Anda di halaman 1dari 6

FRAKTUR TERBUKA

Semua jenis fraktur tulang kranium yang berhubungan dengan dunia luar kita sebut sebagai fraktur
kranial terbuka. Contohnya, fraktur dengan kulit diatasnya terbuka, fraktur basis dengan liquorhoea,
fraktur yang berhubungan langsung dengan rongga sinus paranasal. Selain anamnesa jelas adanya
trauma, kemudian dengan survei sekunder jelas tampak adanya fraktur, juga diperlukan diagnostik
pembantu berupa foto polos kranium dan CT scan. Bahkan pada CT Scan dapat terlihat fraktur yang
masuk ke rongga sinus paranasalis, juga kemungkinan perdarahan intrakranial. Indikasi operasi adalah
ancaman infeksi. Penjelasan kepada keluarga pasen secara lebih terperinci mengapa alasan infeksi
menjadi dasar untuk operasi. Kita ketahui berama Jaringan Saraf merupakan jaringan yang secara
Embryologis berdiferensiasi jauh, sekali terkena infeksi, kerusakan yang terjadi tidak dapat/sulit
sekali remisi, regenerasi dan penyembuhan. Biasanya Penderita cacat atau bahkan dapat menyebabkan
kematian. Karena ancaman infeksi menjadi alasan operasi, untuk penyembuhan optimal sedini
mungkin kita sudah melakukan kultur dan sensivity test dari luka. Mula2 kita berikan antibiotika
dengan spektrum luas, lalu setelah kultur dan sensivity test ada hasil, kita ganti dengan anti biotika
yang sesuai. Operasi Kraniotomi debridement, luka dicuci bersih2, membuang jaringan debri,
sebagian tulang yang fraktur dibuang. Bila luka sangat kotor, sebagian tulang normal dibuang.

PNEUMOSEFALUS Trauma kapitis dapat menyebabkan fraktur yang merobek

duramater, akibatnya dapat timbul hubungan antara dunia luar dengan rongga intrakranial. Udara
dapat masuk. Udara yang masuk dalam rongga intrakranial dimana terdapat serebrum dan serebelum,
akan mengalami proses desak ruang dan yang lebih berbahaya lagi adalah infeksi. Penderita yang
sadar sering luput dari pengamatan, karena tak ada keluhan. Baru bila telah timbul tanda2 T T I K
atau tanda2 infeksi, kita baru memperhatikan. Untuk menghindari hal2 ini, selama perawatan harus
diperhatikan keluhan2 an Penderita, keadaan Neurologisnya, bila perlu diamati dengan pemeriksaan
laboratorium dan Serial Brain CT Scan. Tindakan dan terapi harus tepat. Bila ada Pneumosefalus pada
pengamatan tidak membesar, mass efek tidak ada kita dapat konservatif dahulu sambil diamati.
Antibiotika spectrum luas, kemudian kultur dan sensivity test. Penderita diberi dosis tinggi Oxygen,
bila perlu dilakukan Knocked down dipasang ventilator. Operasi dilakukan bila ukuran udara cukup
besar sehingga menimbulkan mass efek, lesi pada bagian tertentu atau pada pengamatan tampak
volume udara bertambah besar. Kraniotomi bertujuan menutup jalan masuk udara, udara yang
didalam dikeluarkan. Perlindungan antibiotika masih diperlukan untuk beberapa waktu, biasanya
tidak lebih dari satu minggu kecuali bila pada kultur dan sensivity test dijumpai kuman yang
memerlukan terapi lebih lama.
FRAKTUR DIASTASIS Merupakan salah satu jenis fraktur tulang kranium dimana
jarak antara dua fragmen tulang yang fraktur cukup besar. Jarak yang lebih dari 0,5 cm sudah
merupakan indikasi untuk operasi walaupun tak ada defisit neurologis. Hal ini berdasarkan pada
patofisiologi bahwa fraktur diastasis yang lebar tersebut dapat merobek duramater. Dengan demikian,
arachnoid atau bahkan kortek serebri dapat keluar melalui celah fraktur tadi. Arachnoid yang keluar
tadi dapat menyebabkan fraktur bertambah lebar yang dibeberapa literature mengatakan sebagai
Growth Fracture. Jadi setiap fraktur diastasis perlu pengamatan yang cermat, bila perlu dibuat serial
foto. CT Scan harus dibuat mengingat kemungkinan timbulnya perdarahan. Fraktur diastasis yang
kurang dari 0,5 cm tetapi ada hematoma yang cukup besar juga indikasi operasi. Pada TTIK Khronis,
sutura sering melebar sehingga tampak seperti fraktur diastasis, hanya saja resiko untuk terjadinya
prolaps hambpir tida ada karena durmater juga sempat beradaptasi dengan turut membesar sesuai
dengan pembesaran kepala. Dalam hal ini operasi harus memperhatikan hal lain yang menjadi
penyebab TTIK khronis.

TUMOR INTRAKRANIAL Tumor Intra Kranial seperti jenis tumor pada

umumnya berasal dari semua jenis sel dan jaringan yang ada dalam rongga kranium dan juga yang
berasal dari metastase. Kita ketahui pertumbuhan tumor rekatif lambat, sehingga massa yang
bertambah dalam rongga kranium akan meningkatkan tekanan dalam rongga kepala secara bertahap
pula. Kenaikan tekanan secara perlahan ini kita sebut dengan TTIK khronis yang akan memberikan
gejala klinis yang umumnya kita sebut sebagai Trias TTIK khronis yaitu : - Sakit kepala yang makin
lama makin berat, - Muntah yang bersifat proyektil, tanpa didahului rasa mual, terutawaktu bangun
tidur, - Papil odem, bila terlalu lama akan menjadi papil atrophi. TTIK Khronis bukan hanya pada
tumor intra kranial saja, tetapi juga semua proses penambahan massa yang perlahan, contoh pada
Abses intra cranial.. Jangan lupa gejala lokasi tumor, misalnya pada daerah motorik akan
menimbulkan gangguan motorik yang sesuai. Pemeriksaan dan anamnesa yang teliti akan dapat
membantu kita dalam mengarahkan tindakan diagnosa penunjang. Tumor didaerah Serebelum, sesuai
dengan fungsi dan lokasi tumor, akan memberi gejala pada awalnya gangguan koordinasi. Bila proses
berlanjut, akan menimbulkan penekanan pada aliran liquor sehingga akan menimbulkan hidrosefalus,
dapat bersifat akut. Hal ini agak membingungkan kita, karena mendadak tekanan intra kranial
meningkat cepat, Penderita dapat turun kesadarannya sampai koma, bahkan kematian. Oleh sebab itu,
Penderita yang sering terhuyung huyung, sulit koordinasi gerak, jatuh kesisi yang sesuai dengan letak
tumor di serebelum harus kita waspadai. Pemeriksaan penunjang foto polos tengkorak akan tampak
Sella Turcica melebar ini akibat tekanan yang naik sehingga ujung Sella terkikis, terutama bila
disertai adanya hidrosefalus. Selain itu juga tampak sutura yang melebar, terutama pada bayi dan
anak2 dimana sutura belum menutup dengan baik. CT Scan akan memperjelas lokasi tumor lebih2
bila dengan zat kontras, beberapa tumor yang banyak mengandung pembuluh darah, akan tampak
jelas sekali. Odem serebri peri tumoral juga tampak hipodense. MRI akan membantu memperjelas
tumor bila dengan CT Scan masih meragukan. Angiografi juga dapat membantu menentukan lokasi
tumor walaupun kurang akurat lebih2 tumor yang miskin pembuluh darah. Setelah diagnotik
dilakukan dan diperoleh sebanyak mungkin informasi guna pelaksanaan operasi, barulah kita
mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan baik sebelum operasi, selama operasi maupun setelah
operasi. Pemeriksaan Patologi Anatomi diperlukan untuk memastikan jenis tumor.

VULNUS PENETRANS Pada trauma kadang2 benda asing masuk kedalam kepala,
bahkan sampai menembus otak. Bila mengenai batang otak, biasanya fatal. Selain benda asingnya
sendiri mengakibatkan iritasi, juga perdarahan yang ditimbulkan kadang kala besar. Akibatnya selain
lesi karena benda asing, resiko infeksi, juga timbul tekanan tinggi intra cranial. Dari anamnesa harus
jelas bagaimana proses terjadinya trauma, apakah luka bacokan, terkena pecahan kaca, masuknya
benda asing lain, waktu terjadinya. Pemeriksaan klinis harus ditentukan keadaan lokalisnya.
Pemeriksaan penunjang diperlukan terutama untuk melihat lokasi . Bila lokasi benda asing tadi
terletak didaerah sensitive, perlu pertimbangan dan penilaian yang teliti untuk tindakan operasi,
hanya bila terjadi hematoma yang cukup luas, dilakukan evacuasi hematoma. Debridement dan
pencucian luka sebersih mungkin. Pada beberapa kasus, benda asing, biasanya yang berukuran kecil,
akan keluar dengan sendirinya setelah beberapa waktu lamanya, sebagai reaksi penolakan tubuh.
Kelainan klinis, pada pemeriksaan tergantung pada lokasi yang terkena serta akibat yang ditimbulkan
oleh adanya hematoma, bahkan bila mengenai brain stem sering berakibat fatal. Penetrasi dengan
benda berukuran besar belum tentu berakibat fatal bila yang terkena daerah aman. Sebaliknya
benda berukuran kecil dapat mematikan bila mengenai bagian vital. Diagnostik Penunjang seperti
foto polos, banyak memberi informasi tentang lokasi, lebih2 bila dilakukan dengan berbagai tehnik
tertentu kita akan memperoloh hasil mendekati keadaan sebenarnya. CT Scan lebih akurat lagi, tetapi
bila benda asing terbuat dari logam akan menimbulkan bauran sehingga gambar menjadi kurang jelas.
Dengan memainkan jendela pada scan, gambaran logam tadi akan lebih jelas. Komplikasi infeksi
cukup besar, oleh sebab itu pada setiap pemberian antibiotika harus yang berspektrum luas sampai
kita mendapat hasil kultur dan sensivity test. Dengan demikian resiko infeksi yang dapat berakibat
fatal akan dapat dihindarkan. Pengamatan harus teliti, bila perlu Laboratorium dan CT San dilakukan
berulang ulang.
PROLAPS SEREBRI Kerusakan karena trauma antara lain dapat mengakibatkan

rusaknya kranium yang dapat merobek duramater. Kortex atau jaringan dibawahnya dapat keluar
melalui robekan , bahkan pada luka terbuka, jaringan otak dapat keluar melalui luka tadi. Keadaan ini
diperparah dengan adanya Tekanan Tinggi Intra Kranial. Hal inilah kita sebut dengan Prolaps Serebri.
Secara klinis, dari anamnesa ada riwayat trauma. Untuk kasus2 tertentu, kadang2 tanpa gangguan
neurologis. Kesadaran baik sampai koma, tergantung dari bagian mana yang terkena, dapat disertai
gangguan neurologis sesuai dengan area atau bagian otak yang prolaps, misalnya hemiparese, afasia
sensorik dan lain2. Bila ada luka terbuka akan lebih mudah mendiagnosa karena dapat kita lihat
dengan mata telanjang adanya jaringan otak yang keluar. Penunjang diagnostik, Foto Polos kranium
terlihat fraktur. Dengan CT Scan kita dapat lebih teliti melihat bagian yang mengalami prolaps, juga
hematoma yang mungkin timbul. Pertolongan pertama adalah dengan menutup luka, bila perlu jahitan
situasi. Jaringan otak yang sudah mengalami prolaps, selalu dianggap rusak, tak ada manfaatnya
dimasukan lagi. Jadi jangan takut pada waktu menjahit situasi. Hindarkan infeksi dengan menutup
luka menggunakan kasa steril, beri antibiotika broad spectrum. Karena ada iritasi pada kortex, ada
baiknya diberikan anti konvulsan. Setelah diagnostik selesai, indikasi operasi jelas, maka operasi
dilakukan dengan tujuan reparasi duramater, mengeluarkan hematoma bila ada, reparasi tulang bila
fraktur tertutup. Bila terbuka lakukan debridement, tulang fraktur dibuang untuk menghindarkan
Osteomielitis, luka dijahit secara anatomis.

EPIDURAL HEMATOMA Salah satu perdarahan intrkranial yang prognosanya

paling baik bila ditangani secara optimal. Maksudnya bila hematoma cepat dikeluarkan akan
menghindari herniasi yang menyebabkan kematian, terutama hematoma didaerah temporo basal.
Sudah barang tentu bila tidak disertai kerusakan jaringan saraf lainnya. Hematom terbentuk diantara
tulang dan duramater. Sumber perdarahan yang menyebabkan hematom terutama berasal dari arteri
dan atau vena Meningea Media, dapat juga berasal dari system sinus venosus atau tulang yang
mengalami fraktur. Tidak selamanya Epidural Hematoma timbul akibat trauma, kelainan pembuluh
darah dan atau kelainan pembekuan darah, tumor juga dapat menimbulkan Epidural Hematoma
Spontan. Diagnosa ditegakan bukan hanya berdasarkan anamnesa yang teliti. Penderita yang sadar
sering mengeluh sakit kepala. Efek lesi pada kortex akan memberikan keluhan atau tanda klinis defisit
neurologis tertentu, misalnya bila penekanan hematoma didaerah area Broca, penderita tidak bisa
bicara walaupun dia mengerti maksud lawan bicaranya. Penekanan pada area motoris dapat
menimbulkan keluhan lumpuh anggota badan kontra lateral. Buatlah anamnesa yang lengkap, sering
kali pada trauma kepala juga disertai cedera dibagian lainnya. Pemeriksaan klinis secara teliti meliputi
inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi, bila perlu gunakan alat bantu seperti lampu senter, palu
reflex dan lain2, jangan lupa fungsi vital harus dalam batas normal dahulu. Klinis yang paling harus
diwaspadai adalah bila tingkat kesadaran Penderita menurun dalam kurun waktu tertentu, kita sebut
dengan Lucid Interval. Kesadaran menurun terus sampai dibawah delapan disertai lateralisasi, maka
kita sudah dapat melakukan operasi sito. Syaratnya adalah Survei Primer dan Survei Sekunder telah
dilaksanakan secara maksimal. Kita tidak perlu melakukan pemeriksaan foto polos kranium atau
menunggu Head CT Scan, kecuali pelaksanaannya dapat dilakukan segera. Epidural Hematom di fosa
posterior walaupun jumlahnya tidak banyak dapat menimbulkan Hidrosefalus Akut, oleh sebab itu,
Epidural Hematoma dilokasi ini sebaiknya cepat dioperasi walaupun tidak dijumpai defisit neurologis.
Umumnya 20 cc sudah dapat menimbulkan penekanan pada Aquaductus Sylvius atau pada Ventrikel
IV. Oleh sebab itu, sudah menjadi pilihan Brain CT Scan menjadi pilihan diagnostik penunjang utama
karena hasilnya mendekati 100%. Diatas sudah disinggung bahwa sumber perdarahan terutama dari
arteri dan vena Meningea Media, oleh sebab itu foto polos yang kita buat, terutama aspek lateral harus
sesuai dengan lokasi trauma. Fraktur yang melintas alur arteri dan vena Meningea media harus
waspada kemungkinan akan timbul hematoma. Pasien hendaknya dianjurkan untuk segera Brain CT
Scan, bila perlu dibuat serial, untuk mengetahui apakah hematom bertambah besar atau tidak.
Hematoma yang kecil, gambaran CT Scan tidak menimbulkan efek massa, tidak perlu dioperasi,
tetapi harus observasi dengan ketat, bila perlu buat CT Scan ulang

SUBDURAL HEMATOMA Subdural Hematoma adalah suatu keadaan dimana

terbentuknya bekuan darah dibawah duramater. Dalam perjalanan klinisnya Subdural Hematoma
terbagi dua, akut dan khronis. Pada yang akut perdarahan yang timbul cepat, hematom yang terjadi
juga cepat sehingga otak tidak sempat beradaptasi, belum lagi odem yang terjadi terutama bagian
yang mengalami lesi hematoma. Akibatnya defisit neurologis juga cepat timbulnya, terutama bila
bagian kortex primer yang terkena, misalnya aphasia motoris pada area Broca, parese sampai plegi
bila pada area motoris. Kita ketahui juga bahwa iritasi pada kortex dapat juga menimbulkan kejang.
Sedangkan pada yang khronis, perdarahan terjadi sedikit demi sedikit, otak masih dapat beradaptasi
walaupun ada batasnya. Bila batas ini terlewati, mulai timbul gejala neurologis sesuai anatomis.
Karena prosesnya perlahan, akan timbul gejala Tekanan Tinggi Intra Kranial yang khronis. Sumber
perdarahan berasal dari pembuluh darah dibawah dura terutama dalam rongga subarachnoid yang
sangat kaya dengan pembuluh darah. Pada orang tua, otak sudah mengalami atrophia senilis, sehingga
pada trauma dengan gerakan asalerasi dan deselerasi sudah dapat menimbulkan Subdural Hematoma
walaupun tidak ada benturan pada kepala. Selain klinis, pemeriksaan penunjang diperlukan, terutama
CT Scan. Subdural Hematoma yang akut terlihat gambaran hiperdens, umumnya bentuk bulan sabit.
Sedangkan yang khronis, gambaran lebih hipodens. Kadang kala terlihat hanya system ventrikel
ipsilateral saja yang tertekan. Bila sudah tampak Mass Efect atau bahkan disertai defisit neurologis
sebaiknya dilakukan operasi segera. Pasca bedah, lakukan control CT Scan, terutama pada orang tua,
karena adanya atropia senilis serebri. Lakukan Rehabilitasi Medik sesegera mungkin.

INTRASEREBRAL HEMATOMA Intra Serebral Hematoma adalah

hematoma yang terbentuk dalam jaringan serebrum, dalam serebelum kita sebut dengan Intra
Serebelar Hematoma, bahkan kita dapat menyebutkan lebih spesifik lagi misalnya Basal Ganglia
Hemomatoma, Pontine Hematoma dan lain2 sesuai dengan lokasi hematoma pada struktur anatomis.
Perdarahan berasal dari pembuluh darah cabang yang kecil2, atau bila kontusi luas sering perdarahan
luas karena berasal dari banyak cabang pembuluh darah yang rusak, contoh ini banyak terdapat pada
bagian otak yang bergesekan dengan basis kranii terutama fosa media dan anterior, karena basis ini
bentuknya agak kasar, mudah sekali mengoyak jaringan otak. Hematoma yang timbul, terutama pada
lokasi yang vital, cepat menimbulkan gangguan neurologis, pada brain stem bahkan dapat segera
menyebabkan kematian. Oleh sebab itu pada anamnesa dipertegas lagi tentang proses perjalanan
penyakitnya. Pada trauma jarang sekali timbul perdarahan murni intraserebral saja, biasanya selalu
disertai dengan kontusi otak. Pada anamnesa selain riwayat trauma, juga harus diperhatikan faktor lain
yang sering menyebabkan terjadinya perdarahan spontan tanpa trauma. Penderita terkena perdarahan
spontan dulu, baru terjatuh. Orang2 yang riwayat keluarganya banyak menderita stroke perdarahan,
orang2 hipertensi, dibetes harus jadi pertimbangan kita untuk mendiferensial diagnosa penyakitnya,
terutama orang yang telah berumur dewasa tua. Intensitas trauma serta proses trauma, cari informasi
selengkap mungkin. Diagnosa ditegakan secara pasti dengan CT Scan. Hematoma didaerah primer
perlu pertimbangan khusus untuk operasi, sedangkan hematom didaerah vital, sebaiknya tidak
dioperasi..