Anda di halaman 1dari 2

Long tones

Disebut juga nada panjang. Nada panjang bukan saja berarti pencapaian nada harus
sesuai dengan ketukan yang dituju (4 atau 8 ketuk), namun juga pengaturan nafas yang
sedemikian rupa sehingga kualitas dan intensitas suara merata sepanjang ketukan itu.
Kebiasaan yang terjadi di beberapa brass section adalah, ketika nada pertama do
dibunyikan, maka tidak semua alat membunyikan secara serentak, terkadang ketuk
setelah dimulai, dan bahkan nadanya juga bukan nada do. Mengapa demikian?
Ada 2 teknik yang perlu diperhatikan:

a. JANGANLAH MULAI DENGAN MENIUP NADA DO.

Kondisi paru-paru, tenggorokan, diafragma, dan bibir belum fleksibel untuk memulai
meniup. Lakukan pemanasan nafas terlebih dahulu. John Ericson (2002) mempunyai
tips yang cukup efektif dalam melatih pernafasan. Dia mengatakan kemampuan
diafragma untuk menampung udara hanya 75% saja, dan untuk memaksimalkannya
membutuhkan latihan otot diafragma dan otot-otot disekitar tulang iga untuk
berkembang.

Teknik latihan (gunakan metronome):


Tarik nafas 4 ketuk
Tahan nafas 4 ketuk
Buang nafas 4 ketuk
Istirahat 4 ketuk
Mulai lagi dengan tarik nafas, begitu seterusnya
Lanjut ke 6 dan 8 ketuk masing-masing

Dr. Bradley Ulrich dalam buku Building a Better Trumpet Section (2001) dari Jupiter
Music menambah latihan nafas menjadi:
Exercise No. 1
4 ambil nafas, 4 buang nafas (ulangi)
2 ambil nafas, 2 buang nafas (ulangi)
1 ambil nafas, 1 buang nafas (ulangi)
rest
Exercise No 2
4 ambil nafas, 4 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
4 ambil nafas, 8 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
4 ambil nafas, 12 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
rest
2 ambil nafas, 4 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
2 ambil nafas, 8 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
2 ambil nafas, 12 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
rest
1 ambil nafas, 4 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
1 ambil nafas, 8 buang nafas (crescendo saat buang nafas)
1 ambil nafas, 12 buang nafas (crescendo saat buang nafas)

Fokus perhatian:
Perhatikan postur tubuh, jangan biarkan bahu pemain terangkat saat mengambil
nafas. Ini berarti dia masih menggunakan nafas paru-paru.
Dalam keadaan berdiri tegap, suruh tiap pemain memegang perut. Saat mengambil
nafas, rasakan perut mereka kembang/kempis.
Pada saat mengeluarkan nafas, jangan biarkan leher dan bibir tegang, agar jalur
udara benar-benar keluar seutuhnya dari paru-paru.

Filosofi latihan:
Terangkan kepada mereka, dengan latihan sepertinya ini akan terbiasa menggunakan
nafas perut dalam meniup, ketimbang nafas paru-paru. Dan tenaga untuk meniup
semakin kuat.
Atur nafas agar semakin panjang nafas yang dikeluarkan, kekuatan atau intensitas
nafas sama sepanjang ketukan.

b. JANGANLAH MULAI DENGAN MENIUP NADA DO LAGI.


Loh, jadi kapan kita bisa mulai meniup do? Ada suatu ketika dimana saat pemain
meniup do, suara yang ditimbulkan adalah twa-twa (Ericson, 2002) atau nafas dulu
yang keluar sebelum nada. Maka efek yang ditimbulkan adalah setiap ketukan 1, suara
tidak timbul secara serentak.
Dr Bradley Urich (2001) menyebutkan alasannya antara lain:
Nafas yang dipakai pemain kurang mencukupi ke dalam alat.
Posisi gigi terlalu rapat, jarak yang ideal adalah sama dengan menggigit kuku anda
Bibir terlalu tegang. RELAX!

Teknik latihan:
Bila suara twa timbul di nada do, jangan lanjut ke nada re. Ulangi lagi nada do 4
ketuk, sampai semuanya tidak ada kesan twa saat meniup.
Lakukan teknik baps (Ericson, 2002), dimana pemain akan bermain nada pendek
dulu, seperti aksen, kemudian baru diikuti nada panjang. (DO Dooooooo)
Fokus perhatian:
Terkadang saya menggunakan artikulasi Ta setiap tiupan pertama,
agar ketukan setiap pemain sama, namun sebisa mungkin jangan ada unsur aksen
dalam nada itu.
Tambah nafas perut lagi agar, suara twa tidak timbul
Filosofi latihan:
Terangkan kepada mereka, suara twa akan merusak ketukan pertama, lagu, dan
kejernihan suara. Ubah suara ini sedini mungkin sejak latihan pemanasan.
Kesimpulan
Beberapa hal yang harus diperhatikan selama latihan pemanasan bagi seorang pelatih
adalah:
a. Ubah persepsi ritual formal yang membosankan menjadi suatu latihan detail yang
berpengaruh pada aplikasi lagu.
b. Temani atau ikuti perkembangan pemanasan. Jangan tinggalkan field commander
saat mereka sedang pemanasan. Justru saat ini dipergunakan pelatih untuk
membenarkan detail bermain setiap pemain.
c. Jangan biasakan meniup skala do sampai habis saat pemain mulai kehilangan
konsentrasi, dalam arti twa semakin banyak, pemain melirit kanan kiri, posisi hornline
yang semakin tidak terarah. Berhenti saat itu juga dan ulangi skala do lagi, sampai
semuanya bisa fokus.