Anda di halaman 1dari 26

STATUS PASIEN

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF BEDAH
RUMAH SAKIT HUSADA

Nama Mahasiswa : TandaTangan :


NIM :
Dokter Pembimbing :

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap :Tn.TH Jenis kelamin : Pria
Alamat :Diketahui Umur : 33 tahun
Status perkawinan : Menikah Agama : Katholik
Pekerjaan : Swasta Pendidikan :Tamat SMA
Masuk tanggal: 04 Oktober 2013, Jam 09.15 WIB

I. ANAMNESIS
Diambil dari: Autoanamnesis, Tanggal: 04 Oktober 2013, Jam:15.00 WIB

Keluhan Utama:
Rasa nyeri pada bagian bahu kiri saat digerakkan sejak 1 jam SMRS Husada

Keluhan Tambahan:
Luka lecet pada lutut kiri, pingsan (-), muntah (-), amnesia (-)

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien Tn.TH usia 33 tahun datang ke IGD RS Husada dengan keluhan nyeri pada bahu
kiri saat digerakkan.Nyeri yang dirasakan pasien berada pada bagian bahu hingga lengan atas kiri
saat digerakkan. Sebelumnya pasien mengalami jatuh dari motor akibat KLL motor dengan
motor.Pasien mengalami tabrakan beruntun dengan motor, yang mengakibatkan pasien terjatuh

1
dari motornya ke arah kiri, dengan posisi bahu dan lengan atas menopang seluruh
badannya.Pasien tidak mengeluh adanya mual, muntah, pusing, pingsan, dan sesak.Pada pasien
tidak ditemukan adanya amnesia retrograde.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Pasien mengatakan tidak ada riwayat penyakit darah tinggi, kencing manis, sesak napas.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat darah tinggi (-), kencing manis (-), sakit jantung (-), sesak napas (-).

II. STATUS PRAESENS

1. Status Generalis

Keadaan umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis (GCS 15)
Tanda-tanda vital : TD:110/70mmHg, Nadi:88 X/menit, RR:18 X/menit, S:36,7 0C
Kepala : Normocephaly
Mata : Conjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-, reflex cahaya +/+, pupil
isokor
Telinga : normotia, membran timpani utuh, sekret (-), serumen (+)
Hidung : Normosepta, darah (-), secret (-)
Tenggorokan : Tonsil T1-T1 tenang, faring tidak hiperemis.
Leher : Kelenjar getah bening dan tiroid tidak membesar
Thorax : Bentuk dada asthenicus, simetrisdalam keadaan statis dan dinamis, sela
iga normal, tidak ada nyeri tekan.
Paru-paru :Suara nafas vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung :Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : Supel, BU (+), nyeri tekan (-)
Hati dan Limpa : Tidak teraba
Ginjal : ballottement (-)
Colok dubur : tidak dilakukan karena tidak indikasi

2
Ekstremitas(lengan & tungkai): Edema : _ _

_ _

2. Status Lokalis Bedah


Regio : Klavikula sinistra
o Pasien duduk tegak
Inspeksi :
a. Posisi lengan kiri menggantung pada mitela, deformitas (+), oedem (-)
b. Terdapat memar (warna biru) pada bagian tengah klavikula (midklav) kiri
c. Pasien masih dapat menggerakkan bagian lengan bawah kiri, namun dari lengan atas
sampai bahu kiri tidak dapat digerakkan
d. Terdapat luka lecet pada bagian lutut kiri
Palpasi :
a. Rasa nyeri tekan pada bagian bahu (klavikula) kiri
b. Pada bagian tengah klavikula kiri terdapat cekungan
Move :
a. Gerakan pasif dan aktif lengan atas sampai bahu (klavikula) kiri terhambat, lengan
bawah dan tangandapat digerakkan.
b. Nyeri bila digerakkan pada bagian bahu (klavikula) sampai lengan atas kiri.

III. Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium 04/10/2013
Darah :
- Hb : 13,6 g/dl
- Ht : 42 %
- Leukosit : 21.400/ul
- Trombosit : 359.000/ul
- Eritrosit : 4,93 juta/ul
- APTT : 35 detik
- PT : 10 detik
- MCHC : 33 %
- MCV : 85 fl
- MCH : 28 pg
- Ureum : 13 mg/dl
- Creatinin : 0,53 mg/dl

3
- Kalium : 4meq/l
- Natrium : 138 meq/l
- Chloride : 109 meq/l
- GDS : 101 mg/dl

Radiologi : (tgl 4/10/2013)


Foto X-ray AP-Lateral :Fraktur klavikula sinistra 1/3 lat.cum contractionum

IV. Resume
Anamnesis :
Telah diperiksa pasien Tn.TH usia 33 tahun dengan keluhan nyeri pada bahu kiri
saat digerakkan akibat terjatuh dari motor pada peristiwa KLL motor dengan motor. Nyeri
yang dirasakan pasien berada pada bagian bahu hingga lengan atas kiri.Pasien tidak
mengeluh adanya mual, muntah, pusing, pingsan, dan sesak.Pada pasien tidak ditemukan
adanya amnesia retrograde.

Pemeriksaan Fisik :
A. Status Generalis
Keadaan umum pasien dalam keadaan sakit sedang, Tekanan darah : 110/70mmHg,
Suhu : 36,7C, Nadi : 88x/menit, RR : 18x/menit.Status generalis dalam batas normal.

B. Status Lokalis Bedah


Regio Bahu Kiri

4
Look : - Deformitas (+)
- Bengkak (-)
- Kulit intact (-)
- Hematom (+)
Feel : - Nyeri tekan (+)
- Krepitasi (-)
Move : - Pergerakan aktif : nyeri gerak (+), range of motion terbatas
- Pergeakan pasif : nyeri gerak (+)

Luka lecet pada lutut kiri

Radiologi(4/10/2013)
Foto X-ray AP-Lateral : Fraktur klavikula sinistra 1/3 lat.cum contractionum

V. Diagnosis Kerja
Fraktur kominutif midklavos.klavikula sinistra (fraktur tertutup)

VI. Diagnosis Banding


-

VII. Penatalaksanaan
Medikamentosa :
Pemberian analgetik, pemberian obat untuk metabolisme tulang (strontium ranelate),
pemberian antibiotik ( cefoperazone Na, Sulbactam)

Operatif :
Pemasangan ORIFplate screw pada os.klavikula sinistra tanggal 07-10-2013

Laporan tindakan operasi :

- Pasien tidur telentang dalam GA

5
- Asepsis dan antisepsis lapangan pembedahan

- Insisi di atas klavikula menembus kutis, subkutis

- Tampak fraktur midclavikula cominutive

- Dilakukan reduksi + fiksasi dengan LCP

- Cuci luka op, rawat perdarahan

- Pasang bor grift

- Tutup lapis demi lapis, OP selesai

VIII. Pemeriksaan Anjuran

1. Hematologi monitor rutin (Hb, Ht, Leukosit, LED,Trombosit)

2. Radiologis :foto rontagen post operasi

IX. Prognosis

- Ad Vitam : dubia ad bonam

- Ad Fungsionam : dubia ad bonam

- Ad Sanationam : dubia ad bonam

Bab II
Tinjauan Pustaka
6
Fraktur
Anatomi Klavikula

Dalam anatomi manusia, tulang klavikula adalah tulang yang membentuk bahu dan
menghubungkan lengan atas pada batang tubuh.Klavikula berbentuk kurva ganda dan
memanjang.Ini adalah satu-satunya tulang yang memanjang horizontal dalam tubuh.Terletak di
atas tulang rusuk pertama.Pada ujung medial, klavicula bersendi pada manubrium dari sternum
(tulang dada) pada sendi sternoclavicularis.Pada bagian ujung lateral bersendi dengan acromion
dari skapula (tulang belikat) dengan sendi acromioclavicularis.Fungsi klavikula adalah sebagai
berikut :
Sebagai pengganjal untuk menjauhkan anggota gerak atas dari bagian dada supaya lengan
dapat bergerak leluasa.
Meneruskan goncangan dari anggota gerak atas ke kerangka tubuh (aksial)
Walaupun dikelompokkan dalam tulang panjang, klavikula juga tersusun dari tulang
spons
Otot-otot dan ligamentum yang berlekatan pada klavikula

Klavikula adalah tulang panjang yang mempunyai korpus dan dua buah ujung.Korpus
7
mempunyai lengkung ringan berganda seperti huruf S .2/3 bagian medial cembung dan 1/3
bagian lateral cekung ke muka. Ujung lateral atau ekstremitas akromialis lebih pipih walaupun
ujung lateral atau ekstremitas sternalis lebih bulat. Permukaan superior korpus licin, sedang
permukaan inferior lebih kasar.

KORPUS

Korpus mempunyai 2 permukaan : permukaan superior dan permukaan inferior, serta 2


tepi: tepi anterior dan tepi posterior. Pinggirnya pada 1/3 lateral tulang tampak jelas karena
korpusnya datar di sebelah lateral.Pinggir-pinggirnya membulat di sebelah medial yaitu tulang
membentuk silindris pada 2/3 medial yang mempunyai 4 permukaan.

Permukaan superior :
Permukaan superior seluruhnya terletak di bawah kulit dan dapat diraba dari ujung ke
ujung karena permukaan superior ini tidak disilang oleh satu otot sekalipun kecuali oleh platisma
yang tipis,yang letaknya tepat dibawah kulit.Didekat ujung media, permukaan superior
merupakan origo dari kaput klavikula muskulus sternokleidomastoideus.

Permukaan inferior :
Di 1/3 medial permukaan inferior, terdapat suatu alur yang dangkal untuk insersio
muskulus subklavius. Di dekat ujung lateral permukaan inferior, terdapat suatu rigi yang disebut
linea trapezoideum, sedang di dekat ujung medialis pinggir posterior terdapat suatu tonjolan
yang disebut tuberkulum konoideum. Rigi dan tuberkulum ini merupakan tempat lekat dari pars
trapezoideum yang ceper dan pars konoideum yang membulat dari lig.korakoklavikularis. Ujung
medialis dari permukaan inferior merupakan suatu tempat yang tidak rata untuk tempat
perlekatan lig.kostoklavikularis yang mengikat klavikula pada tulang rawan iga pertama.
Pinggir anterior :
Di bag medial pinggir anterior dan bersama-sama dengan permukaan superiornya
merupakan origo dari muskulus pektoralis mayor. Pada 1/3 nag lateralnya terdapat bulatan
menonjol disebut tuberkulum deltoidieum, yang menjadi tempat perlekatan muskulus deltoideus
yang mulai dari sisa ujung medial sampai tuberkulum ini.

8
Pinggir posterior:
Bagian medialis pinggir posterior merupakan tempat perlekatan serabut-serabut lateralis
muskulussternohyoideum, tepat pada bagianpostoinferior sampai origo muskulus
sternokleidomastoideus.Bagian ini berbatasan di sebelah posteriornya dengan pembuluh-
pembuluh darah subklavia dan trunkus-trunkus pleksus brakhialis1/3 lateralis pinggir posterior
merupakan insersio muskulus trapezius. Perlekatan muskulus trapezius meluas ke lateral sampai
tuberkulum konoideum.

Struktur Tulang
Komposisi tulang
Komponen organik: 90% kolagen tipe I ; sisanya terdiri dari fosfoprotein, proteoglikan
spesifik tulang, sialoprotein, osteonektin, osteokalsin, dan faktor pertumbuhan seperti misalnya
faktor pertumbuhan beta transformasi, faktor pertumbuhan fibroblast, dan protein morfogenik

9
tulang.Komponen inorganik : kalsium fosfat dalam bentuk Kristal hidroksiapatit dan 8- 9%
air.Enzim sel tulang : osteoklas mengandung as.hidrolase, kolagenasi, dan as.fosfatase, osteoblast
mengandung alkali fosfatase dan aktivitas kolagenase.
Terdapat dua bentuk utama osifikasi atau deposisi mineral di dalam jaringan
tulang.Tulang panjang pada mulanya berkembangdengan mineralisasi pada kartilago,selanjutnya
mengkonversi jaringan mineral ini menjadi tulang. Proses ini dinamakan osifikasi endokondral,
dan sebagai tambahan pada formasi kalus pada penyembuhan tulang panjang, pusat osifikasi
sekunder dari epifisis, dan formasi kalus pada penyembuhan fraktur. Bentuk lainnya dari
osifikasi adalah osifikasi intramembranosa, dan melibatkan mineralisasi osteoid langsung dengan
osteoblast tanpa melalui fase kartilago. Pembentukan tulang terjadi ketika osteoklas meresorbsi
tulang, yang diikuti dengan pembentukan formasi tulang secara rapat oleh osteoblast, dan timbul
secara konstan sepanjang skeletal.
Karena matriks dari tulang mengandung faktor pertumbuhan, maka dapat langsung
dilakukan transplantasi, karena resorpsinya merangsang pembentukan tulanglokal
(osteoinduksi).Sebagai tambahan, osteoblast mendeposit tulang baru secara langsung pada
permukaan cangkok (osteokonduksi), yang reaksinya sebagai penggantung tulang
penggantinya.Cangkok tulang digunakan pada fraktur non-union , untuk menstimulasi artrosesis,
danuntuk menggantikan segmen tulang yang hilang akibat trauma, infeksi, atau tumor.
Mineral yang terdapat dalam matriks tulang terutama adalah kalsium dan fosfat.Bentuk
dasar dari kortek tulang disebut sistem haversian.Yang terdiri dari saluran haversian (yang berisi
pembuluh darah, saraf dan lymphatik), lacuna (berisi osteosit), lamella, canaliculi (saluran kecil
yang menghubungakan lacuna dan saluran haversian.
Bentuk dan kontruksi tulang tertentu ditentukan oleh fungsi dan gaya yang bekerja
padanya. Tulang tersususun oleh jaringan tulang kanselus (trabekular/spongius) dan kortikal
(kompak).Tulang panjang (mis femur berbentuk seperti tangkai atau batang panjang dengan
ujung yang membulat).Batang atau diafasis terutama tersusun atas tulang kortikal.Ujung tulang
panjang dinamakan epifisis yang tersusun oleh tulang kanselus. Plat epifisis memisahkan epifisis
dari diafisis dan merupakan pusat pertumbuhan longitudinal pada anak-anak. Pada orang dewasa
mengalami klasifikasi.Ujung tulang panjang ditutupi oleh kartilago artikular pada sendi-
sendinya.Tulang panjang disusun untuk menyangga berat badan dan gerakan.Tulang pendek
(misalnya metakarpal) terdiri dari tulang kanselus ditutupi selapis tulang kompak.Tulang pipih

10
(misalnya sternum) merupakan tempat penting hematopoesis dan sering memberikan
perlindungan bagi organ vital.Tulang tersusun atas sel, matriks protein, dan deposit mineral.Sel-
selnya terdiri atas tiga jenis dasarosteoblas, osteosit, dan osteoklas.

Definisi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh
rudapaksa.

Mekanisme Trauma
Kebanyakan suatu fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama
tekanan menbengkok, memutar, dan tarikan.
Trauma bisa bersifat :
1. Trauma langsung, dimana menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur
pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak
ikut mengalami kerusakan
2. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah lebih jauh dari daerah
fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada
klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.

Etiologi Fraktur

Fraktur terjadi bila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma
tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Ada 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya
fraktur, yaitu :

Ekstrinsik meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan
kekuatan trauma.

Intrinsik meliputi kapasitas tulang mengasorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan, dan
densitas tulang.

Apabila kedua hal ini terjadi maka akan terjadi fraktur, di mana posisi dari fraktur
tersebut dapat mengalami perubahan dari posisi semulanya sehingga bisa menyebabkan
gangguan lebih berat ke struktur sekitarnya.

11
Gejala Klasik Fraktur
1. Adanya riwayat trauma
2. Rasa nyeri dan bengkak di wilayah tulang yang patah
3. Deformitas pada daerah yang patah
4. Nyeri tekan
5. Krepitasi
6. Gangguan fungsi musculoskeletal akibat nyeri
7. Gangguan neurovascular

Klasifikasi Fraktur
Berdasarkan hubungan dengan dunia luar terbagi atas :
1. Tertutup : bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar
2. Terbuka : bila terdapat hubungan antara fragmen dengan dunia luar karena adanya
perlukaan dikulit

Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat, yang ditentukan oleh berat ringannya luka
dan fraktur yang terjadi.
Derajat Luka Fraktur
I Laserasi ,< 1 cm kerusakan jaringan tidak Sederhana,dislokasi fragmen
berarti, relatif bersih minimal
II Laserasi > 1 cm, tidak ada kerusakan Dislokasi fragmen jelas
jaringan yang hebat atau avulsi. Ada
kontaminasi
III Luka lebar dan rusak hebat, atau hilangnya Komuinutif,segmentasi,
jaringan disekitarnya. Kontaminasi hebat fragmen tulang ada yang
hilang

Berdasarkan garis patah :


1. Komplit : bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks
tulang.
2. Inkomplit : bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti :
Hairline fracture (patah retak rambut)
Buckle fracture atau torus fracture, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan
kompresi tulang spongiosa di bawahnya, biasanya pada radius distal anak-anak.

12
Greenstick fracture mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang
terjadi pada tulang panjang anak.

Berdasarkan jumlah garis patah :


1. Simple : satu garis patah
2. Segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan.
Bila dua garis patah disebut fraktur bifocal.
3. Multipel : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan
tempatnya, misalnya fraktur femur, fraktur kruris, dan fraktur
tulang belakang.
4. Kominutif : lebih dari satu garis fraktur dan saling berhubungan

Berdasarkan arah garis patah :


1. Melintang : trauma angulasi atau langsung
2. Oblik : trauma angulasi
3. Spiral : trauma aksial-fleksi pada tulang spongiosa
4. Avulsi : trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya di tulang, misalnya
fraktur patella

Berdasarkan dislokasi fragmen :


Undisplaced (tidak bergeser), garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser,
perioteumnya masih utuh.
Displaced (bergeser), terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang terbagi menjadi :
- Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan
overlapping)
- Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
- Dislokasi ad latum (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi).

Klasifikasi Fraktur Klavikula

1. Fraktur mid klavikula ( Fraktur 1/3 tengah klavikula)


paling banyak ditemui
terjadi medial ligament korako-klavikula ( antara medial dan 1/3 lateral)
mekanisme trauma berupa trauma langsung atau tak langsung ( dari lateral bahu)

13
2. Fraktur 1/3 lateral klavikula
Fraktur klavikula lateral dan ligament korako-kiavikula, yang dapat dibagi:
type 1: undisplaced jika ligament intak
type 2 displaced jika ligamen korako-kiavikula rupture.
type 3 : fraktur yang mengenai sendi akromioklavikularis.
Mekanisme trauma pada type 3 biasanya karena kompresi dari bahu.
3. Fraktur 1/3 medial klavikula
Insiden jarang, hanya 5% dan seluruh fraktur klavikula.Mekanisme trauma dapat berupa
trauma langsung dan trauma tak langsung pada bagian lateral bahu yang dapat menekan
klavikula ke sternum.Jatuh dengan tangan terkadang dalam posisi abduksi.

Diagnosis

I. Anamnesis

Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme cedera (posisi kejadian) dan
kejadian-kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut. Riwayat cedera diikuti sampai
dengan ketidakmampuan menggunakan tungkai yang mengalami cedera. Perlu diperhatikan
fraktur yang terjadi tidak selalu terjadi di tempat cedera, suatu pukulan pada lutut dapat
menyebabkan fraktur pada patella, kondilus femur, batang femur atau bahkan asetabulum.Umur
pasien dan mekanisme cedera itu penting. Kalau fraktur terjadi akibat cedera ringan curigailah
lesi patologik . Nyeri, memar dan bengkak adalah gejala yang sering dijumpai ,tetapi cedera ini
tidak membedakan fraktur dengan cedera jaringan lunak. Deformitas jauh lebih mendukung.

Tanyakan mengenai gejala cedera yang berkaitan : baal atau hilangnya gerakan, kulit yang
pucat atau sianosis , darah dalam urine , nyeri perut, hilangnya kesadaran untuk sementara.
Tanyakan riwayat fraktur sebelumnya, riwayat sosial ekonomi, pekerjaan, obat-obatan yang
dia konsumsi, merokok, riwayat alergi dan riwayat osteoporosis serta penyakit lain.

II. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik , periksalah bagian yang paling jelas terluka, hal hal yang perlu
diperhatikan : Apakah ada kerusakan pada arteri atau saraf, dicari cedera yang berhubungan di
wilayah tersebut, carilah cedera yang berhubungan didaerah tempat yang jauh.

14
Inspeksi / Look
Amati bahu dan lengkung bahu dari sebelah anterior, dan lakukan inspeksi skalpula serta
otot yang terkait dengannya dari sebelah posterior.Perhatikan setiap adanya
pembengkakan, deformitas, atau atrofi otot, fasikulasi (tremor halus pada otot).
Cari pembengkakan kapsula sendi di sebelah anterior atau benjolan dalam bursa
subakromial di bawah muskulus deltoideus.Periksa keseluruhan ekstermitas atas untuk
menentukan adanya perubahan warna, perubahan kulit, atau posisi yang abnormal.

Palpasi

Jika terdapat riwayat nyeri bahu, minta pasien untuk menunjuk bagian yang terasa nyeri.
Lokasi nyeri dapat menunjukkan asal nyerinya :

- Puncak bahu yang menjalar ke leher-artikulasio akromioklavikularis

- Permukaan lateral bahu yang menjalar ke insersio deltoideus-otot rotator cuff

- Bahu anterior-tendon bisipitalis

Sekarang, kenali patokan tulang pada bahu dan kemudian lakukan palpasi pada daerah
nyeri.Tentukan lokasi prosesus akromialis dan tekan ke arahmedial untuk menentukan
menentukan lokasi ujung distal klavikula pada artikulasio akromioklavikularis. Lakukan
palpasi kea rah lateral dan bawah dengan langkah pendek ke tuberkulum mayus humeri, dan
kemudian tekan ke arah medial untuk menentukan lokasi prosesus korakoideus scapula.
Selanjutnya,lakukan palpasi pada daerah yang terasa nyeri dan identifikasi struktur yag
terkena.

Kisaran Gerak dan Manuver (Move)

Keenam gerakan pada lengkung bahu adalah fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan rotasi
internal serta eksternal. Ketidakmampuan melakukan gerakan-gerakan ini mungkin
mencerminkan kelemahan atau perubahan pada jaringan lunak yang terjadi karena
bursitis,kapsulitis,ruptura otot rotatoar cuff atau cedera terkilir (sprain), atau tendinitis.

15
Pemeriksaan sendi bahu sering memerlukan evaluasi yang selektif pada artikulasio
akromioklavikularis, bursa subakromial, dan subdeltoideus,otot rotator cuff, sulkus serta
tendon bisipitalis,dan kapsula artikularis serta membran synovial pada artikulasio
glenohumeralis.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk menentukan jenis dan kedudukan fragmen
fraktur.Foto rontagen harus memenuhi beberapa syarat, yaitu letak patah tulang harus diletakan
di pertengahan foto dan sinar harus menembus tempat ini secara tegak lurus. Bila sinar
menembus secara miring, gambar menjadi samar, kurang jelas, dan berbeda dari kenyataan.
Harus selalu dibuat dua lembar foto dengan arah yang saling tegak lurus.Persendian proksimal
maupun distal harus tercakup dalam foto. Bila ada kesangsian atas adanya patah tulang,
sebaiknya dibuat foto yang sama dari ekstermitas kontralateral yang sehat untuk perbandingan.
Bila tidak diperoleh kepastian tentang adanya kelainan seperti fisura, sebaiknya foto diulang
setelah satu minggu, retak akan menjadi nyata karena hyperemia setempat disekitar tulang yang
retak itu akan tampak sebagai dekalsifikasi. Pemeriksaan khusus seperti CT-scan atau MRI
kadang diperlukan, misalnya pada kasus fraktur vertebra yang disetai gejala neurologis.

Penatalaksanaan
Fraktur biasanya menyertai trauma.Untuk itu sangat penting untuk melakukan
pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan (breathing) dan sirkulasi
(circulation), apakah terjadi syok atau tidak.Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru
lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara terperinci. Waktu tejadinya kecelakaan penting
ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS, mengingat golden period 1-6 jam. Bila
lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar.Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis
secara cepat, singkat dan lengkap.Kemudian lakukan foto radiologis.Pemasangan bidai dilakukan
untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan
lunak selain memudahkan proses pembuatan foto.

Tatalaksna Fraktur
Prinsip Penanganan Fraktur

16
Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan
pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.

a. Reduksi, yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang dapat diterima.
Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada
kesejajarannya dan posisi anatomis normal.
Sasarannya adalah untuk memperbaiki fragmen-fragmen fraktur pada posisi anatomik
normalnya.
Metode untuk reduksi adalah denganreduksi tertutup, traksi, dan reduksi terbuka.Metode
tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap
sama. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah
jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan.
Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah
mengalami penyembuhan.

Metode reduksi :
1. Reduksi tertutup, pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan
fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan Manipulasi dan
Traksi manual. Sebelum reduksi dan imobilisasi, pasien harus dimintakan persetujuan tindakan,
analgetik sesuai ketentuan dan bila diperlukan diberi anestesia. Ektremitas dipertahankan dalam
posisi yang diinginkan sementara gips, bidai atau alat lain dipasang oleh dokter. Alat imobilisasi
akan menjaga reduksi dan menstabilkan ektremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-x harus
dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar.
2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi
disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
3. Reduksi terbuka, pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan
bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku
atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya
sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.

b. Imobilisasi
Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam
posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.

17
Sasarannya adalah mempertahankan reduksi di tempatnya sampai terjadi penyembuhan.
Metode untuk mempertahankan imobilisasi adalah dengan alat-alat eksternal (bebat,
brace, case, pen dalam plester, fiksator eksterna, traksi, balutan) dan alat-alat internal
(nail, lempeng, sekrup, kawat, batang, dll).

c. Rehabilitasi
Sasarannya meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan normal pada bagian yang sakit.
Untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan mempertahankan reduksi dan
imobilisasi adalah peninggian untuk meminimalkan bengkak, memantau status
neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri, latihan isometrik dan pengaturan otot,
partisipasi dalam aktifitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktifitas kembali secara
bertahap dapat memperbaiki kemandirian fungsi. Pengembalian bertahap pada aktivitas
semula diusahakan sesuai batasan terapeutik

Teknik Penanganan Terapi Konserfatif dan Operasi

Penatalaksanaan Fraktur Klavikula:


1. Fraktur 1/3 tengah
Undisplaced fraktur dan minimal displaced fraktur diterapi dengan menggunakan
sling, yang dapat mengurangi nyeri.
Displaced fraktur fraktur dengan gangguan kosmetik diterapi dengan menggunakan
commersial strap yang berbentuk angka 8 (Verband figure of eight) sekitar sendi bahu,
untuk menarik bahu sehingga dapat mempertahankan alignment dan fraktur. Strap harus
dijaga supaya tidak terlalu ketat karena dapat mengganggu sirkulasi dan persyarafan. Suatu
bantal dapat diletakkan di antara scapula untuk menjaga tarikan dan kenyamanan. Jika
commersial strap tidak dapat digunakan, balutan dapat dibuat dari tubular stockinet, ini
biasanya digunakan untuk anak yang berusia <10 tahun.

Pemakaian strap yang baik:


1. menarik kedua bahu, melawan tekanan dipusat, dan daerah interscapula selama
penarikan fraktur.
2. tidak menutupi aksila, untuk kenyamanan dan hygiene.
3. menggunakan bantalan yang bagus.

18
4. tidak mengganggu sirkulasi dan persyarafan kedua lengan.

Plating Clavikula
Gunakan insisi sesuai garis Langer untuk mengekspos permukaan superior clavikula.
Hindari flap kulit undermining dan kerusakan saraf supraklavikula. Hindari juga diseksi
subperiosteal pada fracture site.
Lakukan reduksi fragmen fraktur jika memungkinkan pasang lag screw melintasi
fraktur.Plate diletakkan di sisi superior clavikula dengan 3 screw pada masing-masing sisi
fraktur untuk mencapai fiksasi yang solid.
Jika diperlukan diletakan subkutaneus drain, luka operasi ditutup dengan jahitan
subcuticular.

2. Fraktur lateral
Undisplaced fraktur dapat diterapi dengan sling. Displaced fraktur dapat diterapi dengan
sling atau dengan open reduction dan internal fiksasi.
Jika pergeseran lebih dari setengah diameter klavikula harus direduksi dan internal fiksasi.
Bila dibiarkan tanpa terapi akan terjadi deformitas dan dalam beberapa kasus rasa tidak enak
dan kelemahan pada bahu karena itu terapi diindikasikan melalui insisi supraklavikular,
fragmen diaposisi dan dipertahankan dengan pen yang halus, yang menembus kearah lateral
melalui fragmen sebelah luar dan akromion dan kemudian kembali ke batang klavikula.
Lengan ditahan dengan kain gendongan selama 6 minggu dan sesudah itu dianjurkan
melakukan pergerakan penuh.

Penyembuhan dan Penyatuan Tulang


Berbeda dengan jaringan lain, tulang dapat sembuh secara sempurna tanpa disertai
pembentukan jaringan parut, di sini berbagai faktor berpengaruh, seperti suplai darah dan posisi
dari tulang yang fraktur sendiri, itulah sebabnya memposisikan tulang sedemikian rupa sangat
diperlukan.

Penyembuhan Pada Tulang

19
1. Fase Kerusakan jaringan dan Hematoma
Fraktur menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil di dalam kanalikuli
havers, akibatnya terbentuk hematoma yang mengelilingi kedua sisi fraktur. Tulang pada
permukaan fraktur, kehilangan pasokan darah, mati kembali untuk satu atau dua
milimeter.

2. Fase Radang dan Proliferasi Selular

Dalam waktu 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel
dibawah periosteum dan di dalam saluran medulla yang tertembus. Ujung fragmen
dikelilingi oleh jaringan sel , yang menghuungkan tempat fraktur. Hematoma yang
membeku perlahan-lahan di absorbsi dan kapiler baru yang halus berkembang ke dalam
daerah itu.

3. Fase Pembentukan Kalus

Sel yang berkembang biak memiliki potensi krondogrenik dan osteogenik: bila
diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan dalam beberapa
keadaan, juga kartilago. Populasi sel sekarang juga mencangkup osteoklas (mungkin
dihasilkan dari pmbuluh darah baru) yang mulai membersihkan tulang yang mati.Massa sel
yang tebal, dengan pulau-pulau tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kalus atau
bebat pada permukaan periosteal dan endosteal.Sementara tulang fibrosa yang imatur
menjadi lebih padat, gerakan pada tempat fraktur semakin berkurang dan pada 4 minggu
setelah cedera fraktur menyatu.

4. Fase Konsolidasi

Bila aktivitas osteoklasik dan osteoblastik berlanjut, anyaman tulang berubah


menjadi tulang lamelar.Sistem itu sekarang cukup kaku untuk memungkinkan osteoklas
menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan dekat di belakangnya osteoblas
mengisi celah-celah yang terisia di antara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah
proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk
membawa beban yang normal. Woven bone akan berubah menjadi lamellar bone, di mana
proses ini berlangsung cukup lama, bisa beberapa bulan hingga terbentuk kesatuan yang
kuat. Kalus primer mulai berubah menjadi kalus intermediat.

20
5. Fase Remodelling

Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa
bulan, atau bahkan beberapa tahun, pengelasan kasar ini di bentuk ulang oleh resorpsi dan
pembentukan tulang yang terus menerus .lamella yang lebih tebal diletakkan pada tempat
yang tekanannya tinggi: dinding-dinding yang tidak dibutuhkan dibuang; rongga sumsum
di bentuk. Akhirnya terbentuk proses remodeling untuk merapikan penyatuan tulang.
Bagian yang berlebihan akan diresorpsi oleh osteoclast, sementara kalus intermediat akan
berubah menjadi tulang kompak, lengkap dengan pembentukan sistem havers dan
pembentukan ruang sumsum.

Penyatuan , konsodilasi, dan non-union

Perbaikan fraktur adalah suatu proses yang terus menerus .

Penyatuan (union)

Perbaikan yang tidak lengkap; kalus meliputinya akan mengalami kalsifikasi. Secara
klinik tempat fraktur masih sedikit nyeri dan meskipun tulang dapat bergerak sebagai satu
potong tulang (dan dalam arti ini sudah menyatu), usaha menekuknya akan menimbulkan
nyeri. Sinar-X memperlihatkan garis fraktur yang masih jelas terlihat. Dengan kalus mirip
bulu halus di sekitarnya.Perbaikan tidak lengkap dan tidaklah aman untuk membiarkan tulang
yang tidak terlindungi itu meghadapi tekanan.

Konsolidasi

Perbaikan yang lengkap; kalus berkapur itu mengalami osifikasi.Secara klinik tempat
fraktur tidak nyeri. Fragmen-fragmen tidak dapat bergerak dalam percobaan angulasi tidak
terasa nyeri. Sinar-x memperlihatkan garis fraktur hampir terhapus dan dijembatani oleh
trabekula tulang , dengan kalus yang jelas di sekitarnya. Perbaikan lengkap dan tidak perlu
perlindungan lebih jauh

Lama waktu pemulihan

21
Tidak ada jawaban yang tepat untuk mengetahui waktu pemulihan. Tetapi dapat
dilakukan perkiraan yang mendekati dan jadwal Perkins .fraktur spiral pada tungkai atas
bersatu dalam 3 minggu ; untuk konsolidasi kalikan dengan 2 lagi; jadi untuk fraktur
melintang kalikan dengan 2. Rumus lainnya adalah sebagai berikut.fraktur spiral pada tungkai
atas memakan waktu 6-8 minggu untuk konsolidasi ; tungkai bawah perlu 2 x lebih lama.
Tambahkan 25% kalau fraktur tidak bersifat spiral atau kalau fraktur melibatkan femur.
Fraktur pada anak-anak , tentu saja akan menyambung lebih cepat.

Non-Union

Kadang-kadang proses normal dalam perbaikan fraktur terhalang dan tulang gagal
menyatu. Penyebab ketidakmampuan menyatu ini adalah : distraksi dan pemisahan fragmen,
interposisi jaringan lunak di antara fragmen-fragmen, terlalu banyak gerakan pada garis
fraktur dan persediaan darah lokal yang buruk.

Proliferasi sel terutama fibroblastik; celah fraktur diisi dengan jaringan fibrosa dan
fragmen tulang tetap dapat bergerak, menciptakan sendi palsu atau pseudartosis. Pada
beberapa kasus, pembentukan tulang periosteum berlangsung aktif sehingga, sementara tulang
yang baru gagal menjembatani celah fraktur , ujung fragmen akan menebal atau melebar; non-
union hipertrofik ini pada akhirnya akan berlanjut ke penyatuan asalkan fragmen-fragmen
tulang dan dipertahankan kurang lebih tidak bergerak hingga terjadi proses penciptaan
jembatan. Pada kasus lain pembentukan tulang tampaknya berhenti sama sekali,
mengakibatkan non-union atrofik yang tidak akan pernah sembuh kecuali kalau fragmen
fragmen diimobilisais dan dicangkok dengan tulang berspon.

Komplikasi Fraktur
Komplikasi patah tulang di bagi menjadi komplikasi segera, komplikasi dini, dan
komplikasi lambat. Komplikasi segera terjadi pada saat terjadinya patah tulang atau segera
setelahnya, komplikasi dini terjadi dalam beberapa hari setelah kejadian, dan komplikasi lambat
terjadi lama setelah patah tulang. Ketiganya dibagi lagi masing-masing menjadi komplikasi lokal
dan umum.
Komplikasi segera dan setempat merupakan kerusakan yang langsung disebabkan oleh
trauma, selain patah tulang atau dislokasi. Trauma kulit dapat berupa kontusio, abrasi, laserasi,

22
atau luka tembus. Kulit yang terkontusio walau masih terlihat utuh, mudah mengalami infeksi
dan gangguan pendarahan.

Komplikasi segera
Lokal
- Kulit dan otot : vulnus (abrasi, laserasi), kontusio, avulsi
- Vaskular : terputus, kontusio, perdarahan
- Organ dalam : jantung, paru-paru (pada fraktur kosta), buli-buli(fraktur pelvis)
Umum
- Trauma multipel, syok

Kompliksi dini
Lokal
- Nekrosis kulit-otot, sindrom kompartemen, trombosis, infeksi sendi, osteomielitis
Umum
- ARDS, emboli paru, tetanus

Komplikasi lama
Lokal
- Tulang : malunion, nonunion, delayed union, osteomielitis
Patah tulang rekuren, gangguan pertumbuhan
- Sendi : ankilosis, penyakit degeneratif sendi pascatrauma
- Distrofi refleks
- Kerusakan saraf
- Miositis osifikan
Umum
- Batu ginjal (akibat imobilisasi lama di tempat tidur dan hiperkalsemia)
- Neurosis pascatrauma

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Solomon L, Warwick D,et al.Apleys System of Orthopaedics and Fractures 9th ed. General
Orthopedics. 2010.Warwick,Nayagam.

2. Canale ST, Beaty JH.CampbellS Operative Orthopaedics 12th ed. 2013. Elsevier Inc.

3. R. Putz, R. Pabst, Sobbota, Atlas Anatomi Manusia, ed 21, RGC, Jakarta, 2005.

4. Sjahriar R, Radiologi Diagnostik, ed kedua, FKUI, Jakarta, 2010.

5. Bajpai MS. Osteologi Tubuh Manusia. Penerbit Binarupa Aksara. 2001

6. R.Sjamsuhidat &Wim de jong.Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 1. Penerbit buku kedokteran


EGC.Jakarta . 1997.

24
BAB III
Kesimpulan

Dari autoananamnesis tanggal 04 Oktober 2013 didapatkan: Pasien laki-laki usia 33


tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri pada bahu kiri saat digerakkan. Sebelumnya pasien
mengalami KLL motor dengan motor, yang mengakibatkan pasien terjatuh dari motornya.
Pada pemeriksaan fisik regio bahu kiri didapatkan :
o Look - bengkak (-), deformitas (+), kulit intact (-), hematom (+)
o Feel - nyeri tekan (+),krepitasi (-)
o Move - pergerakan aktif : nyeri gerak (+), range of motion terbatas dan
pergerakan pasif : nyeri gerak (+)
Pemeriksaan penunjang foto rotgen regio bahu kiri :Fraktur klavikula sinistra 1/3 lat.cum
contractionum
Pada hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang : pasien di diagnosa
Fraktur tertutup cominutif midklav os.klavikula sinistra

25
Pada penatalaksanaan os.klavikula sinistra ini dilakukan pemasangan ORIF plate screw.
Pemasangan plate and screw merupakan jalan terbaik untuk mengatasi masalah yang dihadapi
pasien. Dengan pemasangan plate and screw ini dalam waktu 2 minggu ( setelah jahitan
dilepas) pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari, meskipun belum dapat mengangkat baeban
yang berat. Pada teori terdapat 3 cara pemasangan ORIF pada fraktur klavikula, namun yang
paling sering digunakan adalah superior fiksasi (ada anterior inferior fiksasi, ada intermedullar
fiksasi).

26