Anda di halaman 1dari 11

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

SPESIFIKASI TEKNIS

PEKERJAAN : PENATAAN LANDSCAPE PASAR TYPE C


LOKASI : KEC, DULLAH SELATAN KOTA TUAL
TAHUN : 2017

A. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Lingkup Pekerjaan Persiapan
1. Letak titik duga pokok (titik nol) akan ditentukan oleh Direksi Lapangan bersama-sama
Pemborong.
2. Titik ini harus ditempatkan permanen, tertancap kuat kedalam tanah sedalam 1 meter sehingga
tidak dapat berubah/berpindah tempat. Titik tersebut diberi tanda jelas serta dilokasi yang tidak
akan tergusur bangunan.
3. Untuk selanjutnya tugu tersebut harus menjadi dasar bagi setiap ukuran dan kedalaman.
4. Penentuan titik lainnya dilakukan oleh pemborong di lapangan dengan alat ukur optik yang sudah
diterap kebenarannya dan harus selalu berpedoman kepada titik duga pokok (titik nol).
5. Ketidak cocokan yang mungkin ada antara gambar dan kenyataan harus segera dilaporkan kepada
Direksi.
6. Pengukuran sudut-sudut 90 derajat atau bukan, hanya boleh dilakukan dengan alat ukur optik
7. Pengukuran siku dengan benang secara azas segitiga phytagoras hanya diperkenankan untuk
bagian-bagian kecil saja
8. Patok bouwplank dan papannya menggunakan kayu lokal, tebal minimum 2,5 cm lebar 20 cm,
sisi atasnya harus diketam halus dan rata.
9. Tinggi bouwplank sama dengan titik nol atau apabila dikehendaki harus dibicarakan dahulu dan
disetujui Direksi.
10. Papan bouwplank dipasang disekeliling luar bangunan dengan jarak 100 cm dari tepi luar
bangunan.
11. Pemasangan bouplank harus kokoh, kuat dan tidak berubah oleh cuaca serta harus rata air.
Permukaan harus diukur dengan waterpas
12. Setelah selesai pemasangan bouplank harus dilaporkan Direksi untuk diperiksa sebelum pekerjaan
selanjutnya dilakukan.
13. Air untuk bekerja harus disediakan pemborong dengan membuat sumur lengkap dengan pompa
dilokasi proyek atau mengambil dari luar, air harus bersih, bebas dari lumpur, minyak dan bahan-
bahan lainnya yang dapat merusak struktur bangunan.
14. Bak air untuk kerja berukuran minimum 1 (satu) m3 dan harus selalu terisi penuh
15. Listrik untuk keperluan kerja harus disediakan pemborong dan diperoleh dari sambungan
sementara PLN setempat selama masa pembangunan dengan daya sekurang-kurangnya 1.5
KVA.
16. Sebelum proyek dimulai, terlebih dahulu pemborong harus membuat pagar pengaman sekeliling
proyek, dengan batas-batas menurut petunjuk yang diberikan oleh Direksi pelaksana. Kalau tidak
ditentukan lain pagar harus dibuat dari kayu dengan penutup seng setinggi 175 cm dengan
konstruksi yang cukup kuat dan menjamin keamanan.
17. Ukuran luas kantor Pemborong, los kerja serta tempat penyimpanan bahan, diserahkan kepada
Pemborong dengan tidak mengabaikan keamanan dan kebersihan dan bahaya kebakaran.
18. Khusus untuk penempatan bahan-bahan seperti : pasir, kerikil, harus dibuatkan kotak simpan yang
dipagari papan yang cukup rapat sehingga masing-masing bahan tidak tercampur.
19. Pemborong harus membuat gudang penyimpanan peralatan peralatan dan material yang harus
bebas dari hujan.
20. Pemborong harus membuat drainage sementara selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung, baik
untuk pengeringan air hujan maupun untuk pengeringan air tanah, sehingga dapat menjamin
terhindarnya proyek dari kemungkinan genangan air hujan mengganggu kelancaran pekerjaan
maupun lingkungan sekitar daerah kerja.

SYARAT-SYARAT TEKNIK - 1
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

21. Pemborong harus menjamin keamanan proyek, baik untuk barang-barang milik pemborong
sendiri maupun milik pemberi tugas .
Pemborong harus menempatkan petugas-petugas keamanan selama 24 jam setiap hari.

2. Pekerjaan Persiapan
1. Pengukuran
1.1. Ukuran titik duga pokok (titik nol) akan ditentukan oleh Direksi, bersama-sama Pemborong.
Selanjutnya titik ini harus ditetapkan permanen dengan tugu beton sedemikian sehingga tidak
bisa berubah-ubah dan digerak-gerakan, diberi tanda jelas. Tugu harus dibuat menjadi dasar
bagi setiap ukuran dan kedalaman.
1.2. Penentuan titik lainnya ditentukan oleh pemborong dilapangan dengan alat teropong,
waterpas yang baik dan sudah ditera kebenarannya terlebih dahulu.
1.3. Ketidak cocokan yang mungkin ada antara gambar dan kenyataan harus dilaporkan kepada
Direksi
2. Pengukuran Sudut Siku
2.1. Pengukuran sudut siku dilakukan dengan alat teropong waterpas theodolite, prisma penyiku
atau penyiku lainnya.
2.2. Pengukuran sudut siku dengan benang secara azas segitiga phitagoras
3. Papan Bangunan (Bouwplank)
3.1. Papan bangunan harus dipasang pada petak-petak kayu yang nyata kuat tertancap di dalam
tanah sehingga tidak bisa bergerak-gerak atau berubah-ubah.
3.2. Lebar papan bangunan sekurang-kurangnya 20 cm tebal sekurang-kurangnya 2,5 cm
3.3. Tinggi papan bangunan sama dengan titik nol atau apabila dikehendaki lain harus dibicarakan
dahulu dan disetujui oleh Direksi.
3.4. Setelah selesai pemasangan papan bangunan wajib dilaporkan kepada Direksi untuk
pemeriksaan, sebelum pekerjaan selanjutnya dilakukan.

B. PEKERJAAN TANAH
1. Pengupasan Tanah (stripping) dan Penyebarannya Kembali
a. Sebelum penggalian untuk grading dimulai harus dilakukan pengupasan tanah permukaan setebal
10 cm.
Hasil kupasan ini apabila dianggap cukup baik untuk lapisan harus ditimbun di tempat-tempat
penimbunan yang ditentukan oleh Direksi Lapangan, untuk ditimbunkan kembali pada daerah
rencana pertamaan.
Apabila Direksi Lapangan menilai bahwa lapisan tanah tersebut tidak memenuhi syarat untuk
lapisan humus, maka harus dikeluarkan dari lapangan.
b. Setelah pekerjaan grading selesai seluruhnya dan bentuk permukaan tanah telah menyerupai
rencana, maka tanah permukaan hasil pengupasan disebar dan diratakan pada keseluruhan tanah
yang digarap sebagai lapisan terakhir, kecuali pada bagian-bagian yang akan dibangun jalan dan
bangunan.

2. Penggalian Tanah Untuk Site Grading


a. Penggalian dilakukan pada bagian-bagian yang lebih tinggi dari tanah direncanakan.
Hasil-hasil galian diangkut ketempat-tempat dimana pengurugan.
b. Urutan kerja penggalian harus diatur demikian rupa sehingga tidak menimbulkan gangguan pada
lingkungan tapak ataupun menyebabkan timbulnya genangan air untuk waktu lebih dari 24 jam.

3. Pengurugan Tanah Untuk Site Grading


a. Tanah yang akan diurug dan tanah urugannya harus bebas dari semua bahan-bahan yang dapat
merusak atau yang dapat mempengaruhi kemantapan urugan yang akan dilaksanakan.
b. Pengurugan tanah untuk halaman yang tidak akan dibangun jalan/plaza/bangunan tidak perlu
dipadatkan dengan mesin, cukup ditimbras saja
c. Penghamparan tanah urugan dilakukan lapis demi lapis tidak lebih dari 20 cm langsung
dipadatkan.
SYARAT-SYARAT TEKNIK - 2
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Setiap kali penghamparan harus mendapat persetujuan dari Direksi Lapangan yang menyatakan
lapisan dibawahnya telah memenuhi syarat kepadatan yang disyaratkan.
d. Kepadatan yang disyaratkan untuk kondisi tanah urug adalah :
1. Lapisan tanah lebih dari 30 cm dibawah permukaan subgrade, harus mencapai 90 % dari
kepadatan (kering) maksimum.
2. Lapisan tanah kurang dari 30 cm dibawah permukaan subgrade, harus mencapai 100 % dari
kepadatan (kering) maksimum.
3. Tanah dasar tanpa kohesi, harus mencapai 100 % dari kepadatan (kering) maksimum.
4. Tanah dasar berkohesi dengan index plastis kurang dari 25, harus mencapai 100 % dari
kepadatan (kering) maksimum.
e. Selama pekerjaan pemadatan berlangsung, kadar air harus dijaga agar tidak lebih besar dari 2 %
kadar air optimum

4. Penggalian Tanah Untuk Pondasi


a. Sebelum penggalian tanah untuk pondasi dimulai harus dilakukan pengupasan tanah permukaan
setebal 10 Cm. Hasil kupasan ini ditimbun ditempat-tempat penimbunan yang telah ditentukan
oleh Direksi Lapangan.
b. Penggalian harus dilakukan sesuai dengan lebar lantai kerja pondasi, penampang lereng galian
kiri kanan dimiringkan 10 derajat ke arah luar pondasi.
c. Dasar galian harus mencapai tanah keras, apabila ternyata tidak sesuai dengan rencana gambar
pondasi, maka pemborong diharuskan melapor kepada Direksi Lapangan diminta keputusannya.
d. Jika pada galian terdapat akar-akar kayu, kotoran dan bagian-bagian tanah yang longgar (tidak
padat), maka bagian ini harus dikeluarkan seluruhnya kemudian lubang yang diisi dengan pasir
urug lapis demi lapis dan apabila dimungkinkan disiram dengan air tiap lapis sampai jenuh,
sehingga mencapai permukaan yang diinginkan.

5. Pengukuran dan Pemadatan Tanah Untuk Pondasi


a. Pengurugan tanah pondasi dilakukan berdasarkan petunjuk Direksi, dimana macam pekerjaannya
tergantung pada bentuk pondasi bangunan.
b. Sebelum dipasang pondasi, galian pondasi dilapisi dengan pasir urug setebal minimum 5 Cm.
Dibawah lantai dilapisi pasir urug setebal 5 cm.
c. Setelah pemasangan pondasi cukup kuat atas ijin Direksi, lubang-lubang galian dapat diurug
kembali. Pada bagian dalam bangunan diurug dengan pasir urug, sedangkan bagian luar bangunan
cukup diurug dengan tanah galian.
d. Pengurugan harus lapis demi lapis, dan bila memungkinkan disiram air untuk mendapatkan
kepadatan atau dengan cara lain yang disetujui. Tebal setiap lapisan maximum 10 cm.
e. Tanah bekas galian harus dibuang atau ditimbun diluar bouwplank dengan penempatan yang
cukup rapih. Tanah antara bouplank dan galian harus tetap bebas dari timbunan tanah.
f. Apabila terjadi kondisi tanah tidak memungkinkan dilaksanakannya pondasi sesuai gambar
rencana, maka pemborong wajib melaporkan hal ini kepada Direksi dan pihak Direksi akan
mengambil kesimpulan.
g. Pemborong wajib membuat parit-parit buangan air dari galian pondasi, agar pada saat hujan air
tanah tidak menggenangi lobang galian.

6. Tanah Urug/Pasir Urug


a. Tanah yang mengandung pasir, dengan kualitas pasir yang lebih kasar dari pada pasir pasangan,
dapat menggunakan pasir laut yang sudah dicuci.
b. Tanah yang akan diurug dan tanah urugnya harus bebas dari segala bahan-bahan yang dapat
membusuk atau mempengaruhi kemantapan urugan yang akan dilaksanakan.

7. Perbaikan Tanah
a. Jika tanah terdiri dari jenis tanah lunak (lempung atau lanau) yang mempunyai harga pengujian
penetrasi standar N < 4, atau tanah organis yang mempunyai kadar air alamiah sangat tinggi
(tanah gambut); juga tanah berpasir yang dalam keadaan lepas mempunyai harga N < 10; maka
sebelum melakukan pekerjaan konst6ruksi harus dilakukan dahulu pekerjaan tanah sehingga
didapat daya dukung yang memenuhi syarat.

SYARAT-SYARAT TEKNIK - 3
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

b. Untuk tanah gambut perlu dilakukan pengupasan sedalam 50 cm, baru diberi terucukan bambu
atau dari kayu dengan 10 cm untuk setiap jarak 30 cm.
c. Terucukan harus selalu terendam air tanah
d. Untuk lanau dan lempung bisa langsung diberi terucukan dari bambu atau kayu dengan diameter
10 cm untuk setiap jarak 30 cm.
e. Setelah terucukan selesai baru dihamparkan pasir setebal 15 cm, kemudian diberi lapisan
anyaman bambu (gedek) sebagai perata beban, untuk selanjutnya diberi lapisan tanah urug
diatasnya.

8. Pekerjaan Tanah
a. Pekerjaan penggalian, perataan, pengukuran dan lain-lain (kalau ada) bagian dari pekerjaan tanah
ini.
b. Untuk galian pondasi-pondasi disesuaikan dengan gambar kecuali ditentukan lain, menurut
keputusan Direksi.
c. Lobang galian pondasi harus cukup lebar sehingga waktu mengerjakan pasangan pondasi atau
pengecoran beton tidak terganggu, untuk itu dasar galian harus rata dan bersih dari akar-akar
pohon dan lain-lain
d. Apabila kondisi tanah tidak memungkinkan dilaksanakannya pondasi sesuai gambar rencana,
maka pemborong wajib melaporkan hal ini kepada Pengawas Direksi dan Pihak Direksi akan
memberitahukan keputusan apa yang akan diambil.
e. Apabila pada dasar galian terdapat akar-akar atau tanah masih lunak, maka harus digali sampai
memenuhi syarat tanah yang cukup baik sesuai dengan pertimbangan Direksi.
f. Pemborong wajib membuat parit-parit pembuangan air dari galian pondasi, agar pada saat hujan
atau air tanah/tinggi tidak menggenangi lubang galian pondasi.

9. Timbunan, Perataan dan Pemadatan


a. Timbunan Galian
Semua bahan-bahan galian harus ditimbun sedemikian sehingga tidak mengganggu pekerjaan dan
tidak mengganggu jalan orang dan lalu lintas.
Bahan galian tidak boleh merusak bangunan-bangunan perorangan lainnya.
Jika perlu dan diminta oleh Direksi, kontraktor harus mengangkut bahan galian untuk dibuang
sesuai petunjuk Direksi.
b. Mengurug Galian
Pada umumnya pengurugan dilakukan dengan memakai tanah galain yang baik, kecuali
ditunjukkan dalam gambar, maka bahan (material) untuk urugan adalah tanah campur pasir/krikil
yang dipadatkan lapis demi lapis.
Setiap lapis tidak lebih dari 20 cm dan tidak boleh ada batu yang lebih besar dari 2,5 cm. Tanah
urug juga harus bersih dari bahan organik dan sisa tumbuh-tumbuhan tergantung pada kondisi
setempat, untuk pemadatan dapat digunakan stamper, timbris seberat 5 kg atau alat mekanik
lainnya untuk menambah kepadatan, Direksi dapat memerintahkan agar tanah urug tersebut
dijemur atau sebaliknya dibasahi terlebih dahulu hingga mencapai kadar air optimal. Pekerjaan
urug tanah yang dilakukan tidak memenuhi persyaratan sehingga mengakibatkan permukaan
tanah turun kembali, harus diulang segera setelah perintah pertama dari Direksi, dan jika
diperlukan urugan harus diulang berkali-kali, sampai dengan permukaan yang diminta pada
gambar rencana dan sesuai dengan petunjuk Direksi.
c. Kualitas Tanah Urug
Tanah urug yang digunakan harus bersih dari bahan-bahan organik dan kotoran-kotoran lainnya.
d. Urugan Pasir
Urugan pasir dilakukan selapis demi selapis dan pemadatannya juga dilakukan selapis demi
selapis, dimana lapisan maximum 20 cm.
- Setiap urugan pasir disiram dengan air hingga padat
- Setiap tanah gembur yang dibuang diisi kembali dengan pasir hingga rata dan padat.
e. Kualitas Pasir Urug

SYARAT-SYARAT TEKNIK - 4
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Atas petunjuk Direksi, pemborong harus menyediakan pasir yang digunakan untuk pengurugan
berkualitas kadar lumpur tidak lebih dari 10 % tidak terkotori oleh benda-benda organik. Petunjuk
ini tidak mengurangi tanggungjawab kontraktor atas semua hasil pengurugan yang dilakukan.
f. Kelebihan Urugan
Kelebihan pasir setelah pengurugan selesai harus diangkut dari tempat-tempat pekerjaan dan
segala biaya ditanggung kontraktor.
g. Pengeringan
Kontraktor harus menyediakan alat-alat yang digunakan untuk mengeringkan lokasi pekerjaan
selama pelaksanaan pekerjaan. Air yang dibuang itu tidak boleh mengakibatkan kerusakan atau
merugikan penduduk setempat, atau mengakibatkan gangguan pada fasilitas umum.
Setiap keruskan yang timbul akibat tidak sempurnanya sistim pengeringan, baik kerusakan
terhadap pekerjaan ini maupun terhadap bangunan milik penduduk atau umum, harus diperbaiki
atas biaya kontraktor sendiri.
h. Pekerjaan Timbunan
Semua jenis pekerjaan timbunan harus dilakukan ditempat yang telah dikeringkan. Sebelum
pekerjaan dilakukan, Direksi harus memberikan persetujuan terlebih dahulu.
Alat yang dipakai harus sesuai dengan kebutuhan dan disetujui oleh Direksi. Daerah kerja yang
harus dilindungi terhadap masuknya air selama pekerjaan berlangsung dengan cara membuat
parit-parit drainase disekeliling lokasi.
i. Tanah Timbunan
Kekurangan tanah timbunan harus dipenuhi dengan mendatangkannya dari tempat lain yang harus
disetujui oleh Direksi terlebih dahulu. Pengambilan tanah untuk timbunan ini harus dilakukan
dengan memperhitungkan keamanan terhadap longsor.
Luas dan dalam lobang galian harus ditentukan oleh Direksi.

C. BAHAN-BAHAN DASAR BANGUNAN


1. Semen Portland
a. Memenuhi persyaratan-persyaratan SNI dan N 1-8.
b. Apabila diperlukan jenis yang tersebut diatas, maka dapat dipakai jenis-jenis semen seperti :
semen portland-tras, semen alumina, semen tahan sulpat dan lain-lain. Dalam hal ini, pelaksanaan
diharuskan untuk meminta pertimbangan-pertimbangan dari lembaga pemeriksaan bahan-bahan
yang diakui.
c. Penyimpanan semen harus ditempat yang kering dengan lantai terangkat, bebas pengaruh air dari
tanah dan menurut urutan pengiriman semen yang telah rusak karena terlalu lama disimpan,
mengeras ataupun tercampur dengan bahan yang dapat merusak struktur bangunan, tidak boleh
dipakai dan harus disingkirkan dari tempat pekerjaan.
d. Semen harus dilindungi sebaik-baiknya terhadap pengaruh cuaca, dengan ventilasi secukupnya
dan dipakai sesuai dengan urutan pengiriman.

2. Pasir (Aggregate Halus)


a. Bahan pasir dapat berubah pasir alami atau bahan halus yang diperoleh dari hasil mesin pemecah
batu. Bahan pasir harus cukup kuat, tidak rapuh, berbutir tajam, keras, bersih.
b. Komposisi gradasinya terdiri dari butir butir yang beraneka ragam besarnya dan tidak
mengandung lumpur dari 5 %. Apabila kadar lumpur melampaui 5 % maka aggregate halus harus
dicuci. Pasir sebagai bahan bangunan harus pula bebas dari bahan-bahan organik yang dapat
merusak fungsinya pada konstruksi.

3. Koral (Aggregate Kasar)


a. Aggregate kasar dapat berupa kerikil alam atau batuan-batuan yang diperoleh dari pemecahan
batu.
b. Bahan ini harus terdiri dari butir-butir yang kasar dan tidak berpori, tidak mengandung butir-butir
yang pipih melampaui 20 % dari berat aggregate seluruhnya.
c. Aggregate kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 % terhadap berat kering, dan juga
bebas dari bahan-bahan yang dapat merusak seperti zat-zat yang reaktif alkali.

SYARAT-SYARAT TEKNIK - 5
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

d. Komposisi gradasi terdiri dari butir-butir yang beranekaragam besarnya, bervariasi antara 5 80
mm. Dalam segala hal syarat-syarat ini disesuaikan dengan ketentuan dalam PBI 1971

4. Air Kerja
a. Air kerja adalah air yang tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam-garam, bahan organik
atau bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan, bersih dan dapat lanjut.
b. Jika ada keragu-raguan dalam penentuan kualitas maka pemborong diminta untuk mengirim
contoh air ke laboratorium resmi yang ditunjuk guna dapat diselidiki lebih lanjut.
c. Selama air di lokasi bangunan belum dapat persetujuan untuk digunakan sebagai air kerja, maka
pihak pemborong harus dapat mengadakan air dari sumber lain yang disetujui.

5. Batu Bata
a. Semen batu bata dipergunakan harus berkualitas baik yang berwarna merata, sisi-sinya tegak lurus
satu sama yang lain, harus lurus dan rapih serta mempunyai ukuran/bentuk yang sama pejal dan
relatif utuh.
b. Menggunakan batu merah kualitas baik yang terbakar matang dengan maximum 10 % untuk bata
merah yang pecah.
c. Dimensi (12 x 24 x 4) cm3 atau sesuai produksi setempat dengan persetujuan Direksi.

6. Bataco/Bata Tela
a. Batu tela yang dipakai harus terdiri atas cetakan press dengan campuran semen banding
karang/padas = 1 : 5.
b. Ukuran batu tela harus sedemikian rupa sehingga jumlah yang diperlukan untuk 1 M 3 pasangan
berkisar antara 145 s/d 155 buah.

7. Batu Belah
a. Bahan batu belah kecuali dipersyaratkan lain harus sesuai dengan PUBB 1977 NI 3.
b. Batu belah yang dipakai ialah batu belah minimum 3 sisi.
c. Ukuran batu belah maximum 30 cm, dan strukturnya harus cukup keras dan awet.
Pengujian terhadap kekerasan apabila diperlukan harus dapat memenuhi ketentuan pada pengujian
abrasi.

8. Bahan-Bahan Bangunan
1. Umum
1.1. Yang disebut dengan bahan bangunan ialah : semua bahan yang dipergunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan sebagai tercantum dalam rencana kerja dan syarat-syarat ini serta
gambar-gambarnya.
1.2. Semua bahan bangunan harus berkualitas baik, dan mendapat persetujuan dari Direksi.
1.3. Dalam jangka waktu 2 x 24 jam semua bahan-bahan yang dinyatakan ditolak oleh Direksi
supaya dikeluarkan dari proyek, dan apabila ternyata bahan-bahan tersebut masih
dipergunakan oleh pemborong, maka Direksi berhak memerintahkan pembongkaran kembali
dan segala hal kerugian yang diakibatkan menjadi tanggungjawab pemborong sepenuhnya.
2. Pemeriksaan
2.1. Semua bahan-bahan yang diperlukan untuk pekerjaan ini, harus disetujui oleh Direksi
sebelum dipergunakan.
2.2. Pada perselisihan dengan pemborong tentang pemeriksaan bahan-bahan, Direksi berhak
meminta kepada pemborong untuk mengambil contoh-contoh, bahan-bahan yang telah
didatangkan untuk diperiksa di laboratorium.
2.3. Selama ini pemborong dapat melanjutkan pekerjaan tapi sama sekali atas tanggungan sendiri,
dengan kemungkinan bahwa bahan-bahan tersebut harus disingkirkan.
2.4. Semua biaya pemeriksaan oleh laboratorium tersebut dipikul oleh pemborong.

D. PEKERJAAN UMUM BANGUNAN


1. Pekerjaan Beton Bertulang

SYARAT-SYARAT TEKNIK - 6
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

a. Syarat umum pekerjaan beton bertulang ini mengikuti sepenuhnya Peraturan Beton Indonesia
tahun 1971 (NI 2)
b. Konstruksi beton bertulang untuk seluruh bagian harus mencapai mutu beton yang ditentukan
sesuai gambar kerja dinyatakan berdasarkan hasil pemeriksaan di Laboratorium uji yang disetujui
oleh Direksi Lapangan.
c. Konstruksi beton dibuat sesuai dengan ukuran-ukuran termasuk besi penulangan dan
sengkangannya, yang tertera dalam gambar-gambar rencana pelaksanaan dan detail struktur
beton. Apabila terdapat ukuran-ukuran pada gambar rencana arsitektural dan gambar rencana
struktur beton, pemborong diwajibkan memberitahukan secara tertulis kepada Direksi Lapangan
dan meminta keputusannya sebelum mengadakan pelaksanaan tersebut.
d. Pemborong diwajibkan membuat rencana pengecoran, mulai dari pondasi beton hingga seluruh
pekerjaan beton selesai dengan diberi catatan-catatan mengenai bagian yang dicor, tanggal, kode
gugus test, jam pengecoran dan lain-lain.
e. Untuk mencegah gangguan cuaca, dianjurkan agar disediakan tenda-tenda/penutup plastik
secukupnya sehingga jalannya pekerjaan pengecoran tetap lancar.
f. Pada setiap sambungan pengecoran diharuskan menggunakan additeve (bahan tambah) yang
khusus untuk itu. Penggunaannya harus memenuhi persyaratan.
g. Penggunaan additive untuk tujuan mempercepat pengeringan beton, dapat dilakukan tanpa
mengurangi mutu dan kekuatan beton.
h. Permukaan beton harus dilindungi dari pengeringan yang terlalu cepat atau tidak merata, antara
lain dengan dibungkus atau ditutup dengan SCAKPAFT 310 (reinforced building paper).
i. Selama pelaksanaan pengecoran beton, pemborong diharuskan membuat kubus beton ukuran 15 x
15 x 15 cm, dibuat ditempat pengecoran untuk diperiksa ke laboratorium pemeriksaan beton.
j. Test kubus berpedoman kepada PBI 1971 yaitu pasal-pasal 4.6 dan 4.7.
k. Kekentalan campuran beton harus diperiksa dengan pengujian slump dengan kerucut terpancung,
ukuran diameter dibawah 20 cm, diameter diatas 10 cm dan tinggi 30 cm kerucut diisi dengan
adukan beton dalam 3 lapis yang sama tebal masing-masing ditusuk-tusuk dengan besi baja 16
mm. Setelah muka bidang atasnya merata, maka 30 detik kemudian kerucut ditarik keatas
penurunan puncak kerucut diukur terhadap tinggi semula.
Untuk bagian pondasi ditentukan peraturan maximum 10 cm, minimum 7,5 cm untuk bagian
lainnya peraturan maximum 9 cm, minimum 8 cm.
l. Untuk pembuatan tulangan untuk batang-batang yang lurus dan dibengkokkan sambungan kait-
kait pembuatan sengkang disesuaikan dengan persyaratan yang tercantum pada PBI 1971.
m. Pemasangan tulangan harus sedemikian rupa sehingga tidak mengalami perubahan bentuk
maupun tempat selama pengecoran berlangsung.
n. Toleransi pembuatan dan pemasangan tulangan disesuaikan dengan persyaratan PBI 1971.
o. Besi beton yang digunakan dengan mutu sesuai gambar kerja.
p. Subsitusi pembersihan dapat dilakukan hanya atas persetujuan Direksi Lapangan.
q. Untuk seluruh plat beton atap, ditambahkan tulangan susut.
r. Pengadukan beton harus dilakukan dengan mesin pengaduk beton (beton molen)
s. Takaran-takaran untuk semen, aggregate dan air harus disetujui terlebih dahulu oleh pengawas
ahli.
t. Adukan beton yang tidak memenuhi syarat-syarat seperti sudah mengeras sebagian, tercampur
dengan bahan-bahan asing atau terlalu encer tidak boleh dipergunakan.
u. Melaksanakan pekerjaan persiapan dengan membersihkan dan menyiran cetakan-cetakan sampai
jenuh, pemeriksaan ukuran-ukuran dan ketinggian pemeriksaan penulangan dan penempatan
penahanan jarak-jarak.
v. Jarak antara tempat mengaduk dan mengecor supaya diambil sedikit mungkin.
w. Pengadukan beton supaya dilakukan dengan hati-hati dan dijamin kelancarannya, sehingga tidak
berceceran dalam perjalanan dan tidak terjadi perbedaan waktu peningkatan yang besar antara
beton.
x. Alat penggentar harus digunakan berdiri 90 derajat, hanya dalam keadaan khusus diperkenankan
menyentuh tulangan.
Ujung penggentar harus diangkat dari dalam adukan apabila adukan terlihat mulai mengkilap
disekitan ujung penggentar, atau kurang lebih sebelum 30 detik.

SYARAT-SYARAT TEKNIK - 7
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

y. Penghitun pengecoran hanya dilakukan pada tempat-tempat yang disetujui Direksi Lapangan
didalam pola rencana pengecoran.

2. Bekesting
a. Bekesting harus direncanakan, dilaksanakan dan diusahakan sedemikian rupa agar pada waktu
pengecoran dan pembongkaran tidak mengakibatkan cacat-cacat, maupun perubahan-perubahan
bentuk, ukuran, ketinggian serta posisi dari pada beton yang dicetak/tercetak. Perencanaan
pelaksanaan, serta pembongkaran bekesting harus sesuai dengan cara-cara yang disarankan dari
kriteria didalam NI-2 Bab 5.1 dan Bab 5.8. Permukaan bekesting yang berhubungan dengan
beton harus benar-benar bersih sebelum penggunaannya.
b. Penyangga-penyangga harus diberi jarak antara yang dapat mencegah difleksi bahan-bahan
bekesting. Bekesting beserta sambungan-sambungannya harus rapat sehingga dapat mencegah
kebocoran-kebocoran adukan selama pengecoran. Lubang-lubang pembukaan sementara harus
disediakan didalam bekesting untuk memungkinkan pembersihan bekesting.
c. Seluruh bekesting harus mengikuti persyaratan-persyaratan dalam normalisasi dibawah ini :
- NI-2
- NI-3
d. Bekesting untuk beton cor ditempat biasa bahannya dapat dibuat dari kayu jenis meranti atau
jenis lain yang starap yang disetujui oleh ahli.
e. Bekesting Untuk Beton Pracetak
Bahan bekesting terbuat dari metal slip From atau bahan-bahan lain yang disetujui oleh ahli.
f. Bekesting Untuk Beton Expoised Cor Ditempat
Untuk kolom : Playwood 18 mm dengan frame 5/10
Untuk balok : Playwood 12 mm untuk bagian dasar dan 10 mm untuk bagian
samping-samping. Untuk bidang luas/dinding : Playwood 18 mm.
g. From Ties untuk beton exposed harus dari jenis yang mudah dilepas, dapat terkunci dengan
baik dan tidak berubah pada saat pengecoran atau penggrojokan dilaksanaan.
Pemborong harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dari Direksi Lapangan sebelum dapat
menggunakan From Ties
h. Chamter Strips dibuat dari jenis kayu yang baik dan dibentuk menurut ukuran-ukuran yang
tertera pada gambar-gambar.
i. Bahan pelepas acuan (realising agent) harus sepenuhnya digunakan pada semua acuan untuk
beton exposed. Bahan ini harus setaraf dengan Calstrips buatan ceemment Aids Australia.
j. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk pemakaian bekesting beton exposed :
1. Tidak akan mengalami deformasi, sehingga bekesting harus cukup tebal dan terikat kuat.
2. Harus kedap air dengan menutup semua celah-celah bekesting.
3. Tahan terhadap getaran vibrator dari luar maupun dari dalam bekesting.
k. Bekesting harus dibongkar dengan cara yang sedemikian rupa sehingga dalam menjamin
keselamatan penuh atas struktur-struktur yang dicetak dengan memperhatikan persyaratan-
persyaratan minimum.
l. Bagian struktur beton vertikal disanggah dengan penturapan, bekesting boleh disanggah selama
24 jam, dengan syarat bahwa betonnya telah cukup keras dan tidak cacat karena pembongkaran
tersebut.
m. Bagian-bagian struktur beton yang disanggah dengan penumpuh tidak boleh dibongkar sebelum
betonnya mencapai kekuatan minimal untuk menyangga beratnya sendiri dan beban-beban
pelaksanaan dan atau beban-beban bahan yang akan menimpa bagian struktur beton tersebut.
n. Dalam hal apapun bekesting pada jenis struktur ini tidak boleh dibongkar sebelum berumur 7
(tujuh) hari, sedemikian juga bekesting-bekesting yang dipakai untuk mematangkan (cliring)
beton tidak boleh dibongkar sebelum dianggap matang.

3. Pekerjaan Pasangan Batu Belah/Batu Karang


a. Bahan yang digunakan :
- Batu belah/batu karang
- Semen
- Pasir
- Air kerja

SYARAT-SYARAT TEKNIK - 8
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

Memenuhi seperti pada persyaratan bahan pokok.


b. Kalau tidak ditentukan lain maka adukan spesi yang dipakai 1 : 5
- Celah-celah yang besar antara batu dengan batu harus diisi dengan batu kricak dan dicocok
padat, kemudian diplester kasar kedua sisi.
- Tidak diperkenankan memecahkan batu belah dengan martil besar disekitar bouplank.

4. Pekerjaan Pasangan Batu Bata/Bataco/Tela


a. Bahan yang digunakan :
- Batu bata
- Semen
- Pasir
- Air kerja
b. Kualitas bahan yang dipakai harus memenuhi syarat seperti yang ditentukan dalam persyaratan
bahan pokok.
c. Batu merah yang akan dipasang harus direndam air hingga menjadi jenuh.
d. Perekat yang digunakan berupa adukan 1 pc : 2 ps untuk bagian yang kedap air /Transram
sedangkan untuk bagian lain menggunakan adukan 1 pc : 5 ps.
e. Jarak spesi maximum 1 cm.
Tiap-tiap spesi harus dibuat selang-seling dan rapih.

5. Pekerjaan Beton Tumbuk/Rabat.


a. Bahan yang dipakai :
- Semen
- Pasir beton
- Koral/batu pecah
- Air kerja
- Kualitas bahan yang dipakai harus memenuhi syarat seperti yang ditentukan dalam
persyaratan bahan pokok.
b. Apabila tidak ditentukan lain maka campuran yang dipakai adalah 1 pc : 3 ps : 5 koral/batu pecah
c. Adukan beton tumbuk dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terlalu lembek ataupun terlalu
pekat.

E. PEKERJAAN KHUSUS PONDASI


1. Pasir Alas Pondasi
a. Pengurugan pasir untuk alas pondasi dilakukan setelah.
Seluruh lubang galian pondasi diperiksa oleh Direksi Lapangan dan dinyatakan telah sesuai
dengan ukuran-ukuran yang tertera dalam gambar-gambar yang ada.
b. Pasir urug yang digunakan harus bersih dan tidak mengandung potongan-potongan bahan keras
yang berukuran lebih dari 1,5 cm
c. Pengurugan dilakukan lapis demi lapis dan setiap lapisannya tidak lebih tebal dari 20 cm, digilas
dengan menggunakan alat pemadat, sedemikian rupa sehingga bilamana alat penggilas berjalan
diatas lapisan tersebut dengan lambat tidak terdapat gerakan tegak yang dapat dilihat pada urugan
tanah tersebut.
d. Lantai kerja dibuat sesuai dengan ukuran-ukuran yang tertera dalam gambar untuk itu dengan
menggunakan adukan 1 semen pc : 3 pasir : 5 kerikil atau lantai kerja yang terdiri dari batu belah
dan urugan pasir.

2. Pondasi batu Belah/batu Karang


a. Pelaksanaan pekerjaan dan persyaratan pekerjaan pondasi batu kali, harus mengikuti ketentuan
dan syarat-syarat yang disebutkan dalam pasal 8.5 tentang pekerjaan batu belah dan batu karang.

SYARAT-SYARAT TEKNIK - 9
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

b. Sebelum pemasangan dilakukan kontraktor harus mempelajari letak-letak dari saluran yang
menembus pasangan serta stek-stek besi kolom yang harus disediakan agar pekerjaan bongkar
pasang tidak terjadi.
Pada saat pemasangan lobang tidak boleh tergenang air.

F. PEKERJAAN KHUSUS DINDING


1. Dinding Bata
a. Sebagian besar dinding dari batu bata merah dengan menggunakan adukan campuran 1 semen pc
: 5 pasir.
b. Untuk semua dinding mulai dari permukaan sloof sampai setinggi 20 cm diatas permukaan lantai
dalam ruangan dan semua dinding disekeliling WC dan kamar mandi, mulai dari permukaan sloof
sampai setinggi 150 cm diatas permukaan lantai, digunakan aduk rapat air dengan campuran 1
semen pc : 3 pasir.
c. Batu bata yang digunakan batu bata ex. lokal dengan kualitas terbaik yang disetujui Direksi, siku
dan sama ukurannya 4 x 12 x 24 cm.
d. Sebelum digunakan batu bata harus direndam didalam bak air atau drum hingga jenuh.
Setelah bata terpasang dengan aduk, nat/siar-siar harus di kerok rapih dan dibersihkan dengan
sapu lidi dan kemudian di siram air.
f. Pasangan dinding bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air terlebih dahulu dan siar/siar
telah dikerok sedalam 1 cm serta dibersihkan.
g. Pemasangan dinding bata dilaksanaan bertahap, setiap tahap terdiri dari maximum 24 lapis setiap
harinya, diikuti dengan cor kolom praktis.
Dinding batu bata yang luasnya lebih besar dari 12 M2 harus ditambahkan kolom dan balok
penguat (kolom praktis) dengan ukuran 12 x 12 cm, sesuai dengan lebar bata dengan tulangan
pokok ukuran 4 10 mm, beugel 8 20 cm.
h. Pembuatan lubang pada pasangan bata untuk steiger sama sekali tidak diperkenankan.
i. Bagian pasangan bata yang berhubungan dengan setiap pekerjaan beton (kolom. balok, lisplank,
dll) harus diberi penguat stek-stek besi beton diameter 8 mm jarak 20 cm, yang terlebih dahulu
ditanam dengan baik pada bagian pekerjaan beton dan bagian yang tertanam dalam pasangan bata
sekurang-kurangnya 40 cm, kecuali ditentukan lain.
j. Batu bata yang pecah hanya boleh dipakai untuk hubungan batu dan ukurannya tidak boleh
kurang dari batu.
k. Pemasangan bata merah harus dilaksanaan dengan verband yang baik.
Untuk profil-profil digunakan reng-reng atau bila kayu tahun/yang sekualitas yang lurus dan kuat.
Tidak dibenarkan menggunakan bambu.
l. Untuk ketetapan dan kelurusan tembok digunakan alat waterpass serta benang.
m. Pembuatan perancah tidak boleh menembus tembok.
n. Setiap pasangan harus kontinyu, dibasahi sampai keras.

2. Dinding Bataco/Batu Tela


a. Semua bahan yang digunakan harus sesuai dengan persyaratan pada :
- Bab (Bataco/Batu Tela)
- Bab (Semen/Pasir/ Air Kerja)
b. Perekat yang digunakan :
Campuran 1 pc : 2 ps untuk :
- Semua dinding dari permukaan atas rollag sloof hingga setinggi 20 cm diatas lantai.
- Semua dinding dari atas permukaan sloof/rollag sampai setinggi 150 cm diatas permukaan
lantai untuk kamar mandi/WC.
c. Sebelum pemasangan batu tela direndam air hingga jenuh.
d. Dinding batu tela umumnya terdiri dari dinding batu.
SYARAT-SYARAT TEKNIK - 10
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

e. Semua dinding harus dipasang secara rata (waterpas) serta tegak lurus lantai. Untuk ini digunakan
profil-profil serta benang dan alat waterpas
f. Setiap jarak 3 s/d 4 M' atau dinding seluas 12 M2 harus dipakai penguat dari beton bertulang.
g. Setiap selesai pemasangan, maka pada sambungan pasangan harus dibersihkan dari sisa-sisa
adukan agar memudahkan pekerjaan plesteran nantinya.

3. Pekerjaan Plesteran
1. Plesteran tembok baru telah dilakukan sesudah selesainya pemasangan pipa-pipa saluran air dan
pipa listrik.
2. Untuk tembok pasangan bata yang akan diplester harus dibasahi dengan air terlebih dahulu
sampai jenuh. Siar-siar dibersihkan, dikeruk masuk dalam 1 cm.
3. Plesteran yang digunakan :
- Untuk tembok bagian dalam/luar pada umumnya dipakai campuran 1 pc : 5 psr.
- Untuk tepi sudut campuran 1 pc : 4 psr
- Untuk beton campuran 1 pc : 2 ps : 3 kr
- Untuk pasangan transram, termasuk tembok pada toilet, WC, urinior dan kamar mandi
campuran 1 pc : 2 psr setinggi 1,5 M dari lantai.
4. Bagian beton yang akan diplester terlebih dahulu harus dikasarkan dengan pahat sebelum di
plester dibasahi dahulu dengan air semen encer.
5. Acian/penyelesaian plesteran batu boleh dikerjakan setelah plesteran cukup kering minimal
selama 7 hari, sehingga cukup waktu bagi adukan yang akan menyusut, untuk acian dipakai acian
semen/pc murni.

SYARAT-SYARAT TEKNIK - 11