Anda di halaman 1dari 14

10

BAB II
PERMASALAHAN BUNGA BANK DAN RIBA

A. Bunga Bank

Pada umumnya dalam ilmu ekonomi, bunga uang timbul dari sejumlah

uang pokoknya, yang lazim disebut dengan istilah kapital atau modal berupa

uang. Dalam dunia ekonomi lazim pula disebut dengan istilah rente juga dikenal

istilah interest. Oleh karena itu, kedua istilah itu sinonim dari bunga uang.1

Bunga uang yang dikeluarkan oleh bank disebut bunga bank.

Yang dimaksud dengan bunga uang ialah penggantian kerugian yang

diterima oleh yang punya modal uang untuk menyerahkan penggunaan modal itu,

maka bunga itu dianggap sebagai harga yang dibayar untuk penggunaan modal

uang.2

Menurut Goedhart, bunga uang adalah perbedaan nilai, yang tergantung

pada perbedaan waktu yang berdasarkan atas perhitungan ekonomi. 3 Begitu pula

menurut Taher Ibrahim, bunga uang adalah harga dari alat produksi modal. 4

Menurut Hermanses, bunga uang adalah :

Pendapatan yang diterima oleh pemilik kapital uang karena ia telah


meminjamkan uangnya kepada orang lain. Sudah tentu pemilik kapital uang
dapat juga menggunakan uangnya itu dalam perusahaannya sendiri. Pemilik
kapital uang demikian sudah tentu tak akan menerima bunga, akan tetapi
bunga yang tak diterima itu diperhitungkan dalam biaya produksi.
Perhitungannya itu dapat didasarkan pada bunga umum yang berlaku. Jadi
1
Syabirin Harahap, Bunga Uang dan Riba dalam Hukum Islam, (Jakarta : Pustaka
Alhusna, 1993), h. 18.
2
Ibid.
3
Ibid.
4
Ibid.
11

bunga itu tidak lain dari pada harga yang harus dibayar untuk menggunakan
kapital uang. Karena bunga itu berdasarkan milik orang atas kapital uang,
bunga itu lalu disebut juga pendapatan milik.5

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa bunga itu dapat dipandang sebagai

harga, yaitu harga yang dibayar oleh bank untuk penggunaan modal uang. Juga

dapat dianggap sebagai perbedaan nilai, yaitu perbedaan nilai sejumlah uang

sekarang dengan jumlah uang yang akan diperoleh kemudian hari.

Dalam sejarah perekonomian, bangsa-bangsa dahulu telah mengenal

bank, tetapi bank ini berlainan dengan bank modern, sesuai dengan awal transaksi

di waktu itu. Saat itu belum ada mata uang dan baru muncul pada abad

pertengahan, maka tumbuhlah lembaga perbankkan yang mereka gunakan

sebagai mata uang, pertukaran uang dengan yang lain dan penyimpanan. Hal ini

sesuai dengan tingkat kemajuan yang mereka capai pada saat itu. Mereka belum

mengoperasikan uang yang didepositokan pada para bankir.6

Para bankir kemudian berpendapat bahwa adalah lebih baik kalau uang

tersebut sebagian mereka kelola, karena pada umumnya pemilik uang tidak

menginginkan uang yang mereka titipkan itu dioperasikan. Dengan uang yang

dititipkan itu mereka dapat mengoperasikannya sejumlah tertentu dan mereka pun

dapat mengembalikan uang titipan ini pada saat penitipnya meminta kembali. 7

Dengan cara semacam ini, penitip tidak mengetahui bahwa uangnya telah

5
Ibid., h. 19.
6
Abu Surai, Bunga Bank Dalam Islam, (Surabaya : Al-Ikhlas, 1995), h. 95.
7
Ibid.
12

dioperasikan atau dikembangkan oleh si bankir, karena yang

bersangkutan dapat mengembalikan kepada pemiliknya kapan saja uang itu

ditarik kembali, karena uang yang dititipkan kepada si bankir itu banyak,

sehingga ia dapat memperbesar operasinya dan mendapatkan keuntungan yang

besar pula.8

Dengan demikian si bankir berpendapat bahwa adalah suatu hal yang

menguntungkan bagi dirinya kalau penitip uang diberi bagiandari keuntungan

uang yang mereka titipkan kepadanya, sehingga uang mereka pun berkembang

pula. Dengan cara ini si penitip memperoleh keuntungan dan si bankir juga

memperoleh untung yang besar. Bila penitip tidak diberi keuntungan, mungkin

penitip tidak akan menitipkan uangnya lagi atau tidak mengizinkan uangnya

untuk dikembangkan. Akhirnya orang-orang lain digalakkan untuk menitipkan

uangnya dengan iming-iming keuntungan (bunga). Dari sinilah kemudian lahir

gagasan lahirnya lembaga perbankkan.9

Sesungguhnya bunga bank tidak dapat dipisahkan dari bank, sebab dari

bunga itulah sumber penghasilan bank. Hal ini sesuai dengan ungkapan Murtadha

Muthahhari :

Bank mengumpulkan uang dari masyarakat dan membujuk mereka untuk


menyimpan uangnya di bank itu dengan imbalan keuntungan. Maka bank
mengumpulkan modalnya dengan menghimpun uang-uang yang sedikit dan
menginvestasikannya dalam usaha-usaha pengusaha. Tentu bunga yang
diambilnya lebih besar dari bunga yang diberikan kepada pemilik uang.
Dengan cara ini bank memperoleh keuntungan.10
8
Ibid.
9
Ibid.
10
Murtadha Muthahhari, Asuransi dan Riba, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1995), h.
93.
13

Dengan demikian, bank memproleh keuntungan dari dua cara, yaitu dari

uang tabungan masyarakat dengan bunga yang rendah dan diinvestasikannya

kepada pengusaha dengan bunga yang relatif besar, dan dari pinjaman masyarakat

dengan bunga yang lebih besar dari bunga tabungan.

B. Riba dalam Hukum Islam

Riba menurut pengertian bahasa berarti ziadah (tambahan). Dalam

pengertian lain, riba juga berarti tumbuh dan membesar. Sedangkan menurut

istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal

secara batil11. Yang dimaksud di sini ialah tambahan atas modal, baik

penambahan itu sedikit atau banyak. Dalam kaitan ini Allah Swt berfirman dalam

surah Al-Baqarah ayat 279 :



Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka

ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu

bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak

menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.12

11
Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah Suatu Pengenalan Umum, (Jakarta :
Tazkia Institut, 1999), h. 59.
12
Tim Penterjemah, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab
Suci Al-Quran, 1990), h. 52.
14

Pengertian riba secara bahasa adalah tambahan, namun yang dimaksud

riba dalam ayat Quran yaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya suatu

transaksi pengganti atau penyeimbang yang dibenarkan syariah. 13 Begitu juga

menurut Chadziq Charisma, riba berarti lebih atau bertambah, maksudnya suatu

perjanjian yang dilakukan dengan tukar menukar sesuatu, tetapi tidak memenuhi

ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat agama Islam. 14

Yang dimaksud dengan transaksi pengganti atau penyeimbang, yaitu

transaksi bisnis atau komersial yang melegimitasi adanya penambahan tersebut

secara adil. Seperti transaksi jual beli, gadai. Sewa atau bagi hasil proyek. Dalam

transaksi sewa, si penyewa membayar upah sewa karena adanya manfaat sewa

yang dinikmati.

Dalam transaksi simpan pinjam dana, secara konvensional si pemberi

pinjaman mengambil tambahan dalam bentuk bunga tanpa adanya suatu

penyeimbang yang diterima si peminjam kecuali kesempatan dan faktor waktu

yang berjalan selama proses peminjaman tersebut. Hal yang dinilai tidak adil di

sini adalah si peminjam diwajibkan untuk selalu, tidak boleh tidak, harus, mutlak

dan pasti untung dalam setiap penggunaan kesempataan tersebut 15.

Riba diharamkan oleh seluruh agama samawi dan dianggap

membahayakan oleh agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Di dalam Perjanjian

13
Muhammad Syafii Antonio, Loc.cit.
14
Moh. Chadziq Charisma, Tiga Aspek Kmukjizatan Al-Quran, (Surabaya : PT. Bina
Ilmu, 1991), h. 192.
15
Muhammad Syafii Antonio, Loc.cit.
15

Lama disebutkan :

Jika kamu mengqiradhkan harta kepada salah seorang putra bangsaku,


janganlah kamu bersikap seperti orang yang menghutangkan; jangan kau
meminta keuntungan untuk hartamu. (Ayat 25 pasal 22 Kitab Keluaran).
Jika saudaramu membutuhkan sesuatu, maka tanggung-lah. Janganlah
kamu meminta darinya keuntungan dan manfaat. (Ayat 35 pasal 25 Kitab
Imamat). Kecuali itu, orang-orang Yahudi tidak mencegah riba dari orang-
orang yang bukan Yahudi, seperti yang dikatakan dalam ayat 20 pasal 23
Kitab Ulangan.16

Dalam kaitan ini al-Quran menjawab mereka seperti pada 161 surah An-

Nisa :





dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka

telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang

dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang

kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.17

Al-Quran menyinggung masalah riba di berbagai tempat, tersusun secara

kronologis berdasarkan urutan waktu. Pada periode Mekkah turun firman Allah

surah Ar-Rum ayat 39 yang berbunyi :

16
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), h. 283.
17
Tim Penterjemah, Op.cit., h. 48.
16

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada
harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang
kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai
keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang
melipat gandakan (pahalanya).18

Pada periode Madinah, turun ayat yang mengharamkan riba secara tegas,

yaitu firman Allah surah Ali Imran ayat 130 :



Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan

berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat

keberuntungan.19

Terakhir firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 278-279 :





Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu
itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri
diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya,
sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). Maka jika kamu tidak
mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan
Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan
riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak
(pula) dianiaya.20

Pada ayat ini terkandung penolakan tegas terhadap orang yang

mengatakan bahwa riba tidak haram kecuali jika berlipat ganda, karena Allah

18
Ibid., h. 921.
19
Ibid., h. 56.
20
Ibid., h. 43.
17

tidak membolehkannya kecuali mengembalikan modal pokok tanpa ada

pertambahan. Ayat ini merupakan ayat terakhir berkaitan dengan masalah riba.

Riba termasuk dosa besar.

Allah melaknat semua pihak yang turut serta dalam akad riba. Orang

yang memberi, yang menerima, penulis yang mencatatnya, dan saksi-saksinya.

Namun ada yang membedakan antara riba dengan bunga uang, seperti

Mohammad Hatta mantan Wakil Presiden RI, bahwa riba adalah untuk pinjaman

yang bersifat konsumtif, sedangkan bunga untuk pinjaman yang bersifat

produktif.21

Secara garis besar, riba dikelompokkan menjadi dua, yaitu riba hutang-

piutang dan riba jual beli. Riba hutang-piutang terbagi lagi menjadi riba qardh

dan riba jahiliyyah. Sedangkan riba jual beli terbagi menjadi riba fadhal dan riba

nasiah.22

Riba ada dua macam, riba nasiah dan riba fadhal. Riba nasiah yaitu

21
Cholil Uman, Himpunan Fatwa-fatwa Pilihan, (Bandung : Citra Umbara, 1997), h.
86.
22
Antonio, Op.cit., h. 63.
18

pertambahan bersyarat yang diperoleh orang yang menghutangkan dari

orang yang berhutang lantaran penangguhan. Jenis ini diharamkan dengan

berlandaskan kepada al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma ulama. 23

Riba fadhal yaitu jenis jual beli uang dengan uang atau bahan pangan

dengan bahan pangan disertai tambahan.24 Jenis riba ini diharamkan karena

menjadi penyebab kepada riba nasiah. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu

Said al-Khudri bahwa Nabi SAW bersabda :



:
25

Dari Abu Said al-Khudri r.a. katanya : Dinar ditukar dengan dinar, dirham

dengan dirham secara sama. Siapa yang menambah/melebihkannya maka ia

telah berbuat riba.

Dengan demikian, riba fadhal diharamkan karena riba fadhal dapat

menyebabkan terjadinya riba nasiah. Sebab orang yang menerima tambahan

pembayaran itu biasanya sebagai syarat atas utang yang diberikannya.

Jenis-jenis barang ini secara khusus disebut oleh hadis karena tergolong

kebutuhan pokok yang dibutuhkan manusia, tidak bisa tidak. Emas dan perak

merupakan bahan pokok uang untuk standar muamalah dan pertukaran.

Keduanya sebagai standar harga dalam menentukan harga barang.

Adapun yang lainnya, itu semua sebagai bahan pangan terpokok yang

23
Ibnu Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, (Beirut : Dar al-Fikr, 1985), h. 324.
24
Muhammad Amin Kurdi, Tanwir al-Qulub, (Beirut : Dar al-Fikr, 1981), h.59.
25
Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Jilid IV, (Beirut : Dar al-Fikr,
1994), h. 173.
19

menjadi penunjang kehidupan. Jika terjadi riba pada jenis barang-barang ini

menimbulkan kefatalan dan kericuhan dalam muamalah manusia. Karena itulah

syariat mencegahnya sebagai rahmat kepada manusia dan untuk melindungi

kemaslahatan mereka.

Nampak di sini, bahwa illat pengharaman emas dan perak karena

melihat kedudukannya sebagai harga, sedang untuk jenis-jenis lainnya karena

sebagai barang pangan yang menjadi kebutuhan pokok manusia. Jika terdapat

illat yang sama pada uang yang lain, selain emas dan perak, maka kedudukan

hukumnya sama. Ia tidak boleh dijual kecuali dengan satu lawan satu, dari tangan

ke tangan.26

Imam Muslim meriwayatkan dari Muammar bin Abdullah dari Nabi

SAW bahwa beliau mencegah menjual barang pangan kecuali satu sama satu

(sama-sama). Semua jenis barang yang kedudukannya sama dengan jenis-jenis

barang ini dikiyaskan kepadanya dan hukumnya sama. Jika pertukaran sesuai

dalam jenis dan `illat, maka diharamkan melebihkan dan diharamkan pula

menunda pembayaran.27

Allah memerangi sistem riba dala jual beli dan utang piutang. Berapa

banyak sistem riba telah meruntuhkan bangunan-bangunan yang berdiri kokoh,

orang kaya menjadi hina, raja menjadi hamba sahaya, keluarga dekat dan mulia

jatuh ke lembah kefakiran dan kemiskinan dan yang sebelumnya bergelimang

dalam kemuliaan dan kemewahan.


26
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Jilid XII, alih bahasa : Kamaluddin A. Marzuki,
(Bandung :Al-Maarif, 1988), h. 123.
27
Ibid.
20

Riba merupakan bencana besar, musibah yang kelam dan penyakit yang

berbahay. Riba adalah pembunuh dan pemusnah. Orang yang menerima sistem

riba maka kefakiran akan datang kepadanya dengan cepat. Dia akan dikepung

oleh kemelaratan, berada pada bencana besar dan kesedihan yang

berkepanjangan. Tiada diragukan lagi, kalau seorang itu pada mulanya berada

dalam kemudahan harta, kenikmatan jiwa dan sebagainya namun pagi dan sore

hatinya akan goncang dan pikirannya kacau 28.

Riba diharamkan oleh semua agama samawi. Adapun sebab diharamkan-

nya karena berbahaya besar :

1. Riba dapat menimbulkan permusuhan antara pribadi dan mengkikis habis


semangat kerjasama/saling menolong sesama manusia. Padahal semua agama
terutama Islam amat menyeru kepada saling menolong, dan membenci pemerasan
dan egoisme.
2. Menimbulkan tumbuhnya mental kelas pemboros yang tidak bekerja, juga
dapat menimbulkan adanya penimbunan harta tanpa kerja keras sehingga tak
ubahnya dengan pohon benalu (parasit) yang tumbuh di atas jerih payah orang
lain. Sebagaimana diketahui, Islam menghargai kerja dan menghormati orang
yang suka bekerja yang menjadikan kerja sebagai sarana mata pencaharian,
karena kerja dapat menuntun orang kepada kemahiran dan mengangkat semangat
mental pribadi.
3. Riba sebagai salah satu cara menjajah. Karena itu orang berkata :
Penjajahan berjalan di belakang pedagang dan pendeta. Kita telah mengenal riba
dengan segala dampak negatifnya di dalam menjajah negara kita.
4. Setelah semua ini, Islam menyeru agar manusia suka mendermakan harta
kepada saudaranya dengan baik jika saudaranya itu membutuhkan harta. 29
Menurut Muhammad Syafii Antonio, riba itu menimbulkan dua dampak

yang paling fatal, yaitu dampak ekonomi dan dampak sosial kemasyarakatan. Di

antara dampak ekonomi riba adalah dampak inflatoir yang diakibatkan oleh

bunga sebagai biaya hutang. Hal tersebut disebabkan karena salah satu elemen
28
Ali Ahmad Al-Jurjawi, Hikmat al-Tasyri wa Filsafatuh, (Beirut : Dar al-Fikr, 1985),
h. 274.
29
Sayyid Sabiq, Loc.cit.
21

dari penentuan harga adalah suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semaki

tinggi juga harga yang akan ditetapkan pada suatu barang. Dampak lainnya

adalah bahwa hutang dengan rendahnya tingkat penerimaan peminjam dan

tingginya biaya bunga, akan menjadikan peminjam tidak pernah keluar dari

ketergantungan, terlebih lagi bila bunga atas hutang tersebut dibungakan. Dari

segi sosial kemasyarakatan, riba merupakan pendapatan yang didapat secara tidak

adil. Para pengambil riba menggunakan uangnya untuk memerintahkan orang lain

agar berusaha dan mengembalikannya.30

C. Pandangan Para Ahli tentang Bunga Bank dan Riba

Para Sarjana dan Ulama di kalangan Islam hingga kini belum

memperoleh suatu kata sepakat tentang hukum bunga produktif (bunga bank) itu.

Pendapat mereka masih berbeda satu sama lain, ada yang melarang dan ada pula

yang membolehkan, serta ada yang menyatakan syubhat. Berikut ini beberapa

pendapat mereka.

Hampir semua majlis fatwa ormas Islam berpengaruh di Indonesia,

seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama telah membahas masalah riba.

Majlis Tarjih Muhammadiyah Sidoarjo tahun 1968 memutuskan :

Bank dengan sistem riba hukumnya haram dan bank tanpa riba

hukumnya halal. Bunga yang diberikan bank-bank milik negara kepada

nasabahnya atau sebaliknya yang selama ini berlaku termasuk perkara

musytabihat.31

30
Antonio, Op.cit., h. 95-96.
31
Ibid., h. 89.
22

Mengenai bunga bank atau pembungaan uang, Lajnah Bahsul Masa-il

Nahdlatul Ulama memutuskan perkara tersebut melalui beberapa kali sidang.

Terdapat tiga pendapat ulama sehubungan dengan masalah ini :

1. Haram, sebab termasuk hutang yang dipungut rente.


2. Halal, sebab tidak ada syarat pada waktu akad, sementara adat yang
berlaku tidak begitu saja dijadikan syarat.
3. Syubhat (tidak tentu halal-haramnya), sebab para ahli hukum berselisih
pendapat tentangnya32.

Sidang Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang berlangsung di Pakistan

bulan Desember 1970 menyepakati bahwa praktik bank dengan sistem bunga

adalah tidak sesuai dengan syariat Islam.

Adapun ulama yang membolehkan bunga bank di antaranya adalah

Ibrahim Husein. Menurutnya, meskipun formula bunga uang di perbankkan sama

dengan riba, tetapi karena ia mendatangkan keuntungan pada orang banyak dan

dilakukan oleh badan hukum, maka hukumnya boleh33.

Sayyid Quthub mengatakan :

Islam memuliakan pekerjaan dan menjadikannya sebab yang pokok

untuk memiliki dan mendapat untung. Islam tidak memperbolehkan uang yang

diam itu berbunga. Yang membungakan uang itu adalah kerja. Maka

membungakan uang dengan tidak kerja adalah haram. 34

Riba itu jalan ke arah melipat gandakan modal uang dengan tidak disertai

usaha dan kerja. Maka terjadi di satu pihak orang yang duduk dengan tenang
32
Ibid.
33
Muhammad Zuhri, Riba dalam Al-Quran dan Masalah Perbankkan, (jakarta: Raja
Grafindo, 1996), h. 132.
34
Syabirin Harahap, Op.cit., h. 85.
23

mendapat keuntungan dan di lain pihak orang yang bekerja dengan susah payah

mendapat kerugian. Akhirnya timbul ungkapan yang kaya makin kaya dan yang

miskin makin miskin.

Muhamad Abu Zahrah dan Abu Suud al-Ammary berpendapat bahwa

bunga bank itu halal, karena menjual semua barang dengan bertempo dengan

harga yang lebih tinggi dari pada harga penjualan dengan tunai itu hukumnya

boleh. Di samping itu, bunga bank bersifat produktif dan bukan konsumtif. 35

Muhammad Hatta berkata :

Demikianlah proses ekonomi berkembang atas dasar pinjaman dan


bunga, sehingga tidaklah mungkin terjadi lagi suatu kemajuan ekonomi dan
perkembangan suatu negara tanpa melalui pinjaman dan bunga. Jelaslah
sekarang betapa dalam aktivitas modal dan bungan uang itu berurat dan
berakar dalam kehidupan ekonomi dan perkembangan suatu negara. Maka
mengharamkan bunga bank berarti menghambat kemajuan negara. 36

Adapun mengenai bunga tabungan, menurut pendapat para ahli Fikih,

diharamkan menyimpan pada bank-bank ribawi, walaupun tanpa bunga. Sebab

dengan menyimpan pada bank-bank ribawi berarti telah membantu bank tersebut

mengembangkan kekayaannya dengan cara riba. Tetapi sebagian ahli Fikih

membolehkannya, karena yang diharamkan hanyalah mengambil bunganya 37.

Dengan demikian, sebagian besar ulama menganggap bunga bank adalah

riba yang diharamkan, maka menabung apalagi mengambil bunganya adalah

haram. Sebab menabung di bank ribawi berarti ikut membantu kelancaran riba

tersebut.
35
Ibid.
36
Ibid., h. 41.
37
Abu Surai, Op.cit., h. 99.