Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS

TINEA KORPORIS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Kepaniteraan Klinik Madya

SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelainan Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura

Oleh :

Dionisius Mario Tappy, S.Ked

0110840052

Pembimbing :

dr. Rani, Sp.KK, Mkes, FINSDV

NIP: 197608172011042001

SMF KULIT DAN KELAMIN

RUMAH SAKIT UMUM JAYAPURA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS CENDERAWASIH

JAYAPURA-PAPUA

2017
KETERAMPILAN KLINIK MADYA FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
SMF PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT UMUM
JAYAPURA

Formulir Evaluasi Diskusi Kasus / Ujian Kasus


Nama : Dionisius Mario Tappy
NIM : 0110840052
Judul Kasus : Tinea Korporis
Tanggal Presentasi : Februari 2017

Indikator Penilaian Nilai


Anamnesa : Identitas, Keluhan Utama, Keluhan Tambahan
Pemeriksaan Fisik : 1. Status Generalisata
2. Status Lokalis
Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis Kerja / Diagnosis Banding
Terapi
Anjuran Konsultasi / Pemeriksaan Penunjang Lain
Penguasaan Kasus (dasar diagnosis, dll)
Relevansi dalam menjawab
(Kemampuan sintesa dan analisa)
Penguasaan kasus-kasus lain, yang berhubungan dengan
diagnosis banding kasus
Penguasaan kasus-kasus lain diluar diagnosis banding kasus
Total Nilai dibagi 10
Jayapura, Februari 2017
Penilai

dr. Rani, Sp.KK, Mkes, FINSDV


NIP: 197608172011042001
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 DEFINISI
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat
tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang
disebabkan oleh golongan jamur dermatofita.1-5 Jamur ini dapat menginvasi
seluruh lapisan stratum korneum dan menghasilkan gejala melalui aktivasi
respons imun pejamu.1,2 Penularan melalui kontak langsung dengan agen
penyebab.5
Tinea korporis adalah infeksi dermatofita superfisial yang ditandai
dengan lesi inflamasi atau noninflamasi pada glabrous skin. 1,2,3,4,6 Glabrous
skin merupakan kulit tubuh tidak berambut yaitu daerah kulit selain kulit
kepala, pangkal paha, telapak tangan, dan telapak kaki. 6

1.2 SINONIM
Tinea circinata.2,3

1.3 ETIOLOGI
Dermatofita ialah golongan jamur yang menyebabkan
dermatofitosis.1,2 Golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan
keratin.1,2 Selain sifat keratofilik masih banyak sifat yang sama di antara
dermatofita, misalnya sifat faali, taksonomis, antigenik, kebutuhan zat
makanan untuk pertumbuhannya, dan penyebab penyakit.1 Dermatofita
termasuk kelas Fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3 genus, yaitu
Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton.1,2,3,4,6,7,8
Untuk kepentingan klinis dan epidemiologis, dermatofita yang
menginfeksi manusia dibagi berdasarkan tempat hidupnya, yaitu golongan
geofilik untuk jamur yang berasal dari tanah, antara lain M. Gypseum;
golongan zoofilik berasal dari hewan, misalnya M. Canis;1-7 dan golongan
antropofilik khusus untuk jamur yang bersumber dari manusia contohya T.

1
rubrum.1,2,6,7 Kontak antara anak kecil dengan patogen zoofilik paling sering
terjadi, terutama M. canis dari anjing dan kucing.2

1.4 KLASIFIKASI
Terdapat berbagai variasi gambaran klinis dermatofitosis, hal ini
bergantung pada spesies penyebab, ukuran inokulum jamur, bagian tubuh
yang terkena, dan sistem imun pejamu.1 Selanjutnya untuk kemudahan
diagnosis dan tatalaksana maka dermatofitosis dibagi menjadi beberapa
bentuk, yaitu:
- tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala1-5
- tinea barbae, dermatofitosis pada dagu dan jenggot1-5
- tinea kruris, dermatofitosis pada daerah genito-krural, sekitar anus,
bokong, dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah1,2,3,5
- tinea pedis et manum, dermatofitosis pada kaki dan tangan1,2,3,5
- tinea unguium (onychomycosis), dermatofitosis pada kuku jari tangan
dan kaki1,3,4,5
- tinea korporis,1-5 dermatofitosis pada kulit glabrosa pada bagian lain yang
tidak termasuk bentuk 5 tinea di atas.1
Selain 6 bentuk tinea masih dikenal istilah yang mempunyai arti
khusus, yaitu:
- tinea imbrikata: dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris
dan disebabkan Trichophyton concentricum1,3,6
- tinea favosa atau favus: dermatofitosis yang terutama disebabkan
Trichophyton schoenleini: secara klinis antara lain terbentuk skutula dan
berbagai seperti tikus (mousy odor) 1,2,3
- tinea fasialis, tinea aksilaris, yang juga menunjukan daerah kelainan.1
- Tinea sirsinata, arkuata yang merupakan penamaan deskriptif
morfologis.1-3
Keempat istilah tersebut dapat dianggap sebagai tinea korporis.1 Selain
itu, dikenal istilah tinea inkognito, yang berarti dermatofitosis dengan
bentuk klinis tidak khas oleh karena telah diobati dengan steroid topikal
kuat.1,2,3,6

2
1.5 GEJALA KLINIS
Tinea glabrosa atau dermatofitosis pada kulit tidak berambut
mempunyai morfologi khas.1 Penderita merasa gatal dan kelainan berbatas
tegas, terdiri atas macam-macam efloresensi kulit (polimorfi).1 Bagian tepi
lesi lebih aktif (lebih jelas tanda-tanda peradangan) daripada bagian tengah.1
Gambaran klinis dermatofitosis yang bervariasi tidak hanya
bergantung pada spesies penyebab dan sistem imun pejamu namun juga
pada adanya keterlibatan folikel rambut1. Bergantung pada berat ringannya
reaksi radang dapat dilihat berbagai macam lesi kulit.1
Berdasarkan bentuk-bentuk klinis yang sering dilihat sesuai dengan
lokalisasinya.
a. Tinea pedis (athletes foot, ringworm of the foot, kutu air)1-3
b. Tinea unguium (dermatophytic onychomycosis3, ringworm of the nail)1,2
c. Tinea kruris (eczema marginatum, dhobie itch, jockey itch, ringworm of
the groin)1-3
d. Tinea kapitis (ringworm of the scalp)1-3
e. Tinea korporis (tinea sirsinata, tinea glabrosa, Scherende Flechte, kurap,
herpes sircine trichophytique)1-3

Tinea korporis merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh tidak


berambut (glabrous skin).1,2 Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan
lesi bulat lonjong, berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama, kadang-
kadang dengan vesikel dan papul, pustul di tepi.1-6 Daerah tepinya lebih aktif
daripada daerah tengahnya biasanya lebih tenang.1,2,5 Kadang-kadang terlihat
erosi dan krusta akibat garukan.1,6 Lesi-lesi pada umumnya merupakan
bercak-bercak terpisah satu dengan yang lainnya.1 Kelainan kulit dapat pula
terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang polisiklik, karena beberapa lesi
kulit yang menjadi satu.1,2,3,5 Bentuk dengan tanda radang yang lebih nyata,
lebih sering dilihat pada anak-anak daripada orang dewasa karena umumnya
mereka mendapat infeksi baru pertama kali.1 Pada tinea korporis yang
menahun, tanda radang akut biasanya tidak terlihat lagi.1

3
Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh Trichophyton
concentricum disebut tinea imbrikata.1,2,3,6,7 Tinea imbrikata mulai dengan
bentuk papul berwarna coklat, yang perlahan-lahan menjadi besar.1 Stratum
korneum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar.1 Proses ini
setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk
lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris.1-3 Bila dengan jari tangan kita
meraba dari bagian tengah ke arah luar, akan terasa jelas skuama yang
menghadap ke dalam.1 Lingkaran-lingkaran skuama konsentris bila menjadi
besar dapat bertemu dengan lingkaran-lingkaran di sebelahnya sehingga
membentuk pinggir polisiklik.1-3 Pada permulaan infeksi penderita dapat
merasa sangat gatal, akan tetapi kelainan yang menahun tidak menimbulkan
keluhan pada penderita.1

1.6 PENUNJANG DIAGNOSA


Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakan diagnosis terdiri
atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan.1 Pada pemeriksaan
mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis, yang dapat
berupa kerokan kulit, rambut, dan kuku.1 Bahan untuk pemeriksaan
mikologik diambil dan dikumpulkan sebagai berikut:
1. Kulit tidak berambut (glabrous skin)1
Dari bagian tepi kelainan sampai dengan bagian sedikit di luas kelainan
sisik kulit dan kulit dikerok dengan pisau tumpul steril.1
2. Kulit berambut1
Rambut dicabut pada bagian kulit yang mengalami kelainan.1 Kulit di
daerah tersebut dikerok untuk mengumpulkan sisik kulit.1 Pemeriksaan
dengan lampu Wood dilakukan sebelum pengumpulan bahan untuk
mengetahui lebih jelas daerah yang terkena infeksi dengan kemungkinan
adanya fluoresensi pada kasus-kasus tinea kapitis tertentu.1,2
3. Kuku1
Bahan diambil dari bagian kuku yang sakit dan diambil sedalam-
dalamnya sehingga mengenai seluruh tebal kuku, bahan di bawah kuku
diambil pula.1

4
Pada hasil pemeriksaan mikroskopis dengan KOH, akan ditemukan
hifa panjang dan artrospora.5 Lebih spesifik pada sediaan kulit dan kuku
yang terlihat adalah hifa sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan
bercabang, maupun spora berderet (artospora) pada kelainan kulit lama
dan/atau sudah diobati.1,2,7 Pada sediaan rambut yang dilihat adalah spora
kecil (mikrospora) atau besar (makrospora).1 Spora dapat tersusun di luar
rambut (ektotriks) atau di dalam rambut (endotriks).1,2 Kadang-kadang dapat
terlihat juga hifa pada sediaan rambut.1
Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong
pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur.1,7
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media
buatan.1

1.7 DIAGNOSIS BANDING


Tidaklah begitu sukar untuk menentukan diagnosis tinea korporis pada
umumnya, namun ada beberapa penyakit kulit yang dapat mericuhkan
diagnosis itu, misalnya dermatitis seboroika, psoriasis, dan pitiriasis
rosea.1,2,3,5 Kelainan kulit pada dermatitis seboroika selain dapat menyerupai
tinea korporis, biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi,
misalnya di kulit kepala (scalp),1,3 lipatan-lipatan kulit, misalnya belakang
telinga, daerah nasolabial, dan sebagainya.1
Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit pada tempat predileksi,
yaitu daerah ekstensor, misalnya lutut, siku, dan punggung. 1,3 Kulit kepala
berambut juga sering terkena pada penyakit ini.1 Adanya lekukan-lekukan
pada kuku dapat pula menolong untuk menentukan diagnosis.1 Pitiriasi
rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas pada tubuh dan
bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea korporis
tanpa Herald patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan tinea
korporis.1-3 Pemeriksaan laboratorium yang memastikan diagnosisnya.1,3
Tinea korporis kadang-kadang susah dibedakan dengan dermatitis seboroika
pada sela paha.1 Lesi-lesi di tempat-tempat predileksi sangat menolong
menentukan diagnosis.1

5
1.8 PENGOBATAN
Tersedia bermacam pengobatan topikal maupun sistemik untuk
berbagai tipe dermatofitosis.1 Sejalan dengan penetrasi dermatofita ke dalam
folikel rambut, maka infeksi yang mengenai daerah berambut memerlukan
pengobatan oral.1 Obat pilihan untuk infeksi jamur ini adalah griseofulvin.4
Dosis pengobatan griseofulvin berbeda-beda.1 Secara umum, dalam bentuk
fine particle dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g untuk orang dewasa dan
0,25-0,5 g untuk anak-anak sehari atau 10-25 mg/kgBB diberikan 1-2 kali
sehari.1,5
Obat peroral yang juga efektif untuk dermatofitosis yaitu ketokenazol
yang bersifat fungistatik.1 Pada kasus-kasus resisten terhadap griseofulvin
dapat diberikan obat tersebut sebanyak 200 mg/hari selama 10 hari sampai 2
minggu pada pagi hari setelah makan.1,5 Ketokonazol merupakan
kontraindikasi untuk penderita kelainan hepar.1
Sebagai pengganti ketokonazol yang mempunyai sifat hepatotoksik
terutama bila diberikan lebih dari 10 hari, dapat diberikan suatu obat triazol
yaitu itrakonazol yang merupakan pemilihan yang baik.1,5
Terbinavin yang bersifat fungisidal juga dapat diberikan sebagai
pengganti griseofulvin selama 2-3 minggu, dosisnya 62,5 mg 250 mg
sehari bergantung pada berat badan.1,5
Pada masa kini selain obat-obat topikal konvensional, misalnya asam
salisilat 2-4%, asam benzoat 6-12%, sulfur 4-6%, vioform 3%, asam
undesilenat 2-5%, clotrimazole,3,4 miconazole,3,4 ciclopirox,3 econazole,3,4
oxiconazole,3 ketoconazole,3-5 sulconazole,3 dikenal banyak obat topikal
baru.1 Obat-obat baru ini diantaranya tolnaftat 2%;3 tolsiklat, haloprogin,
derivat-derivat imidazol, siklopiroksolamin,4 dan naftifine masing-masing
1%.1,3 Obat-obat topikal lebih aman, dan lebih murah untuk terapi infeksi-
infeksi jamur superfisial.3 Pengobatan dengan obat topikal biasanya
dilakukan 2-4 minggu dengan penggunaan 2 kali dalam sehari.3,4

6
BAB II
STATUS PASIEN

2.1 IDENTITAS PASIEN


a. Nama : An. R. A.
b. Nama orang tua : Ny. H. A.
c. Umur : 11 tahun
d. Jenis Kelamin : Laki-laki
e. Agama : Kristen Protestan
f. Suku : Papua
g. Pekerjaan : Pelajar Sekolah Dasar
h. Alamat : Dok V atas
i. Status : Belum Menikah
j. Tanggal masuk : 02-02-2017

2.2 ANAMNESIS
a. Keluhan Utama
Pasien datang ke Poli Penyakit Kulit dan Kelamin dengan keluhan
muncul bercak warna putih yang semakin membesar pada tangan kanan,
bersisik dan disertai gatal.

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan bercak putih berbatas tegas, berbentuk bulat,
bersisik pada pinggirannya, dan hanya terdapat 1 bercak pada lengan
tangan kanan bawahnya, ukurannya saat ini berdiameter > 2 cm. Bercak
pertama kali muncul berupa bercak putih berbentuk bulat kecil dan terasa
gatal. Bercak pertama kali muncul 1 bulan yang lalu dan semakin
membesar. Riwayat kusta disangkal. Riwayat alergi disangkal. Riwayat
penggunaan obat-obatan atau minyak oles disangkal. Pasien sering
bermain dengan anjing piaraannya. Pasien juga jarang mandi atau
membersihkan diri setelah bermain di luar rumah.

7
c. Riwayat Penyakit Dahulu
- Pasien belum pernah mengalami keluhan dan sakit seperti ini
sebelumnya
- Close fraktur radius ulna sinistra + Post ORIF radius ulna sinistra.

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


1. Tanda Vital
- Keadaan umum : tampak sakit ringan
- Kesadaran : compos mentis
- Tekanan darah : dalam batas normal
- Nadi : dalam batas normal
- Respirasi : dalam batas normal
- Suhu : dalam batas normal
2. Status Generalis
a. Kepala : simetris (+), kelainan (-)
b. Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), sekret
(-/-), pupil isokor D=S
c. Telinga : deformitas (-), sekret (-)
d. Hidung : deviasi (-)
e. Mulut : kandidiasis oral (-), tonsil (T1=T1), lidah kotor (-)
f. Leher : trakea letak normal, pembesaran KGB (-)
g. Thorax
1) Pulmo
- inspeksi : simetris, ikut gerak napas, retraksi interkostalis (-)
Jejas (-)
- palpasi : vocal fremitus (D=S)
- perkusi : sonor di kedua lapang paru
- auskultasi : suara napas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
2) Cor
- inspeksi : iktus kordis tidak tampak
- palpasi : iktus kordis teraba pada ICS V garis midklavikula
sinistra

8
- perkusi : pekak (batas jantung dalam batas normal)
- auskultasi : bunyi jantung I-II reguler, murmur (-) S3 gallop (-)
3) Abdomen
- inspeksi : tampak datar, jejas (-)
- auskultasi : bising usus (+) normal 3x/15 dtik
- palpasi : nyeri tekan (-)
- perkusi : Tympani
4) Ektremitas : akral hangat, capillary refill time < 2 dtk, edema
(-)
3. Status Dermatologis
a. Distribusi : Lokalisata
b. Lokasi : Regio antebrachii anterior dextra
c. Efloresensi : Makula hipopigmentasi, sirkumskrip, berbentuk
anular, dan berskuama pada pinggirannya. Lesi
soliter dan diameter lesi saat ini berukuran plakat
(> 2 cm).

Gambar 1. Foto Regio Antebrachii Anterior Dextra Pasien An. R. S.

2.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium sederhana KOH 10% dari kerokan kulit di


lengan kanan pasien menunjukan hasil positif infeksi jamur.

9
2.5 DIAGNOSIS KERJA
Tinea korporis

2.6 DIAGNOSIS BANDING


- Dermatitis seboroika
- Psoriasis
- Pitiriasis rosea

2.7 PENATALAKSANAAN
1. Farmakologi
- Ketokonazol cream 2x1
- Cetirizine 1x1
2. Nonfarmakologi
- Tidak boleh bermain dengan hewan peliharaan
- Mandi minimal 2-3 kali perhari
- Tidak bermain tanah

2.8 PROGNOSIS
Quo ad Vitam : Ad bonam
Quo ad Fungtionam : Ad bonam
Quo ad Sanationam : Dubia ad bonam

10
BAB III

PEMBAHASAN

Pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa pasien An. R. A. berusia 11 tahun
didiagnosis dengan tinea korporis. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan hasil
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Berdasarkan
anamnesis, pasien mengeluhkan bercak putih di lengan tangan kanan bawahnya
yang berbentuk bulat dengan batas tegas, bersisik pada pinggirannya dan pasien
merasa gatal. Bercak timbul sejak 1 bulan yang lalu. Bercak kemudian semakin
membesar hingga saat ini berukuran > 2 cm. Pasien baru pertama kali mengalami
kelainan pada kulit seperti ini. Pasien mengatakan sering menggendong anjing
piaraannya. Pasien mengaku jarang mandi atau membersihkan diri setelah
bermain di luar rumah. Riwayat kusta disangkal. Riwayat alergi disangkal.
Penggunaan obat-obatan topikal dan minyak oles juga disangkal.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan efloresensi makula hipopigmentasi,


sirkumskrip, berbentuk anular, dan berskuama pada pinggirannya. Jumlah bercak
hanya 1 dan diameter bercak saat ini berukuran plakat (> 2 cm). Distribusinya
lokalisata pada regio antebrachii anterior dextra. Gambaran efloresensi pada
pasien sesuai dengan efloresensi pada lesi tinea korporis menurut kepustakaan
yang pada umumnya berbentuk anular, sirkumskrip dan berskuama pada
pinggirannya, kadang dengan vesikel dan papul di tepi, serta daerah tengahnya
biasanya lebih tenang (central healing).

Pasien mengatakan sering menggendong anjing piaraannya. Hal ini dapat


dikaitkan dengan dermatofita yang menginfeksi manusia dari golongan zoofilik,
terutama M. canis yang dapat berasal dari hewan seperti anjing. Namun
berdasarkan kepustakaan, bercak tinea korporis yang disebabkan M. canis pada
umumnya berukuran kecil dan lebih dari 1 lesi (multipel). Berbeda dengan gejala
klinis pada pasien yang hanya memiliki 1 bercak pada lengan tangan kanan
bawahnya dan berukuran besar > 2 cm. Pasien mengaku jarang mandi atau

11
membersihkan diri setelah bermain di luar rumah. Sehingga dapat juga dikaitkan
dengan infeksi jamur yang berasal dari golongan geofilik.

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis


dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium KOH. Sampel diambil dari kerokan
pada pinggiran bercak kulit. Setelah dilakukan pemeriksaan, hasil menunjukan
bahwa bercak positif disebabkan oleh golongan jamur.

Penatalaksanaan pasien ini adalah dengan pemberian obat antijamur topikal.


Pemberian obat antijamur topikal dipilih karena lebih aman, lebih murah, dan
lebih tepat untuk terapi infeksi-infeksi jamur superfisial yang tidak berulang.
Pemberian obat golongan imidazol dan triazol dapat dilakukan yaitu ketokenazol
cream 2 kali sehari selama 2-4 minggu disertai dengan pemberian Cetirizine 1x1
sebagai antihistamin.

Pasien diedukasi agar rajin mengoleskan obatnya 2 kali sehari dan menjaga
higenitasnya; mandi 2-3 kali sehari, tidak bermain tanah, tidak menggendong
hewan peliharaan, terutama anjing. Pasien diedukasi agar dapat mengoleskan obat
secara melingkar dari pinggiran luar lesi ke arah dalam yang dimulai kira-kira 1
cm dari pinggiran luar bercak. Pasien tinea korporis dengan lesi lokal seperti ini
pada umumnya memiliki prognois sangat baik. Hal ini harus didukung dengan
kepatuhan pasien menggunakan obat topikal sesuai resep dokter serta pasien harus
dapat menjaga dengan baik higenitas diri.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Menaldi S, L, SW, et al. 2015. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi
ketujuh, cetakan pertama 2015. Jakarta. Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
2. Wolff K, et al. 2008. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine,
Seventh edition, volume two. USA. The McGraw-Hill Companies, Inc.
3. James D, W, et al. 2006. Andrews Diseases of the Skin Clinical
Dermatology, Tenth edition. Canada. Saunders Elsevier, Inc.
4. Isselbacher, K, J, et al. 2014. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit
Dalam, Edisi 13, volume 2, Penyakit Infeksi. Jakarta. EGC
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer.
Jakarta. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
6. Lesher, J, L, Jr, et al. 2016. Tinea Corporis. Georgia. Medscape
7. Sahoo, A, K, & Mahajan, R,. 2016. Management of tinea corporis, tinea
cruris, and tinea pedis: A comprehensive review. Indian Dermatology
Online Journal. (IP 114.125.136.6)
8. Freedberg, I, M, et al. 2003. Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine, 6th edition, volume 1. USA. Mc Graw-Hill professional