Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN

KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


GANGGUAN KEBUTUHAN ELIMINASI FEKAL
(BOWEL ELIMINATION)

Oleh :

Dewa Gede Sastra Ananta Wijaya (P07120214005)


D-IV Keperawatan Tingkat I

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
TAHUN AJARAN 2014/2015
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN
ELIMINASI FEKAL (BOWEL ELIMINATION)

A. Pengertian

Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh.


Pembuangan dapat melalui urine ataupun bowel (Tarwoto Wartonah Edisi 3).
Eliminasi fekal atau defekasi merupakan proses pembuangan sisa
metabolisme yang tidak terpakai. Eliminasi yang teratur penting untuk fungsi
tubuh normal. Perubahan pada defekasi dapat menyebabkan masalah pada GI
dan bagian tubuh lain, karena sisa-sisa produk adalah racun. Pola defekasi
bersifat individual, bervariasi dari beberapa kali sehari sampai berapa kali
seminggu. Jumlah feses yang dikeluarkanpun bervariasi jumlahnya tiap
individu.
Eliminasi produk sisa pencernaan yang teratur merupakan aspek yang
penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi dapat menyebabkan
masalah pada system gastrointestinal dan system tubuh lainya. Karena fungsi
usus bergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola dan kebiasaan
eliminasi bervariasi di antara individu. Namun, telah terbukti bahwa
pengeluaran feses yang sering, dalam jumlah besar dan karakteristiknya
normal biasanya berbanding lurus dengan rendahnya insiden kanker
kolorektal (Robinson dan Weigley,1989 dalam Potter & Perry Edisi 4)
Masalah masalaheliminasifekal :
1. Konstipasi
Konstipasiadalahdefekasikurangdaritiga kali per
minggu.PengeluaranInimenunjukkanpengeluaranfeses yang kering,
kerasatautanpapengeluaranfeses. Konstipasiterjadijikapergerakanfeses di
ususbesarberjalanlambat,
sehinggamemungkinkanbertambahnyawaktureabsorpsicairan di
ususbesar.Konstipasimengakibatkansulitnyapengeluaranfesesdanbertamb
ahnyaupayaataupenekananotot-ototvolunterdefekasi. (Kozier, 2010)
2. Diare
Diaremerujukpadapengeluaranfesesencerdanpeningkatanfrekuensidefekas
i.Diaremerupakankondisi yang
berlawanandengankonstipasidanterjadiakibatcepatnyapergerakanisifekal
di
ususbesar.Cepatnyapergerakankimemengurangiwaktuusubesaruntukmeny
erapkembali air danelektrolit. (Kozier,2010)

B. Faktor-faktor yang Memengaruhi Proses Defekasi


1. Usia
Pada usia bayi kontrol defekasi belum berkembang, sedangkan pada usia
lanjut kontrol defekasi menurun.
2. Diet
Makanan berserat akan mempercepat produksi feses, banyaknya makanan
yang masuk ke dalam tubuh juga memengaruhi proses defekasi.
3. Intake Cairan
Intake cairan yang kurang akan menyebabkan feses menjadi lebih keras,
disebabkan karena absorpsi cairan yang meningkat.
4. Aktifitas
Tonus otot abdomen, pelvis, dan diagfragma akan sangat membantu
proses defekasi. Gerakan peristaltik akan memudahkan bahan feses
bergerak sepanjang kolon
5. Fisiologis
Keadaan cemas, takut dan marah akan meningkatkan peristaltik, sehingga
menyebabkan diare
6. Pengobatan
Beberapa jenis obat dapat mengakibatkan diare dan konstipasi.
7. Gaya Hidup
Kebiasaan untuk melatih pola buang air besar sejak kecil secara teratur,
fasilitas buang air besar, dan kebiasaan membuang air besar.
8. Prosedur Diagnostik
Klien yang akan dilakukan prosedur diagnostik biasanya dipuasakan atau
dilakukan klisma dahulu agar tidak dapat buang air besar kecuali setelah
makan
9. Penyakit
Beberapa penyakit pencernaan dapat menimbulkan diare dan konstipasi
10. Anestesi dan Pembedahan
Anestesi umum dapat menghalangi inpuls parasimpatis, sehingga kadang-
kadang dapat menyebabkan ileus usus. Kondisi ini dapat berlangsung
selama 24 48 jam.
11. Nyeri
Pengalaman nyeri waktu buang air besar seperti adanya hemoroid, fraktus
os pubis, episiotomy akan mengurangi keinginan untuk buang air besar.
12. Kerusakan Sensorik dan Motorik
Kerusakan spinal cord dan injuri kepala akan menimbulkan penurunan
stimulus sensori untuk defekasi.
C. MANISFESTASI KLINIS (GEJALA KLINIS)
1. Gejala klinis Konstipasi
a. Data mayor (harus terdapat)
Nyeri pada saat defekasi
Feses keras dan berbentuk
Kesulitan dalam defekasi
Defekasi dilakukan kurang dari tiga kali seminggu
b. Data minor ( mungkin terdapat)
Mengenjan pada saat defekasi
Darah merah pada feses
Massa rektal yang dapat diraba
Mengeluh rektal terasa penuh
Bising usus
2. Persepsi Konstipasi
Data mayor :
Harapan untuk dapat defekasi setiap hari yang menyebabkan
penggunaan laksatif,enema, dan suposutoria yang berlebihan
Berharap feses keluar pada waktu yang sama setiap hari

3. Diare
a. Data mayor ( harus terdapat)
Pengeluaran feses yang cairataulunak dan tidak berbentuk
Peningkatan frekuensi defekasi (lebih dari tiga kali sehari )
Ketidakmampuan mengontrol keluarnya feses
b. Data minor ( mungkin terdapat )
Urgensi Kebelet
Kram/nyeri abdomen
Frekuensi bising usus meningkat
Keenceran atau volume feses meningkat
D. PATOFISIOLOGI
1. Gangguan Eliminasi Fekal
Diare

Faktor infeksi Faktor Faktor Faktor


malabsorpsi makanan psikologi
karbohidrat,
protein, lemak

Masuk dan Tekanan Toksin tak cemas


berkembang osmotik dapat diserap
dalam usus meningkat

Hipersekresi Pergeseran air Hiperperistalti


air dan dan elektrolit k menurun
elektrolit ke rongga usus kesempatan
(meningkat isi usus menyerap
rongga usus) makanan

DIARE
Konstipasi

Diet rendah serat, asupan cairan Penggunaan obat-obatan tertentu


kurang, kondisi psikis, kondisi (seperti, gol. Opiat)dan
metabolik, dan penyakit yang di derita mengandung AL dan Ca

Absorbsi cairan dan elektrolit Memperpanjang waktu transit di kolon

Memperpanjang waktu transit di kolon Memberi efek pada segmen usus


karena absorbsi terus berlangsung

Feses mengeras Kontraksi tidak mendorong

Gangguan defekasi
KONSTIPASI

Rangsangan refleks
penyebab rekto anal

Relaksasi sfingter interna


dan eksterna

Membran Tekanan intra abdomen


mukorektal dan meningkat
muskulatur tidak
peka terhadap
rangsangan fekal
Diperlukan
rangsangan yang
lebih kuat untuk
mendorong feses
Spasme setelah
makan nyeri kolik
pada abdomen bawah
Kolon kehilangan tonus Tidak responsif terhadap KONSTIPASI
rangsangan normal

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Anuskopi
b. Proktosigmoidoskopi
c. Rontgen dengan kontras
d. Pemeriksaan laboraturium
F. PENATALAKSANAAN MEDIS
Pemberian obat pencahar pada pasien konstipasi (sesuai dengan dosis) dan
tidak boleh diberikan terlalu sering
Pemberian Huknah/lavement
Pemberian Glyserin spuit
Melatih bowel training
Evakuasi feses (mengeluarkan feses dengan jari)
Pemasangan dan perawatan kolostomi
G. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Riwayat keperawatan
a. Pola defekasi : Frekuensi , pernah berubah
b. Perilaku defekasi: Penggunaan laksatif, cara mempertahankan pola
c. Deskripsi feses : Warna, bau, dantekstur
d. Diet : Makanan memengaruhi defekasi,makanan biasa dimakan,
makanan yang dihindari, dan pola makan yang teratur atau tidak.
e. Cairan : Jumlah dan jenis minuman/hari
f. Aktivitas :Kegiatan sehari-hari , kegiatan yang spesifik yang dilakukan
g. Penggunaan medikasi : Obat-obatan yang memengaruhi defekasi
h. Stress : stres yang berkepanjangan atau pendek, koping untuk
menghadapi atau bagaimana menerima
i. Pembedahan atau penyakit menetap
2. Pemeriksaan Fisik
a. Abdomen, pemeriksaan dilakukan pada posisi terlentang, hanya pada
bagian yang tampak saja.
1. Inspeksi. Amati abdomen untuk melihat bentuknya, simetrisitas,
adanya distensi, atau gerak peristaltik
2. Auskultasi : dengarkan bising usus, lalu perhatikan intensitas,
frekuensi dan kualitasnya.
3. Perkusi : lakukan perkusi pada abdomen untuk mengetahui adanya
distensi berupa cairan, massa, atau udara. Mulailah pada bagian
kanan atas dan seterusnya.
4. Palpasi : lakukan palpasi untuk mengetahui konstitensi abdomen
serta adanya nyeri tekan atau massa di permukaan abdomen.
b. Rektum dan anus, pemeriksaan dilakukan pada posisi litotomi atau
sims.
c. Feses, amati feses pasien dan catat konstitensi, bentuk bau, warna, dan
jumlahnya.
Karakteristik feses
Karakteristik Normal Abnormal Kemungkinan
Penyebab
Warna Orang dewasa : Seperti tanah liat Tidak ada pigmen
Coklat atau putih empedu
(obstruksi
empedu);studi
diagnostik
menggunakan
barium
Bayi : kuning Hitam atau Obat (mis : zat
seperti ter besi ); perdarahan
dari saluran
pencernaan atas
(mis: lambung
usus halus); diet
tinggi daging
merah dan
sayuran hijau tua
(mis ., bayam )
Merah Perdarahan dari
saluran
pencernaan
bawah
(mis.,rektum);
beberapa
makanan (mis.,
bit)
Pucat Malabsorpsi
lemak; diet tinggi
susu dan produk
susu serta rendah
daging
Jingga atau hijau Infeksi usus
Konsistensi Memiliki Keras, kering Dehidrasi :
bentuk, lunak, penurunan
semipadat, motilitas usus
berair yang terjadi
akibat kekurangan
serat dalam diet,
kurang olahraga,
kesedihan
emosional,
penyalahgunaan
laksatif.
Diare Peningkatan
motilitas usus
(mis., karena
iritasi kolon oleh
bakteria)
Bentuk Silindris (kontur Feses Kondisi obstruksi
rektum) dengan berdiameter pada rektum
diameter sekitar kecil, seperti
2,5 cm pada pensil, atau
orang dewasa menyerupai
benang
Jumlah Beragam sesuai
dengan diet
(sekitar 100-400
g per hari)
Bau Aroma : Berbau tajam Infeksi darah
dipengrauhi oleh
makanan yang
dimakan dan
flora bakteri
yang dimiliki
oleh orang itu
sendiri.
Kandungan Sejumlah kecil Nanah Infeksi bakteria
dari bagian Lendir Kondisi
kasar makanan Parasit peradangan
yang tidak Darah Perdarahan
tercerna, bakteri Lemak dalam gastrointestinal
mati dan sel jumlah jumlah Malabsorpsi
epitel yang banyak Tidak sengaja
meluruh, lemak, Benda asing tertelan
protein, unsur
kering dari asam
lambung (mis.,
pigmen empedu,
zat inorganik)
3. Pemeriksaan Laboratorium
1. Analisis kandungan feses : untuk mengetahui kondisi patologis seperti
: tumor, perdarahan dan infeksi.
2. Tes Guaiak : pemeriksaan darah samar di feses yang mengitung
jumlah darah mikroskopik di dalam feses.

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Nanda International diagnosa keperawatan sebagai berikut :
1. Konstipasi
A. Definisi : Penurunan pada frekuensi normal defekasi yang disertai oleh
kesulitan atau pengeluaran tidak lengkap feses dan/atau pengeluaran feses
yang keras, kering dan banyak
Batasan Karakteristik
Nyeri abdomen
Nyeri tekan abdomen dengan teraba resistensi otot
Nyeri tekan abdomen tanpa teraba resistensi otot
Anoreksia
Penampilan tidak khas pada lansia (mis : perubahan pada status
mental, inkontinensia urinarius, jatuh yang tidak penyebabnya,
peningkatan suhu tubuh)
Borborigmi
Darah merah pada feses
Perubahan pada pola defekasi
Penurunan frekuensi
Penurunan volume feses
Distensi abdomen
Rasa rektal penuh
Rasa tekanan rektal
Keletihan umum
Feses keras dan berbentuk
Sakit kepala
Bising usus hiperaktif
Bising usus hipoaktif
Peningkatan tekanan abdomen
Tidak dapat makan
Mual
Rembesan feses cair
Nyeri pada saat defekasi
Massa abdomen yang dapat diraba
Massa rektal yang dapat diraba
Adanya feses lunak, seperti pasta di dalam rektum
Perkusi abdomen pekak
Sering flatus
Mengenja pada saat defekasi
Tidak dapat mengeluarkan feses
Muntah
Faktor yang Berhubungan
Fungsional
Kelemahan otot abdomen
Kebiasaan mengabaikan dorongan defekasi
Ketidakadekuatan toileting (mis : batasan waktu, posisi untuk
defekasi, privasi)
Kurang aktivitas fisik
Kebiasaan defekasi tidak teratur
Perubahan lingkungan saat ini
B. Risiko Konstipasi
Definisi : Berisiko terhadap penurunan frekuensi normal defekasi yang
disertai dengan kesulitan atau pasase feses tidak lampias dari/atau pasase
feses yang keras,kering, dan banyak.
Faktor Risiko :
Fungsional
Kelemahan otot abdomen
Mengabaikan kebiasaan dorongan untuk defekasi
Ketidakadekuatan toileting (mis : jadwal waktu, posisi defekasi, privasi)
Kurang aktivitas fisik
Kebiasaan defekasi tidak teratur
Perubahan lingkungan baru
Psikologis
Depresi
Stres emosi
Konfusi mental
Fisiologis
Perubahan pola makan
Perubahan makanan
Penurunan motilitas traktus gastrointestinal
Dehidrasi
Ketidakadekuatan gigi geligi
Ketidakadekuatan higiene oral
Asupan serat tidak cukup
Asupan cairan tidak cukup
Kebiasaan makan buruk
Farmakologis
Antasida mengandung aluminium
Antikolinergik
Antikonvulsan
Antidepresan
Agens antilipemik
Garam bismuth
Kalsium karbonat
Penyekat saluran kalsium
Diuretik
Garam besi
Penyalahgunaan laksatif
Agens antiinflamasi nonsteroid
Opiat
Fenotiazid
Sedatif
Simpatomimetik
Mekanis
Ketidakseimbangan elektrolit
Hemoroid
Penyakit Hirschsprung
Gangguan neurologis
Obesitas
Obstruksi pasca-bedah
Kehamilan
Pembesaran prostat
Abses rektal
Fisura anal rektal
Striktur anal rektal
Prolaps rektal
Ulkus rektal
Rektokel
Tumor
2. Diare
Definisi : Pasase feses yang lunak dan tidak berbentuk.
Batasan karakteristik
a. Nyeri abdomen
b. Sedikitnya tiga kali defekasi per hari
c. Keram
d. Bising usus hiperaktif
e. Ada dorongan

Faktor yang Berhubungan


Phisikologis
a. Ansietas
b. Tingkat stress tinggi

Situasional
a. Efek samping obat
b. Penyalahgunaan alkohol
c. Kontaminan
d. Penyalahgunaan laksatif
e. Radiasi
f. Toksin
g. Melakukan perjalanan
h. Slang makan

Fisiologis
a. Proses infeksi
b. Imflamasi
c. Iritasi
d. Malabsorpsi
e. Parasit

I. PERENCANAAN :
1. Gangguan eliminasi fekal : Konstipasi dan Diare

NO Diagnosa Tindakan dan Intervensi Rasional


Keperawatan Kriteria Hasil

1 Gangguan Setelah NIC : a. Mencegah dan


pola diberikan Konstipation mengatasi
eliminasi asuhan atau impaction konstipasi
fekal : keperawatan management b. Mengetahui
konstipasi selama 2 x 24 a. Monitor penyebab dini
berhubungan jam diharapkan tanda dan terjadinya
dengan pola eliminasi gejala konstipasi
kelemahan fekal pasien konstipasi c. Meningkatkan
otot normal dengan b. Monitor pergerakan usus.
abdomen kriteria hasil : frekuensi, d. Untuk
NOC : Bowel warna, dan merangsang
elimination konsistensi. eliminasi
- Buang air c. Anjurkan defekasi pasien.
besar / BAB pada pasien e. Meningkatkan
dengan untuk makan eliminasi
konsistensi buah-buahan f. Mengurangi atau
lembek dan serat menghindari
- Pasien tinggi dengan inkontinensia
menyatakan konsultasi g. Untuk mencegah
mampu bagian gizi. perubahan pada
mengontrol d. Mobilisasi tanda vital,
pola BAB bertahap limbung atau
- Mempertahan e. Kolaborasikan perdarahan.
kan pola dengan tenaga
eliminasi medis
usus tanpa mengenai
ileus pemberian
laksatif,
enema dan
pengobatan
f. Berikan
pendidikan
kesehatan
tentang :
kebiasaan diet,
cairan dan
makanan yang
mengandung
gas, aktivitas
dan kebiasaan
BAB
g. Intruksikan
agar pasien
tidak
mengejan saat
defekasi

2 Gangguan Setelah a. Timbang berat a. Untuk


pola diberikan badan pasien mengetahui berat
eliminasi asuhan b. Ajarkan pasien badan pasien dan
fekal : diare keperawatan untuk untuk melakukan
berhubungan selama 2 x 24 menggunakan tindakan
dengan efek jam diharapkan obat antidiare selanjutnya.
samping obat feses pasien yang benar b. Agar tidak
berbentuk dan c. Instruksikan menimbulkan
lembek dengan pasien/keluarga masalah/diare
kriteria hasil : untuk mencatat yang berlanjut
NOC: warna, jumlah, c. Mengetahui
- Bowel frekuensi dan perkembangan
elimination konsistensi dari pasien tentang
- Fluid feses diarenya.
Balance d. Evaluasi d. Mengetahui
- Hydration intake makanan penyebab diare.
- Electrolyte yang masuk e. Menghindari
and Acid e. Anjurkan terjadinya diare
base Balance pasien untuk yang lebih parah.
Kriteria Hasil : menghindari f. Stres
- Feses susu, kopi, meningkatkan
berbentuk, makanan pedas, stimulus bowel.
BAB sehari dan makanan g. Mempertahankan
sekali- tiga yang status hidrasi
hari mengiritasi
- Menjaga saluran cerna.
daerah sekitar f.Ajarkan tehnik
rectal dari menurunkan
iritasi stress
- Tidak g. Kolaborasi
mengalami pemberian
diare obat
antidiare
J. REFRENSI

Carpenito-Moyet, Lynda Juall.2013.Buku Saku Diagnosa


Keperawatan.Jakarta:EGC
Potter & Perry. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 2 Edisi 4.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Tarwoto & Wartonah. (2006). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses
Keperawatan. Edisi 4. Salemba Medika. Jakarta
Kozeir Barbara. (2011). Fundamental Keperawatan volume 1, edisi 7. Jakarta.
EGC
Nanda International. (2012). Diagnosis Keperawatan 2012-2014. Jakarta. EGC