Anda di halaman 1dari 15

PERILAKU KESEHATAN

KELOMPOK 2 SOSIO ANTROPOLOGI KESEHATAN

1. Salsabila Syifa Syauqiyah (1711212006)


2. Sri Wahyuni(1711212009)
3. Elma Rajab Heriza (1711212041)
4. Detri Mayangsari (1711212019)
5. Ulfa Dwi Riwayati (1711212021)
6. Inanda Dwi Putri (1711212011)

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS ANDALAS

TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME atas segala rahmat dan limpahan
karunianya, sehingga kami diberikan kesehatan serta kemampuan untuk dapat menyelesaikan
tugas makalah yang menyangkut Perilaku Kesehatan.

Tugas ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk mendapatkan nilai
yang baik serta mengetahui Perilaku Kesehatan, kami menyadari dalam menyelesaikan tugas
makalah ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan waktu serta latar belakang keilmuan
yang dimiliki, namun dalam kekurangan tersebut adalah hal yang wajar. Karena dari kekurangan
tersebut, kita dapat belajar terus menerus untuk mencapai kesempurnaan.

Padang, 2 September 2017

KELOMPOK 2 SOSIOANTROPOLOGI KESEHATAN


DAFTAR ISI

COVER ...............................................................................................................................i

KATA PENGANTAR .......................................................................................................ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ......................................................................................................

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................

1.3 Tujuan Masalah ....................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

2.1.Konsep perilaku dan Unsur Pokoknya..................................................................

2.1.1.Pengertian Perilaku.....................................................................................

2.1.2 Klasifikasi Perilaku Kesehatan........................................................................

2.1.3 Unsur unsur pokok berperilaku......................................................................

2.2. Kajian perilaku dan Hubungannya dengan kesehatan............................................

2.2.1Pendekatan Perilaku Dalam Kesehatan Masyarakat.......................................

2.3. Konsep sehat-sakit ........................................................................................................

2.3.1 Sehat.................................................................................................................

2.3.2 Sakit..................................................................................................................
2.3.3 Persepsi masyarakat tentang sehat-sakit...........................................................

2.4 Menjelaskan dan menggambarkan bagaimana perilaku sakit..........................................

2.4.1 penyebab perilaku sakit ....................................................................................

2.4.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sakit................................................

2.4.3 Tahap-tahap perilaku sakit...................................................................................

2.4.4 Dampak sakit........................................................................................................

BAB III KESIMPULAN .....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Derajat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu perilaku, lingkungan,
pelayanan kesehatan dan keturunan. Diantara faktor faktor tersebut pengaruh perilaku terhadap
status kesehatan , baik kesehatan individu maupunkelompok sangatlah besar. Salah satu usaha
yang sangat penting di dalam upaya merubah perilaku adalah dengan melakukan kegiatan
pendidikan kesehatan atau yang biasa dikenal dengan penyuluhan. Sejauh mana kegiatan tersebut
bisamerubah perilaku masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh faktor faktor lain yang ikut
berperan dan saling berkaitandalam proses perubahan perilaku itu sendiri.
Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau aktifitas organisme yang
bersangkutan. Jadi perilaku manuasia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu
sendiri. Oleh sebab itu perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup
berjalan, berbicara, berpakaian dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan internal seperti berpikir,
persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia.
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang
berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. bagaimana konsep perilaku dan unsur pokoknya ?
2. apa pentingnya kajian perilaku dan kaitannya dengan kesehatan ?
3. bagaimana persepsi tentang sehat-sakit?
4. Bagaimana perilaku sakit?

1.3 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi dan manfaat
kepada pembaca mengenai konsep perilaku manusia dan perilaku manusia terhadapkesehatan,
agar pembaca dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan danmembagikan informasi ini kepada
orang lain
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. KONSEP PERILAKU DAN UNSUR POKOKNYA

2.1.1 Pengertian Perilaku

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai
bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah,
menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung,
maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi
dua (Notoatmodjo, 2003) :

1. Perilaku tertutup (convert behavior)

Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk


terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih
terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada
orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang
lain.

2. Perilaku terbuka (overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka.
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang
dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

2.1.2 Klasifikasi Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang


(organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim
pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku
kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :

1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).


Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan
agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.

2. Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut
perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior).

Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita
penyakit dan atau kecelakaan.

3. Perilaku kesehatan lingkungan

Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial
budaya, dan sebagainya.

2.1.3 Unsur-Unsur Pokok Berperilaku

Adapun unsur-unsur kepribadian sebagai berikut :

1.Pengetahuan
Pengetahuan mengisi akal pikiran manusia secara sadar. Pengetahuan individu terisi dengan
fantasi, pemahaman, dan konsep lahir dari pengamatan dan pengalaman mengenai berbagai
macam hal yang berbeda dengan lingkungan individu tersebut. Semua itu terekam dalam otak dan
sedikit diungkap individu melalui bentuk perilaku

2.Perasaan
Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau
negative terhadap sesuatu yang dipengaruhi oleh pengetahuan. Pengetahuan selalu bersifat
subjektif karena adanya unsur-unsur penilaian, yang bisa jadi berbeda dengan penilaian orang lain.
Perasaan selalu mengisi penuh kesadaran manusia dalam hidupnya

3. Dorongan Naluri
Dorongan naluri adalah merupakan kemampuan yakni kecenderungan pada setiap manusia untuk
menanggapi suatu rangsangan dengan pola yang teratur. Dorongan hati (naluri) mencakup:
a. dorongan mempertahankan hidup;
b. dorongan seksual;
c. dorongan mencari makan;
d. dorongan bergaul;
e. dorongan meniru perilaku sesama;
f. dorongan berbakti;
g. dorongan akan keindahan bentuk, warna, suara, dan gerak

2.2 KAJIAN PERILAKU DAN HUBUNGANNYA DENGAN KESEHATAN


hubungan kesehatan dengan perilaku sangatlah erat san saling berkesinambungan,
individu yang sehat akan tercermin dari perilakuyang sehat pula. Sebaliknya juga begitu perilaku
yang sehat akan mencerminkan individu dengan kualitas hidup baik.
Manfaat dari hidup sehat yang paling penting adalah meningkatkan produktivitas kita dengan
segala kemampuan dan potensi diri kita. Untuk itu konsep hidup sehat seperti tingkatkan PHBS
(Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) harus dipupuk dari tiap individu untuk dapat meningkatkan
kualitas hidup yang sehat.
Dalam disiplin ilmu kesehatan masyarakat, dipelajari Ilmu Perilaku untuk pendidikan kesehatan.
Biasanya disebut Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP). Dalam disiplin ilmu tersebut,
mempelajari pentingnya Psikologi dalam dunia Kesehatan menyangkut ilmu-ilmu perilaku
kesehatan untuk memberikan kontribusi nyata kepada peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

2.2.1Pendekatan Perilaku Dalam Kesehatan Masyarakat

Kesehatan merupakan hasil perpaduan berbagai faktor yang mempengaruhi, baik secara internal
maupun secara eksternal. Secara internal, kesehatan dipengaruhi oleh kesehatan fisik dan
kesehatan psikis, sedangkan secara eksternal dipengaruhi oleh masalah sosial, budaya, politik,
ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan sebagainya.

Untuk memasyarakatkan pemeliharaan kesehatan melalui pola hidup sehat, maka pendekatan
ilmu perilaku sangat penting. Menurut L. Green, perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor
yakni faktor predisposisi, faktor pemungkin (enabling factors) dan faktor penguat (reinforcing
factors). Faktor predisposisi meliputi pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan,
tradisi, dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem
nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan dan tingkat sosial-ekonomi, dan sebagainya.
Faktor pemungkin mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi
masyarakat, misalnya ketersediaan air bersih, tempat pembuangan sampah dan tinja,
ketersediaan makanan bergizi, termasuk keterjangkauan pada sarana pelayanan kesehatan seperti
Puskesmas, Posyandu, Polindes, dan sebagainya. Sedangkan faktor penguat mencakup faktor
sikap dan perilaku tokoh masyarakat, perilaku petugas kesehatan, serta peraturan perundang-
undangan dibidang kesehatan mulai dari undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan teknis
dibidang kesehatan.

2.3. KONSEP SEHAT-SAKIT


2.3.1 Sehat
Istilah sehat memiliki banyak pengertian. Dulu dari sudut pandang kedokteran, kesehatan
erat kaitannya dengat kesakitan dan penyakit. Namun pengertian sehat yang sesungguhnya
tidaklah sesederhana itu.
Definisi Sehat menurut para ahli:
Menurut WHO (1981)
Sehat adalah suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, dan kesejahteraan social
seseorang, bukan hanya terbebas dari penyakit atau cacat.
Dalam hal ini sehat mengandung tiga karakteristik, yaitu:
1) Merefleksikan perhatian pada individu sebagai manusia.
2) Memandang sehat dalam lingkungan internal dan eksternal.
3) Sehat diartikan sebagai kehidupan yang produktif dan kreatif.
Menurut Pender (1982)
Sehat merupakan perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam
berhubungan dengan oranglain.
Menurut Paune (1983)
Sehat merupakan fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care
resource) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri (self care actions) secara adekuat
(memadai/memenuhi syarat).
Self care resource mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care actions
adalah prilaku sesuai dengan tujuan untuk memperoleh, mempertahankan, dan
meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual.
Menurut UU No. 23/1992
Sehat merupakan keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dam social yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara social ekonomi.

2.3.2 Sakit
Sakit berarti suatu keadaan yang memperlihatkan adanya keluhan atau gejala sakit secara
subjektif dan objektif, sehingga penderita memerlukan pengobatan untuk sembuh.
Definisi Sakit Menurut para ahli:

Menurut Pemons (1972)


Sakit merupakan gangguan fungsi normal individu sebagai totalitas, termasuk keadaan
organisme sebagai system biologis dan system sosialnya.
Menurut Bauman (1965)
Ada tiga criteria untuk menentukan apakah seseorang itu sakit atau tidak, yaitu:
1) Adanya gejala (naiknya temperatur, nyeri).
2) Persepsi tentang bagaimana mereka merasakan (baik, buruk, sakit).
3) Kemampuan untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari.

2.3.3 Persepsi masyarakat tentang sehat-sakit


Persepsi masyarakat mengenai terjadinya penyakit berbeda antara daerah yang satu dengan
daerah yang lain, karena tergantung dari kebuda yaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat
tersebut. Persepsi kejadian penyakit yang berlainan dengan ilmu kesehatan sampai saat ini masih
ada di masyarakat dapat turun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan bahkan dapat
berkembang luas.

Masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu:
1. Naturalistik
Yaitu seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan, kebiasaan hidup,
ketidakseimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas dingin seperti masuk angin
dan penyakit bawaan. Konsep sehat sakit yang dianut pengobat tradisional sama dengan yang
dianut masyarakat setempat, yakni suatu keadaan yang berhubungan dengan keadaan badan
atau kondisi tubuh kelainan -kelainan serta gejala yang dirasakan.
Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman, dan dapat
melakukan aktivitas sehari hari dengan gairah. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu
keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga
menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang
yang sehat.
2. Personalistik
Yaitu menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen
aktif yang dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau
makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung).
Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan kedokteran modern,
mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai masalah sakit -sehat. Baginya, arti sakitadalah
sebagai berikut:
1) Sakit badaniah berarti ada tanda-tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan
lemah, tidak kuat bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya
tiduran atau istirahat saja.
2) Pada penyakit batin tidak ada tanda-tanda di badannya, tetapi bisa diketahui dengan
menanyakan pada yang gaib. Pada orang yang sehat, gerakannya lincah, kuat bekerja, suhu
badan normal, makan dan tidur normal, penglihatan terang, sorot mata cerah, tidak mengeluh
lesu, lemah, atau sakit- sakit badan.
Selanjutnya masyarakat menggolongkan penyebab sakit ke dalam 3 bagian yaitu :
1. Karena pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh manusia
2. Makanan yang diklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin.
3. Supranatural (roh, guna -guna, setan dan lain -lain.).
Untuk mengobati sakit yang termasuk dalam golongan pertama dan ke dua, dapat
digunakan obat-obatan, ramuan- ramuan, pijat, kerok, pantangan makan, dan bantuan tenaga
kesehatan. Untuk penyebab sakit yang ke tiga harus dimintakan bantuan dukun, kyai dan lain -lain.
Dengan demikian upaya penanggulangannya tergantung kepada kepercayaan mereka terhadap
penyebab sakit.

2.4.MENJELASKAN DAN MENGGAMBARKAN BAGAIMANA PERILAKU SAKIT


Perilaku sakit merupakan perilaku cara seseorang memantau tubuhnya, mendefinisikan dan
menginterpretasikan gejala yang dialami, melakukan upaya penyembuhan dan penggunaan sistem
pelayanan kesehatan.

2.4.1 Penyebab Perilaku Sakit


Menurut Mechanic sebagaimana diuraikan oleh Solito Sarwono (1993) bahwa penyebab perilaku
sakit itu sebagai berikut:
Dikenal dan dirasakannya tanda dan gejala yang menyimpang dari keadaan normal.
Anggapan adanya gejala serius yang dapat menimbulkan bahaya
Gejala penyakit dirasakan akan menimbulkan dampak terhadap hubungan keluarga,
hubungan kerja, dan kegiatan kemasyarakatan.
Frekuensi dan persisten (terus-menerus, menetap) tanda dan gejala yang dapat dilihat.
Kemungkinan individu untuk terserang penyakit.
Adanya informasi, pengetahuan, dan anggapan budaya tentang penyakit.
Adanya perbedaan interpretasi tentang gejala penyakit.
Adanya kebutuhan untuk mengatasi gejala penyakit.
Tersedianya berbagai sarana pelayanan kesehatan, seperti: fasilitas , tenaga, obat-obatan,
biaya, dan transportasi.

2.4.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Sakit :


a. Faktor Internal
Persepsi individu terhadap gejala dan sifat sakit yang dialami.
Klien akan segera mencari pertolongan jika gejala tersebut dapat mengganggu rutinitas kegiatan
sehari-hari.
Misal: Tukang Kayu yang menderitas sakit punggung, jika ia merasa hal tersebut bisa
membahayakan dan mengancam kehidupannya maka ia akan segera mencari bantuan. Akan tetapi
persepsi seperti itu dapat pula mempunyai akibat yang sebaliknya. Bisa saja orang yang takut
mengalami sakit yang serius, akan bereaksi dengan cara menyangkalnya dan tidak mau mencari
bantuan.
Asal atau Jenis penyakit
Pada penyakit akut dimana gejala relatif singkat dan berat serta mungkin mengganggu fungsi pada
seluruh dimensi yang ada, Maka klien bisanya akan segera mencari pertolongan dan mematuhi
program terapi yang diberikan.
b. Faktor Eksternal
Gejala yang Dapat Dilihat
Gajala yang terlihat dari suatu penyakit dapat mempengaruhi Citra Tubuh dan Perilaku Sakit.
Misalnya: orang yang mengalami bibir kering dan pecah-pecah mungkin akan lebih cepat mencari
pertolongan dari pada orang dengan serak tenggorokan, karena mungkin komentar orang lain
terhadap gejala bibir pecah-pecah yang dialaminya.
c. Kelompok Sosial
Kelompok sosial klien akan membantu mengenali ancaman penyakit, atau justru meyangkal
potensi terjadinya suatu penyakit.
Misalnya: Ada 2 orang wanita, sebut saja Ny. A dan Ny.B berusia 35 tahun yang berasal dari dua
kelompok sosial yang berbeda telah menemukan adanya benjolan pada Payudaranya saat
melakukan SADARI. Kemudian mereka mendisukusikannya dengan temannya masing-masing.
Teman Ny. A mungkin akan mendorong mencari pengobatan untuk menentukan apakah perlu
dibiopsi atau tidak; sedangkan teman Ny. B mungkin akan mengatakan itu hanyalah benjolan biasa
dan tidak perlu diperiksakan ke dokter.
d. Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya dan etik mengajarkan sesorang bagaimana menjadi sehat, mengenal
penyakit, dan menjadi sakit. Dengan demikian perawat perlu memahami latar belakang budaya
yang dimiliki klien.
e. Ekonomi
Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang biasanya ia akan lebih cepat tanggap terhadap gejala
penyakit yang ia rasakan. Sehingga ia akan segera mencari pertolongan ketika merasa ada
gangguan pada kesehatannya.
f. Kemudahan Akses Terhadap Sistem Pelayanan
Dekatnya jarak klien dengan RS, klinik atau tempat pelayanan medis lain sering mempengaruhi
kecepatan mereka dalam memasuki sistem pelayanan kesehatan.
Demikian pula beberapa klien enggan mencari pelayanan yang kompleks dan besar dan mereka
lebih suka untuk mengunjungi Puskesmas yang tidak membutuhkan prosedur yang rumit.
g. Dukungan Sosial
Dukungan sosial disini meliputi beberapa institusi atau perkumpulan yang bersifat peningkatan
kesehatan. Di institusi tersebut dapat dilakukan berbagai kegiatan, seperti seminar kesehatan,
pendidikan dan pelatihan kesehatan, latihan (aerobik, senam POCO-POCO dll). Juga menyediakan
fasilitas olehraga seperti, kolam renang, lapangan Bola Basket, Lapangan Sepak Bola, dll.

2.4.3 Tahap-tahap Perilaku Sakit :


1. Tahap I (Mengalami Gejala)
Pada tahap ini pasien menyadari bahwa ada sesuatu yang salah . Mereka mengenali sensasi atau
keterbatasan fungsi fisik tetapi belum menduga adanya diagnosa tertentu.
Persepsi individu terhadap suatu gejala meliputi: (a) kesadaran terhadap perubahan fisik (nyeri,
benjolan, dll); (b) evaluasi terhadap perubahan yang terjadi dan memutuskan apakah hal tersebut
merupakan suatu gejala penyakit; (c) respon emosional.
2. Tahap II (Asumsi Tentang Peran Sakit)
Terjadi jika gejala menetap atau semakin berat. Orang yang sakit akan melakukan konfirmasi
kepada keluarga, orang terdekat atau kelompok sosialnya bahwa ia benar-benar sakit sehingga
harus diistirahatkan dari kewajiban normalnya dan dari harapan terhadap perannya. Menimbulkan
perubahan emosional seperti: menarik diri/depresi, dan juga perubahan fisik. Perubahan emosional
yang terjadi bisa kompleks atau sederhana tergantung beratnya penyakit, tingkat
ketidakmampuan, dan perkiraan lama sakit.
3. Tahap III (Kontak dengan Pelayanan Kesehatan)
Pada tahap ini klien mencari kepastian penyakit dan pengobatan dari seorang ahli, mencari
penjelasan mengenai gejala yang dirasakan, penyebab penyakit, dan implikasi penyakit terhadap
kesehatan dimasa yang akan datang. Profesi kesehatan mungkin akan menentukan bahwa mereka
tidak menderita suatu penyakit atau justru menyatakan jika mereka menderita penyakit yang bisa
mengancam kehidupannya. Klien bisa menerima atau menyangkal diagnosa tersebut. Bila klien
menerima diagnosa mereka akan mematuhi rencan pengobatan yang telah ditentukan, akan tetapi
jika menyangkal mereka mungkin akan mencari sistem pelayanan kesehatan lain, atau
berkonsultasi dengan beberapa pemberi pelayanan kesehatan lain sampai mereka menemukan
orang yang membuat diagnosa sesuai dengan keinginannya atau sampai mereka menerima
diagnosa awal yang telah ditetapkan. Misalnya: klien yang didiagnosa mengidap kanker, maka ia
akan mengunjungi beberapa dokter sebagai usaha klien menghindari diagnosa yang sebenarnya.

4. Tahap IV (Peran Klien Dependen)


Pada tahap ini klien menerima keadaan sakitnya, sehingga klien bergantung pada pada pemberi
pelayanan kesehatan untuk menghilangkan gejala yang ada. Klien menerima perawatan, simpati,
atau perlindungan dari berbagai tuntutan dan stress hidupnya. Perubahan ini jelas akan
mempengaruhi peran klien di tempat ia bekerja, rumah maupun masyarakat.
5. Tahap V (Pemulihan dan Rehabilitasi)
Merupakan tahap akhir dari perilaku sakit, dan dapat terjadi secara tiba-tiba, misalnya penurunan
demam. Penyembuhan yang tidak cepat, menyebabkan seorang klien butuh perawatan lebih lama
sebelum kembali ke fungsi optimal, misalnya pada penyakit kronis. Tidak semua klien melewati
tahapan yang ada, dan tidak setiap klien melewatinya dengan kecepatan atau dengan sikap yang
sama. Pemahaman terhadap tahapan perilaku sakit akan membantu perawat dalam
mengidentifikasi perubahan-perubahan perilaku sakit klien dan bersama-sama klien membuat
rencana perawatan yang efektif

2.4.4 Dampak Sakit


a) Terhadap Perilaku dan Emosi Klien.
Penyakit dengan jangka waktu yang singkat dan tidak mengancam kehidupannya akan
menimbulkan sedikit perubahan perilaku dalam fungsi klien dan keluarga. Sedangkan penyakit
berat, apalagi jika mengancam kehidupannya.dapat menimbulkan perubahan emosi dan perilaku
yang lebih luas, seperti ansietas, syok, penolakan, marah, dan menarikd diri.
b) Terhadap Peran Keluarga
Setiap orang memiliki peran dalam kehidupannya, seperti pencari nafkah, pengambil keputusan,
seorang profesional, atau sebagai orang tua. Saat mengalami penyakit, peran-peran klien tersebut
dapat mengalami perubahan. Peran perawat adalah melibatkan keluarga dalam pembuatan rencana
keperawatan.
c) Terhadap Citra Tubuh
Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang terhadap penampilan fisiknya. Beberapa
penyakit dapat menimbulkan perubahan dalam penampilan fisiknya, dan klien/keluarga akan
bereaksi dengan cara yang berbeda-beda terhadap perubahan tersebut.
d) Terhadap Konsep Diri
Konsep Diri adalah citra mental seseorang terhadap dirinya sendiri, mencakup bagaimana mereka
melihat kekuatan dan kelemahannya pada seluruh aspek kepribadiannya. Konsep diri tidak hanya
bergantung pada gambaran tubuh dan peran yang dimilikinya tetapi juga bergantung pada aspek
psikologis dan spiritual diri.
e) Terhadap Dinamika Keluarga
Dinamika Keluarga meruapakan proses dimana keluarga melakukan fungsi, mengambil
keputusan, memberi dukungan kepada anggota keluarganya, dan melakukan koping terhadap
perubahan dan tantangan hidup sehari-hari.
Misal: jika salah satu orang tua sakit maka kegiatan dan pengambilan keputusan akan tertunda
sampai mereka sembuh.

BAB III

PENUTUP

3.1 kesimpulan

Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat
diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan dan baik disadari maupun
tidak.
hubungan kesehatan dengan perilaku sangatlah erat san saling berkesinambungan, individu
yang sehat akan tercermin dari perilakuyang sehat pula. Sebaliknya juga begitu perilaku
yang sehat akan mencerminkan individu dengan kualitas hidup baik.
Sehat adalah suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, dan kesejahteraan social
seseorang, bukan hanya terbebas dari penyakit atau cacat.
Perilaku sakit merupakan perilaku cara seseorang memantau tubuhnya, mendefinisikan dan
menginterpretasikan gejala yang dialami, melakukan upaya penyembuhan dan penggunaan
sistem pelayanan kesehatan.

3.2 Saran
Hubungan kesehatan dengan perilaku sangatlah erat san saling berkesinambungan,
individu yang sehat akan tercermin dari perilaku yang sehat pula. Sebaliknya juga begitu perilaku
yang sehat akan mencerminkan individu dengan kualitas hidup baik.
Manfaat dari hidup sehat yang paling penting adalah meningkatkan produktivitas kita
dengan segala kemampuan dan potensi diri kita. Untuk itu konsep hidup sehat seperti tingkatkan
PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) harus dipupuk dari tiap individu untuk dapat
meningkatkan kualitas hidup yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA

http://syakira-blog.blogspot.co.id/2009/01/konsep-perilaku.html

http://www.landasanteori.com/2015/08/pengertian-perilaku-definisi-determinan.html

Notoatmodjo,Prof. Dr.Soekidjo .2017.Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.Jakarta:Rineka


Cipta.

http://www.kompasiana.com/yantigobel/pentingnya-ilmu-psikologi-dalam-
kesehatan_550eaaa7aa33311bf2dba83d7

Maulana, Nova. 2014. Buku Ajar Sosiologi & Antropologi Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.

www.yuniawan.blog.unair.ac.id/files/2008/03/sehatsakit.pdf

http://anggelinaninny.blogspot.co.id/2013/12/makalah-konsep-perilaku-sehat-dan-sakit.html