Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN

MIKROORGANISME

(Laporan Praktikum Teknologi Bioproses)

Oleh

Juniarto 1514051024

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan merupakan kegiatan penambahan semua komponen sel suatu jasad.


Definisi dari pembelahan sel merupakan hasil dari pertumbuhan sel. Dimana pada
jasad sel tunggal (uniseluler), terjadi perbanyakan sel yang akan meningkatkan
atau pertambahan total individu. Sebagai contoh, misalnya pada pembelahan sel
bakteri yang akan menghasilkan perbanyakan total sel itu bakteri sendiri. Namun
pada mikroorganisme multiseluler dengan (bersel banyak), hasil dari pembelahan
sel yaitu tidak adanya pertambahan atau perbanyakan total individidunya sendiri,
tetapi hanya mengalami pertambahan ukuran mikroorganisme/jasad menjadi besar
atau terjadinya pembentukan jaringan (Suharjono, 2006).

Pertumbuhan mikroorganisme biasanya sangat bergantung dan dipengaruhi


adanya faktor-faktor dari lingkungan. Perubahan faktor lingkungan tersebut dapat
menyebabkan terjadinya perubahan sifat fisiologi dan morfologinya. Hal ini
dikarenakan, disamping mikroorganisme mampu menyediakan nutrient yang
cukup dan sesuai untuk menumbuhkan mikroba hasil seleksi (isolat) mikroba
dalam medium/kultur/biakan buatan di luar habitat alami (kultivasinya), tetapi
juga dibutuhkan kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk tumbuh optimum
agar proses kultivasi berhasil. Selain dapat bervariasi dalam pemenuhan
nutrisinya, tetapi juga menunjukkan hasil yang berbeda beda. Agar proses
kultivasi berhasil dengan berbagai tipe, maka dibutuhkan suatu kombinasi nutrient
serta faktor lingkungan yang sesuai dengan miroba (Hafsah, 2009).

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan


mikroorganisme yang berbeda kondisi inkubasinya berdasarkan hasil fermentasi.

II. METODOLOGI PRAKTIKUM


2.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian dan
Laboratorium Mikrobiologi Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian,
Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada hari rabu, 14 juni 2017.

2.2 Alat dan Bahan


Peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung ukur, beaker glass,
erlenmeyer, inkubator dan refrigerator. Adapun bahan-bahan yang digunakan
adalah susu segar (kemasan pasteurisasi) dan sumber BAL (dari produk susu
feementasi).

2.3 Preosedur Percobaan

100 ml susu segar kedalam erlenmeyer 100 ml

Penambahan sumber BAL sebanyak 5 ml

Inkubasi sampel:
Perlakuan 1 : pada suhu inkubator (30 oC) selama 48 jam
Perlakuan 2 : pada suhu refrigerator selama 48 jam

Amati organoleptik hasil fermentasi

III. PEMBAHASAN
Dalam pertumbuhannya, mikroorganisme memiliki dua faktor yang mendukung,
yaitu faktor fisik dan faktor kimiawi. Faktor fisik dapat berupa kadar air, cahaya
dan suhu. Sedangkan factor kimianya adalah pH dan tekanan osmosis.

Pengaruh Suhu

Suhu merupakan faktor penting dalam pertumbuhan mikroba. Pada umumnya


batas suhu pertumbuhan mikroba terletak antar 00C sampai 900C, sehingga dikenal
suhu minimum, optimum, dan maksimum.

Berdasarkan kisaran suhunya, mikroba dibagi menjadi tiga kelompok:

a) Psikofilik adalah kelompok mikroba yang dapat hidup dan tumbuh pada
daerah dengan suhu 00C sampai 300C dengan temperature optimumnya 150C.
b) Mesofilik adalah kelompok mikroba yang dapat tumbuh dan bertahan hidup
pada keadaan dengan suhu optimum antara 250C-370C, minimum 150C, dan
maksimum di sekitar 550C.
c) Termofilik adalah kelompok mikroba yang hidup pada suhu yang tinggi. Suhu
optimum untuk mikroba kelompok ini adalah 550C-600C. minimum 400C, dan
maksimum 750C. bakteri ini biasanya terdapat pada sumber air panas dan
tempat-tempat denga keadaan suhu tinggi.

Pengaruh pH
Setiap organisme memiliki pH hidup yang berbeda-beda. Kebanyakan organisme
dapat tumbuh pada kisaran pH 5-8. Berdasarkan pH yang ada, mikroba dibagi
menjadi tiga kelompok mikroba yaitu asidofil, neutrofil, dan alkalifil. Asidofil
adalah mikroba yang dapat tumbuh dengan kisaran pH 2-5. Nutrofil adalah
bakteri yang hidup pada pH 5,5-8,0. Sementara alkalifil dapat tumbuh pada
kisaran pH 8,4-9,5. Bakteri meiliki pH minimum, optimum dan maksimum. pH
optimum bakteri adalah kisaran 6,5-7,5, sedangkan jamur memiliki kisaran pH
yang lebih luas (Suriawiria, 2003).
Pengaruh Kadar Air

Semua bakteri dan jamur tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang
lembab. Kenyataan ini merupakan dasar pengawetan bahan makanan dengan
proses pengeringan. Air sangat penting bagi kehidupan, karena mikroorganisme
hanya dapatr mengambil makanan dari luar ke dalam larutan (holophytis)
(Hidayat dkk, 2006).

Pengaruh Cahaya

Sebagian besar bakteri adalah chemothrope, karena itu pertumbuhannya tidak


tergantung pada adanya cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari
dapat membunuhnya karena pengaruh sinar UV. Pada beberapa mikroba lainnya,
intensitas cahaya bukan merupakan factor terpenting yang membatasi
pertumbuhan mikroba tersebut (Entijang, 2003).

Pengaruh Tekanan Osmosis

Tekanan osmosis sangat erat hubungannya dengan kandungan air. Apabila


mikroba diletakkan pada larutan hipertonis, maka selnya akan mengalami
plamolisis., yaitu terlepasnya membran sitoplasma dari dari diniding sel akibat
mengkerutnya sitoplasma.apabila diletakkan pada larutan hipotonis, maka sel
mikroba akan mengalami plasmoptisa, yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke
dalam sel, sel membengkak dan akhirnya pecah.

Media Pertumbuhan

Sumarsih (2003),mengemukakan bahwa media berfungsi untuk menumbuhkan


mikroba, isolasi, dan memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologis dan
perhitungan jumlah mikroba, dimana proses pembuatannya harus disterilisasi dan
menerapkan metode aseptis untuk menghindari medis cair, semi cair dan
kontaminasi pada media. Berdasarkan bentuknya, media dibagi atas padat. Sedang
menurut susunannya, media dapat dibagi atas media kompleks dan media sintetik.
Media biakan ada yang berbentuk padat, cair dan semi padat. Media padat adalah
media biakan yang dipadatkan dengan agar, ada yang bersifat reversible (dapat
dibalik) seperti agar nutrien dan ada yang bersifat ireversible (tidak dapat
dibalik) seperti serum darah terkoagulasi. Dalam kedokteran, media padat yang
bersifat irreversible paling sering digunakan. Sedang agar nutrient banyak
digunakan dalam media lain.

Mikroorganisme yang digunakan adalah bakteri asam laktat (BAL) merupakan


jenis bakteri yang mampu menghasilkan asam laktat, hidrogen peroksida,
antimikroba, dan hasil metabolisme lainnya. BAL diisolasi untuk menghasilkan
antimikroba yang dapat digunakan sebagai probiotik. Manfaat bagi kesehatan
yang berkaitan dengan BAL diantaranya memperbaiki daya cerna laktosa,
mengendalikan bakteri patogen dalam saluran pencernaan, penurunan serum
kolesterol, menghambat tumor, antimutagenik dan antikarsionogenik, menstimulir
sistem imun, pencegahan sembelit, produksi vitamin B, produksi bakteriosin, dan
inaktivasi berbagai senyawa beracun (Bachrudin et al., 2000).

Untuk menumbuhkan BAL diperlukan media tumbuh selektif, yaitu Media MRS
(de Man Rogosa and Sharpe) yang dikembangkan oleh de Man, Rogossa, dan
Sharpe (Brenner, 2005). Meskipun medium MRS memiliki semua nutrisi yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan BAL, namun medium tersebut memiliki beberapa
kelemahan, yaitu masa kadaluwarsa yang singkat, mudah rusak jika disimpan
terlalu lama, dan sulit didapatkan. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan
medium alternatif yang bahan - bahannya mudah didapat dan dibuat di
laboratorium.

Berdasarkan jurnal Pengaruh Ketersediaan Oksigen Pada produksi Epiglukan


Oleh Epicoccum nigrum Menggunakan Media Molases, kurva yang terdapat
pada gambar 1 bahwa pada kondisi ketersediaan oksigen yang minim atau tidak
ada perlakuan aliran udara (A1) pertumbuhan sel telah berlangsung dari hari ke 1
sampai hari ke 4 dengan didapat berat kering massa sel yaitu 1,29 0,158 g/L.
Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa pertumbuhan E. nigrum dipengaruhi
ada atau tidaknya ketersediaan oksigen. Pengaruh ini ditunjukkan dengan adanya
kenaikan jumlah berat kering massa sel E. nigrum, dimana semakin tinggi berat
kering massa maka menujukkan tingginya ketersediaan oksigen. Hal ini terkait
dengan adanya proses glikolisis dalam proses metabolisme sel yang akan
menghasilkan 2 asam piruvat yang secara aerobik atau dengan ketersediaan
oksigen pasa asam piruvat yang terbentuk.

Penelitian yang dilakukan oksigen diberikan pada media pertumbuhan dengan


menyalurkan ke udara bebas sekitar 21 %, sedangkan pada perlakuan oksigenasi
(A3) 100 % oksigen disalurkan kedalam media yang disuplai dari tabung oksigen.
Dengan adanya perbedaan oksigen otomatis akan mempengaruhi terhadap
keterasediaan oksigen dalam media. Pengaruh tersebur dapat berupa positif
maupun nehgatif. Pengaruh positifnya yaitu menghasilkan bentukan biomassa
yang tinggi karena dari proses metabolisme yang dilakukan oleh E. nigrum. Untuk
pengaruh negatifnya yaitu berdampak adalah apabila sifatna anaerobik, dengan
kandungan oksigen yang tinggi yang pengaruhnya akan menghasilkan sifat racun
atau toksik bagi sel yang akan membentuk radikal bebas yang sangat reaktif
seperti superoksida.

IV. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut.

1. Mikroorganisme memiliki dua faktor yang mendukung pertumbuhannya,


yaitu faktor fisik (kadar air, cahaya dan suhu) dan faktor kimiawi(pH dan
tekanan osmosis.).
2. Media yang digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme yang berbentuk
padat, cair dan semi padat.
3. Mikroorganisme yang dipakai adalah bakteri asam laktat (BAL) yang
memiliki suhu pertumbuhan optimum diatas suhu 20 oC, lebih rendah dari
suhu tersebut makan pertumbuhan akan melambat.
4. Media MRS sebagai media pertumbuhan BAL yang selektif dan memiliki
nutrisi yang lengkap untuk pertumbuhannya.
5. Ketersediaan oksigen berpengaruh terhadap pembentukan biomassa dimana
semakin tinggi tingkat ketersediaan oksigen maka semakin tinggi pula
pertumbuhan massa selnya.

DAFTAR PUSTAKA
Bachrudin, Z., Astuti, and Y.S. Dewi. 2000. Isolasi Dan Seleksi Mikroba
Penghasil Laktat Dan Aplikasinya Pada Fermentasi Limbah Industri Tahu.
Prosiding Seminar Nasional Industri Enzim dan Bioteknologi. Mikrobiologi
Enzim dan Bioteknologi.
Brenner, D. J. 2005. Bergeys Manual of systematic Bacteriology. Wiliam &
Wilkins Co. Baltimore.
Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk akademi keperawatan. PT
Citra Aditya Bhakti. Bandung
Hafsah. Mikrobiologi Umum. Makassar: UIN Alauddin Makassar, 2009.
Hidayat, N., M. C. Padaga dan S. Suhartini, 2006. Mikrobiologi Industri. Andi :
Yogyakarta.
Suharjono. Mikrobiologi. Malang: Universitas Brawijaya. 2006.
Sumarsih, S. 2003. Mikrobiologi Dasar. Yogyakarta : UPN Veteran.

Suriawiria, U. 2003. Mikrobiologi Air dan Dasar-Dasar Pengolahan Buangan


Secara Biologis. Alumni, Bandung.

LAMPIRAN