Anda di halaman 1dari 37

FILSAFAT PRA-SOCRATES

A. Kelahiran Filsafat Yunani Kuno

1. Mitologi Yunani

a. Mitos memberikan jawaban atas “keheranan”, “ketakjuban” hati manusia

terhadap semesta yang melingkupi, yang berarti mitos memberikan semacam “jaminan” bagi kehidupan manusia Yunani kala itu: “Bahwa

kehidupan itu ada maknanya, ada logikanya ada penyelesaiannya. Mitologi dapat juga memiliki arti rangkaian cerita yang berisi dongeng para dewa-dewi yang dihubungkan dengan peristiwa alam dan dipercayai secara turun-temurun, Secara garis besar ada 2 jenis mitos yaitu,

1. mitos kosmogonis yaitu memberi keterangan tentang asal usul alam semesta itu sendiri.

2. Mitos kosmologis yaitu memberi keterangan tentang asal usul serta

sifat-sifat kejadian-kejadian dalam alam semesta. Mitologi Yunani berpengaruh dalam mendorong kelahiran filsafat karena menimbulkan ketidakpuasan dan berbagai pertanyaan dalam pikiran. Mitologi juga ikut mewarnai perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di dunia sampai sekarang.

b. Kesusasteraan Yunani Kesusasteraan di sini hendaknya dimengerti dalam arti yang luas misalnya amsal-amsal, tembang-tembang, dongeng, syair, cerita. Karya susastra itu berfungsi “mendidik” rakyat Yunani dalam waktu-waktu luang. Salah seorang sastrawan yang terkenal adalah Homeros pada tahun 850 SM. Puisinya yang amat terkenal yaitu Ilias dan Odyssea.

c. Ilmu-ilmu pengetahuan dari Timur Kuno Dari Babylonia : Astronomi, penanggalan Dari Mesir Kuno: Ilmu ukur, ilmu hitung, geometria (ilmu pengukur tanah) Dari Yunani : ilmu-ilmu tadi bukan hanya ditekuni sebagai pemenuhan kebutuhan praktis, tapi dikembangkan demi kemajuan ilmu itu sendiri.

d. Mitos dan Logos Mitos: jawaban terhadap problem-problem alam semesta dicari pada mitos- mitos sedangkan logos: jawaban terhadap problem-problem alam semesta mulai diusahakan dengan akal budi.

e. Posisi geografi Pada masa itu wilayah Yunani tidak sekecil sekarang. Pesisir Asia kecil, Sisilia dan Italia Selatan bahkan sampai daratan Afrika. Kontak dengan bangsa lain memungkinkan bertambah kayanya informasi dan perluasan cakrawala berfikir mereka.

f. Kondisi Sosial Politik Orang Yunani tinggal dalam suatu polis. Dimana polls itu memiliki arti “negara-kota”. Kata”polis” juga menunjukkan rakyat negara itu. *polis sebagai lembaga politik ciri-cirinya:

1. Otonomi: mempunyai hukum sendiri.

2. Autarkeia: mandiri perekonomiannya.

3. Kemerdekaan politik melalui lembaga-lembaga sebagai berikut:

- ekklesia: majelis umum

- bule: dewan Harlan

- diskasteria: lembaga I badan peradilan

Polis sebagai wahana timbulnya filsafat:

1. Tatanan polis yang sedemikian itu menempatkan logos dalam kedudukan yang penting.

2. Suasana keterbukaan dalam polis.

3. Dalam Polis semua warga negara sederajat kedudukannya. Maka, kecil

rasa sungkan untuk mengekspresikan pikiran-pikiran, gagasan, pendapat.

2. Para filsuf pertama dari Milletos Filsuf-filsuf yang akan dibicarakan ini pada umumnya berfikir tentang alam semesta beserta seluruh kenyataan hidup (bukan sekedar fisik material, tapi sekaligus “non fisik-immaterial”). Yang mereka pikirkan adalah “arkhe” yakni “asal muasal’, “azas pertama”, sesuatu yang hakiki dari segala sesuatu yang tergelar dalam alam semesta yang bermacam ragam coraknya dan serba berubah.

a. Thales(625 545 SM) Dia mempertanyakan apakah dasar pertama atau asal usul dari segala sesuatu di alam ini. Dia disebut sebagai orang pertama yang menyelidiki alam dengan logosnya. Dia dijuluki sebagai filsuf pertama oleh Aristoteles jawabannya adalah air. Air tampak sebagai sarana pokok bagi kehidupan bahkan menjadi “sumber” kehidupan, air yang meresapi segala-galanya.

b. Anaximandros (610 540 SM) Dia murid Thales, tetapi tidak setuju dengan pendapat Thales. Jika arkhe hanya salah satu anasir alam (air), lalu bagaimana dengan anasir yang lain. Arkhe menurut Anaximandros haruslah yang lebih dalam lagi, tidak sekedar unsur alam yang terbatas, Menurut dia arkhe alam semesta adalah to apeiron. lstilah ini bermakna “yang tak terbatas”, bersifat illahi, abadi, tak berubah dan meliputi segalanya.

c. Anaximenes (538 480 SM) Dia murid Anaximandros, baginya arkhe segala sesuatu adalah “hawa” atau “udara” . Alasannya, bahwa udara meliputi seluruh alam dan menjadi azas kehidupan manusia. Semua unsur alam ini terjadi karena proses pemadatan dan pengenceran udara. Tubuh manusia adalah mikrokosmos yang mencerminkan jagad raya sebagai makrokosmos. Kalau Thales mengatakan bumi terapung di atas air, maka Anaximenes mengatakan bumi yang seperti meja bundar katanya melayang-Iayang di udara.

3. Persamaan Corak Pemikiran para filsuf pertama

a. Mereka dapat disebut sebagai “filsuf alam” karena ajaran mereka memusatkan pada alam.

b. Alam mereka pandang sebagai keseluruhan yang bersatu dan mempunyal asal usul (arkhe) satu prinsip saja.

c. Alam semesta dikuasai oleh satu hukum, bukan secara kebetulan.

d. Alam semesta merupakan kosmos (keteraturan), bukan chaos (kekacauan)

B. Pythagoras ( 580 500 SM) Dia mendirikan perguruan dan mazhab Pythagorean yang ajarannya bersifat rahasia. Ajaran Pythagoras sebagai guru disampaikan secara lisan, tidak boleh dicatat dan harus dirahasiakan. Setiap ada perselisihan antar para murid tentang filsafat selalu dapat pendapat sang guru dan ditutup dengan pernyataan autos epha (demikian sabda guru). Apabila flulsuf-filsuf Miletos berfilsafat karena keingintahuan ilmiah. Maka Pythagoras dan pengikut-pengikutnya bukan hanya keingintahuan ilmiah saja, tetapi Iebih ke arah “a way of life”: suatu pandangan hidup yang dengan itu manusia dapat mencapai kebersihan jiwa dan memutus rangkaian perpindahan jiwa.

Ajaran Pythagoras yang sangat berpengaruh mencakup dua hal. Pertama, ajaran rahasia dengan dasar kepercayaan bahwa jiwa itu kekal, tidak dapat mati. Kedua, ajaran ilmu pasti mengenai bilangan yang dijadikan dasar untuk memahami tentang alam. Dikemudian hari pengikut-pengikut Pythagoras berkembang menjadi dua aliran:

1. Akasmatikol, Iebih mengutamakan penyucian jiwa dengan menaati aturan- aturan

2. Mathematikol, lebih mengutamakan ilmu pengetahuan, terutama ilmu pasti.

a. Ajaran tentang Jiwa Jiwa tidak dapat mati (immortal). Bila seseorang meninggal maka jiwanya

akan berpindah ke sosok lain. Perpindahan jiwa itu akan terputus bila orang melakukan jalan penyucian sesuai dengan “tarekat” pythagorean (misalnya berpantang makanan tertentu). Agar hidup manusia harmonis harus ada keseimbangan antara jiwa dan raga. Untuk mencapai keseimbangan itu manusia harus:

1. taat kepada ajaran agama

2. menghormati orang tua

3. menepati janji

4. melepaskan keinginan nafsu

b. Ajaran tentang bilangan Dia mengatakan bahwa arkhe segala sesuatu ialah bilangan. Bilangan merupakan simbol tangga nada dalam harmoni musik yang melahirkan keindahan. Alam semesta ini adalah suatu harmoni yang indah juga. Bilangan adalah segala-galanya yang mengandung pninsip-prinsip pertentangan, namun tetap dalam harmoni alam. Pythagoras menganut teori “helio-sentrisnamun berbeda dengan pengertian sekarang. Matahari adalah api sentral yang menjadi pusat segala sesuatu. Jagad raya digambarkan dengan “suatu tangga nada”.

c. Ajaran Kosmologi Pusat jagad raya adalah “api”. Api ini dikelilingi 10 badan jagad raya, yaitu, kontra bumi, bumi, bulan, matahari, merkurius, venus, mars, yupiter, saturnus kemudian langit dengan bintang-bintang tetap. Kesepuluh badan jagad raya tadi beredar mengelilingi api sentral sebagai tetraktys raksasa. Yang kemudian hari, “api sentral” ala pythagorean ini oleh sementara pemikir Yunani (Heraklitos, Aristarkhos) disamakan dengan

matahari, sehingga dalam bidang kosmologi menganut pendirian helio- sentris.

C. Xenophanes ( 570 480 SM)

Baginya arkhe segala sesuatu adalah “kesatuan”. Prinsip “satu” mengatasi segala- galanya baik manusia maupun dewa.

a. Konsepsi ketuhanan Ia mengkritik paham ketuhanan yang bersifat mitologi, terutama paham yang menerapkan hal-hal yang secara etis tidak patut diperbuat oleh Tuhan, misalnya mencuri, berzina, menipu dll. Tuhan adalah ideal dalam bidang etik. Kritiknya juga diarahkan kepada konsepsi ketuhanan yang berhaluan antropomorfisme. Kosekuensi lebih lanjut, Tuhan bukan dilahirkan, melainkan azali dan abadi. Ia juga menolak konsepsi ketuhanan yang berbau keetnikan. Dengan kata lain, ia ingin mengajukan konsepsi universalisme ketuhanan. Xenophanes juga tidak setuju dengan konsepsi ketuhanan yang pluralistik. Ia menekankan keesaan Tuhan. Akan tetapi keesaan disini tidak bisa disamakan dengan konsepsi Islam atau Kristen sekarang. Pada kenyataannya, Ia masih acapkali menyebut Tuhan dengan kata jamak. Pandangan Xenophanes yang demikian ini ditafsirkan orang bahwa ia mengajarkan “monotheisme” sekaligus “pantheisme”.

b. Ajaran Kosmologi Matahari melintas dengan gerak lurus, setiap pagi selalu muncul matahari baru. Gerhana terjadi karena matahari terjatuh dalam lubang. Bumi adalah simpul siklus tanah lumpur----air laut----Iumpur---tanah. Secara umum ajaran kosmologi ini justru tampak Iebih “primitif” daripada ajaran kosmologi sebelumnya.

D. Hera klitos ( 540 475 SM)

a. Ajaran tentang pertentangan Setiap benda tersusun dari unsur saling bertentangan (paradoks) dalam kesatuan. Pertentangan tidak berdampingan tetapi bergerak dari satu ke yang lain. Pertentangan itu adalah suatu keharusan yang wajar dan layak. “Perang (pertentangan) adalah Bapak segala-galanya” Damai menjadi ada karena perang. Pertentangan adalah keadilan. Hanya dengan pertentangan-lah segala sesuatu “menjadi” sesuatu “yang sama adalah perlawanan”.

b. Filsafat “menjadi” Heraklitos tidak percaya adanya sesuatu yang tetap, segalanya berubah. Muncul semboyan Panta rhei kai uden menei yang artinya segalanya bergerak seperti aliran sungai. Bergerak berarti menjadi. Tidak ada sesuatupun yang sungguh-sungguh ada. Semuanya menjadi; semuanya berubah tanpa henti.

c. Ajaran tentang arkhe Arkhe segala sesuatu adalah api. Api tak pernah diam, selalu bergerak dan berubah.

d. Ajaran kosmologi dan jiwa musia Kosmos juga selalu berubah: apiairtanahairapi. Begitu juga jiwa manusia senantiasa berubah sebagaimana berubahnya airapitanah begitulah manusia dalam tidur jagakematiannya.

e. Ajaran tentang Logos Logos di sini lebih berati “rasio”. Logos bersifat ilahi, tetapi bukan mengacu pada konsep ketuhanan. Logos adalah hukum yang menguasai segala sesuatu yang senantiasa berubah. Maka logos juga berarti api simbol keabadian perubahan.

E. Mazhab Elea

1. Parmenides (515 450 SM) Karyanya berupa puisi yang terdiri dari 2 bagian: jalan kebenaran dan jalan pendapat. Baginya pengetahuan indrawi itu menyesatkan, dan pengetahuan rasiolah yang mampu menjamin kepastian.

a. Ajaran yang ada

Parmenides menentang perubahan yang terus menerus, apalagi kesatuan kontradiksi. Segalanya hanyalah “ada” yang tetap, satu dan tidak berubah. Rumusnya: Yang ada itu ada yang tidak ada itu tidak ada. Pengandaian lain ada dua kemungkinan yaitu, yang ada itu tidak ada atau yang ada itu serentak ada dan tidak ada. Tiga hal yang ditolak filsafat “ada” yaltu, tidak ada kejamakan, tidak ada perubahan dan tidak ada ruang kosong.

2. Zeno (490SM) Ia adalah muri sekaligus sahabat Parmenides. Ajaran-ajarannya merupakan pembelaan terhadap ajaran-ajaran gurunya dengan cara membuat andaian- andaian tentang hal-hal yang akan ditentangkan kemudian diruntuhkannya.

a. Argumen melawan ruang kosong Jika diandaikan bahwa “ruang kosong, maka dia membutuhkan ruang kosonglagi untuk tempat bagi dia, begitu seterusnya sampai tak terhingga. OIeh karena itu harus disimpulkan bahwa ruang kosong itu “tidak ada”.

b. Argumentasi melawan pluralitas Jika potongan garis terdiri dari titik-titik, maka potongan itu dapat dibagi-bagi sampai tak terhingga. Kalau titik-titik tadi mempunyai panjang tertentu, maka potongan garis itu menjadi “tak terhingga panjangnya”, sedangkan bila titik-titik tadi tidak mempunyal panjang tertentu maka potongan-potongan garis itu tak terhingga pendeknya = 0 Maka kedua kesimpulan dari 2 pengandaian tadi “sama-sama mustahil”. Oleh karena itu pluralitas harus ditolak.

c. Argumen melawan gerak

1. Pelari dan stadion: si pelari tidak pernah sampai garis finish.

2. Pelari Akhilles dan kura-kura: Akhilles tidak pernah bisa melewati kura- kura yang start lebih dulu.

3. Anak panah yang lepas dari busurnya: meskipun anak panah tampak melesat, tapi ia tetap sebagai benda yang sama.

Jadi apa yang disebut “gerak” hanyalah seri perhentian.

F. Filsuf-filsuf Pluralis

Mereka menjawab bahwa arkhe alam lebih dari satu unsur.

a. Empedokles (492 432 SM) Ia seorang cendekiawan yang mahir di banyak bidang, filsuf, dokter, penyair,

orator, politikus. Ia menulis 2 karya berupa puisi; perihal alam dan penyucian-

penyucian.

1. Ajaran arkhe Arkhe alam ada 4 anasir (rizomata) Api-----panas Udara-----dingin Tanah-----kering Air------basah Menurut Empedokles, segala sesuatu terdiri dari keempat anasir tadi. Yang membedakan sesuatu yang satu dengan yang lain adalah komposisi dari tiap-tiap anasir. Perubahan terjadi karena komposisi anasirnya diubah.

2. Ajaran cinta dan benci Perubahan yang terjadi pada alam semesta “diatur” oleh dua prinsip yaitu cinta yang mempunyai sifat menggabungkan sedangkan benci mempunyai sifat menceraikan. Cinta dan benci ini digambarkan sebagai cairan halus yang meresapi semua benda.

3. Ajaran tentang pengenalan Suatu pengenalan atau proses mengetahui terjadi karena anasir yang sama antara yang berada pada subyek dan obyek. Alat pemikiran darah, karena darah dianggap perpadua 4 anasir yang sempurna.

4. Ajaran tentang penyucian-penyucian Ia menganggap dirinya sebagai daimon--- mahluk mulia. Agar manusia kembali menjadi daimon, orang harus melalui perpindahan jiwa dan berpantang. Dimana perpindahan jiwa ini begitu panjang mata rantainya.

b. Anaxagoras (499 427 SM) Karyanya berupa prosa dan hanya beberapa fragmen yang masih bisa

ditemukan, meskipun usianya tebih tua daripada Empedokles tapi karyanya ditulis sesudah karya Empedokies ditulis.

1. Ajaran tentang Arkhe:

Ia menganggap bahwa “yang ada” itu azali dan abadi: tak terciptakan dan tak termusnahkan. Anaxagoras berpendirian bahwa “yang ada” itu bukan tunggal, bukan pula 4 melainkan dapat dibagi-bagi sampai tak terhingga banyaknya. Yang disebut oleh Anaxagoras sebagai spermata (benih-benih). Segala sesuatu adalah campuran dari benih-benih yang tidak terhingga banyaknya dan proporsi tiap benih membedakan benda yang satu dengan yang Iainnya.

2. Ajaran tentang NOUS:

Nous merupakan prinsip yang menyebabkan benih-benih menjadi kosmos. Nous tidak tercampur dengan benih-benih (steril) dan bahkan mengenal dan menguasai segala sesuatu. Ia hanya berada dalam mahluk hidup dan nous merupakan unsur yang paling halus.

3. Ajaran tentang pengenalan:

Pengenalan inderawi sering disertai “nyeri”. Mengenal panas --- kepanasan dll.

c. Leukippos dan Demokritos Ada sementara sejarahwan yang meragukan bahwa Leukippos sebagai tokoh yang pernah hidup, sebagian sejarawan yang lain mengakui keberadaan tokoh

ini. Yang jelas, pada umumnya dua tokoh tadi selalu dibicarakan secara bersama- sama manakala orang membicarakan tentang atomisme.

1. Ajaran Atomisme

Realitas seluruhnya adalah atomos (yang tak terbagi). Atom-atom adalah:

a) Bagian terkecil dari setiap benda

b) Mata telanjang tidak dapat melihat

c) Jumlahnya tak terhingga

d) Azali dan abadi, tak terciptakaan dan terlenyapkan

e) Semata-mata kuantitatif, tidak mempunyai kualitas

f) Bergerak spontan ke segala arah

g) Sejumlah atom bisa mengait satu sama lain. Melalui gerak puting

beliung atom-atom membentuk kosmos. Atom-atom itu berbeda dalam 3 hal:

1. Bentuknya

2. Urutannya

3. Posisinya

2. Ajaran tentang Jiwa:

Jiwa terdiri dari atom-atom bulat yang tidak mengait atom-atom lain dengan lincah Ia dapat menyelinap di antara atom-atom lain.

3. Ajaran tentang ruang kosong:

Demokritos berpendirian ada “ruang kosong. Atom-atom digambarkan senantiasa bergerak-gerak, tidak mungkin tanpa ruang kosong Gerak terjadi karena atom-atom (yang penuh) mengisi ruang kosong (yang tidak penuh).

4. Ajaran tentang pengenalan:

Subyek mengenal obyek, karena obyek memancarkan gambaran-gambaran kecil (ildola) yang terdiri dari atom-atom dan berbentuk seperti obyek tadi---- masuk/diserap pancaindera---- ke jiwa: atom-atom obyek bersentuhan dengan atom-atom jiwa. Karena atom tidak memiliki kualitas, maka setiap benda juga tidak mempunyai kualitas. Jadi apa yang disebut kualitas itu hanyalah anggapan

subyek belaka tentang obyek yang ditanggapi. Dengan kata lain kualitas itu subyektif belaka. Pancaindera tidak dapat dipercaya sebagai pirantipengetahuan yang memadai. Orang harus condong pada rasio. Jiwa juga terdiri dari atom- atom, maka proses pengenalan adalah proses jasmaniah belaka.

5. Tentang Etika:

Ideal tertinggi dalam hidup: euthymia, yaitu keadaan batin yang sempurna. Harus diwujudkan keseimbangan-keseimbangan, kesenang-an dan kesusahan, kenikmatan dan perpantangan. Seyogyanya manusia mengalami kesenangan yang sebanyak mungkin dan kesusahan yang sedikit mungkin.

PERIODE YUNANI KUNO

PARA SOFIS

Abad ke-5 SM kata Sofis berarti orang-orang yang bijaksana, “orang yang memiliki keahlian tertentu”. Di lain pihak, istilah sofis bergeser artinya menjadi “guru bayaran keliling”. Di kemudian hari istilah sofis menjadi negatif: “seorang penipu daya cerdik dengan argurnentasi yang menyesatkan”. Maka Sofisme bukanlah mazhab yang terorganisir, tetapi lebih merupakan gerakan intelektual yang sedang “ngetrend” saat itu. Hal itu disebabkan karena:

1. Keadaan polis Athena yang kian maju dalam bidang politik, ekonomi, sosial

budaya.

2. Untuk mengimbangi kemajuan-kemanjuan tadi para kaum muda membutuhkan pendidikan yang Iebih tinggi.

3. Peraturan-peraturan etis menjadi dipersoalkan: apakah bersifat kodrati atau adat kebiasaan yang dibuat dan dijalankan secara ajeg (nomos). Karena ketiga alasan itulah gerakan sofisme merebak dan populer kala itu.

1. Masa Sokrates ( 469 399 SM ) dan kaum sofis

a. Sokrates sebagal tonggak periode filsafat Dia tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya dikenal melalui para muridnya, terutama Plato. Dia dijadikan tonggak peniodisasi filsafat karena dia “memindahkan filsafat dan langit ke bumi”; dan persoalan alam ke masalah manusia.

b. Kaum Sofis Sofis dari kata “sophia” (bijaksana). Kaum sophis semula bermakna positif sebagai kaum terpelajar/cendekiawan, namun kemudian bermakna negatif.

c. Persamaan antara Sokrates dengan Kaum Sophis 1) Mereka memajukan pendidikan dan pengajaran masyarakat khususnya kaum muda.

2)

Mereka mengarahkan perhatiannya kepada masalah diri manusia dan etika.

3)

Keutamaan hidup dicapai melalui belajar, tak hanya latihan.

4)

Mereka bertitik tolak dari pengalaman dan kehidupan konknit.

d. Perbedaan antar Sokrates dengan Kaum Sophis 1) Kaum Sophis mengaku sebagai cendekiawan dan bijaksana; sedangkan Sokrates tidak. Sokrates hanya pecinta kebijaksanaan (philosophos).

2) Kaum Sophis mau mengajar dengan bayaran; Sokrates dengan tulus

3)

ikhlas. Bagi Sokrates ada kebenaran umum yang objektif. Kaum Sophis menganut

4)

sikap relativisme dan menolak kebenaran umum itu. Bagi Sokrates kebenaran setalu terkait dengan moral/etik, tak hanya teoritik sebagai bahan perdebatan seperti Kaum Sophis.

e. Metode Sokrates

1)

Seni kebidanan (maieutike tekhne); seperti pekerjaan ibunya.

2)

Dialektika/dialog (percakapan).

3)

Perintisan metode induksi dan deduksi.

f. Ajaran etika Sokrates

1)

2) Untuk mencapal kebahagiaan (eudaimonia rohani). Manifestasinya ialah kebaksanaan dan keutamaan (arete).

3)

g. Ajaran Sokrates tentang negara Dia menolak demokrasi dengan alasan bahwa pengaturan negara harus dipegang oleh orang yang benar-benar bijaksana dan berpengetahuan.

Lebih mementingkan jiwa manusia daripada raga.

Keutamaan dicapai tidak melalui moral, tetapi melalui pengetahuan.

2. Pengikut Sokrates (The Minor Socraties)

a. Mazhab Megara; tokohnya Euklides 1) Keutamaan diperoleh melalui pengetahuan yang diajarkan dalam pendidikan.

2)

Realitas hanya satu (monistik), yaitu yang baik.

b. Mazhab Elis & Eretria; tokohnya Phaidon & Menedemos

1)

Keutamaan dicapai dalam filsafat, khususnya etika.

2)

Etika merupakan obat untuk mencapai kebebasan sempurna.

c. Mazhab Sinik; tokohnya Antisthenes

1)

2) Keutamaan berupa kepuasan pribadi (autarkea); bebas dan pengaruh duniawi dengan kesederhanaan; menolak kesenangan jasmani. 3) Keutamaan menuju kepada kebahagiaan denga jujur dan berbudi dengan azas kebaikan mutlak.

Tidak ada pengertian umum; yang ada itu individual.

d. Mazhab Kirena; tokohnya Aristippos

1) Menekankan pada kesenangan jasmani (hedonistik).

2)

Kesenangan tergantung pada individu (nominalistik).

3)

Kesenangan hanya didapatkan sekarang dan langsung.

3. Plato (427-347 SM)

a. Tahap pemikirannya (3 periode)

1)

2) Mengikuti jalan pikirannya sendiri (dalam masalah dunia idea dan masalah

Sepenuhnya ikut Sokrates.

3)

negara). Terarah ke hal praktis/alami.

b. Ajaran tentang idea-idea 1) Idea berbeda dengan istilah modern ide/idea yang secara umum dimengerti sebagai gagasan yang datang dan subyek. Idea bukan ciptaan subyek, Ia terlepas dan subyek yang berpikir. Ia tidak tergantung pada pemikiran, justru sebaliknya: pikiran itulah yang tergantung pada idea-idea. Berfikir berarti mengarahkan aktivitas pikiran kepada idea-idea.

Cara memahami idea misalnya: dalam ilmu pasti, bisa ditemukan bermacam-maacam segitiga secara “fisik inderawi”, akan tetapi idea segitiga tetap. Dua dunia

2)

- Dunia benda-benda jasmaniah beragam, berubah

- Durila idea tetap

Hubungan dua dunia:

- Idea tidak terpengaruh dengan dunia jasmaniah, idea-idea justru mendasari dan menyebabkan benda-benda jasmaniah.

- Idea-idea “hadir” dalam benda-benda jasmaniah konkrit, tapi idea-idea itu tidak berkurang apa-apanya sedikitpun.

- Benda-benda konkrit berpartisipasi pada satu atau Iebih idea. Atas partisipasinya benda-benda tersebut, idea juga tidak terkurang apa- apanya.

- ide adalah “model, Benda-benda konkrit adalah gambaran “tak sempurna yang menyerupai “model idea” tadi. Jadi dunia idea adalah dunia tersendiri, yang mandiri, sebagai “keberadaannya” yang “otonomi”. Bahkan, dunia ide itulah yang sejati. Dunia jasmaniah/fisik inderawi hanyalah suatu bayang-bayang dunia idea.

Dalam dunia idea ada hierarkhi idea dan idea yang tertinggi” idea yang baik”. Tetapi Plato mengusulkan 5 idea utama yaitu, ada, identik, lain, diam, gerak.

c. Ajaran tentang Pengenalan Ada 2 jenis pengenalan yaitu: rasio dan inderawi. Rasio mengenal dunia idea dengan obyek jelas, tetap, tidak berubah, mutlak yang disebut dengan istilah episteme (knowledge).

Inderawi mengenal dunia benda-benda jasmaniah dengan obyek relatif, berubah-ubah yang disebut dengan istiah doxa (opinion) Dengan demikian Plato mengatasi pertentangan Heraklitos dan Parmenides dengan pengenalan dan “yang ada”. Dalam menjawab tentang permasalahan tentang dunia jasmaniah yang dianggap nyata, Plato menggambarkan bahwa:

Manusia sebagai tahanan yang dibelenggu dalam gua. Menghadap dinding gua. Di gua ada nyala api dan ada budak-budak lalu lalang dekat api ---- orang- orang tahanan tadi melihat bermacam-macam bayangan. Bayangan itulah yang dianggap realitas. Ketika tahanan dibawa keluar dan gua, mereka merasa telah mengetahui realitas dan ketika mata mereka menatap matahari matanya silau, padahal itulah realitas yang sejati. Matahari adalah dunia idea, sedangkan bayang- bayang para budak adalah benda-benda jasmaniah yang dianggap realitas yang sesungguhnya. ltulah kekeliruan manusia pada umumnya.

d. Ajaran tentang Manusia (Jiwa dan raga) Plato membagi manusia atas jiwa dan raga (badan). Keduanya berdiri “sendiri- sendiri”. Keduanya dianggap sebagai dua substansi yang berbeda. Bahkan tubuh atau badan dianggap sebagai penjara jiwa. Jiwa bersifat baka/kekal, immortal dan sebelum jiwa ke dunia ini, ia sudah punya pra eksistensi”. Pada masa itulah sebenarnya jiwa sudah mengenal idea-idea. Maka pengenalan adalah pengingatan kembali terhadap idea-idea semasa jiwa masih dalam “pra eksistensi” (sebelum datang “menyusup ke dunia ini”). Dan peran doxa adalah menolong ke episteme. Menurut Plato, Jiwa itu terdiri dari 3 bagian, yang masing-masing menjalankan fungsinya:

1. Rasional-----kebijaksanaan-----kepala

3.

Keinginan-----pengendalian diri-----dada

Sedang yang bertugas menjamin keseimbangan antara ketiga bagian jiwa tadi adalah keadilan. Ajaran ini kemudian terkenal sepanjang jaman dan dikenal sebagai “The Cardinal Virtuesyakni:

Temperance (kesederhanaan) Fortitude (ketabahan) Prodence (kebijaksanaan) Justice (keadilan) Plato juga menggambarkan bahwa jiwa rasional bagaikan kusir yang

mengendalikan 2 ekor kuda bersayap. Jiwa rasional (sais) mengendalikan keberanian yang bertujuan ingin keatas ke dunia idea disamping itu juga mengendalikan keinginan yang bertujuan ke bawah (ke bumi). Tentang Jiwa dunia bahwa Plato menggambarkan jagad raya sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos. Akan tetapi, jiwa dunia/ jagad raya diciptakan lebih dulu daripada jiwa manusia.

e. Ajaran tentang negara

1)

Yang pertama golongan tertinggi (kepemimpinan) yang memerintah adalah para filsuf yang bijaksanaan yang mengatur dengan kearifan dan kebijaksanaan. 2) Yang kedua golongan pembantu (para prajurit) yang menjaga keamanan dengan kegagahan dan keberanian. 3) Yang ketiga golongan terendah (petani, tukang batu) yang berproduksi, mencukupi keperluan hidup atau pekerja yang mengendalikan diri. Setiap golongan memainkan peranan masing-masing, tanpa campur tangan golongan yang satu terhadap yang lain. Yang memungkinkan semua itu adalah keadilan. Sebagaimana ajarannya tentang jiwa, ketiga golongan akan selaras/harmonis oleh prinsip keadilan. Maka negara idea menurut Plato bukan demokrasi, tapi anistokrasi. (aristo :

yang baik, kratein: yang berkuasa)

f. Bentuk pemenintahan Negara yang memiliki UUD, terbaik monarkhi, yang terjelek demokrasi. Negara yang belum memiliki UUD yang terbaik adalah demokrasi, yang terjelek adalah monarkhi.

Plato menggaambarkan negara ideal terdiri dan 3 bagian:

4.

Aristoteles (384 322 SM)

a.

Tahap pemikirannya (3 periode)

1)

di Akademi Plato mengikuti ajaran Plato

2)

di Assos dia mengkritik ajaran Plato tentang Idea

3)

di Athena dia berbalik dan spekulatif ke empirik (konkrit, individual)

b.

Logika

 

1. Nama dan fungsi Logika lstilah logika diperkenalkan Cicero (pada abad 1 SM), yang berarti seni berdebat. Kemudian Alexander Aphrodisias memakai istilah logika dalam arti sekarang, yakni suatu kajian tentang valid atau tidaknya penalaran.

 

Aristoteles sendiri menggunakan dua nama yakni

Analytica yakni argumen dengan premis-premis yang jelas-jelas benar.

Dialectica yakni argumen dengan hipotesis. Aristoteles membuat kenangka ilmu sebagai berikut:

limu dibagi menjadi:

ilmu praktis yang terdini dan etika, politika

produktif yang terdini dani teknik, kesenian, kedoktenan.

teoritis yang tediri dan fisika, matematika, filsafat.

Logika “bukan ilmu” melainkan alat/piranti/organon bagi ilmu-ilmu. Aristoteles sering dibeni gelar Bapak Logika, meski filsuf sebelumnya dia

sudah “bermain logika” (secara implisit), tapi baru Aristoteleslah yang memberikan uraian sistematis tentang logika.

 

2. lnduksi dan deduksi lnduksi adalah jalan pikiran yang dimulai dan kasus-kasus khusus untuk kemudian menarik kesimpulan untuk yang bersifat umum.

 

Deduksi adalah jalan pikiran yang dimulai dan hal-hal yang bersifat umum dan jelas-jelas benar untuk kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus.

 

3. Silogisme adalah argumentasi yang terdiri dari tiga putusan.

 

semua kepala negara kelak pasti mati --------------------- premis mayor

Bill Clinton adalah kepala negara ---------------------------- premis minor

Bill Clinton kelak pasti mati ------------------------------------konklusi

4.

Pengenalan Rasional Meski semua makluk hayati mempunyai jiwa, tapi hanya mahluk manusia sajalah yang memiliki rasio. Rasio ini tidak hanya menangkap satu aspek sebagaimana indera, melainkan menangkap segala sesuatu yang ada.

c.

Yang ditangkap rasio adalah esensi (hakikat) suatu benda. Rasio dibagi menjadi 2 yakni:

a. rasio pasif (intelectus possibilis), bagian rasio ini “menenima esensi”

b. rasio aktif (intelectus agens), bagian rasio ini “melepaskan esensi”

Dan cara rasio menangkap esensi dengan abstraksi.

Metafisika

1. Tentang istilah metafisika

Sesungguhnya Aristoteles sendiri tidak memakai istilah metafisika. lstilah itu mula-mula digunakan Andronikos dan Rhodos untuk menamai ajaran- ajaran Aristoteles sesudah ajarannya tentang fisika. Tetapi ada sinyalemen bahwa istilah metafisika telah digunakan oleh Ariston dan Keos, bahkan jauh sebelum itu, istilah metafisika telah digunakan oleh pengikut Aristoteles yang pertama. Aristoteles sendiri menggunakan beberapa nama:

a) metafisika: sophia (kebijaksanaan) kebijaksanaan: ilmu pengetahuan mencari prinsip-prinsip yang fundamental.

b) metafisika : to on hei on ilmu pengetahuan yang mempelajari “yang ada” sejauh “ada” yakni menyelidiki kenyataan seluruhnya, menurut aspek seumum-umumnya.

c) metafisika: filsafat pertama ilmu pengetahuan yang menyelidiki substansi yang tetap, tak berubah. Dalam konteks ini metafisika kadang-kadang disebut dengan teologi. Dunia idea yang “diciptakanPlato itu tidak bisa diterima. Bagi Aristoteles, kenyataan/realitas benda-benda adalah “dirinya sendiri”. Dunia ide yang dimaksud Plato tidak lain adalah bentuk-bentuk yang tidak “mengasingkan” diri di dunia lain (idea-idea), melainkan lekat pada setiap benda secara individual. Menurut Aristoteles setiap benda memang punya esensi tapi bukan “terpisah” dan “ada” di dunia lain (dunia ide). Esensi tiap-tiap benda adalah pada benda itu sendiri. Rasio mampu menangkap esensi ini dengan jalan abstraksi (“melepaskan”). Penampilan benda-benda yang tercerap indera tidak menunjukkan “inti”, “hakikat”, “substansinya”, melainkan hanya aksidensianya.

Dan

aksidennya. Itulah yang disebutjalan abstraksi. Untuk itu Aristoteles mengajarkan 10 kategori:

untuk

sampai

pada

esensi,

harus

1.

substansi

2.

kuantitas

3.

kualitas

4.

relasi

5.

ruang

6. waktu

7. aksi

8. pasi

9. posisi

10. keadaan

“melepaskan”

aksiden-

 

d)

Teologia

 

Bahwa

“gerak”

yang terjadi dalam jagad raya disebabkan oleh

“penggerak pertama”. Penggerak ini terlepas dari sifat materi, karena

sifat “materi” rnempunyai potensi untuk bergerak. Maka penggerak pertama adalah “aktus murni” yang immaterial, non jasmani.

Sedangkan “aktus murni”

ini aktivitasnya adalah “memikir”. Obyek

pemikirannya adalah yang paling tinggi dan paling sempurna. Itu tidak

lain adalah “pemikirannya sendiri”. Maka, Tuhan adalah “pemikir yang memikirkan pikirannya sendiri”.

d.

Etika

Tujuan tertinggi hidup manusia adalah eudamonia (“kebahagiaan”). Eudaimonia bukanlah bersifat subyektif, melainkan suatu keadaan manusia sebegitu rupa sehingga segala sesuatu yang termasuk keadaan bahagia harus terdapat pada manusia. Kebahagiaan bukan hanya dalam potensia, melainkan diaktualkan dalam suatu aktivitas. Aktivitas yang layak bagi manusia adalah mengikuti physisnya,

kodratnya;

sekaligus keunggulannya dan

mahluk-mahluk lain adalah rasionya. Maka kebahagiaan tertinggi adalah dalam aktivitas rasionya, akan tetapi berfikir bukanlah asal berfikir, melainkan berfikir yang disertai keutamaan Keutamaan dibagi menjadi 2 yaitu:

a)

perbedaan

yang

menunjukkan

Keutamaan moral (putusan, tindakan senantiasa mengambil jalan tengah diantara 2 yang ekstrim.

e.

b) Keutamaan intelektual. Dimana pada bagian ini dibagi menjadi 2 yang pertama kebijaksanaan teoritis (senantiasa mengenal kebenaran secara

ajeg) dan kebijaksanaan praktis (mengambil sikap dengan arif-bijaksaana). Psikologi Psykologi menyelidiki segolongan mahluk yang memliki psykhe (tumbuh- tumbuhan, hewan, manusia)

1)

Tentangjiwa Mula-mula Aristoteles mengikuti Plato, jiwa memiliki “pra eksistensidan keabadian. Jiwa dan badan adalah 2 substansi yang terpisah (dalam eudemos). Dikemudian hari, dalam de anima, ia berpendirian lain sama sekali. “Jiwa” aktus yang pertama dari suatu badan organik. Disebut aktus pertama” karena ia merupakan aktus yang fundamental, yang menjadi “sumber/penyebabyang utama dan aktus-aktus sekunder.

2)

Pengenalan inderawi Indera menenima/menyerap bentuk (tanpa materi) benda-benda. Indera ”menerima” bentuk-bentuk itu dalam salah satu aspek saja sesual dengan kemampuannya, misalnya mata melihat, telinga mendengar. Dalam pada itu, organ-organ indera yang menangkap bentuk-bentuk/ kualitas benda yang dicerap, tidak mempunyai kualitas secara aktual pada dirinya sendiri. Namun organ-organ indera mempunyai potensi akan kualitas-kualitas tadi. Maka pengenalan inderawi adalah peralihan dari potensi aktus. Organ-organ indera yang secara potensial mempunyai kualitas, menjadi memiliki/mengenal kualitas secara aktual lewat cerapannya terhadap benda-benda. Dengan kata lain pengenalan inderawi adalah proses peralihan dan potensi ke aktus.

3)

Physis Semua benda alamiah (tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dan keempat anasir, yaitu air, tanah, udara, api) mempunyai physisinya, bertumbuh- berkembang, mempertahankan diri. Dalam konteks yang demikian, istilah physis berarti semacam kodrat. lstilah physis menunjuk arti yang luas yaitu keseluruhan mahluk yang mempunyai physis sebagai prinsip intern dan bekerja sama secara selaras.

4)

5)

lstilah physis kadang-kadang juga berarti, “alam” atau “nature”. Di kemudian hari sering dijumpai nature dalam bahasa inggris yang bukan saja berarti alam, tetapi juga bisa memliki arti “sifat-sifat bawaan”. Teleologi Tiap-tiap mahluk, karena mereka mempunyai sifat physis bukanlah suatu kebutulan yang membuta, melainkan mempunyai tujuan (teleologi). Dengan ini Aristoteles mengkritik filsuf-filsuf atomis yang menganggap atom bergerak “membuta” ke segala arah tanpa tujuan. Bagi Aristoteles mustahil segala sesuatu berlangsung tanpa tujuan. Setiap hal benda/peristiwa pasti mempunyai penyebab timbulnya final atau tujuan. Kosmologi Dua wilayah jagad raya yang pertama yaitu bulan, planit-planit, bintang- bintang, anasir tunggai (aether) dan bumi yang dibagi menjadi 2 yaitu badan tunggal (terdiri dan satu anasir) dan badan majemuk (lebih dan satu anasir). Jagad raya bersifat azali dan abadi. Jagad raya berbentuk bundar dan ada batasnya. Bumi juga bundar dan tetap “diam” dalam pusat jagad raya (geosentris). Setiap yang bergerak, menerima gerak dari sesuatu yang lain. Begitulah, menggerakkan dan digerakkan ini berantai terus menerus. Akan tetapi mustahil bahwa “gerak menggerakkan ini” tak terhingga. Maka pasti ada “penggerak pertama” suatu penggerak yang tidak digerakkan (unmoved mover). Karena jagad raya bersifat azali abadi, maka harus dikatakan bahwa “penggerak pertama” juga azali-abadi. Ia tidak bersifat jasmaniah. inilah yang dimaksud dengan Tuhan.

bahwa “penggerak pertama” juga azali -abadi. Ia tidak bersifat jasmaniah. inilah yang dimaksud dengan Tuhan.

f.

Fisika

1)

Kajian fisika Gerak dibagi menjadi 2 yaitu gerak yang dipaksa dan gerak spontan/ aiamiah. Dalam gerak spontan/alamiah dibagi menjadi 2 yaitu gerak substansial:

sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dan gerak aksidental: sesuatu menjadi lain. Sedangkan kajian fisika Aristoteles adalah gerak spontan/alamiah, harus difahami, bahwa yang dimaksud “gerak” bukan sekedar “pergeseran, akan tetapi segala macam perubahan. Jalan keluar perdebatan Heraklitos dan Parmenides Analisis gerak:

Gerak tidak lain adalah peralihan dan potensi ke aktus. Jadi “yang ada” dapat dianalisis “yang ada menurut potensi” dan “yang ada menurut aktus”. 2) Hylemorfisme Paralel dengan potensi dan aktus Aristoteles juga membedakan antara “materi” dan “bentuk”. Segala “kejadian”, “peristiwa” (apapun di dunia ini tentu berupa “peristiwa) adalah berpadunya materi dan bentuk. lstilah materi tidak hanya difahami dalam konteks benda-benda material. Materi adalah azas realita yang masih dalam potensi. ltulah materi yang fundamental, yang pada dirinya belum ada bentuk”. Akan tetapi pada dirinya ada potensi untuk menjadi aktual. Materi dan bentuk senantiasa “saling mengandaikan”, “saling membutuh- kan” bagi terwujudnya “suatu peristiwa”.

3)

Tugas ilmu pengetahuan mencari penyebab. Tiap peristiwa disebabkan oleh 4 hal yaitu:

Empat penyebab:

1. penyebab efisien (efficient causa)

2. penyebab final (final causa)

3. penyebab material (matterial caussa)

4. penyebab formal (formal causa)

g. Politik Manusia itu “zoon politikon(mahluk yang hidup dalam polls yang menurut kodratnya membutuhkan orang lain bagi hidupnya). Kenyataan menunjukkan, bahwa manusia membutuhkan sesamanya, dan mulal persekutuan hidup terkecil (rumah tangga/keluarga) sampai persekutuan tertinggi (polis/negara).

Keadaan saling membutuhkan dan saling mencukupi itulah yang mampu membuat polis “mandiri”. Sedang tujuan polis/negara adalah agar manusia hidup dengan baik.

h. Tentang pengelolaan/pemerintahan Negara Pengelolaan/pemerintahan yang baik adalah yang berkiblat pada pemenuhan kebutuhan/kepentingan warganya, sedangkan yang buruk adalah yang berkiblat pada pemenuhan kepentingan pengelola/penguasa. Berdasarkan jumlah personel penguasa dan sifat-sifatnya Arstoteles membagi tiga-tiga.

Yang buruk

Jumlah penguasa

Yang baik

Tirani

satu orang

monarkhi

Oligarkhi

beberapa orang

aristokrasi

Demokrasi

banyak orang

politeia

Diantara yang baik, Aristoteles mengatakan yang ideal adalah polititeia yaitu

demokrasi demokrat, demokrasi dengan undang-undang dengan cara memilih wakil-wakil yang dianggap cakap untuk memerintah atau mengelola negara, yakni mereka yang mengerti “yang baik” bagi warga negaranya.

FILSAFAT HELLENISME DAN ROMAWI

Filsafat Hellenisme adalah filsafat pada masa sesudah Aristoteles sampai kira-kira abad pertama masehi. Sebutan Hellenisme menunjukkan bahwa pada masa ini dikuasai oleh corak kebudayaan Yunani. Pada masa ini muncul berbagai aliran filsafat, yang sebagian bersifat etik dan yang lain bersifat religius. Dengan penekanan pada etika, filsafat periode ini dinilai agak menurun. Hal ini karena pengaruh kekuasaan pemerintahan kekaisaran Romawi.

A. Epikurisme (EPIKUROS, 341 270 SM)

1. Ajaran Etika:

Aliran ini bersifat etis dengan menekankan pada Kebahagiaan manusia, ketenangan batin (ataraxia) dan mencapai tujuan hidup manusia yang berupa kenikmatan atau kepuasan (hedone). Ketenangan batin dapat tercapai jika bebas dan tiga sumber ketakutan, yaitu: 1. takut pada murka dewa, 2. takut pada mati, 3. takut pada nasib. Alasannya:

1. Tidak perlu takut kepada murka dewa karena dewa tidak ikut campur dalam urusan dunia ini. Kehidupan ini digerakkan oleh atom-atom.

2. Tidak perlu takut kepada mati, karena setelah mati, jiwanya larut ke dalam atom-atom. Setelah mati orang tak merasakan apa-apa.

3. Tidak perlu takut pada nasib karena yang menguasai hidup dan perbuatan

kita adalah kita sendiri. Nasib itu tidak ada.

2. Ajaran fisika; Atomik dan materialistik Dasar segala sesuatu adalah atom. Dalam jagad raya segala benda tersusun dari atom-atom, yang semuanya kekal dan tak terbatas. Jiwa atau tubuh halus

juga merupakan atom dengan bentuk bulat dan licin.

3. Ajaran Logika: empirik Sumber pengetahuan adalah pengalaman indera

B. Stoisisme (ZENO 336 264 SM)

a. Nama stoa dari “stoa poikile” (gang diantara tiang-tiang), yaitu tempat penyebaran aliran ini.

b. Hubungan antarfisika, logika dan etika Fisika merupakan ladang dengan tumbuhannya, logika adalah pagarnya; dan etika merupakan buahnya

c. Ajaran fisika Hanya ada satu dunia, yaitu dunia pengalaman yang jasmani, sementara alam ini terdiri dari dua unsur, yaitu:

1. yang pasif, berupa bahan atau materi.

2. yang aktif, berupa akal/budi yang menjiwai materi. Dunia dikuasai logos,

yaitu akal atau rasio ilahi. Keteraturan alam merupakan harmoni.

d. Ajaran teologi; alam sama dengan Tuhan Segala aturan berjalan alamiah (natural) yang bersumber dari hukum logos, sebagai nasib yang tidak dapat berubah. Tuhan juga sesuatu yang jasmaniah dan bersifat kebendaan. Kekuatan ilahi sama dengan kekuatan alam. Kejahatan itu tidak ada, kejahatan hanyalah semu, karena hanya dilihat dan satu sisi saja.

e. Ajaran Etika Manusia adalah bagian dari alam yang harmonis. Manusia harus harmonis atau selaras dengan dininya sendiri, yaitu dengan akalnya. Kebajikan adalah akal, budi yang lurus dan harmoni dengan alam. Aturan alam sebagai nasib harus diterima dengan suka cita agar bahagia. Kebajikan yang tertinggi adalah kebijaksanaan kunci. Kunci kebijaksanaan adalah melepaskan segala rasa dan terbebas dan segala nafsu.

C. Skeptisisme (PYRRHO, 365 275 SM)

a. Skepsis artinya ragu-ragu, dasar ajarannya adalah relativisme.

b. Ajaran etikanya didasarkan pada logika berikut:

Orang tidak bahagia karena pengetahuannya salah dan selalu tidak pasti. Pengetahuan indera dan akal tidak ada yang pasti. Setiap dalil, hukum dan norma dapat sekaligus benar dan salah. Agar tidak banyak salah maka bertindaklah sesedikit mungkin. Kebahagiaan dan kebaksanaan sebagai kunci ketenangan hidup dapat tercapai jika orang tidak berbuat dan mengambil keputusan. Sikap hidup yang harus diambil adalah meragukan segala sesuatu.

D. Neopythagorisme (Appolonius, Abad pertama SM)

a. Ajarannya bersifat religius yang berbentuk eklektis, yakni pencampuran antara beberapa aliran pemikiran dan kepercayaan. Aliran ini diwarnai oleh ajaran Pythagoras, Plato, Aristoteles dan Stoa.

b. Corak Pythagoras adalah prinsip bilangan

c.

Pengaruh dan Plato adalah dualisme jiwa-badan, dan terkurungnya jiwa dalam badan.

d. Pengaruh dan Aristoteles ialah pembagian daya manusia yang terdiri dari:

daya rohani (nous)

daya akal (dianola)

daya pengamatan indrawi (aisthesis)

e. Pengaruh dan Stoa adalah ajaran yang menyatakan bahwa tak ada perbedaan antara Ilahi dengan dunia benda. Bahwa dunia ini berasal dari jiwa-dunia sebagai “demiourgos” (sang tukang).

E. Neoplatonisme (Plotinus, 204 270 M)

a. Aliran ini bercorak Platonis, karena banyak dipengaruhi oleh pandangan Plato, namun mempunyai bentuk baru (neo).

b. Corak Platonis dalam dua hal:

1) Dualisme Plato antara dunia ini dan dunia idea ditingkatkan ke arah kesatuan yang lebih tinggi, yaitu antara arus kehidupan di alam ini dengan

“Yang llahi”. 2) Dunia idea Plato sebagai wujud sejati, yang bersumber dan idea tertinggi, idea kebaikan, oleh Plotinus diberi bentuk baru dengan menempatkan Tuhan sebagai wujud tertinggi yang menjadi sumber segala wujud yang lain. Hubungan antara Tuhan, Yang liahi, dengan wujud Iainnya terjalin melalui proses “emanasi” (pancaran, pengaliran, pelimpahan).

c. Teori Emanasi Semua wujud mengalir dari Yang Ilahi, Tuhan Yang Maha Esa, secara bertahap dari tingkat tertinggi ke tingkat yang lebih rendah. Tahap-tahap emanasi adalah:

1)

2) Dari nous mengaliriah jiwa dunia, termasuk jiwa manusia (psukhe) sebagai gambaran nous.

3)

Dari Tuhan Yang Esa (to Hen) mengalirlah nous (roh Ilahi).

Dari jiwa dunia mengalinlah benda (me on), termasuk tubuh manusia.

d. Ajaran tentang manusia terdiri dari 3 substansi:

1)

Roh (nous), yang berkaitan dengan Yang Ilahi.

2)

Jiwa (psukhe) yang berupa kesadaran.

3)

Tubuh (soma).

e. Ajaran Etika Tujuan hidup manusia ialah bersatu kembali dengan Tuhan, yang disebut “remanasi”, dengan melalui 3 tahap:

1)

Berbuat kebajikan umum (virtues).

2)

Berfilsafah (kontemplasi, perenungan mendalam).

3)

Hidup mistik (persatuan dengan Tuhan).

A. Pengertian

PATRISTIK

a. Patristik ialah zaman pemikiran Kristiani yang dikuasai oleh para “pater” (bapak gereja). Mereka berfilsafah untuk kepentingan agama Kristen. Dalam menghadapi filsafat Yunani Kuno, sebagian menolak sama sekali, sebagian Iainnya dapat menerimanya.

b. Ciri atau corak Patristik

1)

Dasar pemikirannya ialah kitab Injil (wahyu).

2)

Para filsuf adalah pater sekaligus pemimpin gereja.

3)

Kebenaran muncul sebagai kaum apologit (pembela agama).

4) Masalah-masalah yang timbul: hubungan akal dan wahyu, ketuhanan, penciptaan, dan hubungan manusia-Tuhan.

B. Kaum Apologit

a. Ajaran pokok:

1)

2) Mereka menentang kepercayaan banyak Tuhan/Dewa. Hanya ada satu Tuhan yang trasenden. 3) Kristus adalah Logos yang membagi-bagikan benih logos kepada seluruh

Tuduhan amoral terhadap umat Kristen adalah fitnah.

manusia. Lawan logos adalah “demon” (iblis)

b. Justinus de Martyr (100-165 M)

1)

2) Tentang penciptaan ia berbeda dari Plato. Bagi Plato, mahluk tercipta dari

bahan yang telah ada. Justinus berprinsip creatio ex nihio, sesuai wahyu. 3) Agama Kristen Iebih tua daripada filsafat Yunani karena telah dinobatkan pada Musa (2300 SM).

Ia tidak menolak filsafat Yunani.

c. Tertullianus (160-222 M)

1)

Kebenaran dan kebijaksanaan hanya ada di kitab suci.

2)

Filsafat Yunani telah digantikan oleh wahyu.

3)

Credo qua absurdum est (saya percaya justru karena tak masuk akal).

C. Aris dan Athanasius

a. Mereka bertentangan dalam memahami Yesus (Isa).

b. Menurut Aris, bahwa Yesus ialah manusia biasa sebagai utusan Tuhan. Yesus bukan Tuhan Allah dan bukan anakNya.

c.

Menurut Athanasius, bahwa Yesus adalah anak Tuhan Allah. Ajaran ini kemudian membentuk ajaran Trinitas dalam agama Kristen.

D. Aliran Gnostik

a. Kata Yunani gnosis berarti pengetahuan. Aliran ini mengajarkan upaya kelepasan menuju Tuhan dan iman ke pengetahuan (gnosis, makrifat). Aliran ini adalah hash peleburan dan berbagai gagasan dalam filsafat Yunani Kuno dan Kitab Suci Kristen.

b. Corak ajaran:

1. Ada pertentangan mutlak antara roh sebagai asas kebaikan dan benda sebagai asas kejahatan.

2. Penciptaan bukan oleh Tuhan, tetapi oleh tokoh rohani yang lebih rendah.

3. Kelepasan hanya dapat dicapai oleh sekelompok kecil orang yang berhasil naik dan iman ke gnosis.

E. Agustinus

a. Karya-karya:

1. De Trinitate (Tentang Trinitas).

2. De Civitate Del (Tentang Negara Tuhan).

3. Confessiones (Pengakuan-pengakuan).

b. Ketuhanan

1. Dasar kepastian dan kebenaran bersumber dan Tuhan, zat yang metafisis.

2. Tuhan mengatasi segala pengertian dan pengetahuan manusia.

3. Pengetahuan manusia tentang Tuhan menampakkan “ketidaktahuan”. Tuhan bukan sesuatu. Tuhan bukan ini bukan itu.

4. Ajaran Trinitas: Tuhan Esa dalam zatNya, tiga dalam pribadiNya.

c. Penciptaan

1. Menganut prinsip creatio ex nihilo.

2. Dasar penciptaan adalah Logos (akal) dan hikmat (kebijaksanaan) Tuhan.

3. Dalam akal Tuhan ada ide-ide Ilahi. Semua penciptaan berpartisipasi dan ide-ide Ilahi ini. Manusia berperan dan berpartisipasi dengan akalnya.

PERIODE SKOLASTIK

A. Pengertian

a. Istilah Skolastik Setelah zaman Patristik, sejak akhir abad V dan awal abad VI filsafat berhenti sampai kira-kira awal abad IX. Filsafat Patristik sesungguhnya masih bercorak Hellenis, namun filsafatnya telah menembus agama Kristen, sehingga warna

teologi Kristen sangat kuat. Setelah muncul Augustinus (354-430 M) sebagai puncak Patristik, filsafat justru berhenti, karena keadaan yang kacau. Filsafat berkembang lagi pada masa pemerintahan Karel Agung (742- 814 M) dan memasuki masa Skolastik, yang disebut Abad Pertengahan. Masa Skolastik didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan yang sudah diusahakan di sekolah-sekolah. Pelajaran sekolah meliputi studi duniawi yang terdiri dan 7 kesenian bebas (artes liberales) yang dikelompokkan dalam:

1. trivium (3 pelajaran bahasa) : gramatika, retorika, dan dialektika.

2. quadravium (4 pelajaran matematika) : aritmatika, geometri, astronomi, dan musik. Semua pelajaran ini dimaksudkan untuk mempersiapkan kepada pelajaran yang Iebih tinggi, yaitu teologia, untuk menjadi sarjana. Berikutnya 7 kesenian bebas berkembang menjadi studi filsafat, terutama filsafat Aristoteles.

b. Corak umum

1. Menekankan pengetahuan yang digali dari buku-buku.

2. Jagat raya dipelajari, namun bukan menelitinya secara empirik, melainkan dengan menggali pendapat para filsuf Yunani Kuno.

3. Corak filsafat skolastik berpusat pada Kitab Suci dan Tuhan (teosentris).

4. Masalah pokok: hubungan akal-wahyu, ketuhanan dan universalia.

B. Awal Skolastik (abad IX-Xll)

a. Johanes Scotus Eriugena (818-870 M)

1. Persoalan akal dan wahyu:

Filsafatnya berdasarkan iman Kristen.

Penelitiannya dimulai dan iman.

Wahyu dipandang sebagai sumber bahan filsafatnya.

Akal bertugas mengungkapkan arti sebenarnya dari wahyu dengan bahan filsafat.

Arti yang benar ditemukannya melalui tafsiran allegoris (kiasan).

2. Persoalan universalla (pengertian umum)

Semakin umum sifat sesuatu, semakin nyata sesuatu itu.

Yang paling umum itulah yang paling nyata.

Zat yang mempunyai sifat paling umum tentu mempunyai realitas

tertinggi, yaitu alam semesta, karena seluruh wujud adalah satu.

3. Empat bentuk wujud alam

a. Alam yang menciptakan dan tidak menciptakan, yaltu:

Tuhan Allah sebagai satu-satunya realitas yang tersempurna.

Sebutan tentang sifatNya sebaiknya negatif, bahwa Tuhan bukan apapun.

b. Alam yang menciptakan dan diciptakan

Teofani pertama, yaitu dunia idea.

Logos yang berwujud dan berpikir.

c. Alam yang diciptakan dan tidak diciptakan

Teofani kedua, yaitu realisasi dalam dunia ini.

Jagat raya ini tercipta dari Roh Kudus atas kasih Tuhan.

Alam ini adalah perubahan dari dunia idea ke dunia gejala.

d. Alam yang tidak menciptakan dan tidak diciptakan

Tuhan dalam bentuk alam keempat sebagai tujuan akhir segala sesuatu.

Tuhan sebagai tujuan (teleologis) dalam upaya remansi yang mengikuti emansi.

4. Etika:

- Ajaran etikanya bercorak mistik

- Manusia harus berusaha menuju kepada kesatuan dengan Tuhan, yang melampaui pengetahuan akal dan pengalaman indrawi.

b. Ultra Realisme, tokohnya Willem dari Champeaux (1070-1121)

1. Berdasarkan pandangan realisme Plato.

2. Bahwa universalia (pengertian umum) itu sungguh-sungguh ada.

3. Wujud universalia terlepas dari wujud individualia (benda satu per satu).

c. Nominalisme, tokohnya Roscellinus dan Compaegne

2.

Universalia hanyalah nama, hanya sebutan, bukan wujud.

3. Yang wujud adalah benda-benda konkrit (individualia)

d. Petnus Abaelardus (1079-1142)

1. Masalah universalia;

Dia memberi jalan tengah atas pertentangan antara Ultra-Realisme dan Nominalisme.

Bahwa wujud memang ada pada benda-benda konkrit (individualia).

- Universalia tidak benda (res); bukan hanya nama dan pikiran saja, bukan hanya kata-kata (voces), tetapi bersumber dan wujud individualia.

- Wujud universalla merupakan wujud keseluruhan sifat-sifat yang benar- benar ada pada individualia, sebagai isi yang ideal (sermo).

Pandangannya cenderung bercorak Aristotelian.

2. Masalah akal dan wahyu

Dia rasionalistik, yang menundukkan iman kepada akal.

Iman harus mau diawasi oleh akal.

Yang wajib diimani adalah yang telah disetujui oleh akal.

Pemikiran rasional dihargai dengan menerapkan dialektika pada teologia.

e. Anselmus (1033-1109)

1. Masalah akal dan wahyu

Pemikiran dialektika dan akal diterima sepenuhnya bagi teologia.

Iman didahulukan, sehingga memperoleh kebenaran akal.

Hubungan iman dan akal dinyatakan dalam prinsip fidex quaerens intellectum (iman yang berusaha untuk mengerti).

Prinsip pribadi: credo ut intelligam (aku beriman untuk mengerti).

Kitab Suci dapat dijelaskan secara rasional dengan pemikiran mendalam. Dalam hal ini ia dapat membuktikan adanya Tuhan secara Ontologis.

Kepastian iman dan wahyu tetap sama tanpa ataupun dengan pembuktian akal.

Iman dan akal keduanya datang dan Tuhan.

2. Masalah universalia

Ia menentang nominalisme.

Universalia ada dengan nyata, yang bebas dan segala individualia.

Universalia bukan hanya nama, bukan hanya sebutan tetapi mempunyai realitas.

Universalia ada sebagai idea-idea dalam diri Tuhan.

C. Puncak Skolastik

a. Perkembangan yang terjadi:

Abad XII mulai ada pengaruh dari pemikiran Islam (Spanyol), sekaligus

pengaruh dari pemikiran Yunani Kuno.

Masa ini muncul banyak universitas dengan 4 fakultas teologia, hukum, kedokteran, dan sastra (artes liberales).

Pada masa ini timbul ordo-ordo baru, seperti ordi Fransiskan dan Dominikan.

Pengaruh pemikiran Anistoteles semakin meluas, terutama Iogikanya. Filsafat Skolastik juga dipengaruhi oleh ajaran NeoPlatonisme dan Augustinus.

b. Albentus Agung (1206-1280) dan ordo Dominikan

1. Wahyu (iman dan akal) Ia mengembangkan pemikiran Aristoteles dan Neoplatonisme. Ia membedakan antara iman dan akal. Iman Iebih didasarkan pada perasaan daripada akal. Kebenaran iman tidak dapat dibuktikan dengan akal. Tentang adanya Tuhan dapat dibuktikan secara “a posteriori”. Karena hal ini bukan kebenaran iman, tetapi dasar iman. Ia mengikuti Aristoteles, bahwa Tuhan adalah “Aktus Purus. Tanpa potensi, sebagai Penggerak Pertama. Ia mengembangkan penelitian dan eksperimen di bidang biologi dan kimia. la dipengaruhi oleh Neoplatonismeika menjelaskan tentang penciptaan.

Disini teori emanasi dipakai untuk menjelaskan konsep creatio ex nihilo. Alam semesta diciptakan Tuhan secara bertingkat-tingkat dari sebab pertama.

2. Masalah universalia Universalia hanyalah bentuk tanpa materi Ada 3 macam bentuk universalia:

a) bentuk dalam kesadaran (akal) Tuhan, yaitu idea dasar yang disebut universalia ante rem (universalia ada sebelum adanya benda).

b) Bentuk dalam kenyataan, dalam benda yang konkrit yang disebut universalla in re (universalia ada dalam bendanya sendiri).

c) Bentuk yang dihasilkan oleh roh manusia melalui abstraksi dari benda- bendanya yang disebut universalla post rem (universalia yang dirumuskan akal setelah adanya benda). Dia menjelaskan proses pemahaman dari pengamatan terhadap invidualia kemudian naik ke dunia abstrak (unversalia) dan sampai kepada Tuhan.

c. Thomas Aquinas (1225 1274)

1. Masalah Wahyu (teologia) dan akal (filsafat)

Filsafat dikembangkan dengan akal, sedangkan teologi dengan wahyu/ iaman. Filsafat dan teologi berhubungan erat, namun tetap berdiri sendiri dalam bidang masing-masing. Iman adalah cara tertentu untuk mencapai pengetahuan yang mengatasi akal, yang tak tertembus oleh akal. Ada dua macam pengetahuan:

a. Pengetahaun alamiah, dengan akal terang, yang insani, inilah filsafat.

b. Pengetahuan iman, dengan wahyu ilahi, kitab suci inilah teologia.

Perbedaannya bahwa filsafat membahas bidang-bidang di kawasan alam,

sedangkan teologia membahas tentang misteri di luar alam. Persamaannya bahwa filsafat dan teologia bersama-sama membahas tentang jiwa dan

Tuhan.

2. Teori materi-bentuk Teori ini dikembangkan dan Aristoteles, Materi = potensi, disebut bakat. Bentuk = aktus, disebut dengan realisasi. Materi ialah yang darinya muncul sesuatu (subyek pertama), atau substansi yang ada dalam bentuk potensi. Bentuk ialah aktus, yaitu cara berada segala yang jasmaniah (nyata). Bentuk berubah materi (potensi) menjadi ada secara nyata (aktus).

3. Tuhan dan mahluk

a. Tuhan adalah Actus Purus (aktus murni). AdaNya sempurna tanpa potensi. Esensi (hakikat) dan eksistensi (wujud) Tuhan adalah identik. Pada mahluk, eksistensinya merupakan tambahan pada esensinya, yang mengikuti hubungan materi-bentuk.

b. Dasar penciptaan ialah creatio ex nihio, bukan emansi. Tiada dualisme asasi antara Tuhan dan mahiuk. Mahluk berpartisipasi dalam wujud Tuhan, artinya mendapat bagian dan wujud Tuhan.

4.

Pembuktian adanya Tuhan

a. Pembahasan ini disebut Theologia naturalis. Metodenya hanya secara

“aposteoni”, tak mungkin “apniori” (ontologi) seperti pada Anselmus.

b. Lima jalan pembuktian (quinque vide)

- Dunia selalu bergerak, maka harus ada Penggerak Pertama yang tak digerakkan, itulah Tuhan.

- Dunia ini terjadi menurut hubungan sebab-akibat, maka harus ada

Sebab Pertama, itulah Tuhan.

- Wujud dunia ini serba mungkin, maka harus ada wujud yang mutlak, itulah wujud Tuhan.

- Wujud di dunia ini bertingkat-tingkat sampai mampu yang tertinggi namun belum sempurna, maka harus ada tingkat maha tinggi, maha sempurna, itulah Tuhan.

- Dunia ini digerakkan ke arah tujuan akhir secara teratur. Oleh karena itu harus ada zat yang paling sempurna akalnya dalam mengatur. ltulah Tuhan yang Maha Pengatur.

5. Masalah Universalia

a. Dasar: Nil in intellectu nisi prius sensu (tak ada sesuatu pada akal jika tak ada pada indera lebih dahulu). Apa yang disentuh oleh indra merupakan bahan untuk pengetahuan. Setelah diolah oleh akal, bahan

tersebut baru merupakan pengetahuan (ilmu).Pengetahuan adalah wujud universalia.

b. Universalia yang mutlak ditangkap bukan hanya karena ada persentuhan dengan indera, tetapi terutama setelah diolah oleh akal/ budi. Pengetahuan indera bersifat jasmani dan berubah-ubah (indiviidualia). Pengerahuan akal bersifat rohani, umum dan tetap (universalia).

D. Akhir Skolastik

a.

Kemunduran Pada puncak Skolastik di abad XIII terjadi penyelarasan filsafat Yunani Kuno, khususnya Aristoteles dengan agama Kristen. Corak Skolastik kemudian menurun sejalan dengan munculnya banyak kritik terhadap penyelarasan antara filsafat dan agama tersebut.

b. Roger Bacon (1242 - 1294)

1. Karya-karyanya: Opus Maiyus, Opus Minus dan Opus Tertium.

2. Pemikirannya banyak bertentangan dengan filsafat Skolastik sebelumnya

terutama Thomas Aquinas. Dia justru mengakui kebesaran Aristoteles, Ibn Sina dan Ibn Rusydi.

3. Kritiknya terhadap Skolastik:

- Kaum Skolatik kurang memperhatikan bahasa Yunani yang dipakai oleh

Aristoteles, juga bahasa Arab.

- Mereka kurang memperhatikan ilmu pasti sebagai dasar semua ilmu.

- Metode mereka salah sama sekali, karena selalu terikat oleh kitab suci.

c. Willem dan Ockham (1290 - 1349)

1. Ia mempelopori aliran/jalan baru (via moderna) yang melawan jalan kuno (via antiqua) dan kaum Skolastik tradisional (Thomas).

2. Ia menganut nominalisme dan mengarahkan ajarannya ke empirisme. Filsafat dan ilmu harus dipisahkan dan agama (sekularisasi).

SOAL FILSAFAT BARAT PRA MODERN

1. Sebutkan para filsuf pertama dari Miletos dan Jelaskan argumentasi mereka tentang Arkhe.

Uraikan garis besar kesamaan pandangan mereka tentang alam semesta!. Bandingkan dengan ajaran mitologi Yunani.

2. Jelaskan pertentangan antara Heraklitos dan Parmenides!. Bagaimana argumentasi masing-masing?

Jelaskan argumentasi Zeno (dari Elea) dalam mendukung pendapat Parmenides!.

3. Mengapa Sokrates dijadikan tonggak peniodisasi dalam Sejarah filsafat Yunani Kuno!

a.

b.

a.

b.

a.

b.

Uraikan kesamaan dan perbedaan antara Sokrates dan kaum sofis.

4. Jelaskan pemikiran Plato dalam rangka mendamaikan pertentangan antara Heraklitos dan Parmenides.

Jelaskan pula jalan keluar yang diajukan oleh Aristotelas dalam masalah yang sama.

5. Uraikan pemikiran Plato tentang Jiwa manusia!

a.

b.

a.

b.

Uraikan pula konsep negara ideal menurut Plato!

6. Jelaskan teori “hule” dan “monfe” dan Aristoteles! Bagaimana dia memandang alam dan manusia berdasarkan teori ini!

a.

b.

Terangkan pokok-pokok ajaran etikanya.

7. Bagaimana pandangan Epikunisme tentang alam semesta?

a.

b.

Jelaskan ajaran etikanya yang berkaitan dengan sumber-sumber ketakutan.

8. Terangkan latar belakang dan perkembangan aliran Stoa!

a.

b.

Terangkan pokok-pokok ajaran etikanya!

9. Jelaskan pengaruh Plato terhadap Neo-Platonsisme!

a.

b.

Uraikan teori “Emanasi” menurut Neo-Platonissme!

10. a. Terangkan ciri-ciri filsafat Patristik

b. Bagaimana ajaran “apologit” kristen tentang filsafat.

11. Jelaskan pemikiran Augustinus tentang Tuhan dan alam!

a.

b.

Bagaimana kritiknya terhadap Skeptisisme?

12. Jelaskan pertentangan antara Ultra-Realisme dan Nominallsme tentang Universalia!

a.

b.

Bagaimana jalaan tengah dan Petrus Abaelardus dalam soal itu?

13.

a.

Jelaskan pandangan Johanes Scoteus Eniugena tentang hubungan akal dan wahyu.

b. Jelaskan pula pandangannya tentang universalia.

14.

a. Jelaskan maksud pninsip credo utintelligam dari Anselmus!

b. Jelaskan sikapnya dalam soal universalia!

15.

a. Jelaskan pengertian tentang Skolastik!

b. Terangkan pengaruh filsafat Islam terhadap perkembangan filsafat Abad Pertengahan di Barat.

16.

a. Terangkan pemikiran Albertus Agung tentang Tuhan!

b. Bagaimana pandangannya tentang universalia yang mencakup tiga macam wujud?

17.

a. Terangkan lima jalan pembuktian adanya Tuhan menurut Thomas Aquinas!

b. Jelaskan pandangannya tenang penciptaan.

c. Jelaskan pula pandangannya tentang daya jiwa!

18.

a. Terangkan sebab berakhirnya kejayaan Skolastik

b. Bagaimana kritik Roger Bacon terhadap filsafat Skolastik?