Anda di halaman 1dari 88

ANALISA DAN EVALUASI STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG MINI

SWALAYAN CHANDRA LODRY TENTENA

Yoppy Soleman1)
1) Staf Pengajar Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Sintuwu Maroso dan Pengkaji Teknis Bangunan
Gedung Bidang Cipta Karya Dinas PU

AbstractAnalisa dan evaluasi desain bangunan gedung 1. Undang-undang No. 28 Tahun 2002 tentang
mini swalayan ini bertujuan untuk mengetahui: 1. mutu Bangunan Gedung;
beton dan mutu pendetailan konstruksi; 2. keandalan 2. Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005
struktural bangunan terhadap beban layan dan beban tentang Bangunan Gedung;
horizontal (gempa). Bangunan mini-swalayan Chandra
3. Peraturan Menteri PU No. 29 Tahun 2006
Lodry adalah suatu portal terbuka beton bertulang biasa
yang memiliki iregularitas secara vertikal (loncatan bidang tentang Pedoman Persyaratan Teknis
muka) dengan jumlah lantai sebanyak 3. Sebagai bangunan Bangunan Gedung;
yang direncanakan untuk publik maka berdasarkan 4. Peraturan Menteri PU No. 26 Tahun 2007
ketentuan dalam undang-undang bangunan gedung, tentang Pedoman Tim Ahli Bangunan
bangunan ini termasuk yang harus dikaji keandalannya Gedung.
paling tidak dalam segi keamanan secara struktural. Tiga
prosedur akan dilaksanakan yaitu: 1. Pemeriksaan/Inspeksi Salah satu substansi utama dari peraturan-peraturan
Struktur; 2. Uji Mutu Beton (Schmidt-Hammer Test); dan 3. pembangunan gedung sebagaimana tersebut di atas
Analisis Model Struktur (dengan Aplikasi Software berbunyi sbb:
SAP2000 v14 dan ETABS v9.72).
Pengkajian secara teknis untuk
Analysis and design evaluation of this mini-market building menyimpulkan kesesuaian pemenuhan
aim to know: 1. the Quality of the concrete and construction persyaratan keandalan bangunan gedung
detailing; 2. the realiability of building structure against dalam rencana teknis terhadap ketentuan
serviceability and horizontal loads (earthquake). A Chandra
tentang:
Lodry mini-supermarket building is a ordinary concrete
open-frame structure that contains irregularities vertically
1) Persyaratan keselamatan
with a total floor as much as 3. As the building is planned a) Kemampuan mendukung beban muatan
for the public so under the provisions of the building yang dapat menjamin keandalan:
code/standard, the buildings is included which should be (1) Struktur yang kuat/kokoh, stabil dalam
reviewed at least in terms of reliability of structural safety. memikul beban atau kombinasi beban;
Three procedures will be implemented, i.e.: 1. (2) Terhadap pengaruh-pengaruh aksi akibat
examination/inspection of the structure; 2. concrete quality beban muatan tetap atau beban sementara
test (Schmidt-Hammer test); and 3. Analysis of structure
model (by using SAP2000 v14 and ETABS v9.72 application
dari gempa dan angin; dan
softwares) (3) Struktur yang daktail

Kata Kunci inspeksi bangunan, analisis model Dengan demikian salah satu prinsip pembangunan
struktur, SAP2000, ETABS, mini-swalayan tentena, gedung menurut peraturan bangunan di Indonesia
portal terbuka beton bertulang adalah harus memenuhi persyaratan keandalan, dan
sebagai bagian terpenting dari keterandalan bangunan
gedung adalah keandalan secara struktural. Keandalan
I. PENDAHULUAN struktural didefinisikan sebagai kapasitas elemen
struktural bangunan gedung secara keseluruhan
maupun secara parsial (pondasi, sloof, kolom, balok,
plat, dinding, rangka atap dan elemen struktural
Pemeriksaan terhadap bangunan perlu dilakukan
lainnya) untuk memikul pembebanan maksimum
terutama sekali pada bangunan gedung yang
selama umur rencana atau masa pakai bangunan tanpa
berfungsi untuk melayani kepentingan umum mengalami kegagalan atau keruntuhan secara tiba-
(termasuk fungsi hunian dan fungsi usaha). Dasar tiba, baik yang bersifat lokal di titik-titik tertentu
hukum untuk mempraktekkan hal ini sudah cukup jelas maupun keruntuhan total keseluruhan bangunan. Hal
yaitu substansi pasal-pasal dan ayat dari peraturan ini bertujuan untuk menjamin keselamatan penghuni
perundangan berikut ini: atau pemakai bangunan. Perlu ditekankan disini
bahwa standar perencanaan struktur/konstruksi beton
yang dirujuk dalam peraturan perundangan di atas

1
tidak mengharuskan adanya sejarah/riwayat korban Data Umum Bangunan
jiwa (ada korban jiwa dulu sebelum implementasi), Gedung mini swalayan Chandra Lodry merupakan
melainkan merujuk kepada SNI (Standar Nasional bangunan perniagaan yang berlokasi di jalan Jendral
Indonesia) yaitu peraturan zonasi dalam SNI-03- Sudirman, Kelurahan Tentena, Kecamatan Pamona
1726-2002, peraturan perencanaan struktur beton Puselemba, Kabupaten Poso. Bangunan merupakan
dalam SNI-03-2847-2002, peraturan pembebanan struktur portal terbuka beton bertulang biasa dan
gedung dalam PPTIUG 83 dan PMI 1970. Maka dikonstruksi pada tahun 2011 - 2012. Secara
dalam keandalan struktural tersebut akan terdapat 4 keseluruhan bangunan mempunyai luas total 1092.60
komponen utama yang perlu dinilai yaitu stabilitas, meter2, dengan data sbb:
kekuatan, kekakuan dan duktilitas.
Luas Lantai 1 = 394.20 m2
Untuk menilai keandalan struktural bangunan maka Luas Lantai 2 = 446.40 m2
dilakukan pemeriksaan, analisa dan evaluasi model Luas Lantai 3 = 252.00 m2
struktur dan konstruksi Bangunan Gedung Mini Tinggi bangunan dari taraf penjepitan lateral
Swalayan Chandra Lodry, Tentena. Pengkajian teknis (bagian depan) = 10.50 meter
ini terdiri atas 3 bagian, sbb: Tinggi bangunan dari taraf penjepitan lateral
(bagian belakang) = 12.50 meter
1. Pemeriksaan/Inspeksi Struktur;
Massa bangunan terdiri dari 1 blok dengan iregularitas
2. Uji Mutu Beton (Schmidt-Hammer Test); vertikal (loncatan bidang muka) pada lantai 2 ke lantai
3. Analisis Model Struktur (SAP2000, ETABS). 3. Juga terdapat diskontinuitas struktural diantara
kolom dan balok sloof lantai dasar seluas (2.67x14.60
m2).

II. PEMERIKSAAN/INSPEKSI STRUKTUR

2
Gambar 1.a f. Foto gedung mini swalayan Chandra Lodry dari berbagai arah. (a-b) Tampak Depan;
(c) Perspektif Depan; (d) Perspektif Belakang; (e-f) Tampak Belakang.

Persoalan Fundamental Struktural kolom pada 11 join akan menyebabkan kolom-


Dari inspeksi telah ditemukan beberapa kesalahan kolom tersebut hanya dapat memikul beban
fundamental dalam struktur bangunan yang ditinjau. aksial saja, dan praktis tidak dapat memikul
Persoalan yang paling krusial adalah terdapatnya momen lentur dan gaya geser. Pada situasi tidak
diskontinuitas dalam hubungan (join) balok kolom pada 11 terjadi beban puncak kondisi ini tidak berbahaya,
dari 28 kolom struktur. Persoalan kedua adalah pergeseran tetapi pada keadaan kombinasi beban puncak
as as pada beberapa kolom atau sumbu pusat kolom tidak (akibat beban hidup: berat barang, berat partisi
linear. Persoalan ketiga adalah stabilitas lereng dimana dan orang/pengunjung dan terjadi gempa bumi
telapak pondasi (poer plaat) menumpu. kuat) maka kondisinya menjadi sangat kritis dan
berbahaya. Kondisi ini menciptakan suatu titik
Diskontinuitas Struktural lemah struktural yang akan berakibat fatal atau
Diskontinuitas konstruksi beton bertulang pada terjadi keruntuhan bangunan apabila suatu
bangunan dapat ditemukan pada 11 kolom pengaruh beban gempa bumi kuat yang setara
struktural dan balok sloof pada perimeter dengan percepatan tanah dasar di atas 0.20g (
(keliling) kanan dan perimeter belakang. 0.25g) melanda kawasan Pamona Puselemba.
Terputusnya (diskontinu) hubungan balok

Gambar 2.a b. Diskontuinitas konstruksi/struktur beton bertulang yang terjadi antara kolom dan balok sloof
perimeter kanan dan belakang

3
Gambar 3. Kolom-kolom dan
balok sloof yang
diskontinu (terputus)

Gambar 4. Tiga titik sambungan balok-kolom (join) yang terputus (diskontinu)

Selanjutnya pemeriksaan desain struktur dilanjutkan dengan perhitungan kontrol ketebalan minimum pelat dan
dimensi balok-balok utama untuk membatasi besar defleksi beton bertulang.

Data Teknis Bangunan


Jarak antar portal,
Arah-X : 2,70 - 5,30 meter
Arah-Y : 3,60 - 5,50 meter
Jumlah trave : 6 Trave (arah-X)
: 3 Trave (arah-Y)
Fungsi bangunan : Perdagangan (Mini Swalayan)
Kuat tekan rencana beton ( fc r) : K-175 fc = 15 Mpa
Tegangan Luluh Tulangan Ulir : 300 MPa
Tegangan Luluh Tulangan Polos : 240 MPa
Beban Hidup lantai Toko (qLL) : 250 kg/m2
Koefisien reduksi beban hidup untuk Zona 4 dan kondisi tanah sedang= 0,50
Berat satuan spesi/ adukan (s) = 21 kg/m 2
Berat keramik (gk) = 24 kg/m 2
Berat satuan eternit dan penggantung (g e) = 18 kg/m 2
Berat volume beton bertulang (b) = 23,54 kN/m3
Berat sendiri asbes = 11 kg/m 2
Berat satuan rangka atap baja ringan = 10 kg/m2
Berat satuan penutup atap multiroof = 11 kg/m2

Kontrol Dimensi Balok Utama (Gelagar/Girder)


Balok Induk (Gelagar) Arah SG-X (Sumbu Global-X)
Bentang maksimum : 5,3 m = 530 cm

4
1 1
hmax = L 530 53 cm
10 10
dipakai h = 40 cm
1 1
bmin = x h h 55 27,5 cm
2 2
dipakai b = 30 cm
Balok Induk Arah SG-Y (Sumbu Global-Y)
Bentang maksimum : 5,5 m = 550 cm

1 1
hmax = L 550 55 cm
10 10
dipakai h = 40 cm
2 2
bmax = x h h 45 30 cm
3 3
dipakai b = 30 cm

Kontrol Ketebalan Pelat Lantai (Beam-Slab Structure)


Tabel 1. Tebal minimum balok non-prategang atau pelat satu arah bila lendutan
tidak dihitung (pasal 11.5. SNI-03-2847-2002)

5
Tabel 2. Lendutan izin maksimum (pasal 11.5. SNI-03-2847-2002)

Gambar 5.1. Denah panel Slab Lantai Dasar ( 0.00 m)

6
Gambar 5.2. Denah Panel Slab dan Bukaan Lantai 2 (+3.25 m)

Gambar 5.3. Denah Panel Slab dan Bukaan Lantai 3 (+6.50 m)

Diketahui tebal pelat digunakan, t = 100 mm

Perhitungan Tebal Plat untuk bentangan maksimum


- Plat Lantai Panel 1
fc = 15,0 Mpa ; dimensi balok induk SG-X = 30/40 (digunakan)
fy = 300 Mpa ; dimensi balok induk SG-Y = 30/40 (digunakan)
Lx = 530 cm
Ly = 550 cm
Metoda Perencanaan Langsung: tebal plat digunakan, t = 100 mm

7
30\40
30\40 Ly = 550 cm

Lx = 530 cm

Ln = Ly b
= 550 2 ( * 30 )
= 520 cm = 5200 mm
Sn = Lx b
= 530 2 ( * 30 )
= 500 cm = 5000 mm
Ln 520
= = = 1,04 < 2 , berlaku aksi plat 2 arah
Sn 500

1 3 1
bh 35 553
o K balok = 12 12 808,8 cm 3
Lx 600
1 3 1
bh 600 103
K plat = 12 12 83, 3 cm 3
Lx 600
K balok X 808,8
balok = 9,71
K plat X 83,3

1 3 1
bh 30 453
o K balok = 12 12 464,9 cm 3
Ly 490
1 3 1
bh 490 103
K plat = 12 12 83,3 cm 3
Ly 490
K balok Y 464,9
balok = 5,58
K plat Y 83,3

Balok X Balok Y 9,71 5,58


m = 7,64
2 2
untuk m > 2,0 menurut SNI 03 2847 2002 pasal 11.5.3.3, maka tebal plat minimum

fy 240
Ln 0,8 5700 0,8
1500 1500
h min = 115,81 mm
36 9 36 9 *1, 250

Tebal pelat tidak boleh kurang dari 116 mm (pelat dengan balok-balok tepi);
Plat Lantai Panel 2
fc = 18,6 Mpa ; dimensi balok induk SG-X = 35/55
fy = 240 Mpa ; dimensi balok induk SG-Y = 30/45
8
Lx = 600 cm
Ly = 355 cm
Metoda Perencanaan Langsung: asumsi tebal plat konsultan, t = 100 mm

30\45
35\55 Ly = 355 cm

Lx = 600 cm

Ln = Lx b
= 600 2 ( * 30 )
= 570 cm = 5700 mm
Sn = Ly b
= 355 2 ( * 35 )
= 320 cm = 3200 mm
Ln 570
= = = 1,78 < 2 , termasuk plat 2 arah
Sn 320

untuk m > 2,0 menurut SNI 03 2847 2002 pasal 11.5.3.3, maka tebal plat minimum
fy 240
Ln 0,8 5700 0,8
1500 1500
h min = 105, 2 mm
36 9 36 9 *1,78

Tebal pelat tidak boleh kurang dari 106 mm (pelat dengan balok-balok tepi);

Maka tebal plat minimum, t plat minimum 116 mm.

III. UJI MUTU BETON (SCHMIDT-HAMMER TEST)

Gambar 6.1.

Sampel No. 3
Sampel No. 2

Sampel No. 1

9
Gbr. 6.2. Titik pengambilan sampel 1, join Kolom Dasar Gbr.6.3. Titik pengambilan sampel 2, join Balok Sloof

Gbr.6.4. Titik pengambilan sampel 3, Kolom Dasar di Belakang Bangunan

o
1. RC Column B4 K1, 35x35 cm, a = 0o 2. RC Beam B3, 25x40 cm, a = 0
32,0 24,0
34,0 28,0
36,0 34,0
30,0 30,0
35,0 29,0
21,0 30,0
33,0 30,0
24,0 33,0
32,0 25,0
30,8 29,2

3. RC Beam B4, 25x40 cm, a = 0o


39,0
38,0
37,0
36,0
39,0 Korelasi Data RN dan Estimated Compressive Strength
40,0 2
38,0 No. Sampel RN fc' (MPa) K (kg/cm )
40,0
38,0 1 30,8 20,6 253
38,3
2 29,2 18,6 228
3 38,3 31,4 385

10
halaman 4. Untuk meninjau pengaruh pembebanan
gempa bumi maka zonasi gempa di kawasan Pamona
Puselemba sengaja diturunkan intensitasnya satu
tingkat dari zona 4 ke zona 3. Hal ini dilakukan oleh
karena kawasan Pamona Puselemba secara defacto
tidak mempunyai sejarah kegempaan yang signifikan
dalam 100 tahun terakhir.

Berdasarkan pasal 5.5.1. SNI-1726-2002 untuk sistem


struktur portal terbuka tahan momen, kekakuan
penampang kolom dan balok struktural direduksi
dengan faktor-faktor sebagaimana tabel di bawah ini,

Tabel 3. Inersia efektif penampang (pers. 13 SNI-03-


2847-2002)
Gambar 6.5. Data karakteristik material beton yang
diinput dalam analisis struktur (SAP2000 V14) fc=18
MPa

IV. ANALISIS MODEL STRUKTUR

Analisis model struktur untuk bangunan yang ditinjau


menggunakan aplikasi SAP2000 v14 dengan data
perencanaan teknis sebagaimana diberikan pada
Untuk peninjauan beban gempa lateral, beban-beban harus direduksi dengan faktor-faktor sebagaimana
hidup dianggap akan mengalami pengurangan dan tabel tersebut

Tabel 4. Koefisien reduksi beban hidup (PBI-1989)

o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
94 96 98 100 102 104 106 108 110 112 114 116 118 120 122 124 126 128 130 132 134 136 138 140
10 o 10 o

o 0 80 200 400 o
8 8
Kilometer

o o
6 6
Banda Aceh

1
2
3 4 5 6 5 4 3 2 1
o o
4 4

o o
2 2
Manado

Ter nate
Pekanbar u
1
o o
0 Samarinda
0
2
1
Padang Palu Manokwari 3
2 Sorong
3
4 Jambi Biak 4
5
6
o
2 4
5 Palangkaraya 5 2o
3
2 Jayapura
6
1
Palembang Banjarmasin
5
Bengkulu Kendari Ambon
o o
4 4 4
1 Makasar 3
Bandarlampung
Tual 2
o o
6 Jakarta 2 1
6
Bandung
Garut Semarang
Sukabumi Surabaya
Tasikmalaya Solo
Jogjakarta 3
o Cilacap Blitar Malang o
8 Banyuwangi
4
8
Denpasar Mataram
Merauke
5

6
10 o 5 Kupang
10 o
4
3
Wilayah 1 : 0,03 g
2
12 o Wilayah 2 : 0,10 g 1
12 o
Wilayah 3 : 0,15 g
Wilayah 4 : 0,20 g
14 o 14 o
Wilayah 5 : 0,25 g
Wilayah 6 : 0,30 g
16 o 16 o
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
94 96 98 100 102 104 106 108 110 112 114 116 118 120 122 124 126 128 130 132 134 136 138 140

Gambar 2.1. Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasar dengan perioda ulang 500 tahun

11
Gambar 8. a-b. Spektrum Respons Gempa Zona 4 dan Zona 3 dari SNI-1726-2002
(Wilayah Kab. Poso termasuk Zona 4, tetapi defacto tidak ada sejarah
sejarah kegempaan yang signifikan dalam 100 tahun terakhir maka
intensitas gempa diturunkan satu level).

Gambar 9. Respons spektra gempa rencana zona 3 yang


diaplikasikan dalam SAP2000 V14

Mengacu pada SNI 2847-2002, maka kombinasi Untuk mensimulasikan arah pengaruh gempa rencana
pembebanan berikut diaplikasikan: yang sembarang terhadap struktur gedung, pengaruh
pembebanan gempa dalam arah utama harus dianggap
Kombinasi Pembebanan Gravitasi efektif 100% dan harus dianggap terjadi bersamaan
dengan pengaruh pembebanan gempa dalam arah
1.4 DL tegak lurus pada arah utama pembebanan tetapi dengan
1.2 DL + 1.6 LL efektifitas hanya 30%.
1.2 DL + 1.0 LL + 1.0 EX + 0.3 EY
Kombinasi Pembebanan Gempa 1.2 DL + 1.0 LL + 1.0 EX - 0.3 EY

12
1.2 DL + 1.0 LL - 1.0 EX + 0.3 EY 0.9 DL - 1.0 EX + 0.3 EY
1.2 DL + 1.0 LL - 1.0 EX - 0.3 EY 0.9 DL - 1.0 EX - 0.3 EY
1.2 DL + 1.0 LL + 0.3 EX +1.0 EY 0.9 DL + 0.3 EX +1.0 EY
1.2 DL + 1.0 LL + 0.3 EX -1.0 EY 0.9 DL + 0.3 EX -1.0 EY
1.2 DL + 1.0 LL - 0.3 EX +1.0 EY 0.9 DL - 0.3 EX +1.0 EY
1.2 DL + 1.0 LL - 0.3 EX -1.0 EY 0.9 DL - 0.3 EX -1.0 EY
0.9 DL + 1.0 EX + 0.3 EY
0.9 DL + 1.0 EX - 0.3 EY

Gambar 10.1. Dagram Momen Lentur Portal 1 (Y=0.00 m) akibat Kombinasi Pembebanan 3, 4, 5 dan 6

Gambar 10.2. Dagram Gaya Geser Portal 1 (Y=0.00 m) akibat Kombinasi Pembebanan 3, 4, 5 dan 6

13
Gambar 10.3. Dagram Momen Lentur Portal 2 (Y=3.61 m) akibat Kombinasi Pembebanan 3, 4, 5 dan 6

Gambar 10.4. Dagram Gaya Geser Portal 2 (Y=3.61 m) akibat Kombinasi Pembebanan 3, 4, 5 dan 6

Gambar 10.5. Dagram Momen Lentur Portal 3 (Y=9.13 m) akibat Kombinasi Pembebanan 3, 4, 5 dan 6

14
Gambar 10.6. Dagram Gaya Geser Portal 3 (Y=9.13 m) akibat Kombinasi Pembebanan 3, 4, 5 dan 6

ETABS V9 Pengenaan beban mati akibat berat material dinding bata susunan batu pada
sloof (tie beam, balok pengikat) beton bertulang masing-masing 5 kN/m untuk bukaan dinding
40% perimeter luar, 7 kN/m untuk bukaan dinding < 10% perimeter luar, 5 kN/m untuk
bukaan dinding 40% bagian dalam, 6 kN/m untuk bukaan 20% bagian dalam, dan 4 kN/m
untuk bukaan dinding > 50% bagian dalam.

15
ETABS V9 Pengenaan beban mati akibat berat material dinding bata susunan batu pada
balok 350x450 mm dan 350x650 mm beton bertulang masing-masing 6 kN/m untuk bukaan
dinding 40% perimeter luar, 7.5 kN/m untuk bukaan dinding < 10% perimeter luar, 5 kN/m
untuk bukaan dinding 40% bagian dalam, dan 7.5 kN/m untuk bukaan < 10% bagian dalam.

ETABS V9 Pengenaan beban hidup lantai kantor 2.5 kN/m2 (250 kg/m2) pada pelat lantai
tingkat

Detail Tulangan Balok dan Kolom


Konfigurasi 1: Kolom Perimeter 350/350
Data-data desain
Tinggi kolom (h) : 350 mm
Lebar balok (b) : 350 mm
Selimut beton (p) : 40 mm

16
Diameter tulangan longitudinal : 16 mm (Baja Polos, BjTP240)
Diameter tulangan transversal : 8 mm (Baja Polos, BjTP240)
Mutu tulangan utama (fy) : 240 MPa (Baja Polos, BjTP240)
Mutu beton (fc) : 18.6 MPa

Gambar Detail Tulangan Kolom Perimeter 350/350 :

Konfigurasi 2: Balok Perimeter 300/450


Data-data desain
Tinggi balok (h) : 450 mm
Lebar balok (b) : 300 mm
Selimut beton (p) : 40 mm
Diameter tulangan longitudinal : 12 mm (Baja Ulir, BjTD410)
Diameter tulangan transversal : 6 mm (Baja Polos, BjTP240)
Mutu tulangan utama (fy) : 240 MPa (Baja Polos, BjTD240)
Mutu beton (fc) : 18.6 Mpa

Gambar Detail Tulangan Balok Perimeter 300/450:

Gambar Detail Tulangan Balok Konfigurasi 3:

17
Gambar Detail Tulangan Balok Konfigurasi 4:

Gambar Detail Tulangan Balok Konfigurasi 5:

Gambar Detail Tulangan Kolom 250/250

puncak (akibat beban hidup: berat barang, berat


V. KESIMPULAN partisi dan orang/pengunjung dan terjadi gempa
bumi kuat) maka kondisinya menjadi sangat kritis
1. Terdapat titik lemah struktural dalam menahan dan berbahaya.
gaya lateral atau horizontal akibat terdapat 2. Ketebalan pelat lantai beton bertulang terpasang
diskontinuitas konstruksi beton bertulang pada 11 kurang memenuhi nilai minimum tebal pelat dua
kolom struktural dan balok sloof pada perimeter arah (two-way slab) berdasarkan direct-design
(keliling) kanan dan perimeter belakang. Pada method. Ketebalan pelat lantai t minimum = 116
situasi tidak terjadi beban puncak kondisi ini tidak mm (t terpasang = 100 mm).
berbahaya, tetapi pada keadaan kombinasi beban

18
3. Pendetailan tulangan pelat lantai tidak memenuhi
ketentuan standar pendetailan konstruksi, atau
telah terjadi banyak kesalahan dalam proses
perakitan/pemasangan lapisan tulangan lentur
pelat. Lapis tulangan positif dan lapis tulangan
negatif tidak diposisikan dengan baik. Dua faktor
ini (poin 2 dan 3) berkontribusi pada kurangnya
kekakuan pelat atau pelat melendut.
4. Dari pengetesan 3 titik sampel dapat dianggap
bahwa: kuat tekan (compressive strength) kolom
dasar bangunan, fc= 20 Mpa K250 Kuat tekan
(compressive strength) balok lantai dasar berkisar
fc=18 31 Mpa K225 K380 Dengan
demikian secara umum mutu campuran beton
cukup memenuhi (dapat mencapai tingkat
kekuatan beton normal).
5. Bangunan mini-swayalan ini harus diberikan
perkuatan dan penyanggaan (retrofitting &
strengthening) untuk dapat memikul beban-layan
biasa (service loads) dengan aman dan nyaman.
6. Apabila tidak diberikan retrofitting &
strengthening (khususnya pada joint balok-kolom
lantai dasar) maka bangunan ini secara teknis
sangat beresiko mengalami kegagalan geser pada
titik-titik pertemuan balok-kolom dan kolom ke
kolom lainnya (joint failure) serta memicu
keruntuhan lantai dasar (base-story failure).
Mekanisme ini sangat mungkin terjadi pada
bangunan apabila pada kondisi beban ultimit
gravitasi (wD = 1.2 wL + 1.6 wL) secara simultan
mengalami percepatan horizontal tanah dasar
maksimum (PGA = peak ground accelleration)
pada pondasi akibat gempa intensitas maksimum
zona 3 sebesar 0.25g.

REFERENSI
1. ATC-40 (1996). SEISMIC EVALUATION And RETROFIT
Of CONCRETE BUILDINGS, Volume 1 - Appendices.
California Seismic Safety Commission (CSSC), Redwood
City, California USA.
2. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987 ...
Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan
Gedung (SKBI-1.3.5.3-1987);
3. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung (SNI-03-1726-2002)
4. Standar Tata Cara Perhitungan Beton Untuk Bangunan
Gedung (SNI-03-2847-2002)
5. Undang-undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung;
6. Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 tentang
Bangunan Gedung;
7. Peraturan Menteri PU No. 29 Tahun 2006 tentang
Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;
8. Peraturan Menteri PU No. 26 Tahun 2007 tentang
Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung.

19
STRUCTURAL EVALUATION OF SELF-SUPPORTING TOWER

Yoppy Soleman1)
1)
1) Staf Pengajar Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Sintuwu Maroso dan Pengkaji Teknis Bangunan
Gedung Bidang Cipta Karya Dinas PU
Kata Kunci steel structure design, space truss design, GMD siemens-telkom

qz = Velocity pressure ( Pa )
I. DESIGN SPECIFICATION GH = Gust response factor ( 1.00 Kz 1.25 )
CF = Structure force coefficient
1.1. Design Standard AE = Effective projected area of structural
1) The design basis of the tower applied is EIA component in one face ( m2 )
Standard EIA-222-E Structural Standards for AG = Gross area of one tower face ( m2 )
Steel Antenna Tower and Antenna Supporting Kz = Exposure coefficient ( 1.00 Kz 2.58 )
Structure. The fabrication and materials of the V = Basic wind speed for the structure location
tower will be according to the relevant Indonesian ( m/s )
Standard. z = Height above average ground level to
2) The self supporting tower has square cross midpoint of the section ( m )
sections. h = Ttotal height of structure ( m )
3) All the legs and bracings are made of equals e = Solidity ratio
legs angles steel. AF = Projected area of flat structural component
4) All the connections in the field are made with in one face of the section (m2)
Steel Bolts, each fitted with one spring washer and DF = Wind direction factor
nut. 1.00 for square cross section and normal wind
1.2. Tower Structure Design Condition direction
1) Tower height : 42.0 meter ( location : 1.00 + 0.75e for square cross section and 450
Limboto, North Sulawesi ) wind direction
2) Maximum wind velocity (V) : V = 120
km/hour = 33.33 m/sec. 3) Wind load on Antenna
3) Existing antennas loading ( see the drawing Wind load calculation method on the parabolic
attachment ) : antenna is as follow :
2 (two) Planar type antennas at 42.0 m Fa = Ca x A x Kz x GH x V2
1 (one) Planar type antennas at 38.0 m Fs = Cs x A x Kz x GH x V2
1 (one) Paraboloid grid antennas 1.20 Kz = ( z /10 ) 2/7
diameter at 35.0 m GH = 0.65 + 0.60 / (h/10) 1/7
1 (one) Paraboloid grid antennas 1.20 Where :
diameter at 42.0 m Fa = Axial Force (lb)
4) Proposed antennas loading ( see the drawing Fs = Side Force (lb)
attachment ) : Ca = Wind load coefficient for axial
1 (one) Paraboloid solid antenna 1.2 diameter Cs = Wind load coefficient for side
at 38.0 m Kz = Exposure coefficient ( 1.00 Kz 2.58 )
1.3. Loads z = Height above average ground level to
1) Dead load midpoint of the section (m)
Dead load is weight of tower, antenna, ladder, h = Total height of the structure (m)
platform etc. A = Normal projected area of Antenna
2) Wind load on tower structure V = Wind velocity ( m/s )
Wind load calculation method on the tower and 4) Load combination
appurtenances are as follows Herewith the following combinations are used
F = qz . GH . CF . AE and not to exceed 2 . qz below :
. GH. AG a) DL + WL at 0 degree direction (with weight of
qz = 0.613 . KZ . V2 existing antenna)
Kz = ( z / 10 )2/7 b) DL + WL at 45 degree direction (with weight of
GH = 0.65 + 0.60 / ( h / 10 )1/7 existing antenna)
CF = 4.0 e2 5.9 e + 4.0 ( square cross section ) c) DL + WL at 0 degree direction (with weight of
CF = 3.4 e2 4.7 e + 3.4 ( triangular cross section ) existing + proposed antenna)
e = AF / AG d) DL + WL at 45 degree direction (with weight of
AE = DF . AF existing + proposed antenna)
Where : Where : DL = Dead load weight of the
F = Horizontal wind force ( N ) structure and appurtenances.

20
WL = Design wind load on antenna at Tensile Minimum Yield
above direction. Description Strength Point Fy
( kg/cm2 ) ( kg/cm2 )
1.4. Allowable unit stress Bj 41 4100 2500
The unit stresses in the structures members do not SS 41 4100 2500
exceed the allowable unit stresses for the materials as
specified in the AISC Standard (American Institute of 2) Bolts
Steel Construction Standard) Fv
1. Tension : Ft = 0.60 Fy ( kg/cm2 ) Ft Friction
Fv
2. Shear : Fv = 0.40 Fy ( kg/cm2 ) Description
( kg/cm2 ) Type
Bearing Type
3. Compression ( kg/cm2 )
( kg/cm2 )
i) On the gross section of axially loaded
A 325 3900 1230 1476
compression members when kl/r is less than Cc
Bolts
:
(kl/r)2
[ 1 - ----------] Fy 3) Concrete
2Cc2 Design compressive strength of concrete (fc) at 28
Fa = -----------------------------------------------(kg/cm2 ) days.
5/3 + [3/8(kl/r)]/8Cc - [(kl/r)3/8Cc3] K - 175 - fc = 175 kg/cm2
4) Reinforcement steel
U - 24 - Fy = 2400 kg/cm2
22E 1.6. Structural Analysis
Where: Cc = --------- The purpose of the structural analysis is to find the
Fy joint translations and the design axial loads in all
members of the tower. Load is applied and separate
ii) On the gross section of axially loaded load cases combined to give the most severe design
compression members, when kl/r exceeds Cc : conditions at various section.
The structural calculation is made using SAP 90
122 E (Structural Analysis Program 90). The program will
Fa = --------------- ( kg/cm2 ) perform the static analysis of a space truss of arbitrary
23(kl/r)2 geometry by the stiffness method. The truss may be
subjected to loads consisting of forces acting on the
4. Bending joints in any directions in space. The program output
Tension and compression on extreme fibers : consists of the joint translations, the member forces
Fb = 0.66 Fy ( kg/cm2 ) and the support reactions.
5. Tension on bolts : Ft = 0.60 Fy ( kg/cm2 ) The program input contains :
6. Shear on bolts : Ft = 0.30 Fy ( kg/cm2 ) a. Structure title
7. Bearing on bolts : Ft = 1.20 Fu ( kg/cm2 ) b. Loading system : number of static analysis that
8. The maximum slenderness ratio (kl/r) are as follows applied to the structure.
: c. Group of data corresponding to the properties of
kl/r = 120 for compression members of legs the mathematical model of truss and the applied
kl/r = 150 for compression members of joint load :
diagonals Group 1 : Joint coordinates
kl/r = 200 for tension members Group 2 : Support joint restraints
Notations : Group 3 : Material and member data
Ft = Allowable tensile stress ( kg /cm2 ) Group 4 : Joint loads
Fy = Minimum yield point ( kg /cm2 ) Group 5 : Loading combinations
Fv = Allowable shear stress ( kg /cm2 ) The location of the joints in any structure are expressed
Fa = Allowable compressive stress ( kg /cm2 ) as coordinates in a global right hand othogonal XYZ
k = Effective length factor coordinate system. For the space structures the Z axis
l = Actual unbraced length of member ( cm ) is oriented in the vertical direction positive upward,
r = Governing radius of gyration ( cm ) with the X and Y axes oriented in the major directions
Cc = Column slenderness ratio of the structure.
E = Modulus of elascity of steel = 2,100,000
kg/cm2 Z+
Fb = Allowable bending stress ( kg /cm2 ) Y+
Fu = Minimum tensile strength ( kg /cm2 )

1.5. Materials
Steel materials to be used for the towers and
appurtenances conform to the relevant Indonesian
Standards and/or Japanese Industrial Standard.
X+
1) Steel Structural 0

21
Global Axis SF = Wt . / H > 1.5
Where : SF = Safety factor
All applied joint loads, joint displacement and Wt =Total vertical load includes support
reactions are expressed as component in the global reaction, weight of foundation and
coordinate system. Force component and translation weight of soil (kg)
components are positive if they act in the positive = Coefficient of soil friction
direction of an axis. H = Horisontal loads ( kg )
The member forces and support reactions for both 1.5 = Allowable safety factor
conditions, tower with existing antennas and tower
with existing and proposed antennas, are attached in
computer output.
II. STRUCTURAL CALCULATION
1.7. Design Calculation Of Foundation
The calculation of foundation consists of design and
control of foundation.
The structural analysis is made using SAP 90. Input and
Control of foundation includes :
output program is shown as attachment.
1) Control of stability for uplift force :
Sf = W1 / T > 2.0
Where : W1 = Weight of foundation and
soil ( kg ) Deflection, sway and twist are calculated as follows
T = Uplift force ( kg ) :
2.0 = Allowable safety factor a. Deflection : Dxn : Joint displacement at
a point n
2) Control of bearing capacity of soil : Dxn : Joint displacement at a point n
Wt M
F = -------- + --------------- < Q ( kg/m2) Dxn Dxn
A 1/6.A . B

Where : Wt = Total vertical load includes
support reaction, weight of foundation and weight
of soil (kg)
M = Moment load ( horisontal loads x height of
foundations ) ( kgm )
A = Area of the foundation base ( width x
length of foundation ) (m2)
B = Width of the foundation base ( m )
Q = Allowable bearing capacity of soil.

3) Control of sliding force :


b. Sway angle= arc tan ( --------------------------------------------------------- )
Distance between point n and point n

Dxn Dxn
c. Twist angle = arc tan ( ---------------------------------------------------------- )
Distance between point n and point n
Dxn = 5.8865 cm
1) Tower without proposed antenna d = 250 cm
a. Deflection = 6.4177 cm
b. Dxn = 5.2096 cm
Sway angle = arc tan (( 5.8865 5.2096 ) / 250 ) = 0.1551 degree
c. Dxn = 5.8865 cm
Dxn = 6.4173 cm
d = 300 cm
Twist angle = arc tan (( 6.4173 5.8865
) / 300 ) = 0.1014 degree
Dxn = 5.9388 cm
2) Tower with proposed antenna d = 250 cm
a. Deflection = 6.5947 cm
b. Dxn = 5.2534 cm
Sway angle = arc tan (( 5.9388 5.2534 ) / 250 ) = 0.1570 degree
c. Dxn = 6.4763 cm
Dxn = 5.9388 cm
d = 300 cm
Twist angle = arc tan (( 6.4763 5.9388 ) / 300 ) = 0.1027 degree

22
Sway and twist at 120 km/hour wind velocity without proposed antennas as follows :
Actual Allowable
Deflection (cm) 6.4177 42
Sway angle (degree) 0.1551 0.5
Twist angle (degree) 0.1014 0.5

Sway and twist at 120 km/hour wind velocity with proposed antennas as follows :
Actual Allowable
Deflection (cm) 6.5947 42
Sway angle (degree) 0.1570 0.5
Twist angle (degree) 0.1027 0.5

= 2016
222.40 = 1793.60 kg
Fts > Ft ---------------- use Ft = Fts
= 1440 kg/cm2
III. FOUNDATION ANALYSIS ft = T / A = 20621.09 / 17.1 = 1205.91
kg/cm2 < Ft Ok !
3.1. Column Anchorage Bolt Calculation b. Tower with existing and
1) Steel Bar Bj 37 ---------Fy = 2400 kg / cm2 proposed antenna :
2 ) Notation : Number of anchor bolt = 6 ----- A
Fy = Yield strength of steel
Fv = Allowable shear strength of anchor bolt
= 17.1 cm2
Ft = Allowable tensile stress of anchor bolt fv = S / A = 2387 / 17.1 = 139.59
Fts = Allowable tensile stress for bolt subject to kg/cm2 < Fv . Ok !
combine tension and stress Fts = ( 1.4 x 1440 ) ( 1.6 x 139.59 ) =
Fcv = Allowable bond stress of concrete
fv = Actual shear stress of anchor bolt 2016 223.344 = 1792.656 kg/cm2
ft = Actual tensile stress of anchor bolt Fts > Ft ---------------- use Fts = Ft
fc = Compressive strength of concrete = 1440 kg/cm2
A = Total area of anchor bolt ft = T / A = 20621.09 / 17.1 = 1205.91
P = Total compression of tower base per one leg
T = Total uplift force at tower base per one leg
kg/cm2 < Ft Ok !
S = Total shear force at tower base per one leg Keep using anchor bolt 6
Le = Required embeded length of anchor bolt in
concrete Required embedded length of anchor bolt :
3 ) Maximum forces at tower base Fcv = 0.53 fc = 0.53 175 = 7.0 kg/cm2
a. Tower with existing antenna : Le = T / ( Fcv x 6 x x d ) = 20621.09 / ( 7 x
T = 21110 488.09 = 20621.91 kg 6 x 3.14 x 1.905 ) = 82.1 cm
S = 2377 kg Use Le = 85 cm
b. Tower with existing and
proposed antenna :
T = 21110 488.09 = 20621.09 kg 3.2. Column Base Plate
S = 2387 kg 1) Steel : Bj 37 Fy = 2500 kg/cm2
Concrete : K 175 Fp = 0,35 fc = 0,35
4 ) Allowable tensile stress of anchor bolts x 175 = 61.25 kg/cm2
Fv = 0.3 Fy = 0.3 x 2400 = 720 kg/cm2 2) The formula to calculate column base plate is
Ft = 0.6 Fy = 0.6 x 2400 = 1440 kg/cm2 shown as follows : Ar = P / Fp (
m2 )
a. Tower with existing antenna : Ab Ar then check fp Fp
Number of anchor bolt = 6 Ab = B x B
t = ( 6M / Fb )
A = 6 x ( 0.25 x 1.9052 ) = 6 x 2.85 =
Fb = 0.75 Fy = 0.75 x 2500 = 1875 kg/cm2
17.1 kg/cm2
Where : P = Total compression at tower
fv = S / A = 2377 / 17.1 = 139.0 kg/cm2
base per one leg ( kg )
< Fv .Ok !
Ar = Required area of column base
plate ( m2 )
Fts = 1.4 Ft 1.6 fv = ( 1.4 x
1440 ) ( 1.6 x 139.0 )
= Designed area of column base plate ( m2 )
Ab Fy = Yield strength of steel ( kg/cm2 )
B
= Length of base plate ( cm ) fc = Compressive strength of concrete ( kg/cm2 )
= Actual bearing pressure ( kg/cm2 )
fp m = Distance from steel structural to the edges of base plate
= Allowable bearing strength stress ( kg/m2 )
Fp ( cm )
tp
= Required thickness of base plate ( cm, mm) fb = Bending stress ( kg/cm2 )
M
= Moment at the edge of base plate ( kgm,
kgcm)
The calculation is shown as follows below :
Fb = Allowable bending stress of base plate ( kg/cm2 )

23
check the stress : fb = ( 6M / tp2 )= (6 x 1946.78 /
a. Tower without proposed antennas 2.52 )
Column base plate area = 1868.91 kg/cm2 < Fb
2
The existing column base plate : 600 mm x 600 (1875 kg/cm ).Ok !
mm x 25 mm Keep using column base plate : 600 mm x 600 mm
Maximum compression force ( P ) = 26980 kg x 25 mm 800
Applied load at support join = 488.09 kg
P Total = 26980 + 488.09 = 27468.09 kg 3.3. Design and Control Of Foundation
A = 60 x 60 = 3600 cm2 3.3.1. Tower with existing antennas
fp = P / A = 26980 / 3600 = 7.494 kg/cm2 < Fp 1) Design load : H = 2377 kg (max horizontal
. Ok ! reaction )
V = 26980 kg (max vertical
Column base plate thickness reaction )
Use m = (60 15) / 2 cm = 22.5 cm T = 21110 kg (max uplift
M = q m2 = x 7.494 x 22.52 = 1896.92 kgcm reaction )
check the stress : fb = ( 6M / tp2 )= (6 x 1896.92 / V1 = 488.09 kg (dead load at
support join )
2.52 )
P = V + V1 = 26980 +
= 1821.042 kg/cm2 < Fb
2 488.09 = 27468.09 kg
(1875 kg/cm ).Ok !
Tt = T V1 = 21110
b. Tower with proposed antennas
488.09 = 20621.91 kg
Maximum compression force ( P ) = 27200 kg
Applied load at support join = 488.09 kg
P Total = 27200 + 488.09 = 27688.09 kg
From data above the design foundation will be
fp = P / A = 27688.09 / 3600 = 7.691 kg/cm2 < Fp
checked for uplift force, bearing capacity of soil and
. Ok !
horizontal loads (sliding).
Design of foundation :
Column base plate thickness
Use m = (60 15) / 2 cm = 22.5 cm
M = q m2 = x 7.691 x 22.52 = 1946.78 kgcm

200
Ground Level
Soil 1950
2850

700

3000

2) Check stability for uplift force M = 2.377 x 2.85 = 6.774


Concrete volume ( Vc ) : Z = Section modulus of footing base
3
Pedestal column : 0.80 x 0.80 x 2.15 = 1.376
Z =m3.0 x 3.0 x 3.0 / 6 = 4.500 m3
3
Footing : 3.0 x 3.0 x 0.70 = 6.300
fe =mCompressive stress of footing base
3
= 7.676
A =mArea of foundation base = 3.00 x 3.00=
Soil volume for anti uplifting ( Vs ) : 9.00m2
Vs = (( 3.0 x 3.0 ) ( 0.80 x 0.80 )) x 1.95= 16.30 m3 fe = 71.970/ 9.0 + 6.774 / 4.5 = 7.999 t/m2 > 2.67
Weight of concrete and soil : t/m2.Fail
W1 = W+ Ws = 7.676 x 2.4 + 16.30 x 1.6 = 44.5024 t
S.F = W1 / T = 44.502 / 21.110 = 2.11 > 2.0 The dimension of foundation is designed based on
..Ok ! the nomogram. As shown in calculation above, the
bearing capacity of soil is unable to support the
3 ) Bearing capacity of soil existing tower. In fact, the soil is bearable. Possibly
The allowable bearing capacity of soil is 0.267 this is due to the difference in type and dimension
kg/cm2 = 2.67 t/m2 between the existing tower foundation and the
( Bearing capacity data was gathered from Tower designed foundation above.
Name / Date Plate )
5) Factor of safety against sliding
4 ) Check of compressive force Wt = 71.970 t
Wt = 44.502 + 27.468 = 71.970
H =t 2.377 t

24
= Coefficient of friction = 0.45
SF = Wt x / H = 71.970 x 0.45 / 2.377 = 13.62 > 3.3.2.
1.50 . Ok !

Tower with existing and proposed antennas

1) Design load : H = 2387 kg (max horizontal reaction)

V = 27200 kg (max vertical reaction)


T = 21160 kg (max uplift reaction )
V1 = 488.09 kg (dead load at support join)
P = V + V1 = 27200+ 488.09 = 27688.09 kg
Tt = T V1 = 21160
488.09 = 20671.09 kg 2) Check stability for uplift force
Concrete volume ( Vc ) :
Pedestal column : 0.80 x 0.80 x 2.15= 1.376m3

Footing : 3.0 x 3.0 x 0.70 = 6.300 m3


= 7.676 m3

Soil volume for anti uplifting ( Vs ) :


Vs = (( 3.0 x 3.0 ) ( 0.80 x 0.80 )) x 1.95= 16.30 m3
Weight of concrete and soil : W1 =
W+
Ws = 7.676 x 2.4 + 16.30 x 1.6 = 44.502
Z t= Section modulus of footing base
S.F = W1 / T = 44.502 / 21.160 = 2.103 > 2.0 Z = 3.0 x 3.0 x 3.0 / 6 = 4.500
..Ok ! fe = Compressive stress of footing base

3 ) Bearing capacity of soil


The allowable bearing capacity of soil is 0.267 A = Area of foundation base = 3.00 x 3.00=
kg/cm2 = 2.67 t/m2 9.00m2
fe = 72.190/ 9.00 + 6.803 / 4.500= 8.022 t/m2 >
4 ) Check of compressive force 2.67 t/m2.Fail
Wt = 44.502 + 27.688 = 72.190 t
M = 2.387 x 2.85 = 6.803 tm

5) Factor of safety against sliding


Wt = 72.190 t
H = 2.387 t
= Coefficient of friction = 0.45
SF = Wt x / H = 72.190 x 0.45 / 2.387 = 13,61 > 1.50 . Ok !

IV. CONCLUSION AND


RECOMMENDATION
We have carefully analysed the existing tower of - Additional force at the tower base (maximum)
Limboto structure for the proposed additional antenna at due to the proposed antennas is less than 2.10 %
120 km/hr wind velocity. The following major of support reaction at tower without proposed
conclusions have been drawn from this analysis : antennas.
- The existing tower has strength enough to - The designed foundation has strength enough
support the existing configuration and the to resist the uplift and shear forces.
proposed antennas at 120 km/hr maximum wind - The designed foundation has not strength
velocity. enough to resist the compressive force. It
- The anchor bolt and the base plate has strength means that the bearing capacity of soil is unable
enough to resist the forces at support joint. to support the structure. This is, possibly, due to
the difference in type and dimension between

25
the existing tower foundation and the designed - The minimum required of bearing capacity to
foundation. support the tower with existing and proposed
antennas is about 8.0 t/m2.

REFERENSI

[1] Rene Amon, Bruce Knobloch, Atanu Mazumder, 2002,


Perencanaan Konstruksi Baja Untuk Insinyur dan Arsitek
2, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.

[2] Salmon, Charles G, Thon E Jhonson, 2000, Struktur


Baja Desain dan Perilaku, PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.

[3] Gunawan R, (1987), Tabel Profil Konstruksi Baja,


Kanisius, Jakarta

26
PENILAIAN KEANDALAN DAN REKOMENDASI PENANGANAN
BLOK BANGUNAN BELAKANG PENGADILAN
NEGERI POSO KLAS IB
Yoppy Soleman1)
1)
1) Staf Pengajar Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Sintuwu Maroso dan Pengkaji Teknis Bangunan
Gedung Bidang Cipta Karya Dinas PU

Kata Kunci keandalan bangunan, pn poso, kabupaten poso, analisa komponen bangunan

Februari 2014, dibawah ini diberikan hasil penilaian


I. PENDAHULUAN keandalan blok bangunan belakang Pengadilan Negeri
Klas IB Poso, sbb:

Berdasarkan hasil peninjauan tim Fakultas Teknik II. INTERPRETASI TINGKAT KEANDALAN
Universitas Sintuwu Maroso, Poso, pada tanggal 26 BANGUNAN

Struktural
Sub Sistem Persentase Klasifikasi Tingkat
No. Struktural Tingkat Kerusakan, Komentar Rencana Penanggulangan
Kerusakan
1. Kuda-kuda 50% Kerusakan sedang s.d.
atap kerusakan berat Rehabilitasi berat atau
disebabkan dekomposisi rekonstruksi
material dan kelembaban.
Sebagian bidang atap
terkena bidang tapak
bangunan baru
2. Rangka 50% Kerusakan sedang s.d.
Plafon dan kerusakan berat Rehabilitasi berat atau
lapis penutup disebabkan disebabkan rekonstruksi
seng dekomposisi material
akibat usia pemakaian
dan kelembaban.
Sebagian bidang rangka
dan lapis plafon terkena
bidang plafon bangunan
baru
3. Pondasi 50% Kerusakan sedang s.d.
kerusakan berat Rehabilitasi berat atau
disebabkan penurunan rekonstruksi
tanah dasar, akibat
pembebanan dan
pengaruh kelembaban.
Sebagian pondasi terkena
tapak pondasi bangunan
baru.
4. Dinding 50% Kerusakan sedang s.d.
tembok kerusakan berat Rehabilitasi berat atau
Bata disebabkan penurunan rekonstruksi
kualitas material akibat
paparan air (pengaruh
cuaca), dan akibat
pembebanan. Sebagian

27
bidang dinding bata
terkena tapak bangunan
baru
5. Kolom Beton 50% Kerusakan sedang akibat
Bertulang dan penurunan tumpuan, Rehabilitasi berat atau
Sloof penurunan kualitas rekonstruksi
material akibat usia,
pembebanan dan
pengaruh cuaca. Sebagian
kolom tulangan praktis
terkena bidang tapak
bangunan baru
Kerusakan sedang s.d.
Kusen Pintu kerusakan berat pada Rehabilitasi berat atau
dan Jendela, sebagian besar bagian rekonstruksi
Ventilasi kusen pintu/jendela dan
ventilasi disebabkan
6. 55% dekomposisi material
akibat usia pemakaian
dan kelembaban.
Sebagian kusen pintu dan
jendela terkena bidang
bangunan baru
Kerusakan sedang s.d.
kerusakan berat pada
sebagian lapisan penutup Rehabilitasi berat atau
Lantai lantai akibat penurunan rekonstruksi
tanah dasar, keretakan,
7. 46%
erosi, penurunan kualitas
material akibat usia dan
pemakaian (aus).
Sebagian lantai terkena
tapak bangunan baru
Sistem Proteksi Gempa (Merujuk standar SNI-1726-2002, Zona 4)
Sub Sistem Estimasi Tingkat
No. Ketahanan Ketahanan Komentar Rencana Penanggulangan
Gempa Gempa
1. Pondasi Tanah dasar Untuk bangunan kantor Analisa dan perkuatan
dianggap cukup tidak bertingkat biasa fondasi dan sloof
keras dengan tinggi dinding (strengthening and
bata tidak melebihi 3.00 retrofitting)
meter kekuatan pondasi
diasumsikan cukup
memenuhi
2. Dinding Kurang Kurang andal dalam Pemeriksaan kekuatan
Bata memenuhi menahan beban gempa dinding bata dengan inspeksi
visual, tes karbonasi lapisan
plester dan Schmidt-Hammer
Test, Perkuatan dinding bata
(strengthening) melalui
pelapisan/penambalan
spesi/plesteran, menambah
dimensi/ketebalan dinding
dan atau rekonstruksi bagian-
bagian yang rusak.
3. Kolom Beton Kolom praktis Cukup andal dalam Schmidt-Hammer Test dan
Bertulang cukup memenuhi menahan beban gempa perbaikan sedang lapisan

28
tetapi perlu dites selimut beton (strengthening
kekuatannya and retrofitting) dengan
standar proteksi gempa
mengacu pada UU BG
No.28/2008 dan SNI-1726-
2002
4. Balok Sloof Balok Sloof Cukup andal dalam Perkuatan balok sloof dan
Praktis cukup menahan beban gempa balok ring (strengthening and
memenuhi tetapi perlu dites retrofitting) dengan standar
kekuatannya proteksi gempa mengacu
pada UU BG No.28/2008 dan
SNI-1726-2002
5. Join Balok- Tidak memenuhi Tidak menggunakan Perkuatan join (strengthening
Kolom dan detail penulangan tahan and retrofitting) dengan
Sambungan gempa pendetailan tulangan join
Dinding balok-kolom
Sistem Proteksi Kebakaran (Merujuk Permen PU No. 25 Tahun 2008 tentang RISPK)
Sub Sistem Estimasi Tingkat
No. Proteksi Ketahanan thd. Komentar Rencana Penanggulangan
Kebakaran Bahaya
Kebakaran
1. Jenis material Sebagian besar Kusen pintu dan jendela Konstruksi rangka atap
konstruksi material tidak (bukaan-bukaan), kuda- menggunakan material baja
bangunan memenuhi, kuda dan rangka plafon ringan, lapis plafon dan
rentan serta plafon terbuat dari lisplank menggunakan
mengalami material dasar kayu yang material asbes atau gypsum
kebakaran merupakan bahan bakar
bagi api/panas (bahan
mudah terbakar)
2. Alat
Pemadaman Tidak ada Tidak ada alat Pengadaan
Api Ringan pemadaman api ringan
(Tabung (tabung APAR)
APAR)
Utilitas (berdasarkan tinjauan tim Fakultas Teknik Unsimar Poso)
Sub Sistem Persentase Keterangan Tingkat
No. Utilitas Tingkat Kekurangan Rencana Penanggulangan
Kekurangan
1. Kamar 0% Jumlah cukup memenuhi
mandi/WC kebutuhan Perbaikan sedang
2. Sarana air 0% Cukup memenuhi -
bersih kebutuhan
3. Sarana 50% Rusak Sedang Perbaikan saluran,
pembuatan pengerukan, penambalan
air kotor keretakan
(limbah)
4. Septic Tank 0% - -
5. Listrik 0% Cukup memenuhi -
kebutuhan
Arsitektural
Sub Sistem Persentase Klasifikasi Tingkat
No. Arsitektural Tingkat Kekurangan Rencana Penanggulangan
Kekurangan
1. Luas Total
Blok 50% Luasan Total Blok Penambahan atau perluasan
Bangunan Bangunan Kantor ruangan

29
Kantor 100.00 m 2 tidak
memenuhi standar luas
ruangan kantor.
2. Ukuran 50% Ukuran ruangan tidak Rasio luas ruangan terhadap
Ruangan memenuhi persyaratan jumlah pegawai tidak
minimal sebesar 9.6-10,0 memenuhi
m2/staf, dsb.
3. Luas 0% Luas halaman dan parkir Luas halaman parkir
Halaman, memenuhi kendaraan sudah memenuhi
Parkir
4. Elevasi 0 cm Elevasi lantai memenuhi Luas halaman parkir
Lantai kendaraan sudah memenuhi
Bangunan

konstruksi permanen susunan tembok bata batu dan


III. ANALISA rangka beton bertulangan praktis sloof kolom
ringbalk.
Blok bangunan bagian belakang Gedung Kantor
Pengadilan Negeri Klas IB Poso merupakan
Luas lantai bangunan (1 x 32,00) + (1 x 32,00) + (1 x merata) yang signifikan yang diobservasi (pada
32,00) + (1 x 4,00) = 100,00 m 2 Bangunan komponen lantai). Juga dapat diobservasi bahwa mutu
dikonstruksi pada 1992, maka berdasarkan standar pelaksanaan konstruksi bangunan secara umum cukup
umur rencana bangunan permanen, secara teknis baik. Blok Bangunan yang ditinjau mengalami dampak
bangunan akan mencapai batas minimum usia pakai pekerjaan pembersihan area pekerjaan dari kegiatan
pada 2017 dan maksimum pada tahun 2042 (standar konstruksi gedung baru kantor PN Poso (bangunan
umur rencana bangunan permanen minimum 25 bertingkat).
Tahun dan maksimum 50 Tahun menurut SKBI-1987,
SKSNI-1991, SNI-2002, PP No. 36/2005 dan Permen Untuk menentukan keandalan dan dimensi bangunan
PU No. 48/2007). maka diadakan pengukuran dan pemeriksaan visual
pada komponen-komponen pondasi, kolom tulangan
Blok bangunan bagian belakang Gedung Kantor praktis, sloof tulangan praktis, dinding bata batu,
Pengadilan Negeri Klas IB Poso terletak di atas tanah kusen pintu dan jendela, plafon, rangka kuda-kuda,
alas fondasi jenis tanah medium (kepadatan sedang), lapis penutup seng dan lantai.
dan relatif cukup homogen sehingga tidak ada
penurunan diferensial (penurunan fondasi yang tidak

Gbr. 1 2. Anggota tim dari Fakultas Teknik Unsimar Poso sedang melaksanakan pekerjaan
inspeksi dan pemeriksaan blok bangunan belakang gedung kantor PN Poso.

30
Gbr. 3 4. Tampak bagian bangunan dengan kerusakan terparah (sisi barat) yaitu lantai
keramik dan sebagian dinding bata batu yang terkena dampak pekerjaan
pembersihan area (pembongkaran sebagian) dalam kegiatan konstruksi gedung
baru tahun 2013.

Gbr. 5 6. Dinding bata batu yang mengalami karbonasi akibat terpapar cuaca dan pengaruh
kelembaban.

Gbr. 7 8. Tampak lapis penutup dan rangka plafon yang mengalami kerusakan akibat
dekomposisi material dan pengaruh kelembaban.

31
Gbr. 9 12. Tampak lapis penutup atap, rangka kuda-kuda dan listplank yang mengalami
kerusakan akibat usia pemakaian, dekomposisi material dan pengaruh
kelembaban.

Komponen-komponen bangunan dengan penurunan Klas IB Poso ini diperkirakan memiliki kapasitas
fungsi 40% s.d. 60% pada empat komponen yaitu menengah terhadap beban horizontal akibat gempa
sebagian dinding bata batu, kusen pintu dan jendela, bumi yang mungkin terjadi di masa datang karena
rangka dan lapis penutup plafon, dan rangka dan lapis sekalipun struktur tanah dasarnya (fondasi) cukup baik
penutup atap. Penyebab penurunan fungsi komponen namun sistem perkuatan dinding batanya masih belum
bangunan adalah: memadai apabila ditinjau dari syarat-syarat teknis atau
standar ketahanan gempa untuk zona 3-4 (wilayah
1. Dekomposisi material akibat usia pemakaian; Kabupaten Poso). Yang termasuk komponen
2. Deformasi akibat pembebanan dan struktural adalah struktur penopang bangunan
pembongkaran sebagian; (fondasi), balok pengaku (sloof dan ringbalk), kolom,
3. Pengaruh kelembaban (cuaca). balok dan pelat (termasuk luifel), dan balok lintel
(pengaku dinding dan ringbalk).
Secara struktural (proteksi gempa), blok bangunan
bagian belakang Gedung Kantor Pengadilan Negeri

32
Tabel Penilaian Keandalan Komponen Bangunan
No. Komponen Prosentase Nilai Angka
Komponen Keandalan Keandalan
1. Pondasi 10% 60% 0,0600
2. Struktur Kolom, Sloof 30% 50% 0,1500
3. Lantai 10% 50% 0,0500
4. Dinding/Rangka 15% 50% 0,0750
5. Plafon 7% 20% 0,0140
6. Atap 10% 30% 0,0300
7. Utilitas 10% 50% 0,0500
8. Finishing 8% 30% 0,0240
Jumlah 100% - 0,4530

lapis penutup dan rangka kuda-kuda, kusen pintu


IV. KESIMPULAN, PERKIRAAN DERAJAT dan jendela, lapis dan rangka penutup plafon dan
KERUSAKAN, ANGKA KEANDALAN DAN lisplank, dan lapis finishing.
REKOMENDASI 4. Apabila bangunan direkonstruksi atau dibangun
baru maka proses perencanaan atau desain
KESIMPULAN: terutama harus memperhatikan dan menerapkan
1. Sub-sub sistem fisik atau komponen-komponen kriteria struktural dan keamanan untuk bangunan
blok bangunan bagian belakasng Gedung Kantor kantor pemerintah (proteksi gempa dan
PN Klas IB Poso memiliki tingkat kerusakan yang kebakaran), yaitu SNI-03-1726-2002, SNI-03-
bervariasi, namun secara umum fungsi bangunan 2487-2002, SNI-03-1726-2000.
berada dalam kondisi rusak sedang s.d. rusak
berat, dan memerlukan rehabilitasi tingkat sedang
hingga rehabilitasi berat dengan nilai maksimum DERAJAT KERUSAKAN:
60%. Tetapi secara struktural (aspek ketahanan Secara fungsional, derajat kerusakan bangunan sebesar
gempa dan proteksi kebakaran), komponen- 54.70% atau rusak sedang-berat.
komponen fisik blok bangunan permanen Gedung
Kantor PN Klas IB Poso berada dalam kondisi
tidak andal, dengan sisa angka keandalan 45.30%. ANGKA KEANDALAN:
2. Ketidakfungsionalan dan ketidakandalan Secara struktural (lihat tabel penilaian keandalan
komponen-komponen fisik blok bangunan komponen), blok bangunan permanen Gedung Kantor
permanen Gedung Kantor PN Klas IB Poso PN Klas IB Poso termasuk kategori tidak andal dengan
diakibatkan terutama oleh penurunan kualitas perkiraan angka keandalan bangunan sebesar 45.30%.
material bangunan selama masa pemakaian atau
usia bangunan, penurunan kualitas material akibat REKOMENDASI:
mengalami deformasi, pengaruh kelembaban dan Direkomendasikan untuk rekonstruksi atau
infiltrasi air. pembangunan baru dengan luas total blok minimum
3. Apabila bangunan direhabilitasi sedang-berat 200 m2.
pada taraf 60% maka prioritas perbaikan
komponen terdapat pada: dinding bata batu,

[5] Permen PU no. 6 tahun 2007 tentang Pedoman Umum


REFERENSI Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)
[1] Undang-undang no. 28 tahun 2002 tentang Bangunan [6] Permen PU no. 25 tahun 2008 tentang Pedoman Teknis
Gedung; Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran
[2] Undang-undang no. 26 tahun 2007 tentang Penataan (RISPK);
Ruang; [7] Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987 ...
[3] PP no. 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan
Undang-undang no. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (SKBI-1.3.5.3-1987);
Gedung; [8] Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
[4] Permen PU no. 45 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Bangunan Gedung (SNI-03-1726-2002)
Pembangunan Bangunan Gedung Negara;
.

33
INSPEKSI BANGUNAN GEDUNG ASRAMA PUTRI SINTREN
UNIVERSITAS GADJAH MADA, KABUPATEN SLEMAN - DIY

Yoppy Soleman 1)
1) Staf Pengajar Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Sintuwu Maroso dan Pengkaji Teknis Bangunan
Gedung Bidang Cipta Karya Dinas PU

Kata Kunci inspeksi bangunan, ugm yogyakarta, portal beton bertulang

orang perlu difasilitasi dengan menyiapkan asrama


I. PENDAHULUAN sedemikian sehingga pembangunan asrama putri ini
akan meringankan biaya hidup bagi para mahasiswa
Gedung Asrama Mahasiswa Putri Santren Universitas dari luar Kota Sleman dan Yogyakarta, dan pada
Gadjah Mada Yogyakarta mulai dikonstruksi pada akhirnya dapat menunjang pelaksanaan kegiatan
tahun 2014 dan rencana penyelesaian pada 24 Juli pendidikan.
2015 dengan luas keseluruhan lantai 10.168 m 2.
Bahwa jumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta yang pada tahun 2015 berjumlah 59.600

Gambar 1. Tampak Depan Rencana Gedung Aspuri Santren


UGM Yogyakarta

Sedangkan pada Tahun Anggaran 2015 ini komponen


Bahwa daya tampung asrama yang ada pada saat ini konstruksi yang harus diselesaikan hingga 24 Juli 2015
masih jauh dari kebutuhan mahasiswa dimana adalah pekerjaan kolom struktural lantai dasar beton
maksimal daya tampung sebesar 12.100 mahasiswa precast-in-place, pekerjaan kolom struktural lantai 2
dari sejumlah 59.600 mahasiswa Universitas Gadjah s.d. lantai 5, pekerjaan balok struktyral beton bertulang
Mada. Sepanjang 40 hari kerja pada Tahun 2014 telah precast-in-place lantai 1 s.d. lantai 5, pekerjaan
diselesaikan pekerjaan pembongkaran bangunan lama, dinding geser (shear-wall) arah Timur-Barat sebanyak
pekerjaan pondasi poer plat, pekerjaan perbaikan tanah 8 (delapan) segmen, pekerjaan pelat lantai beton
dasar bawah pondasi dan pekerjaan balok sloof. bertulang precast-in-place lantai 1 s.d. lantai 5,
34
pekerjaan pelat kantilever precast-in-place lantai 1 s.d. Dinding : Batako Standard Plester Aci
lantai 4, pekerjaan dinding batako lantai 1 s.d. lantai 5, Luar dalam
pekerjaan tangga beton bertulang, pekerjaan balok Keramik :
lintel, pekerjaan lantai, pekerjaan finishing, pekerjaan - Hunian & Selasar = 30 x 30 cm putih
elektrikal, pekerjaan mekanikal . Kegiatan konstruksi - Dinding KM/WC = 20 x 25 cm warna
harus dapat diselesaikan hingga batas akhir rencana - Lantai KM/WC = 20 x 20 cm Corak warna
- Pantry = 20 x 20 cm Warna
Serah Terima Pekerjaan Pertama (SPTS, PHO) pada
tanggal 24 Juli 2015. Plafond
Hunian : - Lantai 1 s/d 4 Beton Expose
- Lantai 5 & Lobby Rangka
Metal Furing ditutup calsiboard
II. DATA BANGUNAN Water Proofing :
- KM/WC Tahap 1 : Bitumen Coating
Data umum pembangunan Asrama Mahasiswa Putri Tahap 2 : Liquid Coating
Santren UGM Sleman Jogjakarta adalah sebagai - Dak Atap : Membrane
berikut: - Ground Tank : Liquid Coating anti
asam & toxic
1. Nama Proyek : Pembangunan Asrama
Pengecatan :
Mahasiswa Putri Santren UGM Sleman
- Dinding Luar : Weater Shield ex.
Jogjakarta
Jotun
2. Lokasi Proyek : Kampus UGM-Sleman
- Dinding Dalam & plafon: Acrilic
3. Jumlah Gedung : 2 Block
Emulsion ex. Jotun
4. Konsultan Perencana : PT. Delta Decon-Bekasi
Kusen :
5. MK Pusat : PT. Nusa Gala Sarana-
- Aluminium uk. 1.5 x 3 ex Aleksindo
Jakarta
- Pintu PVC untuk kamar mandi
6. MK Wilayah : PT. Sarana Budi Prakarsa
- Kaca bening tebal 5 mm & kaca es tebal
Ripta-Semarang
3 mm ex. Asahimas
7. Kontraktor Pelaksana : PT. Margusta Bangun
Perkasa-Bandung
4. Pekerjaan Mekanikal & Elektrikal
8. Waktu Pelaksanaan : 240 hari
9. Nilai Kontrak : Rp. 27.9 Milyar Air Bersih :
- Ground Water Tank = 1 unit per block
- Torn Air 3 unit per block Kap. 4000 liter
Data Teknis Air Bekas & Kotor :
1. Pekerjaan Struktur Bawah - Kloset duduk per hunian
- Septic tank Bio 2 unit per block Kap. 15 m3/hari
Pondasi : Minipile uk. 25 x 25 cm - Sumur resapan 2 unit per block kap. 5 m3 / hari
kedalaman 8 meter sistem pemancangan - Grease trap di dapur umum tiap lantai
dengan hidrolik KWh Meter : Panel disatukan dan menjadi
Pile Cap & Tie Beam : Mutu Beton K-350 tanggung jawab pengelola
Sistem Konvensional Penangkal petir 1 unit per block radius
2. Pekerjaan Struktur Atas minimum 80 m
Kolom dan Balok : Mutu Beton K-350 Instalasi pemadam kebakaran dilengkapi
Sistem Precast Pabrikasi di Lapangan dengan Diesel Fire Pump & Jocky Pump
Shearwall dan Tangga : Mutu Beton K- dan untuk luar bangunan dilengkapi pilar
350 Sistem Konvensional hidrant & siemess conector
Plat Lantai : Mutu Beton K-450 Deteksi kebakaran dengan Heat detector
Sistem Precast dikirim dari pabrikan. yang ditempatkan di masing-masih hunian
Atap : Rangka baja Ringan metal Pada setiap lantai di tempatkan Fire
zink alum atap metal berpasir. extinghuiser 2.5 kg
3. Pekerjaan Arsitektur

5. Jumlah Hunian b. BLOCK 2


a. BLOCK 1 : Lantai 1 : area pengelola
Lantai 1 : 8 unit hunian untuk difable Lantai 2 s.d. 5 : 23 hunian per lantai + 1
Lantai 2 s.d. 5 : 23 hunian per lantai + 1 dapur umum
dapur umum Total hunian : 92 unit
Total hunian : 100 unit

35
LOKASI PEKERJAAN

Gambar 2. a-b. Peta Lokasi Pekerjaan Pembangunan Gedung Asrama Mahasiswa Puteri
Santren, Jalan Gambir, Pedukuhan Karangasem, Desa Catur Tunggal,
Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

36
Gg

Gbr. 3.a-b. Denah Lantai 1 dan Lantai 2 Gedung Asrama Mahasiswa Putri UGM

37
Gbr. 4. Potongan 1-1-

III. ANALISA DAN PEMBAHASAN

Proses Pembangunan adalah kegiatan mendirikan setelah diperbaiki masih dapat berfungsi dengan
bangunan gedung yang diselenggarakan melalui tahap baik sebagaimana mestinya.
perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi dan
pengawasan konstruksi/manajemen konstruksi (MK), Penentuan tingkat kerusakan adalah setelah
baik merupakan pembangunan baru, perbaikan berkonsultasi dengan Instansi Teknis setempat
sebagian atau seluruhnya, maupun perluasan bangunan yang bertanggung jawab terhadap pembinaan
gedung yang sudah ada, dan/atau lanjutan bangunan gedung.
pembangunan bangunan gedung yang belum selesai,
dan/atau perawatan (rehabilitasi, renovasi, restorasi). Pemeliharaan Bangunan
Berdasarkan definisi tersebut, pembangunan mencakup
seluruh tahapan dari perencanaan sampai dengan Dalam proses pemeliharaan bangunan, terdapat
berfungsinya suatu gedung. Dalam pekerjaan tiga kategori yaitu :
pembangunan juga meliputi pekerjaan perawatan
gedung bangunan negara. 1. Rehabilitasi, yaitu memperbaiki bangunan yang
telah rusak sebagian dengan maksud menggunakan
Perawatan bangunan adalah usaha memperbaiki sesuai dengan fungsi tertentu yang tetap, baik
kerusakan yang terjadi agar bangunan dapat berfungsi arsitektur maupun struktur bangunan gedung tetap
dengan baik sebagaimana mestinya. Perawatan dipertahankan seperti semula, sedang utilitas dapat
bangunan dapat digolongkan sesuai dengan tingkat berubah.
kerusakan pada bangunan yaitu: 2. Renovasi, yaitu memperbaiki bangunan yang telah
rusak berat sebagian dengan maksud
1) Perawatan untuk tingkat kerusakan ringan; menggunakan sesuai fungsi tertentu yang dapat
2) Perawatan untuk tingkat kerusakan sedang; tetap atau berubah, baik arsitektur, struktur
3) Perawatan untuk tingkat kerusakan berat. maupun utilitas bangunannya
3. Restorasi, yaitu memperbaiki bangunan yang telah
rusak berat sebagian dengan maksud
menggunakan untuk fungsi tertentu yang dapat
Tingkat Kerusakan Bangunan tetap atau berubah dengan tetap mempertahankan
arsitektur bangunannya sedangkan struktur dan
Yang dimaksud dengan Kerusakan bangunan utilitas bangunannya dapat berubah.
adalah tidak berfungsinya bangunan atau komponen
bangunan akibat penyusutan/berakhirnya umur Kegagalan Bangunan
bangunan, atau akibat ulah manusia atau perilaku
alam seperti beban fungsi yang berlebih, kebakaran, Hasil proses pekerjaan kontruksi yang telah
gempa bumi, atau sebab lain yang sejenis. Intensitas diserahkan, karena kualitas atau hal lainnya, bisa
kerusakan bangunan dapat digolongkan atas tiga terjadi kegagalan bangunan. Kegagalan bangunan
tingkat kerusakan, yaitu: adalah keadaan bangunan, yang setelah
diserahterimakan oleh penyedia jasa kepada
a. Kerusakan ringan, Kerusakan ringan adalah pengguna jasa, menjadi tidak berfungsi baik secara
kerusakan terutama pada komponen non-struktural, keseluruhan maupun sebagian dan/atau tidak
seperti penutup atap, langitlangit, penutup lantai sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam
dan dinding pengisi. kontrak kerja konstruksi atau pemanfaatannya
b. Kerusakan sedang, Kerusakan sedang adalah yang menyimpang sebagai akibat kesalahan
kerusakan pada sebagian komponen non struktural, penyedia jasa dan/atau pengguna jasa. Masa
dan atau komponen struktural seperti struktur atap, kegagalan bangunan adalah sepuluh tahun.
lantai, dll. Apabila hasil pekerjaan kontruksi yang telah
c. Kerusakan berat, Kerusakan berat adalah kerusakan diserahkan oleh penyedia jasa kontruksi terjadi
pada sebagian besar komponen bangunan, baik penyimpangan yang disebabkan karena kesalahan
struktural maupun non-struktural yang apabila pihak penyedia, maka penyedia jasa kontruksi

38
harus bertanggung jawab terhadap akibat yang 6. Peraturan Menteri PU No. 45 Tahun 2007
disebabkan kegagalan bangunan tersebut. tentang Pedoman Teknis Pembangunan
Bangunan Gedung Negara;
Dasar Hukum dan Standar Teknis Penyelenggaraan 7. Peraturan Menteri PU No. 24 Tahun 2008
Bangunan Gedung Negara tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan
Bangunan Gedung.
Pemeriksaan terhadap bangunan perlu dilakukan
terutama sekali pada bangunan gedung Salah satu prinsip pembangunan gedung menurut
negara/pemerintah yang berfungsi untuk melayani peraturan bangunan di Indonesia adalah harus
kepentingan umum (fungsi pemerintahan, sosial memenuhi persyaratan keandalan, dan sebagai bagian
budaya dan keagamaan). Dasar hukum untuk terpenting dari keterandalan bangunan gedung adalah
mempraktekkan hal ini sudah cukup jelas yaitu keandalan secara struktural. Keandalan struktural
substansi pasal-pasal dan ayat dari peraturan didefinisikan sebagai kapasitas elemen struktural
perundangan berikut ini: bangunan gedung secara keseluruhan maupun secara
parsial (pondasi, sloof, kolom, balok, plat, dinding,
1. Undang-undang No. 28 Tahun 2002 tentang rangka atap dan elemen struktural lainnya) untuk
Bangunan Gedung; memikul pembebanan maksimum selama umur
2. Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2005 rencana atau masa pakai bangunan tanpa mengalami
tentang Bangunan Gedung; kegagalan atau keruntuhan secara tiba-tiba, baik yang
3. Peraturan Presiden No. 73 Tahun 2011 tentang bersifat lokal di titik-titik tertentu maupun keruntuhan
Pembangunan Bangunan Gedung Negara; total keseluruhan bangunan. Hal ini bertujuan untuk
4. Peraturan Menteri PU No. 29 Tahun 2006 menjamin keselamatan penghuni atau pemakai
tentang Pedoman Persyaratan Teknis bangunan.
Bangunan Gedung;
5. Peraturan Menteri PU No. 26 Tahun 2007
tentang Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung;

39
INSPEKSI BANGUNAN
Terhadap
PEMENUHAN STANDAR DAN PERSYARATAN TEKNIS BANGUNAN GEDUNG
BERTINGKAT BANYAK PADA ZONASI GEMPA III
1.a. Perubahan Kekakuan Sistem Struktural akibat Pengaruh Kekakuan Dinding Geser tidak
diperhitungkan

Gbr. 5.a-b. Sistem Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) menurut SNI-
1726-2002 dapat mempunyai suatu tingkat duktilitas sebesar = 5.2 dan
faktor reduksi gempa R = 8.5. Untuk Sistem struktur portal/rangka
precast in-place dalam konstruksi Aspuri UGM ini diperoleh = 4.43
dan R = 7.26 (berdasarkan pengujian Puslitbangkim Bandung), tetapi
akibat penggunaan dinding geser (shear-wall) pada sisi tangga (sumbu
lemah/sumbu pendek bangunan) maka duktilitas struktur akan

40
berkurang oleh karena terjadi peningkatan kekakuan) pada sumbu
Y-Y bangunan.
1.b. Sistem Penahan Lateral/Gempa Dinding Geser (Shear Wall) untuk
meningkatkan kekuatan struktural.

41
Gbr. 6.a-b. Penggunaan dinding geser menurut SNI-1726-2002 akan meningkatkan
kekakuan lateral, tetapi sekaligus akan mengurangi keliatan/duktilitas
struktur. Direkomendasikan kepada Konsultan Perencana untuk meng-
hitung kembali faktor duktilitas dan faktor reduksi gempa R.

Inspeksi No. 1
Kesimpulan Inspeksi No. 1:
Pengaruh peningkatan kekakuan struktur akibat dinding geser (shear wall) belum
diperhitungkan dalam tes kinerja struktural sedemikian sehingga faktor duktilitas =
4.43 dan faktor reduksi gempa R = 7.26 mungkin tidak akan bisa dicapai dalam suatu
kejadian gempa yang real.

Rekomendasi Inspeksi No. 1:


Konsultan melakukan perhitungan kembali (analisis struktur) terhadap pengaruh
dinding geser pada faktor duktilitas struktural bangunan.

2. Segregasi Beton akibat Pelaksanaan Pengecoran yang Kurang Baik

Gbr. 7. Tampak suatu balok grid dengan arah sumbu panjang X-X yang mengalami segregasi
campuran beton. Hal ini diakibatkan oleh proses pengecoran yang kurang baik. Solusi:
Menutup rongga-rongga/lubang dengan campuran beton silika untuk bahan grouting atau
dengan menggunakan campuran beton normal setelah sebelumnya permukaan beton dilumuri
alcabond (bahan perekat).

Inspeksi No. 2 (lihat Gbr. 7)


Catatan: Definisi
F Fungsional dengan tanpa indikasi kerusakan
TD Tidak Ditemukan
TI Tidak dapat Diinspeksi karena alasan keamanan atau keterbatasan alat ukur/instrumen
NF Rusak Ringan atau Tidak Berfungsi Penuh dan memerlukan perbaikan atau perawatan

42
RB Rusak Berat atau Cacat Berat yang memerlukan penggantian atau rekonstruksi. Tidak berfungsi
sama sekali

F TD TI NF RB
2. Segregasi Beton Bertulang Precast-in-Place Lantai II, Balok Grid

Kesimpulan Inspeksi No. 2:


Mutu coran balok beton bertulang precast lantai 2 (join balok-grid) tidak memenuhi
persyaratan mutu minimum beton bertulang dalam SNI-03-1726-2002 dan SNI-03-2847-
2002.

Rekomendasi Inspeksi No. 2:


Perbaikan lubang/rongga dengan bahan pengisi dari semen grouting sika dan alcabond

3. Retak Vertikal Dinding Pengisi Batako

43
Gambar 8. a - c. Retak vertikal dinding bata Ruang Kamar. Penjalaran
retak dimulai dari sisi atas dinding.

Inspeksi No. 3
Catatan: Definisi
F Fungsional dengan tanpa indikasi kerusakan
TD Tidak Ditemukan
TI Tidak dapat Diinspeksi karena alasan keamanan atau keterbatasan alat ukur/instrumen
NF Rusak Ringan atau Tidak Berfungsi Penuh dan memerlukan perbaikan atau perawatan
RB Rusak Berat atau Cacat Berat yang memerlukan penggantian atau rekonstruksi. Tidak berfungsi
sama sekali

F TD TI NF RB
1. Dinding Pembatas Ruangan bagian Utara: Pasangan Batako komposisi
campuran 1 : 5 (semen, pasir) dengan acian.

Retak vertikal tak-beraturan yang dimulai pada sisi atas dinding (pertemuan dengan balok) ke
arah bawah bangunan pada zona pertemuan balok precast dan susunan batako dengan lebar
retak < 1.0 mm akibat kombinasi 4 hal:
1. Defleksi pelat beton bertulang bawah dinding akibat creep (rangkak);
2. Defleksi minor pada balok/gelagar di bawah (tumpuan) dan balok ring di atas dinding akibat
creep (rangkak);

44
3. Celah ekspansi (untuk pemuaian, pergerakan, pergeseran) pada bidang sentuh balok atap (ring
balk) dan sisi atas dinding kurang memadai;
4. Dinding bata lemah dalam memikul tegangan akibat gaya vertikal dan horizontal karena tidak ada
perkuatan rangka pengaku berupa balok latei (lintel) horizontal pada bidang dinding dengan luas >
9 m2
Celah ekspansi, baik horizontal maupun vertikal dapat digunakan untuk mengakomodasi
pergerakan akibat deformasi elastik, rangkak (creep), susut (shrinkage) dan mencegah retak,
khususnya untuk dinding bata dengan lebar lebih dari 5 meter. Untuk dinding bata sisip (brick
infill) dengan bentangan lebih dari pada kerangka struktur beton bertulang disarankan untuk
menempatkan celah ekspansi horizontal minimum inci (=6.4 mm) diantara struktur dan sisi
atas dinding. Celah ekspansi dapat diisi dengan mortar lentur atau styrofoam.

Celah di

Balok Struktur

Dinding non-struktur

Bukaan Pintu

Kolom Struktur

Gbr. 9. Join (pertemuan) balok struktur dan sisi atas dinding dengan
bukaan dan celah ekspansi horizontal (garis kuning putus-putus).

45
4. Pemilihan Titik Perlubangan yang tepat pada Balok Konsol/Kantilever

Gambar 10. a -b. Tampak Balok-balok Konsol/kantilever yang dilubangi untuk


Melalukan pipa suplai air bersih diameter 2 inci. Lokasi lubang sudah
sangat tepat sebab nilai kapasitas momen penampang minimum

46
5. Penggunaan Balok Latei/Lintel untuk Perkuatan Dinding pada daerah buka-
bukaan pintu dan jendela

Gbr. 11.a-b. Confined Brick Wall Construction (Konstruksi Dinding Bata Tercekat).
Konstruksi dinding bata dicekat dengan kolom praktis dan balok horizontal
(latei) terutama untuk perkuatan (retrofit) guna mencegah kegagalan geser
dinding tembok. Konstruksi ini juga akan mencegah penjalaran keretakan

47
6. Posisi titik-titik pengankatan balok beton precast yang tidak simetris

Gbr. 12.a-b. Posisi titik-titik pengangkatan balok beton precast tidak simetris dan
berisiko lebih besar untuk lepas dan membahayakan
48
7. Retak Diagonal Sudut Dinding Batako

Gbr. 13. Retak diagonal dinding sudut

Inspeksi No. 4
F Fungsional dengan tanpa indikasi kerusakan
TD Tidak Ditemukan
TI Tidak dapat Diinspeksi karena alasan keamanan atau keterbatasan alat ukur/instrumen
NF Rusak Ringan atau Tidak Berfungsi Penuh dan memerlukan perbaikan atau perawatan
RB Rusak Berat atau Cacat Berat yang memerlukan penggantian atau rekonstruksi. Tidak berfungsi
sama sekali

F TD TI NF RB
1. Dinding Pembatas Ruangan bagian Utara Ruang Sidang Biasa:
Pasangan Bata Batu, komposisi campuran 1 : 5 (semen, pasir)
dengan acian.

Retak Dinding diagonal, lebar 1.2 mm akibat kombinasi 3 hal:


1. Defleksi pelat beton bertulang bawah dinding akibat creep (rangkak);
2. Defleksi minor pada balok/gelagar bawah dinding akibat creep (rangkak);
3. Dinding bata lemah dalam memikul tegangan akibat gaya vertikal dan horizontal
49
IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan: Rekomendasi Penanganan/Teknik Perbaikan:

1. Keretakan dinding batako pada 2 titik pada 1. Untuk menjamin keamanan dan keselamatan
konstruksi bangunan gedung Asrama struktur selama umur rencana pemakaian 25
Mahasiswa Putri Santren sangat berkaitan tahun maka harus dilakukan perkuatan
dengan struktur pendukung atau penyokong (retrofitting) dinding susunan batu bata yang
bangunan yaitu sistem kolom-balok-pelat mengalami retak-retak dengan menggunakan
lantai precast-in-place non monolitik. cara penanganan yang sesuai standar
2. Pola-pola keretakan dinding berhubungan konstruksi bangunan gedung ( lihat Gbr.
dengan mekanisme gaya tarik (tensile force) 13.a-c dan 14.a-c )
dan tarik-lentur (flexural-tensile force).
3. Penyebab Utama keretakan dinding ada tiga, 2. Untuk retak dengan lebar kurang dari 0.4 mm
yaitu: boleh tidak menggunakan metoda pengupasan
- Defleksi beton pelat lantai-balok precast-in- dengan kawat anyam tetapi harus
place pendukung dinding akibat proses menggunakan mortar khusus perbaikan
rangkak (creep); dinding/beton, sejenis Sikatop 121/Mortar
- Transfer beban mati dari berat balok ring- Acian Putih TR30.
pelat precast atas dinding, dan,
- Deformasi elastik sistem balok-pelat lantai
akibat peningkatan beban mati lantai.
4. Penyebab Minor dalam keretakan dinding
adalah susut volume atau susut pengeringan
(shrinkage) spesi semen atau mortar.

Gambar 13. a - c. Suatu retak vertikal horiizontal selebar 1 mm pada


dinding bata dekat bukaan
50 jendela
Cara Penanganan/Perbaikan/Perkuatan

Gambar 14. a - d. Cara penanganan retak dinding: 1. Pengupasan selebar 5 cm seluruh lapis
plester pada jalur retak hingga mencapai sisi samping batu bata; 2. Area
yang dikupas dibersihkan dari kotoran/debu sehingga garis-garis retak dapat
terlihat dengan jelas; 3. Pasangkan kawat anyam 10mm x 10mm atau
12mmx12mm dengan cara dipaku pada beton spesi/bata; 4. Sesudah area
kupasan dilembabkan/dibasahi dan didiamkan selama beberapa menit,
plester kembali jalur kupasan retak beton dengan campuran mortar 1 PC:
4 Ps; 5. Biarkan plesteran mengering selama min. 7 hari sebelum diaci/
plamir, kemudian aplikasi cat dasar dan cat finishing.

51
.

Gbr. 2. Potongan 1-1-

52
REFERENSI
[1] Undang-undang no. 28 tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung;
[2] Undang-undang no. 26 tahun 2007 tentang
Penataan Ruang;
[3] PP no. 36 tahun 2005 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-undang no. 28 tahun 2002
tentang Bangunan Gedung;
[4] Permen PU no. 45 tahun 2007 tentang Pedoman
Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara;
[5] Permen PU no. 6 tahun 2007 tentang Pedoman
Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
(RTBL)
[6] Permen PU no. 25 tahun 2008 tentang Pedoman
Teknis Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi
Kebakaran (RISPK);
[7] Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987 ...
Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan
Gedung (SKBI-1.3.5.3-1987);
[8] Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung (SNI-03-1726-2002)

53
PENILAIAN KEANDALAN, INSPEKSI VISUAL, ANALISIS KOMPONEN
DAN REKOMENDASI PENANGANAN BANGUNAN GEDUNG UTAMA
PASAR SENTRAL POSO

Yoppy Soleman1)
1)
Staf Pengajar Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Sintuwu Maroso dan Pengkaji Teknis Bangunan
Gedung Bidang Cipta Karya Dinas PU

Kata Kunci keandalan bangunan, pasar sentral poso, analisa komponen bangunan

I. PENDAHULUAN
Berdasarkan hasil peninjauan tim Fakultas Teknik bangunan Gedung Utama Pasar Sentral Poso, Jl. Pulau
Universitas Sintuwu Maroso pada tanggal 26 dan 27 Sabang, sbb:
November 2015, dibawah ini diberikan hasil penilaian
keandalan dan inspeksi teknis

Struktural (berdasarkan tinjauan tim Fakultas Teknis Unsimar Poso)


Sub Sistem Persentase Klasifikasi Tingkat Kerusakan,
No. Struktural Tingkat Komentar Rencana
Kerusakan Penanggulangan
1. Kuda-kuda 30 - 45% Penurunan kualitas akibat lamanya usia Apabila diperlukan:
pemakaian, dekomposisi/lapuk akibat kelembaban
dan rangka dan deformasi akibat beban/tekanan angin. Rehabilitasi sedang
atap
2. Rangka dan 15 70% Kualitas pekerjaan rangka dan lapis plafon Apabila diperlukan:
bermutu baik. Penurunan mutu lapis penutup
lapis plafon atap tersebar merata dengan intensitas 45-60%, Rehabilitasi sedang
dan lapis sebaliknya lokasi dan derajat kerusakan lapis Rehabilitasi
plafon tersebar secara tidak merata atau sangat
penutup bervariasi. Kerusakan disebabkan penurunan
Berat/Rekonstruksi
seng kualitas material akibat usia pemakaian, akibat
pengaruh mutu lapisan penutup atap atau pelat
beton (rembesan air) dan penyebab mekanis.
Tingkat kerusakan plafon ruangan dalam (toko)
jauh lebih rendah daripada bagian luar (teras)
Sebagian besar plafon ruangan dalam toko di
lantai satu telah direhabilitasi secara swadaya.
Sekitar setengah luasan plafon di area teras
bangunan lantai dua dalam kondisi rusak sedang
(30-45%), 1/3 lainnya dalam kondisi rusak berat
(>65%) dan 1/6 sisanya dalam kondisi rusak
ringan (15%). Kondisi plafon ruangan dalam
toko/los juga bervariasi, tetapi pada umumnya
lebih baik. Sebagian besar yang telah direhab
dalam kondisi baik (kerusakan <15%).
3. Kolom 15 65% Kualitas pekerjaan beton bertulang cukup Apabila diperlukan:
memenuhi standar mutu yang disyaratkan
Struktural sehingga elemen kolom struktural hanya sebagian Rehabilitasi ringan
Beton kecil yang mengalami degradasi kekuatan setelah (sebagian besar) -
33 tahun usia pemakaian. Dari total 480 kolom
Bertulang beton bertulang dengan dimensi 50x30 cm dan
Rehabilitasi berat (5%
40x20 cm, hanya terdapat 5 kolom yang kritis dari jumlah)
atau telah mengalami retak struktur + pecah
selimut beton +, spalling (lepas-lepas) +
dekomposisi besi tulangan, kemudian terdapat
sekitar 20 kolom lainnya yang mengalami lepas
selimut beton pada zona penjepitan lateral dan
daerah join kolom-balok. Secara umum 1/20 dari
seluruh kolom-kolom non-infills (tanpa dinding bata
sisip) rusak berat (65%), dan 19/20 sisanya dalam
kondisi rusak ringan s.d. rusak sedang. Kolom-
kolom yang mempunyai bidang sentuh dinding bata
pada umumnya hanya mengalami kerusakan
ringan, kecuali 2 3 kolom di titik-titik tertentu yang
bertepapatan harus menahan getaran dari beban
dinamik lantai atas dan kemungkinan terjadinya

54
penurunan diferensial pada pondasi. Penyebab
utama kerusakan pada 5% kolom-kolom dengan
intensitas kerusakan berat adalah aksi gaya lateral
+ pembebanan dinamik akibat operasi mesin-
mesin. Penyebab lainnya adalah benturan
mekanis dan ruda paksa.
4. Balok 10 25% Kualitas pekerjaan konstruksi beton bertulang Apabila diperlukan:
bermutu baik sehingga tidak ada elemen balok
Struktural yang mengalami degradasi kekuatan yang Rehabilitasi ringan
Beton signifikan. Dari 748 bentangan balok-balok (sebagian besar) -
struktural di lantai 1 dan lantai 2 hanya satu atau
Bertulang dua yang mengalami retak, spalling (lepas selimut
Rehabilitasi sedang
beton). Lokasi dengan tingkat kerusakan ringan-
sedang berada di lajur belakang bangunan balok
tumpuan lantai dekat tangga. Sebagian besar
balok-balok struktural di perimeter (keliling)
bangunan hanya mengalami karbonasi lapis
plesteran, bukan kerusakan struktural. Kerusakan
yang cukup signifikan justru dideteksi pada balok-
balok ornamen dan atau balok latei, dimana 25%
mengalami retak.
5. Pelat (Slab) 15 45% Dari 390 panel pelat berukuran 4x4 m dan 4x2 m, Apabila diperlukan:
hanya terdapat 5 titik yang kritis akibat
Beton pembebanan dinamik (getaran mesin). Lokasi Rehabilitasi ringan
Bertulang panel pelat dengan tingkat kerusakan sedang- (sebagian besar) -
berat berada di lajur tengah pelat lantai (slab).
Rehabilitasi sedang
6. Dinding 10 20% Tingkat kerusakan dinding tembok bata sisip Apabila diperlukan:
(brick masonry infills) berkisar rusak ringan
Tembok (<10%) hingga rusak sedang minor (20%). Rehabilitasi ringan
Bata Kualitas pekerjaan konstruksi bermutu baik Rehabilitasi Sedang
sehingga hanya sebagian sangat kecil dari
dinding tembok yang rusak secara
signifikan.Tembok dinding bata sisip bagian dalam
umumnya hanya mengalami rusak ringan.
7. Pondasi 10 30% Penurunan diferensial pondasi hanya terjadi di Apabila diperlukan:
sebagian sangat kecil (beberapa titik) di lajur
tengah bangunan. Tingkat kerusakan berkisar Rehabilitasi ringan
rusak ringan, dan hanya beberapa titik tertentu Rehabilitasi sedang
saja yang rusak sedang.

Sebagai elemen non-struktural, kusen pintu dan


Kusen Pintu jendela telah mengalami banyak modifikasi Apabila diperlukan:
Jendela, (perubahan) oleh penyewa/pemilik kios/los pasar Rehabilitasi ringan
8. 15 65% selain penurunan mutu akibat dekomposisi bahan
Ventilasi, kayu. Tingkat kerusakan kusen pintu dan jendela
Rehabilitasi berat
Bukaan berkisar 15 -75%
Kerusakan ringan s.d. kerusakan berat yang Apabila diperlukan:
cukup merata tersebar pada area teras Rehabilitasi sedang
perimeter/keliling bangunan pada lapis penutup
lantai akibat penurunan mutu yang disebabkan Rehabilitasi
9. 30 65% kelembaban (air, sampah, jamur dan lumut), berat/rekonstruksi
akibat pemakaian (keausan, erosi, abrasi), dan
penurunan kualitas material akibat lama usia
Lantai pemakaian

Sistem Proteksi Gempa Struktur (Merujuk standar SNI-1726-2002, Zona 4)


Sub Sistem Estimasi
No. Ketahanan Tingkat Komentar Rencana
Gempa Ketahanan Penanggulangan
Gempa
1. Pondasi Tanah dasar Untuk analisis secara presisi memerlukan Apabila diperlukan:
dianggap full detail investigations (penyelidikan skala perkuatan fondasi dan
cukup keras. penuh). Tetapi, secara umum, dengan sloof (strengthening and
metoda rapid visual screening ditemukan
Pondasi cukup retrofitting)
bahwa pada umumnya pondasi cukup
memenuhi memenuhi standar kekuatan tumpuan.
2. Dinding Memenuhi Digunakannya kolom praktis, balok Apabila diperlukan:
Bata sebagian sloof dan balok ring, tetapi defisien perkuatan dinding
dalam balok lintel/latei pada bukaan (strengthening and
Sisip besar retrofitting) menggunakan
(Brick persyaratan pintu dan jendela
balok lintel
Masonry
Infills)
3. Kolom Memenuhi Cukup andal dalam menahan beban Apabila diperlukan: analisa

55
Beton persyaratan gempa apabila menggunakan pedoman dan tes Schmidt-Hammer ,
Bertulang SKBI 1983, SKBI-1983 tetapi tetapi perlu perbaikan lapisan selimut
penyelidikan mendalam untuk verifikasi beton, strengthening and
dan Kolom memenuhi retrofitting) dengan standar
Praktis sebagian kekuatan berdasarkan SNI-1726-2002.
proteksi gempa mengacu
Dipastikan tidak andal apabila berdasar
persyaratan pada UU BG No.28/2008,
pada SNI-1726-2012 SNI-1726-2002 dan revisi
SNI-1726-
SNI-1726-2012
2002
4. Balok Sloof Balok Sloof Berdasarkan rapid visual screening Apabila diperlukan: analisa
cukup cukup andal dalam menahan beban dan kemudian perkuatan
gempa tetapi memerlukan full-detail balok sloof dan balok ring
memenuhi (strengthening and
investigations untuk hasil analisis
retrofitting) dengan standar
presisi proteksi gempa mengacu
pada UU BG No.28/2008
dan SNI-1726-2002/2012
5. Balok Memenuhi Berdasarkan rapid visual screening Apabila diperlukan: analisa
Struktural persyaratan cukup andal dalam menahan beban dan kemudian perkuatan
gempa tetapi memerlukan full-detail balok sloof dan balok ring
Beton kekuatan (strengthening and
Bertulang SKBI-1983 investigations untuk hasil analisis
retrofitting) dengan standar
presisi proteksi gempa mengacu
pada UU BG No.28/2008
dan SNI-1726-2002/2012
6. Join Balok- Memenuhi Belum mengikuti keseluruhan pedoman Apabila diperlukan: analisa
Kolom dan sebagian pendetailan tulangan join balok-kolom dan kemudian perkuatan
join (strengthening and
Sambungan persyaratan retrofitting) dengan
Dinding SNI-1726- pendetailan tulangan join
2002 balok-kolom
Sistem Proteksi Gempa Simetri (Merujuk standar SNI-1726-2002, Zona 4)
1. Iregularitas Secara Arah eksitasi dan pemencaran gaya gempa Membuat celah (gap)
Horizontal horizontal denah lateral agak berbeda antara sub-blok kanan pemisah selebar 20 cm
bangunan dan sub-blok kiri antara sub-blok bangunan
kurang simetris, kanan dan sub-blok
denah bentuk L bangunan kiri
2. Iregularitas Secara vertikal Distribusi gaya gempa lateral sepanjang -
Vertikal denah elemen bersifat proporsional, tinggi lantai 1
bangunan dan 2 sama
simetris
3. Strong- Kapasitas Resiko keruntuhan akibat mekanisme -
Column tahanan momen kegagalan kolom dasar dapat dihindarkan
kolom-kolom
Weak Beam dasar sesuai
persyaratan

Sistem Proteksi Kebakaran (Merujuk UU BG No. 28/2002, PP BG No. 36/2005, Permen PU No. 25/2008)
Sub Sistem Estimasi
No. Proteksi Tingkat Komentar Rencana
Kebakaran Ketahanan Penanggulangan
thd. Bahaya
Kebakaran
1. Jenis Sebagian Kusen pintu dan jendela (bukaan-bukaan), Apabila diperlukan:
material material tidak kuda-kuda dan rangka plafon serta plafon konstruksi rangka atap dan
terbuat dari material dasar kayu yang kuda-kuda menggunakan
konstruksi memenuhi, merupakan bahan bakar bagi api/panas material baja ringan, lapis
bangunan rentan (bahan mudah terbakar) plafon dan lisplank
mengalami menggunakan material
kebakaran asbes atau gypsum
2. Alat
Tidak ada alat pemadaman api ringan yang
Pemadaman Tidak portable (tabung APAR)
Apabila diperlukan:
Api Ringan tersedia Pengadaan
(Tabung APAR
Foam)
Utilitas (berdasarkan tinjauan tim teknis Bidang Cipta Karya Dinas P.U. Poso)
Sub Sistem Persentase Keterangan Tingkat Kekurangan

56
No. Utilitas Tingkat Rencana
Kekurangan Penanggulangan
1. Kamar 50% Sarana Kamar Mandi/WC tidak sebanding dengan Apabila diperlukan:
jumlah pengguna pengadaan sarana KM.WC
mandi/WC
2. Sarana air 50% Sarana Air Bersih tidak sebanding dengan volume Apabila diperlukan:
yang diperlukan
bersih pengadaan sarana air
bersih
3. Sarana 100% Sarana pembuatan air kotor (limbah) rusak, Apabila diperlukan:
pembuatan mampet, tersumbat pembuatan SPAL
air kotor
(limbah)
4. Sarana 50% Kantong/Kotak Sampah jumlahnya kurang Apabila diperlukan:
Pengelolaan dan Kapasitas Tempat Pembuangan penambahan
Sementara (TPS) tidak sebanding dengan kantong/kotak sampah
Limbah volume sampah yang dihasilkan
(Sampah) dan TPS
Padat
- -
5. Septic Tank 50%
6. Listrik 0% Cukup memenuhi kebutuhan -
Arsitektural (berdasarkan tinjauan tim teknis Cipta Karya Dinas P.U. Poso)
Sub Sistem Persentase Klasifikasi Tingkat Kekurangan
No. Arsitektural Tingkat Rencana
Kekurangan Penanggulangan
1. Luas Total
Blok 0% Luasan Total Bangunan Gedung Pasar -
2
= 5415.2 m
Bangunan
Kantor
2. Ukuran 0% Ukuran ruangan/kios: -
2
Ruangan masing-masing: 7 x 4 = 28.0 m ,
3. Luas 0% Tidak dinilai -
Halaman,
Parkir
4. Elevasi .. cm Elevasi Lantai 10,0 meter dpl -
Lantai
Bangunan

III. ANALISA

Bangunan Gedung Utama Pasar Sentral 51.20 m2 (lihat Tabel 2). Bangunan
Poso adalah suatu blok bangunan kurang dikonstruksi pada 1982, maka berdasarkan
simetris yang diklasifikasikan sebagai standar umur rencana bangunan permanen,
konstruksi portal beton bertulang biasa secara teknis bangunan akan mencapai
dengan dinding tembok bata batu sisip batas minimum usia pakai pada 2007
(reinforced concrete frame buildings with (standar umur rencana bangunan permanen
brick-wall infills). Komponen struktural utama minimum 25 Tahun dan maksimum 50 Tahun
adalah susunan kolom dan balok dengan menurut SKBI-1987, SKSNI-1991, SNI-2002,
pelat lantai beton bertulang yang dicor PP No. 36/2005 dan Permen PU No.
monolit. Luas masing-masing lantai = 2.682 48/2007).
m2, luas total = 5.364 m2 dan luas tangga =

57
Gbr. 1.a-b. Site Plan Pasar Sentral Poso dengan batas-batas lahan (garis putih).
Luas lahan = 33.614.0 m2. Skala 1 : 2000.

Tabel 1. Estimasi Penggunaan Ruang (existing) Lahan Pasar Sentral Poso


Nomor

EXISTING BATASAN Keterangan


ORGANISASI RUANG 2 2
(m ) (m ) Referensi

Sertifikat tanah, KIB


1 Luas Lahan 33614.0 33614.0
C

Luas Lantai Dasar Bangunan Gedung


Utama (Bertingkat) + 34 Unit Los
Terbuka dan Kios milik Pemerintah + Estimasi/Survey
2 19967.4 20168.4
3 Unit Pos Jaga + Bangunan Lapangan
Kios/Los/Toko Permanen & Semi
Permanen, PKL milik Masyarakat

Estimasi/Survey
3 Luas Total Lantai Bangunan 22606.2 26891.2
Lapangan

Perda RTRW Poso


4 Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 0.59 0.60
No. 8 Tahun 2012

Perda RTRW Poso


5 Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 0.67 1.20
No. 8 Tahun 2012

58
Gbr. 2. Site Plan Pasar Sentral Poso dengan Blok Bangunan Gedung Utama (Blok
Bertingkat Lantai 1 & 2, diarsir) seluas = 5.415.2 m2. Skala 1 : 1100.

F B E D A
isi geografik: Posisi geografik: Posisi geografik: Posisi geografik: Posisi geografik: Posisi geografik:
0 0 0 0 0
23 31.657 LS -1 23 31.136 LS -1 23 32.560 LS -1 23 31.867 LS -1 23 31.170 LS -1 23 31.854 LS
0 0 0 0 0 0
45 4.323 BT 120 45 4.651 BT 120 45 5.655 BT 120 45 5.752 BT 120 45 8.929 BT 120 45 9.025 BT
levasi: Elevasi: Elevasi: Elevasi: Elevasi: Elevasi:
10.0 meter dpl. + 10.0 meter dpl. + 10.0 meter dpl. + 10.0 meter dpl. + 10.0 meter dpl. + 10.0 meter dpl.

59
Gbr. 3. Aerial View Pasar Sentral Poso dan 6 koordinat geografik Bangunan
Gedung Utama Pasar Sentral Poso (diarsir). Skala 1 : 1100

Gbr. 4. Dimensi dasar Bangunan Gedung Utama. Skala 1 : 963

Tabel 2. Perhitungan Luasan Bangunan Gedung Utama (Blok Bertingkat Lantai 1 & 2) dan Tangga
2
Bentuk Bangun Datar. Satuan (m, m )
Bidang Bangunan: Trapezium Bidang Tangga: T-Simetrik
Sub Blok Sub Blok Tangga Tangga Tangga Tangga
Dimensi Depan 1 Belakang Samping Ka Samping Ki
Kanan Kiri
Panjang 106.0 50.0 8.0 8.0 6.0 6.0
Lebar 18.0 18.0 11.6 11.6 0.0 0.0
Panjang 102.0 40.0 19.6 19.6 6.0 6.0
Lebar 18.0 18.0 Luas Tangga 51.2
Luas Lantai 1 1872.0 810.0
Luas Lantai 2 1872.0 810.0
Total Luas Bangunan + Tangga 5415.2

Kios-kios atau gerai pada Bangunan gedung lama ini dianggap sudah tidak dapat
utama Pasar Sentral Poso berfungsi sebagai memenuhi volume kegiatan (overload),
tempat perdagangan rupa-rupa barang, mulai termasuk juga dampak lingkungannya.
dari bahan mentah (mis: telur, beras, gula), Seluruh bangunan dan lahan Pasar Sentral
bahan makanan jadi, alat-alat rumah tangga, Poso yang lama (jl. Pulau Sumatera) telah
kain, pakaian, sepatu, barang elektronik, mempunyai bangunan dan lahan pengganti di
obat-obatan, kosmetika, servis eletronik, Pasar Sentral Poso Kawua (jl. Pangeran
jasa-jasa dan lain-lain. Dengan Diponegoro). Area Pasar Sentral Poso yang
dioperasikannya pasar sentral Kabupaten lama ini akan terkena rencana planologi Kota
Poso yang baru di jalan Pangeran Poso yang baru atau Rencana Tata
Diponegoro, Kelurahan Kawua, maka seluruh Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kota
kegiatan di dalam Sentral Poso yang lama Poso, dimana area eks pasar sentral akan
(terletak di jalan Pulau Sumatera) harus dibuat Ruang Terbuka Hijau (RTH) berupa
dipindah atau berangsur-angsur dipindah. taman kota. Dengan demikian blok
Kapasitas lahan dan ruang (bangunan, jalan, bangunan gedung utama Pasar Sentral Poso
ruang terbuka) dari Pasar Sentral Poso yang

60
ini tidak dipertahankan atau akan Dalam halaman 9 s.d. halaman 17 di bawah
dihapuskan/dibongkar. ini diberikan visual screening investigation
dan sejumlah analisis/kajian teknis.

61
Gbr. 5.a b. Tampak depan Bangunan Gedung Utama sisi kiri (a) dan sisi kanan (b) Pasar Sentral
Poso. Berdasarkan inspeksi visual disimpulkan bahwa secara struktural bangunan
hampir secara keseluruhan intak (utuh) dan tiada terdapat tanda-tanda keruntuhan
setempat atau kegagalan kolom-kolom lantai bawah atau simpangan lateral > 0.5%
atau lendutan yang ekstrim selama 33 tahun usia pemakaian. Hal ini menandakan
mutu pekerjaan beton bertulang (massa beton + luas tulangan + mutu baja tulangan
+ pendetailan) tergolong cukup baik. Beberapa kolom- struktural di lantai 1 & 2
retak, lepas dan spalling karena proses kimiawi agregat-silika-alkali, korosi tulangan,
benturan mekanis dan gaya gempa lateral minor selama perioda 1983 2006 (lihat
Gbr. 7 17)

62
Gbr. 6.a e. Tampak belakang Bangunan Gedung Pasar Sentral Poso. Pada elemen struktural
yaitu kolom, balok dan pelat luifel, kerusakan yang dominan adalah noda-noda
lembab akibat jamur dan lumut (lihat garis merah putus- putus) dan benturan meka-
nis (lihat garis oranye putus-putus). Tipe kerusakan ketiga adalah voids atau rong-
ga (lihat garis kuning putus-putus). Tipe kerusakan beton berupa spalling atau lepas
selimut (lihat garis biru putus-putus) hanya terjadi pada sebagian kecil elemen (lihat
Gbr. 7.a-b). Dari inspeksi ini disimpulkan bahwa mutu pekerjaan struktur tergolong
baik, hanya sangat kurang dalam upaya perawatan.

Concrete Spalling

Gbr. 7.a b. Tampak bagian bawah kolom beton bertulang di lantai dasar yang mengalami
kerusakan intensif akibat spalling (selimut beton lepas, beton terkelupas dalam).
Indikasi penyebab kerusakan dari dua sampel ini ada tiga kemungkinan, yaitu (1)
kombinasi gaya gempa lateral + benturan mekanis (ruda paksa); (2) benturan
mekanis + reaksi kimiawi alkali-silika-agregat; (3) perusakan yang disengaja (be-
ton dipaku/di lubangi secara paksa dengan martil) + aksidental loadings.

Proses
reaksi alkali
agregat

Proses korosi
tulangan

63
Gbr. 8.a b. Tampak bagian bawah kolom beton bertulang di lantai tingkat yang mengalami ke-
rusakan ringan akibat spalling (selimut beton lepas) yang baru pada gambar (a),
dan telah berlangsung lama pada gambar (b). Pada gambar (b) terlihat bahwa
massa beton telah mengalami perubahan warna abu-abu menjadi putih akibat reak-
si alkali-silika agregat, dan proses korosi baja tulangan yang dipercepat oleh eks-
pos cuaca dan kelembaban. Berdasarkan intensitas korosi beton dan reaksi alkali
agregat bisa disimpulkan bahwa mutu campuran beton kolom-kolom lantai dasar
lebih baik daripada kolom-kolom di lantai tingkat.

Gaya aksial

Gbr. 9.a b. Tampak kolom beton bertulang di lantai dasar yang mengalami split/pecah geser-
aksial yang lebih intensif (gambar a), ringan (gambar b), dan kolom yang menga-
lami spalling/cracking. Kerusakan pada gambar a dan b disebabkan oleh suatu
pembebanan aksidental beban aksial + momen dan karena adanya pergerakan
struktur. Dari inspeksi visual dapat disimpulkan bahwa mutu pekerjaan beton
(tipe agregat, proporsi semen dan kepadatan campuran/permeabilitas) kolom-
kolom lantai dasar lebih baik daripada kolom- kolom lantai tingkat

Proses korosi intensif (sudah lama)

64
Gbr. 10.a c. Tampak kolom beton bertulang internal (kolom sebelah dalam) dengan dinding
bata sisip di lantai tingkat yang mengalami beberapa tipe penurunan mutu atau
kerusakan yaitu: lepas selimut atau spalling, cracking, disintegration dan korosi
tulangan. Berdasarkan kenyataan bahwa tulangan baja pada dasar kolom-kolom
tersebut telah mengalami proses korosi yang lama maka penyebab dari tipe pe-
nurunan mutu sedemikian yaitu: (1) mutu agregat kurang baik dan menyebab-
kan reaksi alkali-silika agregat berlangsung lebih cepat (dibanding kolom-ko-
lom dasar); (2) pekerjaan cor beton kurang padat (menghasilkan beton berpori
/permeabilitas tinggi); (3) adanya pergerakan lateral minor akibat gempa (sela-
ma 1983 2006).

Retak akibat Pergerakan


Lateral (Gempa)

= arah pergerakan lateral


65
Gbr. 11.a e. Tampak kolom-kolom beton bertulang di lantai tingkat bangunan Pasar Sentral
Poso. Kolom-kolom dalam gambar di atas mengalami retak (cracking) pada bagian
dasar atau zona yang sangat dekat dengan titik pertemuan balok-kolom atau join.
Maka penyebab dari retak sedemikian adalah (1) pekerjaan cor beton kurang padat
(menghasilkan beton berpori/permeabilitas tinggi); (2) pergerakan lateral minor
akibat gempa (selama 1983 2006).

66
Gbr. 12.a h. Tampak bagian bawah balok-balok struktural beton bertulang di lantai tingkat (a
c) dan lantai dasar (d h). Delapan titik pengamatan di atas mewakili kondisi
balok-balok sruktural pada bangunan. Semua balok dalam sampel di atas dalam
keadaan utuh (intak) dan hampir tidak mengalami defisiensi kekuatan kecuali
defisiensi yang diakibatkan reaksi kimiawi di dalam massa beton berupa reaksi
alkali-silika-agregat dan proses korosi beton yang memang pasti terjadi tetapi
kecepatan normal yang jauh lebih lambat (hanya 1/1000) daripada beberapa
kolom-kolom struktural yang telah terekspos cuaca luar.

Gbr. 13. Tampak bagian bawah balok struktural dekat tangga belakang. Balok ini merupakan
salah satu dari hanya dua balok struktural yang mengalami retak selimut, spalling dan
korosi tulangan. Tingkat penurunan mutu balok jauh lebih kecil daripada rata-rata
penurunan mutu kolom, dengan hanya satu atau dua elemen balok struktural saja yang
mengalami retak dan spalling.

67
Gbr. 14.a c. Tampak bagian bawah pelat
beton tangga samping kanan (gambar a
dan c), gambar b adalah bagian atas
aptrede/antrede tangga ini. Pelat lantai
tangga mengalami spalling selimut beton
dan korosi.

Gbr. 15. a - b. Tampak bagian bawah tangga belakang (a) dan bagian atas (b). Serat beton
bagian bawah tangga telah mengalami retak, spalling (lepas selimut) dan
proses korosi yang dipercepat oleh karena ekspos terhadap kelembaban.

68
Dinding susunan bata batu dan
ringbalk belum mengalami defi-
siensi mutu yang signifikan

Gbr. 16. a - d. Tampak 6 sampel dinding susunan bata (dinding sisip/brick-wall infills) dan
balok pengikat tembok (ringbalk). Keadaan umum dinding pengisi atau dinding
sisip ini masih sangat baik dan belum mengalami defisiensi mutu yang signifikan
selama 33 tahun pemakaian. Sebagian besar dinding telah diberikan perawatan
finishing/cat.

69
Gbr. 17.a b. Visual screening kondisi lantai Tangga Samping Kiri (a b) dan Tangga Depan (c
d) Pasar Sentral Poso. Kondisi lantai tangga mengalami penurunan mutu disebab-
kan kelembaban (air, sampah, jamur dan lumut), akibat pemakaian proses erosi,
abrasi, cavitasi dan retak permukaan (ubin semen) yang normal sebagai konse-
kuensi usia pemakaian 33 tahun. Penurunan mutu (ubin semen) lantai berkisar 30
65%.

Dari pengukuran, investigasi visual dan baik daripada komponen struktur di lantai
analisa pada komponen-komponen kolom atas, khususnya dalam kualitas agregat
struktur beton bertulang, balok struktur beton dan permeabilitas campuran beton;
bertulang, pelat lantai beton bertulang, pelat 5. Defisiensi struktural bangunan existing
tangga beton bertulang, dinding susunan tidak kritis kecuali bila desain dan
tembok batu, ringbalk beton bertulang, konstruksinya dinilai berdasarkan SNI-03-
rangka kuda-kuda kayu, lapis plafon dan 1726-2012.
lantai ubin semen disimpulkan :
Secara struktural (proteksi gempa),
1. Struktur bangunan masih intak (utuh) dan bangunan ini diperkirakan memiliki kapasitas
masih dapat memikul beban layanan menengah atau keandalan menengah
statik sekurang-kurangnya 5 tahun lagi terhadap beban horizontal akibat gempa
tanpa perlakuan perawatan khusus; bumi yang mungkin terjadi di masa datang.
2. Apabila diberikan rehabilitasi struktural Beberapa kolom struktural telah mengalami
(recovery) atau perawatan khusus maka retak, spalling dan korosi sehingga mereduksi
bangunan masih dapat memikul beban kapasitas geser lateral. Pondasi bangunan
layan selama sekurangnya 15 tahun; terletak di atas permukaan yang relatif keras
3. Mayoritas dekomposisi material selama dan stabil sehingga tidak terdeteksi adanya
33 tahun usia pemakaian bersifat kimiawi differential settlement. Mutu pekerjaan
yaitu bersumber dari reaksi alkali agregat dinding bata cukup memadai apabila ditinjau
silika dan kelembaban (temperatur, curah dari syarat-syarat teknis atau standar
hujan dan air permukaan); ketahanan gempa untuk zona 3 (wilayah
4. Komponen struktur lantai bawah Kabupaten Poso) SKBI-1987.
mempunyai kualitas pekerjaan yang lebih

Tabel Penilaian Keandalan Komponen Bangunan


No. Komponen Prosentase Nilai Angka
Komponen Keandalan Keandalan
1. Pondasi 10% 60% 0,0600
2. Struktur Kolom 30% 30% 0,0900
3. Lantai 10% 70% 0,0700
4. Dinding/Rangka 15% 50% 0,0750
5. Plafon 7% 50% 0,0350
6. Atap 10% 50% 0,0500
7. Utilitas 10% 30% 0,0300
8. Finishing 8% 50% 0,0400
Jumlah 100% - 0,4500

1. Sub-sub sistem fisik atau komponen-


IV. KESIMPULAN, PERKIRAAN ANGKA komponen Bangunan Gedung Utama Pasar
KEANDALAN DAN REKOMENDASI Sentral Poso memiliki tingkat kerusakan yang
sangat bervariasi, mulai dari klasifikasi rusak
KESIMPULAN: ringan (< 15%) untuk komponen dinding
pengisi hingga rusak sedang mayor (65%,

70
limit atas) pada beberapa kolom struktural dengan perkiraan sisa angka keandalan bangunan
tertentu dan lapis penutup plafon. Dengan sebesar 52.80%.
demikian, secara ideal komponen-komponen
fisik Bangunan Gedung Utama Pasar Sentral REKOMENDASI:
Poso berada dalam kondisi tidak andal, dengan Secara struktural, bangunan masih dapat
sisa angka keandalan sebesar 52.80%. digunakan untuk kegiatan perniagaan dengan
2. Elemen struktur bangunan utama yaitu kolom- perbaikan tingkat sedang, tetapi apabila
kolom lantai dasar dalam kondisi cukup baik diperlukan maka Bangunan Gedung Utama
dan tidak mengalami defisiensi kekuatan yang (Bertingkat) Pasar Sentral Poso ini dapat
serius, terlebih lagi balok-balok struktural direkomendasikan untuk proses
kesemuanya dalam kondisi yang masih laik penghapusan/pembongkaran.
fungsi. Kolom-kolom di lantai tingkat yang
pada umumnya mengalami defisiensi mutu
(kekuatan) yang lebih besar daripada kolom-
REFERENSI
kolom lantai dasar oleh karena tidak
dikerjakan dengan kualitas yang sama dengan [1] Undang-undang no. 28 tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung;
kolom-kolom lantai dasar. Namun demikian, [2] Undang-undang no. 26 tahun 2007 tentang Penataan
pada semua kasus, elemen-elemen struktural Ruang;
tersebut sebenarnya masih dapat direcovery [3] PP no. 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan
(dipulihkan) kekuatannya dan kemudian Undang-undang no. 28 tahun 2002 tentang Bangunan
diberikan perkuatan atau penyanggaan Gedung;
[4] Permen PU no. 45 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
(strengthening & retrofitting) terutama untuk Pembangunan Bangunan Gedung Negara;
memenuhi standar ketahanan gempa yang [5] Permen PU no. 6 tahun 2007 tentang Pedoman Umum
telah direvisi dalam SNI-03-1726-2002. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)
3. Ketidakfungsionalan dan ketidakandalan [6] Permen PU no. 25 tahun 2008 tentang Pedoman Teknis
komponen-komponen fisik bangunan Pos Jaga Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran
(RISPK);
Pasar Sentral Poso diakibatkan terutama oleh [7] Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987 ...
penurunan kualitas material bangunan selama Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan
masa pemakaian atau 33 tahun usia bangunan, Gedung (SKBI-1.3.5.3-1987);
penurunan kualitas material akibat mengalami [8] Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
berbagai proses fisika-kimiawi di dalam massa Bangunan Gedung (SNI-03-1726-2002)
beton, pengaruh kelembaban + infiltrasi air,
deformasi mekanis dan gempa lateral.
4. Apabila Bangunan Gedung Utama Pasar
Sentral Poso dapat disetujui untuk
penghapusan aset atau pembongkaran maka
area bekas tapak bangunan dapat
dimanfaatkan untuk penataan taman dan
halaman dengan merujuk kepada dokumen
RTBL (Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan) Rencana Tata Ruang Wilayah
Kota/Kabupaten Poso.

DERAJAT KERUSAKAN:
Secara fungsional, derajat kerusakan bangunan
sebesar 47.20% atau rusak sedang medium hingga
rusak sedang mayor.

ANGKA KEANDALAN:
Secara struktural (lihat tabel 1, penilaian
keandalan komponen), Bangunan Gedung Utama
Pasar Sentral Poso termasuk kategori tidak andal

71
LAPORAN PENILAIAN KEANDALAN, ANALISA KOMPONEN DAN
REKOMENDASI PENANGANAN BANGUNAN ASRAMA PERAWAT
DAN BLOK RUANG PERAWATAN VIP RSUD POSO

Yoppy Soleman 1)
1)
Staf Pengajar Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Sintuwu Maroso dan Pengkaji Teknis Bangunan
Gedung Bidang Cipta Karya Dinas PU

Kata Kunci keandalan bangunan, RSUD Poso, analisa komponen bangunan

Perawat dan Ruang Perawatan VIP RSUD Poso yang


I. PENDAHULUAN terletak dalam kompleks rumah sakit di Jalan Jend.
Sudirman No. 33, Kelurahan Lombugia, Kecamatan
Berdasarkan hasil peninjauan dan visual screening tim Poso Kota Utara, sbb:
Fakultas Teknik Unsimar Poso pada tanggal 16
Nopember 2015, dibawah ini diberikan hasil penilaian
keandalan dan kajian teknis blok bangunan Asrama II. INTERPRETASI TINGKAT KEANDALAN
BANGUNAN

A. Bangunan Asrama Perawat


Struktural (berdasarkan tinjauan tim Fakultas Teknik Unsimar Poso)
Sub Sistem Persentase Klasifikasi Tingkat
No. Struktural Tingkat Kerusakan, Komentar Rencana Penanggulangan
Kerusakan
1. Kuda-kuda 45% Penurunan kualitas akibat lamanya
usia pemakaian, dekomposisi/lapuk
dan rangka akibat (cuaca) kelembaban dan Apabila diperlukan:
atap deformasi akibat beban/tekanan Rehabilitasi sedang
angin.
Rehabilitasi berat
2. Rangka, lapis 45% Penurunan mutu lapis penutup atap
tersebar tidak merata dengan
plafon dan intensitas 30-60%. Sementara, Apabila diperlukan:
lapis penutup lokasi dan derajat kerusakan lapis Rehabilitasi sedang
seng plafon juga tersebar secara tidak
Rehabilitasi berat
merata. Kerusakan disebabkan
penurunan kualitas material akibat
usia pemakaian, akibat pengaruh
mutu lapisan penutup atap
(rembesan air) dan penyebab
mekanis.
3. Pondasi 20% Kerusakan ringan disebabkan Apabila diperlukan:
pembebanan dan pengaruh
kelembaban Rehabilitasi ringan
.
4. Dinding 30% Kerusakan sedang disebabkan
penurunan kualitas material akibat
tembok paparan air (pengaruh cuaca). Apabila diperlukan:
Bata Rehabilitasi sedang
5. Kolom dan 30% Kerusakan sedang berat
penurunan tumpuan, penurunan
Sloof Praktis kualitas material akibat usia, Apabila diperlukan:
Beton pembebanan dan pengaruh cuaca. Rehabilitasi sedang
Bertulang
Kerusakan sedang pada sebagian
kusen pintu/jendela dan ventilasi
Kusen Pintu disebabkan dekomposisi material Apabila diperlukan:
6. dan
35%
akibat usia pemakaian dan Rehabilitasi sedang
kelembaban.
Jendela,

72
Ventilasi
Kerusakan sedang pada sebagian
lapisan penutup lantai akibat erosi,
7. Lantai 25 % penurunan kualitas material akibat Apabila diperlukan:
usia dan pemakaian (aus).
Rehabilitasi sedang
Sistem Proteksi Gempa (Merujuk standar SNI-1726-2002, Zona 4)
Sub Sistem Estimasi
No. Ketahanan Tingkat Komentar Rencana Penanggulangan
Gempa Ketahanan
Gempa
1. Pondasi Tanah dasar Untuk bangunan asrama tidak Apabila diperlukan:
bertingkat biasa dengan tinggi
dianggap dinding bata tidak melebihi 3.50
perkuatan fondasi dan sloof
cukup keras. meter kekuatan pondasi (strengthening and
Pondasi diasumsikan cukup memenuhi retrofitting)
cukup
memenuhi
2. Dinding Tidak Penuaan material, batu- Apabila diperlukan: perkuatan
Bata Memenuhi bata, spesi dan lapis plester dinding (strengthening and
retrofitting) menggunakan balok
lintel
3. Kolom Kolom Tulangan praktis terpasang Apabila diperlukan: analisa dan
Beton praktis tidak kurang memenuhi tes Schmidt-Hammer , perbaikan
lapisan selimut beton,
Bertulang memenuhi strengthening and retrofitting)
dengan standar proteksi gempa
mengacu pada UU BG
No.28/2008 dan SNI-1726-2002
4. Balok Sloof Balok Sloof Kurang andal dalam Apabila diperlukan: analisa dan
Praktis menahan beban gempa kemudian perkuatan balok sloof
tetapi perlu dites dan balok ring (strengthening
kurang and retrofitting) dengan standar
memenuhi kekuatannya
proteksi gempa mengacu pada
UU BG No.28/2008 dan SNI-
1726-2002
5. Join Balok- Tidak Tidak menggunakan detail Apabila diperlukan: analisa dan
Kolom dan memenuhi (tulangan) penulangan tahan kemudian perkuatan join
gempa (strengthening and retrofitting)
Sambungan dengan pendetailan tulangan join
Dinding balok-kolom

Sistem Proteksi Kebakaran (Merujuk Permen PU No. 25/2008 tentang RISPK)


Sub Sistem Estimasi
No. Proteksi Tingkat Komentar Rencana Penanggulangan
Kebakaran Ketahanan
thd. Bahaya
Kebakaran
1. Jenis Sebagian Kusen pintu dan jendela Apabila diperlukan: konstruksi
material material (bukaan-bukaan), kuda-kuda rangka atap dan kuda-kuda
dan rangka plafon serta plafon menggunakan material baja
konstruksi tidak terbuat dari material dasar kayu ringan, lapis plafon dan lisplank
bangunan memenuhi, yang merupakan bahan bakar menggunakan material asbes
rentan bagi api/panas (bahan mudah atau gypsum
mengalami terbakar)
kebakaran
2. Alat
Tidak ada alat pemadaman api
Pemadaman Tidak ringan yang portable (tabung Apabila diperlukan:
Api Ringan tersedia APAR) Pengadaan
(Tabung APAR)
Utilitas (berdasarkan tinjauan tim Fakultas Teknik Unsimar Poso)
Sub Sistem Persentase Keterangan Tingkat
No. Utilitas Tingkat Kekurangan Rencana Penanggulangan
Kekurangan

73
1. Kamar 0% Terdapat 2 KM/WC dari 4 yang -
dibutuhkan untuk 20 penghuni
mandi/WC
2. Sarana air 0% Cukup Memenuhi Apabila diperlukan: perbaikan
bersih sarana/jaringan air bersih
Kurang memenuhi Apabila diperlukan: perbaikan
3. Sarana 50%
pembuatan SPAL
air kotor
(limbah)
Tidak diperiksa Cukup Memenuhi
4. Septic Tank 0%
5. Listrik 0% Daya Listrik tidak diperiksa Asumsi: Cukup Memenuhi

Arsitektural (berdasarkan tinjauan tim Fakultas Teknik Unsimar Poso)


Sub Sistem Persentase Klasifikasi Tingkat
No. Arsitektural Tingkat Kekurangan Rencana Penanggulangan
Kekurangan
1. Luas Total
Luasan Ruangan Dalam = 220.0
Blok 0% 2
m ; Luas Lantai total Bangunan = Memenuhi standar luas
2
Bangunan 240.0 m ruangan
Asrama
2. Ukuran 0% - Memenuhi standar luas
Ruangan ruangan
3. Luas 0% Memenuhi -
Halaman,
Parkir
4. Elevasi 0 cm Memenuhi -
Lantai
Bangunan

B. Blok Ruang Perawatan VIP


Struktural (berdasarkan tinjauan tim Fakultas Teknis Unsimar Poso)
Sub Sistem Persentase Klasifikasi Tingkat
No. Struktural Tingkat Kerusakan, Komentar Rencana Penanggulangan
Kerusakan
1. Kuda-kuda 35% Penurunan kualitas akibat lamanya
usia pemakaian, dekomposisi/lapuk
dan rangka akibat (cuaca) kelembaban dan Apabila diperlukan:
atap deformasi akibat beban/tekanan Rehabilitasi sedang
angin.
2. Rangka, lapis 40% Penurunan mutu lapis penutup atap
tersebar tidak merata dengan
plafon dan intensitas 30-60%. Sementara, Apabila diperlukan:
lapis penutup lokasi dan derajat kerusakan lapis Rehabilitasi sedang
seng plafon juga tersebar secara tidak
Rehabilitasi berat
merata. Kerusakan disebabkan
penurunan kualitas material akibat
usia pemakaian, akibat pengaruh
mutu lapisan penutup atap
(rembesan air) dan penyebab
mekanis.
3. Pondasi 20% Kerusakan ringan disebabkan Apabila diperlukan:
pembebanan dan pengaruh
kelembaban Rehabilitasi ringan
.
4. Dinding 30% Kerusakan sedang disebabkan
penurunan kualitas material akibat
tembok paparan air (pengaruh cuaca). Apabila diperlukan:
Bata Rehabilitasi sedang
5. Kolom dan 30% Kerusakan sedang berat
penurunan tumpuan, penurunan
Sloof Praktis kualitas material akibat usia, Apabila diperlukan:
Beton pembebanan dan pengaruh cuaca. Rehabilitasi sedang
Bertulang
74
Kerusakan sedang pada sebagian
bagian kusen pintu/jendela dan
Kusen Pintu ventilasi disebabkan dekomposisi Apabila diperlukan:
6. dan 45% material akibat usia pemakaian dan Rehabilitasi sedang
kelembaban.
Jendela, Rehabilitasi berat
Ventilasi
Kerusakan sedang pada sebagian
lapisan penutup lantai akibat erosi,
7. Lantai 30 % penurunan kualitas material akibat Apabila diperlukan:
usia dan pemakaian (aus).
Rehabilitasi sedang
Sistem Proteksi Gempa (Merujuk standar SNI-1726-2002, Zona 4)
Sub Sistem Estimasi
No. Ketahanan Tingkat Komentar Rencana Penanggulangan
Gempa Ketahanan
Gempa
1. Pondasi Tanah dasar Untuk bangunan perawatan tidak Apabila diperlukan:
bertingkat biasa dengan tinggi
dianggap dinding bata tidak melebihi 3.50
perkuatan fondasi dan sloof
cukup keras. meter kekuatan pondasi (strengthening and
Pondasi diasumsikan cukup memenuhi retrofitting)
cukup
memenuhi
2. Dinding Tidak Penuaan material, batu- Apabila diperlukan: perkuatan
Bata Memenuhi bata, spesi dan lapis plester dinding (strengthening and
retrofitting) menggunakan balok
lintel
3. Kolom Kolom Tulangan praktis terpasang Apabila diperlukan: analisa dan
Beton praktis tidak kurang memenuhi tes Schmidt-Hammer , perbaikan
lapisan selimut beton,
Bertulang memenuhi strengthening and retrofitting)
dengan standar proteksi gempa
mengacu pada UU BG
No.28/2008 dan SNI-1726-2002
4. Balok Sloof Balok Sloof Kurang andal dalam Apabila diperlukan: analisa dan
Praktis menahan beban gempa kemudian perkuatan balok sloof
tetapi perlu dites dan balok ring (strengthening
kurang and retrofitting) dengan standar
memenuhi kekuatannya
proteksi gempa mengacu pada
UU BG No.28/2008 dan SNI-
1726-2002
5. Join Balok- Tidak Tidak menggunakan detail Apabila diperlukan: analisa dan
Kolom dan memenuhi (tulangan) penulangan tahan kemudian perkuatan join
gempa (strengthening and retrofitting)
Sambungan dengan pendetailan tulangan join
Dinding balok-kolom

Sistem Proteksi Kebakaran (Merujuk Permen PU No. 25/2008 tentang RISPK)


Sub Sistem Estimasi
No. Proteksi Tingkat Komentar Rencana Penanggulangan
Kebakaran Ketahanan
thd. Bahaya
Kebakaran
1. Jenis Sebagian Kusen pintu dan jendela Apabila diperlukan: konstruksi
material material (bukaan-bukaan), kuda-kuda rangka atap dan kuda-kuda
dan rangka plafon serta plafon menggunakan material baja
konstruksi tidak terbuat dari material dasar kayu ringan, lapis plafon dan lisplank
bangunan memenuhi, yang merupakan bahan bakar menggunakan material asbes
rentan bagi api/panas (bahan mudah atau gypsum
mengalami terbakar)
kebakaran
2. Alat
Memenuhi persyaratan minimum
Pemadaman Tersedia proteksi kebakaran -
Api Ringan
(Tabung APAR)

75
Utilitas (berdasarkan tinjauan tim Fakultas Teknik Unsimar Poso)
Sub Sistem Persentase Keterangan Tingkat
No. Utilitas Tingkat Kekurangan Rencana Penanggulangan
Kekurangan
1. Kamar 0% Terdapat 6 KM/WC dari 6 yang -
dibutuhkan untuk 1 keluarga
mandi/WC
2. Sarana air 0% Cukup Memenuhi Apabila diperlukan: perbaikan
bersih sarana/jaringan air bersih
Kurang memenuhi Apabila diperlukan: perbaikan
3. Sarana 50%
pembuatan SPAL
air kotor
(limbah)
Tidak diperiksa Cukup Memenuhi
4. Septic Tank 0%
5. Listrik 0% Daya Listrik tidak diperiksa Dianggap Memenuhi

Arsitektural (berdasarkan tinjauan tim Fakultas Teknik Unsimar Poso)


Sub Sistem Persentase Klasifikasi Tingkat
No. Arsitektural Tingkat Kekurangan Rencana Penanggulangan
Kekurangan
1. Luas Total
Luasan Ruangan Dalam = 270.0
Blok 0% 2
m ; Luas Lantai total Bangunan = Memenuhi standar luas
2
Bangunan 300.0 m ruangan VIP RS Tipe-C
Ruang
Perawatan
VIP
2. Ukuran 0% Standar Luas minimal Ruang Memenuhi standar luas
2
Perawatan VIP = 18.0 m /tempat
Ruangan tidur ruangan
3. Luas 0% Memenuhi -
Halaman,
Parkir
4. Elevasi 0 cm Memenuhi -
Lantai
Bangunan

1991, SNI-2002, PP No. 36/2005 dan Permen PU No.


III. ANALISA 48/2007).

A. Bangunan Asrama Perawat Bangunan ini terletak di atas tanah alas fondasi jenis
Asrama Perawat RSUD Poso adalah suatu blok hunian medium (kepadatan sedang) lempung kepasiran, dan
yang diperuntukkan bagi tenaga perawat sebagai cukup homogen sehingga praktis tidak terjadi
tempat tinggal temporer dalam pelaksanaan tugas di penurunan atau kerusakan pondasi (lajur) dan dinding
rumah sakit. Berbeda dengan Ruang Perawat yang pengisi bata yang signifikan selama jangka 20 tahun
merupakan bagian dari ruang medik, suatu bangunan usia pemakaian.
Asrama Perawat seperti ini tidak termasuk dalam
instalasi ruang medik. Blok bangunan asrama ini Agak identik dengan kantin rumah sakit, blok asrama
merupakan konstruksi permanen susunan tembok bata perawat bukan merupakan instalasi yang krusial dalam
batu (brick masonry building) dengan rangka suatu rumah sakit (lihat instalasi krusial, Tabel 1,
bangunan serta rangka kusen pintu dan jendela terbuat Kebutuhan Minimal Luas Ruangan). Dengan
dari kayu. Luas lantai bangunan = 240.0 m2. berjalannya waktu, semakin banyak tersedia
Bangunan dikonstruksi pada 1996 (usia bangunan 20 perumahan, kos-kosan dan asrama. Sedemikian,
tahun), maka berdasarkan standar umur rencana sehingga keberadaan asrama perawat RSUD Poso ini
bangunan permanen, secara teknis bangunan akan telah menjadi kurang urgen. Pertimbangan lainnya
mencapai batas minimum usia pakai pada 2016 dan adalah telah terdapatnya ruangan untuk perawat
maksimum pada tahun 2021 (standar umur rencana bertugas dalam tiap bagian/ruangan medik. Dalam
bangunan permanen minimum 20 Tahun dan upaya peningkatan mutu, kuantitas dan kapasitas
maksimum 25 Tahun menurut SKBI-1987, SKSNI- pelayanan rujukan tingkat pertama, pihak RSUD Poso

76
harus menambah luasan untuk ruang perawatan, Bangunan ini terletak di atas tanah alas fondasi jenis
terutama untuk masyarakat pasien golongan ekonomi medium (kepadatan sedang) lempung kepasiran, dan
lemah. Dengan demikian, asrama perawat RSUD Poso cukup homogen sehingga praktis tidak terjadi
ini akan terkena rencana pembongkaran atau penurunan atau kerusakan pondasi (lajur) dan dinding
penghapusan bangunan guna alih fungsi tapak pengisi bata yang signifikan selama jangka 20 tahun
bangunan menjadi blok bangunan bertingkat untuk usia pemakaian.
ruang perawatan klas III .
Berbeda dengan bangunan kantin dan asrama perawat,
B. Blok Ruang Perawatan VIP ruang perawatan VIP RSUD Poso ini tergolong
Ruang Perawatan VIP adalah suatu blok rawat-inap instalasi yang harus ada dalam suatu rumah sakit Tipe-
rumah sakit yang diperuntukkan bagi pasien yang C (lihat instalasi krusial, Tabel 1, Kebutuhan Minimal
memerlukan asuhan dan pelayanan keperawatan Luas Ruangan). Terdapat perioda atau saat-saat
dan pengobatan secara berkesinambungan lebih dari tertentu misalnya suatu keadaan wabah dimana
24 jam dengan tingkat pelayanan dan penyediaan RSUD Poso mengalami over-capacity (daya tampung
fasilitas tertinggi yang ada. Salah satu parameter utama pasien terlampaui). Akibatnya, sebagian pasien harus
ruangan VIP adalah luasan kamar minimum sebesar ditempatkan di ruangan yang tidak semestinya yaitu di
18.0 m2/bed, dengan 1 bed (=tempat tidur) untuk tiap lorong-lorong rumah sakit. Dalam upaya menambah
kamar. Blok ruangan VIP ini merupakan konstruksi kapasitas pelayanan, pihak RSUD Poso harus
permanen susunan tembok bata batu (brick masonry menambah luasan untuk ruang perawatan, terutama
building) dengan rangka bangunan serta rangka kusen untuk golongan pasien ekonomi lemah. Tata letak
pintu dan jendela terbuat dari kayu. Luas total lantai rencana pembangunan ruang perawatan yang baru
bangunan = 300.0 m2. Bangunan dikonstruksi pada (Klas III) tumpang-tindih dengan tapak blok bangunan
1996 (usia bangunan 20 tahun), maka berdasarkan ruang perawatan VIP existing. Dengan demikian,
standar umur rencana bangunan permanen, secara ruang perawatan VIP RSUD Poso ini akan terkena
teknis bangunan akan mencapai batas minimum usia rencana pembongkaran atau penghapusan bangunan
pakai pada 2016 dan maksimum pada tahun 2021 guna alih fungsi tapak bangunan menjadi blok
(standar umur rencana bangunan permanen minimum bangunan bertingkat untuk ruang perawatan klas III .
20 Tahun dan maksimum 25 Tahun menurut SKBI-
1987, SKSNI-1991, SNI-2002, PP No. 36/2005 dan
Permen PU No. 48/2007).

Tabel 1. Kebutuhan Minimal Luas Ruangan pada Ruang Rawat Inap


Nama Ruang Luas (+) Satuan

1 Ruang Perawatan :
2
VIP 18 m /tempat tidur
2
Kelas I 12 m /tempat tidur
2
Kelas II 10 m /tempat tidur
2
Kelas III 7.2 m /tempat tidur
2
2 Ruang Pos perawat 20 m
2
3 Ruang Konsultasi. 12 m
2
4 Ruang Tindakan. 24 m
2
5 Ruang administrasi 9 m
2
6 Ruang Dokter. 20 m
2
7 Ruang perawat. 20 m
2
8 Ruang ganti/Locker 9 m
2
9 Ruang kepala rawat inap. 12 m
2
10 Ruang linen bersih. 18 m
2
11 Ruang linen kotor. 9 m
2
12 Spoelhoek 9 m
2
13 Kamar mandi/Toilet 25 m
2
14 Pantri. 9 m
2
15 Ruang Janitor/service 9 m

77
2
16 Gudang bersih 18 m
2
17 Gudang kotor 18 m

Blok Asrama Perawat RSUD


Poso
Posisi geografik:
0
-1 22 55.1 LS
0
120 45 33.8 BT
Elevasi Lantai:
+ 13.0 m dpl.

Gbr. 1.a-b. Aerial View Blok Bangunan


Asrama Perawat RSUD Poso (diarsir) dan
posisi geografik bangunan.
Skala 1 : 500

Tabel 2. Estimasi Penggunaan Ruang (existing) Lahan Blok Asrama Perawat


RSUD Poso
mor

EXISTING BATASAN Keterangan


ORGANISASI RUANG
No

(m2) (m2) Referensi

Sertifikat tanah, KIB


1 Luas Lahan 14784.0 14784.0
C

Luas Lantai Dasar Blok Asram a Estimasi/Survey


2 240.0 8870.4
Perawat RSUD Poso Lapangan

Estimasi/Survey
3 Luas Total Lantai Bangunan Y ang Ada 5789.0 8870.4 Lapangan

Perda RTRW Poso


4 Koefisie n Dasar Bangunan (KDB) 0.39 0.60
No. 8 Tahun 2012

Perda RTRW Poso


5 Koefisie n Lantai Bangunan (KLB) 0.39 1.20
No. 8 Tahun 2012

Berdasarkan Tabel 2 (komposisi penggunaan ruang), Selain tidak krusial dan juga telah menjadi kurang
besaran KDB dan KLB total tapak bangunan rumah urgen pada masa sekarang, rencana
sakit (termasuk asrama perawat) masih memenuhi pembongkaran/penghapusan bangunan asrama juga
harga/batas maksimum koefisien sesuai Perda RTRW telah mengalami penurunan fungsi komponen
Poso No. 8 Tahun 2012. bangunan.

78
Blok Ruang Perawatan VIP
RSUD Poso
Posisi geografik:
0
-1 22 56.2 LS
0
120 45 33.9 BT
Elevasi Lantai:
+ 13.0 m dpl.

Gbr. 2.a-b. Aerial View Blok Ruang


Perawatan VIP RSUD Poso (diarsir)
dan posisi geografik bangunan.
Skala 1 : 500

Tabel 3. Estimasi Penggunaan Ruang (existing) Lahan Blok Ruang Perawatan VIP
RSUD Poso
Nomor

EXISTING BATASAN Keterangan


ORGANISASI RUANG 2 2
(m ) (m ) Referensi

Sertifikat tanah, KIB


1 Luas Lahan 14784.0 14784.0
C

Luas Lantai Dasar Blok Ruang Estimasi/Survey


2 300.0 8870.4
Perawatan VIP RSUD Poso Lapangan

Estimasi/Survey
3 Luas Total Lantai Bangunan Yang Ada 5789.0 8870.4 Lapangan

Perda RTRW Poso


4 Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 0.39 0.60
No. 8 Tahun 2012

Perda RTRW Poso


5 Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 0.39 1.20
No. 8 Tahun 2012

79
Berdasarkan Tabel 1 (komposisi penggunaan ruang),
besaran KDB dan KLB total luas dasar bangunan Dalam halaman 80 - 82 di bawah ini diberikan visual
(termasuk ruang perawatan VIP) masih memenuhi screening dan sejumlah analisis/kajian teknis.
harga/batas maksimum koefisien sesuai Perda RTRW
Poso No. 8 Tahun 2012.

80
Gbr. 3. a - f. Tampak dinding susunan bata yang mengalami kerusakan berupa retak lentur dan
geser akibat beban dan penurunan pondasi. Gambar d-e, dinding bata batu ini
telah mengalami karbonasi dan serangan sulfat, yaitu perubahan kimiawi material
plester menjadi bahan mirip kapur yang lunak dan rapuh (lepas-lepas). Derajat ke-
kerusakan 30%. Gbr. f. Pelapukan/dekomposisi listpank & plafon.

Gbr. 4. a-b. Visual screening kondisi lantai keramik bangunan ruang perawatan
VIP yang mengalami penurunan mutu akibat lamanya usia pemakai-
an, proses erosi, abrasi, cavitasi dan retak permukaan yang normal
sebagai konsekuensi usia pemakaian 20 tahun. Derajat kerusakan
30%.

81
Gbr. 4. a - c. Rangka kusen kayu dan
pintu panel ini telah me-
ngalami kerusakan meka-
nis akibat lamanya usia
Penyebab pemakaian dan proses
penurunan fungsi komponen bangunan terhadap beban horizontal akibat gempa bumi yang
sebagaimana dipresentasikan dalam
pelapukan. Derajat keru- beberapa gambar mungkin terjadi di masa datang karena sistem
di atas adalah:
sakan 30%. perkuatan dinding batanya masih belum memadai
apabila ditinjau dari syarat-syarat teknis atau standar
1. Dekomposisi alami material akibat usia ketahanan gempa untuk zona 3-4 (wilayah Kabupaten
pemakaian; Poso). Yang termasuk komponen struktural adalah
2. Kerusakan yang bersifat kimiawi akibat reaksi struktur penopang bangunan (fondasi), balok pengaku
sulfat; (sloof dan ringbalk), kolom, balok dan pelat (termasuk
3. Kerusakan akibat kelembaban; luifel), dan balok lintel (pengaku dinding dan
4. Kerusakan akibat gesekan; ringbalk).
5. Pengaruh muai-susut dan pergerakan tanah.

Secara struktural (proteksi gempa), Blok Bangunan


Ruang Perawatan VIP RSUD Poso ini diperkirakan
memiliki kapasitas rendah atau keandalan rendah

Tabel 4.a. Penilaian Keandalan Komponen Bangunan Asrama Perawat RSUD Poso
No. Komponen Prosentase Nilai Angka
Komponen Keandalan Keandalan
1. Pondasi 10% 80% 0.080
2. Kolom Beton Bertulang, Sloof 30% 70% 0.210
3. Lantai 10% 70% 0.070
4. Dinding 15% 65% 0.098
5. Plafon 7% 50% 0.035
6. Atap 10% 50% 0.050
7. Utilitas 10% 40% 0.040
8. Finishing 8% 20% 0.016
Jumlah 100% - 0.599

Tabel 4.b. Penilaian Keandalan Komponen Blok Bangunan Ruang Perawatan VIP RSUD
Poso
No. Komponen Prosentase Nilai Angka
Komponen Keandalan Keandalan
1. Pondasi 10% 80% 0.080
2. Kolom Beton Bertulang, Sloof 30% 70% 0.210
3. Lantai 10% 70% 0.070
4. Dinding 15% 65% 0.098
5. Plafon 7% 70% 0.049
6. Atap 10% 55% 0.055
7. Utilitas 10% 50% 0.050
8. Finishing 8% 20% 0.016
Jumlah 100% - 0.628

82
perencanaan atau desain bangunan pengganti,
V. KESIMPULAN, PERKIRAAN DERAJAT terutama harus memperhatikan dan menerapkan
KERUSAKAN, ANGKA KEANDALAN DAN kriteria struktural dan keamanan untuk bangunan
REKOMENDASI negara/pemerintah (proteksi gempa dan
kebakaran), yaitu SNI-03-1726-2002, SNI-03-
2487-2002, SNI-03-1726-2000, serta serta aspek-
A. Asrama Perawat RSUD Poso aspek aksesibilitas dan kesehatan bangunan dan
KESIMPULAN: lingkungan, sebagaimana yang diberikan dalam
undang-undang dan pedoman teknis bangunan
gedung negara (UU BG No. 28 Tahun 2002, PP
No. 36 Tahun 2005, Permen PU No. 29 Tahun
1. Komponen-komponen Bangunan Asrama Perawat
2006, Permen PU No. 45 Tahun 2007, petunjuk
RSUD Poso memiliki tingkat kerusakan yang
teknis kementrian kesehatan, dll.).
bervariasi, namun secara umum fungsi bangunan
berada dalam kondisi rusak sedang limit atas, dan
DERAJAT KERUSAKAN:
memerlukan rehabilitasi tingkat sedang sebesar
Secara fungsional, derajat kerusakan bangunan
41.0%. Secara keandalan struktural dan
sebesar 40.10% atau rusak sedang mayor (limit
pemenuhan syarat keselamatan bangunan (aspek
atas).
ketahanan gempa dan proteksi kebakaran),
komponen-komponen fisik blok bangunan Asrama
ANGKA KEANDALAN:
Perawat ini berada dalam kategori tidak andal,
Secara struktural (lihat tabel penilaian keandalan
dengan sisa angka keandalan 59.90%.
komponen), blok bangunan Asrama Perawat
2. Ketidakfungsionalan dan ketidakandalan
RSUD Poso ini termasuk kategori tidak andal
komponen-komponen fisik blok bangunan Asrama
dengan perkiraan angka keandalan bangunan
Perawat RSUD Poso terutama disebabkan oleh
sebesar 59.90%.
penurunan kualitas material bangunan selama
masa pemakaian atau usia bangunan, penurunan
REKOMENDASI:
kualitas material akibat pelapukan alamiah dan
Direkomendasikan untuk penghapusan Bangunan
akibat pengaruh kelembaban (ekspos terhadap
Asrama Perawat RSUD Poso guna pengalihan
cuaca).
fungsi tapak/lahan bangunan menjadi Ruang
3. Apabila Asrama Perawat RSUD Poso ini dapat
Perawatan Klas III.
disetujui untuk penghapusan aset maka proses
proses perencanaan atau desain bangunan
pengganti, terutama harus memperhatikan dan
menerapkan kriteria struktural dan keamanan
B. Blok Ruang Perawatan VIP RSUD Poso
untuk bangunan negara/pemerintah (proteksi
KESIMPULAN: gempa dan kebakaran), yaitu SNI-03-1726-2002,
1. Komponen-komponen Bangunan Ruang SNI-03-2487-2002, SNI-03-1726-2000, serta
Perawatan VIP RSUD Poso memiliki tingkat serta aspek-aspek aksesibilitas dan kesehatan
kerusakan yang bervariasi, namun secara umum bangunan dan lingkungan, sebagaimana yang
fungsi bangunan berada dalam kondisi rusak diberikan dalam undang-undang dan pedoman
sedang, dan memerlukan rehabilitasi tingkat teknis bangunan gedung negara (UU BG No. 28
sedang sebesar 37.20%. Secara keandalan Tahun 2002, PP No. 36 Tahun 2005, Permen PU
struktural dan pemenuhan syarat keselamatan No. 29 Tahun 2006, Permen PU No. 45 Tahun
bangunan (aspek ketahanan gempa dan proteksi 2007, petunjuk teknis kementrian kesehatan, dll.).
kebakaran), komponen-komponen fisik blok
bangunan Ruang Perawatan VIP ini berada dalam DERAJAT KERUSAKAN:
kategori tidak andal, dengan sisa angka keandalan Secara fungsional, derajat kerusakan bangunan sebesar
62.80%. 37.20% atau rusak sedang.
2. Ketidakfungsionalan dan ketidakandalan
komponen-komponen fisik blok bangunan Ruang ANGKA KEANDALAN:
Perawatan VIP RSUD Poso terutama disebabkan Secara struktural (lihat tabel penilaian keandalan
oleh penurunan kualitas material bangunan komponen), blok bangunan Ruang Perawatan VIP
selama masa pemakaian atau usia bangunan, RSUD Poso ini termasuk kategori tidak andal dengan
penurunan kualitas material akibat pelapukan perkiraan angka keandalan bangunan sebesar 62.80%.
alamiah dan akibat pengaruh kelembaban (ekspos
terhadap cuaca). REKOMENDASI:
3. Apabila Blok Ruang Perawatan VIP RSUD Poso Direkomendasikan untuk penghapusan Blok Bangunan
ini dapat disetujui untuk penghapusan aset maka Ruang Perawatan VIP RSUD Poso guna pengalihan
83
fungsi tapak/lahan bangunan menjadi Ruang (Rekomendasi Standar Perkuatan Konstruksi ., hal.
Perawatan Klas III. Untuk standar perkuatan 84 - 87).
bangunan, lihat Lampiran A dan Lampiran B

Lampiran A:
Rekomendasi Standar Perkuatan Konstruksi Bangunan Gedung Tak
Bertingkat dengan Dinding Pengisi Susunan Bata (Masonry Infilled
Building Frame).

Gbr. 9.a. Skematik Perkuatan bangunan gedung konstruksi susunan bata dengan tulangan
praktis (PPTIUG-83, SKBI-1987, SKSNI-1991, PBI-1989, SNI-2002, Puslitbang PU)

Gbr. 9.b. Detail balok lintel Gbr. 9.c. Detail balok ring

84
Gbr. 9.d. Detail Hubungan Kolom
- Balok ring
Gbr. 9.e. Detail Penulangan Kolom dan Sloof

Lampiran B:
Rekomendasi Pendetailan Struktur Portal Beton Bertulang
Bertingkat untuk Zona Gempa 4, 5, 6.

Gbr. 10a. Tulangan pengurung sejarak


min.
300 mm dalam tapak fondasi

Gbr. 9.c. Pengangkuran batang


tulangan balok pada
join luar
Gbr. 10.b. Fondasi telapak individual
menggunakan
balok pengikat

Gbr. 10.d. Panjang


sambungan
lewatan
balok

Gbr. 10.e. Detail penulangan balok

85
Gbr. 10.f. Detail penulangan geser
(tranversal) balok

Gbr. 10.g. Detail penulangan geser/


tranversal kolom

Gbr. 10.h. Detail penulangan kolom


dan join

86
Gbr. 10.i. Detail sambungan lewatan tulangan longitudinal

Gbr.10.j. Detail kait simpul tulangan join pada portal

REFERENSI
[1] Undang-undang no. 28 tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung;
[2] Undang-undang no. 26 tahun 2007 tentang Penataan
Ruang;
[3] PP no. 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-undang no. 28 tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung;
[4] Permen PU no. 45 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Bangunan Gedung Negara;
[5] Permen PU no. 6 tahun 2007 tentang Pedoman Umum
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)
[6] Permen PU no. 25 tahun 2008 tentang Pedoman Teknis
Penyusunan Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran
(RISPK);
[7] Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987 ...
Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan
Gedung (SKBI-1.3.5.3-1987);
[8] Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur
Bangunan Gedung (SNI-03-1726-2002)

87
88