Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

Penerangan dan Dekorasi dalam Bekerja

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Ergonomi dan Faal Kerja Kelas C

Dosen Pengampu Mata Kuliah :


Reny Indrayani, S.KM, M.KKK

disusun oleh :

Naurah Nazhifah 152110101091


Feri Subarianto 152110101097
Maya Indriyana Dewi 152110101098
Lita Puji Lestari 152110101112

Fakultas Kesehatan Masyarakat


Universitas Jember
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami atas kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini berjudul Penerangan dan Dekorasi dalam Bekerja. Makalah ini berisikan
tentang definisi penerangan, sebab yang ditimbulkan dan pencegahan terhadap kesilauan
padsa pekerja serta dekorasi dalam bekerja.
Ucapan terimakasih tidak lupa kami sampaikan kepada:
1. Dosen Pengampu mata kuliah Ergonomi dan Faal Kerja Ibu Reny Indrayani, S.KM,
M.KKK,
2. Orang tua yang selalu memberikan semangat dan motivasi,
3. Semua anggota kelompok yang telah bekerjasama dengan baik.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami mohon maaf apabila ada kesalahannya. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Jember, 15 Mei 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 3
2.1 Definisi Penerangan Dalam Bekerja ............................................................................................. 3
2.1.1 Sumber sumber Pencahayaan.............................................................................................. 4
2.2 Sistem Penerangan di Tempat Kerja ............................................................................................. 8
2.2.1 Tingkat Pencahayaan di Tempat Kerja ................................................................................ 10
2.3 Dampak Dari Penerangan yang Kurang baik di Tempat Kerja................................................... 12
2.3.1 Penyakit Akibat Pencahayaan yang Buruk di Tempat Kerja ............................................... 13
2.4 Pengendalian Penerangan di Tempat Kerja ................................................................................ 18
2.5 Definisi Dekorasi di Tempat Kerja ............................................................................................. 18
2.5.1 Prinsip prinsip Dalam Dekorasi di Tempat Kerja ............................................................. 19
2.5.2 Tujuan Dekorasi di Tempat Kerja ........................................................................................ 21
2.6 Pengaruh Dekorasi di Tempat Kerja Terhadap Kinerja .............................................................. 23
BAB III PENUTUP ............................................................................................................................. 24
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................................. 24
3.2 Saran ........................................................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 25

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap hari manusia terlibat pada suatu kondisi lingkungan kerja yang berbeda-
beda dimana perbedaan kondisi tersebut sangat mempengaruhi terhadap
kemampuan manusia. Manusia akan mampu melaksanakan kegiatannya dengan
baik dan mencapai hasil yang optimal apabila lingkungan kerjanya mendukung.
Manusia akan mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik apabila ditunjang
oleh lingkungan kerja yang baik. Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan
sebagai lingkungan kerja yang baik apabila manusia bisa melaksanakan
kegiatannya dengan optimal dengan sehat, aman dan selamat. Ketidakberesan
lingkungan kerja dapat terlihat akibatnya dalam waktu yang lama. Lebih jauh lagi
keadaan lingkungan yang kurang baik dapat menuntut tenaga dan waktu yang
lebih banyak yang tentunya tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem
kerja yang efisien dan produktif.

Lingkungan kerja yang nyaman sangat dibutuhkan oleh pekerja untuk dapat
bekerja secara optimal dan produktif, oleh karena itu lingkungan kerja harus
ditangani dan atau di desain sedemikian sehingga menjadi kondusif terhadap
pekerja untuk melaksanakan kegiatan dalam suasana yang aman dan nyaman.
Evaluasi lingkungan dilakukan dengan cara pengukuran kondisi tempat kerja dan
mengetahui respon pekerja terhadap paparan lingkungan kerja.

Lingkungan kerja yang baik dan sesuai dengan kondisi manusia (pekerja) tentu
saja akan memberikan pengaruh yang besar terhadap pekerja itu sendiri dan tentu
saja terhadap produktivitas kerja yang dihasilkan. faktor lingkungan kerja seperti
kebisingan, temperatur, getaran dan pencahayaan merupakan suatu masalah yang
harus ditangani secara serius dan berkesinambungan. Suara yang bising,
temperatur yang panas getaran dan pencahayaan yang kurang di dalam tempat
kerja merupakan salah satu sumber yang mengakibatkan tekanan kerja dan
penurunan produktivitas kerja.

1
1.2 Rumusan Masalah

1) Apakah definisi dari penerangan di tempat kerja?

2) Apa saja yang menjadi sumber sumber penerangan?

3) Apasaja macam macam sistem dan tingkat pencahayaan di tempat kerja?

4) Apakah dampak dari penerangan yang kurang baik di tempat kerja?

5) Bagaimana pengendalian penerangan di tempat kerja

6) Apakah definisi dekorasi dalam bekerja?

7) Apa saja prinsip prinsip dalam dekorasi di tempat kerja?

8) Apakah tujuan dari dekorasi di tempat kerja

9) Apakah pengaruh dekorasi di tempat kerja terhadap kinerja?

1.3 Tujuan

1) Mengetahui definisi dari penerangan di tempat kerja

2) Mengetahui sumber sumber penerangan di tempat kerja

3) Mengetahui macam macam sistem dan tingkat pencahayaan di tempat


kerja

4) Mengetahui dampak dari penerangan yang kurang baiki di tempat kierja

5) Mengetahui cara pengendalian penerangan di tempat kerja

6) Memahami pengertian dari dekorasi di tempat kerja

7) Mengetahui prinsip prinsip dekorasi dalam tempat kerja

8) Memehami tujuan dari dekorasi di tempat kerja

9) Mengetahui pengaruh dekorasi kerja terhadap kinerja

2
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Penerangan Dalam Bekerja


Penerangan atau cahaya yang cukup merupakan pertimbangan yang penting
dalam fasilitas fisik kantor. Lebih-lebih dalam gedung yang luas dan kurang
jendalanya, cahaya alam itu tidak dapat menembus sepenuhnya, karena itu sering
dipergunakan cahaya lampu untuk mengatur penerangan dalam kantor.
Pencahayaan yang tidak memadai akan menyebabkan kelelahan pada otot dan
saraf mata yang berlanjut pada kelelahan lokal mata dan akhirnya kelelahan
keseluruhan fisiologis pada seorang pekerja. Kelelahan yang timbul kemudian
akan mengakibatkan turunnya konsentrasi kerja, meningkatkan tingkat kesalahan
dalam bekerja yang berujung pada tingginya cacat produksi. Hal-hal ini yang
kemudian menyumbang peran untuk menurunkan produktivitas pekerja secara
individual maupun perusahaan secara keseluruhan.
Penerangan di tempat kerja adalah salah satu sumber cahaya yang menerangi
benda-benda ditempat kerja. Penerangan dapat berasal dari cahaya alami dan
cahaya buatan, banyak obyek kerja beserta benda atau alat dan kondisi disekitar
yang perlu dilihat oleh tenaga kerja, hal ini penting untuk menghindari kecelakaan
yang mungkin terjadi, selain itu penerangan yang memadai memberikan kesan
pemandangan yang lebih baik dan keadaan lingkungan yang menyegarkan.
Pencahayaan yang kurang memadai merupakan beban tambahan bagi pekerja,
sehingga dapat menimbulkan gangguan performance (penampilan) kerja yang
akhirnya dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan kerja.
Hal ini sangat erat kaitannya dan mutlak harus ada karena berhubungan
denganfungsi indera penglihatan, yang dapat mempengaruhi produktifitas bagi
tenagakerja. Berdasarkan baku mutu lingkungan kerja, standar pencahayaan
untuk ruangan yang dipakai untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan
ketelitian adalah 500 - 1000 Lux.

3
Tujuan pencahayaan :
a. Memberi kenyamanan dan efisiensi dalam melaksanakan pekerjaan.
b. Memberi lingkungan kerja yang aman.

2.1.1 Sumber sumber Pencahayaan


Menurut sumbernya, pencahayaan dapat dibagi menjadi Sukini dalam
Setiawan (2012) :
1. Pencahayaan Alami
Pencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang berasal dari sinar
matahari. Sinar alami mempunyai banyak keuntungan, selain menghemat energi
listrik juga dapat membunuh kuman. Untuk mendapatkan pencahayaan alami pada
suatu ruang diperlukan jendela-jendela yang besar ataupun dinding kaca sekurang-
kurangnya 1/6 daripada luas lantai. Pencahayaan alam diperoleh dengan
masuknya sinar matahari kedalam ruangan melalui jendela, celah-celah dan
bagian bangunan yang terbuka. Sinar ini sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan,
pohon-pohon maupun tembok pagar yang tinggi.
Agar dapat menggunakan cahaya alami secara efektif, perlu dikenali
ke beberapa sumber cahaya utama yang dapat dimanfaatkan :

1. Sunlight, cahaya matahari langsung dan tingkat cahayanya tinggi.


2. Daylight, cahaya matahari yang sudah tersebar dilangit dan tingkat
cahayanya rendah.
3. Reflected light, cahaya matahari yang sudah dipantulkan.

Keuntungan pencahayaan alami :


a. Bersifat alami, tersedia melimpah dan terbaharui,
b. Tidak memerlukan biaya dalam penggunaannya,
c. Cahaya alam sangat baik dilihat dari sudut kesehatan karena
memiliki daya panas dan kimiawi yang diperlukan bagi makluk
hidup di bumi,
d. Cahaya alam dapat memberikan kesan lingkungan yang berbeda,
bahkan kadang-kadang sangat memuaskan.

4
Kelemahan pencahayaan alami :
a. Cahaya alam sulit dikendalikan, kondisinya selalu berubah karena
dipengaruhi oleh waktu dan cuaca,
b. Cahaya alam pada malam hari tidak tersedia,
c. Sinar ultra violet dari cahaya alam mudah merusak benda-benda di
dalam ruang.
d. Perlengkapan untuk melindungi dari panas dan silau membutuhkan
biaya tambahan yang cukup tinggi.
Berikut ini adalah lima strategi dalam merancang untuk
pencahayaan matahari efektif (Egan & Olgyay, 1983):

1) Naungan (shade), naungi bukan pada bangunan untuk mencegah


silau (glare) dan panas yang berlebihan karena terkena cahaya
langsung.
2) Pengalihan (redirect), alihkan dan arahkan cahaya matahari
ketempat-tempat yang diperlukan. Pembagian cahaya yang cukup
dan sesuai dengan kebutuhan adalah inti dari pencahayaan yang
baik.
3) Pengendalian (control), kendalikan jumlah cahaya yang masuk
kedalam runag sesuai dengan kebutuhan dan pada waktu yang
diinginkan. Jangan terlalu banyak memasukkan cahaya ke dalam
ruang, terkecuali jika kondisi untuk visual tidaklah penting atau
ruangan tersebut memang membutuhkan kelebihan suhu dan
cahaya tersebut (contoh : rumah kaca).
4) Efisiensi, gunakan cahaya secara efisien, denag membentuk ruang
dalam sedemikian rupa sehingga terintegrasi dengan pencahayaan
dan menggunakan material yang dapat disalurkan dengan lebih
baik dan dapat mengurangi jumlah cahaya masuk yang diperlukan.
5) Intefrasi, integrasikan bentuk pencahayaan dengan arsitektur
bangunan tersebut. Karena jika bukan untuk masuk cahaya
matahari tidak mengisi sebuah peranan dalam arsitektur bangunan

5
tersebut, nukan itu cenderung akan ditutupi dengan tirai atau
penutup lainnya dan akan kehilangan fungsinya.

Syarat-syarat untuk merancang pencahayaan dengan baik tidak


cukup hanya memperhatikan strategi-strategi diatas saja, tapi
perhatikan dari mulai skala yang lebih besar yaitu dengan
memperhatikan rancangan bangunan, baru kemudian mengarah ke
skala yang lebih kecil seperti elemen dari bangunan tersebut.

Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pengaturan


Pencahayaan Alami:

1) Menyesuaikan lebar jendela yang akan digunakan dengan lebar


ruangan, agar cahaya yang diserap tidak terlalu banyak ataupun
sedikit.
2) Menghindari peletakan jendela di sisi barat dan timur. Hal ini
dikarenakan Indonesia terletak pada kawasan tropis, dimana sinar
matahari dapat menjadi terlalu terang dan terlalu panas.
3) Bila memang terpaksa membuat jendela yang menghadap ke sisi
tersebut (arah matahari), sebaiknya diberikan pembatas atau filter
seperti kisi-kisi, pepohonan, ataupun overhang.
4) Untuk penggunaan skylight, pastikan bahwa skylight tersebut tidak
memiliki celah yang memungkinkan masuknya air hujan.

2. Pencahayaan Buatan

Pencahayaan buatan adalah pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber


cahaya selain cahaya alami. Pencahayaan buatan sangat diperlukan apabila posisi
ruangan sulit dicapai oleh pencahayaan alami atau saat pencahayaan alami tidak
mencukupi.
Sumber pencahayaan buatan yang terbagi atas :
a. General lighting adalah penerangan umum yaitu penerangan yang
dibutuhkan untuk menerangi suatu tempat atau ruangan tersebut

6
b. Localized general lighting
c. Local lighting atau penerangan lokal, yaitu, penerangan pada tempat
kerja dimana untuk menerangi obyek pekerjaan.
Keuntungan menggunakan pencahayaan buatan:
a. Cahaya buatan dapat dikendalikan, dalam arti bahwa kekuatan
pencahayaan yang dihasilkan dari lampu dapat diatur sesuai dengan
kebutuhan,
b. Cahaya buatan tidak dipengaruhi oleh kondisi alam,
c. Arah jatuhnya cahaya dapat diatur, sehingga tidak menimbulkan
silau bagi pekerja.

Kelemahan penggunaan pencahayaan buatan:

a. Cahaya buatan memerlukan biaya yang relatif besar karena


dipengaruhi oleh sumber tenaga listrik,
b. Cahaya buatan kurang baik bagi kesehatan manusia jika digunakan
terus menerus di ruang tertutup tanpa dukungan cahaya alami.

Pengaturan Pencahayaan Buatan juga memerlukan perhatian.


Bahkan ekstra perhatian. Hal ini dikarenakan pencahayaan ini bergantung
kepada energi buatan. Berikut syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam
pengaturan Artificial Lighting:

1) Pemilihan penggunaan lampu sesuai dengan kegiatan yang terjadi


didalam ruang. Setiap jenis aktivitas memiliki kebutuhan intensitas
cahaya yang berbeda. Sebagai contoh pencahayaan pada kamar
tidur sebaiknya tidak terlalu terang dan silau, agar memberikan
efek nyaman pada saat beristirahat. Sebaliknya, ruang dengan
aktivitas yang tinggi seperti ruang kelas membutuhkan
pencahayaan yang cukup terang, sehingga mampu mengakomodir
indra visual pengguna ruangnya secara optimal.

7
2) Pengaturan posisi peletakan cahaya buatan dengan baik, agar
menghasilkan cahaya atau sinar yang tepat guna. Yaitu ketika
posisi jatuh cahaya sesuai kebutuhan maupun keinginan.
3) Berdasarkan jenisnya, lampu terdiri dari beberapa tipe dengan
kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebaiknya, sebelum
melakukan pemilihan jenis lampu, kenali terlebih dahulu jenis-
jenis lampu yang akan dipergunakan agar sesuai dengan kebutuhan
secara optimal dan mengefisienkan biaya yang dikeluarkan.
4) Pemilihan warna lampu juga perlu disesuaikan dengan fungsi
penerangan dan fungsi ruangan itu sendiri. Jika nilai estetika
dengan permainan tema yang ingin ditonjolkan, maka dapat
menggunakan warna-warna unik sepeti biru atau ungu.

2.2 Sistem Penerangan di Tempat Kerja


Badru Munir (2007) dalam Setiawan (2012) menjelaskan, bahwa ada 4 jenis
pencahayaan yang di gunakan di kantor, antara lain:

1. Ambient lighting, yang digunakan untuk memberikan pencahayaan


keseluruh ruangan dan biasanya dipasang pada langit-langit ruang kantor.
Biasanya lampu jenis ini merupakan satu-satunya pencahayaan di ruangan
tersebut.

2. Task lighting, yang digunakan untuk menerangi area kerja seorang


pegawai, misalnya meja kerja. Meskipun menawarkan lebih banyak kontrol
bagi pegawai, namun jenis cahaya ini jarng digunakan pada kaentor-kantor di
Indonesia karena alasan kepraktisan. Agar pencahayaan baik maka disarankan
agar jenis ini dapat dikombinasikan dengn ambient lighting, sehingga
pekerjaan yang tidak terlalau membutuhkan tinggat penerangan tinggi cukup
menggunakannya; sedangkan pekerjaa yang mmbutuhkan tingkat ketelitian
tinggi akan menggunakan task lighting.

3. Accent lighting, yang digunakan untuk memberikan cahaya pada area


yang dituju. Biasanya jenis lampu ini dirancang pada lorong sebuah kantor

8
atau area lain yang membutuhkan penerangan sehingga pegawai atau
pengunjung tidak tersesat.

4. Natural lighting, biasanya berasal dari jendela, pintu kaca, dinding, serta
cahaya lanit. Jenis cahaya ini akan memberikan dampak positif bagi
pebagawai, namun cahaya ini tidak selalu tersedia apabila langit dalam
keadaan mendug atau gelap.

Menurut Prabu dalam Sabir (2013), ada 5 sistem pencahayaan di ruangan,


yaitu:

1. Sistem pencahayaan langsung (direct lighting)


Pada sistem ini 90%-100% cahaya diarahkan secara langsung ke benda
yang perlu diterangi. Sistem ini dinilai paling efektif dalam mengatur
pencahayaan, tetapi ada kelemahannya karena dapat menimbulkan bahaya
serta kesilauan yang mengganggu, baik karena penyinaran langsung maupun
karena pantulan cahaya. Untuk efek yang optimal, disarankan langi-langit,
dinding serta benda yang ada di dalam ruangan perlu diberi warna cerah agar
tampak menyegarkan.

2. Pencahayaan semi langsung (semi direct lighting)


Pada sistem ini 60%-90% cahaya diarahkan langsung pada benda yang
perlu diterangi, sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding.
Dengan sistem ini kelemahan sistem pencahayaan langsung dapat dikurangi.
Diketahui bahwa langit-langit dan dinding yang diplester putih memiliki
pemantulan 90%, apabila dicat putih pemantulan antara 5%-90%.

3. Sistem pencahayaan difus (general diffuse lighting)


Pada sistem ini setengah cahaya 40%-60% diarahkan pada benda yang
perlu disinari, sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding.
Dalam pencahayaan sistem ini termasuk sistem direct-indirectyakni
memancarkan setengah cahaya ke bawah dan sisanya keatas. Pada sistem ini
masalah bayangan dan kesilauan masih ditemui.

9
4. Sistem pencahayaan semi tidak langsung (semi indirect lighting)
Pada sistem ini 60%-90% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding
bagian atas, sedangkan sisanya diarahkan ke bagian bawah. Untuk hasil yang
optimal disarankan langit-langit perlu diberikan perhatian serta dirawat
dengan baik. Pada sistem ini masalah bayangan praktis tidak ada serta
kesilauan dapat dikurangi.

5. Sistem pencahayaan tidak langsung (indirect lighting)


Pada sistem ini 90%-100% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding
bagian atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan. Agar
seluruh langit-langit dapat menjadi sumber cahaya, perlu diberikan perhatian
dan pemeliharaan yang baik. Keuntungan sistem ini adalah tidak
menimbulkan bayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya mengurangi
efisien cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja

2.2.1 Tingkat Pencahayaan di Tempat Kerja


Tingkat pencahayaan atau penerangan pada-tiap tiap pekerjaan berbeda
tergantung sifat dan jenis pekerjaannya. Sebagai contoh gudang memerlukan
intensitas penerangan yang lebih rendah dan tempat kerja administrasi, dimana
diperlukan ketelitian yang lebih tinggi. Banyak faktor risiko di lingkungan kerja
yang mempengaruhi keselamatan dan kesehatan pekerja salah satunya adalah
pencahayaan.

Tabel Intensitas cahaya di ruang kerja

Jenis Kegiatan Tingkat Keterangan


Pencahayaan
Minimal (lux)
Pekerjaan kasar 100 Ruang penyimpanan dan peralatan atau instalasi
dan tidak terus- yang memerlukan pekerjaan kontinyu
menerus

10
Pekerjaan kasar 200 Pekerjaan dengan mesin dan perakitan kasar
dan terus-
menerus
Pekerjaan rutin 300 Ruang administrasi, ruang kontrol, pekerjaan
mesin dan perakitan
Pekerjaan agak 500 Pembuatan gambar atau bekerja dengan mesin
halus kantor, pemeriksaan atau pekerjaan dengan mesin
Pekerjaan halus 1000 Pemilihan warna, pemrosesan tekstil, pekerjaan
mesin halus dan perakitan halus
Pekerjaan sangat 1500 tidak Mengukir dengan tangan, pemeriksaan pekerjaan
halus menimbulkan mesin, dan perakitan yang sangat halus
bayangan
Pekerjaan terinci 3000 Pemeriksaan pekerjaan, perakitan sangat halus
tidak menimbulkan
bayangan

Tingkat penerangan di tempat kerja dibedakan menjadi dua, yaitu :

a. Tingkat Penerangan Kurang.


Apabila cahaya yang dipancarkan atau dipantulkan obyek kerja dan masuk
ke retina mata tenaga kerja tersebut sangat kurang maka impuls yang terjadi pada
ujung-ujung serabut sel saraf retina akan sangat lemah.Hal ini akan menyebabkan
obyek kerja tersebut terlihat kurang jelas, pada hal obyek kerja tersebut harus
dilihat dengan jelas oleh tenaga kerja karena harus dikerjakannya, maka mata
tenaga kerja akan mengadakan berbagai upaya yaitu dengan membelalakan mata
atau dengan lebih mendekatkan matanya terhadap obyek kerja.

Pada waktu mata membelalak, maka otot dilatator pada iris berkontraksi
sehingga pupil melebar untuk memperbanyak jumlah cahaya yang jatuh ke retina,
dan jika tenaga kerja lebih mendekatkan matanya terhadap obyek kerja untuk
memperjelas bayangan obyek tersebut pada retina, ini berarti akomodasi lensa

11
mata lebih dipaksakan. Jika hal ini terjadi agak lama dan terus menerus maka
akan terjadi kelelahan mata yang ditandai dengan adanya penglihatan kabur dan
rangkap, mata merah berair dan perasaan pegal-pegal di sekitar mata.

b. Tingkat Penerangan Berlebihan.


Kemampuan retina mata menerima cahaya adalah terbatas, maka apabila
cahaya baik yang langsung dari sumbernya maupun yang dipantulkan obyek kerja
dan masuk ke retina tenaga kerja sangat berlebihan sehingga melampaui batas
kemampuannya maka akan timbul kesilauan. Ini akan menyebabkan mata tenaga
kerja melakukan upaya yaitu dengan- berkontraksinya otot spincter pada iris
sehingga celah pupil mengecil untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk dan
jatuh pada retina. Selain itu cahaya yang sangat berlebihan yang jatuh pada retina
mata akan menimbulkan impuls pada ujung-ujung serabut sel saraf pada retina
yang akan merangsang saraf optik yang terlalu besar sehingga dapat merusak sel-
sel saraf pada retina tersebut, yaitu terlepas dari sklera. Oleh sebab itu terjadinya
kesilauan mata akan dapat menyebabkan kelelahan mata berupa mata memerah,
pandangan gelap dan kabur serta kerusakan pada retina yang pada akhimya dapat
menimbulkan kebutaan.Kita tahu bahwa tiap benda yang menangkap cahaya dan
menyerapnya maka cahaya yang diserap tersebut akan diubah nenjadi kalor
(panas). Demikian juga jika sejumlah cahaya mengenai mata maka sebagian
cahaya tersebut akan diserap dan diubah menjadi kalor sehingga permukaan mata
akan semakin panas. Apabila timbulnya kalor ini terlalu banyak maka mata akan
semakin panas dan mengadakan reaksi dengan mengeluarkan air mata. Hal ini
jelas akan mengganggu pandangan mata. Selain itu panas yang tinggi pada mata
dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ mata berupa keratitis dan
konjunctifitis thermis.

2.3 Dampak Dari Penerangan yang Kurang baik di Tempat Kerja


Penerangan yang tidak baik akan menyebabkan tenaga kerja mengalami
kesulitan dalam melihat obyek yang dikerjakannya dengan jelas. Hal ini selain
akan menyebabkan tenaga kerja lamban dalam melaksanakan pekerjaanya juga

12
akan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Selain itu
penerangan di tempat kerja yang kurang baik akan menyebabkan tenaga kerja
mengeluarkan upaya yang berlebihan dari indera penglihatannya, misalnya
dengan lebih mendekatkan indera penglihatannya terhadap obyek yang
dikerjakannya, ini berarti akomodasi lebih dipaksakan.
Hal ini akan dapat lebih memudahkan timbulnya kelelahan mata yang
ditandai dengan terjadinya penglihatan rangkap dan kabur, mata berair dan
disertai perasaan sakit kepala disekitar mata. Selain itu kelelahan mata yang
berlangsung agak lama akan dapat menimbulkan terjadinya kelelahan mental yang
ditandai dengan gejala-gejalanya meliputi sakit kepala dan penurunan intelektual,
daya konsenrrasi dan kecepatan berfikir. Lebih lanjut semua itu akan dapat
menyebabkan kerusakan pada indra penglihatan yang lebih parah.
Penerangan yang tidak didesain dengan baik akan menimbulkan gangguan
atau kelelahan penglihatan selama kerja. Pengaruh dan penerangan yang kurang
memenuhi syarat akan mengakibatkan dampak, yaitu:

1. Kelelahan mata sehingga berkurangnya daya dan effisiensi kerja.


2. Kelelahan mental, fisik dan psikologis.
3. Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala di sekitar mata.
4. Kerusakan indra mata dan lain-lain.

Selanjutnya pengaruh kelelahan pada mata tersebut akan bermuara kepada


penurunan performa kerja, antara lain : Kehilangan produktivitas ,kualitas kerja
rendah,vcbanyak terjadi kesalahan dalam bekerja, kecelakan dan penyakit akibat
kerja meningkat.

2.3.1 Penyakit Akibat Pencahayaan yang Buruk di Tempat Kerja


Pencahayaan yang tidak didesain dengan baik akan menimbulkan gangguan
atau kelelahan penglihatan selama kerja. Menurut Zaenab (2012) pengaruh
pencahayaan yang kurang memenuhi syarat akan mengakibatkan kelelahan mata
sehingga berkurangnya daya dan efisiensi kerja, kelelahan mental, keluhan pegal
di daerah mata dan sakit kepala di sekitar mata dan kerusakan indra

13
mata. Selanjutnya pengaruh kelelahan pada mata tersebut akan bermuara kepada
penurunan performansi kerja, termasuk kehilangan produktivitas, kualitas kerja
rendah, banyak terjadi kesalahan dan kecelakan kerja meningkat.
Pemakaian komputer dewasa ini semakin luas di segala bidang, baik di
perkantoran maupun di kehidupan pribadi seseorang. Namun, pemakaian
komputer secara berlebihan akan meningkatkan resiko gangguan
kerja. Lamanya penggunaan komputer dianjurkan tidak lebih dari 4
jam sehari apabila melebihi waktu tersebut, mata cenderung mengalami kelelahan.
Kelelahan mata meningkat apabila kualitas dan kuantitas pecahayaan di ruang
kerja tersebut kurang baik (Maryamah, 2011).
Salah satu contoh yang sering terjadi di masyarakat khususnya di tempat
kerja terkait pencahayaan adalah pencahayaan pada layar monitor atau pekerjaan
yang selalu berhadapan langsung dengan komputer setiap hari. Salah satu
penyakit yang diakibatkan oleh pencahayaan yang buruk pada pengguna komputer
adalah gangguan penglihatan atau computer vision syndrome (CVS) atau dikenal
dengan sindrom penglihatan komputer.

1. Computer Vision Syndrome (CVS)


CVS merupakan sindroma gangguan mata akibat penggunaan komputer dalam
jangka waktu yang lama. Selain itu CVS didefinisikan juga sebagai suatu kondisi
sementara akibat memfokuskan mata pada layar komputer untuk berlarut-larut,
tanpa gangguan dari periode waktu. CVS terjadi 64% sampai 90% dari pekerja
kantor. Gangguan ini sangat mungkin tidak menyebabkan kerusakan mata
permanen. Tetapi, dapat mempengaruhi kenyamanan pengguna komputer
Izquerdo, (2010) dalam Azkadina (2012).
Menurut penelitian yang dilakukan Kusumawaty, dkk pada tahun 2012 pada
karyawan BNI Kota Makassar menyatakan bahwa makinlama penggunaan
komputer dengan pencahayaan yang buruk maka makin berat gejala CVS yang
terjadi. Selain itu Saputro, 2013 dalam penelitian terhadap karyawan BPS (Badan
Pusat Statistik) Provinsi Jawa Tengah menyatakan bahwa ada hubungan antara
intensitas pencahayaan ruang, intensitas pencahayaan lokal, jarang pandang dan

14
durasi penggunaan komputer terhadap kejadiab CVS dengan masing-masing
value < 0,005.

2. Gejala CVS
Menurut Affandi, 2005 terdapat beberapa gejala yang terjadi pada seseorang yang
menderita CVS, antara lain:
a. Mata tegang
Mata tegang adalah salah satu istilah kabur yang memiliki arti yang berbeda-
beda bagi banyak orang. Istilah yang dipakai oleh spesialis mata untuk mata
tegang adalah asthenopia, istilah itu sendiri adalah istilah yang kabur. Di dalam
lingkungan pemakaian komputer, mata tegang dapat disebabkan oleh kondisi
lingkungan dan penglihatan yang berbeda-beda.

b. Sakit kepala
Sakit kepala adalah keluhan tidak nyaman lainnya dan keluhan itu sering
menjadi sebab utama mengapa orang menjalani pemeriksaan mata. Para pengguna
komputer lebih besar kemungkinannya mengalami sakit kepala jenis otot tegang.

c. Penglihatan kabur
Tajam penglihatan adalah kemampuan untuk membedakan antara dua titik
yang berbeda pada jarak tertentu. Bila pandangan diarahkan ke suatu titik yang
jaraknya < 6 meter, mekanisme pemfokusan mata untuk menambah kekuatan
fokus mata dan mendapatkan bayangan yang jelas di retina harus diaktifkan.
Kemampuan mata untuk merubah daya fokusnya disebut akomodasi, yang
berubah tergantungusia. Suatu bayangan yang tidak tepat terfokus di retina
akankelihatan kabur.

d. Mata kering dan mengalami iritasi


Permukaan depan mata diliputi oleh suatu jaringan yang mengandung
kelenjar yang menghasilkan air, mukus dan minyak. Ketiga lapisan itu disebut air
mata yang membatasi permukaan mata dan mempertahankan kelembaban yang
diperlukan agar mata dapat berfungsi dengan normal.

15
e. Sakit pada leher dan punggung
Pada situasi kantor, penglihatan pekerja agak terhalang dan harus
menyesuaikan posisi tubuh untuk mengurangi beban pada sistem penglihatan.

f. Kepekaan terhadap cahaya


Mata dirancang untuk terangsang oleh cahaya dan mengontrol jumlah cahaya
yang masuk ke dalam mata. Faktor lingkungan kerja yang paling mengganggu
adalah kesilauan. Ketidaknyamanan mata karena kesilauan terutama disebabkan
perbedaan terang cahaya pada lapangan pandang. Sebaiknya sumber cahaya yang
sangat terang dihilangkan dari lapangan pandang dan diusahakan mendapat
pencahayaan yang relatif merata. Seseorang akan menghadapi risiko yang lebih
besar mengalami silau yang mengganggu bila sumber cahaya lebih terang dan
lebih dekat ke titik perhatian.

g. Penglihatan Ganda
Ketika melihat sebuah objek yang jaraknya dekat, otot mata
mengkonvergensikan kedua mata ke arah hidung. Konvergensi memungkinkan
kedua mata untuk mempertahankan peletakan kedua bayangan pada tempat
yang setara di kedua retina. Bila kemampuan untuk tetap mengunci posisi kedua
mata hilang, mata akan tak searah dan tertuju ke titik yang berbeda. Ketika kedua
mata mentransmisikan bayangan tersebut maka akan terjadi penglihatan ganda.

3. Langkah Pencegahan CVS

Beberapa faktor penting dalam mencegah atau mengurangi gejala CVS


harus dilakukan dengan komputer dan bagaimana komputer tersebut digunakan.
Ini termasuk kondisi pencahayaan, kenyamanan kursi, lokasi bahan referensi,
posisi monitor, dan penggunaan istirahat.

a. Lokasi layar komputer. Kebanyakan orang merasa lebih nyaman untuk


melihat komputer ketika mata mencari ke bawah. Secara optimal, layar
komputer harus 15 sampai 20 di bawah tingkat mata (sekitar 4 atau 5 inch)
yang diukur dari tengah layar dan 20 sampai 28 inch dari mata.

16
b. Bahan Referensi. Bahan-bahan bacaan lain harus ditempatkan di
atas keyboard dan di bawah monitor. Jika hal ini tidak mungkin, pemegang
dokumen dapat digunakan di samping monitor. Tujuannya adalah untuk
posisi dokumen sehingga tidak perlu memindahkan kepala untuk melihat dari
dokumen ke layar.

c. Pencahayaan. Posisi layar komputer untuk menghindari silau, terutama


dari pencahayaan overhead atau jendela. Gunakan tirai atau gorden di jendela
dan mengganti bola lampu di lampu meja dengan lampu watt lebih rendah.

d. Layar anti silau. Jika tidak ada cara untuk meminimalkan silau dari
sumber cahaya, pertimbangkan untuk menggunakan filter silau layar. Filter
ini mengurangi jumlah cahaya yang dipantulkan dari layar. Instalasi filter
anti-silau pada monitor bisa diatur sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, juga
bisa menyesuaikan nuansa jendela dan mengubah kontras layar dan kecerahan
dapat membantu mengurangi silau dan pantulan.

e. Posisi duduk kursi harus nyaman empuk dan sesuai dengan tubuh.
Ketinggian kursi harus disesuaikan sehingga kaki beristirahat datar di lantai.
Jika kursi memiliki lengan, mereka harus disesuaikan untuk memberikan
dukungan lengan saat mengetik. Pergelangan tangan tidak harus beristirahat
pada keyboard saat mengetik.

f. Istirahat untuk mencegah kelelahan mata, cobalah untuk


mengistirahatkan mata ketika menggunakan komputer untuk waktu yang
lama. Istirahatkan mata selama 15 menit setelah dua jam penggunaan
komputer terus menerus. Juga, untuk setiap 20 menit melihat komputer,
melihat ke kejauhan selama 20 detik untuk memungkinkan mata
berkesempatan untuk memfokuskan kembali.

g. Berkedip. Untuk meminimalkan kesempatan untuk mengembangkan


mata kering ketika menggunakan komputer, berusaha untuk berkedip sering.
Berkedip membuat permukaan depan mata lembab.

17
h. Pemeriksaan mata secara teratur dan melihat kebiasaan yang tepat dapat
membantu mencegah atau mengurangi perkembangan gejala yang terkait
dengan CVS

2.4 Pengendalian Penerangan di Tempat Kerja


Sangatlah penting suatu usaha preventif di berdayakan dalam suatu
lingkuangan kerja yang dapat membantu produktivitas pekerja, usaha-usaha atau
cara pengendalian penerenganan di lingkungan kerja dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
1. Memakai APD (alat pelindung diri) , seperti misalnya memakai kaca mata
kobalt biru bagi mereka yang bekerja menghadapi pancaran cahaya infra
merah.Selain itu sinar matahari juga mengandung cahaya ultra ungu. Untuk itu
mencegah timbulnya efek cahaya ultra ungu pada mata maka tenaga kerja yang
menghadapi cahaya tersebut perlu memakai kaca mata berlapis timah hitam.

2. Mengatur kondisi lingkungan kerja seperti banyak bukaan-bukaan untuk


masuknya cahaya alami, dan ventilasi.

3. Mengatur intensitas penerangan di lingkungan kerja, agar cahaya tak terlalu


silau atupu terlalu redup.

4. Pengecekan, pembersihan, penggantian berkala alat-alat yang digunakan


sebagai sumber cahaya.

Dengan pengendalian faktor-faktor yang berbahaya di lingkungan kerja


diharapkan akan tercipta lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan
produktif bagi tenaga kerja. Hal tersebut dimaksudkan untuk menurunkan angka
kecelakaan dan penyakit akibat kerja sehingga akan meningkatkan produktivitas
tenaga kerja.

2.5 Definisi Dekorasi di Tempat Kerja


Definisi dekorasi dapat merajuk kepada barang atau tindakan yang
dimaksudkan untuk menambah keindahan seseorang, ruangan, dan lain lain.

18
Sedangkan dekorasi di tempat kerja bisa dikatakan sebagai pola pengaturan
ruangan yang dibuat untuk menghasilkan efek ketenhangan, keindahan,
kenyamanan, keseriusan, dan sebagainya. Karena efek yang dihasilkan dapat
mempengaruhi kondisi kejiwaab atau emosi seorang pekerja maka dekorasi dapat
dikatakan juga sebagai seni tata ruang. Sebagai seni, tentu saja dekorasi tak akan
lepas dari unsur unsur pembentuknya seperti warna, bentuk, dan seterusnya.
Sebagai contoh, penggunhaan warna biru yang dipercayaakan menghasilkan efek
ketenangan. Bentuk bundar (lingkaran) yang loebih dihubungkan sebagai sebuah
kesatuan, kotal sebagai suatu simbol kekokohan atau segitiga sebagai simbol
ketajaman, baik dalam pemikiiran dan sebagainya.
Dalam aplikasinya, simbol simbol dekoratif tersebut bisa dimanfaatkan
sebagai interior ruangan yang didasarkan atas tujuan tertentu. Semisal, meja
bundar di ruang rapat yang akan memberikan efek kebersamaan atau kesetaraan.
Berdasarkan uraian di atas maka jelaslah bahwa dekorasi memiliki keterkaitan
dengan kerja. Dalam hal ini, penggunhaan simbol simbol dalam dekorasi akan
memberi pengaruh yang tak disadari terhadap prosedur dan efisiensi kerja.

2.5.1 Prinsip prinsip Dalam Dekorasi di Tempat Kerja


Prinsip utama di balik dekorasi di tempat kerja adalah menjadikan ruangan
dengan cara yang ekonomis sehingga tujuan dan sasaran organisasi atau bisnis
dicapai. Tempat dan ruang bekerja juga harus dilengkapi dengan peralatan yang
mendukung pekerjaan karyawan. Prinsip prinsip yang harus diterapkan dalam
melakukan dekorasi di tempat kerja yaitu antara lain :

1. Pencahayaan Alami
Merancang dekorasi tempat kerja yang menghadap Utara atau Timur lebih banyak
mendapat pencahayaan alami. Cara ini juga akan menghemat pemakaian listrik.

2. Penempatan Komputer
Meja dan komputer harus ditempatkan dengan baik sehingga karyawan yang
duduk lama tidak menyakiti punggung dan pinggang mereka. Jangan

19
menghadapkan ke jendela karena akan mengganggu penglihatan karyawan ketika
menggunakan komputer.

3. Meja Kerja
Pastikan meja dan kursi karyawan tidak saling menghadap satu sama lain karena
bisa mengganggu pekerjaan masing-masing. Karyawan bisa merasa terganggu
sehingga menghambat pekerjaan yang mereka lakukan.

4. Kenyamanan
Hal terpenting dalam aspek dekorasi tempat kerja adalah tampilannya yang
menyenangkan hati. Walaupun faktor fungsi juga penting, namun kesenangan dan
kepuasan karyawan juga patut dipertimbangkan dan diutamakan. Ruangan harus
bisa dimanfaatkan secara optimal.

5. Penyediaan Alat
Tugas akan lebih mudah dan cepat diselesaikan jika didukung dengan alat dan
fasilitas yang memadai. Tempat kerja harus memiliki luas yang cukup untuk
mengakomodasi semua data, surat dan dokumen yang diperlukan. Letakkan mesin
fotokopi dan printer dengan meja karyawan agar tidak membuang waktu jika
ingin menggunakannya.

6. Pengelompokan
Menempatkan divisi yang saling terkait dalam jarak dekat akan mengurangi
pemborosan waktu. Dengan cara ini, setiap karyawan dapat bertukar pikiran dan
berkomunikasi dengan mudah dan efisien.

7. Buat Ruangan Privat


Sering kali, pemilik perusahaan atau atasan membutuhkan ruangan khusus untuk
membicarakan hal tertentu secara privat dengan karyawan. Misalnya saja kontrak
kerja, proyek tertentu, meeting khusus dan kegiatan lainnya yang membutuhkan
konsentrasi terpusat. Oleh karenanya dibutuhkan cubicle (bilik) yang memisahkan
meja atau ruangan satu dengan yang lainnya.

8. Ruang Formal dan Informal

20
Karyawan butuh waktu untuk beristirahat sejenak dari pekerjaannya di kantor.
Karena itu akan lebih baik jika terdapat ruang komunal yang terletak dekat meja
kerja. Ruang informal seperti ini sering kali dibangun untuk mengakomodasi
banyak orang selama waktu istirahat. Ruang ini juga bisa digunakan untuk
meeting atau konferensi.

9. Keamanan
Pentingnya informasi tertentu pada lingkup bisnis setiap perusahaan membuat
harus ditingkatkannya keamanan dan norma dalam pengolahan dan penataan
dekorasi tempat kerja. Hal ini harus dilakukan terutama untuk tempat
penyimpanan data rahasia yang berada jauh dari ruang kerja utama.

10. Mengurangi Resiko


Proses perancangan dekorasi tempat kerja kerharus termasuk pengurangan resiko
kecelakaan. Pastikan penempatan kabel, meja, kursi, lemari dan barang-barang
lainnya aman agar memberikan kondisi kerja yang aman.

11. Mengurangi Jarak


Selain mempertimbangkan jarak antara ruang kerja satu dan lainnya, pikirkan juga
mengenai ruang yang dibutuhkan untuk berjalan dan membawa sesuatu yang
masing-masing memerlukan waktu dan yang berbeda. Oleh karenanya coba
kurangi ruang jarak untuk meminimalkan waktu dan energi.

2.5.2 Tujuan Dekorasi di Tempat Kerja


Lingkungan kantor dan suasana kerja yang kondusif pun menjadi impian
semua orang termasuk kelengkapan dan pemilihan furnitur. Dekorasi tempat kerja
harus dirancang sedemikian rupa agar nyaman dan fungsional karena sangat
mempengaruhi keefektivitasan kerja para karyawan. Tujuan dekorasi di tempat
kerja diantarany6a adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan Semangat Kerja


Penelitian telah menunjukkan bahwa dekorasi tempat kerja berdampak
pada semangat kerja karyawan. Dekorasi tempat kerja tak hanya mengenai desain

21
dan fasilitas di setiap ruangan, namun juga hubungan antara para karyawan di
sana dan lingkungannya. Hal ini disebut dengan ergonomi.

2. Mempengaruhi Keberhasilan Bisnis


Mungkin terdengar sepele, namun sebenarnya dekorasi tempat kerja
berdampak langsung pada tingkat keberhasilan bisnis. Semakin banyak orang
yang senang bekerja di kantor dan perusahaan tersebut, maka akan semakin baik
output yang dihasilkan. Hal ini tentu saja terhubung langsung ke faktor
kesuksesan bisnis.

3. Proses Berjalannya Pekerjaan


Kini tak ada lagi pekerjaan yang dilakukan satu pihak, melainkan
terhubung antara bagian atau divisi satu dengan lainnya secara tersturktur.
Keadaan ini terpengaruh salah satunya karena faktor perkembangan teknologi
yang juga berdampak pada penetapan jam kerja serta proses pengerjaan tugas.

4. Mengelola Perubahan
Bisnis sangat rentan untuk mengatasi tekanan perubahan pasar. Perubahan
dalam internal perusahaan (baik fisik maupun tidak) adalah salah satu hal efektif
yang perlu dilakukan untuk mengatasi tekanan tersebut. Mengubah penampilan
tata ruang kantor secara tak langsung merancang kembali segala kebutuhan
perusahaan.

5. Meningkatkan Produktivitas
Menggunakan ruang kantor secara efektif adalah hal yang penting ketika
melakukan dekorasi tempat kerja karena tidak mengganggu kegiatan bekerja
(sambil menyelam minum air).

6. Memfasilitasi Pengawasan
Dekorasi tempat kerja yang dirancang dengan posisi meja kerja karyawan
dan manajer/supervisor yang saling berdekatan membuat kedua belah pihak dapat
dengan mudah membahas pekerjaan. Komunikasi yang dilakukan pun lebih
efektif dan tak memakan waktu.

22
7. Efektif Menggunakan Peralatan
Mendesain peralatan dan fasilitas kantor dengan efektif sangat diperlukan
agar tidak digunakan secara berlebihan. Melengkapi ruangan dengan peralatan
yang tepat akan mempermudah pekerjaan.

2.6 Pengaruh Dekorasi di Tempat Kerja Terhadap Kinerja


Lingkungan kerja dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap kinerja
karyawan. Lingkungan kerja merupakan suatu linhgkungan dimana para karyawan
melaksanakan tugas dan kewajibannya sehari hari. Lingkungan kerja dapat
berupa lingkungan kerja fisik maupun nonfisik. Lingkungan fisik perusahaan
meliputi kedaaan penerangan, keadaan sirkulasi udara dan Tata Ruang. Sedangkan
lingkungan non fisik meliputi suasana kerja, keamanan dan lain-lain. Dengan
lingkungan kerja yang baik dapat membuat karyawan merasa nyaman dan betah
dalam bekerja, sehingga mendorong karyawan bersemangat dalam melakukan
pekerjaan sehari-hari. Begitu juga sebaliknya lingkungan kerja yang tidak layak
dan tidak sesuai dapat mengganggu karyawan dalam bekerja.
Dekorasi tempat kerja juga termasuk didalam lingkungan kerja. Tata ruang
yang baik mendukung suatu metode untuk membenahi dan menyusun alat-alat
perkantoran dan perlengkapan didalam ruangan yang bertujuan untuk memberikan
sarana bagi karyawan. Tata ruang kantor merupakan suatu segi yang paling dekat
dengan pelaksanaan kerja karyawan sehari-hari. Dengan tata ruang yang baik akan
membantu mekanisme / arus pekerjaan berjalann lancar, ketentraman, kesenangan
dan kegairan kerja menjadi idaman setiap karyawan dan idaman itu bisa diperoleh
jika penyusunan tata ruang kantor itu baik.
Adanya lingkungan kerja yang nyaman, khususnya tata ruang kantor yang
baik akan memberikan dorongan kepada karyawan untuk bekerja sungguh-
sungguh sehingga dapat meningkatkan kinerja karyawan untuk lebih berprestasi
terhadap pencapaian tujuan.

23
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Lingkungan kerja yang nyaman, khusunya penerangan dan dekorasi di
tempat kerja akan memberikan semangat pada karyawan unhtuk bekerja dengan
lebih giat, sehinggan dapat meningkatkan hasil produksi pada suatu perusahaan
dan juga meningtkatkan kinerja karyawan untuk lebih berprestasi. Selain itu
penerangan dan dekorasi di tempat kerja yang baik dan sesuai dengan aturan
ergonomi kerja dapat mengurangi resiko terjadinya kecelakaan ataupun penyakit
akibat kerja

3.2 Saran
Pengendalian penerangan di lingkungan kerja serta dekorasi di tempat kerja harus
senantiasa di perhatikan oleh pemilik usaha atau tempat kerja karena tidak hanya
akan menimbulkan kerugian materi namun juga menimbulkan peningkatan
kualitas atau mutu hasil produksi,serta dapat menurunkan angka kecelakaan dan
penyakit akibat kerja di tempat kerja.

24
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, 2005. Sindrom Penglihatan Komputer (Computer Vision


Syndrome).Departemen Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo. Jakarta.

Azkadina, 2012. Hubungan antara Faktor Risiko Individual dan Komputer


Terhadap Kejadian Computer Vision Syndrome. Jurnal Media Medika Muda
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. Semarang. [Online]
tersedia di :
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=73703&val=4695 (diakses
tanggal 12 Mei 2017)

Karlen, dkk. 2008. Dasar-Dasar Desain Pencahayaan. Erlangga. Jakarta

Maryamah, 2011. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Kelelahan


Mata pada Pengguna Komputer di Bagian Outbound CallGedung Graha Telkom
BSD (Bumi Serpong Damai) Tangerang Tahun 2011. Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.[Online]
tersedia di : http://perpus.fkik.uinjkt.ac.id/file_digital/SITI%20MARYAMAH.pdf
(diakses tanggal 12 Mei 2017)

Menkes. 2002. Kepmenkes Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang


Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran Industri.[Online] tersedia
di : http://hukum.unsrat.ac.id/men/menkes_1405_2002.pdf (diakses tanggal 13
Mei 2017)

Sabir, 2013. Hubungan antara Intensitas Pencahayaan Ruang Kelas dengan


Kelelahan Mata dan Kelelahan Mental pada Siswa SMA Negeri 6 Kendari Tahun
2013. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo. Kendari.

Setiawan, 2012. Analisis Hubungan Faktor Karakteristik Pekerja, Durasi Kerja,


Alat Kerja dan Tingkat Pencahayaan dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata
pada Pengguna Komputer di PT Surveyor Indonesia Tahun 2012. Skripsi

25
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Depok.[Online] tersedia di
: http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20320749-S-Iwan%20Setiawan.pdf (diakses
tanggal 13 Mei 2017)

Zaenab, 2012. Sanitasi Industri dan Kesehatan Keselamatan Kerja. Politeknik


Kesehatan. Makassar.

www.bimbingan.org/sistem-kerja-dekorasi.html (diakses tanggal 13 Mei 2017)

26