Anda di halaman 1dari 2

Perkembangan Metode Elektromagnetik

Oleh Muhammad Ario Eko Rahadianto 140710150042

Pada tahun 1948 dibuat publikasi yang berjudul Notes on the Electromagnetic
Induction within the Earth oleh Tsuneji Rikitake. Metode praktek untuk membahas
hubungan antara variasi medan magnet bumi dan arus bumi dibahas di paper tersebut.
Penulis berasumsi bahwa bumi merupakan perantara semi-tak hingga, arus bumi yang
dihitung menggunakan variasi medan geomagnetik berbanding lurus dengan analisis
spherical harmonis dari potensial magnet yang sebelumnya diteliti oleh Chapman dan
Whitehead. Dikatakan pada publikasi tersebut bahwa properti kelistrikan bumi dapat
berbeda-beda (anisotropi) , bisa disimpulkan pada waktu tersebut belum ada penelitian
tentang ke-anisotropi-an properti kelistirikan bumi dan disebutkan juga pemahaman
yang lebih lanjut dibutuhkan untuk mempelajari ke-anisotropi-an bumi tersebut.

Pada 1950, A. N. Tikhonov membahas karakteristik kelistrikan di kerak bumi lapis


dalam. Tikhonov bertujuan untuk menunjukan hubungan medan magnet dan listrik yang
diturunkan dari persamaan Maxwell. Karena data pendahuluan yang ditunjukkan di
paper tersebut menunjukkan kemungkinan untuk mengeksplorasi kerak bumi bahkan
bisa ke lapis lebih dalam di area tertentu, alaminya dapat menggunakan metode untuk
membandingkan medan magnet dan listrik untuk eksplorasi kedalaman kerak bumi.

Pada 1953, Louis Cagniard membuat penelitian tentang teori mendasar dari metode
Magnetotelurik untuk prospekting geofisika. Disimpulkan dari paper tersebut adalah
penggunaan metode MT yang ideal yaitu dengan sounding MT seperti yang dijelaskan.
Pengukuran sedimen dengan kedalaman berkilometer di tengah-tengan basin yang besar
memunculkan permasalahan yang tidak bisa di pecahkan oleh metode-metode geofisika
saat itu. Metode MT seharusnya dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan hanya
satu stasiun saja.

Pada 1954, James R. Wait membuat penelitian tentang hubungan antara arus telurik dan
medan magnet bumi. Sebenarnya studi ini dimulai dari paper oleh Cagniard (1953),
Wait ingin meneruskan dan memvalidasi paper tersebut.

Pada 1963, dibuat pembahasan tentang masalah patahan dan dike di teori
Magnetotelurik oleh J. K. Weaver. Disimpulkan bahwa teori Magnetotelurik harus
dilakukan secara hati-hati saat digunakan di patahan dan juga di dike.

1
Pada tahun 1979, Vladimir I. Dmitriev membuat publikasi tentang model mendasar dari
sounding magnetotelurik. Telah dipercayai bahwa model Tikhonov-Cagliard bisa di
aplikasikan metode magnetotelurik pada geofisika eksplorasi apabila medan horizontal
berubah secara cukup perlahan. Sebenarnya, model tersebut sangat terbatas yang akan
menimbulkan keraguan akan kebenaran model tersebut. Sudah dipercayai bertahun-
tahun bahwa medan magnetotelurik harus sama di jarak ratusan kilometer. Ini dapat
membatasi struktur dari medan elektromagnetik. Pada saat itu, ternyata hanyalah
dibutuhkan keberagaman medan di area soundingnya. Ini dianggap dapat
menyempurnakan model Tikhonov-Cagliard yang sebelumnya diragukan.

Masuk ke abad-21, Pada tahun 2010 dibuatnya pembahasan oleh Robert L. Parker yang
berjudul Bisakah Respon Frekuensi MT 2-D Dapat Selalu Diinterpretasikan menjadi
Respon 1-D?. Paper ini didasarkan pada pernyataan Weidelt and Kaikkonen bahwa
mode Magnetik Transversi (TM) dalam MT tidak akan selalu cocok apabila diubah ke
1-D. Maka setelah dilakukan penelitian ternyata 1-D pada mode TM cocok dengan 2D
namun pada mode TE (Transverse Electric) tidak bagus, maka harus dilakukan secara
hati-hati atau lebih baik dihindari.

Pada 2011, ditemukannya cara menemukan solusi analitik permasalahan MT mode TE


2-D oleh Robert L. Parker