Anda di halaman 1dari 13

Pemodelan Sistem Geothermal Berdasarkan Data Geolistrik

Kabupaten Masamba Sulawesi Selatan

Oleh : Nova Susanti

Abstrak

Pengukuran tahanan jenis dengan konfigurasi Schlumberger telah dilakukan di daerah


panas bumi Pincara dengan cara mapping dan sounding. Secara geologi, hasil pengamatan geologi
lapangan batuan didaerah penelitian didominasi oleh batuan granit dan granodiorit (batuan
granitik), batuan lava, batuan breksi, batuan sedimen dan satuan batuan aluvium yang menempati
bagian selatan daerah penelitian.. Pengukuran mapping pada bentangan arus AB/2 = 250m, 500m,
750m, dan memperlihatkan daerah bertahanan jenis rendah makin meluas dengan bertambahnya
kedalaman ke arah tenggara dengan kontras tidak terlalu besar. Sedangkan anomali bertahanan
jenis tinggi cenderung melebar kebagian baratlaut. Secara geologi daerah bertahanan jenis rendah
ditafsirkan sebagai batuan sedimen cenderung lebih tebal kearah tenggara, sedangkan batuan yang
bertahana jenis tinggi ditafsirkan sebagai batuan beku berupa granit yang tersebar dibagian
baratlaut. Kondisi ini mencerminkan makin kearah tenggara batuan sedimen makin dalam dan
secara tidak langsung mengindikasikan keberadaan reservoir.Pengukuran Sounding menunjukkan
lintasan penampang tahanan jenis semu terdapat perbedaan nilai resistivity yang sangat mencolok
pada bagian baratlaut dan tenggara, diduga akibat adanya perbedaan lithologi antara batuan resistif
(granit) di bagian baratlaut dengan batuan yang kurang resistif di bagian tenggara (batuan
rombakan).

I. PENDAHULUAN
Daerah panas bumi Pincara Indonesia. Penyelidikan geolistrik
terletak 10 km dari Ibu Kota Masamba, tahanan jenis dengan konfigurasi
Kabupaten Luwu Utara kearah Utara Schlumberger yang telah dilakukan oleh
atau Timurlaut, Propinsi Sulawesi Badan geologi di daerah ini sebagai
Selatan (Gambar 1). Keberadaan daerah salah satu metode yang diterapkan pada
panas bumi Pincara ditandai oleh penyelidikan terpadu, dengan tujuan
kemunculan dua mata air panas di Desa untuk mempelajari struktur tahanan jenis
o
Pincara bersuhu sekitar 83 C pada daerah penyelidikan terutama dalam

batuan granit. Daerah ini secara umum membantu membatasi daerah prospek

berlingkungan granitik meski terdapat panas bumi. Tulisan ini memuat hasil

batuan vulkanik sebagai batuan tertua. reprossesing data penyelidikan tersebut

Dapat dikatakan bahwa daerah ini menyangkut peta-peta tahanan jenis,

merupakan salah satu dari daerah panas struktur tahanan jenis, dan interpretasi

bumi non-vulkanik yang ada di yang mengarah apakah prospek panas

34
bumi daerah dapat dilihat dari data panas bumi non-vulkanik lainnya.
geolistrik seperti halnya pada daerah

Gambar 1 Lokasi penyelidikan panas bumi Pincara


(Sumardi dan Sundhoro, 2005)

II. GEOLOGI DAERAH terobosan Granit, granodiorit) dan


PENYELIDIKAN batuan Alluvium (Qal) terdiri dari
Berdasarkan peta geologi lumpur, lempung, pasir, kerikil dan
lembar Malili (Simandjuntak dkk, kerakal.
1991), skala 1: 250.000, geologi Dari hasil pengamatan lapangan
umum daerah penelitian dapat dibagi daerah penelitian secara garis besar
kedalam 5 satuan formasi yaitu : batuannya terdiri dari batuan sedimen,
Formasi Latimojong (Kls), batuannya alluvium, granit, granodiorit, diorit,

terdiri dari batusabak, filit, kuarsit, batuan lava , breksi dan andesit. Batuan
intrusi berupa granit dan granodiorit
batugamping dan batulanau dengan
(berumur miosen atas) dan batuan lava,
sisipan konglomerat. Satuan batuan
breksi dan andesit (berumur paleosen).
gunungapi Lamas (Tplv) batuannya
Sedangkan dari hasil pengamatan
terdiri dari lava, basalt breksi
geologi lapangan batuan didaerah
gunungapi, tufa dan andesit. Formasi penelitian didominasi oleh batuan granit
Bonebone (Tmpb) batuannnya terdiri dan granodiorit (batuan granitik), batuan
dari batupasir, konglomerat, napal lava, batuan breksi, batuan sedimen dan
dan lempung tufaan. Granit Kambuno satuan batuan aluvium yang menempati
(Tpkg) batuaanya terdiri dari granit, bagian selatan daerah penelitian.
granodiorit dan sekis (batuan

35
III. METODE PENELITIAN Excel kemudian dibuat peta tahanan
3.1. Data Mapping jenis berdasarkan jarak AB/2 nya dengan
Pada pengolahan data resistivity menggunakan surfer seperti terlihat pada
(mapping), pertama kali yang dilakukan Gambar 2 dan 3 dibawah ini.
adalah mencari nilai faktor geometri
sesuai dengan ketentuan pencarian nilai
faktor geometri pada konfigurasi
Schlumberger. Setelah itu dicari apparent
resistivity. Selanjutnya dari data yang
telah diolah dengan Microsoft Excel
tersebut, dibuat model dengan software
Res2Dinv, Progress dan Surfer.
Pada pengolahan data mapping,
data yang telah diolah dengan Microsoft

Gambar 2 Peta tahanan jenis semu (a) AB/2 = 250 m, (b) AB/2 = 500 m

Gambar 3 Peta tahanan jenis semu (a) AB/2 = 750 m, (b) AB/2 = 1000 m

3.2. Data Sounding pemodelan menggunakan software


Pada pengolahan data resistivity Progress. Pada pengolahan data pertama
(sounding), terdapat lima lintasan dalam kali yang dilakukan adalah mencari nilai
pengukuran ini. Pemodelan yang faktor geometri sesuai dengan ketentuan
digunakan dalam metode ini adalah
pencarian nilai faktor geometri pada mulai dari menginput data, membuat
konfigurasi Schlumberger. Setelah itu model acuan, menyelaraskan model
dicari apparent resistivity. Selanjutnya (kurva) dengan data, terakhir menyimpan
dari data yang telah diolah dengan data dan model. Model yang dihasilkan
Microsoft Excel tersebut, dibuat model dari software Progress dapat dilihat pada
dengan software Progress. Prosesnya Gambar 4 s/d 9 dibawah ini.

Titik Sounding B4000

Gambar 4 Model resistivity dan nilai resistivity dan thickness di titik B4000

Dari model yang dihasilkan dari tetapi model tersebut sudah cukup
titik sounding B4000 (Gambar 4) terlihat mewakili.
bahwa pada data awal trend dari data Titik Sounding C3900
bisa terlihat, dan tidak terlalu sulit untuk Dari model yang dihasilkan pada
menyelaraskan dengan kurva. Tetapi titik sounding ini, ada beberapa data
ditengah data antara layer 2 dan 3, ada yang tidak tercover oleh kurva. Yaitu
beberapa data yang tidak tercover oleh pada data-data awal dan akhir. Tentu saja
kurva. Hal ini menyebabkan kepastian ini mempengaruhi kepastian dari model
dari model yang dibuat pada layer 2 dan tersebut pada layer 1 dan 4. Berlawanan
3 lebih kecil jika dibandingkan dengan dengan titik sounding B4000, titik
layer pertama. Dan faktor kesalahannya sounding C3900 di bagian tengan kurva
bisa jadi lebih tinggi. Diakhir data trend cukup selaras dengan data.
sudah terlihat kembali, walaupun masih Memungkinkan kepastian model pada
ada beberapa titik yang belum tercover, layer 2 dan 3 lebih tinggi dibanding layer
1 dan 4.
Gambar 5 Model resistivity dan nilai resistivity dan thickness di titik C3900

Titik Sounding C4500

Gambar 6 Model resistivity dan nilai resistivity dan thickness di titik C4500

Dari 2 model yang dihasilkan Dilihat dari trendnya kurva pada


sebelumnya, bisa dikatakan model ini model ini cukup selaras hanya ada
memiliki tingkat ketidakpastiaan lebih beberapa titik diawal dan cukup banyak
tinggi. Bisa terlihat dari keselarasan titik yang tidak tercover pada akhir dari
antara model dan data. Meskipun kurva data. Faktor instrumentasi juga
sudah mencerminkan trend dari data, berpengaruh terhadap error data
tetapi masih banyak data yang belum dilapangan. Bisa juga dari faktor
tercover oleh kurva. lingkungan yang menyebabkan
sensitifitas data di kedalaman yang lebih
Titik Sounding C5000 dalam lebih kecil (berkurang).
Gambar 7 Model resistivity dan nilai resistivity dan thickness titik C5000

Titik Sounding C5500 data pada layer satu lebih kecil


Faktor kesalahan yang terbesar dibanding model pada layer yang lain.
pada titik ini adalah pada data awal Trend untuk layer 2, 3, dan 4 sudah
(Gambar 8). Terlihat ada 3 data yang terlihat lebih jelas.
tidak tercover oleh kurva. Hal ini
menyebabkan sensitifitas model terhadap

Gambar 8 Model resistivity dan nilai resistivity dan thickness di titik C5500

menyebabkan faktor kesalahan yang


Titik Sounding D4500 lebih besar untuk model resistivity pada
Tidak jauh berbeda dengan layer pertama. Selanjutnya trend sudah
model pada titik sebelumnya (C5500), mulai terlihat, walaupun ada beberapa
ada ketidakselarasan antara kurva dan data yang tidak tercover pada data di
data pada bagian awal. Hal ini bagian lebih dalam.
Gambar 9 Model resistivity dan nilai resistivity dan thickness di titik D4500

IV. HASIL PENELITIAN Ohm-m menempati hampir setengah dari


4.1. Data Mapping luas daerah penyelidikan, dengan kontur
Interpretasi data mapping tahanan jenis membuka ke arah tenggara.

dilakukan secara kualitatif terhadap Tahanan jenis semu 20 - 60 Ohm-m yang


berada di bagian tengah daerah
peta tahanan jenis semu AB/2 = 250
penyelidikan. Sedangkan tahanan jenis
m s/d 1000 m seperti yang terlihat
semu tinggi >60 Ohm-m terdapat
pada Gambar 10 dibawah ini.
disebagian kecil baratlaut.
Dengan kecenderungan
Peta tahanan jenis semu AB/2
kontur yang mengecil ke arah
= 250 m
tenggara dan dengan kontras
Peta tahanan jenis semu pada
resistivitas yang cukup besar di
bentangan AB/2 = 250 m
memperlihatkan kecenderungan ke arah tengah daerah penyelidikan, kontras

tenggara nilai tahanan jenis semu makin tersebut kemungkinan karena


rendah. Anomali tinggi berada di perbedaan litologi di bagian tengah
baratlaut dengan nilai kontur terbesar daerah penyelidikan dengan arah
>60 Ohm-m, kemudian ke arah tenggara baratdaya-timurlaut.
tahanan jenis secara berangsur mengecil
sampai <20 Ohm-m. Nilai kontur <20
Peta tahanan jenis semu AB/2
= 500 Peta tahanan jenis semu AB/2
Pola kontur tahanan jenis semu = 1000
AB/2 = 500 m hampir sama dengan pola Kontur tahanan jenis semu >60
kontur pada bentangan AB/2 = 250 m, Ohm-m penyebarannya lebih mengecil
Nilai tahanan jenis semu <20 Ohm-m bila dibandingkan pada betangan
terdapat di bagian tengah daerah AB/2=750 m diarah baratlaut dan sedikit
penyelidikan dengan penyebaran di arah utara. Kontur tahanan jenis semu
memanjang dari tenggara ke timurlaut. 20 60 Ohm-m penyebarannya
Penyebaran tahanan jenis semu >100 mengikuti pola kontur tahanan jenis
Ohm-m masih tetap ke arah baratlaut dan semu >60 Ohm-m dengan pola membuka
utara dengan luas sangat kecil. ke arah timurlaut dan baratdaya. Di
Penyebaran tahanan jenis semu <20 bagian tengah daerah penyelidikan
Ohm-m masih tetap ke arah tenggara terdapat satu buah pola kontur tertutup
dengan luas makin mengecil. Kerapatan dengan nilai kontur berkisar 70 Ohm-m
tahanan jenis semu yang terdapat yaitu di antara titik amat C-4000.
diantara 20 100 Ohm diduga Hasil geolistrik Mapping
merupakan batas litologi batuan. memperlihatkan daerah bertahanan
jenis rendah makin meluas dengan
Peta tahanan jenis semu AB/2 bertambahnya kedalaman ke arah
= 750
tenggara dengan kontras tidak terlalu
Pada Peta tahanan jenis semu
besar. Sedangkan anomali bertahanan
dengan bentangan AB/2 = 750 m yang
jenis tinggi cenderung melebar
mempunyai nilai kontur > 60 Ohm-m
kebagian baratlaut. Secara geologi
berada di ujung bagian baratlaut dan di
bagian utara seperti pada peta-peta daerah bertahanan jenis rendah

sebelumnya. Sebaran tahanan jenis semu ditafsirkan sebagai batuan sedimen


20-60 Ohm-m makin luas bila cenderung lebih tebal kearah
dibandingkan dengan peta tahanan jenis tenggara, sedangkan batuan yang
semu sebelumnya, kontur tahanan jenis bertahana jenis tinggi ditafsirkan
membuka ke arah timurlaut, utara dan sebagai batuan beku berupa granit
baratlaut. Tahanan jenis semu >20 Ohm- yang tersebar dibagian baratlaut.
m terdapat perbedaan yang cukup
Dengan demikian kondisi ini
mencolok yaitu harga tahanan jenis semu
mencerminkan makin kearah tenggara
ke arah tenggara menurun tajam.
batuan sedimen makin dalam dan mengindikasikan keberadaan
secara tidak langsung reservoir.

Gambar 10 Peta tahanan jenis semu AB/2 = 250 s/d 1000 m


4.2. Penampang tegak tahanan tahanan jenis semu mulai bervariasi
jenis semu lintasan B, C dan antara 0 80 ohm m disekitar titik
D D4000, D4500, D5500 dan D6000.
Penampang tegak tahanan jenis Sedangkan nilai tahanan jenis tinggi
semu dibuat pada lintasan pengukuran pada kedalaman yang terdapat disekitar
dengan mengeplotkan data mapping dan titik D4000-D5500, nilai tahanan jenis
sounding dari tiap lintasan pada rendah berada di tenggara penyelidikan
kedalaman AB/4 dengan asumsi bahwa Dari ketiga lintasan penampang
penetrasi arus pengukuran mendekati tahanan jenis semu tersebut terdapat
AB/4. Arah lintasan pengukuran perbedaan nilai resistivity yang sangat
berarah baratlaut tenggara. mencolok pada bagian baratlaut dan
Penampang tegak tahanan jenis semu tenggara, diduga akibat adanya
terdiri dari lintasan B, C dan D perbedaan lithologi antara batuan
disajikan pada Gambar 11. resistif (granit) di bagian baratlaut
Pada lintasan B terlihat nilai dengan batuan yang kurang resistif di
tahanan jenis semu makin kedalam bagian tenggara (batuan rombakan).
makin membesar dengan nilai kontur
tertinggi (> 80 ohm m) dan nilai
tahanan jenis semu rendah beradara di
arah tenggara dengan nilai (< 40 ohm
m).
Perlapisan pada lintasan C
terlihat agak merapat dengan nilai
tahanan jenis semu tinggi berada di
baratlaut dengan nilai kontur tertinggi
(>200 ohm m) terlihat pada titik C dan
nilai kontur mulai rendah ke arah
tenggara.

Pada penampang tahanan jenis


semu lintasan D pada permukaan nilai
Baratlaut B4500 Tenggara
B5500 B6000

AB/4 (meter)
0
Lintasan B

-500

3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000
meter 320.6

Baratlaut Tenggara 280.6


C3000 C3500 C6500
C6000 C7000
C4000 C4500 P1 C5000 C5500
240.6
KN2
AB/4 (meter)

0
Lintasan C KN1 200.6

-500 160.6

3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000 120.6
meter
80.6

40.6
Tenggara
Baratlaut D4000 D5500
D3500
0.6
AB/4 (meter)

0
Lintasan D

-500

3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 8000
meter

P1 = MTA pemandian Desa Pincara


KN 1 = MTA kanan tedong 1
KN 2 = MTA kanan tedong 2
Gambar 11 Penampang tahanan jenis semu lintasan B, C, dan D
V. KESIMPULAN Setiap data sounding telah
Penampang tegak tahanan jenis dimodelkan menggunakan forward
sebenarnya, dibuat dari hasil modelling 1-D (hasilnya dapat dilihat
pengukuran sounding yang dilakukan pada bab IV). Dari hasil pemodelan 1-D
pada lintasan C. Terdapat empat titik per titik sounding kemudian dibuat
sounding, masing masing pada model penampang tahanan jenis 2-D
lintasan C/3900, C/4000, C/5000,dan seperti terlihat pada Gambar 12.
C/5500.

Gambar 12 Penampang tahanan jenis sebenarnya lintasan C

Pemodelan yang telah dilakukan ini memotong batuan disekitarnya yang


dimaksudkan untuk memberikan gambaran memiliki densitas yang lebih kecil. Diatas
geologi bawah permukaan didaerah sekitar batuan intrusi berarah tenggara daerah
kenampakan mata air panas Pincara secara penelitian ditutupi oleh batuan permeabel
lebih jelas. Dari hasil pemodel yang dibuat yaitu perselingan batupasir, konglomerat dari
pada lintasan C yang terdapat lokasi mata air formasi Bonebone (dengan nilai resistivity
panas Pincara dengan empat titik sounding antara 145,54 375,46 ohm m terletak
(C3900, C4000, C45000 dan C5000) disebagian tenggara daerah penyelidikan.
diperkirakan adanya intrusi batuan andesit
basalt breksi gunung api dengan nilai
resistivity 37,91 89,82 ohm m, batuan ini
IP Inversion using the least-square
DAFTAR PUSTAKA method. Penang : Geotomo Software.
Dickson, Mary H. and Mario Fanelli. 2004. Mussett, Alan E. and M. Aftab Khan. 2000.
Geothermal Energy. Istituto di Looking Into The Earth, Cambridge :
Geoscienze e Georisorse, CNR , Pisa, Cambridge University Press
Italy Simandjuntak, T. O., E. Rusmana, Surono &
Fauzi D. A, 2005, Eksplorasi air bawah J. B. Supandjono. 1991. Peta Geologi
tanah di kampus UI Depok dengan Lembar Malili Sulawesi Selatan, PPPG,
metode Resistivitas Schlumberger, Bandung.
Universitas Indonesia. Suhanto, Edi. dan Bakrun. 2003. Studi Kasus
Hochstein, M. P., 1982 Intruduction to Lapangan Panas Bumi Non Vulkanik Di
Geothermal Prospecting, Geothermal Sulawesi : Pulu, Mamasa, Parara dan
Institute, University of Auckland. Mangolo, Subdit Panas Bumi, Jakarta
Hochstein, M. P. and P. R. L. Browne. 2000. Suhanto, Edi. dan Bakrun. 2005.
Surface Manifestations of Geothermal Penyelidikan Geolistrik Tahanan Jenis
Systems with Volcanic Heat Source. Di Daerah Panas Bumi Pincara,
Geothermal Institute, University of Masamba, Sulawesi Selatan, Subdit
Auckland. Panas Bumi, Jakarta
Griffiths, David J. 1999. Intruduction to Sumardi, Eddy. dan Herry Sundhoro. 2005.
Electrodynamics 3rd Edition. New Geologi Daerah Pincara, Masamba,
Jersey, Prentice Hall. Kabupaten Luwuk Utara, Sulawesi
Katili, J. A. 1978. Past and present Selatan, Subdit Panas Bumi, Jakarta
geotectonic position of Sulawesi, Telford, W. M., L. P. Geldart and Sherrif. R.
Indonesia. Elsevier Scientific Publ. Co., E. 1990. Applied Geophysics.
Amsterdam. Cambridge : Cambridge University
Loke, M.H. 2000. RES3DINV ver. 2.14 for Press.
Windows 98/Me/2000/NT/XP : Rapid & Tonani. 1982. Geothermic Vol. 2,
Cambridge : Cambridge University Press