengobatan pasien ini kontroversial dan bervariasi. Prednison dan asiklovir banyak
digunakan secara terpisah atau dalam kombinasi; Namun, keefektifannya hanya dibuktikan
dengan lemah. Meski tidak ada pengobatan pilihan untuk penyakit ini, kortikosteroid secara luas
diresepkan sebagai pengobatan awal kelumpuhan untuk mengurangi pembengkakan dan
inflamasi pada saraf wajah. Efek terapi antiviral pada Bell's palsy belum dikonfirmasi sejauh ini
dan pertanyaannya apakah menambahkan terapi antiviral ke pengobatan lain, seperti terapi
kortikosteroid, bisa memperbaiki penyakit menjadi lebih baik dan lebih cepat dari kortikosteroid
saja. Namun, mengingat kemungkinan Bell's palsy dengan Infeksi virus seperti HSV, terapi
antiviral nampak logis. Studi ini membandingkan efisiensi dan efikasi Asiklovir, prednisolon
secara terpisah, dan kombinasi dalam perawatan Bell's palsy pada anak-anak.

Bahan & Metode

Penelitian ini dilakukan dengan percobaan secara acak. 43 pasien dengan kelumpuhan wajah
unilateral perifer akut dengan rentang usia 2-18 tahun yang terdaftar dalam penelitian ini.
Kriteria eksklusinya pasien dengan kelumpuhan saraf kranial lainnya, onset gejala lebih dari 3
hari, penderita kurang dari 2 tahun dan lebih tua dari 18 tahun, adanya penyebab sekunder dari
kelumpuhan saraf 7, kecurigaan meningitis, vasculopathy, sindrom Ramsey Hunt, ulkus peptic,
pengobatan ant I herpes dalam 2 minggu terakhir, dan kepekaan terhadap asiklovir. Kelompok
pertama menerima prednisolone 2 mg/kg/hari, kelompk kedua diobati dengan kombinasi
prednisolone 2 mg/kg/hari dan asiklovir 10 mg/kg asiklovir setiap 8 jam selama 7 hari. Pasien
diperiksa untuk menyingkirkan penyebab lain kelumpuhan nervus 7, dan penelitian pencitraan
menunjukkan adanya CP sudut tumor pada pasien dengan Bells palsy yang saat itu dikecualikan
dari penelitian. Persetujuan informasi diperoleh dari orang tua anak. Penelitian ini disetujui oleh
komite etika Universitas.

Data yang dibutuhkan diekstraksi dengan menggunakan informasi formulir berdasarkan House-
Brackmann Scale yang menilai kelumpuhan saraf wajah. Pasien dinilai kembali dalam hal
tingkat pemulihan di akhir bulan pertama dan ketiga pengobatan. Berdasarkan House- Kriteria
Brackmann, respons terhadap pengobatan dinilai sebagai pemulihan lengkap (grade 1),
pemulihan parsial (grade 2-5), dan tidak ada respon (grade 6). Data dianalisis Menggunakan
SPSS (ver 16) dengan membandingkan keampuhannya dari dua rejimen pengobatan dengan
Mann-Whitney dan Fisher exact test. Nilai P kurang dari 0,05 adalah dianggap signifikan.

Hasil

Tabel 1 menggambarkan karakteristik demografi dari pasien. Di antara 43 pasien Bell's palsy
dalam penelitian ini, 23 pasien diobati dengan prednisolon dan 20 pasien dengan kombinasi
prednisolon dan asiklovir. Tidak ada perbedaan mencolok dalam hal usia dan Gender antara
kedua kelompok (p> 0,05).

Tabel 1. Frekuensi Pasien Bell's palsy menurut Usia dan Jenis Kelamin dalam Dua Kelompok

Tabel 2 menunjukkan hasil pengobatan. Menurut data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat
pemulihan pada pasien Bells Palsy dengan terapi Kombinasi Prednisolon - Asiklovir dengan
Prednisolone Alone di Bell's Palsy jauh lebih banyak dari pada terapi prednisolone saja (p=0,04)
dan memiliki sekuel yang lebih rendah setelah pengobatan.

Tabel 2. Perbandingan Tingkat Pemulihan Bell's Palsy dengan Prednisolone dan pengobatan
kombinasi.
Diskusi

Tidak ada konsensus tentang bagaimana memperlakukan Bell's palsy. Di studi kami, tingkat
pemulihan total adalah 65,2% dan 90% pada pasien yang menerima prednisolone saja dan pada
mereka yang menerima prednisolon dan asiklovir (p = 0,04). Beberapa penelitian telah
menunjukkan kinerja yang lebih tinggi dan tingkat perbaikan yang lebih baik pada kombinasi
terapi prednisolon dan asiklovir Dibandingkan dengan prednisolone saja. Studi lain juga
menunjukkan bahwa pasien dengan Bell's palsy yang diobati dengan prednisolon dan
valasiklovir menyatakan hasil dan peningkatan yang lebih baik dari pada pengobatan lainnya.
Dalam sebuah studi oleh Hato dkk, tingkat pemulihan pada pasien yang diobati dengan
valacyclovir dan prednisolone, lebih tinggi daripada pasien yang diobati dengan prednisolone
saja. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian kami. Rosenblum R menunjukkan hasil yang lebih
baik diperoleh saat menambahkan agen antiviral ke kortikosteroid untuk mengobati Bell's palsy.
Apalagi kombinasi Prednisolon dan famciclovir lebih efektif daripada Prednisolon saja dalam
pengobatan Bell's palsy dan sejumlah besar pasien membaik dengan menambahkan Famciclovir.
Menambahkan antivirus ke perawatan Bell's palsy adalah karena keterlibatan HSV di
Peradangan saraf wajah. Padahal, antivirus membasmi virus sementara kortikosteroid
mengurangi pembengkakan saraf. Namun, penelitian lain yang meremehkan khasiatnya
pengobatan dengan asiklovir sebagai berikut. Dalam buta ganda, studi terkontrol plasebo,
penelitian acak, pengobatan dini dengan prednisolon secara signifikan meningkatkan Bell's palsy.
Namun, tidak ada keuntungan signifikan yang ditemukan asiklovir saja atau dikombinasikan
dengan prednisolone. Kawagachi dkk. Menunjukkan bahwa reaktivasi dari VZV, HSV-1 pada
34% pasien dengan Bell's palsy, dan tingkat pemulihan pada pasien yang menerima kombinasi.
Prednisolon dan valasiklovir secara signifikan lebih besar dari prednisolone saja. Dalam meta-
analisis, hasilnya Terapi antiretroviral jauh lebih buruk dari pada Kortikosteroid (n = 768, RR
2,82, 95% CI 1,09 sampai 7,32), Sedangkan hasil terapi antiviral dan kortikosteroid secara
signifikan lebih baik daripada plasebo (n = 658, RR 0,56, 95% CI 0,41 sampai 0,76). Meyer
menunjukkan bahwa efek kortikosteroid dalam pengobatan Bell's palsy, meski menambahkan
antiviral, luar biasa (24). Studi lain menyimpulkan bahwa steroid efektif pada pasien yang Bell's
palsy dimulai baru-baru ini, dan terapi antiviral tidak secara signifikan memperbaiki fungsi saraf
wajah. Numthavaj dkk, menyimpulkan bahwa tingkat pemulihan dengan terapi kombinasi hanya
sedikit meningkat dan prednisolon adalah dasar perawatan Bell's palsy. Seperti yang didaptkan
oleh hasil penelitian ini dan studi lain yang serupa, terapi kombinasi, terutama Kasus Bell's palsy
yang parah, lebih efektif daripada prednisolone saja dan hasil efektif pada pemulihan
kelumpuhan wajah dan pengurangan komplikasinya. Namun, Beberapa penelitian belum
menunjukkan manfaat lebih lanjut, menambahkan agen antiviral ke kortikosteroid. Ini bisa
karena beberapa faktor. Selain itu, penelitian kami berbeda dalam konsumsi agen antiviral,
ukuran sampel, usia pasien, dan perbandingan kriteria inklusi dan eksklusi yang berbeda di studi
lainnya.