Anda di halaman 1dari 25

BAB I

LAPORAN KASUS

I.1. Identitas Pasien


Nama : Ny. M
Usia : 51 Tahun
Status : Menikah
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Tanggal Masuk : 10 Juli 2017
Tanggal Periksa : 15 Juli 2017
No. Rekam Medis : 154892

I.2. Anamnesis
1. Keluhan Utama :
Lemas kedua kaki

2. Keluhan Tambahan :
Sulit BAB, BAK, mengeluh sedikit pusing, dan bicara pelo

3. Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat RST dr. Soedjono,
Magelang dengan keluhan lemas kedua kaki. Pasien mengeluh lemas pada
kedua kaki sejak 2 jam SMRS. Keluhan dirasakan mendadak dan baru
pertama kali dialami oleh pasien. Pasien sulit untuk mengangkat kedua
kakinya. Keluhan tambahan lain yang dirasakan pasien adalah sulit untuk
BAB dan BAK, lemas, sedikit pusing dan bicara pelo. Pasien tidak mampu
untuk mengejan saat BAB dan BAK. Bicara pelo dirasakan pasien saat

1
pasien mengalami lemas pada kedua kaki, keluhan saat ini baru pertama kali
dirasakan. Kondisi pasien saat ini setelah mendapatkan pertolongan di IGD
sudah membaik, keluhan lemas kedua kaki sudah sedikit membaik. Keluhan
lain seperti sulit BAB dan BAK sudah jauh lebih membaik, namun untuk
bicara pelo masih belum ada perbaiakn.
Pasien tidak mengeluh keluhan lain seperti penurunan berat badan,,
sesak nafas, demam, mual, muntah, nyeri perut dan nyeri saat BAK.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


a. Riwayat penyakit yang sama : disangkal
b. Riwayat hipertensi : diakui
c. Riwayat DM : disangkal
d. Riwayat asma : disangkal
e. Riwayat operasi : disangkal
f. Riwayat penyakit ginjal : disangkal
g. Riwayat cuci darah : disangkal
h. Riwayat penyakit paru : disangkal
i. Riwayat penyakit jantung : disangkal

5. Riwayat penyakit keluarga


a. Riwayat hipertensi : diakui
b. Riwayat DM : disangkal
c. Riwayat asma : disangkal
d. Riwayat alergi : disangkal
e. Riwayat penyakit ginjal : disangkal
f. Riwayat penyakit paru : disangkal
g. Riwayat penyakit jantung : disangkal

6. Riwayat sosial dan exposure


a. Community
Pasien tinggal di rumah bersama suami, 2 anak pasien dan
menantu. Pasien tinggal di lingkungan tidak padat penduduk. Rumah

2
pasien cukup terkena sinar matahari. Pasien memiliki hubungan dengan
tetangga dan keluarga yang cukup baik. Di lingkungan rumah pasien,
tidak ada orang yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.
Kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan rutin
dilakukan.
b. Home
Pasien tinggal di rumah sederhana, dengan lantai rumah pasien
terbuat dari bahan semipermanen dan selalu dibersihkan. Terdapat
beberapa buah jendela serta ventilasi yang sering dibuka. Rumah pasien
terdiri dari 3 kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang keluarga, satu
dapur, dan satu kamar mandi. Sumber air berasal dari sumur bersama.
Pencahayaan rumah pasien berasal dari lampu dan sinar matahari yang
cukup. Pasien menyangkal ada anggota keluarga lain yang
mengeluhkan gejala serupa.
c. Occupational
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga. Pembiayaan kebutuhan
sehari-hari terpenuhi dari pendapatan anak dan menantu pasien.
Pembiayaan rumah sakit ditanggung BPJS Kesehatan.
d. Diet
Pasien mengaku makan sehari 2-3 kali sehari, dengan nasi, sayur dan
lauk pauk seadanya. Pasien mengaku tidak pernah mengkonsumsi
alkohol, ataupun mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Pasien sering
kali mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan berminyak seperti
makanan yang digoreng (gorengan).

I.1.3. PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan umum : tampak sakit sedang
2. Kesadaran : compos mentis
3. Vital sign
TD : 140/90 mmHg
N : 84 x / menit
RR : 20 x / menit

3
S : 36 oC
TB : 148 CM
BB : 45 Kg

Status Generalis

Bentuk kepala : Mesocephal, simetris, tanda radang (-)


Rambut : Warna rambut hitam, tidak mudah dicabut,
terdistribusi merata
Mata : Simetris, edema palpebra (-/-), konjungtiva anemis (-/-),
sklera ikterik (-/-), refleks pupil (+/+) normal isokor 3 mm
Telinga : Discharge (-/-), deformitas (-/-)
Hidung : Discharge (-/-), deformitas (-), nafas cuping hidung (-)
Mulut : Bibir pucat (-), sianosis (-), lidah sianosis (-), atrofi papil
lidah (-), bicara pelo (+)
Leher : Deviasi trakea (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), JVP 5
2 cm

Pulmo
Inspeksi : Dinding dada simetris, retraksi interkostal (-), ketinggalan
gerak (-), jejas (-)
Palpasi : Vokal fremitus hemitoraks kanan sama dengan hemitoraks
kiri
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), RBH (-/-), RBK (-/-), wheezing
(-/-), ekspirasi memanjang (-)

Cor
Inspeksi : Ictus cordis tampak di SIC V linea midclavicula sinistra,
kuat angkat (-), pulsasi epigastrium (-), pulsasi parasternal
(-)
Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V linea midclavicula sinistra dan
kuat angkat (-)

4
Perkusi : Batas ataskanan : SIC II LPSD
Batas ataskiri : SIC II LPSS
Batas bawahkanan : SIC IV LPSD
Batas bawahkiri : SIC V LMCS
Auskultasi : S1 > S2 reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen
Inspeksi : Cembung
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Timpani, tes pekak alih (-), pekak sisi (-)
Palpasi : Supel, undulasi (-), nyeri tekan (-)
Hepar : Tidak teraba
Lien : Tidak teraba

Ekstremitas
Superior : Edema (-/-), akral dingin (-/-), sianosis (-/-), ikterik (-/-)
Inferior : Edema (-/-), akral dingin (-/-), sianosis (-/-), ikterik (-/-)
Motorik : Superior 3/5, Inferior 3/4

I.1.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan Laboratorium tanggal 11/07/2017
Pemeriksaan Hasil Keterangan
Darah lengkap
Hb 14 Normal
Leukosit 5900 Normal
Hematokrit 39.7 Normal
Eritrosit 4.54 Normal
Trombosit 252000 Normal
MCV 87.4 Normal
MCH 30.8 Normal
MCHC 35.3 Normal

5
RDW 12.8 Normal
MPV 7.4 Menurun
LED 24
Kimia klinik
Glukosa Sewaktu 85 Normal
Glukosa 2 Jam 143 Meningkat
PP

2. Pemeriksaan CT Scan

Gambar 1.1. CT Scan Kepala Ny. M, di RST Tingkat II dr. Soedjono Magelang

Kesan :
- ICH (Intracerebral Haemorhage) Nucleus Lentiformis (Slice 7 12, HU
69,31, UK. LK 2,83 x 3,4 cm)
- Tak tampak oedem cerebri

6
- Tak tampak lateralisasi
- Lain lain tak tampak kelainan

I.1.5. DIAGNOSIS KERJA


Intracerebral Haemorahage

I.1.6. PENATALAKSANAAN
a. Farmakologi :

Gambar 1.2. Planning Obat I.V dan Oral

b. Non-Farmakologi :
- Hindari makanan tinggi lemak dan tinggi garam
- Olahraga ringan teratur
- Latihan mengangkat kaki

I.1.7. PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia ad Malam
Ad fungsionam : Dubia ad Malam
Ad sanationam : Dubia ad Malam

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Cidera Otak Fokal dan Difus


Tobing (2011) mengklasifikasikan cedera otak fokal dan cedera otak difus.
Cedera otak fokal meliputi:
1. Perdarahan Epidural atau epidural hematom (EDH).
EDH adalah adanya darah di ruang epidural yaitu ruang potensial
antara tabula interna tulang tengkorak dan duramater. EDH dapat
menimbulkan penurunan kesadaran, adanya lusid interval selama beberapa
jam dan kemudian terjadi defisit neurologis berupa hemiparesis
kontralateral dan dilatasi pupil ipsilateral. Gejala lain yang ditimbulkan
antara lain sakit kepala, muntah, kejang dan hemiparesis.
2. Perdarahan subdural akut atau subdural hematom (SDH).
Perdarahan SDH adalah terkumpulnya darah di ruang subdural yang
terjadi akut (3-6 hari). Perdarahan ini terjadi akibat robeknya vena-vena
kecil dipermukaan korteks cerebri
3. Perdarahan subdural kronik atau SDH Kronik.
SDH kronik adalah terkumpulnya darah di ruang subdural lebih dari
3 minggu setelah trauma. SDH kronik diawali dari SDH akut dengan jumlah
darah yang sedikit-sedikit.
4. Perdarahan intra cerebral atau intracerebral hematomn (ICH).
Intra cerebral hematom adalah area perdarahan yang homogen dan
konfluen yang terdapat didalam parenkim otak. Intra cerebral hematom
bukan disebabkan oleh benturan antara parenkim otak dengan tulang
tengkorak, tetapi disebabkan oleh gaya akselerasi dan deselerasi akibat
trauma yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang terletak lebih
dalam, yaitu di parenkim otak atau pembuluh darah kortikal dan subkortikal.

8
5. Perdarahan subarahnoid traumatika (SAH)
Perdarahan subarahnoid diakibatkan oleh pecahnya pembuluh darah
kortikal baik arteri maupun vena dalam jumlah tertentu akibat trauma dapat
memasuki ruang subarahnoid.
Cedera otak difus menurut Sadewa (2011) adalah terminologi yang
menunjukkan kondisi parenkim otak setelah terjadinya trauma. Terjadinya cedera
kepala difus disebabkan karena gaya akselerasi dan deselerasi gaya rotasi dan
translasi yang menyebabkan bergesernya parenkim otak dari permukaan terhadap
parenkim yang sebelah dalam. Vasospasme luas pembuluh darah dikarenakan
adanya perdarahan subarahnoid traumatika yang menyebabkan terhentinya
sirkulasi di parenkim otak dengan manifestasi iskemia yang luas, edema otak
disebabkan karena hipoksia akibat renjatan sistemik, bermanifestasi sebagai cedera
kepala difus. Dari gambaran morfologi pencitraan atau radiologi, cedera kepala
difus dikelompokkan menjadi:
1. Cedera akson difus ( Difuse aksonal injury )
Difus axonal injury adalah keadaan dimana serabut subkortikal yang
menghubungkan inti permukaan otak dengan inti profunda otak (serabut
proyeksi), maupun serabut yang menghubungkan inti-inti dalam satu
hemisfer (asosiasi) dan serabut yang menghubungkan inti-inti permukaan
kedua hemisfer (komisura) mengalami kerusakan.
2. Kontusio Cerebri
Kontusio cerebri adalah kerusakan parenkimal otak yang disebabkan
karena efek gaya akselerasi dan deselerasi. Mekanisme lain yang menjadi
penyebab kontusio cerebri adalah adanya gaya coup dan countercup, dimana
hal tersebut menunjukkan besarnya gaya yang sanggup merusak struktur
parenkim otak yang terlindung begitu kuat oleh tulang dan cairan otak yang
begitu kompak.
3. Edema Cerebri
Edema cerebri terjadi karena gangguan vaskuler akibat trauma kepala.
Pada edema cerebri tidak tampak adanya kerusakan parenkim otak namun
terlihat pendorongan hebat pada daerah yang mengalami edema. Edema

9
otak bilateral lebih disebabkan karena episode hipoksia yang umumnya
dikarenakan adanya renjatan hipovolemik.
4. Iskemia cerebri
Iskemia cerebri terjadi karena suplai aliran darah ke bagian otak
berkurang atau berhenti. Kejadian iskemia cerebri berlangsung lama (kronik
progresif) dan disebabkan karena penyakit degenerative pembuluh darah
otak.
CT Scan kepala nonkontras merupakan modalitas terbaik untuk diagnosis
pertadarahan intraserebral. Pada gambaran CT Scan tampak sebagai lesi hiperdens
dengan edema minimal atau tanpa edema di sekeliling lesi. Pada subakut batas
perifer hematoma membentuk ring-like enhancement pada CT Scan dan MRI akibat
proliferasi kapiler pada kapsul hematoma.

Secara tradisional dapat dibedakan berdasarkan fokal lesi yang didapatkan dari
gambaran CT Scan yang dilakukan, yaitu dengan dijumpai adanya gambaran EDH, SDH,
ICH maupun SAH (Andrews, 2003; Selladurai dan Reilly, 2007).

Gambar 2.1. Gambaran CT Scan Cidera Otak Fokal (EDH, SDH, ICH dan SAH)

Menurut Marshall klasifikasi dari cedera kepala yaitu deibedakan menjadi


enam kategori,pembagiannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Category Definition
Diffuse Injury I (no visible pathology) No visible intra-cranial pathology seen
on CT Scan
Diffuse Injury II Cisterns are present with midline shift
< 5 mm and or lesion densities present
No high or mixed density lesion > 25

10
ml, may include bone fragments and
foreign bodies
Diffuse Injury III Cisterns compressed or absent with
midline shift 0-5 mm No high or mixed
density lesion > 25 ml
Diffuse Injury IV Midline shift > 5 mm No high or mixed
density lesion > 25 ml
Evacuated mass lesion Any lesion surgically evacuated
Non-Evacuated mass lesion High or mixed density > 25 ml, not
surgically evacuated

Notes :
Delayed intracerebral hematomas
Dapat terjadi pada area yang tampak normal pada CT Scan awal atau terdapat
kontusio serebri pada CT Scan awal, paling sering terjadi pada hari 1-4 setelah
trauma, namun dapat pula terjadi sampai 2 minggu setelah trauma kepala.
Sepertiga lesi perdarahan intraserebral mengalami perkembanagan perifokal
edema yang menyebabkan efek massa lebih besar dibanding lesi perdarahannya.

II.2. CT Scan (Computed Tomomgraphy Scanner)


CT Scan (Computed Tomography Scanner) adalah suatu prosedur yang
digunakan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang
tengkorak dan otak. Tujuan utama penggunaan ct scan adalah untuk pemeriksaan
seluruh organ tubuh, seperti sususan saraf pusat, otot dan tulang, tenggorokan, dan
rongga perut.
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memperjelas adanya dugaan yang kuat
suatu kelainan,yaitu :
a. Gambaran lesi dari tumor, hematoma dan abses.
b. Perubahan vaskuler : malformasi, naik turunnya vaskularisasi dan infark.
c. Brain contusion.
d. Brain atrofi.
e. Hydrocephalus

11
f. Inflamasi
Bagian basilar dan posterior tidak begitu baik diperlihatkan oleh Ct Scan. Ct
Scan mulai dipergunakan sejak tahun 1970 dalam alat bantu dalam proses diagnosa
dan pengobatan pada pasien neurologis. Gambaran Ct Scan adalah hasil
rekonstruksi komputer terhadap gambar X-Ray. Gambaran dari berbagai lapisan
secara multiple dilakukan dengan cara mengukur densitas dari substansi yang
dilalui oleh sinar X.

II.2.1 Prinsip Dasar


Prinsip dasar CT scan mirip dengan perangkat radiografi yang sudah lebih
umum dikenal. Kedua perangkat ini sama-sama memanfaatkan intensitas radiasi
terusan setelah melewati suatu obyek untuk membentuk citra/ gambar. Perbedaan
antara keduanya adalah pada teknik yang digunakan untuk memperoleh citra dan
pada citra yang dihasilkan. Tidak seperti citra yang dihasilkan dari teknik
radiografi, informasi citra yang ditampilkan oleh CT scan tidak tumpang tindih
(overlap) sehingga dapat memperoleh citra yang dapat diamati tidak hanya pada
bidang tegak lurus berkas sinar (seperti pada foto rontgen), citra CT scan dapat
menampilkan informasi tampang lintang obyek yang diinspeksi. Oleh karena itu,
citra ini dapat memberikan sebaran kerapatan struktur internal obyek sehingga citra
yang dihasilkan oleh CT scan lebih mudah dianalisis daripada citra yang dihasilkan
oleh teknik radiografi konvensional.
CT Scanner menggunakan penyinaran khusus yang dihubungkan dengan
komputer berdaya tinggi yang berfungsi memproses hasil scan untuk memperoleh
gambaran panampang lintang dari badan. Pasien dibaringkan diatas suatu meja
khusus yang secara perlahan lahan dipindahkan ke dalam cincin CT Scan. Scanner
berputar mengelilingi pasien pada saat pengambilan sinar rontgen. Waktu yang
digunakan sampai seluruh proses scanning ini selesai berkisar dari 45 menit sampai
1 jam, tergantung pada jenis CT scan yang digunakan (waktu ini termasuk waktu
check-in nya).
Proses scanning ini tidak menimbulkan rasa sakit. Sebelum dilakukan
scanning pada pasien, pasien disarankan tidak makan atau meminum cairan tertentu
selama 4 jam sebelum proses scanning. Bagaimanapun, tergantung pada jenis

12
prosedur, adapula prosedur scanning yang mengharuskan pasien untuk meminum
suatu material cairan kontras yang mana digunakan untuk melakukan proses
scanning khususnya untuk daerah perut.
CT-Scan digunakan di dalam kedokteran sebagai alat diagnostik dan
sebagai pemandu untuk prosedur intervensi. Kadang-kadang membandingkan
material seperti kontras yang diodinasi kedalam pembuluh darah . Ini berguna bagi
menyoroti struktur seperti pembuluh darah yang jika tidak akan sukar untuk
menggambarkan jaringan sekitarnya. Penggunaan material kontras dapat juga
membantu ke arah memperoleh informasi fungsional tentang jaringan.
Ukuran gambar (piksel) yang didapat pada CT-scan adalah radiodensitas.
Ukuran tersebut berkisar antara skala -1024 to +3071 pada skala housfield unit.
Hounsfileds sendiri adalah pengukuran densitas dari jaringan.
Peningkatan teknologi CT-Scan adalah menurunkan dosis radiasi yang
diberikan, menurunkan lamanya waktu dalam pelaksanaan scaning dan peningkatan
kemampuan merekonstruksi gambar. sebagai contoh, untuk lihat di penempatan
yang sama dari suatu penjuru/sudut berbeda) telah meningkat dari waktu ke waktu.
Meski demikian, dosis radiasi dari CT meneliti beberapa kali lebih tinggi dibanding
penyinaran konvensional meneliti. Sinar-X adalah suatu format radiasi pengion dan
tentunya berbahaya.
Gambaran jaringan pada CT-Scan :
Jaringan Hounsfield unit Warna abu-abu
Udara -1000 Hitam ()
Lemak -100 Hitam ()
Cairan cerebrospinal 0 Hitam ()
Otak 30 Abu-abu (-)
Darah 100 Putih ()
Tulang 1000 Putih ()

13
II.2.2. Instrumen CT Scan
Ada beberapa komponen penyusun dari sebuah pesawat ct scan. Komponen-
komponen tersebut, meliputi:
a. Meja Pemeriksaan
Meja pemeriksaan merupakan tempat pasien diposisikan untuk
dilakukannya pemeriksaan CT-Scan. Bentuknya kurva dan terbuat dari
Carbon Graphite Fiber. Setiap scanning satu slice selesai, maka meja
pemeriksaan akan bergeser sesuai ketebalan slice ( slice thickness ). Meja
pemeriksaan terletak dipertengahan gantry dengan posisi horizontal dan
dapat digerakkan maju, mundur, naik dan turun dengan cara menekan
tombol yang melambangkannmaju, mundur, naik, san turun yang terdapat
pada gantry.
b. Gantry
Gantry merupakan komponen pesawat CT-Scan yang didalamnya
terdapat tabung sinar-x, filter, detektor, DAS (Data Acquisition System).
Serta lampu indikator untuk sentrasi. Pada gantry ini juga dilengkapi
denganindikator data digital yang memberi informasi tentang ketinggian
meja pemeriksaan, posisi objek dan kemiringan gantry.
Pada pertengahan gantry diletakkan pasien. Tabung sinar-x dan
detektor yang letaknya selalu berhadapan didalam gantry akan berputar
mengelilingi objek yang akan dilakukan scanning.
Ada beberapa bagian yang terdapat di dalam gantry :
1. Tabung Sinar X
Berfungsi sebagai pembangkit sinar-X dengan sifat :
Bekerja pada tegangan tinggi diatas 100 kV
Ukuran focal spot kecil 10 1 mm
Tahan terhadap goncangan
2. Kolimator
Pada pesawat CT-Scan, umumnya terdapat dua buah kolimator,
yaitu :
Kolimator pada tabunng sinar-x : berfungsi untuk
mengurangi dosis radiasi, sebagai pembatas luas lapangan

14
penyinaran dan mengurangi bayangan penumbra dengan
adanya focal spot kecil.
Kolimator pada detektor : Berfungsi untuk pengarah radiasi
menuju ke detektor, pengontrol
3. Detektor dan DAS (Data Acqusition System)
Setelah sinar-x menembus objek, maka akan diterima oleh
detector yang selanjutnya dan dilakukan proses pengolahan data
oleh DAS. Adapun fungsi detector dan DAS secara garis besar
adalah: untuk menangkap sinar-x yang telah menembuat objek,
mengubah sinar-x dalam bentuk cahaya tampak, kemudian
mengubah cahaya tampak tersebut menjadi sinyal-sinyal
elektron, lalu kemudian menguatkan sinyal-sinyal electron
tersebut dan mengubah sinyal electron tersebut kedalam bentuk
data digital.

Gambar 2.1. Instrumen CT Scanner

c. Komputer
Merupakan pengendali dari semua instrument pada CT-Scan. Berfungsi
untuk melakukan proses scanning, rekonstruksi atau pengolahan data,
menampilkan gambar serta untuk menganalisa gambar.
Adapunvelemen-elemen pada computer adalah sebagai berikut :

15
Input Device
Unit yang menterjemahkan data-data dari luar kedalam
bahasa komputer sehingga dapat menjalankan program atau
instruksi.

d. CPU (Central Procesing Unit)


Merupakan pusat pengolahan dan pengolahan dari keseluruhan
sistem komputer yang sedang bekerja.
Terdiri atas :
ALU ( Arithmetic Logic Unit )
Berfungsi untuk melaksanakan proses berupa arithmetic
operation seperti penambahan, pengurangan, pembagian, serta
perkalian
Control Unit
Berfungsi untuk mengontrol keseluruhan system
computer dalam melakukan pengolahandata.
Memory Unit
Berfungsi sebagai tempat penyimpanan data ataupun
instruksi yang sedang dikerjakan.
Output Device
Digunakan untuk menampilkan hasil program atau
instruksi sehingga dapat dengan mudah dilihat oleh personil
yang mengoperasikannya, misalnya CRT (Cathoda Ray Tube).
Layar TV Monitor
Berfungsi sebagai alat untuk menampilkan gambar dari
objek yang diperiksa serta menampilkan instruksi-instruksi
atau program yang diberikan

16
e. Image Recording
Berfungsi untuk menyimpan program hasil kerja dari komputer
ketika melakukan scanning, rekonstruksi dan display gambar
menggunakan :
Magnetic Disk
Digunakan untuk penyimpanan sementara dari data atau
gambaran, apabila gambaran akan ditampilkan dan diproses.
Magnetic disk dapat menyimpan dan mengirim data dengan cepat,
bentuknya berupa piringan yang dilapisi bahan ferromagnetic.
Kapasitasnya sangat besar.
Floppy Disk
Biasa disebut dengan disket, merupakan modifikasi dari
magnetic disk, bentuknya kecil dan fleksibel atau lentur. Floppy disk
mudah dibawa dan disimpan. Kapaasitasnya relative kecil (sekarang
sudah tidak digunakan lagi).

f. Operator Terminal
Merupakan pusat semua kegiatan scanning atau pengoperasian
system secara umum serta berfungsi untuk merekonstruksi hasil gambaran
sesuai dengan kebutuhan.

g. Multiformat Kamera
Digunakan untuk memperoleh gambaran permanen pada film. Pada
satu film dapat dihasilkan beberapa irisan gambar tergantung jenis pesawat
CT dan film yang digunakan.

II.2.3. Media Kontras


Media kontras mulai menarik perhatian sejak 1896, segera setelah
diperkenalkan pertama kalinya X-rays oleh Roentgen. Saat itu dipakai sodium
iodida dengan komponen lainnya. Kemudian pada tahun 1900 dikenal media
kontras monomer ionik (seperti Conray, Renografin Urografin) yang mengandung

17
3 atom iodine menggantikan cincin benzene dengan disosiasi rantai cabang.
Osmolalitasnya berkisar 1200-2000 mOsm/l.
Mengingat toksisitas kontras hipertonus, kemudian berkembang media
kontras monomer nonionik pertama dengan kemampuan radioopak yang sama tapi
karena tidak terdapat disosiasi rantai cabang maka osmolalitasnya menurun.
Selanjutnya media kontras dimer ionik dan non ionik dikembangkan dengan
osmolalitas yang juga rendah mendekati osmolalitas darah, kurang lebih
300mOsm/l, sehingga menurunkan efek samping. Media kontras dimer nonionik
mempunyai 6 atom iodine per molekul, secara teori osmolalitasnya turun hingga
50%, mendekati osmolalitas darah dan efek sampingnya juga menurun.
Ada beberapa syarat-syarat Bahan Kontras Media :
1. Tidak merupakan racun dalam tubuh.
2. Dalam konsentrasi yang rendah telah dapat membuat
3. Perbedaan densitas yang cukup
4. Mudah cara pemakaiannnya
5. Secara ekonomi tidak mahal dan mudah diperoleh dipasaran
6. Mudah dikeluarkan dari dalam tubuh/larut sehingga tidak mengganggu
organ tubuh yang lain.

Fungsi dari kontras media :


a. Memperlihatkan bentuk anatomi dari bagian yang diperiksa.
b. Memperlihatkan fungsi organ yang diperiksa.

II.2.3.1. Jenis-jenis kontras media berikut contohnya


1. Kontras media negatif (mempunyai nomor atom rendah)
Udara
CO2
Gas lainnya
2. Kontras media positif ( mempunyai nomor atom tinggi )
Barium sulfat
Bahan kontras barium sulfat, berbentuk bubuk putih yang tidak
larut. Bubuk ini dicampur dengan air dan beberapa komponen

18
tambahan lainnya untuk membuat campuran bahan kontras. Bahan ini
umumnya hanya digunakan pada saluran pencernaan; biasanya ditelan
atau diberikan sebagai enema. Setelah pemeriksaan, bahan ini akan
keluar dari tubuh bersama dengan feces.
Golongan larut dalam air ( water soluble )
Bahan Kontras Ionik
Ion-ion penyusun media kontras terdiri dari kation (ion
bermuatan positif) dan anion (ion bermuatan negatif). Kation terikat
pada asam radikal (-COO-) rantai C1 cincin benzena. Kation juga
memberikan karakteristik media kontras, dimana setiap jenis
memberikan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Ada beberapa
macam kation yang digunakan dalam media kontras
a. Bahan Kontras Ionik Monomer
Bahan Kontras ionik manomer merupakan bentuk bahan
kontras ionik yang memiliki satu buah cincin asam benzoat
dalam satu molekul
b. Bahan Kontras Ionik dimer
Merupakan media kontras ionik yang memiliki dua buah
cincin asam benzoat dalam satu molekul. Salah satu contoh
bentuk dan susunan kimia jenis bahan kontras ini adalah
Ioxaglate (Hexabrix) yang merupakan media kontras ionik
dimer pertama dibuat.

Bahan Kontras Non-ionik.


Dua dalam susunan kimia media kontras non-ionik sudah tidak
dijumpai lagi adanya ikatan ion antar atom penyusun molekul. Kalau
dalam media kontras ionik terdapat dua partikel penyususn molekul
(kation dan anion) maka dalam bahan kontras non-ionik hanya ada
satu partikel penyusun molekul sehingga memiliki karakteristik
tersendiri.

19
a. Bahan kontras Non-ionik Monomer
Bahan kontras ini berasal dari media kontras ionik
monomer yang dibentuk dengan mengganti gugus karboksil
oleh gugus radikal non-ionik yaitu amida (-CONH2). Contoh
kontras media Non-ionik Manomer :
Iopamidol
Iohexol
Iopromide
Ioversol
Iopentol
b. Bahan Kontras Non-ionik Dimer
Pembentukan struktur kimia bahan kontras ini melalui
proses penggantian pada gugus karboksil media kontras ionik
dimer juga oleh gugus radikal non-ionik, yang pada kahir
sisntesa menghasilkan perbandingan iodium terhadap partikel
media kontras

II.2.4. Prinsip Kerja


Dengan menggunakan tabung sinar-x sebagai sumber radiasi yang berkas
sinarnya dibatasi oleh kollimator, sinar x tersebut menembus tubuh dan diarahkan
ke detektor. Intensitas sinar-x yang diterima oleh detektor akan berubah sesuai
dengan kepadatan tubuh sebagai objek, dan detektor akan merubah berkas sinar-x
yang diterima menjadi arus listrik, dan kemudian diubah oleh integrator menjadi
tegangan listrik analog. Tabung sinar-x tersebut diputar dan sinarnya di proyeksikan
dalam berbagai posisi, besar tegangan listrik yang diterima diubah menjadi besaran
digital oleh analog to digital Converter (A/ DC) yang kemudian dicatat oleh
komputer. Selanjutnya diolah dengan menggunakan Image Processor dan akhirnya
dibentuk gambar yang ditampilkan ke layar monitor TV. Gambar yang dihasilkan
dapat dibuat ke dalam film dengan Multi Imager atau Laser Imager.
Berkas radiasi yang melalui suatu materi akan mengalami pengurangan
intensitas secara eksponensial terhadap tebal bahan yang dilaluinya. Pengurangan
intensitas yang terjadi disebabkan oleh proses interaksi radiasi-radiasi dalam bentuk

20
hamburan dan serapan yang probabilitas terjadinya ditentukan oleh jenis bahan dan
energi radiasi yang dipancarkan. Dalam CT scan, untuk menghasilkan citra obyek,
berkas radiasi yang dihasilkan sumber dilewatkan melalui suatu bidang obyek dari
berbagai sudut. Radiasi terusan ini dideteksi oleh detektor untuk kemudian dicatat
dan dikumpulkan sebagai data masukan yang kemudian diolah menggunakan
komputer untuk menghasilkan citra dengan suatu metode yang disebut sebagai
rekonstruksi.

Gambar 2.2. Prinsip Kerja CT Scanner (Bushberg, 2003)

II.2.5. Proses Data


Suatu sinar yang melewati celah sempit (narrow beam) yang dihasilkan oleh
X-ray didapatkan dari perubahan posisi dari tabung X-ray, hal ini juga dipengaruhi
oleh kolimator dan detektor. Secara sederhana proses data yang terjadi saat
dilakukannya CT Scan pada pasien yang berbaring di meja CT Scan dapat
digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.3. Collimator dan Detektor (Jejak Radiologi Computed Tomografi (CT).html)

21
Sinar X-ray yang telah dideteksi oleh detektor kemudian dikonversi menjadi
arus listrik yang kemudian ditransmisikan ke komputer dalam bentuk sinyal melaui
proses berikut :

Gambar 2.4. Proses pembentukan citra (www.Jejak Radiologi Computed Tomografi (CT).html)

Setelah diperoleh arus listrik dan sinyal aslinya, maka sinyal tadi dikonversi
ke bentuk digital menggunakan A/D Convertor agar sinyal digital ini dapat diolah
oleh komputer sehingga membentuk citra yang sebenarnya.
Hasilnya dapat dilihat langsung pada monitor komputer ataupun dicetak ke
film.

II.2.6. Aplikasi CT-Scan


Aplikasi CT-Scan pada klinis :
1. Pada Cranial :
3. diagnosa dari cerebrovascular accidents dan intracranial hemorrhage
4. deteksi tumor; Ct scan dengan kontras lebih sensitif dari MRI
5. deteksi peningkatan intracranial pressure sebelum dilakukan lumbar
puncture atau evaluasi fungsi ventriculoperitoneal shunt.
6. Evaluasi fraktur wajah atau kranial
7. Pada kepala/leher/wajah/mulut CT scanning digunakan pada
rencana operasi bagi deformitas kraniofasial dan dentofasial dan
evaluasi tumor sinus, nasal, orbital, dan rencana rekonstruksi
implant dental
2. Pada Dada
mendeteksi perubahan akut ataupun kronik parenklim paru

22
evaluasi proses intrestitial kronik (emfisema, fibrosis)
evaluasi mediatinum dan limfadenopati menggunakan kontrast per
IV
metode pemeriksaan utama pada emboli paru, dan disecsi aorta
menggunakan kontras IV
3. Pada Abdomen dan Pelvik
diagnosa pada batu ginjal, apendisitis, pankreatitis, diverkulitis,
anerisma aorta
abdomen, obstruksi usus
pilihan pertama mendeteksi trauma menelan benda solid
CT scan bukan pilhan utama pada pelvik, pilhan pertama adalah
ultrasonografi
4. Pada Ekstremitas
digunakan pada fraktur kompleks

II.2.7. Keuntungan Penggunaan CT Scan


Keuntungan penggunaan CT Scan adalah :
dapat digunakan pada pasien dengan implant metal
lebih sedikit menghasilkan klaustrofobia
waktu yang dibutuhkan lebih sedikit sehingga tepat untuk pasien
emergensi

II.2.8. Komplikasi CT Scan


Komplikasi adalah apa-apa saja yang tejadi selama atau setelah suatu
prosedur. Umumnya komplikasi ini hanya terjadi pada sebagian kecil orang.
Media kontras berkemungkinan memicu reaksi alergi jika Anda memiliki suatu
alergi, namun ini jarang terjadi. Jika Anda mengalami gatal-gatal atau kesulitan
bernapas, segera beritahukan radiografer

23
BAB III
KESIMPULAN

Hasil pemeriksaan menggunakan CT Scan kepala lebih banyak menunjukkan


informasi yang diinginkan seperti gambaran abnormal pada otak karena adanya
perdarahan yang dihasilkan dari Stroke Haemorhage. Pasien stroke pada kasus ini
ternyata setelah dilakukan pemeriksaan CT Scan didapatkan gambaran perdarahan
intraserebral yang menyebabkan pasien mengeluh lemas pada kedua kaki dan gejala
klinis penyerta lainnya.
Pada kasus lain dengan keluhan penurunan kesadaran secara mendadak,
kepala terasa semakin memberat, dan cidera kepala maka pemeriksaan penunjang
CT Scan kepala sangat dibutuhkan selama penanganan awal keluhan dirasakan. CT
Scan kepala akan menggambarkan area kepala sebagai pencetus keluhan yang
pasien rasakan. Adapun gambaran CT Scan kepala yang dapat kita ketahui berupa,
iskemik pembuluh darah otak, infark pembuluh darah otak, perdarahan dalam
tulang tengkorak, tumor/ massa, peradangan, dan sebagainya.
Keuntungan dalam menggunakan CT Scan adalah dapat digunakan pada
pasien dengan implant metal, lebih sedikit menghasilkan klaustrofobia, waktu yang
dibutuhkan lebih sedikit sehingga tepat untuk pasien emergensi

24
DAFTAR PUSTAKA

Michael Y. M. Chen, Thomas L. Pope, David J. Ott, 2011, Basic Radiology,


nd
2 edition, The McGraw-Hill Companies, United States.

Mark S. Greenberg, 2010, Handbook of Neurosurgery, 7th edition, Thieme


New York, United States.

Reilly P, Bullock R, 2005, Head Injury, Pathofisdiology and Management of


Severe Closed Injury, 2nd edition, CRC Press.

Manasirip ME, Oley MCh, Limpeleh H, 2014, Gambaran CT Scan Pada


Penderita Cedera Kepala Ringan di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
, Periode 2012 2013. E clinic.

Butcher K, Emery D, 2010, Acute Stroke Imaging, Part I : Fundamentals, Can


J Neurol Sci.

Sunardi, 2006, Computed Tomography Scan (CT Scan) dan Magnetic


Resonance Imaging (MRI) Pada Sistem Neurologis , USU Library

25