Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pancasila adalah dasar filsafat negara Republik Indonesia yang secara resmi disahkan
oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang
diundangkan dalam berita Republik Indonesia tahun II No.7 bersamaan dengan batang tubuh
UUD 1945.
Pancasila sebagai paradigma dimaksudkan bahwa Pancasila sebagai sistem nilai
acuan, kerangka-acuan berpikir, pola acuan berpikir; atau jelasnya sebagai sistem nilai yang
dijadikan kerangka landasan, kerangka cara, dan sekaligus kerangka arah atau tujuan bagi
yang menyandangnya.
Sebagai tertib hukum tertinggi keberadaan Pancasila tidak dapat diganggu gugat,
karena merubah dan mengamandemen Pancasila sama halnya dengan membubarkan NKRI
yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Memang fakta sejarah membuktikan
berkali-kali konstitusi Negara ini diubah-ubah, dimulai dengan keluarnya peraturan
pemerintah yang mengganti sistem presidensil dengan system parlementer, hingga
ditetapkannya konstitusi RIS yang RI merupakan salah satu Negara bagian saja dari Negara
Federal tersebut, sebagai akibat ditandatanganinya perjanjian KMB. Seiring bergulirnya
waktu konstitusi RIS pun akhirnya diubah. Dengan diadakannya pemilu 1955, yang salah
satu tujuannya adalah memilih anggota konstituante. Dewan Konstituante diberi mandat
untuk menyusun konstitusi baru bagi Negara, namun rencana pembentukan dasar Negara
baru itupun gagal, seiring dengan keluarnya dekrit presiden 5 Juli 1959, yang menyatakan
kembali ke UUD 1945.Suatu pembuktian bahwa rakyat Indonesia membutuhkan Pancasila
untuk merekat persatuan diantara mereka.
Sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia, pancasila mengalami berbagai
macam interpretasi dan manipulasi politik. Karena hal tersebut pancasila tidak lagi
diletakkan sebagai dasar filsafat serta pandangan hidup bangsa dan negara Indonesia
melainkan direduksi, dibatasi dan dimanipulasi demi kepentingan politik penguasa pada saat
itu. Pancasila sebagai paradigma dimaksudkan bahwa Pancasila sebagai sistem nilai acuan,
kerangka acuan berpikir, pola acuan berpikir atau lebih jelasnya sebagai sistem nilai yang
dijadikan kerangka landasan, kerangka cara, dan sekaligus kerangka arah ataun tujuan bagi
yang menyandangnya antara lain adalah bidang politik, bidang ekonomi, bidang sosial
budaya, bidang hukum, dan bidang kehidupan antar umat beragama di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


1
1. Apa yang dilaksud dengan paradigma?
2. Jelaskan Pancasila sebagai paradigma kehidupan Bangsa Indonesia ditinjau dari
kodrat Manusia?
3. Jelaskan nilai nilai Pancasila sebagai paradigma reformasi dalam perkembangan
ketatanegaraan Republik Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan paradigma.
2. Mengetahui pancasila sebagai paradigma kehidupan Bangsa Indonesia ditinjau dari
kodrat manusia.
3. Mengetahui nilai-nilai pancasila sebagai paradigma reformasi dalam perkembangan
ketatanegaraan Republik Indonesia.

1.4 Metode Penulisan

Metode yang digunakan yaitu metode studi pustaka atau menggunakan literature seperti,
buku dan pengambilan data, serta penulisannya menggunakan bahasa Indonesia yang baik
dan benar.

BAB II

2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Paradigma


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) yang dimaksud dengan paradigma
adalah daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi dan deklinasi
kata tersebut (Ling), model dalam teori ilmu pengetahuan, kerangka berpikir.
Paradigma secara sederhana dapat diartikan sebagai kerangka pikir untuk melihat
suatu permasalahan. Pengertian paradigma berkembang dari definisi paradigma pengetahuan
yang dikembangkan oleh Thomas Kuhn dalam rangka menjelaskan cara kerja dan
mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya ilmu-ilmu alam. Paradigma pengetahuan
merupakan perspektif intelektual yang dalam kondisi normal memberikan pedoman kerja
terhadap ilmuwan yang membentuk masyarakat ilmiah dalam disiplin tertentu.
Robert Winslow menambahkan pengertian paradigma ilmiah sebagai gambaran
intelektual yang daripadanya dapat ditentukan suatu subjek kajian. Perspektif intelektual
inilah yang kemudian akan membentuk ilmu pengetahuan normal (normal science) yang
mendasari pembentukan kerangka teoritis terhadap kajian-kajian ilmiah.
George Ritzer memberikan pengertian paradigma sebagai gambaran fundamental
mengenai subjek ilmu pengetahuan. Paradigma memberikan batasan mengenai apa yang
harus dikaji, pertanyaan yang harus diajukan, bagaimana harus dijawab dan aturan-aturan
yang harus diikuti dalam memahami jawaban yang diperoleh.
Paradigma ialah unit konsensus yang amat luas dalam ilmu pengetahuan dan dipakai
untuk melakukan pemilahan masyarakat ilmu pengetahuan (sub-masyarakat) yang satu
dengan masyarakat pengetahuan yang lain. Paradigma membantu para ilmuwan dan teoritisi
intelektual untuk memandu, mengintegrasikan dan menafsirkan karya mereka agar terhindar
dari penciptaan informasi yang acak dan tidak beraturan.
Menurut Kuhn, tidak ada sejarah kehidupan yang dapat diinterpretasikan tanpa
sekurang-kurangnya beberapa bentuk teori dan keyakinan metodologik implicit yang
berkaitan satu sama lain yang memungkinkan untuk melakukan seleksi, evaluasi dan
bersikap kritis. Meskipun terlihat terlalu bernuansa akademis, sebenarnya paradigma tidak
menjadi bahan kaji atau dominasi para kaum intelektual untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan, paradigma juga mungkin diterapkan pada ranah-ranah kehidupan sosial yang
lain. Sebenarnya Kuhn mendapatkan gagasannya mengenai paradigma tersebut dari dunia
sejarah dan sastra yang kemudian diterapkannya ke dalam domain ilmu-ilmu alam yang pada
waktu itu dianggap sebagai satu-satunya ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah. Sedangkan
cabang ilmu pengetahuan yang sekarang telah dianggap sebagai ilmu, dulunya hanya
dianggap sebagai seni saja misalnya sejarah, sastra, dan politik.

3
2.2 Bentuk-bentuk Pelaksanaan Pancasila

1. Pengamalan Pancasila sebagai Dasar Negara


Pengamalan Pancasila berarti, pelaksanaan Pancasila dalam wujud tingkah laku, tindak
tanduk atau perbuatan-perbuatan yang nyata. Dasar negara berarti, peraturan-peraturan
pokok yang digunakan sebagai landasan untuk mengatur kehidupan negara, Pengamalan
Pancasila sebagai Dasar Negara berarti Pelaksanaan Pancasila dalam wujud tingkah laku,
tindak tanduk ataupun perbuatan-perbuatan sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku dalam negara bangsa Indonesia. Pengamalan Pancasila sebagai Dasar Negara
mengandung keharusan-keharusan ataupun larangan-larangan yang harus dilaksanakan oleh
setiap warganegara, baik pejabat maupun masyarakat pada umumnya, Sebab, pengamalan
Pancasila sebagai dasar negara mengandung sanksi-sanksi hukum. Artinya bilamana tingkah
laku, tindak tanduk ataupun perbuatan-perbuatan bangsa Indonesia bertentangan dengan
Pancasila sebagai Dasar Negara, maka bangsa Indonesia dikenai sanksi hukum.
Pancasila sebagai Dasar Negara, berarti pula Pancasila sebagai Norma Dasar Republik
Indonesia. Perkataan Norma Dasar terdiri dari kata Norma, yang berarti Hukum atau
Kaidah dan kata Dasar, yang berarti Pokok atau Fondamen, jadi Norma Dasar
berarti hukum pokok atau kaidah pokok. Karena itu yang dimaksud dengan Pancasila
sebagai Norma Dasar Negara Republik Indonesia ialah Pancasila yang menjadi hukum
pokok dalam negara bangsa Indonesia. Artinya, semua peraturan perundangan yang berlaku
dalam negara bangsa Indonesia bersumber pada Pancasila dan sah berlaku jika tidak
bertentangan dengan Pancasila. Dengan pengertian tersebut, maka Pancasila merupakan
Sumber dari segala sumber hukum. Oleh karena itu, semua peraturan perundangan di
Negara Republik Indonesia adalah bersumber pada Pancasila, maka setiap warga negara
yang menjalankan dan mematuhi semua peraturan yang ada secara teoritis ia telah
mengamalkan Pancasila sebagai Dasar Negara. Sebagai Dasar Negara, pengamalan Pancasila
pada hakikatnya merupakan penjabaran nilai-nilai Pancasila di dalam berbagai ketentuan
negara guna pengaturan pelaksanaan berbagai macam pola dan bidang kehidupan, agar
benar-benar sesuai dan dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila, yaitu:
Pertama, nilai Pancasila yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945 telah dijabarkan
secara merata pada pasal-pasal dalam Batang Tubuh UUD 1945.
Kedua, jabaran nilai Pancasila yang termaktub dalam pasal-pasal tersebut dijabarkan lebih
lanjut di dalam ketetapan-ketetapan MPR, termasuk di dalamnya Ketetapan mengenai Garis-
garis Besar Haluan Negara (GBHN), yang merupakan pedoman pelaksanaannya.
Ketiga, jabaran yang merupakan pedoman pelaksanaan tersebut, masih diperlukan lagi
adanya penjabaran lebih jauh/lanjut dan terperinci yang mengatur pelaksanaan seluruh
bidang kegiatan dalam kehidupan.

4
Keempat, setelah kesemuanya diatur berdasarkan Pancasila seperti tersebut di atas,
diperlukan partisipasi dari seluruh warga masyarakat untuk mematuhinya, mengembangkan
dan mengamankannya. Hanya dengan jalan demikianlah, maka pengamalan Pancasila ini
dapat berhasil, karena di dalamnya terlibat secara dinamis serta bersama-sama Pemerintah
dan seluruh warga masyarakat.

2. Pengamalan Pancasila sebagai Pandangan Hidup


Mengingat bahwa Pancasila di samping sebagai Dasar Negara juga merupakan Pandangan
Hidup Bangsa Indonesia, yang berarti dipergunakan sebagai pedoman hidup dalam hidup
sehari-hari; maka ia meliputi hal-hal yang sangat luas, termasuk bidang kerohanian. Seperti
telah disebut di atas, sebagai pedoman MPR pernah mengeluarkan ketetapan No.
II/MPR/1978 tentang P-4, namun ketetapan tersebut sudah dicabut.
Pangkal tolak penghayatan dan pengamalan Pancasila ialah kemauan dan kemampuan
manusia Indonesia dalam mengendalikan diri dan kepentingannya agar dapat melaksanakan
kewajibannya sebagai warga negara dan warga masyarakat.
Dengan kesadaran dan pangkal tolak yang demikian tadi, maka sikap hidup manusia
Pancasila adalah:
1. Kepentingan pribadinya tetap diletakkan dalam kesadaran kewajiban sebagai makhluk
sosial dalam kehidupan masyarakatnya;
2. Kewajibannya terhadap masyarakat dirasakan lebih besar dari kepentingan pribadinya.
Karena merupakan pengamalan Pancasila, maka dalam mewujudkan sikap hidup tadi
manusia dituntut oleh kelima sila dari Pancasila, yaitu Oleh rasa Ketuhanan Yang Maha
Esa, oleh rasa perikemanusiaan, yang adil dan beradab, oleh kesadaran untuk memperkokoh
persatuan Indonesia, oleh sikap yang menjunjung tinggi kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan untuk mewujudkan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pengamalan Pancasila tidak lain bertujuan mewujudkan kehidupan pribadi dan kehidupan
bersama yang kita cita-citakan, kehidupan yang kita anggap baik. Dan untuk merasakan
kehidupan yang lebih baik itulah tujuan akhir dari pembangunan bangsa dan negara bangsa
Indonesia. Sama halnya dengan bangsa lain, bangsa Indonesia juga terdiri dari kelompok-
kelompok masyarakat besar dan kecil, setiap kelompok masyarakat dari keluarga-keluarga,
dan setiap keluarga terdiri dari pribadi-pribadi. Karena itu membangun bangsa dan negara
berdasarkan Pancasila, berarti membangun manusia-manusia Pancasila.

3. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Nasional


Dalam beberapa kamus ditemukan beberapa pengertian paradigma, yaitu antara lain: Contoh,
- Tasrip, - Teladan, - Pedoman. Dalam kamus ilmiah Populer, yang ditulis oleh Pius A.

5
Partanto & MD AlBarry, terbitan: Arkola, Surabaya, disebutkan: Paradigma dipakai untuk
menunjukkan Gugusan Sistem Pemikiran, Bentuk Kasus dan Pola Pemecahannya.
Berdasarkan kutipan tersebut, dapatlah disimpulkan pengertian Paradigma sebagai berikut.
Paradigma adalah suatu pedoman dasar/pokok untuk dipakai dalam menghadapi segala
aspek kehidupan dengan segala permasalahannya untuk dipecahkan, sehingga tercapai suatu
tujuan.
Sebagaimana telah disepakati, bahwa pengamalan Pancasila melalui pelaksanaan
Pembangunan Nasional, dalam rangka mencapai Tujuan Nasional. Tujuan Nasional seperti
ditegaskan dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945, yang menjadi cita-cita Kemerdekaan
Negara Republik Indonesia. Cita-cita bangsa Indonesia tidak mungkin tercapai tanpa
pembangunan. Jadi, hanya pembangunanlah sarana untuk mencapai cita-cita yang mulia,
yang sekaligus menjadi tujuan nasional itu. Selanjutnya sebagai petunjuk untuk melakukan
pembangunan, perlu adanya rambu rambu yang harus ditaati. Untuk itu Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR), sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, menetapkan
norma-norma pembangunan itu dalam bentuk Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).
Pembangunan Nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, dan masyarakat
Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berlandaskan kemampuan Nasional, dengan
memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan
perkembangan global. Dalam pelaksanaannya mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai
luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri,
berkeadilan, sejahtera, maju dan kukuh kekuatan moral dan etikanya.
Pembangunan Nasional tersebut adalah dalam rangka mencapai tujuan nasional sebagaimana
termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.
Pembangunan nasional telah digariskan, bahwa semua upaya pembangunan diusahakan
mencapai hasil dan pemerataan serta stabilitas di segala bidang, baik ideologi, politik,
ekonomi, sosial budaya dan pertahanan dan keamanan.
Keseluruhan semangat, arah, dan garis pembangunan dilaksanakan sebagai pengamalan
semua sila Pancasila secara serasi dan sebagai kesatuan utuh, yang meliputi:
a. Pengamalan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang antara lain mencakup tanggung jawab
bersama dari seluruh golongan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
untuk secara terus menerus dan bersama-sama meletakkan landasan spiritual, moral, dan etik
yang kokoh bagi pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila.
b. Pengamalan Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, yang antara lain mencakup
peningkatan martabat serta hak dan kewajiban asasi warganegara, serta penghapusan
penjajahan, kesengsaraan, dan ketidakadilan dari muka bumi.
c. Pengamalan Sila Persatuan Indonesia, yang antara lain mencakup peningkatan pembinaan
bangsa di semua bidang kehidupan manusia, masyarakat, bangsa, dan negara, sehingga
6
rasa kesetiakawanan semakin kuat dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan
bangsa.
d. Pengamalan Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, yang antara lain mencakup upaya makin menumbuhkan dan
mengembangkan sistem politik demokrasi Pancasila yang makin mampu memelihara
stabilitas nasional yang dinamis, mengembangkan kesadaran dan tanggungjawab politik
warganegara, serta menggairahkan rakyat dalam proses politik.
e. Pengamalan Sila Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang antara lain
mencakup upaya untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yang
dikaitkan dengan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya
kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam sistem ekonomi yang
disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas keseluruhan.
Nilai-nilai dasar yang telah diletakkan oleh para pendiri negara berupa Proklamasi 17
Agustus 1945, Pancasila, dan UUD 1945, merupakan nilai dasar yang menjadi sumber
gagasan seluruh cipta, rasa, karsa, dan karya bagi segenap upaya dalam melanjutkan
kepentingan dan tujuan nasional bangsa Indonesia. Dari nilai-nilai dasar ini dijabarkan lebih
lanjut menjadi nilai instrumental, dan lebih lanjut menjadi nilai-nilai praktis. Nilai dasar
Pancasila tidak boleh berubah, yang boleh berubah adalah nilai operasionalnya, yaitu nilai
instrumental dan nilai praktis yang merupakan pengamalan, pengembangan dan pengkaryaan
dari nilai dasar. GBHN merupakan Nilai Instrumental, sebagai landasan operasional
Pembangunan Nasional. Ini berarti GBHN tersebut akan dijabarkan lebih lanjut ke dalam
peraturan-peraturan lainnya sebagai peraturan pelaksanaan seperti Keputusan Presiden dan
seterusnya.

4. Aktualisasi Pancasila dalam Aspek Ekonomi


Pengaktualisasian pancasila dalam bidang ekonomi yaitu dengan menerapkan sistem
ekonomi Pancasila yang menekankan pada harmoni mekanisme harga dan social (sistem
ekonomi campuran), bukan pada mekanisme pasar yang bersasaran ekonomi kerakyatan agar
rakyat bebas dari kemiskinan, keterbelakangan, penjajahan/ketergantungan, rasa was-was,
dan rasa diperlakukan tidak adil yang memosisikan pemerintah memiliki asset produksi
dalam jumlah yang signifikan terutama dalam kegiatan ekonomi yang penting bagi negara
dan yang menyangkut hidup orang banyak. Sehingga perlu pengembangan Sistem Ekonomi
Pancasila sehingga dapat menjamin dan berpihak pada pemberdayaan koperasi serta usaha
menengah, kecil, dan mikro (UMKM). Selain itu ekonomi yang berdasarkan Pancasila tidak
dapat dilepaskan dari sifat dasar individu dan sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa
bantuan orang lain untuk memenuhi semua kebutuhanya tetapi manusia juga
7
mempunyaikebutuhan dimana orang lain tidak diharapkan ada atau turut campur.
Ekonomi menurut pancasila adalah berdasarkan asas kebersamaan, kekeluargaan artinya
walaupun terjadi persaingan namun tetap dalam kerangka tujuan bersama sehingga tidak
terjadi persaingan bebas yang mematikan. Dengan demikian pelaku ekonomi di Indonesia
dalam menjalankan usahanya tidak melakukan persaingan bebas, meskipun sebagian dari
mereka akan mendapat keuntungan yang lebih besar dan menjanjikan. Hal ini dilakukan
karena pengamalan dalam bidang ekonomi harus berdasarkan kekeluargaan. Jadi interaksi
antar pelaku ekonomi sama-sama menguntungkan dan tidak saling menjatuhkan Pilar Sistem
Ekonomi Pancasila yang meliputi:
1. Ekonomika etik dan ekonomika humanistik
2. Nasionalisme ekonomi & demokrasi ekonomi
3. Ekonomi berkeadilan social.
Namun pada kenyataannya, sejak pertengahan 1997 krisis ekonomi yang menimpa
Indonesia masih terasa hingga hari ini. Di tingkat Asia, Indonesia yang oleh sebuah studi dari
The World Bank (1993) disebut sebagai bagian dari Asia miracle economics, the
unbelieveble progress of development, ternyata perekonomiannya tidak lebih dari sekedar
economic bubble, yang mudah sirna begitu diterpa badai krisis (World Bank, 1993).
Krisis ekonomi terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia Orde Baru dan Orde
Lama yang dialami sekarang ini telah mencuatkan tuntutan reformasi total dan mendasar
(radically). Bermula dari krisis moneter (depresi rupiah) merambah ke lingkungan perbankan
hingga ke lingkup perindustrian.
Kebijakan perekonomian Indonesia yang diterapkan tidak membumi, hanya sebatas
membangun rumah di atas langit dan akibatnya upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat
menjadi tersingkirkan. Rakyat masih terus menjadi korban kegagalan kebijakan pemerintah.
Potret perekonomian Indonesia semakin buram, memperhatikan kebijakan
pemerintah yang selalu pasrah dengan Bank Dunia atau pun International Monetary Fund
(IMF) dalam mencari titik terang perbaikan ekonomi Indonesia. Belum lagi menumpuknya
utang luar negeri semakin menghimpit nafas bangsa Indonesia, sampai-sampai seorang bayi
baru lahir pun telah harus menanggung hutang tidak kurang dari 7 juta rupiah.
Seorang pengamat Ekonomi Indonesia, Prof. Laurence A. Manullang, mengatakan
bahwa selama bertahun-tahun berbagai resep telah dibuat untuk menyembuhkan penyakit
utang Internasional, tetapi hampir disepakati bahwa langkah pengobatan yang diterapkan
pada krisis utang telah gagal. Fakta yang menyedihkan adalah Indonesia sudah mencapai
tingkat ketergantungan (kecanduan) yang sangat tinggi terhadap utang luar negeri. Sampai
sejauh ini belum ada resep yang manjur untuk bisa keluar dari belitan utang. Penyebabnya
adalah berbagai hambatan yang melekat pada praktik yang dijalankan dalam sistem pinjaman
internasional, tepatnya negara-negara donor (Bogdanowicz-Bindert, 1993).
8
Keputusan pemerintah yang terkesan tergesa-gesa dalam mengambil kebijakan untuk
segera memasuki industrialisasi dengan meninggalkan agraris, telah menciptakan masalah
baru bagi national economic development. Bahkan menurut sebagian pakar langkah Orde
baru dinilai sebagai langkah spekulatif seperti mengundi nasib, pasalnya, masyarakat
Indonesia yang sejak dahulu berbasis agraris Sebagai konsekuensinya, hasil yang didapat,
setelah 30 tahun dicekoki ideologi ekonomisme itu justru kualitas hidup masyarakat
Indonesia semakin merosot tajam (dekadensia).
Jika hingga saat ini kualitas perekonomian belum menampakkan perubahan yang
signifikan, tidak menutup kemungkinan, akan mendapat pukulan mahadasyat dari arus
globalisasi. Kekhawatiran ini muncul, karena pemerintah dalam proses pemberdayaan
masyarakat lemah masih parsial dan cenderung dualisme, antara kemanjaan (ketergantungan)
pemerintah kepada IMF, sementara keterbatasan akomodasi bentuk perekonomian
masyarakat yang tersebar (diversity of economy style) di seluruh pelosok negeri tidak
tersentuh. Hal ini juga terlihat jelas pada kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak
proporsional, tidak mencerminkan model perekonomian yang telah dibangun oleh para
Founding Father terdahulu. Hal ini dapat dilihat pada beberapa kasus, misalnya, pencabutan
subsidi di tengah masyarakat yang sedang sulit mencari sesuap nasi, mengelabuhi
masyarakat dengan raskin (beras untuk rakyat miskin), atau jaring pengaman sosial (JPS)
lain yang selalu salah alamat.

5. Aktualisasi Pancasila dalam Aspek Hukum dan HAM


Pancasila sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum
Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 tentang sumber tertib hukum republik
Indonesia dan tata urut peraturan perundang-undangan republik Indonesia, mengatakan
bahwa : pancasila merupakan sumber dari segala hukum. Peraturan perundang-undangan
republik Indonesia, harus bersumber dan tidak boleh bertentangan dengan pancasila sebagai
dasar negara. Bentuk-bentuk perundang-undangan republik Indonesia menurut UUD 1945,
ialah sebagai berikut:
a. UUD 1945
b. Ketetapan MPR
c. UU
d. Peraturan pemerintah
e. Keputusan Presiden
f. Peraturn-peraturan pelaksanaan lainnya seperti: Peraturan Menteri, instruksi menteri dll.
Pembukaan UUD 1945 Mengandung Empat Pokok Pikiran

9
Pembukaan UUD 1945 mengandung empat pokok pikiran yang tidak lain
merupakan pokok pikiran itu sendiri, yaitu sebagai berikut:
a. Pokok pikiran pertama menyatakan bahwa negara persatuan adalah negara yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mengatasi segala
faham golongan dan perorangan, mengatasi segala agama dan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa. Pokok pikiran ini identik dengan sila ke-3 pancasila.
b. Pokok pikirran yang kedua menyatakan, bahwa negara bertujuan mewujudkan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat dalam rangka mewujudkan negara yang merdeka, besatu,
berdaulat, adil dan makmur. Negara berkewajiban memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Pokok pikiran kedua ini identik dengan
sila ke-5 pancasila.
c. Pokok pikiran ketiga menegaskan, bahwa negara berkedaulatan rakyat berdasarkan atas
kerakyatan dan permusyawaratan/ perwakilan. Negara Indonesia berkedaulatan rakyat,
mempunyai sistem pemerintahan demokrasi yang disebut demokrasi pencasila. Ini merupak
perwujudan sila ke-4 pancasila.
d. Pokok pikran keempat menyatakan, bahwa negara berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa
menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Negara Indonesia bukan negara atheis,
tetapi bukan juga negara teokrasi. Negara Indonesia menjunjung tinggi keberadaan semua
agama dan kepercayaan terhadap Than Yang Maha Esa. Hal ini merupakan perwujudan sila
ke-1 dan ke-2 pancasila.
Hak Asasi Manusia (HAM)
Berdasarkan UU Hak Asasi manusia yaitu UU Republik Indonesia No.39 Tahun
1999, sebagaimana hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-NYa
yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintahan,
dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Dalam
penegakan hak asasi manusia tersebut mahasiswa sebagai kekuatan moral harus bersifat
objektif, dan benar-benar berdasarkan kebenaran moral demi harkat dan martabat manusia,
bukan karena kepentingan politik. Dewasa ini kita lihat dalam menegakkan hak asasi sering
kurang adil misalnya kasus pelanggaran beberapa orang di Timtim, banyak kekuatan yang
mendesak untuk mengusut dan menyeret bangsa sendiri ke mahkamah internasional, namun
ribuan rakyat kita korban kerusuhan Sambas, Sampit, Poso dan lainnya tidak ada kelompok
yang memperjuangkannya. Padahal mereka sangat menderita karena diinjak-injak hak
asasinya. Hak asasi manusia ialah hak-hak dasar yang dimiliki pribadi manusia secara
modrat.
Hak asasi manusia meliputi berbagai bidang sebagai berikut:

10
a. Hak asasi pribadi, hak kemerdekaan memeluk agama, beribadat menurut agama dan
kepercayaan masing-masing, menyataka pendapat dan kebebasan berorganisasi atau
berpartai politik.
b. Hak asai ekonomi atau harta milik, yaitu hak dan kebebasan mengadakan suatu perjanjian
atau kontrak.
c. Hak asasi mendapatkan pengayoman dan perlakuan yang sama dalam keadilan hukum dan
pemerintah. Hak itu disebut hak persamaan hukum.
d. Hak asasi politik, yaitu hak diakui dalam kedudukan sebagai warganegara yang sederajat.
Oleh karena itu, setiap warganegara wajar mendapat hak ikut serta dalam pemerintahan,
yakni hak memilih dan dipilih, mendirikan partai politik atau organisasi, serta mengadakan
perisi dan kritik atau saran.
e. Hak asasi sosial dan kebudayaan, yaitu hak kebebasan mendapat pendidikan dan hak
mengembangkan kebudayaan yang disukai.
f. Hak asasi perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan hukum, seperti hak mendapat
perlakuan yang wajar dan adil dalam penggeledahan( razia, penangkapan, peradilan dan
pembelaan hukum).

Aktualisasi pancasila dibidang Hukum dan HAM, terwujud dalam pembukaan UUD
1945, tercermin atau terjabar dalam pasal-pasal Batang Tubuh UUD 1945 yang menyuratkan
dan menyiratkan pengakuam-pengakuan akan HAM.
Prinsip-prinsip atau dasar-dasar pikiran tentang HAM di dalam pembukaan UUD
1945 secara garis besar adalah sebagai berikut:
a. Kemerdekaan Indonesia sesumgguhnya adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Ini
adalah prinsip menyakini dan mengakui bahwa kemerdekaan nasional dan kemerdekaan
pribadi warganegara Indonesia adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu
bangsa Indonesia dan pribadi warganegaranya berkewajiban selalu bersyukur kepada Tuhan
Yang Maha Esa.
b. Segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dilindung. Ini berarti
prinsip bahwa kemerdekaan nasional mengayomi kemerdekaan warganegaranya, segenap
golongan dan lapisan masyarakat.
c. Negara memajukan kesejahteraan umum dan mencedaskan kehidupan bangsa. Ini berati
prinsip pengakuan dan jaminan hak-hak asasi kesejahteraan sosial dan ekonomi serta sosial
budaya warganegara.
d. Negara ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi,
dan keadilan sosial. Ini berarti prinsip pengakuan hak-hak asasi manusia atau menghormati
kemerdekaan setiap bangsa di dunia, perdamaian hidup dan kesejahtraannya.
e. Negara republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan pancasila. Oleh karena itu,
lembaga negara dan pemerintah Indonesia berkewajiban menegakkan hukum dan keadilan
demi hak-hak asasi warganegara, keadilan dan kebenaran.

11
Penjabaran hak asasi warganegara dan kewajibannya dalam pasal- pasal batang
tubuh UUD 1945 yang merupak pedoman dalam mengamalkan jiwa, semangat, nilai dan isi
ajaran pancasila sebagai salah satu kesatuan yang bulat dan utuh.
Adapun secara terperinci adalah sebaagai berikut:
1. Pasal 30 ayat(1) menyatakan: Pasal 27 ayat (1) menyatakan: segala warganegara
bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada
kecualinya. Ini merupakan pangakuan dan jaminan hak kesamaan semua warganegara
dalam hukum dan pemerintahan.
2. Pasal 27 ayat (2) menyatakan: tiap-tiap warganegara berhak atas pekerjaan dan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
3. Pasal 28 menyatakan: kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran
dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.
4. Pasal 29 ayat ( 2) menyatakan: negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.
5. Tiap-tiap warganegara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara. Pasal
30 ayat (2) menyatakan: syarat-syarat tentang pembelaan negara diatur dengan undang-
undang.
6. Pasal 31 ayat (1) menyatakan: tiap-tiap warganegara berhak mendapat pengajaran. Pasal
31 ayat (2) menyatkan: pemerintah menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional,
yang diatur dengan undang-undang.
7. Pasal 32 menyatakan: pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.
8. Pasal 33, ayat:
a. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan;
b. Cabamg-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara;
c. Bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya, dikuasai oleh negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
9. Pasal 34 menyatakan: fakir miskin dan anak yang telantar dipelihara oleh negara.

Ini berarti pemerintah berkewajiban memelihara fakir miskin dan anak- anak terlantar,
sesuai dengan kemampuan dan pembiayaan yang dapat disediakannya. Semangat dan isi
pasal itu merupakan pengalaman pancasilan terutama sila pertama, kedua, dan ketiga.

Asas-asas yang tampak pada jiwa dan moral pancasila dalam kehidupan antara lain
adalah sebagai berikut:
1. Mengakui harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa;
2. Mengaku bahwa kita semua sama dan sederajat, mengemban kewajiban dan memiliki
sesama manusia tanpa membedakan keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,
kedudukan sosial, warna kulit, suku, atau bangsa;
3. Mengembangkan sikap saling cinta sesama manusia, sikap tenggang rasa dan sikap tidak
sewenang-wenang terhadap orang lain;
4. Selalu suka bekerjasama, hormat menghormati dan selalu berusaha menolong sesama
manusia;
12
5. Menge,bangkan sikap berani membela kebenaran dan keadilan dan sikap jujur dan adil;
6. Menyadari bahwa manusia sama sederajatnya sehingga manusia Indonesia merasa dirinya
sebagai bagian seluruh umat manusia.

Aktualisasi Pancasila dalam Aspek Kesadaran Bela Negara

Undang-undang no. 20 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertahanan


keamanan negara republik Indonesia. Undang-undang yang dirancang oleh departemen
pertahanaan dan keamanan dan markas besar TNI ini merupakan kerangka yuridis dari
penjabaran pancasila dan undang undang dasar 1945 kedalam bidang pertahanan dan
keamanan.undang- undang ini mengacu pada pasal- pasal undang-undang dasar 1945 yaitu,
pasal 5 ayat 1,pasal 10,pasal 11,pasal 12, pasal 20 ayat 1 dan pasal 30.Undang-undang No. 2
tahun 1988 tentang Prajurit Angkatan Bersenjata republik Indonesia.
Berdasarkan pasala 1 ayat (2) UU No. 1 tahun 1998, bela negara adalah tekad, sikap,
dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu, dan berlanjut yang dilandasi
oleh kecintaan pada tanaha air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia serta
keyakinan akan kesaktian Pancasila sebagai ideologi negara, dan kerelaan untuk berkorban
guna meniadakan setiap ancaman baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri yang
membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan persatuan bangsa,
keutuhan wilayah, yuridiksi nasional, serta nilai-nilai Pancasila dan Uud 1945.
Upaya bela negara adalah kegiatan yang dilakukan oleh setiap warga negara sebagai
penunaian hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pertahan keamanan negara.
Upaya bela negara merupakan kehormatan yang dilakukan oleh setiap warga negara secara
adil dan merata. Hakekat ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia ancaman
dari luar semua potensi ancaman tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan Ketahanan
Nasional melalui berbagai cara, antara lain:
Pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat agar dapat menangkal
pengaruh-pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan bangsa
Indonesia. Upaya peningkatan perasaan cinta tanah air (patriotisme) melalui pemahaman dan
penghayatan (bukan sekedar penghafalan) sejarah perjuangan bangsa. Pengawasan yang
ketat terhadap eksploitasi sumber daya alam nasional serta terciptanya suatu pemerintahan
yang bersih dan berwibawa (legitimate, bebas KKN, dan consisten melaksanakan
peraturan/undang-undang).
Kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kecintaan terhadap tanah air serta menanamkan
semangat juang untuk membela negara, bangsa dan tanah air serta mempertahankan
Pancasila sebagai ideologi negara dan UUD 1945 sebagai landasan berbangsa dan bernegara

13
Untuk menghadapi potensi agresi bersenjata dari luar, meskipun kemungkinannya
relatif sangat kecil, selain menggunakan unsur kekuatan TNI, tentu saja dapat menggunakan
unsur Rakyat Terlatih (Ratih) sesuai dengan doktrin Sistem Pertahanan Semesta. Dengan
doktrin Ketahanan Nasional itu, diharapkan bangsa Indonesia mampu mengidentifikasi
berbagai masalah nasional termasuk ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan terhadap
keamanan negara guna menentukan langkah atau tindakan untuk menghadapinya. Ancaman
yang dihadapi negara Republik Indonesia tampaknya akan lebih banyak muncul dari dalam
negeri, antara lain dalam bentuk:
1. Disintegrasi bangsa, melalui gerakan-gerakan separatis berdasarkan sentimen kesukuan
atau pemberontakan akibat ketidakpuasan daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat.
2. Keresahan sosial akibat ketimpangan kebijakan ekonomi dan pelanggaran Hak Azasi
Manusia yang pada gilirannya dapat menyebabkan huru-hara/kerusuhan massa.
3. Upaya penggantian ideologi Panca Sila dengan ideologi lain yang ekstrim atau yang
tidak sesuai dengan jiwa dan semangat perjuangan bangsa Indonesia.
4. Potensi konflik antar kelompok/golongan baik akibat perbedaan pendapat dalam
masalah politik, maupun akibat masalah SARA.
5. Makar atau penggulingan pemerintah yang sah dan konstitusional.

Bela Negara Sebagai Hak dan Kewajiban Warga Negara dalam Konsep Bela Negara.
Pasal 30 UUD 1945 menyebutkan bahwa "tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta
dalam usaha pembelaan negara". Konsep Bela Negara dapat diuraikan yaitu secara fisik
maupun non-fisik. Secara fisik yaitu dengan cara "memanggul bedil" menghadapi serangan
atau agresi musuh. Bela Negara secara fisik dilakukan untuk menghadapi ancaman dari luar.
Sedangkan Bela Negara secara non-fisik dapat didefinisikan sebagai "segala upaya untuk
mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia dengan cara meningkatkan kesadaran
berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan terhadap tanah air serta berperan aktif
dalam memajukan bangsa dan negara".
1. Bela Negara Secara Fisik
Keterlibatan warga negara sipil dalam upaya pertahanan negara merupakan hak dan
kewajiban konstitusional setiap warga negara Republik Indonesia. Tapi, seperti diatur dalam
UU no 3 tahun 2002 dan sesuai dengan doktrin Sistem Pertahanan Semesta, maka
pelaksanaannya dilakukan oleh Rakyat Terlatih (Ratih) yang terdiri dari berbagai unsur
misalnya Resimen Mahasiswa, Perlawanan Rakyat, Pertahanan Sipil, Mitra Babinsa, OKP
yang telah mengikuti Pendidikan Dasar Militer dan lainnya. Rakyat Terlatih mempunyai
empat fungsi yaitu Ketertiban Umum, Perlindungan Masyarakat, Keamanan Rakyat dan
Perlawanan Rakyat.

2. Bela Negara Secara Non-Fisik


Keterlibatan warga negara sipil dalam bela negara secara non-fisik dapat dilakukan
dengan berbagai bentuk, sepanjang masa dan dalam segala situasi, misalnya dengan cara:

14
a. Meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, termasuk menghayati arti
demokrasi dengan menghargai perbedaan pendapat dan tidak memaksakan kehendak
b. Menanamkan kecintaan terhadap tanah air, melalui pengabdian yang tulus kepada
masyarakat
c. Berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara dengan berkarya nyata (bukan
retorika)
d. Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap hukum/undang-undang dan
menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia (HAM)
e. Pembekalan mental spiritual di kalangan masyarakat agar dapat menangkal pengaruh-
pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan bangsa Indonesia
dengan lebih bertaqwa kepada Allah swt melalui ibadah sesuai agama/kepercayaan masing-
masing.
Undang-undang no. 20 Tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertahanan
keamanan negara republik Indonesia.
Ada tiga hal penting dalam UU No. 20 Tahun 1982 tersebut, yaitu:
a. Perlawanan rakyat semesta
b. System pertahanan rakyat semesta
c. Pengolahan pertahanan dan keamanan rakyat semesta

2.3 Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan Bangsa Indonesia Ditinjau dari Kodrat
Manusia.

Pancasila sebagai paradigma dimaksudkan bahwa Pancasila sebagai sistem nilai


acuan, kerangka-acuan berpikir, pola-acuan berpikir; atau jelasnya sebagai sistem nilai yang
dijadikan kerangka landasan, kerangka cara, dan sekaligus kerangka arah atau tujuan bagi
yang menyandangnya.

Yang menyandangnya itu di antaranya:


(a) bidang politik, (b) bidang ekonomi, (c) bidang social budaya, (d) bidang hukum,
(e) bidang kehidupan antar umat beragama, Memahami asal mula Pancasila.

1. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan

Istilah paradigma pada mulanya dipakai dalam bidang filsafat ilmu pengetahuan.
Menurut Thomas Kuhn, Orang yang pertama kali mengemukakan istilah tersebut
menyatakan bahwa ilmu pada waktu tertentu didominasi oleh suatu paradigma.
Paradigma adalah pandangan mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang menjadi
pokok persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan. Istilah paradigma makin lama makin
berkembang tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan, tetapi pada bidang lain seperti bidang
politik, hukum, sosial dan ekonomi.

15
Paradigma kemudian berkembang dalam pengertian sebagai kerangka pikir, kerangka
bertindak, acuan, orientasi, sumber, tolok ukur, parameter, arah dan tujuan. Sesuatu dijadikan
paradigma berarti sesuatu itu dijadikan sebagai kerangka, acuan, tolok ukur, parameter, arah,
dan tujuan dari sebuah kegiatan.
Dengan demikian, paradigma menempati posisi tinggi dan penting dalam
melaksanakan segala hal dalam kehidupan manusia. Pancasila sebagai paradigma, artinya
nilai-nilai dasar pancasila secara normatif menjadi dasar, kerangka acuan, dan tolok ukur
segenap aspek pembangunan nasional yang dijalankan di Indonesia. Hal ini sebagai
konsekuensi atas pengakuan dan penerimaan bangsa Indonesia atas Pancasila sebagai dasar
negara dan ideologi nasional.
Hal ini sesuai dengan kenyataan objektif bahwa Pancasila adalah dasar negara
Indonesia, sedangkan negara merupakan organisasi atau persekutuan hidup manusia maka
tidak berlebihan apabila pancasila menjadi landasan dan tolok ukur penyelenggaraan
bernegara termasuk dalam melaksanakan pembangunan.
Nilai-nilai dasar Pancasila itu dikembangkan atas dasar hakikat manusia. Hakikat
manusia menurut Pancasila adalah makhluk monopluralis. Kodrat manusia yang
monopluralis tersebut mempunyai ciri-ciri, antara lain:

a. susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga


b. sifat kodrat manusia sebagai individu sekaligus sosial

c. kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk tuhan.

Berdasarkan itu, pembangunan nasional diarahkan sebagai upaya meningkatkan harkat


dan martabat manusia yang meliputi aspek jiwa, raga,pribadi, sosial, dan aspek ketuhanan.
Secara singkat, pembangunan nasional sebagai upaya peningkatan manusia secara totalitas.
Pembangunan sosial harus mampu mengembangkan harkat dan martabat manusia
secara keseluruhan. Oleh karena itu, pembangunan dilaksanakan di berbagai bidang yang
mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Pembangunan, meliputi bidang politik,
ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
Pancasila menjadi paradigma dalam pembangunan politik, ekonomi, sosial budaya,
dan pertahanan keamanan
.
a. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Politik

Manusia Indonesia selaku warga negara harus ditempatkan sebagai subjek atau pelaku
politik bukan sekadar objek politik. Pancasila bertolak dari kodrat manusia maka
pembangunan politik harus dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sistem politik

16
Indonesia yang bertolak dari manusia sebagai subjek harus mampu menempatkan kekuasaan
tertinggi pada rakyat. Kekuasaan adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sistem
politik Indonesia yang sesuai pancasila sebagai paradigma adalah sistem politik demokrasi
bukan otoriter.
Berdasar hal itu, sistem politik Indonesia harus dikembangkan atas asas kerakyatan
(sila IV Pancasila). Pengembangan selanjutnya adalah sistem politik didasarkan pada asas-
asas moral daripada sila-sila pada pancasila. Oleh karena itu, secara berturut-turut sistem
politik Indonesia dikembangkan atas moral ketuhanan, moral kemanusiaan, moral persatuan,
moral kerakyatan, dan moral keadilan.
Perilaku politik, baik dari warga negara maupun penyelenggara negara dikembangkan
atas dasar moral tersebut sehingga menghasilkan perilaku politik yang santun dan bermoral.
Pancasila sebagai paradigma pengembangan sosial politik diartikan bahwa Pancasila
bersifat sosial-politik bangsa dalam cita-cita bersama yang ingin diwujudkan dengan
menggunakan nilai-nilai dalam Pancasila. Pemahaman untuk implementasinya dapat dilihat
secara berurutan-terbalik:
Penerapan dan pelaksanaan keadilan sosial mencakup keadilan politik, budaya, agama,
dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari,
Mementingkan kepentingan rakyat (demokrasi) bilamana dalam pengambilan keputusan,
Melaksanakan keadilan sosial dan penentuan prioritas kerakyatan berdasarkan konsep
mempertahankan persatuan,
Dalam pencapaian tujuan keadilan menggunakan pendekatan kemanusiaan yang adil dan
beradab,
Tidak dapat tidak; nilai-nilai keadilan sosial, demokrasi, persatuan, dan kemanusiaan
(keadilan-keberadaban) tersebut bersumber pada nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

Di era-globalisasi informasi seperti sekarang ini, implementasi tersebut perlu


direkonstruksi kedalam pewujudan masyarakat-warga (civil society) yang mencakup
masyarakat tradisional (berbagai asal etnik, agama, dan golongan), masyarakat industrial,
dan masyarakat purna industrial. Dengan demikian, nilai-nilai sosial politik yang dijadikan
moral baru masyarakat informasi adalah:
nilai toleransi;
nilai transparansi hukum dan kelembagaan;
nilai kejujuran dan komitmen (tindakan sesuai dengan kata);
bermoral berdasarkan konsensus (Fukuyama dalam Astrid: 2000: 3).

b. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Ekonomi

17
Sesuai dengan paradigma pancasila dalam pembangunan ekonomi maka sistem dan
pembangunan ekonomi berpijak pada nilai moral daripada pancasila. Secara khusus, sistem
ekonomi harus mendasarkan pada dasar moralitas ketuhanan (sila I Pancasila) dan
kemanusiaan ( sila II Pancasila). Sistem ekonomi yang mendasarkan pada moralitas dam
humanistis akan menghasilkan sistem ekonomi yang berperikemanusiaan. Sistem ekonomi
yang menghargai hakikat manusia, baik selaku makhluk individu, sosial, makhluk pribadi
maupun makhluk tuhan.
Sistem ekonomi yang berdasar pancasila berbeda dengan sistem ekonomi liberal yang
hanya menguntungkan individu-individu tanpa perhatian pada manusia lain. Sistem ekonomi
demikian juga berbeda dengan sistem ekonomi dalam sistem sosialis yang tidak mengakui
kepemilikan individu.
Pancasila bertolak dari manusia sebagai totalitas dan manusia sebagai subjek. Oleh
karena itu, sistem ekonomi harus dikembangkan menjadi sistem dan pembangunan ekonomi
yang bertujuan pada kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Sistem ekonomi yang berdasar
pancasila adalah sistem ekonomi kerakyatan yang berasaskan kekeluargaan. Sistem ekonomi
Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai moral kemanusiaan.
Pembangunan ekonomi harus mampu menghindarkan diri dari bentuk-bentuk
persaingan bebas, monopoli dan bentuk lainnya yang hanya akan menimbulkan penindasan,
ketidakadilan, penderitaan, dan kesengsaraan warga negara.
Pancasila sebagai paradigma pengembangan ekonomi lebih mengacu pada Sila
Keempat Pancasila; sementara pengembangan ekonomi lebih mengacu pada pembangunan
Sistem Ekonomi Indonesia. Dengan demikian subjudul ini menunjuk pada pembangunan
Ekonomi Kerakyatan atau pembangunan Demokrasi Ekonomi atau pembangunan Sistem
Ekonomi Indonesia atau Sistem Ekonomi Pancasila.
Dalam Ekonomi Kerakyatan, politik/kebijakan ekonomi harus untuk sebesarbesar
kemakmuran/kesejahteraan rakyat yang harus mampu mewujudkan perekonomian nasional
yang lebih berkeadilan bagi seluruh warga masyarakat (tidak lagi yang seperti selama Orde
Baru yang telah berpihak pada ekonomi besar/konglomerat). Politik Ekonomi Kerakyatan
yang lebih memberikan kesempatan, dukungan, dan pengembangan ekonomi rakyat yang
mencakup koperasi, usaha kecil, dan usaha menengah sebagai pilar utama pembangunan
ekonomi nasional.
Oleh sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan ini ialah koperasi. Ekonomi
Kerakyatan akan mampu mengembangkan program-program kongkrit pemerintah daerah di
era otonomi daerah yang lebih mandiri dan lebih mampu mewujudkan keadilan dan
pemerataan pembangunan daerah.

18
Dengan demikian, Ekonomi Kerakyatan akan mampu memberdayakan daerah/rakyat
dalam berekonomi, sehingga lebih adil, demokratis, transparan, dan partisipatif. Dalam
Ekonomi Kerakyatan, Pemerintah Pusat (Negara) yang demokratis berperanan memaksakan
pematuhan peraturan-peraturan yang bersifat melindungi warga atau meningkatkan kepastian
hukum.

c. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Sosial Budaya

Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik karena memang pancasila bertolak dari
hakikat dan kedudukan kodrat manusia itu sendiri. Hal ini sebagaimana tertuang dalam sila
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu, pembangunan sosial budaya harus
mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia, yaitu menjadi manusia yang berbudaya
dan beradab. Pembangunan sosial budaya yang menghasilkan manusia-manusia biadab,
kejam, brutal dan bersifat anarkis jelas bertentangan dengan cita-cita menjadi manusia adil
dan beradab.
Manusia tidak cukup sebagai manusia secara fisik, tetapi harus mampu meningkatkan
derajat kemanusiaannya. Manusia harus dapat mengembangkan dirinya dari tingkat homo
menjadi human. Berdasar sila persatuan Indonesia, pembangunan sosial budaya
dikembangkan atas dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan budaya-budaya yang
beragam di seluruh wilayah Nusantara menuju pada tercapainya rasa persatuan sebagai
bangsa.
Perlu ada pengakuan dan penghargaan terhadap budaya dan kehidupan sosial berbagai
kelompok bangsa Indonesia sehingga mereka merasa dihargai dan diterima sebagai warga
bangsa. Dengan demikian, pembangunan sosial budaya tidak menciptakan kesenjangan,
kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial. Paradigma-baru dalam pembangunan
nasional berupa paradigma pembangunan berkelanjutan, yang dalam perencanaan dan
pelaksanaannya perlu diselenggarakan dengan menghormati hak budaya komuniti-komuniti
yang terlibat, di samping hak negara untuk mengatur kehidupan berbangsa dan hak asasi
individu secara berimbang (Sila Kedua).
Hak budaya komuniti dapat sebagai perantara/penghubung/penengah antara hak
negara dan hak asasi individu. Paradigma ini dapat mengatasi sistem perencanaan yang
sentralistik dan yang mengabaikan kemajemukan masyarakat dan keanekaragaman
kebudayaan Indonesia. Dengan demikian, era otonomi daerah tidak akan mengarah pada
otonomi suku bangsa tetapi justru akan memadukan pembangunan lokal/daerah dengan
pembangunan regional dan pembangunan nasional (Sila Keempat), sehingga ia akan
menjamin keseimbangan dan kemerataan (Sila Kelima) dalam rangka memperkuat persatuan

19
dan kesatuan bangsa yang akan sanggup menegakan kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI
(Sila Ketiga).
Apabila dicermati, sesungguhnya nilai-nilai Pancasila itu memenuhi kriteria sebagai
puncak-puncak kebudayaan, sebagai kerangka-acuan-bersama, bagi kebudayaan -
kebudayaan di daerah:

1. Sila Pertama, menunjukan tidak satu pun sukubangsa ataupun golongan sosial dan
komuniti setempat di Indonesia yang tidak mengenal kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa;
2. Sila Kedua, merupakan nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh segenap warganegara
Indonesia tanpa membedakan asal-usul kesukubangsaan, kedaerahan, maupun
golongannya;
3. Sila Ketiga, mencerminkan nilai budaya yang menjadi kebulatan tekad masyarakat
majemuk di kepulauan nusantara untuk mempersatukan diri sebagai satu bangsa yang
berdaulat;
4. Sila Keempat, merupakan nilai budaya yang luas persebarannya di kalangan masyarakat
majemuk Indonesia untuk melakukan kesepakatan melalui musyawarah. Sila ini sangat
relevan untuk mengendalikan nilai-nilai budaya yang mendahulukan kepentingan
perorangan;
5. Sila Kelima, betapa nilai-nilai keadilan sosial itu menjadi landasan yang membangkitkan
semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikutserta melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

d. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Hukum

Salah satu tujuan bernegara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia. Hal ini mengandung makna bahwa tugas dan tanggung
jawab tidak hanya oleh penyelenggara negara saja, tetapi juga rakyat Indonesia secara
keseluruhan. Atas dasar tersebut, sistem pertahanan dan keamanan adalah mengikut sertakan
seluruh komponen bangsa. Sistem pembangunan pertahanan dan keamanan Indonesia
disebut sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).
Sistem pertahanan yang bersifat semesta melibatkan seluruh warga negara, wilayah,
dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan
diselenggarakan secara total terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan
negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.
Penyelenggaraan sistem pertahanan semesta didasarkan pada kesadaran atas hak dan
kewajiban warga negara, serta keyakinan pada kekuatan sendiri.

20
Sistem ini pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai pancasila, di mana pemerintahan
dari rakyat (individu) memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam masalah pertahanan
negara dan bela negara. Pancasila sebagai paradigma pembangunan pertahanan keamanan
telah diterima bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam UU No. 3 Tahun 2002 tentang
pertahanan Negara.
Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa pertahanan negara bertitik tolak
pada falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia untuk menjamin keutuhan dan tetap
tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945.
Dengan ditetapkannya UUD 1945, NKRI telah memiliki sebuah konstitusi, yang di
dalamnya terdapat pengaturan tiga kelompok materi-muatan konstitusi, yaitu:
a. adanya perlindungan terhadap HAM,
b. adanya susunan ketatanegaraan negara yang mendasar, dan
c. adanya pembagian dan pembatasan tugas-tugas ketatanegaraan yang juga mendasar.
Sesuai dengan UUD 1945, yang di dalamnya terdapat rumusan Pancasila,
Pembukaan UUD 1945 merupakan bagian dari UUD 1945 atau merupakan bagian dari
hukum positif. Dalam kedudukan yang demikian, ia mengandung segi positif dan segi
negatif. Segi positifnya, Pancasila dapat dipaksakan berlakunya (oleh negara); segi
negatifnya, Pembukaan dapat diubah oleh MPR sesuai dengan ketentuan Pasal 37 UUD
1945.
Hukum tertulis seperti UUD termasuk perubahannya, demikian juga UU dan peraturan
perundang-undangan lainnya, harus mengacu pada dasar negara (sila - sila Pancasila dasar
negara).
Dalam kaitannya dengan Pancasila sebagai paradigma pengembangan hukum, hukum
(baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis) yang akan dibentuk tidak dapat dan tidak
boleh bertentangan dengan sila-sila:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa,
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,
3. Persatuan Indonesia,
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan,
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan demikian, substansi hukum yang dikembangkan harus merupakan perwujudan


atau penjabaran sila-sila yang terkandung dalam Pancasila. Artinya, substansi produk hukum
merupakan karakter produk hukum responsif (untuk kepentingan rakyat dan merupakan
perwujuan aspirasi rakyat).

21
Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Kehidupan Umat Beragama Bangsa
Indonesia sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah dan santun, bahkan predikat ini
menjadi cermin kepribadian bangsa kita di mata dunia internasional. Indonesia adalah
Negara yang majemuk, bhinneka dan plural. Indonesia terdiri dari beberapa suku, etnis,
bahasa dan agama namun terjalin kerja bersama guna meraih dan mengisi kemerdekaan
Republik Indonesia kita.
Namun akhir-akhir ini keramahan kita mulai dipertanyakan oleh banyak kalangan
karena ada beberapa kasus kekerasana yang bernuansa Agama. Ketika bicara peristiwa yang
terjadi di Indonesia hampir pasti semuanya melibatkan umat muslim, hal ini karena
mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Masyarakat muslim di Indonesia memang
terdapat beberapa aliran yang tidak terkoordinir, sehingga apapun yang diperbuat oleh umat
Islam menurut sebagian umat non muslim mereka seakan-seakan merefresentasikan umat
muslim.
Paradigma toleransi antar umat beragama guna terciptanya kerukunan umat beragama
perspektif Piagam Madinah pada intinya adalah seperti berikut:

1. Semua umat Islam, meskipun terdiri dari banyak suku merupakan satu komunitas
(ummatan wahidah).
2. Hubungan antara sesama anggota komunitas Islam dan antara komunitas Islam dan
komunitas lain didasarkan atas prinsip-prinsi:
a. Bertentangga yang baik
b. Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama
c. Membela mereka yang teraniaya
d. Saling menasehati
e. Menghormati kebebasan beragama.

Lima prinsip tersebut mengisyaratkan:


1. Persamaan hak dan kewajiban antara sesama warga negara tanpa diskriminasi yang
didasarkan atas suku dan agama;
2. Pemupukan semangat persahabatan dan saling berkonsultasi dalam menyelesaikan
masalah bersama serta saling membantu dalam menghadapi musuh bersama. Dalam
Analisis dan Interpretasi Sosiologis dari Agama (Ronald Robertson, ed.) misalnya,
mengatakan bahwa hubungan agama dan politik muncul sebagai masalah, hanya pada
bangsa-bangsa yang memiliki heterogenitas di bidang agama.

Hal ini didasarkan pada postulat bahwa homogenitas agama merupakan kondisi
kesetabilan politik. Sebab bila kepercayaan yang berlawanan bicara mengenai nilai-nilai

22
tertinggi (ultimate value) dan masuk ke arena politik, maka pertikaian akan mulai dan
semakin jauh dari kompromi.

Dalam beberapa tahap dan kesempatan masyarakat Indonesia yang sejak semula
bercirikan majemuk banyak kita temukan upaya masyarakat yang mencoba untuk membina
kerunan antar masayarakat. Lahirnya lembaga-lembaga kehidupan sosial budaya seperti
Pela di Maluku, Mapalus di Sulawesi Utara, Rumah Bentang di Kalimantan Tengah
dan Marga di Tapanuli, Sumatera Utara, merupakan bukti-bukti kerukunan umat beragama
dalam masyarakat.
Ke depan, guna memperkokoh kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia
yang saat ini sedang diuji kiranya perlu membangun dialog horizontal dan dialog Vertikal.
Dialog Horizontal adalah interaksi antar manusia yang dilandasi dialog untuk mencapai
saling pengertian, pengakuan akan eksistensi manusia, dan pengakuan akan sifat dasar
manusia yang indeterminis dan interdependen.
Identitas indeterminis adalah sikap dasar manusia yang menyebutkan bahwa posisi
manusia berada pada kemanusiaannya. Artinya, posisi manusia yang bukan sebagai benda
mekanik, melainkan sebagai manusia yang berkal budi, yang kreatif, yang berbudaya.

2.4 Nilai-Nilai Pancasila sebagai Paradigma Reformasi dalam Perkembangan


Ketatanegaraan Republik Indonesia.

Makna Reformasi secara etimologis berasal dari kata reformation dari akar kata
reform, sedangkan secara harafiah reformasi mempunyai pengertian suatu gerakan yang
memformat ulang, menata ulang, menata kembali hal-hal yang menyimpang, untuk
dikembalikan pada format atau bentuk semula sesuai dengan nilai-nilai ideal yang di cita-
citakan rakyat. Reformasi juga di artikan pembaharuan dari paradigma, pola lama ke
paradigma, pola baru untuk memenuju ke kondisi yang lebih baik sesuai dengan harapan.
Apabila gerakan reformasi ingin menata kembali tatanan kehidupan yang lebih baik,
tiada jalan lain adalah mendasarkan kembali pada nilai-nilai dasar kehidupan yang dimiliki
bangsa Indonesia. Nilai-nilai dasar kehidupan yang baik itu sudah terkristalisasi dalam
pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Oleh karena itu, pancasila sangat tepat sebagai
paradigma, acuan, kerangka, dan tolok ukur gerakan reformasi di Indonesia.
Reformasi dengan paradigma pancasila adalah sebagai berikut :
1. Reformasi yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, gerakan reformasi berdasarkan
pada moralitas ketuhanan dan harus mengarah pada kehidupan yang baik sebgai manusia
makhluk tuhan.

23
2. Reformasi yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab. Artinya, gerakan reformasi
berlandaskan pada moral kemanusiaan yang luhur dan sebagai upaya penataan
kehidupan yang penuh penghargaan atas harkat dan martabat manusia.
3. Reformasi yang berdasarkan nilai persatuan. Artinya, gerakan reformasi harus menjamin
tetap tegaknya negara dan bangsa Indonesia sebagai satu kesatuan. Gerakan reformasi
yang menghindarkan diri dari praktik dan perilaku yang dapat menciptakan perpecahan
dan disintegrasi bangsa.
4. Reformasi yang berakar pada asas kerakyatan. Artinya, seluruh penyelenggaraan
kehidupan berbangsa dan bernegara harus dapat menempatkan rakyat sebagai subjek dan
pemegang kedaulatan. Gerakan reformasi bertujuan menuju terciptanya pemerintahan
yang demokratis, yaitu rakyat sebagai pemegang kedaulatan.
5. Reformasi yang bertujuan pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Artinya,
gerakan reformasi harus memiliki visi yang jelas, yaitu demi terwujudnya keadilan sosial
bagi seluruh rakyat. Perlu disadari bahwa ketidakadilanlah penyebab kehancuran suatu
bangsa.
1. Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Hukum
Dalam proses rformasi sudah seharusnya dilakukan adanya perubahan terhadap
perundang-undangan. Hal ini berdasar pada adanya kenyataan setelah peristiwa 21 mei 1998
saat runtuhnya kekuasaan orde baru, salah satu subsistem yang dampaknya sangat parah
adalah dibidang hukum. Subsistem hukum tidak mampu menjadi pelindung bagi kepentingan
masyarakat dan cenderung bersifat imperatif bagi penyelenggara pemerintah. Jadi untuk
melakukan adanya reformasi harus memiliki dasar, landasan serta sumber nilai yang
terkandung dalam pancasila yang merupakan dasar cita-cita reformasi.

a. Pancasila sebagai sumber nilai perubahan hukum


Dalam Negara terdapat suatu dasar fundamental atau pokok kaidah yang merupakan
sumber hukum positif yang dalam ilmu hukum tata Negara disebut staats fundamental norm.
Dalam negara indonesia staats fundamental norm nya adalah Pancasila, yang artinya
Pancasila merupakan pokok kaidah sumber hukum positif. Dalam pengertian inilah maka
Pancasila berfungsi sebagai paradigma hukum terutama yang berkaitan dengan berbagai
macam upaya perubahan hukum. Maka dari itu supaya hukum berfungsi sebagai pelayanan
kebutuhan masyarakat, harus senantiasa diperbaharui agar tetap sesuai dengan kebutuhan
masyarakat, dan pembaharuan tersebut harus tetap meletakkan Pancasila sebagai kerangka
pikir, sumber norma, dan sumber nilai-nilainya.
Sebagai paradigma dalam pembaharuan tatana hukum pancasila dipandang sebagai
cita-cita hukum, dan sebagai cita-cita hukum Pancasila dapat memenuhi fungsi konstitutif
maupun fungsi regulatif. Sebagai fungsi konstitutif Pancasila menentukan dasar suatu
tatanan hukum yang memberi arti dan makna bagi hukum itu sendiri, sehingga hukum sangat
bergantung pada dasar-dasar yang diberikan oleh nilai-nilai Pancasila. Begitu pula dengan
fungsi regulatif, Pancasila menetukan apakah suatu hukum positif itu sebagai produk yang
24
adil atau tidak. Sebagai staatsfundamentalnorm pancasila merupakan pangkal sumber
penjabaran dari tertib hukum di indonesia termasuk juga UUD 1945. Dalam pengertian
inilah istlah ilmu hukum disebut sumber dari segala peraturan perundang-undangan di
indonesia (mahfud, 1999;59). Sumber hukum meliputi dua macam pengertian :
1. Sumber Hukum Formal, yaitu sumber hukum ditinjau dari bentuk dan tata cara
penyusunan hukum yang bersifat mengikat terhadap komunitasnya, misalnya Undang-
undang, perda dll.
2. Sumber materila hukum, yaitu sumber hukum yang menentukan materi atau isi suatu
norma hukum (Darmodihardjo, 1996:206)

b. Dasar Yuridis Reformasi Hukum


Dalam upaya reformasi telah banyak dilontarkan berbagai macam pendapat tentang
aspek-aspek yang dapat dilakukan dalam perubahan hukum di Indonesia, bahkan semakin
banyak bermunculan usulan tentang amandemen atau perubahan secara menyeluruh terhadap
Pasal-pasal UUD 1945, namun harus dipahami secara obyektif, apabila terjadi suatu
amandemen terhadap seluruh pasal UUD 1945, maka tidak terjadi pula perubahan terhadap
Pembukaan UUD 1945, karena pembukaan UUD 1945 merupakan pokok kaidah negara
yang fundamental, sebagai sumber positif, memuat Pancasila sebagai dasar filsafat negara
yang melekat pada kelangsungan hidup negara proklamasi 17 agustus 1945. Oleh karena itu
apabila ada perubahan pembukaan UUD 1945 sama halnya dengan menghilangkan
eksistensi bangsa dan negara Indonesia, atau sama halnya dengan pembubaran negara
Indonesia.
Dasar yuridis Pancasila sebagai paradigma reformasi hukum adalah Tap
No.XX/MPRS/1996, yang menyatakan Panacasila adalah sumber dari segala sumber hukum
di Indonesia, yang berarti sebagai sumber produk serta proses penegakan hukum harus selalu
bersumber pada niali-nilai yang terkandung dalam pancasila, dan secar eksplisit dirinci tata
urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia yang bersumber pada nilai-nilai
Pancasila.
Ada beberapa macam produk peraturan perundang-undangan yang telah dihasilkan
dalam reformasi hukum, antara lain undang-undang politik tahun 1999, yaitu UU No.2 tahun
1999, tentang partai politik, UU No.3 tahun 1999, tentang Pemilu, dan UU No.4 tahun 1999
tentang susunan dan kedudukan MPR, DPR, Dan DPRD, kemudian UU pokok Pers yang
diharapkan menghasilkan pers yang bebas dan demokratis, lalu UU otonomi daerah yang
meliputi UU No.22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, UU No. 25 tahun 1999, tentang
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, dan UU No.28 tahun 1999
tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari KKN.
Demikian juga terjadi pada tingkatan ketetapan MPR yang telah dilakukan reformasi
hukum melalui sidang istimewa MPR pada bulan November 1998 yang menghasilkan
berbagai macam ketetapan antara lain Tap No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan

25
referendum, karena dianggap menghambat demokrasi, Tap No. IX/MPR/1998 tentang
GBHN yang tidak mungkin dilaksanakan karena krisis ekonomi serta politik, Tap No.
X/MPR/1998 tentang poko-pokok reformasi pembangunan, Tap No. XI/MPR/1998 tentang
negara yang bebas KKN, Tap No. XIII/MPR/1998 tentang masa jabatan presiden , Tap No.
XIV/MPR/1998 tentang Pemilu Tahun 1999, Tap No. XV/MPR/1998 tentang otonomi
daerah dan perimbangan keuangan pusat dan daerah, Tap No. XVI/MPR/1998 tentang
Demokrasi Ekonomi, Tap No. XVII/MPR/1998 tentang Hak asasi manusia, serta Tap No.
XVIII/MPR/1998 tentang pencabutan P4, serta berbagai macam peraturan perundang-
undangan lainya.

c. Pancasila sebagai Paragidma Reformasi Pelaksanaan Hukum


Dalam Era reformasi pelaksanaan hukum harus didasarkan pada suatu nilai sebagai
landasan operasionalnya guna mencapai tujuan daripada reformasi itu sendiri yaitu
melindungi bangsa dan seluruh tumpah darah. Pelaksanaan hukum pada masa reformasi ini
harus benar-benar dapat mewujudkan negara demokratis dengan suatu supremasi hukum,
yang artinya pelaksanaan hukum harus mampu mewujudkan jaminan atas terwujudnya
keadilan (sila V) dalam suatu negara yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban setiap
warga negara, tanpa memandang pangkat, jabatan ataupun golongan maupun agama.
Konsekuensi dari pelaksanaan hukum aparat penegak hukum terutama pihak kejaksaan
adalah sebagai ujung tombaknya sehingga harus benar-benar bersih dari praktek KKN.

2. Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Politik


Landasan aksiologi (sumber nilai) bagi sistem politik Indonesia adalah sebagaimana
terkandung dalam Deklarasi Bangsa Indonesia yaitu pembukaan UUD 1945 alinea IV. Nilai
demokrasi politik yang terkandung dalam Pancasila merupakan fondasi bangunan negara
yang dikehendaki oleh para pendiri negara kita dalam kenyataanya tidak dilaksanakan
berdasarkan suasana kerokhanian berdasarkan nilai-nilai tersebut, dan pada realisasinya baik
pada masa orde lama maupun orde baru negara lebih mengarah pada praktek otoritarianisme
yang mengarah pada porsi kekuasaan yang terbesar kepada presiden. Nilai demokrasi politik
tersebut secara normatif terjabar dalam pasal-pasal UUD 1945.
Adapun esensi dari pasal-pasal tersebut berdasarkan UUD 1945 adalah :
a. Rakyat merupakan pemegang kedaulatan tertinggi dalam Negara.
b. Kedaulatan rakyat dijalankan sepenuhnya oleh MPR.
c. Presiden dan wakil presiden dipilih oleh MPR, dan bertanggung jawab kepada MPR.
d. Produk hukum apapun yang dihasilkan oleh presiden baik sendiri maupun bersama
dengan lembaga lain, kekuatanya berada dibawah MPR atau produk-produknya.
Perlu diketahui pula bahwa rakyat adalah asal mula kekuatan negara, oleh sebab itu
paradigma ini merupakan dasar pijak dalam reformasi politik. Dan reformasi politik atas
sistem politik harus melalui Undang-undang yang mengatur sistem politik tersebut, dengan
tetap mendasarkan pada paradigma nilai-nilai kerakyatan sebagaimana terkandung dalam
Pancasila.
26
a. Reformasi atas system politik
System mekanisme demokrasi tersebut tertuang dalam undang-undang politik yang
berlaku selama orde baru yaitu:
UU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD ( UU No. 16/1969 jis UU
No. 5/1975 dan UU No. 2/1985 )
UU tentang Partai Politik dan Golongan Karya ( UU No.3/1975, jo. UU No.3/1985 )
UU tentang Pemilihan Umum (UU No.15/1969 jis UU No.4/1975. UU No.2/1980, dan
UU No.1/1985)

b. Reformasi atas Kehidupan Politik


Untuk mencapai kehidupan politik yang benar-benar demokratis maka harus dilakukan
dengan cara Revitalisasi politik yaitu dengan mengembalikan Pancasila pada kedudukan
serta fungsi yang sebenarnya seperti yang tertuang pada UUD 1945.

3. Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Ekonomi


Langkah yang startegis dalam upaya melakukan reformasi ekonomi yang berbasis pada
ekonomi rakyat yang berdasarkan nilai-nilai pancasila yang mengutamakan kesejahteraan
seluruh bangsa adalah sebagai berikut:
a. Keamanan pangan dan mengembalikan kepercayaan, yaitu dilakukan dengan program
social safety net yang popular dengan program jaringan pengaman social (JPS).
b. Program rehabilitasi dan pemulihan ekonomi untuk menciptakan kondisi kepastian
usaha.
c. Transformasi struktur untuk memperkuat ekonomi rakyat.

27
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa Pancasila sebagai paradigma mempunyai
kaitan yang erat dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Karena
Pancasila mempunyai peran yang sangat penting dalam berbagai bidang seperti dalam
bidang hukum, ham, ekonomi, sosial budaya, dan juga pembangunan
Pancasila sebagai paradigma bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ini
dimaksudkan untuk dipergunakan sebagai acuan setiap warganegara utamanya para
penyelenggara negara dan pemerintahan dalam menentukan kebijakan, melaksanakan
kegiatan dan mengadakan evaluasi hasilnya serta dalam menghadapi berbagai dinamika
perubahan.
Secara umum Pancasila merupakan dasar cita-cita reformasi di bidang hukum, politik,
ekonomi dan bidang pendidikan tidak mungkin dilakukan dengan pemikiran secara teori
namun haruslah mendasar dan memiliki landasan yang mana bersumber pada nilai-nilai
Pancasila.
Berdasarkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial dan individu, masyarakat dalam
pergaulannya berbangsa dan bernegara harus melaksanakan hak dan kewajiban sesuai tugas
dan fungsinya. Maka diperlukan aturan yang menjadi acuan dalam bertingkah laku yaitu
Pancasila.

28