Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN DI PTPN IX

KRUMPUT BANYUMAS

Ini nih hasil ketika pulang dari praktikum di Perkebunan Krumput, Banyumas. Kita
harus nyusun yang namanya laporan praktikum. Yeah, walaupun ini laporan disusun
per kelompok, tapi tetep aja pusing karena anggota kelompok susah ngumpul.. (walaah,
malah curhat -______-). Langsung aja di koreksi nih, jangan dicontek! Hahahahaaa...

LAPORAN PRAKTIKUM
BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN (AGT 312)

ACARA III
PEMELIHARAAN TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN DAN
TANAMAN KARET MENGHASILKAN

Oleh:
Kelompok 7

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Karet alam merupakan salah satu komoditas pertanian yang penting untuk Indonesia dan
lingkup internasional. Di Indonesia, karet merupakan salah satu hasil pertanian yang banyak
menunjang perekonomian Negara. Hasil devisa yang diperoleh dari karet cukup besar.
Bahkan, Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia dengan mengungguli hasil dari
negara-negara lain dan negara asal tanaman karet sendiri yaitu di daratan Amerika Selatan.

Karet merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Latin, khususnya Brasil. Karenanya,
nama ilmiahnya Herea brasiliensis. Sebelum dipopulerkan sebagai tanaman budidaya yang
dikebunkan secara besar-besaran, penduduk asli Amerika Selatan, Afrika, dan Asia
sebenarnya telah memanfaatkan beberapa jenis tanaman penghasilan getah.

Karena lebih dari 80% dikelola oleh rakyat, perkebunan juga merupakan sumber mata
pencaharian dan pendapatan sebagian besar penduduk Indonesia. Sebagai sumber
pertumbuhan bahan baku industri, lapangan kerja, pendapatan, devisa, maupun pelestarian
alam, perkebunan masih akan tetap memegang peranan penting.

Oleh karena itu, pemeliharaan tanaman karet dilakukan untuk menjaga kualitas hasilnya.
Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi pengendalian
gulma, pemupukan dan pemberantasan penyakit tanaman. Areal pertanaman karet, baik
tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus
bebas dari gulma seperti alang-alang (Imperata cylindrica) dan Mikania micrantha,
eupatorium (Eupatorium sp), sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
B. Tujuan

Tujuan praktikum pemeliharaan TBM dan TM karet ini adalah sebagai berikut:
1. Mengenal usaha apa saja yang dilakukan dalam memelihara tanaman karet
2. Mengetahui tujuan pemeliharaan dan langkah-langkahnya

II. TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman karet berupa pohon yang tingginya bisa mencapai 25 meter dengan diameter batang
cukup besar. Umumnya batang karet tumbuh lurus ke atas dengan percabangan dibagian atas.
Dibatang inilah terkandung getah yang lebih terkenal dengan nama lateks (Setiawan dan
Andoko, 2005).

Daun berselang-seling, tangkai daun panjang, 3 anak daun yang licin berkilat. Petiola tipis,
hijau dan berpanjang 3,5 30 cm. Helaian anak daun bertangkai pendek dan berbentuk
lonjong oblong (Sianturi, 2001). Tanaman karet adalah tanaman berumah satu (monoecus).
Pada satu tangkai bunga yang berbentuk bunga majemuk terdapat bunga betina dan bunga
jantan (Setyamidjaja, 1999).

Produksi karet dipengaruhi oleh beberapa hal seperti iklim dan cuaca. Pada musim rontok
produktivitas pohon karet menurun, dan dengan asumsi harga pasar luar negeri stabil, harga
di tingkat petani pun menjadi lebih baik. Cuaca juga berpengaruh terhadap produksi karet.
Pada musim hujan petani tidak bisa menyadap karena lateks yang keluar tidak bisa
ditampung karena lateks mengencer dan jatuh di sekeliling batang. Begitu juga hujan pada
waktu dinihari karena batang masih dalam kondisi basah, sehingga pada musim hujan
produksi karet petani turun (Suswatiningsih, 2008).

Produksi lateks dari tanaman karet selain ditentukan oleh keadaan tanah dan pertumbuhan
tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi oleh teknik dan manajemen penyadapan. Apabila
ketiga kriteria tersebut dapat terpenuhi, maka diharapkan tanaman karet pada umur 5 - 6
tahun telah memenuhi kriteria matang sadap. Kriteria matang sadap antara lain apabila
keliling lilit batang pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah telah mencapai minimum
45 cm. Jika 60% dari populasi tanaman telah memenuhi kriteria tersebut, maka areal
pertanaman sudah siap dipanen (Anwar, 2001).

Produksi lateks per satuan luas dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain klon karet yang digunakan, kesesuaian lahan, agro-klimatologi, pemeliharaan
tanaman belum menghasilkan, sistem dan manajemen sadap. Asumsi bahwa pengelolaan
kebun plasma dapat memenuhi seluruh kriteria yang telah dikemukakan dalam kultur teknis
karet di atas, maka estimasi produksi dapat dilakukan dengan mengacu pada standar produksi
yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat atau Balai Penelitian Perkebunan yang
bersangkutan (Anwar, 2001).

Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi pengendalian
gulma, pemupukan dan pemberantasan penyakit tanaman. Areal pertanaman karet, baik
tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus
bebas dari gulma seperti alang-alang (Imperata cylindrica), Mikania micrantha, eupatorium
(Eupatorium sp), sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik (Anwar, 2001).

Pemberian pupuk tidak dilakukan pada waktu hujan karena akan cepat tercuci oleh air hujan.
Pemberian pupuk dilakukan pada pergantian musim hujan ke musim kemarau. Cara
pemupukan tanaman karet ada dua macam yaitu dengan cara manual circle dan chemical strip
weeding. Pemupukan dengan cara manual dilakukan dengan membuat saluran melingkar di
sekitar pohon dengan jarak disesuaikan dengan umur tanaman. Umur 3-5 bulan saluran
dibuat melingkar dengan jarak 20-30 cm dari tanaman. Umur 6-10 bulan jarak dari tanaman
20-45 cm. Pemupukan dengan cara chemical strip dilakukan dengan cara meletakkan pupuk
diluar jarak 1-1,5 meter dari barisan tanaman ( Sugito, 2007).

Penyakit karet sering menimbulkan kerugian ekonomis di perkebunan karet. Kerugian yang
ditimbulkan tidak hanya berupa kehilangan hasil akibat kerusakan, tanaman, tetapi juga biaya
yang dikeluarkan dalam upaya pengendaliannya. Oleh karena itu, langkah-langkah
pengendalian secara terpadu dan efisien guna memperkecil kerugian akibat penyakit tersebut
perlu dilakukan. Lebih dari 25 jenis penyakit menimbulkan kerusakan di perkebunan karet.
Penyakit tersebut dapat digolongkan berdasarkan nilai kerugian ekonomis yang ditimbulkan
(Anwar, 2001).

Tanaman kacangan merupakan tanaman penutup tanah (Cover Crop) yang sangat berguna
untuk mencegah erosi dan melindungi tanah dari sinar matahari yang terlalu terik dan dapat
juga melindungi permukaan tanah dari air hujan dan mengurangi erosi terutama pada
tanaman yang permukaannya miring, curam, atau bergelombang sehingga mengurangi
kehilangan unsur hara akibat pencucian, serta berfungsi mengembalikan unsur hara yang
tercuci dari lapisan dalam dan permukaan tanah. Tanaman kacangan yang telah menutup
tanah juga dapat menekan pertumbuhan gulma sehingga biaya untuk pengendalian gulma
dapat ditekan (Arsyad, 2006).

III. METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Bahan dan alat yang dibutuhkan dalam praktikum ini antaralain tanaman karet belum
menghasilkan, tanaman karet sudah menghasilkan, alat tulis dan kamera.

B. Prosedur Kerja

1. Sebelum pemberangkatan, praktikan berkumpul di kampus untuk mendapatkan


pengarahan dari dosen dan asisten.

2. Setelah diberi pengarahan, praktikan berangkat bersama-sama sesuai kloter


pemberangkatan

3. Sesampainya di PTPN IX kebun Krumput, praktikan melaksanakan serangkaian acara


praktikum, yaitu dengan mendengarkan penjelasan dari ahli kebun dan melakukan
praktek dengan bimbingan ahlinya.

4. Praktikan membuat catatan dari materi dan informasi yang di dapat


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Praktikum

Hasil pengamatan pada pemeliharaan TBM dan TM karet di PTPN IX, Krumput, Banyumas
diantaranya penyulaman, penunasan, pemotongan, pemupukan dan pengendalian hama dan
penyakit tanaman karet.
Pemeliharaan tanaman belum mengahasilkan (TBM):
1. Penyulaman
2. Wiwil
3. Perangsangan cabang setelah tinggi 2,7-3 m
4. Pemeliharaan tanah teras, gondang-gandong, rorak
5. Pengolahan tanah
6. Pengendalian gulma
7. Pemupukan
8. Inventarisasi pohon
9. Pengendalian HPT
10. Pengukuran lilit batang.

B. Pembahasan

Tanaman karet adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30 tahun. Habitus
tanaman ini merupakan pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai 15-20 meter. Modal
utama dalam pengusahaan tanaman ini adalah batang setinggi 2,5 sampai 3 meter dimana
terdapat pembuluh latek. Oleh karena itu fokus pengolahan tanaman karet ini adalah
bagaimana mengelola batang tanaman ini seefisien mungkin (Setyawan dan Andoko, 2005).

Produksi karet dipengaruhi oleh beberapa hal seperti iklim dan cuaca. Pada musim rontok
produktivitas pohon karet menurun, dan dengan asumsi harga pasar luar negeri stabil, harga
di tingkat petani pun menjadi lebih baik. Cuaca juga berpengaruh terhadap produksi karet.
Pada musim hujan petani tidak bisa menyadap karena lateks yang keluar tidak bisa
ditampung karena lateks mengencer dan jatuh di sekeliling batang. Begitu juga hujan pada
waktu dinihari karena batang masih dalam kondisi basah, sehingga pada musim hujan
produksi karet petani turun (Suswatiningsih, 2008).

Produksi lateks dari tanaman karet selain ditentukan oleh keadaan tanah dan pertumbuhan
tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi oleh teknik dan manajemen penyadapan. Apabila
ketiga kriteria tersebut dapat terpenuhi, maka diharapkan tanaman karet pada umur 5 - 6
tahun telah memenuhi kriteria matang sadap. Kriteria matang sadap antara lain apabila
keliling lilit batang pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah telah mencapai minimum
45 cm. Jika 60% dari populasi tanaman telah memenuhi kriteria tersebut, maka areal
pertanaman sudah siap dipanen (Anwar, 2001).

Produksi lateks per satuan luas dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain klon karet yang digunakan, kesesuaian lahan, agro-klimatologi, pemeliharaan
tanaman belum menghasilkan, sistem dan manajemen sadap. Asumsi bahwa pengelolaan
kebun plasma dapat memenuhi seluruh kriteria yang telah dikemukakan dalam kultur teknis
karet di atas, maka estimasi produksi dapat dilakukan dengan mengacu pada standar produksi
yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat atau Balai Penelitian Perkebunan yang
bersangkutan (Anwar, 2001).

Pemeliharaan

Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi pengendalian
gulma, pemupukan dan pemberantasan penyakit tanaman. Areal pertanaman karet, baik
tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus
bebas dari gulma seperti alang-alang (Imperata cylindrica), Mikania micrantha, eupatorium
(Eupatorium sp), sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik (Anwar, 2001).

Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari perkebunan Krumput, dalam fase TBM
(tanaman belum menghasilkan), terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan dalam rangka
pemeliharaan tanaman karet, yaitu:

1. Penyulaman
Bibit tanaman karet ditanam pada jarak 6 meter x 2,5 meter, dalam lubang yang berukuran 60
cm x 60 cm x 60 cm. Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang telah mati
sampai dengan tanaman telah berumur 2 tahun pada saat musim penghujan. Tunas palsu
harus dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 2 minggu sekali, sedangkan tunas lain
dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80 m.

Bibit yang baru ditanam harus diperiksa setiap dua minggu sekali selama tiga bulan pertama
setelah penanaman. Pemeriksaan ini penting khususnya bila bahan tanam yang digunakan
adalah stum matta tidur. Bibit yang mati harus segera diganti atau disulam dengan bibit yang
baru agar populasi tanaman dapat dipertahankan dan seragam.

Penyulaman sebaiknya dilakukan dengan bahan tanam yang mempunya umur relatif sama
atau lebih tua dari tanaman yang disulam. Untuk memperoleh bahan tanam yang seumur,
haruslah disediakan bibit terlebih dahulu bahan tanam dalam bentuk polibag dan disulam
pada tahun yang sama. Jika penyulaman masih harus dilakukan pada tahun ke-dua atau tahun
ke-tiga penyulaman harus dilakukan dengan bahan tanam berupa stum mata tinggi.

2. Wiwil (penunasan)

Tunas cabang adalah tunas yang tumbuh dari ketiak daun tanaman. Tunas ini harus dibuang
agar tanaman karet yang ditanam nantinya memiliki bidang sadap yang mulus. Oleh karena
batang tanaman karet yang disadap berada dibawah ketinggian 3 meter, maka pembuangan
tunas cabang pun hanya dilakukan pada area batang tersebut. Seperti pembuangan tunas
palsu, tunas cabang pun sebaiknya dilakukan pada awal pertumbuhannya yakni sebelum
tunas tersebut mengayu, karena apabila pembuangan tunas dilakukan ketika tunas tersebut
mengayu, selain menyebabkan kesulitan dalam proses pembuangannya, bekas potongan tunas
mengakibatkan bidang sadap rusak.

3. Perangsangan Cabang

Pertumbuhan tanaman karet pada fase belum menghasilkan umumnya mengikuti sebuah
siklus, artinya pada suatu saat tanaman karet akan tumbuh tinggi tanpa membentuk payung
daun dan pada suatu saat pertumbuhan tinggi tanaman akan terhenti dan membentuk payung
daun. Selama payung daun yang terbentuk belum benar-benar tua, tinggi tanaman tidak
bertambah, dan apabila daun-daun pada payung daun tersebut sudah benar-benar tua tanaman
akan tumbuh tinggi tanpa membentuk payung daun, begitu seterusnya.

Pertumbuhan tanaman yang demikian apabila dibiarkan dapat menyebabkan batang tanaman
mudah patah karena tiupan angin. Oleh karena itu, pertumbuhan tinggi batang haruslah
dibatasi dengan cara merangsang percabangan tanaman pada ketinggian > 3 meter dari
permukaan tanah. Dengan terbentuknya percabangan, tanaman akan lebih kuat menahan
terpaan angin.

Perangsangan percabangan bisa dilakukan dengan berbagai cara yang diantaranya adalah
penyanggulan, pemangkasan daun, dan pemenggalan batang.

4. Pemeliharaan Teras

Teras pada lahan perkebunan dibuat dengan ukuran lebar 2 meter, elevasi sekitar 10o. Teras
tersebut dilengkapi dengan pembuatan gondang-gandung, yaitu lubang-lubang seresah
berukuran panjang, lebar dan dalam berturut-turut yaitu : 100 cm x 40 cm x 60 cm. Selain
gondang-gandung, di antara 3 pohon karet, di gali 1 buah rorak, fungsinya sebagai
pengantisipasi erosi dan penyuburan lahan.

5. Pengolahan Tanah

Pada tanah, dilakukan pemeliharaan berupa pacul growal, yaitu mencangkul di antara teras
saat musim kemarau dengan tujuan untuk mengurangi terjadinya penguapan.

Untuk mencegah terjadinya erosi dapat dilakukan dengan penanaman tanaman penutup tanah,
selain itu tanaman penutup tanah juga dapat melindungi tanah dari sinar matahari langsung,
menekan pertumbuhan gulma. Tanaman penutup tanah juga mempercepat matang sadap dan
mempertinggi hasil lateks. Tanaman penutup tanah dapat dipilih dari 3 ( tiga ) jenis tanaman,
yaitu tanaman merayap, tanaman semak dan tanaman pohon. Tanaman merayap terdiri atas
rumput dan jenis leguminosa seperti Pueraria javanica, Centrosema pubescens dan
Calopogonium mucunoides. Tanaman merayap, tanaman semak yang biasa digunakan adalah
crotalaria usara moensis, C juncea, C anagyrroides, Tephorosia Candida dan T. Vogelili
sedangkan tanaman pohon yang digunakan sebagai tanaman penutup adalah petai cina namun
sangatlah jarang kecuali pada daerah daerah yang sering terjadi angin kencang dan serangan
babi hutan. Tanaman penutup tanah adalah tumbuhan atau tanaman yang khusus ditanam
untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan / atau untuk memperbaiki
sifat kimia dan sifat fisik tanah.

6. Pengendalian Gulma

Pada tanaman belum menghasilkan (TBM) terutama tahun pertama sampai tahun ketiga,
tanah masih terbuka sehingga gulma, seperti alang-alang, Mekania, Eupatorium, dan lain-
lain, tumbuh subur dan cepat. Oleh karena itu, gulma harus dikendalikan agar tanaman karet
dapat tumbuh subur dan dapat mencapai produksi optimal. Untuk mencapai hal tersebut,
penyiangan pada tahun pertama dilakukan berdasarkan umur tanaman.

Pengendalian gulma pada tanaman belum menghasilkan dipusatkan di sekitar barisan


tanaman. Pada tahap awal, daerah di sekitar pangkal batang dibebaskan dari gulma. Dengan
bertambahnya umur tanaman pada daerah yang dibebaskan dari gulma adalah daerah satu
meter sebelah kiri dan kanan barisan tanaman. Dengan cara demikian, maka kegiatan
pemeliharaan selanjutnya dan penyadapan dapat dilakukan dengan mudah. Pada masa TBM,
pengendalian gulma lebih banyak menggunakan cara manual, yaitu dengan mencabut atau
membersihkan gulma secara langsung dengan tangan atau kored.

Pada saat yang bersamaan juga dilakukan pengaturan tanaman penutup tanah yang melilit
batang karet. Cara pengendalian dengan menggunakan herbisida hanya dilakukan secukupnya
saja. Selain itu, Pengendalian gulma pada tanaman yang belum menghasilkan juga dilakukan
dengan cara penanaman tanaman penutup tanah, pemeliharaan piringan atau jalur tanaman,
dan pemeliharaan gawangan tanaman (Mangoensoekarjo, 1983)

7. Pemupukan

Pemupukan dilakukan 2 kali setahun yaitu menjelang musim hujan dan akhir musim
kemarau, sebelumnya tanaman dibersihkan dulu dari rerumputan dibuat larikan melingkar
selama 10 Cm. Pemupukan pertama kurang lebih 10 Cm dari pohon dan semakin besar
disesuaikan dengan lingkaran tajuk. . Selain pupuk dasar yang telah diberikan pada saat
penanaman, program pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan
dengan dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun. Jadwal pemupukan pada
semeseter I yakni pada Januari/Februari dan pada semester II yaitu Juli/Agustus. Seminggu
sebelum pemupukan, gawangan lebih dahulu digaru dan piringan tanaman dibersihkan.
Pemberian SP-36 biasanya dilakukan dua minggu lebih dahulu dari Urea dan KCl.

8. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Pengendalian hama penyakit mutlak diperlukan agar produktivitas karet tetap terjaga kualitas
dan kuantitasnya. Sebab tanaman karet yang dirusak oleh hama akan terganggu
produktivitasnya dan hal ini bisa menyebabkan menurunnya harga jual dari lateks yang
dihasilkan oleh karet. Pada akhhirnya akan merugikan petani ataupun perusahaan yang
membudidayakan karet sebagai sebuah komoditas unggulan pertanian.

Sedangkan pada fase TM (tanaman menghasilkan), terdapat beberapa kegiatan pemeliharaan


yang tidak jauh berbeda dari kegiatan pemeliharaan TBM di atas. Kegiatan-kegiatan tersebut
antara lain:
1. Pemeliharaan saluran air
2. Pemeliharaan tanah teras, gondang-gandong dan rorak
3. Pengendalian gulma
4. Pemupukan
5. Inventarisasi pohon
6. Pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Legume Cover Crop

Cover crop atau tanaman penutup umumnya adalah tanaman yang berasal dari famili
legumineceae (tanaman legume/ kacang-kacangan). Cover crop atau tanaman penutup tanah
berperan sebagai penahan kelembaban tanah di daerah perkebunan khususnya perkebunan
kelapa sawit dan karet. Selain berfungsi menjaga kelembaban tanah di areal sekitar
perkebunan, cover crop juga memiliki peran sebagai penggembur tanah (Arsyad, 2006).

Tanaman penutup tanah berperan: (1) menahan atau mengurangi daya perusak butir-butir
hujan yang jatuh dan aliran air di atas permukaan tanah, (2) menambah bahan organik tanah
melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh, dan (3) melakukan transpirasi, yang
mengurangi kandungan air tanah. Peranan tanaman penutup tanah tersebut menyebabkan
berkurangnya kekuatan dispersi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran
permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga mengurangi erosi
(Syamsulbahri, 1996).

Tanaman penutup tanah dapat dipilih dari 3 ( tiga ) jenis tanaman, yaitu tanaman merayap,
tanaman semak dan tanaman pohon. Tanaman merayap terdiri atas rumput dan jenis
leguminosa seperti Pueraria javanica, Centrosema pubescens dan Calopogonium mucunoides.
Tanaman merayap, tanaman semak yang biasa digunakan adalah crotalaria usara moensis, C
juncea, C anagyrroides, Tephorosia Candida dan T. Vogelili.

Beberapa jenis LCC yang dianjurkan sebagai tanaman penutup tanah ada tanaman karet
adalah sebagai berikut :
1. Centrosema pubescens Benth.
2. Calopogonium mucunoides Desv. (Roxb.)
3. Pueraria phaseoloides (Roxb.) Benth.
4. Pueraria javanica.
5. Calopogonium cearuleum Hemsl.
6. Centrosema plumeri (Turp. Ex Pers.) Benth.
7. Psophocarpus palustris Desv.
8. Pueraria thunbergiana (S & Z.) Benth.
9. Mucuna cochinchinensis.
10. Mucuna bracteata.

Tanaman penutup tanah yang ditanam pada kebun Krumput ini yaitu Mukuna (Mucuna
bracteata). Tanaman ini dipilih sebagai LCC pada kebun karet tersebut karena
pertumbuhannya yang sangat cepat. Mucuna Bracteata (MB) berasal dari India. Kacangan
MB ini tahan terhadap kekeringan dan naungan. Kapasitas Fiksasi nitrogen MB ini tinggi.
Dia tumbuh sangat cepat dan menutup lahan sangat cepat, karena itu dia menekan
pertumbuhan gulma-gulma lainnya. MB sebagai kacang-kacangan akan menyediakan mulsa
organic yang tebal yang mana dapat membantu untuk mengurangi pupuk yang hilang
mengalir, karena hujan deras. Lapisan tebal dari sampah daunnya juga akan membantu untuk
mengurangi erosi tanah sehingga kondisi tanah tidak akan memburuk dari waktu ke waktu.

Penyakit Tanaman Karet

Pennyakit yang sering dijumpai menyerang tanaman karet yaitu penyakit jamur akar putih
(JAP), kering alur sadap (KAS) dan jamur upas.
1. Jamur Akar Putih

Penyakit akar putih disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus (Rigidoporus lignosus).
Penyakit ini mengakibatkan kerusakan pada akar tanaman. Gejala pada daun terlihat pucat
kuning dan tepi atau ujung daun terlipat ke dalam. Kemudian daun gugur dan ujung ranting
menjadi mati. Ada kalanya terbentuk daun muda, atau bunga dan buah lebih awal. Pada
perakaran tanaman sakit tampak benang-benang jamur berwarna putih dan agak tebal
(rizomorf). Jamur kadang-kadang membentuk badan buah mirip topi berwarna jingga
kekuning-kuningan pada pangkal akar tanaman. Pada serangan berat, akar tanaman menjadi
busuk sehingga tanaman mudah tumbang dan mati. Kematian tanaman sering merambat pada
tanaman tetangganya. Penularan jamur biasanya berlangsung melalui kontak akar tanaman
sehat ke tunggultunggul, sisa akar tanaman atau perakaran tanaman sakit. Penyakit akar putih
sering dijumpai pada tanaman karet umur 1-5 tahun terutama pada pertanaman yang
bersemak, banyak tunggul atau sisa akar tanaman dan pada tanah gembur atau berpasir.

Pengobatan tanaman sakit sebaiknya dilakukan pada waktu serangan dini untuk mendapatkan
keberhasilan pengobatan dan mengurangi resiko kematian tanaman. Bila pengobatan
dilakukan pada waktu serangan lanjut maka keberhasilan pengobatan hanya mencapai di
bawah 80%.

Cara penggunaan dan jenis fungisida anjuran yang dianjurkan adalah :


a. Pengolesan : Calixin CP, Fomac 2, Ingro Pasta 20 PA dan Shell CP.
b. Penyiraman : Alto 100 SL, Anvil 50 SC, Bayfidan 250 EC, Bayleton 250 EC, Calixin 750
EC, Sumiate 12,5 WP dan Vectra 100 SC.
c. Penaburan : Anjap P, Biotri P, Bayfidan 3 G, Belerang dan Triko SP+

2. Kering Alur Sadap


Penyakit kekeringan alur sadap mengakibatkan kekeringan alur sadap sehingga tidak
mengalirkan lateks, namun penyakit ini tidak mematikan tanaman. Penyakit ini disebabkan
oleh penyadapan yang terlalu sering, terlebih jika disertai dengan penggunaan bahan
perangsang lateks ethepon. Adanya kekeringan alur sadap mula-mula ditandai dengan tidak
mengalirnya lateks pada sebagian alur sadap. Kemu-dian dalam beberapa minggu saja kese-
luruhan alur sadap ini kering tidak me-ngeluarkan lateks. Bagian yang kering akan berubah
warnanya menjadi cokelat karena pada bagian ini terbentuk gum (blendok). Kekeringan kulit
tersebut dapat meluas ke kulit lainnya yang seumur, tetapi tidak meluas dari kulit perawan ke
kulit pulihan atau sebaliknya. Gejala lain yang ditimbulkan penyakit ini adalah terjadinya
pecah-pecah pada kulit dan pembengkakan atau tonjolan pada batang tanaman.

Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan:


Menghindari penyadapan yang terlalu sering dan mengurangi pemakaian Ethepon terutama
pada klon yang rentan terhadap kering alur sadap yaitu BPM 1, PB 235, PB 260, PB 330, PR
261 dan RRIC 100. Bila terjadi penurunan kadar karet kering yang terus menerus pada lateks
yang dipungut serta peningkatan jumlah pohon yang terkena kering alur sadap sampai 10%
pada seluruh areal, maka penyadapan diturunkan intensitasnya dari 1/2S d/2 menjadi 1/2S d/3
atau 1/2S d/4, dan penggunaan Ethepon dikurangi atau dihentikan untuk mencegah agar
pohon-pohon lainnya tidak mengalami kering alur sadap.

Pengerokan kulit yang kering sampai batas 3-4 mm dari kambium dengan memakai pisau
sadap atau alat pengerok. Kulit yang dikerok dioles dengan bahan perangsang pertumbuhan
kulit NoBB atau Antico F-96 sekali satu bulan dengan 3 ulangan. Pengolesan NoBB harus
diikuti dengan penyemprotan pestisida Matador 25 EC pada bagian yang dioles sekali
seminggu untuk mencegah masuknya kumbang penggerek (Gambar 4.10). Penyadapan dapat
dilanjutkan di bawah kulit yang kering atau di panel lainnya yang sehat dengan intensitas
rendah (1/2S d/3 atau 1/2S d/4). Hindari penggunaan Ethepon pada pohon yang kena
kekeringan alur sadap. Pohon yang mengalami kekeringan alur sadap perlu diberikan pupuk
ekstra untuk mempercepat pemulihan kulit.

3. Jamur Upas

Penyakit ini merupakan penyakit batang atau cabang. Jamur ini mempunyai empat tingkat
perkembangan. Mulamula terbentuk lapisan jamur yang tipis dan berwarna putih pada
permukaan kulit (tingkat sarang laba-laba), kemudian berkembang membentuk kumpulan
benang jamur (tingkat bongkol-bongkol), selanjutnya terbentuk lapisan kerak berwarna
merah muda (tingkat corticium) pada tingkat ini jamur telah masuk ke dalam kayu, terakhir
jamur membentuk lapisan tebal berwarna merah tua (tingkat necator). Pada bagian yang
terserang pada umumnya terbentuk latek berwarna coklat hitam. Kulit yang terserang akan
membusuk dan berwarna hitam kemudian mengering dan mengelupas. Pada serangan lanjut
tajuk percabanagan akan mati dan mudah patah oleh angin. Serangan ini terlihat pada
tanaman muda yang berumur tiga samapai tujuh tahun dan penyebarannya pada daerah-
daerah yang lembab dengan curah hujan tinggi.

Menurut Setiawan dan Andoko (2005), pengendalian terhadap jamur upas dapat dilakukan
sebagai berikut:
(a.) Pada daerah lembab menanam tanaman yang tahan, yaitu AVROS 2037, PR 261, BPM
24, RRIC 100, BPM 107 dan PB 260
(b.) Jarak tanam tidak terlalu rapat.
(c.) Pengobatan dilakukan sejak awal mungkin yaitu dengan menggunakan Calixin 750 EC
dan Antico F-96 setiap tiga bulan atau Bubur Bordo atau Fylomac 90 setiap dua minggu,
dengan cara mengoleskan pada bagian yang terserang sampai jarak 30 cm ke atas dan ke
bawah. Bila serangan lebih berat lagi (tingkat corticium atau necator), maka dilakukan
mengelupasan kulit yang busuk kemudian dilumasi dengan Calixin 750 EC atau Antico F-96.

Hama Tanaman Karet

Hama utama tanaman karet yang mampu menimbulkan kerugian sangat fatal yaitu hama
rayap. Rayap pada umumnya berkumpul dan bersarang pada tanaman yang sudah mati.
Serangan pada tanaman karet biasanya setelah tanaman karet mati sebagai akibat dari
serangan jamur akar putih (JAP) atau pada areal penanaman yang menggunakan bahan tanam
stump mata tidur yang kekeringan. Namun demikian untuk tanaman muda bisa terjadi
serangan apabila terjadi kekeringan pada saat musim kemarau. Menurut Sianturi (2001),
pengendalian hama ini yaitu dengan cara:
a. Membersihkan tunggul-tunggul sisa pembukaan lahan.
b. Menanam dengan bahan tanam polybag.
c. Menaburkan Carbofuran (Furadan atau Dharmafur) di sekitar tanaman yang terserang
sebanyak satu sendok makan.

V. KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan kami pada perkebunan karet Krumput ini, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:

1. Pemeliharaan pada tanaman karet belum menghasilkan (TBM) terdiri dari 10 kegiatan,
yaitu: a.) Penyulaman. b.) Wiwil, c.) Perangsangan cabang setelah tinggi 2,7-3 m, d.)
Pemeliharaan tanah teras, gondang-gandong, rorak. e.) Pengolahan tanah. f.) Pengendalian
gulma. g.) Pemupukan . h.) Inventarisasi pohon. i.) Pengendalian HPT. j.) Pengukuran lilit
batang.

2. Pemeliharaan pada tanaman karet menghasilkan (TM) yaitu dengan cara:


a.)Pemeliharaan saluran air, b.)Pemeliharaan tanah teras, gondang-gandong dan rorak. c.)
Pengendalian gulma. d.) Pemupukan. e.) Inventarisasi pohon. f.) Pengendalian hama dan
penyakit tanaman.

3. Penyakit yang sering terjadi pada tanaman karet adalah penyakit jamur akar putih, kering
alur sadap dan jamur upas. Sedangkan hama tanaman karet yang paling merugikan yaitu
hama rayap.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Sitanala. 2006. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor.

Anwar, C., 2001. Pusat penelitian karet, Mig Crop: Medan


BPPP, 1997. 5 Tahun Penelitian dan Pengembangan Pertanian 1992-1996. Departemen
Pertanian, Jakarta.

Deptan, 2010. Budidaya Tanaman Karet. Http://pustaka-deptan.go.id . Diakses 20 Desember


2014.

Mangoensoekarjo S, Balai Penelitian Perkebunan, Medan. 1983. Gulma dan Cara


Pengendalian Pada Budidaya Perkebunan. Jakarta. Direktorat Jenderal Perkebunan,
Departemen Pertanian.

Schery, R. W., 1961. Plants for Man. Prentice Hall Inc, New York.

Setiawan, D. H. dan A. Andoko, 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia


Pustaka, Jakarta.

Setyamidjaja, D., 1999. Karet. Kanisius, Yogyakarta.

Sianturi, H. S. D., 2001. Budidaya Tanaman Karet. Universitas Sumatera Utara Press, Medan.

Syamsulbahri, 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gadjah Mada


University Press, Yogyakarta.

Tim Penulis PS, 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya, Jakarta.