Anda di halaman 1dari 50

PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN

LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

PT HASANAH SURVEYOR RAYA ii


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas tersusunnya Laporan Pendahuluan
Kegiatan Pembuatan GCP, Orthorektifikasi Citra dan Peta Dasar Kawasan Rambatan,
Paringan, Salimpaung dan Sungai Tarab sebagai bentuk laporan tahap awal guna menjadi
panduan untuk melangkah pada tahap kegiatan selanjutnya.
Sesungguhnya Laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, banyak hal yang mungkin
belum tercakup. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif dari
berbagai pihak untuk perbaikan dan penyempurnaan pada masa yang akan datang.
Kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian laporan ini kami sampaikan
ucapan terima kasih. Harapan kami semoga kegiatan ini dapat kami selesaikan sesuai waktu
yang telah ditetapkan.

Pekanbaru, Juni 2017


PT HASANAH SURVEYOR RAYA

Ketua Tim

PT HASANAH SURVEYOR RAYA ii


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

BAB 1 DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................................ii

DAFTAR ISI.................................................................................................................................ii

DAFTAR TABEL..........................................................................................................................v

DAFTAR GAMBAR....................................................................................................................vi

BAB 1 PENDAHULUAN...........................................................................................................1

1.1 Latar Belakang................................................................................................................1

1.2 Maksud dan Tujuan Kegiatan..........................................................................................2

1.3 Sasaran Kegiatan.............................................................................................................2

1.4 Lokasi Kegiatan...............................................................................................................2

1.5 Ruang Lingkup Kegiatan................................................................................................2

1.6 Jangka Waktu Pelaksanaan..............................................................................................3

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH................................................................................4

2.1 Provinsi Sumatera Barat..................................................................................................4

2.2 Kabupaten Tanah Datar.................................................................................................10

2.2.1. Pemerintahan 11

2.2.2. Penduduk dan Ketenagakerjaan 12

2.2.3. Sosial 14

2.2.4. Pertanian 17

2.2.5. Transportasi, Komunikasi, Dan Pariwisata 20

PT HASANAH SURVEYOR RAYA iii


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

BAB 3 METODOLOGI PEKERJAAN....................................................................................22

3.1. Peta Dasar......................................................................................................................22

3.2. Survei Penentuan Posisi dengan GPS..........................................................................24

3.3. Orthorektifikasi.............................................................................................................36

BAB 4 JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN....................................................................39

4.1. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan.....................................................................................39

4.2. Rencana Kerja...............................................................................................................45

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................2

PT HASANAH SURVEYOR RAYA iv


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan................................................................................54

PT HASANAH SURVEYOR RAYA v


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Administrasi Provinsi Sumatera Barat............................................................4


Gambar 2.2. Administrasi Kabupaten Tanah Datar...........................................................10
Gambar 3.1.Ilustrasi Prinsip Penentuan Posisi dengan GPS.............................................25
Gambar 3.2.Metode dan Sistem penentuan posisi dengan GPS (Langley, 1998).............25
Gambar 3.3.Kombinasi metode survei statik dan statik singkat.......................................26
Gambar 3.4. Metode penentuan posisi stop-and-go............................................................27
Gambar 3.5. Perbandingan waktu pengamatan metode survei statik,.............................28
Gambar 3.6. Ilustrasi Pengamatan GPS dengan Metode Pseudo-Kinematik..................28
Gambar 3.7.Contoh kombinasi metode penentuan posisi dengan GPS............................28
Gambar 3.8.Penentuan jarak pseudorange..........................................................................30
Gambar 3.9 Kesalahan Geometrik Pergeseran Relief........................................................37
Gambar 3.10 Tahapan orthorektifikasi................................................................................38

Gambar 4. 1Tahapan kegiatan...................................................................................................47

PT HASANAH SURVEYOR RAYA vi


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

BAB 2 PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang


Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional menyebutkan bahwa seluruh kegiatan pembangunan harus direncanakan
berdasarkan data baik spasial dan non spasial serta informasi lainnya yang akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juga
mengamanatkan bahwa perencanaan pembangunan di daerah harus berdasarkan pada data dan
informasi, termasuk data dan informasi spasial, serta Pemerintah Daerah harus membangun
sistem informasi daerah yang terintegrasi secara nasional.
Selain itu, dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 - 2025 menegaskan bahwa aspek
wilayah/spasial haruslah diintegrasikan dan menjadi bagian dari kerangka perencanaan
pembangunan di semua tingkatan pemerintahan. Lebih lanjut, adanya Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial juga mensyaratkan penggunaan referensi
tunggal informasi geospasial.
Keempat amanat Undang-Undang tersebut menunjukkan pentingnya data spasial dalam
proses perencanaan pembangunan. Namun ketersediaan data dan informasi geospasial terkini
khususnya peta dasar pada skala besar yang disediakan Pemerintah belum sepenuhnya
mencakup seluruh wilayah Indonesia.
Sebagai perwujudan amanat tersebut Pemerintah Kabupaten Tanah Datar melakukan
kegiatan survei pemetaan paket pekerjaan pembuatan GCP, Orthorektifikasi Citra dan
Pembuatan Peta Dasar Kawasan Rambatan, Paringan, Salimpaung dan Sungai Tarab. Hasil
dari pekerjaan iniselanjutnya dapat digunakan sebagai data spasial dasar skala 1:5.000 untuk
merencanakan sistem perencanaan daerah dalam rangka mendukung pembangunan daerah
yang berbasis data spasial.

2.2 Maksud dan Tujuan Kegiatan


a. Maksud dari pengadaan ini adalah melakukan pembuatan unsur peta dasar skala
1:5.000 pada wilayah Kawasan Rambatan, Paringan, Salimpaung dan Sungai Tarab.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 1


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

b. Tujuan dari pengadaan ini adalah tersedianya peta dasar skala 1:5.000 Kawasan
Rambatan, Paringan, Salimpaung dan Sungai Tarab sesuai dengan spesifikasi teknis
pemetaan. Dan, terwujudnya data spasial yang mendukung perencanaan dan
pengambilan keputusan yang akurat dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

2.3 Sasaran Kegiatan


Sasaran kegiatan ini adalah sebagai berikut :
a. Tersedianya unsur peta dasar skala 1:5.000 Kawasan Rambatan, Paringan, Salimpaung
dan Sungai Tarab.
b. Tersedianya data dan informasi spasial skala 1:5.000 di Kawasan Rambatan, Paringan,
Salimpaung dan Sungai Tarab yang tepat dan akurat

2.4 Lokasi Kegiatan


Lokasi kegiatan ini berada di Kabupaten Tanah Datar Kawasan Rambatan, Paringan,
Salimpaung dan Sungai Tarab.

2.5 Ruang Lingkup Kegiatan


a. Ruang lingkup pekerjaan ini sebagaimana lampiran 1. Ruang Lingkup Pekerjaan
b. Lokasi pekerjaan berada di Kabupaten Tanah Datar Kawasan Rambatan, Paringan,
Salimpaung dan Sungai Tarab (indeks lokasi pekerjaan lampiran 2. Indeks Lokasi
Pekerjaan)
c. Volume pekerjaan memiliki luas berkisar 167 km2 daratan skala 1:5.000.
d. Fasilitas yang dapat disediakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan
Pertanahan Kabupaten Tanah Datar adalah
Peta Citra Mentah dengan spesifikasi
Product plaiades 0.5 m
Resolution 0.5 m
Date 5 September 2014, 24 April 2015 dan 22 Juni 2015
Peta Citra yang telah terorthorektifikasi untuk lokasi yang bersebelahan dengan
AOI pekerjaan Kawasan Rambatan, Pariangan, Salimpaung dan Sungai Tarab
Nomor Lembar Peta (NLP) sesuai indek pekerjaaan.
Data DEM (Digital Elevation Model)

2.6 Jangka Waktu Pelaksanaan
Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini adalah 150 hari kalender.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 2


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH

3.1 Provinsi Sumatera Barat

Gambar 2.1. Administrasi Provinsi Sumatera Barat

Secara astronomis Provinsi Sumatera Barat terletak antara 0 o 54' Lintang Utara dan 3o
30' Lintang Selatan dan antara 98o 36' - 101o 53' Bujur Timur. Berdasarkan posisi
geografisnya Provinsi Sumatera Barat terletak di pesisir barat bagian tengah pulau Sumatera
dan mempunyai luas wilayah sekitar 42,2 ribu Km2 atau setara 2,21 persen dari luas
Republik Indonesia. Sumatera Barat berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara,
Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu dan Samudera Indonesia.
Sumatera Barat memiliki 391 gugusan pulau dengan jumlah pulau terbanyak dimiliki
oleh Kabupaten Kepulauan Mentawai sebanyak 124 pulau, sedangkan Kabupaten Agam
mempunyai pulau paling sedikit sebanyak 2 pulau.
Sumatera Barat mempunyai 19 Kabupaten/Kota dengan Kabupaten Kepulauan
Mentawai memiliki wilayah terluas, yaitu 6,01 ribu Km2 atau sekitar 14,21 % dari luas
Provinsi Sumatera Barat. Sedangkan Kota Padang Panjang, memiliki luas daerah terkecil,
yakni 23,0 Km2 (0,05%).
Alam Sumatera Barat meliputi kawasan lindung yang mencapai sekitar 41,55 persen
atau sebesar 17.577,73 Km2 dari luas keseluruhan. Sedangkan lahan yang sudah
termanfaatkan untuk budidaya baru tercatat sebesar 23.126,87 Km2 atau sekitar 54,68 persen
dari kawasan seluruhnya. Sumatera Barat juga memiliki empat danau yang indah, yaitu

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 3


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

berada di Kabupaten Agam yaitu danau Maninjau dan tiga lainnya di Kabupaten Solok yaitu
danau Singkarak yang merupakan danau terluas dengan luas 13.011 Ha juga danau Diatas
dan danau Dibawah. Sumatera Barat juga memiliki gunung yang sebagian gunungnya masih
aktif. Gunung yang paling tinggi di Sumatera Barat yaitu Gunung Talamau dengan ketinggian
2.913 meter yang terletak di Kabupaten Pasaman Barat.

2.1.1. Keadaan Iklim


Sumatera Barat berdasarkan letak geografisnya tepat dilalui oleh garis Khatulistiwa
(garis lintang nol derajat) tepatnya di Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman. Karena itu
Sumatera Barat mempunyai iklim tropis dengan rata-rata suhu udara 25,670C dan rata-rata
kelembaban yang tinggi yaitu 85,53%
dengan tekanan udara rata-rata berkisar 995,41 mb. Ketinggian permukaan daratan
beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat sangat bervariasi, sebagian daerahnya
berada pada dataran tinggi kecuali di Daerah Painan, Simpang Ampek, Pariaman, Padang dan
Tua Pejat.
Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2014 mempunyai musim penghujan yang cukup
tinggi dengan intensitas hujan tertinggi (jumlah hari hujan) terjadi pada bulan November.
Namun dalam tahun-tahun terakhir ini, keadaan musim di Sumatera Barat kadang tidak
menentu pada bulan-bulan yang seharusnya musim kemarau terjadi hujan atau sebaliknya.
Suhu udara ditentukan oleh tinggi rendahnya daratan dari permukaan laut dan jaraknya
dari pantai. Secara umum daerah Sumatera Barat pada tahun 2014 beriklim panas dengan
suhu udara berkisar dari 18,200C sampai 35,50 0C. Serta tekanan udara minimun 991,50
mbar dan maximun 997,80 mbar dengan kelembaban relatif minimun 61,00% dan
kelembaban relatif maximun 97,60%.

2.1.2. Penduduk Dan Ketenagakerjaan


a. Penduduk
Penduduk Sumatera Barat tahun 2014 hasil proyeksi penduduk sebanyak 5,13 juta
jiwa yang terdiri dari 2,55 juta laki-laki dan 2,58 juta perempuan dengan ratio jenis
kelamin 98,80. Dibandingkan tahun lalu penduduk telah bertambah 65,41 ribu orang atau
meningkat 1,29 persen. Struktur umur penduduk Sumatera Barat masuk kategori
kelompok umur penduduk muda yang mana persentase penduduk usia mudanya (di
bawah 15 tahun) tergolong tinggi yaitu 30,44 persen sedangkan komposisi penduduk usia
tua (65 tahun ke atas) hanya 5,42 persen.
Tingkat kepadatan penduduk Sumatera Barat tahun 2014, rata-rata 121 orang per
km2. Kepadatan penduduk tertinggi di Kota Bukittinggi hampir mencapai 4.774 orang per

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 4


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

km2, sedangkan yang paling rendah terdapat di Kabupaten Kepulauan Mentawai yaitu
sekitar 14 orang per km2.
Jumlah rumahtangga di Sumatera Barat tahun 2014 telah mencapai 1,22 juta
rumahtangga, sedikit mengalami peningkatan dari tahun 2013 yaitu sebesar 1,19 juta
rumahtangga. Rata-rata jumlah anggota rumahtangga tahun 2014 sebanyak 4 orang
perumahtangga.
Penduduk berumur 10 tahun ke atas Sumatera Barat sebagian besar berstatus Kawin
yang mencapai 55,99 persen dari penduduk, kemudian berstatus belum kawin sebesar
35,65 persen. Sedangkan untuk yang berstatus cerai hidup dan cerai mati masingmasing
adalah 2,20 persen dan 6,16 persen.

b. Ketenagakerjaan
Seiring dengan pertumbuhan penduduk, penduduk usia kerja juga mengalami
peningkatan. Pada tahun 2014 jumlah penduduk usia kerja mencapai 3,58 juta orang, bila
dibandingkan dengan tahun 2013 jumlah penduduk usia kerja mengalami peningkatan
sekitar 54,05 ribu orang dari 3,52 juta orang.
Jumlah angkatan kerja mencapai 2,33 juta orang pada tahun 2014, yang terdiri dari
bekerja 2,18 juta orang dan pengangguran 151,66 ribu orang. Untuk jumlah bukan
angkatan kerja mencapai 1,25 juta orang terdiri dari penduduk yang bersekolah 443,01
ribu orang, mengurus rumah tangga 618,43 ribu orang dan lainnya sebanyak 183,79 ribu
orang.
Angkatan kerja menurut Kabupaten/Kota menunjukkan jumlah angkatan kerja
terbanyak terdapat di Kota Padang yang mencapai 389,99 ribu orang kemudian diikuti
oleh beberapa daerah kabupaten seperti Kabupaten Agam, Kab. Pesisir Selatan, Kab.
Padang Pariaman, Kab. Lima Puluh Kota dan Kab. Tanah Datar, sedangkan jumlah
angkatan kerja terendah terdapat di Kota Padang Panjang yang hanya mencapai sekitar
22,00 ribu orang.
Jumlah angkatan kerja laki-laki mencapai 1,41 juta orang dan perempuan 921,91
ribu orang. Jumlah angkatan kerja terbanyak terdapat pada kelompok umur 25-34 tahun
yang mencapai 599,77 ribu orang, kemudian pada kelompok umur 35-44 tahun mencapai
547,71 ribu orang.
Tingkat partisipasi angkatan kerja Sumatera Barat tahun 2014 mencapai 65,19
persen. Berdasarkan kelompok umur, TPAK tertinggi berada pada kelompok umur 45-54
tahun yang mencapai 82,38 persen. Pada kelompok umur ini TPAK laki-laki mencapai
97,47 persen sedangkan perempuan mencapai 68,02 persen. Secara keseluruhan TPAK
laki-laki lebih tinggi dari perempuan yaitu 80,25 persen dan 50,65 persen.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 5


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Jumlah penduduk yang bekerja tahun 2014 mencapai 2,18 juta orang atau meningkat
sekitar 119,23 ribu orang dari tahun 2013 yang berjumlah 2,06 juta orang. Jumlah
pekerja lakilaki mencapai 1,32 juta orang dan perempuan 857,36 ribu orang. Penduduk
yang bekerja menurut tingkat pendidikan memperlihatkan; pekerja terbanyak di Sumatera
Barat adalah tamatan sekolah dasar (SD) yang mencapai
482,59 ribu pekerja kemudian tamatan SLTP sekitar 397,64 ribu orang. Penduduk
yang bekerja di Sumatera Barat sebagian besar atau 37,55 persen bekerja pada sektor
pertanian kemudian pada sektor perdagangan mencapai 18,15 persen dan sektor jasa 15,61
persen.
Beberapa tahun terakhir, jumlah penganggur di Sumatera Barat menunjukkan
kenaikan sehingga pada tahun 2014 jumlahnya sekitar 151,66 ribu orang. Bila
dibandingkan dengan tahun 2013 jumlahnya turun sekitar 3,92 ribu orang, dimana pada
tahun 2013 jumlahnya 155,58 ribu orang. Jumlah pengangguran laki-laki lebih besar dari
perempuan dan sebaliknya tingkat pengangguran perempuan lebih tinggi dari lakilaki.
Secara keseluruhan tingkat pengangguran sedikit turun dari 7,02 persen tahun 2013
menjadi 6,50 persen tahun 2014.
Jumlah pencari kerja yang terdaftar pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2014 mencapai 25,99 ribu orang, yang belum
ditempatkan tahun lalu mencapai 102,27 ribu orang. Jumlah pencari kerja perempuan yang
terdaftar tahun ini, berjumlah 14,85 ribu orang lebih tinggi dari laki-laki yang hanya 11,14
ribu orang.
Jumlah pencari kerja yang terdaftar tahun 2014 berkurang dibandingkan dengan
tahun 2013 yaitu dari 34,13 ribu orang menjadi 25,99 ribu orang. Sedangkan jumlah
tenaga kerja yang ditempatkan jauh meningkat dari 1,86 ribu orang tahun 2013 menjadi
3,71 ribu orang tahun 2014.
Jumlah pencari kerja yang terdaftar terbanyak pada kelompok 20 29 tahun yang
mencapai 16,55 ribu orang dan sebagian besar adalah berpendidikan sarjana yang
berjumlah sekitar 7,80 ribu orang, kemudian berpendidikan SLTA umum 7,58 ribu orang.
Jumlah TKI pada tahun 2014 sebanyak 736 orang, sebagian besarnya yaitu 670
orang perempuan dan laki-laki sebanyak 66 orang. Para TKI berasal dari 19 Kab/Kota di
Sumatera Barat. TKI terbanyak berasal dari Kota Padang yaitu sebanyak 200 orang,
kemudian Kab. Padang Pariaman sebanyak 138 orang dan diikuti oleh Kab. Pesisir Selatan
sebanyak 118 orang. Penempatan TKI tahun 2014 terbanyak adalah ke Negara Malaysia
yang berjumlah 710 orang, yang terdiri dari 666 orang perempuan dan 44 orang laki-laki.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 6


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

sedangkan pada 16 negara tujuan lainnya secara rata-rata hanya menerima kurang dari 10
orang TKI.
Para TKI asal Sumatera Barat sebagian besar berpendidikan Sekolah Lanjutan Atas
ke bawah; dimana tamatan SMU sebanyak 631 orang, terdiri dari SMU Umum, SMK dan
Madrasah Aliyah (MA), tamatan SMP sebanyak 199 orang, sedangkan tamatan Diploma
III dan Sarjana masing masing hanya 6 orang dan 3 orang.

2.1.3. Sosial
a. Pendidikan
Kondisi penduduk berusia 7-24 tahun yang masih bersekolah menurut kelompok
umur dan jenis kelamin, terlihat bahwa baru sekitar 78,24 persen penduduk yang berusia 7
hingga 24 tahun yang masih bersekolah. Berarti masih ada sekitar 22 persen lagi penduduk
kelompok umur tersebut yang tidak bersekolah. Pada kelompok umur 19-24 tahun,
persentase penduduk yang masih bersekolah relatif masih rendah dibandingkan kelompok
umur sekolah lainnya, yaitu 32,89 persen.
Apabila dilihat menurut jenis kelamin, persentase penduduk perempuan pada usia 7
hingga 24 tahun yang masih bersekolah sekitar 80,38 persen lebih tinggi dari persentase
penduduk laki-laki pada kelompok umur yang sama (76,19 persen). Lebih lanjut dilihat
menurut daerah, penduduk usia 7-24 tahun yang masih bersekolah banyak berada di
daerah perkotaan yaitu sekitar 81,55 persen, sementara untuk daerah perdesaan sekitar
76,10 persen.
Dilihat dari partisipasi sekolah penduduk usia 5 tahun ke atas, persentase terbesar
adalah penduduk yang tidak bersekolah lagi, yaitu sekitar 64,44 persen (tabel 4.1.28).
Angka ini relatif tetap dibandingkan tahun sebelumnya. Bila dilihat menurut
kabupaten/kota, persentase penduduk yang tidak/belum pernah bersekolah daerah
kabupaten berkisar antara 4 hingga 8 persen, sementara rentang persentase untuk daerah
kota relatif lebih sempit, yaitu berkisar antara 3 hingga 4 persen.
Berdasarkan data online dari Kemendikbud, pada tahun 2014 ada penambahan
jumlah sarana pendidikan untuk pendidikan dasar dan lanjutan terutama yang di bawah
naungan Dinas Pendidikan, terjadi penambahan dari tahun sebelumnya. Penambahan
sekolah dasar, baik swasta maupun negeri, dari 4.103 sekolah pada tahun 2013 menjadi
4.125 sekolah pada tahun 2014. Sekolah menengah pertama (negeri dan swasta) pada
tahun 2014 relatif sama dengan jumlah sekolah menengah pertama tahun 2013. Untuk
sekolah di bawah Departemen Agama umumnya, baik untuk Madrasah Ibtidaiyah hingga
Madrasah Aliyah, mengalami kenaikan jumlah sekolah pada tahun 2014.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 7


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

b. Kesehatan dan Keluarga Berencana


Membandingkan antara tahun 2014 dan 2013 maka jumlah dan kapasitas tempat
tidur rumah sakit umum kabupaten di Sumatera Barat hampir tidak menemui perubahan
yaitu bertahan sejumlah 2.031 kapasitas namun jumlah tempat tidur yang ada sedikit
mengalami penambahan sebesar 10 unit menjadi 2.031 tempat tidur. Kalau dilihat dari
kunjungan pada rumah sakit umum di Sumatera Barat, terjadi penurunan dari 1.540,84
ribu pada tahun 2013 menjadi 1.255,73 ribu pada tahun 2014, skema penurunan ini juga
terjadi pada rumah sakit khusus, dari 431.124 pada tahun 2013 menjadi 364.037 tahun
2014. Pada tahun 2014 terdapat 262 buah puskesmas di Sumatera Barat, yang terdiri dari
103 Puskesmas rawatan dan 159 Puskesmas Non Rawatan.
Data yang diterima dari BKKBN Provinsi Sumatera Barat mengenai jumlah klinik
keluarga berencana, pada tabel 4.2.19 dapat dilihat bahwa terdapat sedikit peningkatan
jumlah sebanyak 8 unit dibanding tahun 2013 ke 2014 menjadi 799 klinik dan melayani
157.096 akseptor KB baru. Pada tahun 2014 jumlah target akseptor KB baru sebanyak
135.769 akseptor baru namun realisasinya meningkat dari target yang ditetapkan menjadi
157.096 akseptor baru. Sementara itu jumlah peserta KB aktif sebanyak 624.473 peserta
dengan jumlah pasangan usia subur sebesar 852.342 pasang atau sebesar 73,27 persen
peserta aktif diantara pasangan usia subur yang ada pada tahun 2014. Jumlah ini sedikit
menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 73,41 persen.

c. Agama
Persentase penduduk Sumatera Barat yang beragama islam tahun 2014 adalah 97,57
persen dan 2,43 persen lainnya beragama protestan, katolik, budha dan hindu. Dari segi
kurban, hewan yang paling banyak dipakai untuk berkurban adalah sapi, yaitu sebanyak
38.792 sapi pada tahun 2014 Program zakat juga digalakkan di Departemen Agama
Provinsi Sumatera Barat. Pada tahun 2014 ini nilai zakat yang dikelola oleh Kementerian
Agama mencapai 73.526,41 milyar terjadi peningkatan dari tahun- tahun sebelumnya.

d. Masalah Kesejahteraan
Pada tahun 2014, tercatat jumlah Panti Asuhan sebanyak 106. Angka ini sedikit
turun dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian juga jumlah Taruna Siaga Bencana
(Tagana) mengalami penurunan dari 790 orang pada tahun 2013 menjadi 542 orang tahun
2014. Terjadi penurunan jumlah penghuni Panti Asuhan dari 5.375 orang tahun 2013
menjadi 4.255 orang tahun 2014. Tabel 4.5.3 terlihat bahwa dari 53.697 anak terlantar

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 8


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

pada tahun 2013 yang terbanyak terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 45.932
(sekitar 85,54 %).

3.2 Kabupaten Tanah Datar

Gambar 2.2. Administrasi Kabupaten Tanah Datar


Kabupaten Tanah Datar adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Barat yang
dikenal sebagai Luhak Nan Tuo terletak pada 0017 s.d. 0039 LS dan 10019 s/d
10051 BT.
Kabupaten Tanah Datar mempunyai luas wilayah 1.336 km, terdiri dari 14 Kecamatan
dan 75 Nagari (setingkat kelurahan di wilayah kota). Dilihat dari luas wilayah, kecamatan
dengan luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Tanjung Baru dengan luas 43,14 km.
Sedangkan kecamatan dengan wilayah paling luas adalah Kecamatan Lintau Buo Utara,
yakni 204,31 km, kemudian diikuti Kecamatan X Koto yang luasnya 152,02 km. Secara
geografis wilayah Kabupaten Tanah Datar berada di sekitar kaki Gunung Merapi, Gunung
Singgalang, dan Gunung Sago, serta diperkaya pula dengan 25 sungai. Danau Singkarak yang
cukup luas sebagian diantaranya merupakan wilayah Kabupaten Tanah Datar yakni terletak di
Kecamatan Batipuh Selatan dan Rambatan. Diantara seluruh kecamatan yang ada, tiga
kecamatan terletak pada ketinggian antara 750 s.d. 1.000 meter di atas permukaan laut, yaitu
Kecamatan X Koto, Salimpaung, dan Tanjung Baru.
Sementara itu empat Kecamatan lainnya, yaitu Kecamatan Lima Kaum, Tanjung Emas,
Padang Ganting, dan Sungai Tarab terletak pada ketinggian 450 s.d. 550 meter dari
permukaan laut. Sedangkan 7 Kecamatan lagi terletak pada ketinggian yang bervariasi,
misalnya Kecamatan Lintau Buo yang terletak pada ketinggian antara 200 s.d. 750 meter dari
permukaan laut.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 9


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Ibukota Kabupaten Tanah Datar berada di Batusangkar, uniknya Kota Batusangkar ini
berada pada perbatasan tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Lima Kaum, Kecamatan Tanjung
Emas, dan Kecamatan Sungai Tarab.
Sedangkan pusat pemerintahan berada di Kecamatan Tanjung Emas atau tepatnya di
Nagari Pagaruyung. Kota Batusangkar lebih dikenal sebagai kota budaya, karena di
Kabupaten Tanah Datar terdapat banyak peninggalan dan prasasti terutama peninggalan
Istana Basa Pagaruyung yang merupakan pusat Kerajaan Minangkabau.

Pemerintahan
Dengan semakin mantapnya diberlakukannya Undang-undang Otonomi Daerah di
seluruh Indonesia, khususnya untuk Sumatera Barat, pemerintahan di tingkat Nagari sebagai
penyelenggara pemerintahan terendah sudah berjalan dengan baik. Sampai akhir tahun 2014
Kabupaten Tanah Datar masih terdiri dari 75 nagari dan 395 jorong.
Pemerintahan nagari merupakan satuan pemerintahan setingkat dengan kelurahan.
Nagari ini hanya terdapat pada kabupaten-kabupaten di Propinsi Sumatera Barat. Model
pemerintahan ini berlaku sejak dikeluarkannya Perda Tk. I No. 17 Tahun 2001. Pemerintahan
di tingkat nagari merupakan pemerintahan di bawah kecamatan yang dipimpin oleh seorang
wali nagari yang dipilih langsung oleh masyarakat, adapun pemerintahan di bawah nagari
adalah jorong yang dipimpin oleh seorang wali jorong.
Dilihat dari potensi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Menurut Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) di Kabupaten Tanah Datar, pada tahun 2014 tercatat ada sebanyak 7.226
orang. Dari jumlah tersebut, komposisi PNS berjenis kelamin laki-laki berjumlah 2.517 orang
dan dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 4.709 orang.
PNS menurut SKPD dilihat dari jenjang pendidikan yang ditamatkan, PNS di
Kabupaten Tanah Datar didominasi oleh lulusan S1/D.IV sebanyak 3.701 orang atau sebesar
51,22 persen, diikuti PNS tamatan DI/DII sebanyak 1.315 orang atau 18,20 persen, tamatan
SMA/sederajat sebanyak 1.071 orang atau 14,82 persen, sedangkan PNS tamatan SD dan
SMP masing-masing hanya sebanyak 75 dan 109 orang.
Dari sepuluh instansi vertikal yang ada di Kabupaten Tanah Datar tercatat ada sejumlah
1.175 orang PNS dengan komposisi 473 orang PNS laki-laki dan 702 orang PNS berjenis
kelamin perempuan.
Sama dengan PNS yang berasal dari SKPD, PNS yang berasal dari instansi vertikal
juga didominasi oleh para tamatan DIV/S1 sebanyak 806 orang atau sejumlah 68,60 persen,
diikuti oleh PNS tamatan SMA/sederajat sebanyak 371 orang atau sejumlah 31,57 persen,
dan jenjang pendidikan lainnya sebanyak 198 orang atau sejumlah 16,85 persen.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 10


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Penduduk dan Ketenagakerjaan


a. Penduduk
Penduduk menjadi salah satu variabel utama dalam melakukan evaluasi dan
perencanaan pembangunan di segala bidang, karena tujuan akhir dari pembangunan
adalah kesejahteraan masyarakat. Penduduk selain menjadi sasaran yang harus
ditingkatkan kualitasnya juga menjadi salah satu komponen untuk menggerakkan
program pembangunan.
Berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk Tahun 2013 yang dilakukan diketahui bahwa
jumlah penduduk Kabupaten Tanah Datar mencapai 342.864 jiwa yang tersebar di
seluruh nagari atau seluruh jorong. Jumlah penduduk sebanyak itu jika dikelompokkan
menurut jenis kelamin terdapat 167.051 jiwa penduduk laki-laki sedangkan sisanya
sebanyak 175.813 jiwa adalah perempuan.
Pada tahun 2014 juga telah dilakukan proyeksi pertumbuhan penduduk Kabupaten
Tanah Datar dengan laju pertumbuhan sebesar (0,29) persen sehingga jumlah penduduk
yang mendiami Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2014 sebanyak 343.875 jiwa, terdiri
dari 167.677 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 176.198 jiwa berjenis kelamin
perempuan. Ada-pun komposisi penduduk menurut jenis kelamin pada tahun 2014
dimana yang terbanyak adalah penduduk perempuan menghasilkan rasio jenis kelamin
sebesar 95,16.
Distribusi penduduk menurut kecamatan, tampak untuk beberapa kecamatan
jumlah penduduknya relatif cukup banyak (30 ribu ke atas). Dari 14 kecamatan yang ada,
terdapat 5 kecamatan diantaranya yang memiliki jumlah penduduk di atas 30 ribu jiwa
seperti Kecamatan X Koto, Lima Kaum, Rambatan, Lintau Buo Utara, dan Batipuh.
Namun demikian, jika jumlah penduduk dibandingkan dengan luas wilayah masing-
masing kecamatan, tampak bahwa kecamatan yang paling padat penduduknya adalah di
Kec. Lima Kaum yang mencapai 730 jiwa per Km2 . Kecamatan Sungai Tarab
merupakan kecamatan kedua yang terpadat penduduknya yakni sebanyak 413 orang per
Km2. Sedangkan Kecamatan Batipuh Selatan merupakan kecamatan yang masih jarang
dengan kepadatan penduduk sebesar 128 orang per Km2.

b. Ketenagakerjaan
Berdasarkan hasil Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2014, diperoleh
informasi bahwa dari 245.168 orang berusia diatas 15 tahun yang ada di Kabupaten

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 11


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Tanah Datar terdapat sebanyak 167.911 orang diantaranya merupakan penduduk


kelompok angkatan kerja. Dari jumlah tersebut ada sejumlah 162.375 orang yang sudah
memperoleh pekerjaan, sedangkan 5.536 orang lainnya masih berusaha untuk
mendapatkan pekerjaan.
Sebanyak 77.257 orang penduduk berusia diatas 15 tahun lainnya termasuk dalam
kelompok bukan angkatan kerja yang terbagi kedalam tiga kelompok kegiatan yaitu
42.375 orang mempunyai kegiatan utama mengurus rumah tangga, 24.595 orang
mempunyai kegiatan utama bersekolah dan 10.287 orang lainnya mempunyai kegitan
yang bervariasi (sakit, menganggur, penduduk usia tua, dsb) Komposisi angkatan kerja
menurut jenis kelamin, tampak bahwa penduduk yang bekerja terbanyak adalah
penduduk laki laki.
Sejalan dengan potensi perekonomian Tanah Datar yang didominasi oleh sektor
Pertanian, penduduk yang bekerja pun banyak terserap pada sektor Pertanian. Dari
seluruh penduduk yang berumur 15 tahun ke atas dan sedang bekerja sebanyak 72.465
orang bekerja di sektor Pertanian dengan komposisi 41.782 orang laki-laki dan 30.683
orang perempuan. Selanjutnya, aktivitas ekonomi kedua terbesar yang menyerap tenaga
kerja di Kabupaten Tanah Datar adalah sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yang
dapat mempekerjakan sebanyak 34.035 orang penduduk yang berumur 15 tahun ke atas.
Jika dilihat menurut tingkat pendidikan, penduduk berumur diatas 15 tahun yang
bekerja di Kabupaten Tanah Datar mayoritas masih berpendidikan rendah (SD ke
bawah). Dari 167.911 orang penduduk yang bekerja ada 39.430 orang atau sekitar 23,48
persen diantaranya berpendidikan paling tinggi Sekolah Dasar, bahkan ada sebanyak
38.778 orang diantaranya yang belum sama sekali menyelesaikan pendidikan setingkat
SD.
Selanjutnya untuk penduduk berumur 15 tahun ke atas yang sedang mencari
pekerjaan pada umumnya juga memiliki tingkat pendidikan yang rendah, sekalipun
masih terdapat pula yang berpendidikan SD sebanyak 58.002 dan yang tidak/belum
tamat SD sebanyak 55.549 orang.
Para pencari kerja yang berpendidikan SLTP sebanyak 52.205 orang, SLTA, SMK
masing-masing sebanyak 33.054 dan 18.761 orang, dan sarjana sebanyak 14.096 orang.
Menurut data yang diperoleh dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, di Kabupaten Tanah
Datar selama tahun 2014 jumlah pencari kerja yang terdaftar sampai akhir tahun tercatat
sebanyak 7.093 orang. Sedangkan pencari kerja yang terdaftar dalam tahun 2014 adalah
sebanyak 2.007 orang yang didominasi oleh para penduduk berpendidikan D-IV, S-1.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 12


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Sosial
a. Pendidikan
Pada tahun 2014 jumlah Sekolah Dasar di Kabupaten Tanah Datar terdapat 302
unit. Jumlah lokal yang tersedia sebanyak 2.035 lokal. Jumlah murid yang dapat
ditampung sebanyak 41.578 orang. Terjadi penurunan pada jumlah guru/pengajar. Jika
pada tahun 2013 jumlah guru SD tercatat sebanyak 3.183 orang, pada tahun 2014
menjadi sebanyak 3.020 orang dengan rincian 1.954 orang guru kelas, 320 orang guru
agama, 254 orang guru olahraga, 191 orang guru mata pelajaran lainnya, dan ada 301
orang kepala sekolah.
Sedangkan jika dilihat menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan para guru SD
di Kabupaten Tanah Datar, tercatat 123 orang berpendidikan D-I ke bawah, 347 orang D-
II, 50 orang DIII/ Sarjana Muda, sebanyak 2.468 orang tamat D-IV/S1, dan 32 orang
guru berpendidikan S2.
Sementara itu, pencapaian prestasi anak-anak SD pada tahun 2014 terlihat dari
nilai rata-rata UAN siswa di Kabupaten Tanah Datar mencapai 7,97. Nilai rata rata ini
menurun jika dibandingkan tahun 2013 sebelumnya yang hanya mencapai nilai 7,98.
Untuk jenjang SMP, pada tahun 2014 jumlah sekolah t ercatat sebanyak 54 unit. Jumlah
murid yang tertampung di seluruh SMP di Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2014
sejumlah 12.645 siswa, dengan jumlah total guru mengajar sebanyak 1.213 orang guru.
Dari 1.213 orang guru, jika dilihat menurut pendidikan yang ditamatkan tercatat yang
berpendidikan D-III ke bawah sebanyak 90 orang, berpendidikan D-3 tercatat 110 orang
guru, D-4/S 1 sebanyak 980 orang dan guru yang berpendidikan S-2 tercatat sebanyak 33
orang guru.
Nilai rata-rata UAN pada jenjang Pendidikan Lanjutan Pertama tahun 2013
mencapai 6,40 dan nilai rata-rata ini naik menjadi 6,64 di tahun 2014. Walaupun
demikian, apabila dilihat dari persentase kelulusan, persentase kelulusan siswa SMP di
Kabupaten Tanah Datar meningkat dari 99,10 persen pada tahun 2013 menjadi 99,97
persen di tahun 2014.
Selanjutnya pada jenjang pendidikan SMA, selama tahun 2014 jumlah sekolah
pada jenjang ini tercatat ada sebanyak 19 unit yang tersebar di seluruh kecamatan di
Kabupaten Tanah Datar dengan jumlah murid yang tertampung sebanyak 8.172 orang
siswa. Adapun jumlah tenaga guru yang bertugas di seluruh SMA di Kabupaten Tanah
Datar pada tahun 2014 adalah sebanyak 776 orang dengan rincian 30 orang pendidik
dengan ijazah maksimum D-III, 677 orang pendidik mempunyai ijazah setingkat D-IV/S

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 13


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

-1, dan sebanyak 69 orang tenaga pendidik telah mengantongi ijazah sampai jenjang S-2.
Dilihat dari nilai UAN SMA, di tahun 2014 rata-rata nilai UAN di seluruh SMA se-
Kabupaten Tanah Datar mencapai 5,71 angka ini mengalami penurunan jika
dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai angka 6,69. Walaupun nilai rata-
rata UAN menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tetapi jika dilihat dari
persentase kelulusan siswa, mengalami kenaikan pada tahun 2014 ini yakni mencapai
angka 100 persen. Pada tahun 2013 persentase kelulusan adalah 100 persen.
Pada pendidikan agama terdapat untuk MI ada 7 unit, sementara MTs tercatat ada
48 unit, dan MA 26 unit. Murid yang terserap pada jenis pendidikan keagamaan ini
cukup banyak, pada tahun 2014 di MI terdapat sebanyak 864 orang siswa, kemudian
murid MTs sebanyak 6.871 orang siswa, sedangkan murid pada MA tercatat sebanyak
2.617 orang. Selain fasilitas pendidikan seperti di atas, di Kabupaten Tanah Datar juga
terdapat beberapa unit perguruan tinggi seperti Sekolah Tinggi Ilmu kesehatan Yayasan
Purna Bhakti Husada, STAIN Batusangkar, STIA Pagaruyung, STIE Pagaruyung, dan
STAI Al Hikmah.

b. Keluarga Berencana
Menurut data Badan Taskin Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan KB, jumlah
Pasangan Usia Subur (PUS) pada tahun 2014 di Kabupaten Tanah Datar tercatat
sebanyak 48.863. Jumlah PUS ini sedikit menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya,
dimana pada tahun 2013 jumlah PUS sebanyak 50.365.
Dari seluruh PUS di tahun 2014 ditargetkan 6.864 pasangan yang akan menjadi
peserta KB baru. Sementara itu dari target yang telah ditetapkan tersebut, selama tahun
2014 yang dapat direalisasikan adalah sebanyak 7.170 pasangan. Dari sebanyak
7.134 peserta KB baru, alat/cara KB yang banyak diminati adalah dengan cara
Suntikan (2.747 akseptor) Sedangkan akseptor dengan metode LL/MO merupakan
jumlah yang terkecil yakni hanya 243 akseptor.

c. Kesehatan
Jumlah sarana kesehatan di Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2014 tidak
mengalami perubahan. Pada tahun 2014 Puskesmas tercatat sebanyak 23 unit. Demikian
juga sarana kesehatan lainnya seperti Puskesmas Keliling yang tercatat sebanyak 23 unit,
adapun jumlah Puskesmas Pembantu ada sebanyak 67 unit. Dari data yang terkumpul
selama tahun 2014, terlihat jumlah ahli kesehatan yang bekerja masih relatif tetap
dimana masih belum ada dokter spesialis yang bekerja di Kabupaten Tanah Datar. Dari
6.572 ibu hamil, yang melakukan kunjungan atau pemeriksaan sebanyak empat kali

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 14


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

terdapat sebanyak 5.437 ibu hamil atau sekitar 82,73 persen. Jumlah bayi yang dapat
diberi ASI eksklusif terdapat sebanyak 1.738 bayi.
Selama tahun 2014, menurut data dari Dinas Kesehatan jumlah persalinan yang
tercatat di Kabupaten Tanah Datar adalah sebanyak 6.142 persalinan, sebanyak 5.048
persalinan atau sekitar 84,52 persen diantaranya persalinan yang ditolong oleh tenaga
medis. Sedangkan sisanya ditolong oleh tenaga lainnya seperti dukun beranak.
Persentase tersebut menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai angka
87,12 persen di tahun 2013. Penolong kelahiran saat persalinan yang tidak dibantu oleh
tenaga medis akan semakin mempertinggi resiko kematian bayi maupun kematian ibu
saat melahirkan. Selama tahun 2014 telah terjadi perbaikan dalam bidang k esehatan
lainnya yang ditunjukkan dengan semakin mengecilnya persentase jumlah balita gizi
buruk. Menurut laporan Dinas Kesehatan, pada tahun 2014 dari 23.713 balita yang ada di
Kabupaten Tanah Datar, hanya ditemukan kasus 65 balita atau sekitar 0,27 persen
balita dengan kondisi gizi buruk. Angka ini lebih tinggi atau meningkat jika
dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 0,22 persen balita dengan gizi buruk.
Jumlah penderita balita gizi buruk ini diharapkan akan semakin turun di tahun-tahun
berikutnya dengan semakin bertambahnya sarana dan prasarana kesehatan serta
bertambahnya tenaga kesehatan/ medis. Hal ini perlu mendapat perhatian yang cukup
karena penopang bangsa di masa yang akan datang berawal dari bayi atau balita yang
sehat.

Pertanian
a. Produksi Padi dan Palawija
Menurut laporan dari Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten
Tanah Datar, produksi padi pada tahun 2014 tercatat sebanyak 237.623 Ton atau
mengalami penurunan dibandingkan produksi pada tahun 2013 yang tercatat sebesar
251.341 Ton. Penurunan produksi juga diiringi dengan peningkatan luas panen. Luas
panen pada tahun 2014 adalah 44.458 Ha sedangkan luas panen pada tahun 2013 adalah
44.414 Ha. Luas panen meningkat sebesar 44 Ha.
Namun, rata-rata produksi padi mengalami penurunan. Jika pada tahun 2013 rata-
rata produksi padi sebesar 5,66 Ton/ Ha, pada tahun 2014 tercatat bahwa rata-rata
produksi padi sebesar 5,34 ton/Ha. Komposisi produksi padi menurut kecamatan terlihat
bahwa Kecamatan Batipuh selama tahun 2014 menjadi kecamatan yang paling produktif
dengan produksi padi per tahun mencapai angka 29.332 Ton, sedangkan kecamatan yang

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 15


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

paling sedikit produksi padinya adalah Kecamatan Batipuh Selatan yang h anya sebesar
8.090 Ton selama tahun 2014.
Dengan melihat trend produksi padi setiap tahun, Kabupaten Tanah Datar
diramalkan akan tetap menjadi sentra produksi Padi yang dapat diandalkan di Provinsi
Sumatera Barat.

b. Luas Panen dan Produksi


Palawija Produksi komuditi palawija di tahun 2014 mengalami peningkatan.
Produksi jagung pada tahun 2014 adalah 19.869 ton, produksinya menurun dibandingkan
tahun 2013 yang produksinya mencapai 22.704 ton. Kecamatan Rambatan masih
menjadi sentra produksi jagung dengan produksi mencapai 7.360 ton. Kecamatan yang
terendah produksi jagungnya adalah Kecamatan Padang Ganting yang tidak memiliki
produksi jagung.
Produksi kacang tanah pada tahun 2014 tercatat hanya sebanyak 1.282 ton jauh
menurun dibandingkan produksi pada tahun 2013 yang tercatat sebanyak 1.493 ton.
Peningkatan terjadi pada produksi kacang hijau. Produksi kacang hijau pada tahun 2014
tercatat sebanyak 11 ton, sedikit meningkat dari tahun 2013 yaitu sebanyak 9 ton.
Peningkatan juga terjadi pada produksi kacang kedelai. Tahun 2014, produksi
kacang hijau sebanyak 7 ton atau naik 2 ton dari tahun 2013.

c. Produksi Sayuran
Tanah Datar cukup potensial untuk pengembangan produksi padi, palawija, dan
sayuran. Hal ini karena didukung dengan potensi lahan yang cukup memadai serta
kesesuaian agroklimat. Produksi sayuran di Kabupaten Tanah Datar tidak begitu merata
di 14 kecamatan. Hanya 7 kecamatan yang yang memproduksi buncis sedangkan 7
kecamatan lainnya tidak memproduksi buncis. Buncis paling banyak diproduksi di
Kecamatan X Koto sebesar 1.092,30 ton. Cabe merah paling banyak diproduksi di Kec.
X Koto sebesar 14.520 ton. Kacang panjang paling banyak di Kec. Sungai Tarab sebesar
92,60 ton. Sedangkan komoditi lain seperti terung, ketimun, bawang merah dan sayuran
lainnya lebih banyak dihasilkan oleh petani di kecamatan lainnya.

d. Produksi Buah-buahan
Produksi buah-buahan di Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2014 mengalami
penurunan dibandingkan produksi pada tahun 2 013. Produksi buah-buahan di

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 16


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Kabupaten Tanah Datar selama tahun 2014 didominasi oleh komoditi alpokat, sawo, dan
durian, pisang. Keempat komoditi tersebut selama tahun 2014 menghasilkan tidak
kurang dari 4000 ton produksinya. Adapun buah-buah yang ada pada kelompok ketiga
adalah rambutan, jambu, jeruk, mangga, belimbing, dan manggis yaitu kelompok
buahbuah yang terdapat di Kabupaten Tanah Datar tetapi nilai produksi masih rendah
dan kurang diminati oleh para petani.

e. Produksi Perkebunan
Sekalipun pertumbuhan produksi perkebunan relatif cukup rendah, namun
peningkatan produksi yang dialami hampir oleh semua komoditi memberikan harapan
yang cukup baik dalam menunjang perekonomian masyarakat Tanah Datar.
Produksi kulit manis, karet, kelapa, tebu, dan kakao selama tahun 2014 masing-
masing mencapai 2.654,04 ton, 6.885,31 ton, 2.599,32 ton, 4.300,93 ton, 2.804,04 ton.
Terdapat juga komoditi perkebunan yang cukup menjanjikan terhadap perekonomian
masyarakat karena komoditinya dapat diekspor ke luar negeri, seperti produksi Kopi
Robusta, Kopi Arabika, dan Kemiri. Namun, produksi 3 komoditi tersebut selama tahun
2014 relatif masih cukup rendah. Pada tahun yang akan datang mudah-mudahan seluruh
komoditi tersebut dapat lebih dikembangkan guna meningkatkan perekonomian
masyarakat Kabupaten Tanah Datar.

f. Peternakan
Kabupaten Tanah Datar memang merupakan daerah yang potensi
perekonomiannya terkonsentrasi di sektor Pertanian. Hal ini dapat ditunjukkan cukup
beragamnya komoditi pertanian yang cukup berkembang dengan baik. Tidak hanya
produksi padi, buah buahan dan perkebunan, sub sektor peternakan juga menunjukkan
perkembangan yang cukup menjanjikan.
Populasi ternak terbanyak adalah sapi potong sejumlah 29.540 ekor. Populasi
unggas terbanyak adalah ayam ras petelur sejumlah 941.514 ekor. Berbagai jenis ternak
dan unggas lainnya juga cukup banyak di Tanah Datar.

g. Perikanan
Dengan luas areal perikanan darat yang mencapai 1.626,40 Ha produksi perikanan
darat di Kabupaten Tanah Datar selama tahun 2014 mencapai 3.903,10 ton yang terdiri
atas berbagai macam jenis ikan. Produksi perikanan darat tersebut mengalami

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 17


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

peningkatan dibandingkan dengan produksi y ang dihasilkan pada tahun sebelumnya


dimana pada tahun 2013 produksi perikanan darat hanya sebanyak 3,785,20 ton. Jika
dilihat dari jenis ikan, produksi perikanan darat di Kabupaten Tanah Datar pada tahun
2014 terbanyak adalah jenis ikan Nila yang mencapai 1.682,20 ton. Kemudian produksi
ikan Mas tercatat sebanyak 1.303,10 ton. Komposisi ini sama dengan tahuntahun
sebelumnya, dimana jumlah produksi terbanyak adalah ikan Nila kemudian disusul ikan
Mas. Sementara itu di tahun 2014 jenis ikan Nilem merupakan jenis ikan yang paling
rendah produksinya yakni hanya sebanyak 2,6 ton.
Sub sektor perikanan terutama perikanan darat di Kabupaten Tanah Datar masih
memberikan harapan yang cukup baik dan dapat dijadikan salah satu mata pencaharian
masyarakat karena jika dilihat dari perkembangan harga ikan cenderung menunjukkan
perkembangan yang cukup baik.

Transportasi, Komunikasi, Dan Pariwisata


a. Transportasi
Dilihat dari kondisinya, jalan di Kabupaten Tanah Datar terjadi sedikit perubahan
dimana panjang jalan dalam kondisi baik mengalami peningkatan dari 788,16 Km pada
tahun 2013 menjadi 796,66 Km pada tahun 2014. Jalan dengan kondisi rusak berat dan
ringan mengalami
penurunan dimana tercatat jalan dengan kondisi rusak ringan dari 514,79 Km pada
tahun 2013 turun menjadi sepanjang 512,09 Km pada tahun 2014. Sedangkan jalan
dengan kondisi rusak berat pada tahun 2014 tercatat sepanjang 130 Km.
Seiring dengan berkurangnya permukaan jalan rusak, permukaan jalan yang
diaspal juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 jalan dengan permukaan aspal
tercatat sepanjang 986,21 Km bertambah panjangnya menjadi 999,21 Km di tahun 2014,
sedangkan jalan dengan permukaan kerikil pada tahun 2013 tercatat sepanjang 103,75
Km berkurang panjangnya menjadi hanya 101,50 Km di tahun 2014.
Demikian halnya jalan dengan permukaan tanah, jalan dengan p ermukaan tanah
juga mengalami penurunan menjadi 412,74 Km. Pembangunan jalan di Kabupaten Tanah
Datar pada dasarnya hanya berupaya memperbaiki kualitas jalan, sementara pembukaan
jalan baru dipandang masih belum memungkinkan karena terkendala oleh keterbatasan
dana. Selama tahun 2014 jumlah jembatan di Kabupaten Tanah Datar tidak mengalami
perubahan dari tahuntahun sebelumnya. Tercatat jumlah jembatan sebanyak 238 buah
dengan panjang 2.019,60 km yang tersebar di seluruh kecamatan-kecamatan. Jumlah

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 18


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

jembatan yang paling banyak terdapat di Kecamatan Tanjung Emas sebanyak 33 buah
dengan panjang 383,20 km.
b. Kendaraan Bermotor
Jumlah kendaraan bermotor yang wajib diuji mengalami kenaikan dalam periode
satu tahun belakangan, tercatat pada tahun 2013 sebanyak 6.115 buah kendaraan wajib
uji naik menjadi 6.178 buah kendaraan wajib uji di tahun 2014 dengan berbagai jenis.
Apabila dilihat dari jenisnya maka jenis kendaraan mobil barang adalah jenis yang
mengalami peningkatan yaitu sebesar 3,22 persen. Jenis kendaraan mobil barang yang
meningkat cukup signifikan adalah jenis mobil pick up dari 250 unit pada tahun 2013
menjadi sebanyak 269 unit pada tahun 2014. Sedangkan kendaraan jenis truk sedang
mengalami penurunan dari 1.484 unit pada tahun 2013 menjadi 1.335 unit di tahun 2014.

c. Komunkasi
Perkembangan komunikasi dengan menggunakan telepon konvensional
nampaknya tidak mengalami perubahan yang berarti selama tahun 2014. Hal ini diduga
dipengaruhi oleh alat komunikasi yang praktis, mudah, dan kecepatannya seperti
handphone.

d. Wisata
Dengan obyek wisata yang cukup banyak di tiap-tiap kecamatan serta tersedianya
Perusahaan Perjalanan Wisata mestinya menjadi daya tarik yang cukup kuat untuk
pengembangan kegiatan kepariwisataan di Kabupaten Tanah Datar.
Jika dilihat dari Fasilitas Akomodasi (penginapan/hotel) di Kabupaten Tanah Datar
tidak terjadi peningkatan tetapi penurunan, dimana pada tahun 2013 terdapat 207 jumlah
kamar, 410 jumlah tempat tidur, dan 50 jumlah tenaga kerja menurun pada tahun 2014
menjadi 207 jumlah kamar, 380 jumlah tempat tidur, dan 45 jumlah tenaga kerja.
Banyaknya tempat makan/ minum di Kabupaten Tanah Datar tidak mengalami
perubahan. Dimana pada tahun 2013 terdapat 103 Rumah Makan dan 39 Warung Makan
tetap jumlahnya 117 Rumah Makan dan 66 Warung Makan pada tahun 2014, sedangkan
untuk jumlah restoran dan kafe tidak mengalami perubahan.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 19


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

BAB 3 METODOLOGI PEKERJAAN

8.1 Peta Dasar


Peta merupakan gambaran atau lukisan seluruh atau sebagian gambaran dari
permukaan bumi yang digambarkan pada bidang datar yang diperkecil dengan
menggunakan skala tertentu dan dijelaskan dalam bentuk simbol dan dibuat mengikuti
ukuran sama luas, sama bentuk, sama jarak, dan sama arah.
Secara umum Peta didefinisikan sebagai gambaran dari unsur-unsur alam maupun
buatan manusia yang berada diatas maupun dibawah permukaan bumi yang digambarkan
pada suatu bidang datar dengan skala tertentu (PP Nomor 10 Tahun 2000).
Menurut Imran (2009), Peta merupakan kalibrasi dari bidang permukaan bumi 3
dimensi menjadi sebuah gambaran utuh yang lebih sederhana ke dalam selembar kertas
media yang datar dengan penyesuaian baik ukuran maupun bentuknya disertai pula dengan
informasi dan detail-detailnya. Dengan kalimat sederhana, pengertian peta merupakan
pengecilan dari permukaan bumi atau benda angkasa yang digambarkan pada bidang datar
dengan menggunakan ukuran, simbol, dan sistem generalisasi (penyederhanaan).
Peta mengandung arti komunikasi, artinya merupakan suatu signal atau saluran antara
pengirim pesan (pembuat peta) dengan penerima pesan (pembaca peta). Dengan demikian
peta digunakan untuk mengirim pesan yang berupa informasi tentang realita dalam wujud
berupa gambar. Agar pesan (gambar) tersebut dapat dimengerti maka harus ada bahasa yang
sama antara pembuat peta dan pembaca peta (Aryono Prihandito, 1989) dalam (Sariyono
dan Nursaban, 2010).
Peta dasar adalah suatu gambaran dari berbagai komponen yang terpilih didalam suatu
daerah pemetaan. Komponen - komponen tersebut harus memiliki hubungan dengan
topografi, sehingga jika komponen - komponen tersebut tidak memiliki hubungan, maka
menjadi tidak bermanfaat dan informasi yang dipetakan tersebut menjadi tidak berguna
karena tidak dapat dilokalisasi (diplot) dan dievaluasi terhadap kondisi - kondisi yang
diharapkan dan akhirnya hanya digunakan sebagai dasar perbandingan pada suatu daerah
saja.
Informasi dan peta topografi yang terbaru merupakan kebutuhan yang mutlak, karena
kesalahan biasanya terjadi karena penggunaan material dasar (peta topografi atau foto
udara) yang lama dan tidak teliti. Jika informasi dari peta topografi atau foto udara dapat
diandalkan, maka kandungan pokok pada peta tujuan akan sangat bermanfaat. Informasi

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 20


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

pada peta topografi atau foto udara yang berhubungan langsung dengan unsur - unsur
geografi, seperti batas administratif daerah, nama kampung, jalan dan sebagainya sangat
bermanfaat untuk menentukan lokasi penelitian.
Penentuan lokasi yang baik dan tepat merupakan unsur utama didalam menyusun peta
dasar yang baik, misalnya :
a. Posisi titik kontrol geodetik
b. Posisi konstruksi (bangunan, jalan raya, rel KA atau saluran)
c. Posisi danau dan sungai
d. Rincian topografi (batasan topografi, seperti tebing, lembah, bukit- bukit kecil,
punggungan dan sebagainya).
Faktor - faktor yang sering berubah, seperti :
a. Kondisi hidrografi
b. Batas pemukiman
c. Batas wilayah kehutanan/ pertanian/perkebunan.
d. Nama - nama daerah.
e. Batas sungai dan pantai.
Unsur - unsur penting menyusun peta dasar untuk kepentingan geomorfologi atau
geologi antara lain :
a. Keselarasan unsur - unsur peta dasar dengan materi pokok.
b. Memilih unsur - unsur peta yang mudah dimengerti.
c. Memilih unsur - unsur peta secara umum seperti garis atau titik dan tampilan peta
yang akan dijadikan acuan.
d. Membatasi unsur - unsur peta dasar sampai batas minimum, tergantung pada
tingkat kesulitan dari unsur pokok.
Maksud penyusunan peta dasar sebelum melaksanakan kegiatan tertentu merupakan
langkah persiapan sebelum kegiatan dilaksanakan, sehingga peta dasar merupakan peta
rencana kegiatan yang telah tersusun untuk memudahkan kegiatan yang akan dilakukan dan
menghemat biaya.
Biasanya yang digunakan sebagai peta dasar untuk suatu kegiatan adalah peta
topografi yang sebenarnya hanya memberikan informasi secara umum, seperti titik
ketinggian, garis ketinggian (kontur), nama sungai dan nama daerah, sehingga memerlukan
analisis agar dapat dijadikan peta dasar. Sebagai contoh kerapatan garis kontur
mencerminkan lereng yang terjal, maka dugaan sementara terhadap lereng yang curam
tersebut dapat berupa sesar (patahan) atau terdapat perbedaan kekerasan batuan atau pola
punggungan yang memanjang dapat diduga sebagai perlipatan.
Analisis terhadap peta topografi tersebut sangat bermanfaat untuk kegiatan penelitian
geologi, geologi teknik, pengembangan wilayah atau penggunaan lahan, sehingga pada saat
kegiatan penelitian di lapangan akan lebih terarah kepada hasil analisis peta topografi
tersebut.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 21


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

8.2 Survei Penentuan Posisi dengan GPS


GPS merupakan teknologi penentuan posisi yang paling mutakhir saat ini. GPS
merupakan singkatan dari NAVSTAR GPS (Navigation System with Time And Ranging
GlobalPositioning System). Teknologi GPS pertama kali digunakan oleh Departemen
Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Pengembangan system ini di bawah
pengawasan Departemen Pertahanan AmerikaSerikat. Sistem ini pada awalnya dirancang
untuk melayani kebutuhan militer Amerika Serikat besertasekutunya, namun sekarang
system ini dapat digunakan oleh kalangan sipil. Konsep yang dikembangkan adalah
perlunya suatu teknologi penentuan posisi yang akurat disetiap titik di permukaan bumi,
yang bisa digunakan kapan saja dan dalam kondisi cuaca apapun.
GPS terdiri dari tiga segmen yaitu segmen angkasa (spacesegment) yang berisi satelit-
satelit yang dimiliki GPS, segmen sistem kontrol (control system segment) yang terdiri
atas stasiun-stasiun kontrol, serta segmen pengguna (user segment) yang merupakan
pemakai GPS termasuk alat penerima dan pengolahsinyal dan data GPS.
Pada dasarnya konsep penentuan posisi dengan GPS adalah reseksi (pengikatan ke
belakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit
GPS yang koordinatnya telah diketahui. Secara mekanisme prinsip dasar penentuan posisi
dengan GPS dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1.Ilustrasi Prinsip Penentuan Posisi dengan GPS

Pada pengamatan GPS yang bisa diukur adalah jarak antara pengamat dengan satelit.
Posisi yang diberikan GPS adalah 3 dimensi (X,Y,Z) yang dinyatakan dalam datum WGS
(World Geodetic System) 1984. Dengan GPS titik yang akan ditentukan posisinya dapat
diam (static positioning) ataupun bergerak (kinematic positioning). Posisi titik dapat
ditentukan dengan menggunakan satu receiver GPS terhadap pusat bumi dengan
menggunakan metode penentuan posisi absolute, ataupun terhadap titik lainnya yang telah

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 22


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

diketahui koordinatnya (stasiun referensi) dengan menggunakan metode diferensial


(relative) yang menggunakan minimal dua receiver GPS. Disamping itu, GPS dapat
memberikan poisi secara instant (real time) ataupun sesudah pengamatan setelah data
pengamatannya diproses secara lebih ekstensif (post processing) yang biasanya dilakukan
untuk mendapatkan ketelitian yang lebih baik.Secara umum dikenal beberapa metode dan
sistem penentuan posisi dengan GPS, yaitu biasa digambarkan pada gambar 3.2.

Gambar 3.2.Metode dan Sistem penentuan posisi dengan GPS (Langley, 1998)

a. Metode-Metode Pengamatan Posisi dengan GPS


1. Metode Survei Statik Singkat
Metode penentuan posisi dengan survei statik singkat (rapid statik) pada
dasarnya adalah survei statik dengan waktu pengamatan yang lebih singkat, yaitu
5-20 menit ketimbang 1-2 jam. Prosedur operasional lapangan dari survei statik
singkat ini adalah sama seperti dengan survei statik, hanya selang waktu
pengamatannya lebih singkat.Kalau dibandingkan metode survei statik singkat
dengan metode statik dalam penentuan posisi, maka ada beberapa hal yang patutu
dicatat yaitu ;
Survei statik singkat mempunyai tingkat produktifitas yang lebih tinggi
dibandingkan survei statik, karena waktu pengamatan satu sesi relative
lebih singkat.
Metode survei statik memberikan ketelitian yang relative lebih tinggi
dibandingkan metode survei statif singkat.
Metode statif singkat memerlukan receiver GPS serta piranti lunak
pemroses data yang lebih modern.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 23


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Karena harus memastikan penentuan ambiguitas fase secara benar dengan


data pengamatan yang relatif lebih sedikit, metode survei statif singkat
relative kurang fleksibel dalam hal spesifikasi pengamatan dibandingkan
metode survei statik.
Metode survei statitik singkat relative lebih rentan terhadap efek dari
kesalahan dan bias.
Dalam penentuan koordinat titik-titik control untuk survei dan pemetaan yang
paling baik adalah menggabungkan metode survei statik dan statik singkat, dimana
setiap metode digunakan secara fungsional sesuai dengan karakternya masing-
masing, seperti ditunjukkan pada gambar 3.3.

Gambar 3.3.Kombinasi metode survei statik dan statik singkat

Dalam hal ini survei statik digunakan untuk menentukan koordinat dari titik-
titik kontrol yang relative berjarak jauh antara satu dengan lainnya serta menuntut
orde ketelitian yang relatif lebih tinggi, sedangkan survei statik singkat digunakan
untuk menentukan koordinat titik-titik kontrol yang relatif lebih dekat satu sama
lainnya serta berorde ketelitian yang relatif lebih rendah.

2. Metode Stop-and-go (semi kinetik)


Pada metode ini titik-titik yang akan ditentukan posisinya tidak bergerak
(statik), sedangkan receiver GPS bergerak dari titik-titik dimana pada setiap
titiknya receiver yang bersangkutan diam beberapa saat di titik-titik tersebut,
seperti pada gambar 3.4.

Gambar 3.4. Metode penentuan posisi stop-and-go

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 24


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Metode stop-and-go berbasiskan pada metode penentuan posisi secara


diferensial dengan menggunakan data fase. Koordinat referensi dari titik-titik
ditentukan relative terhadap koordinat dari station referensi (monitor station). Pada
metode ini ambiguitas fase pada titik awal harus ditentukan sebelum receiver
bergerak. Dalam operasionalisasinya, penentuan posisi-posisi titik dengan metode
ini dapat dilakukan secara real time dan post processing.

3. Metode Pseudo-kinematik
Pada dasarnya metode ini merupakan realisasi dari dua metode statik singkat
(lama pengamatan beberapa menit) yang dipisahkan oleh selang waktu yang relatif
lama (beberapa jam), seperti gambar 3.5.

Gambar 3.5. Perbandingan waktu pengamatan metode survei statik,


statik singkat dan pseudo kinematik

Pada metode ini pengamatan dalam dua sesi yang berselang waktu relatif lama
dimaksudkan untuk meliput perubahan geometri yang cukup besar, sehingga
diharapkan mensukseskan penentuan ambiguitas fase serta mendapatkan ketelitian
posisi yang relatif baik. Dalam hal ini perhitungan baseline dilakukan dengan
menggunakan data gabungan dari dua sesi pengamatan tersebut.

Gambar 3.6. Ilustrasi Pengamatan GPS dengan Metode Pseudo-Kinematik

4. Kombinasi Metode
Karena kondisi topografi dan lingkungan pengamatan yang beragam, untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi, kadang diperlukan kombinasi dari beberapa
metode untuk penentuan posisi titik-titik.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 25


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Gambar 3.7.Contoh kombinasi metode penentuan posisi dengan GPS

b. Prosedur Pengamatan GPS


Dalam pelaksanaan survei pelacakan perapatan pilar batas, prosedur pengamatan
titik-titik batas adalah sebagai berikut :
1. Pengecekan titik
Prosedur pengecekan titik yang akan disurvei setiba dilokasi melibatkan :
Koordinasi lokasi dengan instansi terkait yang terdapat pada wilayah survei
Pemberitahuan kepada masyarakat sekitar bahwa akan ada pengukuran
Komunikasi dengan tim-tim lapangan
Pengecekan nomor dan koordinat titik-titik yang akan disurvei.
2. Prosedur saat pengamatan
Meletakkan GPS navigasi saat melakukan pointing tepat di atas patok, agar
kesalahan gps tidak terlalu tinggi.
3. Prosedur setelah pengamatan
Pemberitahuan tim lain bahwa pengukuran telah selesai
Pengecekan formulir isian survei.
4. Prosedur pada hari akhir pengamatan
Pemindahan (download) data dari setiap kolektor data receiver ke computer
Penggandaan data (back up)
Pembersihan memori dari semua data kolektor

c. Jenis Data
Jenis data pengamatan GPS dapat dibagi menjadi data pseudorange dan fase
(Carrier beat Phase). Kedua data tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dan
mempengaruhi hasil pengamatan yang dilakukan.
1) Pseudorange

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 26


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Pseudorange merupakan jarak (range) hasil hitungan oleh receiver GPS dari
data ukuran waktu rambat sinyal dari satelit ke receiver.

Gambar 3.8.Penentuan jarak pseudorange

Pada Gambar 3.8. Pengukuran dilakukan receiver dengan membandingkan


kode yang diterima dari satelit dengan replica kode yang diformulasikan dalam
receiver. Waktu rambat sinyal tersebut diukur dengan teknik korelasi kode C/A
atau P. Istilah pseudodiberikan karena jarak tersebut masih mengandung
kesalahan akibat bias antara jam satelit dengan jam receiver. Besarnya
pseudorange dapat dirumuskan sebagai berikut:

(3.1)

Keterangan:
c : kecepatan cahaya (meter/detik)
t : lama waktu antar sinyal yang dipancarkan satelit ke receiver (detik)
R :pseudorange(meter)

(3.2)

Apabila pseudorange terukur adalah R,maka jarak dari receiver ke satelit


adalah: Pada persamaan di atas,R merupakan koreksi jarak karena adanya bias
antara jam satelit dengan jam receiver. Jarak R* ini sebenarnya masih
mengandung kesalahan karena refraksi ionosfer, troposfer, kesalahan orbit karena
selective availability, multipath dan noiselain. Sehingga apabila diperhitungkan,
maka jarak dari receiver ke satelit adalah Kecepatan waktu rambat sinyal dengan
kode P memungkinkan hasil pengukuran lebih teliti dibanding dengan
menggunakan kode C/A.Hal ini disebabkan karena panjang gelombang kode P

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 27


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

lebih pendek yaitu 30 meter disbanding dengan panjang gelombang kode C/A yang
mencapai 300 meter.Hal ini berarti kode P memiliki resolusi lebih baik dan
kemungkinan kecil terkena multipath.

2) Pseudorange Carrierbeat Phase


Carrierbeat Phase adalah beda fase yang diukur oleh receiver GPS dengan
cara mengurangkan fase sinyal pembawa yang datang dari satelit dengan sinyal
serupa yang dibangkitkan di dalam receiver. Hanya fase pembawa yang tidak
penuh yang dapat diukur ketika sinyal satelit diterima dan jumlah integer
gelombang penuh tidak diketahui dan ini disebut ambiguitas fase.Secara umum
dapat diformulakan:

(3.3)

Ternyata perjalanan sinyal dari satelit sampai receiver banyak dipengaruhi


oleh beberapa faktor yaitu refraksi ionosfer, troposfer, kesalahan orbit karena
selective availability, multipath dan noise lainnya. Apabila kesalahan-
kesalahantersebutdiperhitungkan, makapersamaandi atasmenjadi sebagai berikut:

(3.4)

(3.5)

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 28


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

d. Pengolahan Baseline
Pengolahan baseline pada dasarnya bertujuan untuk menghitung vektor baseline
(dX, dY, dZ) dengan menggunakan data fase sinyal GPS yang dikumpulkan pada dua
titik ujung baseline yang bersangkutan. Untuk mendapatkan solusi baseline dengan
akurasi pada orde milimeter atau centimeter digunakan fase gelombang pembawa
(carrier phase) sebagai data pengamatannya.
Prinsip dasar pengolahan data fase berdasarkan pengamatan statik diferensial
adalah teknik untuk mengeliminasi dan mereduksi dari berbagai kesalahan serta bias
pada data fase dengan cara menyelisihkan dua besaran pengamatan fase (differencing
technique). Secara umum tahapan pengolahan data fase untuk menghitung parameter
parameter suatu baseline berdasarkan teknik pengamatan statik diferensial adalah
sebagai berikut:
1. Pseudorange Carrier beat Phase
Pemrosesan triple difference. Pemrosesan triple difference yaitu proses
pengurangan dari double difference pada epoch yang berbeda. Persamaan triple
difference dalam satuan meter (Rizos, 1994).

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 29


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

(3.6)

Persamaan di atas dapat diselesaikan apabila ada titik referensi. Titik


referensi tersebut diperlukan untuk pendefinisikan datum. Parameter pada
persamaan tripple difference adalah titik non referensi. Oleh karena
persamaan tripple difference adalah persamaan non linier maka diperlukan nilai
pendekatan yang diperoleh dari pemrosesan pseudorange (koordinat apriori).

2. Pendeteksian dan koreksi cycle slips


Cycle slip adalah terputusnya sinyal GPS karena terhalang obstruksi atau
pergerakan antena yang terlalu cepat ataupun karena aktifitas ionosfer yang terlalu
tinggi (Rizos, 1994). Pada penyelesaian triple difference adanya cycle slips dapat
ditoleransi dengan adanya titik referensi sedangkan pada penyelesaian double
difference, cycle slips tidak dapat ditoleransi. Akibatnya pendeteksian dan
koreksi cycle slips dilakukan sebelum proses pengolahan double
difference.Pendeteksian cycle slips lebih mudah dibandingkan
pengkoreksiannya. Selain itu pendeteksian cycle slips lebih mudah dilakukan pada
data dual frequency yaitu dengan membandingkan dua perekaman yang mirip pada
pengamatan L1dan L2 dari satelit yang sama dari satu receiver. Sinyal L1 lebih
kuat dan memiliki cycle slips yang lebih sedikit dibandingkan sinyal L2, jadi
umumnya cycle slips lebih sering terjadi pada sinyal L2. Meskipun demikian,

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 30


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

pengamatan satelit GPS pada sudut elevasi yang rendah akan mengakibatkan cycle
slips pada kedua frekuensi.Ada dua metode dalam melakukan koreksi cycle slips
yaitu secara otomatis dan manual dengan menggunakan grafik. Keberhasilan
pengkoreksian cycle slips sangat tergantung pada level kesalahan, bias dari data
ukuran, geometri satelit dan kecanggihan algoritma dari perangkat lunak yang
digunakan.

3. Pemrosesan double difference dengan ambiguity float


Pada pengolahan double difference ambiguity float parameter yang
diestimasi adalah koordinat non referensi dan parameter ambiguitas. Persamaan
double difference dalam satuan meter (Rizos, 1994).
(3.7)

4. Pemrosesan double difference dengan ambiguity fixed

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 31


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Pada pengolahan double difference ambiguity fixed persamaan yang


digunakan sama dengan pada pemrosesan double difference ambiguity float. Pada
pengolahan double difference ambiguity fixed parameter yang diestimasi adalah
koordinat non referensi dan semua parameter ambiguitas. Penyelesaian double
difference ambiguity fixed ini menghasilkan penyelesaian yang baik apabila nilai
integer ambiguitas diidentifikasikan secara jelas.
Pada gambar di atas proses penentuan baseline umumnya dimulai dengan
pemrosesan awal seperti pembersihan data dari outlier serta sinkronisasi data dari
kedua stasiun. Selanjutnya, satu stasiun dijadikan sebagai titik referensi yang
koordinatnya telah diketahui dari survei GPS atau dari hasil pengolahan baseline
sebelumnya. Koordinat pendekatan dari stasiun yang lainnya umumnya pertama
kali ditentukan dengan data pseudorange secara absolut. Koordinat stasiun
tersebut, dan dengan kata lain komponen baseline, selanjutnya diestimasi kembali
menggunakan data fase triple-difference (TD) dan pendeteksian dan
pengoreksiancycle slips. Solusi baseline pendekatan ini selanjutnya ditentukan
secara lebih teliti menggunakan data fase double-difference (DD), pertama dengan
ambiguitas fase bilangan real dan akhirnya dengan ambiguitas fase bilangan
integer hingga didapat solusi baseline final.

e. Perataan Jaring GPS


Prinsip dari perataan jaring adalah penyatuan dari vektor-vektor baseline yang
telah dihitung sebelumnya untuk diproses dalam suatu hitung perataan jaringan
(network adjustment).Hitung perataan jaringan dimaksudkan untuk mendapatkan
koordinat final dari titik-titik dalam jaringan GPS. Pada prinsipnya hitung perataan
jaringan akan berguna untuk:
a. Untuk menciptakan konsistensi pada data-data vektor baseline,
b. Untuk mendistribusikan kesalahan dengan cara yang merefleksikan ketelitian
pengukuran,
c. Untuk menganalisa kualitas dari baseline-baseline, serta
Untuk mengidentifikasi baseline-baseline serta titik-titik kontrol yang perlu
dilakukan pengukuran ulang. Perataan Jaring GPS umumnya dilakukan dalam 2 tahap
yaitu: perataan jaring bebas dan perataan jaring terikat Perataan Jaring Bebas dilakukan
dengan hanya menggunakan satu titik tetap dan dimaksudkan untuk mengecek

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 32


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

konsistensi data vektor baseline. Pada perataan jaring bebas, vektor-vektor baseline
diarahkan untuk membentuk suatu jaringan GPS yang optimal. Perataan jaring bebas
identik dengan metode minimum constraint dimana pendefinisian data acuan dilakukan
untuk mengatasi kekurangan rank Perataan Jaring Terikat dilakukan setelah vektor-
vektor baseline memenuhi syarat kontrol kualitas. Pada perataan ini semua titik tetap
digunakan. Pada prinsipnya fungsi perataan jaring terikat adalah untuk mengecek
konsistensi data ukuran baseline dengan titik-titik kontrol yang telah ada (suatu
mekanisme kontrol kualitas), serta untuk mengintegrasikan titik-titik dalam jaringan
baru ke jaringan yang telah ada (tingkat ketelitian lebih tinggi atau setidaknya sama)

f. Distribusi Titik kontrol dan Titik Ikat.


Ground Control Point (GCP) atau titik kontrol adalah titik lokasi yang diketahui
atau diidentifikasi dalam ruang nyata (di tanah), dan Ground Control Point (GCP)
digunakan untuk verifikasi posisi fitur peta. Ground Control Point (GCP) berfungsi
sebagai titik sekutu antara sistem koordinat peta dan sistem koordinat foto.
Independent Check Point (ICP) atau titik cek adalah sebagai kontrol kualitas dari
obyek dengan cara membandingkan koordinat model dengan koorsinat sebenarnya.
Ground Control Point (GCP) dan Independent Check Point (ICP) pada umumnya
dibuat menyebar dipinggiran foto dan diadakan sengan dua cara, yaitu (Harintaka,
2008) :
1. Pre-marking adalah mengadakan titik target sebelum pemotretan dilaksanakan.
2. Post-marking adalah mengidentifikasi obyek yang terdapat pada foto,
kemudian ditentukan koordinat petanya.
Tie point atau titik ikat adalah titik sekutu yang merupakan titik sekutu antar foto
yang saling bertampalan. Tie point selalu dibuat dengan cara post-marking, yaitu
menidentifikasi obyek yang sama pada daerah foto yang bertampalan. Akurasi dan
presisi adalah faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan Ground Control Point
(GCP) yang berkualitas.

8.3 Orthorektifikasi
Orthorektifikasi adalah proses koreksi geometrik citra satelit atau foto udara untuk
memperbaiki kesalahan geometrik citra yang bersumber dari pengaruh topografi, geometri

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 33


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

sensor dan kesalahan lainnya. Hasil dari orthorektifikasi adalah citra tegak (planar) yang
mempunyai skala seragam di seluruh bagian citra. Orthorektifikasi sangat penting untuk
dilakukan apabila citra akan digunakan untuk memetakan dan mengekstrak informasi
dimensi, seperti lokasi, jarak, panjang, luasan, dan volume.

Citra tegak merupakan citra) yang telah dikoreksi segala kesalahan geometriknya,
sebagai akibat dari mekanisme perekaman citra. Kesalahan geometrik citra dapat berasal
dari sumber internal satelit dan sensor (sensor miring/off nadir) ataupun sumber eksternal,
yang dalam hal ini adalah topografi permukaan bumi. Perekaman off nadir dan perbedaan
ketinggian berbagai obyek di permukaan bumi menyebabkan adanya kesalahan citra yang
disebut relief displacement. Relief displacement sendiri dapat didefinisikan sebagai
pergeseran posisi obyek dari tempat seharusnya, yang disebabkan oleh ketinggian obyek dan
kemiringan sensor citra

Gambar 3.9 Kesalahan Geometrik Pergeseran Relief


Proses orthorektifikasi dilakukan mengunakan tiga jenis informasi, yaitu informasi
orientasi internal dan eksternal sensor pada saat merekam, informasi elevasi permukaan
bumi, dan informasi koordinat obyek di bumi (Ground Control Points). Dalam
kenyataannya, informasi orientasi sensor pada saat perekaman tidak diberikan oleh vendor
citra, sebagai penggantinya vendor memberikan informasi simulasi orientasi sensor yang
disebut dengan RPC (Rational Polynomial Coefficient). Sedangkan informasi ketinggian
diperoleh dari digital elevation model (DEM). Adapun informasi koordinat obyek di bumi
diperoleh dari GPS. Agar orthorektifikasi dapat memberikan akurasi maksimal, DEM dan
GCP yang digunakan harus mempunyai akurasi yang baik. GCP dan DEM yang baik secara
akurasi dan resolusi biasanya diperoleh dari survey Differential GPS dan IFSAR/LIDAR.
Hasil orthorektifikasi berupa citra ortho/tegak yang mana seluruh kesalahan geometrik
sudah dihilangkan. Dengan demikian bisa diibaratkan citra ortho sudah seperti peta dan

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 34


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

dapat dimanfaatkan untuk menurunkan data spasial. Tahapan orthorektifikasi dapat di lihat
pada Gambar 3.10.

Gambar 3.10 Tahapan orthorektifikasi

BAB 4 JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

BAB 9 Tahapan Pelaksanaan Kegiatan


4.1.1. Tahapan Persiapan
a Tahap persiapan pembuatan titik GCP dan titik ICP

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 35


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Pekerjaan yang dilakukan pada tahapan persiapan adalah:


1. Penyiapan data citra dan DEM / DSM yang akan di orthorektifikasi
2. Pemeriksaan kesiapan alat yang akan digunakan
3. Penyiapan kesiapan personil yang akan dilibatkan
b Tahapan persiapan pembuatan unsur peta dasar
Tahapan persiapan mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Penyiapan personil dan peralatan yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan
sesuai dengan dokumen penawaran. Pemberi Kerja akan melakukan
pengecekan terhadap kesesuaian tim pelaksana dan peralatan yang akan digunakan
dalam pelaksanaan pekerjaan dengan dokumen penawaran.
2. Penyusunan rencana detail pelaksanaan pekerjaan sebagai acuan teknis dalam
pelaksanaan pekerjaan. Rencana detail pelaksanaan pekerjaan sekurang-kurangnya
mencakup:
a) Pendahuluan: latar belakang, maksud dan tujuan, volume pekerjaan, hasil
pekerjaan yang akan diserahkan
b) Pelaksanaan pekerjaan, meliputi:
1) Tahapan pelaksanaan pekerjaan yang dilengkapi dengan diagram alir dan
penjelasan rinci pada masing- masing tahapan pelaksanaan pekerjaan
2) Jadwal pelaksanaan rinci
3) Organisasi pelaksanaan dilengkapi dengan deskripsi kerja masing-masing
unit organisasi. Dalam hal Penyedia Jasa merupakan konsorsium harus
dilengkapi dengan deskripsi tugas dan tanggungjawab dari masing-masing
perusahaan anggota konsorsium
4) Susunan personil pelaksana dilengkapi dengan jadwal penugasan dan beban
kerja masing-masing personil pada setiap tahapan pekerjaan. Dalam hal
Penyedia Jasa merupakan konsorsium, maka perusahaan asal dari masing-
masing personil pelaksana harus dicantumkan
5) Peta indeks kerja dalam skala 1:5.000. Dalam hal Penyedia Jasa merupakan
konsorsium, maka wilayah kerja dari masing-masing konsorsium harus
disajikan
6) Mekanisme monitoring dan evaluasi di internal Penyedia Jasa untuk
menjamin kelancaran pelaksanaan pekerjaan. Kemajuan pekerjaan untuk
setiap NLP dan tahapan pekerjaan disajikan dalam suatu indeks kerja
7) Mekanisme kontrol kualitas internal (QC) Penyedia Jasa terhadap output
dari setiap tahapan pekerjaan dilengkapi dengan formulir QC yang akan
digunakan
c) Menguraikan sumber data yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan
d) Peralatan yang digunakan

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 36


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

e) Spesifikasi teknis yang harus dipenuhi bagi setiap output dari masing-masing
tahapan pekerjaan. Spesifikasi teknis wajib mengikuti apa yang tercantum
dalam KAK atau lebih baik
3. Pengumpulan data dasar dan data pendukung yang akan digunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan. Data yang diserahterimakan dari Pemberi Kerja wajib
dibuatkan berita acara serah terima data. Penyedia Jasa wajib untuk melakukan
pengecekan terhadap kondisi setiap data dan melaporkan kepada Pemberi Kerja
apabila dijumpai data yang rusak atau tidak memenuhi spesifikasi untuk digunakan
4. Penyedia Jasa wajib menandatangani pernyataan kesediaan (non disclosure
agreement) untuk tidak memberikan seluruh data-data yang digunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan ini maupun seluruh hasil pekerjaan kepada pihak lain tanpa
izin tertulis dari pemberi kerja
Melakukan penyiapan struktur folder sesuai dengan struktur yang diberikan dari
Pemberi Kerja. Termasuk di dalamnya melakukan replika geodatabase dari Pemberi
Kerja.

4.1.2. Perencanaan & Pengukuran GCP (Ground Control Point)


Ground Control Point adalah suatu titik kontrol lapangan yang mengarahkan citra pada
lokasi sebenarnya di lapangan dan digunakan sebagai input dalam proses orthorektifikasi.
Citra satelit resolusi tinggi yang diperoleh dari LAPAN belum dilakukan proses koreksi
geometrik orthorektifikasi atau penegakkan. Citra yang belum terkoreksi geometrik
orthorektifikasi memerlukan GCP atau titik kontrol lapangan. Selain itu, keperluan survei dan
pemetaan khususnya pekerjaan ini, diperlukan citra satelit resolusi tinggi yang telah
terkoreksi secara posisi dan relief topografinya.
GCP dihasilkan dari hasil pengukuran di lapangan menggunakan alat GPS Geodetik.
Persebaran titik GCP ini harus merata di seluruh wilayah dan disesuaikan dengan
topografi/reliefnya. Pelaksanaan pekerjaan perencanaan dan pengukuran GCP harus melalui
persetujuan pemberi pekerjaan, GCP yang diperlukan sebanyak 38 Titik dan ICP 20 Titik.

4.1.3. Orthorektifikasi Citra Satelit


Dalam konteks pelaksanaan kegiatan pembuatan unsur peta dasar yang umumnya
membutuhkan tingkat akurasi pada level pemetaan rupa bumi skala 1:5.000. Proses
orthorektifikasi dimaksudkan untuk menghasilkan citra satelit tegak yang terkoreksi secara
posisi dan relief topografinya. Oleh karena itu resolusi citra optis yang digunakan untuk
proses orthorektifikasi juga harus memenuhi standar pemetaan skala 1:5.000, namun level
data yang dapat diperoleh dari hasil orthorektifikasi hanya pada tingkatan 2 Dimensi.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 37


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Spesifikasi teknis yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan orthorektifikasi adalah


sebagai berikut:
a Input data berupa:
1. DEM (Digital Elevation Model). Data DEM disediakan oleh Pemberi Pekerjaan;
dan
2. Titik GCP yang diperoleh dari hasil pengukuran.
a) Pemrosesan menggunakan software pengolahan citra yang support dengan
orthorektifikasi.
b) Metode yang dipilih dalam proses orthorektifikasi adalah Least Square
Collocation (level akurasi yang dibutuhkan hingga sub-piksel).
c) Citra hasil proses orthorektifikasi harus memenuhi:
1) Resolusi spasial lebih baik atau sama dengan resolusi input citra; dan
2) Akurasi horisontal lebih baik atau sama dengan 0,3 mm x skala peta yang
akan dihasilkan. Yang dibuktikan dengan nilai ICP.

4.1.4. Digitasi Unsur Peta Dasar


Unsur peta dasar merupakan jenis informasi yang dapat digunakan sebagai kerangka
referensi analisis keruangan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Unsur peta
dasar yang harus dikompilasi dari citra hasil orthorektifikasi antara lain:
a Perairan (Hidrografi) sebagai representasi wilayah aliran perairan;
b Transportasi dan Utilitas sebagai representasi jaringan penghubung aktivitas dan
mobilitas buatan manusia;
c Bangunan (bangunan/persil/batas kapling) dan Fasilitas Umum sebagai representasi
obyek yang digunakan manusia dalam beraktivitas;
d Penutup Lahan sebagai representasi zonasi obyek rupabumi berdasarkan kriteria
klasifikasi jenis tutupan lahan; dan
e Batas Wilayah indikatif sebagai representasi pembagian wilayah administratif
secara politis.
Digitasi unsur peta dasar harus dilakukan pada semua detil objek yang memiliki ukuran
lebih besar dari 0,5mm x 0,5mm pada skala peta, atau ukuran 2,5m x 2,5m pada skala
1:5.000.
Unsur rupa bumi yang tidak dapat teridentifikasi dengan pasti pada tahapan pekerjaan
ini harus ditambahkan pada tahap pekerjaan survei kelengkapan lapangan.

4.1.5. Pembentukan Geodatabase


Semua objek yang dihasilkan pada proses digitasi, harus dikonversi ke dalam format
geodatabase dan dikelompokkan kedalam tema unsur peta dasar dimana setiap tema dapat
berupa titik, garis, atau area.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 38


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

4.1.6. Survei Kelengkapan Lapangan


Kegiatan survei kelengkapan lapangan dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
a Memperoleh batas wilayah administrasi indikatif dan pengesahannya dari aparat
pemerintahan setempat,
b Melakukan pengumpulan nama rupabumi,
c Cek Lapangan. Cek lapangan dilakukan dengan mengambil beberapa titik sampel
untuk dilakukan pengukuran GPS.
d Verifikasi penutup lahan dan unsur rupabumi lainnya. Baik untuk unsur yang tidak
teridentifikasi pada saat plotting, maupun untuk mendapatkan perhitungan kappa
indeks.
Unsur -unsur yang dilakukan uji lapangan antara lain meliputi batas administrasi,
nama-nama geografis, penutup lahan, dan batas persil/kapling.

4.1.7. Entri Data Lapangan Dan Penyelarasan Data


Kegiatan entry data lapangan merupakan kegiatan memasukkan dan mengolah seluruh
data yang telah didapatkan dari hasil survei lapangan dan toponim ke dalam atribut peta.
Proses entry data lapangan, hasil survei lapangan tersebut digabungkan untuk melengkapi
data yang dihasilkan dari tahapan digitasi unsur peta dasar.

4.1.8. Penyajian Peta


Penyajian peta harus memenuhi persyaratan berikut:
a Data yang telah bersih dari kesalahan disajikan secara kartografis sesuai dengan
spesifikasi rupabumi skala 1:5.000 yang telah ditetapkan;
b Penyajian peta rupabumi disajikan untuk tiap-tiap NLP;
c Hasil dari proses penyajian peta rupabumi pada akhirnya harus dicetak untuk
diserahkan pada penyerahan akhir.
d Metadata yang dibuat, menggunakan ISO 19139 yang merupakan implementasi
dari ISO 19115.
e Untuk NLP arah ke barat yang berbatasan yang mempunyai kode A1, A2, B3 dan
B4 harus ditampilkan penuh satu NLP.

4.1.9. Tahapan Pelaporan


Hal-hal yang harus dilaksanakan dalam tahapan pekerjaan ini adalah:
Laporan pelaksanaan pekerjaan terdiri dari:
a. Laporan Pendahuluan, mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Dokumen rencana detail pelaksanaan pekerjaan berikut lampiran-lampiran
terkait.
2. Persetujuan dokumen rencana detail pelaksanaan pekerjaan dari Tim Supervisi.
3. Hasil pemeriksaan personil pelaksana dan peralatan yang akan digunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan.
4. Bukti serah terima data dasar dari Pemberi Kerja.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 39


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

5. Laporan Pendahuluan diserahkan setelah tahap persiapan selesai dilaksanakan,


dalam format hardcopy sebanyak 2 (dua) set dan format digital (MS Office
Document) sebanyak 1 (satu) set.
b. Laporan Antara, mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Laporan Hasil GCP dan ICP
2. Laporan Hasil orthorektifikasi citra
c. Laporan Bulanan, mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Kemajuan pekerjaan yang telah dicapai pada bulan berjalan, disertai dengan
bukti-bukti
2. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pekerjaan.
3. Solusi dalam mengatasi kendala yang dijumpai.
4. Rencana pelaksanaan pekerjaan pada bulan berikutnya.
5. Kurva S.
6. Rekapitulasi laporan mingguan.
7. Persetujuan Tim Supervisi atas pencapaian hasil pekerjaan pada bulan
berjalan.
8. Laporan Bulanan diserahkan selambat-lambatnya pada tanggal 5 setiap bulan,
dalam format hardcopy sebanyak 2 (dua) set dan format digital (MS Office
Document) sebanyak 1(satu) set.
d. Laporan Akhir, mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Laporan lengkap pelaksanaan pekerjaan.
2. Album peta ukuran A0 yang berisi seluruh area untuk masing-masing lembar
terdiri dari unsur-unsur:
a) Transfortasi dan utilitas
b) Penutup lahan
c) Perairan dan garis pantai
d) Nama rupa bumi (toponim)
e) Batas wilayah (indikatif)
f) Mosaik orthoimage
Pada setiap lembar dilengkapi unsur-unsur batas wilayah (provinsi dan
kabupaten/kota, nama wilayah administrasi (provinsi dan kabupaten/kota), sungai
utama, transportasi (jalan nasional) dan indeks NLP untuk keperluan orientasi.
Data-data hasil pekerjaan dalam format digital tersimpan dalam hardisk dan
dilengkapi dengan cheklist daftar data yang tersimpan (daftar isi harddisk atau
struktur folder) sesuai dengan Petunjuk Pembuatan Struktur Folder dan Penamaan
File.
e. Pelaksanaan tahapan pelaporan harus mengacu kepada dokumen petunjuk pelaksaan
kegiatan

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 40


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

BAB 10 Rencana Kerja


Waktu penyelesaian Pembuatan GCP, Orthorektifikasi Citra dan Peta Dasar Kawasan
Rambatan, Paringan, Salimpaung dan Sungai Tarab adalah 180 (seratus delapan puluh) hari
kalender. Dalam waktu yang tersedia tersebut konsultan diharapkan mampu melaksanakan
dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan ketentuan dalam KAK dengan waktu yang telah
ditentukan. Seperti ketentuan dalam Rencana Kerja dan Syarat, Konsultan diwajibkan
membuat jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan disamping untuk panduan pelaksanaan dan
ketetapan waktu penyelesaian serta kelancaran tugas maka team konsultan akan selalu
melakukan kerja sama antar staf secara kontinyu, melakukan diskusi/konsultasi dengan
Pemberi Tugas dan instansi terkait lainnya, dan berdasar identifikasi pekerjaan utama tersebut
diatas, konsultan akan menyusun jadwal waktu pelaksanaan Pekerjaan diperlihatkan pada
tabel 4.1.

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 41


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Gambar 4. 1Tahapan kegiatan

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 42


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

Tabel 4.2. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

Waktu
No Uraian
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Tahap Persiapan

2 Perencanaan dan Pengukuran GCP

3 Orthorektifikasi Citra Satelit

4 Digitasi Unsur Peta Dasar

5 Pembentukan Geodatabase

6 Survei Kelengkapan Lapangan

7 Entry Data Lapangan, Penyelarasan Data


dan Penyajian Peta
8 Pelaporan

a. Laporan Pendahuluan

b. Laporan Antara

c. Laporan Akhir

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 43


PEKERJAAN PEMBUATAN GCP, ORTHOREKTIFIKASI CITRA DAN
LAPORAN
PETA DASAR KAWASAN RAMBATAN, PARINGAN, SALIMPAUNG DAN
PENDAHULUAN SUNGAI TARAB

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, H.Z. 2007. Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya. Jakarta : PT Pradnya
Paramita
Adiyanto, F.H., Abidin, H.Z., Subarya, C., Muslim, B., Meilano, I., Andreas, H. dan
Gumilar, I. 2010.The Applications of GPS CORS in Indonesia: Status, Prospectand
Limitation. FIG Congress 2010 14 : 1-14
BPS Kabupaten Tanah Datar. 2015, Kabupaten Tanah Datar Dalam Angka 2015. Tanah
Datar: BPS
BPS Kecamatan Batipuh. 2015, Kecamatan Batipuh Dalam Angka 2015. Kecamatan
Batipuh: BPS
BPS Kecamatan Sepuluh Koto. 2015, Kecamatan Sepuluh Koto Dalam Angka 2015.
Kecamatan Sepuluh Koto: BPS
BPS Provinsi Sumatera Barat. 2015. Sumatera Barat Dalam Angka 2015. Sumatera Barat:
BPS
Prahasta, E. 2002. Sistem Informasi Geografis. Bandung: CV. Informatika
Prihandito, A. 2010. Proyeksi Peta. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

PT HASANAH SURVEYOR RAYA 2