Anda di halaman 1dari 2

Jawaban Contoh Kasus Ketenagakerjaan

Dalam menjawab pertanyaan yang berupa kasus, unsur penting yang dijadikan penilaian
adalah sbb:

1. Kemampuan menganalisa kasus posisi dan mengidentifikasikan fakta-fakta hukum


terkait kasus tersebut;
2. Peraturan perundang-undangan yang terkait; dan
3. Aplikasi peraturan dan solusi yang ditawarkan.

Dalam menganalisa kasus, Bapak/Ibu diharapkan mengidentifikasikan fakta-fakta hukum


antara lain: mengenai Yayasan yang merupakan salah satu bentuk badan hukum (selain
Perseroan Terbatas dan Koperasi) dapat melalukan tindakan hukum berupa pengikatan
perjanjian dalam bentuk perjanjian kerja sebagai Perusahaan dengan Rega sebagai
Pekerja. Pasal 1 ayat 6 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
(UU 13/2003) mendefinisikan Perusahaan sebagai suatu bentuk usaha, baik berbadan
hukum maupun tidak termasuk usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang
mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau
imbalan dalam bentuk lain. Sehingga Universitas X telah memenuhi kategori ini.

Fakta hukum selanjutnya yang dapat dibahas adalah usia Rega yang telah berumur 30
tahun. Usia ini baik secara KUHPerdata maupun UU 13/2003 telah dewasa dan bukan
merupakan pekerja anak. Referensi ke pasal-pasal terkait pada UU 13/2003 akan
menambah poin. Misalnya Pasal 69 UU 13 Tahun 2003 yang mendefinisikan pekerja anak
sebagai pekerja yang berumur 13-15 (lima belas) tahun.

Selanjutnya, poin yang paling penting untuk dibahas di dalam kasus ini adalah mengenai
Perjanjian Kerja, meliputi PKWT dan PKWTT sebagaimana diatur dalam Pasal 56 ayat (1)
UU 13/2003. Rega dikontrak sebagai tenaga kerja dalam lingkup PKWT. Pasal 1 angka 1
No. KEP.100/MEN/VI/2004 menyatakan bahwa Perjanjian kerja waktu tertentu adalah
perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan
kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerjaan tertentu.

Pasal 59 UU 13/2003 menyatakan bahwa PKWT hanya dapat dibuat untuk pekerjaan
tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam
waktu tertentu, yaitu:

a. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;


b. pekerjaaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama
dan paling lama 3 (tiga) tahun;
c. pekerjaan yang bersifat musiman; atau
d. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk
tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.
Penjelasan UU 13/2013 selanjutnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pekerjaan
yang bersifat tetap dalam ayat ini adalah pekerjaan yang sifatnya terus menerus, tidak
terputus-putus, tidak dibatasi waktu dan merupakan bagian dari suatu proses produksi
dalam satu perusahaan atau pekerjaan yang bukan musiman. Pekerjaan yang bukan
musiman adalah pekerjaan yang tidak tergantung cuaca atau suatu kondisi tertentu.

Analisa yang dibangun biasanya berujung pada kesimpulan bahwa pekerjaan Dosen tidak
memenuhi unsur-unsur sebagaimana dinyatkan di dalam Pasal 59 diatas, kecuali ada
asumsi Universitas X memberikan pekerjaan yang sementara. Akan tetapi, hal ini tidak
memungkinkan mengingat kewajiban Rega yang meliputi tugas utama dan tugas khusus,
temasuk melakukan kegiatan pekerjaan yang bersifat tetap. Referensi kepada peraturan
khusus (dari Dikti atau yang lain) mengenai status pekerjaan Dosen akan memberikan
penilaian khusus.

Poin paling krusial dalam kasus ini adalah pembahasan mengenai ketentuan masa
percobaan selama 6 bulan. Pasal 58 ayat (1) UU 13/2003 secara jelas melarang adanya
persyaratan masa percobaan dalam PKWT. Akibat dicantumkannya masa percobaan
tersebut menurut Pasal 58 ayat (2) jo Pasal 59 ayat (7) UU 13/2003, antara lain:

1. masa percobaan kerja yang disyaratkan batal demi hukum; dan


2. status PKWT berubah demi hukum menjadi PKWTT.

Nilai lebih akan diberikan apabila dapat membahas mengenai syarat sahnya perjanjian
sebagaiamana dicantumkan di dalam Pasal 1365 KUHPerdata dikaitkan dengan masa
percobaan tersebut. Analisa dapat dilakukan terkait syarat objektif yaitu mengenai suatu
perjanjian tidak dapat melanggar ketentuan UU.

Hal selanjutnya yang dapat dibahas adalah mengenai jam kerja Rega. Dari tugas utama dan
tugas khusus yang diberikan, dapat diketahui bahwa kemunginan besar jam kerja Rega
telah melebihi 40 jam seminggu berdasarkan Pasal 77 UU 13/2003. Sedikit pembahasan
mengenai penyimpangan waktu kerja atau upah lembur akan lebih baik.

Poin terakhir yang dapat dibahas adalah mengenai penyelesaian perselisihan yang akan
timbul antara Rega dan Universitas X. Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) UU Nomor 2 Tahun
2004 Tentang Penyelesaian Hubungan Industrial, perselisihan tersebut dapat dikategorikan
sebagai perselisihan hak. Perselisihan hak adalah perselisihan yang timbul karena tidak
dipenuhinya hak, akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap
ketentuan peraturan perundang-undangan, perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau
perjanjian kerja bersama. Apabila tidak terjadi kesepakatan, Rega dan Universitas X harus
menempuh penyelesaian sengketa secara Bipatrit, Mediasi sebelum menyelesaikan melalui
Pengadilan Hubungan Industrial.