Anda di halaman 1dari 10

A.

FAUNA TANAH
Fauna tanah atau hewan tanah merupakan hewan yang hidup di tanah, baik hidup pada
permukaan tanah maupun yang terdapat di dalam tanah. Beberapa fauna tanah seperti
herbivora, ia memakan tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas akarnya, tetapi juga hidup
dari tumbuh-tumbuhan yang sudah mati. Jika telah mengalami kematian, hewan-hewan
tersebut memberi masukkan bagi tumbuhan yang masih hidup, meskipun ada pula sebagai
kehidupan fauna lain (Irwan, 1992).
http://syara-fadlah.blogspot.co.id/2011/11/laporan-praktikum-ekologi-makrofauna.html
Fauna tanah merupakan salah satu komponen tanah. Kehidupan fauna tanah sangat
tergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis fauna
tanah di suatu daerah sangat ditentukan oleh keadaan daerah tersebut. Dengan kata lain,
keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis fauna tanah di suatu daerah sangat
tergantung pada faktor lingkungan, yaitu lingkungan biotik dan abiotik. Fauna tanah
merupakan bagian darai ekosistem tanah, oleh karena itu dalam mempelajari ekologi fauna
tanah faktor fisika dan faktor kimia tanah selalu diukur (Suin, 2006).
http://renny-ambar.blogspot.co.id/2012/04/makrofauna-tanah.html
Kelompok hewan tanah sangat banyak dan beraneka ragam mulai dari Protozoa,
Rotifera, Nematoda, Annelida, Mollusca, Arthropoda, hingga vertebrata. Hewan tanah
dapat pula dikelompokkan atas dasar ukuran tubuhnya, kehadirannya di tanah, habitat yang
dipilihnya, dan kegiatan makannya Berdasarkan ukuran tubuhnya hewan-hewan tersebut
dikelompokkan atas mikrofauna, mesofauna, dan makrofauna. Ukuran mikrofauna berkisar
antara 20 sampai dengan 200 mikron, mesofauna antara 200 mikron sampai dengan 1
sentimeter, dan makrofauna lebih dari 1 sentimeter ukurannya (Suin, 1989).
http://syara-fadlah.blogspot.co.id/2011/11/laporan-praktikum-ekologi-makrofauna.html
Berdasarkan kehadirannya, hewan tanah terbagi atas kelompok transien, temporer,
periodic, dan permanen. Berdasarkan habitanya, hewan tanah ada yang digolongkan
sebagai epigeon, hemiedafon, dan eudafon. Hewan epigeon hidup pada lapisan tumbuha-
tumbuhan di permukaan tanah, hemiedafon pada lapisan organic tanah, dan yang eudafon
hidup pada tanah lapisan mineral. Berdasarkan kegiatan makannya hewan tanah ada yang
bersifat herbivore, saprova, fungifora, dan predator (Suin, 1989).
http://syara-fadlah.blogspot.co.id/2011/11/laporan-praktikum-ekologi-makrofauna.html
Salah satu organisme penghuni tanah yang berperan sangat besar dalam perbaikan
kesuburan tanah adalah fauna tanah. Selain itu Suhardjono et al. (2012) menyebutkan
beberapa jenis fauna permukaan tanah dapat digunakan sebagai petunjuk (indikator)
terhadap kesuburan tanah atau keadaan tanah. Kehidupan fauna tanah sangat dipengaruhi

oleh faktor lingkungan biotik dan abiotik. Faktor lingkungan biotik adalah adanya
organisme lain yang berada di habitat yang sama, seperti mikroflora, tumbuh-tumbuhan dan
golongan fauna lainnya. Faktor lingkungan abiotik yang berpengaruh terhadap keberadaan
fauna tanah, terutama adalah pH tanah, suhu tanah, aerasi, dan kadar air tersedia (Suin
2006).
http://widrializa.blogspot.co.id/2015/11/keanekaragaman-mesofauna-dan-makrofauna.html
Faktor yang mempengaruhi aktivitas organisme tanah:
1) Iklim (curah hujan, suhu, kelembaban dll)
2) Tanah (kemasaman, kelembaban, suhu, hara dll)
3) Vegetasi (hutan, padang rumput, belukar, dll)
4) Keragaman organisme dan bobot biomassa dari organisme sangat besar
Aktivitas organisme tanah dicirikan oleh :
1) Jumlahnya dalam tanah
2) Bobot tiap unit isi atau luas tanah (biomassa)
3) Aktivitas metabolic (Biologi Tanah.http:elisa.Ugm.ac.id)
http://rinaningtyasbiology.blogspot.co.id/2011/01/i_20.html

B. MAKROFAUNA
Makrofauna tanah merupakan kelompok fauna bagian dari biodiversitas tanah
yang berukuran 2 mm sampai 20 mm (Gorny dan Leszek, 1993). Makrofauna tanah
merupakan bagian dari biodiversitas tanah yang berperan penting dalam perbaikan sifat
fisik, kimia, dan biologi. Dalam dekomposisi bahan organik, makrofauna tanah lebih
banyak berperan dalam proses fragmentasi (comminusi) serta memberikan fasilitas
lingkungan (mikrohabitat) yang lebih baik bagi proses dekomposisi lebih lanjut yang
dilakukan oleh kelompok mesofauna dan mikrofauna tanah serta berbagai jenis bakteri
dan fungi. Peran makrofauna tanah lainnya adalah dalam perombakan materi tumbuhan
dan hewan yang mati, pengangkutan materi organik dari permukaan ke dalam tanah,
perbaikan struktur tanah, dan proses pembentukan tanah. Dengan demikian makrofauna
tanah berperan aktif untuk menjaga kesuburan tanah atau kesehatan tanah (Hakim, 1986
; Adianto, 1993 ; Foth, 1994).
Organisme sebagai bioindikator kualitas tanah bersifat sensitif terhadap
perubahan, mempunyai respon spesifik dan ditemukan melimpah di dalam tanah
(Primack, 1998). Salah satu organisme tanah adalah fauna yang termasuk dalam
kelompok makrofauna tanah (ukuran > 2 mm) terdiri dari milipida, isopoda, insekta,
moluska dan cacing tanah (Wood, 1989). Makrofauna tanah sangat besar peranannya
dalam proses dekomposisi, aliran karbon, redistribusi unsur hara, siklus unsur hara,
bioturbasi dan pembentukan struktur tanah (Anderson, 1994). Biomasa cacing tanah
telah diketahui merupakan bioindikator yang baik untuk mendeteksi perubahan pH,
keberadaan molekul organik, kelembaban tanah dan kualitas humus. Rayap berperan
dalam pembentukan struktur tanah dan dekomposisi bahan organik (Anderson, 1994).
Penentuan bioindikator kualitas tanah diperlukan untuk mengetahui perubahan
dalam sistem tanah akibat pengelolaan yang berbeda. Perbedaan penggunaan lahan
akan mempengaruhi populasi dan komposisi makrofauna tanah (Lavelle, 1994).
Pengolahan tanah secara intensif, pemupukan dan penanaman secara monokultur pada
sistem pertanian konvensional dapat menyebabkan terjadinya penurunan secara nyata
biodiversitas makrofauna tanah (Crossley et al., 1992; Paoletti et al., 1992; Pankhurst,
1994).
Menurut Baker (1998), populasi, biomasa dan diversitas makrofauna tanah
dipengaruhi oleh praktek penggelolaan lahan dan penggunaannya. Sebaliknya, pada
lahan terlantar karena kualitas lahannya tergolong masih rendah menyebabkan hanya
makrofauna tanah tertentu yang mampu bertahan hidup, sehingga diversitas
makrofauna tanah baik yang aktif di permukaan tanah maupun di dalam tanah juga
sangat rendah.
Fauna tanah memerlukan persyaratan tertentu untuk menjamin kelangsungan
hidupnya. Struktur dan komposisi makrofauna tanah sangat tergantung pada kondisi
lingkungannya. Makrofauna tanah lebih menyukai keadaan lembab dan masam lemah
sampai netral (Notohadiprawiro, 1998). Hakim dkk (1986) dan Makalew (2001),
menjelaskan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi aktivitas organisme tanah
yaitu, iklim (curah hujan, suhu), tanah (kemasaman, kelembaban, suhu tanah, hara),
dan vegetasi (hutan, padang rumput) serta cahaya matahari.
Cahaya matahari merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sifat-sifat
tumbuhan dan hewan (Soetjipta, 1992). Tumbuhan dan hewan yang berbeda memiliki
kebutuhan akan cahaya, air, suhu, dan kelembapan yang berbeda (Reinjtjes et al.,1999).
Jumar (2000) menyebutkan berdasarkan responnya terhadap cahaya, makrofauna tanah
ada yang aktif pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Sugiyarto (2000) menjelaskan
bahwa kebanyakan makrofauna permukaaan tanah aktif di malam hari. Selain terkait
dengan penyesuaian proses metabolismenya, respon makrofauna tanah terhadap
intensitas cahaya matahari lebih disebabkan oleh akitivitas menghindari pemangsaan
dari predator. Dengan pergerakaannya yang umumnya lambat, maka kebanyakan jenis
makrofauna tanah aktif atau muncul ke permukaan tanah pada malam hari.
Bahan organik tanaman merupakan sumber energi utama bagi kehidupan biota
tanah, khususnya makrofauna tanah (Suin, 1997), sehingga jenis dan komposisi bahan
organik tanaman menentukan kepadatannya (Hakim dkk, 1986). Makrofauna tanah
umumnya merupakan konsumen sekunder yang tidak dapat memanfaatkan bahan
organik kasar/seresah secara langsung, melainkan yang sudah dihancurkan oleh jasad
renik tanah (Soepardi, 1983).
http://bioryzarticle.blogspot.co.id/2011/03/makro-fauna-tanah.html
Makro fauna tanah terdiri dari:
(a) hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci,
(b) cacing tanah,
(c) Arthropoda, meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah), Chilopoda
(kelabang), Diplopoda (kaki seribu), Arachnida (lebah, kutu, dan kalajengking) dan
Insekta (belalang, jangkrik, semut, dan rayap),
(d) Moluska.
http://dasar2ilmutanah.blogspot.co.id/2010/12/dasar-dasar-ilmu-tanah-21-dari-25.html
Peran Makrofauna dalam Sifat Fisik dan Kimia Tanah
Tanah dengan fungsi sebagai habitat beragam jasad hidup, banyak diantara jasad
hidup tersebut belum teridentifikasi. Berbagai spesies biota tanah tersebut bersifat peka
terhadap perubahan lingkungan, praktek pengolahan tanah serta pola tanam sehingga
kenekaragaman biota tanah (mikrofauma, mesofauna, makrofauna) dapat digunakan
sebagai petunjuk terjadinya proses degradasi atau rehabilitasi tanah (Papendick et al,
1992).
Salah satu organisme penghuni tanah yang berperan sangat besar dalam perbaikan
kesuburan tanah adalah fauna tanah. Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan
mampu berjalan dengan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna tanah.
Makrofauna tanah mempunyai peranan penting dalam dekomposisi bahan organik
tanah dalam penyediaan unsur hara. Makrofauna akan meremah-remah substansi nabati
yang mati, kemudian bahan tersebut akan dikeluarkan dalam bentuk kotoran.
Keberadaan makrofauna tanah sangat berperan dalam proses yang terjadi dalam
tanah diantaranya proses dekomposisi, aliran karbon, bioturbasi, siklus unsur hara dan
agregasi tanah. Diversitas makrofauna dapat digunakan sebagai bioindikator
ketersediaan unsur hara dalam tanah. Hal ini karena makrofauna mempunyai peran
penting dalam memperbaiki proses-proses dalam tanah. Sementara itu, setiap
organisme mempunyai niche ekologis yang spesifik, serta nilai baik ekologis,
ekonomis, atau estetika.
Diversitas makrofauna yang aktif dipermukaan tanah tidak menunjukkan adanya
hubungan yang nyata dengan parameter ketersediaan unsur hara. Sebaliknya terdapat
hubungan yang nyata antara diversitas makrofauana dalam tanah dengan beberapa sifat
tanah (N total, porositas, dan air tersedia). Tidak adanya hubungan antara diversitas
makrofauna yang aktif di permukaan tanah dengan parameter ketersediaan unsur hara
tanah diduga karena makrofauna yang aktif merupakan fauna asli (natrics) tetapi
makrofauna yang keberadaannya sesaat untuk mencari sumber makanan (fauna exotics)
(Maftuah dkk, 2001). Makrofauna yang dapat mempengaruhi sifat fisika tanah
diantaranya adalah: semut, rayap, jangkrik dan cacing tanah.
Semut hewan tanah yang berperan penting dalam perombakan bahan organik.
Semut memakan sisa-sisa organisme yang mati dan membusuk. Pada umumnya
perombakan bahan-bahan organik dalam saluran pencernaan dibantu oleh berbagai
enzim pencernaan yang dihasilkan oleh mesenteron dan organisme yang secara tetap
bersimbiosis dengan pencernaannya.
Semut merupakan makrofauna yang mempunyai peran sebagai pendekomposer
bahan organik, predator, dan hama tanaman. Semut juga dapat berperan
sebagaiecosystem engineers yang berperan dalam memperbaiki struktur tanah dan
aerasi tanah. Kelimpahan semut yang tertinggi biasanya terdapat pada lapisan seresah
lebih tinggi. Hal ini dikarenakan semut lebih menyukai tanah dengan bahan organik
yang tinggi dibandingkan dengan bahan organik yang rendah.
Petal (1998) menyatakan bahwa koloni semut dapat menurunkan berat isi tanah
sampai 21-30 % dan kelembaban tanah 2-17 %, serta meningkatkan mikroflora dan
aktivitas enzim tanah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pada sarang semut mempunyai
kandungan bahan organik dengan kandungan N total lebih tinggi dibandingkan tanah
disekitarnya. Akumulasi bahan organik dari sisa makanan dan metabolisme akan
meningkatkan aktivitas mikroorganisme dan enzim tanah sehingga pergerakannya akan
mempengaruhi struktur dan aerasi tanah.
Kelimpahan rayap juga dapat dipengaruhi oleh kandungan N total tanah dan
kelembaban tanah. Rayap merupakan serangga yang hidupnya berkelompok dengan
perkembangan kasta yang telah diketahui dengan baik kasta reproduktif (ratu)
mempunyai tugas menghasilkan telur dan makannya dilayani oleh rayap pekerja. Rayap
merupakan makrofauna tanah yang penting peranannya pada pembentukan struktur
tanah dan pendekomposisian bahan organik serta ketersediaan unsur hara.
Kelimpahan cacing tanah dipengaruhi oleh bahan organik,dengan meningkatnya
bahan organik maka meningkat pula populasi cacing tanah (Minnich, 1977). Disekitar
liang cacing tanah kaya akan N total dan C organik. Cacing tanah jenis pontoscolex
corethrurus mempunyai kemampuan untuk mencerna bahan organik kasar dan mineral
tanah halus (Barois dan Ptron, 1994 dalam Lavelle et all, 1998). Cacing tanah memakan
kotoran-kotoran dari mesofauna di permukaan tanah yang hasil akhirnya akan
dikeluarkan dalam bentuk feses atau kotoran juga yang berperan paling penting dalam
meningkatkan kadar biomass dan kesuburan tanah lapisan atas. Cacing tanah
merupakan makrofauana yang berperan dalam pendekomposer bahan organik,
penghasil bahan organik dari kotorannya, memperbaiki struktur dan aerasi tanah.
Kotoran (feses) cacing tanah mengandung banyak bahan organik yang tinggi,
berupa N total dan nitrat, Ca dan Mg yang bertukar, pH, dan % kejenuhan basa dan
kemampuan penukaran basa. Disini membuktikan bahwa cacing tanah berpengaruh
\baik terhadap produktivitas tanah. Karena cacing tanah dalam sifat kimia tanahnya
berperan menghasilkan bahan organik, kemampuan dalam pertukaran kation, unsur P
dan K yang tersedia akan meningkat.
Aktivitas dari makrofauna dapat mempengaruhi struktur tanah sehingga dapat
memperbaiki porositas tanah. Makrofauana seperti rayap, semut dan cacing tanah dapat
berperan sebagai ecosystem engineers. Makrofauna tersebut dapat menerima makanan
dari tanaman dan akan kembali mempengaruhi tanaman melalui perubahan sifat fisik
(Lavelle, 1994; Brusaard, 1994).
https://fitri05.wordpress.com/2011/01/24/peran-makrofauan-dan-mikrofauna-dalam-sifat-
fisik-dan-kimia-tanah/

C. MESOFAUNA
Meso fauna adalah semua hewan tanah yang berukuran lebih kecil berkisar
antara 0,2 mm s/d 10 mm, sehingga dapat dilihat jelas dengan bantuan kaca pembesar.
Makro fauna tanah terdiri dari: Enchytraeida, Protura, Diplura, Paraupoda, tungau-
tungau tanah (Acarina) dan springtail (Collembola). Sedangkan mikro fauna adalah
hewan tanah yang berukuran sangat kecil yaitu kurang dari 0,2 mm.
http://www.pintarbiologi.com/2016/03/pengenalan-mesofauna-makrofauna-dan-
mikoriza.html

1). Acari

Acari merupakan salah satu dari sejumlah besar kelompok arthropoda yang
jumlahnya melebihi dari arthropoda lain dengan kata lain yang paling besar jumlahnya.
Acari memiliki panjang tubuh antara 0,1-2 mm dan tubuh berbentuk bulat telur. Tubuh
bulat atau sedikit memanjang dengan 4 pasang kaki .Distribusi Acari melimpah di
seluruh dunia, bahkan melebihi Collembola.Kelompok Acari yang sering dijumpai di
tanah yaitu Oribatida, Prostigmata, Mesostigmata dan Astigmata.Oribatida merupakan
kelompok saprophagus. Sedangkan mesostigmata merupakan kelompok Acari yang
hampir seluruh anggotanya merupakan predator bagi fauna lain yang berukuran kecil.
Kelompok hewan ini secara langsung berperan dalam proses dekomposisi bahan
organik dan dapat mempercepat proses penghancuran bahan organik.

2). Collembola

Collembola termasuk ke dalam kelas Insecta, jumlahnya cukup banyak dan


penyebarannya cukup luas.Collembola dikenal juga dengan istilah Springtails (ekor
pegas) karena mempunyai struktur bercabang (furka) pada bagian ventral ruas abdomen
keempat. Saat istirahat furka terlipat ke depan dan dijepit oleh gigi retinakulum.
Retinakulum atau tenakulum merupakan embelan berbentuk capit yang terdapat pada
bagian ventral abdomen ketiga.

3). Protura

Protura merupakan heksapoda kecil berwarna keputih-putihan, panjang 0,6-1,5


mm. Heksapoda ini hidup dalam tanah yang lembab , di bawah kulit kayu dan kayu
yang membusuk. Memakan bahan organik yang membusuk dan spora fungi.
Mesofauna ini jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan mikroarthropoda lain yang
dapat dijumpai pada akar tanaman dan serasah. Jumlahnya dilaporkan mencapai 1000
dan 7000 per meter persegi.

4). Diplura
Diplura memiliki tubuh yang kecil, bentuk elongate, lunak dan merupakan
insekta primitif. Heksapoda ini mempunyai panjang tubuh kurang dari 7 mm, terdapat
stili pada ruas-ruas abdomen 1-7 atau 2-7 dan biasanya berwarna pucat. Hidup pada
tempat lembab di dalam tanah, di bawah kulit kayu, di bawah batu-batuan, kayu yang
membusuk serta di tempat lembab yang serupa.

5). Pauropoda

Pauropoda mempunyai panjang tubuhnya 1-1,5 mm, berwarna keputih-putihan


serta lebih kecil dari miriapoda. Mempunyai 9 pasan kaki yang berfungsi, antenna
bercabang dan tubuh dengan 12 segmen.Hidup di tanah dan serasah. Sedangkan
symphyla ukuran tubuhnya 1-8 mm, panjang, antena tidak bercabang, kaki 7-12 pasang,
tubuh terdiri atas 15-22 pasang dan berwarna putih. Hidup pada tanah dan serasah.

http://jokowarino.id/jenis-dan-macam-mesofauna-tanah/

D. KEANEKARGAMAN MESOFAUNA DAN MAKROFAUNA TANAH


Diversitas fauna tanah yang aktif dalam tanah, di musim hujan maupun kemarau
berhubungan erat dengan pH, C-organik dan kadar air tanah gambut. Keanekaragaman
fauna tanah meningkat dengan meningkatnya pH tanah. pH tanah menentukan
komposisi dan jenis fauna. Hubungan dengan C-organik tanah, semakin meningkatnya
kandungan C-organik pada tanah gambut justru menurunkan diversitas fauna tanah
yang aktif dalam tanah. Ini menunjukkan bahwa semakin matang dekomposisi gambut
semakin meningkat diversitas fauna tanah yang aktif dalam tanah (Suin 2006).
Hubungan diversitas fauna tanah dengan kadar air tanah menunjukkan bahwa
semakin tinggi kadar air semakin rendah diversitas fauna tanah. Hal ini erat kaitannya
dengan tingkat dekomposisi bahan organik pada tanah gambut. Menurut Maftuah et
al. (2005), bahan organik dengan kadar air tinggi merupakan bahan organik yang belum
terdekomposisi lama (belum matang). Hal ini didukung pula oleh Rasmadi dan Kurnain
(2004), bahwa gambut yang kurang matang mampu menahan air lebih besar
dibandingkan gambut yang telah matang.
Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu berjalan dengan cepat bila
tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna tanah (Rahmawaty 2004). Makrofauna tanah
mempunyai peranan penting dalam dekomposisi bahan organik tanah dan penyediaan
unsur hara baik itu yang berada di atas maupun di dalam tanah. Makrofauna akan
merombak substansi nabati yang mati, kemudian bahan tersebut akan dikeluarkan
dalam bentuk kotoran. Makrofauna di atas permukaan tanah sepert kutu (Arachnida)
yang berperan dalam penghancuran dan perombakan bahan organik, kemudian
translokasinya ke lapisan tanah bawah. Sedangkan untuk makrofauna tanah di dalam
tanah contohnya adalah cacing tanah yang berperan dalam (1) pencernaan tanah,
perombakan bahan organik, dan pengadukannya dengan tanah, (2) penggalian tanah
dan transportasi tanah bawah ke atas atau sebaliknya, (3) membantu pembentukan
agregat tanah, perbaikan aerasi dan drainase, dan memperbaiki daya tahan tanah
memegang air (Hanafiah et al. 2005).
Berdasarkan Hamidah (2004) menyatakan bahwa besarnya diversitas
makrofauna berbeda-beda tergantung dengan jenis penggunaan lahannya. Nilai indeks
diversitas makrofauna tanah berturut-turut tinggi ke rendah adalah hutan alami (0.624),
hutan pinus (0.594), kebun cengkeh (0.411), dan tegalan (0.184). Pengurangan
diversitas ini terjadi karena pengurangan diversitas tanaman dapat mengurangi
diversitas sumber makanan dan perlindungan bagi makrofauna tanah, sehingga
makrofauna tanah juga mengalami penurunan. Hutan alami mempunyai diversitas
makrofauna yang paling besar diantara yang lain, hal ini dikarenakan sumbangan
seresah ke tanah mempunyai keanekaragaman tinggi dan diikuti oleh peningkatan
bahan organik yang tinggi pula.
Arief (2001) menyebutkan bahwa terdapat suatu peningkatan nyata pada siklus
hara, terutama nitrogen pada lahan-lahan yang ditambahkan mesofauna tanah sebesar
20%-50%. Meskipun mesofauna tanah sebagai penghasil senyawa-senyawa organik
tanah dalam ekosistem tanah, namun bukan berarti berfungsi sebagai subsistem
produsen. Tetapi, peranan ini merupakan nilai tambah dari mesofauna sebagai
subsistem konsumen dan subsistem dekomposisi. Sebagai subsistem dekomposisi,
mesofauna sebagai organisme perombak awal bahan makanan, serasah, dan bahan
organik lainnya (seperti kayu dan akar) mengkonsumsi bahan-bahan tersebut dengan
cara melumatkan dan mengunyah bahan-bahan tersebut. Mesofauna tanah akan
merombak bahan dan mencampurkan dengan sisa-sisa bahan organik lainnya, sehingga
menjadi fragmen berukuran kecil yang siap untuk didekomposisi oleh mikroba tanah.
http://widrializa.blogspot.co.id/2015/11/keanekaragaman-mesofauna-dan-makrofauna.html

E. SIMBIOSIS MIKROBIA - FAUNA TANAH


Banyak mikrobia yang telah diketahui dapat hidup secara bersimbiosi dengan
fauna(hewan) tanah yang berada dalam fase larva, seperti Coleopptera, Diptera dan
Hymenoptera. Hubungan ini khususnyayang bersifat permanen, umumnya
terbentuk bersama dengan fauna penghuni humus yang kurang mampu merombak
sampah dedaunan yang terdapat di permukaan tanah. Hubungan ini dapat terjadi
sebagian akibat kurangnya nutrisi dalam humus yang tersedia bagi fauna, sedangkan
mikrobia simbiosisnya mampu mensintesis hara esensial yang tidak tersedia dalam
tanah. Sebagai contoh, konsekuensi adanya hubungan ini, apabila khamir dikeluarkan
dari usus atau sel usus sejenis kumbang, maka fauna akan tumbuh merana hingga
vitamin B dan sterol khamir ditambahkan ke dalam ransum makanannya. Beberapa
bakteri usus mempunyai kemampuan untuk mencerna selulosa dan khitin , dan hasil
perombakannya dapat digunakan oleh fauna inangnya. Adanya mikrobia usus yang
memiliki enzim yang lebih potensial daripada fauna inangnya sudah diketahui lama,
tetapi karena sebagian besar fauna ini berukuran mikro (Kemas, A , 2005).
http://hutdopi08.blogspot.co.id/2012/10/makrofauna-dan-mikrofauna.html