Anda di halaman 1dari 5

Usia

Insiden osteoarthritis meningat tanpa batas seiring dengan bertambahnya usia oleh karena
proses patologisnya, yang bersifat menetap. Walau begitu, osteoarthritis bukan merupakan
kosenkuensi langsung yang tidak dapat dicegah dari proses penuaan. Seperti yang telah diketahui
banyak faktor terjadinya osteoarthritis, dan usia merupakan salah satu faktor resiko tersebut.
Proses penuaan pada kartlago artikularis yang mungkin berpengaruh terhadap terjadinya
osteoarthritis di antaranya adalah melembutnya serta terurainya permukaan sendi articular,
berkurangnya ukuran serta agregasi dari molekul aggregan proteoglikan, dan hilangnya
kekakuan serta gaya rengang matriks (Martin J, 2002).

Secara teori terlihat jelas bahwa usia merupakan faktor resiko yang memiliki pengaruh
besar terhadap terjadinya osteoarthritis genu. Secara tidak langsung, hal ini juga membuktikan
bahwa variabel usia memiliki nilai prediksi yang baik dalam menentukan kemungkinan kejadian
osteoarthritis genu pada seseorang (Chapple CM, 2011).

Osteoarthritis jarang ditemukan pada usia < 40 tahun, namum sering pada usia diatas 60
tahun (Soeroso, 2006). Penelitian yang dilakukan pada populasi Amerika menunjukan angka
prevalensi sebesar 7,6% pada usia 18-44 tahun, 29,8% pada usia 45-65 tahun, dan 50% pada usia
>65 tahun (Li I dkk, 2013). Adapun, Data WHO menunjukan bahwa laki-laki lebih banyak
terserang pada usia <45 tahun, sementara wanita lebih banyak terserang pada usia >55 tahun
(Symmons, 2000)

Jenis Kelamin

Data dari Australia menunjukan bahwa insiden osteoarthritis pada wanita di Australia
lebih tinggi dibanding dengan pria (2,95 per 1000 populasi vs 1,71 per 1000) (Symmons, 200).
Selain itu, menurut Rotterdam Study-I, jenis kelamin wanita memiliki OR (odds Ratio) sebesar
2,13 terhadap kejadian osteoarthritis genu dengan CI (Confidence Internal) sebesar 95%
(Kerkholf dkk, 2013). Kedua hal tersebut cukup menunjukan bahwa jenis kelamin perempuan
memiliki nilai yang baik terhadap terjadinya osteoarthritis genu.
Indeks Massa Tubuh

Data prevalensi status gizi penduduk dewasa yang dipublikasikan oleh Kementrian
Kesehatan menunjukan adanya peningkatkan kejadian obesitas pada tahun 2013 sebesar 18,1%
dan terjadi peningkatan dibanding tahun 2007-2010, dimana prevalensi kejadian obesitas pada
tahun 2007 adaalah sebsar 10,3% sementara pada tahun 2010 adalah 11,7%. Patut dicatat bahwa
terjadi pergeseran difinisi batas minimal dewasa di antara kedua tahun tersebut, dimana pada
dewasa per definisi Kementrian Kesehatan tahun 2007 adalah usia > 15 tahun, sementara pada
tahun 2010 sampai 2013 adalah usia >18 tahun. Hal ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan
angka kejadian obesitas yang cukup signifikan dalam tiga tahun tersebut (Kementrian Kesehatan
RI, 2012).

Telah banyak penelitian yang mencari hubungan antara obesitas dengan kejadian
arthritis. Salah satunya adalah penelitian bersifat longitudinal oleh Taichtahl et al, selama 10
tahun pada usia 50 70 tahun di Australia, yang menemukan bahwa obesitas berhubungan
dengan kerusakan kartilago patella (Teichtahl AJ, 2008). Penelitian lain yang mendukung adalah
Grotle et al yang menemukan bahwa obesitas merupakan determinan kuat terhadap kejadian
osteoarthritis pada lutut dengan nilai obesitas dalam hal ini adalah IMT > 30. Pada sampel
masyarakat Norwegia berusia 24 76 tahun, memiliki hubungan yang signifikan dengan
osteoarthritis pada lutut dengan OR (Oods Ratio) sebesar 2,8 (Grotle M, 2008). Di Indonesia
sendiri, melalui data Riskesdas tahun 2007, ditemukan bahwa untuk setiap peningkatan berat
badan sebesar kg, tekanan lutut meningkat sebesar 1 - 1 kg. Peningkatan berat badan sebesar
1 kg meningkatkan risiko terjadinya osteoarthritis sebesar 10%. Bagi orang yang obesitas, setiap
pengurangan berat walau hanya 5 kg akan menurunkan risiko sebanyak 50% (Nainggolan, 2009).

Indeks Lequesne

Perkembangan Indeks lequesne

Lequesne pada tahun 1987 mengajukan kuesioner indeks algofungsional/ indeks


Lequesne untuk sendi lutut dan panggul yang mencerminkan rasa nyeri dan status fungsional
dalam kehidupan sehari-hari. Dengan indeks ini OA dibedakan menjadi ringan (skor 1-4), sedang
(skor 5-7), berat (skor 8-10), sangat berat (skor 11-13), dan amat sangat berat (skor > 14).

Indeks ini oleh Lequesne et al telah diteliti validasinya dan ternyata reproduksibilitasnya
cukup baik. Dibanding indeks lainnya, indeks lequesne mempunyaki kelebihan diantaranya
mudah dan cepat digunakan untuk menilai hasil terapi tanpa bukti objektif dan dapat untuk
mengikuti perjalanan OA dalam jangka waktu yang lama (Kertia N, 2003).

Untuk menilai kondisi penderita OA adalah sangat penting dalam sehari-hari terutama untuk
menentukan apakan total hip/ knee replacement (TH/KR). Pada penelitian yang dilakukan oleh
Diass RC, JM, Ramos LR melalukan penelitian randomized controlled clinical trial terhadap 50
subjek usia lanjut yaitu usia >65 tahun dengan OA lutut. Perubahan dalam derajat nyeri dan
kualitas hidup dibandingkan antara kelompok control dan eksperimen. Pada penelitan ini, Diazz
dkk mendapatkan bahwa pada kelompok kontrol, pengukuran kualitas hidup dengan Short Form-
36, Health Assesment Questionnaire (HAQ) dan Indeks Lequesne setelah 3 bulan tidak
menunjukan perbedaan yang bermakna secara statistik. Sedangkan kelompok eksperimen,
terdapat perbaikan fungsi yang bermakna yang diukur dengan HAQ, dan berkurangnya derajat
keparahan OA lutut yang di ukur dengan Indeks Lequesne, juga terdapat perbaikan bermakna
sesuai dengan SF-36. (Dias RC, 2003).

Toda, Tsukimura Kato meneliti 62 penderita rawat jalan perempuan dengan OA lutut
yang dikelompokan secara acak dalam 3 kelompok. Subjek memakai laterally wadged insole
dengan subtalar strapping dengan elevasi 8, 12 atau 16 mm selama 2 minggu. Foto rontgen
berdiri digunakan untuk analisa sudut femororbital untuk setiap subjek penelitian, dengan dan
tanpa insole unilateral secara berturut-turut . Pada bagian kesimpulan dinilai skor remisi dari
indeks Lequesne untuk derajat keparahan OA lutut dibandingkan ketiga kelompok (Toda Y,
2004).

Indeks Lequesne telah digunakan sebagai instrumen untuk menilai perkembangan terapi
seperti yang dilakukan oleh Tulaar dalam penelitian pada 29 perempuan dengan OA lutut derajat
2 dan 3 yang diberikan program latihan isometrik isotonik otot kuadtrisep, dengan beban 60%
dari 3 RM pada rentang gerak lutut 90 derajat 30 derajat fleksi, ditahan pada posisi 30 derajat
fleksi selama 6 detik dan dilakukan sampai 3 kali seminggu dalam 6 bulan (Tullar ABM, 2004).
Ketidakmampuan (disability), baik secara langsung ataupun tidak dapat mempengaruhi
kehidupan setiap orang yang ada di negara ini. Ketidakmampuan yang disebabkan oleh
osteoarthritis genu terjadi dengan adanya rasa nyeri pada genu (lutut) sebagai gejala utama yang
menuntun pasien datang untuk berkonsultasi dengan dokter. Nyeri pada lutut yang disebabkan
oleh osteoarthritis merupakan salah satu penyebab utama terjadinya ketidakmampuan pada lansia
(Fransen M, 2011).

Penelitian di inggris menunjukan bahwa 10% hingga 13% laki-laki dan wanita usia >65 tahun
memiliki gejala osteoarthritis pada lutut ( Nevit MC, 2002). Di Indonesia sendiri, angka yang
lebih tinggi ditemukan pada kelompok usia lebih muda. Osteoarhritis genu ditemukan 15,5% pria
dan 12,7% wanita di Indonesia dengan prevalensi secara umum mencapai 5% pada usia <40
tahun, 30% pada usia 40 50 tahun, dan 65% pada usia >61tahun (Soeroso, 2006). Penelitian
yang dilakukan untuk mengetahui efek nyeri terhadap kualitas hidup pasien osteoarthritis lutut di
Korea lebih buruk pada lansia >50 tahun yang mengalami nyeri (Kim IJ, 2011). Oleh karena itu,
dapat disimpulkan bahwa gejala nyeri lutut berhubungan dengan rendahnya kualitas hidup dan
buruknya fungsi fisik pasien yang secara berkaitan dengan ketidakmampuan dan disfungsi pasien
dalam menjalani kehidupan dalam komunitas.

Walau tidak fatal, ketidakmampuan mungkin terjadi patut diwaspadai. Hasil penelitian terhadap
peserta NHANES (National Health and Nutrition Examination Survey), yang dipublikasikan
pada tahun 2011 oleh American Collage of Physican, menunjukan bahwa prevalensi nyeri lutut
akibat osteoarthritis meningkay 65% dalam waktu 20 tahun terakhir (antara tahun 1971-2004)
(Nguyen U, 2011). Dari penelitian tesebut, dapat terjadi peningkatan angka ketidakmampuan
seiring dengan meningkatnya prevalensi nyeri lutut. Menurunkan angka ketidakmampuan berarti
kejadian yang memicu terjadinya ketidakmampuan tersebut, dalam hal ini berarti menekan
kejadian osteoarthritis lutut.

Osteoarthritis sendiri merupakan sebuah fenomena dinamis. Osteoarthritis disebabkan semata-


mata oleh proses degenerative merupakan sebuah anggapan yang tidak tepat. Osteoarthritis
mungkin merupakan kombinasi beberapa etiologi. Namun, Solomon menyatakan bahwa, pada
kebanyakan kasus penyebab terjadinya osteoarthritis adalah stress mekanik yang menerpa
beberapa bagian dari permukaan sendi articular (Solomon L, 2010). Selain terjadi oleh karena
meningkatnya gaya menahan berat tubuh seiring dengan IMT (Indeks Massa Tubuh) hingga
melewati batas normal, stress mekanik juga terjadi. Walau begitu, IMT yang berlebihan tidak
termasuk dalam faktor biomekanis, tetapi dikategorikan sebagai faktor predisposisi pada
kejadian osteoarthritis.

Faktor-faktor risiko yang digolongkan sebagai faktor biomekanik terjadinya osteoarthritis


genu menurut Arthritis Research Campaign adalah riwayat trauma pada genu, kelainan anatomis
(kelainan sendi kongenital), dan aktivitas fisik (Dickson DJ, 2005). Sementara itu, faktor-faktor
predisposisi lain selain IMT yang kerao dnilai berpengaruh pada kejadian osteoatritis adalah
usia, jenis kelamin dan genetik. Masih sedikit penelitian di Indonesia yang membahas mengenai
osteoartitis genu dan faktor-faktor risiko terkait. Oleh karena itu, diharapkan penelitian ini dapat
mengidentifikasi dan mendeskripsikan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, serta IMT sebagai
faktor predisposisi terjadinya osteoartitis genu pada populasi di Indonesia, dengan populasi
terjangkau yaitu pasien poklinik penyakit dalam di Rumah sakit Muhammadiyah Palembang.