Anda di halaman 1dari 9

Kajian aktivitas antibakteri kain...

(intan permatasari dan dina kartika maharani)

KAJIAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI KAIN TERCELUP KOMPOSIT


KITOSAN-SILIKA

Intan Permatasari dan Dina Kartika Maharani*


Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya
email: dkmaharani@gmail.com

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh jumlah proses pencelupan kain
menggunakan komposit kitosan-silika terhadap aktvitas antibakteri kain kitosan-silika.
Proses pelapisan kitosan-silika pada kain dilakukan dengan metode pencelupan atau dip-
coating dengan teknik pengeringan pad-dry-cure pada temperatur dry 80 oC dan
temperatur curing 140 oC. Uji aktivitas antibakteri kain kitosan-silika terhadap bakteri
S.aureus dilakukan dengan metode Shake flask turbidimetry. Hasil penelitian menunjukkan
adanya pengaruh jumlah proses pencelupan kain dalam larutan kitosan-silika terhadap
persentase aktivitas antibakterinya. Persentase aktivitas antibakteri setelah 24 jam pada
kain tercelup komposit kitosan-silika dengan variasi pencelupan 5 kali adalah sebesar
18,52%, kain dengan 10 kali pencelupan adalah sebesar 22,06%, kain dengan 15 kali
pencelupan adalah sebesar 32,87% dan dengan variasi pencelupan sebanyak 30 kali
diperoleh persentase aktivitas antibakteri sebesar 39,32%.

Kata kunci : Kain tercelup kitosan-silika, aktivitas antibakteri, proses pelapisan

STUDY OF ANTIBACTERIAL CHITOSAN-SILICA ON COTTON FABRIC


WITH VARIOUS FABRIC COATING TREATMENT

ABSTRACT
The study of antibacterial chitosan-silica on cotton fabric with various fabric coating
treatment has been done. The chitosan-silica composites were deposited on cotton fabrics
using pad-dry-cure method in dip-coating process with drying temperatureof of 80 oC and
curing temperature 140 oC . Antibacterial activity of chitosan-silica coated cotton fabrics
were evaluated against S.aureus using shake flask turbidimetry. The result showed that the
number of chitosan-silica coating processes on fabric influenced its antibacterial activity.
Antibacterial activity of chitosan-silica coated fabrics was 18,52% with fifth coating
traetment numbers, 22,06% with tenth coating traetment numbers, 32,87% with fifteenth
coating traetment numbers and 39,32% with thirtieth coating traetment numbers.

Keywords : Chitosan-silica coated fabrics, antibacterial activity, coating treatment.

PENDAHULUAN memerlukan biaya yang besar. Kitosan


diperoleh dari deasetilasi kitin yang
Kitosan merupakan salah satu
terdiri dari glukosamin (2-amino-2-
alternatif bahan antibakteri yang bersifat
deoksi-D-glukosa, 75-85%) dan N-
ramah lingkungan karena dapat
asetilglukosamin (2-asetamido-2-deoksi-
terdegradasi secara alami
D-glukosa, 15-25%) yang bersifat
(biodegradable), tingkat toksisitasnya
polikationik dan membawa muatan
rendah, dan proses produksinya tidak

112
Molekul, Vol. 7. No. 2. November, 2012: 112 - 120

positif pada rentang pH di bawah 6,5. panas, cahaya, proses kimia maupun
Sifat kationik ini yang menyebabkan serangan mikroba; lapis tipis oksida dapat
Kitosan dapat berinteraksi dengan meningkatkan sifat kekuatan mekanik
material negatif, di antaranya membran dan ketahanan terhadap abrasi; pelapisan
sel luar mikroba (Sandford, 1990). oksida dapat berperan sebagai bahan
Muatan positif kitosan apabila pembawa bahan aditif, seperti senyawa
berinteraksi dengan muatan negatif pada organik, untuk fungsionalisasi tekstil
membran sel mikroba dapat serta pelapisan dapat dilakukan pada
menyebabkan kerusakan pada komponen- temperatur ruang dan tekanan normal
komponen di dalam sel mikroba sehingga baik pada metode padding, dip-coating,
dapat menghambat pertumbuhan mikroba atau spraying (Mahltig et al., 2005).
tersebut. Keuntungan lain penggunaan Ketahanan agen antibakteri pada
kitosan sebagai bahan antibakteri adalah kain ternyata juga dipengaruhi oleh
jumlah kitosan yang sangat melimpah di banyaknya proses pencelupan. Penelitian
alam, yang dapat diperoleh dari limbah yang telah dilakukan Ewit (2007)
cangkang kepiting (crustacea) yang menunjukkan bahwa semakin banyak
banyak dihasilkan dari sektor industri pencelupan dapat meningkatkan
pangan di Indonesia. Selain itu, ketahanan pelapisan pada kain. Penelitian
pemanfaatan limbah cangkang kepiting lain tentang pembuatan kain kitosan-
tersebut dapat membantu mengatasi epoksi silika yang dilakukan dengan
masalah pengelolaan limbah yang dapat metode dip coating sebanyak 10 kali
mengakibatkan pencemaran lingkungan. pencelupan memberikan hasil aktivitas
Penelitian Kim et al (1998) antibakteri kain kitosan-epoksi silika
menggunakan kitosan dengan konsentrasi sebesar 54% (Maharani, 2009). Oleh
0,1% dan harga deasetilasi sebesar 80% karena itu, dilakukan penelitian lanjutan
memiliki aktivitas antibakteri pada tekstil mengenai pengaruh banyaknya
terhadap bakteri Staphylococcus aureus pencelupan kain dalam larutan antibakteri
sebesar 39%. Namun, penggunaan kitosan-silika terhadap aktivitas
kitosan sebagai bahan antibakteri pada antibakteri kain tersebut melawan bakteri
tekstil memiliki ketahanan yang kurang S.aureus.
memuaskan terhadap proses pencucian
(Mahltig et al., 2005). Oleh karena itu,
ditambahkan silika pada larutan kitosan METODE PENELITIAN
untuk meningkatkan stabilitas kitosan
Alat dan Bahan
pada kain. Penggunaan silika sebagai
agen pengikatsilang pada kain bertujuan Alat-alat yang digunakan dalam
untuk meningkatkan sifat fisik penelitian ini antara lain satu set alat
diantaranya dilaporkan oleh Leng et al. refluk, erlenmeyer, gelas beker, hot plate
(2007) yang menyatakan bahwa silika stirer, pengaduk magnet, corong gelas,
sangat potensial meningkatkan stabilitas kertas saring, oven pemanas, neraca
termal pada kain (durable press finishing analitik, termometer, cawan petri,
agent) karena adanya ikatsilang antara Spektrofotometer UV-VIS.
silika dengan selulosa. Silika ataupun Bahan-bahan yang digunakan
oksida logam lainnya dalam bentuk sol dalam penelitian ini antara lain NaOH
memiliki diameter partikel lebih kecil p.a, HCl p.a, Asam Asetat p.a, Etanol
dari 50 nm (nanosol) dan dapat 97%, TEOS (Tetra ethyl Ortho Silicate),
membentuk lapis tipis transparan pada bakteri S.aureus, Nutrien Agar, Tripthone
tekstil; lapis tipis oksida tersebut Soya Broth, Aquades.
membentuk lapisan yang tahan terhadap

113
Kajian aktivitas antibakteri kain... (intan permatasari dan dina kartika maharani)

Prosedur Penelitian maupun kontrol diukur pada jam ke 0,


3, 6, 9, dan 24.
a. Pembuatan Larutan Kitosan-Silika
Kitosan dipreparasi dari reaksi
deasetilasi kitin yang diisolasi dari
limbah cangkang kepiting dengan hasil HASIL DAN PEMBAHASAN
harga derajat deasetilasi sebesar 70%.
Karakterisasi Komposit Kitosan-Silika
Larutan kitosan dibuat dengan pelarut
asam asetat 2% dengan konsentrasi Komposit kitosan-silika dalam
0,1%. Preparasi nano sol Silika penelitian ini dihasilkan dengan metode
dilakukan dengan menggunakan sol-gel. Metode sol-gel meliputi reaksi
metode sol-gel dengan prekursor Tetra hidrolisis dan kondensasi pada prekursor
Ethyl Ortho Silicate (TEOS) dan TEOS dan etanol dengan penambahan
pelarut etanol. Komposit kitosan-silika asam HCl 0,01 M untuk mempercepat
dibuat melalui proses pengadukan reaksi serta menghasilkan polimer silika
larutan kitosan dan nanosol silika dengan percabangan rendah. Pada reaksi
dengan perbandingan% volum/volum hidrolisis, gugus hidroksil akan berikatan
kitosan : nanosol 60: 40. dengan atom silika menurut reaksi
berikut :
b. Pelapisan Kain Kitosan-Silika
Pelapisan kitosan dan komposit Si(OR)4 + H2O HO-Si(OR)3 + ROH
kitosan pada kain katun dilakukan Apabila alkoksida silika telah
menggunakan metode pencelupan atau seluruhnya terhidrolisis maka seluruh
dip-coating dengan teknik pad-dry- gugus alkoksi akan tergantikan oleh
cure. Kain katun dicelupkan pada gugus OH seperti terlihat dalam
larutan kitosan maupun larutan mekanisme reaksi berikut :
komposit kitosan dengan variasi
jumlah pencelupan sebanyak 5, 10, 15 Si(OC2H5)4 + H2O Si(OC2H5)3(OH) +
dan 35 kali, selanjutnya dikeringkan C2H5OH
pada temperatur 80 oC selama 5 menit
dan dikeringkan kembali pada Si(OC2H5)3 + H2O Si(OC2H5)2(OH)2
temperatur 140 oC selama 3 menit. + C2H5OH
Berat kain setelah pencelupan maupun Si(OC2H5)2 + H2O Si(OC2H5)(OH)3
pengeringan ditimbang. + C2H5OH

c. Uji Aktivitas Antibakteri Kain Si(OC2H5) + H2O Si(OH)4 +


Kitosan-Silika C2H5OH

Uji aktivitas antibakteri dilakukan Reaksi kondensasi terjadi karena


dengan metode shake flask adanya interaksi antar molekul-molekul
turbidimetry. terhadap bakteri yang terhidrolisis menurut reaksi berikut:
Stapylococcus aureus. Aktivitas
antibakteri dihitung sebagai (OR)3Si-OH + (OR)3Si-OH
% hambatan terhadap pertumbuhan
bakteri dari selisih laju pertumbuhan (OR)3-Si-O-Si-(OR)3 + ROH
bakteri pada kontrol dan laju
pertumbuhan bakteri pada sampel Sol silika yang dihasilkan dari reaksi sol-
setiap kurun waktu 3 jam. Optical gel pada penelitian ini berupa gel
Density masing-masing sampel transparan sehingga sangat sesuai untuk
aplikasi nanosol silika dalam pelapisan

114
Molekul, Vol. 7. No. 2. November, 2012: 112 - 120

tekstil karena tidak menimbulkan


perubahan warna pada tekstil.
Komposit kitosan-silika yang
dihasilkan dalam penelitian ini
dimungkinkan mengalami interaksi antar
gugus-gugus fungsinya karena adanya
kemungkinan terbentuknya ikatan hidrogen
maupun interaksi elektrostatik antar
molekul dalam komposit yang dihasilkan.
Interaksi tersebut menunjukkan bahwa
kitosan telah terserap atau terintegrasi pada
parikel silika. Model interaksi kitosan
dengan silika sebagaimana dihipotesiskan
pada Gambar 1 yaitu dapat melalui ikatan
Hidrogen antara gugus OH, NH2 atau Gambar 1. Model Interaksi Kitosan
Karbonil (C=O) pada kitosan dengan gugus dengan Silika (Al-Sagheer,
OH pada silika. Kemungkinan interaksi 2010)
kitosan-silika lainnya adalah berasal dari
interaksi elektrostatik antara muatan Komposit kitosan-silika yang
negatif partikel silika dengan muatan dihasilkan dalam penelitian ini
positif molekul kitosan. Interaksi yang dikarakterisasi dengan spektrofotometri
terjadi tersebut juga didukung oleh data inframerah dan difraksi sinar-X. Hasil
hasil analisis spektra infra merah komposit analisis spektrofotometri inframerah pada
kitosan-silika yang menunjukkan komposit kitosan-silika ditunjukkan pada
pergeseran puncak-puncak karakteristik gambar 2 berikut.
kitosan.

Gambar 2. Spektra infra merah kitosan-silika

Tabel 1. Pita serapan gugus fungsional


kitosan dan komposit kitosan-
silika

115
Kajian aktivitas antibakteri kain... (intan permatasari dan dina kartika maharani)

Daerah Daerah Hal ini menunjukkan adanya


serapan serapan interaksi gugus OH yang berasal dari
(cm-1) (cm-1) gugus OH pada silika dengan NH pada
Keterangan
Komposit Komposit kitosan. Serapan pada bilangan
Kitosan Kitosan- gelombang 1650 cm-1 dan 1573,3 cm-1
Silika pada spektra komposit kitosan-silika
Vibrasi ulur 3439,5 menunjukkan serapan khas dari kitosan
3399,3
O-H yaitu pita amida I dan pita amida II.
Vibrasi ulur 2902,2 Serapan pada bilangan gelombang 1082,3
2917,9 cm-1 menunjukkan adanya serapan vibrasi
C-H
Vibrasi tekuk 1640,1 Si-O-Si. Hasil analisis pada spektra infra
1643.6 merah komposit kitosan-silika tersebut
N-H
Vibrasi ulur - menunjukkan bahwa gugus OH dari
1082,3 silika dapat berinteraksi dengan gugus
Si-O-Si
Vibrasi tekuk - asetamida, amina dan hidroksil pada
861,2 kitosan yang menghasilkan ikatan
Si-O
hidrogen. Interaksi antara gugus OH dari
Berdasarkan hasil analisis spektra silika dengan gugus OH dari kitosan akan
infra merah dari komposit kitosan-silika menyebabkan meningkatnya kekuatan
yang disajikan pada Gambar 2 dapat ikatan kitosan pada kain dengan adanya
diketahui bahwa semua puncak-puncak crosslink dari gugus silika. Interaksi
karakteristik kitosan dan silika muncul antara silika dengan kain dapat
pada spektra komposit kitosan-silika. Hal dimungkinkan dari ikatan Hidrogen
ini mengindikasikan bahwa kitosan antara gugus OH pada silika dengan
terintegrasi dengan partikel silika. gugus OH pada selulosa yang
Munculnya serapan pada bilangan dimodelkan pada Gambar 3 berikut :
gelombang 3399,3 cm-1 menunjukkan
vibrasi ulur O-H serta vibrasi ulur N-H.

Gambar 3. Mekanisme interaksi antara silika dengan selulosa (Li, et al., 2007)

116
Molekul, Vol. 7. No. 2. November, 2012: 112 - 120

Gambar 4. Difraktogram kitosan-silika

Analisis Difraksi Sinar-X pada Pelapisan Komposit Kitosan-Silika


komposit kitosan-silika menunjukkan Pada Kain Katun
terbentuknya struktur amorf. Pelapisan komposit kitosan-silika
Difraktogram komposit kitosan-silika pada kain katun dilakukan dengan
ditunjukkan pada Gambar 4. metode dip-coating menggunakan teknik
Difraktogram kitosan-silika di atas pad-dry-cure yaitu proses pencelupan
menunjukkan puncak karakteristik pada kain pada larutan komposit kitosan-silika
2 12,63o pada komposit kitosan-silika yang memungkinkan molekul larutan
dengan intensitas 2,08% sedangkan terdispersi ke dalam serat kain.
puncak 2 12,69o pada kitosan memiliki Selanjutnya dilakukan proses
nilai intensitas sebesar 2,17%. Penurunan pengeringan atau dry untuk menguapkan
intensitas pada komposit kitosan-silika air dan pelarut sehingga terjadi
juga terlihat pada 2 21,38o, 26,72o, kondensasi dan membentuk gel. Proses
31,84o dan 64,66o. Hal ini menunjukkan pengeringan selanjutnya yaitu proses cure
penurunan intensitas komposit kitosan- bertujuan untuk memantapkan lapis tipis
silika dibandingkan pada difraktogram yang terbentuk pada kain karena pada
kitosan yang mengakibatkan tahap tersebut terjadi proses kondensasi
meningkatnya ketidakteraturan struktur lanjutan sehingga akan terbentuk jaringan
kristalin kitosan sehingga menjadi polimer pada kain (crosslinking) yang
bersifat amorf. Penambahan silika pada telah bebas dari air dan pelarut (Xing et
komposit kitosan-silika menyebabkan al., 2007). Data persentase berat basah
adanya interaksi antara kitosan dengan kain setelah pencelupan atau Wet pick-up
silika sehingga dapat mengubah disajikan dalam Tabel 2.
kristalinitas kitosan menjadi lebih amorf.

117
Kajian aktivitas antibakteri kain... (intan permatasari dan dina kartika maharani)

Tabel 2. Data Persentase Wet pick-up (berat basah kain setelah pencelupan)
Variasi Persentase Wet pick-up (%)
Sampel Rata-rata
celup 1 2 3 4 5
5 kali 126,12 127,16 127,98 127,02 127,42 127,14
Kain Kitosan-
Silika 0,01 M

10 kali 130,24 130,40 130,80 130,04 131,45 130,59


15 kali 133,60 133,20 131,85 131,82 131,56 132,41
30 kali 134,27 134,80 134,27 134,40 135,08 134,57

Data pada Tabel 1 tersebut kain yang dilapisi larutan kitosan-silika


menunjukkan proses pelapisan yang sebanyak 30 kali pencelupan.
dilakukan menghasilkan persentase wet Penghambatan ini dimungkinkan karena
pick-up (berat basah setelah pencelupan) jumlah kitosan-silika yang berada pada
kain komposit kitosan-silika 0,01 M kain paling besar dan memungkinkan
untuk variasi pencelupan 5 kali sebesar terjadi interaksi antara bakteri dan
127,14%, 10 kali sebesar 130,59%, 15 kitosan-silika yang maksimal. Data
kali sebesar 132,41%, dan 30 kali sebesar jumlah kerapatan sel bakteri yang diamati
134,57%. Hasil tersebut menunjukkan sampai 24 jam menunjukkan bahwa
bahwa semakin banyak proses jumlah bakteri yang terhambat oleh kain
pencelupan kain pada larutan komposit yang dilapisi kitosan-silika secara umum
kitosan-silika maka kemungkinan mengalami penurunan dari waktu 3 jam
komposit kitosan-silika yang terserap sampai 24 jam. Persentase aktivitas
pada kain akan semakin banyak pula. Hal antibakteri pada semua variasi
ini mengakibatkan aktivitas antibakteri pencelupan larutan komposit kitosan-
pada kain katun dengan variasi banyak silika pada kain katun di atas
pencelupan 30 kali lebih besar menunjukkan bahwa persentase aktivitas
dibandingkan kain dengan variasi antibakteri pada kain kitosan-silika
pencelupan yang lebih rendah sesuai dengan variasi pencelupan 5 kali setelah
dengan hasil uji antibakteri yang 24 jam adalah sebesar 18,52%, kain
ditunjukkan pada Gambar 5. dengan 10 kali pencelupan adalah sebesar
22,06%, kain dengan 15 kali pencelupan
Aktivitas Antibakteri Kain Kitosan- adalah sebesar 32,87% dan dengan
Silika variasi pencelupan sebanyak 30 kali
diperoleh persentase aktivitas antibakteri
Kerapatan sel bakteri pada larutan
sebesar 39,32%. Sedangkan pada kain
media yang berisi kain dengan banyak
tanpa pelapisan larutan kitosan-silika
pencelupan larutan kitosan-silika 30 kali
diperoleh aktivitas antibakteri 4,19%.
menunjukkan nilai yang paling rendah,
Persentase aktivitas antibakteri kain yang
dan berturut-turut semakin tinggi dengan
dilapisi komposit kitosan-silika pada
semakin sedikitnya jumlah pencelupan
berbagai variasi banyak pencelupan
larutan kitosan-silika pada waktu
larutan kitosan-silika disajikan dalam
pengamatan absorbansi 3 jam. Hal ini
diagram batang pada Gambar 5.
menandakan bahwa pertumbuhan bakteri
S. aureus terhambat paling besar pada

118
Molekul, Vol. 7. No. 2. November, 2012: 112 - 120

Uji Aktivitas Antibakteri


80
70
Aktivitas Antibakteri (%)

60
50 3 jam
40 6 jam
30 9 jam
20 24 jam
10
0
Kain tanpa Kit-Si 0,01 M Kit-Si 0,01 M Kit-Si 0,01 M Kit-Si 0,01 M
perlakuan 5 kali 10 kali 15 kali 30 kali

Gambar 5. Aktivitas antibakteri pada kain kitosan-silika 0,01 M dengan variasi banyak
pencelupan 5 kali, 10 kali, 15 kali dan 30 kali.

Secara umum hasil uji aktivitas bakteri dan dapat menghambat


antibakteri pada kain yang dilapisi larutan mekanisme di dalam tubuh bakteri
komposit kitosan-silika menunjukkan sehingga meningkatkan persentase
bahwa bakteri S.aureus dapat terhambat aktivitas antibakteri.
pertumbuhannya akibat adanya bahan
antibakteri kitosan-silika yang terlapiskan
pada kain katun. Hal ini terlihat dari KESIMPULAN
persentase aktivitas antibakteri kain yang Dari hasil penelitian menunjukkan
tidak dilapisi larutan antibakteri kitosan-
terdapat pengaruh banyak pencelupan
silika yang lebih kecil dibandingkan kitosan-silika terhadapnya besarnya
dengan kain yang dilapisi larutan aktivitas antibakteri kain kitosan-silika.
antibakteri kitosan-silika. Kain yang
Semakin banyak pencelupan bahan
dilapisi larutan kitosan-silika dengan antibakteri yang dilapiskan pada kain
pencelupan sebanyak 30 kali memiliki katun maka semakin besar pula
aktivitas antibakteri yang lebih besar persentase aktivitas antibakteri yang
dibandingkan dengan kain yang dilapisi dihasilkan. Persentase aktivitas
larutan kitosan-silika dengan variasi antibakteri setelah 24 jam pada kain
banyak pencelupan 5 kali, 10 kali
kitosan-silika dengan variasi pencelupan
maupun 15 kali. Hal ini dikarenakan 5 kali adalah sebesar 18,52%, kain
adanya interaksi elektrostatik antara dengan 10 kali pencelupan adalah sebesar
muatan positif kitosan (gugus NH3+) 22,06%, kain dengan 15 kali pencelupan
dengan muatan negatif dari dinding sel adalah sebesar 32,87% dan dengan
bakteri yang semakin besar. Semakin variasi pencelupan sebanyak 30 kali
banyak larutan kitosan-silika yang
diperoleh persentase aktivitas antibakteri
dilapiskan pada kain menyebabkan sebesar 39,32%.
semakin besar pula kemampuan kitosan-
silika untuk berikatan dengan dinding sel

119
Kajian aktivitas antibakteri kain... (intan permatasari dan dina kartika maharani)

DAFTAR PUSTAKA Maharani, D.K., Kartini, I., Aprilita,


N.H., 2009, Aktivitas antibakteri
Al Sagheer, F and Muslim, S., 2010,
kain komposit kitosan-epoksi silika
Thermal and Mechanical Properties
dan kain kitosan-silika sebagai
of Chitosan-SiO2 Hybrid
tekstil antibakteri, Prosiding Senaki
Composites, Journal of
IX, ITS, Surabaya
Nanomaterial, Vol. 10 : 1-7.
Mahltig, B., Haufe, H. and Bottcher, H.,
Ewit, D.Y., 2007, Pencelupan Kain
2005, Functionalisation of textile
Rami Dengan Naphtol Berdasarkan
by Inorganic sol-gel coatings, J.
alokasi Waktu Terhadap Kualitas
Mater. Chem., Vol. 15, hal. 4385-
kain Untuk Membuat Taplak Meja
4398.
Dengan Hiasan Sulam Pita,
Skripsi, Universitas Negeri Sandford, P.A., 1990, High Purity
semarang Chitosan and Alginate :
Preparation, Analysis and
Kim, Y.H., Hyung-min, C., and Jung,
Applications, Proceeding of a
H.Y., 1998, Synthesis of a
conference on Frontiers in
Quartenary Ammonium Derivative
Carbohydrate Research, Purdue
of Chitosan and Its Application for
University, Indiana USA.
Cotton Antimicrobial Finish,
Textile Res. J., Vol. 68, hal. 428- Xing, Y., Yang, X., and Dai, J., 2007,
434. Antimicrobial finishing of cotton
textile based on water glass by sol
Leng, P.B., Akil, H.M., and Lin, O.H.,
gel method, J. Sol-Gel Sci.
2007, Thermal Properties of
Technol., 43, 187-192.
Microsilica and Nanosilica Filled
Polypropylene Composite with
Epoxy as Dispersing Aid, J. Reinf.
Plast. Compos., Vol. 26, hal. 761-
770.
Li, Z.R., Jiang, W., Wang, L., Meng,
W., and Qing, L., 2007, Synthesis
and Application of Novel Aqueous
Anionic Polyurethane as a Durable
PressFinishing Agent of Cotton
Fabrics, Textile Res. J., 77,4, 227-
232.

120