Anda di halaman 1dari 42

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar karena


berpengaruh terhadap eksistensi dan ketahanan hidupnya, baik dipandang dari segi
kuantitas dan kualitasnya. Mengingat kadar kepentingan yang demikian tinggi, pada
dasarnya pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sepenuhnya
menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia. Tersedianya pangan yang cukup, aman,
bermutu dan bergizi merupakan prasyarat utama yang harus dipenuhi agar basis
sumberdaya manusia yang berkualitas.Industri pangan di Indonesia dari tahun ke
tahun semakin berperan pentin dalam pembangunan industri nasional, sekaligus
dalam perekonomian keseluruhan. Perkembangan industri pangan nasional
menunjukkan perkembangan yang cukup berarti. Hal ini ditandai oleh
berkembanganya berbagai jenis industri yang mengolah bahan baku yang berasal dari
sektorpertanian.

Tahu merupakan salah satu bahan makanan pokok yang termasuk dalam
empat sehat lima sempurna. Tahu juga merupakan makanan yang mengandung
banyak gizi dan mudah diproduksi. Untuk memproduksi tahu bahan-bahan yang
dibutuhkan hanya berupa kacang kedelai, sehingga saat ini dapat ditemukan banyak
pabrik pembuat tahu baik dalam bentuk usaha kecil maupun usaha menengah yang
masih menggunakan cara konvensional(Lihannoor, 2010).

Analisis proksimat adalah suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasi


kandungan zat makanan dari suatu bahan pangan. Istilah proksimat mempunyai
pengertian bahwa hasil analisis dari metode ini menunjukan nilai mendekati. Hali ini
disebabkan dalam satu fraksi hasil analisis masih terdapat zat lain yang berbeda
sifatnya dalam jumlah sangat sedikit.Analisis proksimat merupakan salah satu dari
tingkatan cara penilaian suatu bahan pangan secara kimia. Cara penilaian suatu bahan
pangan secara kimia , fisik dan biologis.
Maka dari itu dilakukan penelitian tentang komposisi proksimat, analisa kadar
air, kadar abu, kadar karbohidrat, analisa protein , lemak kasar dan analisa vitamin
dari tahu dan tomat.

1.2 Tujuan :

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan mengukur kadar air bahan pangan menggunakan


metode gravimetric
2. Untuk mengetahui dan mengukur kadar abu bahan pangan menggunakan
metode pengabuhan kering
3. Untuk mengetahui dan mengukur kadar gula pereduksi bahan pangan
menggunakan metode nelson somogy
4. Untuk mengetahui dan mengukur kadar lemak reduksi bahan pangan
menggunakan metode Soxhlet
5. Untuk mengetahui dan mengukur kadar protein bahan pangan menggunakan
Kjedahl
6. Untuk mengetahui dan mengukur kadarvitamin vitamin c bahan pangan
menggunakan titrasi iod.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Analisis Mutu Kimia

Analisis mutu kimia merupakan suatu metode analisis secara kimia untuk
mengidentifikasikan kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan.
Komponen fraksi yang dianalisis masih mengandung komponen lain dengan jumlah
yang sangat kecil, yang seharusnya tidak masuk ke dalam fraksi yang dimaksud,
itulah sebabnya mengapa hasil analisis proksimat menunjukkan angka yang
mendekati angka fraksi yang sesungguhnya (Buckle. et al., 1987 ).
2.1.1 Kadar Air
Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan
berdasarkan berat basah (wet basis) atau berdasarkan berat kering (dry basis). Kadar
air berat basah mempunyai batas maksimum teoritis sebesar 100 persen, sedangkan
kadar air berdasarkan berat kering dapat lebih dari 100 persen (Syarif dan Halid,
1993).

Kadar air merupakan pemegang peranan penting, kecuali temperatur maka


aktivitas air mempunyai tempat tersendiri dalam proses pembusukan dan ketengikan.
Kerusakan bahan makanan pada umumnya merupakan proses mikrobiologis,
kimiawi, enzimatik atau kombinasi antara ketiganya. Berlangsungnya ketiga proses
tersebut memerlukan air dimana kini telah diketahui bahwa hanya air bebas yang
dapat membantu berlangsungnya proses tersebut (Tabrani,1997).

Kadar air suatu bahan biasanya dinyatakan dalam persentase berat bahan
basah, misalnya dalam gram air untuk setiap 100 gr bahan disebut kadar air berat
basah. Berat bahan kering adalah berat bahan setelah mengalami pemanasan beberapa
waktu tertentu sehingga beratnya tetap (konstan). Pada proses pengeringan air yang
terkandung dalam bahan tidak dapat seluruhnya diuapkan (Andarwulan, 1989).
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang
dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah satu karakteristik yang sangat 5
penting pada bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur,
dan cita rasa pada bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan
kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut, kadar air yang tinggi mengakibatkan
mudahnya bakteri, kapang, dan khamir untuk berkembang biak, sehingga akan terjadi
perubahan pada bahan pangan (Winarno, 1997)

Metode yang digunakan adalah oven pengering. Pengeringan adalah suatu


metode untuk mengeluarkan atau menghilangakan sebagian air dari suatu bahan
dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya
kandungan air bahan tersebut dikurangi sampai suatu batas agar mikroba tidak dapat
tumbuh lagi didalamnya. Prinsip dari metode oven pengering adalah bahwa air yang
terkandung dalam suatu bahan akan menguap bila bahan tersebut dipanaskan 7 pada
suhu 105o C selama waktu tertentu. Perbedaan antara berat sebelum dan sesudah
dipanaskan adalah kadar air (Astuti,2010).

2.1.2 Kadar Abu

Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau mineral yang
terdapat pada suatu bahan pangan. Bahan pangan terdiri dari 96% bahan anorganik
dan air, sedangkan sisanya merupakan unsur-unsur mineral. Unsur juga dikenal
sebagai zat organik atau kadar abu. Kadar abu tersebut dapat menunjukan total
mineral dalam suatu bahan pangan. Bahan-bahan organik dalam proses pembakaran
akan terbakar tetapi komponen anorganiknya tidak, karena itulah disebut sebagai
kadar abu. Produk perikanan memiliki kadar abu yang berbeda-beda. Penentuan
kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain untuk menentukan
baik atau tidaknya suatu pengolahan, mengetahui jenis bahan yang digunakan, dan
sebagai penentu parameter nilai gizi suatu bahan makanan (Sudarmadji,1996)

Metode pengabuan ada dua yaitu metode pengabuan kering (langsung) dan metode
pengabuan basah (tidak langsung). Prinsip dari pengabuan cara langsung yaitu
dengan mengoksidasi semua zat organik pada suhu tinggi, yaitu sekitar 500 600 oC
dan kemudian melakukan penimbangan zat yang tertinggal setelah proses
pembakaran tersebut.Pemanasan pada suhu 300oC yang dilakukan dengan maksud
untuk dapat melindungi kandungan bahan yang bersifat volatil dan bahan berlemak
hingga kandungan asam hilang. Pemanasan dilakukan sampai asap habis. Pemanasan
pada suhu 800oC yang dilakukan agar perubahan suhu pada bahan maupun porselin
tidak secara tiba-tiba agar tidak memecahkan krus yang mudah pecah pada perubahan
suhu yang tiba-tiba. (Sudarmadji, 1996)

2.1.3 Kadar Karbohidrat

Analisa karbohidrat dapat dilakukan terhadap analisa total karbohidrat, analisa


gula reduksi, maupu kandungan pati. Dalam penentuan analisa kuantitatif karbohidrat
terdapat beberapa metode penentuan dengan cara kimia didasarkan pada reaksi
oksidasi cupri menjadi cupro. Metode penetapan secara kimia meliputi Luff Schoorl,
Munson-Walker, Lane Eynon, Nelson-Somogy, Oksidasi ferri, dan Iodometri
(Sukatiningsih, 2010).Metode Nelson-Somogy dilakukan dengan mengukur
absorbansi menggunakan spektrofotometri.
Metode Nelson-Somogyi merupakan salah satu metode kimiawi yang dapat
digunakan untuk analisa karbohidrat adalah metode oksidasi dengan kupri. Metode
ini didasarkan pada peristiwa tereduksinya kupri okisida menjadi kupro oksida karena
adanya andungan senyawa gula reduksi pada bahan. Reagen yang digunakan biasanya
merupakan campuran kupri sulfat, Na-karbonat, natrium sulfat, dan K-Na-tartrat
(reagen Nelson Somogy) (Fauzi, 1994).

2.1.4 Kadar Lemak

Dalam penentuan kadar lemak, sulit untuk melakukan ekstraksi lemak secara
murni. Hal itu disebabkan pada waktu ekstraksi lemak menggunakan pelarut lemak,
seperti phospholipid, sterol, asam lemak bebas, pigmen karotenoid, dan
klorofil.sehingga hasil analisis lemak ditetapkan sebagai lemak kasar. Penentuan
kadar lemak dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode basah dan metode
kering. Metode ekstraksi kering menggunakan ekstraksi sochlet. Selain itu, metode
lain yang digunakan adalah metode weibull. Prinsip kerja dari metode weibull adalah
ekstraksi lemak dengan pelarut nonpolar setelah sampel dihidrolisis dalam suasana
asam untuk membebaskan lemak yang terikat (Winarno,2007).

Kadar lemak dalam suatu bahan pangan dapat diketahui dengan cara
mengekstraksi lemak. Metode ekstraksi lemak terdiri dari ekstaksi lemak kering dan
ekstraksi lemak basah. Ekstraksi lemak kering dapat dilakukan dengan menggunakan
metode soxhlet. Pada prinsipnya metode soxhlet ini menggunakan sampel lemak
kering yang diekstraksi secara terus-menerus dalam pelarut dengan jumlah yang
konstan Penentuan kadar lemak dengan metode ekstraksi dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas pelarut, suhu pelarut,
dan tipe pelarut (Darmasih 1997)

analisis kadar lemak dilakukan dengan metode soxhlet. Prinsipnya adalah


lemak yang terdapat dalam sampel diekstrak dengan menggunakan pelarut lemak non
polar.Pelarut non polar yang digunakan, misalnya heksan, dietil eter, petroleum
benzene, atau pelarut lainnya.Ekstraksi dilakukan dengan sampel yang diekstraksi
sudah dalam bentuk tepung dan ditimbang sebanyak 1-2 g. Kemudian dibungkus
dengan selongsong kertas saring yang dilapisi dengan kapas dan dimasukkan ke
dalam alat ekstraksi (soxhlet), yang telah berisi pelarut (dietil eter atau heksana).
Refluks dilakukan selama 6 jam (minimum) pada suhu 80C. Setelah itu pelarut yang
ada di dalam labu lemak didistilasi.Selanjutnya labu lemak yang berisi lemak hasil
ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 105oC hingga beratnya konstan,
didinginkan dalam desikator, dan ditimbang.

2.1.5 Kadar Protein

Peneraan jumlah protein dalam bahan makanan umumnya dilakukan


berdasarkan penetapan empiris (tidak langsung), yaitu melalui penentuan kandungan
N yang ada dalam bahan. Penentuan dengan cara langsung atau absolut, misalnya
dengan pemisahan pemurnian, atau penimbangan protein, akan memberikan hasil
yang lebih tepat tetapi juga sangat sukar, membutuhkan waktu yang lama,
keterampilan tinggi dan mahal. Hanya untuk keperluan tertentu, terutama untuk
penelitian yang lebih r (nilai gizi protein tertentu, susunan asam amino, aktivitas
enzimatis dan lain-lain) maka cara absolut ini perlu ditempuh.

Peneraan jumlah protein secara empiris yang umum dilakukan adalah dengan
menentukkan jumlah nitrogen (N) yang dikandung oleh suatu bahan. Cara penentuan
ini dikembangkan oleh Kjeldhal, seorang ahli kimia Denmark pada tahun 1883.
Dalam penentuan protein seharusnya hanya nitrogen yang berasal dari protein saja
yang ditentukan. Akan tetapi secara teknis hal ini sulit sekali di lakukan dan
mengingat jumlah kandungan senyawa lain selain protein dalam bahan biasanya
sangat sedikit, maka penentuan jumlah N total ini tetap dilakukan untuk mewakili
jumlah protein yang ada. Kadar protein yang ditentukan bedasarkan cara Kjeldhal ini
dengan demikian sering disebut sebagai kadar protein kasar (lehninger,1995)

2.1.6 Kadar Vitamin C

Vitamin C merupakan sekelompok senyawa organik kompleks yangdibutuhkan


oleh tubuh dalam jumlah kecil yang berguna untuk memelihara kesehatanatau
menambah daya tahan tubuh (Ester, 2011)

Dalam penentuan kadar vitamin C terdepat beberapa metode yang dapat


dilakukan yaitu metode titrasi iodimetri, metode titrasi 2,6-diklorofenol indofenol,
dan metode spektofotometri ultraviolet. Metode iodimetri merupakan metode yang
banyak digunakan karena mudah dan memerlukan peralatan yang sederhana. Titrasi
ini memakai Iodium sebagai oksidator yang mengoksidasi vitamin C dan memakai
amilum sebagai indikatornya.Kekurangan dari metode ini yaitu ketidakakuratan nilai
yang diperoleh karena vitamin C dapat dipengaruhi oleh zat lain. Selain itu, metode
iodimetri dianggap tidak efektif untuk mengukur kandungan vitamin C dalam bahan
pangan, karena adanya komponen lain selain vitamin C yang juga bersifat pereduksi.
Senyawa-senyawa tersebut mempunyai titik akhir yang sama dengan warna titik akhir
titrasi vitamin C dengan iodine (Poedjidadi,1994)
Prinsip analisis vitamin C adalah iodin dan indikator pati mendegradasi vitamin
C sehingga terbentuk warna biru muda. Banyak titrasi yang kemudian dihitung dalam
pengukuran kadar vitamin.Pada metode iodin larutan vitamin C (asam askorbat)
sebagai reduktor dioksidasi oleh Iodium, sesudah vitamin C dalam sampel habis
teroksidasi, kelebihan Iodium akan segera terdeteksi oleh kelebihan amilum yang
dalam suasana basa berwarna biru muda. Kadar vitamin C dapat diketahui dengan
perhitungan 1ml 0,01 N larutan Iodium = 0,88 mg asam askorbat. Oleh karena itu,
praktikum mengenai analisa vitamin C dilakukan untuk mengetahui kadar vitamin C
dalam suatu bahan pangan dan hasil pertanian dengan metode titrasi iodin sehingga
dapat digunakan sebagai perencanaan dalam perbaikan mutu bahan pangan.

2.2.Sampel

2.2.1 Tahu

Tahu adalah ekstrak protein kedelai yang telah digumpalkan dengan


menggunakan bahan penggumpal protein seperti asam, garamkalsium, atau bahan
penggumpal lainnya. Tahu merupakan makanan sehari-hari yang sering dikonsumsi
dalam bentuk makanan ringan seperti gorengan.Pada skala industri pembuatan tahu
membutuhkan alat khusus, seperti alat penggilingan kedelai menjadi bubur.Namun
tahu juga dapat dibuat dalam skala rumah tangga atau industri kecil, dimana tahu
dibuat dengan menggunakan blender untuk proses penggilingan kedelai,namun mutu
tahu yang dihasilkan kurang baik Tahu termasuk bahan makanan yang berkadar air
tinggi. Besarnya kadar air dipengaruhi oleh bahan penggumpal yang dipakai pada
saat pembuatan tahu. Bahan penggumpal asam menghasilkan tahu dengan kadar air
lebih tinggi dibanding garam kalsium. Bila dibandingkan dengan kandungan airnya,
jumlah protein tahu tidak terlalu tinggi, hal ini disebabkan oleh kadar airnya yang
sangat tinggi. Makanan-makanan yang berkadar air tinggi umumnya kandungan
protein agak rendah. Selain air, protein juga merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan mikroorganisme pembusuk yang menyebabkan bahan mempunyai daya
awet rendah (Hamid, 2012).
.

Tahu bersifat mudah rusak. Pada kondisi normal (suhu kamar) daya tahannya
rata-rata sekitar 1 2 hari saja. Setelah lebih dari batas tersebut rasanya menjadi asam
dan terjadi penyimpanganwarna, aroma, dan tekstur sehingga tidak layak untuk
dikonsumsi. Hal ini disebabkan oleh kadar air dan protein tahu relatif tinggi, masing-
masing 86 persen dan 8 12 persen. Tahu mengandung lemak 4,8 persen dan
karbohidrat 1,6 persen. Dengan komposisi nutrisi tersebut, tahu merupakan media
yang cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme pembusuk, terutama bakteri
(Koswara 2011).
Syarat mutu tahu diatur dalam SNI 01-3142-1998 yang dapat dilihat pada

Tabel 1. Syarat Mutu Tahu menurut SNI 01-3142-1998


No Jenis Uji Satuan Persyaratan

1. Keadaan :

1.1 Bau Normal

1.2 Rasa Normal

1.3 Warna Putih normal atau


kuning normal

1.4 Penampakan Normal tidak berlendir


dan tidak berjamur

2. Abu % (b/b) Maks 1,0

3. Protein (N x 6,25) % (b/b) Min 9,0


4. Lemak % (b/b) Min 0,5

5. Serat Kasar % (b/b) Maks 0,1

6. Bahan tambahan % (b/b) Sesuai SNI 01-0222-


makanan - 1995 dan
- Peraturan Men.Kes
No 722/
Men.Kes/Per/IX/1988

7. Cemaran logam :

7.1 Timbal(Pb) mg/kg Maks 2,0

7.2 Tembaga (Cu) mg/kg Maks 30,0

7.3 Sang (2n) mg/kg Maks 40,0

7.4 Timah (Sn) mg/kg Maks 40,0 / 250,0

7.5 Raksa (Hg) mg/kg Maks 0,03

8. Cemaran arsen(As) mg/kg Maks 1,0

9. Cemaran mikroba :

9.1 Escherichia Coli APM/g Maks 10

9.2 Salmonella /25g Negative

(Badan Standarisasi Nasional, 1998).

2.2.2 Tomat
Tomat (Solanum lycopersicum syn. Lycopersicum esculentum) adalah
tumbuhan keluarga Solanaceae, berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, dari
Meksiko sampai Peru. Kata tomat berasal dari bahasa Aztek, salah satu suku Indian
yaitu xitomate atau xitotomate. Tanaman tomat menyebar ke seluruh Amerika,
terutama ke wilayah yang beriklim tropik, sebagai gulma. Penyebaran tanaman tomat
ini dilakukan oleh burung yang makan buah tomat dan kotorannya
tersebar kemana-mana. Penyebaran tomat ke Eropa dan Asia dilakukan oleh orang
Spanyol. Tomat ditanam di Indonesia sesudah kedatangan orang Belanda. Dengan
demikian, tanaman tomat sudah tersebar ke seluruh dunia, baik di daerah tropik
maupun subtropik. (Pracaya, 2012)
Buah tomat terdiri dari beberapa bagian yaitu perikarp, plasenta, funikulus,
dan biji. Anatomi buah tomat dapat dilihat pada Gambar 1. Perikarp meliputi
eksokarp, mesokarp, dan endocarp. Eksokarp adalah lapisan terluar dari buah dan
sering mengandung zat warna buah terdiri dari dinding pericarp dan kulit buah.
Perikarp meliputi dinding luar dan dinding radial (septa) yang memisahkan rongga
lokula. Mesokarp adalah lapisan yang paling dalam berupa selaput terdiri dari
parenkim dengan ikatan pembuluh (jaringan tertutup) dan lapisan bersel tunggal yaitu
lokula. EndoKarp adalah lapisan paling dalam terdiri dari biji, plasenta, dan
columella.
Kandungan yang terdapat dalam buah tomat meliputi alkaloid solanin (0,007%),
saponin, asam folat, asam malat, asam sitrat, biflavonoid, protein,lemak, gula
(fruktosa, glukosa), adenine,trigonelin, kolin, tomatin, mineral (Ca,Mg, P, K, Na, Fe,
sulfur, klorin), vitamin (B1, B2, B6, C, E, niasin), histamin, danlikopen (Dalimartha,
2007). Dalimartha,S.2007. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus

Syarat mutu tomat segar diatur dalam SNI 01-3162-1992 yang dapat dilihat pada
Tabel berikut.

Tabel Syarat Mutu Tomat Segar menurut SNI 01-3162-1992


No Jenis uji Satuan Persyaratan

Mutu I Mutu II

1. Kesamaan sifat, - Seragam Seragam


varietas
2. Tingkat ketuaan - Tua, tapi tidak Tua, tapi
terlalu matang tidak terlalu
dan tidak matang dan
lunak tidak lunak

3. Ukuran - Seragam Seragam

4. Kotoran - Tidak ada Tidak ada

5. Kerusakan % Maks. 5 Maks. 10


(jumlah/jumlah)
6. Busuk % Maks. 1 Maks. 1
(jumlah/jumlah)
(Badan Standarisasi Nasional, 1992).
BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
a. Alat Ekstraksi Soxhlet
b. Alat pemanas listrik
c. Oven
d. Mortar
e. Eksikator beserta silika gel
f. Tanur pengabuan (mufle)
g. pH meter
h. Gelas piala
i. Labu ukur
j. Waring Blender
k. Magnetic stirer
l. Cawan porselen
m. Botol timbang
n. Neraca Analitis
o. Labu Lemak
p. Eksikator
q. Penjepit
r. Alat Destruksi
s. Labu Kjeldahl
t. Labu takar
u. Beaker glass
v. Corong
w. Destilator
x. Erlenmeyer 125 mL
y. Buret 50 mL
z. Pipet ukur 1mL dan 10 mL

3.1.2 Bahan
a. Tahu
b. Tomat
c. Petroleum Ether
d. n-Heksana
e. Kertas saring
f. Tissue
g. H2SO4pekat
h. Larutan asam borat jenuh
i. Selenium
j. HCL 0,02 N
k. Reagen Nelson
l. Aquades
m. NaOH
n. Molibdine blue
o. CaCO3
p. Na Oksalat
q. Pb Asetat
r. Iodin 0,01 N
s. Arsenomolibdat
t. Amilum 1%
u. Indikator Metil blue
3.2 Skema Kerja
3.2.1 Kadar Air

Botol Timbang

Pengovenan 20 menit
pada suhu 105C

Eksikator 15 menit
Tahu

Penimbangan botol
timbang Penghalusan Tahu

Penimbangan dalam
botol timbang 5gram

Pengovenan 4Jam, 105C

Eksikator 15 menit

Penimbangan botol
timbang + tahu

Perhitungan Kadar Air


3.2.2 Kadar Abu

Kurs Porselen

Pengovenan 20 menit,
105C

Eksikator 15 menit
Tahu

Penimbangan botol
timbang Penghalusan Tahu

Penimbangan dalam
botol timbang 5gram

Tanur skala 30-40, Tanur skala 60-70,


1Jam 4Jam

Pendinginan 24Jam dalam tanur

Pengovenan 15 menit, 105C

Eksikator 15 menit

Penimbangan kurs porselen

Perhitungan Kadar Abu


3.2.3 Kadar Gula Pereduksi
a. Persiapan Sampel
Tomat

Dicuci Ditimbang 20 gram dalam beaker


glass

+aqudes 50 mL, ekstraksi dengan magnetic stirer

Sentrifuge selama 15 menit Ampas

Saring dengan kertas saring Ekstrak tahap 2


dengan 50 mL
aquadest
Filtrat

Disentrifuge
+ CaCO3 1 gram

Pemanasan sampai air Penyaringan


mendidih selama 20 menit dengan kertas
saring

Pendinginan
Filtrat
Penyaringan

+Pb asetat 3 ml dan Na Oksalat 3


ml

Sentrifuge

Saring

Filtrat untuk analisa gula reduksi nelson somogy


b. Pembuatan Kurva Standar

Sampel

Dimasukkan dalam tabung reaksi @ sebanyak 0


mL; 0,1 mL; 0,15 mL; 0,2 mL

+ @1 mL reagen Nelson, vortex

Pemanasan selama 20 menit

Pendinginan

+ @1mL arsenomolibdat, vortex sampai larut

+ aquades sampai volume akhir 10 mL, vortex

Absorbansi dengan panjang gelombang 540 nm

Perhitungan gula reduksi dengan kurva standart


3.2.4 Kadar Lemak

a. Persiapan Alat
Labu Lemak

Pengovenan

Eksikator

Penimbangan a

b. Persiapan Bahan

Kertas
Saring

Pengovenan 20 menit

Eksikator

Penimbangan

Penambahan Sampel 5g

Pengovenan 24 jam

Eksikator 15 menit

Penimbangan b
c. Ekstraksi Soxhlet

Sampel b
Saring

Peletakkan dalam tabung ekstraksi Soxhlet

Penuangan pelarut ke dalam labu lemak

Refluk 4-6 jam

Distilasi pelarut

Pemanasan ekstrak lemak hingga pekat

Pengovenan (1) 600C 4 jam

Eksikator 15 menit

Penimbangan 1 (gram)

Pengovenan (2)

Eksikator 15 menit

Penimbangan 2 (gram)
3.2.5 Kadar Protein

Sampel 0,5 g, Blanko


aquades 0,5 mL

Pemasukkan pada labu Kjeldahl

Penambahan 1 g selenium + 1 ml H2SO4

Pemasangan labu ke alat destruksi

Destruksi 1 jam

Pendinginan 1 jam

Penambahan 5 ml aquades

Destilasi 4 menit

Titrasi dengan HCl

mL titrasi dihitung sebagai jumlah N


3.2.6 Kadar Vitamin C

20gram tomat + 50ml aquades

Ekstraksi ,penyaringan

Ampas + 50ml aquades

Ekstraksi, penyaringan Ampas

Filtrat 1 Filtrat 2

Diterasampaitandabataspadalabuukur 100ml

Masukkan sampel ke 4 erlenmeyer @20 ml

+1 ml larutan amilum 1%

Titrasi dengan larutan iodin 0.01N

Perhitungan kadar vitamin C


BAB 4. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

4.1 HASIL PENGAMATAN


4.1.1 Kadar Air Tahu
Berat cawan + Berat cawan +
Berat cawan bahan sebelum bahan setelah
Ulangan
(a gram) pengeringan pengeringan
(b gram) (c gram)
1 23,0570 28,0616 23,7556
2 10,1216 15,1321 10,8548
3 16,9124 22,0034 17,6456
4 10,2268 15,3029 10,9984
5 10,2325 15,2400 10,6555
6 9,9131 14,9997 10,8638
7 10,1338 15,1447 10,9759
8 11,6092 16,6055 12,3564

4.1.2 Kadar Abu


Ulangan Berat kurs (g) Berat kurs + sample Berat kurs + sample
[A] sebelum pengabuan (g) setelah pengabuan (g)
[B] [C]
1 10.4552 15.4534 10.4679
2 8.2358 13.2530 8.2503
3 9.8087 14.8164 9.8238
4 8.8625 13.8441 8.8760
5 10.4697 15.4697 10.4845
6 9.2951 14.2951 9.3103
7 8.4920 13.4920 8.5070
8 8.7427 13.7427 8.7586
4.1.3 Kadar Gula Pereduksi
a. Kurva Standart
Ulangan Volume Absorbansi
1 2
1 0 0,000 0,000
2 0,1 0,021 0,010
3 0,25 0,060 0,052
4 0,5 0,152 0,148
5 0,75 0,196 0,191
6 1 0,407 0,406
7 1,5 0,630 0,628
8 2 0,781 0,797
9 0 0,000 0,000
10 0,1 0,043 0,026
11 0,25 0,109 0,105
12 0,5 0,209 0,206
13 0,75 0,384 0,383
14 1 0,454 0,445
15 1,5 0,646 0,644
16 2 0,827 0,821

b. Sampel

Absorbansi
Ulangan Volume
(ml) 1 2
1 0 0 0
2 0,1 0,162 0,156
3 0,15 0,223 0,23
4 0,2 0,342 0,396
5 0 0 0
6 0,1 0,247 0,246
7 0,15 0,34 0,342
8 0,2 0,442 0,464

4.1.4 Kadar Lemak

Ulangan Berat sampel (g) Berat labu lemak Berat labu lemak dan
kosong (g) ekstrak lemak kering (g)

1 5,0789 33,8348 34,0627


2 5,0375 32,2012 32,4135
3 5,077 34,7571 35,6962
4 5,0662 32,2330 32,9787
5 5,0942 34,7724 35,0734
6 5,0424 32,2368 32,5227
7 5,0539 33,8408 34,0129
8 5,0182 33,6141 33,8948
4.1.5 Kadar Protein
Ulangan Berat sampel (mg) Titrasi sampel Titrasi blanko
(mL) (mL)
1 540 27,5 0,5
2 533,6 27,3 0,5
3 510 26 0,5
4 516,7 25 0,5
5 596 31,3 0,2
6 502,4 22,4 0,2
7 529,5 26,4 0,2
8 591,6 31,2 0,2

4.1.6 Kadar Vitamin C


Ulangan BeratSampel Filtrat Ml Titrasi I2
(gram) (mL) (mL)
1 20 20 1,5
2 20 20 1,5
3 20 20 1,4
4 20 20 1,4
5 20 20 1,2
6 20 20 1,8
7 20 20 1,3
8 20 20 2,0
4.2 HASIL PERHITUNGAN
4.2.1 Kadar Air
Berat Berat bahan Kadar air BB
bahan setelah Kadar air BK
Ulangan
awal pengeringan (% atau (% atau g/100g)
(g) (g) g/100g)
1 5,0046 0,6986 86,04 616,37
2 5,0105 0,7322 85,34 583,37
3 5,0910 0,7322 85,60 594,35
4 5,0761 0,7716 84,80 557,87
5 5,0075 0,4230 91,55 1083,81
6 5,0866 0,9507 81,31 435,04
7 5,0109 0,8421 83,20 495,05
8 4,9963 0,7472 85,05 568,67
Rata-rata 85,36 616,82

SD 2,93 197,49

RSD 3,44 32,02


4.2.2 Kadar Abu
Ulangan Berat sampel (g) Berat Abu (g) Kadar abu BB Kadar abu BK
[D] [E] (%) (%)
[F] [G]
1 4.9982 0.0127 0.2541 1.2554
2 5.0172 0.0145 0.2890 1.4278
3 5.0077 0.0151 0.3015 1.4896
4 4.9816 0.0135 0.2710 1.3389
5 5 0.0148 0.296 1.4624
6 5 0.0152 0.304 1.502
7 5 0.0150 0.3 1.4822
8 5 0.0159 0.318 1.5711
Rata-rata 0.2917 1.4412
Standar Deviasi 0.02 0.1
Relatif Standar Deviasi 6.86 6.94
4.2.3 Kadar Gula Pereduksi
a. Kurva Standar
Ulangan Konsentrasi (x) Absorbansi (Rata-rata)

1 0 0
2 0,01 0,016
3 0,025 0,056
4 0,05 0,15
5 0,075 0,194
6 0,1 0,4065
7 0,15 0,629
8 0,2 0,789
9 0 0
10 0,01 0,0345
11 0,025 0,107
12 0,05 0,2075
13 0,075 0,3835
14 0,1 0,4495
15 0,15 0,645
16 0,2 0,824
Rata Rata 0,076 0,30566

SD 0,068 0,2426
RSD 89,383 79,37
Absorban (rata-rata kurva sampel)
Ulangan 5-8
0.5
y = 22.557x + 0.0064
0.4 R = 0.9974

0.3 Absorban (rata-rata)

0.2 Linear (Absorban (rata-


rata))
0.1

0
0 0.005 0.01 0.015 0.02 0.025

b. Sampel

Ulangan Konsentrasi (v/10) Absorban (rata-rata)

1 0 0
2 0,01 0,159
3 0,015 0,2265
4 0,02 0,37
5 0 0
6 0,01 0,2465
7 0,015 0,341
8 0,02 0,453
Rata-rata 0,01125 0,2245

SD 0,0079 0,1653
RSD 70,22 73,63
4.2.4 Kadar Lemak

Ulangan Berat lemak (g) Kadar lemak (% bb ) Kadar lemak (% bk)


1 0,2279 4,487 22,435
2 0,2123 4,214 21,07
3 0,9391 18,497 92,485
4 0,7457 14,720 73,6
5 0,301 5,908 29,54
6 0,2859 5,7 28,5
7 0,1721 3,405 17,025
8 0,2807 5,594 27,97
Rata-rata 7,815 39,078
Standar deviasi 5,584 27,923
RSD 71,452 71,454
4.2.5 Kadar Protein
Kadar Protein (bb) Kadar Protein (bk)
Ulangan %N
(%) (%)
1 0,014007 0,079840 0,399200
2 0,014070 0,080199 0,400995
3 0,014007 0,079840 0,399200
4 0,013283 0,075714 0,378570
5 0,014618 0,083323 0,416615
6 0,012379 0,070559 0,352795
7 0,013862 0,079011 0,395055
8 0,014679 0,083673 0,418365
Rata-rata 0,079020 0,395099

Standar Deviasi 0,004232853 0,021164264

RSD 5,356685337 5,356698893


4.2.6 Kadar Vitamin C
Ulangan Kadar viamin % bb Kadar vitamin % bk
1 0,033 0,55
2 0,033 0,55
3 0,031 0,52
4 0,031 0,52
5 0,026 0,43
6 0,04 0,67
7 0,029 0,48
8 0,044 0,73
Rata-rata 0,033 0,57
SD 0,006 0,098
RSD 18 17,19
BAB 5. PEMBAHASAN
5.1 Analisa Data
5.1 Kadar Air
Pada praktikum yang telah dilakukan kita menggunakan 6 kali pengulangan dengan
bahan tahu , setelah itu kita mendapatkan data yaitu kadar air berat basah paling
tinggi sebesar 91,55 % pada ulangan ke 5 dan paling rendah sebesar 81,31% pada
ulangan ke 8 kemudian untuk berat kering yang paling tinggi yaitu pada ulangan ke 5
sebesar 1083,81% dan paling rendah yaitu 435,04% . Semakin besar luas permukaan,
semakin cepat proses pengeringan.
Selain itu perbedaan yang terjadi dapat disebabkan karena pengaruh alat-
alatnya seperti timbangan analitik yang sulit stabil dan karena bahan yang digunakan
sudah terkontaminasi dengan bahan lain ketika penyimpanan atau ketika berada
dalam desikator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air terhadap produk tahu
didapat 86,04%; 85,34%; 85,6%;84,8%;91,55%;81,31%;83,2 Nilai standar deviasi
yang di peroleh yaitu 2,93 sehingga tingkat ke akurasian dari data tersebut rendah
karena nilai standar deviasi dapat dikatan baik atau ketelitiannya tinggi yaitu kurang
dari 0,5

5.1.2 Kadar Abu


Berdasarkan praktikum yang dilakukan didapatkan data pengamatan dan
perhitungan, nilai kadar abu berat basah dan berat kering tertinggi dan terendah
berturut-turut sebesar 0,3040% dan 1,5020% pada ulangan ke-5. Kadar abu berat
basah dan berat kering terendah berturut-turut sebesar 0,2541% dan 1,2554% pada
ulangan ke-1. Hal ini dikarenakan berat bahan yang digunakan berbeda. Nilai SD
untuk bahan sampel tahu dengan basis basah dan basis kering didapatkan nilai 0,02
dan 0,1. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa tahu telah sesuai dengan
literatur yaitu nilai SD kurang dari 1. Literatur dari Puspita (2015) yang menyatakan
bahwa nilai SD yang memenuhi dan dapat diterima yaitu yang memiliki nilai SD<1.
Sampel tahu yang digunakan nilai RSD untuk kadar abu basis basah 6,86%,
sedangkan untuk basis kering kadar nilai kadar abu sbebsar 6,94%.
5.1.3 Karbohidrat

Percobaan penetapan kadar gula reduksi pada praktikum kali ini dengan
menggunakan sampel buah tomat. Pengamatan ini menggunakan metode simogyi
nelson. Nelson somogyi ini bertujuan untuk mereduksi kupri oksida menjadi kupro
oksida yang mana K-Na-tartrat yang terkandung dalam reagen Nelson Somogyi
berfungsi untuk mencegah terjadinya pengendapan kupri oksida Proses pengujian
sampel dilakukan dengan 2 kali pengujian dan 8 kali pengulangan. Langkah pertama
yang harus dilakukan menyiapkan tabung reaksi dan diisi dengan larutan sampel 0,2;
0,4; 0,6; dan 1 ml. Kemudian ditambahkan 1 ml reagen Nelson untuk mereduksi
kuprioosida menjadi kuprooksida setelah itu dipanaskan pada air selama 20 menit.
kemudian didinginkan dan ditambahkan 1 ml arsenomolybdat untuk mereduksi
endapan kuprooksida menjadi molibdine blue berwarna biru. Selanjutnya menera
larutan dengan 10 ml aquades,sampai larutan tidak terlalu pekat. Setelah itu divortex
untuk menghomogenkan dan masukan ke dalam kuvet yaitu tempat untuk pembacaan
absorbansi dan tahap terakhir masukan ke spektrofotometer yaitu alat untuk
mengukur absorbansinya dengan panjang gelombang 540 nm. Pengukuran absorbansi
didasarkan pada warna biru yang dihasilkan dari proses reduksi arsenomolybdat
menjadi molybdine blue.
Berdasarkan pengamatan yang sebanyak 8 kali, dengan konsentrasi berturut-
turut 0; 0,01; 0,015; 0,02; 0; 0,01; 0,015; 0,02 nilai adsorban yang diperoleh berturut-
turut 0; 0,159; 0,2265; 0,37; 0; 0,2465; 0,341; 0,453. Sehingga didapatkan rata-rata
pada buah tomat sebesar 0,2245. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa Semakin
tinggi konsentrasi gula reduksi yang digunakan, maka semakin tinggi pula nilai
absorbansi yang dihasilkan.. Kemudian dapat diketahui nilai SD dan RSD pada tomat
sebesar 0,1653 dan 73,63%. Nilai standar deviasi yang didapatkan sudah cukup
akurat karena kurang dari 0,5 sehingga tingkat ketepatan pada saat praktikum sudah
cukup baik.
5.1.4 kadar Lemak
Pada praktikum ini dilakukan ekstraksi lemak menggunakan metode Soxhlet
dengan pelarut heksan dan petroleum ether dan sampel yang digunakan adalah tahu.
Pada ulangan 1,2,5 sampai 8 digunakan pelarut heksan sedangkan pada ulangan 3 dan
4 digunakan pelarut petroleum ether. Berdasarkan data perhitungan yang telah
diperoleh rendemen minyak yang dihasilkan pada ulangan 3 dan 4 lebih banyak yaitu
18,497% dan 14,720% dibandingkan dengan ulangan 1,2,5 sampai 8 yang
menggunakan pelarut heksan. Jenis pelarut dapat mempengaruhi jumlah rendemen
minyak yang dihasilkan pada proses ekstraksi. Selain itu, titik didih pelarut juga
sangat mempengaruhi rendemen yang dihasilkan karena pada proses ekstraksi,
ekstrak dan pelarut harus dipisahkan melalui penguapan sehingga titik didih antara
pelarut dan bahan harus berjauhan agar pelarut dan bahan tidak menguap pada waktu
yang bersamaan. Melalui perhitungan pada sampel tahu standart deviasi basis basah
dan basis kering diperoleh nilai berturut-turut sebesar 5,584 serta 27,923. Jika nilai
SD<1 maka bisa dikatakan data yang diperoleh sudah cukup akurat. Namun data
yang didapat tidak akurat karena nilai SD1. Namun pada data yang diperoleh bahwa
Hal ini disebabkan oleh keterlambatan yang terjadi pada penimbangan hasil ekstraksi.

Protein

Berdasarkan data pengamatan dan perhitungan mengenai kadar protein tahu


didapatkan bahwa rata-rata kadar protein pada sampel tahu sebesar 0,079020% (bb)
dan 0,395099% (bk). Data tersebut menunjukkan bahwa kadar protein tahu belum
sesuai dengan syarat mutu menurut SNI (1998) yaitu kadar protein tahu kedelai min
9,0% (b/b), sementara pada sampel tahu dalam praktikum ini diperoleh data kadar
protein sebesar 0,079020% (bb). Kadar protein berat basah dan berat kering diperoleh
nilai tertinggi pada ulangan ke-8 sebesar 0,083673% (bb) dan 0,418365% (bk), sebab
berat bahan yang digunakan sebagai sampel ke-8 juga yang terbesar yaitu 591,6 mg,
begitu pula sebaliknya berat bahan sampel awal yang memiliki nilai terendah maka
kadar protein berat basah dan berat kering yang dihasilkan juga akan memiliki nilai
terendah yaitu pada ulangan ke-6 dengan berat bahan sampel 502,4 mg dengan kadar
protein sebesar 0,070559% (bb) dan 0,352795% (bk).
Nilai SD pada tahu dalam bb dan bk yaitu sebesar 0,0042385 dan 0,021164. Nilai
SD berat basah dan berat kering pada bahan tidaklah jauh berbeda, sehingga nilai SD
dari tahu dapat diterima. Namun pada pengujian sampel tahu termasuk didalam
kategori tidak teliti karena %RSD yang dihasilkan melebihi angka 5. Sesuai yang
tercantum dalam AOAC (1980) adalah sebagai berikut: %RSD <1, teliti: %RSD 1,
sedang: %RSD 2-5, dan tidak teliti: %RSD >5.

5.1.5 Pembahasan vitamin

Langkah pengujian untuk sample tomat dilakukan dengan 2 kali pengenceran


yaitu masing-masing 50 mL, dan dilakukan 8 kali pengujian sehingga saat praktikum
dilakukan 8 kali titrasi. Setelah sample ditimbang dan diencerkan, selanjutnya sample
dipipet sebanyak 20 mL dan dimasukan dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan 1
mL amilum 1% sebagai indikator, setelah itu dititrasi dengan menggunakan I2 0,01
N. Proses titrasi dilakukan sampai larutan dalam erlenmeyer berubah warna menjadi
biru, warna biru yang dihasilkan merupakan iod-amilum yang menandakan bahwa
proses titrasi telah mencapai titik akhir, indikator yang dipergunakan dalam analisa
vitamin C dengan metode iodimetri adalah larutan amilum.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari percobaan ini, setelah dilakukan
sebanyak 8 kali pengulangan, ml titran yang digunakan mempunyai rata-rata 1,5 ml.
Kadar vitamin C setelah perhitungan diperoleh hasil berturut-turut 33; 33; 31; 31;
26,4; 39,6; 28,6; 44 mg/100 gr sampel. Sehingga didapat rata-rata vitamin c pada 100
gram buah tomat terkandung 33 miligram Vitamin C. Sedangkan menurut SNI kadar
vitamin c pada 100 gram tomat adalah 34 miligram. Dari data tersebut dapat
diketahui bahwa semakin kecil volume titrasi maka semakin kecil kadar vitamin C
pada bahan tersebut. Sedangkan, kadar vitamin c tertinggi diperoleh pada ulangan ke-
8 yaitu sebesar 44 mg/100 gr sampel hal ini dikarenakan memilki volume titrsi yang
paling besar. Dari data tersebut jika dihitung dalam Berat basah kemudian di hitung
rata-rata, SD dan RSD di dapatkan hasil perhitungan berturut-turut 0,033; 0,006, dan
18 .
Vitamin C memiliki sifat yang mudah rusak dan mudah larut dalam air,
sehingga mudah teroksidasi. Pada saat titrasi, warna yang diperoleh adalah pada saat
15 detik pertama. Sehingga jika lebih hasil yang diperoleh juga akan berbeda yang
dapat mempengaruhi hasil yang sesungguhnya. Hal tersebut di atas juga dapat
disebabkan oleh jenis sample (tomat) yang digunakan mungkin saja berbeda baik dari
segi jenis, varietas, tingkat keasaman, dan hal-hal lainnya yang menyebabkan
ketidaksamaan data yang didapat.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Prinsip analisis metode oven (gravimetri) yaitu bahan dipanaskan pada titik
didih air sehingga air menguap. Pengurangan berat sebelum dan sesudah
pemanasan merupakan kadar air bahan.
2. Preparasi bahan pada pengukuran kadar air adalah dengan melakukan
penghalusan untuk memperluas permukaan bahan menggunakan mortar dan alu
(penumbuk). Selama menunggu sampel untuk ditimbang berat, sampel
diletakkan pada eksikator agar RHnya stabil.
3. Pengukuran kadar air tahu harus mengerti sifat dan karasteristik bahan serta
SNI bahan. Kadar air tahu mempunyai basis basah sebesar 85,63% yang
hamper sesuai dengan SNI.
4. Analisa kadar abu pada bahan pangan dan hasil pertanian menggunakan metode
pengabuan kering dengan menggunakan panas tinggi dan oksigen. Pengabuan
dilakukan dengan tanur pada suhu 600-800C.
5. Kadar abu tahu pada basis basah 0.2917% dan basis kering 1.4412%, nilai SD
untuk basis basah adalah 0.02dan basis kering sebesar 0.1. Nilai RSD untuk
basis basah adalah 6.86% dan basis kering sebesar 6.94%
6. Prinsip analisis kadar lemak dengan metode ektraksi Soxhlet yaitu dengan
lemak atau minyak diekstraksi dengan pelarut lemak atau minyak (seperti
petroleum ether, petroleum benzene dan lain lain). Setelah pelarutnya
diuapkan lemak atau minyak dapat ditimbang dan dihitung persentasenya. Rata-
rata kadar lemak tahu pada basis basah sebesar 7,815% dan basis keringnya
adalah 39,078%
7. Prinsip kerja dari metode Kjeldahl adalah protein dan komponen organic dalam
sampel didestruksi dengan menggunakan asam sulfat dan katalis
8. Pada tahu didapatkan presentase kadar protein basis basah dan basis kering
masing masing rata-rata nilanya adalah 0,079020% untuk basis basah dan
0,395099% untuk basis kering.

4.1 Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam melakukan praktikum agar memperoleh
data yang akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Andarwulan, N. 1989. Kimia Vitamin. Jakarta :Rajawali Press

AOAC, 2005. Official Methods of Analysis. Association of Official Analytical


Chemists Washington: Benjamin Franklin Station.
Astuti. 2007. Petunjuk Praktikum Analisis Bahan Biologi.Yogyakarta: Biologi
FMIPA UNY

SNI 01-3162-1992.Syarat Mutu Tomat.Badan Standarisasi Nasional.

SNI 01-3142-1998.Syarat Mutu Tahu. Badan Standart Nasional

Buckle,K.A.,1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia Press.Jakarta.


Syarif dan Halid. 1993. Kadar Air Basis Basah dan Basis Kering.Bogor:IPB
Tabrani. 1997. Teknologi Hasil Perairan. Riau : Universitas Islam Riau

Dalimartha,S.2007. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus

Darmasih.1997.Prinsip Soxhlet.Bogor:IPB

Ester.2011.Analisis Kimia Kunatitatif Edisi Keenam.Jakarta: Erlangga

Fauzi, Mukhammad. 1994. Analisa Hasil Pangan (Teori dan Praktek). Jember: UNEJ

Guenther.E.2011.Minyak Astiri Jilid 1.Jakarta:Penerbit UI

Hamid. M, 2012. Kandungan & Manfaat Tahu. Penebar Swadaya.Jakarta: Grahmedia

Koswara, S., 2011. Nilai Gizi, Pengawetan dan pengolahan Tahu.Jakarta:Grahmedia

Lehninger.A.L, 1995.Dasar-Dasar Biokimia. Erlangga, Jakarta.

Poedjiadi, A., 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : UI-Press.


Pracaya Ir.2012.Bertanam Tomat.Jogjakarta: Penerbit Kanisiusa.
Sari,Puspita.2015.Modul AHP.Jember:FTP UNEJ

Sudarmadji, S. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Liberti

Sudarmadji, Slamet et al. 1996. Prosedur Analisis Bahan Makanan dan Pertanian.
Yogyakarta: Penerbit Liberty.

Ukatiningsih. 2010. Penentuan Karbohidrat.handout. jember: FTP UNEJ.


Winarno F.G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi.jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Winarno, F.G., 1994. Bahan Tambahan Makanan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Winarno, F.G., 1994. Bahan Tambahan Makanan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.