Anda di halaman 1dari 17

UJIAN KAHIR SEMESTER 1997 / 1998

HUKUM ACARA PIDANA


Selasa / 9 Juni 1998

SOAL I
a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kompetensi mengadili yang relatif dan absolut,
terangkan perbedaannya, dan berikan contohnya !
Jawaban :
- Kompetensi relatif adalah berbicara mengenai Pengadilan Negeri yang mana
berwenang untuk mengadili suatu perkara.
Contoh : Suatu tindak pidana yang terjadi di Cimahi maka yang berwenang untuk
mengadili adalah Pengadilan Negeri Bale Bandung.
- Kompetensi absolute adalah berbicara mengenai Badan Peradilan macam
apa yang berwenang untuk mengadili suatu perkara. Apakah Pengadilan Negeri,
Pengadilan Militer, Pengadilan Tata Usaha Negara, dsb.
Contoh : Suatu tindak pidana yang dilakukan oleh seorang anggota ABRI maka
pengadilan yang berwenang untuk mengadili adalah Pengadilan Militer.

b. Apakah yang dimaksudkan dengan Jurisdictie Geschill dan Pre Judiciel Geschill,
jelaskan apa perbedaannya dan berikan contohnya !
Jawaban :
- Pre Judiciel Geschill adalah sengketa mengadili yang timbul antara
pengadilan pidana dan pengadilan perdata, yang harus diselesaikan terlebih dahulu
adalah perkara perdatanya. Contoh : Perkara sengketa tanah yang disertai dengan
tindakan intimidasi dan kekerasan.
- Jurisdictie Geschill adalah sengketa mengadili antara dua pengadilan yang
timbul karena masing-masing merasa berwenang untuk mengadili atau masing-
masing tidak mau mengadili karena merasa tidak berwenang.
Contoh : Terjadi tindak pidana pembunuhan di Kabupaten Cianjur, dan tersangka
berdomisili di Kabupaten Bogor.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 1


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
Perbedaannya : Pada Pre Judiciel Geschill sengketa terjadi antara lingkungan
pengadilan pidana perdata dan perdata di satu wilayah PN, sedangkan pada Jurisdictie
Geschill sengketa terjadi antara sesama lingkungan pengadilan pidana tetapi berbeda
wilayah hukumnya, misalnya antara PN Cianjur dan PN Bogor.

c. Bila terjadi sengketa mengadili antar Pengadilan sejenis tapi masih sewilayah
hukum dari Pengadilan Tinggi, apakah dasar yang digunakan untuk memutus sengketa
tersebut?
Jawaban :
Menurut Pasal 151 (1) KUHAP, Pengadilan Tinggi yang berwenang memutus sengketa
wewenang mengadili antara dua PN dalam satu wilayah hukum Pengadilan Tinggi.

d. Apakah yang dimaksud dengan perkara koneksitas? Pengadilan mana yang berhak
mengadilinya dan apa yang dijadikan dasar pertimbangannya, di mana dasar hukumnya
dan bagaimana cara penyidikan serta penuntutannya?
Jawaban :
- Perkara koneksitas adalah perkara yang tersangka-tersangka pembuat
deliknya tunduk pada yurisdiksi peradilan umum dan peradilan militer.
- Pengadilan yang berhak mengadilinya adalah Peradilan Umum, dasar
pertimbangannya adalah Pasal 89 (1) KUHAP.
- Dasar hukumnya adalah Pasal 89 KUHAP. Penyidikan dalam perkara
koneksitas dilakukan oleh satu tim tetap, yang terdiri dari penyidik pejabat POLRI
atau pejabat PNS tertentu yang diberi wewenang khusus dalam penyidikan, dan
polisi militer ABRI dan oditur militer atau oditur militer tinggi. Untuk penuntutan
dalam perkara koneksitas, yang bertindak sebagi penuntut umum adalah jaksa pada
Kejaksaan yang dalam koneksitas itu dilakukan di daerah hukumnya.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
SOAL II
a. Jelaskan asas-asas apakah yang harus diterapkan Hakim dalam memeriksa perkara
pidana di muka sidang ? Dan apakah akibat hukumnya bila asas tersebut tidak
diterapkan ?
Jawaban :
- Hakim harus menerapkan 3 asas pemeriksaan :
1. Asas openbaarheid, yaitu asas terbuka untuk umum, dapat dilihat
dan perkataan Hakim yang berbunyi : sidang dibuka dan terbuka untuk umum.
2. Asas kelangsungan, yaitu selama sidang berlangsung Hakim harus
melaksanakan asas kelangsungan, yaitu sesuatu melalui Hakim.
3. Asas oral debate yang menghendaki segala sesuatu diucapkan
dengan lisan dan harus menggunakan bahasa Indonesia.
- Akibat hukumnya apabila asas tersebut tidak diterapkan adalah
mengakibatkan batalnya putusan demi hukum.

b. Terangkan 2 (dua) system pemeriksaan perkara pidana, dan sistem yang mana yang
digunakan dalam KUHAP ? Berikan contoh sebagai buktinya !
Jawaban :
- Dua (2) sistem pemeriksaan perkara pidana :
1. Sistem accusatoir (arti kata : menuduh), yaitu menganggap
tersangka sebagai subjek berhadap-hadapan dengan pihak yang mendakwa,
yaitu Kepolisian atau Kejaksaan sehingga kedua belah pihak itu masing-masing
mempunyai hak yang sama nilainya.
2. Sistem inquisitoir (arti kata : pemeriksaan), yaitu menganggap
tersangka sebagai objek yang harus diperiksa ujudnya berhubungan dengan
suatu pendakwaan. Pemeriksaan ujud ini berupa pendengaran si tersangka
tentang dirinya.
- Sistem yang digunakan dalam KUHAP ialah bahwa dalam pemeriksaan
permulaan (vooronderzoek) dipakai sistem inquisitoir yang lunak, artinya
bahwa dalam pemeriksaan penyidik tersangka boleh didampingi penasihat.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 3


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
- Hukum yang mengikuti jalannya pemeriksaan secara pasif yaitu penasihat
hukum yang diperkenankan melihat dan mendengar pemeriksaan permulaan.
Sedangkan pada pemeriksaan di muka Hakim (gerechtelijk onderzoek)
digunakan sistem accusatoir di mana tersangka / terdakwa mempunyai hak
yang sama dengan penuntut umum, sedangkan Hakim berada di atas kedua
belah pihak untuk menyelesaikan perkara pidana di antara mereka menurut
peraturanb hukum pidana yang berlaku.
- Contoh inquisitoir yang lunak : Dalam pemeriksaan oleh penyidik, seorang
tersangka berhak didampingi seorang penasihat hukum yang hanya
diperkenankan untuk mendengar dan melihat jalannya pemeriksaan.
- Contoh accusatoir : Dalam jalannya persidangan di suatu pengadilan
kedudukan penuntut umum dan tersangka / terdakwa adalah sama, penuntut
umum dapat mengajukan dakwaan dan tersangka / terdakwa dapat
mengajukan tangkisan / eksepsi melalui penasihat hukumnya.

c. Sebut dan jelaskan jenis-jenis perkara pidana yang menjadi wewenang Pengadilan
Negeri, dan terangkan apakah perbedaannya !
Jawaban :
- Jenis-jenis perkara pidana yang menjadi wewenang PN :
1. Perkara pidana biasa, yaitu perkara pidana yang diperiksa di PN
secara biasa. Yaitu penuntut umum harus mengadakan dakwaan, yaitu
menyerahkan berkas perkara kepada PN dengan suatu dakwaan supaya perkara
pidananya diajukan dalam persidangan Hakim untuk diperiksa dan diadili.
2. Perkara singkat, yaitu jika menurut penuntut umum perkaranya
adalah sangat mudah pemeriksaannya tentang pembuktian dan pelaksanaan
hukum, dan sekiranya akan dijatuhkan hukuman yang tidak lebih berat dari
hukuman penjara selama satu tahun, dan penuntut umum dapat memajukan
langsung ke depan persidangan Hakim.
3. Perkara cepat dibagi 2, yaitu :

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 4


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
1) Tindak pidana ringan ialah perkara yang diancam dengan
pidana penjara atau kurungan paling lama 3 bulan dan atau denda sebanyak-
banyaknya Rp 7.500,- dan penghinaan ringan, kecuali pelanggaran lalu
lintas.
2) Pelanggaran lalu lintas ialah perkara pelanggaran tertentu
terhadap peraturan perundang-undangan lalu lintas sebagaimana termuat
dalam UU No. 14 Tahun 1992.
- Perbedaannya :
Ketentuan tentang acara pemeriksaan biasa berlaku juga bagi perkara singkat dan
perkara cepat kecuali ditentukan lain, yaitu terdapat perbedaan sebagai berikut :
1. Dalam perkara singkat :
1) Penuntut umum tidak membuat surat dakwaan, hanya
memberikan dari catatannya kepada terdakwa tentang tindak pidana yang
didakwakannya. Pemberitahuan itu dicatat dalam berita acara sidang dan
merupakan pengganti surat dakwaan (Pasal 203 (3) KUHAP).
2) Putusan tidak dibuat secara khusus, tetapi dicatat dalam berita
acara sidang (Pasal 203 (3) d KUHAP).
3) Hakim membuat surat yang memuat amar putusan tersebut
(Pasal 203 (3) e KUHAP).
2. Dalam perkara cepat tindak pidana ringan :
1) Penyidik langsung mengahdapkan terdakwa beserta barang
bukti, saksi, ahli, dan atau juru bahasa ke pengadilan atas dakwaan penuntut
umum (Pasal 205 (2) KUHAP).
2) Pengadilan mengadili dengan Hakim tunggal pada tingkat
pertama dan terakhir, tidak dapat dimintakan banding kecuali dalam hal
dijatuhkan pidana penjara atau kurungan (Pasal 205 (3) KUHAP).
3) Saksi tidak mengucapkan sumpah atau janji kecuali Hakim
menganggap perlu.
4) BAP tidak dibuat, kecuali dalam pemeriksaan terdapat
ketidaksesuaian dengan BAP yang dibuat penyidik (Pasal 209 KUHAP).

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 5


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
3. Dalam perkara cepat pelanggaran lalu lintas :
1) Tidak diperlukan BAP (Pasal 212 KUHAP).
2) Terdakwa dapat diwakilkan kepada orang lain dalam sidang
dengan surat (Pasal 211 KUHAP).
3) Terdapat putusan verstek (Pasal 214 (1) KUHAP).
4) Dalam hal putusan dijatuhkan di luar hadirnya terdakwa
dalam putusan itu berupa pidana perampasan kemerdekaan, terdakwa dapat
mengajukan perlawanan (Pasal 214 (4) KUHAP).

e. Mengapa Hakim sebelum memeriksa saksi terlebih dahulu menanyakan saksi,


apakah saksi kenal dengan terdakwa dan apakah ada hubungan keluarga ? Jelaskan
maksud dan tujuannya !
Jawaban :
Maksud dan tujuannya :
1. Untuk mencegah saksi yang diajukan tersebut merupakan orang yang
dilarang menjadi saksi sesuai ketentuan Pasal 186 KUHAP.
2. Untuk mencegah saksi yang diajukan tersebut saling kenal mempunyai
hubungan kerja, dan sebagainya sehingga saksi ada kemungkinan memberikan
keterangan yang tidak benar.

SOAL III
a. Terangkan jenis-jenis pembuktian yang Saudara ketahui dan teori pembuktian yang
mana yang dianut dalam KUHAP ! Berikan dasar hukumnya !
Jawaban :
Jenis-jenis pembuktian :
1. Sistem / teori pembuktian berdasarkan UU secara positif (Positive wettelijke
bewijs theorie) ; hanya didasarkan pada UU melulu, artinya jika telah terbukti suatu
perbuatan sesuai dengan alat-alat bukti yang disebut oleh UU, maka keyakinan
Hakim tidak diperlukan sama sekali.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 6


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
2. Sistem / teori pembuktian berdasarkan keyakinan hakim belaka menurut aliran
ini dianggap cukup, bahwa Hakim berdasarkan terbuktinya suatu keadaan atas
keyakinan belaka, dengan terikat oleh suatu peraturan.
3. Sistem / teori pembuktian berdasarkan keyakinan atas alasan yang logis, Hakim
dapat memutus seseorang bersalah atau tidak berdasarkan keyakinannya, keyakinan
yang didasarkan pada pembuktian disertai dengan suatu kesimpulan yang
berlandaskan pada peraturan-peraturan pembuktian tertentu.
4. Sistem / teori pembuktian menurut UU sampai suatu batas (negative wettelijk);
pembuktian harus didasarkan pada UU, yaitu alat bukti yang sah, disertai dengan
keyakinan Hakim yang diperoleh dari alat-alat bukti tersebut.

KUHAP menganut sistem / teori pembuktian menurut UU sampai suatu batas (negative
wettelijk), dasar hukumnya adalah Pasal 183 KUHAP yang menyebutkan Hakim tidak
boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila sekurang-kurangnya dua
alat bukti yang sah memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar
terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

b. Terangkan apakah arti dari suatu pembuktian dan apa tujuannya dan siapakah yang
dibebani pembuktian dalam sidang, sebutkan dasar hukumnya !
Jawaban :
- Arti pembuktian : keseluruhan aturan hukum atau peraturan UU mangani
kegiatan untuk rekonstruksi suatu kenyataan yang benar dari setiap kejadian masa
lalu yang relevan dengan persangkaan terhadap orang yang diduga melakukan
perbuatan pidana dan pengesahan setiap barang bukti menurut ketentuan hukum
yang berlaku untuk kepentingan peradilan dalam perkara pidana.
- Tujuan pembuktian : untuk memperoleh kebenaran secara hukum.
- Yang dibebani pembuktian adalah :
1. Penuntut umum, harus membuktikan dakwaannya.
2. Terdakwa, harus membuktikan tangkisannya.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 7


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
Dasar hukumnya adalah berdasarkan pada sistem yang dianut KUHAP yaitu sistem
accusatoir, di mana terdakwa / tersangka mempunyai hak yang sama nilainya
dengan penuntut umum.

c. Siapakah yang dimaksud dengan saksi relatief onbevoegd, dan apakah bisa didengar
kesaksiannya ? Jelaskan !
Jawaban :
- Yang dimaksud saksi relatif onbevoegd adalah mereka yang tidak dapat
didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi (Pasal 168
KUHAP), yaitu :
1. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke
bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersam-sama sebagai
terdakwa.
2. Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa
saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena
perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa samapi derajat ketiga.
3. Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang
bersama-sama sebagai terdakwa.
Mereka tidak dapat didengar sebagai saksi kecuali apabila mereka, penuntut umum,
dan terdakwa menyetujui, maka mereka dapat memberikan keterangan di bawah
sumpah. Apabila salah satu tidak menyetujui, maka mereka tidak dapat dimintakan
keterangannya (Pasal 169 KUHAP).

d. Terangkan apakah yang dimaksud dengan sumpah promissoris dan assertoris !


Apakah perbedaannya dan bagaimanakah kekuatan hukumnya ?
Jawaban :
- Sumpah promissoris adalah sumpah yang diucapkan oleh saksi bahwa
mereka akan memberikan keterangan yang sebenar-benarnya.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 8


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
- Sumpah assertoris adalah sumpah yang diucapkan setelah memberikan
keterangan, untuk menegaskan bahwa keterangan yang telah dikemukakan tersebut
adalah benar.
- Perbedaannya dan kekuatan hukumnya :
Sumpah promissoris bukan sebagai alat bukti, tetapi merupakan syarat bagi saksi
sebelum memberikan keterangan. Jadi yang menjadi alat bukti di sini adalah
saksinya, bukan sumpahnya.
Sumpah assertoris dapat menjadi bukti tambahan setelah ada bukti-bukti utama.

SOAL IV
a. Sebut dan terangkan tangkisan atau eksepsi apa saja yang dapat diajukan dalam
perkara pidana dan kapan harus diajukan ?
Jawaban :
- Eksepsi atau tangkisan yang dapat diajukan :
1. Mengenai berwenang atau tidaknya Pangadilan mengadili kasus
tersebut.
2. Mengenai sah atau tidaknya, tepat atau tidaknya dakwaan yang
diajukan penuntut umum.
3. Mengenai sah atau tidaknya pembuktian.
4. Mengenai penolakan tuduhan.
- Eksepsi / tangkisan harus diajukan sebelum diadakan pemeriksaan pada
pokok perkara, tujuannya untuk menghindarkan diadakan putusan tentang pokok
perkara, karena bila eksepsi ini diterima maka pokok perkaranya tidak perlu
diperiksa atau diputus. Terdakwa / penasehat hukum selalu mendapatkan
kesempaatn terakhir dalam mengajukan eksepsi (Pasal 182 (1) KUHAP).

b. Apakah yang dimaksud dengan putusan akhir dan putusan yang bukan putusan
akhir. Sebutkan bentuk-bentuknya !
Jawaban :

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 9


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
- Putusan akhir adalah putusan yang dijatuhkan Hakim setelah pemeriksaan
pengadilan dinyatakan ditutup. Putusan yang bukan putusan akhir adalah putusan
yang dijatuhkan Hakim di tengah-tengah proses pemeriksaan untuk Hakim
melakukan sesuatu.
- Bentuk-bentuknya :
1. Putusan akhir :
1) Putusan penghukuman terdakwa, yaitu apabila yang
dituduhkan kepada terdakwa oleh Hakim dianggap terbukti dan
melaksanakan suatu kejahatan atau pelanggaran (Pasal 193 KUHAP).
2) Putusan bebas, yaitu jika pengadilan berpendapat bahwa
pada saat pemeriksaan di sedan, kesalahan terdakwa tidak terbukti secara
sah dan meyakinkan (Pasal 191 (1) KUHAP).
3) Putusan lepas yaitu jika pengadilan berpendapat bahwa
perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti tetapi perbuatan itu
bukan merupakan suatu tindak pidana (Pasal 191 (2) KUHAP).

2. Putusan yang bukan putusan akhir :


1) Pernyataan tidak berkewenangan untuk mengadili, yaitu
dalam hal Hakim menyatakan dirinya tidak berwenang untuk mengadili
perkara tersebut.
2) Tuntutan Jaksa tidak dapat diterima, yaitu dalam hal perkara
yang diserahkan kepada Hakim, berupa tindak pidana aduan, sedangkan
dalam berkas perkara tidak ada aduan yang diajukan oleh yang berwenang
untuk mengadukan perkara tersebut.
3) Batalnya surat tuduhan Jaksa, yaitu dalam hal surat tuduhan
Jaksa tidak memenuhi persyaratan yang secara mutlak musti ada, misalnya
tidak disebutkan waktu dan tempat terjadinya tindak pidana.
4) Putusan sela, yaitu dalam hal terjadinya pre judicial geschill,
adanya perselisihan yang memerlukan dipecahkan dulu oleh Hakim Perdata
misalnya.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 10


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
c. Terangkan upaya-upaya hukum yang Saudara ketahui dan jelaskan arti prosedur,
waktu serta alasan-alasannya !
Jawaban :
- Upaya hukum biasa :
1. Banding : suatu upaya hukum, dengan upaya hukum itu diperiksa
oleh sebuah pengadilan atasan / pengadilan tinggi mengenai fakta-faktanya
maupun mengenai penerapan hukumnya.
Prosedurnya : baik penuntut umum maupun terdakwa berhak mengajukan
banding ( Pasal 233 (1)). Tidak semua putusan perkara pidana dapat
dimohonkan banding yaitu dalam hal putusan bebas dan putusan penahanan
dalam perkara cepat.
Waktunya : permohonan banding harus sudah diterima oleh panitera PN dalam
waktu 7 hari sesudah putusan dijatuhkan atau setelah putusan diberitahukan
kepada terdakwa yang tidak hadir pada saat pengucapan putusan.
Alasan-alasannya :
1. Pemohon merasa putusan pengadilan tingkat pertama tidak
tepat.
2. Pemohon ingin agar diadakannya pemeriksaan baru untuk
keseluruhan perkara itu.
2. Kasasi : merupakan pembatalan pengadilan dari semua lingkungan
peradilan dalam tingkat terkahir, salah satu upaya hukum dengan upaya hukum
itu tindakan MA sebagai pengawas tertinggi atas putusan-putusan pengadilan
lain.
Permohonan kasasi diajukan secara lisan / tertulis pada Panitera Pengadilan
yang menjatuhkan putusan yang dimohonkan kasasi.
Tenggang waktu pengajuan adalah 14 hari setelah putusan pengadilan tersebut
diberitahukan pada pemohon.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 11


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
Dalam tenggang waktu 14 hari setelah permohonan didaftarkan pemohon kasasi
wajib mengajukan Memori Kasasi, apabila tidak diajukan maka dapat
menyebabkan permohonan kasasi ditolak.
Alasan-alasan kasasi (Pasal 30 UU No.14 Tahun 1985) :
1. Pengadilan tingkat bawahnya tidak berwenang /
melampaui batas wewenang.
2. Salah menerapkan / melanggar hukum yang berlaku.
3. Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh UU
yang mengancam kalalaian itu dengan batalnya putusan.
- Upaya hukum luar biasa :
1. Pemeriksaan kasasi demi kepentingan hukum
Merupakan upaya hukum terhadap putusan pengadilan ( kecuali MA ) yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Prosedur : hanya dapat diajukan oleh Jaksa Agung, dapat diajukan hanya satu
kali saja. Putusan kasasi demi kepentingan hukum tidak boleh merugikan pihak
yang berkepentingan yaitu terhukum atau terpidana. Permohonan disampaikan
secara tertulis kepada MA melalui panitera pengadilan yang telah memutus
perkara dalam tingkat pertama, disertai risalah yang memuat alasan permintaan
itu.
2. Peninjauan Kembali
Yaitu upaya hukum atas putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap, kecuali atas putusan bebas dan lepas.
Dapat diajukan secara tertulis atau lisan oleh terpidana atau ahli warisnya
kepada MA melalui Ketua PN yang memutus perkara dalam tingkat I.
PK hanya dapat diajukan satu kali saja.
MA memutus PK pada tingkat I dan terakhir.
Alasan-alasan PK (Pasal 67 UU No.14 Tahun 1985) :
1. Ada kebohongan / tipu muslihat
2. Novum, yaitu adanya bukti baru yang belum diajukan pada
pengadilan sebelumnya.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 12


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
3. Ada bagian tuntutan / dakwaan yang belum diputus.
4. Ada putusan atas perkara yang sama, bertentangan satu sama
lain.
5. Ada kekhilafan hakim atau kekeliruan yang nyata.

d. Kapan putusan Hakim pidana dinyatakan telah mempunyai kekuatan hukum tetap ?
Berikan kemungkinan-kemungkinannya !
Jawaban :
- Suatu putusan Hakim dinyatakan telah mempunyai kekuatan hukum tetap
apabila terhadap putusan itu tidak ada kemungkinan untuk melawan atau
untuk mohon banding, atau untuk mohon kasasi.
- Kemungkinan untuk melawan atau untuk mohon banding, atau untuk mohon
kasasi tersebut sudah tidak ada apabila :
1. Telah lewat batas waktu yang telah ditentukan.
2. Atas putusan bebas atau lepas.

SOAL V
a. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan lembaga pra peradilan, di mana dasar
hukumnya dan jelaskan bagaimana cara penggantian pemberian ganti ruginya ?
Jawaban :
- Pra peradilan : kewenangan PN untuk memeriksa dan memutuskan apakah
penangkapan / penahanan / penggeladahan / penyitaan sah atau tidak. Apakah
penghentian penyidikan / penuntutan sah atau tidak, dan memeriksa tuntutan ganti
rugi dan permintaan rehabilitasi.
- Prosedur pemeriksaannya terdapat pada Pasal 77 s.d. Pasal 84 KUHAP.
- Permintaan pemeriksaan tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau
penahanan atau penggeledahan atau penyitaan diajukan oleh tersangka, keluarga,
atau kuasanya kepada Ketua PN dengan menyebutkan alasannya (Pasal 79
KUHAP).

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 13


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
- Permintaan untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu penghentian
penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntutan umum
atau pihak ke-3 yang berkepentingan kepada ketua PN dengan menyebutkan
alasannya (Pasal 80 KUHAP).
- Perkaranya harus diajukan secepatnya sebelum pemeriksaan perkara
pidananya.
- Cara penggantian ganti rugi :
1. Yang berhak untuk menuntut ganti kerugian adalah tersangka,
terdakwa, terpidana, atau ahli warisnya yang tanpa alasan yang berdasarkan UU
atau karena ketentuan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan,
ditangkap, ditahan, dituntut, dan diadili atau dikenakan tindakan lain (Pasal 95
(1) jo (2)).
2. Mengenai besarnya ganti kerugian ditetapkan berdasarkan
keputusan Menteri Keuangan.

b. Siapakah yang melaksanakan eksekusi dari putusan yang telah memperoleh


kekuatan hukum tetap dan bagaimana eksekusi atas pidana denda ?
Jawaban :
- Yang melaksanakan eksekusi adalah Jaksa (Pasal 270 KUHAP).
- Eksekusi atas pidana denda diatur dalam Pasal 273 (1) : Jika putusan
pengadilan menjatuhkan pidana denda, kepada terpidana diberikan jangka waktu
satu bulan untuk membayar denda tersebut kecuali dalam putusan acara
pemeriksaan cepat yang harus seketika dilunasi. Dalam ayat 2 Pasal 273 KUHAP,
jangka waktu tersebut dapat diperpanjang paling lama satu bulan.

c. Siapakah yang dimaksud dengan Hakim WASMAT dalam KUHAP, bagaimana cara
penunjukannya dan apakah tujuan dibentuknya Hakim tersebut. Uraikan dengan jelas !
Jawaban :
- Hakim WASMAT (Pengawasan dan Pengamatan) adalah Hakim yang diberi
tugas khusus untuk membantu ketua dalam melakukan pengawasan dan pengamatan

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 14


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
terhadap putusan pengadilan yang menjatuhkan pidana perampasan kemerdekaan
(Pasal 277 (1) KUHAP).
- Cara penunjukannya adalah ditunjuk oleh Ketua Pengadilan untuk paling
lama dua tahun (Pasal 277 (2) KUHAP).
- Tujuannya :
1. Untuk menjembatani kesenjangan yang ada antara apa yang
diputuskan Hakim dan kenyataan pelaksanaan pidana di lembaga
permesyarakatan jika terpidana dipekerjakan.
2. Hakim akan didekatkan dengan Jaksa dan pejabat LP.
3. Hakim akan dapat mengikuti perkembangan keadaan terpidana
sehingga dapat aktif memberi pendapatnya dalam hal pelepasan bersyarat.
4. Dapat tercapainya tujuan pemidanaan.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 15


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN

UJIAN AKHIR SEMESTER

Mata Pelajaran : Hukum Acara Pidana


Hari / Tanggal : Selasa / 15 Juni 1999
Waktu : 120 Menit
Dosen : A. H. Deddy Gadzali, S.H.
Joice Retna Hartati, S.H.
Linda Rachmainy, S.H.

I. a. Terangkan apakah yang dimaksud dengan Attributieve van rechtsmacht dan


distributieve van rechtmacht
b. Bila terjadi sengketa mengadili (jurisdictie Geschill) antara pengadilan negeri
dengan pengadilan negeri lain siapakah yang berwenang untuk memutusnya, apakah
yang menjadi dasar atas putusannya?
c. Terangkan apa yang dimaksud dengan Pre Judiciel Geschill, berikan contohnya dan
bagaimana penyelesaian perkara pidananya?
d. Bila ketua pengadilan negeri berpendapat bahwa perkara bukan wewenangnya
melainkan termasuk wewenang pengadilan negeri lain apakah yang harus dilakukan
oleh ketua pengadilan negeri tersebut dan dimana diatur dasar hukumnya?
II. a. Terangkan apa yang dimaksud perkara biasa, singkat dan cepat? Jelaskan perbedaan
mengenai tata cara penyelesaian perkaranya mulai dari pelimpahan perkara oleh
Jaksa/penuntut umum.
b. Kapan proses pemeriksaan dalam perkara biasa dimulai? Dan apakah yang dapat
diajukan terdakwa bila ia hendak menolak dakwaannya? Sebut dan terangkan
dengan sekurang-kurangnya 3 contoh!
c. Asas-asas apakah yang harus hakim laksanakan dalam pemeriksaan perkara di muka
sidang? Berikan contohnya!

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 16


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana
d. Apakah yang dimaksud dengan pemeriksaan accusatoir dan Iquisitoir, terangkan arti
serta perbedaannya, sistem mana yang dianut oleh KUHP?

III. a. Apakah yang dimaksud dengan pembuktian? Dan apakah yang harus dibuktikan
oleh penuntut umum?
b. Sebut dan terangkan teori pembuktian yang dianut KUHP, dan dimana diatur dasar
hukumnya? Teori apalagi yang dikenal dalam Hukum Acara Pidana dan terangkan
arti dan perbedaannya.
c. Siapakah yang dimaksud dengan saksi relatief onbevoed dan saksi absolout
onbevogd? Apa saksi-saksi tersebut dapat didengar keterangannya? Dan
jelaskan apa syarat-syaratnya?
d. Apakah yang dimaksud dengan Saksi Mahkota dan saksi de auditu?
bagaimana pendapat Mahkamah Agung atas kedua jenis saksi itu?

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 17


2004-2005
Campus in Compact Hukum Acara Pidana