Anda di halaman 1dari 31

Laporan Kasus

Plasenta Previa

Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menjalankan


Kepaniteraan Klinik Senior Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh

Oleh:

Cut Rizki Amelia (1607101030079)


Dina Tursina (1607101030056)
Riva Ul Fitri (1607101030186)

Pembimbing:
dr. Tgk. Puspa Dewi, Sp.OG

BAGIAN/SMF ILMU OBSGYN


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul
Plasenta Previa. Shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan keluarganya.
Ucapan terima kasih tidak lupa penulis ucapkan kepada pembimbing penulis
yaitu dr. Tgk Puspa Dewi, Sp.OG dan para dokter serta perawat di bagian/SMF
Ilmu Obgyn yang telah memberikan arahan serta bimbingan hingga
terselesaikannya laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini masih
banyak terdapat kekurangan. Segala kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat diharapkan untuk penyempurnaan tinjauan pustaka ini. Semoga dapat
bermanfaat baik bagi penulis maupun orang yang membacanya.

Banda Aceh, Juni 2017


Wassalam,

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................... ii


DAFTAR ISI .............................................................................................. iv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................... 4


2.1 Plasenta ........................................................................... 6
2.2 Perdarahan Antepartum .................................................. 8
2.3 Plasenta Previa ................................................................ 8
2.3.1 Definisi dan Klasifikasi ......................................... 8
2.3.2 Epidemiologi ......................................................... 10
2.3.3 Faktor Risiko ......................................................... 10
2.3.4 Gejala Klinis .......................................................... 11
2.3.5 Patofisiologi ........................................................... 11
2.3.6 Komplikasi.............................................................. 14
2.3.7 Diagnosis ............................................................... 14
2.3.8 Tatalaksana ........................................................... 14.

BAB III LAPORAN KASUS ................................................................ 17


3.1 Identitas Pasien .............................................................. 17
3.2 Anamnesis....................................................................... 17
3.3 Pemeriksaan Fisik ........................................................... 18
3.4 Pemeriksaan Penunjang .................................................. 19
3.5 Diagnosis ......................................................................... 23
3.6 Penatalaksanaan .............................................................. 23
3.7 Prognosis ......................................................................... 23

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................. 27

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .............................................. 29

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 30

3
BAB I
PENDAHULUAN

Perdarahan antepartum merupakan salah satu permasalahan yang


mengakibatkan mortalitas dan morbiditas ibu di dunia. Angka kejadian
perdarahan antepartum mencapai 3% dimana 70% penyebab perdarahan
antepartum adalah perdarahan plasenta, 5% oleh karena faktor di luar plasenta
sedangkan 25% lainnya akibat penyebab yang tidak diketahui. Perdarahan
plasenta adalah penyebab utama terjadinya perdarahan pada ibu, 35% disebabkan
oleh plasenta previa dan 35% lainnya adalah abruptio plasenta. Plasenta previa
merupakan salah satu penyebab significant terhadap perdarahan ibu pada trimester
ketiga.(1,2)

Berdasarkan American Journal of Obstetric and Gynecologic, insidensi


plasenta previa ditemukan 20% pada pemeriksaan USG transabdominal dan 5%
USG transvaginal sebelum usia gestasi 20 minggu. Sekitar 1 dari 200 ibu
memiliki permasalahan kehamilan dengan plasenta previa yang persisten pada
saat persalinan. Plasenta ditemukan lebih tinggi pada usia kehamilan awal.
Sedangkan pada usia kehamilan aterm, persentase kejadian plasenta previa adalah
0,5-1 %. Plasenta previa merupakan salah satu faktor risiko paling tinggi terhadap
perdarahan antepartum ibu pada trimester ketiga.(3,4)

Setelah melahirkan baik per vaginam maupun sectio caesarea, darah yang
keluar dari jalan lahir akan berkurang 5-6 L per menit. Hal ini dikarenakan adanya
kontraksi dari miometrium uterus yang menekan arteri spiralis dan faktor
koagulasi darah yang teraktivasi lokal setelah melahirkan. Akan tetapi persalinan
pada ibu dengan kasus plasenta previa memiliki risiko yang tinggi untuk
mengalami perdarahan antepartum, karena letak implantasi plasenta yang tidak
normal serta dinding uterus yang cenderung lebih tipis.(5)

Klasifikasi plasenta previa masih menjadi terminologi yang


membingungkan, berdasarkan Fetal Imaging Workshop yang diselenggarakan
oleh National Institutes of Health tahun 2013 mengelompokkan plasenta previa
menjadi 2, yaitu: plasenta previa dan plasenta letak rendah. Klasifikasi terbaru

4
tahun 2017 yang direkomendasikan oleh Obstetric Evidence Based Guidelines
juga dengan klasifikasi yang sama yaitu plasenta previa dan plasenta letak rendah.
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta menutupi Ostium Uteri Internum
(OUI). Diagnosis plasenta previa hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
TVU (Transvaginal Ultrasound). (6,7)

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Plasenta
Plasentasi adalah proses pembentukan stuktur dan jenis plasenta. Setelah
nidasi embrio ke dalam endometrium, plasentasi dimulai. Pada manusia,
plasentasi berlangsung sampai 12-18 minggu setelah fertilisasi. Fungsi utama
plasenta adalah transfer nutrien dan zat sisa antara ibu dan janin (meliputi fungsi
respirasi, ekskresi dan nutritif), menghasilkan hormon dan enzim yang dibutuhkan
untuk memelihara kehamilan, sebagai barier dan imunologis.(8,9)
Pada dasarnya, plasenta berasal dari sel trofoblas yang mulai terbentuk
pada stadium morula dan akhirnya berdifferensiasi sehingga membentuk satu
lapisan sel trofoblas yang mengelilingi blastosis. Sehingga kehamilan menjadi
matang, trofoblas memainkan peranan penting dalam hubungan antara feto-
maternal. Trofoblas memamerkan pelbagai struktur, fungsi, dan bentuk
pertumbuhan pada semua komponen plasenta.(10)
Pada hari ke-8 setelah fertilisasi, setelah aposisi, sel trofoblas
berdiferensiasi menghasilkan dua lapis trofoblas. Lapisan dalam disebut
sitotrofoblas, merupakan sel mononuklear dengan batas sel yang tegas, disebut
juga dengan sel Langhan. Lapisan luar disebut sinsitiotrofoblas, berupa sel
multinuklear dengan batas sel yang tidak tegas, berasal dari lapisan
sitotrofoblas.(9,10)
Setelah implantasi selesai, trofoblas akan berdiferensiasi mengikuti dua
jalur utama, yang membentuk vili dan ekstravili. Trofoblas vili akan menjadi vili
korion dimana berfungsi untuk membawa oksigen dan nutrisi diantara fetus dan
ibu. Manakala trofoblas ektravili akan bermigrasi ke dalam desidua dan
miometrium dan juga berfungsi untuk menginvasi pembuluh darah ibu. Oleh itu,
trofoblas ekstravili dapat diklasifikasikan lagi sebagai trofoblas interstisial dan
trofoblas endovaskular. Trofoblas interstisial akan menginvasi desidua dan
akhirnya tembus ke miometrium untuk membentuk sel giant pada placental bed.
Selain itu, trofoblas ini juga akan bertanggungjawab untuk menginvasi arteri
spiralis.(10)

6
Setelah aposisi, sel trofoblas akan menginvasi epitel endometrium lebih
dalam, sehingga sekitar hari ke-10, blastosis akan tertanam di dalam endometrium
seluruhnya. Pada hari ke-9 perkembangan, bagian blastosis yang tertempel pada
dinding endometrium terdiri daripada satu lapis sel yang telah gepeng sedangkan
pada arah yang bertentangan, ketebalan dinding terdiri daripada dua zona-
trofoblas dan inner cell mass atau diskus embrio yang akan berdiferensiasi
menjadi plat ektoderm primitif dan lapisan bawahnya sebagai lapisan
endoderm.(10)
Dengan invasi blastosis ke dalam desidua yang semakin mendalam,
sitotrofoblas ekstravili akan membentuk vili pimer yang terdiri daripada
sitotrofoblas yang diselubungi oleh sinsitium sebelum hari ke-12 setelah
fertilisasi. Vili ini awalnya tersebar pada seluruh permukaan blastosis, tetapi
kemudian mulai menghilang kecuali bagian yang tertanam , yang akan menjadi
plasenta. Setelah itu, tepat pada awal hari ke-12 setelah fertilisasi, vili korion
mulai terbentuk. Tali mesenkim yang terbentuk dari mesoderem ekstraembrio
akan menginvasi kolum trofoblas yang solid, membentuk vili sekunder. Setelah
angiogenesis bermula, vili tertier akan terbentuk. Walaupun pada awal implantasi,
pembuluh darah ibu di penetrasi, darah dari ibu tidak akan masuk ke dalam
rongga intervili sehingga hari ke-15. Dan pada hari ke-17, pembuluh darah fetus
mulai berfungsi dan sirkulasi plasenta terbentuk.(10)
Pada perkembangan plasenta yang telah sempurna terdapat 2 sistem
sirkulasi darah yaitu sirkulasi uteroplasental (sirkulasi maternal) dan sirkulasi
fetoplasental. Kedua sirkulasi ini dipisahkan oleh membrana plasenta (placental
berrier) yang terdiri dari lapisan sinsitiotrophoblas, sitotrophoblas, membrana
basalis, stroma villi dan endotel kapiler. Sirkulasi utero plasental yaitu sirkulasi
darah ibu di ruang intervilus. Diperkirakan aliran darah ini sebesar 500-600 ml
permenit pada plasenta yang matur. Aliran darah ibu dan janin ini bersisian, tapi
dalam arah yang berlawanan. Aliran darah yang berlawanan ini (counter current
flow) ini memudahkan pertukaran material antara ibu dan janin.(9)

7
2.2 Perdarahan Antepartum

Gambar 2.1 Penyebab perdarahan antepartum (Dutta, 2017)


Perdarahan antepartum adalah keluarnya darah dari jalan lahir di atas
usia kehamilan 28 minggu dan sebelum lahirnya bayi. Kejadian perdarahan
antepartum mencapai 3%. Insiden ini sangat berpengaruh terhadap angka
morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal. 70% penyebab dari perdarahan
antepartum adalah akibat dari perdarahan dari plasenta yaitu plasenta previa dan
abruptio plasenta.(2)
Perdarahan sedikit pada adalah keadaan fisiologis selama persalinan aktif.
Pada saat persalinan serviks akan membuka dan berdilatasi dan adanya robekan
pada pembuluh darah kecil. Kondisi ini disebut dengan istilah bloody show.
Namun, pada persalinan dengan plasenta previa, perdarahan yang terjadi lebih
banyak dari biasanya. Hal ini diakibatkan oleh implantasi yang abnormal serta
dinding uterus yang cenderung tipis (6)

2.3 Plasenta Previa


2.3.1 Definisi dan Klasifikasi
Plasenta previa berasal dari bahasa Latin yaitu previa yang artinya keluar
sebelum yang berarti keadaan dimana plasenta lahir sebelum kelahiran bayi. Di
dalam ilmu obstetri, plasenta previa digambarkan sebagai salah satu kondisi

8
patologis dari plasenta yaitu plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah
rahim atau sangat dekat dengan ostium uteri internum (OUI).(6)
Klasifikasi terbaru tahun 2017 yang direkomendasikan oleh Obstetric
Evidence Based Guidelines, plasenta previa diklasifikasikan menjadi:(7)
1) Plasenta previa, adalah plasenta menutupi Ostium Uteri Internum
(OUI). Plasenta previa ditegakkan jika jarak plasenta dengan OUI
adalah 1-10 mm.
2) Plasenta letak rendah, adalah plasenta yang letaknya sangat dekat
dengan Ostium Uteri Internum dimana letaknya adalah 10-20mm dari
OUI.
Berdasarkan klasifikasi sebelumnya sehubungan dengan luasnya OUI
yang tertutup oleh plasenta, maka klasifikasi plasenta previa terdiri atas:(10)
1) plasenta previa totalis (menutupi seluruh OUI) atau sesuai dengan
plasenta previa tingkat (grade) empat ,
2) plasenta previa parsialis (menutupi sebagian OUI) atau sesuai dengan
plasenta previa tingkat tiga,
3) plasenta previa marginalis (pinggir plasenta berada ditepi OUI) atau
sesuai dengan plasenta previa tingkat dua, dan
4) plasenta letak rendah (low lying placenta) yaitu dimana pinggir plasenta
berjarak 2 sampai 3 cm dari oui atau sesuai dengan plasenta previa
tingkat satu.

Gambar 2.2 Degrees of placenta previa with findings on ultrasound


examination (Dutta. 2013)

9
2.3.2 Epidemiologi
Berdasarkan American Journal of Obstetric and Gynecologic, insidensi
plasenta previa ditemukan 20% pada pemeriksaan USG transabdominal dan 5%
USG transvaginal sebelum usia gestasi 20 minggu. Sekitar 1 dari 200 ibu
memiliki permasalahan kehamilan dengan plasenta previa yang persisten pada
saat persalinan. Plasenta ditemukan lebih tinggi pada usia kehamilan awal.
Sedangkan pada usia kehamilan aterm, persentase kejadian plasenta previa adalah
0,5-1 %. Plasenta previa merupakan salah satu faktor risiko paling tinggi terhadap
perdarahan antepartum ibu pada trimester ketiga.(3)(4)

2.3.3 Faktor Risiko Plasenta Previa


Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya plasenta
previa, di antaranya:
1) Usia ibu
Frekuensi plasenta previa meningkat pada ibu dengan usia di atas 35
tahun. Persentase plasenta previa pada ibu dengan usia di bawah 35 tahun
adalah 0,5% sedangkan pada ibu di atas usia 35 tahun mencapai 1%.(6)
2) Multiparitas
Insiden pada ibu yang melahirkan 5 atau lebih, persentasenya lebih
tinggi daripada ibu yang melahirkan di bawah 5.(6)
3) Riwayat Sectio Caesarea
Hal ini meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa. Riwayat SC
akan mengakibatkan pembentukan scar atau jaringan parut pada uterus.
Selain itu, ibu dengan riwayat pembedahan yang meningkatkan jaringan
parut pada uterus seperti myomectomi atau hysterectomy.(2,6)
4) Ukuran plasenta
Kehamilan dengan ukuran plasenta yang lebih besar atau abnormal
dapat meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa. Risiko ini ditemukan
pada ibu dengan kehamilan gemeli atau dengan kelainan lobus plasenta.(2)

10
5) Merokok
Hal ini berhubungan dengan peningkatan karbon monoksida yang
mengakibatkan hipoksia sehingga plasenta akan berkompensasi menjadi
hipertrofi dan membutuhkan tempat implantasi yang lebih besar.(2,6)
6) Peningkatan MSAFP
Ibu dengan peningkatan maternal serum alfha-Fetoprotein.(6)

2.3.4 Gejala Klinis Plasenta Previa


Gejala klinis pada plasenta previa adalah perdarahan jalan lahir.
Perdarahan jalan lahir ini disertai 3 ciri khas yaitu: onset mendadak, painless, dan
berulang serta penyebab yang sulit diketahui(causeless). Perdarahan pada plasenta
previa tidak berhubungan dengan aktivitas. Banyak kasus pada ibu terjadi
perdarahan ketika tidur, diketahui berdarah pada saat bangun tidur.(2)
Perdarahan umumnya tidak terjadi sebelum akhir trimester kedua atau
pada trimester ketiga, tetapi gejala ini pada beberapa kasus terjadi pada sebelum
pertengahan usia kehamilan. Perdarahan pada plasenta previa tidak menimbulkan
nyeri dan tidak disertai kontraksi pada ibu. 10% dari kasus plasenta previa dengan
implantasi plasenta mendekati OUI tidak mengalami simptom perdarahan jalan
lahir sebelum tibanya waktu persalinan.(6)

2.3.5 Patofisiologi Plasenta Previa


Umumnya dalam trimester ketiga kehamilan dan pada beberapa kasus
dengan usia kehamilan lebih awal yaitu sejak usia kehamilan sekitar 20 minggu,
tempat dimana plasenta berimplantasi pada bagian bawah rahim mulai mengalami
pelebaran atau peregangan oleh sebab isthmus uteri mulai melebar ke atas dan
membentuk segmen bawah rahim.
Sebagaimana diketahui plasenta berimplantasi pada desidua basalis yang
bertumbuh menjadi bagian plasenta. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi
segmen bawah rahim lambat laun peregangan pada dinding rahim menyebabkan
beberapa pembuluh darah cabang-cabang arteria spiralis yang mengalirkan darah
dari dinding rahim melalui desidua basalis kedalam ruang intervillus terputus dan
terjadilah perdarahan. Darah tersebut melalui OUI memperoleh jalan keluar

11
melalui vagina. Peristiwa pembentukan segmen bawah rahim merupakan
fenomena tetap pada setiap kehamilan. Oleh sebab itu perdarahan pada plasenta
previa adalah hal yang tidak mungkin dapat dicegah (unavoidable bleeding).
Perdarahan di tempat itu relatif dipermudah dan diperbanyak oleh karena
segmen bawah rahim dan serviks keduanya mengandung sangat sedikit unsur otot
sehingga tidak mampu berkontraksi seperti halnya segmen atas rahim (corpus
uteri) dan karenanya pembuluh darah yang terputus tidak mudah bisa tertutup
dengan sempurna. Perdarahan akan berhenti karena ada sistem pembekuan yang
bekerja, namun jika laserasi mengenai sinus yang besar plasenta maka perdarahan
akan berlangsung lebih banyak dan lebih lama. Oleh karena pembentukan segmen
bawah rahim berlangsung berkelanjutan secara bertahap dan perlahan, laserasi
baru akan terjadi dan perdarahan pun akan berulang sekalipun tanpa sebab
misalnya karena trauma atau koitus. Darah yang keluar bewarna merah segar
tanpa disertai rasa nyeri.
Pada plasenta previa totalis perdarahan terjadi lebih awal dalam kehamilan
karena segmen bawah rahim terbentuk lebih awal pada bagian terbawah yaitu
pada ostium uteri internum. Sebaliknya pada plasenta previa parsialis dan pada
plasenta letak rendah, perdarahan baru akan terjadi pada waktu mendekati partus
atau persalinan baru mulai. Dengan kata lain perdarahan pada plasenta previa
bukan saja tidak dapat dicegah, tapi kejadiannya pun tidak dapat diramalkan
waktunya, mungkin saja ketika sedang tertidur atau pun sedang duduk atau
berjalan. Perdarahan pertama biasanya sedikit tapi cenderung lebih banyak pada
perdarahan ulangan. Oleh sebab itu untuk mencegah syok perlu diambil tindakan
antisipasi.
Perdarahan pertama sudah bisa terjadi pada trimester kedua tapi lebih
sering dalam trimester ketiga. Segmen bawah rahim yang tipis mudah diinvasi
oleh pertumbuhan trofoblast. Oleh karenanya lebih mudah dan sering terjadi
plasenta akreta dan plasenta inkreta pada kasus plasenta previa. Segmen bawah
rahim dan serviks yang rapuh mudah robek oleh karena kekurangan elemen otot
yang terdapat disana. Kedua kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian
perdarahan pada plasenta previa, misalnya dalam kala tiga karena plasenta sukar

12
terlepas dengan sempurna, atau terjadi perdarahan dalam kala empat karena
segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi dengan baik atau atonia.(11)
Prognosis bagi janin tergantung usia kehamilan saat tindakan terminasi
kehamilan perlu diambil. Kejadian prematuritas yang meningkat memegang peran
meningkatkan morbiditas dan kematian perinatal. Dengan adanya kemajuan
dalam penanganan yang lebih intensif dan kemudahan persediaan transfusi darah
disertai adanya fasilitas ultrasonografi untuk diagnostik, kematian perinatal 40%
sampai 80% pada awal abad 20 telah turun menjadi 5% sampai 12% dewasa ini.
Sementara itu kematian maternal pun dapat ditekan dari sekitar 10% menjadi
hampir tak ada lagi.(11)
Penyebab pasti dari terjadinya plasenta previa belum diketahui hingga saat
ini. Tetapi, terdapat beberapa teori yang mendasari terjadinya plasenta previa. (2)
1) Dropping down theory, yaitu teori yang menjelaskan bahwa pada saat
terjadinya fertilisasi ovum tidak berada di ampula tuba tetapi
menempati segment bawah rahim sehingga implantasi terjadi di
segmen bawah rahim. Selain itu, lapisan desidua yang tidak memadai
di segment atas uterus dapat menjadi penyebab implantasi plasenta
berlangsung di segment bawah rahim. Kegagalan dari lisisnya zona
pelusida tepat waktu menjadi hipotesis yang memungkinkan untuk
terjadinya implantasi segment bawah rahim.
2) Persistence of chorionic activity, yaitu aktivitas korionik yang menetap
di desidua kapsularis dan akan berkembang menjadi kapsular plasenta
yang akan berkontak dengan desidua vera segment bawah rahim.
3) Defective decidua, yaitu hasil dari penyebaran vili korionik yang
menembus dinding uterus untuk mendapatkan nutrisi. Pada tahap ini,
plasenta tidak hanya terus berkembang menjadi selaput tetapi akan
terganggu hingga ke segment bawah rahim. Teori ini yang menjelaskan
bahwa plasenta previa dapat menginvasi desidua dan menembus
hingga ke myometrium sehingga dapat terjadinya plasenta akreta,
inkreta atau perkreta.
4) Big surface area of the placenta, hal ini biasa terjadi pada kehamilan
gemeli dengan plasenta yang membutuhkan area lebih besar dari

13
normalnya. Kondisi ini mengakibatkan plasenta akan menjadi
terganggu implantasinya hingga menuju segment dari bawah rahim.

2.3.6 Komplikasi Plasenta Previa


Plasenta previa dapat menyebabkan placenta accreta, antepartum
hemorrhage dan atau postpartum hemorrhage, dan IUFD

2.3.7 Diagnosis Plasenta Previa


- Perdarahan tanpa nyeri, usia kehamilan>22 minggu
- Darah segar yang keluar sesuai dengan beratnya anemia
- Syok
- Tidak ada kontraksi uterus
- Bagian terendah janin tidak masuk pintu atas panggul
- Kondisi janin normal atau terjadi gawat janin
- Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG

2.3.8 Tatalaksana
a. Tatalaksana Umum
1) Tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan dalam sebelum tersedia
kesiapan untuk seksio sesarea. Pemeriksaan inspekulo dilakukan
secara hati-hati, untuk menentukan sumber perdarahan.
2) Perbaiki kekurangan cairan/darah dengan infus cairan intravena (NaCl
0,9% atau Ringer Laktat).
3) Lakukan penilaian jumlah perdarahan.
Jika perdarahan banyak dan berlangsung, persiapkan seksio sesarea
tanpa memperhitungkan usia kehamilan
Jika perdarahan sedikit dan berhenti, dan janin hidup tetapi prematur,
pertimbangkan terapi ekspektatif

b. Tatalaksana Khusus
1) Terapi Konservatif
Agar janin tidak terlahir prematur dan upaya diagnosis dilakukan
secara non-invasif.

14
Syarat terapi ekspektatif:
Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian
berhenti dengan atau tanpa pengobatan tokolitik
Belum ada tanda inpartu
Keadaan umum ibu cukup baik (kadar Hb dalam batas normal)
Janin masih hidup dan kondisi janin baik
2) Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotika profilaksis.
3) Lakukan pemeriksaan USG untuk memastikan letak plasenta.
4) Berikan tokolitik bila ada kontraksi:
MgSO4 4 g IV dosis awal dilanjutkan 4 g setiap 6 jam, atau
Nifedipin 3 x 20 mg/hari
Pemberian tokolitik dikombinasikan dengan betamethason 12 mg IV
dosis tunggal untuk pematangan paru janin
- Perbaiki anemia dengan sulfas ferosus atau ferous fumarat per oral
60 mg selama 1 bulan.
- Pastikan tersedianya sarana transfusi.
- Jika perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu
masih lama, ibu dapat dirawat jalan dengan pesan segera kembali ke
rumah sakit jika terjadi perdarahan.
c. Terapi Aktif
1) Rencanakan terminasi kehamilan jika:
Usia kehamilan cukup bulan
Janin mati atau menderita anomali atau keadaan yang mengurangi
kelangsungan hidupnya (misalnya anensefali)
Pada perdarahan aktif dan banyak, segera dilakukan terapi aktif
tanpa memandang usia kehamilan
2) Jika terdapat plasenta letak rendah, perdarahan sangat sedikit, dan
presentasi kepala, maka dapat dilakukan pemecahan selaput ketuban
dan persalinan pervaginam masih dimungkinkan. Jika tidak, lahirkan
dengan seksio sesarea
3) Jika persalinan dilakukan dengan seksio sesarea dan terjadi
perdarahan dari tempat plasenta:

15
Jahit lokasi perdarahan dengan benang,
Pasang infus oksitosin 10 unitin 500 ml cairan IV (NaCl 0,9% atau
Ringer Laktat) dengan kecepatan 60 tetes/menit
Jika perdarahan terjadi pascasalin, segera lakukan penanganan yang
sesuai, seperti ligasi arteri dan histerektomi.

16
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. Identitas Pasien


Nama : Ny. J
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 23 tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Aceh / Indonesia
Alamat : Aceh Besar
No. Register : 1-12-90-62
Tanggal Pemeriksaan : 15 Mei 2017

3.2. Anamnesis
Keluhan Utama : Perdarahan dari jalan lahir
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang dengan mengaku 8 bulan dengan HPHT 19 September 2016.
TTP 26 Juni 2017 dengan usia kehamilan 33-34 minggu. Selama ini pasien
melakukan Ante Natal Care setiap bulannya di bidan dan satu kali di Sp.OG. USG
terakhir tanggal 15 April 2017 dan dikatakan janin dalam keadaan baik. Pasien
mengeluhkan keluar darah dari jalan lahir sejak 6 jam sebelum masuk rumah
sakit. Darah yang keluar berwarna merah segar. Nyeri perut disangkal. Riwayat
keputihan ada, namun tidak gatal dan tidak berbau. Keluar air-air dan mules
disangkal. Gerak janin dirasakan aktif oleh pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu


Diabetes Mellitus disangkal
Peny. jantung dan hipertensi disangkal
Alergi dan asma disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Diabetes Mellitus disangkal
Peny. jantung dan hipertensi disangkal
Alergi dan asma disangkal

17
Riwayat Penggunaan Obat
Disangkal

Riwayat Menarche
12 tahun, teratur 5-6 hari, 3-4 kali ganti pembalut, nyeri haid (-)

Riwayat Pernikahan
1x 22 tahun

Riwayat Persalinan
Hamil saat ini.

Riwayat Kontrasepsi
Tidak ada

Riwayat Sosial
Ibu Rumah Tangga, suami wiraswasta

3.3. Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
KU : Sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
Tekanan darah: 110/80 mmHg
Nadi : 100 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36 C
Status Generalisata
Mata : Konjungtiva Palpebra inferior tidak anemis, sklera tidak
ikterik
Hidung : Normosepta, tidak ada nafas cuping hidung, sekret tidak
ada
Mulut : Tidak kering, tidak sianosis.
Tenggorokan : Faring tidak hiperemis
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan tiroid

18
Cor : Bunyi jantung I-II regular, tidak ditemukan adanya gallop
dan murmur tidak ada
Pulmo : Suara nafas vesikuler di kedua lapang paru, rhonki dan
wheezing tidak ditemukan.

Status Obstetrikus
Inspeksi : Buncit sesuai dengan usia kehamilan
Palpasi :
- Leopold I : TFU 24 cm, teraba bagian yang besar dan lunak, kesan
bokong. Taksiran berat janin 1705 gram.
- Leopold II : Teraba bagian cembung dan keras di sebelah kiri, kesan
punggung. DJJ 147x/menit
- Leopold III : Teraba bagian bulat, keras, dan melenting. Kesan kepala
- Leopold IV : Bagian terbawah dari janin belum masuk pintu atas
panggul
Anogenital :
- I : v/u tenang, perdarahan (-), varices (-), oedem (-).
- Io : portio licin, OUE terbuka, fluxus (+), tampak bagian dari plasenta
menutupi OUE.
- VT : Tidak dilakukan

3.4. Pemeriksaan Penunjang


3.4.1.Laboratorium Darah
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan
HEMATOLOGI
DARAH LENGKAP:
Hemoglobin 8,9 12,0-15,0 g/dL
Hematokrit 26 37-47 %
Eritrosit 3,2 4,2-5,4 103/mm3
Leukosit 12,03 4,5-10,5 103/mm3
Trombosit 312 150-450 103/mm3
MCV 28 80-100 fL

19
MCH 34 27-31 pg
MCHC 13,1 32-36 %
RDW 9,5 11,5-14,5 %
MPV 9,6 7,2-11,1 fL
HITUNG JENIS:
Eosinofil 1 0-6 %
Basofil 0 0-2 %
Netrofil Batang 0 2-6 %
Netrofil Segmen 82 50-70 %
Limfosit 11 20-40 %
Monosit 6 2-8 %
FAAL HEMOSTASIS
Waktu Perdarahan 3 1-7 menit
Waktu Pembekuan 9 5-15 menit
IMUNOSEROLOGI
HbsAg Negatif Negatif
KIMIA KLINIK
Glukosa Darah Sewaktu 87 <200 mg/dL
GINJAL HIPERTENSI
Ureum 9 13-43 mg/dL
Kreatinin 0,50 0,51-0,95 mg/dL
ELEKTROLIT serum
Natrium (Na) 136 132-146 mmol/L
Kalium (K) 3,7 3,7-5,4 mmol/L
Klorida (Cl) 112 98-106 mmol/L

20
3.4.1.Ultrasonography

21
Keterangan:
FHR (+)
BPD 75,1 m
HC 272,5 mm
AC 257,2 mm
FL 55,8 mm
EFW 1443 gram
Plasenta previa
Kesimpulan: Janin tunggal hidup presentasi kepala usia kehamilan sesuai
29-30 minggu, plasenta previa totalis.

3.4.2.Cardiotocography

Keterangan :
Baseline : 145 dpm
Variabilitas : 5-15 dpm
Akselerasi : 2x/10 menit
Deselerasi : tidak ada
His : tidak ada
Gerak Janin : aktif
Kesimpulan : CTG kategori 1

22
3.5. Diagnosis
G1 hamil 33-34 minggu, Janin Presentasi Kepala Tunggal Hidup,
Antepartum Haemmorrhage e.c. Placenta Previa Totalis.
3.6. Penatalaksanaan
Observasi Tanda vital, kontraksi His, DJJ
Observasi perdarahan
Rehidrasi cairan: RL 1500-2000cc/hari
Tokolitik: Nifedipin 10 mg titrasi (14/3/2017 s/d 15/3/2017)
Maintenance Adalat Oros 1x30 mg (15/3/2017)
Pematangan paru: Dexametason 6mg/12 jam selama 2 hari
( 17/3/2017 s/d 19/3/2017)
Kaltropen Supp 3x1 (17/3/2017 s/d 22/3/2017)
Bed rest total

3.7. Prognosis
Quo ad Vitam : Dubia et bonam

Quo ad Sanationam : Dubia et bonam

Quo ad Functionam : Dubia et bonam

3.8. FOLLOW UP

Tanggal Follow up

Sabtu S/
14 Mei 2017 Pasien mengaku sudah tidak ada
darah yang keluar dari jalan lahir.
O/
Keadaan Umum: Baik
Kesadaran: compos mentis
Tekanan Darah: 110/70 mmHg
Nadi: 80x/i
Laju pernapasan: 18x/i
Suhu: 26,5C

23
Status Generalisata
Mata: Konjungtiva palpebra inferior
tidak anemis, sklera tidak ikterik
T/H/M: dalam batas normal
Leher: tidak ada perbesaran KGB
Thorax: veikuler di kedua lapang paru,
rhonki dan wheezing tidak ditemukan
Cor: BJ1>BJ2, tidak dijumpai adanya
gallop dan murmur
Abdomen: membuncit sesuai umur
kehamilan
Ektremitas: edema tidak dijumpai,
akral hangat
Status Ginekologis:
Inpeksi: v/u tenang

A/
G1 hamil 33-34 minggu, Janin
Tunggal Hidup Presentasi Kepala,
Perdarahan Ante Partum ec. Plasenta
Previa Totalis
P/
Hemodinamik stabil Observasi keadaan
umum, tanda vital, His,
DJJ dan perdarahan
Cegah Kontraksi Tokolitik
Nifedipin 10mg- titrasi
Pematangan paru Dexamethasone 6mg/12
jam selama 2 hari
Multivitamin SF 2x1
Edukasi Bed rest total

24
Minggu S/
15 Mei 2017 Pasien mengaku keadaan mulai
membaik, tidak ada keluhan keluar
darah dari jalan lahir.
O/
Keadaan Umum: Baik
Kesadaran: compos mentis
Tekanan Darah: 105/75 mmHg
Nadi: 80x/i
Laju pernapasan: 18x/i
Suhu: 36,6C
Status Generalisata
Mata: Konjungtiva palpebra inferior
tidak anemis, sklera tidak ikterik
T/H/M: dalam batas normal
Leher: tidak ada perbesaran KGB
Thorax: veikuler di kedua lapang paru,
rhonki dan wheezing tidak ditemukan
Cor: BJ1>BJ2, tidak dijumpai adanya
gallop dan murmur
Abdomen: membuncit sesuai umur
kehamilan
Ektremitas: edema tidak dijumpai,
akral hangat
Status Ginekologis:
Inpeksi: v/u tenang, perdarahan dari
jalan lahir tidak ada lagi.

A/
G1 hamil 33-34 minggu, Janin
Tunggal Hidup Presentasi Kepala,

25
Perdarahan Ante Partum ec. Plasenta
Previa Totalis

P/
Hemodinamik stabil Observasi keadaan
umum, tanda vital, His,
DJJ dan perdarahan
Cegah Kontraksi Adalat oros 1x30 mg
Pematangan paru Dexamethasone 6mg/12
jam
Multivitamin SF 2x1
Edukasi Bed rest total

26
BAB IV
PEMBAHASAN

Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien dengan usia kehamilan 33-34
minggu datang dengan keluhan perdarahan dari jalan lahir yang dialami sejak 6
jam sebelum masuk rumah sakit. Darah yang keluar berwarna merah segar,
Perdarahan yang terjadi pada usia diatas 22 minggu hingga awal persalinan
disebut dengan perdarahan antepartum. Darah yang berwarna merah segar
merupakan salah satu ciri perdarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta
previa. Perdarahan terjadi akibat mulai terbentuknya segmen bawah rahim pada
trimester ketiga. Terjadinya penipisan dan dilatasi dari ostium uteri internum
mengakibatkan tempat implantasi plasenta terganggu. Plasenta akan teregang dan
mengakibatkan pecahnya pembuluh darah disekitar plasenta sehingga terjadilah
perdarahan. Segmen bawah rahim memiliki lapisan otot yang minimal, sehingga
tidak dapat berkontraksi secara adekuat untuk menghentikan perdarahan yang
terjadi.

Pasien juga mengaku darah yang keluar tanpa disertai dengan rasa nyeri.
Hal inilah yang membedakan perdarahan antepartum yang terjadi akibat plasenta
previa atau solusio plasenta. Pada plasenta previa, darah yang keluar tidak disertai
dengan nyeri dan keluar tanpa sebab. Sedangkan pada solusio plasenta, darah
yang keluar berwarna merah gelap dan hampir selalu disertai dengan nyeri perut
yang hebat. Tingkat nyeri biasanya berbanding lurus dengan derajat terlepasnya
plasenta.

Pada pemeriksaan inspekulo didapatkan fluxus positif yang menandakan


ada perdarahan aktif yang terjadi. Juga tampak plasenta yang menutupi seluruh
ostium uteri eksternum, yang merupakan tanda plasenta previa totalis. Pada pasien
ini VT (vaginal touche) tidak dilakukan, karena dapat memperparah perdarahan
yang terjadi.

Selama masa rawatan di rumah sakit pasien diberikan tokolitik. Tokolitik


berguna untuk mencegah timbulnya kontraksi uterus, mengingat usia kehamilan
pasien masih preterm dan pasien belum mengeluhkan tanda-tanda inpartu seperti

27
mules-mules dan keluar lendir darah. Menunda terminasi kehamilan pada kasus
plasenta previa dilakukan bila tidak terdapat tanda tanda inpartu. Diupayakan
untuk dilakukan terapi ekspetatif agar janin memiliki kesempatan untuk tetap
tumbuh dan berkembang dalam kandungan hingga usia janin matur. Agen
tokolitik yang diberikan adalah golongan Calsium-channel blocker yaitu
Nifedipin dengan dosis 10 mg titrasi dan dilanjutkan maintenance dengan
menggunakan Adalat Oros dengan dosis 30 mg per hari.
Selain pemberian tokolitik, pasien juga diberikan pematangan paru untuk
janin untuk mengantisipasi kelahiran prematur akibat perdarahan masif pada
kehamilan yang belum aterm. Pematangan paru yang diberikan adalah
Dexamethasone dengan dosis 6 mg yang diberikan setiap 12 jam selama 2 hari.

28
BAB V
KESIMPULAN

Plasenta previa digambarkan sebagai salah satu kondisi patologis dari


plasenta yaitu plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim atau sangat
dekat dengan ostium uteri internum (OUI). Plasenta previa diklasifikasikan
menjadi: Plasenta previa yaitu plasenta yang menutupi Ostium Uteri Internum
(OUI) dan plasenta letak rendah yaitu plasenta yang letaknya sangat dekat dengan
Ostium Uteri Internum. Plasenta previa ditegakkan jika jarak plasenta dengan
OUI adalah 1-10 mm, sedangkan low lying placenta ditegakkan jika letaknya
adalah 10-20 mm dari OUI.
Plasenta previa adalah permasalahan dengan penyebab yang belum pasti.
Terdapat beberapa keadaan abnormal yang terjadi pada permasalahan dari
plasenta previa yaitu dengan beberapa teori. Terdapat beberapa faktor risiko yang
dapat meningkatkan angka kejadian dari plasenta previa yaitu faktor dari usia ibu,
multi paritas, kehamilan dengan riwayat seksio sesaria, ibu dengan riwayat
operasi pembedahan (miomektomi, histerektomi), merokok, peningkatan MSFAP.
Terdapat trias gejala pada plasenta previa yaitu: painless, causeless, dan
recurrent. Hal ini dikarenakan pada plasenta previa, perdarahan yang terjadi pada
ibu tidak disertai nyeri. Perdarahan yang terjadi adalah robeknya pembuluh darah
di sekitar plasenta yang memungkinkan terjadinya perdarahan. Nyeri yang tidak
dirasakan karena pada plasenta tidak adanya serabut saraf.
Disebut causeless karena pada plasenta previa tidak disertai gejala lain
yang merujuk untuk terjadinya perdarahan sehingga penyebab perdarahan akan
sulit ditegakkan sebelum dilakukan pemeriksaan fisik lanjutan seperti inspekulo
dan pemeriksaan penunjang berupa USG Transvaginal yang merupakan gold
standart dari penegakan diagnosis pada plasenta previa.Perdarahan yang berulang
diakibatkan karena melebarnya segmen bawah rahim yang terjadi seiring dengan
usia kehamilan pada ibu.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Luo F, Xie L, Xie P, Liu S, Zhu Y. Taiwanese Journal of Obstetrics &


Gynecology Intraoperative aortic balloon occlusion in patients with
placenta previa and / or placenta accreta: a retrospective study. Taiwan J
Obstet Gynecol. 2017;56(2):14752.

2. Dutta DC. Textbook of Obstetric. 8th ed. Hiralal K, editor. New Delhi:
Jaypee Mothers Medical Publisher; 2013.

3. Downes MKL, Hinkle SN, Sjaarda LA, Albert PS, Grantz KL. Program of
the National Institutes of Health , Eunice Kennedy Shriver National
Institute of Child National Institutes of Health , Bethesda MD. Am J Obstet
Gynecoll. 2015;

4. Pittini A, Barrett J, Stratulat V, Glanc P, Hamilton O, Dicke JM. Resolution


of placenta previa diagnosed at the mid-trimester anatomy scan. Am J
Obstet Gynecol. 2017;216(1):S1712.

5. Dmsc BTBGS, Mb EM, Lykke MR, Prst J, Hvas A, Dmsc LH, et al.
during cesarean delivery for placenta previa. Am J Obstet Gynecol.
2017;15.

6. Cunningham FG. Williams Obstetric. 24th ed. New York: McGraw-Hill


Companies, Inc.; 2014.

7. Berghella V. Obstetric Evidence Based Guidelines. 2017th ed.


Philadelphia, USA: CRC Press; 2017.

8. Rachimhadji, Wiknjosastro. Pembuahan, Nidasi dan Plasentasi, Plasenta


dan Cairan Amnion. In: Ilmu Kebidanan. 4th ed. Jakarta: Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 2008. p. 14355.

9. Serudji J, Sulin D. Implantasi dan Perkembangan Plasenta. In: Hariadi R,


editor. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. 1st ed. Surabaya: Himpunan

30
Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia;
2004. p. 814.

10. Cunningham F, Leveno K, Bloom SL, Hauth C, Rouse DJ, Spong CY.
Implantation, Embryogenesis, and Placental Development. In: Williams
Obstetrics. 23rd ed. USA: McGraw-Hill Companies, Inc.; 2014. p. 3446.

11. Chalik TMA. Perdarahan Kehamilan Trimester Ketiga. In: Ilmu


Kedokteran Fetomaternal. 1st ed. Surabaya: Himpunan Kedokteran
Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia; 2004. p.
25462.

31