Anda di halaman 1dari 23

Diabetes Mellitus dan Penyakit Kardiovaskular

Zainal Safri, Djoko Soemantri

I. Definisi Diabetes Mellitus (DM)

Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan


karakteristik hiperglikemia kronis dan gangguan pada metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kombinasi keduanya.1

II. Peran Diabetes Mellitus Terhadap Penyakit Jantung Koroner

II.1. Epidemiologi

Prevalensi penderita DM di dunia saat ini adalah 195 juta jiwa dan akan terus
meningkat setiap tahunnya. Sekitar 97% diantaranya adalah penderita DM tipe 2. Jumlah ini
akan meningkat menjadi 330-500 juta pada tahun 2030. Kenaikan ini akan berdampak pada
peningkatan jumlah penderita diabetes dengan penyakit kardiovaskular. 2
Di Amerika,DM tipe 2 sekarang epidemi, terjadi peningkatan kasus sebanyak 61% dari
tahun 1990-2001, dan pada tahun 2005 ada sekitar 21 juta jiwa penderita DM tipe 2, epidemi
dari DM juga terus bertambah di negara berkembang. Di Indonesia pada tahun 2000
diperkirakan sekitar 8,4 juta penderita DM dan diperkirakan pada tahun 2030 nanti menjadi
21,3 juta. 3
Meningkatnya kasus DM berhubungan dengan perubahan gaya hidup yang
menyebabkan kelebihan berat badan dan penurunan aktifitas fisik, perubahan lingkungan ini
diikuti dengan adanya predisposisi genetik, meningkatnya resistensi insulin yang akhirnya
menimbulkan kerusakan beta sel yang progresif. 3
Prevalensi diabetes secara spesifik meningkat dengan bertambahnya umur terutama
pada dekade 7 dan 8 pada wanita maupun pria. Prevalensi DM pada kelompok umur < 60
thn sekitar < 10 %, dan pada kelompok umur 60-69 thn 10-20%, pada yang lebih tua sekitar
15-20 %, diperkirakan ada sekitar 30-40 % yang punya resiko suatu saat menjadi diabetes.
Prevalensi IGT meningkat secara linier dengan umur, prevalensi ganguan hoemostasis
glukosa ini pada umur pertengahan sekitar 15 % dan pada yang lebih tua antara 35-40%. 4
Dua penelitian cohort besar yaitu Multipel Risk Faktor International Study dengan
5000 populasi laki-laki yang diikuti selama 12 tahun, menunjukkan angka kematian pada
pasien DM meningkat lebih dari 3 kali lipat dibandingkan dengan pasien non DM, dan The
Chicago Heart Association Project in Industry Study yang diikuti selama 22 tahun juga
menunjukkan hal yang sama. 4

II.2. Prediabetes dan Penyakit Jantung Koroner

Perubahan dari abnormalitas metabolik merupakan awal dari diabetes yaitu Impaired
Fasting Glukose (IFG) dan Impaired Gukose Tolerance (IGT). Perubahan ke arah diabetes
butuh waktu beberapa tahun dan sekitar 70% diantaranya menjadi diabetes. Pada saat
stadium prediabetik ini resiko untuk terjadinya penyakit kardiovaskular juga meningkat dan ini
berjalan terus seiring dengan perkembangan ke stadium diabetes, komplikasi ini juga berjalan
seiring dengan lama dan tingginya glukosa darah dan juga ditambah dengan faktor-faktor
resiko yang lain. 4,5
Dua keadaan prediabetik diatas masih diperdebatkan keadaan mana yang
meningkatkan resiko komplikasi penyakit kardiovaskular, oleh sebab itu secara klinis sangat

1
penting untuk mengetahui kedua nilai tersebut yang dihubungkan dengan meningkatnya
resiko penyakit kardiovaskular / Cardio Vaskular Disease (CVD). 4
Pada study Finnish yang terakhir juga melaporkan IGT merupakan independen risk
prediktor dari CVD dan peningkatan mortalitas. Pada Chicago Heart Study, dari 12.000 laki-
laki kulit putih dengan asimtomatik hiperglikemi ( KGD 1 jam PP > 200 mg/dl, akan
menigkatkan resiko mortalitas CVD dibandingkan dengan laki-laki dengan glukosa 1 jam PP
< 160 mg/dl. 4
Bukti yang paling nyata hubungan antara gangguan toleransi glukosa dengan
meningkatnya rasiko PJK telah di tunjukkan oleh DECODE Study, yang menganalisa data
dari lebih 10 penelitian prospektif cohort studi di Eropa pada lebih dari 22.000 subjek, dan
menyimpulkan bahwa kematian rata-rata dari semua kasus lebih tinggi secara bermakna
pada subjek diabetes dengan gangguan glukosa post prandial di banding yang normal. Angka
mortalitas juga meningkat signifikan pada subjek dengan IGT, tetapi tidak pada subjek
dengan IFT dan yang glukosa normal. Dengan analisa multivarian juga menunjukkan
peninggian glukosa 2 jam PP meningkatkan resiko mortalitas pada semua kasus CVD setelah
di sesuaikan / adjust dengan faktor resiko CVD yang lain, dan hal ini tidak terjadi pada subjek
dengan IFT. 4,5

II.3. Patofisiologi Komplikasi Penyakit Jantung Koroner pada Diabetes

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa DM memberikan dampak komplikasi pada
mikrovaskular maupun makrovaskular, komplikasi mikrovaskular berupa nefropati, neuropati
dan retinopati, sedangkan makrovaskular berupa aterosklerosis koroner, serebral dan arteri
perifer. 4,6
Komplikasi pada penyakit kardio vaskular sangat berpengaruh pada tingkat
morbiditas dan mortalitas pasien DM. Dari berbagai penelitian disebutkan bahwa DM
berhubungan langsung dengan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas terutama
penyakit jantung koroner (PJK). 7
Penyebab komplikasi PJK pada pasien DM bersifat multi faktorial, melibatkan interaksi
komplek dari berbagai keadaan seperti hiperglikemia, hiperlipidemia, stres oksidatif,
resistensi insulin / hiperinsulnemia, dan / atau hiperproinsulinemia serta perubahan-
perubahan pada proses koagulasi dan fibrinolisis. 7,8
Patofisiologi terjadinya komplikasi kardiovaskular pada diabetes didasari pada
terjadinya abnormalitas fungsi endothel dan otot polos pembuluh darah, dimana akan
mempermudah terjadinya trombosis yang berperan besar pada proses aterosklerosis dan
komplikasi-komplikasi yang lain. 6,8
II.3.1. Diabetes, Hiperglikemia dan Nitrit Oxide (NO)

Pada keadaan normal sel endotel secara aktif mengeluarkan bahan aktif Nitric Oxide
(NO), zat ini secara simultan dihasilkan oleh Endothelial NO synthase (eNOS) dengan
mengoksidasi 5 elektron dari guanidine-nitrogen L-arginine. Ketersediaan NO secara terus
menerus merupakan kunci dari pembuluh darah yang normal. 8
NO bekerja sebagai vasodilator pembuluh darah dan melindungi endothel pembuluh
darah dari kerusakan endogen seperti, aterosklerosis dengan memberikan signal untuk
mencegah interaksi platelet dan leukosit dengan dinding pembuluh darah, juga mencegah
proliferasi dan migrasi otot polos pembuluh darah. Sebaliknya pada keadaan NO yang
berkurang akan meningkatkan aktifitas transkripsi proinflamasi faktor yaitu Nuclear Factor
kappa B (NF-B), yang menyebabkan terpaparnya melekul adhesi leukosit dan mensekresi
kemokin dan sitokin, keadaan ini akan menimbulkan migrasi dari monosit dan sel otot polos
pembuluh darah ke bagian intima dan membentuk sel busa (foam cells), yang mendasari
awal perubahan morfologi terjadinya aterosklerosis. Ketersediaan NO Sangat bergantung

2
pada keseimbangan antara produksi oleh eNOS dan pemecahannya yang disebabkan radikal
bebas. 8,9,10
Konsentarsi glukosa intrasel dari sel endotel dicerminkan oleh glukosa ekstrasel. Bukti
dari banyak penelitian menunjukkan bahwa keadaan hiperglikemia akan menurunkan NO
endotel, yang mengakibatkan penurunan efek vasodilatasi pembuluh darah. 8
Hiperglikemia akan meningkatkan produksi beberapa zat reaktif oksigen (anion
superoxide) yang akan menginaktifkan NO ke bentuk peroxynitrite. Hiperglikemia awalnya
akan meningkatkan produksi anion superoxide melalui transfer oksigen dari mitokondria.
Superoxide anion ini kemudian merangsang endotel membentuk elemen-elemen sel yg
nantinya akan menghasilkan radikal bebas. Sebagai contoh aktifitas anion seperoxide
terhadap Protein C Kinase (PCK), dan sebaliknya juga, aktifitas dari PCK ini juga akan
merangsang pembentukan anion superoxide berikutnya. Aktifitas PKC berakibat pada
regulasi dan aktifasi pada NAD(P)H yang berikutnya menghasilkan anion superoxide, anion
superoxide akan mengaktifkan jalar hexosamine yang akan menurunkan aktifitas NOS dan
akhirnya akan mengganggu keseimbangan NO dan menginaktifkan efeknya. 8,9,10
Peningkatan anion superoxide dari mitokondria juga akan meningkatkan produksi
Advanced Glycation End Products (AGEs) intraseluler. Protein ini akan berefek pada fungsi
seluler dimana AGEs akan meningkatkan produksi radikal bebas. AGEs di bagian lain juga
akan merangsang Receptor AGEs (R-AGEs) , keadaan ini juga akan meningkatkan produksi
anion superoxide. 4,8,10
Hiperglikemia juga merangsang molekul stres oksidatif melalui peningkatan
dimethylarginine yang merupakan zat kompetitif dari NOS. Hipeglikemia juga meningkatkan
produksi second messenger diacylglycerol dari lipid yang akan mengaktifasi PCK, aktifasi
jalur ini akan menginhibisi jalur phosphatidylinositol 3 kinase, dengan demikian akan
mengurangi aktifitas Akt kinase dan aktifitas phosporilasi pada NOS, sehingga produksi NO
berkurang. 8,9
Suatu enogenous kompetitor terhadap NO telah diketahui yang nantinya
memperantarai suatu kerusakan fungsi vasodilator endothel yaitu Asimetrical Dimethilarginin
(ADMA). Peningkatan secara langsung disebabkan oleh adanya resistensi insulin. Akumulasi
dari ADMA ini akan membuat kerja NO melemah. 10

Gambar 1. Efek hiperglikemia pada endotel pembuluh darah. Di kutip dari 8


II.3.2. Diabetes, Asam Lemak Bebas dan Gangguan Endothel

3
Jumlah asam lemak bebas / Free Fatty Acid (FFA) dalam sirkulasi pasien diabetes
meningkat disebabkan pelepasan dari jaringan adiposa dan menurunnya pengambilan dari
otot skeletal. Peninggian dari FFA bebas ini menyebabkan gangguan pada endothel melalui
beberapa mekanisme termasuk peninggian produksi radikal bebas, aktifitas PKC dan
dislipidemia itu sendiri. Hal ini telah dibuktikan dengan memberi FFA melalui infus pada
binatang percobaan yang berakibat menurunnya vasodilatasi pembuluh darah, dan dengan
menginfus kembali dengan anti oxidan membuat vasodilatasi kembali. 8,9,11
FFA akan mengaktifasi sumber enzimatik oxidan intraselular, termasuk Pkc, NADPH
oxidase dan eNOS yang menghasilkan peningkatan dari superoxide yang akhirnya
menurunkan aktifitas dari NOS. 10
Respon dari liver terhadap meningkatnya FFA dengan meningkatkan produksi VLDL
dan ester colesterol dan akhirnya akan meningkatkan trigliserida dan berkurangnya aktifitas
lipoprotein lipase sehingga menimbulkan hipertrigliserida yang khas pada penderita diabetes.
Gangguan dari lipid ini menyebabkan perubahan pada morfologi dari LDL yang sangat
aterogenik (small dense LDL). Hipertrigliserida, rendahnya HDL dan tingginya LDL
berhubungan dengan ganguan fungs dari endotel. 8,10,11

II.3.3. Diabetes, Endotel dan Vasokontriktor

Pada penderita diabetes disfungsi endotel tidak hanya disebabkan oleh menurunnya
NO saja, tetapi juga disebabkan oleh meningkatnya sintesa zat-zat vasokontriksi prostanoids
dan endotelin. Pada keadaan hiperglikemia ekspresi dan jumlah siklooksigenase-2 mRNA
meningkat dan keadaan ini telah dibuktikan pada beberapa penelitian. 8
Pada keadan produksi endotelin yang berlebihan akan merangsang proses inflamasi
yang menyebabkan vasokontriksi dan proliferasi otot polos pembuluh darah. 10
II.3.4. Diabetes dan Otot polos pembuluh darah

Disregulasi dari fungsi otot polos pembuluh darah disebabkan kerusakan pada fungsi
syaraf simpatis, meningkatnya aktifitas PKC, produksi NF-B dan radikal bebas. Lebih lanjut
diabetes juga akan mempertinggi migrasi sel otot polos pembuluh darah ke dalam lesi
atherosklerosis, sel tersebut akan melakukan replikasi dan menghasilkan matriks
ekstraselular dan akhirnya lesi tersebut menjadi matur. Pada lesi aterosklerosis proses
apoptosis juga meningkat. Kolaborasi dari sitokin akan merangsang sntesis kolagen dari otot
polos pembuluh darah dan meningkatkan produksi matriks metaloproteinase dan hal ini akan
meningkatkan tendensi terjadinya ketidakstabilan plak dan ruptur. 6,10

4
Gambar 2 : Efek dari abnormalitas metabolik pada penderita diabetes. Di kutip dari 6
II.3.5. Diabetes, Trombosis dan Koagulasi

Seperti yang telah diketahui bahwa pada penderita diabetes terjadi ganguan fungsi
trombosit, selain itu terjadi peningkatan ekspresi glikoprotein Ib dan IIb/IIIa, meningkatnya
adhesi trombosit dengan vWF dan interaksi trombosit. Hiperglikemia lebih lanjut merubah
fungsi trombosit melalui gangguan pada homeostasis Ca, dan juga pelepasan berbagai
mediator-mediator sehingga agregasi trombosit meningkat. 12
Pada penderita diabetes juga terjadi peningkatan koagulasi ( faktor VII dan trombin ),
tissue faktor, penurunan dari anti koagulan endogen ( trombomodulin), dan juga terjadi
peningkatan produksi Plasminogen Activator Inhibitor-I (PAI-I). yang merupakan inhibitor
fibrinolisis. Keadaan tersebut diatas akan meningkakan resiko terjadinya trombosis dan
rupturnya status plak pada pasien diabetes. 4,10

Gambar 3: Gangguan fungsi trombosis dan koagulasi pada diabetes. Di kutip dari 8
II.4. Peran Intervensi Terhadap Faktor Resiko

5
II.4.1. Intervensi terhadap Life-Style

Managemen Lifestyle seperti Diet dan latihan terbukti dapat menurunkan faktor resiko
terhadap penyakit kardio vaskular, seperti lipid, tekanan darah, berat badan dan mengontrol
glukosa. Selama ini intervensi terapi hanya berfokus kepada penurunan berat badan,
sekarang fokus utama managemen life-style adalah mengontrol glukosa darah dan faktor
resiko yang lain. Target yang ingin di capai disini adalah penurunan konsumsi lemak, dan
meningkatkan aktifitas fisik secara regular. 4,13
Pelaksanaan manejemen life-style harus meliputi peningkatan dari aktifitas fisik dan
diikuti penurunan berat badan, yang didasari dengan pembatasan pada intake kalori dan
lemak. Rekomendasi terhadap aktifitas fisik adalah melakukan olah raga selama 30 mnt
paling kurang 5 kali seminggu. Penurunan intake kalori sampai 1500 kal/hari, pengurangan
intake lemak sampai 30-35% dari total energi (10% monounsaturated) dan hindari lemak
trans, peningkatan up-take jenis fiber sampai 30 g/hari dan hindari jenis mono dan
polisakarida. Semua pasien diabetes juga diarahkan untuk tidak merokok, harus selalu
ditanyakan tentang status merokok setiap kunjungan, dan jika tidak bisa menghentikan harus
dikonsulkan ke ahlinya. 4,13
Beberapa penelitian menunjukkan perobahan gaya hidup dapat menurunkan resiko
terhadap kardiovaskular dan diabetes. Penurunan sekitar 7 % dari berat badan selama satu
tahun menunjukkan penurunan yang bermakna terhadap kejadian CVD. Guidelines
merekomendasi aktifitas fisik yang regular dan intensitas sedang. Aktifitas fisik tersebut juga
mengurangi semua faktor resiko kardiometabolik. 12
Edukasi dan non farmakologi life-style dapat memperbaiki kontrol metabolik dan
tekanan darah pada pasien diabetes seperti yang telah direkomendasikan.

II.4.2. Intervensi terhadap Hipertensi

Prevalensi penderita diabetes tinggi pada penderita hipertensi dibandingkan populasi


normal, dan penurunan tekanan darah akan menurunkan resiko PJK. Diabetes dan hipertensi
secara bersama-sama merupakan resiko terhadap atheroslerosis. Hipertensi secara
langsung akan meningkatkan tekanan dan kerusakan pada endotel pembuluh darah. 4
Penelitian epidemiologi dan studi klinik telah membuktikan peninggian TD pada
penderita diabetes merupakan faktor risiko untuk terjadinya komplikasi makro dan
mikrovaskular.
Penurunan tekanan darah harus dilakukan secara agresif. Pada penelitian UKPDS
dan The Hypertension Optimal Treadment (HOT) melaporkan bahwa terapi terhadap tekanan
darah yang agresif akan menurunkan insiden CVD. 4
Pada studi ACCORD yang melakukan penelitian untuk melihat efek pada TD S < 140
mmHg, yang membagi kelompok TD S < 120 mmHg dan TD S < 140 mmHG, didapatkan
bahwa pada penurunan TD S < 120 menurunkan CVD events lebih bermakna di
bandingkan kelompok dengan TD S < 140 mmHg. 4
Penelitian lain juga menunjukkan pengunaan thiazid, ACE inhibitor, ARBs, Beta
Blocker dan Calsium channel blocker, menunjukkan perbaikan dan mencegah komplikasi
diabetes dan CVD events. 14
Pada pasien DM dengan hipertensi diharapkan tekanan darah bisa terkontrol dibawah
130/80 mmHg. Dan penggunaan obat ACE inhibitor merupakan bahagian yang penting dalam
terapi.4,13
Rekomendasi target tekanan darah pasien diabetes adalah dibawah 130/80 mmHg.
Jika dapat ditoleransi dengan baik pasien diabetes dengan nefropathi harus diterapi dengan
target TD yang lebih rendah. 4

6
II.4.3. Intervensi terhadap Lipid

Dalam pencegahan terhadap risiko CVD sangat diperlukan perhatian terhadap efek
atherogenik dari dislipidemia, termasuk peningkatan dari trigliserida, randahnya HDL,
meningkatnya LDL small dense dan peningkatan dari kadar apolipoprotein B, semua
perubahan itu berhubungan dengan peningkatan resiko atherosklerosis. 15
Pada pasien DM tipe 2, Trigliserida biasanya meningkat, HDL secara umum menurun
dan LDL meningkat. Evaluasi terhadap LDL merupakan sasaran primer dari terapi lipid, fokus
terhadap LDL ini telah dibuktikan pada penelitian klinik, bahwa dengan menurunkan LDL
dengan statin menurunkan resiko mayor CVD events pada penderita diabetes. 4
Data studi observasi dari UKPDS menunjukkan bahwa peningkatan 38,7 mg/dl dari
LDL kolesterol akan meningkatkan CVD endpoints sebesar 57%. Dan meningkatnya HDL
sebesar 4 mg/dl akan menurunkan CVD endpoints sebesar 15%. Pada penelitian The Heart
Protection Study menunjukkan bahwa pasien-pasien diabetes Tipe 2 yang diterapi dengan
statin menunjukkkan penurunan resiko terhadap kejadian koroner sebesar 27%, dan
penununan ini menunjukkkan tidak ada perbedaan resiko pasien diabetes dengan non-
diabetes. Pada Scandinavian Sinvastatin Survival Study (4S), yang dilakukan terhadap 2200
penderita dengan PJK, didapatkan bahwa penurunan kolesterol berhubungan dengan
penurunan angka mortalitas kardiovaskular 42% dan total mortalitas30%. Sekitar 5 % dari
pasien penelitian tersebut juga penderita diabetes, dan pada kelompok ini terjadi penurunan
sekitar 55% terhadap kejadian koroner. Pada penelitian lain, Colesterol and Recurrent Events
Trial (CARE), sekitar 14% pasien penelitian penderita diabetes dan setelah dilakukan
intervensi terjadi penurunan kejadian koroner sekitar 25%. Pada penelitian Pravastatin
Atorvastatin Evaluation and Infection Therapy (PROVE-IT) didapatkan penurunan yang
signifikan sekitar 16% terhadap kejadian kardiovaskular dengan menurunkan serum LDL
secara intensif. Hal yang sama juga ditunjukkan pada penelitian Treat to New Target Trial
(TNT) dapat menurunkan resiko sekitar 22% dibandingkan terapi standar. 4,15,16
Trigleserida yang meningkat merupakan hal yang sering dijumpai pada penderita
diabetes, dan hal ini merupakan target kedua setelah LDL pada pengobatan dislipidemia.
Pada Helsinki Heart Study dilakukan pada 135 pasien DM tanpa kelainan CV dan diberikan
600 mg gemfribrozil 2 x 1 dibandingkan dengan kelompok lain yang mendapat placebo,
hasilnya dapat menurunkan rasiko relativ terhadap kematian akibat serangan jantung dan
infark jantung sebanyak 68 %. Pada Study FIELD yang dilakukan terhadap 9795 pasien
diabetes type 2, juga menurunkan 19 % total kematian CVD events dan non fatal infark
miokard. 4,13
The National Cholesterol education Program (NCEP) dan Adult Treatment Panel III
(ATP-III) juga merekomendasikan bahwa orang-orang dengan diabetes tanpa penyakit
kardiovaskular harus diterapi sama dengan orang orang-orang non diabetes yang punya
penyakit kardiovaskular. Diabetes dianggap penyakit yang sepadan dengan PJK. 15
Rekomendasi target terapi dari total kholesterol adalah < 174 mg/dl, dan LDL < 97
mg/dl. Untuk penderita dengan resiko sangat tinggi target LDL < 70 mg/dl. 4

II.4.4. Intervensi terhadap Agregasi Platelet

Penurunan agregasi platelet dengan pemberian aspirin sangat efektif dan murah
untuk menurunkan angka mortalitas dan morbiditas pasien dengan PJK.
Keuntungan pemberian aspirin pada penderita diabetes telah banyak diketahui. Pada
meta analisis dari 145 penelitian menunjukkan pemberian aspirin telah menurunkan angka
moikard infark dan stroke. Setelah pemberian aspilet didapatkan resiko kearah PJK sama
dengan penderita yang non-diabetes. 16

7
Pada Studi Early Treatment of Diabetic Retinopathy yang memberikan aspirin pada
3711 orang pasien DM didapatkan penurunan relativ risk untuk non fatal dan fatal infark
miokard sebesar 0.83. Penelitian terhadap terapi anti-thrombotic menunjukkkan bahwa dosis
efektif optimal terapi aspirin dengan dosis 75 sampai 150 mg perhari, dengan loading dose
150-300 mg dapat diberikan jika menginginkan efek yang lebih cepat. 4
Aspirin juga digunakan untuk mencegah risiko penyakit kardiovaskular pada pasien
DM dengan risiko tinggi yang lain seperti riwayat keluarga, hipertensi, perokok, dislipidemia
atau albuminuria.12,13
Penambahan suatu Thienopiridines (Ticlopidine, Clopidrogrel) yang bekerja dengan
inhibisi tehadap reseptor adenosin diphospat menguntungkan pada pasien unstable angina
dan infark non-ST elevasi. Penelitian CURE merekomendasikan penggunaan clopidrogrel 75
mg perhari yang dikombinasikan dengan 75-150 mg aspirin selama 9-12 bulan paska
sindroma koroner akut. Pada penelitian CAPRIE juga menunjukkan penambahan clopidogrel
memberikan proteksi yang lebih baik dari kematian akibat penyakit pembuluh darah, reinfark,
stroke dan kejadian iskemia pada pasien diabetes dan penyakit pembuluh darah. 4

Gambar 4. Pendektan terapi diabetes dengan panyakit kardiovaskular. Dikutip dari 6

II.4.5. Intervensi terhadap Hiperglikemia

Target faktor resiko lain yang perlu dilakukan dalam mencegah PJK adalah terapi
terhadap glukosanya. Kontrol glukosa darah secara jelas terbukti menurunkan komplikasi
pada penderita diabetes. 4
Dari berbagai studi epidemiologi yang mendasari rekomendasi target glukosa darah
didapatkan kesimpulan, dengan peningkatan 1% dari A1c akan meningkatkan risiko relatif
dari CVD sekitar 15% pada DM tipe 1 dan 18% pada DM tipe 2. Pada penelitian ACCORD
terhadap 10.000 pasien DM type 2 merekomendasikan nilai A1c yang harus dicapai adalah
6 sampai 7.5 %. Pada penelitian the Diabetes Mellitus Insulin-Glukosa Infusion Acut
Myocardial Infarction (DIGAMI) pemberian insulin infus selama rawatan dan diikuti selama 3
bulan dengan terapa intensif insulin, menurunkan angka kematian kardiovaskular sekitar 29%
dalam 1 tahun. Data tersebut mendukung bahwa kontrol terhadap glukosa darah akan
menurunkan resiko PJK. Pada penelitian the Second DIGAMI yang membandingkan tiga
jenis kelompok terapi pemberian insulin pada pasien diabetes yang menderita IMA,
menunjukkan kelompok terapi insulin infus lebih superior dibandingkan konvensional. Dan

8
hasil DIGAMI 2 juga menguatkan bahwa kadar glokosa darah merupakan prediktor
independent dalam mortalitas jangka panjang dari miokard infark pada pasien diabetes,
peningkatan sekitar 20% angka kematian jangka panjang terjadi setiap kenaikan plasma
glukosa 3 mmol/l. 4,16
Berdasarkan penilitian yang sudah dilakukan didapatkan keuntungan dengan
memberian insulin infus pada pasien yang menderita IMA dengan diabetes, dimana kontrol
glukosa akan didapatkan segera. Pada pasien-pasien yang dirawat dengan glukosa yang
relatif normal, dapat kita tangani dengan memberikan obat anti glukosa oral. 4
International Diabetes Association dan American Association of Clinical
Endocrinology merekomendasikan HbA1c 6,5, sedangkan American Diabetic Association
HbA1c 7.4,13
II.5. Skrining PJK pada Pasien Diabetes Mellitus

Diabetes dan penyakit kardiovaskular sering muncul seperti dua sisi mata uang,
disatu sisi Diabetes Mellitus (DM) muncul bersamaan dengan Penyakit Jantung Koroner
( PJK), dan pada sisi yang lain banyak penderita yang di diagnosa PJK berawal dari
diabetes atau prediabetes. 4
Pada pasien-pasien dengan diabetes yang tidak jelas menderita PJK, para klinisi
harus memutuskan melakukan pemeriksaan test awal terhadap PJK dan harus memikirkan
pemeriksaan apa yang harus dilakukan. Orang-orang dengan diabetes harus dilakukan
evaluasi terhadap adanya riwayat menderita PJK sebelumnya atau pernahkah mengalami
serangan jantung sebelumnya.16
Tidak semua penderita diabetes harus dilakukan test kardiovaskular.
Indikasi dilakukan test terhadap kardiovaskular pada penderita diabetes adalah: 16
1. Mempunyai gejala kardiak yang tipikal dan atipikal
2. ECG istirahat diduga suatu iskhemia atau infark
3. Menderita penyakit oklusi arteri perifer atau karotik
4. Orang-orang dengan sedentary lifestyle, umur > 35 tahun dan mempunyai rencana
melakukan program exercise yang berat
5. Mempunyai 2 atau lebih faktor risiko :
a. Total kolesterol 240 mg/dl, LDL 160 mg/dl, atau HDL < 35 mg/dl
b. Tekanan Darah > 140/90 mmHg
c. Perokok
d. Riwayat keluarga menderita PJK usia muda
e. Mikro/makroalbumin test yang positif

Secara umum pemilihan jenis pemeriksaan yang dilakukan pada penderita diabetes
sama dengan populasi non-diabetes. Jika skrining test dilakukan pada pasien dengan resiko
rendah ( pasien tanpa gejala, dan ECG resting normal ) pemilihan TreadMill exercise test
standar merupakan pilihan pertama. Tetapi pada pasien-pasien diabetes dengan angina
yang khas dan adanya gel Q patologis pada ECG , Ekhokardiografi (stress echo) dan
kateterisasi merupakan pilihan. 4
The European Society of Cardiology (ESC) dan The European Association for the
Study of Diabetes (EASD) telah membuat algoritma untuk membantu kita membuat
pendekatan terhadap hal tersebut, seperti pada gambar 5.4
II.6. Skrining Diabetes pada Pasien Penyakit Jantung Koroner

Diperkirakan bahwa lebih dari 50% dari pasien-pasien diabetes tidak terdiagnosa
dengan baik, karena penyakit diabetes pada awalnya tidak menunjukkan gejala klinis yang
khas dalam beberapa tahun, sehingga tidak terdiagnosa. Deteksi orangorang yang tidak
terdiagnosa diabetes sangat penting dalam praktek klinik maupun kesehatan masyarakat,

9
karena prognosis sebagian pasien dapat diperbaiki dengan deteksi dan terapi yang lebih
awal. Bukti tidak langsung menunjukkan bahwa skrining awal terhadap diabetes akan
memberikan keuntungan dalam mencegah komplikasi kardivaskular. Dan skrining juga akan
mengidentifikasi pasien-pasien dengan gangguan toleransi glukosa sehingga dapat dilakukan
intervensi dengan perubahan gaya hidup ataupun obat-obatan yang akan menurunkan atau
mencegah terjadinya diabetes dan juga resiko PJK. 4
Data dari studi-studi epidemiologi menunjukkan bahwa skrening dengan pemeriksaan
gula darah 2 jam PP tidak akan mendapatkan pasien-pasien yang menderita IFG, lebih dari
itu pemeriksaan yang hanya pada kadar Gula darah Puasa (GDP) juga tidak akan
memberikan diagnosis akurat untuk menegakkan diagnosa diabetes. Sedangkan dengan
pemeriksaan dengan OGTT akan memberikan data yang lengkap sesuai kriteria diagnostik.
Oleh sebab itu pemeriksaan OGTT merupakan pilihan utama dalam skrening diabetes pada
PJK. Apalagi pasien-pasien dengan gangguan kardiovaskular, ketika terjadi gangguan
glukometabolik kebanyakan kasus terjadi peningkatan pada glukosa 2 Jam PP saja,
sedangkan GDP normal. Oleh sebab itu pemeriksaan GDP saja tidak berguna. 4
Pemeriksaan terhadap HbA1C sangat berguna dalam menilai metabolik kontrol dan
juga penilaian terhadap terapi. Tetapi HbA1C bukan suatu pemeriksaan yang
direkomendasikan dalam mendiagnosa diabetes. Peninggian dari HbA1C mungkin akan
mengidentifikasi orang-orang yang sudah menderita diabetes tanpa gejala ( lihat skema
diatas). 4

Gambar 5 : Algoritme pendekatan terhadap pasien PJK dan Diabetes. Dikutip dari 4
III. Patofisiologi Diabetes Mellitus, Komplikasi Kardiak dan Non Kardiak

III.1. Patofisiologi, Klasifikasi dan Diagnosis Diabetes Mellitus

Diabetes disebabkan oleh berbagai macam etiologi yang menyebabkan menurunnya


sekresi insulin atau/dan resistensi insulin. Kedua hal tersebut diatas disebabkan oleh
pengaruh faktor genetik ataupun faktor yang didapat. Pada awalnya peninggian glukosa
darah akan di kompensasi oleh peninggian jumlah sekresi insulin dari sel beta pankreas
(resistensi insulin). Setelah beberapa tahun terjadi penurunan fungsi dari sel pankreas
sehingga jumlah insulin yang diproduksi menurun dan terjadi peninggian glukosa darah.1
Sekarang ini telah diketahui bahwa dasar defek genetik adalah kerusakan pada sel
beta pangkreas. Kerusakan dari sel beta pangkreas ini menyebabkan menurunnya produksi

10
sekresi insulin dan ketidakmampuan untuk mengkompensasi saat terjadinya resistensi
insulin. 1,17
Pada individu dengan resistensi insulin yang tidak disertai kelainan genetik, sel
pangkreas akan mengkompensasi dengan meningkatkan produksi insulin untuk
mempertahankan kadar glukosa yang normal dan jika suatu saat produksi insulin menurun
akan berkembang menjadi diabetes. Pada orang dengan normal sel beta pangkreas diabetes
tidak akan berkembang sebagai lanjutan dari resistensi insulin. Resistensi insulin selain
disebabkan oleh faktor genetik, juga disebabkan oleh karena obesitas (terutama lemak
visceral), aktifitas yang menurun, diet tinggi lemak, efek dari tingginya glukosa (glukosa
toxicity) dan meningkatnya kadar asam lemak bebas/FFA (lipotoxicity). 17
Dasar dari abnormalitas pada metabolisme Karbohidrad, Lemak dan Protein adalah
akibat defisiensi kerja insulin pada target jaringan yang merupakan akibat dari kurangnya
insulin (defisiensi) dan/atau berkurangnya respon jaringan terhadap insulin (resistensi).
Akibatnya terjadi gangguan terhadap KH, lemak, dan protein akan timbul gejala yang khas
untuk penderita diabetes mellitus yaitu : Poliuria, Polidipsia, Poliphagia, Penuruna berat
badan dan Pruritus. 1
Klasifikasi dari diabetes didasarkan pada faktor etiologi dan dari perbedaan klinis
hiperglikemia. Empat klasifikasi dasar diabetes dari WHO adalah: diabetes tipe 1, tipe 2, tipe
lainnya dan diabetes gestasional. 4
Diabetes tipe 1 : DM tipe ini disebabkan oleh karena adanya defisiensi insulin yang
disebabkan adanya kerusakan pada sel beta pankreas. Biasanya terjadi pada usia muda,
tetapi bisa juga pada usia lebih tua. Meraka mempunyai antibodi yang akan merusak sel beta
pankreas, seperti antibodi asam glutamik dekarboksilase.
Diabetes tipe 2 : DM tipe ini disebabkan oleh kombinasi dari menurunnya sekresi
insulin dan menurunnya sensitifitas insulin. Pada tahap awal DM tipe 2 disebabkan oleh
adanya resistnsi insulin yang menyebabkan peninggian dari glukosa post prandial. Keadaan
ini diikuti oleh menurunnya fase pertama dari pengeluaran insulin dalam merespon
konsentrasi glukosa darah. Tipe ini hampir 90 % dari diabetes pada orang dewasa. Pasien-
pasien tipe ini biasanya gemuk dan kurang aktifitas.
Diabetes gestasional : DM tipe ini didasarkan pada setiap gangguan glukosa yang
berkembang selama kehamilan. Hampir 70% dari wanita dengan DM gestasi akan
berkembang menjadi diabetes di kemudian hari.
Diabetes tipe lain : Disini termasuk yang disebabkan defek genetik pada sel beta
pankreas, defek genetik pada kerja insulin, penyakit pada kelenjar eksokrin pankreas,
endokrinopati, penyebab obat-obatan atau zat kimia, infeksi, penyakit immun, sindroma
genetik lain seperti Downs sindrom, Friedreichs ataxia, Klinefelters sindrom, Wolfram
sindrom.
WHO juga telah merekomendasikan klasifikasi gangguan metabolisme glukosa
berdasarkan pemeriksaan glukosa puasa dan 2 jam post prandial, dan juga
merekomendasikan pemeriksaan dengan OGTT pembebanan standar 75 gram glukosa
harus dilakukan pada orang yang hiperglikemia diragukan. OGTT dilakukan pagi hari dengan
puasa 8 12 jam, sampel darah diambil sebelum dan 120 menit setelah diberikan beban
glukosa.
ADA (2003) dan WHO (1999) telah mengeluarkan kriteria baru untuk gangguan
metebolisme glukosa berdasarkan pemeriksaan glukosa darah puasa dan 2 jam post prandial
yaitu sbb: 4
1. Regulasi Glukosa Normal :
WHO : Kadar Glukosa Puasa <110 mg% ; 2 jPP <140 mg%.
ADA : Kadar Glukosa Puasa < 100 mg%.
2. Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT/ IFG) :
WHO : Kadar glukosa puasa > 110 mg% dan < 126 mg%; 2 jPP < 140 mg%.

11
ADA : Kadar glukosa puasa 100 mg% dan < 126 mg%.
3. Toleransi Glukosa Terganggu (TGT / IGT ) :
WHO : Kadar glukosa puasa < 126 mg% ; 2 jPP < 140 mg% dan < 200 mg%.
4. Diabetes Mellitus ( DM) :
WHO : Kadar glukosa puasa 126 mg% atau 2jPP > 200 mg%.
ADA : Kadar glukosa puasa 126 mg%.

Ada perbedaan antara uji diagnostik DM dan pemeriksaan penyaring. Uji diagnostik
DM dilakukan pada mereka yang menunjukkkan gejala / tanda DM, sedangkan pemeriksaan
penyaring bertujuan untuk mengidentifikasi mereka yang tidak bergejala, yang mempunyai
resiko DM. Pemeriksaan penyaring berguna untuk menjaring pasien DM, pasien toleransi
Glukosa terganggu (TGT/IGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT/IFG), sehingga
bisa direncanakan langkah selanjutnya yang tepat untuk mereka. Kelompok pre-diabetik ini
jika tidak ditangani dengan baik sebahagian besar akan menuju ke DM. 4
Diagnosa DM umumnya dipikirkan bila ada keluhan khas berupa poliuria, polidipsia,
polifagia, dan penurunan berat badan. Keluhan lain yang sering muncul adalah badan lemah,
kesemutan, gatal-gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria serta pruritus vulva pada
wanita. 4,17

III.2. Komplikasi Kardiak

III.2.1. Diabetes dan Sindroma Koroner Akut

Diabetes sering didapatkan pada pasien-pasien dengan Sindroma Koroner Akut


(SKA). Pada penelitian terakhir proporsi diabetes dengan SKA didapatkan sekitar 19-23%.
Pada pasien dengan SKA yang tidak diketahui adanya penyakit diabetes, kemudian
dilakukan pemeriksaan OGTT, didapatkan sekitar 65% dari pasien-pasien tersebut
mengalami gangguan regulasi glukosa, dari 25% pasien yang belum pernah didiagnosa
diabetes dan 40% pada yang sebelumnya sudah mengalami GDPT/IFG. Data dari The Euro
Heart Survey on Diabetes and the Heart yang mengambil data dari 25 negara
memperlihatkan bahwa, pada pasien-pasien yang masuk ke rumah sakit dengan diagnosa
PJK ketika dilakukan OGTT didapatkan sekitar 22% dari mereka menderita diabetes. Dan
didapatkan juga proporsi keseluruhan dari pasien-pasien diabetes dengan SKA sekitar 45%. 4
Laporan dari beberapa penelitian mengindikasikan dilakukan pemeriksaan glukosa
darah acak saat pasien masuk ke rumah sakit dengan diagnosa SKA. Tingginya konsentrasi
glukosa pada pasien diabetes walaupun sebelumnya tidak pernah didiagnosa diabetes
berhubungan kuat dengan outcome yang jelek pada saat dirumah sakit maupun jangka
panjang. 4
Studi The Landmark Diabetes Glukosa And Myocardial infarction (DIGAMI) dimana
pada pasien dengan SKA dan hiperglikemi kemudian diintervensi dengan insulin infus, dalam
24 jam menunjukkkan penurunan yang bermakna dari glukosa pada pasien-pasien tersebut,
dan setelah dipertahankan kadar glukosa selama setahun menunjukkan penurunan angka
kematian sekitar 11 %. Efek yang bermanfaat masih didapatkan setelah 3-4 tahun follow-up
dengan menurunkan angka kematian relatif sekitar 30%. Pada DIGAMI II membuktikan
bahwa gula darah yang terkontrol merupakan nilai prediksi yang kuat terhadap penurunan
angka kematian dalam 2 tahun. Pada The Schwabing Myocardial Infarction Registry, telah
dijelaskan tentang pentingnya perhatian terhadap hiperglikemi akut pada pasien SKA.
Intervensi terhadap hiperglikemia harus dilakukan pada pasien diabetes maupun non
diabetes, dan menunjukkan bahwa angka kematian dalam 24 jam maupun total kematian
pada pasien setelah terkontrol glukosanya sama dengan pasien yang non-diabetes. 4

12
Pasien yang masuk ke rumah sakit dengan SKA dan sebelumnya penderita diabetes
mempunyai angka kematian yang tinggi selama di rumah sakit ( 11.7 %, 6.3 % dan 3.9 %
masing-masing pada PJK STEMI, PJK NSTEMI dan Angina Tak Stabil ). Diabetes juga
berhubungan dengan kematian jangka panjang dimana sekitar 15-34% setelah 1 tahun dan
43% setelah 5 tahun follow-up. 4
Komplikasi utama dari pasien dengan SKA adalah reinfark, disfungsi ventrikel kiri,
gagal jantung, instabilitas elektrik, stroke, dan kematian. Komplikasi ini secara signifikan
lebih sering terjadi pada pasien dengan diabetes. Tingginya angka kematian pada pasien
dengan diabetes tersebut disebabkan oleh kekacauan pada gluko-metabolik. Dimana
peningkatan glukosa pada setiap tingkatan akan merubah subtrat energi metabolisme,
termasuk resistensi insulin, peningkatan asam lemak bebas dan oksidatif stres. Metabolik-
metabolik ini akan makin tinggi pada saat serangan akut infark miokard, ketika nyeri dada,
sesak nafas, dan kecemasan yang disebabkan oleh meningkatnya tonus adrenergik. 4
Pasien-pasien diabetes sering mengalami infark yang luas, menurunnya kemampuan
vasodilatasi, menurunnya aktifitas fibrinolitik, meningkatnya aktifitas agregasi trombosit,
disfungsi saraf autonom dan juga kemungkinan terjadi kardiomiopati. Semua faktor-faktor
diatas harus menjadi pertimbangan dalam mengobati seorang penderita diabetes dan SKA.
Salah satu hal yang sering didapatkan akibat efek dari gangguan saraf autonom pasien
diabetes adalah hilangnya simptom yang spesifik dari suatu SKA. Dilaporkan bahwa
prevalensi dari silent iskemia sekitar 10-20% dibandingkan 1-4% pada non-diabetes. 4
III.2.2. Diabetes dan Revaskularisasi Koroner

Prosedur revaskularisasi diindikasikan pada pasien diabetes mulai dari penyakit


jantung iskemik yang asimptomatik sampai dengan STEMI, SKA dan pencegahan kematian
jantung mendadak. Tetapi harus selalu dipertimbangkan dengan cermat bahwa, resiko suatu
tindakan lebih tinggi pada pasien diabetes dibandingkan non-diabetes. Pasien dengan
diabetes sering mendapatkan ateroskerosis yang berat dan sangat besar kemungkinan
membutuhkan suatu revaskularisasi. Pemilihan strategi untuk tindakan harus selalu
mempertimbangkan bahwa resiko terjadinya re-stenosis dan re-oklusi pada graf pasien
tersebut sangat besar. 4
Pasien dengan diabetes atau hiperglikemi memiliki respon yang beragam terhadap
terapi infark jantung. Secara umum beberapa bukti menunjukkkan tindakan PCI lebih baik
dari trombolitik pada STEMI. Walaupun trombolitik kurang efektif pada pasien diabetes,
revaskularisasi dan reperfusi dengan PCI juga kurang efektif pada PJK yang diffuse dengan
diameter yang kecil dan juga mempunyai kecendrungan re-stenosis yang tinggi. 4
Angka morbiditas dan mortalitas perioperatif CABG pasien diabetes masih lebih tinggi
dibandingkan dengan non-diabetes walaupun telah diterapi dengan insulin. Pasien diabetes
yang menjalani PCI juga lebih jelek angka survival dibanding non-diabetes, dan berhubungan
dengan restenosis yang masih tinggi. 18
Beberapa patofisiologi yang digambarkan dari atherosklerosis pasien diabetes
sehingga memberi respon yang lebih jelek dibanding non-diabetes adalah adanya
abnormalitas dari metabolik dan hematologi pada DM seperti hiperglikemia, resistensi insulin,
dislipidemia, inflamasi dan trombofilia. Platelet pada penderita diabetes akan merangsang
pembentukan reseptor GPIIb/IIIa, dan akan meningkatkan proses agregasi dan bersama-
sama dengan hiperglikemi merusak endothel dan akhirnya terjadi trombosis koroner. 4,18
Bentuk anatomi dari atherosklerosis pada pasien diabetes juga berpengaruh terhadap
re-stenosis dan prognosis. Pada autopsi dan studi angiografi didapatkan beberapa ciri orang
lesi atherosklerosis penderita diabetes, yaitu lesi lebih sering mengenai Left Main Artery,
multivessel, diffuse dan mempunyai diameter pembuluh darah yang lebih kecil disekitar
sumbatan. Pembuluh darahnya juga kaya lipid dan semua keadaan ini sangat mungkin untuk
ruptur. 18

13
Pada penelitian angioskopi pasien diabetes dengan angina stabil didapatkan banyak
pecahan plaqeu dan trombus intra arteri koroner. Arteri penderita diabetes kurang mampu
beradapatasi terhadap suatu sumbatan dan dalam membentuk kolateral pada saat infark. 18,19
Pada penelitian the Bypass Angioplasty Revaskularization Investigation (BARI),
didapatkan angka survival rate 5 thn pada pasien diabetes lebih baik dengan tindakan CABG
dibandingkan PTCA (ballon). Pada penelitian the Arterial Revaskularization Study (ARTS)
juga didapatkan angka 1 tahun free-event survival lebih rendah pada pasien yang diterapi
dengan stent dibanding dangan CABG. Penggunaan dari Gp Iib/IIIa inhibitor pada saat
pemasangan stent menurunkan angka kematian infark miokard dan target revaskularisasi
dalam 6 bulan. Pada penelitian the Emory Angioplasty vs Surgery (EAST) dan the Coronery
Angioplasty vs Bypass Revaskularization Investigation (CABRI) melaporkan tindakan CABG
memberikan angka survival lebih baik dibanding PCI terutama pada pasien dengan
multivessel disease. Dan penggunaan graft dari arteri mammaria juga lebih baik
dibandingkan dengan graft dari vena saphenous. 4,18,19
Pengenalan drug eluting stent pada pasien diabetes telah memberikan hasil yang
lebih baik dibanding bare-metal stent dalam restenosis post PCI, tetapi angka retenosis
masih tetap tinggi dibandingkan kelompok non-diabetes. 18,19
Penelitian intravaskular ultrasound dan analisa histologi spesimen mendapatkan
bahwa percepatan re-stenosis pada pasien diabetes disebabkan oleh tingginya proliferasi
dan deposit matrik ektraselular di pembuluh darah koroner. Dan pada serial ultasound
intravaskular pada pasien hiperinsulin menunjukkkan peningkatan proliferasi jaringan intima
pembuluih darah post pemasangan stent koroner. 18,19

Gambar 5: indikasi pasien diabetes untuk revaskularisasi.dikutip dari 18

III.2.3. Diabetes Mellitus dan Gagal Jantung

Gagal jantung didapatkan sekitar 12% pada pasien diabetes dibandingkan dengan
tanpa diabetes, hal ini menunjukkan hubungan yang kuat antara diabetes dan gagal jantung.
Pada penelitian Farmingham yang diikuti selama 18 thn, melaporkan kejadian gagal jantung
pada diabetes meningkat dua kali pada laki-laki dan lima kali pada wanita dibandingkan
dengan pasien non-diabetes. 4

14
Prognosis pasien gagal jantung dengan diabetes menurun. Diabetes juga faktor
prognostik kematian yang tinggi pada pasien dengan disfungsi ventrikel kiri. Penelitian pada
populasi umum dari Reykjavik melaporkan, terjadi penurunan angka harapan hidup yang
signifikan pada pasien gagal jantung dan abnormal glukosa, walaupun setelah di adjustment
dengan faktor resiko lain dan PJK. 4
Rekomendasi terapi dari gagal jantung dan diabetes dengan ACE-inhibitor, ARB dan
beta bloker yang merupakan pilihan pertama. Diuretik dan aldosteron bisa mengurangi gejala
dan sebagai obat tambahan pada gagal jantung. 4

III.2.4. Diabetes Mellitus dan Kardiomiopati

Wilson Tang dkk, telah menjelaskan hubungan antara diabetes dengan gagal jantung
yang merupakan efek dari resistensi insulin pada miokard. Pada tahun 1972, pada penelitian
autopsi histopatologi terhadap pasien diabetes dengan ventrikel kiri yang hipertropi,
didapatkan jaringan yang spesifik terhadap diabetik kardiomiopati. 4
Gagal Jantung merupakan sindroma klinis sedangkan kardiomiopati merupakan
perubahan struktur yang abnormal akibat resistensi insulin yang telah dialami jaringan
miokard. Diabetes tidak hanya menyebabkan disfungsi miokard, tetapi juga terjadi gannguan
lain seperti penurunan aliran darah miokard, dan juga gangguan keseimbangan antara
pengambilan glukosa dan aliran darah miokard sehingga mengganggu glukosa masuk ke sel,
pasien diabetes juga mengalami keterbatasan dalam kompensasi hiperkinetik dari jaringan
yang masih sehat/non infark yang disebabkan neuropati dari saraf outonom. Kardiomiopati
secara klinis biasanya muncul dengan gangguan sistolik, diastolik ventrikel kiri dan gangguan
neurohumoral. 4
Disfungsi miokard pada pasien diabetes kemungkinan besar disebabkan adanya
gangguan metabolik pada tingkat sel miokard. Pada keadaan normal jalur utama sumber
energi untuk sel jantung adalah dari oksidasi Asam Lemak Bebas dan sebagian kecil melalui
oksidasi glukosa. Ketika terjadi suatu iskemia miokard dan kenaikan tekanan intra ventrikular
akan terjadi perubahan produksi energi ATP dari FFA ke Glukosa. Produksi energi miokard
dari glukosa ini sangat menurun ( sekitar 10 % ) sehingga terjadi oksidasi FFA yang lebih
banyak. Masalahnya adalah pada proses oksidasi FFA diperlukan oksigen lebih banyak
sementara otot miokard kekurangan oksigen. Pada bagian lain penderita diabetes sendiri
juga mengalami peningkatan dari FFA akibat dari peningkatan tonus simpatis, resistensi
insulin dan insufisiensi insulin, hal ini akan menyebabkan penimbunan kronis FFA dan hasil
metaboliknya pada miokard sehingga terjadi disfungsi miokard. 4

III.3. Komplikasi non Kardiak

Diabetes meningkatkan resiko relatif terhadap penyakit Cerebrovaskular ( stroke,


CVA) 2.5 4.1 kali pada laki-laki dan 3.6 5.8 kali pada wanita. Walaupun resiko lain
terhadap stroke telah dikoreksi, resiko terhadap kardio vaskular tetap meningkat sebanyak 2
kali. Hal ini membuktikan bahwa diabetes merupakan faktor resiko kuat terhadap stroke dan
kematian. Komplikasi diabetes seperti proteinuria, retinopati, dan neuropati automomik juga
meningkatkan resiko terhadap stroke. Tipe dari stroke biasanya adalah iskemik, dan rasio
antara iskemi dan hemoragik lebih tinggi pada pasien diabetes dibanding populasi normal. 4
Pasien dengan stroke dan diabetes harus diterapi dengan prinsip yang sama dengan
pasien tanpa diabetes. Optimalisasi dari kondisi metabolik termasuk kontrol terhadap glukosa
darah harus segara dilakukan pada setiap keadaaan stroke. Menormalkan tekanan darah
telah direkomendasi pada semua pasien diabetes untuk pencegahan maupun terapi stroke.

15
Pemberian statin, aspilet telah direkomendasikan dengan prinsip yang sama dengan pasien
tanpa stroke. 4
Diabetes meningkatkan resiko 2 4 kali terhadap penyakit pembuluh darah perifer.
Manifestesi gejala dari penyakit ini adalah Claudicatio intermitten dan iskemia limb kritikal,
dan kedua kondisi tersebut meningkat pada populasi diabetes. Kerusakan sirkulasi tungkai
disebabkan komplikasi diabetes terhadap mikro dan makrovaskular pembuluh darah.
Prevalensi dari penyakit ini meningkat dangan penambahan umur, lamanya diabetes dan
neuropati perifer. Penyakit pembuluh darah perifer ini merupakan marker dari proses
atherosklerosis keseluruhan pada pasien dangan gejala maupun tidak, paling sering
didapatkan dengan kelainan di koroner dan penyakit cerebrovaskular. Diagnosis yang cepat
pada pasien diabetes sangat penting dalam usaha pencegahan penyakit ini seperti juga
prediksi terhadap resiko terhadapa kardiovaskular. 4
Obstruksi pembuluh darah pada pasien dengan diabetes biasanya lokasinya lebih ke
distal. Tempat yang khas untuk lokasi tersebut adalah arteri poplitea atau pembuluh darah
distal dari tungkai. Gejala dari iskemi tungkai pada pasien diabetes dengan neuropati perifer
biasanya tidak khas dan samar-samar. Pasien biasanya merasakan lelah pada tungkai atau
hanya ke tidak mampuan untuk berjalan di tempat yang normal. Pemeriksaan phisik sangat
penting dalam menegakkan diagnosis, palpasi nadi dan inspeksi dari tungkai sangat penting.
Pemeriksaan yang objektif untuk penyakit pembuluh darah perifer adalah dengan mengukur
ankle-brachial blood pressure index yaitu rasio antara tekana arteri setinggi pergelangan kaki
dan arteri brakhial dengan tekanan yang tinggi. Penggunaaan dopplers juga sangat
membantu dalam menegakkan diagnosis. 4
Nilai ankle-brachial blood pressure index dibawah 0.5 atau tekanan ankle dibawah 50
mmHg mengindikasikan kerusakan yang berat pada sirkulasi kaki. Jika nilai ankle-brachial
blood pressure index diatas 1.3 mengindikasikan buruknya tekanan pada pembuluh darah. Ini
disebabkan oleh proses atherosklerosis pada tunika media arteri. 4
Menghentikan merokok dan olah raga yang teratur sangat penting dalam terapi.
Terapi terhadap hipertensi harus dikakukan, tetapi hati-hati pada pasien dengan iskemik
kritikal limp dan pada pasien yang tekanan di distalnya sangat rendah dimana hal ini
berbahaya untuk mempertahankan jaringan perifer. Target dari tekanan arteri distal adalah
pada level tekanan arteri yang cukup memberikan darah ke distal. Anti agregasi aspirin
diindikasikan pada semua kasus, dan pada kasus tertentu clopidrogel, dipiridamol dan
antikoagulan dengan low melocular weight heparin merupakan pilihan. 4

IV. Terapi Menyeluruh Pasien Diabetes Mellitus


IV.1. Terapi Diet dan Olah Raga
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam
hal karbohidrat, protein, dan lemak, sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut
:Karbohidrat 60-70%, Protein 10-15%, Lemak 20-25%.
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut dan kegiatan
jasmani untuk mencapai dan memper tahankan berat badan idaman.
Untuk kepentingan klinik praktis, dan menghitung jumlah kalori, penentuan status gizi
memanfaatkan Rumus Broca, yaitu: BB idaman = (TB 100) 10%
Status gizi : Berat Badan kurang = < 90% BB idaman , Berat Badan normal = 90 - 110% BB
idaman, Berat Badan lebih = 110 - 120% BB idaman, Gemuk = > 120% BB idaman
Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari berat badan idaman dikalikan kebutuhan
kalori basal (30 Kkal/kg BB untuk laki-laki dan 25 Kkal/kg BB untuk wanita). Kemudian
ditambah dengan kebutuhan kalori untuk aktivitas (10 - 30%; untuk atlet dan pekerja berat
dapat lebih banyak lagi, sesuai dengan kalori yang dikeluarkan dalam kegiatannya), koreksi

16
status gizi (gemuk dikurangi, kurus ditambah) dan kalori yang diperlukan untuk menghadapi
stres akut (infeksi, dan sebagainya) sesuai dengan kebutuhan.
Makanan sejumlah kalori terhitung, dengan komposisi tersebut di atas dibagi dalam 3
porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%) dan sore (25%) serta 2-3 porsi (makanan
ringan, 10 - 15%) di antaranya. Pembagian porsi tersebut sejauh mungkin disesuaikan
dengan kebiasaan pasien untuk kepatuhan pengaturan makanan yang baik. Untuk pasien
DM yang mengidap pula penyakit lain, pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit
penyertanya. Perlu diingatkan bahwa pengaturan makan pasien DM tidak berbeda dengan
orang normal, kecuali jumlah kalori dan waktu makan yang terjadwal. Untuk kelompok sosial
ekonomi rendah, makanan dengan komposisi karbohidrat sampai 70 - 75% juga memberikan
hasil yang baik.
Latihan jasmani secara teratur (3 - 4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit,
yang sifatnya sesuai CRIPE (continuous, rhythmical, interval, progressive, endurance
training). Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75 - 85% denyut nadi maksimal (220 -
umur), disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta. Sebagai contoh
olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30 menit, olahraga sedang adalah berjalan
cepat selama 20 menit dan olahraga berat misalnya jogging. 20

IV.2. Obat hipoglikemia

Regimen terapi terhadap hiperglikemia dalam mencapai target yang diinginkan adalah
Diet, Strategi gaya hidup, obat oral hipoglikemia, dan insulin. Pemilihan jenis obat harus
diputuskan oleh para klinisi dan target glukosa darah harus dicapai seoptimal mungkin.

Jika pasien telah menerapkan pengaturan makan dan kegiatan jasmani yang teratur
namun pengendalian kadar glukosa darahnya belum tercapai dipertimbangkan pemakaian
obat berkhasiat hipoglikemik oral maupun suntikan
Pada umumnya pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah,
untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan kadar glukosa darah pasien. Kalau
dengan sulfonilurea atau metformin sampai dosis maksimal ternyata sasaran kadar glukosa
darah belum tercapai, perlu dipikirkan kombinasi 2 kelompok obat hipoglikemik oral yang
berbeda (sulfonilurea + metformin atau metformin + sulfonilurea, acarbose + metformin atau
sulfonilurea). Kombinasi OHO dosis kecil dapat pula digunakan untuk menghindari efek
samping masing-masing kelompok obat. Dapat pula diberikan kombinasi ketiga kelompok
OHO bila belum juga dicapai sasaran yang diinginkan, atau ada alasan klinik di mana insulin
tidak memungkinkan untuk dipakai.
Kalau dengan dosis OHO maksimal baik sendiri-sendiri ataupun secara kombinasi
sasaran glukosa darah belum tercapai, dipikirkan adanya kegagalan pemakaian OHO. Pada
keadaan demikian dapat dipakai kombinasi OHO dan insulin. 20

IV.2.1. Obat Hipoglikemik Oral (OHO)

Pada umumnya dalam menggunakan obat hipoglikemik oral, baik golongan


sulfonilurea, metformin maupun inhibitor glukosidase alfa, harus diperhatikan benar fungsi
hati dan ginjal. Tidak dianjurkan untuk memberikan obat-obat tersebut pada pasien dengan
gangguan fungsi hati atau ginjal. 20,21

Sulfonilurea :
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta
pankreas. Oleh sebab itu merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal

17
dan kurang, namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Untuk
menghindari risiko hipoglikemia yang berkepanjangan, pada pasien usia lanjut obat golongan
sulfonilurea dengan waktu kerja panjang sebaiknya dihindari.

Biguanid (Metformin) :
Obat golongan ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati di samping juga
efek memperbaiki ambilan glukosa perifer. Obat golongan ini terutama dianjurkan dipakai
sebagai obat tunggal pada pasien gemuk. Biguanid merupakan kontraindikasi pada pasien
dengan gangguan fungsi ginjal dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan
hipoksemia (misalnya pasien dengan penyakit serebro kardiovaskular). Obat biguanid dapat
memberikan efek samping mual. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan
bersamaan atau sesudah makan.

Inhibitor Glukosidase Alfa (Acarbose):


Obat golongan ini mempunyai efek utama menurunkan puncak glikemik sesudah makan,
terutama bermanfaat untuk pasien dengan kadar glukosa darah puasa yang masih normal.
Biasanya dimulai dengan dosis 2 kali 50 mg setelah suapan pertama waktu makan. Jika tidak
didapati keluhan gastrointestinal, dosis dapat dinaikkan menjadi 3 kali 100 mg. Pada pasien
yang menggunakan acarbose jangka panjang perlu pemantauan faal hati dan ginjal secara
serial, terutama pasien yang sudah mengalami gangguan faal hati dan ginjal. 20

Tabel 1. Obat Hipoglikemik Oral. dikutip dari 20

Obat Dosis awal Dosis maksimal Pemberian sehari


yg dianjurkan
Golongan Sulfonilurea
Glibenklamid 2,5 mg 15-20 mg 1-2 kali
Gliklasid 80 mg 240 mg 1-2 kali
Glikuidon 30 mg 120 mg 2-3 kali
Glipisid 5 mg 20 mg 1-2 kali
Glipisid GITS 5 mg 20 mg 1 kali
Glimepirid 1 mg 6 mg 1 kali
Klorpropamid 50 mg 500 mg 1 kali
Golongan Biguanid
Metformin 500 mg 2500 mg 1-3 kali
Golongan inhibitor glukosidase alfa
Acarbose 50 mg 300 mg 3 kali

IV.2.2. Insulin

18
Insulin umumnya diberikan dengan suntikan di bawah kulit (subkutan). Pada keadaan
khusus diberikan intramuskular atau intravena secara bolus atau drip. Insulin dapat diberikan
tunggal (satu macam insulin kerja cepat, kerja menengah atau kerja panjang), tetapi dapat
juga diberikan kombinasi insulin kerja cepat dan kerja menengah, sesuai dengan respons
individu terhadap insulin, yang dinilai dari hasil pemeriksaan kadar glukosa darah harian.
Untuk menyuntik insulin kombinasi kerja cepat dan menengah atau panjang, diperlukan
teknik khusus untuk mencampur kedua macam insulin tersebut dalam satu semprit. Lokasi
penyuntikan juga harus diperhatikan benar, demikian pula mengenai rotasi tempat suntik.
Apabila diperlukan, sejauh sterilitas penyimpanan terjamin, semprit insulin dapat dipakai lebih
dari satu kali (sampai satu minggu) oleh pasien yang sama. Jarum suntik dapat dipakai
sampai dirasakan tidak nyaman lagi.
Harus diperhatikan benar konsentrasi insulin (U40, U100). Dianjurkan dipakai
konsentrasi yang tetap (U40 atau U100), tidak berganti-ganti, dengan semprit yang sesuai
(semprit U40 untuk insulin U40, semprit U100 untuk insulin U100). 20,21

Tabel 2 : Jenis dan lama kerja insulin.dikutip dari 20

Jenis Awitan kerja (jam) Puncak kerja (jam) Lama kerja (jam)
Insulin kerja pendek 0,5 - 1 2-4 5-8
Insulin kerja menengah 1-2 4 - 12 8 - 24
Insulin kerja panjang 2 6 - 20 18 - 36
Insulin campuran 0,5 - 1 2 - 4 dan 6 -12 8 - 24

V. Sindroma Metabolik

Pada tahun 1988, Reaven menggambarkan suatu sindroma yang terdiri dari
kumpulan beberapa abnormalitas seperti : resistensi insulin, hiperinsulinemia, hiperglikemia,
peningkatan Very Low Density lipoprotein Trigesirida, penurunan HDL-kolesterol dan
peninggian tekanan darah. Kemudian sindroma ini menjadi sindroma metabolik. Sekarang ini
beberapa komponen lain termasuk dalam kumpulan ini yaitu adanya marker-marker
inflamasi, mikroalbuminuria, hiperuricemia, abnormalitas pada proses fibrinolitik dan
koagulasi darah.4
Sindroma metabolik sangat menarik perhatian perhatian karena berkaitan dengan
faktor resiko PJK. Pada tahun 1988 WHO menyepakati suatu istilah yang mengganti
sindroma resistensi insulin dengan nama baru yaitu sindroma metabolik. Kriteria WHO
tersebut menekankan adanya gangguan toleransi glukosa dan resistensi insulin dengan dua
atau lebih tanda-tanda lain seperti hipertensi, hipertrigliserida, kholesterol HDL yang rendah,
obesitas sentral dan mokroalbuminuria. Pada tahun 2001 The National Cholesterol education
Program (NCEP) dan Adult Treatment Panel III (ATP-III) mengeluarkan defenisi sindroma
metabolik yang lebih menekankan pada batasan yang mudah didiidentifikasi oleh klinisi,
dengan tidak memasukkan insulin resisten dan mikroalbuminuria yang sehari-hari relatif sulit
diperiksa. 22
Sampai sekarang ini paling tidak sudah 5 definisi dari Sindroma metabolik, dimulai
dari WHO tahun 1998 kemudian direvisi tahun1991, The European group for Study of Insulin
Resisten (EGIR) 1999, The National Cholesterol Education program (NCEP) dan Adult
Treatment Panel III (ATP-III) 2001, The American Association of Clinical Endocrinology
(AACE) 2003, dan The International Diabetes Federation (IDF) Consensus panel. Defenisi

19
dari WHO dan EGIR terutama digunakan untuk tujuan penelitian, NCEP dan AACE
digunakan untuk kegunaan klinis, sedangkan IDF secara luas digunakan untuk praktek klinis.4
Penelitian-penelitian yang berhubungan dengan sindroma metabolik dan resiko
mortalitas dan morbiditas masih jarang, terutama yang membandingkan defenisi-definisi
diatas dengan resiko CVD. Beberapa penelitian di Eropa menunjukkan bahwa sindroma
metabolik berhubungan dengan meningkatnya CVD dan semua penyebab kematian. Tetapi
pada penelitian the Second National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) di
Amerika menunjukkan hal yang tidak konsisten, dimana hanya didapatkan hubungan
peningkatan yang sedang / moderat dari sindroma metabolik dengan CVD, tetapi tidak
signifikan terhadap semua penyebab kematian, PJK, ataupun stroke. Penelitian terakhir
menunjukkan bahwa defenisi dari NCEP terhadap metabolik sindrome lebih lemah dalam
memprediksi terjadinya suatu diabetes atau CVD. Lawlor dkk terakhir menunjukkan bahwa
estimasi dari setipa definisi tersebut adalah sama atau lebih rebdah dari pada faktor-faktor
individual. Oleh karena itu faktor individual menjadi nilai prosnostik tambahan terhadap
prediksi suatu mortalitas dari CVD. Walaupun setiap definisi dari sindroma metabolik
merupakan beberapa faktor resiko tetapi masih kontroversial. Ditambah bahwa beberapa
formula untuk prosnostik tidak akurat dapat memprediksi CVD. 4
Beberapa kesimpulan tentang Sindroma Metabolik telah disepakati oleh group komite
dan telah menjadi konsensus adalah :23
1. Sindroma Metabolik merupakan kumpulan dari berbagai karekteristik klinis yang
berhubungan dengan meningkatnya resiko PJK dan DM tipe2.
2. Sindroma Metabolik tidak memiliki ciri yang spesifik tersendiri, akan tetapi mempunyai
komponen variasi yang luas bergantung individu, ras dan etnik.
3. Sindroma Metabolik bukan merupakan target utama dalam menurunkan kejadian
kardiovaskular, akan tetapi faktor resiko yang timbul pada pasien SM seperti merokok,
peningkatan LDL kholesterol, dan tekanan darah merupakan target utama dalam
menurunkan resiko CV pada pasien sindroma metabolik.
4. Group konsensus juga berkesimpulan masih perlunya penelitian tambahan untuk
menilai aspek-aspek dari sindroma metabolik untuk memperjelas penyebabnya, dan
untuk menjawab apakah terapi spesifik untuk sindroma metabolik sendiri lebih baik
daripada terapi terhadap masing-masing faktor rasiko yang timbul.

V.1. Patogenesis Sindroma Metabolisme

Mekanisme yang dipercaya menyebabakan terjadinya sindroma metabolik hingga


saat ini bersumber dari resistensi insulin dan obesitras sentral (viseral). Lemak sentral secara
metabolik lebih aktif di perifer. Penumpukan dari sel lemak akan menyebabkan peningkatan
asam lemak bebas dari hasil lipolisis, yang akan menurunkan resistensi insulin. Peningkatan
darai FFA ini di lever akan meningkatkan proses glukoneogenesis, yang akan meningkatkan
produksi glukosa dan menurunkan ekstraksi insulin sehinnga terjadi hiperinsulinemia. Di otot
terjadi penurunan pemakaian glukosa oleh sel otot. Sel lemak juga akan mengeluarkan
sitokin (adipositokin) seperti angiotensin, TNF alfa, resistin dan leptin yang berhubungan
dengan penurunan resistensi terhadap insulin. TNF alfa menyebabkan resistensi dengan cara
menghambat aktivitas tirosin kinase pada reseptor insulin dan menurunklan ekspresi glukosa
tranporter-4 (GLUT-4) di sel lemak dan otot. Adinopectin suatu zat yang dapat menurunkan
resistensi insulin akan menurun pada pasien sindroma metabolik. Resistensi insulin dan
hiperinsulinemia ini akhirnya akan menyebabkan perubahan metabolik, sehingga timbul
hipertensi, dislipidemia, peningkatan terhadap respon inflamasi dan koagulasi, melalui
mekanisme yang komplek; diantaranya mekanisme disfungsi endothel dan oksidatif stres.
Resistensi insulin semakin lama semakin berat, sehingga terjadi hiperglikemia dan
manifestasi DM tipe2. 24

20
V. 2. Manajemen Klinik Sindroma Metabolik

Tujuan utama terapi sindroma metabolik adalah menurunkan resiko klinis penyakit
atherosklerosis, dan juga untuk mencegah resiko terjadinya diabetes pada pasien-pasien
yang belum dijumpai gejala diabetes. 22
Lini pertama terapi adalah menekan faktor resiko mayor yaitu berhenti merokok,
menurunkan LDL kolesterol, tekanan darah dan glukosa ke batas optimal. Untuk terapi jangka
panjang, terapi gaya hidup/lifestyle merupakan intervensi lini pertama untuk menurunkan
faktor resiko metabolik, intervensi ini terutama ditujukan untuk menurunkan berat badan pada
pasien obese atau over weight, meningkatkan aktivitas fisik dan modifikasi diet. Perubahan
diatas akan menurunkan faktor resiko mayor secara simultan. Pada pasien dengan high risk (
PJK dengan DM) harus diberikan terapi spesifik terhadap resiko dan harus diterapi secara
intensiv. 22,24
Tidak ada obat spesifik yang direkomendasikan untuk penderita dengan sindroma
metabolik. Terapi bergantung kepada setiap faktor resiko yang muncul yaitu dislipdemia,
hipertensi, gangguan toleransi glukosa, gangguan terhadap fibrinolitik dan koagulasi darah.
22,24

VI. Ringkasan
Prevalensi diabetes di dunia pada umumnya dan di Indonesia khususnya terus
meningkat. Peningkatan ini akan berdampak pada tingginya angka morbiditas dan mortalitas
yang disebabkan oleh komplikasi diabetes, terutama terhadap penyakit kardiovaskular.

Penyakit Kardiovaskular, terutama aterosklerosis, merupakan penyebab terbanyak


dari morbiditas dan mortalitas penderita diabetes. Diabetes mellitus juga akan meningkatkan
resiko komplikasi penyakit kardiak dan non-kardiak lainnya.
Patofisiologi komplikasi pada diabetes adalah gangguan pada endotel pembuluh
darah, pada otot polos pembuluh darah dan fungsi trombosit. Abnormalitas metabolik pada
diabetes seperti hiperglisemia, meningkatnya FFA, insulin resisten mendasari terjadinya
proses aterosklerosis vaskular, diikuti dengan gangguan keseimbangan NO, meningkatnya
oksidatif stress, aktifitas AGEs, gangguan fungsi platelet dan meningkatnya faktor-faktor
protrombosis.
Dengan mengetahui mekanisme dari komplikasi ini, mungkin akan memberikan
strategi baru, sehingga dapat mengurangi morbidatas dan mortalitas.
Intervensi terhadap faktor resiko merupakan tindakan yang sangat tepat dalam
mencegah meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas penyakit diabetes dengan penyakit
kardio vaskular. Oleh sebab itu tindakan skrining pasien diabetes terhadap penyakit jantung
koroner maupun skrining penyakit jantung koroner terhadap diabetes sangat diperlukan.
Penatalaksanan yang paripurna dimulai dari pengenalan faktor resiko dan
pengetahuan akan komplikasi vaskular, serta penatalaksanaan yang tidak hanya berfokus
pada kontrol glikemik tapi juga terhadap komplikasi yang akan timbul melalui manajemen
gaya hidup, terapi agresif terhadap glukosa yang optimal, tercapainya tekanan darah yang
normal, koreksi terhadap gangguan lipid dan memperbaiki fungsi platelet akan mengurangi
angka morbiditas dan mortalitas penyakit jantung diabetes.

VII. Kepustakaan

1. American Diabetes Association: Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. Diabetes Care. 2005; 28(S1):S37-S42

21
2. Wild S, Roglic G, Green A, Sicree R, King H: Global prevalence of diabetes: Estimates for the year 2000 and projections for
2030. Diabetes Care.2004; 27:10471053.

3. Nathan DM, Davidson MB, DeFronzo RA, et al. Impaired fasting glucose and impaired glucose tolerance. Diabetes Care.
2007; 30: 753-759.

4. Ryden L, Standt E, Barnik M, Betteridge J, et al. Guidelines on diabetes, pre diabetes, and cardiovaskular disease: The task
force on diabetes and cardiovaskular disease of the European Society of Cardiology (ESC) and of the European Association for
the Study of Diabetes (EASD) . European Heart Journal. 2007; 28: 88-136.

5. Singleton JR, Smith AG, Russell JW, Feldman EL. Microvaskular complication of impaired glucose tolerance. Diabetes. 2003;
52: 2867-2873.

6. Beckman JA, Creager MA, Libby P: Diabetes and atherosclerosis: epidemiology, pathophysiology, and management.
JAMA.2002; 287:25702581.

7. Bloomgarden ZT. The epidemiology of complication. Diabetes Care. 2002; 25: 924-933.

8. Creager MA, Luscher TF, Cosentino F, Beckman JA. Diabetes and vaskular disease pathophysiology, clinical consequences,
and medical therapy : Part I. Circulation. 2003; 108: 1527-1532.

9. De Vriese AS, Verbeuren TJ, Van de Voorde J, et al. Endothelial dysfunction in diabetes. Br J Pharmacol. 2000;130:963-974.

10. Beckman JA. Libby P. Creager MA. Diabetes Mellitus, the Metabolic Syndrome, and Atherosclerotic Vaskular Disease. In:
Braunwalds Heart Disease. 7th ed. Elsevier Saunders. 2005; 1035-1043

11. Krauss RM. Lipid and lipoproteins in patients with type 2 diabetes. Diabetes Care. 2004; 27: 1496-1505.

12. Vinik AI, Erbas T, Park TS, et al. Platelet dysfunction in type 2 diabetes. Diabetes Care. 2001;24:1476-1485.

13. Buse JB, Ginsberg HN, Bakris GL, et al. Primery prevention of cardiovaskular disease in people with diabetes mellitus: A
scientific statement from the American Heart Association and the American Diabetes Association. Circulation. 2007; 115: 114-126

14. Luscher TF, Creager MA, Beckman JA, Cosentino F. Diabetes and vaskular disease pathophysiology, clinical consequences,
and medical therapy : Part II. Circulation. 2003; 108: 1655-1661.

15. Tuomilehto J, Lindstrom J, Qiao Q. Strategies for the prevention of type 2 diabetes and cardiovaskular disease. European
Heart Journal 2005; 7 (Supp D) :D18-D22

16. Richard K. Consensus development confrence on the diagnosis of coronary heart disease in people with diabetes. Diabetes
care 1998; 21(9)

17.Gerich JE. Clinical Significance, Pathogenesis, and Management of Postprandial Hyperglicemia. Arch Intern Med.
2003;163:1306-1316

18. Flaherty JD, Davidson CJ. Diabetes and coronary revaskularization. JAMA 2005;293(12):1501-8

19. Smith SC, Faxon D, Cascio W, Schaff H, Gardner T, et all. Revaskularization in diabetic patients. Circulation 2002;105:165-
169

20. Naskah Lengkap Konsensus Pengelolaan Diabetes Mellitus di Indonesia. PB PERKENI 1998

21. Robertson C, Drexler AT. Update on Diabetes Diagnosis and Management. JADA; 134: 16(S)-23

22. Grundy SM, Cleeman JI, Daniels SR, Donato KA, Eckel RH, et all. Diagnosis and management of metabolic syndrome: An
American Heart Association / National Heart, Lung, and Blood Institute Scientific Statement. 2005;112:285-290

23. Greenland P. critical questions about the metabolic syndrome. Circulation.2005;112:3675-3676

22
24. Grundy SM. Metabolic syndrome: a multiplex cardiovaskular risk factor. JCEM.2007;92(2):399-404

23