Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Minyak goreng merupakan salah satu bahan yang banyak digunakan untuk
kehidupan sehari-hari. Minyak goreng berasal dari minyak nabati yang telah
dimurnikan, berbentuk cair dalam suhu kamar dan dapat digunakan sebagai media
menggoreng bahan pangan yang bertujuan untuk menjadikan makanan gurih dan
renyah, meningkatkan cita rasa, perbaikan tekstur dan pembawa rasa.
Minyak yang baik adalah minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh
yang lebih banyak dibandingkan dengan kandungan asam lemak jenuhnya. Setelah
penggorengan berkali-kali, asam lemak yang terkandung dalam minyak akan semakin
jenuh. Dengan demikian minyak tersebut dapat dikatakan telah rusak yang disebut
dengan minyak jelantah. Suhu yang semakin tinggi akan meningkatkan kadar asam
lemak jenuh dalam minyak.
Bahaya mengkonsumsi minyak goreng bekas dapat menimbulkan penyakit,
seperti kanker, mengurangi kecerdasan, penyakit jantung, arterosklerosis, stroke,
diabetes, deposit lemak yang tidak normal, serta control yang tidak sempurna pada
pusat syaraf, dan membuat stamina menurun. Namun apabila minyak goreng bekas
tersebut dibuang sangat tidak efisien dan mencemari lingkungan. Oleh karena itu,
minyak goreng bekas dapat dimanfaatkan kembali, salah satunya menjadi produk
berbasis minyak seperti sabun mandi.
Sabun merupakan senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak dari
minyak nabati atau lemak hewani yang berbentuk pada, lunak atau cair, dan berbusa.
Sabun diperoleh melalui proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam
lemak dan gliserol dalam kondisi basa. Pembuatan kondisi basa yang biasa digunakan
adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hiroksida (KOH). Jika basa yang
digunakan adalah NaOH maka produk reaksi yang dihasilkan berupa sabun keras
(padat), sedangkan jika basa yang digunakan adalah KOH maka produk reaksi yang
dihasilkan berupa sabun cair.

1
1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara pembuatan sabun mandi padat dengan bahan baku minyak
goreng bekas (jelantah) melalui proses saponifikasi ?
2. Bagaimana karakter atau sifat sabun mandi padat yang diperoleh dari minyak
goreng bekas (jelantah) setelah melalui proses pemurnian dan proses
penyabunan ?

1.3.Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Membuat sabun mandi padat dari minyak goreng bekas (jelantah) dengan
menggunakan NaOH sebagai perekasinya melalui proses saponifikasi.
2. Mengetahui karakter atau sifat sabun mandi padat yang diperoleh dari minyak
goreng bekas (jelantah) setelah melalui proses pemurnian dan proses
penyabunan.

1.4.Ruang Lingkup Penelitian


Bahan baku dalam pembuatan sabun mandi padat yang digunakan pada
penelitian ini adalah minyak goreng bekas (jelantah) setelah pemakaian 2 sampai 4
kali yang diperoleh dari limbah penggorengan rumah tangga. Adapun proses
pretreatment bahan baku tersebut dilakukan dengan menggunakan proses pemurnian
yang terdiri dari tiga tahap, yaitu despicing, netralisasi, dan bleaching. Variable bebas
yang digunakan pada penelitian ini yaitu waktu dan konsentari NaOH. Variasi waktu
pengadukan yaitu selama 30 menit, 55 menit, dan 80 menit. Variasi konsentrasi
NaOH yaitu 15 %, 30 %, dan 45 %.
Bahan untuk pemurnian minyak goreng bekas berupa NaOH 15%, daging
lidah buaya sebagai absorben sebanyak 5% dan 8% dari berat minyak goreng bekas
(jelantah) yang digunakan, akuades, parfum non alcohol aroma strawberry (kadar
alcohol 5%) sebanyak 1 ml dan pewarna makanan strawberry red extra (kadar warna
14%) sebanyak 1 gram.

2
1.5.Variabel-variabel
A. Variabel Untuk Pemurnian Minyak Goreng Bekas:
1. Pemakaian minyak goreng bekas 2-4 kali.
2. Berat daging lidah buaya (%) dari berat minyak goreng : 5% dan 8%.

B. Variabel Untuk Pembuatan Sabun Mandi Padat:


1. Konsentrasi NaOH (%) : 15, 30, 45.
2. Waktu Pengadukan (menit) : 30, 55, 80.

1.6.Manfaat Penelitian
1. Menjadi alternatif untuk memanfaatkan limbah rumah tangga, berupa minyak
goreng bekas (jelantah) yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan
sabun mandi.
2. Mengetahui cara baru untuk mengolah minyak goreng bekas menjadi sesuatu
yang lebih berguna daripada harus membuangnya secara langsung.
3. Mengurangi pencemaran lingkungan.
4. Menambah ilmu pengetahuan dalam bidang teknik kimia bagi mahasiswa
maupun pembaca.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Minyak Goreng
Minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh
manusia. Selain itu minyak juga merupakan sumber energy yang lebih efektif
dibandingkan karbohidrat dan protein. Satu gram minyak dapat menghasilkan 9 kkal,
sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal gram. Minyak,
khususnya minyak nabati, mengandung asam-asam lemak esensial seperti asam
linoleat, lenolenat, dan arakidonat yang dapat mencegah penyempitan pembuluh
darah akibat penumpukan kolesterol. Minyak juga berfungsi sebagai sumber dan
pelarut bagi vitamin-vitamin A, D, E dan K.
Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan
yang telah dimurnikan, berbentuk cair dalam suhu kamar dan dapat digunakan
sebagai media menggoreng bahan pangan yang bertujuan untuk menjadikan makanan
gurih dan renyah, meningkatkan cita rasa, penambah nilai kalori bahan pangan,
perbaikan tekstur dan pembawa rasa. Mutu minyak goreng ditentukan oleh titik
asapnya, yaitu suhu pemanasan minyak sampai terbentuk akrolein yang tidak
diinginkan dan dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan.

2.1.1. Mutu Minyak Goreng


Mutu minyak goreng ditentukan oleh titik asapnya, yaitu suhu pemanasan
minyak sampai terbentuk akrolein yang tidak diinginkan dan dapat menimbulkan rasa
gatal pada tenggorokan, hidrasi gliserol akan membentuk aldehida tidak jenuh atau
akrolein tersebut. Makin tinggi titik asap, makin baik mutu minyak goreng. Titik asap
suatu minyak goreng tergantung dari kadar gliserol bebas. Lemak yang telah
digunakan untuk menggoreng titik asapnya akan turun, karena telah terjadi hidrolisis
molekul lemak. Oleh karena itu untuk menekan terjadinya hidrolisis, pemanasan
lemak atau minyak sebaiknya dilakukan pada suhu yang tidak terlalu tinggi dari
seharusnya.

4
Adapun standar mutu minyak goreng di Indonesia diatur dalam SNI 01-3741-
2002. Standar mutu minyak goreng telah dirumuskan dan ditetapkan oleh Badan
Standarisasi Nasional (BSN) yaitu SNI 01-3741-2002, SNI ini merupakan revisi dari
SNI 01-3741-1995, menetapkan bahwa standar mutu minyak goreng seperti pada
Tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1 Tabel SNI 01-3741-2002 tentang Standar Mutu Minyak Goreng

KRITERIA UJI SATUAN SYARAT


Keadaan bau, warna, - Normal
rasa

Air % b/b Maks 0.30

Asam lemak bebas % b/b Maks 0.30


(dihitung sebagai
asam larut)

Bahan Makanan Sesuai SNI. 022-M dan Permenkes Sesuai SNI. 022-M dan Permenkes
Tambahan No. 722/Menkes/Per/IX/88 No. 722/Menkes/Per/IX/88

Cemaran Logam :
mg/kg Maks 1.5
- Besi (Fe)
mg/kg Maks 0.1
- Tembaga (Cu)
mg/kg Maks 0.1
- Raksa (Hg)
mg/kg Maks 40.0
- Timbal (Pb)
mg/kg Maks 0.005
- Timah (Sn)
mg/kg Maks 40.0/250.0)*
- Seng (Zn)

Arsen (As) % b/b Maks 0.1

Angka Peroksida mg 02 % Maks 1

Catatan * Dalam kemasan kaleng


Sumber : Standar Nasional Indonesia 01-3741-2002

5
2.1.2. Sifat Fisika Kimia Minyak
1. Sifat Fisika
a. Warna
Zat warna terdiri dari 2 golongan, golongan pertama yaitu zat warna alamiah,
yaitu secara alamiah terdapat dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut
terekstrak bersama minyak pada proses ekstrasi. Zat warna tersebut antara lain dan
karoten (berwarna kuning), xantofil (berwarna kuning kecoklatan), klorofil (berwarna
kehijauan) dan antosyanin(berwarna kemerahan). Golongan kedua yaitu zat warna
dari hasil degradasi zat warna alamiah, yaitu warna gelap disebabkan oleh proses
oksidasi terhadap tokoferol (vitamin E), warna cokelat disebabkan oleh bahan untuk
membuat minyak yang telah busuk atau rusak, warna kuning umumnya terjadi pada
minyak tidak jenuh.
b. Kelarutan
Minyak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (castor oil), dan minyak
sedikit larut dalam alcohol,etil eter, karbon disulfide dan pelarut-pelarut halogen.
c. Titik Didih (Boiling Point)
Titik didih akan semakin meningkat dengan bertambah panjangnya rantai
karbon asam lemak tersebut.
d. Sliping Point
Digunakan untuk pengenalan minyak serta pengaruh kehadiran komponen-
komponenya.
e. Shot Melting Point
Yaitu temperature pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak atau lemak.

2. Sifat Kimia
a. Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisa, minyak akan diubah menjadi asam lemak bebas dan
gliserol. Reaksi hidrolisa yang dapat menyababkan kerusakan minyak atau lemak
terjadi karena terdapatnya sejumlah air dalam minyak tersebut.
b. Oksidasi

6
Proses oksidasi berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen
dengan minyak. Terjadinya reaksi oksidasi akan mengakibatkan bau tengik pada
minyak dan lemak.
c. Hidrogenasi
Proses hidrogenasi bertujuan untuk menumbuhkan ikatan rangkap dari rantai
karbon asam lemak pada minyak.
d. Esterifikasi
Proses esterifikasi bertujuan untuk mengubah asam asam lemak dari
trigliserida dalam bentuk ester. Dengan menggunakan prinsip reaksi ini hidrokarbon
rantai pendek dalam asam lemak yang menyebabkan bau tidak enak, dapat ditukar
dengan rantai panjang yang bersifat tidak menguap.

2.1.3. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Mutu Minyak Goreng


1. Asam Lemak Bebas (ALB)
Asam lemak bebas dalam konsentrasi tinggi yang terikut dalam minyak
goreng sangat merugikan. Tingginya asam lemak bebas ini mengakibatkan rendemen
minyak turun. Untuk itulah perlu dilakukan usaha pencegahan terbentuknya asam
lemak bebas dalam minyak goreng.
2. Kadar zat menguap dan kotoran
Meskipun kadar asam lemak bebas dalam minyak sawit kecil, tetapi hal itu
belum menjamin mutu minyak goreng. Kemantapan minyak goreng harus dijaga
dengan cara membuang kotoran dan zat menguap. Hal ini dilakukan dengan peralatan
pemurnian modern.
3. Kadar Logam
Beberapa jenis bahan logam yang dapat terikut dalam minyak goreng antara
lain besi, tembaga, dan kuningan. Mutu dan kualitas minyak goreng yang
mengandung logam-logam tersebut akan turun. Sebab dalam kondisi tertentu, logam-
logam itu dapat menjadi katalisator yang menstimulir reaksi oksidasi minyak goreng.
Reaksi ini dapat dimonitor dengan melihat perubahan warna minyak goreng yang
semakin gelap dan akhirnya menyebabkan ketengikan.

7
4. Angka Oksidasi
Proses oksidasi yang distimulir oleh logam jika berlangsung dengan intensif
akan mengakibatkan ketengikan dan perubahan warna (menjadi semakin gelap).
Keadaan ini jelas sangat merugikan sebab mutu minyak goreng menjadi menurun.
Dari angka ini dapat diperkirakan sampai sejauh mana proses oksidasi berlangsung
sehingga dapat pula dinilai kemampuan minyak goreng untuk menghasilkan barang
jadi yang memiliki daya tahan dan daya simpan yang lama. Angka oksidasi dihitung
berdasarkan angka peroksida.
5. Bilangan Peroksida
Bilangan peroksida adalah banyaknya miliekuivalen peroksida dalam 100
gram lemak. Bilangan peroksida adalah nilai terpenting untuk menentukan derajat
kerusakan pada minyak atau lemak. Asam lemak tidak jenuh dapat mengikat oksigen
pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida. Peroksida ini dapat
ditentukan dengan metode iodometri. Kerusakan lemak atau minyak yang utama
adalah karena peristiwa oksidasi dan hidrolitik, baik ensimatik maupun non
ensimatik. Di antara kerusakan minyak yang mungkin terjadi ternyata kerusakan
karena autooksidasi yang paling besar pengaruhnya terhadap cita rasa. Hasil yang
diakibatkan oksidasi lemak antara lain peroksida, asam lemak, aldehid, dan keton.
Bau tengik atau rancid terutama disebabkan oleh aldehid dan keton. Untuk
mengetahui tingkat kerusakan minyak dapat dinyatakan sebagai angka peroksida atau
angka asam thiobarbiturat (TBA).
Secara umum, reaksi pembentukan peroksida dapat digambarkan pada gambar 2.1
sebagai berikut :

8
Bilangan peroksida biasanya diukur secara volumetri dengan metode yang
telah dikembangkan oleh Lea. Hal ini disebabkan minyak dalam suasana asam
dengan kalium iodida akan mengikat oksigen diikuti dengan titrasi dari pembebasan
iodine dengan natrium tiosulfat. Kloroform adalah pelarut yang biasanya digunakan.
Hasil oksidasi berpengaruh dan dapat mempersingkat periode induktif dari
lemak segar, dan dapat merusak zat inhibitor. Konstituen yang aktif dari hasil
oksidasi lemak, berupa peroksida lemak atau penambahan peroksida selain yang
dihasilkan pada proses oksidasi lemak, misalnya hidrogen peroksida dan asam persid
dapat mempercepat proses oksidasi. Usaha penambahan antioksidan hanya dapat
mengurangi peroksida dalam jumlah kecil, namun fungsi anti-oksidan akan rusak
dalam lemak yang mengandung peroksida dalam jumlah besar.

2.2. Komposisi Minyak Goreng


Komposisi terbanyak dari minyak goreng yang mencapai hampir 100% adalah
lemak. Sebagian besar lemak dalam makanan (termasuk minyak goreng) berbentuk
trigliserida. Jika terurai, trigliserida akan berubah menjadi satu molekul gliserol dan
tiga molekul asam lemak bebas. Semakin banyak trigliserida yang terurai semakin
banyak asam lemak bebas yang dihasilkan, pada proses oksidasi lebih lanjut, asam
lemak bebas ini akan menyebabkan lemak atau minyak menjadi bau tengik.

Tabel 2.2. Komposisi Beberapa Asam Lemak dalam Minyak Goreng


Asam Lemak Jumlah Atom C Kandungan Asam Lemak
(%)
Asam Lemak Jenuh
Oktanoat 8 -
Dekanoat 10 -
Laurat 12 1
Miristat 14 1-2
Palmitat 16 32-47

9
Stearat 18 4 - 10
Asam Lemak Tidak Jenuh
Oleat 18 38-50
Linoleat 18 5 - 14
Linolenat 18 1

(Sumber : Majalah Sasaran No.4, 1996)


2.3. Minyak Jelantah
Minyak jelantah adalah sebutan untuk minyak goreng yang telah berulangkali
digunakan. Minyak jelantah dihasilkan dari sisa penggorengan, baik dari minyak
kelapa maupun minyak sawit. Minyak jelantah dapat menyebabkan minyak berasap
atau berbusa pada saat penggorengan, meninggalkan warna coklat, serta flavor yang
tidak disukai dari makanan yang digoreng. Selain penampakannya yang tidak
menarik, coklat kehitaman, bau tengik, minyak jelantah sangat mempunyai potensi
yang besar dalam membahayakan kesehatan tubuh. Minyak jelantah mengandung
berbagai radikal bebas, yang setiap saat siap untuk mengoksidasi organ tubuh secara
perlahan. Minyak jelantah kaya akan asam lemak bebas. Terlalu sering
mengkonsumsi minyak jelantah dapat menyebabkan potensi kanker meningkat.
Menurut para ahli kesehatan, minyak goreng hanya boleh digunakan dua sampai
empat kali menggoreng.

2.3.1. Kerusakan pada Minyak


Minyak goreng sangat rentan terhadap kerusakan atau penurunan mutu,
terutama yang diakibatkan oleh pemanasan yang berulang. Selama penggorengan,
minyak goreng akan mengalami pemanasan pada suhu tinggi sekitar 170 180 C
dalam waktu yang cukup lama. Hal ini akan menyebabkan terjadinya proses oksidasi,
hidrolisis dan polimerisasi yang menghasilkan senyawa - senyawa hasil degradasi
minyak seperti keton, aldehid dan polimer yang merugikan kesehatan manusia.
Proses proses tersebut menyebabkan minyak mengalami kerusakan. Kerusakan
utama adalah timbulnya bau dan rasa tengik, sedangkan kerusakan lain meliputi

10
peningkatan kadar asam lemak bebas (FFA), bilangan iodin (IV), timbulnya
kekentalan minyak, terbentuknya busa, hanya kotoran dari bumbu yang digunakan
dan bahan yang digoreng.
Kerusakan minyak goreng umumnya disebabkan karena adanya oksidasi yang
ditandai dengan timbulnya ketengikan. Tengik merupakan istilah off-odor atau off
flavour yaitu timbulnya rasa atau bau yang tidak diinginkan. Tengik yang disebabkan
oleh proses oksidasi melalui 3 tahap, yaitu inisiasi (induksi), propagasi dan terminasi.
Faktor-faktor yang menyebabkan minyak goreng teroksidasi dengan cepat
diantaranya, yaitu pemanasan berulang, cahaya, katalis logam seperti besi dan
tembaga, senyawa oksidator pada bahan pangan yang digoreng seperti klorofil dan
hemoglobin, jumlah oksigen dan derajat ketidak jenuhan asam lemak dalam minyak.
Tahap inisiasi terjadi karena adanya faktor penginduksi seperti oksidator,
logam (besi, tembaga), atau enzim lipoksigenase (pengurai lemak). Tahap ini
dipercepat dengan adanya cahaya, panas, dan radikal bebas. Tahap propagasi yaitu
senyawa peroksida yang dihasilkan pada tahap inisiasi sangat mudah terurai
membentuk radikal peroksi dan alkoksi yang dapat bereaksi dengan asam lemak
dalam produk pangan menghasilkan radikal bebas baru. Pada tahap ini akan banyak
terjadi autooksidasi (mengoksidasi sendiri) sehingga timbul zat radikal yang makin
banyak. Tahap terminasi merupakan tahap dimana terjadi pembentukan senyawa
berantai berupa hidrokabon, aldehid, asam, alkohol, dan keton. Kumpulan senyawa
ini yang menyebabkan rasa dan bau tengik (off odor atau off flavor).
Kerusakan minyak goreng yang berlangsung selama penggorengan akan
menurunkan nilai gizi dan mutu bahan yang digoreng. Namun jika minyak goreng
bekas tersebut dibuang selain tidak ekonomis juga akan mencemari lingkungan.
Kerusakan minyak akan mempengaruhi mutu dan nilai gizi bahan pangan yang
digoreng. Minyak yang rusak akibat proses oksidasi dan polimerisasi akan
menghasilkan bahan dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak enak,
serta kerusakan sebagian vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat dalam
minyak. Pembentukan senyawa polimer selama proses menggoreng terjadi karena
reaksi polimerisasi, adisi dari asam lemak tidak jenuh. Hal ini terbukti dengan

11
terbentuknya bahan menyerupai gum (gelembung) yang mengendap di dasar tempat
penggoregan. Selama penggorengan sebagian minyak akan teradsorbsi dan masuk ke
bagian luar bahan yang digoreng dan mengisi ruangan kosong yang semula diisi oleh
air. Hasil penggorengan biasanya mengandung 5 % - 40 % minyak. Konsumsi
minyak yang rusak dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti pengendapan lemak
dalam pembuluh darah (Artherosclerosis) dan penurunan nilai cerna lemak.
Berdasarkan penelitian sebelumnya disebutkan kemungkinan adanya senyawa
carcinogenic dalam minyak yang dipanaskan, dibuktikan dari bahan pangan berlemak
teroksidasi yang dapat mengakibatkan pertumbuhan kanker hati. Selan itu selama
penggorengan juga akan terbentuk senyawa Akrolein. Akrolein terbentuk dari hidrasi
gliserol yang membentuk aldehida tidak jenuh (akrolein) yang bersifat racun dan
menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan.

Reaksi Pembentukan Akreolin :


Gambar 2.3

12
Sehubungan dengan banyaknya minyak goreng bekas dari sisa industri
maupun rumah tangga dalam jumlah tinggi dan menyadari adanya bahaya konsumsi
minyak goreng bekas, maka perlu dilakukan upayaupaya untuk memanfaatkan
minyak goreng bekas tersebut agar tidak terbuang dan mencemari lingkungan.
Pemanfaatan minyak goreng bekas ini dapat dilakukan pemurnian agar dapat
digunakan kembali sebagai media penggorengan atau digunakan sebagai bahan baku
produk berbasis minyak seperti sabun.

2.3.2. Cara Mencegah Kerusakan Minyak Goreng


Kerusakan minyak tidak dapat dicegah, namun dapat diperlambat dengan
memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu :
1) Oksigen, semakin banyak oksigen semakin cepat teroksidasi.
2) Ikatan rangkap, semakin banyak asam lemak tidak jenuhnya semakin
mudah teroksidasi.
3) Suhu, suhu penggorengan dan pemanasan yang tinggi akan mempercepat
reaksi.
4) Cahaya serta ion logam tembaga (Cu2+) dan besi (Fe2+) yang merupakan
faktor katalis proses oksidasi.
5) Antioksidan, semakin tinggi antioksidan ditambahkan semakin tahan
terhadap oksidasi. Untuk menghindari penurunan mutu akibat proses oksidasi
dapat menggunakan antioksidan. Antioksidan secara harpiah dapat diartikan
pencegah oksidasi dengan cara menurunkan konsentrasi oksigen (O2).
Dengan memperhatikan faktor penyebab, maka oksidasi ataupun ketengikan
dapat diperlambat. Proses ketengikan sangat dipengaruhi oleh adanya
prooksidan dan antioksidan. Prooksidan akan mempercepat terjadinya
oksidasi, sedangkan antioksidan akan menghambatnya.

2.4. Pemurnian Minyak Goreng Bekas (Minyak Jelantah)


Pemurnian merupakan tahap pertama dari proses pemanfaatan minyak goreng
bekas, yang hasilnya dapat digunakan sebagai minyak goreng kembali atau sebagai

13
bahan baku produk untuk pembuatan sabun mandi padat. Tujuan utama pemurnian
minyak goreng ini adalah menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, warna yang
kurang menarik dan memperpanjang daya simpan sebelum digunakan kembali.
Pemurnian minyak goreng ini meliputi 3 tahap proses yaitu :
a. Penghilangan Kotoran (Despicing)
Penghilangan bumbu (kotoran) merupakan proses pengendapan dan
pemisahan kotoran akibat bumbu dari bahan pangan yang bertujuan untuk
menghilangkan partikel halus tersuspensi atau berbentuk koloid seperti protein,
karbohidrat, garam, gula, dan bumbu rempah-rempah yang digunakan menggoreng
bahan pangan. Menurut Taufik (2007) penghilangan kotoran pada minyak goreng
bekas (jelantah) dapat dilakukan dengan memanaskan minyak : air (1:1) pada suhu
110 0C sampai volume air menjadi setengah dari volume awal. Dengan demikian
minyak dapat dipisahkan dari air menggunakan kertas saring.
b. Netralisasi
Netralisasi merupakan suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari
minyak atau lemak, dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau
pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun. Sabun yang terbentuk pada awal proses
proses netralisasi tidak dapat larut dalam minyak dan dapat dipisahkan dengan cara
sentrifusi. Selain itu penggunaan basa membantu mengurangi zat warna dan kotoran
yang berupa getah dan lendir dalam minyak. Bahan yang digunakan untuk proses
penetralisasian pada penelitian ini adalah Natrium Hidroksida (NaOH) 15%.
c. Pemucatan (bleaching)
Pemucatan (bleaching) adalah suatu tahap proses pemurnian untuk
menghilangkan zat-zat warna yang tidak disukai dalam minyak. Pemucatan ini
dilakukan dengan mencampur minyak dengan sejumlah kecil adsorben, seperti tanah
serap, lempung aktif dan arang aktif atau dapat juga menggunakan bahan kimia
(Ketaren, 1986). Pada penelitian ini digunakan lidah buaya dalam proses bleaching.

2.5. Tumbuhan Lidah Buaya

14
Penggunaan antioksidan alami untuk mengolah minyak jelantah menjadi
alternatif proses yang dapat dilakukan. Antioksidan adalah zat yang dapat menunda
atau mencegah terjadinya reaksi antioksidasi radikal bebas dalam oksidasi lipid.
Antioksidan berupa vitamin E, vitamin C, dan karotenoid banyak ditemukan pada
bahan pangan. Antioksidan juga banyak ditemukan pada sayuran, buah-buahan, dan
tumbuhan berkayu. Tumbuhan lidah buaya mengandung selenium dan asam askorbat
(vitamin C). Fungsi asam askorbat dalam sistem pangan adalah untuk menangkap
oksigen sehingga mencegah oksidasi komponen pangan yang sensitif terhadap
oksigen, mengubah potensial redoks dalam sistem, meregenerasi antioksidan fenolik
atau yang larut lemak, mempertahankan gugus sulfihidril (-SH), sinergis dengan
senyawa pengkelat dan mereduksi produk oksidasi yang tidak dikehendaki.
Lidah buaya atau Aloe Vera dengan nama latin Aloe barbadensis milleer
adalah sejenis tumbuhan yang sudah dikenal sejak ribuan tahun silam dan digunakan
sebagai penyubur rambut, penyembuh luka, untuk perawatan kulit dan bahkan untuk
daur ulang minyak goreng. Tumbuhan ini dapat ditemukan dengan mudah dikawasan
kering seperti Afrika. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
pemanfaatan tanaman lidah buaya berkembang sebagai bahan baku industry farmasi
dan kosmetika, serta sebagai bahan makanan dan minuman kesehatan. Secara umum,
lidah buaya merupakan satu dari 10 jenis tanaman terlaris didunia yang mempunyai
potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman obat dan bahan baku industri.
Berdasarkan hasil penelitian para ahli, tanaman ini kaya akan kandungan zat-zat
seperti enzim, asam amino, mineral, vitamin, polisakarida, dan komponen lain yang
sangat bermanfaat bagi kesehatan.
Lidah buaya kaya akan zat antioksidan, sehingga lidah buaya berfungsi
sebagai antioksidan, yang diperkirakan dapat memberikan pengaruh positif terhadap
minyak jelantah. Antioksidan dalam lidah buaya diperkirakan dapat menurunkan
kadar asam lemak bebas dan peroksida dalam minyak jelantah. Campuran dari
minyak jelantah dan daging lidah buaya yang didiamkan selama 24 jam dapat
memperbaiki kualitas kimia maupun fisik minyak. Hasil yang diperoleh adalah lidah
buaya dapat menurunkan dampak negatif terhadap kesehatan meliputi penurunan

15
FFA sebanyak 58,3 % dan penurunan angka peroksida sebesar 75%. (Yuga Pramita,
2002).
2.6. Sabun Mandi Padat
Sabun merupakan garam logam alkali (biasanya garam natrium) dari asam-
asam lemak, terutama mengandung garam 16 (asam palmitat) dan 18 (asam stearat)
namun dapat juga mengandung beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih rendah
(Fessenden, 1994 dan Ketaren, 1986).
Sabun dihasilkan dari proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi
asam lemak dan gliserol dalam NaOH (minyak dipanaskan dengan NaOH) sampai
terhidrolisis sempurna. Asam lemak yang berkaitan dengan natrium ini dinamakan
sabun. Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol, selain 12 dan 16 sabun juga
disusun oleh gugus asam karboksilat (Ketaren, 1986).
Sifat sifat sabun yang dihasilkan ditentukan oleh jumlah dan komposisi dari
komponen asam asam lemak yang digunakan yang sesuai dalam pembuatan sabun
dibatasi panjang rantai dan tingkat kejenuhan. Pada umumnya, panjang rantai yang
kurang dari 12 atom karbon dihindari penggunaannya karena dapat membuat iritasi
pada kulit, dan sebaliknya panjang rantai yang lebih dari 18 atom karbon membentuk
sabun yang sangat sukar larut dan sulit menimbulkan busa.
Syarat mutu sabun mandi yang ditetapkan SNI 06 3532 1994 dapat dilihat
pada Tabel 2.6. di bawah ini.

Tabel 2.6. Syarat Mutu Sabun Mandi


No. Uraian Tipe I (Sabun Padat) Tipe II (Sabun Cair)
1. Kadar air (%) Maks. 15 Maks. 15
2. Jumlah asam lemak (%) >70 74 - 70
3. Alkali bebas
- dihitung sebagai NaOH (%) Maks. 0,1 Maks. 0,1
- dihitung sebagai KOH (%) Maks. 0,14 Maks. 0,14
4. Asam lemak bebas atau lemak netral (%) <2,5 <2,5

16
5. Bilangan penyabunan 196 - 206 196 - 206
(Sumber : SNI 06 3532 1994)

Keterangan Tabel 2.6. :


Tipe I (sabun padat) dengan menggunakan NaOH
Tipe II (sabun cair) dengan menggunakan KOH
Sumber lemak dan minyak yang digunakan sebagai bahan dasar sabun dapat
berasal dari hewani (lemak babi dan lemak sapi) maupun dari nabati (tumbuhan
kelapa, palem dan minyak zaitun. Alkali yang digunakan pada percobaan ini adalah
larutan NaOH yang dapat membuat sabun menjadi padat, sedangkan alkali yang
digunakan untuk membuat sabun cair digunakan larutan KOH (Ketaren, 1986).
Sabun mandi bisa ditambah dengan susu, madu, parfum dan berbagai jenis
filler yang lain tergantung tujuan. Sabun untuk mencuci merupakan sabun yang
sedikit larut dalam air, tetapi tidak larut dalam pelarut lemak, seperti gasoline, eter
dan benzene (Fessenden, 1994 dan Ida, 2005).
Terlalu besar bagian asam-asam lemak tidak jenuh menghasilkan sabun yang
mudah teroksidasi bila terkena udara. Alasan-alasan di atas, faktor ekonomis, dan
daya jual menyebabkan lemak dan minyak yang dapat dibuat menjadi sabun terbatas
(Ketaren, 1986 dan Parasuram, 1995).
Reaksi saponifikasi dan struktur dasar senyawa sabun yang dihasilkan dapat
dilihat pada gambar 2.6. dibawah ini (Fessenden, 1994 dan Ketaren, 1986).

Gambar 2.6. Reaksi Sponifikasi

17
2.7. Sifat-sifat Sabun
Sifat sifat sabun yaitu :
a. Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi
sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air
bersifat basa.
CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + NaOH

b. Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka
akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam
hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garamgaram Mg atau Ca dalam air
mengendap.
CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2

c. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia


koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran
yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan
non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hidrogen CH3(CH2)16 yang
bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam
zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air)
dan larut dalam air.

2.8. Kinetika Reaksi Kimia Saponifikasi


Saponifikasi merupakan proses hidrolisis basa terhadap lemak dan minyak,
dan reaksi saponifikasi bukan merupakan reaksi kesetimbangan. Hasil mula-mula dari
penyabunan adalah karboksilat karena campurannya bersifat basa. Setelah campuran
diasamkan, karboksilat berubah menjadi asam karboksilat.
Produknya, sabun yang terdiri dari garam asam-asam lemak. Fungsi sabun
dalam keanekaragaman cara adalah sebagai bahan pembersih. Sabun menurunkan
tegangan permukaan air, sehingga memungkinkan air untuk membasahi bahan yang

18
dicuci dengan lebih efektif. Sabun bertindak sebagai suatu zat pengemulsi untuk
mendispersikan minyak dan sabun teradsorpsi pada butiran kotoran.
Pada penelitian ini, dilakukan pencampuran NaOH harus disamakan suhunya
terlebih dahulu, karena suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju
reaksi. Jika suhu dinaikkan maka laju reaksi semakin besar karena kalor yang
diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi, akibatnya jumlah dari
energi tumbukan bertambah besar, begitu pun sebaliknya. Larutan yang telah sama
suhunya kemudian dicampurkan.
Pencampuran pada suhu yang sama agar laju reaksi yang dihasilkan tidak
mengalami perubahan besar. Untuk menentukan laju dari reaksi kimia yang
diberikan, harus ditentukan seberapa cepat perubahan konsentrasi yang terjadi pada
reaktan atau produknya. Secara umum, apabila terjadi reaksi AB, maka mula-mula
zat yang A dan zat B sama sekali belum ada. Setelah beberapa waktu, konsentrasi B
akan meningkat sementara konsentrasi zat A akan menurun (Partana, 2003 : 47).
Hukum laju dapat ditentukan dengan melakukan serangkain eksperimen
secara sistematik pada reaksi A + B C, untuk menentukan orde reaksi terhadap A
maka konsentrasi A dibuat tetap sementara konsentrasi B divariasi kemudian
ditentukan laju reaksinya pada variasi konsentrasi tersebut. Sedangkan untuk
menentukan orde reaksi B, maka konsentrasi B dibuat tetap sementara itu konsentrasi
A divariasi kemudian diukur laju reaksinya pada variasi konsentrasi tersebut (Partana,
2003 : 49).
Orde dari suatu reaksi menggambarkan bentuk matematika dimana hasil
perubahan dapat ditunjukkan. Orde reaksi hanya dapat dihitung secara eksperimen
dan hanya dapat diramalkan jika suatu mekanisme reaksi diketahui seluruh orde
reaksi yang dapat ditentukan sebagai jumlah dari eksponen untuk masing-masing
reaktan, sedangkan hanya eksponen untuk masing-masing reaktan dikenal sebagai
orde reaksi untuk komponen itu. Orde reaksi adalah jumlah pangkat faktor
konsentrasi dalam hukum laju bentuk diferensial. Pada umumnya orde reaksi
terhadap suatu zat tertentu tidak sama dengan koefisien dalam persamaan stoikiometri
reaksi (Hiskia, 2003).

19
2.9. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya
Sebelumnya telah dilakukan penelitian mengenai pemurnian minyak jelantah
dengan proses absorpsi menggunakan karbon aktif sebagai absorben. Pemurnian ini
dilakukan dengan menambahkan karbon aktif dengan ukuran 240 dan 280 mesh
sebanyak 5% dan 7,5 % dari berat minyak goreng bekas (jelantah) yang digunakan
dan kemudian diaduk dengan mixer selama 60 menit dan dipanaskan pada suhu
150C lalu disaring menggunakan kertas saring untuk memisahkan dari pengotornya.
Setelah dilakukan penyaringan didapatkan minyak dengan warna gelas yang telah
berisi minyak, secara perlahan yang lebih jernih. (Asyiah, 2009)
Adapun penelitian mengenai pembuatan sabun itu sendiri sebelumnya telah
dilakukan, yaitu mengenai pembuatan sabun cair dari minyak jelantah. Proses yang
digunakan pada penelitian kali ini merupakan proses secara kimia yaitu saponifikasi.
Dengan tujuan untuk melihat pengaruh dari temperature operasi, konsentrasi dan
perbandingan penggunaan alkali terhadap sabun yang dihasilkan.
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini yaitu minyak jelantah dari
sisa penggorengan ikan, ikan asin, tahu dan tempe. Sebelum digunakan untuk
membuat sabun, dilakukan proses pemurnian trelebih dahulu terhadap minyak
tersebut. Hal ini bertujuan agar warna minyak menjadi lebih jernih.
Pada proses pembuatan sabun, digunakan 2 jenis alkali yang berbeda. yaitu
NaOH dan KOH. Variable yang digunakan dalam penelitian ini yaitu temperature
operasi dan konsentrasi alkali yang digunakan. Temperature operasinya yaitu 25C,
35C, 45C dan 55C. Sedangkan konsentrasi alkali yang digunakan yaitu 20%,
305%, 40% dan 50%.

2.10. Penelitian yang Dilakukan Saat Ini


Proses yang digunakan pada penelitian kali ini juga merupakan proses secara
kimia yaitu saponifikasi. Dengan tujuan untuk melihat pengaruh dari lama waktu
pengadukan, dan jumlah alkali terhadap sabun yang dihasilkan. Bahan baku yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu minyak jelantah dari sisa limbah rumah tangga,
berupa penggorengan kerupuk, ayam, pisang, tahu, tempe, dan ikan teri. Sebelum

20
digunakan untuk membuat sabun, dilakukan proses pemurnian terlebih dahulu
terhadap minyak tersebut dengan menggunakan absorben yaitu daging lidah buaya
sebanyak 5% dan 8% dari berat minyak jelantah yang akan dimurnikan. Hal ini
bertujuan agar warna minyak menjadi lebih jernih.
Pada proses pembuatan sabun, digunakan jenis alkali NaOH. Variabel yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu lama waktu pengadukan dan konsentrasi alkali
yang digunakan. Waktu pengadukannya yaitu 30 menit, 55 menit, dan 80 menit.
Konsentrasi alkali yang digunakan yaitu 15%, 30%, dan 45% dan yang ditinjau pada
penelitian ini adalah kinetika reaksi kimia yang terjadi pada proses saponifikasi.

21
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan proses saponifikasi dengan pereaksi larutan
NaOH dalam pembuatan sabun mandi padat menggunakan minyak jelantah dan lidah
buaya digunakan sebagai absorben.

3.2. Lokasi Penelitian


Penelitian pemanfaatan minyak goreng bekas menjadi sabun mandi dilakukan
di Laboratorium Unit Proses Universitas Sriwijaya Kampus Indralaya, Sumatera
Selatan.

3.3. Alat dan Bahan


3.3.1. Bahan-Bahan Pemurnian Minyak Goreng Bekas
1. Minyak Goreng Bekas
2. NaOH (15%)
3. Akuades
4. Daging Lidah Buaya sebanyak 5% dan 8% dari berat minyak goreng bekas
(jelantah) yang akan dimurnikan

3.3.2. Bahan-Bahan Pembuatan Sabun Mandi Padat


1. Minyak goreng hasil pemurnian
2. NaOH dengan konsentrasi (%) : 15 %, 30 % dan 45 %
3. Akuades
4. Parfum Non Alkohol Strawberry (kadar alcohol 5 %) sebanyak 1 ml
5. Pewarna makanan strawberry red extra (kadar warna 14%) sebanyak 1 gr

3.3.3. Bahan-Bahan Analisa Minyak Goreng Bekas dan Minyak Goreng Hasil
Pemurnian
1. Bahan Analisa Kadar Asam Lemak Bebas (FFA)

22
Minyak goreng bekas rumah tangga (bekas menggoreng kerupuk, ayam,
pisang, tahu, tempe, dan ikan teri) dan minyak goreng hasil pemurnian,
Alkohol 96% yang telah dinetralkan dengan NaOH, indicator Fenoftalein,
NaOH 0,1 N.

2. Bahan Analisa Pemeriksaan Iodine Value (IV)


Minyak goreng bekas rumah tangga (bekas menggoreng kerupuk, ayam,
pisang, tahu, tempe, dan ikan teri) dan minyak goreng hasil pemurnian,
Sikloheksan, Asam Asetik, Wijs Solution, Iodine 0,1 N, Akuades, Natrium
Tiosulfat 0,1 N, larutan indicator amilum (tepung kanji).

3. Bahan Pemeriksaan Warna


Minyak goreng bekas rumah tangga (bekas menggoreng kerupuk, ayam,
pisang, tahu, tempe, dan ikan teri) dan minyak goreng hasil pemurnian.

3.3.4. Bahan-Bahan Analisa Pemeriksaan Sabun Mandi Padat


1. Bahan Pemeriksaan Angka Penyabunan
Minyak goreng hasil pemurnian, NaOH-Alkohol 0,5 N, indicator Fenoftalein,
Larutan HCl 0,5 N.

2. Bahan Pemeriksaan Banyak Busa


Larutan sabun (penyabunan).

3.3.5. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat alat-alat
yang umum digunakan, yaitu Buret, Gelas ukur, beker glass, Desikator, Hot Plate,
penangas air, Labu Erlenmeyer, spatula, corong pemisah, Mixer, Termometer, alat
Titrasi, klem dan statif, pipet tetes, Ph meter, kertas saring, Neraca analitik, cetakan
sabun, Oven, Spektrofotometri dan alat shaker atau stirer.
Neraca analitik untuk menimbang berbagai senyawa dalam penelitian ini.

23
Oven digunakan untuk mengeringkan bahan dan alat yang akan digunakan.
Hot plate digunakan untuk memanaskan larutan berdasarkan suhu yang telah
ditetapkan pada penelitian ini.
Kertas saring Whatman nomor 42 digunakan untuk menyaring kotoran dari
minyak goreng bekas dan endapan hasil proses pemurnian.
Alat titrasi untuk proses analisa minyak goreng bekas dan minyak goreng
hasil pemurnian.
Spektofotometri digunakan untuk mengetahui warna minyak goreng bekas
dan minyak goreng hasil pemurnian.
Alat shaker 200 rpm digunakan untuk mengaduk suatu larutan dengan larutan
lain agar bersifat homogen dan memanaskan larutan sabun (penyabunan) pada
proses pengujian kekuatan dan stabilitas basa.

3.3.6. Rancangan Percobaan Berdasarkan Variabel Bebas


Tabel 3.1 Perlakuan Variabel Pemurnian Minyak Goreng Bekas
Perlakuan Variabel Bebas
Berat daging lidah buaya dari berat minyak goreng bekas yang akan 5 8
dimurnikan(%)
Pemakaian minyak goreng bekas (n kali) 2, 3, dan 4

Table 3.2 Perlakuan Variabel Bebas Sabun Mandi Padat


Perlakuan Variabel Bebas
Konsentrasi NaOH(%) 15 30 45
Waktu pengadukan (menit) 30 55 80

3.4. Prosedur Penelitian


3.4.1. Pemurnian Minyak Goreng Bekas
3.4.1.1. Proses Penghilangan Bumbu (Despicing) Minyak Goreng Bekas

24
a. Ditimbang 100 gr minyak goreng bekas yang akan dimurnikan kemudian
dimasukkan kedalam gelas ukur 1000 ml.
b. Dipisahkan minyak dari kotorannya dengan menggunakan kertas saring
Whatmann nomor 42.

3.4.1.2. Proses Netralisasi


a. Larutan NaOH 15% dibuat (15 gr NaOH dilarutkan didalam 100 ml air).
b. Minyak goreng hasil penghilangan bumbu (despicing) dipanaskan pada
suhu 40C (hangat-hangat kuku), dimasukkan larutan NaOH 15% denga
komposisi minyak: NaOH = 100 gr minyak : 5 ml NaOH.
c. Campuran diaduk dengan Mixer selama 10 menit, kemudian disaring
dengan kertas saring Whatmann nomor 42 untuk memisahkan kotoran.

3.4.1.3. Proses Pemucatan (Bleaching)


a. Dipanaskan minyak goreng hasil netralisasi sampai suhu 70C.
b. Daging lidah buaya sebanyak 5% dan 8% dari 100 gr minyak goreng hasil
netralisasi.
c. Kemudian didiamkan selama 24 jam hingga terbentuk endapan.
d. Lalu disaring dengan kertas saring Whatmann nomor 42 untuk memisahkan
kotoran dan minyak goreng hasil pemurnian siap untuk digunakan.

3.4.2. Proses Pembuatan Sabun Mandi Padat


3.4.2.1. Proses Penyabunan (Nur, 2009)
a. Dibuat larutan NaOH dengan konsentrasi (%) : 15, 30, 45.
b. Minyak goreng hasil pemurnian dipanaskan pada suhu proses yaitu 55C.
c. Larutan NaOH dengan konsentrasi (%) : 15, 30, 45 masing-masing
dipanaskan pada suhu 55C, kemudian dimasukkan dengan komposisi minyak
: NaOH = 1 : 0,5 (100 gr minyak : 50 ml NaOH).
d. Campuran diaduk dengan Mixer masing-masing selama 30, 55, dan 80
menit.

25
e. Parfum non alcohol strawberry (kadar alcohol 5%) dimasukkan (1 ml
parfum per 100 gr minyak) dan pewarna makanan strawberry red extra (kadar
warna 14%) (1 gr pewarna makanan per 100 gr minyak) ke dalam campuran
dan diaduk dengan mixer selama 5 menit.

3.4.2.2. Proses Uji Banyak Busa (Raskita, 2008)


a. Sebanyak 50 ml larutan sabun (penyabunan) dimasukkan kedalam gelas
ukur 250 ml lalu ditutup dengan plastik dan karet.
b. Larutan diaduk selama 30 detik dan 60 detik dengan menggunakan alat
shaker 200 rpm.
c. Volume basa dicatat setelah 30 detik (Vo) dan 60 detik (Vs).

3.5. Bagan Alir Penelitian

Minyak goreng bekas (jelantah)

Pemisahan
(kertas saring Whatmann nomor 42)

Minyak goreng hasil penghilangan bumbu


(despicing)

Gambar 3.1 Diagram Alir Proses Penghilangan Bumbu (Despicing) Minyak


Goreng Bekas

26
Minyak goreng hasil penghilangan bumbu
(despicing)

Pemanasan (40C)

Larutan NaOH 15%


(minyak:NaOH = 100 gr:5 ml)

Pengadukan dengan mixer (10


menit)

Filtrasi

Minyak goreng hasil netralisasi

Gambar 3.2 Diagram Alir Netralisasi Minyak Goreng Hasil Penghilangan


Bumbu (Despicing)

27
Minyak goreng hasil netralisasi

Pemanasan ( 70C)

Daging Lidah Buaya 5% dan


8% dari 100 gr Minyak goreng
hasil netralisasi
Didiamkan selama 24 jam

Filtrasi

Minyak goreng jernih (minyak Residu adsorben dan kotoran


goreng hasil pemucatan
bleaching)

Gambar 3.3 Diagram Alir Proses Pemucatan (Bleaching)

28
Minyak goreng jernih (minyak
goreng hasil pemucatan
bleaching)

Pemanasan (55)

Larutan NaOH (%) : 15%, 30%


dan 45%

Penyabunan (30 menit, 55


menit, dan 80 menit)

Sabun Kental

Parfum non alcohol


(minyak:parfum = 100 gr:1 ml)
dan pewarna makanan
Pengadukan (5 menit)

Pencetakan (1 hari)

Sabun Padat

Gambar 3.4 Diagram Alir Pembuatan Sabun Mandi Padat (Penyabunan)

29
50 ml larutan sabun (penyabunan)
dimasukkan kedalam gelas ukur 250 ml
(ditutup dengan plastik dan karet)

Diaduk 30 detik dan 60 detik dengan


alat shaker 200 rpm

Volume basa dicatat setelah 30 detik


dan 60 detik

Gambar 3.5 Diagram Alir Proses Uji Banyak Busa

3.6. Analisa Minyak Goreng Bekas


3.6.1. Pemeriksaan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA)
Bilangan Asam Lemak Bebas (FFA) dilakukan dengan metode OACS Ca 5a-
40-1997
a. Ditimbang minyak goreng bekas dan minyak goreng hasil pemurnian masing-
masing sebanyak 2 gr didalam labu Erlenmeyer 250 ml.
b. Ditambahkan alcohol 90% sebanyak 2 ml (yang telah dinetralkan dengan
NaOH 0,1 N), kemudian diteteskan Fenoftalein 3 tetes.
c. Dititrasi dengan NaOH 0,1 N tetes demi tetes melalui buret hingga muncul
warna merah jambu, yang tidak akan berubah selama 15 detik.
Hasilnya dihitung dengan rumus :
100%
Kadar asam lemak bebas (%FFA) = (1)
() 100%
3.6.2. Pemeriksaan Iodine Value (IV)
Bilangan iodine (IV) dilakukan dengan metode OACS cd 1-25-1993

30
a. Ditimbang minyak goreng bekas dan minyak goreng hasil pemurnian masing-
masing sebanyak 1 gr didalam labu Erlenmeyer 500 ml.
b. Ditambahkan pelarut campuran Asam Asetat Sikloheksan (1:1) sebanyak 15
ml dan ditambahkan wijs solution 12,5 ml, kemudian disimpan didalam ruang
gelap selama 60 menit.
c. Kemudian ditambahkan larutan iodine 0,10 N sebanyak 10 ml dan
ditambahkan juga 100 ml Akuades, kemudian dititrasi dengan larutan standar
Natrium Thiosulfat 0,1 N hingga warna kuning hamper hilang.
d. Ditambahkan sebanyak 1 ml indicator amilum (tepung kanji) sehingga larutan
berubah menjadi biru kehitaman kemudian titrasi dilanjutkan hingga
hilangnya warna hitam yang menandakan titik akhir titrasi telah tercapai.
e. Hasilnya dapat dihitung dengan rumus :
()
Iodine value (IV) = ..(2)

Dimana:
B = Titrasi dari blamko (ml Natrium Thiosulfat)
S = Titrasi dari sampel (ml Natrium Thiosulfat)
F = Normalitas Natrium Thiosulfat x 12,69

3.6.3 Pemeriksaan Warna


Pemeriksaan warna dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer uv-vis.
Sampel minyak dimasukkan kedalam kuvet. Setelah itu, diukur absorbansinya pada
panjang gelombang 470 nm dengan menggunakan sampel minyak awal sebagai
blanko.

3.7. Analisa Pembuatan Sabun Mandi Padat


3.7.1. Pemeriksaan Bilangan Penyabunan
Bilangan penyabunan dilakukan dengan metode OACS Cd 3b-76-2001.
a. Ditimbang 1 gr larutan sabun padat (penyabunan) dan dimasukkan kedalam
labu Erlenmeyer.

31
b. Ditambahkan 25 ml NaOH-Alkohol 0,5 N dan direfluks selama 30 menit.
c. Didinginkan dan ditambahkan 3 tetes indicator Fenoftalein kemudian dititrasi
dengan larutan HCl 0,5 N hingga warna lembayung hilang.
d. Dicatat volume HCl 0,5 N yang dipakai dan dihitung bilangan penyabunan
dengan rumus:
( ) 56,1
Bilangan penyabunan (SV) = ...(3)
()

3.7.2. Pemeriksaan Uji Banyak Busa


a. Sebanyak 50 ml larutan sabun (hasil penyabunan) dimasukkan kedalam gelas ukur
250 ml lalu ditutup dengan plastik dan karet.
b. Larutan diaduk selama 30 detik dan 60 detik dengan menggunakan alat shaker 200
rpm.
c. Volume basa dicatat setelah 30 detik (Vo) dan 60 detik (Vs).
d. Stabilitas busa ditunjukkan sebagai perbandingan dari volume busa pada 60 detik
dan 30 detik.
e. Hasilnya dapat dihitung dengan rumus :
VB = Vs Vo ..(4)
Dimana:
VB = Volume busa
Vs = Volume busa pada detik ke 60
Vo = Volume busa pada detik ke 30

32