Anda di halaman 1dari 11

INDIKATOR DAN ALAT UKUR IQ, EQ DAN SQ.

{ Mei 26, 2009 @ 12:10 PM } { Uncategorized }

Berdasarkan pengalaman para ilmuan, tidak ada indikator dan alat ukur yang jelas
untuk mengukur atau menilai kecerdasan setiap individu, kecuali untuk kecerdasan
intelektual atau IQ, dalam konteks ini dikenal sebuah tes yang biasa disebut dengan
psikotest untuk mengetahui tingkat IQ seseorang, akan tetapi test tersebut juga tidak
dapat secara mutlak dinyatakan sebagai salah satu identitas dirinya karena tingkat
intelektual seseorang selalu dapat berubah berdasarkan usia mental dan usia
kronologisnya.

Sedangkan untuk kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ), hingga saat
ini belum ada alat yang dapat mengukurnya dengan jelas karena dua kecerdasan
tersebut bersifat kualitatif bukan kuantitatif.

Seperti halnya dengan alat ukur kecerdasan, indikator orang yang memilki IQ, EQ
dan SQ juga tidak ada ketetuan yang jelas, sehingga untuk mengetahui seseorang
tersebut memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan
spiritual biasanya dilihat dari hal-hal yang biasanya ada pada orang yang memiliki
IQ, EQ dan SQ tinggi dan dilihat berdasarkan kompone dari klasifikasi kecerdasan
tersebut.

Orang yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup tinggi dapat dilihat
selain dari hasil tes, dapat terlihat juga bahwa biasanya orang tersebut :

1. Memiliki kemampuan matematis


2. Memiliki kemampuan membayangkan ruang
3. Melihat sekeliling secara runtun atau menyeluruh
4. Dapat mencari hubungan antara suatu bentuk dengan bentuk lain
5. Memiliki kemampuan untuk mengenali, menyambung, dan merangkai kata-
kata serta mencari hubungan antara satu kata dengan kata yang lainya,
Memiliki memori yang cukup bagus.

Seseorang dengan kecerdasan emosi (EQ) tinggi diindikatori memiliki hal-hal sebagai
berikut :

1. Sadar diri, panada mengendalikan diri, dapat dipercaya, dapat beradaptasi


dengan baik dan memiliki jiwa kreatif,
2. Bisa berempati, mampu memahami perasaan orang lain, bisa mengendaikan
konflik, bisa bekerja sama dalam tim,
3. Mampu bergaul dan membangun sebuah persahabatan,
4. Dapat mempengaruhi orang lain,
5. Bersedia memikul tanggung jawab,
6. Berani bercita-cita,
7. Bermotivasi tinggi,
8. Selalu optimis,
9. Memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan
10. Senang mengatur dan mengorganisasikan aktivitas.

Lain halnya dengan indikator-indikator dari orang yang memiliki IQ dan EQ yang
cukup tinggi di atas, orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi tidak dapat
dilihat dengan mudah karena kembali ke pengertian SQ, yaitu kemampuan seseorang
untuk memecahkan persoalan makna dan nilai, untuk menempatkan perilaku dan
hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta menilai bahwa jalan
hidup yang kita pilih memiliki makna yang lebih daripada yang lain, dari hal tersebut
dapat dilihat bahwa kecerdasan spiritual adalah kecakapan yang lebih bersifat pribadi,
sehingga semua kembali kepada individu itu sendiri dan kepada hubungannya dengan
Sang Pencipta.

Tanda dari orang orang yang memiliki SQ yang berkembang dengan baik/tinggi :

1. Mampu bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)


2. Memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi
3. Mampu untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4. Mampu untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
5. Memiliki kualitas hidup yang didasari oleh visi dan nilai-nilai
6. Menghindari hal-halyang dapat menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7. Cenderung untuk memandang segala hal itu berkaitan (holistik)
8. Kecenderungan nyata untuk bertanya mengapa? atau bagaimana jika
untuk mencari jawaban-jawaban mendasar
9. Mandiri SQ yang berkembang dengan baik dapat menjadikan seseorang
memiliki makna dalam hidupnya. Dengan makna hidup ini seseorang
akan memiliki kualitas menjadi, yaitu suatu modus eksistensi yang dapat
membuat seseorang merasa gembira, menggunakan kemampuannya secara
produktif dan dapat menyatu dengan dunia.

Kecerdasan Spiritual
1. Pengertian Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual berkaitan dengan masalah makna, nilai, dan tujuan hidup
manusia. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual
mampu menuntun manusia untuk menemukan makna dan juga dapat menuntun
manusia dalam meraih cita-citanya. Kecerdasan spiritual melampaui kemampuan
untuk cerdas berpikir, merasa, bertindak dan berperilaku dalam konteks situasional
atau kerangka kerja yang diberikan. Kecerdasan spiritual memungkinkan manusia
untuk bijaksana dalam merefleksikan situasi untuk menemukan dirinya yang lebih
bermakna sehingga mampu mengubah sesuatu menjadi lebih berharga (Mengel,
2005).
Zohar dan Marshal (2007) mengatakan kecerdasan spiritual diartikan sebagai
kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri yang berhubungan dengan kearifan
di luar ego atau jiwa kesadaran. Sebagai kecerdasan yang senantiasa dipergunakan
bukan hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, melainkan juga untuk secara
kreatif menemukan nilai-nilai baru dalam kehidupan. Bila spiritual quotient (SQ)
telah berkembang dengan baik, maka gambaran atau ciri-ciri orang yang memiliki
kecerdasan spiritual (SQ) tinggi.
Menurut Zohar dan Marshall (2007), indikator kecerdasan spiritual (SQ) tinggi
yaitu:
1) Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif).
2) Tingkat kesadaran tinggi.
3) Kemampuan mengadaptasi dan memanfaatkan penderitaan.
4) Kemampuan menghadapi dan melampaui rasa sakit.
5) Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan misi.
6) Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
7) Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal
(berpendangan holisitik).
8) Kecenderungan nyata untuk bertanya mengapa atau bagaimana mencari
jawaban dasar.
9) Pemimpin yang penuh pengabdian dan bertanggung jawab.
Hasil penelitian para psikolog USA (United States of America) dalam Yosef
(2005) menyimpulkan bahwa kesuksesan dan keberhasilan seseorang dalam
menjalani kehidupan sangat didukung oleh kecerdasan emotional (EQ) sekitar 80%,
sedangkan peranan kecerdasan intelektual (IQ) hanya 20% saja. Pusat IQ dan EQ
adalah kecerdasan spiritual (SQ), sehingga diyakini bahwa SQ yang menentukan
kesuksesan dan keberhasilan seseorang.
Kecerdasan Spiritual IQ, EQ dan SQ

1. Ciri-Ciri Kecerdasan Spiritual


Menurut Tebba (2005), kecerdasan spiritual ditandai dengan ciri-ciri, yaitu:
a. Mengenal motif kita yang paling dalam
Motif yang paling dalam berkaitan erat dengan motf kreatif. Motif kreatif
adalah motif yang menghubungkan kita dengan kecerdasan spiritual. Ia tidak terletak
pada kreatifitas, tidak bisa dikembangkan lewat IQ. IQ hanya akan membantu untuk
menganalisis atau mencari pemecahan soal secara logis. Sedangkan EQ adalah
kecerdasan yang membantu kita untuk bsia menyesuaikan diri dengan orang-orang di
sekitar kita.
b. Memiliki tingkat kesadaran yang tinggi
Kesadaran yang tinggi memiliki arti tingkat kesadaran bahwa dia tidak
mengenal dirinya lebih, karena ada upaya untuk mengenal dirinya lebih dalam.
Misalnya, dia selalu bertanya diapa diriku ini? Sebab hanya mengenal diri, maka dia
mengenal tujuan dan misi hidupnya.
c. Bersikap responsif pada diri yang dalam
Melakukan intropeksi diri, refleksi diri dan mau mendengarkan suara hati
nurani ketika ditimpa musibah. Keadaan seperti itu mendorong kita untuk melakukan
intropeksi diri dengan melihat ke dalam hati yang paling dalam.
d. Mampu memanfaatkan dan mentransenden kesulitan
Melihat ke hati yang paling dalam ketika menghadapi musibah disebut
menyransenden kesulitan. Orang yang cerdas secara spiritual tidak mencari kambing
hitam atau menyalahkan orang lain sewaktu menghadapi kesulitan atau musibah,
tetapi menerima kesulitan itu dan meletakannya dalam rencana hidup yang lebih
besar.
e. Sanggup berdiri, menentang, dan berbeda dengan orang banyak
Manusia mempunyai kecenderungan untuk ikut arus atau trend. Orang yang
cerdas secara spiritual mempunyai pendirian dan pandangan sendiri walaupun harus
berbeda dengan pendirian dan pandangan umum.
f. Enggan menganggu atau menyakiti orang dan makhluk yang lain
Merasa bahwa alam semesta ini adalah sebauh kesatuan, sehingga kalau
mengganggu appaun dan siapapun pada akhirnya akan kembali kepada diri sendiri.
Orang yang cerdas secara spiritual tidak akan menyakiti orang lain dan alam
sekitarnya.
Menurut Zohar dan Marshall (2010), aspek-aspek kecerdasan spiritual
mencakup hal-hal berikut:
a. Kemampuan bersikap fleksibel. Kemampuan individu untuk bersikap adaptif secara
spontan dan aktif, memiliki pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan di saat
menghadapi beberapa pilihan.
b. Tingkat kesadaran diri yang tinggi. Kemampuan individu untuk mengetahui batas
wilayah yang nyaman untuk dirinya, yang mendorong individu untuk merenungkan
apa yang dipercayai dan apa yang dianggap bernilai, berusaha untuk memperhatikan
segala macam kejadian dan peristiwa dengan berpegang pada agama yang
diyakininya.
c. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan. Kemampuan
individu dalam menghadapi penderitaan dan menjadikan penderitaan yang dialami
sebagai motivasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari.
d. Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit. Kemampuan individu
dimana di saat dia mengalami sakit, ia akan menyadari keterbatasan dirinya, dan
menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan yakin bahwa hanya Tuhan yang akan
memberikan kesembuhan.
e. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai- nilai. Kualitas hidup individu yang
didasarkan pada tujuan hidup yang pasti dan berpegang pada nilai-nilai yang mampu
mendorong untuk mencapai tujuan tersebut.
f. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu. Individu yang
mempunyai kecerdasan spiritual tinggi mengetahui bahwa ketika dia merugikan
orang lain, maka berarti dia merugikan dirinya sendiri sehingga mereka enggan untuk
melakukan kerugian yang tidak perlu.
g. Berpikir secara holistik. Kecenderungan individu untuk melihat keterkaitan berbagai
hal.
h. Kecenderungan untuk bertanya mengapa dan bagaimana jika untuk mencari jawaban-
jawaban yang mendasar Menjadi pribadi mandiri. Kemampuan individu yang
memilki kemudahan untuk bekerja melawankonvensi dan tidak tergantung dengan
orang lain.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual


Zohar dan Marshall (2010) mengungkapkan ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kecerdasan spiritual yaitu:
a. Sel saraf otak
Otak menjadi jembatan antara kehidupan bathin dan lahiriah. Ia mampu
menjalankan semua ini karena bersifat kompleks, luwes, adaptif dan mampu
mengorganisasikan diri. Menurut penelitian yang dilakukan pada era 1990-an dengan
menggunakan WEG (Magneto Encephalo Graphy) membuktikan bahwa osilasi sel
saraf otak pada rentang 40 Hz merupakan basis bagi kecerdasan spiritual.
b. Titik Tuhan (God spot)
Ada bagian dalam otak, yaitu lobus temporal yang meningkat ketika
pengalaman religious atau spiritual berlangsung yang disebut sebagai titik Tuhan atau
God Spot. Titik Tuhan memainkan peran biologis yang menentukan dalam
pengalaman spiritual. Namun demikian, titik Tuhan bukan merupakan syarat mutlak
dalam kecerdasan spiritual. Perlu adanya integrasi antara seluruh bagian otak,
seluruh aspek dari dan seluruh segi kehidupan.

3. Mengukur Kecerdasan Spiritual


Dalam tesis yang disusun oleh King (2008) ada empat komponen kecerdasan
spiritual yang masing-masing mewakili pengukuran kecerdasan spiritual secara
menyeluruh yaitu Critical Existential Thinking (CET), Personal Meaning Production
(PMP), Transcendental Awareness (TA), dan Conscious State Expansion (CSE).
a. Critical Existential Thinking (CET)
Komponen pertama dari kecerdasan spiritual melibatkan kemampuan untuk
secara kritis merenungkan makna, tujuan, dan isu-isu eksistensial atau metafisik
lainnya (misalnya realitas, alam, semesta, ruang, waktu, dan kematian). Berpikir kritis
eksistensial dapat diterapkan untuk setiap masalah hidup, karena setiap objek atau
kejadian dapat dilihat dalam kaitannya dengan eksistensi seseorang. Sementara
beberapa mendefinisikannya sebagai upaya untuk memahami jawaban (Koenig,
2000 dalam King 2009) atas pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya tampak, secara
lebih praktis dianggap sebagai pola perilaku yang berkaitan.
Pendapat lain mengatakan bahwa jika hanya mempertanyakan keberadaan
saja tidak menunjukan penguasaan lengkap dari komponen ini. Selain harus mampu
untuk merenungkan masalah eksistensial tersebut dengan berpikir kritistapi juga
sampai pada kesimpulan murni atau filosofi pribadi tentang keberadaan,
mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dan pengalaman pribadi. Berpikir kritis, yang
didefinisikan sebagai mengkonsep secara aktif dan kreatif, menerapkan,
menganalisis, mensintesis, dan/atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan atau
dihasilkan dari observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi (Scriven
& Paul, 1992, dalam King, 2009).
Pada instrumennya, King (2008) memformulasikan komponen ini pada unsur
eksistensi, makna peristiwa, kehidupan setelah kematian, hubungan manusia dan
alam semesta, dan mengenai Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi. Namun,
penelitian yang dilakukan King tidak merujuk kepada agama tertentu atau non-agama
sekalipun.
b. Personal Meaning Production (PMP)
Komponen inti kedua didefinisikan sebagai kemampuan untuk membangun
makna pribadi dan tujuan dalam semua pengalaman fisik dan mental, termasuk
kemampuan untuk membuat dan menguasai tujuan hidup. Nasel (2004) dalam King
(2009) setuju bahwa kecerdasan spiritual melibatkan kontemplasi makna simbolis
kenyataan dan pengalaman pribadi untuk menemukan tujuan dan makna dalam semua
pengalaman hidup.
Sebagaimana dikatakan Frankl Dalam Zohar & Marshall (2010) bahwa
pencarian kita akan makna merupakan motivasi penting dalam hidup kita. Pencarian
inilah yang menjadikan kita makhluk spiritual dan ketika kebutuhan makna ini tidak
terpenuhi, maka hidup kita terasa dangkal dan hampa.
Makna pribadi didefinisikan sebagai memiliki tujuan di dalam hidup,
memiliki arah, merasakan keteraturan, dan mengetahui alasan untuk keberadaannya
(Reker, 1997 dalam King, 2009). Meddin (1998) dalam King (2009)
mengidentifikasikan komponen kognitif makna pribadi sebagai kumpulan prinsip
yang memungkinkan seseorang untuk masuk akal pada kehidupannya dari dalam dan
lingkungan luar. Sebuah komponen kognitif juga disarankan oleh Wong (1989)
dalam King (2009) yang mendefinisikan makna pribadi sebagai sistem kognitif yang
dibangun oleh seseorang, yaitu mampu memberkati kehidupan dengan makna pribadi
dan kepuasan.
Pada instrumennya, King (2008) memformulasikan komponen kepada unsur-
unsur kemampuan adaptasi dari makna dan tujuan hidup dan alasan hidup, makna
kegagalan, mengambil keputusan sesuai dengan tujuan hidup, serta makna dan tujuan
dari kejadian sehari-hari.
scendental Awareness (TA)
Komponen ketiga melibatkan kemampuan untuk melihat dimensi transenden
diri, orang lain, dan dunia fisik (misalnya nonmaterial dan keterkaitan) dalam
keadaan normal maupun dalam keadaan membangun area kesadaran. Wolman (2001)
dalam King (2009) menjelaskan kesadaran transendental sebagai kemampuan untuk
merasakan dimensi spiritual kehidupan, mencerminkan apa yang sebelumnya
digambarkan sebagai merasakan kehadiran yang lebih nyata, yang lebih tersebar dan
umum dari indera khusus kita.
Transendental selalu dikaitkan dengan ketuhanan, namun hasil riset Ecklund
(2005) dalam Syahmuharnis & Sidharta (2006), mahasiswa doktor tingkat akhir di
Rice University, Houston, terhadap lebih dari 1.600 ilmuwan dari 21 universitas riset
elit Amerika Serikat menyimpulkan, banyak orang Amerika yang tidak percaya
dengan Tuhan, namun meyakini dirinya memiliki spiritual. Riset itu juga menemukan
fakta bahwa spiritualisme kini menjadi hal yang semakin penting di Amerika, namun
tetap memisahkan/membedakannya dengan agama.
Abraham Maslow, Hamel, Leclerc, dan Lefrancois (2003) dalam King (2009)
telah menggambarkan proses tambahan aktualisasi transenden, yang mereka
definisikan sebagai realisasi diri yang didirikan pada kesadaran pengalaman dari
Pusat Spiritual (Spiritual Center), juga disebut sebagai Batin atau Inti.
Csikszentmihalyi (1993) dalam King (2009) juga menyebutkan transendensi-diri
menggambarkan kesuksesan seseorang sebagai transcender yang bergerak
melampaui batas-batas keterbatasan pribadi mereka dengan mengintegrasikan tujuan
individu dengan yang lebih besar, seperti kesejahteraan keluarga, masyarakat, umat
manusia, planet, atau kosmos. Demikian pula, Le dan Levenson (2005) dalam King
(2009) menjelaskan transendensi-diri sebagai kemampuan untuk bergerak di luar
kesadaran egosentris, dan melihat hal-hal dengan ukuran kebebasan yang cukup besar
dari kondisi biologis dan sosial.
Pada instrumennya, King (2008) memformulasikan komponen ini kepada
aspek non-fisik dan non-materi, mampu merasakan non-fisik dan non-materi,
memahami hubungan antar manusia, mendefinisikan non-fisik (ruh), kualitas
kepribadian/emosi, dan mampu memusatkan diri.
scious State Expansion (CSE)
Komponen terakhir dari model ini adalah kemampuan untuk memasukan area
kesadaran spiritual (misalnya kesadaran murni, kesadaran murni, dan kesatuan) atas
kebijakannya sendiri. Dari perspektif psikologis, perbedaan antara kesadaran
transendental dan pengembangan area kesadaran ini didukung oleh Tart (1975) dalam
King (2009) bahwa kesadaran transendental harus terjadi selama keadaan sadar
normal, sedangkan pengembangan area kesadaran meliatkan kemampuan untuk
mengatasi keadaan sadar dan area yang lebih tinggi atau spiritual. Sebuah
pengembangan badan penelitian telah menunjukan perbedaan yang signifikan dalam
fungsi otak antara semua tingkat dan area kesadaran, termasuk yang berhubungan
degan pengalaman spiritual dan meditasi. Area tersebut adalah kesadaran kosmik,
kesadaran murni, dan kesadaran unitive.
Kesadaran diri (self consciousness yang sering juga disebut dengan self
awareness) adalah pembeda utama antara orang yang memiliki spiritualisme tinggi
dengan yang tidak. Orang-orang yang memiliki kesadaran yang tinggi akan selalu
berpikir beberapa kali dalam merespons setiap situasi, mengambil waktu sejenak
untuk memahami apa yang tersembunyi maupun yang nyata sebelum menunjukan
respons awal. Ia selalu bertindak penuh perhitungan, pertimbangan, dan hati-hati.
(Syahmuharnis & Sidharta, 2006).
Dalam instrumennya, King (2008) memformulasikan komponen ini ke dalam
unsur-unsur memasuki area kesadaran, mengontrol area kesadaran, bergerak dalam
area kesadaran, melihat masalah dalam area kesadaran, dan mengembangkan teknik
untuk area kesadaran.

Referensi :

Kurniasih. (2010). Mendidik SQ Anak Menurut Nabi Muhammad SAW. Yogyakarta:


Galangpress.
Malini, H. (2009). Hubungan Kecerdasan Spiritual Dengan Perilaku Caring Perawat
di RS DR.M.DJAMIL PADANG. Artikel Ilmiah. Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Qomariah, N. (2012). Hubungan Kecerdasan Spiritual dengan Perilaku Caring


Perawat pada Praktek Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUP Haji Adam Malik
Medan. Skripsi. Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Medan.

Rosalina, W. L. (2008). Pengaruh Kecerdasan Emosional Perawat Terhadap Perilaku


Melayani Konsumen Dan Kinerja Perawat Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Indramayu dalam http://www.isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/2308195215.pdf,
diakses pada tanggal 15 Februari 2014
Rudyanto.(2010). Hubungan antara Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Spiritual
dengan Perilaku Prososial pada Perawat dalam http://www.digilib.uns.ac.id. Skripsi
tidak dipublikasikan, Universitas Negeri Sebelas Maret, diakses pada tanggal 06
Maret 2014.

Suryawati, P.N. (2010). 100 Pertanyaan Penting Perawatan Gigi Anak. Jakarta : Dian
Rakyat.

Suwardi (2008). Hubungan antara kecerdasan emosi dengan kemampuan komunikasi


terapeutik perawat Di Rumah Sakit Umum Pandan Arang Boyolali dalam
http://etd.eprints.ums.ac.id. Skripsi tidak dipublikasikan. Universitas Muhammadiyah
Surakarta, diakses pada tanggal 14 Februari 2014.

Tebba, S. (2005). Kecerdasan Sufistik Jembatan Menuju Makrifat. Jakarta: Kencana.

Tjiptono dan Chandra. (2005). Service Quality and Satisfaction. Edisi 2. Andi,
Yogyakarta.

Watson, Jean. (2006). Theory of human caring. Http://www2.uchsc.edu/son/caring.

Watson, W.E.,M. (2005). Member Competence, Group Interaction, And Group


Decision Making. New York: Prentice Hall.

YLKI. (2011). Mengadukan Layanan Kesehatan dalam


http://www.ylki.or.id/mengadukan-layanan-kesehatan.html, diakses pada tanggal 20
Maret 2013.

Zohar, D. & Marshall, I. (2007). SQ: Spiritual Intelligence The Ultimate


Intelligence. Alih Bahasa Rahmani

_ __________________. (2010). SQ: Kecerdasan Spiritual. Bandung: Mizan.