Anda di halaman 1dari 68

PELAJARAN

ELEGTHONIKA

Dasar Teknik

T EI- EV ISI

Disusun

lchwan Haryiidi

Pengasu h Pend i di kan E Iectro n i ka

MAXWELL

Malang.

DASAR TEKNIK TELEVISI

Penyusun

Ichwan Haryadi.

Design Cover

Herman

Illustrasi

Scntot Sunarwo,

Cetokan

Pertama l9El

Penerbit

Yayasan Pengembangan

Ilmu Pengetahuan

Alamat Surat

Jl. Praban No.55. Telp. (031) 5322580 - 5344215 - 5315402

Pencetak

Copyright

P.O. Box 1023 Faksimil (031) 5310594 - 5477183

Kode Pos 60275

e-mail : fakta@telkom.net. karyaanda@ hotmail.com

karyaanda @yahoo,com Telex. 34158. Kanda ia. Surabaya - Indonesia

Usana Offset Printing

Pada Penerbit

Dilarang

tanpa izin dari penerbit.

mengutip / memperbanyak

sebagian maupun seluruhnyr drrl hulrr lrri,

REFERBNSI.

Buku-buku referensi yang digunakan untuk menyusun pelajaran seri elektronika ini (yang meliputi Radio, Radio transistor, Televisi, Televisi Tran-

sistor dan Televisi Berwarna) adalah seperti dibawah :

L

Surzberg & Osterheld : Elements of electricity for Radio and

Television.

2.

Slurzberg & Osterheld : Essentials of Radio.

3.

Slurzberg, Osterheld and Voegtlin

; Essentials of Television.

4.

Marcus & Levy : Elements of Radio Servicing.

5.

Marcus

& Irvy : Practical Radio Servicing.

6.

Grob : Basic television.

7.

Herry Meleaf : T-F troubles analysis.

 

8.

G. Warren Heath :

Rapid T-V Repair.

9.

Sol Heller : Handbook of T-V troubles.

 

10.

Tab-books 428': Pih point T-V troubles in ten minutes.

11.

Towers : Transistor television receivers.

 

12. Marcus & Gedler : Elerrpnts of television servicing.

13. Kiver : Color television fundamentalsr

14. Howard W. Sam Editorial Staff :

Color T-V training

manuai.

15. Forest H Belt & associates : 1-2-3-4 Servicing transistor c<llor

T-V.

16. Jack Darr : Transistor T-V servicing made easy.

17. Sarrl Heller : Understandding

18. Mannie Horowitz : Practical

19. Edwartl fuI. lloll : FET, principles, experiments and projects.

Silicon Controlled R.ectifier.

design with transistor.

2A. J.A. \t'alstrrn & John .I.

Miiler : fransistor Circuit desigr.

fi.

22.

G- E : Transistor manual.

Bernracam-macam service guide.

B. Surasno Sosrodirdjo : Transformator untuk pesawat penerima radio.

f

d

KATA PENGANTAR.

Pelajaran unit D-V ini merupakan dasar-dasar umum televisi hitam-

putih baik untuk televisi dengan penguat tabung-elektron rnaupun mengguna-

kan penguat transistor. Materi pokok-nya meliputi pengertian dasar tentang pemancaran dan penerimaan sinyal-sinyal televisi hitam-putih, bentdk sinyal- sinyal televisi yang ada, seperti raster, sinyal pembawa suara, sinyal untuk

singkronisasi, dan ditambah pula dengan lebar ban yang digunakan dalam teie. visi.

Dagram petak (block-diagram) televisi hitam-putih yang diberikan da- lam pelajaran ini diuraikan secara umum dan singkat, dengan maksud untuk memperoleh pengertian tentang prinsip bekerjanya televisi penerima serta

fungsi dari masing-masing bagian. Dalam pelajaran unit D-V ini terdapat pula perbandingan antara sistim

F.C.C. (yang digunakan di Amerika Serikat serta beberapa negara lairnya) dengan sistim C.C.I.R. (yang banyak digunakan didaratan Eropa dan Indone'

sia).

Pengertian dan perhitungan sederhana tentangjarak pancar sinyal televisi

serta uraian tentang scanning mengawali pelajaran unit D-V ini, yang ke-

mudian diakhiri dengan pembahasan antena berikut dengan pemasangannya,

terutama untuk antena yang digunakanjarak jauh. Dengan sendirinya pelajaran dasar tentang televisi ini belum mengarah

pada pengetahuan praktis, akan tetapi baru membahas pengertian umum yang

merupakan kunci utama dalam memasuki medan teknik teievisi. Semoga pe- ngetahuan dasar ini dapat mengantarkan pembaca menuju ke tujuan yang pokok, yaitu pengetahuan tehnik televisi beserta pelaksanaannya dalam praktek.

Penyuoun.

SEKSI

DAFTAR ISI.

HALAMAN.

BAB I. PENGERTIAN DASAR PEMANCARAN SINYAL

TELEVI$DAN SCANNING.

1-1.

Cahaya yang dipancarkan oleh televisi

 

4.

2-1.

Frekwensi dan kanal televisi

6.

3-1.

Jarak penangkapan sinyal televisi

7.

4-1.

Sinyal-sinyal televisi

11.

5-1.

Elemen-gambar

11.

6-1.

Scanning.

12.

-t.

7

8-l.

Scanning berjalin

13.

Rangka'gambar dan medan gambar

 

15.

9-1.

Kwalitas gambar

t6.

I 0-1.

Singkronisasi

18.

11-1.

Sinyal video dan elemen gambar

18.

t2-1.

Perbandingan antara sistim F.C.C. dan sistim C.C.I.R.

20.

l3-l .

Sistim televisi didunia yang penting

 

22.

t4-r.

Pertanyaan-pertanyaan

!

23.

BAB II. PRJNSIP BEKERJAT{YA TELEVISI PEMANCAR DAN PENERIMA.

1-2.

Pemancar

26

2-2.

Prinsip bekerjanya

tabung kamera

 

30

3-2.

Prinsip bekerjanya televisi penerima

32

4-2.

Macam-macam

pengatur dan sirkuit lainnya

4t

5-2.

Pertanyaan-pertanyaan

 

42

BAB III. BENTUK GELOMBANG TELEVISI (Bagan Suara, Video dnn R-F).

I -3;

2-3.

3-3.

4-3.

5-3.

Prinsip bekerjanya televisi penerima secara singkat

45

Sinyal suara

48

Bentuk gelombang sinyal video

49

lrvel amplitudo sinyal video

50

Gelombang sinyal I-F video

52

.*l

\

,)

BAB I. PENGERTIAT{ DASAR PEMANCARAN SINYAL

TELEVISI DAN SCANNING.

Pada dasarnya arti televisi ialah "melihat dari jauh". Dalam kenyataan-

nya pemancar televisi digunakan untuk merobah dan memancarkan sinyal- sinyal gambar atau pemandangan bersama-sama dengan sinyal suara yang bersangkutan, sehingga si4yal-sinyal itu dapat ditangkap oleh televisi-peneri- ma dari jarak yang cukup jauh. Televisi-penerima yang menangkap sinyal- sinyal tersebut merobahnya kembali sehingga apa yang dipancarkan oleh pe- mancar televisi tersebut dapat dilihat dan didengar seperti keadaan aslinya. Dengan demikian maka televisi dapat digunakan untuk "melihat" dan "men- dengar" dari tempat yangjauh.

Televisi dihasilkan setelah mengalami bermacam-macam proses perco-

baan dan dalam waktu yang cukup lama. Dalam tahun 1926 John L. Baird

mengadakan percobaan pemancar televisi yang pertama, kemudian dalam tahut 1927 disusul oleh laboratorium perusahaan telepon Bell. Selanjutnya

pada awal tahun 1928 E.F. Alexanderson telah mengadakan percobaan dan demonstrasi pemancar televisi ukuran 3 inci persegi. Dalam tahun 1939 pe- sawat televisi penerima elektronika sudah mulai terdapat dalam perdagangan

di Amerika Serikat (U.S.A.) dengan menggunakan sistim gambar 441 garis-

garis. Dalam tahun 1941, oleh komisi perhubungan Federal Amerika Serikat (U.S.A.) telah diadakan ketetapan gambar televisi dengax sistim 525 garis-

garis. Antara tahun 195 I dar 1954 dibuka kanal (saluran) televisi yang baru,

yaitu kanal UHF (singkatan dari tlltra High Frequency), dan juga telah dt-

kc temukannya televisi berwarna.

t

D*V 3

r-.-1. cAHAyA Y.ANG DTPANCARKAN OLEH TELEVTST.

Dalam teievisi, cahaya atau bayangan pemandangan yang

ai-(.,

pancarkan ke udara terlebih dahulu diubah bentukny-a mln;oii impul{

^Vun

t,

I

/

impuls listrik. Impuls-impuls listrik ini diperkuat dan kemudian dimasukkTn ke dalam gclombang pembawa yangseterusnya dipancarkan ke udara mel{lui

antena pernancar. Gelombang pembawa beserta inpuls.impuls listrik

dipancarkan ke udara ini sudah berbentuk gelombang rirhgnit listrik (el/ktro- magnit) . dan mempunyai frekwensi yang tinggi. Biasanya gelombang pngan frekwensi tinggi ini disbbut gelombang R-F (singkatan dari Radio-flrequen-

cy).

/ang

Setelah gelombang R-F yang dipancarkan oleh pntena pemancar

seperti tersebut di atas ditangkap oleh antena penerima, maka. gelombang- gelombang elektromagnit itu diubah oleh televisi penerima menjadi gelom-

bang listrik frekwensi tinggi, ilan kemudian dengan beberapa proses diubah lagi menjadi cahaya atau bayangan pemandangan dan suara sepet'ti semula.

Sinar atau cahaya mempunyai kecepatan diudara atau diruang hampa udara sebesar 186.000 mile/detik atau sama dengan 300.000.000 melerf detik. Kecepatan ini dapat berobah jika gelombanC R-F tersebut melalui bahan-bahan perantara lainnya. Sebenarnya cahaya merupakan gelombang

bergerak yang dapat dinyatakan dalam istilah "frekwensi" atau "panjang

gelombang", artinya gelombang cahaya ini mempunyai frekwensi dan pan-

jang gelombang seperti halnya frekwensi dan panjang gelombang suara.

lVarna cahaya berobah-robah menurut perobahan panjang gelombangnya

atau menurut frekwensinya. Dalam tehnik televisi, panjang gelombang cahaya

diukur dalam milimikron.

l milimikron = l0-3 mikron

Jadi :

I

mikron

I meter

=

=

10-6 meter

106 mikron

= 109 milimikron.

Frekwensi dan panjang gelombang cahaya

persamaan :

atau :

4

D-.V

r-l --

f

rm---

t

3 x l0l7

3 x 1011

x

dapat dinyatakan dengan

(l-1)

(1 -l a)

\

f- frekwensi dalam hertz atau dalam siklus/detik (cps).

\l

t=

frekwensi

hertz (mHz).

dalam megasiklus/detik (mc) atau dalam mega.

r) ), = panjang gelombang dalam milimikron.

\

we\

Cahaya mempunyai frekwensi yang jauh rebih tinggi dari pada frek-

suara, dan biasanya untuk memancarkan

kpudara dalarn bentuk

p-

lomb\ng elektronragrit digunakan gelombang pembawa dengan frekwensi

yang \angat

fineryr-Si1u

dan UH\

tinggi. Didalam tehnik televisi terdapat dua sistim frekwensi

sangat tinggi,

VHF (very high frequency), yang berarti frekwensi

(ultra high frequency) yang berarti frekwensi ultra tinggi.

Bedda'benda yang terkena cahaya akan mernantulkan

ctay.a itu, dan

pemantula\ cahaya dapat seluruhnya atau hanya sebagian saja. Kuat dan

warn_a cahay''a yang dipantulkan adalah

tergantung dari pada keadaan benda

benda diterima oleh

inilah cahaya yang

rtu. Dalam televisi, sinar yang dipantulkan oleh sesuatu

T:r.l

di

l\nsa tabung-kamera, dan didalam tabung kamera

tangkaq i tu di ubah me njadi ben tuk impuls-imp uls listrik.

Tabirng kamera

I

yang pokok ada tiga macam, yaitu :

l. Iconoscope.

2. Image-orticon. 3. Vidicon. Iconoscope adalah tabung

kamera (camera tube) moder Iama dan se-

kamera ini akan diterangkan tersendiri

derhana. Selanjutnya tentang tabung dibelakang, beserta prinsip.bekerjanya.

Biasanya kuat cahaya dalam televisi

dinyatakan dalam satuan lirin

intensitas

(candlepower). Satuan lilin untuk cahaya ini adalah satuan untuk

penyinaran cahaya yang telah diselujui bersama oleh laboratorium standard

nasional Perancis, Inggris, dan Amerika

Serikal (U.S.A.). Satuan lilin Hefner

dan besarnya sama dengan

adalah satuan lilin yang digunakan di. cerman,

0,9 lilin di atas, atau I Hefner candle = 0,9 candle.

Intensitas penyinaran cahaya juga dinyatakan dalam satuan ,'rumen,,.

Dalam hal ini ;

I lilin = 4 It lumen

Brightness (terangnya cahaya) dari permukaan suatu

bendayang terke.

na cahaya ditentukan oleh intensitas penyinaran cahaya paaa uiian! tegat

terhadap cahaya daranr satuan luas. Satuan untuk brightness ini ialatr

lurus

"stilb".

I stilb= Ililin/crn2

D.v ,

Lambert juga merupakan

satuan

untuk brightness, dan b.rurnyu ,'/

/ /

/

,

I

^/r^

I lambert = I lumen/cm,

llambert=+ilin/cm2=;;stitU. l.ll)

Jadi:

= Federal Communication Commission (di U.S.A.).

= Comite Consultatif International des Radio Communica'

2,O54lilinln2

Sebenarnya gambar yang tampak pada televisi adalah gamb

tion (di Eropa).

Televisi penerima yang beredar ada yang hanya menggunakan kanal

saja, dan ada pula yang dilengkapi dengan saluran UFH. Karena frek-

we\si kanal VHF jauh lebih rendah dari pada frekwensi kanal UHF, maka

bergerak seperti halnya gambar di

, ante\anya juga berbeda.

te-

dalam gambar-hidup (bioschop). 4lL,an

tapi gerakan ini tidak dapat diikuti oleh

ta manusia tidak dapat mengikuti urutan

mata manusia, sebab u*ui-,,1rrrr -u-

gerakan yang terjadi dalar/kecepat-

,'diam',.

gambar

itu uergepfu dengan

I

an lebih dari sepuluh kali tiap detik. Jadi kalau

cepat sekali maka gambar tersebut tampaknya

\_1. JARAK PENANGKAPAN SINYAL TELEVISI.

Q\ombang radio yang mempunyai frekwensi di atas 40 mc berbeda

gelombang radio yang mempunyai frekwensi antara 0,5

sifatny{'drng*

2-1. FR-EKWENSI DAN KANAL TELEVISI.

,,

seperti yang telah

disebutkan di atas bahwa televisi *"nggufuku, fr.t-

sangat tihggi, dan terdapat dua sistim frekwensi

wensi pembawa (R-F) yang

R-F yang digun4kan, yaitu'VHF dan UHF. Di Amerika Serikat dan

kanal (saluran) vHF adalah antara kanal I -

Jepang,

13, sedangkan saluran antara

14 - 83 adalah untuk uHF. Besarnya frekwensi saluran-saluran tersebut ada

sedikit perbedaan antara sistim CCIR dan FCC. Sistim CCIR digunakan di Eropa, seperti German, Belanda, dan sebagainya (tidak termasul perancis, Inggris dan Rusia), sedangkan sistim FCC digunakan di Amerika serikat

(U.S.A.), Kanada, Amerika-Latin dan Jepang. Indonesia

menggunakan sistim

ccIR seperti halnya yang digunakan di Eropa. Dengan demikian televisi

buatan Jepang yang masuk ke Indonesia terlebih dahulu disesuaikan dengan sistim ccIR. Perbedaan antara kedua sistim tersebut sedikit sekali, sehingga tidak sulit merobahnya.

Untuk sistim FCC, kanal I tidak lagi digunakan, sedangkan kanal 2

sampai dengan kanal 13 (kanal VHF) menggunakan frekwensi dari 54 mc

sampai 216 mc. Untuk sistim CCIR kanal I sampai dengan 9 (kanal VHF) menggunakan frekwensi dati43 mc sampai 216mc.,sedangkankanal diatas

10 sudah termasuk UHF. Kanal UHF untuk sistim CCIR menggunakan frek-

890 mc, demikian juga kanal UHF untuk sistim FCC

wensi antara 470 -

(frekwensinya juga antara 470 - 890 mc).

sampai

biasanya$igunakan sebagai gelombang R-F radio A-M (amplitudo modu-

lasi), yai\r radio yang pada umumnya digunakan dalam masyarakat. Pada

frekwensi lang lebih rendah ini (0,5 mc - 30 mc) gelombang radio yang arah- nya menda\ar (yang disebut gelombang bumi atau groundwave) dan gelom-

bang radio

\O

mc. Gelombang radio dengan frekwensi 0,5 mc sampai 30 mc ini

{ang

arahnya ke atas (yang disebut gelombang angkasa atau gelom-

kedua-duanya dapat digunakan, sebab gelombang angkasa

bang langit),

(gelombang ,langit = sky wave) yang mengenai ionosphere dipantulkan kem- bali ke bumi. Dengan demikian sinyal radio dengan frekwensi antara 0,5 mc sampai 30 mc seperti tersebut di atas dapat ditangkap dari tempat yang jauh

sekali dari pemancarnya. Akan tetapi untuk gelombang radio dengan frekwensi di atas 40 mc ti-

dak dapat dipantulkan kembali ke bumi oleh ionosphere, melainkan terus

menuju ke ruang angkasa sampai semua energy-nya terisap habis. Akibatnya gelombang radio dengan frekwensi tersebut yang dapat ditangkap oleh antena

penerima hanyalah gelombang yang arahnya mendatar' (gelombang bumi). Oleh karena permukaan bumi itu berbentuk bulat seperti bola, maka arah lengkungan bumi mempunyai pengaruh terhadap jalannya gelombang radio

yang arahnya mendatar. Jadi jarak tangkap atau jarak pancar gelombang bumi

(ground-wave) dibatasi oleh garis singgung antara lengkungan bumi dongan arah mendatar gelombang-bumi, sehingga gelombang yang dapat ditangkap

oleh antena penerima hanyalah terbatas pada kira-kira sejauh garis pandangan

(gambar 1-l).

6

DV

DV

7

Dalam gambar ini :

*{f:.','*/i

'-"'=x\.-1g/2 DL, = jarak garis pandangan,lf Ht

/

\

H,

D

= tinggiantenapemancarf

= tingg antena p"n"r^f,

= jarak penangapan /e-

R

lombang R_F frekrJpn-

si tinggi,

/

= jari-jaribumi. I

6Dse6e i

\

i

/

 

\

i"

 

/

 

\

|

/.

 

\

i

/

 

\

:

/

\

f /

V

Gambar

I

_ I

Jarak pcnangkapan

gelombang

-

tclevisi

untuk menghitung,/ jarak

penangkapan gelombangTR-F

dengan frekwensi tinggi/di atas

N mc seperti di atasfdengan

menggunaKan satuan-sitlan

menggunakan

saiuan-sltpan A-

A-

jarak tangkap

dalam mile) dapat

D-

=

digunak

1)'2.( t/rr +t/rrr

,

p}:;lT;n(tinss

aaram'

oan

TAti

I

t1 .\

dan

ma dalam kaki.

. Selain menggunakan persamaan tung seperti berikut : (ihat gambar l-l).

1-2 dan l-3 diatas, dapat juga dihi-

D2t

D?

D2z

D3

+R2=(R+Ht)2

= R2 + 2R.Ht + H?

= ZR.H, + uf

+ R2 = (R + Hr)2 = R2 + 2R.Hr + H3

= Hl + zR.H,

Oleh karena tinggi antena H, dan H. sangat keciljika dibandingkan de-

ngan jari-jari bumi R, mak Hf dur Hl dapat diabaikan, sehingga terdapat-

lah :

d n-v

dan

Dl = 2R.H, atau: D, =V2R.HI D2, = 2R.H, atau: D2 = V2RJI,

Selanjutnyajaiak garis pandangan ialah :

atau

DL*=Dl+D2

DL* =\ErRJ{t +1Dnt1

Jika tinggi antena penerima dan pemancar dinyatakan dalam satuan

"meter" sedangkan jari-jari bumi kira-kira = 64OO km, maka jarak pandangan

yang dinyatakan dalam satuankm adalah :

/

q

,t

DLs =V(2.6400. lo00 ) +V

atau:

l2,8.Ht

DL, = 3;58(VHt

+ r,ilzB:1

+y'ur)

H, (2.6400. 1000 )

DL, = jarak pandangan dalam km,

(1-4)

q

= tingg antena pefirancar dalam meter.

Hr

= tinggi antena pemancar dalam meter.

Karena jarak garis pandangan itu tergantung pula pada daerah horizon (cakrawala) maka tinggi antena pemancar dan tinggi antena televisi penerima besar pengaruhnya terhadap jarak penangkapan, jadi dengan sendirinya mem-

pengaruhi baik dan tidaknya gambar yang dihasilkan oleh televisi penerima. Oleh sebab itu kalau pesawat televisi penerima terletak jauh dari antena pe- rirancar, maka antena televisj penerima itu dibuat yang lebih tinggi, agar su.

paya penangkapannya terhadap sinyal televisi dapat baik. Demikian juga, agar

sufaya dapat diperolehjarak pancar yang cukupjauhmaka antena pemancar

televisi biasanya dibuat tinggi sekali dengan menggunakan menara-menara antena khusus. Pada umumnya jarak penangkapan dari antena pemancar yang cukup

tinggi sejauh 50 krn rata-rata masih baik, akan tetapi pada radius 70 km pe. nangkapan sudah banyak berkurang. Biasanya untuk membantu daya tangkap antena jarak jauh digunakan pembantu (penguat) antena yang disebut "boos. ter-antena", dan digunakan pula antena dengan elernen-elemen yang leblh

banyak.

D-V 9

d

-f,

Disamping itu kwalitas penangkapan pada titik-titik di suatu daerah

sinyar terevisi tidaklah seralu sama, sekalipun pada

penangkapan

' tempat yang tidak

tempat-

dapat

begitu berjauhan- Misarnya pada suatu te-pai sinyal

-sedangkan

ditangkap dengan baik

tidakjauh dari tempat t rr.Urt prn.ngkap-

banyak sekari ierjadi pada

an sinyal jelek sekali. Keadaan

tempat'tempat

sebabnya ialah

tanah-tanah bukit,

kemudian pantulan itu baru

yang sediimikiart ini

jauh dari pemancar, terutama daerah yang u.ruulit-urr.ii

karena pengaruh refleksi (pantulan) sinyal yang

iengenai

bangunan-bangunan y-g tinggi atau binda-ben-da lainnya,

ditangkap oleh antena penerima, baik pantulan bersama dengan sinyai yang langsung'dari an.

pantulan mempunyai arah dan kekuatan yang

langsung

dari antena pemancar sehirrgga penerima bersama-sama akan

cukup besar, maka sinyal

^"nj"a

oieh

lemah. Kemung-

antena penerima

yang

berlawanan,

sehingga

itu sendiri maupun pantulan

tena pemancar, (gambar 2_l).

Dengan sendirinya sinyar

berbeda dengan sinyar yang diterima

kalau sinyal'sinyal itu diterima oleh antena

mempunyai perbedaan fasa. Jika, sudut fasa itu

resultan yang dapat ditangkap oleh antena penerima

kinan juga pada sesuatu tempat sinyal yang ditangkap

hanya merupakan sinyar-sinyal panturan daii arah

praktis sinyal yang masuk ke antena penerinra nrenjadi nol. Jika terjadi

shilol la6ounS

;:

grd

l*rao,*

i

"

Gambar 2 _ t Sinyal langsung dan sinyal-sinyal pantulan,

demikian, maka pemasang.

an antena pada tempat

tersebut . tidak baik, dan

tidak akan menghasilkan

gambar maupun suara pa-

da televisi penerima. Biasa-

nya daerah yang sedemi-

kian itu, dimana sinyal te-

levisi tidak dapat ditang-

kap oleh antena penerima

karena pantulan-pantulan

yang berlawatran dapat ter-

jadi di daerah yang ber-

bukit-bukit, dan tempat

tersebut disebut daerah-

nol.

Selanjutnya untuk mendapatkan

kwalitas gambar yang lebih baik dan

tidak banyak gangguan, uraka te.levisi rrrenggunakan saluran (kanal) dengan

l0

l) v

band-frekwensi yang lebar. Untuk sistim F.C.C. lebar-ban frekwensi diambil

6 mc., sedangkan sistim C.C.I.R. menggunakan lebar band-frekwensi 7 mc. Tentang lebar ban ini akan banyak dijumpai dalam bab-bab yang akan datang.

4_ I. SINYAL-SNYAL TELEVISI.

I

Sinyal-sinyal atau gelombang televisi yang dipancarkan ke udara tcrdlri

dari beberapa macam sinyal yang lebih komplek, karena sinyal-sinyal yang dibawa oleh gelombang peinbawa terdiri dari sinyal-sinyal gambar, dnyrl

suara dan beberapa sinyal lainnya yang dibutuhkarr oleh bagian gambar.

Untuk televisi hitam putih gelombang pembawa ada dua macam, yaltu

gelombang pembawa gambar dan gelombang pembawa suara. Gelombang pembawa suara menggunakan sistim F-M (frekwensi modulasi), sedangkan untuk pembawa sinyal gambar menggunakan sistim A-M (amplitudo-modp-

lasi).

Didalam gelombang pembawa gambar terdapat sinyal informasi gambar,

sinyal singkronisasi dan sinyal blanking. Sinyal singkronisasi digunakan untuk

menyamakan waktu sinyal scanning pada pemancar dan penerirna sehingga pada televisi penerima diperoleh gambar yang kelihatan diam, tidak berjalan naik-turun atau kesamping. Bentuk dan macam-macamnya sinyal televisi ini

akan dibicarakan lebihlanjut dalam bab yang akan datang.

5_I. ELEMEN_GAMBAR.

Jika sebuah gambar foto diperbesar dan diperhatikan benar-benar,

akan tampaklah bahwa gambar foto itu terdiri dari butir-butir semacam da-

taran perak yang sangat kecil, dan butir-butir itu merupakan dataran-dataran kecil yang gelap dan terang. Butir-butir kecil tersebut akan tampak lebih jelas

jika dilihat pada gambar foto yang dicetak diatas kertas koran diperbesar. Dataran-dataran kecil tersebut dinamakan "elemen-gambar".

Jika elemen gambar terkena sinar dapat memberikan pantulan sinar

yang membedakan antara gelap dan terang sehingga dapat membentuk suatu bayangan pemandangan yang diperlukan. Jadi semua elemen gambar itu me-

rupakan informasi visuil (keterangan yang dapat dilihat) dalam bayangan

pemandangan. Kalau elemen'elemen gambar itu dipancarkan dan kemudian di-reproduksi dalam derajat ketinggian (level) sinar atai bayangan yang sama dan dalam kedudukaa seperti semula maka akan dapat diperoleh gambar-

gambar seperti aslinya.

D.V II

6_I. SCANNING.

scanning adalah proses mengikuti uraian atau tata-urutan elemen-ele-

men dari gambar langkah demi selangkah dari kiri ke kanan dan menurun dari

atas ke bawah. Hal ini dikerjakan baik pada tabung kamera pada pemancar

maupun pada tabung gambar pada televisi penerima. Scanning ini dike4atan

seperti proses membaca tulisan pada satu halaman penuh dalam buku, yang dimulai dari ujung kiri atas menuju'kekanan dengan lambat untuk tiap garis, dan dari atas menurun kebawah. Setiap membaca kalimat-kalimat dalam satu

garis, mata pembaca mengikuti dari kiri kekanan dengan lambat, dan setelah

sampai ditepi kanan dengan cepat kembali ketepi kiri akan tetapi sedikit ke- bawah dari titik tepi semula, dan kemudiam mulai membaca kalimat-kalimat

pada garis berikutnya. Demikian seterusnya sampai selesai satu halaman,

yang berakhir pada sudut tepi kanan bawah. Selanjutnya scanning semacam itu disebut "scaruring mendatar-linear".

Urutan kerja scanning dalam televisi untuk semua elemen-elemen gam- bar adalah seperti berikut :

l. Sinar elektron yang keluar dari katode tabung kamera atau tabung gambar

ke permukaan layar' tabung-tabtmg tersebut diatur jalannya mulai dari

titik sudtrt kiri ptas dan diarahkan ke kanan melintasi semua elemen-

elemen gambar dalam satu garis horisontal (mendatar). Dalam hal ini di-

katakan bahwa elektron-elektron "men-sweep" elemen-elemen gambar

gambar pada layar tabung kearah horisontal.

2. Pada saat sinar elektron sampai di tepi kanan layar tabung, segera ia. dikem-

balikan dengan cepat ke ujung kiri akan tetapi sedikit'di bawah titik se-

mula, untuk mennrlai membuat garis mendatar berikutnya. pada saat kem-

bali ke kiri

tidak ada informasi gambar atau elemen-elemen gambar yang

Gambar 3-t

Gerakan sinar elektron da-

di-sweep.

Scanning mcndatar tinair.

ri

kiri ke kanan dinamakan

langkah laju atau "trace" (baca :

treis), sedangkan. langkah kemba-

li dari tepi kanan ke tepi kiri

dinamakan langkah balik atau "retrace" (baca : ritreis). Dalam

garlbar 3-l

garis langkah laju

(trace) dibuat dgngan garis utuh

dengan anak panah kearah kiri,

sedangkan garis putus-putus de-

12 DV

jauh lebih pendek dari pada waktu untuk membuat langkah laju atau garis

"Irace".

Agar supaya dapat diperoleh gambar yang lebih baik dan lebih sempur'

na maka scanning itu haruslah dapat memasukkan (men-sweep) elemen'ele- men gambar yang sebanyak-banyaknya. oleh karena itu maka tiap satu gam-

bar lengkap dibuat garis'gaiis scanning yaug cukup banyak' Dalam televisi

penerima, garii

kecil-kecil

scanning mendatar tampak merupakan garis'garis putih yang

memenuhi layar televisi, sedangkan garis retrace tidak tampak.

Garis-garis ini dinamakan "raster"'

Untuk tiap

525, sedangkan

mendatar

satu gambar lengkap, sistim F.C.C. memilih jumlah garis

iirti* c.c.I.R. menggunakan 625 garis-garis. setelah scanning

ini selesai sampai <li ujung bawah layar, maka segera dimuldi scan'

ning kearah tegak (vertikal), yaitu dengan mengembalikan ' sinar elektron

kembali ke ujung atas laYar.

7-1. SCANNING BERJALIN.

Scanning horisontal yang digunakan dalam televisi adalah scanning ber-

jalin (interlaced scanning). Dengan scanning be{alin itu maka gangguan "flic

ker", yaitu gangguan gambar berkerdip-kerdip dapat dihilangkan' Proses

scanning berjalin adalah seperti berikut I l. Pertama sinar elektron yang keluar dari katode tabung gambar atau tabung

kamera menuju ke permukaan layar, diarahkan dari sudut kiri atas dan di-

gerakkan ke kanan seperti yang telah diterangkan di atas, sampai mencapai

titik ujung (tepi) kanan. Dalarn hal ini telah di-scan garis ganjil nomor I

(satu).

2. Setelah selesai satu garis, maka sinar elektron dikembalikan ke kiri pada titik sedikit dibawah titik kiri semula, dan dari titik ini discan garis ganjil

nomor 3 (tiga). Demikian seterusnya dan terus menurun sampai pada

ujung bawah.

3. Setelah mencapai ujung akhir di bagian bawah ini maka scanning lengkap

pertama telah selesai, dan diakhiri pada titik-tengah bagian bawah (titik B

gambar 4-la).

4. Sesudah itu

sinar diarahkan kembali ke atas, dan berakhir pada titik tengah

bagian atas (titik C gambar 4*1a).

D*V t3

G)

Ahpli{udo

d€Fl.Lsi H4is6b,

siay.t

(a ). Scanning b".r"r"tifl

vertikal dan_ horizontal

:i:

dalam

rtil ; u"n tu r gigi_gergaji

scanning f"ngtap-. 1iy_

(a).

.

.

. dan (d). perincia"

r"r,lrg.i;gtap

5' Dari titik tengah'atas ini di-scan

setengah garis horisontar kekanan

pada ujung (tepi) kanan, kemudian AircinUalitan fugi t. ,1ung k;ri a_

sampai

14 I)V

jatuh di bawah titik semula akan tetapi'di atas titik kiri permulaan garls

ketiga, atau di antara titik nomor I dan nomor 3.

6. Dari titik yang baru ini dirnulailah scanning garis genap yang pertama, yakni garis nomor 2 (dua).

7. Mulai garis nomor 2 ini terus-menerus discan dari kiri ke kanan dan dikem-

balikan lagi ke kiri seperti halnya men-scan garis-garis ganjil. Dalam hal ini diperoleh scanning garis genap, dan scanning garis pnap berakhir pada

ujung kiri-bawah (titik D gambar 4-la\, dan selesailah scanning lengkap

satu gambar penuh. Setblah selesai scanning satu gambar lengkap, maka

untuk memulai scanning gambar kedua sinar elektron dikembalikan lagi

seperti semula, yaitu pada titik E yang berimpitan dengan titik A (gambar

4-1a).

Gambar 4-lc dan 4-1d merupakan perincian scanning garis ganjil dan garis-garis genap untuk memudahkan pengertian. Banyaknya garis-garis yang diperlihatkan dalam gambar 4-1a hanyalah sebagai contoh untuk memudah-

kannya, sedangkan keddaan yang sesungguhnya tergantung dari sistim yang digunakannya.

Untuk sistim F.C.C. banyaknya garis scanning berjalin tiap gambar

adalah sebanyak 525 yang terbagi menjadi dua bagian (garis-garis ganjil dan

genap), masing-masing 262h garis-garis. Sistim C.C.I.R. menggunatan 625 garis-garis tiap gambar yang terbagi menjadi dua masing-masing 3121h gari*

garis.

8-1. RANGKA GAMBAR DAN MEDAN GAMBAR.

Dalam contoh di atas, satu proses scanning berjalin sehingga sinar elek-

tron berakhir pada sudut kanan bawah (untuk garis aktip), dan kembali lagi

ketitik sudut kiri atas seperti semula adalah membuat satu gambar lengkap, yang dinamakan "rangka" gambar atau "frame" (baca freim). Rangka-gambar (frame) ini bergerak den